Awalnya aku ragu walau sekedar
untuk melangkah ke kelas. Tak banyak yang ada di luar. Mungkin ada tugas hingga
teman-teman sekelas tak menyadari bahwa aku hanya berdiri di dekat pintu. Menggenggam erat tali tasku. Merapatkan telapak kaki ke lantai. Menundukkan kepala dan menggigit bibir bawahku
sendiri. Benarkah tak apa jika aku masuk? Apa aku sudah siap bertemu dengan
Tora atau bahkan Fara? Ugh! Aku benci suasana ini!
Kakiku mundur selangkah. Haruskah
aku pergi dari sini? Dadaku hampir meledak tak tahan dengan situasi ini. Aku
bingung harus memulai dari mana. Aku malu pada Fara. Seharusnya tadi aku tak
usah berangkat. Bodoh! Aku bodoh sekali. Ah, lebih baik aku pergi saja.
“Mi!” tapi tiba-tiba namaku
dipanggil. Kakiku berhenti lagi. Apa aku harus berbalik? Tapi kalaupun aku
ingin, aku tak bisa. Ujung jempol kakiku terasa dingin sekali. Begitu pula
dengan jemari dan telapak tanganku. Rasanya aku membeku.
“Mia…” mereka memanggilku lebih
lirih. Ah, tidak. Ini bukan mereka, melainkan Fara. Mataku mendelik melihatnya
sudah ada di depan mataku. Dia beralih ke depanku. Perlahan, kedua tangannya
meraih tangan dinginku. Masih diamku ini mendominasiku. Tapi senyuman Fara
mencairkannya. Benarkah ia tersenyum padaku?
“Ke mana aja, sih? Bisa-bisanya seminggu bolos dan enggak kasih kabar
sama sekali?” tanyanya.
“Itu… gue…”
“Kan sepi kalo gak ada elo. Ya…
walaupun elo lebih banyak gak ngomongnya daripada kami. Tapi, kan… bosen juga
gue kalo cuma sama Sati,” tambahnya. Aku bingung dengan bicaranya, seolah ia
tak ingat soal perasaanku pada Kak Dedi. Jangan! Jangan berpura-pura seolah tak
terjadi apa-apa. Ini malah membuatku makin tak enak padamu, Fara!
“Ra… gue…”
“Sst!” sentaknya tiba-tiba.
“Udah… gak papa, kok.”
“Elo… gak marah sama gue?”
“Marah? Ya! Gue marah sama elo!
Karena elo gak pernah bilang soal itu ke gue.Itu artinya, elo gak beneran
anggep gue sahabat elo. Seharusnya, sahabat kan saling terbuka, biar kalo ada
masalah sepele kayak gini, bisa dicariin solusi. Lagian… mau elo atau gue, gak
ada juga kan yang jadian sama dia? Dia udah punya cewek lain. Dan… gue juga
udah gak punya perasaan apa-apa sama dia. Jangan terlalu dipikirin. Gue lebih
suka sama elo kok daripada dia.” Fara tersenyum lagi. Hatiku terenyuh. Sampai-sampai aku tak sadar sebulir air mengalir melewati pipiku. Hal itu
berhasil membuat Fara memelukku begitu eratnya. Sati yang sejak tadi ada di
belakangku juga ikut-ikutan memelukku. Anehnya, sesak itu hilang begitu saja.
Kami tertawa bersama dan perlahan canggungku menipis.
Sempat kulihat senyum Andre di
bawah pohon seri. Meskipun setelahnya ia langsung beralih ke buku tebalnya.
Mungkin sejak tadi ia melihat ke arah sini. Entah mengapa, aku senang menyadari
akan hal itu. Apa Andre senang aku masuk kuliah lagi? Seperti pintanya waktu
itu, kan?
***
Satu hal yang sedikit mengganjal
hatiku adalah Tora. Fara bilang, sejak aku tidak masuk kuliah, dia juga tidak
pernah kelihatan. Dia absen lebih banyak tiga hari dariku sekarang. Saat Fara
bilang Tora tidak masuk tiga hari yang lalu itu, kupikir aku akan senang.
Bukankah aku marah padanya? Tapi, nyatanya tidak. Ada yang kurang di sini.
Diam-diam aku berharap dia akan datang. Menyapaku tiap pagi seperti biasa.
