Semester dua! Ini semester baru,
dan ceritaku harus baru! Lupakan soal kisah cinta yang kandas menyebalkan di
semester lalu! Aku akan mulai serius mencari cinta… eh! Maksudku mencari nilai
yang lebih baik di semester ini. IP semester kemarin lumayan besar, 3, 92.
Kalau saja aku bisa mempertahankannya, maka cumlaude bisa kugondol
setelah lulus dari sini.
Bruk! Aw! Kenapa ini?
Kenapa setiap aku melangkah dengan senyuman di awal masuk kuliah selalu saja
ada yang menabrakku.
“Liat-liat dong kalo ja…”
Aku bermaksud mengambil buku itu,
tapi dia malah menghalangiku. Oh, ternyata dia belum pergi?
“Ini, waktu itu kebawa.” Dia
mengulurkan sebuah buku yang sangat kukenal. Buku tebal berukuran sedang dengan
sampul abu-abu. Ini?! Buku diaryku yang hilang dari semester kemarin!
“Ini? Dari mana elo bisa dapetin
ini?” tanyaku. Secepat mungkin kudekap erat-erat buku itu.
“Akhir semester kemarin, elo
ninggalin di atas meja. Terus gue bawa aja,” jawabnya. Dan setelah itu dia
pergi. Meninggalkanku yang masih melongo tak percaya. Ini… ini adalah seluruh
kisah hidupku sejak aku mengenal caranya menulis diary. Dari jaman pertama aku
ditembak cowok tak jelas yang beda kelas denganku di minggu pertama aku masuk
SMP. Pengalaman pertamaku memakai pembalut di datang bulan pertamaku! Dan semua
kejadian yang menyebalkan, menyedihkan, membahagiakan, dan yang paling pentin
memalukan! Semuanya ada di sini! Bagaimana ini bisa?
Tunggu! Aku harus
mengonfirmasinya dulu dengannya. Dimana dia? Ah! Dia sudah hilang! Secepat
itukah dia sudah masuk ke kelas?
Kucincing rokku. Masa bodoh
dengan tatapan ilfeel padaku oleh orang lain yang menyaksikanku berlari
tergopoh-tergopoh menuju ruang C2. Kuedarkan pandanganku ke seisi kelas. Sudah
ada beberapa orang di sana. Dan… itu dia! Targert terlihat! Di dekat jendela!
Persis seperti tempat duduknya macam biasanya.
Brak! Kubanting diaryku di
atas mejanya. Dengan santainya dia mendongak. Menatapku penuh tanda tanya.
“Ada apa?” tanyanya begitu polos.
“Elo…” ah! Apa aku harus
menanyakannya? Ya! Tentu saja, Mia! Kau harus menanyakan untuk tahu, apakah ia
sudah mengetahui seluruh hidupmu selama ini? “Elo baca isinya, ya?” tanyaku.
Mengharap penolakan darinya. Aku benar-benar mengharapkannya meskipun itu
bohong. Tapi, dia malah mengangguk. Membuat mataku membulat besar, seolah
hampir keluar.
“Hah? Serius?!”
“Iya,” jawabnya begitu tenang.
Hh! Apa dia tak merasa bersalah karena sudah membaca privasi orang lain tanpa
izin?
“Kenapa? Kok elo seenaknya
sendiri gitu sih, baca diary orang tanpa izin?”
“Tadinya sih gue cuma mau lihat
itu buku siapa. Tapi, karena di situ ada tulisan catatan hidupku gue
penasaran. Terus gue baca, deh.”
“Dan… elo enggak ngerasa bersalah
gitu?”
“Kenapa? Seharusnya elo yang
terima kasih ke gue. Masih untung gue yang nemuin buku elo, bukan orang lain.
Coba kalau orang lain yang nemuin, pasti elo udah jadi bahan omongan di kelas
ini.” Hh! Penjelasannya tak bisa kuterima. Tapi, kenapa aku langsung bisa
bungkam? Rasanya aku sendiri tak punya tenaga untuk melawannya lagi. Dengan
terpaksa aku mundur. Menaruh tasku ke tempat yang sejauh mungkin dari tempat
duduknya. Mataku masih tajam kutujukan padanya. Jauh dari yang kubayangkan, dia
malah tak menggubrisku lagi. Sebaliknya, dia mengeluarkan buku tebal yang
sepertinya sebuah novel. Dasar sinting!
“Mia, ada yang nyariin elo, tuh!”
