Kwangmin hanya diam di bangkunya.
Menatap sebal plus sedih kertas ulangannya. Pasalnya nilai yang tertera di
dalam lingkaran merah paling atas itu sama sekali tak ia harapkan. Sudah lima
kali ia mendapat nilai di bawah tujuh. Entah karena apa. Padahal ia sudah rela
membabat beberapa jadwalnya untuk belajar. Tapi tetap saja hasilnya jauh dari
kata memuaskan!
"Kwangmin~a!" Bahkan panggilan Minwoo
pun tak ia dengarkan. Karenanya Minwoo harus mendekat dan menepuk pundaknya.
"Ya!"
"Wae?!" tiba-tiba Kwangmin membentaknya.
"Ya! Kenapa malah marah? Aku mengajakmu pulang!" balas Minwoo tak kalah kesal.
Kwangmin terdiam. Sadar kalau bukan Minwoo yang pantas disalahkan di sini. "Mian," ucapnya menyesal. Setelah memasukkan kertas ulangannya tadi ke tasnya, barulah ia menyusul Minwoo yang terlanjur kesal keluar duluan.
***
"Bruk!" Lagi-lagi Kwangmin menabrak Youngmin. Sudah ke lima belas kalinya.
"Kau itu kenapa, hah?! Serius sedikit bisa tidak?!" bentak Youngmin. Padahal Minwoo biasanya yang langsung bertindak. Tapi kali ini Youngmin yang dirugikan. Tak jarang Youngmin sampai terjatuh ke lantai karenanya.
"Mian," ucap Kwangmin tertunduk lesu.
"Apa yang kau fikirkan, hah? Sebentar lagi kita ada jadwal manggung! Apa tidak bisa kau konsentrasi pada latihan kita?" Ya Tuhan! Betapa marahnya Youngmin sampai tega membentak Kwangmin seperti itu.
"Mian..." ucap Kwangmin untuk kedua kalinya. Terlanjur merasa bersalah ia malah pergi dari sana dan memilih masuk ke dalam dorm.
"Apa dia tidak keterlaluan?" bisik Minwoo pada Donghyun. Donghyun hanya menghela nafasnya melihat Youngmin yang juga ikut keluar dari sana.
***
Jam menunjukkan angka 9. Tak ada jadwal apapun bagi anggota Boyfriend hari ini. Semuanya ada di dorm kecuali Donghyun yang sedang ada sedikit urusan dengan presdir agensi mereka.
Tiba-tiba Kwangmin mendekati Youngmin yang duduk di sofa depan tv, begitu keluar dari kamar. Melihat kedatangannya, Youngmin menaruh buku yang baru saja dibacanya itu.
"Aku keluar saja ya dari Boyfriend," tuturnya pelan namun jelas terdengar. Mata Youngmin membulat besar mendengar kalimat itu. Begitu juga dengan anggota yang lain.
"Mwo?" berharap Kwangmin salah berucap, sepertinya salah. Yang ada, Kwangmin malah memperjelas kalimatnya tadi.
"Aku keluar saja dari Boyfriend."
"Bicara lagi!" Mata Youngmin mulai memanas. Ia masih kesal dengan kelakuan Kwangmin tadi. Ditambah kata-katanya yang tak benar menurutnya ini, ia bertambah marah.
"Aku keluar saja dari Boyfriend."
"Bicara lagi!" sentak Youngmin yang kini sudah berdiri menatap Kwangmin yang enggan membalas tatapannya.
"Aku keluar saja dari Boyfriend!" suara Kwangmin meninggi.
"Bicara lagi!"
"Aku keluar dari..."
"Plak!!!" Tiba-tiba saja Youngmin menampar pipi kiri Kwangmin. Membuat yang ada di sana terkejut bukan main. Tak terkecuali Kwangmin sendiri. Diangkatnya wajahnya menatap mata marah Youngmin tak percaya. Ia tak percaya bahwa yang baru saja menamparnya adalah saudara kembarnya.
"Bicara lagi!" bentak Youngmin untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini Kwangmin tak lekas menjawab. Ia masih tak percaya panas di pipinya ini karena telapak tangan kakaknya. Tak dapat lagi ia bicara. Hatinya yang tiba-tiba perih menyuruh kakinya pergi dari sana, keluar dorm.
"Kwangmin?" Sampai depan pintu ia berpapasan dengan Donghyun. "Hey, kau mau kemana?" Bahkan teriakan sang leader yang selalu mereka patuhi tak ia dengarkan. Ia keluar begitu saja. Membiarkan Donghyun mencari jawabannya ke orang yang masih ada di sana.