Mengangguku dan semacamnya. Tapi itu tidak terjadi. Sulit kuakui memang, tapi
jujur, aku merindukannya.
Sampai satu minggu lamanya, Tora
masih tak muncul-muncul juga. Wawan sudah mencoba mendatangi kosnya, tapi
teman-teman satu kos Tora bilang dia pulang kampung dari dua minggu yang lalu.
Itu artinya, sejak aku tak berangkat, dia sudah pulang kampung. Tidak ada di
antara kami yang tahu di mana rumah Tora. Jadilah, kami hanya
diam dan menunggu sampai dia benar-benar datang dengan keinginannya sendiri.
“Mungkin tebakan gue salah selama
ini,” Andre mengangetkanku. Kami sedang ada di kantin, hanya berdua. Hal yang
cukup aneh jika dilihat teman-teman di kelas. Tapi itu dulu. Sejak Andre mulai
mau dekat dengan teman-teman di kelas, sepertinya hal seperti ini pun tak
masalah bila pun terjadi. Walau agak memaksa, karena pasti akan ada saja yang
membicarakan kedekatan hubunganku dengan Andre ini. Terlebih Fara dan Sati
tentunya.
“Soal apa?”
“Elo bukan suka sama gue. Tapi
sama Tora. Iya, kan?”
Mendengar pertanyaan itu aku
tersedak. Bukan karena gugup, tapi karena kaget. Tapi sepertinya dia malah
menanggapinya lain. “Jadi beneran, kan?” tambahnya. Kuteguk es tehku sebentar,
barulah kutanggapi.
“Apaan, sih? Absurd banget elo
ngomongnya!”
“Ya lagian. Elo sering banget
ngelamun sendirian sejak masuk kuliah lagi. Elo kangen kan sama Tora?”
“Wajar dong kalo gue kangen.
Walaupun gue gak masuk karena berantem sama dia, gue kan juga pernah deket sama
dia. Bukan berarti gue suka sama dia, kan?”
“Jadi elo sukanya sama gue?”
Sial! Aku tersedak lagi. “Apaan,
sih?!”
“Jelek banget tah kalo suka sama
orang kayak gue?”
“Hah?”
“Andai elo beneran suka sama gue,
apa itu hal yang terlalu memalukan, ya? Suka sama orang aneh bin autis kayak
gue ini?”
Dia ini bicara apa, sih? Kenapa
tiba-tiba sikapnya jadi terbuka berlebihan seperti ini? Bagaimana dia bisa
bertanya dengan seblak-blakan begitu? Sial! Kenapa pula aku harus gugup begini?
“Ah, bikin gak enak makan aja,
elo! Udah deh!” terpaksa aku berdiri. Aku tak suka berada di situasi seperti
ini. Jantungku berdebar tak karuan, dan aku jadi makin salah tingkah. Kalau
sudah begini, aku kan jadi tak bisa bicara dengan lancar. Lebih baik aku pergi
duluan saja. Toh, makanannya sudah kubayar. Dan… ugh! Kenapa aku merasa kesal
karena dia tak mencegah kepergianku, sih?
“Dasar Andre nyebelin!” umpatku
seorang diri. Mungkin orang-orang yang melihatku jalan sambil menyumpah
serapahi Andre menganggapku gila. Masa bodoh! Aku hanya tak tahu cara lain
untuk melampiaskan kekesalanku pada Andre ini.
Setelah jam makan siang, dosen
tidak masuk. Kami hanya dibekali tugas untuk dikerjakan di kelas dan
dikumpulkan di akhir jam. Hal yang menyebalkan! Seharusnya kalau mau tidak
masuk kan tinggal tidak masuk saja. Kenapa pula harus menitipi tugas yang harus
dikumpul hari ini juga, ya?
Sayangnya, aku adalah mahasiswa
yang cukup baik. Sehingga, walaupun dengan keluhan banyak sekali, tugas tetap
kukerjakan. Hingga kupilih menyelesaikannya lebih cepat sebab aku tak tahan
karena Andre terus saja menatapku dengan tatapan aneh. Ditegur malah diam saja.
Kan aku jadi ngeri. Mending aku keluar saja.
Bruk! Karena buru-buru,
aku menabrak seseorang. Untung saja bukan dosen, hanya mahasiswa biasa.
Kudongakkan kepalaku demi melihat siapa ini. Eh… ini kan…
“Tora?”
