Tuesday, January 14, 2020

Bye and Hi!


Awalnya aku ragu walau sekedar untuk melangkah ke kelas. Tak banyak yang ada di luar. Mungkin ada tugas hingga teman-teman sekelas tak menyadari bahwa aku hanya berdiri di dekat pintu. Menggenggam erat tali tasku. Merapatkan telapak kaki ke lantai. Menundukkan kepala dan menggigit bibir bawahku sendiri. Benarkah tak apa jika aku masuk? Apa aku sudah siap bertemu dengan Tora atau bahkan Fara? Ugh! Aku benci suasana ini!

“Ngapain elo?” seseorang keluar dari kelas. Membuatku terlonjak kaget. Andre?! “Enggak mau masuk?” tanyanya lagi. Tiba-tiba aku kelagapan. Terlebih tiba-tiba Fara dan Sati ikut keluar. Apa yang harus kulakukan sekarang? Mereka hanya diam saja menatapku. Aku tak tahan dan akhirnya kupilih menundukkan kepalaku. Lantas Andre malah pergi dan meninggalkanku bersama mereka.

Kakiku mundur selangkah. Haruskah aku pergi dari sini? Dadaku hampir meledak tak tahan dengan situasi ini. Aku bingung harus memulai dari mana. Aku malu pada Fara. Seharusnya tadi aku tak usah berangkat. Bodoh! Aku bodoh sekali. Ah, lebih baik aku pergi saja.

“Mi!” tapi tiba-tiba namaku dipanggil. Kakiku berhenti lagi. Apa aku harus berbalik? Tapi kalaupun aku ingin, aku tak bisa. Ujung jempol kakiku terasa dingin sekali. Begitu pula dengan jemari dan telapak tanganku. Rasanya aku membeku.

“Mia…” mereka memanggilku lebih lirih. Ah, tidak. Ini bukan mereka, melainkan Fara. Mataku mendelik melihatnya sudah ada di depan mataku. Dia beralih ke depanku. Perlahan, kedua tangannya meraih tangan dinginku. Masih diamku ini mendominasiku. Tapi senyuman Fara mencairkannya. Benarkah ia tersenyum padaku?

“Ke mana aja, sih? Bisa-bisanya seminggu bolos dan enggak kasih kabar sama sekali?” tanyanya.

“Itu… gue…”

“Kan sepi kalo gak ada elo. Ya… walaupun elo lebih banyak gak ngomongnya daripada kami. Tapi, kan… bosen juga gue kalo cuma sama Sati,” tambahnya. Aku bingung dengan bicaranya, seolah ia tak ingat soal perasaanku pada Kak Dedi. Jangan! Jangan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Ini malah membuatku makin tak enak padamu, Fara!

“Ra… gue…”

“Sst!” sentaknya tiba-tiba. “Udah… gak papa, kok.”

“Elo… gak marah sama gue?”

“Marah? Ya! Gue marah sama elo! Karena elo gak pernah bilang soal itu ke gue.Itu artinya, elo gak beneran anggep gue sahabat elo. Seharusnya, sahabat kan saling terbuka, biar kalo ada masalah sepele kayak gini, bisa dicariin solusi. Lagian… mau elo atau gue, gak ada juga kan yang jadian sama dia? Dia udah punya cewek lain. Dan… gue juga udah gak punya perasaan apa-apa sama dia. Jangan terlalu dipikirin. Gue lebih suka sama elo kok daripada dia.” Fara tersenyum lagi. Hatiku terenyuh. Sampai-sampai aku tak sadar sebulir air mengalir melewati pipiku. Hal itu berhasil membuat Fara memelukku begitu eratnya. Sati yang sejak tadi ada di belakangku juga ikut-ikutan memelukku. Anehnya, sesak itu hilang begitu saja. Kami tertawa bersama dan perlahan canggungku menipis.

Sempat kulihat senyum Andre di bawah pohon seri. Meskipun setelahnya ia langsung beralih ke buku tebalnya. Mungkin sejak tadi ia melihat ke arah sini. Entah mengapa, aku senang menyadari akan hal itu. Apa Andre senang aku masuk kuliah lagi? Seperti pintanya waktu itu, kan?

