Tuesday, January 14, 2020

Kejutan Selanjutnya


Malam itu langit mengamuk. Berbagai jenis petir ia lempar ke bumi. Disayat-sayat pula kantung air yang menggelap itu. Hingga tumpahlah semua isinya ke bawahnya. Tiap turunnya merutukki apa-apa saja yang menimpanya. Beriringanlah angin yang menyumpah serapahi rumput dan pepohonan.
Batang besar di depan rumah ambruk. Menimpa kandang anjing dan matilah si pemiliknya. Sehingga makin lengkaplah nistanya malam itu.

Dalam rumah dengan batang besar yang sudah limbung itu ada bocah yang memeluk lutut. Usianya baru 7 tahun. Di depannya lilin kecil dengan api yang dipermainkan angin. Matanya sendu tapi ia tak ingin menambah deras air yang tumpah di luar. Sehingga pun ia memilih diam. Baju tipisnya mendinginkan setiap persendian tulangnya. Dia terlalu lengket di lantai itu. Sampai-sampai ia tak berdaya untuk bangun, sekedar untuk mengambil selimut agar menghalau ngilu-ngilu itu. Masih betah di sana. Sampai ada seseorang yang masuk, menganggetkannya dengan gaya menjeblak pintu yang cukup mengejutkannya.

Yang masuk adalah gadis 11 tahun yang di tangannya sudah membawa pemilik rumah kecil yang ambruk tadi. Bocah kecil itu menatap anjing yang cukup dikenalnya dengan baik. Ia masih belum bertanya. Sedang gadis itu mulai tertunduk melihat bocah itu masih menatapi kedatangannya yang seperti baru saja masuk ke sumur. Dari ujung kaki sampai ke rambut panjangnya membasahi lantai. Kakinya yang berlumpur memberikan penjelasan pada bocah yang belum sempurna cara berpikirnya itu bahwa gadis ini sejak di luar tidak beralas kaki. Apalagi ada darah yang mengalir di sela-sela ibu jari dan telunjuk jari kaki kanannya.

Beralih dari anjing itu, bocah itu mencari sesuatu yang lain yang mungkin dibawa gadis itu. Kalaupun ada, rasanya tak mungkin tersembunyi. Karena masalahnya kedua tangannya membopong anjing malang itu. “Kue ulang tahunku?” suaranya parau. Ia masih beenergi untuk menahan letupan air di matanya yang siap melompat. Ia akan menahannya, setidaknya sampai gadis itu berucap sesuatu. Menunggu terlalu lama, gadis itu malah membalas tatapan menuntutnya dengan nanar. Seberapa banyak ia mencoba menjelaskan dengan mata itu, bocah itu tetap tak bisa mengerti. “Mana?!” sentaknya lebih keras. Energinya yang dikeluarkannya terlalu banyak hanya untuk menahan air di matanya. Sehingga matanya kini memerah, dengan banyak air yang menggenang di sana-sini.

“Ki… Ki Jae~ya…” rintih gadis itu. Mulutnya tak mau diajak kompromi. Ada lem super kuat yang hanya mempersilahkannya mengatakan hal itu.

Sedang bocah itu mulai merintih dengan isakannya. “Eomma[1]?” kian deraslah air-air yang turun sekarang. Tidak di luar, di sini pun demikian. “Eomma do eoddi[2]?!” suaranya yang parau kini melengking, menusuk dalam ke ulu hati gadis itu. Batinnya gerimis melihat bocah itu menangis sesenggukan. Tapi pun ia tak bisa menjawab kedua pertanyaanya.

***

“Eomma… nuna, eomma di mana? Kenapa Cocho mati? Nuna… eomma… eomma…” bibir merah Ki Jae tak henti-hentinya bergetar. Padahal matanya masih sempurna tertutup. Tapi lelehan dari sana tak henti-hentinya mengalir. Matanya baru mengerjap terbuka ketika suara ponsel di sampingnya terdengar. Sadarlah ia, dia sudah ada di kamarnya. Usai menghapus air matanya, dilihatnya ponselnya yang terus saja meraung-raung minta diperhatikan. Ada panggilan masuk.

“Eoh, Song Yi~ya?” suaranya bahkan seserak suaranya yang di dalam mimpi. “Wae?”

“Kau tidak berangkat sekolah? Apa kau sakit?” terdengar nada khawatir di sana. Ki Jae tersenyum simpul mendengarnya. Gadis itu selalu saja mengkhawatirkannya. Jika dia boleh menjawab jujur, dia akan menjawabnya, “Ya, aku sakit. Sangat sakit!” tapi tentu saja dia tak akan mengatakannya. Karenanya yang ia katakan hanya, “Aku akan pergi. Mungkin sedikit terlambat. Aku kesiangan.” Dan Song Yi tak akan memikirkan hal yang lain.

***

Baru sepagi ini, dan hanya beberapa orang saja yang sudah duduk dan membaca satu buku. Di sini memang tak dibolehkan untuk berisik. Tapi setidaknya, berkurangnya jumlah orang yang ada, membuatnya lebih sunyi dari biasanya. Terlebih dengan suasana pagi yang menghangatkan ruangan. Menguapkan bau buku yang baru ditata rapi oleh Woo Hyun. AC-AC baru dihidupkan. Debu-debu yang bergumul di ruangan mulai berterbangan sembarangan. Bermukim di sudut-sudut lain yang jauh dari hempas dinginnya. Kini yang terdengar hanya suara jemari Woo Hyun yang mencumbui tuts-tuts keyboard komputer di bagian peminjaman buku. Matanya sibuk, berpindah dari layar ke bagian punggung buku di sampingnya. Satu per satu tumpukan buku baru itu berkurang.

