Tuesday, January 14, 2020

Hukum untuk Sahabat Jadi Cinta


Untuk pertama kalinya, inilah saat-saat paling canggung saat kami bersama. Bahkan, kesan pertama kami bertemu rasanya lebih bersahabat. Kami duduk berkumpul, seperti biasa. Aku, Farra dan Tora duduk berderet di depan. Aku yang paling dekat dengan tembok. Sati akan duduk di belakangku, dan Wawan tepat di belakang Tora. Akan ada satu orang sebagai pembatas antara Sati dan Wawan. Tapi sekarang, rasanya bukan hanya orang yang membatasi mereka berdua. Tapi tembok besar sekali. Tembok Besar China mungkin yang ditaruh di sana. Padahal, biasanya mereka saling mengobrol meski berjauhan. Tapi sekarang, mereka berdua bungkam. Dan macam batuk, virusnya cepat sekali menjarah ke arah kami bertiga.

Kami bertiga masing-masing menyibukkan diri. Tora sibuk dengan lamunannya bersama teman setianya, lollipop. Farra menggambar-gambar tak jelas di bukunya. Sedangkan aku, membayangkan kejadian malam saat Sati menangis setelah Wawan pergi. Saat itu, tak ada yang berani bertanya apa yang terjadi. Terlebih Tora dan Sati, mereka memilih menelan rasa penasaran mereka. Tak ada yang bisa menjawab tentunya. Kecuali kedua orang itu sendiri.

“Kalian… lagi berantem, tah?” tanya Diandra, yang duduk di antara Sati dan Tora. Tak ada yang menjawab, padahal pertanyaan itu ditanyakan pada kami berlima. Lama-lama mungkin dia risih juga duduk di sana. Ia bangun, tanpa menjinjing tasnya, ia mencari grub yang lebih normal untuk ditimbrungi di belakang.

Sudah setengah jam, dosen mata kuliah kami belum juga masuk. Tak ada yang keluar kelas terlalu jauh. Paling-paling hanya di depan. Bukan karena kami setia menunggui mata kuliah ini. Hanya saja, selang beberapa menit dari mata kuliah ini, akan ada mata kuliah selanjutnya. Dan inilah yang membuat keadaan sekarang makin berat, dengan semua kebisiuan kami. Kami yang biasanya grup paling berisik, sekarang mendadak bisu semua.

Di tengah lamunanku, seseorang yang sejak tadi duduk di depan kelas sendirian berdiri. Mataku tak sengaja melihatnya. Hingga saat dia masuk ke kelas mata kami bertemu. Andre! Dia sempat diam menatapku. Kenapa? Apa dia mencoba membayangkan salah satu adegan di diaryku dengan menatap wajahku?

“Apa?” tanyaku sinis. Dia tak menjawab, hanya langsung masuk begitu saja. Menuju bangkunya di dekat jendela. Mengeluarkan buku tebal. Mungkin novel. Apa sih? Apa orang itu tidak punya teman di kelas ini? Kerjaannya hanya baca buku dan duduk berkawan dengan angin dari jendela. Dasar aneh!

“Elo sejak kapan deket sama Andre?” tiba-tiba Farra menyenggol bahuku. Kalimat pertama yang ia ucapkan pagi ini. Sebelum kediaman kami ini.

“Ha? Apaan? Enggak, kok. Masa cuma nanya apa doang deket, sih?”

“Ya, elo kan emang enggak pernah ngomong sama dia. Dia juga tadi ngeliatin elo. Kirain mau ngomong apaan. Eh, pergi gitu aja.” Untuk yang satu ini, aku hanya mengedikkan bahu. Hauh! Keputusan yang salah sepertinya. Karena setelah itu, kami diam kembali. Kami membatu, sampai ada dosen yang masuk dan memberi tugas pada kami. Akhirnya kami berpencar, menuju kelompok belajar masing-masing untuk menyelesaikan tugas, yang sialnya harus dikumpul hari ini juga.

***

“Huft…” kudaratkan daguku ke atas meja. Aku yakin, Brian hanya menatapku simpati. Aku ingin cerita, tapi aku tak nafsu. Hingga hanya ekspresi seperti ini saja yang kuberikan pada Brian.

