Tuesday, January 14, 2020

Jantungku!


“Ahahaha… apa barusan? Komunitas apa? Komunitas anti reason? Hahaha….” Brian tak berhenti-berhenti tertawa. Kutarik-tarik ujung kaos olahraganya agar berhenti. Sambil kupasang wajah cemberutku agar dia mau diam.

“Sorry-sorry. Abisnya, temen-temen elo itu lucu banget, sih? Ada-ada aja bikin komunitas. Lagian, ya? Itu komunitas beneran anti reason apa komunitas buat para jomblo, sih? Ngumpulnya tiap malem minggu?”

“Iya! Dan mereka itu seenaknya aja kumpulnya di rumah gue. Padahal gue belum bilang, iya. Eh, mereka langsung bikin kesepakatan gitu aja.”

“Aduh, Mi. Hidup elo di kampus ini penuh drama banget ya jadinya?”

“Bener banget! Sampe-sampe gue rasa gue bisa bikin novel dalam waktu semalem kalau aja gue gak diserang kantuk! Ide gue langsung bermunculan gitu!” tambahku makin sebal. Ish! Brian kenapa tertawa terus, ya?

“Asik kali punya temen-temen yang bisa diajak ketawa. Daripada elo tiap hari di rumah sendirian, kan?” akhirnya Brian berhenti tertawa juga.

“Kan kalau weekend papa sama mama ada di rumah, Ian. Jadi percuma juga mereka ada atau enggak. Enggak ngaruh, tau!”

“Ya, udah. Nikmatin aja. Daripada elo gak punya temen. Mending, kan? Gak ikut ospek, tapi langsung diakrabin gitu sama mereka. Denger-denger dari cerita elo, kayaknya mereka orangnya gokil-gokil. Penting gak aneh-aneh, gak papa, kan?” mulai, deh! Brian menasehatiku. Kalau saja aku boleh meminta jadi anak kedua, aku rela kalau kakak pertamanya itu Brian. Dari caranya menanggapi semua ceritaku setiap hari, dari dulu sampai sekarang tak pernah bosan. Padahal aku cerewetnya minta ampun! Dan yang aku suka darinya, dia pasti mengusap-usap kepalaku. Duh… andai saja Brian ini benar-benar kakak laki-lakiku.

“Masuk sana! Gue ada jam, nih.” Selalu seperti itu. Selalu dia duluan yang mengakhiri pembicaraan. Aku paham sih. Kuliahnya lebih sibuk dariku. Program studi penjas kan lebih banyak praktek daripada teori. Memangnya aku yang sukanya duduk diam mendengarkan teman presentasi di kelas. Hari ini saja, 6 sks dua mata kuliah full teori. Sekali-kali kan ingin juga praktek. Kapan ya ada mata kuliah drama, teater atau apapun deh yang berhubungan dengan sastra?

Kuputuskan ke kelasku saja. Walaupun masih ada tiga puluh menit lagi, kurasa sudah ada orang di kelas. Apalagi kan…

“Awas!” eh! Wuah! Hampir saja aku terserempet motor kalau saja tanganku tidak ditarik.  Eh… ditarik siapa, ya?

“Hati-hati, dong!” sentak yang bawa motor. Huh! Kenapa aku jadi yang dimarahi? Padahal kan jalan ke parkir sedikit lagi. Seharusnya dia kan yang mengurangi kecepatannya?

“Gak papa?” ah, baru aku ingat! Si penolongku? Siapa, ya?

“Oh, ya. Makasih,” ujarku. Seorang cowok, perawakannya persis benar dengan Tora. Wajahnya, ehm… lumayan, sih. Cuma, senyumnya itu yang membuatku berpikir dia jauh lebih baik dari Tora. Dia jurusan apa, ya?

“Mau ke gedung C?” tanyanya. Aku mengangguk. Bagaimana dia bisa tahu? “Gue juga. Yok! Bareng,” ajaknya kemudian. Aku sempat bingung. Tapi setelah sampai di sana, barulah aku paham. Ternyata dia teman satu angkatan denganku, satu prodi. Hanya saja beda kelas. Namanya Badri. Bukan kenalan langsung sih. Aku hanya tahu waktu temannya memanggilnya tadi. Ternyata dia langsung tahu kalau aku adalah teman satu jurusan dan seangkatan dengannya. Bagaimana dia bisa tahu, ya?