Fokusnya diusik salah satu haksaeng yang baru saja keluar dari lorong-lorong rak buku di depan. “Dua buku, Saem[3],” katanya. Woo Hyun tersenyum demi melihat senyum cerah gadis itu. Ia cukup mengenalnya. Apalagi name tag di seragamnya jelas menunjukkan siapa namanya.

“Kau tidak bersama Ki Jae?” tanyanya sambil men-scan dua buku itu ke benda kecil yang mengeluarkan cahaya merah. Persis seperti di meja kasir supermarket, maka akan muncul judul dan pengarang buku di layar komputer. Tangannya kemudian meminta kartu pelajarnya.

“Dia bilang dia akan telat, Saem,” jawab Song Yi sambil mengulurkan kartu pelajarnya. Woo Hyun tak bertanya lagi. Ia memang disukai haeksaeng perempuan di sini. Tapi sekalipun Song Yi tak pernah tertarik dengannya. Dia cukup maklum, karena dia sendiri pun tahu bocah ini menyukai Ki Jae, salah satu murid yang paling dekat dengannya karena seringnya dia berkunjung kemari.
“Kamsahamnida,” ucap Song Yi setelah Woo Hyun menyerahkan dua buku itu. Ia sendiri lagi. Diliriknya jam, masih belum genap jam 7.15. Dia masih punya waktu tersisa 9 jam. Dia akan menutup perpustakaan tepat pukul 3. Bukankah hari ini dia punya tugas? Satu foto yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Gadis berambut panjang ini mengingatkannya pada Song Yi. Gadis ini… goresan baru untuk Tae Soo.

“Kenapa kau mau meletakkan mayat Soo Min di sana? Tidakkah kau akan melenyapkannya seperti biasa?” semalam ia bertemu dengan Tae Soo. Ia cukup heran karena Tae Soo memberinya tugas untuk mengganti gadis dalam foto itu dengan mayat Soo Min.

Malam tadi mereka di rumah Tae Soo. Apartement paling mewah yang ada di gedung miliknya. Lantai teratas, lantai 12. Sejak membuka lift saja, akan langsung ada pintu yang menghubungkannya. Jika melihat perabot, desain dan luasnya ruangan ini, pasti semua orang akan merasa iri. Ada air mancur kecil di tengah ruangan paling besar setelah masuk ke dalam sini. Kalau melihat bentuk patung di dekat air mancur itu, semua hanya akan menganggapnya tempat duduk. Tapi siapa yang tahu itu adalah tempat paling pas untuk mengeksekusi korban-korban Tae Soo.

“Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya bosan membuat daftar orang hilang di kantor kepolisian. Aku ingin membuat mereka menambah daftar orang mati saja di sana. Sepertinya lebih menyenangkan,” kata-kata Tae Soo sama sekali tak bernada. Datar saja. Seperti orang yang baru saja belajar mobil di jalan lurus. Atau jika membandingkannya dengan seorang seperti Tae Soo, datarnya itu persis dengan garis lurus pendeteksi detak jantung. Kadang-kadang Woo Hyun sendiri sempat berpikir, orang ini pasti sudah mati di masa lalu. Sampai ia bisa berdiri lagi dan kini hanya menjadi mayat hidup. 

Opininya bukan tidak berdasar. Menampik bagaimana caranya bicara, wajahnya sendiri mirip orang mati. Kebencian dan marah yang biasanya ia keluarkan pun terasa hampar. Seolah Tae Soo sendiri tak pernah paham makna dari setiap ekspresi dan kalimat yang ia ungkapkan.

“Lagipula…” lanjut Tae Soo lagi. “… aku hampir selesai. Akan kubiarkan polisi lebih cepat menemukanku.” Woo Hyun cukup tertegun melihat senyum separuhnya. Apa dia bercanda? Dia ingin polisi menemukannya? Padahal dia selalu bilang akan melengkapi koleksi gambarnya sampai 99 dulu. Sebelumnya pun ia tak pernah bilang akan mengakhiri hidupnya di balik jeruji penjara. “Tapi, kau tetap tak boleh membiarkan mereka menemukan bukti untuk 30 orang sisanya nanti.”

“30?”

“Ah, apa aku belum bilang padamu? Han Hyo Kyung, gadis itu. Dialah goresan ke 99 yang selama ini aku cari.” Dan begitulah bagaimana Woo Hyun mengerti mengapa gadis itu masih dibiarkan hidup oleh Tae Soo. Apakah gadis itu pun sudah tahu dia berada di nomor berapa, Woo Hyun bertanya-tanya. Alasan Tae Soo memilihnya sebagai yang ke 99, dia sendiri tak pernah tahu. Mendengar Tae Soo akan segera menyerahkan dirinya, otaknya berpikir sangat jahat. Tiga puluh orang yang tersisa itu, dia ingin sekali agar mereka segera terbunuh di tangan Tae Soo. Sehingga ia sendiri akan punya kesempatan menebus dosa-dosanya karena sudah menyembunyikan penjahat sakit jiwa seperti Kim Tae Soo itu.