Sisca menghampiriku. Aku belum sempat bertanya, siapa, mataku sudah melihat
orang yang mencariku itu di depan pintu. “Brian?” kuhampiri dia yang seperti
biasa, lengkap dengan kaos olah raga hijaunya.
“Kok tumben elo ke sini? Ada
apaan?” tanyaku. Ia malah tersenyum. Barulah setelah tangannya mengulurkan
sesuatu padaku, aku paham. Binderku!
“Ini belinya pake duit, loh.
Dibuang-buang gitu aja,” ucapnya. Matanya beralih ke arah dalam. “Elo berantem
sama anak itu? Kenapa?” tanyanya. Ah, apa yang dimaksudnya itu Andre?
“Sini, geh! Ke depan kelas elo
aja. Enggak enak kalo di sini,” ajakku. Tanpa izin darinya, kutarik paksa
lengannya mengikutiku.
Seperti biasa, di bangku di depan
kelasnya aku mendudukkannya. Kupasang tampang cemberutku padanya. Aku senang,
karena Brian langsung pasang posisi siaga. Dia siap mendengar celoteh pertamaku
di semester ini.
“Kenapa? Kusut banget tuh muka!”
ejeknya.
Yah… kurasa, aku harus
menceritakan apa yang terjadi denganku padanya di semester kemarin. Bukan soal
kekesalanku pada Andre pagi ini. Tapi, tentang Badri.
Selesai aku cerita, Brian malah
diam. Kuhapus setetes air yang keluar tiba-tiba. Hanya setetes, ini tak begitu
sakit. Hanya lega saja sudah menceritakan semuanya pada Brian. Kuharap Brian
mengatakan sesuatu. Nihil. Ia malah berdiri. Memindah duduknya ke sampingnya.
Jantungku berdetak begitu cepat saat ia meraih kepalaku ke pundaknya. Aku
mendelik sempurna. A, apa ini?
“Kalau mau nangis, nangis aja.
Pundak ini kosong, kok,” ujarnya. Aku tak berani mengelak. Aku tidak ingin menangis.
Hanya aku tak bisa mengangkat kepalaku begitu saja. Seolah ada lem yang
merekatku kepalaku ke pundak Brian. Brian memang selalu hangat. Tapi, kenapa
rasanya yang satu ini lain, ya? Ia bahkan tak peduli saat teman-temannya
memperhatikan kami. Aku memilih diam. Menghindari rasa malu, kupilih menutup
rapat-rapat mataku.
Mungkin sekitar lima belas menit
aku ada di posisi ini. Brian benar-benar tak bicara apapun. Kupaksa membuka
mataku. Sudah tak ada siapapun di sini. Tunggu! Aku baru ingat sesuatu. Bukankah
Brian ada jam?
“Udah selesai nangisnya?”
tanyanya heran ketika kuangkat kepalaku.
“Udah, kok. Elo bukannya ada
jam?”
“Enggak papa, kok. Kalo elo masih
sedih, gue masih bisa nemenin. Palingan juga cuma disuruh push up 100 kali kalo
telat.”
Aku mendelik sempurna. Push up
100 kali? “Eh, eh! Gue, gue udah enggak papa, kok. Sana! Sana! Buruan!”
kudorong-dorong tubuhnya agar cepat bangun.
“Beneran enggak papa gue
tinggal?”
“Iya, iya! Duh, gila elo, ya?
Push up 100 kali nyantai bener! Sana! Sana!” kukibas-kibaskan tanganku.
Walaupun awalnya ragu-ragu, akhirnya Brian mau juga mendengarkanku dan segera
menyusul teman-temannya ke lapangan. Huft… padahal aku kan tidak benar-benar
sakit hati. Hanya sedikit kecewa saja. Tapi sampai merepotkannya seperti itu.
Sepertinya Brian benar-benar mengkhawatirkanku.
Kulirik jam tanganku. Ah,
sebentar lagi jam kuliahku pun dimulai. Aku harus bergegas!
“Hai, Mia!” sapa seseorang dari
belakang. Ternyata Tora, lengkap dengan lolliponya seperti biasa. Ia tersenyum.
Itu adalah senyum yang biasanya ia lemparkan padaku. Tapi, kenapa rasanya
terasa lain, ya? Yang kuingat adalah kekhawatirannya padaku setelah aku dicampakkan
oleh Badri. Juga, malam kedatangannya yang belum kutanyakan sampai sekarang.
Muncul lagi pertanyaan soal, apakah Tora memang menyukaiku?
