Kafe teman papa itu ada di Teluk.
Tak jauh dari Bundaran Gajah. Jaraknya sekitar 9 km dari rumah. Papa bawa
mobil, seharusnya bisa sampai lebih
cepat. Tapi, karena malam ini cukup ramai, kami baru sampai setelah 30
menit. Banyak sekali karangan bunga ucapan selamat. Pita-pita dan balon-balon
menjadi dekorasi utama. Karena semuanya terbuat dari kaca, bisa terlihat sudah
banyak sekali orang di dalam. Banyak lampu warna-warni, tapi tak begitu
menganggu pandangan mata. Papa menggandengku masuk. Sampai-sampai aku tak
sempat mengingat nama cafenya tadi.
“Ini?” ia menunjukku. Aku
tersenyum seramah mungkin.
“Ya, ini gadis kecilku.”
“Oh, ya?” ia menyalamiku. Aku
menyambutnya. “Yang kuliah di Unila itu juga?”
“Iya, Om. Saya Mia,” ujarku. Dia
tertawa. Siapa tadi namanya? Padahal papa sudah memberitahunya saat di jalan.
Tapi sayangnya aku lupa.
“Anakmu di mana?” kini papa yang
giliran bertanya. Kutinggalkan mereka dengan memandang seisi kafe. Kafenya
cukup sederhana, tapi terlihat begitu berkelas. Pasti om ini orang kaya. Lihat
saja hidangan yang disajikan. Juga tamu-tamu yang datang ini, semuanya berjas
mahal. Mungkin saja satu tingkat di atas papa. Entahlah. Aku tak paham dengan
merk pakaian.
Beberapa menit papa dan om ini
mengobrol, tiba-tiba suasana kafe yang ramai tadi meredup. Aku sempat bingung
kenapa. Ternyata akan ada sebuah penampilan. Lampu di atas kami langsung
meredup. Sebuah panggung kecil di depan sana yang mulai menjadi sorotan lampu.
Ada seseorang duduk di depan grand piano. Lengkap benar dengan setelan tuxedo
serba putih. Awalnya aku tak begitu jelas melihat wajahnya. Tapi, seiring lampu
menyorotnya makin terang, mataku membulat sempuran. Bu, bukankah itu Andre?
“Nah itu dia. Anakku, ganteng,
kan? Persis kaya papanya,” kata om ini di tengah kesunyian.
Kutengok lagi om tadi. Seinci pun
rasanya aku tak melihat aura Andre di wajah om yang cukup tampan ini. Om ini
terlalu ramah untuk dibandingkan dengan Andre. Apa benar Andre anak dari teman
papa? Mataku celingukan. Mencari apa-apa saja untuk membuatku percaya. Ada
papan tulis panjang di depan pintu masuk. Terlihat cukup jelas untuk kubaca
mengingat di luar lampu masih dihidupkan. Dengan dinding-dinding kaca ini, aku
bisa melihat tulisan Grand Opening Andre Café di sana. Oh, ternyata ini
sungguhan milik papanya Andre! Tunggu! Bukannya Sati pernah bilang dia satu SMA
dengan Andre? Lalu, kenapa Andre bisa tinggal di sini? Sati kan dari Metro.
Lalu terdengarlah suara tuts
piano mulai dimainkan. Melody awalnya terlalu bagus. Apalagi dengan ekspresinya
yang terlalu menikmati itu. Aku benar-benar tak percaya kalau itu Andre si expressionless
itu. Dia kelihatan sangat berbeda! Ia memainkan melody lagu A Thousand
Years-nya Christinna Perri. Sayup, beberapa orang yang merasa akrab dengan
lagu ini mendendangkan liriknya. Sedangkan aku diam. Aku tertegun. Masih tak
percaya kalau itu adalah orang yang memasang tampang watados setelah
kusentak gara-gara membaca buku diaryku.
Tiba-tiba kurasa semua orang
menghilang. Kurasa, di atas sana, Andre tak sendirian. Ada Christinna Perri
yang melantunkan lagunya terlalu manis. Andre menjadi pengiringnya. Ada
kunang-kunang yang mengitari mereka berdua. Kurasa ada setetes embun yang
menyejukkan hatiku saat lirik I love you for a thousand years. Seolah
lagu itu benar-benar untukku. Terlebih, setelah itu imajinasiku mulai melambung
terlalu tinggi. Entah kenapa rasanya Andre melihat kemari. Tersenyum begitu
manisnya kemari. Senyum yang tak pernah kulihat selama aku sekelas dengannya.