“Nih, minum,” ujarnya menyodorkan botol yang tinggal setengah isinya padaku. Kini gantian kutatap dia. Dari ujung rambut sampai setengah badan. Total basah. Ia belum sempat ganti baju setelah kukunjungi. Aku menggeleng, “Buat elo aja. Agaknya elo yang lebih perlu daripada gue,” balasku. Ia tersenyum dan mengangguk. Dalam sekali teguk, air minum itu habis. Aku mendecak tak percaya dan tersambung dengan tawa. Dia malah ikut tertawa.

“Hah…” desahku. Mulai kuangkat kepalaku. Tak ada yang lebih nyaman selain berada di dekat Brian. Karena, kurasa selain diaryku, Brian adalah tempat keduaku untuk berkeluh kesah. Bahkan mungkin, ketimbang orang tuaku, Brian lebih tahu semua keseharianku.

“Sabtu depan ada acara?” tanyanya.

“Kosong. Kenapa?” tanyaku balik.

“Temenin gue, yuk!”

“Ke mana?”

“Ke mana aja. Gue suntuk di kosan.”

“Eh, iya. Elo sekarang ngekos, ya? Kenapa enggak pindah ke sini lagi, sih? Kan gue kangen sama om sama tante.” Tiba-tiba Brian terdiam. Senyumnya sedikit luntur. Hanya sedikit tersisa.

“Mereka udah enggak ada.” Aku tersentak. Enggak ada? Maksudnya meninggal?

“Hah? Serius? Kok bisa?” ah! Kenapa reaksiku seperti ini? Bukannya tanya kapan meninggalnya. Aduh, Mia! Tapi, sungguh! Aku benar-benar terkejut. Aku tidak tahu apa-apa soalnya.

“Hah… panjang ceritanya. Kapan-kapan aja gue ceritain,” jawabnya. Senyumnya ia kembalikan. Walaupun aku tahu, itu senyum yang ia paksakan.

“Sorry,” lirihku. Dia hanya tersenyum. Aku pasti sangat mengingatkannya pada orang tuanya. Kalau tidak, seharusnya dia bilang enggak papa, kan? Nyatanya dia tidak.

Ah, ya. Kalau dipikir-pikir, selama ini aku egois sekali, kan? Aku selalu cerita soal diriku dan tak pernah bertanya apapun soal Brian. Sejak pertama kali bertemu, setelah tiga tahun terpisah tanpa kotak, bukannya tanya-tanya kabar soal keluarganya yang dulu sangat dekat denganku, malah asik ngoceh tentang kejadian yang kualami selama masuk kampus. Kenapa tak dari dulu-dulu kutanya soal keadaan om dan tante? Jadi merasa bersalah, karena baru tahu sekarang. Makin menyesal karena kuputuskan kontak dengannya. Dulu kan aku sempat kesal dan jengkel padanya karena pergi tanpa pamit. Sampai-sampai, kuhapus semua kontaknya dari hpku.

Kujanjikan pada diriku sendiri. Aku harus adil. Ada kalanya aku harus menyuruhnya untuk cerita soal dirinya. Bukan karena aku yakin bisa memberi solusi. Setidaknya, aku akan menjadi pendengar yang baik. Ya, aku janji, Ian.

***

“Mia! Mia!” baru saja mau masuk kelas, Farra menarik lenganku. Menjauh dari keramaian. Duduk di rumput dekat jalan ke kantor Jurusan.

“Kenapa, sih?” tanyaku. Pasalnya, dia antusias sekali.

“Bener kan apa kata gue,” sudah jauh begini pun, dia masih bisik-bisik.

“Apaan?”

“Sati, ternyata dia emang beneran suka sama Wawan,” ujarnya. Aku tak terkejut. Kalau itu, tentu saja aku sudah tahu. Bukankah malam itu Sati memang menyatakan kata suka pada Wawan. “Kok elo biasa aja? Jangan-jangan… elo udah tahu, ya?” aku mengangguk membenarkan.

“Kok elo enggak pernah cerita sama gue, sih?”