“Wah, cantiknya!” serunya
tiba-tiba. Aku cukup terkejut. Apa barusan ia memujiku? Hey! Aku hanya
mengganti model rambutku saja. Kalau biasanya aku mengucir satu rambutku, kali
ini kucoba mengepangnya ala-ala Elsa di film animasi Frozen itu.
Masa hanya begini saja sampai bisa membuatnya berdecak kagum seperti itu.
Bahkan lolipopnya hampir saja jatuh.
“Apaan, sih? Gombal banget elo
ngatain gue cantik!”
“Hah? Siapa juga yang bilang elo
cantik? Itu, pita yang elo pake yang cantik! Pita baru, ya? Ahahaha…” sial! Aku
sudah dibuatnya malu dan sok ke-PD-an begini. Dasar Tora menyebalkan!
“Dari ketemuan sama cowok elo,
ya?” tanyanya selesai tertawa menjengkalkan tadi.
“Apa, sih! Brian itu bukan cowok
gue!” sentakku sebal.
“Lah? Tadi elo nyender-nyender di
pundaknya gitu, apalagi kalo bukan cowok?”
“Ye! Enggak percaya juga enggak
papa, kok!” kulangkahkan kakiku. Mendahuluinya. Kesal benar kalau harus
berjalan beriringan dengan Tora.
“Lagian nih, ya… kalo emang Brian
itu cowok gue, mana mau gue diajakin sama Badri dari kemaren-kemaren? Mending
gue sama Brian yang udah gue kenal dari dulu lah. Lagian juga, kalau ada cowok
yang gue suka, pasti gue bakalan cerita sama elo oranglah. Ngerti be…” hey!
Kemana perginya Tora? Tadi perasaan dia masih ada di belakangku.
Kepalaku celingukan. Kemana bocah
itu sampai hilang secepat itu.
“Tora?” kucoba memanggil namanya.
Belum sampai ia menjawab panggilanku, aku sudah menemukannya. Ada di dekat
pembatas parkiran. Dia sedang mengobrol dengan seorang cewek. Wah! Bukankah
cewek itu sangat cantik? Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Rambut yang
sangat bagus. Terlebih ditambah dengan wajahnya yang macam wanita-wanita
keturunan Timur Tengah itu. Kulitnya jauh lebih putih dariku. Apalagi
tingginya. Bagaimana Tora bisa mengenal cewek seperti itu?
Satu hal yang membuatku menghela
nafas. Aku kenapa? Mungkinkah aku kecewa? Karena melihat cara Tora bicara dan
senyumannya yang seolah-olah bersinar itu, aku mulai menghapus permanen
kata-kata kalau Tora menyukaiku. Tidak. Ternyata dia tidak menyukaiku.
***
“Elo serius mau keluar dari
Kopma? Baru juga setengah jalan,” tanggap Farra saat aku selesai cerita soal
keinginanku keluar dari UKM Koperasi di kampusku.
“Iya, serius. Gue ini ikut Kopma
berharap dapet penghasilan. Eh… enggak taunya malah cuma disuruh jualan
keliling kampus. Mending kalo dikasih harga modal. Kagak! Ini mah disuruh jual
pake harga jual mereka. Ya cuma dapet capek doang gue! Bukannya dapet duit!”
“Terus… elo mau nganggur gitu
aja?”
“Nah, elo sendiri? Elo aja enggak
ikut organisasi apa-apa, kan?”
“Ehm…” Farra berpikir sejenak.
Menunggunya berpikir, mataku menyisir kelas ini. Sepi. Hanya ada selang satu
jam untuk mata kuliah selanjutnya. Yang kucari adalah Sati. Kalau Wawan dan
Tora, tadi sudah bilang mau ke kantin. Tadi, padahal setelah sholat dzuhur, dia
masih bersama kami. Tapi, begitu masuk kelas entah hilang kemana. Melayang
kemana lagi bocah satu itu? Pasti mencari bahan untuk informasinya hari ini. Ngider!
“Gimana kalo kita ikut hima aja?”
ide Farra setelah berpikir sekitar lima detik, mungkin.
“Itu yang mau gue omongin ke elo.
Gue mau ngajakin elo sama Sati juga. Lumayan, kan? Daripada cuma jadi mahasiswa
kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang.”
“Gue ikut, deh! Bete juga pulang
di kosan enggak ada siapa-siapa. Anak-anak organisasi semua.” Belum selesai
pikirku tentang Sati tadi, bocah itu sudah masuk ke kelas. Hpnya tak pernah
lepas dari pandangan matanya.
“Sat! Ikut, yok!” ajak Farra
kemudian.