Dan lama kelamaan, Christinna Perri menghilang dari pandanganku. Tapi masih
jelas kudengar suaranya mengalun begitu mesranya. Kunikmati setiap permainan
jari Andre di atas tuts-tuts hitam putih itu. Ekspresinya itu, semuanya
benar-benar terasa hidup. Kunang-kunang menari-menari. Mendekatiku dan
mengusap-usap pipiku. Dan semilir angin yang mengitip dari ventilasi memaksa
setitik air keluar dari pelupuk mataku.
Hingga akhirnya aku tersadar
ketika riuh tepuk tangan penonton terdengar. Aku sadar, tak ada Christinna
Perri, tak ada kunang-kunang, dan Andre sendirian. Uh! Mia! Apa yang baru saja
kau imajinasikan? Aku benar-benar tak menyangka aku baru saja berimajinasi
seliar itu. Andre tersenyum? Mana mungkin, kan?
Tapi, setelah kulihat lagi, Andre
memang tersenyum sekarang. Hanya saja, senyumnya begitu tipis. Hanya sekedar
berucap terima kasih atas apresiasi yang baru saja ia dapatkan. Heran, aku
sendiri tak pernah melihat Andre tersenyum terlalu manis. Kenapa aku bisa
membayangkan ia tersenyum tadi, ya?
Kemudian ia turun. Apa aku salah
kalau mengira dia mengarah kemari? Oh! Tunggu! Tidak! Dia benar-benar mengarah
kemari. Dia pasti hanya ingin menemu papanya, kan? Kenapa jantungku
berdebar-debar? Ah, apa yang harus kukatakan padanya bisa ada di tempat ini? Aku
kan tak pernah mengobrol dengannya!
“Mia!” papanya Andre tiba-tiba
memanggilku. Nyaris menghentikan detak jantungku. Andre sudah ada di depanku
tanpa kusadari. Pasti mataku sudah membulat begitu besarnya sekarang. Lihatlah!
Andre bisa bersikap biasa saja. Ia melirikku sebentar dan tak bereaksi apapun.
Apa dia sudah tahu kalau aku akan kemari?
“Ini Andre. Kalian sudah saling
kenal, kan? Dia juga mengambil Bahasa dan Sastra Indonesia juga di Unila,”
lanjut om… ah! Aku ingat sekarang. Namanya Om Azril. Yah… Om Azril.
“I, iya, Om…”
“Kenal dong, Pa. Kita sekelas,
kok,” Andre memotong jawabanku yang eng… ang… eng… “Iya kan, Mi?” ia
beralih padaku. Aku mengangkat kedua alisku. Tak paham dengan pertanyaannya
tadi. Dan akhirnya aku merasa senyumnya yang barusan dibentuk itu terpaksa.
Atau malah sedikit memaksaku untuk berujar, “I, iya, Om. Udah kenal, kok.” Dan
dia berhasil. Aku mengucapkannya juga pada akhirnya.
“Oh, satu kelas malah. Om tadi
enggak inget sih nama kamu, An. Jadi, Om enggak sempet ngasih tau Mia tadi,”
papa ikutan nimbrung.
“Ya udah. Ajak Mianya makan sana,
An. Papa mau ngobrol-ngobrol sama Om Gilang ini.” Hm? Apa? Barusan Om Azril
bilang apa?
“Oh, ya. Yok, Mi!” ajak Andre
tiba-tiba. Aku masih mencoba memberi sinyal padanya untuk menolak. Tapi, dia
tiba-tiba malah menarik tanganku. Menyeretku dengan paksa, menuju meja panjang
dengan barisan dessert di atasnya. Sampai di sana, buru-buru ia melepas
tanganku.
“Ehem!” serak tiba-tiba
tenggorokannya. Segelas penuh jus jeruk ia tengguk. Padahal aku baru saja ingin
protes padanya. Tapi kupending dulu. Setelah kurasa dia siap mendengarnya,
kusentakkan sedikit keras padanya.
