Tuesday, January 14, 2020

I Need You Reason


Ini kisahku. Kuawali dari sebuah kisah ketika aku menjejakkan kakiku di sebuah lingkungan baru bernama kampus. Aku anak tunggal. Jadi, aku tak punya saudara untuk mengenal apa itu kampus. Yang aku tahu tentang kampus hanya semua yang sering dimunculkan di tv-tv itu. Ke kampus, dengan segala jenis pakaian bebasnya, mobil, tugas, dosen, dan… pacar.

Ini awal dari langkahku. Ehm… tujuan pertamaku kemari, tentu saja untuk mendapatkan ijazah. Ijazah, sebagai bekalku mencari pekerjaanku kelak. Walaupun aku berasal dari keluarga cukup mampu, tentu saja aku juga ingin memiliki uang atas jerih payahku sendiri. Terlebih dari semua keumuman tujuan seseorang berkuliah, tidak munafik, aku ingin ada seseorang yang menarik perhatianku. Dan kuharap, seseorang itu, tak harus sempurna memang, hanya saja, kuharap dia benar-benar seseorang yang aku inginkan. Agar…

Bruk!

“Aww!!!” ada seseorang yang menabrak bahuku dari belakang. Demi apapun! Rasanya sungguh sakit! Siapa itu? Dia hanya berbalik sebentar dan berkata, “Sorry!” dan pergi begitu saja. Meninggalkanku dengan seluruh berkas yang harus kusodorkan hari ini ke dekanat yang mencium lantai. Sial! Sialan! Bahkan aku belum selesai membayangkan pria impianku tadi. Hh! Menyebalkan!
Jadilah, harus keberesi sendiri berkas-berkasku ini. Dan saat itu, kurasa ada sepasang kaki mendekatiku. “Butuh bantuan?” dan kuharap ini adalah seseorang yang aku inginkan tadi. Seorang tampan yang mengulurkan tangannya dan membuatku tersenyum setiap hari. Oke, dan kurasa itu semua hanya akan terjadi di film-film dan novel-novel saja. Karena buktinya, ketika aku mendongak ke atas, kudapati seorang pria memang. Dia bahkan tersenyum manis. Tapi sayangnya…

“Brian?” yah… dia seseorang yang aku kenal. Dia teman SMP-ku, yang pindah kembali ke kampung halamannya setelah lulus. Aku tak menyangka bisa bertemu lagi dengannya. Sedikit kecewa memang. Huft… pangeran impianku pergi. Oh, ayolah! Aku masih sadar, aku ada di dunia nyata.

Brian membantuku setelah tertawa kecil. Selesai, aku kembali dikejutkan olehnya. Dia tambah tinggi. Padahal, kurasa waktu itu tingginya tak jauh beda dariku. Dan kalau kulihat lagi, Brian jauh lebih keren dari jaman SMP dulu.

“Brian? Elo kuliah di sini juga?”

“Yaps! Elo juga, Mi?” sahutnya, masih seramah dulu. Aku mengangguk sambil membalas senyumnya.

“Ambil prodi apa?”

“Penjaskes. Elo sendiri?”

“Bahasa dan Sastra Indonesia.”

“Ehm… dari dulu elo gak berubah, ya? Masih suka nulis?”

“Yah… kadang-kadang. Kalau lagi nganggur. Gue juga masih suka ngisi blog gue yang dulu itu. Lumayanlah pengunjungnya. Gini-gini, gue udah jadi cyber sastra,” seruku menyombongkan diri. Brian malah tertawa. Dia tak begitu menyukai sastra. Jadi, kurasa dia tak akan peduli.

“Kelas elo di sana, kan? Gue duluan, ya? Bye!” pamitnya setelah obrolan ringan kami. Hari pertama kuliah, ditabrak cowok tak tahu diri dan bertemu teman lama. Cukup tidak mengesankan!

Masuk ke kelas, tak ada siapapun yang kukenal. Aku absen selama ospek kemarin. Alasannya, papa tak mengizinkan karena takut anak semata wayangnya ini menjadi bahan bullying kakak-kakak tingkat. Padahal, itu kan ajang agar aku bisa kenal dengan teman-teman seprogramstudiku. Bahkan papa sampai minta izin ke jurusan. Alhasil, sekarang aku tak kenal siapa-siapa. Dan kurasa, mengambil bangku terdekat dengan pintu adalah pilihan yang tepat. Walaupun aku cukup supel, tapi untuk pertama kali seperti ini tentu saja aku canggung. Apalagi mereka sudah pada kumpul dengan grupnya masing-masing. Perlu waktu yang lama. Mana aku sendiri juga paling susah menghapal nama orang.

“Sst!” kurasa seseorang menyenggol bahuku dari belakang. Aku menoleh. Cowok dengan perawakan kurus tampang biasa saja tersenyum ramah padaku. “Elo… mahasiswa baru, ya? Ehm… maaf-maaf,” dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Bermaksud mengganti kalimatnya barusan. “Maksud gue… kita ini emang semuanya mahasiswa baru. Tapi… kayaknya gue gak pernah liat elo selama ospek kemarin, deh.”

“Iya… gue emang gak ikut ospek kemarin.”

“Kenapa?”

“Ehm… sakit,” jawabku sesuai dengan saran papa saat aku dilarang ikut ospek.