***

Satu hal yang sedikit mengganjal hatiku adalah Tora. Fara bilang, sejak aku tidak masuk kuliah, dia juga tidak pernah kelihatan. Dia absen lebih banyak tiga hari dariku sekarang. Saat Fara bilang Tora tidak masuk tiga hari yang lalu itu, kupikir aku akan senang. Bukankah aku marah padanya? Tapi, nyatanya tidak. Ada yang kurang di sini. Diam-diam aku berharap dia akan datang. Menyapaku tiap pagi seperti biasa. Mengangguku dan semacamnya. Tapi itu tidak terjadi. Sulit kuakui memang, tapi jujur, aku merindukannya.

Sampai satu minggu lamanya, Tora masih tak muncul-muncul juga. Wawan sudah mencoba mendatangi kosnya, tapi teman-teman satu kos Tora bilang dia pulang kampung dari dua minggu yang lalu. Itu artinya, sejak aku tak berangkat, dia sudah pulang kampung. Tidak ada di antara kami yang tahu di mana rumah Tora. Jadilah, kami hanya diam dan menunggu sampai dia benar-benar datang dengan keinginannya sendiri.

“Mungkin tebakan gue salah selama ini,” Andre mengangetkanku. Kami sedang ada di kantin, hanya berdua. Hal yang cukup aneh jika dilihat teman-teman di kelas. Tapi itu dulu. Sejak Andre mulai mau dekat dengan teman-teman di kelas, sepertinya hal seperti ini pun tak masalah bila pun terjadi. Walau agak memaksa, karena pasti akan ada saja yang membicarakan kedekatan hubunganku dengan Andre ini. Terlebih Fara dan Sati tentunya.

“Soal apa?”

“Elo bukan suka sama gue. Tapi sama Tora. Iya, kan?”

Mendengar pertanyaan itu aku tersedak. Bukan karena gugup, tapi karena kaget. Tapi sepertinya dia malah menanggapinya lain. “Jadi beneran, kan?” tambahnya. Kuteguk es tehku sebentar, barulah kutanggapi.

“Apaan, sih? Absurd banget elo ngomongnya!”

“Ya lagian. Elo sering banget ngelamun sendirian sejak masuk kuliah lagi. Elo kangen kan sama Tora?”

“Wajar dong kalo gue kangen. Walaupun gue gak masuk karena berantem sama dia, gue kan juga pernah deket sama dia. Bukan berarti gue suka sama dia, kan?”

“Jadi elo sukanya sama gue?”

Sial! Aku tersedak lagi. “Apaan, sih?!”

“Jelek banget tah kalo suka sama orang kayak gue?”

“Hah?”

“Andai elo beneran suka sama gue, apa itu hal yang terlalu memalukan, ya? Suka sama orang aneh bin autis kayak gue ini?”

Dia ini bicara apa, sih? Kenapa tiba-tiba sikapnya jadi terbuka berlebihan seperti ini? Bagaimana dia bisa bertanya dengan seblak-blakan begitu? Sial! Kenapa pula aku harus gugup begini?

“Ah, bikin gak enak makan aja, elo! Udah deh!” terpaksa aku berdiri. Aku tak suka berada di situasi seperti ini. Jantungku berdebar tak karuan, dan aku jadi makin salah tingkah. Kalau sudah begini, aku kan jadi tak bisa bicara dengan lancar. Lebih baik aku pergi duluan saja. Toh, makanannya sudah kubayar. Dan… ugh! Kenapa aku merasa kesal karena dia tak mencegah kepergianku, sih?

“Dasar Andre nyebelin!” umpatku seorang diri. Mungkin orang-orang yang melihatku jalan sambil menyumpah serapahi Andre menganggapku gila. Masa bodoh! Aku hanya tak tahu cara lain untuk melampiaskan kekesalanku pada Andre ini.

Setelah jam makan siang, dosen tidak masuk. Kami hanya dibekali tugas untuk dikerjakan di kelas dan dikumpulkan di akhir jam. Hal yang menyebalkan! Seharusnya kalau mau tidak masuk kan tinggal tidak masuk saja. Kenapa pula harus menitipi tugas yang harus dikumpul hari ini juga, ya?

Sayangnya, aku adalah mahasiswa yang cukup baik. Sehingga, walaupun dengan keluhan banyak sekali, tugas tetap kukerjakan. Hingga kupilih menyelesaikannya lebih cepat sebab aku tak tahan karena Andre terus saja menatapku dengan tatapan aneh. Ditegur malah diam saja. Kan aku jadi ngeri. Mending aku keluar saja.

