Tuesday, January 14, 2020

Gambar


Kafe teman papa itu ada di Teluk. Tak jauh dari Bundaran Gajah. Jaraknya sekitar 9 km dari rumah. Papa bawa mobil, seharusnya bisa sampai lebih  cepat. Tapi, karena malam ini cukup ramai, kami baru sampai setelah 30 menit. Banyak sekali karangan bunga ucapan selamat. Pita-pita dan balon-balon menjadi dekorasi utama. Karena semuanya terbuat dari kaca, bisa terlihat sudah banyak sekali orang di dalam. Banyak lampu warna-warni, tapi tak begitu menganggu pandangan mata. Papa menggandengku masuk. Sampai-sampai aku tak sempat mengingat nama cafenya tadi.

Sampai di dalam, seorang pria kurus tinggi paruh baya dengan kacamata mendekati kami. Ia tersenyum lebar dan menyalami papa. Selepasnya papa dipeluk begitu erat. Apakah dia teman papa itu?

“Ini?” ia menunjukku. Aku tersenyum seramah mungkin.

“Ya, ini gadis kecilku.”

“Oh, ya?” ia menyalamiku. Aku menyambutnya. “Yang kuliah di Unila itu juga?”

“Iya, Om. Saya Mia,” ujarku. Dia tertawa. Siapa tadi namanya? Padahal papa sudah memberitahunya saat di jalan. Tapi sayangnya aku lupa.

“Anakmu di mana?” kini papa yang giliran bertanya. Kutinggalkan mereka dengan memandang seisi kafe. Kafenya cukup sederhana, tapi terlihat begitu berkelas. Pasti om ini orang kaya. Lihat saja hidangan yang disajikan. Juga tamu-tamu yang datang ini, semuanya berjas mahal. Mungkin saja satu tingkat di atas papa. Entahlah. Aku tak paham dengan merk pakaian.

Beberapa menit papa dan om ini mengobrol, tiba-tiba suasana kafe yang ramai tadi meredup. Aku sempat bingung kenapa. Ternyata akan ada sebuah penampilan. Lampu di atas kami langsung meredup. Sebuah panggung kecil di depan sana yang mulai menjadi sorotan lampu. Ada seseorang duduk di depan grand piano. Lengkap benar dengan setelan tuxedo serba putih. Awalnya aku tak begitu jelas melihat wajahnya. Tapi, seiring lampu menyorotnya makin terang, mataku membulat sempuran. Bu, bukankah itu Andre?

“Nah itu dia. Anakku, ganteng, kan? Persis kaya papanya,” kata om ini di tengah kesunyian.

Kutengok lagi om tadi. Seinci pun rasanya aku tak melihat aura Andre di wajah om yang cukup tampan ini. Om ini terlalu ramah untuk dibandingkan dengan Andre. Apa benar Andre anak dari teman papa? Mataku celingukan. Mencari apa-apa saja untuk membuatku percaya. Ada papan tulis panjang di depan pintu masuk. Terlihat cukup jelas untuk kubaca mengingat di luar lampu masih dihidupkan. Dengan dinding-dinding kaca ini, aku bisa melihat tulisan Grand Opening Andre Café di sana. Oh, ternyata ini sungguhan milik papanya Andre! Tunggu! Bukannya Sati pernah bilang dia satu SMA dengan Andre? Lalu, kenapa Andre bisa tinggal di sini? Sati kan dari Metro.

Lalu terdengarlah suara tuts piano mulai dimainkan. Melody awalnya terlalu bagus. Apalagi dengan ekspresinya yang terlalu menikmati itu. Aku benar-benar tak percaya kalau itu Andre si expressionless itu. Dia kelihatan sangat berbeda! Ia memainkan melody lagu A Thousand Years-nya Christinna Perri. Sayup, beberapa orang yang merasa akrab dengan lagu ini mendendangkan liriknya. Sedangkan aku diam. Aku tertegun. Masih tak percaya kalau itu adalah orang yang memasang tampang watados setelah kusentak gara-gara membaca buku diaryku.

