“Dia nyesel, Ga. Sekarang dia beneran sayang sama kamu,” beberapa
minggu setelah putus, Ega mendapatkan kata-kata ini. Kata-kata yang membuat Ega
kembali kebingungan. Bingung dengan perasaannya sendiri yang dengan mudahnya
mengiyakan kebenaran kata-kata ini tanpa harus menyelidiki kebenarannya
terlebih dahulu. Dengan mudahnya ia kembali bersama Bunga. Sahabat-sahabatnya
sebenarnya tak ada yang mendukungnya. “Gua pengen membuktikan kebenaran
perasaannya,” dalihnya pada sahabat-sahabatnya itu.
Tapi Bunga menjadi seperti yang diharapkan Ega. Bunga bersikap seperti
awal mereka jadian dulu. Bunga yang manis, peduli dan perhatian. Membuat Ega
semakin yakin bahwa Bunga sudah berubah. Bunga sudah menjadi gadis yang ia
inginkan. Setidaknya, sikap Bunga bisa menutup luka di hatinya saat itu.
Suatu kali, Bunga memintanya untuk membelikannya sebuah gitar. Bunga
memberinya beberapa lembar seratus ribuan pada Ega. Hari kamis, seharusnya Ega
sekolah, ia korbankan hanya untuk membeli gitar. Nekad, ia pergi sendiri dengan
naik angkutan umum.
Belum sampai di tempat yang dituju, Ega dihadang beberapa anak punk. Dengan suara alakadar mereka, mereka ngamen di depan Ega. Ega cuma diam, menikmati
lagu yang mereka sajikan. Tapi, siapa sangka anak-anak punk itu memaksanya untuk membayar? Padahal,
selain uang gitar itu, Ega sama sekali tak bawa uang.
“Enggak ada, Bang,” ucap Ega sesopan mungkin.
“Seribuan aja lah. Kita beneran belum makan ini,” ujar salah satu dari
mereka.
“Beneran, Bang. Enggak ada,” jawab Ega lagi. Tapi anak-anak punk itu makin memaksanya. Hampir saja Ega
dapat satu pukulan manis jika tak ada satpam yang meniupkan peluit ke arah
mereka. Ketika anak-anak punk itu menoleh ke arah satpam itu, Ega dengan secepat kilat berlari
pergi. Dan saat itu juga anak-anak punk itu sadar. “Woy!” teriak mereka seraya menunjuk-nunjuk Ega dan berlari
berusaha mengejarnya.
Ega terus berlari, menghindari kejaran mereka dengan menyelip di
beberapa box buah di pasar itu. Dilepaskannya jaket yang tengah ia kenakan.
Kaos di dalamnya menyamarkan tubuhnya. Berbekal sebuah masker, ia berhasil
mengelabui mereka. Mencoba untuk santai, meski jantung dag
dig dug tak karuan, anak-anak punk itu melalui Ega begitu saja. Mereka tak sempat curiga karena wajah Ega
yang tak kelihatan. Melihat situasi telah aman, akhirnya Ega berlari masuk ke
toko gitar.
Satu per satu gitar dicobanya. Mencari yang cocok untuk tangan dan
badan Bunga. Gitar ke lima yang ia coba, ia tak sengaja memutuskan senarnya.
Cepat-cepat ia kemas kembali gitar itu dalam wadahnya. “Ada yang lain, Pak?”
tanyanya beralibi. Tapi setidaknya, penjual itu tak menyadari apa yang sudah
dilakukan Ega.
Sebuah gitar hitam, dengan warna silver kelap-kelip dan body yang cukup tipis, dirasa cocok untuk
Bunga. Ega pun pulang dengan sekotak gitar.
Ketika melewati jalan layang, apesnya, Ega bertemu seorang nenek gila,
dengan kaos ketat dan leging ketat di kakinya. Sebuah mainan bayi dan sebatang rokok ada di
tangannya. Ia sempat bertatap-tatapan lama dengan nenek gila itu. “Mau kemana?”
tiba-tiba nenek itu menyanyi dan hampir saja menangkap Ega. Ega berlari
bermaksud kembali lagi turun. Tapi, belum sempat turun, Ega melihat beberapa
anak punk tadi ada di bawah.
