Tuesday, January 14, 2020

Aku Sangat Bahagia


“Soo Min~a! Soo Min~a! Soo Min~a! Min~a!” kantor kepolisian sudah sangat gaduh di pagi-pagi begini. Padahal baru beberapa polisi saja yang sudah ada di meja kerjanya. Keluarga Min Soo Min, datang dengan tangis yang begitu mengiris hati. Ibunya sejak tadi sudah pingsan 2 kali. Ayahnya cukup kerepotan menanganinya berkali-kali. Sedangkan kakaknya hanya bisa ikut menangis sambil berteriak, “Siapa yang sudah membunuh adikku?! Kalian harus menangkapnya segera! Akan kubunuh bajingan itu!” berulang-ulang kali. Hwang Do Guk, polisi yang paling muda yang kebetulan atau memang takdir duduk paling dekat dengan pintu masuk. Hingga tanpa tahu menahu, keluarganya langsung menghambur ke arahnya.
Sedangkan tim 3 sendiri, melihatnya dengan miris. Terutama Baek Ji dan Soo Jin yang memang ada di sana. Hanya berdiri dan menyaksikan tangis pedih dari keluarga Soo Min membuat mereka menghela nafas berulangkali. Tentu mereka merasa bersalah. Seandainya mereka bisa menemukan
 Soo Min lebih cepat, mungkin gadis itu masih bernafas.

Won Geun yang melihat mereka berdua begitu terpuruk tak membiarkannya begitu saja. Dijawilnya keduanya. Mengisyaratkan mereka untuk ke ruangan investigasi tim mereka. Karena mereka tak kunjung merespon, Won Geun mendahuluinya. Beberapa saat setelah merasa sudah terlalu sakit melihat penderitaan keluarga korban, akhrinya keduanya mengikuti senior mereka itu.

Di sana sudah ada Woo Young. Sebagai ketua tim, nampak sekali dia yang sangat terpukul. Kepalanya nyut-nyutan sejak tadi. Saat anggota timnya masuk, dia menopang kepalanya sendiri dengan kedua tangannya. Won Geun mencoba bersikap biasa saja dengan langsung duduk di tempatnya. Sedangkan si junior, Baek Ji dan Soo Jin tentu saja langsung ikut bersimpati. Mereka diam di pintu. Sampai Woo Young menyadari kedatangan mereka. “Apa yang kalian lakukan? Cepat masuk!” titahnya langsung berdiri mendekati papan kaca untuk memulai hipotesis-hipotesis yang sudah mereka kumpulkan. Won Geun menyiapkan layar proyektor di sampingnya. Kemudian dua orang itu, dengan lemas menyiapkan LCD, membuka laptop dan mengeluarkan berkas-berkas dari dalam laci.

“Oke! Kita mulai dari hasil otopsi. Bagaimana?” tanya Woo Young setelah ketiga bawahannya sudah menempati posisi masing-masing. Won Geun duduk di samping Baek Ji yang menjadi operator. Sedangkan Soo Jin duduk berseberangan dengannya dengan berkas-berkas yang sudah mulai ia buka-buka.

“Kematian Mi Soo Min dipastikan sudah berjarak 2 hari. Setelah pembunuhan dilakukan, mayatnya sempat masuk ke tempat pendingin,” jelas Won Geun. Woo Young menulis sebisanya ke papan kaca itu dengan spidol merah. “Melihat bentuk luka di dadanya, petugas mengidentifikasi senjata pembunuhannya seukuran pisau dapur,” tambah Won Geun lagi.

“Bagaimana dengan TKP?” Woo Young beralih ke Baek Ji. Baek Ji kemudian menampilkan beberapa foto yang diambilnya di toilet tempat audisi itu. Bilik tempat mayat Soo Min ditemukan, dan beberapa foto lain di tempat yang lain di toilet itu. “Senjata pembunuhan tidak ditemukan. Di gagang pintu ditemukan sedikit sidik jari peserta audisi yang menghilang,” lapornya kemudian.

“Peserta yang hilang?”

“Di rekaman CCTV…” kini Baek Ji menampilkan rekaman CCTV yang ia dapatkan. “… hanya peserta bernama Oh Chae Rim yang masuk ke dalam toilet sebelum ada orang yang menemukan mayat Min Soo Min. Kita lihat! Dia masuk ke dalam sana. Tapi saat orang lain masuk sampai polisi datang, dia tidak keluar dari dalam sana,” penjelasan Baek Ji persis sama dengan video itu.

“Ada sebuah jendela yang memungkinkan satu orang dewasa keluar dari sana,” tambahnya.

“Bisa saja, Oh Chae Rim atau orang yang sudah menaruh mayat Soo Min melewati jendela itu?” terka Soo Jin. Baek Ji mengangguk membenarkan. “Selain itu, di bagian belakang toilet jalur keluar jendela itu, tidak ada CCTV sama sekali,” tangguhnya. Woo Young mengangguk-angguk.

“Bagaimana keterangan dari mantan kekasih Soo Min?”

