Malam itu langit
mengamuk. Berbagai jenis petir ia lempar ke bumi. Disayat-sayat pula kantung
air yang menggelap itu. Hingga tumpahlah semua isinya ke bawahnya. Tiap
turunnya merutukki apa-apa saja yang menimpanya. Beriringanlah angin yang
menyumpah serapahi rumput dan pepohonan.
Batang besar di depan rumah ambruk.
Menimpa kandang anjing dan matilah si pemiliknya. Sehingga makin lengkaplah
nistanya malam itu.
Dalam rumah dengan
batang besar yang sudah limbung itu ada bocah yang memeluk lutut. Usianya baru
7 tahun. Di depannya lilin kecil dengan api yang dipermainkan angin. Matanya
sendu tapi ia tak ingin menambah deras air yang tumpah di luar. Sehingga pun ia
memilih diam. Baju tipisnya mendinginkan setiap persendian tulangnya. Dia
terlalu lengket di lantai itu. Sampai-sampai ia tak berdaya untuk bangun,
sekedar untuk mengambil selimut agar menghalau ngilu-ngilu itu. Masih betah di
sana. Sampai ada seseorang yang masuk, menganggetkannya dengan gaya menjeblak
pintu yang cukup mengejutkannya.
Yang masuk adalah gadis
11 tahun yang di tangannya sudah membawa pemilik rumah kecil yang ambruk tadi.
Bocah kecil itu menatap anjing yang cukup dikenalnya dengan baik. Ia masih
belum bertanya. Sedang gadis itu mulai tertunduk melihat bocah itu masih
menatapi kedatangannya yang seperti baru saja masuk ke sumur. Dari ujung kaki
sampai ke rambut panjangnya membasahi lantai. Kakinya yang berlumpur memberikan
penjelasan pada bocah yang belum sempurna cara berpikirnya itu bahwa gadis ini
sejak di luar tidak beralas kaki. Apalagi ada darah yang mengalir di sela-sela
ibu jari dan telunjuk jari kaki kanannya.
Beralih dari anjing
itu, bocah itu mencari sesuatu yang lain yang mungkin dibawa gadis itu.
Kalaupun ada, rasanya tak mungkin tersembunyi. Karena masalahnya kedua
tangannya membopong anjing malang itu. “Kue ulang tahunku?” suaranya parau. Ia
masih beenergi untuk menahan letupan air di matanya yang siap melompat. Ia akan
menahannya, setidaknya sampai gadis itu berucap sesuatu. Menunggu terlalu lama,
gadis itu malah membalas tatapan menuntutnya dengan nanar. Seberapa banyak ia
mencoba menjelaskan dengan mata itu, bocah itu tetap tak bisa mengerti.
“Mana?!” sentaknya lebih keras. Energinya yang dikeluarkannya terlalu banyak
hanya untuk menahan air di matanya. Sehingga matanya kini memerah, dengan
banyak air yang menggenang di sana-sini.
“Ki… Ki Jae~ya…” rintih
gadis itu. Mulutnya tak mau diajak kompromi. Ada lem super kuat yang hanya
mempersilahkannya mengatakan hal itu.
Sedang bocah itu mulai
merintih dengan isakannya. “Eomma[1]?”
kian deraslah air-air yang turun sekarang. Tidak di luar, di sini pun demikian.
“Eomma do eoddi[2]?!”
suaranya yang parau kini melengking, menusuk dalam ke ulu hati gadis itu.
Batinnya gerimis melihat bocah itu menangis sesenggukan. Tapi pun ia tak bisa
menjawab kedua pertanyaanya.
***
“Eomma… nuna, eomma
di mana? Kenapa Cocho mati? Nuna… eomma… eomma…” bibir merah Ki Jae tak
henti-hentinya bergetar. Padahal matanya masih sempurna tertutup. Tapi lelehan
dari sana tak henti-hentinya mengalir. Matanya baru mengerjap terbuka ketika
suara ponsel di sampingnya terdengar. Sadarlah ia, dia sudah ada di kamarnya.
Usai menghapus air matanya, dilihatnya ponselnya yang terus saja meraung-raung
minta diperhatikan. Ada panggilan masuk.
“Eoh, Song Yi~ya?” suaranya
bahkan seserak suaranya yang di dalam mimpi. “Wae?”
“Kau tidak berangkat
sekolah? Apa kau sakit?” terdengar nada khawatir di sana. Ki Jae tersenyum
simpul mendengarnya. Gadis itu selalu saja mengkhawatirkannya. Jika dia boleh
menjawab jujur, dia akan menjawabnya, “Ya, aku sakit. Sangat sakit!” tapi tentu
saja dia tak akan mengatakannya. Karenanya yang ia katakan hanya, “Aku akan
pergi. Mungkin sedikit terlambat. Aku kesiangan.” Dan Song Yi tak akan
memikirkan hal yang lain.
***
Baru sepagi ini, dan
hanya beberapa orang saja yang sudah duduk dan membaca satu buku. Di sini
memang tak dibolehkan untuk berisik. Tapi setidaknya, berkurangnya jumlah orang
yang ada, membuatnya lebih sunyi dari biasanya. Terlebih dengan suasana pagi
yang menghangatkan ruangan. Menguapkan bau buku yang baru ditata rapi oleh Woo
Hyun. AC-AC baru dihidupkan. Debu-debu yang bergumul di ruangan mulai
berterbangan sembarangan. Bermukim di sudut-sudut lain yang jauh dari hempas
dinginnya. Kini yang terdengar hanya suara jemari Woo Hyun yang mencumbui tuts-tuts
keyboard komputer di bagian peminjaman buku. Matanya sibuk, berpindah dari
layar ke bagian punggung buku di sampingnya. Satu per satu tumpukan buku baru
itu berkurang.