***
Lima belas menit lamanya aku
hanya diam di depan Tora. Kami duduk di bangku di depan kelas gedung F. Saling
berhadapan. Aku tak yakin apa Tora menatapku, yang jelas aku memilih memandangi
sepatuku, semut, dan beberapa pasir di lantai. Kenapa pula tadi aku
mengikutinya kalau tak tahu harus bicara apa? Kenapa pula dia memintaku
mengikutinya kalau tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya selama
ini? Hah! Bikin frustasi saja!
“Maaf…” lirihnya, akhirnya ia
membuka mulutnya. Inilah kesempatanku mengangkat kepalaku. Tapi sejurus
kemudian aku menyesal. Dia menatapku begitu lekat, bahkan ini sih keterlaluan.
Wajar saja kalau aku jadi salah tingkah karenanya.
“Maaf… gue udah keterlaluan sama
elo. Maaf… maafin gue, Mi. Gue…” Tora berhenti. Bibirnya yang tadi terbuka
tiba-tiba mengatup kembali. Apa? Apa yang mau dibicarakannya sampai tertahan
seperti itu? Aku ingin bertanya, tapi sayangnya bibirku pun tak kalah rapatnya
dengan miliknya.
“Intinya… gue minta maaf. Gue
janji, gue enggak akan gangguin elo lagi.”
“Elo… gak mau pergi, kan?”
bibirku tiba-tiba berujar sendiri. Bagaimana bisa?
“Pergi? Ke mana?”
“Itu…. Elo enggak bakalan
berhenti kuliah, kan?”
Awalnya Tora menanggapi
pertanyaanku bingung. Tapi selanjutnya ia malah tertawa. Kini giliran aku yang
bingung.
“Jangan bilang, karena gue enggak
masuk dua minggu terus elo kira karena gue berantem sama elo? PD banget sih,
elo?!”
“Hah? Maksudnya?”
“Ya… itu juga alesannya sih.
Tapi, dikit aja. Ngapain juga gue bolos cuma gara-gara elo? Apalagi sampe mau
berhenti kuliah. Gue gak segila itu kali!”
“Ih! Apaan sih, elo! Ngeselin
banget! Seharusnya gue masih marah nih sama elo! Mulut elo itu gak mikir dulu
kalo mau ngomong! Gue benci sama elo, Ra!” sentakku sebal. Hampir saja aku
beranjak dari sana kalau saja Tora tidak menarik tanganku.
“Gue kangen sama elo, Mi.” deg!
Jantungku sepertinya berhenti berdetak. Apa aku sempat berpikir dia hanya
bercanda kalau dengan tatapan serius macam itu? A, apa maksudnya?
“Gue kangen kita bareng-bareng
lagi kayak dulu. Komunitas anti reason itu, dan tawa elo, dan sebel juga
marah-marah elo pas gue jahilin. Gue kangen semua itu. Gue enggak tahan
canggung-canggungan sama elo. Elo boleh benci sama gue. Tapi tolong, jangan
jadiin rasa benci elo ke gue itu melebihi rasa persahabatan kita. Elo boleh
pukul dan umpat gue sebanyak yang elo mau. Tapi, tertawalah lebih banyak dari
sebelumnya. Maka gue gak papa. Gue bakalan tetep ada di samping elo sampe elo
sendiri yang bosen sama gue.” oh, Tuhan! Apa yang harus kulakukan jika bocah
menyebalkan yang jarang sekali serius dan pernah melayangkan kata-kata menusuk
hati ini bicara seperti ini? Genggaman tangannya begitu erat sekali. Aku yakin,
ia bisa merasakan denyut jantungku yang begitu kencang dari nadiku sekarang.
Kakiku melemas, hingga aku kembali terduduk. Saat itulah ia mulai melepas
perlahan genggamannya.
Aku tak mampu memberinya
kata-kata. Sebagai gantinya, aku balik menatapnya. Sebisa mungkin kuulas senyum
padanya. Kuharap, dia paham arti dari senyumanku ini. Ya, aku juga
merindukannya. Aku rindu dengan sikap jahilnya, dan kami kumpul bersama setiap
malam minggu. Aku benci bercanggung ria dengannya. Menjadi sahabatnya, dan
tetap berada di sampingnya dengan perasaan sayang yang tulus hanya sebagai
sahabat, aku lebih menyukai itu. Aku senang, aku benar-benar senang karena Tora
kembali lagi. Aku senang, dan rasanya tak perlu kuungkapkan kata-kata senangku
padanya karena ia pun tersenyum padaku.
