Untuk pertama kalinya, inilah
saat-saat paling canggung saat kami bersama. Bahkan, kesan pertama kami bertemu
rasanya lebih bersahabat. Kami duduk berkumpul, seperti biasa. Aku, Farra dan
Tora duduk berderet di depan. Aku yang paling dekat dengan tembok. Sati akan
duduk di belakangku, dan Wawan tepat di belakang Tora. Akan ada satu orang
sebagai pembatas antara Sati dan Wawan. Tapi sekarang, rasanya bukan hanya
orang yang membatasi mereka berdua. Tapi tembok besar sekali. Tembok Besar
China mungkin yang ditaruh di sana. Padahal, biasanya mereka saling mengobrol
meski berjauhan. Tapi sekarang, mereka berdua bungkam. Dan macam batuk,
virusnya cepat sekali menjarah ke arah kami bertiga.
“Kalian… lagi berantem, tah?”
tanya Diandra, yang duduk di antara Sati dan Tora. Tak ada yang menjawab,
padahal pertanyaan itu ditanyakan pada kami berlima. Lama-lama mungkin dia
risih juga duduk di sana. Ia bangun, tanpa menjinjing tasnya, ia mencari grub yang
lebih normal untuk ditimbrungi di belakang.
Sudah setengah jam, dosen mata
kuliah kami belum juga masuk. Tak ada yang keluar kelas terlalu jauh.
Paling-paling hanya di depan. Bukan karena kami setia menunggui mata kuliah
ini. Hanya saja, selang beberapa menit dari mata kuliah ini, akan ada mata
kuliah selanjutnya. Dan inilah yang membuat keadaan sekarang makin berat,
dengan semua kebisiuan kami. Kami yang biasanya grup paling berisik, sekarang
mendadak bisu semua.
Di tengah lamunanku, seseorang
yang sejak tadi duduk di depan kelas sendirian berdiri. Mataku tak sengaja
melihatnya. Hingga saat dia masuk ke kelas mata kami bertemu. Andre! Dia sempat
diam menatapku. Kenapa? Apa dia mencoba membayangkan salah satu adegan di
diaryku dengan menatap wajahku?
“Apa?” tanyaku sinis. Dia tak
menjawab, hanya langsung masuk begitu saja. Menuju bangkunya di dekat jendela.
Mengeluarkan buku tebal. Mungkin novel. Apa sih? Apa orang itu tidak punya
teman di kelas ini? Kerjaannya hanya baca buku dan duduk berkawan dengan angin
dari jendela. Dasar aneh!
“Elo sejak kapan deket sama
Andre?” tiba-tiba Farra menyenggol bahuku. Kalimat pertama yang ia ucapkan pagi
ini. Sebelum kediaman kami ini.
“Ha? Apaan? Enggak, kok. Masa
cuma nanya apa doang deket, sih?”
“Ya, elo kan emang enggak pernah
ngomong sama dia. Dia juga tadi ngeliatin elo. Kirain mau ngomong apaan. Eh,
pergi gitu aja.” Untuk yang satu ini, aku hanya mengedikkan bahu. Hauh!
Keputusan yang salah sepertinya. Karena setelah itu, kami diam kembali. Kami
membatu, sampai ada dosen yang masuk dan memberi tugas pada kami. Akhirnya kami
berpencar, menuju kelompok belajar masing-masing untuk menyelesaikan tugas,
yang sialnya harus dikumpul hari ini juga.
***
“Huft…” kudaratkan daguku ke atas
meja. Aku yakin, Brian hanya menatapku simpati. Aku ingin cerita, tapi aku tak
nafsu. Hingga hanya ekspresi seperti ini saja yang kuberikan pada Brian.
“Nih, minum,” ujarnya menyodorkan
botol yang tinggal setengah isinya padaku. Kini gantian kutatap dia. Dari ujung
rambut sampai setengah badan. Total basah. Ia belum sempat ganti baju setelah
kukunjungi. Aku menggeleng, “Buat elo aja. Agaknya elo yang lebih perlu
daripada gue,” balasku. Ia tersenyum dan mengangguk. Dalam sekali teguk, air
minum itu habis. Aku mendecak tak percaya dan tersambung dengan tawa. Dia malah
ikut tertawa.