"Ada apa ini?" tanyanya kepada siapa saja yang mau menjawab. Tapi nyatanya tak ada yang mau menjawabnya. Yang ada hanya Jeongmin yang melirik ke arah Youngmin berkali-kali.
"Youngmin?" tetap tak ada jawaban. Akhirnya yang dilakukannya hanya menatap pintu yang sudah tertutup karena kepergian Kwangmin tadi.
***
Di sinilah ia sekarang. Di atas ayunan di depan apartement dorm mereka. Menggenggam erat rantai ayunan dengan eratnya. Entahlah. Setiap ingatannya mengingat kembali tamparan Youngmin tadi, hatinya terasa perih.
"Tega sekali..." ucapnya pelan mengusap bekas tamparan tadi. "Sebelumnya tidak pernah seperti ini..." Lagi-lagi hanya racauan kecil sendirian.
Kwangmin tak tahu, Youngmin dari atas sana mengawasinya lewat jendela. Melihatnya yang mulai menitikkan air mata. Melihat telapak tangannya sendiri, ia sadar yang ia lakukan salah. Tapi ia terlalu malu untuk menghampiri adiknya itu yang kini mulai kedinginan di bawah sana. Lantaran yang dikenakannya hanya kaos tipis dan celana jeans yang jauh dari kata hangat sekalipun.
Cukup lama Kwangmin merasakan dingin mulai menjalari tubuhnya, tiba-tiba sebuah jaket bulu hitam dipasangkan ke tubuhnya. Donghyun.
"Apa kulitmu sudah mati rasa? Di sini dingin, bodoh!" bentak Donghyun mengambil ayunan tepat di samping Kwangmin.
"Aku mengantuk, hyung," jawab Kwangmin seraya menyeka air matanya.
"Ya makannya ayo masuk!" balas Donghyun seraya berdiri dan mengulurkan tangannya. Menunggu Kwangmin mengambil uluran itu hanya sia-sia saja. Bocah ini malah menunduk menatapi kakinya yang menendang kecil salju yang menggumpal di bawahnya.
"Tapi aku kan satu kamar dengan Youngmin hyung," lirihnya pelan.
Donghyun menghela nafasnya. Ya, ia paham maksudnya. Tak mungkin kan Kwangmin akan masuk kamar setelah ia bertengkar dengan Youngmin tadi?
"Nanti Minwoo kusuruh pindah. Kau bisa tidur di kamar kami," putusnya kemudian.
"Apa boleh?" Kwangmin mencoba meyakinkan jawaban Donghyun. Ia sudah mengangkat kepalanya sekarang.
"Tidak, tidak boleh! Ya tentu saja boleh! Ah, dasar kau ini!" sentak Donghyun sebal. Tak segera bangkit, akhirnya Donghyun menarik paksa Kwangmin.
***
Youngmin baru akan mengatupkan matanya saat seseorang masuk ke dalam kamar mereka. Ia enggan untuk melihat. Tapi di satu sisi, ia lega akhirnya yang ia tunggu masuk juga ke kamar.
"Minwoo?" suara Jeongmin menyambut orang itu. Dan di saat itu juga, Youngmin kecewa. Sepertinya Kwangmin benar-benar marah padanya. Ia bahkan tak sudi masuk ke kamar mereka.
"Donghyun hyung mengusirku," gerutu Minwoo melempar bantal dan gulingnya ke tempat tidur Kwangmin. Setelahnya, ia melongok ke atas tempat tidur di atas Jeongmin. "Apa dia sudah tidur?" tanyanya kemudian.
"Ya, sepertinya. Sejak tadi ia tak ada suaranya," jawab Jeongmin yang kemudian keluar kamar, ke kamar mandi.
Begitu tak ada suara lagi, Youngmin membuka matanya. Menghela nafas, tanda ia menyesal telah membuat jarak antara ia dan saudara kembarnya itu.
***
Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Tapi belum ada satu pun di antara mereka yang sudah mandi. Baru gosok gigi dan cuci muka. Bibi yang biasanya memasakkan makanan untuk mereka hari ini tidak datang. Akhirnya Hyunseong yang sibuk mondar-mandir menyiapkan roti dan isinya untuk mereka.
"Hari ini aku ada pemotretan, hyung. Aku tidak sekolah," ucap Minwoo mengawali pembicaraan yang biasa terjadi di meja makan. Mengurangi canggung juga karena Kwangmin yang biasanya aktif dengan Jeongmin memilih diam menikmati roti bakar buatan Hyunseong.