Tiba-tiba kurasa semua orang menghilang. Kurasa, di atas sana, Andre tak sendirian. Ada Christinna Perri yang melantunkan lagunya terlalu manis. Andre menjadi pengiringnya. Ada kunang-kunang yang mengitari mereka berdua. Kurasa ada setetes embun yang menyejukkan hatiku saat lirik I love you for a thousand years. Seolah lagu itu benar-benar untukku. Terlebih, setelah itu imajinasiku mulai melambung terlalu tinggi. Entah kenapa rasanya Andre melihat kemari. Tersenyum begitu manisnya kemari. Senyum yang tak pernah kulihat selama aku sekelas dengannya. Dan lama kelamaan, Christinna Perri menghilang dari pandanganku. Tapi masih jelas kudengar suaranya mengalun begitu mesranya. Kunikmati setiap permainan jari Andre di atas tuts-tuts hitam putih itu. Ekspresinya itu, semuanya benar-benar terasa hidup. Kunang-kunang menari-menari. Mendekatiku dan mengusap-usap pipiku. Dan semilir angin yang mengitip dari ventilasi memaksa setitik air keluar dari pelupuk mataku.

Hingga akhirnya aku tersadar ketika riuh tepuk tangan penonton terdengar. Aku sadar, tak ada Christinna Perri, tak ada kunang-kunang, dan Andre sendirian. Uh! Mia! Apa yang baru saja kau imajinasikan? Aku benar-benar tak menyangka aku baru saja berimajinasi seliar itu. Andre tersenyum? Mana mungkin, kan?

Tapi, setelah kulihat lagi, Andre memang tersenyum sekarang. Hanya saja, senyumnya begitu tipis. Hanya sekedar berucap terima kasih atas apresiasi yang baru saja ia dapatkan. Heran, aku sendiri tak pernah melihat Andre tersenyum terlalu manis. Kenapa aku bisa membayangkan ia tersenyum tadi, ya?

Kemudian ia turun. Apa aku salah kalau mengira dia mengarah kemari? Oh! Tunggu! Tidak! Dia benar-benar mengarah kemari. Dia pasti hanya ingin menemu papanya, kan? Kenapa jantungku berdebar-debar? Ah, apa yang harus kukatakan padanya bisa ada di tempat ini? Aku kan tak pernah mengobrol dengannya!

“Mia!” papanya Andre tiba-tiba memanggilku. Nyaris menghentikan detak jantungku. Andre sudah ada di depanku tanpa kusadari. Pasti mataku sudah membulat begitu besarnya sekarang. Lihatlah! Andre bisa bersikap biasa saja. Ia melirikku sebentar dan tak bereaksi apapun. Apa dia sudah tahu kalau aku akan kemari?

“Ini Andre. Kalian sudah saling kenal, kan? Dia juga mengambil Bahasa dan Sastra Indonesia juga di Unila,” lanjut om… ah! Aku ingat sekarang. Namanya Om Azril. Yah… Om Azril.

“I, iya, Om…”

“Kenal dong, Pa. Kita sekelas, kok,” Andre memotong jawabanku yang eng… ang… eng… “Iya kan, Mi?” ia beralih padaku. Aku mengangkat kedua alisku. Tak paham dengan pertanyaannya tadi. Dan akhirnya aku merasa senyumnya yang barusan dibentuk itu terpaksa. Atau malah sedikit memaksaku untuk berujar, “I, iya, Om. Udah kenal, kok.” Dan dia berhasil. Aku mengucapkannya juga pada akhirnya.

“Oh, satu kelas malah. Om tadi enggak inget sih nama kamu, An. Jadi, Om enggak sempet ngasih tau Mia tadi,” papa ikutan nimbrung.

“Ya udah. Ajak Mianya makan sana, An. Papa mau ngobrol-ngobrol sama Om Gilang ini.” Hm? Apa? Barusan Om Azril bilang apa?

“Oh, ya. Yok, Mi!” ajak Andre tiba-tiba. Aku masih mencoba memberi sinyal padanya untuk menolak. Tapi, dia tiba-tiba malah menarik tanganku. Menyeretku dengan paksa, menuju meja panjang dengan barisan dessert di atasnya. Sampai di sana, buru-buru ia melepas tanganku.