“Ngapain sih narik-narik ke sini?
Kita kan enggak akrab!”
“Emang elo mau, gabung sama
bapak-bapak di sono itu?” ia menunjuk beberapa orang yang sudah berkumpul
dengan papa dan Om Azril. Semuanya berjas. Ya, walaupun aku tahu mereka pasti
akan lebih membosankan dari Andre. Tapi kan tetap saja. Lihat saja. Kami
sekarang begitu canggunya. Aku tak tahu harus bicara apa padanya.
Harus kucari basa-basi. Kulirik
lagi papan tulis di depan sana. Masih bisa jelas kulihat kata Andre ditulis
cukup besar itu. “Kafe ini pasti buat elo, ya?” tanyaku basa-basi.
“Bukan! Buat pembatu gue!”
jawabnya ketus. “Ya iyalah buat gue. Enggak liat apa namanya aja udah Andre
kafe!” hish! Rasanya ingin betul kupukul orang ini dengan gelas terdekat.
Ditanya baik-baik, jawabannya malah bikin kesal setengah mati!
“Lagian… elo ngapain sih
mau-mauan diajak ke acara beginian?”
“Ye… kalau aja gue tahu, Om Azril
itu bokap elo, mana mau gue dateng ke sini?” balasku lebih ketus.
“Ya kenapa elo enggak
tanya-tanya?”
“Ya terserah gue dong!”
“Cck! Nasib baik cuma elo yang
dateng,” desisnya sebal. Kenapa dia tiba-tiba jadi sebal begitu, sih? Beda
benar dengan tampilannya yang sudah necis itu.
“Ya iyalah. Emang siapa lagi yang
mau dateng? Elo kan enggak punya temen!” ceplosku.
“Gue punya, ya!” sentaknya. Aku
cukup terkejut. Tak kusangka, ceplosanku barusan didengarnya. Sekalian sajalah
kucibir dia. Sudah terlajur juga.
“Siapa? Gue enggak pernah tuh,
liat elo ngobrol sama temen di kelas! Waktu kerja kelompok aja, elo cuma diem
aja kayak mannequin!”
“Ternyata elo selama ini
merhatiin gue, ya?”
Mataku mendelik mendengar
responnya. “Hh!” decakku tak percaya. Kenapa dia tiba-tiba bisa se-PD ini, sih?
“Jangan-jangan… elo suka ya sama
gue?”
“Hah?!”
“Atau malah… elo sebenernya
selama ini stalkerin gue, ya?”
Oke! Cukup kujawab ketidakwarasan
orang ini dengan decakkan tak percaya saja. Makin kulawan, bisa-bisa dia
mencari kata-kata yang membuatku tambah kesal.
Dan setelah itu, kami diam lagi.
Duh… canggungnya. Sampai kapan papa akan mengobrol seperti itu? Lebih dari itu,
sampai kapan acara ini akan berakhir? Let me go from here!
Tunggu! Apa ini cuma perasaanku
saja, apa memang Andre sedang memperhatikanku? Kulirik sebentar, dan sepertinya
memang benar. “Apa, sih?” tanyaku mulai risih.
“Ehem! Itu… elo kelihatan beda
aja malem ini,” ujarnya. Apa barusan itu tadi pujian? Kenapa aku sama sekali
tak tersanjung? “Lebih…” aku hanya mendengar kata itu. Kurasa ada dua kata, dan
kata keduanya aku tak mendengarnya.
“Hm?” tanyaku. Berharap dia mau
mengulangnya.
“Apa, sih? Gue enggak bilang
apa-apa, kok!” tuh, kan! Dia makin membuatku kesal. Huft! Dasar! Kenapa tadi
aku sempat terpesona karena penampilannya? Tadi itu pasti dia sedang kesurupan
setan keren plus ganteng plus manis plus ramah! Sifat aslinya kelihatan benar
sekarang.
Sampai papa benar-benar selesai
dengan acaranya, aku dan Andre hanya diam-diaman. Awalnya, kukira Andre
sesekali memperhatikanku. Tapi ternyata tidak. Dia asik sendiri dengan hpnya.
