Kubanting tubuhku di atas kasur.
Remot AC di atas meja lampu tidur kuraih dengan susah payah. Kuhidupkan.
Pelan-pelan kurasakan belaian sejuk darinya. Hah… nikmat sekali.
Mataku terpaku pada lampu di
atas. Sayup-sayup mataku mulai lier-lieran. Andai saja mama tak masuk,
pasti aku sudah pulas sekarang.
“Mama boleh masuk?” tanya mama,
seperti biasa. Padahal, masuk tinggal masuk. Tapi, mama selalu saja minta izin.
Walaupun kepalanya pun sudah nongol di balik pintu. Aku beringsut duduk. Mama
membawakanku jus alpukat dan pisang krispi kesukaanku. Aku tersenyum. Mama
perhatian sekali.
“Capek, ya?” tanya mama lagi.
Kini sudah beralih duduk di sampingku sambil mengusap-usap kepalaku. Aku hanya
mengangguk sambil meringis. Mama menyuapiku satu buah. Tapi selanjutnya,
kulakukan sendiri.
Selanjutnya, mama berdiri.
Memberesi meja kamarku yang berantakan. Tak terurus selama aku sibuk menjadi
panitia kemarin. Padahal, aku hanya anggota sie. Tapi, sudah sesibuk
ini. Aku jadi merasa bersalah karena merasa cemburu pada Farra yang selalu
diperhatikan Kak Dedi. Kerjanya kan pasti lebih berat, ya?
“Kamu mandi sana. Papa kamu mau
ngajak keluar malem ini katanya,” ujar mama. Kutelan pisang di mulutku.
“Mau ke mana?”
“Entah. Capek, ya?” mama
melirikku. Capek sih. Tapi, kalau buat ikut papa pergi sih tak masalah. Asal
bukan acara kantor saja. “Nti coba mama tanyain lagi mau ke mana. Kalau cuma
buat acara kantor, biar mama yang ngasih tahu ke papa kalau kamu lagi capek,”
lanjut mama, membaca isi otakku.
Tanpa berkomentar lebih lanjut,
setelah menengguk setengah jus alpukatku, aku berdiri. Mengambil handuk di
belakang pintu kemudian ke kamar mandi. Meninggalkan mama yang masih sibuk di
kamarku.
Melewati serambi belakang, aku
terhenti. Sudah lima minggu kami tidak kumpul: aku, Tora, Farra, Wawan dan
Sati. Kalau tadi malam dihitung karena aku dan Farra sibuk di acara hima,
berarti sudah satu bulan kami tidak kumpul. Berasa ada yang kurang.
Kulanjutkan langkahku ke kamar
mandi, karena Mbak Imah menegurku. “Mau mandi, Neng?” aku mengangguk. Mbak Imah
masih sibuk cuci piring.
Handuk kugantung di tempat biasa.
Satu persatu pakaian kulepas. Rasanya sangat sejuk saat air dingin membasahi
ubun-ubun kepala. Pegal-pegal dan letih
rasanya pergi semua.
Sampai sekarang, hubungan Wawan
dan Sati masih belum membaik. Mungkin Wawan sudah mengikrarkan diri untuk
sedikit menjauh dari Sati. Aku tak tahu bagaimana kelanjutannya. Tapi, untuk
Sati mencoba bersikap biasa saja dengan kami. Mungkin itu juga yang membuat
kami dua minggu ini tidak kumpul. Apalagi, kudengar Wawan baru saja jadian
dengan kakak satu tingkat di Fakultas MIPA. Malam minggu tentu saja dia akan kencan,
kan?
Soal Tora, em… setelah ia malam
kami di kosan Sati, dia jarang menegurku. Jarang muncul di belakangku dengan
tiba-tiba. Dengan lollipop dan seenak mulutnya itu kalau bicara. Aku tak tahu
apa alasannya. Tapi yang jelas, aku tak pernah melihatnya bersama cewek yang
waktu itu ia temui di parkiran. Bagaimana kelanjutannya dia dengannya, aku sama
sekali tak tahu.
“Sayang, masih lama enggak? Papa
kebelet, nih. Kamar mandi kamar dipake mama,” kudengar suara papa dari luar.
Bahkan sampai mengetuk-ngetuk pintu. Apa aku terlalu lama di kamar mandi?