“Ehem!” serak tiba-tiba tenggorokannya. Segelas penuh jus jeruk ia tengguk. Padahal aku baru saja ingin protes padanya. Tapi kupending dulu. Setelah kurasa dia siap mendengarnya, kusentakkan sedikit keras padanya.

“Ngapain sih narik-narik ke sini? Kita kan enggak akrab!”

“Emang elo mau, gabung sama bapak-bapak di sono itu?” ia menunjuk beberapa orang yang sudah berkumpul dengan papa dan Om Azril. Semuanya berjas. Ya, walaupun aku tahu mereka pasti akan lebih membosankan dari Andre. Tapi kan tetap saja. Lihat saja. Kami sekarang begitu canggunya. Aku tak tahu harus bicara apa padanya.

Harus kucari basa-basi. Kulirik lagi papan tulis di depan sana. Masih bisa jelas kulihat kata Andre ditulis cukup besar itu. “Kafe ini pasti buat elo, ya?” tanyaku basa-basi.

“Bukan! Buat pembatu gue!” jawabnya ketus. “Ya iyalah buat gue. Enggak liat apa namanya aja udah Andre kafe!” hish! Rasanya ingin betul kupukul orang ini dengan gelas terdekat. Ditanya baik-baik, jawabannya malah bikin kesal setengah mati!

“Lagian… elo ngapain sih mau-mauan diajak ke acara beginian?”

“Ye… kalau aja gue tahu, Om Azril itu bokap elo, mana mau gue dateng ke sini?” balasku lebih ketus.

“Ya kenapa elo enggak tanya-tanya?”

“Ya terserah gue dong!”

“Cck! Nasib baik cuma elo yang dateng,” desisnya sebal. Kenapa dia tiba-tiba jadi sebal begitu, sih? Beda benar dengan tampilannya yang sudah necis itu.

“Ya iyalah. Emang siapa lagi yang mau dateng? Elo kan enggak punya temen!” ceplosku.

“Gue punya, ya!” sentaknya. Aku cukup terkejut. Tak kusangka, ceplosanku barusan didengarnya. Sekalian sajalah kucibir dia. Sudah terlajur juga.

“Siapa? Gue enggak pernah tuh, liat elo ngobrol sama temen di kelas! Waktu kerja kelompok aja, elo cuma diem aja kayak mannequin!”

“Ternyata elo selama ini merhatiin gue, ya?”

Mataku mendelik mendengar responnya. “Hh!” decakku tak percaya. Kenapa dia tiba-tiba bisa se-PD ini, sih?

“Jangan-jangan… elo suka ya sama gue?”

“Hah?!”

“Atau malah… elo sebenernya selama ini stalkerin gue, ya?”

Oke! Cukup kujawab ketidakwarasan orang ini dengan decakkan tak percaya saja. Makin kulawan, bisa-bisa dia mencari kata-kata yang membuatku tambah kesal.

Dan setelah itu, kami diam lagi. Duh… canggungnya. Sampai kapan papa akan mengobrol seperti itu? Lebih dari itu, sampai kapan acara ini akan berakhir? Let me go from here!

Tunggu! Apa ini cuma perasaanku saja, apa memang Andre sedang memperhatikanku? Kulirik sebentar, dan sepertinya memang benar. “Apa, sih?” tanyaku mulai risih.

“Ehem! Itu… elo kelihatan beda aja malem ini,” ujarnya. Apa barusan itu tadi pujian? Kenapa aku sama sekali tak tersanjung? “Lebih…” aku hanya mendengar kata itu. Kurasa ada dua kata, dan kata keduanya aku tak mendengarnya.

“Hm?” tanyaku. Berharap dia mau mengulangnya.

“Apa, sih? Gue enggak bilang apa-apa, kok!” tuh, kan! Dia makin membuatku kesal. Huft! Dasar! Kenapa tadi aku sempat terpesona karena penampilannya? Tadi itu pasti dia sedang kesurupan setan keren plus ganteng plus manis plus ramah! Sifat aslinya kelihatan benar sekarang.