Sepulang dari sana, di jalan
kutanyakan pasal Om Azril pada papa. “Om Azril itu asli emang dari
Bandarlampung, Pa?”
“Om Azril itu nomaden. Sering
pindah-pindah gitu. Alasannya sih karena selalu suka suasana baru. Papa aja
ketemu dia dulu di Bandung,” jelas papa. “Sebelum ini, Om Azril tinggal di
Metro. Pindah ke sini… kayaknya pas Andre masuk kuliah, deh,” sambung papa
lagi. Ah… jadi begitu ceritanya kenapa Andre ada di sini sekarang?
“Kenapa tadi enggak tanya
langsung ke Andrenya?” tanya papa kemudian.
“Enggak papa,” jawabku singkat.
Menyebalkannya, papa malah mengejekku setelah itu. Satu kalimat yang membuatku
mencubit lengan papa keras-keras, “Kan kalau papa bisa besanan sama Om Azril
enak, Sayang.”
***
Ujian akhir semester 2 sudah
selesai. Teman-teman sudah banyak yang pulang kampung. Aku ke kampus hari ini
juga karena mengurus nilai yang bermasalah. Kalau tidak, mana mungkin aku ke
kampus waktu tak ada sesiapa di sini.
Lebih banyak cerita di semester
ini. Diary yang baru saja kubeli saja sudah setengah kupakai menulis. Padahal
bukunya cukup tebal. Tak kusangka, kehidupan kampus jauh lebih rumit dari yang
kupikirkan sebelumnya. Bukan soal tugas dan dosen yang complicated, tapi
kisah-kisah yang menjadi bumbunya. Oh, atau sebenarnya tugas dan IP itu hanya
sebagai pelengkap? Ada yang bilang, masalah yang datang bisa mendewasakan
seseorang. Kurasa di antara teman-teman, aku belum bisa menemukan
pendewasaan itu.
Meskipun kelakuan Tora
kadang-kadang bisa diseterakan dengan anak yang baru mau masuk SD, tapi dia
punya pemikiran yang lebih kompleks dari kami. Dia yang paling pintar memang.
Di luar kebiasaannya, dia kadang lebih mampu memberi solusi jitu untuk
masalah-masalah kami. Dan dia sekarang memutuskan bergabung di hima.
Begitu juga dengan Farra. Si
tukang menduga itu adalah yang paling dewasa di antara aku dan Sati. Dia yang
akan menjadi penengah, menenangkan di tengah kepanikanku dan Sati yang
kadang-kadang datangnya tak pernah lihat sikon dan kondisi.
Wawan dan Sati kupikir juga
begitu. Karena masalah hati itu, mereka terlihat lebih dewasa. Di
akhir-akhir semester kemarin, mereka mencoba mengulurkan tangan satu sama lain.
Aku tak tahu bagaimana penyelesaiannya, pasti salah satu di antara mereka ada
yang mengalah.
Apalagi Brian. Dialah orang
terdewasa yang pernah kutemui. Bukan hanya saat kuliah ini, tapi dari dulu.
Seperti yang kukatakan, dia adalah sosok kakak yang sangat diidamkan oleh siapa
saja. Ah, ya. Dia pulang kampung, kan? Kalau sudah pulang kampung, dia bilang
susah dikontak. Di sana jarang ada sinyal katanya.
Yah, yang tersisa hanya aku. Tak
apalah, aku juga tak ingin dewasa lebih cepat. Aku baru saja melewati usia 19
tahunku. Ini artinya, ini adalah tahun akhirku untuk bersikap selayaknya
remaja. Bagaimana kira-kira 20 tahunku nanti, ya?
“Hey! Mia, ya?” seseorang
mengusik lamunanku. Cowok hitam manis sekali sudah duduk di depanku. Kufokuskan
perhatianku padanya. Menyingkirkan sebentar aktifitasku barusan: duduk
sendirian di gazebo dekat sekretariat, ber-streaming ria,
memanfaatkan fasilitas wifi kampus.
“I, iya?” jawabku. Barusan dia
menyebut namaku kan, ya? Apa aku pernah berkenalan dengannya di suatu tempat?