Fokusnya diusik salah
satu haksaeng yang baru saja keluar dari lorong-lorong rak buku di depan. “Dua
buku, Saem[3],”
katanya. Woo Hyun tersenyum demi melihat senyum cerah gadis itu. Ia cukup
mengenalnya. Apalagi name tag di seragamnya jelas menunjukkan siapa
namanya.
“Kau tidak bersama Ki
Jae?” tanyanya sambil men-scan dua buku itu ke benda kecil yang
mengeluarkan cahaya merah. Persis seperti di meja kasir supermarket, maka akan
muncul judul dan pengarang buku di layar komputer. Tangannya kemudian meminta
kartu pelajarnya.
“Dia bilang dia akan
telat, Saem,” jawab Song Yi sambil mengulurkan kartu pelajarnya. Woo Hyun tak
bertanya lagi. Ia memang disukai haeksaeng perempuan di sini. Tapi sekalipun
Song Yi tak pernah tertarik dengannya. Dia cukup maklum, karena dia sendiri pun
tahu bocah ini menyukai Ki Jae, salah satu murid yang paling dekat dengannya
karena seringnya dia berkunjung kemari.
“Kamsahamnida,” ucap
Song Yi setelah Woo Hyun menyerahkan dua buku itu. Ia sendiri lagi. Diliriknya
jam, masih belum genap jam 7.15. Dia masih punya waktu tersisa 9 jam. Dia akan
menutup perpustakaan tepat pukul 3. Bukankah hari ini dia punya tugas? Satu
foto yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Gadis berambut panjang ini
mengingatkannya pada Song Yi. Gadis ini… goresan baru untuk Tae Soo.
“Kenapa kau mau
meletakkan mayat Soo Min di sana? Tidakkah kau akan melenyapkannya seperti
biasa?” semalam ia bertemu dengan Tae Soo. Ia cukup heran karena Tae Soo
memberinya tugas untuk mengganti gadis dalam foto itu dengan mayat Soo Min.
Malam tadi mereka di rumah
Tae Soo. Apartement paling mewah yang ada di gedung miliknya. Lantai teratas,
lantai 12. Sejak membuka lift saja, akan langsung ada pintu yang
menghubungkannya. Jika melihat perabot, desain dan luasnya ruangan ini, pasti
semua orang akan merasa iri. Ada air mancur kecil di tengah ruangan paling
besar setelah masuk ke dalam sini. Kalau melihat bentuk patung di dekat air
mancur itu, semua hanya akan menganggapnya tempat duduk. Tapi siapa yang tahu
itu adalah tempat paling pas untuk mengeksekusi korban-korban Tae Soo.
“Tidak ada maksud
apa-apa. Aku hanya bosan membuat daftar orang hilang di kantor kepolisian. Aku
ingin membuat mereka menambah daftar orang mati saja di sana. Sepertinya lebih
menyenangkan,” kata-kata Tae Soo sama sekali tak bernada. Datar saja. Seperti
orang yang baru saja belajar mobil di jalan lurus. Atau jika membandingkannya
dengan seorang seperti Tae Soo, datarnya itu persis dengan garis lurus
pendeteksi detak jantung. Kadang-kadang Woo Hyun sendiri sempat berpikir, orang
ini pasti sudah mati di masa lalu. Sampai ia bisa berdiri lagi dan kini hanya
menjadi mayat hidup.
Opininya bukan tidak berdasar. Menampik bagaimana caranya
bicara, wajahnya sendiri mirip orang mati. Kebencian dan marah yang biasanya ia
keluarkan pun terasa hampar. Seolah Tae Soo sendiri tak pernah paham makna dari
setiap ekspresi dan kalimat yang ia ungkapkan.
“Lagipula…” lanjut Tae
Soo lagi. “… aku hampir selesai. Akan kubiarkan polisi lebih cepat
menemukanku.” Woo Hyun cukup tertegun melihat senyum separuhnya. Apa dia
bercanda? Dia ingin polisi menemukannya? Padahal dia selalu bilang akan
melengkapi koleksi gambarnya sampai 99 dulu. Sebelumnya pun ia tak pernah
bilang akan mengakhiri hidupnya di balik jeruji penjara. “Tapi, kau tetap tak
boleh membiarkan mereka menemukan bukti untuk 30 orang sisanya nanti.”
“30?”
“Ah, apa aku belum
bilang padamu? Han Hyo Kyung, gadis itu. Dialah goresan ke 99 yang selama ini
aku cari.” Dan begitulah bagaimana Woo Hyun mengerti mengapa gadis itu masih
dibiarkan hidup oleh Tae Soo. Apakah gadis itu pun sudah tahu dia berada di
nomor berapa, Woo Hyun bertanya-tanya. Alasan Tae Soo memilihnya sebagai yang
ke 99, dia sendiri tak pernah tahu. Mendengar Tae Soo akan segera menyerahkan
dirinya, otaknya berpikir sangat jahat. Tiga puluh orang yang tersisa itu, dia
ingin sekali agar mereka segera terbunuh di tangan Tae Soo. Sehingga ia sendiri
akan punya kesempatan menebus dosa-dosanya karena sudah menyembunyikan penjahat
sakit jiwa seperti Kim Tae Soo itu.