"Oh, ya sudah. Jo Twins?" Donghyun menatap Youngmin dan Kwangmin bergantian. "Tidak ada jadwal, kan?"
"Ani, hyung," jawab mereka serempak. Sempat terkejut juga mereka berdua. Youngmin memilih menatap Kwangmin setelahnya. Tapi Kwangmin kembali menunduk, enggan membalas tatapan kakaknya yang duduk berseberangan darinya itu.
"Kalau begitu lekas habiskan sarapan kalian, mandi lalu kuantar ke sekolah," sambung Donghyun lagi.
"Ne, hyung!" Lagi-lagi mereka menjawabnya bersama. Donghyun dan Minwoo tersenyum tipis melihat mereka berdua. Meski Kwangmin lagi-lagi hanya menunduk tak berani membalas tatapan Youngmin padanya.
***
"Katanya tidak ikut?" Kwangmin melongok ke dalam mobil bagian depan. Sudah ada Minwoo dengan seragam lengkap.
"Aku ikut sekalian. Lokasinya dekat dengan sekolah," jawab Minwoo sambil tersenyum.
"Dengan seragam SMA?" tanya Kwangmin lagi.
"A, aku pemotretan... untuk SMA. Sebagai anak SMA," jawaban Minwoo terdengar gugup. Apa bocah ini merencanakan sesuatu? Fikir Kwangmin.
"Hey, ayo cepat masuk!" Donghyun yang baru keluar menepuk pundak Kwangmin sebelum masuk ke kursi kemudi.
Tapi begitu membuka pintu belakang, Kwangmin tak lekas masuk. Sudah ada Youngmin di sana. Ia sama sekali tak menggubris kedatangan Kwangmin lantaran ia hanya menoleh ke kiri dan di telinganya sudah bertengger headseat putih.
"Ayo cepat, Kwangmin!" sentak Donghyun lagi. Meski ragu, akhirnya Kwangmin masuk juga ke dalam.
Sepanjang perjalanan, mereka berempat hanya diam. Canggung, meski sesekali Minwoo mengotak-atik mp3 player di depan. Tapi tetap saja rasanya mereka seperti orang asing yang baru saja bertemu.
"Kau pulang jam berapa?" Donghyun mencoba melepas kecanggungan itu.
Merasa ditanyai, Minwoo menoleh pada Donghyun.
"Jam empat mungkin, hyung," jawab Minwoo.
"Pemotretan apa itu selama itu?" timpal Kwangmin. Dalam diam, Donghyun tersenyum. Akhirnya anak itu mau membuka mulutnya.
"Siapa bilang aku hanya pemotretan? Aku mau jalan-jalan sebentar!" jawab Minwoo. Mendengarnya, Kwangmin hanya mencibirkan bibirnya.
"Kalau begitu sekalian menjemput kalian berdua saja, ya?" tambah Donghyun.
"Eoh!" Hey, lagi-lagi Youngmin dan Kwangmin serempak menjawabnya bersama. Tapi kali ini, Kwangminlah yang menatap Youngmin. Sedangkan Youngmin memilih memejamkan matanya sampai di sekolah.
***
"Hey, saudara kembar!" Baru sampai depan kelas, Yun Jae Geum teman sekelas mereka sudah menghampiri Youngmin dan Kwangmin. "Kalian dipanggil Kim seonsaengnim di ruang olahraga," sambungnya lagi.
"Ada apa?" tanya Youngmin menyuarakan isi hati Kwangmin.
"Mana aku tahu!" Jae Geum mengedikkan bahunya dan melalui mereka begitu saja.
Tak ingin menunggu Kwangmin jalan duluan, Youngmin pun melangkah duluan. Kwangmin menyusul setelahnya. Rasanya tak nyaman sekali dalam keadaan seperti itu. Diam-diaman, meski sebenarnya mereka tak banyak mengobrol, tapi setelah adanya pertengkaran kemarin, perasaan mereka kemelut tak karuan.
"Mana Kim seonsaengnim?" Youngmin celingukan begitu sampai di ruang olahraga. Kwangmin pun sama. Tak ada guru yang dimaksud Jae Geum tadi.
Tiba-tiba, "Brakk!!!" Pintu di belakang Kwangmin tertutup dengan sendirinya. Keduanya serempak berbalik.
"Mwoya?" sentak Kwangmin panik. Cepat-cepat ia mendekati pintu itu dan menggedor-gedornya.