“Kenalin. Gue Rizal,” ia
mengulurkan tangan. Senyumnya lebar sekali. Tampaknya dia orangnya cukup
periang. Kuambil uluran tangannya. Aku reflek tersenyum karena senyumnya itu
belum mau tanggal.
“Oh, iya. Elo lupa sama gue, ya?”
hm? Jadi, apa benar aku mengenalnya. Atau jangan-jangan… dia ini tipe cowok
yang semacam Badri itu? Oh, aku harus waspada!
“Tapi… wajar sih elo lupa. Kan
kita enggak pernah kenalan langsung kayak gini, ya?” lanjutnya. “Gue temennya
Brian,” sambungnya. Oh… temannya Brian. Kalau dipikir-pikir, agak tidak asing
sih memang wajahnya.
“Oh, temennya Brian.”
“Iya. Jadi, gini Mi. Gue mau
nitipin buku ini. Tolong kasihin ke Brian, ya?” ia menyodorkan buku tebal
sekali. Judulnya Penjasorkes, ada foto orang melakukan lompat tinggi.
“Oh, ya. Sama ini juga,”
selanjutnya ia menyodorkan tas jinjing. Banyak buku di dalamnya.
“Kok? Kenapa dikasih ke gue? Kan
gue enggak tinggal sama Brian,” tanyaku bingung.
“Itu… soalnya, gue tahu Brian
pasti bakalan susah dihubungin gitu kan kalo udah di kampung. Jadi, ini
barang-barangnya yang ketinggalan di kosan gue, gue titipin ke elo.”
“Kenapa enggak ditarok kosan
aja?”
“Eng… itu… jujur, ya? Sebenernya…
ini alasan gue aja sih. Biar ada basa-basi gitu biar gue bisa nyapa elo. Dan
sekarang baru kesampean.” Tunggu! Apa maksud kalimat ini? Jangan-jangan…dia mau
PDKT denganku? “Eh! Tapi elo jangan salah paham! Gue enggak bermaksud ngrebut
elo dari Brian, kok?”
“Eh… gue enggak…”
“Iya… gue tahu. Elo bahkan enggak
inget gue. Elo kan kalo ke gedung olahraga, cuma ngeliat ke Brian kan, ya? Iya,
gue tahu, kok.”
“Tapi gue enggak…”
“Iya. Enggak papa, enggak usah
malu-malu. Gue ngerti, kok.” Aduh! Orang ini sama sekali tak mau mendengarkan
pejelasanku. Kenapa dia berspekulasi seenaknya sendiri begini, sih?
“Jadi sebenernya… em…” set!
Dia memajukan duduknya. Lebih mendekat denganku dan menurunkan volume suaranya.
“Gue mau minta bantuan elo, nih. Gue… agak tertarik gitu sama temen elo. Itu…
si Sati,” lanjutnya. Aku cukup terkejut mendengarnya. Dia suka sama Sati?
“Iya? Gue bisa bantu apa?”
“Oh? Soal itu…” ia kembali
memundurkan duduknya. Nah, dia malah garuk-garuk kepala. “Apa, ya?” dia balik
bertanya padaku. “Gue sih udah punya semua kontaknya. BBM gue juga udah diacc.
Itu sih… bantu dukungan aja. Kayak… ya, dia sukanya apa, yang enggak disukain
dia apa. Semacam itu.”
Gelak tawaku pecah melihat
ekspresinya. Dia benar-benar lucu. Dia datang kepadaku tapi bingung meminta
bantuan apa.
“Kenapa?” tanyanya bingung.
“Maaf, maaf. Ehm… oke, sih. Asal
elo beneran sama dia. Jangan cuma main-main aja.”
“Iya, iya. Gue beneran suka kok
sama dia.” Ya, kuharap kata-katanya sungguhan. Bukankah ini waktu yang tepat
jika ada seseorang yang ingin mengubah arah haluan perasaan Sati? Kalau
kulihat-lihat, dia cukup baik. Karena dia teman Brian, kapan-kapan aku akan
menanyakan tentang Rizal ini padanya. Kuharap dia pas untuk Sati.
***
Tak ada yang spesial di liburan
kemarin. Terlebih aku tidak ikut menjadi panitia ospek. Malas! Aku banyak
menghabiskan waktu di rumah. Melengkapi blogku dengan judul-judul baru.
