Tuesday, January 14, 2020

Terhenti, Langkah Keduaku


Semester dua! Ini semester baru, dan ceritaku harus baru! Lupakan soal kisah cinta yang kandas menyebalkan di semester lalu! Aku akan mulai serius mencari cinta… eh! Maksudku mencari nilai yang lebih baik di semester ini. IP semester kemarin lumayan besar, 3, 92. Kalau saja aku bisa mempertahankannya, maka cumlaude bisa kugondol setelah lulus dari sini.

Bruk! Aw! Kenapa ini? Kenapa setiap aku melangkah dengan senyuman di awal masuk kuliah selalu saja ada yang menabrakku.

“Liat-liat dong kalo ja…”

“Sorry,” ujarnya. Hh! Dan kenapa bisa lagi-lagi Andre yang menabrakku? Heran! Apa dia  ini tak pernah pakai mata kalau jalan? Dan kupastikan dia tak akan membantuku mengambilkan buku catatanku yang sudah terlempar lumayan jauh dari sana.

Aku bermaksud mengambil buku itu, tapi dia malah menghalangiku. Oh, ternyata dia belum pergi?

“Ini, waktu itu kebawa.” Dia mengulurkan sebuah buku yang sangat kukenal. Buku tebal berukuran sedang dengan sampul abu-abu. Ini?! Buku diaryku yang hilang dari semester kemarin!

“Ini? Dari mana elo bisa dapetin ini?” tanyaku. Secepat mungkin kudekap erat-erat buku itu.

“Akhir semester kemarin, elo ninggalin di atas meja. Terus gue bawa aja,” jawabnya. Dan setelah itu dia pergi. Meninggalkanku yang masih melongo tak percaya. Ini… ini adalah seluruh kisah hidupku sejak aku mengenal caranya menulis diary. Dari jaman pertama aku ditembak cowok tak jelas yang beda kelas denganku di minggu pertama aku masuk SMP. Pengalaman pertamaku memakai pembalut di datang bulan pertamaku! Dan semua kejadian yang menyebalkan, menyedihkan, membahagiakan, dan yang paling pentin memalukan! Semuanya ada di sini! Bagaimana ini bisa?

Tunggu! Aku harus mengonfirmasinya dulu dengannya. Dimana dia? Ah! Dia sudah hilang! Secepat itukah dia sudah masuk ke kelas?

Kucincing rokku. Masa bodoh dengan tatapan ilfeel padaku oleh orang lain yang menyaksikanku berlari tergopoh-tergopoh menuju ruang C2. Kuedarkan pandanganku ke seisi kelas. Sudah ada beberapa orang di sana. Dan… itu dia! Targert terlihat! Di dekat jendela! Persis seperti tempat duduknya macam biasanya.

Brak! Kubanting diaryku di atas mejanya. Dengan santainya dia mendongak. Menatapku penuh tanda tanya.

“Ada apa?”  tanyanya begitu polos.

“Elo…” ah! Apa aku harus menanyakannya? Ya! Tentu saja, Mia! Kau harus menanyakan untuk tahu, apakah ia sudah mengetahui seluruh hidupmu selama ini? “Elo baca isinya, ya?” tanyaku. Mengharap penolakan darinya. Aku benar-benar mengharapkannya meskipun itu bohong. Tapi, dia malah mengangguk. Membuat mataku membulat besar, seolah hampir keluar.

“Hah? Serius?!”

“Iya,” jawabnya begitu tenang. Hh! Apa dia tak merasa bersalah karena sudah membaca privasi orang lain tanpa izin?

“Kenapa? Kok elo seenaknya sendiri gitu sih, baca diary orang tanpa izin?”

“Tadinya sih gue cuma mau lihat itu buku siapa. Tapi, karena di situ ada tulisan catatan hidupku gue penasaran. Terus gue baca, deh.”

“Dan… elo enggak ngerasa bersalah gitu?”

“Kenapa? Seharusnya elo yang terima kasih ke gue. Masih untung gue yang nemuin buku elo, bukan orang lain. Coba kalau orang lain yang nemuin, pasti elo udah jadi bahan omongan di kelas ini.” Hh! Penjelasannya tak bisa kuterima. Tapi, kenapa aku langsung bisa bungkam? Rasanya aku sendiri tak punya tenaga untuk melawannya lagi. Dengan terpaksa aku mundur. Menaruh tasku ke tempat yang sejauh mungkin dari tempat duduknya. Mataku masih tajam kutujukan padanya. Jauh dari yang kubayangkan, dia malah tak menggubrisku lagi. Sebaliknya, dia mengeluarkan buku tebal yang sepertinya sebuah novel.  Dasar sinting!