***

Terlalu banyak orang yang mau menjadi selebriti. Dari anak kecil sampai yang sudah cukup berumur sekalipun. Mereka semua talenta. Bernyanyi, menari, rap, dan semacamnya. Meski cukup gugup melihat semua orang yang ada di sini, Ki Jae tersenyum senang. Beginilah rasanya berkompetensi. Tak lama lagi, dia pasti menjadi bintang!

Apa yang bisa dilakukannya adalah menari. Ia cukup lama berlatih. Atau bahkan sejak ia menginginkan panggung megah di depan para penggemar, ia sudah belajar menari. Dengan headseat yang tercantol di telinganya, ia melakukan gerakan-gerakan yang cukup mengagumkan.

Namanya masih cukup lama dipanggil. Karenanya ia akan berlatih lebih lama. Itu akan terjadi kalau saja keributan tiba-tiba tidak terjadi. “Aaa…!!!” seseorang berteriak begitu kencangnya dari dalam toilet. Tak hanya ia yang penasaran, semuanya buru-buru berlari untuk memenuhi rasa penasaran mereka. Asalnya dari toilet wanita. Jadilah, yang laki-laki hanya saling bertanya di luar toilet. Saat wanita-wanita itu masuk dan malah teriakan makin menjadi, Ki Jae menerobos masuk di antara kumpulan orang-orang itu. Saat ia masuk, wanita-wanita itu sudah bergidik ngeri meratap ke dinding. Bahkan ada sampai yang muntah-muntah. Salah satu bilik yang mereka lihat bersama-sama. Ki Jae cukup penasaran. Hampir saja ia ikut berteriak melihat apa yang terduduk di atas toilet itu. Sebuah mayat dengan luka yang sudah mengering di dadanya.

***

Ini adalah kali pertama Ki Jae ke kantor polisi. Terlebih di Gangnam Gu. Karena audisi pun tidak dilanjutkan, ia tak masalah jika digelandang sebagai saksi. Tentu bukan hanya dirinya. Tapi, karena dia yang menghubungi polisi tadi, maka semua orang sudah pulang lebih dulu darinya. Tadi polisi sudah meminta banyak keterangan darinya. Sekarang ia hanya menunggu izin dari polisi untuk pergi. Dengan menyaksikan dulu bagaimana ramainya tempat ini. Kriminal-krimanl yang mengamuk, dan keluarga-keluarga korban yang menangis. Uh… Ki Jae benar-benar tak nyaman berada di sini.

“Haksaeng!” seorang polisi yang tadi mewawancarainya memanggilnya. Ki Jae segera berdiri karena ia pun mendekatinya. “Kau boleh pulang. Terima kasih atas kesaksianmu,” ujarnya. Polisi itu hampir pergi, tapi Ki Jae menghentikannya.

“Apa… Anda tahu dimana galeri lukis Gangnam milik seseorang bernama Kim Tae Soo?” tanyanya. Polisi itu bukannya menjawab pertanyaan itu malah memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Apa… kau punya hubungan tertentu dengannya?”

“A, aniyo. Aku hanya ingin melihat-lihat lukisannya. Kudengar dia melukis dengan baik,” jawab Ki Jae berbohong. Tujuannya bertanya soal galeri itu, tentu saja dia ingin bertemu dengan Hyo Kyung. Tapi apa polisi ini akan percaya kalau dia adalah adik dari pacar pemilik galeri terbesar itu. Dia sendiri tak begitu bangga akan status itu.

“Galerinya ada di Apgujeong Dong. Kalau kau naik taksi, dan memberi tahu kemana kau akan pergi, maka kau akan sampai di sana.”

“Ya, Baek Ji~ya! Kemarilah!” polisi lainnya memanggil polisi di depan Ki Jae ini. Ki Jae menunduk sedikit saat ia pergi dari hadapannya. Dilihatnya isi kantongnya. Ada sedikit uang untuk naik taksi. Apgujeong Dong. Tidak akan menghabiskan banyak uang untuk tempat yang cukup dekat.

“Dia bertanya soal Tae Soo?” tanya Won Geun melihat Ki Jae yang mulai keluar dari kantor kepolisian. Baek Ji mengangguk menjawab pertanyaannya. “Tapi dia hanya bilang akan mengunjungi galerinya karena tertarik dengan lukisannya.”

“Enam hari menghilang dan kita menemukan tubuh Min Soo Min di toilet saat audisi. Apa dia ingin ikut audisi?” gumam Soo Jin. Baek Ji dan Won Geun hanya menggeleng-geleng mendengarnya.
Dan persis seperti yang dikatakan Baek Ji tadi. Ki Jae menaiki taksi. Hanya butuh beberapa menit ia sudah sampai di sebuah gedung berlantai 12 di kawasang Apgujeong itu. Jadi di sinilah kakaknya sering berkunjung. Gedung yang cukup megah. Melihat banyaknya orang yang masuk ke dalam sana, sepertinya memang benar bahwa Kim Tae Soo adalah pelukis yang cukup terkenal.

Orang-orang Apgujeong memang lain. Tak beda dari Hyo Kyung, Ki Jae cukup heran melihat tampilan mereka. Dari depan saja, ia sudah merasakan aura orang kaya dimana-mana. Dua petugas yang berseragam sama berdiri di meja resepsionis. Ki Jae cukup tertarik dengan lukisan-lukisan yang dipajang. Dua petugas itu tak menarik minatnya untuk bertanya, dimana kakaknya berada. Lagipula, dia ingin mencarinya sendiri. Bukankah kemungkinan kakaknya ada di sini belum pasti. Walaupun tadi malam ia menginap, bisa saja dia sekarang bekerja. Karena kebetulan lokasinya tadi pun lebih dekat kemari, ia langsung saja kemari. Kalaupun ia tak bertemu kakaknya, bisa bertemu dengan Tae Soo mungkin lumayan juga. Setidaknya dia ingin melihat laki-laki macam apa yang mengencani kakaknya.