Bruk! Karena buru-buru, aku menabrak seseorang. Untung saja bukan dosen, hanya mahasiswa biasa. Kudongakkan kepalaku demi melihat siapa ini. Eh… ini  kan…

“Tora?”

***

Lima belas menit lamanya aku hanya diam di depan Tora. Kami duduk di bangku di depan kelas gedung F. Saling berhadapan. Aku tak yakin apa Tora menatapku, yang jelas aku memilih memandangi sepatuku, semut, dan beberapa pasir di lantai. Kenapa pula tadi aku mengikutinya kalau tak tahu harus bicara apa? Kenapa pula dia memintaku mengikutinya kalau tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya selama ini? Hah! Bikin frustasi saja!

“Maaf…” lirihnya, akhirnya ia membuka mulutnya. Inilah kesempatanku mengangkat kepalaku. Tapi sejurus kemudian aku menyesal. Dia menatapku begitu lekat, bahkan ini sih keterlaluan. Wajar saja kalau aku jadi salah tingkah karenanya.

“Maaf… gue udah keterlaluan sama elo. Maaf… maafin gue, Mi. Gue…” Tora berhenti. Bibirnya yang tadi terbuka tiba-tiba mengatup kembali. Apa? Apa yang mau dibicarakannya sampai tertahan seperti itu? Aku ingin bertanya, tapi sayangnya bibirku pun tak kalah rapatnya dengan miliknya.

“Intinya… gue minta maaf. Gue janji, gue enggak akan gangguin elo lagi.”

“Elo… gak mau pergi, kan?” bibirku tiba-tiba berujar sendiri. Bagaimana bisa?

“Pergi? Ke mana?”

“Itu…. Elo enggak bakalan berhenti kuliah, kan?”

Awalnya Tora menanggapi pertanyaanku bingung. Tapi selanjutnya ia malah tertawa. Kini giliran aku yang bingung.

“Jangan bilang, karena gue enggak masuk dua minggu terus elo kira karena gue berantem sama elo? PD banget sih, elo?!”

“Hah? Maksudnya?”

“Ya… itu juga alesannya sih. Tapi, dikit aja. Ngapain juga gue bolos cuma gara-gara elo? Apalagi sampe mau berhenti kuliah. Gue gak segila itu kali!”

“Ih! Apaan sih, elo! Ngeselin banget! Seharusnya gue masih marah nih sama elo! Mulut elo itu gak mikir dulu kalo mau ngomong! Gue benci sama elo, Ra!” sentakku sebal. Hampir saja aku beranjak dari sana kalau saja Tora tidak menarik tanganku.

“Gue kangen sama elo, Mi.” deg! Jantungku sepertinya berhenti berdetak. Apa aku sempat berpikir dia hanya bercanda kalau dengan tatapan serius macam itu? A, apa maksudnya?

“Gue kangen kita bareng-bareng lagi kayak dulu. Komunitas anti reason itu, dan tawa elo, dan sebel juga marah-marah elo pas gue jahilin. Gue kangen semua itu. Gue enggak tahan canggung-canggungan sama elo. Elo boleh benci sama gue. Tapi tolong, jangan jadiin rasa benci elo ke gue itu melebihi rasa persahabatan kita. Elo boleh pukul dan umpat gue sebanyak yang elo mau. Tapi, tertawalah lebih banyak dari sebelumnya. Maka gue gak papa. Gue bakalan tetep ada di samping elo sampe elo sendiri yang bosen sama gue.” oh, Tuhan! Apa yang harus kulakukan jika bocah menyebalkan yang jarang sekali serius dan pernah melayangkan kata-kata menusuk hati ini bicara seperti ini? Genggaman tangannya begitu erat sekali. Aku yakin, ia bisa merasakan denyut jantungku yang begitu kencang dari nadiku sekarang. Kakiku melemas, hingga aku kembali terduduk. Saat itulah ia mulai melepas perlahan genggamannya.

