"Bruk!"
"Oh, jeongmal mianhaeyo!" suara gadis ini terdengar parau. Mungkinkah ia baru saja menangis? Entahlah. Tak dapat dipastikan karena ia langsung menunduk begitu menabrak laki-laki yang hanya menatapnya memberesi bukunya yang berjatuhan ke tanah. "Mentang-mentang aku yang salah, dia sama sekali tak mau membantuku," rutuk gadis ini.
"Sekali lagi aku minta maaf," ucapnya lagi seraya berdiri. Mau tak
mau ia harus menatap pemilik wajah yang ditabraknya ini. Mulutnya sedikit
menganga melihat pahatan Tuhan yang begitu indah di depannya itu. Wajah putih
mulus, hidung bangir, bibir merah yang sudah menyungging senyum tipis itu mampu
menghipnotisnya walau hanya sesaat. "Oh, Lee Donghae~ssi!" ucapnya
menyebut nama laki-laki yang beda fakultas dengannya itu. "Oh, jeongmal mianhaeyo!" suara gadis ini terdengar parau. Mungkinkah ia baru saja menangis? Entahlah. Tak dapat dipastikan karena ia langsung menunduk begitu menabrak laki-laki yang hanya menatapnya memberesi bukunya yang berjatuhan ke tanah. "Mentang-mentang aku yang salah, dia sama sekali tak mau membantuku," rutuk gadis ini.
"Em..."
"Nan neun..." Gadis ini mencoba memperkenalkan diri. Tapi siapa sangka, Donghae sudah lebih dulu tahu namanya. "Neo neun Kim Nana, kketjyo?" ucapnya.
Nana sempat melongo. Tapi kemudian ia tersenyum melihat telunjuk kanan Donghae menunjuk ke arahnya.
"Ne. Na neun Kim Nana ieoyo."
Donghae mengangguk pelan. Namun senyum manisnya masih jelas terpampang di wajah tampannya.
"Oh, Donghae~ssi!" tiba-tiba Nana tersentak. Seperti ia baru saja teringat sesuatu. "Maaf, aku harus pergi sekarang," ucap Nana sebelum membungkuk sedikit lalu berlari pergi. Sedang Donghae masih setia menatapi punggungnya.
***
"Irene~a!!!"
Irene melonjak kaget mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal, memanggil namanya. Hampir saja ia tersedak jus yang baru saja diteguknya. Tapi si pembuat onar tak peduli dan langsung mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Mwoya?!" Irene makin kesal karena dengan seenak jidatnya, Nana malah menyedot habis jus orangenya tadi.
"Aku bertemu dengan Lee Donghae!!!" jawab Nana histeris. Tapi Irene hanya menatapnya dengan bingung bercampur sebal. "Bahkan dia tahu namaku!!!" lanjutnya lagi.
"Oh, apa harus kucatat kejadian ini di diaryku?" gumamnya kemudian. Irene tak memperdulikannya saat Nana mengaduk isi tasnya untuk mengambil buku hariannya.
"Omo! Eoddiseo?" Tiba-tiba suara Nana beruibah panik. Ia makin cepat mengaduk isi tasnya. Bahkan saking paniknya, ditumpahkannya seluruh isi tasnya itu di atas meja.
"Ya! Ya!" protes Irene melihat kelakuan sahabatnya ini.
"Akh... Nae diary! Eoddiseo?" hampir-hampir Nana menangis. Bahkan sampai mencari-carinya ke dalam tas Irene.
"Ya! Ya! Mana mungkin aku mengambil diarymu, eoh?" bentak Irene sebal. "Mungkin kau meninggalkannya di rumah."
"Aniya! Aku selalu membawanya kemanapun aku pergi! Diary itu adalah seluruh hidupku. Kalau sampai ada membacanya! Akh!!! Eottohke?" Nana mengacak rambutnya frustasi. Sedang Irene hanya memberinya tatapan yang seolah mengatakan, "Aku tak mengenalnya."
***
Bibir Donghae tak henti-hentinya menyungging senyum. Ia sudah mendudukkan pantatnya di salah satu bangku di taman kampus. Matanya sibuk membaca deretan hangul di dalam buku tebal yang tengah dibacanya sekarang.
"Catatan hidup Kim Nana?" ejanya terkekeh pelan. Perlahan dibukanya lembar demi lembar. Ia terus saja tersenyum dan sesekali tertawa kecil. Awalnya ia ingin mengembalikannya langsung tadi saat menemukannya tak jauh dari tempatnya ditabrak Nana tadi. Mungkin diary ini terjatuh dan terlewati begitu saja dari Nana.
"Ya!" tiba-tiba saja seseorang memukul punggungnya pelan. "Kenapa senyum-senyum sendiri, hah?" tanya sahabatnya itu, Lee Hyuk Jae, setelah ia duduk di samping Donghae.
