Jalanan cukup ramai
dengan orang-orang yang sibuk menikmati akhir pekan. Ada yang berlari dan ada
juga yang mengendarai sepeda. Ada yang beramai-ramai, berpasang-pasangan, ada
pula yang sendirian. Mulai dari anak kecil, sampai orang tua semuanya ada.
Terlebih cuaca pagi ini cukup menyenangkan untuk berolahraga. Hangat. Itulah
yang membuat Ki Jae yang biasanya masih tidur sudah keluar dengan sepeda,
setelan traning putihnya. Headseat merah menggantung di
telinganya.
Di dekat pohon ia
berhenti. Sekalian dia ingin membeli minuman di toko yang ada di sana. Ia baru
sampai, dan melepas headseat-nya. Kalau saja tak ada yang memanggil
namanya, mungkin dia akan masuk ke dalam toko.
“Ki Jae~ya!” Song Yi,
teman sekelasnya, sudah mendekat dengan sepedanya. Napasnya nampak tersengal
begitu ia berhenti.
“Kau… kau mengejarku?”
tanya Ki Jae keheranan. Dengan kelelahan Song Yi mengangguk-angguk. Diambilnya
beberapa lembar kertas dan diberikannya pada Ki Jae. “Mwoya[1]?”
tanya Ki Jae menerima kertas itu.
“Itu formulir yang
harus kau bawa besok sore,” jawab Song Yi. Dahi Ki Jae berkerut, belum paham
apa yang dimaksud formulir ini. “Aku mendaftarkanmu di audisi idol yang
diadakan agensi yang ada di Gangnam. Kau harus datang. Susah payah aku
mendaftarkanmu,” tambah Song Yi. Ia menyeka keringatnya dengan tangannya. Dia
benar-benar sangat kelelahan. Sejak kapan kira-kira gadis ini mengikutinya? Ki
Jae rasa rumor soal Song Yi menyukainya memang benar. Dengan megingat pula
semua sikap baik Song Yi selama ini padanya. Sebenarnya Ki Jae sendiri juga
menyukainya. Tapi ia tak mau berhubungan dengan Song Yi karena bocah ini adalah
anak pemilik yayasan sekolahnya. Bisa-bisa jadi bahan omongan bocah miskin
sepertinya punya hubungan dengan Song Yi. Cukup menjadi teman saja, Ki Jae
sudah merasa senang. Tapi sampai Song Yi susah payah mendaftarkannya audisi
seperti ini, tentu saja Ki Jae cukup tersentuh.
“Gomawo[2],”
ujar Ki Jae. “Chakkaman[3]!”
ia lalu masuk ke dalam toko. Song Yi tak begitu memperhatikannya. Ia masih
sibuk menghilangkan sesak napas dan keringat yang membanjiri wajahnya. Dengan
adanya pohon ini cukup membantunya. Sejuk.
Satu menit kemudian Ki
Jae datang dengan membawa dua botol air mineral. Satu dibukanya kemudian
diberikannya pada Song Yi. “Ini, terimalah.” Song Yi tersenyum sumringah
menerimanya. Mendapat sesuatu dari orang yang disukai, walaupun hanya air
mineral seperti itu, tentu saja membuatnya senang. Setengah isinya langsung ia
habiskan. Mengundang tawa dari Ki Jae.
Jam 11 barulah Ki Jae
pulang. Ia sempat mengantar Song Yi tadi. Padahal rumah Song Yi berlawanan arah
dengannya. Menghabiskan waktu mengobrol dengan Song Yi cukup menyenangkan.
Andai saja ia punya sedikit keberaniaan saja, tanpa memikirkan status mereka
yang berbeda, mungkin sekarang ia sudah memacari Kwon Song Yi.
Hyo Kyung belum pulang.
Toko di seberang jalan tertutup rapat. Artinya Hyo Kyung memang tidak ada di
sana. Hari libur begini, apa kakaknya menemui Tae Soo? Kalau iya, pasti Hyo
Kyung akan pulang sampai sekitar jam 9 nanti. Dibiarkannya dulu. Hyo Kyung
pasti akan mengomel kalau ia menelponnya di tengah kencannya.