Di lantai 4, Tae Soo tersenyum memperhatikan layar komputer yang menampilkan video-video di beberapa lantai. Tentu saja lantai 1 yang menjadi objek fokusnya. Bocah 18 tahun itu pernah ia lihat sekilas di foto yang ada di dompet Hyo Kyung. Kalau melirik Hyo Kyung yang duduk diam di sofa sana, keduanya cukup pas untuk dibilang kakak adik. “Hyo Kyung~a!” panggilnya. Awalnya Hyo Kyung tak menoleh. Sudah berkali-kali hari ini Tae Soo memanggilnya seperti itu tapi tak punya tujuan. Hanya sekedar memanggilnya. Kali ini pun, mungkin mengabaikannya tak jadi masalah. “Kurasa adikmu merindukanmu.” Barulah mendengar kata adik, Hyo Kyung bereaksi. Senyum separuh Tae Soo  sudah muncul saat ia mulai mengangkat kepalanya.

“Kau mau menemuinya? Sepertinya aku tak bisa mengizinkanmu padanya lagi. Kau harus mengatakannya sendiri. Aku menyuruhmu untuk tinggal di sini, dan mengizinkanmu pulan setiap seminggu sekali, kan? Jelaskan padanya, mumpung ia ada di sini.” Kini Hyo Kyung mengerti. Ki Jae memang mengunjunginya. Ketimbang sebuah pertanyaan, kata-kata Tae Soo tadi lebih berindikasi sebuah perintah. Pun, tak akan mungkin untuk ditolak. Bertemu Ki Jae juga bukan masalah besar bagi Hyo Kyung.

Hyo Kyung pun berdiri. Bersiap untuk pergi tapi Tae Soo menahannya. “Chakkaman!” pintanya. Bak selebriti yang tengah berjalan di atas red carpet, ia mendekati Hyo Kyung. Sekilas ia mengitari Hyo Kyung. Gayanya mirip dengan pembeli yang ingin melihat produk baru sebuah jas yang dipajang di etalase toko. Ia baru berhenti di depan Hyo Kyung. Ditariknya dagu Hyo Kyung dengan jari telunjuknya. Dengan begitu wajah Hyo Kyung mengarah padanya. Nampaklah wajah pucat Hyo Kyung yang lebih mirip wajah orang mati. Bahkan cahaya hidupnya sudah redup di sana. “Ada apa dengan wajahmu ini?” Tae Soo menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti menyayangkan sebuah ice cream yang baru saja terjatuh di tanah. Padahal itu adalah ice cream kesukaannya.

“Kau…” jemarinya mulai menggerayangi wajah Hyo Kyung. Tatapan hampa Hyo Kyung mulai memancarkan hawa takut. Gesekan kulit Tae Soo berhasil mengintimidasinya. “Kau pilih mana? Tersenyum atau bermain saja denganku di atas ranjang dan tidak jadi menemui adikmu?” tenggorakan Hyo Kyung serasa tercekik. Kata-kata itu memutar video nelangsa atas apa yang terjadi pada dirinya semalam. Ia goyah. Bersikap angkuh sekarang bukan pilihan yang benar. Senyuman terpaksa. Itu lebih baik. Meski hati dan batinnya teriris luar biasa. Dibentuknya sebisa mungkin ukiran bulan sabit di bibirnya. Nampak betul dipaksakannya. Setidaknya menurut Tae Soo itu sudah lebih baik. “Nah, ini baru benar. Inilah alasan kenapa aku memilihmu sebagai kekasihmu, Hyo Kyung~a. Karena senyumanmu ini. Hah… rasanya seperti aku tak pernah melihatnya dalam waktu yang sangat lama. Sering-seringlah tersenyum seperti dulu.” Ocehan ini tak lebih seperti ancaman bagi Hyo Kyung. Mulai sekarang ia harus bisa menjadi aktris yang jago acting dalam setiap kondisi. Termasuk jika pun keadaannya laksana kutub Utara dan Selatan. Bertolak belakang!

“Ka[4]!” suruhnya lirih. Senyum tipis itu sudah memuaskannya.

Dinding di sekitar lift itu menunjukkan betapa hancur keadaan Hyo Kyung. Bukan hanya gadis miskin, sekarang dia adalah gembel yang teraniyaya atas kebodohannya sendiri. Seolah dia baru saja masuk ke dalam got yang ia kira adalah lubang emas. Jika melihat keadaannya seperti ini, tidak harus menunggu Tae Soo melenyapkan Ki Jae, bocah itu pasti akan mengakhiri hidupnya sendiri. Dirapihkannya sebisanya rambutnya, wajahnya dan dibenahi ekspresinya sendiri. Dadanya sangat sesak harus menahan dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tak apa. Hanya demi Ki Jae tidak terpukul lagi. Tak akan dibiarkannya Ki Jae terpuruk seperti 11 tahun yang lalu. Sejak kejadian malam itu, 5 hari penuh Ki Jae tak keluar dari kamarnya. Sekarat, dia hampir kehilangan satu-satunya orang yang paling berharga di dunia ini  untuknya. Ia tak akan membiarkan Ki Jae kembali seperti dulu.