Melanjutkan satu novelku yang terbengkalai sampai bertemu kata selesai.
Teman-teman tak banyak yang bisa diganggu. Hanya Farra yang paling sering
kontakan denganku. Pasti mereka sibuk dengan liburan masing-masing. Sayangnya
papa juga sedang tidak libur. Padahal, biasanya kalau libur tiba, apalagi
bertepatan dengan hari ulang tahunku, papa akan mengajakku liburan. Ke
pantailah, ke gununglah, ke water park, kemanalah. Tapi tidak untuk kali
ini. Aku hampir mati bosan di rumah bersama Mbak Imah seharian.
Hari pertama di semester 3,
rasanya sungguh malas! Padahal, aku sering menggerutu, kenapa hari libur
terlalu lama. Kalau saja mama tidak masuk ke kamar, menyibak tirai jendela dan
menggelitiki kakiku agar segera bangun, aku pasti tak mau berhenti bercumbu
dengan kasurku.
“Buruan! Nanti kamu disuruh naik
angkot loh sama Papa,” ujar mama.
“Enggak papa, deh. Naik angkot
aja,” sahutku. Mama cuma geleng-geleng kepala. Selepas mama keluar dari kamar,
aku hanya diam saja. Menatapi plavon dan membayangkan banyak hal. Jalananan di
lamunanku terlalu banyak. Hingga secara tiba-tiba aku ingat kata-kata Kak Dedi
soal Bu Markamah, dosen Sintaksis yang super killer!
“Kalau telat, cuma ada 2 pilihan.
Masuk pasti kena omel, kalau bolos pasti dapet E,” katanya waktu kami sedang
duduk-duduk di depan kelas.
“Hari ini mata kuliahnya apa?”
aku baru sadar, aku belum mengecek hari pertama kuliah ini. Kuraih hpku di atas
meja lampu tidur susah payah. Tak sampai, akh! Akhirnya aku harus bangun juga. Oke… hari pertama kuliah, Senin pagi… Senin pagi… Sin… Sintaksis?!
“What?!” sentakku serta merta
melompat dari tempat tidur. Ya ampun! Hari ini mata kuliahnya Bu Markamah itu?
Mati aku! Mati aku!
Buru-buru aku berlari. Tak sempat
mengambil handuk. Hingga aku kena marah mama karena teriak-teriak, minta tolong
Mbak Imah mengambilkan handukku. Tak sempat sarapan. Padahal mama cuma buat
roti isi. Tak sempat memberesi kamar dan mama mengoceh sepanjang aku
membenarkan pakaianku. Papa sudah pergi duluan dan jadilah! Aku harus mencari
angkot. Angkot ngetem melulu. Kakiku sama sekali tak bisa diam. Aku
telat! Aku telat! Aku telat!
Hampir saja aku tak bisa bernafas
dengan benar. Dari halte sampai Fakultas aku berlari setengah-setengah. Aku
pakai rok panjang, dan rasanya sedikit memalukan kalau aku berlari lebih dari
ini. Aku kan bukan anak penjas yang harus lari pagi dulu sebelum masuk kelas.
Sepi! Tak ada siapapun di depan
ruang kuliahku hari ini. Yak! Aku telat!
Pintu tidak ditutup. Bisa kulihat
dengan jelas Bu Markamah sudah duduk di kursinya. Sati yang pertama kali
melihatku. Dia memberi isyarat padaku untuk masuk. Tapi… tapi…
“Elo telat juga?” Andre
mengangetkanku. Dia sudah ada di sampingku. Nafasnya sama-sama tersengal. Apa
dia juga berlari sama sepertiku?
“Udah tahu pake nanya!” jawabku.
Niatku menggunakan gayanya waktu di acara pembukaan kafenya waktu itu. Kukira
dia bakal membalasku lebih ketus. Tapi dia ternyata malah ngeloyor
begitu saja.
“Loh, mau ke mana?” tanyaku heran.
“Dapet E dapet E, deh. Daripada
gue mati kaku diomelin sama tuh dosen,” jawabnya. Dan tap! Langsung pergi
dengan santainya. Tampangnya sama persis saat menjawab pertanyaanku soal
diaryku.