Sampai papa benar-benar selesai dengan acaranya, aku dan Andre hanya diam-diaman. Awalnya, kukira Andre sesekali memperhatikanku. Tapi ternyata tidak. Dia asik sendiri dengan hpnya.

Sepulang dari sana, di jalan kutanyakan pasal Om Azril pada papa. “Om Azril itu asli emang dari Bandarlampung, Pa?”

“Om Azril itu nomaden. Sering pindah-pindah gitu. Alasannya sih karena selalu suka suasana baru. Papa aja ketemu dia dulu di Bandung,” jelas papa. “Sebelum ini, Om Azril tinggal di Metro. Pindah ke sini… kayaknya pas Andre masuk kuliah, deh,” sambung papa lagi. Ah… jadi begitu ceritanya kenapa Andre ada di sini sekarang?

“Kenapa tadi enggak tanya langsung ke Andrenya?” tanya papa kemudian.

“Enggak papa,” jawabku singkat. Menyebalkannya, papa malah mengejekku setelah itu. Satu kalimat yang membuatku mencubit lengan papa keras-keras, “Kan kalau papa bisa besanan sama Om Azril enak, Sayang.”

***

Ujian akhir semester 2 sudah selesai. Teman-teman sudah banyak yang pulang kampung. Aku ke kampus hari ini juga karena mengurus nilai yang bermasalah. Kalau tidak, mana mungkin aku ke kampus waktu tak ada sesiapa di sini.

Lebih banyak cerita di semester ini. Diary yang baru saja kubeli saja sudah setengah kupakai menulis. Padahal bukunya cukup tebal. Tak kusangka, kehidupan kampus jauh lebih rumit dari yang kupikirkan sebelumnya. Bukan soal tugas dan dosen yang complicated, tapi kisah-kisah yang menjadi bumbunya. Oh, atau sebenarnya tugas dan IP itu hanya sebagai pelengkap? Ada yang bilang, masalah yang datang bisa mendewasakan seseorang. Kurasa di antara teman-teman, aku belum bisa menemukan pendewasaan itu.

Meskipun kelakuan Tora kadang-kadang bisa diseterakan dengan anak yang baru mau masuk SD, tapi dia punya pemikiran yang lebih kompleks dari kami. Dia yang paling pintar memang. Di luar kebiasaannya, dia kadang lebih mampu memberi solusi jitu untuk masalah-masalah kami. Dan dia sekarang memutuskan bergabung di hima.

Begitu juga dengan Farra. Si tukang menduga itu adalah yang paling dewasa di antara aku dan Sati. Dia yang akan menjadi penengah, menenangkan di tengah kepanikanku dan Sati yang kadang-kadang datangnya tak pernah lihat sikon dan kondisi.

Wawan dan Sati kupikir juga begitu. Karena masalah hati itu, mereka terlihat lebih dewasa. Di akhir-akhir semester kemarin, mereka mencoba mengulurkan tangan satu sama lain. Aku tak tahu bagaimana penyelesaiannya, pasti salah satu di antara mereka ada yang mengalah.

Apalagi Brian. Dialah orang terdewasa yang pernah kutemui. Bukan hanya saat kuliah ini, tapi dari dulu. Seperti yang kukatakan, dia adalah sosok kakak yang sangat diidamkan oleh siapa saja. Ah, ya. Dia pulang kampung, kan? Kalau sudah pulang kampung, dia bilang susah dikontak. Di sana jarang ada sinyal katanya.

Yah, yang tersisa hanya aku. Tak apalah, aku juga tak ingin dewasa lebih cepat. Aku baru saja melewati usia 19 tahunku. Ini artinya, ini adalah tahun akhirku untuk bersikap selayaknya remaja. Bagaimana kira-kira 20 tahunku nanti, ya?

“Hey! Mia, ya?” seseorang mengusik lamunanku. Cowok hitam manis sekali sudah duduk di depanku. Kufokuskan perhatianku padanya. Menyingkirkan sebentar aktifitasku barusan: duduk sendirian di gazebo dekat sekretariat, ber-streaming ria, memanfaatkan fasilitas wifi kampus.

“I, iya?” jawabku. Barusan dia menyebut namaku kan, ya? Apa aku pernah berkenalan dengannya di suatu tempat?