“Hah…” desahku. Mulai kuangkat
kepalaku. Tak ada yang lebih nyaman selain berada di dekat Brian. Karena,
kurasa selain diaryku, Brian adalah tempat keduaku untuk berkeluh kesah. Bahkan
mungkin, ketimbang orang tuaku, Brian lebih tahu semua keseharianku.
“Sabtu depan ada acara?”
tanyanya.
“Kosong. Kenapa?” tanyaku balik.
“Temenin gue, yuk!”
“Ke mana?”
“Ke mana aja. Gue suntuk di
kosan.”
“Eh, iya. Elo sekarang ngekos,
ya? Kenapa enggak pindah ke sini lagi, sih? Kan gue kangen sama om sama tante.”
Tiba-tiba Brian terdiam. Senyumnya sedikit luntur. Hanya sedikit tersisa.
“Mereka udah enggak ada.” Aku
tersentak. Enggak ada? Maksudnya meninggal?
“Hah? Serius? Kok bisa?” ah!
Kenapa reaksiku seperti ini? Bukannya tanya kapan meninggalnya. Aduh, Mia!
Tapi, sungguh! Aku benar-benar terkejut. Aku tidak tahu apa-apa soalnya.
“Hah… panjang ceritanya.
Kapan-kapan aja gue ceritain,” jawabnya. Senyumnya ia kembalikan. Walaupun aku
tahu, itu senyum yang ia paksakan.
“Sorry,” lirihku. Dia hanya
tersenyum. Aku pasti sangat mengingatkannya pada orang tuanya. Kalau tidak,
seharusnya dia bilang enggak papa, kan? Nyatanya dia tidak.
Ah, ya. Kalau dipikir-pikir,
selama ini aku egois sekali, kan? Aku selalu cerita soal diriku dan tak pernah
bertanya apapun soal Brian. Sejak pertama kali bertemu, setelah tiga tahun
terpisah tanpa kotak, bukannya tanya-tanya kabar soal keluarganya yang dulu
sangat dekat denganku, malah asik ngoceh tentang kejadian yang kualami selama
masuk kampus. Kenapa tak dari dulu-dulu kutanya soal keadaan om dan tante? Jadi
merasa bersalah, karena baru tahu sekarang. Makin menyesal karena kuputuskan
kontak dengannya. Dulu kan aku sempat kesal dan jengkel padanya karena pergi
tanpa pamit. Sampai-sampai, kuhapus semua kontaknya dari hpku.
Kujanjikan pada diriku sendiri.
Aku harus adil. Ada kalanya aku harus menyuruhnya untuk cerita soal dirinya.
Bukan karena aku yakin bisa memberi solusi. Setidaknya, aku akan menjadi
pendengar yang baik. Ya, aku janji, Ian.
***
“Mia! Mia!” baru saja mau masuk
kelas, Farra menarik lenganku. Menjauh dari keramaian. Duduk di rumput dekat
jalan ke kantor Jurusan.
“Kenapa, sih?” tanyaku. Pasalnya,
dia antusias sekali.
“Bener kan apa kata gue,” sudah
jauh begini pun, dia masih bisik-bisik.
“Apaan?”
“Sati, ternyata dia emang beneran
suka sama Wawan,” ujarnya. Aku tak terkejut. Kalau itu, tentu saja aku sudah
tahu. Bukankah malam itu Sati memang menyatakan kata suka pada Wawan.
“Kok elo biasa aja? Jangan-jangan… elo udah tahu, ya?” aku mengangguk
membenarkan.
“Kok elo enggak pernah cerita
sama gue, sih?”
“Bukan itu. Malem itu, gue emang
denger, Sati bilang suka ke Wawan. Tapi, awal mulanya gimana, gue sama sekali
enggak tahu. Makannya gue diem aja. Daripada gue bilang yang enggak-enggak,
kan.” Kali ini dia yang mengangguk. “Elo tahu dari siapa? Sati cerita sama
elo?”
“Enggak. Gue dikasih tahu Tora.”
“Tora dari siapa? Wawan?”
“Mana mungkin. Elo kan tahu
sendiri, Wawan gimana tertutupnya sama semua orang.”
“Terus?”