“Sejak kapan elo kenal sama si Badri, Mi?” tiba-tiba Tora muncul dadakan seperti biasa. Kadang-kadang aku sempat berpikir, dia ini sebenarnya manusia apa jelangkung? Datang tak diundang, pulang tak diantar. Entah dari antah brantah mana lagi dia datang. Dan selalu saja lollipop itu sudah nyangsang di mulutnya. Kelakuannya persis seperti bocah SD!

“Enggak. Enggak kenal, kok. Cuma, dia tadi nolongin gue waktu gue hampir keserempet motor.”

“Wah! Keserempet? Kapan?” eh, Tora tiba-tiba jadi panik begitu? “Gak papa, kan?”

“Iya. Gue enggak papa!”

“Ih! Siapa yang nanyain elo, sih?”

“Hah? Terus?”

“Yang gue tanyain itu motornya! Motornya enggak papa, kan?”

“Ish, apaan, sih?!” seruku sebal. Kulempar saja bocah ini dengan buku Berbicara di tanganku. Dia malah cekikikan sambil lari ke kelas duluan. Dia itu menyebalkan sekali!

Sebelum masuk kelas, aku masih sempat melihat Badri tadi masuk ke kelas. Entah betulan atau hanya perasaanku saja. Kurasa Badri sempat tersenyum ke arahku. Kok rasanya PD betul kalau aku bilang dia sengaja tersenyum padaku. Entahlah.

***

Kalau saja kubilang diriku PD beberapa hari yang lalu, sekarang aku menepisnya. Nyatanya, Badri benar-benar memperhatikanku. Sejak hari itu, malamnya dia mengirimiku pesan. Entah darimana dia mendapat nomor hp-ku. Aku sudah bertanya padanya. Dan dia bilang dia dapat dari data yang waktu hari pertama kuliah harus dikumpulkan. Tapi aku yakin, tidak mungkin seperti itu. Kurang kerjaan benar dia mencomot-comot nomor hp sembarang orang. Apalagi aku kan belum dikenal siapa-siapa statusnya.

Yang membuatku sedikit canggung, waktu itu dia mengajakku pulang bareng. Aku baru saja keluar dari Fakultas, dan dia dengan motor besarnya menghampiriku. “Bareng, yuk! Daripada naik angkot, kan?”

“Tau darimana gue mau naik angkot?” selidikku heran.

“Gue sering ngeliat elo di halte. Yok! Gue anter,” ajaknya saat itu. Di atas motor dia banyak sekali bertanya. Yang kenapa bolos ospeklah, yang anak keberapalah, inilah, itulah. Sama sekali tak penting! Aku jawab seadanya. Awalnya aku ingin abai saja. Tapi, makin lama dia makin sering perhatian begitu. Pernah sekali dia tiba-tiba membelikanku buku Menulis 1, padahal aku tak minta padanya! Tanpa sebab, tak ada angin, tak ada hujan! Kenapa coba?

“Kayaknya dia suka sama elo deh, Mi,” ujar Sati di forum kami, malam minggu yang sedikit gerimis ini. Seperti biasa, kami hanya mengobrol-ngobrol biasa, dan membicarakan urusan hati masing-masing. Sejak kapan kesepakatan jangan membicarakan tugas di sini berlaku, aku sendiri tak tahu. Wawan dan Tora yang tadinya kupikir tak mendengar percakapanku dengan Sati dan Farra, karena mereka asik dengan stick dan game mereka di laptop itu, ternyata ikut nimbrung.

Tora yang langsung menyanggah pernyataan Sati barusan. “Enggak usah cepet-cepet ngambil kesimpulan. Siapa tahu dia ada maksud tertentu, kan?”

“Eh, elo! Main game main game aja! Enggak usah sok ikut nimbrung segala! Dengerin juga kagak lu!” sentak Sati.

“Ye! Dibilangin enggak percaya! Patah hati syukurin elo!”

“Elo rese banget sih, Ra! Biarin aja kali Mia ngerasain gimana rasanya disukain orang. Dia kan enggak kayak elo yang bolak-balik pacaran! Dia ini masih polos! Jangan melunturkan harapan gitu, dong!” Farra satu suara dengan Sati.

“Ya tapi jangan nyampe jadi korban harapan palsu juga, kan?” Tora masih tak mau kalah. Heran. Dia terus saja nyerocos, tapi matanya lekat sekali ke layar monitor.

“Ati-ati aja, Mi,” tiba-tiba Wawan bersuara. Dia ini jarang bicara, tapi sekalinya bicara membuat semua orang terdiam.