“Kenalin. Gue Rizal,” ia mengulurkan tangan. Senyumnya lebar sekali. Tampaknya dia orangnya cukup periang. Kuambil uluran tangannya. Aku reflek tersenyum karena senyumnya itu belum mau tanggal.

“Oh, iya. Elo lupa sama gue, ya?” hm? Jadi, apa benar aku mengenalnya. Atau jangan-jangan… dia ini tipe cowok yang semacam Badri itu? Oh, aku harus waspada!

“Tapi… wajar sih elo lupa. Kan kita enggak pernah kenalan langsung kayak gini, ya?” lanjutnya. “Gue temennya Brian,” sambungnya. Oh… temannya Brian. Kalau dipikir-pikir, agak tidak asing sih memang wajahnya.

“Oh, temennya Brian.”

“Iya. Jadi, gini Mi. Gue mau nitipin buku ini. Tolong kasihin ke Brian, ya?” ia menyodorkan buku tebal sekali. Judulnya Penjasorkes, ada foto orang melakukan lompat tinggi.

“Oh, ya. Sama ini juga,” selanjutnya ia menyodorkan tas jinjing. Banyak buku di dalamnya.

“Kok? Kenapa dikasih ke gue? Kan gue enggak tinggal sama Brian,” tanyaku bingung.

“Itu… soalnya, gue tahu Brian pasti bakalan susah dihubungin gitu kan kalo udah di kampung. Jadi, ini barang-barangnya yang ketinggalan di kosan gue, gue titipin ke elo.”

“Kenapa enggak ditarok kosan aja?”

“Eng… itu… jujur, ya? Sebenernya… ini alasan gue aja sih. Biar ada basa-basi gitu biar gue bisa nyapa elo. Dan sekarang baru kesampean.” Tunggu! Apa maksud kalimat ini? Jangan-jangan…dia mau PDKT denganku? “Eh! Tapi elo jangan salah paham! Gue enggak bermaksud ngrebut elo dari Brian, kok?”

“Eh… gue enggak…”

“Iya… gue tahu. Elo bahkan enggak inget gue. Elo kan kalo ke gedung olahraga, cuma ngeliat ke Brian kan, ya? Iya, gue tahu, kok.”

“Tapi gue enggak…”

“Iya. Enggak papa, enggak usah malu-malu. Gue ngerti, kok.” Aduh! Orang ini sama sekali tak mau mendengarkan pejelasanku. Kenapa dia berspekulasi seenaknya sendiri begini, sih?

“Jadi sebenernya… em…” set! Dia memajukan duduknya. Lebih mendekat denganku dan menurunkan volume suaranya. “Gue mau minta bantuan elo, nih. Gue… agak tertarik gitu sama temen elo. Itu… si Sati,” lanjutnya. Aku cukup terkejut mendengarnya. Dia suka sama Sati?

“Iya? Gue bisa bantu apa?”

“Oh? Soal itu…” ia kembali memundurkan duduknya. Nah, dia malah garuk-garuk kepala. “Apa, ya?” dia balik bertanya padaku. “Gue sih udah punya semua kontaknya. BBM gue juga udah diacc. Itu sih… bantu dukungan aja. Kayak… ya, dia sukanya apa, yang enggak disukain dia apa. Semacam itu.”

Gelak tawaku pecah melihat ekspresinya. Dia benar-benar lucu. Dia datang kepadaku tapi bingung meminta bantuan apa.

“Kenapa?” tanyanya bingung.

“Maaf, maaf. Ehm… oke, sih. Asal elo beneran sama dia. Jangan cuma main-main aja.”

“Iya, iya. Gue beneran suka kok sama dia.” Ya, kuharap kata-katanya sungguhan. Bukankah ini waktu yang tepat jika ada seseorang yang ingin mengubah arah haluan perasaan Sati? Kalau kulihat-lihat, dia cukup baik. Karena dia teman Brian, kapan-kapan aku akan menanyakan tentang Rizal ini padanya. Kuharap dia pas untuk Sati.