***
Terlalu banyak orang
yang mau menjadi selebriti. Dari anak kecil sampai yang sudah cukup berumur
sekalipun. Mereka semua talenta. Bernyanyi, menari, rap, dan semacamnya.
Meski cukup gugup melihat semua orang yang ada di sini, Ki Jae tersenyum
senang. Beginilah rasanya berkompetensi. Tak lama lagi, dia pasti menjadi
bintang!
Apa yang bisa
dilakukannya adalah menari. Ia cukup lama berlatih. Atau bahkan sejak ia
menginginkan panggung megah di depan para penggemar, ia sudah belajar menari.
Dengan headseat yang tercantol di telinganya, ia melakukan
gerakan-gerakan yang cukup mengagumkan.
Namanya masih cukup
lama dipanggil. Karenanya ia akan berlatih lebih lama. Itu akan terjadi kalau
saja keributan tiba-tiba tidak terjadi. “Aaa…!!!” seseorang berteriak begitu
kencangnya dari dalam toilet. Tak hanya ia yang penasaran, semuanya buru-buru
berlari untuk memenuhi rasa penasaran mereka. Asalnya dari toilet wanita.
Jadilah, yang laki-laki hanya saling bertanya di luar toilet. Saat
wanita-wanita itu masuk dan malah teriakan makin menjadi, Ki Jae menerobos
masuk di antara kumpulan orang-orang itu. Saat ia masuk, wanita-wanita itu
sudah bergidik ngeri meratap ke dinding. Bahkan ada sampai yang muntah-muntah.
Salah satu bilik yang mereka lihat bersama-sama. Ki Jae cukup penasaran. Hampir
saja ia ikut berteriak melihat apa yang terduduk di atas toilet itu. Sebuah
mayat dengan luka yang sudah mengering di dadanya.
***
Ini adalah kali pertama
Ki Jae ke kantor polisi. Terlebih di Gangnam Gu. Karena audisi pun tidak
dilanjutkan, ia tak masalah jika digelandang sebagai saksi. Tentu bukan hanya
dirinya. Tapi, karena dia yang menghubungi polisi tadi, maka semua orang sudah
pulang lebih dulu darinya. Tadi polisi sudah meminta banyak keterangan darinya.
Sekarang ia hanya menunggu izin dari polisi untuk pergi. Dengan menyaksikan
dulu bagaimana ramainya tempat ini. Kriminal-krimanl yang mengamuk, dan
keluarga-keluarga korban yang menangis. Uh… Ki Jae benar-benar tak
nyaman berada di sini.
“Haksaeng!” seorang
polisi yang tadi mewawancarainya memanggilnya. Ki Jae segera berdiri karena ia
pun mendekatinya. “Kau boleh pulang. Terima kasih atas kesaksianmu,” ujarnya.
Polisi itu hampir pergi, tapi Ki Jae menghentikannya.
“Apa… Anda tahu dimana
galeri lukis Gangnam milik seseorang bernama Kim Tae Soo?” tanyanya. Polisi itu
bukannya menjawab pertanyaan itu malah memperhatikannya dari ujung kaki sampai
ujung kepala. “Apa… kau punya hubungan tertentu dengannya?”
“A, aniyo. Aku hanya
ingin melihat-lihat lukisannya. Kudengar dia melukis dengan baik,” jawab Ki Jae
berbohong. Tujuannya bertanya soal galeri itu, tentu saja dia ingin bertemu
dengan Hyo Kyung. Tapi apa polisi ini akan percaya kalau dia adalah adik dari
pacar pemilik galeri terbesar itu. Dia sendiri tak begitu bangga akan status
itu.
“Galerinya ada di
Apgujeong Dong. Kalau kau naik taksi, dan memberi tahu kemana kau akan pergi,
maka kau akan sampai di sana.”
“Ya, Baek Ji~ya!
Kemarilah!” polisi lainnya memanggil polisi di depan Ki Jae ini. Ki Jae
menunduk sedikit saat ia pergi dari hadapannya. Dilihatnya isi kantongnya. Ada
sedikit uang untuk naik taksi. Apgujeong Dong. Tidak akan menghabiskan banyak
uang untuk tempat yang cukup dekat.
“Dia bertanya soal Tae
Soo?” tanya Won Geun melihat Ki Jae yang mulai keluar dari kantor kepolisian.
Baek Ji mengangguk menjawab pertanyaannya. “Tapi dia hanya bilang akan
mengunjungi galerinya karena tertarik dengan lukisannya.”
“Enam hari menghilang
dan kita menemukan tubuh Min Soo Min di toilet saat audisi. Apa dia ingin ikut
audisi?” gumam Soo Jin. Baek Ji dan Won Geun hanya menggeleng-geleng
mendengarnya.
Dan persis seperti yang
dikatakan Baek Ji tadi. Ki Jae menaiki taksi. Hanya butuh beberapa menit ia
sudah sampai di sebuah gedung berlantai 12 di kawasang Apgujeong itu. Jadi di
sinilah kakaknya sering berkunjung. Gedung yang cukup megah. Melihat banyaknya
orang yang masuk ke dalam sana, sepertinya memang benar bahwa Kim Tae Soo
adalah pelukis yang cukup terkenal.
Orang-orang Apgujeong
memang lain. Tak beda dari Hyo Kyung, Ki Jae cukup heran melihat tampilan mereka.
Dari depan saja, ia sudah merasakan aura orang kaya dimana-mana. Dua petugas
yang berseragam sama berdiri di meja resepsionis. Ki Jae cukup tertarik dengan
lukisan-lukisan yang dipajang. Dua petugas itu tak menarik minatnya untuk
bertanya, dimana kakaknya berada. Lagipula, dia ingin mencarinya sendiri.