Pintu lift terbuka. Ki Jae ada tak jauh dari sana. Matanya menyapu bersih lukisan abstrak di depannya. Entah apa yang dipikirkan Ki Jae bisa sefokus itu dengan satu lukisan saja. Padahal Hyo Kyung tak pernah tertarik dengan lukisan itu. Ada satu gambar yang sepertinya tersembunyi di balik lukisan itu menurut Ki Jae. Walau ia sendiri tak tahu apa itu.

“Ki Jae~ya!” panggil Hyo Kyung senormal mungkin. Mendengar namanya dipanggil, tentu saja Ki Jae berbalik. Ia tercengang melihat tampilan kakaknya yang lain dari biasanya. Tidak! Bukan karena ia langsung paham dengan cuaca batin Hyo Kyung sekarang. Hyo Kyung terlalu pandai berakting. Sedikit pun aura tersiksa tak tercium darinya. Ini soal penampilan Hyo Kyung yang sudah persis menyamai style orang-orang Gangnam Gu. Ia tak ingat kakaknya punya setelan baju seperti ini di lemarinya. Dari sepatu, rok, baju, dan blazer, semuanya ganti. Bahkan make up yang dipakainya saja kelihatan sangat berkelas. Hampir saja ia tak mengenali kakaknya sendiri.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Ki Jae heran. Yang diberikan Hyo Kyung hanya senyum simpul. “Apa Kim Tae Soo itu menjadikanmu artis dalam waktu satu malam?” tanya Ki Jae lagi. Artis? Dia malah tak lebih dari seorang penonton. Penonton dari apapun yang ingin ditayangkan oleh orang gila yang bernama Kim Tae Soo itu.

“Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?” kini giliran Hyo Kyung yang bertanya.

“Sore ini aku ada audisi. Sekalian aku mampir kemari. Untuk menemukan tempat seterkenal ini, rasanya terlalu mudah.” Ada nada sindiran di sana. Hyo Kyung tak bisa mengerti maksudnya. “Kau terlalu betah di sini. Apa dia memberimu makan emas sampai kau bahkan tak berangkat bekerja?” ah, jadi inilah maksudnya. Sinis Ki Jae memang belum sepenuhnya hilang bila menyangkut soal Tae Soo. Diam-diam Hyo Kyung sendiri membenarkan adiknya. Seharusnya dari awal dia mendengarkan Ki Jae untuk tidak mendekati Kim Tae Soo. Tapi apa yang bisa dilakukannya sekarang kecuali hanya menyesal?

“Aku berhenti bekerja. Sekarang aku bekerja di sini.”

“Dan kau akan pulang jam berapa? Kalau masih bisa, aku tunggu saja. Sekalian.”

“Ani. Aku…”

“Kau tidak akan pulang lagi?” terka Ki Jae. Dengan jelas ia membaca jawaban yang muncul di wajah Hyo Kyung. “Kau… akan membiarkanku di rumah sendirian lagi?” pertanyaan ini lebih terasa larangan. Lebih dari siapapun, jelas Hyo Kyung yang paling tahu. Ki Jae tak suka sendirian. Andai ia bisa menolak permintaan Tae Soo.

“Eoh. Aku… aku akan pulang setiap minggu.”

“Hh!” Ki Jae mendecak tak percaya. Kecewa ia mendengar jawaban itu. Karena pun memang bukan jawaban itu yang ia inginkan. “Apa yang kau lakukan di sini? Haruskah kau menginap? Kau… kau sudah memberikannya? Aku benar, kan?” nada sarkas itu muncul lagi. Sakit benar rasanya mendengar kalimat itu dari adiknya sendiri. Kali ini ia sendiri tak bisa mengelaknya. Karena yang dikhawatirkan Ki Jae memanglah sudah terjadi. Hyo Kyung tahu adiknya pasti sangat kecewa padanya. Ya, sesakit apapun ia, Ki Jae pasti lebih merasa sakit.

“Pulanglah!” suara Ki Jae merendah. “Pulanglah! Maka aku akan memaafkanmu,” pintanya getir. Menohok keras ulu hati Hyo Kyung. Memikirkan sebesar ini kekecewaan Ki Jae, apa yang akan terjadi jika sampai bocah ini melihat video itu? Lebih dari itu, kehilangan Ki Jae untuk selamanya Hyo Kyung belumlah siap. Daripada kata maaf dari Ki Jae, biarlah ia dibenci adiknya sendiri daripada harus melihatnya menutup mata untuk selama-lamanya.

“Ki Jae~ya…”

“Ya, Han Ki Jae!” tiba-tiba seseorang datang di antara mereka. Keduanya menoleh ke sumber suara bergantian. Asalnya persis dari Hyo Kyung berasal tadi. Senyum malaikatnya terbentuk sempurna, mengiringi langkahnya yang tenang bak langkah seekor kucing. “Oh… jadi seperti inilah rupa calon adik iparku?”