“Bukan itu. Malem itu, gue emang denger, Sati bilang suka ke Wawan. Tapi, awal mulanya gimana, gue sama sekali enggak tahu. Makannya gue diem aja. Daripada gue bilang yang enggak-enggak, kan.” Kali ini dia yang mengangguk. “Elo tahu dari siapa? Sati cerita sama elo?”

“Enggak. Gue dikasih tahu Tora.”

“Tora dari siapa? Wawan?”

“Mana mungkin. Elo kan tahu sendiri, Wawan gimana tertutupnya sama semua orang.”

“Terus?”

“Ini sih hasil analisisnya sendiri. Secara, Tora gitu. Dia kan ahlinya tu bikin analisis dan sok peka, gitu. Padahal mah, aslinya enggak!” rutuk Farra sambil mencibirkan bibirnya. Aku tertawa dibuatnya. “Dia bilang, dia udah ngerasa dari dulu kalau Sati emang suka sama Wawan. Wawan juga kayaknya tahu, tapi karena Sati juga enggak bilang apa-apa, dia diem aja.

“Kata Tora juga, kalau diemnya Wawan itu, mungkin dia kecewa sama Sati. Tahu kan, Sati satu-satunya orang yang tahu segalanya tentang Wawan. Padahal kita baru dua semester gini. Mungkin dia ngerasa enggak nyaman aja, orang yang dia percaya malah berharap jadi pacarnya. Tora pernah diceritain sama Wawan, kalau Wawan belum bisa move on dari cinta pertamanya. Makannya, Wawan sering gonta-ganti pacar sejak putus. Jadi pelarian. Kalau menurut gue, ya. Mungkin Wawan sendiri enggak pengen Sati jadi salah satu korban pelariaannya. Atau… gimana gitu? Gue juga bingung!” cerita Farra panjang lebar.

Aku memilih diam. Tak berani berkomentar. Rumit benar rasanya kalau memang yang dikatakan Farra barusan benar adanya. Kupikir, dulu Wawan juga menyukai Sati.

“Woy! Podo ngopo neng kono? Iki, dosennya udah masuk,” Joko berteriak dari depan kelas. Ketua kami yang medok itu menunjuk-nunjuk ke arah kami. Ah, kalau mendengar aksen kental si Joko, jadi ingat Kak Dedi. Bagaimana ya kelanjutan hubungan Farra dengan Kak Dedi?

***

Huh… tumben benar belum ada angkot jam segini. Sejak tadi, angkot yang lewat menawariku ke arah Karang. Kenapa yang ke arah Rajabasa sama sekali belum muncul. Padahal aku sudah menunggu sejak lima belas menit yang lalu.

“Lagi nunggu angkot, ya?” tiba-tiba suara seseorang yang sangat kukenal terdengar. Aku mendongakkan kepalaku, dan orang yang ada dalam pikiranku memang sudah ada di depanku. Menghentikan motornya dan melepas helmnya. Kak Dedi. Aku berdiri, reflek dan mendekat. Bersikap lebih sopan, mengingat dia adalah kakak tingkatku. Lebih dari itu, kurasakan jantungku berdegup begitu kencangnya. Hey! Aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan, saat ke sekretariat dan bertemu langsung dengannya saja belum. Saat wawancara waktu itu rasanya pun tak seperti ini.

“Iya, Kak.”

“Rumahnya di mana emang?” tanyanya, medok benar.

“Deket Terminal Rajabasa, Kak.”

“Rajabasa? Oh… bareng aku aja, yok! Aku kebetulan juga mau jemput saudara. Sekalian, gitu. Nih, mumpung bawa helm dua juga,” tawarnya. Degupan jantungku kembali menormal. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku teringat Farra. Kenapa? Padahal kan Kak Dedi hanya menawariku pulang bareng. Tak lebih dari itu.

“Kenapa?” mungkin Kak Dedi merasa aku terlalu lama menjawab tawarannya. Mau menolak juga tak enak. Dia juga sudah mengulurkan helm itu padaku. Ayolah, Mi! Ini hanya sekadar pulang bersama. Apa salahnya?

“Ya udah, deh,” jawabku. Segera kuambil helm itu. Ia memajukan duduknya agar aku lebih leluasa duduk di belakang.