“Dasar orang gila!” cemoohku.
Kukira Andre benar-benar gila. Tapi, aku menyesali keputusanku masuk kelas.
Mata kuliah 3 sks dihabiskan hanya untuk mengomeliku! Ah, sial!
***
“Elo mau ketemu Brian enggak,
Mi?” Sati menggamit bahuku ketika aku tengah bebenah. Memasukkan buku-buku yang
kekuluarkan. Sudah jam 3, jam kuliah sudah berakhir. Rasanya terlalu sore untuk
berbagi cerita dengan Brian hari ini. Lagipula, aku sudah ada janji dengan
teman SMA. Menemaninya pergi ke suatu tempat, yang aku sendiri tak tahu mau
kemana.
“Enggak. Gue ada janji. Udah sore
juga,” jawabku.
“Yah…”
“Kenapa emang?”
“Elo kenal enggak sama yang
namanya Rizal? Katanya dia kenal sama elo. Maksudnya, kalo elo mau ketemu
Brian, gue kan bisa ikut. Siapa tahu gue bisa lihat yang namanya Rizal itu yang
mana.” Aku tersenyum mendengarnya. Jadi, sesi PDKT-nya Rizal apa sudah dimulai?
Eh, iya. Mendengar nama Rizal,
aku jadi teringat sesuatu. Buku-buku Brian! Nah, kutaruh dimana, ya? Aku sama
sekali tak ingat. Sebelum bertemu Brian, aku harus menemukannya dulu. Kan
sekalian. Kasihan. Siapa tahu Brian membutuhkan buku itu.
Malamnya, kuobrak-abrik kamar
yang sudah sangat rapi. Ini nih yang tak kusukai dari bangun kesiangan. Aku tak
bisa memberesi kamarku sendiri, jadi pasti kalau bukan Mbak Imah, pasti mama
yang memberesinya. Jadinya, barang-barangku pindah tempat semua. Duh… dimana ya
kuletakkan buku-buku Brian itu?
“Nyari apa sih, Neng?” Mbak Imah
masuk dengan pesananku. Teh anget dan kripik kentang. Ditaruhnya camilan
malamku itu di atas meja belajar.
“Mbak, mbak ngeliat tas jinjing
warna item isinya buku-buku gitu, enggak?”
“Ilang?”
“Bukan ilang, sih. Cuma lupa aja
naroknya di mana. Soalnya enggak pernah liat dari pertama liburan kemaren itu.”
Mbak Imah mulai celingukan. Membantuku mencarinya.
“Itu bukan, Neng?” Mbak Imah
menunjuk ke atas lemari. Ah, ya. Itu dia!
“Kok bisa di sini ya, Mbak?”
dengan kursi kuraih tas itu. Ugh! Berat!
“Bapak kali yang narok, Neng.”
“Iya kali, ya?” aku setuju dengan
Mbak Imah. Setelah menerima ucapan terima kasihku, Mbak Imah keluar. Kutaruh
tas Brian di dekat tasku. Biar besok tidak lupa. Ehm… dengan bawaan seberat
ini, aku harus bangun pagi. Biar bisa nebeng papa berangat kerja.
Sambil menikmati kripik kentang
dari Mbak Imah, kuambil salah satu buku di dalam tas itu. Buku yang pertama
kali diberikan Rizal padaku. Aku penasaran, buku-buku seperti ini isinya apa,
ya? Selama sekolah, rasanya aku tak pernah membaca buku tentang olahraga.
Mungkin karena aku tak suka
olahraga, ya? Aku sedikit bosan dengan isinya. Yang kulihat malah
gambar-gambarnya. Ada tulisan-tulisan Brian di sana. Bukan note yang bersangkutan
dengan buku ini. Melainkan tulisan gerutu semisal, ah… ngantuk! Bosen! Bosen! Kapan kelarnya? Huam! Jurus menghilang!
Kukukukuk… dan semacamnya. Aku
terkikik membacanya.
Di dua halaman kosong buku ada gambar perempuan berambut panjang.