“Berharap boleh, tapi jangan tinggi-tinggi. Nanti kalo jatuh biar enggak sakit-sakit amat,” tambah Tora. Kulihat Farra dan Sati hanya manyun-manyun mulutnya. Masih tak sependapat dengan dua orang itu.

Lantas aku? Entahlah. Aku sendiri tak paham dengan sikap-sikap si Badri itu. Untuk saat ini, aku pikir kubiarkan saja dulu. Tapi, makin lama sikapnya makin menjadi.

“Hai!” tiba-tiba dia muncul dan datang ke rumahku. Di malam minggu, bahkan mendului Tora dan yang lainnya.

“Eh, Badri? Mau ngapain?”

“Main aja. Boleh?”

“Ya… enggak boleh juga. Elo kan udah di sini.” Dia malah tertawa.

“Nih!” begitu masuk, dia memberiku sekotak coklat. Aih! Apa-apaan ini?

“Ehm… makasih,” aku jadi canggung sendiri. “Bentar ya. Gue ambilin minum. Mau apa?”

“Apa aja boleh,” jawabnya sambil tersenyum. Jujur, aku jantungku sedikit berdesir melihat senyumnya itu.

Aku keluar dengan nampan berisi dua gelas jus jeruk. Satu untukku dan satu lagi untuknya. Kulirik keluar, belum ada tanda-tanda kedatangan mereka.

“Elo sendirian aja?” tanyanya tepat setelah aku duduk dan mempersilahkannya meminum apa yang kusediakan. Aku tidak punya persediaan makanan kecil di kulkas, karena katanya Farra dan Sati mau cari camilan di luar. Jadilah, di atas meja hanya ada dua jus jeruk itu.

“Iya. Papa sama mama pulangnya nanti jam 10-an.”

“Oh… gitu.”

“Elo… dalam rangka apa dateng ke sini?”

“Ehm, itu. Pengen aja. Soalnya di kosan enggak ada siapa-siapa. Tiba-tiba kepikiran main ke sini. Enggak papa, kan?”

“Iya… enggak papa, sih. Cuma… pake bawa coklat segala.”

“Oh, itu. Tadi mampir ke alfamart beli pulsa. Terus ngeliat coklat, sekalian aja beli. Kan, gak lucu kalo main tapi enggak bawa apa-apa. Mau bawa bunga… eh, bunga kan enggak bisa dimakan, ya?” jelasnya sambil tertawa.

Salah! Yang bener ngapain elo bawa bunga, kan elo bukan cowok gue! Gerutuku. Jelas membatin saja.

“Ehm… Mi. Sebenernya ada yang mau gue omongin,” tambahnya kemudian. Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdetak begitu kencangnya. Hey! Apa yang mau dibicarakannya sampai aku jantungku harus berdetak kencang seperti ini? Apa otakku berpikir kalau dia mau menembakku? Apa aku sudah gila? Untuk apa juga dia menembakku? Apa mungkin perkiraan Sati tentang dia menyukaiku itu benar? Wah! Apa yang harus kulakukan?

“Mia… sebenernya gue…”

“Assalamualaikum!” tiba-tiba seseorang berteriak. Aku dan Badri hampir melunjak saking kagetnya. Tora sudah ada di pintu. Tuh, kan? Dia itu benar-benar jelangkung! “Hai, Mia!” sapanya tanpa merasa bersalah sudah mengagetkanku.

Matanya kemudian melirik Badri. “Eh, ada tamu?” teriaknya lagi. Heran! Dia itu kenapa? Teriak-teriak terus dari tadi. Memangnya dia pikir kalau dia bicara normal saja, kami tidak akan mendengarnya?

“Sejak kapan elo bisa kedatangan tamu malem-malem minggu gini, Mi? Lagi apel, elo?” teriaknya lagi. Ia bicara padaku? Kenapa matanya mengarah ke Badri? Kulihat raut wajah Badri agak tidak senang atas kedatangan Tora.

“Gila!” Wawan tiba-tiba datang. Nafasnya tersengal-sengal. Sebuah pukulan cukup keras ia layangkan ke bahu Tora. “Mau mati elo? Belum juga gue berhenti, elo udah lompat aja dari motor!” dumelnya. Si biang kerok malah cuma cengar-cengir. Persis seperti Tora tadi, awalnya Wawan menatapku, tapi langsung beralih ke Badri. “Eh, ada tamu?” bahkan kata-katanya pun sama. Bedanya, Wawan lebih kalem. Tak bringas dan seenaknya saja macam si Tora tadi!