“Udah?” tanyanya. Aku hanya menangguk. Syukurlah dia menoleh ke belakang, jadi aku tak merasa dungu-dungu amat karena menjawabnya dengan anggukan kepala.

Selama di jalan, hatiku tak tentram. Kepalaku celingukan karena suatu alasan yang sangat konyol. Takut kalau Farra melihatku. Aku serasa menjadi selingkuhan Kak Dedi saja. Jangan-janga, yang kulakukan sekarang memang salah. Aku sendiri toh belum cerita pada Farra kalau aku sedikit, mungkin, menyukai Kak Dedi.

“Kamu kok jarang ke sekret lagi?” tanya Kak Dedi. Aku tersentak, kembali fokus dan meminta Kak Dedi mengulang pertanyaannya.

“Enggak papa, Kak. Akhir-akhir ini, tugasnya banyak banget,” jawabku bohong. Tugas banyak? Aku juga mengerjakannya kalau sudah malam. Mana pernah aku mengerjakan tugas siang-siang begini.

“Loh, itu Farra saja masih sering ke sekret. Dia kan satu kelas sama kamu.”

“Farra… oh, dia kan jadi sekretasi pelaksana, Kak. Masa iya dia enggak dateng, sih,” asal-asalan benar jawabanku! Aduh, Mia bodoh! Bodoh!

“Loh, ya jangan gitu, to. Walaupun cuma anggota sie Acara, kamu kan juga dibutuhin. Kan kasihan temen-temennya kerjanya tanpa kamu. Acara itu penting, lo. Enggak ada acara, bubar acara tahunan kita ini.” Aku tersenyum mendengar ucapannya. Ia membuatku seolah menjadi orang yang benar-benar dibutuhkan saja. Kalau saja aku tak ingat dia adalah ketua umum, yang pastinya akan mencari solusi terbaik agar anggotanya tetap bertahan, pasti aku sudah baper-baperan sekarang.

“Iya, deh. Besok aku dateng,” jawabku mengalah.

“Nah gitu, dong. Awas ya enggak dateng. Tak tungguin pokoknya besok.”

Besoknya, aku benar-benar datang. Farra sendiri, tanpa kehadiranku memang benar-benar sudah sibuk. Ia tak pernah pergi dari depan laptop dan printer. Aku masih menganggur. Berharap ketua sieku menyuruhku sesuatu. Tapi, seperti belum ada. Mataku masih lekat memperhatikan kerja Farra. Dan setelah itu, aku mengumpati perbuatanku. Gara-gara aku terus memperhatikan Farra, aku jadi melihat Kak Dedi mendekatinya. Mengatakan sesuatu soal kerjanya. Aku tak mendengarnya, karena jarak kami lumayan jauh. Dan suasana sekretariat yang memang sedang ramai seperti ini. Sekilas, kulihat mereka tertawa. Kak Dedi sempat menepuk-nepuk bahu Farra. Sialnya, aku mengakui kalau aku cemburu.

Apa aku ini kekurangan perhatian, sampai-sampai sahabat sendiri aku cemburui. Aku jahat sekali kan, ya?

***

Akhirnya malam yang mempertamukan kami lebih intim datang. Malam minggu, saatnya kami berkumpul di serambi belakang rumahku, kan? Tapi sekarang, lihatlah! Hanya ada tiga kepala di sini. Aku, Tora dan Farra. Farra tadi datang dijemput Tora menggunakan motor teman sekosannya. Lalu Sati dan Wawan? Entahlah. Ini sudah jam setengah 9 dan mereka belum datang. Daritadi kami bertiga pun hanya diam. Menghidupkan laptop dan menonton film Zootopia. Film animasi selucu ini, dan kami sama sekali tak ada tawa sejak tadi.

“Hah…” desah Farra akhirnya. Tidak, ini tidak berhasil. Sebisanya kami membuang masalah Wawan dan Sati, kami tetap memikirkannya. Alhasil, Tora mengulurkan tangannya. Mem-pause film itu dan beralih menopang dagunya dengan kedua lututnya.

“Gue pinjem motor elo, deh. Sini, gue jemput Sati,” ujarku sudah tak tahan. Farra menatapku sedih. Tora malah bengong. “Mana?”