“Mampus! Gimana, nih?” umpat Ega kebingungan. “Turun gua abis sama
anak-anak punk itu. Naik, gua bisa ikutan gila sama tu nenek-nenek,” ujarnya lagi
seorang diri.
Ia malah terdiam di tangga. Dilihatnya ke atas, nenek gila tadi makin
mendekat. Dilhatnya ke bawah, anak-anak punk itu tak kunjung pergi. Sampai nenek
gila tadi hanya tingga setengah meter lagi darinya, ia nekad turun ke bawah.
Anak-anak punk tadi untunglah langsung pergi ketika ia tiba di bawah. Sebuah angkutan
umum berikut yang menghampirinya langsung ia sikat.
“Untung gua gak jadi gila,” desahnya perlahan. Matanya sempat menilik
nenek gila tadi yang sudah berhasil turun ke bawah. Ia bergidik ngeri
membayangkan jika ia berhasil tertangkap nenek gila tadi.
***
Akhir-akhir ini, entah kenapa Bunga jadi suka marah-marah tanpa alasan.
Seolah-olah, apapun yang dilakukan Ega adalah sebuah kesalahan. Ega mencoba
bertanya baik-baik apa kesalahannya, tapi Bunga selalu saja menanggapinya
dengan ketus. Yang membuat telinga Ega panas, seseorang pernah nyeletuk, “Dia itu udah bosen sama kamu, Ga.”
Heh! Bosan?
Semudah itukah kata bosan terbentuk? Apa kali ini Ega dijadikan permainan lagi
oleh Bunga? Entahlah, Ega punya perasaan tak enak soal ini.
Di rumah, Ega
membongkar celengannya. Hasil dari ia bekerja paruh waktu sebagai anak sanggar,
baru dapat tiga ratus ribu. Ia bermaksud membuat Bunga senang. Ia pergi ke toko
boneka. Dibelinya boneka beruang pink yang cukup besar seharga dua ratus tujuh
puluh ribu rupiah. Tentunya dengan tawar menawar sebelumnya. Ia tersenyum,
mengusap boneka yang benar-benar lembut itu. “Bunga pasti senang,” gumamnya
senang.
Di belakang
kelas Ega bertemu dengan Bunga. Ia berikan boneka itu dengan senyuman yang
sumringah. Tapi, apa yang dilakukan Bunga? Ia menerima boneka itu tapi dengan
tampang kecut. Ia seperti tak suka dengan yang dilakukan Ega. Entah apa itu.
“Kita udahan,
ya?” tiba-tiba kata-kata itu menghujam jantung Ega saat itu juga. Dengan
mudahnya Bunga berkata seperti itu setelah ia memberikan sebuah boneka atas
jerih payahnya sendiri. Dengan mudahnya Bunga memasang wajah biasa saja
mengucapkan kata putus.
“Ke, kenapa...”
“Aku udah bosen
sama kamu!” Ctarr!!! Serasa dicambuk petir, kata-kata itu benar-benar
menyakitkan hati. Mudah benar rasanya kata bosan terlontar lewat bibir manis
Bunga. Ega hampir-hampir tersungkur tak percaya. Tapi ia tahan sekuat hati. Ia
mencoba tersenyum sebelum pergi. Lagi-lagi ia sakit hati. Lagi-lagi ia dibodohi
oleh wanita yang sama. Menyesal ia tak mendengar kata-kata sahabatnya. Ia
lagi-lagi ditusuk. Ditusuk dan kali ini dengan racun yang mematikan. Ia
benar-benar sakit! Sakit benar rasanya!
Selepas putus
dari Bunga, Ega kembali aktif di Pramuka. Tapi entah takdir atau apa, Bunga
juga sama aktifnya di Pramuka. Kegiatan apapun selalu mereka ikuti. Hingga
ketika Ega terpilih menjadi Pradana, Bunga malah terpilih juga menjadi Pradani.
“Kakak tahu
gimana masalahmu sama dia. Tapi, ini amanat. Tolong profesional, jangan
bawa-bawa masa lalu kamu sama dia di pramuka ya, Ga?” pesan kakak pembina pada
Ega. Ega hanya mengangguk. Meski ia sendiri tak tahu, benarkah ia bisa?