"Ya!!! Siapa di luar? Ya! Buka pintunya! Ya!!!" Teriaknya berkali-kali.
Dan ternyata... Di luar, Minwoo dan Jae Geum sudah saling tos. Ternyata ini ulah Minwoo. Mengunci mereka berdua dalam satu ruangan. Yang ia harapkan, mereka segera akur kembali.
"Kajja!" bisiknya pada Jae Geum dan mereka pun kembali ke kelas.
"Sialan!" decak Kwangmin yang gagal membuka sang pintu. Dengan berat hati, ia pun kembali berbalik dan berjalan pelan ke arah Youngmin. Youngmin tak banyak bertingkah. Tahu apa yang terjadi, ia memilih duduk di atas bangku panjang yang ada di sana.
"Ini pasti ulah Minwoo!" desisnya sebal. Youngmin hanya mendengar rutukannya tanpa bicara apapun. Setelahnya, mereka diselimuti senyap dan sepi. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan.
***
"Mau sampai kapan kita mengurung mereka?" Jae Geum berbalik menatap Minwoo yang duduk di belakangnya.
"Aku sudah terlanjur bilang pada Yun seonsaengnim kalau mereka ada jadwal hari ini."
"Jadi maksudmu kita biarkan mereka sampai pulang?"
Minwoo hanya mengangguk. "Dasar!" Hanya itu yang ia dapatkan dari Jae Geum setelah itu.
***
Sepi, sunyi, senyap dan canggung. Youngmin masih duduk cantik di bangku itu. Sedangkan Kwangmin entah sudah berapa kali ganti posisi. Yang duduklah, berdirilah, jongkoklah, apa saja demi menunjukkan kejengkelannya pada Minwoo. Meski sebenarnya ia pun berusaha mengurangi kecanggungan yang ia rasakan sekarang.
"Mianhae," tiba-tiba sebuah suara terdengar. Kwangmin tersentak. Ia yakin Youngminlah yang baru saja berucap kata maaf tadi.
"Mian," ulangnya meyakinkan Kwangmin yang sudah menatapnya. Ia tak berani membalas tatapan itu.
"Seharusnya aku yang minta maaf," balas Kwangmin ikut menundukkan kepalanya. Sedangkan Youngmin giliran mendongak. Wajah Kwangmin sudah terlihat muram sekarang.
"Bibir bodohku bicara sembarangan," lanjutnya lagi.
Youngmin masih diam. Menunggu apakah masih ada kata-kata lagi yang akan disampaikan Kwangmin padanya. Tapi begitu menunggu sepuluh menit lamanya, tak ada lagi suara Kwangmin yang keluar.
Akhirnya ia memilih berdiri. Melangkah mendekati Kwangmin dan tiba-tiba memeluknya. Kontan saja Kwangmin kaget bukan main. Ia tak tahu kalau Youngmin sudah ada di depannya.
"Tidak. Akulah yang salah. Kudengar dari Minwoo nilaimu turun. Tapi malah aku membentakmu seperti kemarin," jelas Youngmin. Kwangmin masih diam. Ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Maaf, aku sudah menamparmu. Apa sakit?" tanyanya seraya melepaskan pelukannya menatap wajah yang sama persis dengannya itu. Kwangmin mengangguk manja, dan sukses memunculkan senyuman Youngmin. "Kau mau memaafkanku, kan?" tanya Youngmin lagi. Dan sekali lagi, hanya anggukan kepala yang didapatnya. Dan lagi, Youngmin kembali memeluknya. Nyaman sekali rasanya. Tak ada canggung, rasanya sayang yang ada. Keduanya tersenyum mengingat kekonyolan cara mereka berbaikan.
***
Minwoo mendumel sendiri sejak keluar dari kelas tadi. Pasalnya Jae Geum tak mau menemaninya membukakan pintu ruang olahraga tempat ia mengunci dua saudara kembar yang sudah seperti hyungnya sendiri itu. Bocah itu pergi begitu saja tanpa menunggu persetujuan darinya dulu.
"Sial! Awas kalau ketemu besok!" dumelnya lagi. Dan... Ceklek! Pintu pun terbuka.
"YA! NO MINWOO!!! BISA-BISANYA KAU MENGURUNG KAMI DI SINI?!" Tiba-tiba wajah horor Youngmin dan Kwangmin sudah ada di depannya.
"Eh, hyung... Hyung... A, aku..."
"Apa? Apa, hah?"
"A, aku tidak sengaja!!!" teriak Minwoo yang akhirnya memilih langkah seribu.