“Mia, ada yang nyariin elo, tuh!” Sisca menghampiriku. Aku belum sempat bertanya, siapa, mataku sudah melihat orang yang mencariku itu di depan pintu. “Brian?” kuhampiri dia yang seperti biasa, lengkap dengan kaos olah raga hijaunya.

“Kok tumben elo ke sini? Ada apaan?” tanyaku. Ia malah tersenyum. Barulah setelah tangannya mengulurkan sesuatu padaku, aku paham. Binderku!

“Ini belinya pake duit, loh. Dibuang-buang gitu aja,” ucapnya. Matanya beralih ke arah dalam. “Elo berantem sama anak itu? Kenapa?” tanyanya. Ah, apa yang dimaksudnya itu Andre?

“Sini, geh! Ke depan kelas elo aja. Enggak enak kalo di sini,” ajakku. Tanpa izin darinya, kutarik paksa lengannya mengikutiku.

Seperti biasa, di bangku di depan kelasnya aku mendudukkannya. Kupasang tampang cemberutku padanya. Aku senang, karena Brian langsung pasang posisi siaga. Dia siap mendengar celoteh pertamaku di semester ini.

“Kenapa? Kusut banget tuh muka!” ejeknya.

Yah… kurasa, aku harus menceritakan apa yang terjadi denganku padanya di semester kemarin. Bukan soal kekesalanku pada Andre pagi ini. Tapi, tentang Badri.

Selesai aku cerita, Brian malah diam. Kuhapus setetes air yang keluar tiba-tiba. Hanya setetes, ini tak begitu sakit. Hanya lega saja sudah menceritakan semuanya pada Brian. Kuharap Brian mengatakan sesuatu. Nihil. Ia malah berdiri. Memindah duduknya ke sampingnya. Jantungku berdetak begitu cepat saat ia meraih kepalaku ke pundaknya. Aku mendelik sempurna. A, apa ini?

“Kalau mau nangis, nangis aja. Pundak ini kosong, kok,” ujarnya. Aku tak berani mengelak. Aku tidak ingin menangis. Hanya aku tak bisa mengangkat kepalaku begitu saja. Seolah ada lem yang merekatku kepalaku ke pundak Brian. Brian memang selalu hangat. Tapi, kenapa rasanya yang satu ini lain, ya? Ia bahkan tak peduli saat teman-temannya memperhatikan kami. Aku memilih diam. Menghindari rasa malu, kupilih menutup rapat-rapat mataku.

Mungkin sekitar lima belas menit aku ada di posisi ini. Brian benar-benar tak bicara apapun. Kupaksa membuka mataku. Sudah tak ada siapapun di sini. Tunggu! Aku baru ingat sesuatu. Bukankah Brian ada jam?

“Udah selesai nangisnya?” tanyanya heran ketika kuangkat kepalaku.

“Udah, kok. Elo bukannya ada jam?”

“Enggak papa, kok. Kalo elo masih sedih, gue masih bisa nemenin. Palingan juga cuma disuruh push up 100 kali kalo telat.”

Aku mendelik sempurna. Push up 100 kali? “Eh, eh! Gue, gue udah enggak papa, kok. Sana! Sana! Buruan!” kudorong-dorong tubuhnya agar cepat bangun.

“Beneran enggak papa gue tinggal?”

“Iya, iya! Duh, gila elo, ya? Push up 100 kali nyantai bener! Sana! Sana!” kukibas-kibaskan tanganku. Walaupun awalnya ragu-ragu, akhirnya Brian mau juga mendengarkanku dan segera menyusul teman-temannya ke lapangan. Huft… padahal aku kan tidak benar-benar sakit hati. Hanya sedikit kecewa saja. Tapi sampai merepotkannya seperti itu. Sepertinya Brian benar-benar mengkhawatirkanku.

Kulirik jam tanganku. Ah, sebentar lagi jam kuliahku pun dimulai. Aku harus bergegas!

“Hai, Mia!” sapa seseorang dari belakang. Ternyata Tora, lengkap dengan lolliponya seperti biasa. Ia tersenyum. Itu adalah senyum yang biasanya ia lemparkan padaku. Tapi, kenapa rasanya terasa lain, ya? Yang kuingat adalah kekhawatirannya padaku setelah aku dicampakkan oleh Badri. Juga, malam kedatangannya yang belum kutanyakan sampai sekarang. Muncul lagi pertanyaan soal, apakah Tora memang menyukaiku?