Satu bulan
berlalu, Bunga bisa diajak bekerja sama. Pramuka berjalan cukup baik atas
kepemimpinan dari keduanya. Tapi, ketika mereka akan mengadakan sebuah HUT Ambalan,
tibalah percekcokkan itu. Tak pernah sependapat dengan Bunga, membuat
perdebatan antara Ega dan Bunga terus saja berlanjut. Bahkan, setiap rapat
rasanya hanya suara perdebatan mereka saja yang terdengar. Entah kenapa, mereka
selalu saja tak pernah sejalan. Selalu beda pikiran.
Alhasil, apapun
yang dikerjakan mereka tak pernah beres. Pramuka seperti hampir hancur lebur di
bawah kepemipinan mereka. Setiap ada acara semuanya serba seadanya. Tak pernah
ada rencana yang matang karena tak pernah ada satu jalan yang sama.
Ega hampir
menyerah. Apalagi setelah sahabat-sahabatnya menemuinya. “Kita orang kecewa
sama elo, Ga. Elo enggak bisa profesional. Elo hancurin pramuka ini cuma karena
masa lalu lo. Mendingan kita semua keluar dari pramuka kalau kayak gini caranya.” Dan pergilah
mereka semua.
Parahnya lagi,
Bunga pun pergi entah kemana. Akhirnya, hanya Ega yang melakukan semuanya
sendiri. Tanpa adanya Pradani, tanpa adanya sahabat-sahabatnya, dan hanya
bantuan ala kadarnya dari adik-adik kelasnya. Semuanya berjalan layaknya jalan
yang penuh kerikil dan duri. Ega sudah mengemban amanat. Ia tak akan mungkin
lepas begitu saja dari amanat ini. Meski sulit benar rasanya, Ega mencoba
bertahan sekuat tenaga.
Tujuh hari
sebelum hari H, Ega bisa sedikit tersenyum. Sahabat-sahabatnya kembali
mengulurkan tangan untuknya. Memberinya dukungan dan bantuan kembali.
Membuatnya makin yakin, bahwa sahabat adalah segalanya. Ia terima uluran itu,
dan menjadikannya sebagai air murni di tangah sahara yang begitu panasnya. Ia
ingin menangis, namun tangisan kebahagiaan.
Sampai upacara
pembukaan acara itu, Bunga tak nampak sama sekali. Di akhir upacara, barulah ia
datang. Tapi hanya angin lalu, datang untuk pergi. Di acara puncaknya, Bunga
malah tidak datang. Mau tak mau Ega harus berjuang sendiri. Setidaknya masih
ada sahabat-sahabatnya di sampingnya.
Begitu acara
selesai, Ega bermaksud membicarakan masalah ini pada Bunga. Di kelas, ia dekati
Bunga. “Kenapa kemarin kamu enggak dateng?” tanya Ega baik-baik. Lantas,
baik-baikkah juga respon yang ia dapat? Tidak! Ia bahkan tak dilihat sama
sekali. Bunga dengan angkuhnya pergi begitu saja tanpa memperdulikan satu huruf
pun dari pertanyaan Ega.
Setitik perih
tertoreh di ulu hati Ega. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia pradana,
kekuasaannya lebih tinggi. Tapi dengan mudahnya kekuasannya dilengserkan. Ia
ingin tegas, tapi entah kenapa ia tak bisa. Ia benar-benar marah, tapi tak bisa
mengutarakannya. Alhasil, ia hanya bisa menjambak rambutnya sendiri kuat-kuat.
Ega mencoba
mencari kesempatan lain. Saat Bunga sendirian di bawah pohon di depan kelasnya,
Ega kembali mendekatinya. Bunga hampir pergi, tapi ditahan olehnya.
“Plis! Dengerin
aku!” sentak Ega.
“Apa, sih?!”
ketus Bunga.
“Dengerin aku
sebagai Pradana kamu!” Ega mencoba membentaknya. Meski wajah Bunga tetap
tertekuk, paling tidak dia mau mendengar Ega.
