Tuesday, January 14, 2020

Tentang Brian


Huft! Capek!

Kubanting tubuhku di atas kasur. Remot AC di atas meja lampu tidur kuraih dengan susah payah. Kuhidupkan. Pelan-pelan kurasakan belaian sejuk darinya. Hah… nikmat sekali.

Badanku lengket sekali. Dua hari ini energiku dikuras habis. Walaupun banyak kendala sana-sini, acara hima kami akhirnya selesai juga. Akhirnya bisa istirahat juga.

Mataku terpaku pada lampu di atas. Sayup-sayup mataku mulai lier-lieran. Andai saja mama tak masuk, pasti aku sudah pulas sekarang.

“Mama boleh masuk?” tanya mama, seperti biasa. Padahal, masuk tinggal masuk. Tapi, mama selalu saja minta izin. Walaupun kepalanya pun sudah nongol di balik pintu. Aku beringsut duduk. Mama membawakanku jus alpukat dan pisang krispi kesukaanku. Aku tersenyum. Mama perhatian sekali.

“Capek, ya?” tanya mama lagi. Kini sudah beralih duduk di sampingku sambil mengusap-usap kepalaku. Aku hanya mengangguk sambil meringis. Mama menyuapiku satu buah. Tapi selanjutnya, kulakukan sendiri.

Selanjutnya, mama berdiri. Memberesi meja kamarku yang berantakan. Tak terurus selama aku sibuk menjadi panitia kemarin. Padahal, aku hanya anggota sie. Tapi, sudah sesibuk ini. Aku jadi merasa bersalah karena merasa cemburu pada Farra yang selalu diperhatikan Kak Dedi. Kerjanya kan pasti lebih berat, ya?

“Kamu mandi sana. Papa kamu mau ngajak keluar malem ini katanya,” ujar mama. Kutelan pisang di mulutku.

“Mau ke mana?”

“Entah. Capek, ya?” mama melirikku. Capek sih. Tapi, kalau buat ikut papa pergi sih tak masalah. Asal bukan acara kantor saja. “Nti coba mama tanyain lagi mau ke mana. Kalau cuma buat acara kantor, biar mama yang ngasih tahu ke papa kalau kamu lagi capek,” lanjut mama, membaca isi otakku.

Tanpa berkomentar lebih lanjut, setelah menengguk setengah jus alpukatku, aku berdiri. Mengambil handuk di belakang pintu kemudian ke kamar mandi. Meninggalkan mama yang masih sibuk di kamarku.

Melewati serambi belakang, aku terhenti. Sudah lima minggu kami tidak kumpul: aku, Tora, Farra, Wawan dan Sati. Kalau tadi malam dihitung karena aku dan Farra sibuk di acara hima, berarti sudah satu bulan kami tidak kumpul. Berasa ada yang kurang.

Kulanjutkan langkahku ke kamar mandi, karena Mbak Imah menegurku. “Mau mandi, Neng?” aku mengangguk. Mbak Imah masih sibuk cuci piring.

Handuk kugantung di tempat biasa. Satu persatu pakaian kulepas. Rasanya sangat sejuk saat air dingin membasahi ubun-ubun kepala. Pegal-pegal dan  letih rasanya pergi semua.

Sampai sekarang, hubungan Wawan dan Sati masih belum membaik. Mungkin Wawan sudah mengikrarkan diri untuk sedikit menjauh dari Sati. Aku tak tahu bagaimana kelanjutannya. Tapi, untuk Sati mencoba bersikap biasa saja dengan kami. Mungkin itu juga yang membuat kami dua minggu ini tidak kumpul. Apalagi, kudengar Wawan baru saja jadian dengan kakak satu tingkat di Fakultas MIPA. Malam minggu tentu saja dia akan kencan, kan?

Soal Tora, em… setelah ia malam kami di kosan Sati, dia jarang menegurku. Jarang muncul di belakangku dengan tiba-tiba. Dengan lollipop dan seenak mulutnya itu kalau bicara. Aku tak tahu apa alasannya. Tapi yang jelas, aku tak pernah melihatnya bersama cewek yang waktu itu ia temui di parkiran. Bagaimana kelanjutannya dia dengannya, aku sama sekali tak tahu.