Tapi, sampai jam 11
malam, Hyo Kyung sama sekali belum kembali. Terpaksa Ki Jae menghubunginya.
Kalau terjadi apa-apa pada Hyo Kyung,
bagaimana? Sebagai adik wajar saja dia khawatir. Lama, telponnya tak ada
respon. Begitu diangkat, ia langsung memburunya dengan pertanyaan. “Oh, Nuna?
Eoddiya?[4]
Kenapa sampai larut malam begini kau belum pulang, hah? Apa kau terjebak macet?
Apa kau tidak dapat bus?”
“Oh, Ki Jae~ya!” Ki Jae
terdiam mendengar suara ini. Ini bukan suara kakaknya. Terlebih ini suara
laki-laki. “Ini aku, Kim Tae Soo.” Kim
Tae Soo? Pantas Ki Jae tak tahu, ini pertama kalinya ia mendengar suara kekasih
kakaknya.
“Kenapa hyung yang
menerima telponnya?”
“Nunamu ada denganku.
Kau tidak usah khawatir,” jawab Tae Soo. Ki Jae terdiam. Semalam ini masih
dengan Hyo Kyung. Apa yang mereka lakukan? Walaupun ia khawatir, ia tak mungkin
bisa menyusulnya, kan? Lagipula dia belum tahu dimana tepatnya Kim Tae Soo
bekerja. Belum tentu juga kakaknya ada di tempat kerja lelaki itu. Bisa saja di
suatu tempat, kan? “Dia mau menginap. Tidak apa-apa, kan? Hanya semalam saja,”
tambah Tae Soo lagi. Sedangkan wajah Ki Jae sudah muram sekarang. Sepertinya ia
tahu apa yang terjadi pada mereka berdua. Apa lagi yang akan terjadi jika dua
orang yang saling menyukai bermalam di suatu tempat? Meski pun ia tak
menyukainya, ia tak akan menolaknya. Sebaliknya, ia hanya diam.
“Ki Jae~ya?”
“Perlakukan saja nunaku
dengan baik!” mendengar perintah ini, Tae Soo terkekeh. Sekarang ia makin paham
kalau Ki Jae benar-benar menyayangi Hyo Kyung. “Ehm, tentu saja. Aku kan sangat
mencintai nunamu. Jangan khawatir!” balas Tae Soo. Hampir saja Ki Jae muntah
mendengarnya. Hyo Kyung selalu bilang kalau Tae Soo itu baik. Tapi sejak
pertama kali ia melihat kakaknya jalan dengannya saat itu, ia merasa kalau Tae
Soo adalah lelaki yang tak beres. Seperti katanya pada Hyo Kyung waktu itu,
mana mungkin seorang lelakii kaya penguasa Gangnam Gu sepertinya bisa menyukai
Hyo Kyung? Daripada memikirkan semua itu, ia berharap bahwa pria yang bernama
Tae Soo itu memang baik.
Sayangnya firasat Ki
Jae memang benar. Kalau saja ia lihat bagaimana keadaan Hyo Kyung sekarang,
mungkin dia bisa saja membunuh Tae Soo. Di balik lemari buku di ruang kerja Tae
Soo, ternyata ada sebuah ruangan. Lebih mirip kamar tidur. Untuk apa ruangan
ini? Padahal ia sendiri punya tempat tinggal sendiri. Ada tempat tidur besar
dengan warna yang serba putih. Bahkan seluruh ruangan ini berwarna putih.
Termasuk perabotannya. Ada tv layar lebar yang ditonton Hyo Kyung yang sudah
terduduk di lantai. Bersandarkan tempat tidur dimana Tae Soo masih duduk di
sana setelah menerima telpon dari Ki Jae. Lantas ia mendekat. Mengelus-elus
pipi Hyo Kyung yang masih terasa basah. Rambutnya yang acak-acakan ia benahi.
