“Ahahaha… apa barusan? Komunitas
apa? Komunitas anti reason? Hahaha….” Brian tak berhenti-berhenti tertawa.
Kutarik-tarik ujung kaos olahraganya agar berhenti. Sambil kupasang wajah
cemberutku agar dia mau diam.
“Sorry-sorry. Abisnya,
temen-temen elo itu lucu banget, sih? Ada-ada aja bikin komunitas. Lagian, ya?
Itu komunitas beneran anti reason apa komunitas buat para jomblo, sih?
Ngumpulnya tiap malem minggu?”
“Iya! Dan mereka itu seenaknya
aja kumpulnya di rumah gue. Padahal gue belum bilang, iya. Eh, mereka langsung
bikin kesepakatan gitu aja.”
“Aduh, Mi. Hidup elo di kampus
ini penuh drama banget ya jadinya?”
“Bener banget! Sampe-sampe gue
rasa gue bisa bikin novel dalam waktu semalem kalau aja gue gak diserang
kantuk! Ide gue langsung bermunculan gitu!” tambahku makin sebal. Ish!
Brian kenapa tertawa terus, ya?
“Asik kali punya temen-temen yang
bisa diajak ketawa. Daripada elo tiap hari di rumah sendirian, kan?” akhirnya
Brian berhenti tertawa juga.
“Kan kalau weekend papa sama mama
ada di rumah, Ian. Jadi percuma juga mereka ada atau enggak. Enggak ngaruh,
tau!”
“Ya, udah. Nikmatin aja. Daripada
elo gak punya temen. Mending, kan? Gak ikut ospek, tapi langsung diakrabin gitu
sama mereka. Denger-denger dari cerita elo, kayaknya mereka orangnya
gokil-gokil. Penting gak aneh-aneh, gak papa, kan?” mulai, deh! Brian
menasehatiku. Kalau saja aku boleh meminta jadi anak kedua, aku rela kalau
kakak pertamanya itu Brian. Dari caranya menanggapi semua ceritaku setiap hari,
dari dulu sampai sekarang tak pernah bosan. Padahal aku cerewetnya minta ampun!
Dan yang aku suka darinya, dia pasti mengusap-usap kepalaku. Duh… andai saja
Brian ini benar-benar kakak laki-lakiku.
“Masuk sana! Gue ada jam, nih.”
Selalu seperti itu. Selalu dia duluan yang mengakhiri pembicaraan. Aku paham
sih. Kuliahnya lebih sibuk dariku. Program studi penjas kan lebih banyak
praktek daripada teori. Memangnya aku yang sukanya duduk diam mendengarkan
teman presentasi di kelas. Hari ini saja, 6 sks dua mata kuliah full teori.
Sekali-kali kan ingin juga praktek. Kapan ya ada mata kuliah drama, teater atau
apapun deh yang berhubungan dengan sastra?
Kuputuskan ke kelasku saja.
Walaupun masih ada tiga puluh menit lagi, kurasa sudah ada orang di kelas.
Apalagi kan…
“Awas!” eh! Wuah! Hampir saja aku
terserempet motor kalau saja tanganku tidak ditarik. Eh… ditarik siapa, ya?
“Hati-hati, dong!” sentak yang
bawa motor. Huh! Kenapa aku jadi yang dimarahi? Padahal kan jalan ke parkir
sedikit lagi. Seharusnya dia kan yang mengurangi kecepatannya?
“Gak papa?” ah, baru aku ingat!
Si penolongku? Siapa, ya?
“Oh, ya. Makasih,” ujarku.
Seorang cowok, perawakannya persis benar dengan Tora. Wajahnya, ehm… lumayan,
sih. Cuma, senyumnya itu yang membuatku berpikir dia jauh lebih baik dari Tora. Dia jurusan apa, ya?
“Mau ke gedung C?” tanyanya. Aku
mengangguk. Bagaimana dia bisa tahu? “Gue juga. Yok! Bareng,” ajaknya kemudian.
Aku sempat bingung. Tapi setelah sampai di sana, barulah aku paham. Ternyata
dia teman satu angkatan denganku, satu prodi. Hanya saja beda kelas. Namanya
Badri. Bukan kenalan langsung sih. Aku hanya tahu waktu temannya
memanggilnya tadi. Ternyata dia langsung tahu kalau aku adalah teman satu
jurusan dan seangkatan dengannya. Bagaimana dia bisa tahu, ya?
“Sejak kapan elo kenal sama si
Badri, Mi?” tiba-tiba Tora muncul dadakan seperti biasa. Kadang-kadang aku
sempat berpikir, dia ini sebenarnya manusia apa jelangkung? Datang tak
diundang, pulang tak diantar. Entah dari antah brantah mana lagi dia datang.