***

Tak ada yang spesial di liburan kemarin. Terlebih aku tidak ikut menjadi panitia ospek. Malas! Aku banyak menghabiskan waktu di rumah. Melengkapi blogku dengan judul-judul baru. Melanjutkan satu novelku yang terbengkalai sampai bertemu kata selesai. Teman-teman tak banyak yang bisa diganggu. Hanya Farra yang paling sering kontakan denganku. Pasti mereka sibuk dengan liburan masing-masing. Sayangnya papa juga sedang tidak libur. Padahal, biasanya kalau libur tiba, apalagi bertepatan dengan hari ulang tahunku, papa akan mengajakku liburan. Ke pantailah, ke gununglah, ke water park, kemanalah. Tapi tidak untuk kali ini. Aku hampir mati bosan di rumah bersama Mbak Imah seharian.

Hari pertama di semester 3, rasanya sungguh malas! Padahal, aku sering menggerutu, kenapa hari libur terlalu lama. Kalau saja mama tidak masuk ke kamar, menyibak tirai jendela dan menggelitiki kakiku agar segera bangun, aku pasti tak mau berhenti bercumbu dengan kasurku.

“Buruan! Nanti kamu disuruh naik angkot loh sama Papa,” ujar mama.

“Enggak papa, deh. Naik angkot aja,” sahutku. Mama cuma geleng-geleng kepala. Selepas mama keluar dari kamar, aku hanya diam saja. Menatapi plavon dan membayangkan banyak hal. Jalananan di lamunanku terlalu banyak. Hingga secara tiba-tiba aku ingat kata-kata Kak Dedi soal Bu Markamah, dosen Sintaksis yang super killer!

“Kalau telat, cuma ada 2 pilihan. Masuk pasti kena omel, kalau bolos pasti dapet E,” katanya waktu kami sedang duduk-duduk di depan kelas.

“Hari ini mata kuliahnya apa?” aku baru sadar, aku belum mengecek hari pertama kuliah ini. Kuraih hpku di atas meja lampu tidur susah payah. Tak sampai, akh! Akhirnya aku harus bangun juga. Oke… hari pertama kuliah, Senin pagi… Senin pagi… Sin… Sintaksis?!

“What?!” sentakku serta merta melompat dari tempat tidur. Ya ampun! Hari ini mata kuliahnya Bu Markamah itu? Mati aku! Mati aku!

Buru-buru aku berlari. Tak sempat mengambil handuk. Hingga aku kena marah mama karena teriak-teriak, minta tolong Mbak Imah mengambilkan handukku. Tak sempat sarapan. Padahal mama cuma buat roti isi. Tak sempat memberesi kamar dan mama mengoceh sepanjang aku membenarkan pakaianku. Papa sudah pergi duluan dan jadilah! Aku harus mencari angkot. Angkot ngetem melulu. Kakiku sama sekali tak bisa diam. Aku telat! Aku telat! Aku telat!

Hampir saja aku tak bisa bernafas dengan benar. Dari halte sampai Fakultas aku berlari setengah-setengah. Aku pakai rok panjang, dan rasanya sedikit memalukan kalau aku berlari lebih dari ini. Aku kan bukan anak penjas yang harus lari pagi dulu sebelum masuk kelas.

Sepi! Tak ada siapapun di depan ruang kuliahku hari ini. Yak! Aku telat!

Pintu tidak ditutup. Bisa kulihat dengan jelas Bu Markamah sudah duduk di kursinya. Sati yang pertama kali melihatku. Dia memberi isyarat padaku untuk masuk. Tapi… tapi…

“Elo telat juga?” Andre mengangetkanku. Dia sudah ada di sampingku. Nafasnya sama-sama tersengal. Apa dia juga berlari sama sepertiku?

“Udah tahu pake nanya!” jawabku. Niatku menggunakan gayanya waktu di acara pembukaan kafenya waktu itu. Kukira dia bakal membalasku lebih ketus. Tapi dia ternyata malah ngeloyor begitu saja.

“Loh, mau ke mana?” tanyaku heran.

“Dapet E dapet E, deh. Daripada gue mati kaku diomelin sama tuh dosen,” jawabnya. Dan tap! Langsung pergi dengan santainya. Tampangnya sama persis saat menjawab pertanyaanku soal diaryku.