"NO MINWOO!!!" Teriak Youngmin dan Kwangmin serempak mengejar sang maknae.
"Ini juga rencana Donghyun hyung, lo!!! Huweee!!! Donghyun hyung!!! Tolong aku!!!" teriak Minwoo masih berlari menjauhi amukan Jo Youngmin dan Jo Kwangmin.
END
"Wae?!" tiba-tiba Kwangmin membentaknya.
"Ya! Kenapa malah marah? Aku mengajakmu pulang!" balas Minwoo tak kalah kesal.
Kwangmin terdiam. Sadar kalau bukan Minwoo yang pantas disalahkan di sini. "Mian," ucapnya menyesal. Setelah memasukkan kertas ulangannya tadi ke tasnya, barulah ia menyusul Minwoo yang terlanjur kesal keluar duluan.
***
"Bruk!" Lagi-lagi Kwangmin menabrak Youngmin. Sudah ke lima belas kalinya.
"Kau itu kenapa, hah?! Serius sedikit bisa tidak?!" bentak Youngmin. Padahal Minwoo biasanya yang langsung bertindak. Tapi kali ini Youngmin yang dirugikan. Tak jarang Youngmin sampai terjatuh ke lantai karenanya.
"Mian," ucap Kwangmin tertunduk lesu.
"Apa yang kau fikirkan, hah? Sebentar lagi kita ada jadwal manggung! Apa tidak bisa kau konsentrasi pada latihan kita?" Ya Tuhan! Betapa marahnya Youngmin sampai tega membentak Kwangmin seperti itu.
"Mian..." ucap Kwangmin untuk kedua kalinya. Terlanjur merasa bersalah ia malah pergi dari sana dan memilih masuk ke dalam dorm.
"Apa dia tidak keterlaluan?" bisik Minwoo pada Donghyun. Donghyun hanya menghela nafasnya melihat Youngmin yang juga ikut keluar dari sana.
***
Jam menunjukkan angka 9. Tak ada jadwal apapun bagi anggota Boyfriend hari ini. Semuanya ada di dorm kecuali Donghyun yang sedang ada sedikit urusan dengan presdir agensi mereka.
Tiba-tiba Kwangmin mendekati Youngmin yang duduk di sofa depan tv, begitu keluar dari kamar. Melihat kedatangannya, Youngmin menaruh buku yang baru saja dibacanya itu.
"Aku keluar saja ya dari Boyfriend," tuturnya pelan namun jelas terdengar. Mata Youngmin membulat besar mendengar kalimat itu. Begitu juga dengan anggota yang lain.
"Mwo?" berharap Kwangmin salah berucap, sepertinya salah. Yang ada, Kwangmin malah memperjelas kalimatnya tadi.
"Aku keluar saja dari Boyfriend."
"Bicara lagi!" Mata Youngmin mulai memanas. Ia masih kesal dengan kelakuan Kwangmin tadi. Ditambah kata-katanya yang tak benar menurutnya ini, ia bertambah marah.
"Aku keluar saja dari Boyfriend."
"Bicara lagi!" sentak Youngmin yang kini sudah berdiri menatap Kwangmin yang enggan membalas tatapannya.
"Aku keluar saja dari Boyfriend!" suara Kwangmin meninggi.
"Bicara lagi!"
"Aku keluar dari..."
"Plak!!!" Tiba-tiba saja Youngmin menampar pipi kiri Kwangmin. Membuat yang ada di sana terkejut bukan main. Tak terkecuali Kwangmin sendiri. Diangkatnya wajahnya menatap mata marah Youngmin tak percaya. Ia tak percaya bahwa yang baru saja menamparnya adalah saudara kembarnya.
"Bicara lagi!" bentak Youngmin untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini Kwangmin tak lekas menjawab. Ia masih tak percaya panas di pipinya ini karena telapak tangan kakaknya. Tak dapat lagi ia bicara. Hatinya yang tiba-tiba perih menyuruh kakinya pergi dari sana, keluar dorm.
"Kwangmin?" Sampai depan pintu ia berpapasan dengan Donghyun. "Hey, kau mau kemana?" Bahkan teriakan sang leader yang selalu mereka patuhi tak ia dengarkan. Ia keluar begitu saja. Membiarkan Donghyun mencari jawabannya ke orang yang masih ada di sana.
"Ada apa ini?" tanyanya kepada siapa saja yang mau menjawab. Tapi nyatanya tak ada yang mau menjawabnya. Yang ada hanya Jeongmin yang melirik ke arah Youngmin berkali-kali.