***
Satu semester berlalu dengan luar
biasa. Nilaiku anjlok, tapi tak masalah. Karena aku menemukan lagi
sahabat-sahabatku. Kami kembali berkumpul setiap malam minggu di rumahku.
Bercanda tak penting dan rasanya lebih bebas dari sebelumnya. Tak ada
perselisihan perasaan lagi di antara kami. Kami terpisah di liburan akhir
semester.
Saat aku tak lagi disibukkan
dengan mereka, Andrelah yang menyibukkanku. Aku berani berteriak keras-keras di
kamar mandi, dia membuatku gila! Aku benar-benar tak paham maksudnya. Hampir
setiap malam dia kemari. Aku tak tahu apa tujuannya, karena kadang-kadang hanya
untuk menyuruhku keluar. Hanya lima detik mungkin, dan dia akan segera pergi
begitu saja. Tanpa banyak kata-kata. Karena tiap kali aku bertanya, “Mau
ngapain?”
“Oke. Gue balik, ya?” begitulah
jawabannya. Apa? Apa maksudnya?!
Begitu pula hari ini. Jam
setengah tujuh hpku berbunyi. BBM darinya. Gue di depan. Tulisnya. Andai
aku ini kejam, bisa saja dia kuabaikan. Tapi sayangnya, aku terlalu baik hati.
Hingga mau-maunya aku keluar dan membuka gerbang untuknya. Walaupun aku sudah
tahu apa yang akan ia lakukan.
Untuk cewek lain, dihampiri anak
orang kaya yang bawa mobil sport mewah begini di malam minggu pula, mungkin
akan senang sekali. Tapi tidak denganku. “So… what?” tanyaku ketus.
“Cck! Elo stres, ya?”
“Apaan, sih?”
“Dandanan elo itu… enggak modis
banget, sih? Piyama… sandal bunny pink. Jam segini elo udah mau
tidur, tah?”
“Ya walaupun enggak, apa
urusannya sama elo? Lagian, elo juga mau bilang oke, gue balik ya. Gitu
doang, kan?”
“Gue lagi butuh kawan.”
“Hah?”
“Makannya… ganti baju sana. Jelek
banget sih, elo! Gue tunggu! Enggak usah cantik-cantik! Enggak ngaruh juga elo
pake make up atau enggak. Buru!” mulutku menganga lebar dengan titahnya
barusan. Maunya apa sebenarnya?
“Hah?!”
“Buruan sana masuk!” sentaknya
lagi. Kenapa pula aku langsung menurut saja dengan permintaannya? Tepat sepuluh
menit aku keluar lagi dengan tampilan berbeda. Karena cuma dapat sepuluh menit,
kupilih kaos dan jaket levis serta jeans panjang. Rambut kukucir satu di
belakang. Hanya berbekal bedak tipis dan lipbalm serta parfum sedikit
saja. Tanpa bicara banyak, ia menarikku ke dalam mobilnya.
“Mau ke mana, sih?” tanyaku.
“Diem aja enggak bisa, tah?” hmph!
Baiklah! Aku akan diam. Selagi dia tidak akan membunuhku atau melakukan hal
aneh lainnya, kupikir tak masalah. Seperti katanya barusan, mungkin dia sedang
butuh teman. Atau mungkin Om Azril sedang keluar kota, jadi dia kesepian di
rumah. Karena tak punya teman lain, jadi dia mengajakku. Anehnya, walaupun
sebal, aku tak masalah dengan semua tingkahnya selama ini. Lebih dari kata
jengkel, aku mungkin menyukainya. Setidaknya, selama liburan aku tak mati
kebosanan sendiri. Karena papa dan mama ada kerjaan di luar kota, tak sempat menemaniku liburan.
Ia memarkirkan mobilnya di toko buku. Dia turun duluan
tanpa mengajakku. Tak mungkin kan aku tetap diam saja di mobil?
“Sana!” lagi-lagi ia bertingkah
bak raja. Kali ini aku tak paham dengan perintahnya. Baru saja aku sampai di
dalam karena ketinggalan membuntutinya.
“Ke mana?”