Ki Jae memang pernah melihat wajah Kim Tae Soo sekilas saat jalan dengan Hyo Kyung. Tepat saat ia tahu kalau kakaknya sudah menggaet seorang pria. Tapi, melihatnya dari jarak sedekat ini, sekarang ia mengerti mengapa kakaknya begitu tergila-gila dengannya. Setampan-tampannya artis internasional di negaranya, rasanya tak ada yang menandingi wajah Tae Soo. Tanpa make up, dan yang paling penting tak ada polesan silikon di sana. Jo Woo Hyun, satu-satunya orang yang ia akui kegantengannya, ternyata kalah oleh seorang Kim Tae Soo. Apa orang ini manusia? Ki Jae benar-benar tak menyangka ada orang setampan ini di dunia nyata.

“Wah, kau benar-benar tampan. Wajahmu lebih mirip dengan Han Hyo Kyung. Apa kau kkot minam[5] di sekolahmu? Kau pasti sangat populer di kalangan gadis-gadis ya.” Ki Jae sama sekali tak tertarik dengan pujiannya. Tampilan dan sikap ramahnya membuatnya makin sinis menanggapinya. Tae Soo sendiri paham akan hal itu. Karenanya melanjutkan sikap ramah tamahnya sepertinya akan sia-sia. Set! Dia akan berrevolusi ke mode biasa. “Ah… soal nunamu. Dia mulai sekarang akan bekerja di sini. Dia akan pulang satu minggu sekali. Hah… di sini sangat banyak pekerjaan yang harus dia lakukan. Selain itu, aku membutuhkannya untuk selalu di sampingku,” jelasnya sembari merangkul pundak Hyo Kyung. Untuk alasan yang belum Ki Jae sadari sendiri, ia sangat tak menyukai pria ini. Karena apa? Ia sendiri tak bisa menjawabnya.

“Apakah Anda begitu menyukainya? Hyo Kyung nuna,” selidik Ki Jae. Tae Soo melepas rangkulannya. Senyumnya yang tadi hanya seadanya kini terlihat lebar sekali.

“Tentu saja. Aku sangat menyukainya,” jawabnya mantap. Tapi ia tak berhasil menarik minat Ki Jae. Tatapan benci Ki Jae padanya masih membuncah. Bahkan saat mengucap, “Kalau begitu, perlakukanlah dia dengan baik. Tolong,” tak ada nada meminta tolong sama sekali. Malah terkesan dingin. Menunduk pamit saja paling hanya 20 derajat. Lukisan di sampingnya memang menarik. Mengapa pemiliknya tak semenarik yang dia pikirkan?

Sebelum benar-benar keluar dari sana, Hyo Kyung berlari menghampirinya. “Ini. Untuk ongkos pulang,” ujarnya memberikan beberapa lembar won[6] pada Ki Jae. Bukannya menerima, malah senyum sinis yang diberikan Ki Jae. “Itu gaji yang kau dapatkan?” sindirnya. Sekali lagi ia melirik ke arah Tae Soo yang memunculkan senyum separuhnya. “Perlakukan saja orang itu dengan baik. Lupakan saja kalau kau masih punya adik!” sentaknya dan pergi tanpa menerima uang itu dari Hyo Kyung. Satu langkah kepergian Ki Jae baru bisa mengeluarkan setetes air dari mata Hyo Kyung. Dadanya sesak luar biasa. Sedang Tae Soo di sana masih menyaksikannya. “Orang yang menarik,” gumamnya datar. Ia baru akan menghampiri Hyo Kyung dan menariknya kembali ke atas kalau saja ponselnya tak berdering. Jo Woo Hyun.

“Eoh? Sudah sampai? Baiklah, aku akan segera ke sana.”

***

Mata gadis itu mengerjap sesaat. Menyamakan intensitas cahaya yang masuk berlebihan ke retinanya. Yang didengarnya pertama kali adalah suara air. Begitu pandangannya sepenuhnya kembali, yang ia lihat adalah ruangan mewah dengan perabotan berkelas. Suara air tadi adalah suara air mancur yang ada di belakangnya. Bagaimana ia bisa ada di sini, ia sama sekali tak tahu. Yang ia ingat adalah, ia akan ikut audisi. Saat ia masuk ke kamar mandi, ada seseorang yang membekap mulutnya dengan sesuatu yang menusuk penciumannya. Setelah semuanya gelap, ia tersadar dan ada di sini.
Sepenuhnya kesadarannya mulai kembali. Posisinya duduk di kursi dari patung ini, dengan tangan terikat di belakang dan kaki yang bernasib sama. Meski ruangan ini terlalu keren hanya untuk menyekap seorang tawanan, tapi perlahan rasa takut mulai menjalarinya. Bahkan tak berani ia berteriak. Hanya matanya saja yang menyisir, memastikan apakah orang yang tadi membekapnya ada di sekitar sini.

Tlit… tlit… sepertinya ada seseorang yang baru masuk. Pintu memang tak jauh darinya. Hingga ia bisa melihat saat-saat pintu itu terbuka pelan dan masuklah seseorang berpanthopel. Ia cukup terkejut. Bukan siapa-siapa, ternyata orang yang cukup ia kenal yang masuk ke sana.”Tae Soo Oppa?” panggilnya tak percaya. Tae Soo yang baru mengganti panthopelnya dengan sandal rumah, memberi senyum malaikatnya. “Kau menculikku, Oppa?” tanyanya tak percaya. Saking sudah akrabnya ia dengan Tae Soo, rasa takutnya hilang. Bahkan ia mendecak tak percaya. Menganggap yang dilakukan Tae Soo sangat kekanak-kanakan.