“Ini sih hasil analisisnya
sendiri. Secara, Tora gitu. Dia kan ahlinya tu bikin analisis dan sok peka,
gitu. Padahal mah, aslinya enggak!” rutuk Farra sambil mencibirkan bibirnya.
Aku tertawa dibuatnya. “Dia bilang, dia udah ngerasa dari dulu kalau Sati emang
suka sama Wawan. Wawan juga kayaknya tahu, tapi karena Sati juga enggak bilang
apa-apa, dia diem aja.
“Kata Tora juga, kalau diemnya
Wawan itu, mungkin dia kecewa sama Sati. Tahu kan, Sati satu-satunya orang yang
tahu segalanya tentang Wawan. Padahal kita baru dua semester gini. Mungkin dia
ngerasa enggak nyaman aja, orang yang dia percaya malah berharap jadi pacarnya.
Tora pernah diceritain sama Wawan, kalau Wawan belum bisa move on dari cinta
pertamanya. Makannya, Wawan sering gonta-ganti pacar sejak putus. Jadi
pelarian. Kalau menurut gue, ya. Mungkin Wawan sendiri enggak pengen Sati jadi
salah satu korban pelariaannya. Atau… gimana gitu? Gue juga bingung!” cerita
Farra panjang lebar.
Aku memilih diam. Tak berani
berkomentar. Rumit benar rasanya kalau memang yang dikatakan Farra barusan
benar adanya. Kupikir, dulu Wawan juga menyukai Sati.
“Woy! Podo ngopo neng kono?
Iki, dosennya udah masuk,” Joko berteriak dari depan kelas. Ketua kami yang medok
itu menunjuk-nunjuk ke arah kami. Ah, kalau mendengar aksen kental si Joko,
jadi ingat Kak Dedi. Bagaimana ya kelanjutan hubungan Farra dengan Kak Dedi?
***
Huh… tumben benar belum ada
angkot jam segini. Sejak tadi, angkot yang lewat menawariku ke arah Karang.
Kenapa yang ke arah Rajabasa sama sekali belum muncul. Padahal aku sudah
menunggu sejak lima belas menit yang lalu.
“Lagi nunggu angkot, ya?”
tiba-tiba suara seseorang yang sangat kukenal terdengar. Aku mendongakkan
kepalaku, dan orang yang ada dalam pikiranku memang sudah ada di depanku.
Menghentikan motornya dan melepas helmnya. Kak Dedi. Aku berdiri, reflek dan
mendekat. Bersikap lebih sopan, mengingat dia adalah kakak tingkatku. Lebih
dari itu, kurasakan jantungku berdegup begitu kencangnya. Hey! Aku tak pernah
seperti ini sebelumnya. Bahkan, saat ke sekretariat dan bertemu langsung
dengannya saja belum. Saat wawancara waktu itu rasanya pun tak seperti ini.
“Iya, Kak.”
“Rumahnya di mana emang?”
tanyanya, medok benar.
“Deket Terminal Rajabasa, Kak.”
“Rajabasa? Oh… bareng aku aja,
yok! Aku kebetulan juga mau jemput saudara. Sekalian, gitu. Nih, mumpung bawa
helm dua juga,” tawarnya. Degupan jantungku kembali menormal. Tiba-tiba aku
merasa bersalah. Aku teringat Farra. Kenapa? Padahal kan Kak Dedi hanya
menawariku pulang bareng. Tak lebih dari itu.
“Kenapa?” mungkin Kak Dedi merasa
aku terlalu lama menjawab tawarannya. Mau menolak juga tak enak. Dia juga sudah
mengulurkan helm itu padaku. Ayolah, Mi! Ini hanya sekadar pulang bersama. Apa
salahnya?
“Ya udah, deh,” jawabku. Segera
kuambil helm itu. Ia memajukan duduknya agar aku lebih leluasa duduk di belakang.
“Udah?” tanyanya. Aku hanya
menangguk. Syukurlah dia menoleh ke belakang, jadi aku tak merasa dungu-dungu
amat karena menjawabnya dengan anggukan kepala.
Selama di jalan, hatiku tak
tentram. Kepalaku celingukan karena suatu alasan yang sangat konyol. Takut
kalau Farra melihatku. Aku serasa menjadi selingkuhan Kak Dedi saja.