"Kudapatkan rahasia kehidupan seseorang," ucap Donghae tanpa beralih sedikitpun dari buku itu.
"Bicara apa kau ini?" Hyuk Jae sama sekali tak mengerti. Tapi Donghae tak menanggapinya. Tiba-tiba muncul sebuah ide gila di otaknya. Entahlah.
***
"Kim Nana~ssi!" panggil Donghae begitu melihat Nana baru saja memasuki gerbang kampus. Sontak Nana langsung terhenti demi melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
"Oh! Donghae~ssi?" balasnya senang. Ia bertemu dengan Donghae lagi, laki-laki yang sudah lama disukainya.
"Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu," ucap Donghae tersenyum manis di hadapan Nana.
"Mwoyo?" Nana menatapnya heran. Hadiahkah?
Tapi tiba-tiba Donghae melangkah maju. Memaksa Nana untuk melangkah mundur. Sedikit takut apalagi saat Donghae meraih tangannya agar tak lekas menjauhinya. Dan tiba-tiba! Hup! Donghae mengecup bibirnya sekilas. Hey! Apa-apaan itu?
"Mwo, mwohaneungeoyo?" tanya Nana tergugup. Tapi lihatlah! Donghae malah tersenyum dan menjawab pertanyaan itu dengan santai. "Neol kisseuyo."
"M, mwo?"
"Hey! Bukankah itu impian terbesarmu? Berciuman dengan seorang Lee Donghae!" jawab Donghae yang sukses membuat mata Nana membulat sempurna.
"Da, darimana kau tahu?"
"Tebak! Aku baru saja menemukan sebuah catatan berharga!"
Nana mendelik. Sekarang ia mengerti. Jadi Donghae yang menemukan diarynya? "Mana buku itu? Kembalikan padaku!" sentak Nana berkali-kali mengulurkan tangannya. Berharap Donghae mau mengembalikan bukunya.
Tapi yang didapatnya jelas sebuah penolakan. "Shireoyo!" Begitu mengucapkannya, Donghae berlari pergi dari sana. Menyisakan Nana yang panik, kalut, dan malu sekaligus.
"Irene~a!!!" Ya, siapa lagi yang akan ditemuinya kalau bukan Irene? "Ya! Song Irene!" panggilnya saat menemukan Irene duduk di bangku depan kelasnya. Membuat Irene harus mengatur detak jantungnya yang terkejut karena panggilan tiba-tiba itu.
"Wae, wae, wae?!" tanya Irene kesal.
"Diaryku ada di tangan Donghae!!"
"MWORAGO?!" Oke, kali ini Irene ikut tak percaya. "Ya! Apa saja yang kau tulis di sana, hah?"
"Semuanya! Semua keinginanku dan perasaanku padanya!"
"Apa?" Irene gemas sendiri.
"Semuanya! Ya! Bahkan ia menciumku tadi!"
"M, mwo?"
"Itu keinginanku yang pertama."
Irene kembali menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya. "Apalagi?" tanyanya lagi. Tapi Nana malah mempersilahkannya untuk menebak.
"Bergandengan tangan dengannya?"
Nana mengangguk membenarkan. "Berpelukan dengannya, makan bersama, jalan berdua, memberimu bunga?" Yak! Semuanya dibenarkan oleh Nana. "Apalagi?" tanya Irene curiga. "Mwo? Tidur dengannya?"
"ANIYA!!!" sergah Nana cepat. "Apa aku sebodoh itu?"
"Lalu apa?"
***
"Tidur dalam dekapanku?" Donghae benar-benar tak percaya dengan kalimat terakhir yang dibacanya ini. "Micheosseo!"
"Mwo? Apanya yang gila?" Hyuk Jae yang duduk di samping Donghae mendengar umpatan yang tak ditujukan padanya itu.
"Seseorang yang membuat daftar gila," jawab Donghae yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh Hyuk Jae.
"He?"
"Hyuk Jae~ya! Maukah kau membantuku sesuatu?" Donghae malah bertanya.
"Apa itu?"
"Kau akan tahu nanti. Tapi sebelum itu, aku akan selesaikan daftar ini dulu," ucap Donghae dan lagi-lagi tersenyum.
Keesokan harinya, Donghae benar-benar melakukan daftar keinginan yang ditulis Nana dalam diary itu. Nana hanya diam. Meski ia senang, tapi malu membebaninya. Yang didalam fikirannya, Donghae hanya mengerjainya. Berkali-kali Nana menyuruh Donghae untuk menghentikan aksi gilanya, Donghae malah tersenyum dan tetap melanjutkannya.