Bukankah kemungkinan kakaknya ada di sini belum pasti. Walaupun tadi malam ia
menginap, bisa saja dia sekarang bekerja. Karena kebetulan lokasinya tadi pun
lebih dekat kemari, ia langsung saja kemari. Kalaupun ia tak bertemu kakaknya,
bisa bertemu dengan Tae Soo mungkin lumayan juga. Setidaknya dia ingin melihat
laki-laki macam apa yang mengencani kakaknya.
Di lantai 4, Tae Soo
tersenyum memperhatikan layar komputer yang menampilkan video-video di beberapa
lantai. Tentu saja lantai 1 yang menjadi objek fokusnya. Bocah 18 tahun itu
pernah ia lihat sekilas di foto yang ada di dompet Hyo Kyung. Kalau melirik Hyo
Kyung yang duduk diam di sofa sana, keduanya cukup pas untuk dibilang kakak
adik. “Hyo Kyung~a!” panggilnya. Awalnya Hyo Kyung tak menoleh. Sudah
berkali-kali hari ini Tae Soo memanggilnya seperti itu tapi tak punya tujuan.
Hanya sekedar memanggilnya. Kali ini pun, mungkin mengabaikannya tak jadi
masalah. “Kurasa adikmu merindukanmu.” Barulah mendengar kata adik, Hyo
Kyung bereaksi. Senyum separuh Tae Soo
sudah muncul saat ia mulai mengangkat kepalanya.
“Kau mau menemuinya?
Sepertinya aku tak bisa mengizinkanmu padanya lagi. Kau harus mengatakannya
sendiri. Aku menyuruhmu untuk tinggal di sini, dan mengizinkanmu pulan setiap
seminggu sekali, kan? Jelaskan padanya, mumpung ia ada di sini.” Kini Hyo Kyung
mengerti. Ki Jae memang mengunjunginya. Ketimbang sebuah pertanyaan, kata-kata
Tae Soo tadi lebih berindikasi sebuah perintah. Pun, tak akan mungkin untuk
ditolak. Bertemu Ki Jae juga bukan masalah besar bagi Hyo Kyung.
Hyo Kyung pun berdiri.
Bersiap untuk pergi tapi Tae Soo menahannya. “Chakkaman!” pintanya. Bak
selebriti yang tengah berjalan di atas red carpet, ia mendekati Hyo
Kyung. Sekilas ia mengitari Hyo Kyung. Gayanya mirip dengan pembeli yang ingin
melihat produk baru sebuah jas yang dipajang di etalase toko. Ia baru berhenti
di depan Hyo Kyung. Ditariknya dagu Hyo Kyung dengan jari telunjuknya. Dengan
begitu wajah Hyo Kyung mengarah padanya. Nampaklah wajah pucat Hyo Kyung yang
lebih mirip wajah orang mati. Bahkan cahaya hidupnya sudah redup di sana. “Ada
apa dengan wajahmu ini?” Tae Soo menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti
menyayangkan sebuah ice cream yang baru saja terjatuh di tanah. Padahal
itu adalah ice cream kesukaannya.
“Kau…” jemarinya mulai
menggerayangi wajah Hyo Kyung. Tatapan hampa Hyo Kyung mulai memancarkan hawa
takut. Gesekan kulit Tae Soo berhasil mengintimidasinya. “Kau pilih mana?
Tersenyum atau bermain saja denganku di atas ranjang dan tidak jadi menemui
adikmu?” tenggorakan Hyo Kyung serasa tercekik. Kata-kata itu memutar video
nelangsa atas apa yang terjadi pada dirinya semalam. Ia goyah. Bersikap angkuh
sekarang bukan pilihan yang benar. Senyuman terpaksa. Itu lebih baik. Meski
hati dan batinnya teriris luar biasa. Dibentuknya sebisa mungkin ukiran bulan
sabit di bibirnya. Nampak betul dipaksakannya. Setidaknya menurut Tae Soo itu
sudah lebih baik. “Nah, ini baru benar. Inilah alasan kenapa aku memilihmu
sebagai kekasihmu, Hyo Kyung~a. Karena senyumanmu ini. Hah… rasanya seperti aku
tak pernah melihatnya dalam waktu yang sangat lama. Sering-seringlah tersenyum
seperti dulu.” Ocehan ini tak lebih seperti ancaman bagi Hyo Kyung. Mulai
sekarang ia harus bisa menjadi aktris yang jago acting dalam setiap kondisi.
Termasuk jika pun keadaannya laksana kutub Utara dan Selatan. Bertolak
belakang!
“Ka[4]!”
suruhnya lirih. Senyum tipis itu sudah memuaskannya.
Dinding di sekitar lift
itu menunjukkan betapa hancur keadaan Hyo Kyung. Bukan hanya gadis miskin,
sekarang dia adalah gembel yang teraniyaya atas kebodohannya sendiri. Seolah
dia baru saja masuk ke dalam got yang ia kira adalah lubang emas. Jika melihat
keadaannya seperti ini, tidak harus menunggu Tae Soo melenyapkan Ki Jae, bocah itu
pasti akan mengakhiri hidupnya sendiri. Dirapihkannya sebisanya rambutnya,
wajahnya dan dibenahi ekspresinya sendiri. Dadanya sangat sesak harus menahan
dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tak apa. Hanya demi Ki Jae tidak
terpukul lagi. Tak akan dibiarkannya Ki Jae terpuruk seperti 11 tahun yang
lalu. Sejak kejadian malam itu, 5 hari penuh Ki Jae tak keluar dari kamarnya.
