Ini kisahku. Kuawali dari sebuah
kisah ketika aku menjejakkan kakiku di sebuah lingkungan baru bernama kampus.
Aku anak tunggal. Jadi, aku tak punya saudara untuk mengenal apa itu kampus.
Yang aku tahu tentang kampus hanya semua yang sering dimunculkan di tv-tv itu. Ke
kampus, dengan segala jenis pakaian bebasnya, mobil, tugas, dosen, dan… pacar.
Bruk!
“Aww!!!” ada seseorang yang
menabrak bahuku dari belakang. Demi apapun! Rasanya sungguh sakit! Siapa itu?
Dia hanya berbalik sebentar dan berkata, “Sorry!” dan pergi begitu saja.
Meninggalkanku dengan seluruh berkas yang harus kusodorkan hari ini ke dekanat
yang mencium lantai. Sial! Sialan! Bahkan aku belum selesai membayangkan pria
impianku tadi. Hh! Menyebalkan!
Jadilah, harus keberesi sendiri
berkas-berkasku ini. Dan saat itu, kurasa ada sepasang kaki mendekatiku. “Butuh
bantuan?” dan kuharap ini adalah seseorang yang aku inginkan tadi. Seorang
tampan yang mengulurkan tangannya dan membuatku tersenyum setiap hari. Oke, dan
kurasa itu semua hanya akan terjadi di film-film dan novel-novel saja. Karena
buktinya, ketika aku mendongak ke atas, kudapati seorang pria memang. Dia
bahkan tersenyum manis. Tapi sayangnya…
“Brian?” yah… dia seseorang yang
aku kenal. Dia teman SMP-ku, yang pindah kembali ke kampung halamannya setelah
lulus. Aku tak menyangka bisa bertemu lagi dengannya. Sedikit kecewa memang. Huft…
pangeran impianku pergi. Oh, ayolah! Aku masih sadar, aku ada di dunia nyata.
Brian membantuku setelah tertawa
kecil. Selesai, aku kembali dikejutkan olehnya. Dia tambah tinggi. Padahal,
kurasa waktu itu tingginya tak jauh beda dariku. Dan kalau kulihat lagi, Brian
jauh lebih keren dari jaman SMP dulu.
“Brian? Elo kuliah di sini juga?”
“Yaps! Elo juga, Mi?” sahutnya,
masih seramah dulu. Aku mengangguk sambil membalas senyumnya.
“Ambil prodi apa?”
“Penjaskes. Elo sendiri?”
“Bahasa dan Sastra Indonesia.”
“Ehm… dari dulu elo gak berubah,
ya? Masih suka nulis?”
“Yah… kadang-kadang. Kalau lagi
nganggur. Gue juga masih suka ngisi blog gue yang dulu itu. Lumayanlah
pengunjungnya. Gini-gini, gue udah jadi cyber sastra,” seruku
menyombongkan diri. Brian malah tertawa. Dia tak begitu menyukai sastra. Jadi,
kurasa dia tak akan peduli.
“Kelas elo di sana, kan? Gue
duluan, ya? Bye!” pamitnya setelah obrolan ringan kami. Hari pertama
kuliah, ditabrak cowok tak tahu diri dan bertemu teman lama. Cukup tidak
mengesankan!
Masuk ke kelas, tak ada siapapun
yang kukenal. Aku absen selama ospek kemarin. Alasannya, papa tak mengizinkan
karena takut anak semata wayangnya ini menjadi bahan bullying kakak-kakak
tingkat. Padahal, itu kan ajang agar aku bisa kenal dengan teman-teman seprogramstudiku.
Bahkan papa sampai minta izin ke jurusan. Alhasil, sekarang aku tak kenal
siapa-siapa. Dan kurasa, mengambil bangku terdekat dengan pintu adalah pilihan
yang tepat. Walaupun aku cukup supel, tapi untuk pertama kali seperti ini tentu
saja aku canggung. Apalagi mereka sudah pada kumpul dengan grupnya
masing-masing. Perlu waktu yang lama. Mana aku sendiri juga paling susah
menghapal nama orang.
“Sst!” kurasa seseorang menyenggol
bahuku dari belakang. Aku menoleh. Cowok dengan perawakan kurus tampang biasa
saja tersenyum ramah padaku. “Elo… mahasiswa baru, ya? Ehm… maaf-maaf,” dia
menggeleng-gelengkan kepalanya. Bermaksud mengganti kalimatnya barusan. “Maksud
gue… kita ini emang semuanya mahasiswa baru. Tapi… kayaknya gue gak pernah liat
elo selama ospek kemarin, deh.”
“Iya… gue emang gak ikut ospek
kemarin.”
“Kenapa?”
“Ehm… sakit,” jawabku sesuai
dengan saran papa saat aku dilarang ikut ospek.
“Ya, terus? Aku harus jawab
apa ke temen-temen nanti kalo ditanyain kenapa gak ikut ospek, Pa?”
“Ya, apa, kek. Jawab… ehm…
sakit. Ya, bilang aja sakit.” Dan see? Akhirnya aku benar-benar
mengatakan yang sebenarnya di awal aku mengakui bahwa papaku benar-benar
asal-asalan.