“Dasar orang gila!” cemoohku. Kukira Andre benar-benar gila. Tapi, aku menyesali keputusanku masuk kelas. Mata kuliah 3 sks dihabiskan hanya untuk mengomeliku! Ah, sial!

***

“Elo mau ketemu Brian enggak, Mi?” Sati menggamit bahuku ketika aku tengah bebenah. Memasukkan buku-buku yang kekuluarkan. Sudah jam 3, jam kuliah sudah berakhir. Rasanya terlalu sore untuk berbagi cerita dengan Brian hari ini. Lagipula, aku sudah ada janji dengan teman SMA. Menemaninya pergi ke suatu tempat, yang aku sendiri tak tahu mau kemana.

“Enggak. Gue ada janji. Udah sore juga,” jawabku.

“Yah…”

“Kenapa emang?”

“Elo kenal enggak sama yang namanya Rizal? Katanya dia kenal sama elo. Maksudnya, kalo elo mau ketemu Brian, gue kan bisa ikut. Siapa tahu gue bisa lihat yang namanya Rizal itu yang mana.” Aku tersenyum mendengarnya. Jadi, sesi PDKT-nya Rizal apa sudah dimulai?

Eh, iya. Mendengar nama Rizal, aku jadi teringat sesuatu. Buku-buku Brian! Nah, kutaruh dimana, ya? Aku sama sekali tak ingat. Sebelum bertemu Brian, aku harus menemukannya dulu. Kan sekalian. Kasihan. Siapa tahu Brian membutuhkan buku itu.

Malamnya, kuobrak-abrik kamar yang sudah sangat rapi. Ini nih yang tak kusukai dari bangun kesiangan. Aku tak bisa memberesi kamarku sendiri, jadi pasti kalau bukan Mbak Imah, pasti mama yang memberesinya. Jadinya, barang-barangku pindah tempat semua. Duh… dimana ya kuletakkan buku-buku Brian itu?

“Nyari apa sih, Neng?” Mbak Imah masuk dengan pesananku. Teh anget dan kripik kentang. Ditaruhnya camilan malamku itu di atas meja belajar.

“Mbak, mbak ngeliat tas jinjing warna item isinya buku-buku gitu, enggak?”

“Ilang?”

“Bukan ilang, sih. Cuma lupa aja naroknya di mana. Soalnya enggak pernah liat dari pertama liburan kemaren itu.” Mbak Imah mulai celingukan. Membantuku mencarinya.

“Itu bukan, Neng?” Mbak Imah menunjuk ke atas lemari. Ah, ya. Itu dia!

“Kok bisa di sini ya, Mbak?” dengan kursi kuraih tas itu. Ugh! Berat!

“Bapak kali yang narok, Neng.”

“Iya kali, ya?” aku setuju dengan Mbak Imah. Setelah menerima ucapan terima kasihku, Mbak Imah keluar. Kutaruh tas Brian di dekat tasku. Biar besok tidak lupa. Ehm… dengan bawaan seberat ini, aku harus bangun pagi. Biar bisa nebeng papa berangat kerja.

Sambil menikmati kripik kentang dari Mbak Imah, kuambil salah satu buku di dalam tas itu. Buku yang pertama kali diberikan Rizal padaku. Aku penasaran, buku-buku seperti ini isinya apa, ya? Selama sekolah, rasanya aku tak pernah membaca buku tentang olahraga.

Mungkin karena aku tak suka olahraga, ya? Aku sedikit bosan dengan isinya. Yang kulihat malah gambar-gambarnya. Ada tulisan-tulisan Brian di sana. Bukan note yang bersangkutan dengan buku ini. Melainkan tulisan gerutu semisal, ah… ngantuk! Bosen! Bosen! Kapan kelarnya? Huam! Jurus menghilang! Kukukukuk… dan semacamnya. Aku terkikik membacanya.