Sekarat, dia hampir kehilangan satu-satunya orang yang paling berharga di dunia
ini untuknya. Ia tak akan membiarkan Ki
Jae kembali seperti dulu.
Pintu lift terbuka. Ki
Jae ada tak jauh dari sana. Matanya menyapu bersih lukisan abstrak di depannya.
Entah apa yang dipikirkan Ki Jae bisa sefokus itu dengan satu lukisan saja.
Padahal Hyo Kyung tak pernah tertarik dengan lukisan itu. Ada satu gambar yang
sepertinya tersembunyi di balik lukisan itu menurut Ki Jae. Walau ia sendiri
tak tahu apa itu.
“Ki Jae~ya!” panggil
Hyo Kyung senormal mungkin. Mendengar namanya dipanggil, tentu saja Ki Jae
berbalik. Ia tercengang melihat tampilan kakaknya yang lain dari biasanya.
Tidak! Bukan karena ia langsung paham dengan cuaca batin Hyo Kyung sekarang.
Hyo Kyung terlalu pandai berakting. Sedikit pun aura tersiksa tak tercium
darinya. Ini soal penampilan Hyo Kyung yang sudah persis menyamai style
orang-orang Gangnam Gu. Ia tak ingat kakaknya punya setelan baju seperti ini di
lemarinya. Dari sepatu, rok, baju, dan blazer, semuanya ganti. Bahkan make
up yang dipakainya saja kelihatan sangat berkelas. Hampir saja ia tak
mengenali kakaknya sendiri.
“Apa yang terjadi
padamu?” tanya Ki Jae heran. Yang diberikan Hyo Kyung hanya senyum simpul. “Apa
Kim Tae Soo itu menjadikanmu artis dalam waktu satu malam?” tanya Ki Jae lagi.
Artis? Dia malah tak lebih dari seorang penonton. Penonton dari apapun yang
ingin ditayangkan oleh orang gila yang bernama Kim Tae Soo itu.
“Bagaimana kau bisa
tahu tempat ini?” kini giliran Hyo Kyung yang bertanya.
“Sore ini aku ada
audisi. Sekalian aku mampir kemari. Untuk menemukan tempat seterkenal ini,
rasanya terlalu mudah.” Ada nada sindiran di sana. Hyo Kyung tak bisa mengerti
maksudnya. “Kau terlalu betah di sini. Apa dia memberimu makan emas sampai kau
bahkan tak berangkat bekerja?” ah, jadi inilah maksudnya. Sinis Ki Jae memang
belum sepenuhnya hilang bila menyangkut soal Tae Soo. Diam-diam Hyo Kyung
sendiri membenarkan adiknya. Seharusnya dari awal dia mendengarkan Ki Jae untuk
tidak mendekati Kim Tae Soo. Tapi apa yang bisa dilakukannya sekarang kecuali
hanya menyesal?
“Aku berhenti bekerja.
Sekarang aku bekerja di sini.”
“Dan kau akan pulang
jam berapa? Kalau masih bisa, aku tunggu saja. Sekalian.”
“Ani. Aku…”
“Kau tidak akan pulang
lagi?” terka Ki Jae. Dengan jelas ia membaca jawaban yang muncul di wajah Hyo
Kyung. “Kau… akan membiarkanku di rumah sendirian lagi?” pertanyaan ini lebih
terasa larangan. Lebih dari siapapun, jelas Hyo Kyung yang paling tahu. Ki Jae
tak suka sendirian. Andai ia bisa menolak permintaan Tae Soo.
“Eoh. Aku… aku akan
pulang setiap minggu.”
“Hh!” Ki Jae mendecak
tak percaya. Kecewa ia mendengar jawaban itu. Karena pun memang bukan jawaban
itu yang ia inginkan. “Apa yang kau lakukan di sini? Haruskah kau menginap?
Kau… kau sudah memberikannya? Aku benar, kan?” nada sarkas itu muncul lagi.
Sakit benar rasanya mendengar kalimat itu dari adiknya sendiri. Kali ini ia
sendiri tak bisa mengelaknya. Karena yang dikhawatirkan Ki Jae memanglah sudah
terjadi. Hyo Kyung tahu adiknya pasti sangat kecewa padanya. Ya, sesakit apapun
ia, Ki Jae pasti lebih merasa sakit.
“Pulanglah!” suara Ki
Jae merendah. “Pulanglah! Maka aku akan memaafkanmu,” pintanya getir. Menohok
keras ulu hati Hyo Kyung. Memikirkan sebesar ini kekecewaan Ki Jae, apa yang
akan terjadi jika sampai bocah ini melihat video itu? Lebih dari itu,
kehilangan Ki Jae untuk selamanya Hyo Kyung belumlah siap. Daripada kata maaf
dari Ki Jae, biarlah ia dibenci adiknya sendiri daripada harus melihatnya
menutup mata untuk selama-lamanya.
“Ki Jae~ya…”
“Ya, Han Ki Jae!”
tiba-tiba seseorang datang di antara mereka. Keduanya menoleh ke sumber suara
bergantian. Asalnya persis dari Hyo Kyung berasal tadi. Senyum malaikatnya
terbentuk sempurna, mengiringi langkahnya yang tenang bak langkah seekor
kucing. “Oh… jadi seperti inilah rupa calon adik iparku?”