Dan selalu saja lollipop itu sudah nyangsang di mulutnya. Kelakuannya
persis seperti bocah SD!
“Enggak. Enggak kenal, kok. Cuma,
dia tadi nolongin gue waktu gue hampir keserempet motor.”
“Wah! Keserempet? Kapan?” eh,
Tora tiba-tiba jadi panik begitu? “Gak papa, kan?”
“Iya. Gue enggak papa!”
“Ih! Siapa yang nanyain elo,
sih?”
“Hah? Terus?”
“Yang gue tanyain itu motornya!
Motornya enggak papa, kan?”
“Ish, apaan, sih?!” seruku sebal.
Kulempar saja bocah ini dengan buku Berbicara di tanganku. Dia malah cekikikan
sambil lari ke kelas duluan. Dia itu menyebalkan sekali!
Sebelum masuk kelas, aku masih
sempat melihat Badri tadi masuk ke kelas. Entah betulan atau hanya perasaanku
saja. Kurasa Badri sempat tersenyum ke arahku. Kok rasanya PD betul kalau aku
bilang dia sengaja tersenyum padaku. Entahlah.
***
Kalau saja kubilang diriku PD
beberapa hari yang lalu, sekarang aku menepisnya. Nyatanya, Badri benar-benar
memperhatikanku. Sejak hari itu, malamnya dia mengirimiku pesan. Entah darimana
dia mendapat nomor hp-ku. Aku sudah bertanya padanya. Dan dia bilang dia dapat
dari data yang waktu hari pertama kuliah harus dikumpulkan. Tapi aku yakin,
tidak mungkin seperti itu. Kurang kerjaan benar dia mencomot-comot nomor hp
sembarang orang. Apalagi aku kan belum dikenal siapa-siapa statusnya.
Yang membuatku sedikit canggung,
waktu itu dia mengajakku pulang bareng. Aku baru saja keluar dari Fakultas, dan
dia dengan motor besarnya menghampiriku. “Bareng, yuk! Daripada naik angkot,
kan?”
“Tau darimana gue mau naik
angkot?” selidikku heran.
“Gue sering ngeliat elo di halte.
Yok! Gue anter,” ajaknya saat itu. Di atas motor dia banyak sekali bertanya.
Yang kenapa bolos ospeklah, yang anak keberapalah, inilah, itulah. Sama sekali
tak penting! Aku jawab seadanya. Awalnya aku ingin abai saja. Tapi, makin lama
dia makin sering perhatian begitu. Pernah sekali dia tiba-tiba membelikanku
buku Menulis 1, padahal aku tak minta padanya! Tanpa sebab, tak ada angin, tak
ada hujan! Kenapa coba?
“Kayaknya dia suka sama elo deh,
Mi,” ujar Sati di forum kami, malam minggu yang sedikit gerimis ini. Seperti
biasa, kami hanya mengobrol-ngobrol biasa, dan membicarakan urusan hati
masing-masing. Sejak kapan kesepakatan jangan membicarakan tugas di sini
berlaku, aku sendiri tak tahu. Wawan dan Tora yang tadinya kupikir tak
mendengar percakapanku dengan Sati dan Farra, karena mereka asik dengan stick
dan game mereka di laptop itu, ternyata ikut nimbrung.
Tora yang langsung menyanggah
pernyataan Sati barusan. “Enggak usah cepet-cepet ngambil kesimpulan. Siapa
tahu dia ada maksud tertentu, kan?”
“Eh, elo! Main game main game
aja! Enggak usah sok ikut nimbrung segala! Dengerin juga kagak lu!” sentak
Sati.
“Ye! Dibilangin enggak percaya!
Patah hati syukurin elo!”
“Elo rese banget sih, Ra! Biarin
aja kali Mia ngerasain gimana rasanya disukain orang. Dia kan enggak kayak elo yang
bolak-balik pacaran! Dia ini masih polos! Jangan melunturkan harapan gitu,
dong!” Farra satu suara dengan Sati.
“Ya tapi jangan nyampe jadi
korban harapan palsu juga, kan?” Tora masih tak mau kalah. Heran. Dia terus
saja nyerocos, tapi matanya lekat sekali ke layar monitor.
“Ati-ati aja, Mi,” tiba-tiba
Wawan bersuara. Dia ini jarang bicara, tapi sekalinya bicara membuat semua
orang terdiam.
“Berharap boleh, tapi jangan
tinggi-tinggi. Nanti kalo jatuh biar enggak sakit-sakit amat,” tambah Tora.