“Sayang, masih lama enggak? Papa kebelet, nih. Kamar mandi kamar dipake mama,” kudengar suara papa dari luar. Bahkan sampai mengetuk-ngetuk pintu. Apa aku terlalu lama di kamar mandi?

“Iya, sebentar, Pa,” sahutku. Aku sudah selesai memang. Tapi, karena keasyikan melamunkan mereka, aku jadi lupa kalau busa di tubuhku sudah habis semua.

Kuambil handukku. Kulilitkan ke tubuhku. Begitu keluar, papa langsung menyambar masuk ke dalam. “Pelan-pelan dong, Pa!” gerutuku.

“Maaf, Sayang. Papa udah enggak tahan.” Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku bahkan belum sempat mengeringkan rambutku. Handuk kecilku ada di gantungan di dekat kolam renang. Pasti Mbak Imah yang menjemurnya. Lantas kuambil. Keringkan rambut dulu di sana.

“Enggak capek banget kan sayang buat ikut Papa?” Papa sudah keluar. Aku berbalik dan mendapati papa masih membenarkan resleting celananya. Tumben papa di rumah pakai-pakai celana dasar seperti itu. Padahal atasannya masih kaus dalam.

“Mau ke mana sih, Pa?” tanyaku.

“Temen Papa ada yang baru aja buka kafe. Kita diundang di acara pembukaannya.”

“Kenapa enggak sama Mama aja?”

“Kan sekarang jadwal Mamamu ke tempat Nenek. Enggak tahu apa, Papa merana gara-gara nanti malem Papa tidur sendirian. Eh, ya? Papa nanti malem tidur di kamar kamu, ya?”

“Ya ampun, Pa! Anaknya udah gadis juga. Malulah!” tiba-tiba Mama datang dan memukul bahu Papa pelan. Bibir papa manyun-manyun karenanya. “Anaknya kan capek, Pa. Abis jadi panitia acara besar. Ngertiin dikit, dong,” lanjut Mama lagi.

“Yah, kan enggak enak kalau sendirian, Ma. Masa iya Papa mau ngajakin Mbak Imah. Nti dikira Papanya kawin lagi.”

“Ye! Mbak Imahnya juga enggak mau kali sama Papa! Mama juga, kalau dulu aja Papa enggak mohon-mohon buat nikahin Mama, mana mau Mama nikah sama Papa!” canda Mama. Tapi berhasil membuat wajah papa makin cemberut. Aku tertawa geli melihat kelakuan mereka. Tapi sayangnya yang dijadikan bahan pembicaraan masih sibuk dengan piring-piring kotor di dapur.

“Mau, ya? Bentar, kok. Lagian, anaknya itu di Unila juga loh kuliahnya. Satu angkatan lagi sama kamu. Tapi, Papa enggak tahu jurusan apa.”

“Terus kenapa? Papa mau jodohin dia sama Mia?” malah Mama yang menyahut.

“Yah…  kalau-kalau Mia mau, kan. Lumayan. Besannya temen Papa sendiri.”

“Hem! Itu sih mau Papa!”

“Ya enggak papa dong, Ma. Kan…”

“Eh, udah-udah! Berisik banget! Iya, iya, Mia temenin. Tapi Mia ganti baju dulu, ya?” sentakku menyela pertengkaran tak penting mereka. Kutinggalkan saja mereka berdua. Dan masih saja berlanjut.

Inilah yang membuatku tak terlalu kesepian saat mereka pergi. Karena, memang bukan kuantitas yang kudapat dari mereka, tapi kualitas. Kalau sedang bersama, mereka tak canggung untuk membuat suasana rumah menjadi menyenangkan. Selama ada mereka di rumah, pasti rumah ini tidak akan pernah sepi.

Kupilih gaun malam merah marun selutut lengan pendek. Ada pita besar hitam manis yang melilit pinggangnya. Baju yang pas untuk acara seperti ini. Walaupun aku tak begitu suka dengan tampilan terlalu feminim seperti ini. Tapi, aku juga bisa pilih-pilih sikon dan keadaan seperti apa, dan bagaimana aku harus berpakaian. Lagipula, ini hadiah dari Brian waktu dia mengajakku malam itu. Bilangnya sih hadiah ulang tahun. Padahal, ulang tahunku masih dua bulan lagi.