Ki Jae memang pernah
melihat wajah Kim Tae Soo sekilas saat jalan dengan Hyo Kyung. Tepat saat ia
tahu kalau kakaknya sudah menggaet seorang pria. Tapi, melihatnya dari jarak
sedekat ini, sekarang ia mengerti mengapa kakaknya begitu tergila-gila
dengannya. Setampan-tampannya artis internasional di negaranya, rasanya tak ada
yang menandingi wajah Tae Soo. Tanpa make up, dan yang paling penting
tak ada polesan silikon di sana. Jo Woo Hyun, satu-satunya orang yang ia akui
kegantengannya, ternyata kalah oleh seorang Kim Tae Soo. Apa orang ini manusia?
Ki Jae benar-benar tak menyangka ada orang setampan ini di dunia nyata.
“Wah, kau benar-benar
tampan. Wajahmu lebih mirip dengan Han Hyo Kyung. Apa kau kkot minam[5]
di sekolahmu? Kau pasti sangat populer di kalangan gadis-gadis ya.” Ki Jae sama
sekali tak tertarik dengan pujiannya. Tampilan dan sikap ramahnya membuatnya
makin sinis menanggapinya. Tae Soo sendiri paham akan hal itu. Karenanya
melanjutkan sikap ramah tamahnya sepertinya akan sia-sia. Set! Dia akan
berrevolusi ke mode biasa. “Ah… soal nunamu. Dia mulai sekarang akan bekerja di
sini. Dia akan pulang satu minggu sekali. Hah… di sini sangat banyak pekerjaan
yang harus dia lakukan. Selain itu, aku membutuhkannya untuk selalu di
sampingku,” jelasnya sembari merangkul pundak Hyo Kyung. Untuk alasan yang
belum Ki Jae sadari sendiri, ia sangat tak menyukai pria ini. Karena apa? Ia
sendiri tak bisa menjawabnya.
“Apakah Anda begitu
menyukainya? Hyo Kyung nuna,” selidik Ki Jae. Tae Soo melepas rangkulannya.
Senyumnya yang tadi hanya seadanya kini terlihat lebar sekali.
“Tentu saja. Aku sangat
menyukainya,” jawabnya mantap. Tapi ia tak berhasil menarik minat Ki Jae.
Tatapan benci Ki Jae padanya masih membuncah. Bahkan saat mengucap, “Kalau
begitu, perlakukanlah dia dengan baik. Tolong,” tak ada nada meminta tolong
sama sekali. Malah terkesan dingin. Menunduk pamit saja paling hanya 20
derajat. Lukisan di sampingnya memang menarik. Mengapa pemiliknya tak semenarik
yang dia pikirkan?
Sebelum benar-benar
keluar dari sana, Hyo Kyung berlari menghampirinya. “Ini. Untuk ongkos pulang,”
ujarnya memberikan beberapa lembar won[6]
pada Ki Jae. Bukannya menerima, malah senyum sinis yang diberikan Ki Jae. “Itu
gaji yang kau dapatkan?” sindirnya. Sekali lagi ia melirik ke arah Tae Soo yang
memunculkan senyum separuhnya. “Perlakukan saja orang itu dengan baik. Lupakan
saja kalau kau masih punya adik!” sentaknya dan pergi tanpa menerima uang itu
dari Hyo Kyung. Satu langkah kepergian Ki Jae baru bisa mengeluarkan setetes
air dari mata Hyo Kyung. Dadanya sesak luar biasa. Sedang Tae Soo di sana masih
menyaksikannya. “Orang yang menarik,” gumamnya datar. Ia baru akan menghampiri
Hyo Kyung dan menariknya kembali ke atas kalau saja ponselnya tak berdering. Jo
Woo Hyun.
“Eoh? Sudah sampai?
Baiklah, aku akan segera ke sana.”
***
Mata gadis itu
mengerjap sesaat. Menyamakan intensitas cahaya yang masuk berlebihan ke
retinanya. Yang didengarnya pertama kali adalah suara air. Begitu pandangannya
sepenuhnya kembali, yang ia lihat adalah ruangan mewah dengan perabotan
berkelas. Suara air tadi adalah suara air mancur yang ada di belakangnya.
Bagaimana ia bisa ada di sini, ia sama sekali tak tahu. Yang ia ingat adalah,
ia akan ikut audisi. Saat ia masuk ke kamar mandi, ada seseorang yang membekap
mulutnya dengan sesuatu yang menusuk penciumannya. Setelah semuanya gelap, ia
tersadar dan ada di sini.
Sepenuhnya kesadarannya
mulai kembali. Posisinya duduk di kursi dari patung ini, dengan tangan terikat
di belakang dan kaki yang bernasib sama. Meski ruangan ini terlalu keren hanya
untuk menyekap seorang tawanan, tapi perlahan rasa takut mulai menjalarinya.
Bahkan tak berani ia berteriak. Hanya matanya saja yang menyisir, memastikan
apakah orang yang tadi membekapnya ada di sekitar sini.
Tlit… tlit… sepertinya ada seseorang yang baru masuk. Pintu
memang tak jauh darinya. Hingga ia bisa melihat saat-saat pintu itu terbuka
pelan dan masuklah seseorang berpanthopel. Ia cukup terkejut. Bukan
siapa-siapa, ternyata orang yang cukup ia kenal yang masuk ke sana.”Tae Soo
Oppa?” panggilnya tak percaya. Tae Soo yang baru mengganti panthopelnya dengan
sandal rumah, memberi senyum malaikatnya. “Kau menculikku, Oppa?” tanyanya tak
percaya. Saking sudah akrabnya ia dengan Tae Soo, rasa takutnya hilang. Bahkan
ia mendecak tak percaya. Menganggap yang dilakukan Tae Soo sangat
kekanak-kanakan.