Jangan-janga, yang kulakukan sekarang memang salah. Aku sendiri toh
belum cerita pada Farra kalau aku sedikit, mungkin, menyukai Kak Dedi.
“Kamu kok jarang ke sekret lagi?”
tanya Kak Dedi. Aku tersentak, kembali fokus dan meminta Kak Dedi mengulang
pertanyaannya.
“Enggak papa, Kak. Akhir-akhir
ini, tugasnya banyak banget,” jawabku bohong. Tugas banyak? Aku juga
mengerjakannya kalau sudah malam. Mana pernah aku mengerjakan tugas siang-siang
begini.
“Loh, itu Farra saja masih sering
ke sekret. Dia kan satu kelas sama kamu.”
“Farra… oh, dia kan jadi
sekretasi pelaksana, Kak. Masa iya dia enggak dateng, sih,” asal-asalan benar
jawabanku! Aduh, Mia bodoh! Bodoh!
“Loh, ya jangan gitu, to.
Walaupun cuma anggota sie Acara, kamu kan juga dibutuhin. Kan kasihan
temen-temennya kerjanya tanpa kamu. Acara itu penting, lo. Enggak ada acara,
bubar acara tahunan kita ini.” Aku tersenyum mendengar ucapannya. Ia membuatku
seolah menjadi orang yang benar-benar dibutuhkan saja. Kalau saja aku tak ingat
dia adalah ketua umum, yang pastinya akan mencari solusi terbaik agar
anggotanya tetap bertahan, pasti aku sudah baper-baperan sekarang.
“Iya, deh. Besok aku dateng,”
jawabku mengalah.
“Nah gitu, dong. Awas ya enggak
dateng. Tak tungguin pokoknya besok.”
Besoknya, aku benar-benar datang.
Farra sendiri, tanpa kehadiranku memang benar-benar sudah sibuk. Ia tak pernah
pergi dari depan laptop dan printer. Aku masih menganggur. Berharap ketua sieku
menyuruhku sesuatu. Tapi, seperti belum ada. Mataku masih lekat memperhatikan
kerja Farra. Dan setelah itu, aku mengumpati perbuatanku. Gara-gara aku terus
memperhatikan Farra, aku jadi melihat Kak Dedi mendekatinya. Mengatakan sesuatu
soal kerjanya. Aku tak mendengarnya, karena jarak kami lumayan jauh. Dan
suasana sekretariat yang memang sedang ramai seperti ini. Sekilas, kulihat
mereka tertawa. Kak Dedi sempat menepuk-nepuk bahu Farra. Sialnya, aku mengakui
kalau aku cemburu.
Apa aku ini kekurangan perhatian,
sampai-sampai sahabat sendiri aku cemburui. Aku jahat sekali kan, ya?
***
Akhirnya malam yang mempertamukan
kami lebih intim datang. Malam minggu, saatnya kami berkumpul di serambi
belakang rumahku, kan? Tapi sekarang, lihatlah! Hanya ada tiga kepala di sini.
Aku, Tora dan Farra. Farra tadi datang dijemput Tora menggunakan motor teman
sekosannya. Lalu Sati dan Wawan? Entahlah. Ini sudah jam setengah 9 dan mereka
belum datang. Daritadi kami bertiga pun hanya diam. Menghidupkan laptop dan
menonton film Zootopia. Film animasi selucu ini, dan kami sama sekali
tak ada tawa sejak tadi.
“Hah…” desah Farra akhirnya.
Tidak, ini tidak berhasil. Sebisanya kami membuang masalah Wawan dan Sati, kami
tetap memikirkannya. Alhasil, Tora mengulurkan tangannya. Mem-pause film
itu dan beralih menopang dagunya dengan kedua lututnya.
“Gue pinjem motor elo, deh. Sini,
gue jemput Sati,” ujarku sudah tak tahan. Farra menatapku sedih. Tora malah
bengong. “Mana?”
“Emang elo bisa pake motor
kopling?” aku yang sudah setengah berdiri duduk kembali. Tidak, aku tidak bisa.
Lalu apa aku akan diam saja?
“Elo enggak papa di sini
sendirian?” tanya Tora. Kukira padaku, ternyata matanya mengarah ke Farra.