Aku tak mampu memberinya kata-kata. Sebagai gantinya, aku balik menatapnya. Sebisa mungkin kuulas senyum padanya. Kuharap, dia paham arti dari senyumanku ini. Ya, aku juga merindukannya. Aku rindu dengan sikap jahilnya, dan kami kumpul bersama setiap malam minggu. Aku benci bercanggung ria dengannya. Menjadi sahabatnya, dan tetap berada di sampingnya dengan perasaan sayang yang tulus hanya sebagai sahabat, aku lebih menyukai itu. Aku senang, aku benar-benar senang karena Tora kembali lagi. Aku senang, dan rasanya tak perlu kuungkapkan kata-kata senangku padanya karena ia pun tersenyum padaku.

***

Satu semester berlalu dengan luar biasa. Nilaiku anjlok, tapi tak masalah. Karena aku menemukan lagi sahabat-sahabatku. Kami kembali berkumpul setiap malam minggu di rumahku. Bercanda tak penting dan rasanya lebih bebas dari sebelumnya. Tak ada perselisihan perasaan lagi di antara kami. Kami terpisah di liburan akhir semester.

Saat aku tak lagi disibukkan dengan mereka, Andrelah yang menyibukkanku. Aku berani berteriak keras-keras di kamar mandi, dia membuatku gila! Aku benar-benar tak paham maksudnya. Hampir setiap malam dia kemari. Aku tak tahu apa tujuannya, karena kadang-kadang hanya untuk menyuruhku keluar. Hanya lima detik mungkin, dan dia akan segera pergi begitu saja. Tanpa banyak kata-kata. Karena tiap kali aku bertanya, “Mau ngapain?”

“Oke. Gue balik, ya?” begitulah jawabannya. Apa? Apa maksudnya?!

Begitu pula hari ini. Jam setengah tujuh hpku berbunyi. BBM darinya. Gue di depan. Tulisnya. Andai aku ini kejam, bisa saja dia kuabaikan. Tapi sayangnya, aku terlalu baik hati. Hingga mau-maunya aku keluar dan membuka gerbang untuknya. Walaupun aku sudah tahu apa yang akan ia lakukan.
Untuk cewek lain, dihampiri anak orang kaya yang bawa mobil sport mewah begini di malam minggu pula, mungkin akan senang sekali. Tapi tidak denganku. “So… what?” tanyaku ketus.

“Cck! Elo stres, ya?”

“Apaan, sih?”

“Dandanan elo itu… enggak modis banget, sih? Piyama… sandal bunny pink. Jam segini elo udah mau tidur, tah?”

“Ya walaupun enggak, apa urusannya sama elo? Lagian, elo juga mau bilang oke, gue balik ya. Gitu doang, kan?”

“Gue lagi butuh kawan.”

“Hah?”

“Makannya… ganti baju sana. Jelek banget sih, elo! Gue tunggu! Enggak usah cantik-cantik! Enggak ngaruh juga elo pake make up atau enggak. Buru!” mulutku menganga lebar dengan titahnya barusan. Maunya apa sebenarnya?

“Hah?!”

“Buruan sana masuk!” sentaknya lagi. Kenapa pula aku langsung menurut saja dengan permintaannya? Tepat sepuluh menit aku keluar lagi dengan tampilan berbeda. Karena cuma dapat sepuluh menit, kupilih kaos dan jaket levis serta jeans panjang. Rambut kukucir satu di belakang. Hanya berbekal bedak tipis dan lipbalm serta parfum sedikit saja. Tanpa bicara banyak, ia menarikku ke dalam mobilnya.

“Mau ke mana, sih?” tanyaku.

“Diem aja enggak bisa, tah?” hmph! Baiklah! Aku akan diam. Selagi dia tidak akan membunuhku atau melakukan hal aneh lainnya, kupikir tak masalah. Seperti katanya barusan, mungkin dia sedang butuh teman. Atau mungkin Om Azril sedang keluar kota, jadi dia kesepian di rumah. Karena tak punya teman lain, jadi dia mengajakku. Anehnya, walaupun sebal, aku tak masalah dengan semua tingkahnya selama ini. Lebih dari kata jengkel, aku mungkin menyukainya. Setidaknya, selama liburan aku tak mati kebosanan sendiri. Karena papa dan mama ada kerjaan di luar kota, tak sempat menemaniku liburan.

Ia memarkirkan mobilnya di toko buku. Dia turun duluan tanpa mengajakku. Tak mungkin kan aku tetap diam saja di mobil?

“Sana!” lagi-lagi ia bertingkah bak raja. Kali ini aku tak paham dengan perintahnya. Baru saja aku sampai di dalam karena ketinggalan membuntutinya.