“Iya, sebentar, Pa,” sahutku. Aku
sudah selesai memang. Tapi, karena keasyikan melamunkan mereka, aku jadi lupa
kalau busa di tubuhku sudah habis semua.
Kuambil handukku. Kulilitkan ke
tubuhku. Begitu keluar, papa langsung menyambar masuk ke dalam. “Pelan-pelan
dong, Pa!” gerutuku.
“Maaf, Sayang. Papa udah enggak
tahan.” Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku bahkan belum sempat
mengeringkan rambutku. Handuk kecilku ada di gantungan di dekat kolam renang.
Pasti Mbak Imah yang menjemurnya. Lantas kuambil. Keringkan rambut dulu di
sana.
“Enggak capek banget kan sayang
buat ikut Papa?” Papa sudah keluar. Aku berbalik dan mendapati papa masih
membenarkan resleting celananya. Tumben papa di rumah pakai-pakai celana dasar
seperti itu. Padahal atasannya masih kaus dalam.
“Mau ke mana sih, Pa?” tanyaku.
“Temen Papa ada yang baru aja
buka kafe. Kita diundang di acara pembukaannya.”
“Kenapa enggak sama Mama aja?”
“Kan sekarang jadwal Mamamu ke
tempat Nenek. Enggak tahu apa, Papa merana gara-gara nanti malem Papa tidur
sendirian. Eh, ya? Papa nanti malem tidur di kamar kamu, ya?”
“Ya ampun, Pa! Anaknya udah gadis
juga. Malulah!” tiba-tiba Mama datang dan memukul bahu Papa pelan. Bibir papa
manyun-manyun karenanya. “Anaknya kan capek, Pa. Abis jadi panitia acara besar.
Ngertiin dikit, dong,” lanjut Mama lagi.
“Yah, kan enggak enak kalau
sendirian, Ma. Masa iya Papa mau ngajakin Mbak Imah. Nti dikira Papanya kawin
lagi.”
“Ye! Mbak Imahnya juga enggak mau
kali sama Papa! Mama juga, kalau dulu aja Papa enggak mohon-mohon buat nikahin
Mama, mana mau Mama nikah sama Papa!” canda Mama. Tapi berhasil membuat wajah
papa makin cemberut. Aku tertawa geli melihat kelakuan mereka. Tapi sayangnya
yang dijadikan bahan pembicaraan masih sibuk dengan piring-piring kotor di
dapur.
“Mau, ya? Bentar, kok. Lagian,
anaknya itu di Unila juga loh kuliahnya. Satu angkatan lagi sama kamu. Tapi,
Papa enggak tahu jurusan apa.”
“Terus kenapa? Papa mau jodohin
dia sama Mia?” malah Mama yang menyahut.
“Yah… kalau-kalau Mia mau, kan. Lumayan. Besannya
temen Papa sendiri.”
“Hem! Itu sih mau Papa!”
“Ya enggak papa dong, Ma. Kan…”
“Eh, udah-udah! Berisik banget!
Iya, iya, Mia temenin. Tapi Mia ganti baju dulu, ya?” sentakku menyela
pertengkaran tak penting mereka. Kutinggalkan saja mereka berdua. Dan masih
saja berlanjut.
Inilah yang membuatku tak terlalu
kesepian saat mereka pergi. Karena, memang bukan kuantitas yang kudapat dari
mereka, tapi kualitas. Kalau sedang bersama, mereka tak canggung untuk membuat
suasana rumah menjadi menyenangkan. Selama ada mereka di rumah, pasti rumah ini
tidak akan pernah sepi.
Kupilih gaun malam merah marun
selutut lengan pendek. Ada pita besar hitam manis yang melilit pinggangnya.
Baju yang pas untuk acara seperti ini. Walaupun aku tak begitu suka dengan
tampilan terlalu feminim seperti ini. Tapi, aku juga bisa pilih-pilih sikon dan
keadaan seperti apa, dan bagaimana aku harus berpakaian. Lagipula, ini hadiah
dari Brian waktu dia mengajakku malam itu. Bilangnya sih hadiah ulang tahun.
Padahal, ulang tahunku masih dua bulan lagi.