Di dua halaman kosong buku ada gambar perempuan berambut panjang. Wajahnya ceria. Matanya besar. Cantik sekali. Mirip gambar di komik Jepang. Yang dipakainya seperti seragam sekolah begitu. Tasnya gambar kepala kucing lucu sekali. Ada tiga gambar di tiga muka halaman itu. Ternyata Brian pintar menggambar.

Hey! Ada tulisannya. I miss you a lot? What about you? Hah… what do you think about me? I’m so curious. Hah? Apa ini? Wah… sepertinya Brian sedang menyukai seseorang.

Di bagian akhir muka halaman yang belum kulihat ada tulisan besar-besar. Do you love me too? Hahaha… membayangkannya saja aku tak bisa. Brian bisa seperti ini?

Kulihat sekali lagi gambarnya. Apa benar orang yang disukai Brian secantik ini? Matanya, rambutnya, senyum segitiganya, seragamnya, tasnya… siapa yang punya semua ini, ya? Aku jadi penasaran. Eung… aku baru sadar. Tadinya kupikir tiga gambar ini sama persis. Maksudku, posisinya memang berbeda, hanya saja tadinya kukira tas yang dipakainya sama. Ternyata beda. Ada huruf kecil di pojok kanan bawah tasnya. Yang ketiga huruf A. Yang kedua I dan yang pertama M. Lucu benar, tiba-tiba aku berpikir kalau diurutkan, bukankah huruf-huruf itu membentuk namaku? M. I. A. Mia, kan? Dan tas kucing ini… eh, tunggu! Cuma kebetulan apa mungkin… tas ini…

Di mana, ya? Rasanya aku punya satu tas yang seperti ini. Coba kucari di lemari. Dimana? Dimana? Ah… ini dia! Eh, iya. Ini tas slempang hitam dengan gambar kepala kucing. Kepala kucingnya memang tak sebesar yang di gambar itu. Yang besar malah tulisannya. Tas ini kalau tidak salah kupakai saat pertama kali masuk kuliah dulu.

Sontak mataku mendelik. Kulihat lagi gambarnya. Kubolak-balik. Tak ada inisial lagi yang mengisyaratkan bahwa gambar itu adalah aku. Hanya tas itu. Hari pertama kuliah? Brian membantuku memunguti berkas-berkas yang jatuh gara-gara ditabrak Andre, kan? Apa benar ini aku? Ah, mana mungkin, kan?

Tapi, untuk membuktikan rasa ketidakpercayaanku ini, esoknya kutemui Brian. Tadinya, aku ingin menanyakan langsung padanya. Siapa sebenarnya gambar itu? Tapi, saat kuberikan tas itu, dia tampak terkejut.

“Kok… bisa di elo?” kurasa wajahnya menegang. Bibirku langsung mengatup. Tak jadi menanyakan soal gambar itu. Ketidakpercayaanku tadi menjadi curiga.

“Itu… waktu liburan kemaren dititipin sama temen elo, Rizal,” jawabku.

“Oh…” dia mengangguk-angguk. Canggung! Canggung sekali! Rasanya Brian tak pernah seperti ini. “Elo…baca-baca bukunya, ya?” pertanyaan ini memperbesar kecurigaanku. Haruskah aku jujur?

“Em… enggak, kok. Gue enggak tertarik kali. Elo kan tahu gue enggak suka olahraga,” akhirnya aku memilih bohong. Wajah tegangnya tadi tiba-tiba mencair. Apa barusan… dia merasa lega?

“Mau makan bareng? Gue traktir, deh,” ujarnya lagi. Lebih santai dari sebelumnya. Tapi masih terasa agak canggung. Dengan suasana seperti ini, mana bisa aku makan bareng dengannya?

“Gue… cuma mau ngasih itu ke elo, kok. Lagian, gue mau ke temen-temen gue. Em… mau ngerjain tugas,” ujarku. Dia hanya mengangguk. Tanpa bicara lagi, aku melangkah pergi. Sempat aku menoleh ke belakang. Dia masih tersenyum padaku. Hey! Itu senyuman yang biasa ia lempar padaku. Kenapa rasanya lain, ya? Apa karena tiba-tiba di otakku ada pertanyaan besar yang muncul? Apa mungkin Brian menyukaiku?

Sebelumnya                    Selanjutnya