“Ke mana?”

“Pilihin gue novel apa aja. Yang banyak! Karya penulis Indonesia. Terserah mau yang mana aja,” lanjutnya. Sesaat aku masih diam. Tapi ia lagi-lagi memaksaku. Ia mendorongku seenak udelnya. Beberapa kali aku bolak-balik rak buku, kasir, lantai dua, kasir karena ia bilang masih kurang. Heran, buku sebanyak ini untuk apa? Ada sekitar lima puluh eksemplar mungkin. Angka 0 sebanyak enam buah yang tertera di struk yang ia terima. Dan ia  tak masalah dengan itu. Aku hanya bisa melongo melihatnya dengan mudahnya menggesek kartu kredit. Wah! Andre benar-benar anak orang kaya.

Dengan bantuan pegawai di sana, ia mamasukkan buku-buku itu ke bagasi. Selanjutnya ia mengajakku ke toko baju. Sama, ia memintaku memilihkan baju sebanyak mungkin. Berkali-kali ia bolak-balik kamar ganti dan meminta pendapatku. Jika aku mengangguk, maka dia akan langsung membelinya. Dan hal seperti ini terus terulang di toko mainan, toko sepatu, dan bahkan warung camilan. Barulah ia berhenti memborong barang saat kami sampai di kafe kecil yang menyediakan berbagai macam masakan khas Indonesia. Ia memesan sate, ayam bakar, nasi bakar, nasi goreng, es teh, jus alpukat dan ketoprak. Dia makan dengan lahapnya.

“Elo kenapa sih, An?” tanyaku penasaran. Ia tak menjawab, masih berusaha menjejalkan semua makanan itu ke mulutnya. Aku tahu, ia tak selapar itu sampai harus membuat mulutnya penuh dengan makanan. Ia memaksanya, dan kulihat ada sesuatu yang memberatkan dari matanya. Makannya kutanyakan hal itu. Sayangnya ia tak menjawab, hingga kubiarkan dulu sampai ia selesai dengan makananya. Sembari menunggunya, kuhabiskan burger mini size-ku yang kupesan. Hanya setengah kuhabiskan, karena aku lebih banyak memperhatikan tingkah Andre saat ini.

Di luar dugaanku, semua makanan itu berhasil Andre sikat sampai habis. Bahkan tak bersisa sedikit pun. Ia masih tak menjawab pertanyaanku. Aku pun memilih diam sampai terakhir ia membawaku ke parkiran atap di pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota. Dari sini, kami bisa melihat pemandangan gemerlap ribuan lampu kota. Aku berlari mendekati pagar pembatas. Kuhirup dalam-dalam udara malam yang dingin. Tapi tak masalah, aku tak merasa kedinginan. Andre menyusulku dan berdiri berjarak tak jauh dariku.

“Elo kenapa sih malem ini, An? Aneh banget, deh. Ngapain belanja sebanyak itu?” tanyaku lagi. Berharap kali ini ia akan menjawabku. Toh, dia tak sedang melakukan hal lain kecuali melempar pandangannya ke pemandangan lampu di bawah sana.

“Cuma… gue mungkin bisa aja kangen sama barang-barang yang ada di sini.”

“Kangen? Kok bisa gitu?”

“Itu… soalnya…” ia beralih memandangku. Kuangkat kedua alisku, meminta jawaban selanjutnya. “Kafe gue dijual sama bokap.”

“Hah? Kok bisa?”

“Ya, soalnya udah enggak ada gunanya lagi. Jadi dijual, deh.”

“Elo bangkrut?!” tanyaku terkejut.

“Ya enggaklah! Kalo bangkrut, gimana bisa gue belanja segitu banyaknya tadi? Elo bego, ya?!”

“Ya mana gue tahu kalo elo enggak bilang ke gue alesannya?”

“Ya kalo enggak tahu enggak usah asal tebak gitu, dong!”

Mulai deh, sikap menyebalkannya kembali. Aku tak akan menang kalau perang kata dengannya. Lebih baik aku diam.

“Gue… mau pindah lagi.”

Oke! Kali ini ia kembali menarik perhatianku. Kembali kuarahkan pandanganku padanya. “Pindah?” ulangku tak percaya. Ia mengangguk. Hey… kurasa ada sedikit perasaan sedih yang menghampiriku.