“Kan pas ulang tahun elo
selalu libur,” katanya. Aku selalu tersenyum kalau mengingatnya. “Maaf,
ya? Harganya emang enggak mahal-mahal amat. Tapi, gue harap gue bisa lihat elo
manis sekali aja.” Nah, kata-kata ini yang membuat wajahku memerah. Brian
bisa membuatku merasa gugup benar malam itu. Padahal, sebelumnya aku sempat
simpati karena ceritanya.
Aku baru tahu, kalau Brian
mengambil program akselerasi di SMA. Satu tahun dia tidak sekolah karena kecelakaan
yang merenggut nyawa orang tuanya. Ceritanya benar-benar menyedihkan. Aku saja
sampai menangis setelah mendengar ceritanya waktu itu.
“Waktu perjalanan pindah,
kecelakaan itu terjadi,” katanya waktu itu mengawali cerita. Setelah kami duduk
di toko roti, dan pesanan kami pun kebetulan belum datang. Aku tak memintanya,
tapi dia memulai ceritanya begitu saja.
“Gue bener-bener enggak inget
gimana kejadiannya. Yang jelas, setelah gue siuman, gue udah ada di rumah sakit
di Jakarta. Katanya, gue koma selama tiga hari, dan pasca operasi gue baru
bangun setelah dua hari.”
“Gila! Lama banget? Parah banget
tah kecelakaannya?”
“Ya… kayaknya sih gitu. Kan gue
enggak inget, Mi.”
“Eh, iya juga. Emang, elo enggak
tanya-tanya gitu?” mendengar pertanyaan ini, Brian malah melempariku senyum. Ia
tak jadi menyambung ceritanya karena pesanan kami sudah datang. Selama makan,
tentu saja aku tak berani bertanya lagi. Nah, waktu sudah di atas motor lagi,
barulah ia melanjutkan ceritanya.
“Enggak sempet gue tanya-tanya
soal itu, Mi,” sambungnya dengan volume lebih keras. Melawan suara motor dan
angin di jalan.
“Kenapa?”
“Soalnya, gue terauma berat
setelah itu. Gue udah bilang kan, gue ikut program akselerasi. Karena gue
enggak sekolah satu tahun. Nah, kenapa gue enggak sekolah satu tahun, itu
karena gue terauma. Elo tahu, kenapa gue terauma?” aku menggeleng. Tak tahu,
dia melihatku atau tidak. Tapi dia tetap menjawab pertanyaan itu sendiri.
“Karena, pas keluar dari rumah
sakit, ternyata orang tua gue udah enggak ada. Gue enggak sempet ngeliat
mereka. Dan… elo tahu Opah sama Omah gue yang dari bokap gue, kan?” aku
mengangguk lagi. Setelah itu, dia tak melanjutkan ceritanya.
Kalau aku tak salah ingat, Brian
pernah cerita soal orang tua papanya. Mereka tidak setuju atas pernikahan papa
dan mama Brian. Pasti, setelah kecelakaan itu, mereka menyalahkan Brian.
Kulihat dari kaca spion, Bria masih bisa tersenyum. Dan kalau diingat-ingat,
dulu juga sehabis cerita soal mereka berdua itu, Brian tak pernah murung.
Senyumnya selalu ikhlas. Dia bilang, “Gitu-gitu, mereka tetep Opah sama Omah
gue. Wajar kalau mereka enggak suka sama gue. Bokap gue kan anak tunggal.”
Halus benar kata-katanya. Kalau saja aku jadi dia, aku pasti sudah benci
setengah mati dengan orang seperti itu.
“Maaf, ya? Sekarang, elo udah
tahu kan alesan gue lepas kontak setelah pindah. Hp gue entah kemana. Dan
enggak cuma elo. Semua temen-temen SMP enggak ada yang bisa ngubungin gue. Lucu
bener, karena selama setahun itu, gue jadi amnesia ringan gitu. Gue enggak
inget semua akun sosmed gue,” nah, bahkan dia bisa tertawa. Padahal waktu itu,
aku sudah meneteskan air mata begitu derasnya.
Tok! Tok! “Sayang! Udah
selesai belum dandannya?” aku hampir melonjak mendengar suara papa dari luar.
Huh! Aku jadi melamun sendiri.
“Bentar lagi, Pa!” ujarku. Baru saja aku selesai mengenakan baju. Harus make up secepat kilat ini. Cukup bedak, lip gloss, dan eye liner sedikit. Oke! Sip!
Sebelumnya Selanjutnya