“Aku enggak
peduli apa yang mau kamu lakuin ke aku. Aku enggak peduli gimana pandangan kamu
ke aku gimana,” Ega mencoba menjelaskan semuanya. “Tapi, kamu udah dikasih
amanat sebagai Pradani. Aku juga. Aku pemimpin di sini, dan kamu adalah
wakilku. Kita harus profesional. Kita harus bawa pramuka ini menjadi lebih
baik. Jangan bawa-bawa masa lalu kita ke pramuka ini.
Seenggaknya, bertahan
sampai pramuka ini selesai. Setelah itu, kamu mau apain aku, terserah! Aku
enggak peduli! Asalkan, jangan buat pramuka ini hancur!” jelas Ega panjang
lebar.
Ditatapnya mata
Bunga tajam. Bunga terdiam cukup lama. Mungkin mencoba meresapi kata-kata Ega.
Hingga akhirnya, ia mengangguk. Setuju dengan permintaan Ega tadi.
Akhirnya,
semuanya berjalan mulus. Ega dan Bunga bisa memimpin pramuka dengan baik. Meski
sebenarnya di hati keduanya benar-benar tak cocok satu sama lain, tapi mereka
coba kesampingkan semua itu demi organisasi yang mereka ikuti. Mereka bertahan
selama enam bulan. Sampai reorganisasi selesai digelar, dan mereka sudah tak
andil lagi dalam pramuka, Bunga benar-benar lepas kontak dari Ega. Satu bulan
lebih, mereka tak pernah bertegur sapa. Padahal, mereka satu kelas. Bertemu
hampir setiap waktu di sekolah. Jangan tegur sapa, saling melihat satu sama
lain saja rasanya tak pernah.
Ega sadar, ia
tidak nyaman dengan ini semua. Mereka seperti musuh. Entah kenapa Bunga yang
membencinya. Padahal ia yang seharusnya marah. Bukan Bunga. Ia yang dikhianati,
tapi betapa lucunya. Malah ia yang kelihatannya menjadi orang jahat. Ia
benar-benar menyerah. Ia sudah angkat tangan dan terserah apa yang akan
dilakukan gadis itu padanya.
Tapi, satu
bulan itu berlalu, gadis itu duluanlah yang mulai mencoba kembali mengakrabi
Ega. Ega tak menganggap itu sebuah pengakraban. Karena apa? Apa yang
diceritakan Bunga padanya adalah semua tentang pacar barunya. Bukan karena Ega
cemburu, hanya saja, Bunga terlihat mencoba memanas-manasi Ega. Ega tidak
panas, hanya kesal dengan sikap gadis jahat ini. Berdalih dari kekesalannya, ia
menjadi malaikat paling baik. Ia hanya tersenyum dan menanggapi dengan
kepuraaan yang riang gembira jika gadis itu menceritakan apapun tentang pacar
barunya itu.
***
“Jadi kamu enggak mau punya pacar lagi?” tanyaku penasaran.
“Buat sekarang enggak dulu, deh! Pusing mikirin cewek. Boros duit tau!”
kata Ega. Aku cuma tertawa. Lantaran ekspresinya yang benar-benar lucu dan
Puguh yang di belakangnya terus saja mengkode aku dan Fatia bahwa apa yang
diceritakan Ega adalah bohong. Dan ketika ia dipergoki
Ega, ia akan bertingkah
seolah-olah tak pernah melakukan apapun.
Ya, aku tak bisa menjamin ceritanya itu benar. Tapi, lewat ceritanya itu, aku bisa tahu. Seseorang punya ketulusannya masing-masing. Termasuk Ega alias Karis. Aku tak pernah tahu ada cewek yang jahat menjadikan cowok yang menyayanginya begitu tulus sebagai pelampiasan. Di balik ke-hyperaktifan seorang Karis, ada juga kisah cinta yang begitu rumit seperti itu.
Aku hanya bisa tersenyum. Tersenyum kecut, karena aku sendiri pun tak
pernah bahagia meneguk rasa cinta. Di balik hariku yang seolah indah bagai
pelangi, tak kan ada yang menyangka banyak guntur dan petir di sana.
Pandangku tertuju pada seseorang. Aku tak pernah menyangka aku akan
bisa sejahat ini padanya. Tapi entahlah, aku tak tahu apa yang lagi yang harus
kulakukan selain mendiamkannya.
“Maaf...” lirihku pelan.
Selesai
Sebelumnya