“Lagian… gue kan juga udah pernah bilang. Kafe itu ide yang buruk. Karena gue tahu, bokap enggak suka menetap di satu tempat.”

“Ke mana?” tanyaku lirih. Mengabaikan pernyataannya soal kafenya. Ia melirikku sekilas. Beralih ke sembarang tempat, dan berakhir lagi padaku.

“New York,” jawabannya membuat hatiku mencelos. Aku kenapa? Ah, aku tak tahu. New York? Kenapa jauh sekali? Dan dengan sadar, kutahan sekuat tenaga sesak di dada. Aku hampir menangis kalau angin malam tidak meniupnya sampai kering. Kualihkan pandanganku sembarangan.

“Sa, sampai kapan?” pertanyaanku hampir tak lolos. Tuhan! Kenapa sesak sekali?

“Selamanya.” Se… selamanya? Se… selamanya itu seperti apa? Aku takut sekali membayangkannya. Hey! Dia hanya Andre yang membuatmu kesal berkali-kali? Kenapa jadi seperti ini? Apa karena selama ini aku sudah mulai dekat dengannya? Kemudian harus berpisah, sejauh itu? Sampai New York pula? Ini begitu mendadak, kan?

“O, oh… terus ku, kuliah elo gimana?” tanyaku masih tersendat. Suaraku serak, biarlah. Asal tidak ada air yang jatuh dari mataku, kurasa tak masalah.

“Udah dari semester kemaren bokap ngurus kepindahannya.” Ah… jadi dia benar-benar akan pindah. Ja, jangan… apa boleh aku bilang begitu? Tidak boleh, kan? Aku ini siapa? Lagipula, dulu dia juga pernah bilang kalau keluarganya pasti akan pindah lagi. Hanya… kenapa sampai New York, itu mungkin yang membuatku sedikit keberatan. Tapi sekali lagi, apa hakku melarangnya, kan? Lebih baik aku tersenyum padanya. Kuulurkan tanganku padanya.

“Apaan?” tanyanya tak mengerti melihat uluran tanganku ini.

“Selamat tinggal. Semoga elo bisa dapet banyak temen di sana, ya?” ujarku. Ia tak mau menerima uluran tanganku. Matanya menatapku. Sayangnya aku tak paham artinya. Pelan, kuambil lagi uluran tanganku yang mengambang percuma. Kembali kutinggalkan pandangaku padanya. Kuatur nafasku sebisanya agar tak terbawa suasana.

“Gue berangkat besok. Jam sepuluh gue harus udah di bandara.” Oh, ayolah! Cukup dulu pemberitahuan perginya. Aku harus mengurusi perasaanku yang tak karuan ini. Sesak! Aduh, ini sesak sekali. Kenapa untuk mengingat ini adalah malam terakhir aku bertemu dengan seorang Andre yang menyebalkan begitu berat?

“Oh… ya… kalo gitu…” grep! Oh! Ke… kenapa… ini… A… Andre? Andre memelukku?

“A… An…” a, aku kesulitan bicara. Kenapa tiba-tiba dia memelukku seperti ini? Bisa kurasakan nafasnya di dekat leherku. Ia menenggelamkan kepalanya di sana begitu dalam. Pelukannya terasa begitu erat. Jantungku berpacu macam pacuan kuda. Dan bisa kudengar dengan jelas detak jantungnya di punggungku. Dia tak bicara, aku pun diam. Sebagai gantinya, air mataku yang kutahan sejak tadi meluncur bebas. Membasahi tanganku yang menggengam erat lengannya yang melingkar di pundakku.