“Emang elo bisa pake motor kopling?” aku yang sudah setengah berdiri duduk kembali. Tidak, aku tidak bisa. Lalu apa aku akan diam saja?

“Elo enggak papa di sini sendirian?” tanya Tora. Kukira padaku, ternyata matanya mengarah ke Farra. Farra hanya mengangguk menjawabnya. Tunggu, apa maksudnya.

“Yok!” ajaknya kemudian padaku. Eh, benar Farra ditinggal sendiri?

“Enggak papa. Kan ada Mbak Imah,” katanya menenangkanku. Oh, iya. Mbak yang biasanya membantu di rumah sudah pulang. Ah, tapi benar tidak apa-apa?

“Ayok, Mi!” teriak Tora yang sudah sampai ruang tengah. Huh! Dasar!

“Bentar ya, Ra?” pamitku. Dia tersenyum dan mengantarku dengan senyuman harapannya. Aku pun berharap Sati  mau diajak kemari. Paling tidak, mungkin kami bisa membuatnya bicara apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan Wawan sampai ada perang dingin seperti ini.

Selama di jalan, aku diam. Seperti biasa. Tora juga cuma diam. Ini juga yang membuatku sedikit canggung dengannya. Aku tak pernah bisa menemukan topik obrolan dengannya. Walaupun pada dasarnya aku kan memang pendiam kalau di atas motor, tapi seperti ini tetap tidak mengenakkan! Tidak enak!

Kami hampir sampai. Di depan sudah kelihatan kosan Sati.

“Eh, Tora, Tora! Stop! Stop!” kupukuli pundak Tora. Dia menepi.

“Apaan, sih?”

“Itu!” kutunjuk motor yang ada di depan sana. Bukankah itu motor Wawan?

Kutatap Wawan. Kepalanya celingukan. Apa yang mau dia lakukan?

“Turun geh, Mi.”

“Turun? Di sini?”

“Udah. Enggak usah kebanyakan komentar.” Kukerucutkan bibirku sebal. Kan cuma tanya!

Tempat kami berhenti dekat pos kamling. Ia memarkir motornya di depannya. Sementara itu ia melepas helm dan tiba-tiba menarik tanganku. Aku mendelik dan mataku tak bisa lepas dari tangannya. A, apa-apaan ini?

“Ma, mau ke mana?” tanyaku, tiba-tiba saja diserang rasa gugup.

“Sini,” jawabnya bisik-bisik. Ia menarikku sampai ke sebelah tembok kos-kosan Sati. Kos-kosannya tidak ada gerbangnya. Ada dua kamar baru di depan teras. Jadi, lewat sini kami bisa mengintip siapa yang ada di teras. Ada Sati dan benar, ada Wawan juga. Mereka duduk berduaan di atas sofa. Tora masih belum melepaskan tanganku, dan itu membuatku tak tenang.

“Sst…!” pintanya. Telunjuk tangan kanannya ia taruh di bibir. Ini, ini! Tangannya kan bisa dilepas dulu! Tapi nampaknya, aku tak punya kesempatan untuk menyampaikannya. Jadilah, aku menguping pembicaraan Wawan dan Sati dengan cenat-cenut di jantungku. Hey! Aku tak pernah bergandengan dengan cowok seperti ini!

“Gue sebenernya juga suka sama elo,” suara Wawan yang pertama kali kami dengar. Aku hampir kena serangan jantung. Nyaris berdecak kaget, tapi Tora menyentakku lagi. Aku mengangguk dan membungkam mulutku dengan tangan kiriku yang bebas dari tangan Tora.

Sati masih diam. Hanya kepala Tora yang mengintip mereka. Jadi aku tak tahu situasinya seperti apa di sana.

“Tapi, elo tahu kan hubungan gue sama elo itu apa?” suara Wawan lagi yang terdengar. Kucoba menerka-nerka seperti apa adegannya. Seharusnya yang seperti ini mudah bagiku.

“Elo satu-satunya orang yang gue percaya, Sat! Gue enggak pernah sejujur ini sama orang lain sebelumnya. Elo satu-satunya orang yang tahu semua tentang gue. Gue apa-apa cerita ke elo. Gue enggak pernah cerita ke orang lain. Karena apa? Karena gue kira elo bakal bener-bener gue percaya dan enggak akan ngelakuin hal bodoh kayak waktu itu!