“Ani. Justru akulah
yang menyelamatkanmu dari penculik itu, Oh Chae Rim,” jawab Tae Soo. Percaya
tak percaya dengan omongannya, setidaknya Chae Rim merasa tertolong. Tae Soo
adalah sahabat Chae Ryeong, kakaknya. Satu-satunya mitra kerja yang paling
akrab dengan Tae Soo, karena mereka sudah saling mengenal saat kuliah. Chae Rim
sendiri pernah menaruh rasa pada Tae Soo. Walaupun Tae Soo tak pernah
memperhatikannya sama sekali.
“Kalau begitu cepat
lepaskan ini!” pintanya sedikit menghardik. Senyum malaikat Tae Soo berubah.
Menjadi senyum spesialnya, senyum separuh yang tak bisa didapati di wajah
manapun. Ia tak menggubris pinta Chae Rim, malah masuk ke dalam. Ia kembali
membawa sebuah pisau dapur dan buku gambar plus pensilnya. Diletakkannya pisau
dan buku gambar itu di meja ruang tamu. Berjarak sekitar 3 meter membelakangi
Chae Rim. “Apa yang kau lakukan, Oppa? Cepat lepaskan ini dulu!” protes Chae
Rim yang merasa diabaikan Tae Soo. Tae Soo masih enggan berbalik. Ia duduk,
meruncingi pensilnya yang tumpul.
“Kau tahu, Chae Rim?
Minggu lalu, Chae Ryeong bercerita soalmu padaku.”
“Apa yang dikatakannya?
Apa dia mengeluh soal aku yang meminta uang padanya?” tanggap Chae Rim cepat.
Mempertahankan senyuman Tae Soo lebih lama.
Minggu lalu, Chae
Ryeong memang menemuinya. Setelah rapat soal pameran yang akan dilaksanakan
satu bulan lagi di Vietnam, ia mengajak Tae Soo untuk pergi minum sebentar.
Dalam keadaan setengah mabuk, seperti biasa, mulut Chae Ryeong akan bicara
macam-macam. “Kau tahu? Chae Rim membuatku kesal lagi hari ini,” ujarnya dengan
gestur yang berubah-ubah, pengaruh alkohol. Tanpa harus dijawab pun, Chae
Ryeong pasti akan melanjutkan ceritanya. Tae Soo memilih menikmati wine-nya
sedikit demi sedikit, sambil menikmati alunan musik jazz yang
dinyanyikan oleh penyanyi wanita yang cukup seksi. Pakaiannya sangat minim,
menampakkan hampir keseluruhan kaki putihnya. Bajunya tanpa lengan. Tae Soo
mendecih karena merasa wanita itu nyaris telanjang.
“Dia meminta uang
padaku. Dia akan ikut audisi. Padahal tahun lalu dia sudah gagal. Dan… dan dia
meminta uang padaku untuk melakukan operasi plastik. Anak itu pasti sudah
gila!”
“Wae? Apa Chae Rim tak
percaya diri? Kurasa dia cukup cantik,” Tae Soo menanggapinya. Meski matanya
tak lepas dari wanita penyanyi itu. Terlebih wanita itu mulai bermain mata
dengannya. Jarak duduk mereka terlalu dekat. Tampilan Tae Soo yang menyamai hallyu
star[7].
Pandangan pertama pasti akan menarik
mata wanita manapun.
“Kau benar. Dia sudah
cukup cantik. Tapi dia tak pernah sadar, kenapa dia tidak lolos audisi. Itu
bukan karena wajahnya! Tapi dia memang tak punya bakat! Ah… aku lelah sekali
mengurusi bocah satu itu!” selanjutnya Chae Ryeong terus mengoceh. Dia sudah
sepenuhnya mabuk, sampai Tae Soo harus memanggil supir bayaran untuk
mengantarnya pulang malam itu.
“Mwo? Dia mengataiku
tidak punya bakat? Hah!” decak Chae Rim tak percaya dengan cerita Tae Soo. “Dia
saja yang pelit! Uangnya segudang! Tapi tidak pernah mau membuat adiknya lebih
cantik sedikit. Untuk apa uang sebanyak itu dia timbun setiap hari? Apa dia mau
masuk ke liang lahat bersama uangnya itu? Dasar Oppa tak berguna!” Tae Soo sama
sekali tak peduli dengan celotehan gadis berambut pendek itu. Ia asyik dengan
pensilnya. Sudah cukup runcing. Haruskah ia memeriksa ketajaman pisaunya sekarang?
“Oppa! Apa yang kau
lakukan? Cepatlah bukakan ini! Kau menceritakan hal yang tak berguna!” hardik
Chae Rim lagi. Tae Soo akhirnya berdiri. Ia siap dengan pisau dapurnya. Seperti
memegang mainan baru, pisau di tangannya itu ia timang-timang dengan senangnya.
Melihat ekspresi wajahnya hampir Chae Rim mengatainya gila. “Kau… apa kau suka
dengan pisau dapur?” tanya Tae Soo lagi.
Meski merasa orang ini
sudah membicarakan hal yang tak penting, Chae Rim tetap menjawabnya. “Aniya!
Aku tak suka memasak! Jadi untuk apa aku menyukainya?” nadanya sangat ketus.
Tapi Tae Soo tak terusik akan hal itu. Malah senyum separuhnya itu makin betah
ada di wajah tampannya.