“Wah, cantiknya!” serunya tiba-tiba. Aku cukup terkejut. Apa barusan ia memujiku? Hey! Aku hanya mengganti model rambutku saja. Kalau biasanya aku mengucir satu rambutku, kali ini kucoba mengepangnya ala-ala Elsa di film animasi Frozen itu. Masa hanya begini saja sampai bisa membuatnya berdecak kagum seperti itu. Bahkan lolipopnya hampir saja jatuh.

“Apaan, sih? Gombal banget elo ngatain gue cantik!”

“Hah? Siapa juga yang bilang elo cantik? Itu, pita yang elo pake yang cantik! Pita baru, ya? Ahahaha…” sial! Aku sudah dibuatnya malu dan sok ke-PD-an begini. Dasar Tora menyebalkan!

“Dari ketemuan sama cowok elo, ya?” tanyanya selesai tertawa menjengkalkan tadi.

“Apa, sih! Brian itu bukan cowok gue!” sentakku sebal.

“Lah? Tadi elo nyender-nyender di pundaknya gitu, apalagi kalo bukan cowok?”

“Ye! Enggak percaya juga enggak papa, kok!” kulangkahkan kakiku. Mendahuluinya. Kesal benar kalau harus berjalan beriringan dengan Tora.

“Lagian nih, ya… kalo emang Brian itu cowok gue, mana mau gue diajakin sama Badri dari kemaren-kemaren? Mending gue sama Brian yang udah gue kenal dari dulu lah. Lagian juga, kalau ada cowok yang gue suka, pasti gue bakalan cerita sama elo oranglah. Ngerti be…” hey! Kemana perginya Tora? Tadi perasaan dia masih ada di belakangku.

Kepalaku celingukan. Kemana bocah itu sampai hilang secepat itu.

“Tora?” kucoba memanggil namanya. Belum sampai ia menjawab panggilanku, aku sudah menemukannya. Ada di dekat pembatas parkiran. Dia sedang mengobrol dengan seorang cewek. Wah! Bukankah cewek itu sangat cantik? Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Rambut yang sangat bagus. Terlebih ditambah dengan wajahnya yang macam wanita-wanita keturunan Timur Tengah itu. Kulitnya jauh lebih putih dariku. Apalagi tingginya. Bagaimana Tora bisa mengenal cewek seperti itu?

Satu hal yang membuatku menghela nafas. Aku kenapa? Mungkinkah aku kecewa? Karena melihat cara Tora bicara dan senyumannya yang seolah-olah bersinar itu, aku mulai menghapus permanen kata-kata kalau Tora menyukaiku. Tidak. Ternyata dia tidak menyukaiku.

***

“Elo serius mau keluar dari Kopma? Baru juga setengah jalan,” tanggap Farra saat aku selesai cerita soal keinginanku keluar dari UKM Koperasi di kampusku.

“Iya, serius. Gue ini ikut Kopma berharap dapet penghasilan. Eh… enggak taunya malah cuma disuruh jualan keliling kampus. Mending kalo dikasih harga modal. Kagak! Ini mah disuruh jual pake harga jual mereka. Ya cuma dapet capek doang gue! Bukannya dapet duit!”

“Terus… elo mau nganggur gitu aja?”

“Nah, elo sendiri? Elo aja enggak ikut organisasi apa-apa, kan?”

“Ehm…” Farra berpikir sejenak. Menunggunya berpikir, mataku menyisir kelas ini. Sepi. Hanya ada selang satu jam untuk mata kuliah selanjutnya. Yang kucari adalah Sati. Kalau Wawan dan Tora, tadi sudah bilang mau ke kantin. Tadi, padahal setelah sholat dzuhur, dia masih bersama kami. Tapi, begitu masuk kelas entah hilang kemana. Melayang kemana lagi bocah satu itu? Pasti mencari bahan untuk informasinya hari ini. Ngider!

“Gimana kalo kita ikut hima aja?” ide Farra setelah berpikir sekitar lima detik, mungkin.

“Itu yang mau gue omongin ke elo. Gue mau ngajakin elo sama Sati juga. Lumayan, kan? Daripada cuma jadi mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang.”

“Gue ikut, deh! Bete juga pulang di kosan enggak ada siapa-siapa. Anak-anak organisasi semua.” Belum selesai pikirku tentang Sati tadi, bocah itu sudah masuk ke kelas. Hpnya tak pernah lepas dari pandangan matanya.