Farra hanya mengangguk menjawabnya. Tunggu, apa maksudnya.
“Yok!” ajaknya kemudian padaku.
Eh, benar Farra ditinggal sendiri?
“Enggak papa. Kan ada Mbak Imah,”
katanya menenangkanku. Oh, iya. Mbak yang biasanya membantu di rumah sudah
pulang. Ah, tapi benar tidak apa-apa?
“Ayok, Mi!” teriak Tora yang
sudah sampai ruang tengah. Huh! Dasar!
“Bentar ya, Ra?” pamitku. Dia
tersenyum dan mengantarku dengan senyuman harapannya. Aku pun berharap
Sati mau diajak kemari. Paling tidak,
mungkin kami bisa membuatnya bicara apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan
Wawan sampai ada perang dingin seperti ini.
Selama di jalan, aku diam.
Seperti biasa. Tora juga cuma diam. Ini juga yang membuatku sedikit canggung
dengannya. Aku tak pernah bisa menemukan topik obrolan dengannya. Walaupun pada
dasarnya aku kan memang pendiam kalau di atas motor, tapi seperti ini tetap
tidak mengenakkan! Tidak enak!
Kami hampir sampai. Di depan
sudah kelihatan kosan Sati.
“Eh, Tora, Tora! Stop! Stop!”
kupukuli pundak Tora. Dia menepi.
“Apaan, sih?”
“Itu!” kutunjuk motor yang ada di
depan sana. Bukankah itu motor Wawan?
Kutatap Wawan. Kepalanya celingukan.
Apa yang mau dia lakukan?
“Turun geh, Mi.”
“Turun? Di sini?”
“Udah. Enggak usah kebanyakan
komentar.” Kukerucutkan bibirku sebal. Kan cuma tanya!
Tempat kami berhenti dekat pos
kamling. Ia memarkir motornya di depannya. Sementara itu ia melepas helm dan
tiba-tiba menarik tanganku. Aku mendelik dan mataku tak bisa lepas dari
tangannya. A, apa-apaan ini?
“Ma, mau ke mana?” tanyaku,
tiba-tiba saja diserang rasa gugup.
“Sini,” jawabnya bisik-bisik. Ia
menarikku sampai ke sebelah tembok kos-kosan Sati. Kos-kosannya tidak ada
gerbangnya. Ada dua kamar baru di depan teras. Jadi, lewat sini kami bisa
mengintip siapa yang ada di teras. Ada Sati dan benar, ada Wawan juga. Mereka
duduk berduaan di atas sofa. Tora masih belum melepaskan tanganku, dan itu membuatku
tak tenang.
“Sst…!” pintanya. Telunjuk tangan
kanannya ia taruh di bibir. Ini, ini! Tangannya kan bisa dilepas dulu! Tapi
nampaknya, aku tak punya kesempatan untuk menyampaikannya. Jadilah, aku
menguping pembicaraan Wawan dan Sati dengan cenat-cenut di jantungku. Hey! Aku
tak pernah bergandengan dengan cowok seperti ini!
“Gue sebenernya juga suka sama
elo,” suara Wawan yang pertama kali kami dengar. Aku hampir kena serangan
jantung. Nyaris berdecak kaget, tapi Tora menyentakku lagi. Aku mengangguk dan
membungkam mulutku dengan tangan kiriku yang bebas dari tangan Tora.
Sati masih diam. Hanya kepala
Tora yang mengintip mereka. Jadi aku tak tahu situasinya seperti apa di sana.
“Tapi, elo tahu kan hubungan gue
sama elo itu apa?” suara Wawan lagi yang terdengar. Kucoba menerka-nerka
seperti apa adegannya. Seharusnya yang seperti ini mudah bagiku.
“Elo satu-satunya orang yang gue
percaya, Sat! Gue enggak pernah sejujur ini sama orang lain sebelumnya. Elo
satu-satunya orang yang tahu semua tentang gue. Gue apa-apa cerita ke elo. Gue
enggak pernah cerita ke orang lain. Karena apa? Karena gue kira elo bakal
bener-bener gue percaya dan enggak akan ngelakuin hal bodoh kayak waktu itu!