Ia tersenyum melihat sebagian dada Hyo Kyung masih terekspos, dengan beberapa
bercak merah di leher, pundak, dan bagian-bagian lebih bawah lagi. Ia hanya
berbalut selimut dan belum diijinkan untuk mengenakan kembali pakaiannya. Ia
harus menyelesaikan film yang ditayangkan Tae Soo di tv itu. Sejak tadi, ia tak
boleh mengalihkan pandangannya. Berkedip pun tak boleh.
“Aku sudah
mengizinkanmu pada Ki Jae. Jadi kau boleh menginap di sini untuk malam ini,”
katanya tanpa digubris oleh Hyo Kyung. Jangankan untuk mendengarkannya,
mengatur napasnya saja Hyo Kyung kesulitan. Ditambah dengan belaian-belaian
tangan Tae Soo yang membuatnya ingin sekali meneteskan darah dari matanya.
Sayang sekali ia tak bisa. Di balik selimutnya, tangannya lah yang
mengekspresikan semua yang ada di hatinya sekarang. Sekuat tenaga di remasnya.
Sekalian menahan teriakan dari mulutnya bisa lolos. Mendengar komen dari Tae
Soo, “Adegan yang sangat lucu. Haha…” membuatnya merapatkan selimut itu.
Padahal film yang ditayangkan Tae Soo adalah film-film pembunuhan sadis. Ia
sudah menayangkannya selama 12 jam, dan memaksa Hyo Kyung untuk menikmatinya!
Dan menurutnya itu adalah adegan yang lucu!
***
Baek Ji baru saja
keluar dari kamar mandi. Sengaja ia membasahi wajahnya agar kantuk tak terlalu
lama menyerangnya. Meskipun ia sebenarnya juga sudah berniat untuk pulang. Tapi
melihat ketua timnya, Jo Woo Young, masih berkutat di depan komputer, ia akan
tinggal sebentar. Terlebih jika mengingat rekan timnya yang lain masih ada di
Hwaseong, Gyeonggi karena kekasih Min Soo Min baru akan kembali dari China
besok pagi.
Ia tersenyum melihat
Woo Young yang ternyata tertidur dalam keadaan duduk. Ia pasti sangat lelah sekali.
Dilihatnya layar komputer yang menayangkan rekaman CCTV bus yang membawa Min
Soo Min. Belum ada perkembangan. Padahal kalau dipikir, mereka hanya harus
menunggu laporan dari Kim Tae Soo. Jika Min Soo Min datang besok, bukankah
kasus mereka selesai? Tapi ia mengerti mengapa Woo Young bersikap seperti itu.
Akhir-akhir ini banyak sekali kasus orang hilang yang tidak bisa terpecahkan.
Entah mengapa orang-orang itu menghilang dan tidak ada jejak-jejak bukti yang
bisa melacak mereka. Terlebih semuanya adalah wanita.
“Oh, aku ketiduran,”
tiba-tiba Woo Young terbangun. Ia sudah melihat
Baek Ji di sampingnya. Coba itu Won Geun, mungkin dia akan mendapat kopi
seperti biasa. Baek Ji memang yang paling muda di antara anggotanya. Tingkat
kepekaannya sedikit kurang. Walaupun selama ini yang lebih rajin adalah dia.
Kemarin juga yang menungguinya sampai ketiduran adalah Baek Ji. “Kau tidak
pulang?” tanyanya kemudian. Baek Ji menggeleng. “Dan membiarkan ketua tim
sendirian di sini?” tanyanya. Ia tertawa.
“Menurutmu kemana
perginya orang-orang yang hilang itu?” tanya Woo Young, meski sebenarnya itu
hanya sebuah gumaman. Tapi Baek Ji masih menganggapnya sebagai pertanyaan. Maka
ia jawab saja apa yang ada di pikirannya. “Ada orang yang menculik mereka dan
dijadikan koleksi, atau mereka sama-sama menghilang untuk membentuk aliansi
yang anggotanya adalah wanita. Benar, kan?” jawabannya membuat Woo Young
kembali tertawa. Walaupun jawaban itu kelihatan asal, tapi segala kemungkinan
selalu bisa terjadi. Kasus terkonyol seperti apapun akan selalu mendatangi kantor polisi.