"Youngmin?" tetap tak ada jawaban. Akhirnya yang dilakukannya hanya menatap pintu yang sudah tertutup karena kepergian Kwangmin tadi.
***
Di sinilah ia sekarang. Di atas ayunan di depan apartement dorm mereka. Menggenggam erat rantai ayunan dengan eratnya. Entahlah. Setiap ingatannya mengingat kembali tamparan Youngmin tadi, hatinya terasa perih.
"Tega sekali..." ucapnya pelan mengusap bekas tamparan tadi. "Sebelumnya tidak pernah seperti ini..." Lagi-lagi hanya racauan kecil sendirian.
Kwangmin tak tahu, Youngmin dari atas sana mengawasinya lewat jendela. Melihatnya yang mulai menitikkan air mata. Melihat telapak tangannya sendiri, ia sadar yang ia lakukan salah. Tapi ia terlalu malu untuk menghampiri adiknya itu yang kini mulai kedinginan di bawah sana. Lantaran yang dikenakannya hanya kaos tipis dan celana jeans yang jauh dari kata hangat sekalipun.
Cukup lama Kwangmin merasakan dingin mulai menjalari tubuhnya, tiba-tiba sebuah jaket bulu hitam dipasangkan ke tubuhnya. Donghyun.
"Apa kulitmu sudah mati rasa? Di sini dingin, bodoh!" bentak Donghyun mengambil ayunan tepat di samping Kwangmin.
"Aku mengantuk, hyung," jawab Kwangmin seraya menyeka air matanya.
"Ya makannya ayo masuk!" balas Donghyun seraya berdiri dan mengulurkan tangannya. Menunggu Kwangmin mengambil uluran itu hanya sia-sia saja. Bocah ini malah menunduk menatapi kakinya yang menendang kecil salju yang menggumpal di bawahnya.
"Tapi aku kan satu kamar dengan Youngmin hyung," lirihnya pelan.
Donghyun menghela nafasnya. Ya, ia paham maksudnya. Tak mungkin kan Kwangmin akan masuk kamar setelah ia bertengkar dengan Youngmin tadi?
"Nanti Minwoo kusuruh pindah. Kau bisa tidur di kamar kami," putusnya kemudian.
"Apa boleh?" Kwangmin mencoba meyakinkan jawaban Donghyun. Ia sudah mengangkat kepalanya sekarang.
"Tidak, tidak boleh! Ya tentu saja boleh! Ah, dasar kau ini!" sentak Donghyun sebal. Tak segera bangkit, akhirnya Donghyun menarik paksa Kwangmin.
***
Youngmin baru akan mengatupkan matanya saat seseorang masuk ke dalam kamar mereka. Ia enggan untuk melihat. Tapi di satu sisi, ia lega akhirnya yang ia tunggu masuk juga ke kamar.
"Minwoo?" suara Jeongmin menyambut orang itu. Dan di saat itu juga, Youngmin kecewa. Sepertinya Kwangmin benar-benar marah padanya. Ia bahkan tak sudi masuk ke kamar mereka.
"Donghyun hyung mengusirku," gerutu Minwoo melempar bantal dan gulingnya ke tempat tidur Kwangmin. Setelahnya, ia melongok ke atas tempat tidur di atas Jeongmin. "Apa dia sudah tidur?" tanyanya kemudian.
"Ya, sepertinya. Sejak tadi ia tak ada suaranya," jawab Jeongmin yang kemudian keluar kamar, ke kamar mandi.
Begitu tak ada suara lagi, Youngmin membuka matanya. Menghela nafas, tanda ia menyesal telah membuat jarak antara ia dan saudara kembarnya itu.
***
Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Tapi belum ada satu pun di antara mereka yang sudah mandi. Baru gosok gigi dan cuci muka. Bibi yang biasanya memasakkan makanan untuk mereka hari ini tidak datang. Akhirnya Hyunseong yang sibuk mondar-mandir menyiapkan roti dan isinya untuk mereka.
"Hari ini aku ada pemotretan, hyung. Aku tidak sekolah," ucap Minwoo mengawali pembicaraan yang biasa terjadi di meja makan. Mengurangi canggung juga karena Kwangmin yang biasanya aktif dengan Jeongmin memilih diam menikmati roti bakar buatan Hyunseong.
"Oh, ya sudah. Jo Twins?" Donghyun menatap Youngmin dan Kwangmin bergantian. "Tidak ada jadwal, kan?"