“Pilihin gue novel apa aja. Yang
banyak! Karya penulis Indonesia. Terserah mau yang mana aja,” lanjutnya. Sesaat
aku masih diam. Tapi ia lagi-lagi memaksaku. Ia mendorongku seenak udelnya.
Beberapa kali aku bolak-balik rak buku, kasir, lantai dua, kasir karena ia
bilang masih kurang. Heran, buku sebanyak ini untuk apa? Ada sekitar lima puluh
eksemplar mungkin. Angka 0 sebanyak enam buah yang tertera di struk yang ia
terima. Dan ia tak masalah dengan itu.
Aku hanya bisa melongo melihatnya dengan mudahnya menggesek kartu kredit. Wah!
Andre benar-benar anak orang kaya.
Dengan bantuan pegawai di sana,
ia mamasukkan buku-buku itu ke bagasi. Selanjutnya ia mengajakku ke toko baju.
Sama, ia memintaku memilihkan baju sebanyak mungkin. Berkali-kali ia
bolak-balik kamar ganti dan meminta pendapatku. Jika aku mengangguk, maka dia
akan langsung membelinya. Dan hal seperti ini terus terulang di toko mainan,
toko sepatu, dan bahkan warung camilan. Barulah ia berhenti memborong barang
saat kami sampai di kafe kecil yang menyediakan berbagai macam masakan khas
Indonesia. Ia memesan sate, ayam bakar, nasi bakar, nasi goreng, es teh, jus
alpukat dan ketoprak. Dia makan dengan lahapnya.
“Elo kenapa sih, An?” tanyaku
penasaran. Ia tak menjawab, masih berusaha menjejalkan semua makanan itu ke
mulutnya. Aku tahu, ia tak selapar itu sampai harus membuat mulutnya penuh
dengan makanan. Ia memaksanya, dan kulihat ada sesuatu yang memberatkan dari
matanya. Makannya kutanyakan hal itu. Sayangnya ia tak menjawab, hingga
kubiarkan dulu sampai ia selesai dengan makananya. Sembari menunggunya, kuhabiskan
burger mini size-ku yang kupesan. Hanya setengah kuhabiskan, karena aku
lebih banyak memperhatikan tingkah Andre saat ini.
Di luar dugaanku, semua makanan
itu berhasil Andre sikat sampai habis. Bahkan tak bersisa sedikit pun. Ia masih
tak menjawab pertanyaanku. Aku pun memilih diam sampai terakhir ia membawaku ke
parkiran atap di pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota. Dari sini, kami
bisa melihat pemandangan gemerlap ribuan lampu kota. Aku berlari mendekati
pagar pembatas. Kuhirup dalam-dalam udara malam yang dingin. Tapi tak masalah,
aku tak merasa kedinginan. Andre menyusulku dan berdiri berjarak tak jauh
dariku.
“Elo kenapa sih malem ini, An?
Aneh banget, deh. Ngapain belanja sebanyak itu?” tanyaku lagi. Berharap kali
ini ia akan menjawabku. Toh, dia tak sedang melakukan hal lain kecuali melempar
pandangannya ke pemandangan lampu di bawah sana.
“Cuma… gue mungkin bisa aja
kangen sama barang-barang yang ada di sini.”
“Kangen? Kok bisa gitu?”
“Itu… soalnya…” ia beralih
memandangku. Kuangkat kedua alisku, meminta jawaban selanjutnya. “Kafe gue
dijual sama bokap.”
“Hah? Kok bisa?”
“Ya, soalnya udah enggak ada
gunanya lagi. Jadi dijual, deh.”
“Elo bangkrut?!” tanyaku
terkejut.
“Ya enggaklah! Kalo bangkrut,
gimana bisa gue belanja segitu banyaknya tadi? Elo bego, ya?!”
“Ya mana gue tahu kalo elo enggak
bilang ke gue alesannya?”
“Ya kalo enggak tahu enggak usah
asal tebak gitu, dong!”
Mulai deh, sikap menyebalkannya
kembali. Aku tak akan menang kalau perang kata dengannya. Lebih baik aku diam.
“Gue… mau pindah lagi.”
Oke! Kali ini ia kembali menarik
perhatianku. Kembali kuarahkan pandanganku padanya. “Pindah?” ulangku tak
percaya. Ia mengangguk. Hey… kurasa ada sedikit perasaan sedih yang
menghampiriku.