“Ya, terus? Aku harus jawab apa ke temen-temen nanti kalo ditanyain kenapa gak ikut ospek, Pa?”

“Ya, apa, kek. Jawab… ehm… sakit. Ya, bilang aja sakit.” Dan see? Akhirnya aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya di awal aku mengakui bahwa papaku benar-benar asal-asalan.

Karena jawaban sesingkat itu, orang ini pun akhirnya mengangguk juga. Dia tak akan paham juga kalau pun aku bohong. “Gue Tora,” lanjutnya mengulurkan tangannya.

“Oh, hai, Tora!” sapaku kikuk. Ia kembali mengulurkan tangannya, dan itu artinya aku harus menyambut ulurannya itu.

“Elo?” tanyanya. Aku belum menyebutkan namaku memang.

“Mia Natali. Panggil aja Mia.”

“Oh, hai, Mia!” sapanya ganti. Dan tak lama setelah itu, percakapan kami terpotong karena dosen mata kuliah pertama kami masuk.

Yang paling menyebalkan adalah, dosen ini baru pertama kali menyebutkan nama dan membuat kontrak kuliah, tapi sudah menyuruh kami membuat kelompok. Minggu depan langsung maju!  What?!

“Dan elo tahu? Ini hari pertama kuliah, Ian! Mana itu… Linguistik! Elo ngerti apa itu Linguistik? Enggak, kan? Iyalah! Gue aja enggak ngerti! Dan tiba-tiba udah disuruh maju gitu aja coba minggu depan! Mana sempet paham, kan? Mana enggak dijelasin dulu, lagi! Gila kali tu dosen!” cerocosku saat ada jam kosong pada Brian. Aku berhasil menemuinya di depan gedung kuliahnya. Kami satu fakultas, dan mudah saja aku menemukan dimana gedung kuliahnya. Tanpa ospek pun, karena ada denah besar terpampang di pintu masuk fakultas. Dia masih lengkap dengan baju olahraganya. Sepertinya di hari pertamanya pun dia sudah bergelut dengan berbagai mata kuliah yang berhubungan dengan fisik.

“Iya, terus-terus?” sejak tadi yang dia ucapkan hanya itu saja. Tawanya sama sekali tak berhenti.

“Iya, terus, terus! Nabrak kali terus, terus!” dengusku kesal. Brian malah terus saja tertawa. Dia baru berhenti saat temannya memanggilnya.

“Oke! Duluan!” sambutnya. Kemudian temannya itu benar-benar pergi duluan. Dia kembali padaku. “Jadi, gini, Mi. Gue emang sebenernya masih pengen dengerin lanjutan cerita elo itu? Tapi, sayangnya gue ada jam kuliah, nih. Duluan, ya!” dia pun pergi. Masih dengan kebiasaan lamanya. Mengusap kepalaku. Aku sempat kaget dia masih melakukan kebiasaannya itu. Padahal, tadi pagi ketemu dia tak melakukannya. Tanpa menunggu izin dariku, dia pun ngeloyor begitu saja.
Sisanya, aku celingukan. Aku belum punya teman di sini. Tapi, aku lapar. Makan sendirian di kantin rasanya tidak enak. Tapi, daripada melawan cacing-cacing di perutku, lebih baik pergi sendiri daripada tidak. Jam kuliah selanjutnya masih dua jam lagi.

Di kantin, aku bertemu lagi dengan Tora. Dia, dengan mangkuk baksonya duduk begitu saja di depanku. “Eh, Mi! Tadi gue liat elo ngobrol seru gitu sama anak Penjas. Cowok elo, ya?”
Apa-apaan sih orang ini? Asal tebak saja! “Bukan, tuh! Sok tahu!”

“Alah! Ngaku aja, Mi. Enggak papa, kali. Di umur kita sekarang ini, enggak masalah kok kalo udah punya cowok.”

“Ye… dibilang bukan, juga. Enggak percaya juga gak papa, kok!” dengusku sebal. Dia malah tertawa-tawa tak jelas. Sial! Kenapa orang yang pertama dekat denganku malah orang seperti ini? Tadi, waktu penghitungan kelompok juga sialnya dia malah satu kelompok denganku.

“Hai, Mia! Eh, Tora, kan?” tiba-tiba Farah menghampiri kami, salah satu anggota kelompok dadakan tadi. Dan tak lama setelah itu, Sati menyusul. Satu lagi Wawan langsung mendaratkan pantatnya di sebelahku. Aku tak mengizinkan mereka tapi mereka begitu welcome. Sedikit tertolong juga, sih. Tapi, mereka berempat punya karakter masing-masing yang membuatku kadang-kadang ingin sekali menyumpal mulut mereka dengan kue apam. Atau apa saja agar mereka berhenti bicara. Tapi, untuk jaga image. Juga ajang pencarian teman pengganti ospek, aku harus tahan. Mereka terus menempel padaku sampai mata kuliah hari itu berakhir.

Ah, ya. Satu lagi. Ternyata cowok menyebalkan yang menabrakku tadi pagi adalah teman sekelasku sendiri. Dia pendiam. Dan lebih suka bercengkerama dengan cahaya di dekat jendela daripada teman di sebelahnya yang matanya hampir keluar gara-gara terpukau dengan tampangnya yang biasa saja sih menurutku.

Kenapa ya aku masuk di kelas dengan orang-orang seperti ini? Oh, damn! I need you, reason!

Selanjutnya