Seorang polisi gemuk
berjalan pelan masuk. Matanya meyipit melihat dua orang yang masih ada di sana.
“Ya, Jo Woo Young!” panggilnya. Woo Young dan Baek Ji sama-sama berbalik. Ah,
selain mereka berdua, masih ada Kang Seok, ketua tim 1, di sini ternyata.
Mereka sama sekali tak menyadari. “Ada yang mencarimu,” lanjutnya.
***
Woo Hyun menatap langit
gelap. Andai kan dia bukan di Korea, mungkin masih ada bintang di atas sana.
Polusi cahaya membuatnya lupa seperti apa bentuk bintang sebenarnya. Ketimbang
memikirkan hal itu, ia menghela nafasnya perlahan. Di bawah cahaya bulan ia
tatap tangannya. Sudah berapa banyak mayat yang ia singkirkan hanya untuk Ki
Tae Soo? Apakah jika semua ini terkuak oleh polisi, dia juga akan mendapat
hukuman yang berat? Dia tak masalah soal itu. Hanya, jika Woo Young tahu dia
juga terlibat dalam kasus hilangnya orang-orang itu, apa yang akan terjadi
padanya? Pasti dia akan sangat membencinya.
“Woo Hyun~a!” Woo Young
akhirnya keluar juga dari dalam. Woo Hyun membentuk senyum melihat kakaknya
berlari kecil menghampirinya. Wajahnya kelihatan lelah. Tapi senyumnya karena
melihat Woo Hyun di sini seolah menepis itu semua. “Kau membawakanku makanan?”
tanyanya melihat wadah bekal di tangan Woo Hyun. Tanpa dijawab pun, jelas ia
sudah tahu. Dia malam ini tidak pulang. Adalah kebiasaan Woo Hyun membawainya
makanan seperti ini.
“Sebenarnya aku takut
tiap kali kau datang kemari,” ujar Woo Young sambil mengunyah kimchi bawaan Woo
Hyun. Woo Hyun tak begitu mengerti dengan kalimatnya terlihat dari kedua
alisnya yang hampir bertemu.
“Wae?”
“Karena… tiap kali kau
datang, besoknya pasti ada saja kasus baru yang muncul. Padahal kasus
sebelumnya belum selesai.” Woo Hyun tersentak mendengar penjelasan kakaknya.
“Aku tahu itu terdengar lucu saat aku menyambungkannya seperti itu. Tapi,
entahlah. Begitulah yang terjadi. Padahal kau saja tak tahu menahu soal
hilangnya orang-orang itu.” Justru penjelesan Woo Young yang makin panjang itu
membuat perasaan bersalah Woo Hyun makin bertambah. Itu bukan sesuatu yang
lucu. Bukan pula sesuatu yang kebetulan. Memang itulah adanya. Bagaimana
mengatakannya? Jengukannya pada Woo Young setiap malam jika ia tak pulang ke
rumah, selain perhatiannya sebagai adik, itu juga adalah permintaan maafnya
karena akan membuat pekerjaan kakaknya lebih banyak. Ya, besok Tae Soo akan
memulai kasus baru untuk kepolisian. Dan dia sudah ditugaskan untuk
membersihkannya seperti biasa.
“Jika besok benar-benar
ada kasus baru yang muncul, aku tak akan pernah mengijinkanmu kemari lagi,”
canda Woo Young. Woo Hyun tertawa ringan, tentu saja hanya pura-pura.
***
Jam 07.00 waktu Korea
Selatan. Keadaan jalanan di Gangnam Gu sudah sangat padat. Semuanya menemui
kesibukannya setelah melepas lelah di akhir pekan. Bus-bus sesak dengan
anak-anak sekolah. Taksi-taksi dan mobil pribadi berlomba-lomba menancap gas
agar tak terjebak macet. Toko-toko mulai buka. Café kopi yang mulai memberikan
aroma biji kopi yang khas, dan toko-toko roti yang mulai memanggang rotinya.