“Lagian… gue kan juga udah pernah
bilang. Kafe itu ide yang buruk. Karena gue tahu, bokap enggak suka menetap di
satu tempat.”
“Ke mana?” tanyaku lirih. Mengabaikan pernyataannya soal kafenya. Ia
melirikku sekilas. Beralih ke sembarang tempat, dan berakhir lagi padaku.
“New York,” jawabannya membuat
hatiku mencelos. Aku kenapa? Ah, aku tak tahu. New York? Kenapa jauh sekali?
Dan dengan sadar, kutahan sekuat tenaga sesak di dada. Aku hampir menangis
kalau angin malam tidak meniupnya sampai kering. Kualihkan pandanganku
sembarangan.
“Sa, sampai kapan?” pertanyaanku
hampir tak lolos. Tuhan! Kenapa sesak sekali?
“Selamanya.” Se… selamanya? Se…
selamanya itu seperti apa? Aku takut sekali membayangkannya. Hey! Dia hanya
Andre yang membuatmu kesal berkali-kali? Kenapa jadi seperti ini? Apa karena
selama ini aku sudah mulai dekat dengannya? Kemudian harus berpisah, sejauh
itu? Sampai New York pula? Ini begitu mendadak, kan?
“O, oh… terus ku, kuliah elo
gimana?” tanyaku masih tersendat. Suaraku serak, biarlah. Asal tidak ada air
yang jatuh dari mataku, kurasa tak masalah.
“Udah dari semester kemaren bokap
ngurus kepindahannya.” Ah… jadi dia benar-benar akan pindah. Ja, jangan… apa
boleh aku bilang begitu? Tidak boleh, kan? Aku ini siapa? Lagipula, dulu dia
juga pernah bilang kalau keluarganya pasti akan pindah lagi. Hanya… kenapa
sampai New York, itu mungkin yang membuatku sedikit keberatan. Tapi sekali
lagi, apa hakku melarangnya, kan? Lebih baik aku tersenyum padanya. Kuulurkan
tanganku padanya.
“Apaan?” tanyanya tak mengerti
melihat uluran tanganku ini.
“Selamat tinggal. Semoga elo bisa
dapet banyak temen di sana, ya?” ujarku. Ia tak mau menerima uluran tanganku.
Matanya menatapku. Sayangnya aku tak paham artinya. Pelan, kuambil lagi uluran
tanganku yang mengambang percuma. Kembali kutinggalkan pandangaku padanya. Kuatur
nafasku sebisanya agar tak terbawa suasana.
“Gue berangkat besok. Jam sepuluh
gue harus udah di bandara.” Oh, ayolah! Cukup dulu pemberitahuan perginya. Aku
harus mengurusi perasaanku yang tak karuan ini. Sesak! Aduh, ini sesak sekali. Kenapa
untuk mengingat ini adalah malam terakhir aku bertemu dengan seorang Andre yang
menyebalkan begitu berat?
“Oh… ya… kalo gitu…” grep!
Oh! Ke… kenapa… ini… A… Andre? Andre memelukku?
“A… An…” a, aku kesulitan bicara.
Kenapa tiba-tiba dia memelukku seperti ini? Bisa kurasakan nafasnya di dekat
leherku. Ia menenggelamkan kepalanya di sana begitu dalam. Pelukannya terasa
begitu erat. Jantungku berpacu macam pacuan kuda. Dan bisa kudengar dengan
jelas detak jantungnya di punggungku. Dia tak bicara, aku pun diam. Sebagai
gantinya, air mataku yang kutahan sejak tadi meluncur bebas. Membasahi tanganku
yang menggengam erat lengannya yang melingkar di pundakku.
***
Tujuh tahun lamanya aku tak pernah
sekontakan dengan Andre lagi. Mengingat bagaimana bodohnya aku tak melepas
kepergiannya untuk terakhir kalinya saat itu, rasa kesalku pada diri sendiri
tak pernah hilang. Sampai akhirnya kusadari perasaanku padanya saat itu, aku
menyusulnya dengan terlambat. Lantas seperti anak kehilangan ibunya, aku
menangis di bandara. Sampai-sampai banyak orang yang menghampiriku dan bertanya
kenapa, kenapa berkali-kali. Aku hanya berteriak di dalam hatiku sendiri, “Aku
menyukaimu, An! Jangan pergi! Aku sayang sama kamu! Tolong jangan pergi! Jangan
pergi!” dan itu semua terlambat. Pesawat yang membawa Andre telah terbang. Dan
setelahnya, aku tak berani mengontaknya lewat apapun, karena ia sendiri tak
pernah menghubungiku.