Wajahnya ceria. Matanya besar. Cantik sekali. Mirip gambar di komik Jepang. Yang
dipakainya seperti seragam sekolah begitu. Tasnya gambar kepala kucing lucu
sekali. Ada tiga gambar di tiga muka halaman itu. Ternyata Brian pintar
menggambar.
Hey! Ada tulisannya. I
miss you a lot? What about you? Hah… what do you think about me? I’m so
curious. Hah? Apa ini? Wah…
sepertinya Brian sedang menyukai seseorang.
Di bagian akhir muka halaman yang belum kulihat ada tulisan
besar-besar. Do you love me too? Hahaha… membayangkannya saja aku tak bisa.
Brian bisa seperti ini?
Kulihat sekali lagi gambarnya. Apa benar orang yang disukai Brian
secantik ini? Matanya, rambutnya, senyum segitiganya, seragamnya, tasnya… siapa
yang punya semua ini, ya? Aku jadi penasaran. Eung… aku baru sadar. Tadinya
kupikir tiga gambar ini sama persis. Maksudku, posisinya memang berbeda, hanya
saja tadinya kukira tas yang dipakainya sama. Ternyata beda. Ada huruf kecil di
pojok kanan bawah tasnya. Yang ketiga huruf A. Yang kedua I dan yang pertama M.
Lucu benar, tiba-tiba aku berpikir kalau diurutkan, bukankah huruf-huruf itu
membentuk namaku? M. I. A. Mia, kan? Dan tas kucing ini… eh, tunggu! Cuma
kebetulan apa mungkin… tas ini…
Di mana, ya? Rasanya aku punya satu tas yang seperti ini. Coba kucari di
lemari. Dimana? Dimana? Ah… ini dia! Eh, iya. Ini tas slempang hitam dengan
gambar kepala kucing. Kepala kucingnya memang tak sebesar yang di gambar itu.
Yang besar malah tulisannya. Tas ini kalau tidak salah kupakai saat pertama
kali masuk kuliah dulu.
Sontak mataku mendelik. Kulihat lagi gambarnya. Kubolak-balik. Tak ada
inisial lagi yang mengisyaratkan bahwa gambar itu adalah aku. Hanya tas itu.
Hari pertama kuliah? Brian membantuku memunguti berkas-berkas yang jatuh
gara-gara ditabrak Andre, kan? Apa benar ini aku? Ah, mana mungkin, kan?
Tapi, untuk membuktikan rasa ketidakpercayaanku ini, esoknya kutemui
Brian. Tadinya, aku ingin menanyakan langsung padanya. Siapa sebenarnya gambar
itu? Tapi, saat kuberikan tas itu, dia tampak terkejut.
“Kok… bisa di elo?” kurasa wajahnya menegang. Bibirku langsung
mengatup. Tak jadi menanyakan soal gambar itu. Ketidakpercayaanku tadi menjadi
curiga.
“Itu… waktu liburan kemaren dititipin sama temen elo, Rizal,” jawabku.
“Oh…” dia mengangguk-angguk. Canggung! Canggung sekali! Rasanya Brian
tak pernah seperti ini. “Elo…baca-baca bukunya, ya?” pertanyaan ini
memperbesar kecurigaanku. Haruskah aku jujur?
“Em… enggak, kok. Gue enggak
tertarik kali. Elo kan tahu gue enggak suka olahraga,” akhirnya aku
memilih bohong. Wajah tegangnya tadi tiba-tiba mencair. Apa barusan… dia merasa
lega?
“Mau makan bareng? Gue traktir,
deh,” ujarnya lagi. Lebih santai dari sebelumnya. Tapi masih terasa agak
canggung. Dengan suasana seperti ini, mana bisa aku makan bareng dengannya?
“Gue… cuma mau ngasih itu ke elo, kok. Lagian, gue mau ke temen-temen gue. Em… mau ngerjain tugas,” ujarku. Dia hanya mengangguk. Tanpa bicara lagi, aku melangkah pergi. Sempat aku menoleh ke belakang. Dia masih tersenyum padaku. Hey! Itu senyuman yang biasa ia lempar padaku. Kenapa rasanya lain, ya? Apa karena tiba-tiba di otakku ada pertanyaan besar yang muncul? Apa mungkin Brian menyukaiku?
Sebelumnya Selanjutnya