Kulihat Farra dan Sati hanya manyun-manyun mulutnya. Masih tak sependapat
dengan dua orang itu.
Lantas aku? Entahlah. Aku sendiri
tak paham dengan sikap-sikap si Badri itu. Untuk saat ini, aku pikir kubiarkan
saja dulu. Tapi, makin lama sikapnya makin menjadi.
“Hai!” tiba-tiba dia muncul dan
datang ke rumahku. Di malam minggu, bahkan mendului Tora dan yang lainnya.
“Eh, Badri? Mau ngapain?”
“Main aja. Boleh?”
“Ya… enggak boleh juga. Elo kan
udah di sini.” Dia malah tertawa.
“Nih!” begitu masuk, dia
memberiku sekotak coklat. Aih! Apa-apaan ini?
“Ehm… makasih,” aku jadi canggung
sendiri. “Bentar ya. Gue ambilin minum. Mau apa?”
“Apa aja boleh,” jawabnya sambil
tersenyum. Jujur, aku jantungku sedikit berdesir melihat senyumnya itu.
Aku keluar dengan nampan berisi
dua gelas jus jeruk. Satu untukku dan satu lagi untuknya. Kulirik keluar, belum
ada tanda-tanda kedatangan mereka.
“Elo sendirian aja?” tanyanya
tepat setelah aku duduk dan mempersilahkannya meminum apa yang kusediakan. Aku
tidak punya persediaan makanan kecil di kulkas, karena katanya Farra dan Sati
mau cari camilan di luar. Jadilah, di atas meja hanya ada dua jus jeruk itu.
“Iya. Papa sama mama pulangnya
nanti jam 10-an.”
“Oh… gitu.”
“Elo… dalam rangka apa dateng ke
sini?”
“Ehm, itu. Pengen aja. Soalnya di
kosan enggak ada siapa-siapa. Tiba-tiba kepikiran main ke sini. Enggak papa,
kan?”
“Iya… enggak papa, sih. Cuma…
pake bawa coklat segala.”
“Oh, itu. Tadi mampir ke alfamart
beli pulsa. Terus ngeliat coklat, sekalian aja beli. Kan, gak lucu kalo main
tapi enggak bawa apa-apa. Mau bawa bunga… eh, bunga kan enggak bisa dimakan,
ya?” jelasnya sambil tertawa.
Salah! Yang bener ngapain elo
bawa bunga, kan elo bukan cowok gue! Gerutuku. Jelas membatin saja.
“Ehm… Mi. Sebenernya ada yang
mau gue omongin,” tambahnya kemudian. Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdetak
begitu kencangnya. Hey! Apa yang mau dibicarakannya sampai aku jantungku harus
berdetak kencang seperti ini? Apa otakku berpikir kalau dia mau menembakku? Apa
aku sudah gila? Untuk apa juga dia menembakku? Apa mungkin perkiraan Sati
tentang dia menyukaiku itu benar? Wah! Apa yang harus kulakukan?
“Mia… sebenernya gue…”
“Assalamualaikum!” tiba-tiba
seseorang berteriak. Aku dan Badri hampir melunjak saking kagetnya. Tora sudah
ada di pintu. Tuh, kan? Dia itu benar-benar jelangkung! “Hai, Mia!”
sapanya tanpa merasa bersalah sudah mengagetkanku.
Matanya kemudian melirik Badri.
“Eh, ada tamu?” teriaknya lagi. Heran! Dia itu kenapa? Teriak-teriak terus dari
tadi. Memangnya dia pikir kalau dia bicara normal saja, kami tidak akan
mendengarnya?
“Sejak kapan elo bisa kedatangan
tamu malem-malem minggu gini, Mi? Lagi apel, elo?” teriaknya lagi. Ia bicara
padaku? Kenapa matanya mengarah ke Badri? Kulihat raut wajah Badri agak tidak
senang atas kedatangan Tora.
“Gila!” Wawan tiba-tiba datang.
Nafasnya tersengal-sengal. Sebuah pukulan cukup keras ia layangkan ke bahu
Tora. “Mau mati elo? Belum juga gue berhenti, elo udah lompat aja dari motor!”
dumelnya. Si biang kerok malah cuma cengar-cengir. Persis seperti Tora
tadi, awalnya Wawan menatapku, tapi langsung beralih ke Badri. “Eh, ada tamu?”
bahkan kata-katanya pun sama. Bedanya, Wawan lebih kalem. Tak bringas dan
seenaknya saja macam si Tora tadi!