“Ani. Justru akulah yang menyelamatkanmu dari penculik itu, Oh Chae Rim,” jawab Tae Soo. Percaya tak percaya dengan omongannya, setidaknya Chae Rim merasa tertolong. Tae Soo adalah sahabat Chae Ryeong, kakaknya. Satu-satunya mitra kerja yang paling akrab dengan Tae Soo, karena mereka sudah saling mengenal saat kuliah. Chae Rim sendiri pernah menaruh rasa pada Tae Soo. Walaupun Tae Soo tak pernah memperhatikannya sama sekali.

“Kalau begitu cepat lepaskan ini!” pintanya sedikit menghardik. Senyum malaikat Tae Soo berubah. Menjadi senyum spesialnya, senyum separuh yang tak bisa didapati di wajah manapun. Ia tak menggubris pinta Chae Rim, malah masuk ke dalam. Ia kembali membawa sebuah pisau dapur dan buku gambar plus pensilnya. Diletakkannya pisau dan buku gambar itu di meja ruang tamu. Berjarak sekitar 3 meter membelakangi Chae Rim. “Apa yang kau lakukan, Oppa? Cepat lepaskan ini dulu!” protes Chae Rim yang merasa diabaikan Tae Soo. Tae Soo masih enggan berbalik. Ia duduk, meruncingi pensilnya yang tumpul.

“Kau tahu, Chae Rim? Minggu lalu, Chae Ryeong bercerita soalmu padaku.”

“Apa yang dikatakannya? Apa dia mengeluh soal aku yang meminta uang padanya?” tanggap Chae Rim cepat. Mempertahankan senyuman Tae Soo lebih lama.

Minggu lalu, Chae Ryeong memang menemuinya. Setelah rapat soal pameran yang akan dilaksanakan satu bulan lagi di Vietnam, ia mengajak Tae Soo untuk pergi minum sebentar. Dalam keadaan setengah mabuk, seperti biasa, mulut Chae Ryeong akan bicara macam-macam. “Kau tahu? Chae Rim membuatku kesal lagi hari ini,” ujarnya dengan gestur yang berubah-ubah, pengaruh alkohol. Tanpa harus dijawab pun, Chae Ryeong pasti akan melanjutkan ceritanya. Tae Soo memilih menikmati wine-nya sedikit demi sedikit, sambil menikmati alunan musik jazz yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita yang cukup seksi. Pakaiannya sangat minim, menampakkan hampir keseluruhan kaki putihnya. Bajunya tanpa lengan. Tae Soo mendecih karena merasa wanita itu nyaris telanjang.

“Dia meminta uang padaku. Dia akan ikut audisi. Padahal tahun lalu dia sudah gagal. Dan… dan dia meminta uang padaku untuk melakukan operasi plastik. Anak itu pasti sudah gila!”

“Wae? Apa Chae Rim tak percaya diri? Kurasa dia cukup cantik,” Tae Soo menanggapinya. Meski matanya tak lepas dari wanita penyanyi itu. Terlebih wanita itu mulai bermain mata dengannya. Jarak duduk mereka terlalu dekat. Tampilan Tae Soo yang menyamai hallyu star[7].  Pandangan pertama pasti akan menarik mata wanita manapun.

“Kau benar. Dia sudah cukup cantik. Tapi dia tak pernah sadar, kenapa dia tidak lolos audisi. Itu bukan karena wajahnya! Tapi dia memang tak punya bakat! Ah… aku lelah sekali mengurusi bocah satu itu!” selanjutnya Chae Ryeong terus mengoceh. Dia sudah sepenuhnya mabuk, sampai Tae Soo harus memanggil supir bayaran untuk mengantarnya pulang malam itu.

“Mwo? Dia mengataiku tidak punya bakat? Hah!” decak Chae Rim tak percaya dengan cerita Tae Soo. “Dia saja yang pelit! Uangnya segudang! Tapi tidak pernah mau membuat adiknya lebih cantik sedikit. Untuk apa uang sebanyak itu dia timbun setiap hari? Apa dia mau masuk ke liang lahat bersama uangnya itu? Dasar Oppa tak berguna!” Tae Soo sama sekali tak peduli dengan celotehan gadis berambut pendek itu. Ia asyik dengan pensilnya. Sudah cukup runcing. Haruskah ia memeriksa ketajaman pisaunya sekarang?

“Oppa! Apa yang kau lakukan? Cepatlah bukakan ini! Kau menceritakan hal yang tak berguna!” hardik Chae Rim lagi. Tae Soo akhirnya berdiri. Ia siap dengan pisau dapurnya. Seperti memegang mainan baru, pisau di tangannya itu ia timang-timang dengan senangnya. Melihat ekspresi wajahnya hampir Chae Rim mengatainya gila. “Kau… apa kau suka dengan pisau dapur?” tanya Tae Soo lagi.
Meski merasa orang ini sudah membicarakan hal yang tak penting, Chae Rim tetap menjawabnya. “Aniya! Aku tak suka memasak! Jadi untuk apa aku menyukainya?” nadanya sangat ketus. Tapi Tae Soo tak terusik akan hal itu. Malah senyum separuhnya itu makin betah ada di wajah tampannya.
“Chae Rim~a!” panggilnya seraya mendekati Chae Rim selangkah demi selangkah. “Oppa akan membuatmu menjadi cantik seperti yang kau inginkan.”