“Gue udah tahu! Gue tahu kalo elo
suka sama gue. Udah dari lama. Tapi elo enggak bisa tah diem aja? Enggak usah
diomongin juga. Dan maksud elo apa coba elo cari-cari tahu tentang mantan gue?
Elo mau apa kalo elo udah tahu tentang dia? Apa untungnya buat elo?” Wawan diam
sebentar. Sempat kudengar decak keras darinya. Dan seketika itu Tora memperkuat
genggamannya ke tanganku. Jujur, aku kaget. Kenapa? Apa dia sedikit terbawa
perasaan? Kan bisa gawat kalau dia kesal dan tiba-tiba muncul ke depan mereka.
“Gue kecewa sama elo, Sat,”
kalimat ini memberikan diam antara mereka jauh lebih lama. Tora melirikku.
Entah, aku tak tahu apa maksudnya. Makannya aku cuma diam.
“Terus, gue harus gimana?”
sekilas, seperti inilah pertanyaan yang kudenga dari suara parau Sati. Pasti
dia menangis.
“Entah!” ketus jawaban Wawan.
Huh… kalau aku ada di posisi Sati sekarang, bagaimana ya aku? Pasti tak
mengenakkan sekali. Hey! Siapa yang bisa memilih, dengan siapa ia harus menaruh
hatinya? Kupikir, Wawan sedikit keterlaluan.
“Kalo gue jadian sama elo, dan
gue putusin elo, karena ternyata gue enggak bisa lari dari perasaan gue ke
Rara, menurut elo hubungan kita bakalan baik-baik aja? Kita bisa sahabatan lagi
kayak gini? Mungkin bisa, tapi gue yakin itu cuma acting! Karena toh,
buktinya gue enggak bisa berhubungan baik sama mantan-mantan gue. Elo mau,
hubungan kita renggang gara-gara itu?”
“Ya, enggaklah.”
“Ya, terus? Mau elo apa sekarang?
Sejak kapan sahabat bisa jadi cinta, sih?!” sentak Wawan. Tora mulai mengajakku
kembali ke motor. Dia masih belum sadar, ini tangannya masih menggandengku.
Sampai di motor, baru dia melepaskannya. Jantungku selamat…
Tora sudah mengenakan helmnya.
Helm yang di belakang ia ulurkan padaku. “Udahan?” tanyaku heran. Ia
mengangguk.
“Biarin mereka selesein dulu
masalah mereka. Ini bukan persoalan kita. Yang penting, sekarang kita kan tahu
apa yang udah terjadi sama mereka,” jawabnya. Kutatap lagi dia. Mencoba mencari
kepastian di sana. Apa benar tak apa jika kami pergi tanpa berbuat apa-apa?
“Udah, ayok!” ajaknya,
meyakinkanku. Perlahan, kuambil helm itu. Sebelum benar-benar pergi, aku
kembali menoleh ke belakang. Tak nampak mereka berdua di teras kalau dari sini.
Yang kulihat hanya motor Wawan. Si empunya belum kelihatan, berarti dia belum
mau pergi, kan? Kuharap, mereka segera menyelesaikannya. Tidak enak melihat
Sati dan Wawan yang biasanya lengket macam perangko dan amplopnya jadi
jauh-jauhan.
Di jalan, kami diam lagi. Aku
masih memikirkan Sati dan Wawan. Kalau Tora, entahlah.
“Mi!” panggilnya tiba-tiba.
“Hm?”
“Elo tadi denger kan semua kata
Wawan?”
“Iya. Kenapa?”
“Emang… bener ya, sahabat gak
bisa jadi cinta?” ehm… sebenernya aku bingung, ini pertanyaan apa pernyataan.
Karena sebenarnya, dia mengucapkannya datar. Aku diam sebentar. Berpikir
sebanyak yang aku bisa.
“Ya, ada benernya juga,” jawabku.
Dia manggut-manggut, kemudian menambah kecepatan. Jalanan cukup ramai padahal.
Ini malam minggu.
Tunggu! Apa jawaban yang kulontarkan tadi benar? Sahabat memangnya tidak bisa jadi cinta, ya? Kenapa aku berharap Tora menyangkalnya?
Sebelumnya Selanjutnya