“Ha? Ke mana?” tanyanya. Walau
begitu, rasanya, hpnya lebih menarik. Buktinya, dia tak melirik ke arah kami
sedikit pun.
“Masuk Hima aja! Daripada
nganggur di kosan.”
“Ehm… nanti deh gue pikir-pikir
lagi. Kalo Wawan ikut, gue ikut, deh,” jawabnya lantas langsung duduk di
bangkunya. Aku tertawa melihat Farra yang mencibirkan bibirnya kesal.
“Dasar! Dikit-dikit Wawan!
Dikit-dikit Wawan! Nih ya, Mi! Gue rasa, dia ini suka deh sama Wawan,” decak
Farra sebal. Aku tak serius menanggapinya. Karena aku juga yakin, Farra juga
hanya bercanda. Memang, di antara kami, yang paling dekat dan bisa mengerti
Wawan hanya Sati. Dari semua orang, Wawan juga paling percaya dengan Sati. Tak
jarang kami melihat mereka jalan berdua. Baik itu sekedar ke kantin, atau ke
toko buku.
Kalau Farra, kulihat dia belum
ada ketertarikan dengan cowok manapun selama satu semester ini. Aku? Aku sudah
biasa saja dengan Badri. Bahkan, tadi aku sempat menyapanya. Aku tak mau
terlalu lama membenci orang. Lagipula, aku saja mungkin yang sudah terlalu
percaya diri, menganggap
Badri menyukaiku. Aneh kalau aku sampai memusuhinya.
Justru, dengan aku mengajak Farra
ke hima jurusan, ada satu orang yang menarik perhatianku. Sudah sejak semester
awal dulu aku memperhatikannya. Andai saja aku tak sibuk dengan Badri, dan UKM
Koperasiku, mungkin aku sudah masuk hima dari dulu. Dia kakak satu tingkat
denganku. Dia juga menjabat sebagai ketua umum di hima kami. Bagaimana bisa aku
tertarik dengan tampangnya sebenarnya biasa saja? Perawakan orang Jawa yang
bila bicara pun ada khas Jawanya. Medok. Bukan karena apa-apa. Tapi,
karena pidato singkatnya saat Ospek. Aku terpesona dengan kata-katanya. Mungkin
ini salah satu jalan untuk mencapai salah satu impianku di sini. Mencari
pangeran pujaanku. Nasib baik, kalau aku bisa mengambil hati kakak itu, kan?
Selesai kuliah jam 3. Selepas
sholat ashar, aku dan Farra pergi ke sekretariatnya. Senyumku langsung
mengembang karena yang giliran jaga di sana adalah dia. Ya, kakak tingkat itu!
Wah, nasibku benar-benar beruntung.
Kami datang untuk wawancara.
Biasa, sedikit formalitas untuk menjadi anggota magang di sana. Kudengar pun,
sebentar lagi akan ada acara besar. Pasti, tak mungkin menyeleksi anggota.
Acara besar tentu butuh banyak orang untuk menjadi panitia, ya?
Selama kakak ini bicara panjang
lebar, aku tak merasa bosan. Justru aku merasa makin terpesona dengan caranya
bicara. Ada jiwa pemimpin di sana. Dan itu sangat keren, menurutku. Ya,
keputusanku untuk masuk hima adalah hal yang tepat. Baguslah! Langkah pertama
sukses.
“Sering-sering ke sekret, ya!”
ujarnya setelah kami keluar dari sana.
“Oke, Kak!” jawabku dan Farra
hampir berbarengan.
Baru separuh jalan, Farra
mengganduli lenganku. “Mi, Mi! Kakak tadi! Yang ketua umum tadi. Siapa
namanya?”
“Kak Dedi?”
“Iya, iya! Kak Dedi! Ehm…” Farra
tersenyum-senyum sendiri.
“Kenapa?” tanyaku mulai curiga.
Apa mungkin…
“Kakak itu, ya? Walaupun Jawanya
medok banget, tapi caranya ngomong itu, loh. Wah… keren banget!” nah, benar,
kan.
“Elo… suka sama dia?” tanyaku
ragu. Tidak! Kuharap jawabannya tidak.
“Kayaknya iya, deh. Selama dia
ngomong tadi, jantung gue enggak mau diem. Keputusan yang tepat banget gue ikut
hima!” serunya senang sekali. Aku terhenti. Sedang Farra berjalan duluan dan
tak sadar kalau aku tak ada di sampingnya.
Hah… apa kali ini langkahku salah lagi?
Sebelumnya Selanjutnya