“Sat! Ikut, yok!” ajak Farra kemudian.

“Ha? Ke mana?” tanyanya. Walau begitu, rasanya, hpnya lebih menarik. Buktinya, dia tak melirik ke arah kami sedikit pun.

“Masuk Hima aja! Daripada nganggur di kosan.”

“Ehm… nanti deh gue pikir-pikir lagi. Kalo Wawan ikut, gue ikut, deh,” jawabnya lantas langsung duduk di bangkunya. Aku tertawa melihat Farra yang mencibirkan bibirnya kesal.

“Dasar! Dikit-dikit Wawan! Dikit-dikit Wawan! Nih ya, Mi! Gue rasa, dia ini suka deh sama Wawan,” decak Farra sebal. Aku tak serius menanggapinya. Karena aku juga yakin, Farra juga hanya bercanda. Memang, di antara kami, yang paling dekat dan bisa mengerti Wawan hanya Sati. Dari semua orang, Wawan juga paling percaya dengan Sati. Tak jarang kami melihat mereka jalan berdua. Baik itu sekedar ke kantin, atau ke toko buku.

Kalau Farra, kulihat dia belum ada ketertarikan dengan cowok manapun selama satu semester ini. Aku? Aku sudah biasa saja dengan Badri. Bahkan, tadi aku sempat menyapanya. Aku tak mau terlalu lama membenci orang. Lagipula, aku saja mungkin yang sudah terlalu percaya diri, menganggap 
Badri menyukaiku. Aneh kalau aku sampai memusuhinya.

Justru, dengan aku mengajak Farra ke hima jurusan, ada satu orang yang menarik perhatianku. Sudah sejak semester awal dulu aku memperhatikannya. Andai saja aku tak sibuk dengan Badri, dan UKM Koperasiku, mungkin aku sudah masuk hima dari dulu. Dia kakak satu tingkat denganku. Dia juga menjabat sebagai ketua umum di hima kami. Bagaimana bisa aku tertarik dengan tampangnya sebenarnya biasa saja? Perawakan orang Jawa yang bila bicara pun ada khas Jawanya. Medok. Bukan karena apa-apa. Tapi, karena pidato singkatnya saat Ospek. Aku terpesona dengan kata-katanya. Mungkin ini salah satu jalan untuk mencapai salah satu impianku di sini. Mencari pangeran pujaanku. Nasib baik, kalau aku bisa mengambil hati kakak itu, kan?

Selesai kuliah jam 3. Selepas sholat ashar, aku dan Farra pergi ke sekretariatnya. Senyumku langsung mengembang karena yang giliran jaga di sana adalah dia. Ya, kakak tingkat itu! Wah, nasibku benar-benar beruntung.

Kami datang untuk wawancara. Biasa, sedikit formalitas untuk menjadi anggota magang di sana. Kudengar pun, sebentar lagi akan ada acara besar. Pasti, tak mungkin menyeleksi anggota. Acara besar tentu butuh banyak orang untuk menjadi panitia, ya?

Selama kakak ini bicara panjang lebar, aku tak merasa bosan. Justru aku merasa makin terpesona dengan caranya bicara. Ada jiwa pemimpin di sana. Dan itu sangat keren, menurutku. Ya, keputusanku untuk masuk hima adalah hal yang tepat. Baguslah! Langkah pertama sukses.

“Sering-sering ke sekret, ya!” ujarnya setelah kami keluar dari sana.

“Oke, Kak!” jawabku dan Farra hampir berbarengan.

Baru separuh jalan, Farra mengganduli lenganku. “Mi, Mi! Kakak tadi! Yang ketua umum tadi. Siapa namanya?”

“Kak Dedi?”

“Iya, iya! Kak Dedi! Ehm…” Farra tersenyum-senyum sendiri.

“Kenapa?” tanyaku mulai curiga. Apa mungkin…

“Kakak itu, ya? Walaupun Jawanya medok banget, tapi caranya ngomong itu, loh. Wah… keren banget!” nah, benar, kan.

“Elo… suka sama dia?” tanyaku ragu. Tidak! Kuharap jawabannya tidak.

“Kayaknya iya, deh. Selama dia ngomong tadi, jantung gue enggak mau diem. Keputusan yang tepat banget gue ikut hima!” serunya senang sekali. Aku terhenti. Sedang Farra berjalan duluan dan tak sadar kalau aku tak ada di sampingnya.

Hah… apa kali ini langkahku salah lagi?

Sebelumnya             Selanjutnya