Di penghujung hari, Donghae mengantar Nana pulang. Setelah seharian mengajak Nana bolos kuliah, hanya untuk menyelesaikan semua daftar di bukunya.
"Mianhaeyo," ucap Donghae begitu Nana turun dari motornya. Menanggapinya, Nana hanya menatapnya bingung. "Tidur dalam dekapanku, aku tak bisa melakukannya," lanjutnya. Seketika itu juga semburat merah memenuhi pipi Nana. Ah! Betapa malunya Nana.
"Sebagai gantinya, ini untukmu." Tangan Donghae mengulurkan bungkusan segi panjang berwarna biru. Lumayan tebal.
"Apa ini?" tanya Nana seraya menerimanya.
"Kau akan tahu saat kau membukanya," jawab Donghae. "Aku pergi," sambungnya dan berlalu begitu saja tanpa menunggu izin dari Nana.
Penasaran, Nana langsung masuk ke kamarnya untuk membuka isi bungkusan itu. Sebuah buku tebal dengan judul "Catatanku" buku hariankah?
Dibacanya lembar demi lembar tulisan di sana. Banyak kata-kata yang tak dipahaminya. Mungkin itu adalah catatan Donghae sejak dulu. Banyak masalah keluarga yang tak begitu Nana mengerti.
Tapi di lembar-lembar terakhir, betapa terkejutnya Nana. Banyak sekali namanya tersisip di setiap tulisan itu. Lewat tulisan itu, Nana tahu. Selama ini Donghae pun mengawasinya. Bahkan ia lebih dari Nana sendiri. Semua gerak-gerik Nana seolah tak terlewat sedikitpun dari mata Donghae. Nana jadi malu sendiri membacanya.
Nana makin tak percaya saat Donghae pun membuat daftar keinginan yang sama persis dengannya. Walaupun urutannya berbeda, tapi jelas semua keinginan itu sama persis dengan keinginan Nana dalam diarynya sendiri. Tapi ada yang aneh. Keinginan terakhir di lembar itu hanya diberi titik-titik. Ya, Donghae tak segila Nana yang menginginkan tidur dalam dekapannya.
Di lembar terakhir, ada alamat yang sengaja dituliskan Donghae di sana. Hari dan waktunya pun tercantum. "Mungkinkah aku harus kemari?" gumam Nana seorang diri.
***
Persis di waktu dan tempat yang ditulis Donghae di buku hariannya, Nana ke sana. Sebuah taman di tengah kota Seoul. Baru menjejakkan kaki di jalan awal memasuki bagian tengahnya, Nana sudah disambut dengan lilin warna-warni. Ia tahu, ia harus mengikuti arah lilin ini. Dan tibalah ia di tengah taman. Seseorang berjas hitam yang ia yakini adalah Donghae sudah berdiri di depan lambang hati besar dengan lampu merah yang mengitarinya. Berdiri memunggunginya. "Donghae~ssi?" panggil Nana memastikan.
Donghae pun berbalik. Ia tersenyum melihat Nana yang begitu cantik dengan gaun malam biru lautnya. Perlahan ia berjalan mendekatinya. Suasana yang begitu romantis membuat senyuman di wajahnya terlihat begitu manis.
"Maaf, keinginan terakhirku tak sama denganmu," ucap Donghae setelah berada tepat di depan Nana.
"Inilah keinginan terakhirku," ucapnya lagi seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Nana. Memiringkan kepalanya ke kanan dan menyapu bibir mungil Nana dengan lembutnya. "Kim Nana... Saranghae..." bisiknya begitu lembut.
Nana terpaku. Ia tak menyangka cintanya terbalas. Ia baru saja ditembak oleh Lee Donghae, laki-laki pujaannya. "Em, nado. Nado saranghae," balas Nana sambil meneteskan air mata bahagianya. Dan, grep! Dipeluknya erat tubuh Donghae. Merasakan aroma tubuh Donghae yang sangat harum dan menyenangkan. Donghae pun membalasnya dengan erat. Luapan kebahagian hatinya yang tiada tara.
Tiba-tiba "Dorr!" Terdengar letusan kembang api di atas langit. Nana melepaskan pelukannya. Menatap takjub dengan kembang api di atas sana.
"Oh, aku lupa yang satu itu," ucap Donghae.
"Wah! Yeppoda!" decak Nana makin kagum. Indah sekali.
Sedangkan Donghae melirik seseorang yang berdiri di balik pohon tak jauh dari mereka. Ia tersenyum melihat orang yang tak lain dan tak bukan adalah Lee Hyuk Jae.
"Gomawo," lirihnya. Hanya dibalas dengan acungan jempol oleh Hyuk Jae.
Setelahnya, Donghae meraih tangan Nana. Kemudian menikmati letusan kembang api yang seolah menggambarkan betapa bahagianya mereka sekarang.
END