“Gue udah tahu! Gue tahu kalo elo suka sama gue. Udah dari lama. Tapi elo enggak bisa tah diem aja? Enggak usah diomongin juga. Dan maksud elo apa coba elo cari-cari tahu tentang mantan gue? Elo mau apa kalo elo udah tahu tentang dia? Apa untungnya buat elo?” Wawan diam sebentar. Sempat kudengar decak keras darinya. Dan seketika itu Tora memperkuat genggamannya ke tanganku. Jujur, aku kaget. Kenapa? Apa dia sedikit terbawa perasaan? Kan bisa gawat kalau dia kesal dan tiba-tiba muncul ke depan mereka.

“Gue kecewa sama elo, Sat,” kalimat ini memberikan diam antara mereka jauh lebih lama. Tora melirikku. Entah, aku tak tahu apa maksudnya. Makannya aku cuma diam.

“Terus, gue harus gimana?” sekilas, seperti inilah pertanyaan yang kudenga dari suara parau Sati. Pasti dia menangis.

“Entah!” ketus jawaban Wawan. Huh… kalau aku ada di posisi Sati sekarang, bagaimana ya aku? Pasti tak mengenakkan sekali. Hey! Siapa yang bisa memilih, dengan siapa ia harus menaruh hatinya? Kupikir, Wawan sedikit keterlaluan.

“Kalo gue jadian sama elo, dan gue putusin elo, karena ternyata gue enggak bisa lari dari perasaan gue ke Rara, menurut elo hubungan kita bakalan baik-baik aja? Kita bisa sahabatan lagi kayak gini? Mungkin bisa, tapi gue yakin itu cuma acting! Karena toh, buktinya gue enggak bisa berhubungan baik sama mantan-mantan gue. Elo mau, hubungan kita renggang gara-gara itu?”

“Ya, enggaklah.”

“Ya, terus? Mau elo apa sekarang? Sejak kapan sahabat bisa jadi cinta, sih?!” sentak Wawan. Tora mulai mengajakku kembali ke motor. Dia masih belum sadar, ini tangannya masih menggandengku. Sampai di motor, baru dia melepaskannya. Jantungku selamat…

Tora sudah mengenakan helmnya. Helm yang di belakang ia ulurkan padaku. “Udahan?” tanyaku heran. Ia mengangguk.

“Biarin mereka selesein dulu masalah mereka. Ini bukan persoalan kita. Yang penting, sekarang kita kan tahu apa yang udah terjadi sama mereka,” jawabnya. Kutatap lagi dia. Mencoba mencari kepastian di sana. Apa benar tak apa jika kami pergi tanpa berbuat apa-apa?

“Udah, ayok!” ajaknya, meyakinkanku. Perlahan, kuambil helm itu. Sebelum benar-benar pergi, aku kembali menoleh ke belakang. Tak nampak mereka berdua di teras kalau dari sini. Yang kulihat hanya motor Wawan. Si empunya belum kelihatan, berarti dia belum mau pergi, kan? Kuharap, mereka segera menyelesaikannya. Tidak enak melihat Sati dan Wawan yang biasanya lengket macam perangko dan amplopnya jadi jauh-jauhan.

Di jalan, kami diam lagi. Aku masih memikirkan Sati dan Wawan. Kalau Tora, entahlah.

“Mi!” panggilnya tiba-tiba.

“Hm?”

“Elo tadi denger kan semua kata Wawan?”

“Iya. Kenapa?”

“Emang… bener ya, sahabat gak bisa jadi cinta?” ehm… sebenernya aku bingung, ini pertanyaan apa pernyataan. Karena sebenarnya, dia mengucapkannya datar. Aku diam sebentar. Berpikir sebanyak yang aku bisa.

“Ya, ada benernya juga,” jawabku. Dia manggut-manggut, kemudian menambah kecepatan. Jalanan cukup ramai padahal. Ini malam minggu.

Tunggu! Apa jawaban yang kulontarkan tadi benar? Sahabat memangnya tidak bisa jadi cinta, ya? Kenapa aku berharap Tora menyangkalnya?

Sebelumnya           Selanjutnya