Baju kumal, bau tanah,
noda keringat. Sepatu merk tiger yang KW-nya kualitas atas bercumbu
dengan lumpur. Bau sabun pel lantai saja belum hilang semestinya. Dalang dari
gantinya bau itu ya cuma sepatu itu. Lebih benar biangnya ya si pemilik. Bocah
penyandang sabuk hitam kejuaraan gundu antar kelas di sekolahnya, Asrul.
Meja makan yang dia
tuju. Caranya membuka tudung saji menggunakan mode kecepatan cahaya. Belum
melirik blas isinya, satu kakinya kilat, melangkah menjangkau rak
piring. Menjumput satu yang pinggirnya agak pecah, dan sendok sebiji. Soalnya
asal-asalan, yang diambil malah sendok kecil, sendok buat menakar gula putih
waktu buat teh. Dia tak peduli. Yang penting bisa bernegosiasi dulu biar
cacing-cacing itu tak menghancurkan
perutnya.
Piring sudah siap di
atas meja, bokongnya juga sudah mendarat lentik di atas kursi, sendok mungil nangkring
di atas piring, tudung saji terbuka, giliran mulutnya melompong. Ada angin
segar yang menyapa meja makan, tepatnya di bawah tudung saji tadi. Cuma ada
jangkrik yang ber-krik krik ria. Kalau ada gagak lewat, paling tambah
lengkap dengan suara kak kak-nya. “Mak!” suara 8 oktafnya melengking.
Ingat kalau emak-nya penyandang gelar paling cerewet di kampungnya,
dengan tenaga seadanya dicopotnya sepatu kesayangannya itu. Dilempar sedekat
mungkin dengan rak sepatu di dekat pintu dapur. Hup! Ia berhasil,
berjarak 1 ¼ cm dari raknya.
“Mak! Mak!” panggilnya
lagi. Berlari kecil ke arah warung. Emak-nya lagi sibuk-sibuknya
membungkus ikan asing untuk Bu Inah, tetangga yang doyannya ngebon itu. Asrul
melirik malas.
“Pasti ngutang lagi,” sungutnya membatin.
“Mak! Mak!” teriaknya
lagi.
“Ngapa to,
Srul?” balas emak-nya dengan logat jawa yang lebih medok dari sambal
gado-gado.
“Mak, mak! Itu kenapa
gak ada makanan blas? Asrul kan laper, Mak!”
“Ya, gimana, Srul?
Bapakmu belum pulang.”
“Bapak ke mana to, Mak?”
“Ngambil raskin itu
tempat Pak Lurah. Nanti kalau Bapakmu wes bali, tak masakin,” jawab emak-nya yang akhirnya
hanya bisa direspon dengan wajah berlipat. Persis seperti bentuk perut kepala
sekolahnya yang gembrot. “Nih, digoreng sek, buat lauk,” tambah emak-nya,
melempar sebungkus ikan asin. Bu Inah sudah pergi. Dengan tambahan catatan di
buku daftar pengutang punya emak-nya.
Sisa tenaga tinggal
seujung kuku. Daripada nganggur, sambil memikirkan amukan brutal
cacing-cacingnya. Mending ganyang ikan asin aja nanti kalau sudah
matang.
Sialnya, bau ikan
asing goreng malah memperkeruh suasana hati sang cacing-cacing. Tambah krucuk
bunyinya. “Emak… laper…” eluh Asrul sambil memegangi perutnya. Bapaknya kelewat
lama cuma buat mengambil beras miskin yang rumah pak lurahnya itu cuma sepuluh
menit ditempuh dengan jalan kaki itu.
Sambil ngemil ikan
asin, Asrul mencoba bersabar. Sampai emak-nya ngomel-ngomel karena bekas
sepatunya tadi, yang meninggalkan jejak di mana-mana. Dia cuma diam. Menikmati setiap decibel bunyi perutnya itu.
Arkh… laper!
“Assalamu’alaikum!”
suara berat bapaknya terdengar. Asrul langsung terlonjak. Energinya yang belum
terisi langsung mode full. Bapaknya sudah pulang! “Pak! Pak! Mana
berasnya?” teriaknya girang. Tapi, sampai di depan, yang ia lihat, bapaknya
bukan berbekal karung yang berat. Malah singkong yang masih lengkap dengan
tanah dan sepenggal tangkainya.
“Lah, mana berasnya,
Pak?” tanyanya, hatinya mulai gundah gulana. Mengharap sesuatu yang tidak akan
membuatnya dongkol.
“Walah! Berasnya
habis, Srul,” jawaban bapaknya sepenuhnya membuat lutut Asrul lemas. Makin
ramai saja suara demo cacing-cacingnya. “Nih, direbus aja. Buat ganti nasinya,”
tambah bapaknya.
“Ya, masa singkong
dilaukin ikan asin, Pak!” rutuk Asrul sebal.
***
Asrul ngambek
semalaman. Dia akhirnya merampas mi instan satu-satunya yang masih tersisa di
warung emak-nya. Dia makin uring-uringan karena tahu, kalau si Basuki,
anak yang lebih kaya darinya dapat jatah beras. Gak adil! Gimana, sih, bagiinnya?!
Dumelnya berulang-ulang.
Hari ini, nyaris saja
dia mogok sekolah. Kalau saja tak ingat hari ini dia menjadi petugas membaca
pembukan UUD 1945 upacara di sekolah. Kalau saja tak ingat hari ini camat
datang menggantikan pak kepala sekolah gembrot itu di mimbar, dia pasti
benar-benar klukup sarung saja di kamarnya.
Di jalan, waktu Basuki
menyapa, dia abaikan. Ada ayam babon yang mau menyerangnya karena
menghalangi jalan, dia cueki. Ada tukang bangunan beli es cendol kesukaannya,
dia acuhkan. Sampai ada layangan putus yang biasanya dia kejar, dia pasrahkan
pada orang lain. Dia ingin buru-buru sampai sekolah, dan menendang kursi atau
meja saja.
Sampai di sekolah,
keinginannya menendang meja menyurut. Melihat pak camat sudah berdiri di atas
mimbar, dia punya ide lain.
Gilirannya membacakan
pembukaan UUD 1945. Semuanya khidmat mendengar suaranya yang lantang sampai ke
sudut-sudut lapangan sekolahnya yang tak lebih luas dari lapangan tenis.
Daripada lapangan, itu lebih tepat disebut halaman. Tak ada satu kata pun yang
terlewat dari pandangan mata dan bibirnya. Sampai di bagian akhir, dia tambah
lantangkan suaranya.
“…. dengan berdasar kepada,
ketuhanan yang maha esa, kemanusian yang adil dan beradap, persatuan Indonesia,
kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan…” sentuhan akhir, Asrul menarik nafas dalam-dalam. Daripada membaca,
dia lebih terdengar seperti teriak keras-keras. “….keadilan pembagian raskin
bagi seluruh rakyat Indonesia!” semua mata langsung mendelik mendengar kalimat
terakhirnya. Apalagi mata pak kepala sekolah yang paling gembrot di antara
barisan guru di depan sana. Tapi Asrul tak peduli. Dengan mantab, semangat ’45,
dia melangkah mundur. Dia puas menyindir camat di depan itu.
“Maafin Asrul ya, Pak
Karno. Sekali ini aja Asrul ganti sila ke-5,” ujarnya dalam hati.
SEKIAN