Tuesday, January 14, 2020

Sila ke-5


Baju kumal, bau tanah, noda keringat. Sepatu merk tiger yang KW-nya kualitas atas bercumbu dengan lumpur. Bau sabun pel lantai saja belum hilang semestinya. Dalang dari gantinya bau itu ya cuma sepatu itu. Lebih benar biangnya ya si pemilik. Bocah penyandang sabuk hitam kejuaraan gundu antar kelas di sekolahnya, Asrul.

Perutnya sejak tadi sudah mengamuk. Cacing-cacingnya sudah berdemo. Menuntut hak-hak mereka dengan pasti. Dengan serba macam alat-alat gotong royong. Pacul, arit, dengkul dan sejenisnya. Nasib baik emaknya ada di warung. Jadi, ngomel-ngomelnya karena mengotori lantai bisa dipending dulu.

Meja makan yang dia tuju. Caranya membuka tudung saji menggunakan mode kecepatan cahaya. Belum melirik blas isinya, satu kakinya kilat, melangkah menjangkau rak piring. Menjumput satu yang pinggirnya agak pecah, dan sendok sebiji. Soalnya asal-asalan, yang diambil malah sendok kecil, sendok buat menakar gula putih waktu buat teh. Dia tak peduli. Yang penting bisa bernegosiasi dulu biar cacing-cacing itu tak  menghancurkan perutnya.

Piring sudah siap di atas meja, bokongnya juga sudah mendarat lentik di atas kursi, sendok mungil nangkring di atas piring, tudung saji terbuka, giliran mulutnya melompong. Ada angin segar yang menyapa meja makan, tepatnya di bawah tudung saji tadi. Cuma ada jangkrik yang ber-krik krik ria. Kalau ada gagak lewat, paling tambah lengkap dengan suara kak kak-nya. “Mak!” suara 8 oktafnya melengking. Ingat kalau emak-nya penyandang gelar paling cerewet di kampungnya, dengan tenaga seadanya dicopotnya sepatu kesayangannya itu. Dilempar sedekat mungkin dengan rak sepatu di dekat pintu dapur. Hup! Ia berhasil, berjarak 1 ¼ cm dari raknya.

“Mak! Mak!” panggilnya lagi. Berlari kecil ke arah warung. Emak-nya lagi sibuk-sibuknya membungkus ikan asing untuk Bu Inah, tetangga yang doyannya ngebon itu. Asrul melirik malas. 

“Pasti ngutang lagi,” sungutnya membatin.

“Mak! Mak!” teriaknya lagi.

“Ngapa to, Srul?” balas emak-nya dengan logat jawa yang lebih medok dari sambal gado-gado.

“Mak, mak! Itu kenapa gak ada makanan blas? Asrul kan laper, Mak!”

“Ya, gimana, Srul? Bapakmu belum pulang.”

“Bapak ke mana to, Mak?”

“Ngambil raskin itu tempat Pak Lurah. Nanti kalau Bapakmu wes bali, tak  masakin,” jawab emak-nya yang akhirnya hanya bisa direspon dengan wajah berlipat. Persis seperti bentuk perut kepala sekolahnya yang gembrot. “Nih, digoreng sek, buat lauk,” tambah emak-nya, melempar sebungkus ikan asin. Bu Inah sudah pergi. Dengan tambahan catatan di buku daftar pengutang punya emak-nya.
Sisa tenaga tinggal seujung kuku. Daripada nganggur, sambil memikirkan amukan brutal cacing-cacingnya. Mending ganyang ikan asin aja nanti kalau sudah matang.

Sialnya, bau ikan asing goreng malah memperkeruh suasana hati sang cacing-cacing. Tambah krucuk bunyinya. “Emak… laper…” eluh Asrul sambil memegangi perutnya. Bapaknya kelewat lama cuma buat mengambil beras miskin yang rumah pak lurahnya itu cuma sepuluh menit ditempuh dengan jalan kaki itu.

Sambil ngemil ikan asin, Asrul mencoba bersabar. Sampai emak-nya ngomel-ngomel karena bekas sepatunya tadi, yang meninggalkan jejak di mana-mana. Dia cuma diam. Menikmati setiap decibel bunyi perutnya itu. Arkh… laper!

“Assalamu’alaikum!” suara berat bapaknya terdengar. Asrul langsung terlonjak. Energinya yang belum terisi langsung mode full. Bapaknya sudah pulang! “Pak! Pak! Mana berasnya?” teriaknya girang. Tapi, sampai di depan, yang ia lihat, bapaknya bukan berbekal karung yang berat. Malah singkong yang masih lengkap dengan tanah dan sepenggal tangkainya.

“Lah, mana berasnya, Pak?” tanyanya, hatinya mulai gundah gulana. Mengharap sesuatu yang tidak akan membuatnya dongkol.

“Walah! Berasnya habis, Srul,” jawaban bapaknya sepenuhnya membuat lutut Asrul lemas. Makin ramai saja suara demo cacing-cacingnya. “Nih, direbus aja. Buat ganti nasinya,” tambah bapaknya.

“Ya, masa singkong dilaukin ikan asin, Pak!” rutuk Asrul sebal.

***

Asrul ngambek semalaman. Dia akhirnya merampas mi instan satu-satunya yang masih tersisa di warung emak-nya. Dia makin uring-uringan karena tahu, kalau si Basuki, anak yang lebih kaya darinya dapat jatah beras. Gak adil! Gimana, sih, bagiinnya?! Dumelnya berulang-ulang.

Hari ini, nyaris saja dia mogok sekolah. Kalau saja tak ingat hari ini dia menjadi petugas membaca pembukan UUD 1945 upacara di sekolah. Kalau saja tak ingat hari ini camat datang menggantikan pak kepala sekolah gembrot itu di mimbar, dia pasti benar-benar klukup sarung saja di kamarnya.

Di jalan, waktu Basuki menyapa, dia abaikan. Ada ayam babon yang mau menyerangnya karena menghalangi jalan, dia cueki. Ada tukang bangunan beli es cendol kesukaannya, dia acuhkan. Sampai ada layangan putus yang biasanya dia kejar, dia pasrahkan pada orang lain. Dia ingin buru-buru sampai sekolah, dan menendang kursi atau meja saja.

Sampai di sekolah, keinginannya menendang meja menyurut. Melihat pak camat sudah berdiri di atas mimbar, dia punya ide lain.

Gilirannya membacakan pembukaan UUD 1945. Semuanya khidmat mendengar suaranya yang lantang sampai ke sudut-sudut lapangan sekolahnya yang tak lebih luas dari lapangan tenis. Daripada lapangan, itu lebih tepat disebut halaman. Tak ada satu kata pun yang terlewat dari pandangan mata dan bibirnya. Sampai di bagian akhir, dia tambah lantangkan suaranya.

“…. dengan berdasar kepada, ketuhanan yang maha esa, kemanusian yang adil dan beradap, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan…” sentuhan akhir, Asrul menarik nafas dalam-dalam. Daripada membaca, dia lebih terdengar seperti teriak keras-keras. “….keadilan pembagian raskin bagi seluruh rakyat Indonesia!” semua mata langsung mendelik mendengar kalimat terakhirnya. Apalagi mata pak kepala sekolah yang paling gembrot di antara barisan guru di depan sana. Tapi Asrul tak peduli. Dengan mantab, semangat ’45, dia melangkah mundur. Dia puas menyindir camat di depan itu.

“Maafin Asrul ya, Pak Karno. Sekali ini aja Asrul ganti sila ke-5,” ujarnya dalam hati.
 
SEKIAN