Gedung di Apgujeong
Dong belum terlalu ramai. Hanya beberapa orang-orang berseragam sama yang mulai
membenahi beberapa barang dan membersihkan sana-sini. Lukisan-lukisan yang
penuh debu, atau yang agak miring sedikit. Semuanya dirapikan sebelum menyambut
datangnya orang-orang. Terlebih hari ini di lantai 5 ada pertemuan dengan
pemilik galeri lain. Tak hanya 3 lantai yang diurusi, tapi kesibukan juga
terdengar di lantai 5.
Sang pemilik yang
biasanya bangun di lantai 12, membuka jendela dan menghirup dalam-dalam oksigen
pagi dengan hamparan kesibukan Apgujeong Dong, kali ini ada di tempat tidur di
ruangannya. Tak ada yang berani menganggunya yang masih damai memejamkan
matanya. Tidak pula dengan gadis yang tak berpindah dari lantai. Tv sudah tak
menyala, tapi pandangannya tak bisa pergi dari sana. Lingkaran hitam di bawah
matanya membuktikan ia tak bisa memejamkan matanya semalaman.
Lambat laun, Tae Soo
membuka matanya. Ia sadar, Hyo Kyung tidak tidur. Sambil menggeliat, ia
merangkak menuju Hyo Kyung. Selimut Hyo Kyung masih membalut. Tapi bagian
atasnya mengundang Tae Soo untuk mendekat. Beberapa kali dikecupinya
bercak-bercak merah di sana. Hyo Kyung sama sekali tak menghindar. Sepertinya
ia mulai pasrah dengan perlakuan Tae Soo padanya. Termasuk ketika Tae Soo dengan
perlahan menarik selimut di tubuhnya. Sampai tak ada sehelai pun benang di
sana. Selimut tadi dijadikan Tae Soo sebagai alas untuk tidur di samping Hyo
Kyung. Kaki Hyo Kyung yang ia jadikan bantal.
Diamatinya wajah Hyo
Kyung dari bawah. Wajah dengan tatapan kosong itu membuatnya tersenyum. Senyum
yang bahkan memunculkan kedua lesung pipinya. Ia menyukainya. “Ah… yeppoda[5]!”
gumamnya. Tangan kirinya terulur, mengelus-elus pipi Hyo Kyung. Gadis itu masih
saja tak bergeming.
“Hyo… lihatlah kemari!
Aku ingin melihat wajahmu dengan jelas,” pinta Tae Soo begitu manja. Satu
tamparan ia berikan pada Hyo Kyung karena gadis itu tak menuruti pintanya.
Lesung pipinya hilang berganti dengan rahangnya yang menegang. Hingga tamparan
yang kedua kalinya, barulah Hyo Kyung mau melakukan apa yang ia minta. Tae Soo
tak terlalu puas dengan wajah yang biasa itu. “Tersenyumlah!” sentaknya. Ia tak
suka melihat wajah menyedihkan itu. Dengan terpaksa, sangat getir, Hyo Kyung
tersenyum. Bibirnya mungkin melengkung, tapi matanya kelihatan sekali bahwa ia
menyangkan nasibnya yang sungguh malang.
Puas dengan senyuman
Hyo Kyung, Tae Soo beralih ke bawah tv. Buku gambar yang ia ambil. Diberikannya
buku itu pada Hyo Kyung. “Lihatlah!” titahnya lagi. Hyo Kyung tidak menolak.
Kecuali kalau dia memang menginginkan satu tamparan lagi dari Tae Soo. “Lihat
semua isinya,” kini pintanya lebih lembut. Hyo Kyung menurut. Lembar demi
lembar ia buka. Wajahnya yang tadi cukup tenang, mulai bergidik ngeri lagi.
Gambar hasil ciptaan Tae Soo itu kelihatan begitu nyata. Itu semua adalah
gambar wanita-wanita dengan bentuk yang tidak karuan. Semua luka yang terbentuk
di gambar itu, lebih parah daripada luka yang terbentuk pada Soo Min waktu itu.