“Chae Rim~a!”
panggilnya seraya mendekati Chae Rim selangkah demi selangkah. “Oppa akan
membuatmu menjadi cantik seperti yang kau inginkan.”
“Benarkah? Kau akan
memberiku uang untuk operasi plastik?” tanya Chae Rim polos. Sama sekali ia tak
resah dengan pisau di tangan Tae Soo itu. Tepat sejengkal, Tae Soo berhenti. Ia
masih suka melempari tatapan judes Chae Rim dengan senyumannya.
“Bukan. Aku akan
membantumu lebih cantik dengan pisau ini,” jawabnya sambil terkekeh pelan.
***
Di antara lalu-lalang
orang-orang, Hyo Kyung hanya duduk seorang diri di depan gedung milik Tae Soo.
Wajahnya yang ayu begitu sendu menatap langit yang terlalu biru baginya. Jejak
aliran air di pipinya masih nampak jelas. Tersapu angin, dan makin keringlah
jejak itu. Desahan pelan dari tenggorokannya membuktikan bahwa sangat sulit
untuk melepaskan sesak di dadanya. Terbayang lagi wajah Ki Jae yang sangat
marah padanya. Akankah adiknya sendiri membencinya setelah ini? Ia tak berani
menebaknya.
Menghindar sebentar
dari Tae Soo sepertinya tak bisa. Ia baru 1 jam di sini, tapi ponselnya sudah
bergetar. Panggilan dari Tae Soo. Ia sendiri cukup heran, Tae Soo mau
membiarkannya selama 1 jam lamanya sendirian. “Ne?” jawabnya merespon panggilan
itu.
“Hyo Kyung~a, jigeum
eoddiya?[8]”
suara khas Tae Soo terdengar. Lembut dan bernada sangat santai.
“Aku ada di depan
gedung. Aku akan segera ke sana.”
Hyo Kyung baru saja
berdiri. Ia pikir Tae Soo akan segera mematikan telponnya. “Daripada ke
ruanganku, pergilah ke tempat tinggalku di lantai 12!” titahnya.
“Waeyo?”
“Aku… punya kejutan
lagi untukmu,” dan setelah itu Tae Soo mematikannya. Hyo Kyung tak sepenuhnya
paham dengan maksudnya. Daripada memahami hal itu, ia lebih resah dengan
perasaannya yang tiba-tiba tak enak. Ada suara lirih yang mengatakan, bahwa
yang dimaksud Tae Soo bukanlah sesuatu yang baik. Andaikan mau menolak, sekali
lagi, mana dayanya? Posisinya sekarang bukan hanya sekedar kekasih Tae Soo.
Tapi boneka tali yang siap untuk dimainkan pemiliknya kapanpun ia mau. Walau
debaran jantungnya terus saja terasa saat ia mulai memasuki lift dan menekan
angka 12, ia harus pergi ke sana.
Kali pertama ia memasuki
rumah Tae Soo. Selama ini, ia hanya menemui Tae Soo di ruangannya. Itu pun
karena memang Tae Soo lebih banyak menghabiskan waktu di sana. Hanya ada satu
pintu begitu lift terbuka. Karena pintu itu pun sudah sedikit terbuka, Hyo
Kyung tak memerlukan sandi untuk membukanya.
Langkah pertama sudah
membuat Hyo Kyung ketar-ketir. Belum lagi ada bau yang sangat mengusiknya. Imajinya
menampilkan berbagai gambar yang terekam saat ia melahap habis tayangan yang
diberikan Tae Soo malam itu. Dan jika indera penciumannya memang bekerja dengan
baik, maka gambar-gambar itu tak salah sama sekali. Hanya ia harus menemukannya
dalam bentuk nyata. Dimana? Ia bahkan mencarinya walaupun ia sangat ketakutan.
Lantai keramik ini berwarna putih. Tapi beberapa warna kemerahan yang berbentuk bercak-bercak ini mengotorinya. Makin jauh, makin banyaklah bercak-bercak itu. Bahkan kini berubah menjadi genangan. Semakin ditelusuri, adalah sumber dari genangan ini yang terlihat. Bruk! Kedua kaki Hyo Kyung melemas menyaksikan si pemilik genangan itu. Adalah tubuh wanita dengan pakaian glamor yang sudah terbungkus warna merah di sekujurnya. Bahkan warna merah itu ikut menggenang bersama dengan air dari air mancur yang ada di belakangnya. Tubuh itu sudah tak dinaungi setetes nyawa pun. Hal itu bisa dipastikan dengan mengerikannya bentuknya sekarang. Sebuah pisau dapur yang menancap di mata kirinya. Darah segar terus saja mengucur dari sana. Hyo Kyung tak bisa menebak bentuk wajah aslinya karena semuanya sudah penuh luka. Dan di bagian dadanya lubang besar sudah terbentuk. Jika itu hanya sebuah lubang di pakaiannya, maka tak akan mungkin air merah kental itu bisa mengotori seluruh tubuhnya. Ada yang melubanginya sampai tembus ke jantungnya. Dan Hyo Kyung jelas yakin bahwa ini adalah perbuatan Tae Soo. Entah mengapa, ia sendiri tak mengerti. Untuk apa pula dia harus membekap mulutnya dan melarang teriakan keras keluar dari sana? Dan sebagai gantinya, tubuhnya mendingin. Sayangnya ia tetap sadar, sehingga ia terus saja menyaksikan tubuh malang ini memuntahkan seluruh darah yang ada di dalamnya.
Sebelumnya Selanjutnya