Hubunganku dengan Tora, Fara,
Sati dan Wawan masih baik-baik saja. Juga Brian. Di antara kami semua, hanya
aku yang masih melajang. Mereka semua sudah berkeluarga di tempat yang
berbeda-beda. Fara di Bandung, Sati di Jakarta, dan Wawan di Surabaya. Kemudian
Brian masih dengan Nagita, kembali ke kampung halamannya. Hanya aku dan Tora
yang masih menetap di Bandarlampung. Tora sudah tak bersama Ferril, karena
bocah itu sudah putus sejak lama, sebelum insiden aku dan dengannya bertengkar
dengannya saat itu. Dia bertemu dengan istrinya sekarang di sekolah tempatnya
mengajar dan menetap di sini. Jadilah kami masih sering bertemu. Bahkan,
istrinya sering membantuku di toko buku.
Ah, ya. Mengisi waktu lajangku,
aku membuka toko buku dan menulis beberapa buku yang kebetulan menarik
perhatian penerbit. Memang tak seterkenal Tere Liye penulis kesukaanku itu.
Tapi setidaknya, aku punya satu buku yang cukup best seller. Ini
perjalananku selama hidup, yang berakhir di perasaan tak terungkapku pada Andre.
Kulebih-lebihkan sedikit hingga karena cerita ini aku punya acara penandatanganan
buku yang digelar di ibu kota oleh penerbitku. Antriannya cukup panjang. Sudah
sekitar dua jam pipiku pegal tersenyum pada setiap pembaca yang menyukai
ceritaku.
Sampai ada sebuah naskah dalam
bentuk print yang disodorkan padaku. Ini bukan buku yang harusnya
kutandatangani. Tapi, ada namaku di sana. Nama asli, bukan nama pena yang
kupakai untuk karya-karyaku selama ini.
“Ini karya yang Anda publish di
blog Anda. Juga beberapa kopian isi diary Anda yang pernah saya baca,” ujarnya
menjawab kebingunganku. Tunggu! Kenapa aku tak merasa asing dengan suara ini?
Kususuri tampilannya. Mulai dari jas cream-nya, dengan kemeja biru muda
dan dasi hitam. Jangan-jangan… dia ini…
“Apa yang seperti ini masih bisa
ditandatangani? Saya membeli buku Anda, tapi saya tak terlalu suka dengan tokoh
prianya. Tokoh prianya terlalu bodoh, sampai di akhir hanya bisa memeluk
wanitanya dari belakang. Saya tidak suka, karena seharusnya dia bisa
mengungkapkan perasaanya saat itu tanpa perlu berpisah dari wanitanya. Maaf,
saya tak suka ceritanya. Jadi, bisakah karya Anda yang ini saja yang Anda
tandatangani untuk saya?” ia bicara dengan santai sekali. Tanpa peduli aku yang
telah berdiri menatap kehadirannya tak percaya. Ia tersenyum, senyuman yang
pernah kulihat saat aku terpukau karena permainan pianonya di masa lalu.
“Apa… tidak boleh?” tanyanya
lagi.
“Andre?”
“Haha…” dia malah tertawa. Benar!
Dia Andre. Andre yang tak pernah kuhubungi selama tujuh tahun ini. Andre yang
menjadi tokoh pria dalam novel yang banyak kutandatangani hari ini. Andre yang
autis dan selalu menggangguku sejak aku mencoba dekat dengannya. Andre yang
bicara ketus dan kasar sekali. Andre yang menjadi alasanku belum menemukan pria
tepat yang kuingin sebagai pendamping hidupku. Andre yang aku sayangi. Ya,
dialah Andre. Andre yang aku rindui setiap waktu.
“Hai, Mia! Lama ya kita enggak
ketemu!” ia kembali tersenyum, begitu lebarnya. Aku ikut tersenyum karenanya.
Aku tahu, semua yang terjadi di
dunia ini punya alasannya masing-masing. Tapi sungguh, aku tak butuh alasan
mengapa dia bisa ada di sini sekarang. Karena hanya satu hal yang kini kurasa:
Aku bahagia hanya
melihat sosoknya berada tepat di hadapanku.
Sebelumnya