“Hh... ternyata… banyak juga yang
suka main ke sini malem minggu ini, ya?” ucap Badri sambil tertawa.
“Yah… mereka emang selalu dateng
ke sini.”
“Mereka berdua?”
“Enggak berdua, kok. Tapi,
berempat. Kami berlima emang selalu ngumpul kalo tiap malem minggu,” malah Tora
yang menjawabnya.
“Berlima?”
“Assalamualaikum!” belum selesai
keheranan Badri tadi, Farra dan Sati datang.
“Eh, ada tamu ternyata?”
keheranan mereka lain benar dengan Wawan dan Tora tadi. Mereka tiba-tiba
tersenyum lebar dan melirik ke arahku dengan arti yang sungguh mencurigakan!
Dan sekarang aku bingung apa yang harus kulakukan. Andai Tora tidak bertanya, “Jadi,
forum hari ini dibatalin?” mungkin aku hanya akan diam di sana. Dan ideku untuk
memboyong mereka berlima ke serambi belakang seperti biasa karena Wawan tiba-tiba
menerima telpon dan izin ke belakang duluan.
“Yok, yok! Kita ke serambi
belakang aja ngobrolnya!” ajakku. Awalnya Badri sedikit bingung, tapi Tora
langsung menyeretnya begitu saja.
“Oh, jadi di sini tempat kalian
kumpul, ya?” Badri menatap sekitar. Sedikit terkesan rasanya melihat desain
rumahku. Terlebih serambi belakang yang cukup nyaman ini.
“Ya… jadi kami itu…”
“Biasanya kalo di sini kita cuma
ngobrol-ngobrol doang,” Tora memotong kalimat Farra. “Cewek-cewek itu bergosip
ria, sedangkan gue sama Wawan main game.” Telunjuknya menunjuk ke laptop yang
baru saja ia keluarka dari tasnya. “Nah, berhubung si Wawan lagi sibuk pacaran
di sono…”
“Sejak kapan Wawan punya pacar?”
“Jadi…” oke, Sati pun terabaikan.
“… mending sekarang elo tanding sama gue. Kita main game.”
“Main game? Main apaan?” tanya
Badri. Kurasa ia tak tertarik.
“Tanding bola. Cowok, coy!
Mainnya bola,” jawab Tora. Ugh! Kenapa tingkahnya seperti itu? Dengan sok kenal
dan sok dekatnya dia merangkul pundak Badri. Aduh, Tora! Kenapa ya sikap menyebalkanmu
itu harus datang sekarang?
“Gue enggak suka bola.”
“Terus elo sukanya apaan? Barbie?
Elo cewek? Ahaha…”
“Tora!” sentakku sebal.
“Enggak, kok.” Dengan pelan Badri
menyingkirkan tangan Tora dari pundaknya. “Gue duluan aja ya, Mi?” eh, kenapa
dia malah pamitan?
“Loh? Kok buru-buru? Kan baru
dateng?” Sati yang menjawabnya. Dia hanya tersenyum. Manis seperti biasa.
“Enggak papa. Kan tadi duluan gue
dari kalian. Takut ganggu forum kalian juga.”
“Eh, eh! Enggak ganggu, kok.”
“Ya, udah. Ati-ati di jalan, ya?”
ya, ampun Tora!
“Elo nih kenapa, sih?” Sati
menyikut Tora yang memang tepat di sampingnya. Wajah Tora seolah tak mau tahu.
Dia kembali duduk. Sok mulai sibuk dengan laptopnya.
“Ya, udah. Gue duluan, ya?” pamit
Badri lagi. Dia jalan duluan. Tadinya mau kubiarkan saja. Tapi Farra
mendorongku. Berbisik untuk mengantarnya sampai depan. Ah, ya juga. Kenapa
malah kubiarkan saja?
Sampai depan pintu ia berbalik.
Masih belum lelah menyelipkan senyumnya di wajahnya.
“Sorry, ya? Padahal elo baru
nyampe.”
“Enggak papa. Seharusnya gue yang
minta maaf. Mereka udah biasa dateng ke sini, nah gue? Gue dateng cuma
gara-gara enggak ada kerjaan aja di kosan. Lagian… udah ketemu elo aja, gue
udah seneng, kok.” Eh? Apa itu maksudnya? Ya, Tuhan! Kenapa wajahku memanas?
“Oke. Gue duluan, ya? Bye!” pamitnya. Tanganku terangkat otomatis membalas lambaian tangannya. Aduh, duh! Aku kenapa? Kenapa rasanya aku ingin berteriak kegirangan? Apa aku mulai suka pada Badri? Tidak mungkin, kan?
Sebelumnya Selanjutnya