***

Tujuh tahun lamanya aku tak pernah sekontakan dengan Andre lagi. Mengingat bagaimana bodohnya aku tak melepas kepergiannya untuk terakhir kalinya saat itu, rasa kesalku pada diri sendiri tak pernah hilang. Sampai akhirnya kusadari perasaanku padanya saat itu, aku menyusulnya dengan terlambat. Lantas seperti anak kehilangan ibunya, aku menangis di bandara. Sampai-sampai banyak orang yang menghampiriku dan bertanya kenapa, kenapa berkali-kali. Aku hanya berteriak di dalam hatiku sendiri, “Aku menyukaimu, An! Jangan pergi! Aku sayang sama kamu! Tolong jangan pergi! Jangan pergi!” dan itu semua terlambat. Pesawat yang membawa Andre telah terbang. Dan setelahnya, aku tak berani mengontaknya lewat apapun, karena ia sendiri tak pernah menghubungiku.
Hubunganku dengan Tora, Fara, Sati dan Wawan masih baik-baik saja. Juga Brian. Di antara kami semua, hanya aku yang masih melajang. Mereka semua sudah berkeluarga di tempat yang berbeda-beda. Fara di Bandung, Sati di Jakarta, dan Wawan di Surabaya. Kemudian Brian masih dengan Nagita, kembali ke kampung halamannya. Hanya aku dan Tora yang masih menetap di Bandarlampung. Tora sudah tak bersama Ferril, karena bocah itu sudah putus sejak lama, sebelum insiden aku dan dengannya bertengkar dengannya saat itu. Dia bertemu dengan istrinya sekarang di sekolah tempatnya mengajar dan menetap di sini. Jadilah kami masih sering bertemu. Bahkan, istrinya sering membantuku di toko buku.

Ah, ya. Mengisi waktu lajangku, aku membuka toko buku dan menulis beberapa buku yang kebetulan menarik perhatian penerbit. Memang tak seterkenal Tere Liye penulis kesukaanku itu. Tapi setidaknya, aku punya satu buku yang cukup best seller. Ini perjalananku selama hidup, yang berakhir di perasaan tak terungkapku pada Andre. Kulebih-lebihkan sedikit hingga karena cerita ini aku punya acara penandatanganan buku yang digelar di ibu kota oleh penerbitku. Antriannya cukup panjang. Sudah sekitar dua jam pipiku pegal tersenyum pada setiap pembaca yang menyukai ceritaku.
Sampai ada sebuah naskah dalam bentuk print yang disodorkan padaku. Ini bukan buku yang harusnya kutandatangani. Tapi, ada namaku di sana. Nama asli, bukan nama pena yang kupakai untuk karya-karyaku selama ini.

“Ini karya yang Anda publish di blog Anda. Juga beberapa kopian isi diary Anda yang pernah saya baca,” ujarnya menjawab kebingunganku. Tunggu! Kenapa aku tak merasa asing dengan suara ini? Kususuri tampilannya. Mulai dari jas cream-nya, dengan kemeja biru muda dan dasi hitam. Jangan-jangan… dia ini…

“Apa yang seperti ini masih bisa ditandatangani? Saya membeli buku Anda, tapi saya tak terlalu suka dengan tokoh prianya. Tokoh prianya terlalu bodoh, sampai di akhir hanya bisa memeluk wanitanya dari belakang. Saya tidak suka, karena seharusnya dia bisa mengungkapkan perasaanya saat itu tanpa perlu berpisah dari wanitanya. Maaf, saya tak suka ceritanya. Jadi, bisakah karya Anda yang ini saja yang Anda tandatangani untuk saya?” ia bicara dengan santai sekali. Tanpa peduli aku yang telah berdiri menatap kehadirannya tak percaya. Ia tersenyum, senyuman yang pernah kulihat saat aku terpukau karena permainan pianonya di masa lalu.

“Apa… tidak boleh?” tanyanya lagi.

“Andre?”

“Haha…” dia malah tertawa. Benar! Dia Andre. Andre yang tak pernah kuhubungi selama tujuh tahun ini. Andre yang menjadi tokoh pria dalam novel yang banyak kutandatangani hari ini. Andre yang autis dan selalu menggangguku sejak aku mencoba dekat dengannya. Andre yang bicara ketus dan kasar sekali. Andre yang menjadi alasanku belum menemukan pria tepat yang kuingin sebagai pendamping hidupku. Andre yang aku sayangi. Ya, dialah Andre. Andre yang aku rindui setiap waktu.

“Hai, Mia! Lama ya kita enggak ketemu!” ia kembali tersenyum, begitu lebarnya. Aku ikut tersenyum karenanya.

Aku tahu, semua yang terjadi di dunia ini punya alasannya masing-masing. Tapi sungguh, aku tak butuh alasan mengapa dia bisa ada di sini sekarang. Karena hanya satu hal yang kini kurasa:

Aku bahagia hanya melihat sosoknya berada tepat di hadapanku.


SEKIAN


Sebelumnya