Karena jawaban sesingkat itu,
orang ini pun akhirnya mengangguk juga. Dia tak akan paham juga kalau pun aku
bohong. “Gue Tora,” lanjutnya mengulurkan tangannya.
“Oh, hai, Tora!” sapaku kikuk. Ia
kembali mengulurkan tangannya, dan itu artinya aku harus menyambut ulurannya
itu.
“Elo?” tanyanya. Aku belum
menyebutkan namaku memang.
“Mia Natali. Panggil aja Mia.”
“Oh, hai, Mia!” sapanya ganti.
Dan tak lama setelah itu, percakapan kami terpotong karena dosen mata kuliah
pertama kami masuk.
Yang paling menyebalkan adalah, dosen
ini baru pertama kali menyebutkan nama dan membuat kontrak kuliah, tapi sudah
menyuruh kami membuat kelompok. Minggu depan langsung maju! What?!
“Dan elo tahu? Ini hari pertama
kuliah, Ian! Mana itu… Linguistik! Elo ngerti apa itu Linguistik? Enggak, kan?
Iyalah! Gue aja enggak ngerti! Dan tiba-tiba udah disuruh maju gitu aja coba
minggu depan! Mana sempet paham, kan? Mana enggak dijelasin dulu, lagi! Gila
kali tu dosen!” cerocosku saat ada jam kosong pada Brian. Aku berhasil
menemuinya di depan gedung kuliahnya. Kami satu fakultas, dan mudah saja aku
menemukan dimana gedung kuliahnya. Tanpa ospek pun, karena ada denah besar
terpampang di pintu masuk fakultas. Dia masih lengkap dengan baju olahraganya.
Sepertinya di hari pertamanya pun dia sudah bergelut dengan berbagai mata
kuliah yang berhubungan dengan fisik.
“Iya, terus-terus?” sejak tadi
yang dia ucapkan hanya itu saja. Tawanya sama sekali tak berhenti.
“Iya, terus, terus! Nabrak kali
terus, terus!” dengusku kesal. Brian malah terus saja tertawa. Dia baru
berhenti saat temannya memanggilnya.
“Oke! Duluan!” sambutnya.
Kemudian temannya itu benar-benar pergi duluan. Dia kembali padaku. “Jadi,
gini, Mi. Gue emang sebenernya masih pengen dengerin lanjutan cerita elo itu?
Tapi, sayangnya gue ada jam kuliah, nih. Duluan, ya!” dia pun pergi. Masih dengan
kebiasaan lamanya. Mengusap kepalaku. Aku sempat kaget dia masih melakukan
kebiasaannya itu. Padahal, tadi pagi ketemu dia tak melakukannya. Tanpa
menunggu izin dariku, dia pun ngeloyor begitu saja.
Sisanya, aku celingukan. Aku
belum punya teman di sini. Tapi, aku lapar. Makan sendirian di kantin rasanya
tidak enak. Tapi, daripada melawan cacing-cacing di perutku, lebih baik pergi
sendiri daripada tidak. Jam kuliah selanjutnya masih dua jam lagi.
Di kantin, aku bertemu lagi
dengan Tora. Dia, dengan mangkuk baksonya duduk begitu saja di depanku. “Eh,
Mi! Tadi gue liat elo ngobrol seru gitu sama anak Penjas. Cowok elo, ya?”
Apa-apaan sih orang ini?
Asal tebak saja! “Bukan, tuh! Sok tahu!”
“Alah! Ngaku aja, Mi. Enggak
papa, kali. Di umur kita sekarang ini, enggak masalah kok kalo udah punya
cowok.”
“Ye… dibilang bukan, juga. Enggak
percaya juga gak papa, kok!” dengusku sebal. Dia malah tertawa-tawa tak jelas.
Sial! Kenapa orang yang pertama dekat denganku malah orang seperti ini? Tadi,
waktu penghitungan kelompok juga sialnya dia malah satu kelompok denganku.
“Hai, Mia! Eh, Tora, kan?”
tiba-tiba Farah menghampiri kami, salah satu anggota kelompok dadakan tadi. Dan
tak lama setelah itu, Sati menyusul. Satu lagi Wawan langsung mendaratkan
pantatnya di sebelahku. Aku tak mengizinkan mereka tapi mereka begitu welcome.
Sedikit tertolong juga, sih. Tapi, mereka berempat punya karakter
masing-masing yang membuatku kadang-kadang ingin sekali menyumpal mulut mereka
dengan kue apam. Atau apa saja agar mereka berhenti bicara. Tapi, untuk jaga image.
Juga ajang pencarian teman pengganti ospek, aku harus tahan. Mereka terus
menempel padaku sampai mata kuliah hari itu berakhir.
Ah, ya. Satu lagi. Ternyata cowok
menyebalkan yang menabrakku tadi pagi adalah teman sekelasku sendiri. Dia
pendiam. Dan lebih suka bercengkerama dengan cahaya di dekat jendela daripada
teman di sebelahnya yang matanya hampir keluar gara-gara terpukau dengan
tampangnya yang biasa saja sih menurutku.
Kenapa ya aku masuk di kelas dengan orang-orang seperti ini? Oh, damn! I need you, reason!
Selanjutnya