“Hh... ternyata… banyak juga yang suka main ke sini malem minggu ini, ya?” ucap Badri sambil tertawa.

“Yah… mereka emang selalu dateng ke sini.”

“Mereka berdua?”

“Enggak berdua, kok. Tapi, berempat. Kami berlima emang selalu ngumpul kalo tiap malem minggu,” malah Tora yang menjawabnya.

“Berlima?”

“Assalamualaikum!” belum selesai keheranan Badri tadi, Farra dan Sati datang.

“Eh, ada tamu ternyata?” keheranan mereka lain benar dengan Wawan dan Tora tadi. Mereka tiba-tiba tersenyum lebar dan melirik ke arahku dengan arti yang sungguh mencurigakan! Dan sekarang aku bingung apa yang harus kulakukan. Andai Tora tidak bertanya, “Jadi, forum hari ini dibatalin?” mungkin aku hanya akan diam di sana. Dan ideku untuk memboyong mereka berlima ke serambi belakang seperti biasa karena Wawan tiba-tiba menerima telpon dan izin ke belakang duluan.

“Yok, yok! Kita ke serambi belakang aja ngobrolnya!” ajakku. Awalnya Badri sedikit bingung, tapi Tora langsung menyeretnya begitu saja.

“Oh, jadi di sini tempat kalian kumpul, ya?” Badri menatap sekitar. Sedikit terkesan rasanya melihat desain rumahku. Terlebih serambi belakang yang cukup nyaman ini.

“Ya… jadi kami itu…”

“Biasanya kalo di sini kita cuma ngobrol-ngobrol doang,” Tora memotong kalimat Farra. “Cewek-cewek itu bergosip ria, sedangkan gue sama Wawan main game.” Telunjuknya menunjuk ke laptop yang baru saja ia keluarka dari tasnya. “Nah, berhubung si Wawan lagi sibuk pacaran di sono…”

“Sejak kapan Wawan punya pacar?”

“Jadi…” oke, Sati pun terabaikan. “… mending sekarang elo tanding sama gue. Kita main game.”

“Main game? Main apaan?” tanya Badri. Kurasa ia tak tertarik.

“Tanding bola. Cowok, coy! Mainnya bola,” jawab Tora. Ugh! Kenapa tingkahnya seperti itu? Dengan sok kenal dan sok dekatnya dia merangkul pundak Badri. Aduh, Tora! Kenapa ya sikap menyebalkanmu itu harus datang sekarang?

“Gue enggak suka bola.”

“Terus elo sukanya apaan? Barbie? Elo cewek? Ahaha…”

“Tora!” sentakku sebal.

“Enggak, kok.” Dengan pelan Badri menyingkirkan tangan Tora dari pundaknya. “Gue duluan aja ya, Mi?” eh, kenapa dia malah pamitan?

“Loh? Kok buru-buru? Kan baru dateng?” Sati yang menjawabnya. Dia hanya tersenyum. Manis seperti biasa.

“Enggak papa. Kan tadi duluan gue dari kalian. Takut ganggu forum kalian juga.”

“Eh, eh! Enggak ganggu, kok.”

“Ya, udah. Ati-ati di jalan, ya?” ya, ampun Tora!

“Elo nih kenapa, sih?” Sati menyikut Tora yang memang tepat di sampingnya. Wajah Tora seolah tak mau tahu. Dia kembali duduk. Sok mulai sibuk dengan laptopnya.

“Ya, udah. Gue duluan, ya?” pamit Badri lagi. Dia jalan duluan. Tadinya mau kubiarkan saja. Tapi Farra mendorongku. Berbisik untuk mengantarnya sampai depan. Ah, ya juga. Kenapa malah kubiarkan saja?

Sampai depan pintu ia berbalik. Masih belum lelah menyelipkan senyumnya di wajahnya.

“Sorry, ya? Padahal elo baru nyampe.”

“Enggak papa. Seharusnya gue yang minta maaf. Mereka udah biasa dateng ke sini, nah gue? Gue dateng cuma gara-gara enggak ada kerjaan aja di kosan. Lagian… udah ketemu elo aja, gue udah seneng, kok.” Eh? Apa itu maksudnya? Ya, Tuhan! Kenapa wajahku memanas?

“Oke. Gue duluan, ya? Bye!” pamitnya. Tanganku terangkat otomatis membalas lambaian tangannya. Aduh, duh! Aku kenapa? Kenapa rasanya aku ingin berteriak kegirangan? Apa aku mulai suka pada Badri? Tidak mungkin, kan?

Sebelumnya      Selanjutnya