"Ani, hyung," jawab mereka serempak. Sempat terkejut juga mereka berdua. Youngmin memilih menatap Kwangmin setelahnya. Tapi Kwangmin kembali menunduk, enggan membalas tatapan kakaknya yang duduk berseberangan darinya itu.
"Kalau begitu lekas habiskan sarapan kalian, mandi lalu kuantar ke sekolah," sambung Donghyun lagi.
"Ne, hyung!" Lagi-lagi mereka menjawabnya bersama. Donghyun dan Minwoo tersenyum tipis melihat mereka berdua. Meski Kwangmin lagi-lagi hanya menunduk tak berani membalas tatapan Youngmin padanya.
***
"Katanya tidak ikut?" Kwangmin melongok ke dalam mobil bagian depan. Sudah ada Minwoo dengan seragam lengkap.
"Aku ikut sekalian. Lokasinya dekat dengan sekolah," jawab Minwoo sambil tersenyum.
"Dengan seragam SMA?" tanya Kwangmin lagi.
"A, aku pemotretan... untuk SMA. Sebagai anak SMA," jawaban Minwoo terdengar gugup. Apa bocah ini merencanakan sesuatu? Fikir Kwangmin.
"Hey, ayo cepat masuk!" Donghyun yang baru keluar menepuk pundak Kwangmin sebelum masuk ke kursi kemudi.
Tapi begitu membuka pintu belakang, Kwangmin tak lekas masuk. Sudah ada Youngmin di sana. Ia sama sekali tak menggubris kedatangan Kwangmin lantaran ia hanya menoleh ke kiri dan di telinganya sudah bertengger headseat putih.
"Ayo cepat, Kwangmin!" sentak Donghyun lagi. Meski ragu, akhirnya Kwangmin masuk juga ke dalam.
Sepanjang perjalanan, mereka berempat hanya diam. Canggung, meski sesekali Minwoo mengotak-atik mp3 player di depan. Tapi tetap saja rasanya mereka seperti orang asing yang baru saja bertemu.
"Kau pulang jam berapa?" Donghyun mencoba melepas kecanggungan itu.
Merasa ditanyai, Minwoo menoleh pada Donghyun.
"Jam empat mungkin, hyung," jawab Minwoo.
"Pemotretan apa itu selama itu?" timpal Kwangmin. Dalam diam, Donghyun tersenyum. Akhirnya anak itu mau membuka mulutnya.
"Siapa bilang aku hanya pemotretan? Aku mau jalan-jalan sebentar!" jawab Minwoo. Mendengarnya, Kwangmin hanya mencibirkan bibirnya.
"Kalau begitu sekalian menjemput kalian berdua saja, ya?" tambah Donghyun.
"Eoh!" Hey, lagi-lagi Youngmin dan Kwangmin serempak menjawabnya bersama. Tapi kali ini, Kwangminlah yang menatap Youngmin. Sedangkan Youngmin memilih memejamkan matanya sampai di sekolah.
***
"Hey, saudara kembar!" Baru sampai depan kelas, Yun Jae Geum teman sekelas mereka sudah menghampiri Youngmin dan Kwangmin. "Kalian dipanggil Kim seonsaengnim di ruang olahraga," sambungnya lagi.
"Ada apa?" tanya Youngmin menyuarakan isi hati Kwangmin.
"Mana aku tahu!" Jae Geum mengedikkan bahunya dan melalui mereka begitu saja.
Tak ingin menunggu Kwangmin jalan duluan, Youngmin pun melangkah duluan. Kwangmin menyusul setelahnya. Rasanya tak nyaman sekali dalam keadaan seperti itu. Diam-diaman, meski sebenarnya mereka tak banyak mengobrol, tapi setelah adanya pertengkaran kemarin, perasaan mereka kemelut tak karuan.
"Mana Kim seonsaengnim?" Youngmin celingukan begitu sampai di ruang olahraga. Kwangmin pun sama. Tak ada guru yang dimaksud Jae Geum tadi.
Tiba-tiba, "Brakk!!!" Pintu di belakang Kwangmin tertutup dengan sendirinya. Keduanya serempak berbalik.
"Mwoya?" sentak Kwangmin panik. Cepat-cepat ia mendekati pintu itu dan menggedor-gedornya.
"Ya!!! Siapa di luar? Ya! Buka pintunya! Ya!!!" Teriaknya berkali-kali.
Dan ternyata... Di luar, Minwoo dan Jae Geum sudah saling tos. Ternyata ini ulah Minwoo. Mengunci mereka berdua dalam satu ruangan. Yang ia harapkan, mereka segera akur kembali.