Warna merah yang menghiasinya, ini bukanlah warna pensil warna. Karena
gambar-gambar itu sendiri hanya memiliki dua warna, warna pensil dan warna
merah. Bukankah ini adalah darah sungguhan yang sudah mengering?
“Cantik, bukan?” suara
Tae Soo kembali terdengar. Ia tak menginginkan Hyo Kyung untuk berkomentar.
Dalam pikirannya, Hyo Kyung tak begitu mengerti gambar. Padahal jelas Hyo Kyung
tahu dan memberikan ekspresi yang benar melihat gambar itu.
Tae Soo berdiri. Hingga
nampaklah kemeja yang dipakainya adalah kemeja yang sangat tipis. Nampaklah
seluruh tubuhnya yang begitu atletis. Gadis mana saja pasti akan mimisan
melihatnya. Terlebih setelah itu ia melepasnya. Step bt step, ia melepas
satu per satu kancing kemejanya di depan cermin besar di samping pintu kamar
mandi. Hyo Kyung sendiri tak menyangka, bahwa badan itu memang sungguh bagus
bentuknya. Hanya saja, dia yang sudah tahu bagaimana seorang Tae Soo tak
menikmatinya kemarin. Bahkan ia merasa tersiksa. Tapi, ia baru tahu ada luka
panjang di punggung Tae Soo. Ada banyak goresan yang sepertinya sudah sangat
lama berada di punggung Tae Soo.
“Kau pasti heran
goresan apa ini, kan?” Tae Soo agaknya paham. Ia bisa membaca pertanyaan Hyo
Kyung dari pantulan wajah Hyo Kyung di cermin. Ia sendiri tak langsung menjawab
pertanyaan itu. Ia tanggalkan dulu semua pakaiannya. Melihatnya, Hyo Kyung
mencoba memalingkan wajahnya. “Aku tak menyuruhmu untuk berhenti melihatku!”
tapi karena perintah dingin ini ia kembali ke Tae Soo. Tak masalah sebenarnya,
karena Tae Soo sudah membalut tubuh bagian bawahnya dengan handuk putih. Jika melihat
ruangan ini serta perabotannya, sepertinya Tae Soo sangat menggilai warna
putih.
“Dulu aku pernah punya
ruangan serba putih seperti ini,” Tae Soo mulai bercerita tanpa diminta. “Orang
itu sering datang dan menyuruhku menggambar. Aku tak pernah bisa menggambar
sesuatu yang cantik untuknya. Lalu dia membuat goresan-goresan ini. Dan saat
aku menggambar seseatu dengan goresan-goresan yang pernah aku dapatkan, dia
katakan itu cantik. Bukankah goresan-goresan ini memang cantik?” penjelasan Tae
Soo diakhiri dengan senyum separuhnya. Diperhatikan wajahnya sendiri di depan
cermin. Sepertinya ada komedo atau benda kecil apapun yang menganggunya.
Tangannya sibuk meraba sana dan seni. Saat ia melirik ke arah Hyo Kyung yang
diam tertunduk, ia ingin memancingnya lagi. Karena ia tak suka gadis itu
mengalihkan pandangannya darinya.
“Ngomong-ngomong Min Soo Min adalah garis ke 69,” katanya santai. Berhasil Hyo Kyung kembali menoleh kepadanya. “Aku akan melengkapinya sampai 99, sesuai jumlah goresan ini. Ah, dan kau adalah goresan yang ke 99-nya.” Tambahnya. Kali ini Hyo Kyung tak hanya memperhatikannya. Tapi kedua matanya sudah mendelik. Meremas sedikit buku gambar di tangannya. Terus Tae Soo mendekatinya. Menyelimutkan selimut itu ke tubuh tak berbalut apapun Han Hyo Kyung. Ia tak ingin kekasihnya kedinginan dengan kata-katanya. “Aku kan memacarimu bukan tanpa alasan,” bisiknya tepat di telinga kanan Hyo Kyung. Senyum separuhnya muncul sebelum ia masuk ke kamar mandi. Tak lama, dan terdengar suara shower dari dalam sana.
Sebelumnya Selanjutnya