“Kan pas ulang tahun elo selalu libur,” katanya. Aku selalu tersenyum kalau mengingatnya. “Maaf, ya? Harganya emang enggak mahal-mahal amat. Tapi, gue harap gue bisa lihat elo manis sekali aja.” Nah, kata-kata ini yang membuat wajahku memerah. Brian bisa membuatku merasa gugup benar malam itu. Padahal, sebelumnya aku sempat simpati karena ceritanya.

Aku baru tahu, kalau Brian mengambil program akselerasi di SMA. Satu tahun dia tidak sekolah karena kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya. Ceritanya benar-benar menyedihkan. Aku saja sampai menangis setelah mendengar ceritanya waktu itu.

“Waktu perjalanan pindah, kecelakaan itu terjadi,” katanya waktu itu mengawali cerita. Setelah kami duduk di toko roti, dan pesanan kami pun kebetulan belum datang. Aku tak memintanya, tapi dia memulai ceritanya begitu saja.

“Gue bener-bener enggak inget gimana kejadiannya. Yang jelas, setelah gue siuman, gue udah ada di rumah sakit di Jakarta. Katanya, gue koma selama tiga hari, dan pasca operasi gue baru bangun setelah dua hari.”

“Gila! Lama banget? Parah banget tah kecelakaannya?”

“Ya… kayaknya sih gitu. Kan gue enggak inget, Mi.”

“Eh, iya juga. Emang, elo enggak tanya-tanya gitu?” mendengar pertanyaan ini, Brian malah melempariku senyum. Ia tak jadi menyambung ceritanya karena pesanan kami sudah datang. Selama makan, tentu saja aku tak berani bertanya lagi. Nah, waktu sudah di atas motor lagi, barulah ia melanjutkan ceritanya.

“Enggak sempet gue tanya-tanya soal itu, Mi,” sambungnya dengan volume lebih keras. Melawan suara motor dan angin di jalan.

“Kenapa?”

“Soalnya, gue terauma berat setelah itu. Gue udah bilang kan, gue ikut program akselerasi. Karena gue enggak sekolah satu tahun. Nah, kenapa gue enggak sekolah satu tahun, itu karena gue terauma. Elo tahu, kenapa gue terauma?” aku menggeleng. Tak tahu, dia melihatku atau tidak. Tapi dia tetap menjawab pertanyaan itu sendiri.

“Karena, pas keluar dari rumah sakit, ternyata orang tua gue udah enggak ada. Gue enggak sempet ngeliat mereka. Dan… elo tahu Opah sama Omah gue yang dari bokap gue, kan?” aku mengangguk lagi. Setelah itu, dia tak melanjutkan ceritanya.

Kalau aku tak salah ingat, Brian pernah cerita soal orang tua papanya. Mereka tidak setuju atas pernikahan papa dan mama Brian. Pasti, setelah kecelakaan itu, mereka menyalahkan Brian. Kulihat dari kaca spion, Bria masih bisa tersenyum. Dan kalau diingat-ingat, dulu juga sehabis cerita soal mereka berdua itu, Brian tak pernah murung. Senyumnya selalu ikhlas. Dia bilang, “Gitu-gitu, mereka tetep Opah sama Omah gue. Wajar kalau mereka enggak suka sama gue. Bokap gue kan anak tunggal.” Halus benar kata-katanya. Kalau saja aku jadi dia, aku pasti sudah benci setengah mati dengan orang seperti itu.

“Maaf, ya? Sekarang, elo udah tahu kan alesan gue lepas kontak setelah pindah. Hp gue entah kemana. Dan enggak cuma elo. Semua temen-temen SMP enggak ada yang bisa ngubungin gue. Lucu bener, karena selama setahun itu, gue jadi amnesia ringan gitu. Gue enggak inget semua akun sosmed gue,” nah, bahkan dia bisa tertawa. Padahal waktu itu, aku sudah meneteskan air mata begitu derasnya.

Tok! Tok! “Sayang! Udah selesai belum dandannya?” aku hampir melonjak mendengar suara papa dari luar. Huh! Aku jadi melamun sendiri.

“Bentar lagi, Pa!” ujarku. Baru saja aku selesai mengenakan baju. Harus make up secepat kilat ini. Cukup bedak, lip gloss, dan eye liner sedikit. Oke! Sip!

Sebelumnya               Selanjutnya