“Benarkah? Kau akan memberiku uang untuk operasi plastik?” tanya Chae Rim polos. Sama sekali ia tak resah dengan pisau di tangan Tae Soo itu. Tepat sejengkal, Tae Soo berhenti. Ia masih suka melempari tatapan judes Chae Rim dengan senyumannya.

“Bukan. Aku akan membantumu lebih cantik dengan pisau ini,” jawabnya sambil terkekeh pelan.

***

Di antara lalu-lalang orang-orang, Hyo Kyung hanya duduk seorang diri di depan gedung milik Tae Soo. Wajahnya yang ayu begitu sendu menatap langit yang terlalu biru baginya. Jejak aliran air di pipinya masih nampak jelas. Tersapu angin, dan makin keringlah jejak itu. Desahan pelan dari tenggorokannya membuktikan bahwa sangat sulit untuk melepaskan sesak di dadanya. Terbayang lagi wajah Ki Jae yang sangat marah padanya. Akankah adiknya sendiri membencinya setelah ini? Ia tak berani menebaknya.

Menghindar sebentar dari Tae Soo sepertinya tak bisa. Ia baru 1 jam di sini, tapi ponselnya sudah 
bergetar. Panggilan dari Tae Soo. Ia sendiri cukup heran, Tae Soo mau membiarkannya selama 1 jam lamanya sendirian. “Ne?” jawabnya merespon panggilan itu.

“Hyo Kyung~a, jigeum eoddiya?[8]” suara khas Tae Soo terdengar. Lembut dan bernada sangat santai.

“Aku ada di depan gedung. Aku akan segera ke sana.”

Hyo Kyung baru saja berdiri. Ia pikir Tae Soo akan segera mematikan telponnya. “Daripada ke ruanganku, pergilah ke tempat tinggalku di lantai 12!” titahnya.

“Waeyo?”

“Aku… punya kejutan lagi untukmu,” dan setelah itu Tae Soo mematikannya. Hyo Kyung tak sepenuhnya paham dengan maksudnya. Daripada memahami hal itu, ia lebih resah dengan perasaannya yang tiba-tiba tak enak. Ada suara lirih yang mengatakan, bahwa yang dimaksud Tae Soo bukanlah sesuatu yang baik. Andaikan mau menolak, sekali lagi, mana dayanya? Posisinya sekarang bukan hanya sekedar kekasih Tae Soo. Tapi boneka tali yang siap untuk dimainkan pemiliknya kapanpun ia mau. Walau debaran jantungnya terus saja terasa saat ia mulai memasuki lift dan menekan angka 12, ia harus pergi ke sana.

Kali pertama ia memasuki rumah Tae Soo. Selama ini, ia hanya menemui Tae Soo di ruangannya. Itu pun karena memang Tae Soo lebih banyak menghabiskan waktu di sana. Hanya ada satu pintu begitu lift terbuka. Karena pintu itu pun sudah sedikit terbuka, Hyo Kyung tak memerlukan sandi untuk membukanya.

Langkah pertama sudah membuat Hyo Kyung ketar-ketir. Belum lagi ada bau yang sangat mengusiknya. Imajinya menampilkan berbagai gambar yang terekam saat ia melahap habis tayangan yang diberikan Tae Soo malam itu. Dan jika indera penciumannya memang bekerja dengan baik, maka gambar-gambar itu tak salah sama sekali. Hanya ia harus menemukannya dalam bentuk nyata. Dimana? Ia bahkan mencarinya walaupun ia sangat ketakutan.

Lantai keramik ini berwarna putih. Tapi beberapa warna kemerahan yang berbentuk bercak-bercak ini mengotorinya. Makin jauh, makin banyaklah bercak-bercak itu. Bahkan kini berubah menjadi genangan. Semakin ditelusuri, adalah sumber dari genangan ini yang terlihat. Bruk! Kedua kaki Hyo Kyung melemas menyaksikan si pemilik genangan itu. Adalah tubuh wanita dengan pakaian glamor yang sudah terbungkus warna merah di sekujurnya. Bahkan warna merah itu ikut menggenang bersama dengan air dari air mancur yang ada di belakangnya. Tubuh itu sudah tak dinaungi setetes nyawa pun. Hal itu bisa dipastikan dengan mengerikannya bentuknya sekarang. Sebuah pisau dapur yang menancap di mata kirinya. Darah segar terus saja mengucur dari sana. Hyo Kyung tak bisa menebak bentuk wajah aslinya karena semuanya sudah penuh luka. Dan di bagian dadanya lubang besar sudah terbentuk. Jika itu hanya sebuah lubang di pakaiannya, maka tak akan mungkin air merah kental itu bisa mengotori seluruh tubuhnya. Ada yang melubanginya sampai tembus ke jantungnya. Dan Hyo Kyung jelas yakin bahwa ini adalah perbuatan Tae Soo. Entah mengapa, ia sendiri tak mengerti. Untuk apa pula dia harus membekap mulutnya dan melarang teriakan keras keluar dari sana? Dan sebagai gantinya, tubuhnya mendingin. Sayangnya ia tetap sadar, sehingga ia terus saja menyaksikan tubuh malang ini memuntahkan seluruh darah yang ada di dalamnya.

 Sebelumnya                      Selanjutnya

[1] Ibu
[2] Ibu juga dimana
[3] Panggilan singkat untuk guru (bu/pak)
[4] Pergi
[5] Flower boy
[6] Mata uang Korea Selatan
[7] Sebutan untuk artis Korea Selatan
[8] Sekarang dimana?