"Kajja!" bisiknya pada Jae Geum dan mereka pun kembali ke kelas.
"Sialan!" decak Kwangmin yang gagal membuka sang pintu. Dengan berat hati, ia pun kembali berbalik dan berjalan pelan ke arah Youngmin. Youngmin tak banyak bertingkah. Tahu apa yang terjadi, ia memilih duduk di atas bangku panjang yang ada di sana.
"Ini pasti ulah Minwoo!" desisnya sebal. Youngmin hanya mendengar rutukannya tanpa bicara apapun. Setelahnya, mereka diselimuti senyap dan sepi. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan.
***
"Mau sampai kapan kita mengurung mereka?" Jae Geum berbalik menatap Minwoo yang duduk di belakangnya.
"Aku sudah terlanjur bilang pada Yun seonsaengnim kalau mereka ada jadwal hari ini."
"Jadi maksudmu kita biarkan mereka sampai pulang?"
Minwoo hanya mengangguk. "Dasar!" Hanya itu yang ia dapatkan dari Jae Geum setelah itu.
***
Sepi, sunyi, senyap dan canggung. Youngmin masih duduk cantik di bangku itu. Sedangkan Kwangmin entah sudah berapa kali ganti posisi. Yang duduklah, berdirilah, jongkoklah, apa saja demi menunjukkan kejengkelannya pada Minwoo. Meski sebenarnya ia pun berusaha mengurangi kecanggungan yang ia rasakan sekarang.
"Mianhae," tiba-tiba sebuah suara terdengar. Kwangmin tersentak. Ia yakin Youngminlah yang baru saja berucap kata maaf tadi.
"Mian," ulangnya meyakinkan Kwangmin yang sudah menatapnya. Ia tak berani membalas tatapan itu.
"Seharusnya aku yang minta maaf," balas Kwangmin ikut menundukkan kepalanya. Sedangkan Youngmin giliran mendongak. Wajah Kwangmin sudah terlihat muram sekarang.
"Bibir bodohku bicara sembarangan," lanjutnya lagi.
Youngmin masih diam. Menunggu apakah masih ada kata-kata lagi yang akan disampaikan Kwangmin padanya. Tapi begitu menunggu sepuluh menit lamanya, tak ada lagi suara Kwangmin yang keluar.
Akhirnya ia memilih berdiri. Melangkah mendekati Kwangmin dan tiba-tiba memeluknya. Kontan saja Kwangmin kaget bukan main. Ia tak tahu kalau Youngmin sudah ada di depannya.
"Tidak. Akulah yang salah. Kudengar dari Minwoo nilaimu turun. Tapi malah aku membentakmu seperti kemarin," jelas Youngmin. Kwangmin masih diam. Ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Maaf, aku sudah menamparmu. Apa sakit?" tanyanya seraya melepaskan pelukannya menatap wajah yang sama persis dengannya itu. Kwangmin mengangguk manja, dan sukses memunculkan senyuman Youngmin. "Kau mau memaafkanku, kan?" tanya Youngmin lagi. Dan sekali lagi, hanya anggukan kepala yang didapatnya. Dan lagi, Youngmin kembali memeluknya. Nyaman sekali rasanya. Tak ada canggung, rasanya sayang yang ada. Keduanya tersenyum mengingat kekonyolan cara mereka berbaikan.
***
Minwoo mendumel sendiri sejak keluar dari kelas tadi. Pasalnya Jae Geum tak mau menemaninya membukakan pintu ruang olahraga tempat ia mengunci dua saudara kembar yang sudah seperti hyungnya sendiri itu. Bocah itu pergi begitu saja tanpa menunggu persetujuan darinya dulu.
"Sial! Awas kalau ketemu besok!" dumelnya lagi. Dan... Ceklek! Pintu pun terbuka.
"YA! NO MINWOO!!! BISA-BISANYA KAU MENGURUNG KAMI DI SINI?!" Tiba-tiba wajah horor Youngmin dan Kwangmin sudah ada di depannya.
"Eh, hyung... Hyung... A, aku..."
"Apa? Apa, hah?"
"A, aku tidak sengaja!!!" teriak Minwoo yang akhirnya memilih langkah seribu.
"NO MINWOO!!!" Teriak Youngmin dan Kwangmin serempak mengejar sang maknae.
"Ini juga rencana Donghyun hyung, lo!!! Huweee!!! Donghyun hyung!!! Tolong aku!!!" teriak Minwoo masih berlari menjauhi amukan Jo Youngmin dan Jo Kwangmin.
END