“Mereka putus 6 hari sebelum Soo Min menghilang. Tapi, jika sesuai dengan perkataan Ketua Tim Jo, kalau dia masih bekerja, maka kita tidak bisa menyebutnya sebagai menghilang,” jawab Soo Jin berspekulasi, mewakili Won Geun yang sama-sama mendatangi rumah mantan kekasih Soo Min waktu itu. “Alasan mereka putus karena ada wanita lain yang membuat mantan kekasihnya jatuh cinta. Tapi, wanita itu adalah orang China. Jadi, dia sama sekali tak mengenal Min Soo Min. Begitu pula dengan Min Soo Min,” tambahnya.

“Justru yang ada hubungannya dengan Soo Min adalah peserta yang menghilang itu, Hyung,” Won Geun menimpali. Ketiganya nampak penasaran dengan jawaban Won Geun. Sejatinya memang mereka belum tahuu akan hal itu. “Memang tak berhubungan secara langsung. Tapi, baik Min Soo Min maupun Oh Chae Rim sama-sama mengenal Kim Tae Soo.”

“Oh! Pemilik galeri itu?” decak Baek Ji tak percaya. Won Geun menganggukkan kepalanya. “Min Soo Min bekerja sebagai sekretaris Kim Tae Soo, dan Oh Chae Rim merupakan adik dari sahabat Kim Tae Soo, Oh Chae Ryeong. Kim Tae Soo dan Oh Chae Rim juga saling mengenal satu sama lain.” Penjelasan Won Geun membuat Baek Ji dan Soo Jin mengangguk-angguk paham. Sedangkan Woo Young kembali ke kecurigaannya saat pertama kali menemui Tae Soo. Naluri detektifnya sepertinya menyuruhnya untuk menyelidiki lebih jauh. Hubungan-hubungan itu, sebaiknya ia harus memulainya dari sana.

“Soo Jin, kau buka-bukalah kembali berkas mengenai orang-orang yang hilang sebelum ini. Bagaimana dan siapa saja orang-orang yang ada di belakang mereka!” titahnya. Soo Jin mengangguk menyanggupi.

“Baek Ji, kau selidiki seperti apa Oh Chae Rim itu dari teman-temannya. Kau bisa minta bantuan dari Hwang Do Guk. Biar aku yang bicara pada Ketua Tim Seo untuk mengizinkannya. Aku akan menyelediki sekitar TKP dan memeriksa CCTV di tempat Soo Min bekerja sekali lagi. Jika sempat, aku juga akan menemui Oh Chae Ryeong untuk memastikan apakah ia sempat pulang setelah atau sebelum audisi,” tambahnya.

“Ah, dan untuk Won Geun!” ia ketinggalan satu orang. “Kau selidiki lebih jauh orang seperti apa Kim Tae Soo itu!” titahnya.

“Waeyo? Apa ada yang salah dengan orang itu?” malah Baek Ji yang berkomentar. Itu wajar. Karena dialah orang yang ikut Woo Young saat menemui Tae Soo saat itu. Menurutnya Tae Soo orang yang cukup ramah.

“Aku hanya ingin meluruskan pikiranku,” jawabnya penuh dengan ekspresi menyediliknya itu.

***

Pakaian dinas Woo Hyun sudah siap. Topi hitam, jubah hitam, dan tas golf yang ia tenteng di belakang punggungnya. Ia baru saja meninggalkan pekerjaan sampingannya sebagai penjaga perpusatakan dengan alasan sakit hari ini. Dia pun sudah menyiapkan pekerja paruh waktu tiap dia mendapat tugas dadakan seperti ini. Di dalam lift ia sempat mengingat kata-kata Tae Soo sebelum menyuruhnya membereskan kerjanya tadi. “Aku sudah menyiapkan goresanku yang ke 71. Kau hanya perlu menaruh Oh Chae Rim di tempat yang akan kudatangi besok malam,” bahkan ia pun sudah menyiapkan tugas lanjutan untuknya. “Kau penasaran kan kenapa aku seperti terlalu terburu-buru? Karena aku merasa, hyungmu sebentar lagi akan menemuiku untuk yang kedua kalinya.” Jika memang perasaan Tae Soo benar, apakah kakaknya benar-benar sudah mencurigai Tae Soo? Secepat itukah? Rasanya tidak mungkin. Atau Tae Soo memang sengaja melakukan sesuatu yang membuatnya lebih cepat dicurigai? Jika memang iya, berarti kata-katanya soal ia ingin segera ditangkap memang tidak main-main.

Tling! Ia sampai. Pintu lift terbuka. Ia hanya harus membuka pintu di depannya yang akan menghubungkannya langsung dengan lemari buku di kamar Tae Soo. Ia masuk, dan persis seperti dugaannya, kamar Tae Soo tak akan mungkin jadi tempat eksekusinya. Tentu saja air mancur itu. Tapi, ia cukup terkejut begitu sampai di sana. Bukan karena naasnya bentuk Oh Chae Rim, tapi karena Han Hyo Kyung ada di sana dengan wajah pucat luar biasa. Ia terkulai lemas bersandar ke sofa dengan nafas yang hampir habis. Nurani manusianya masih ada. Karenanya ia segera berlari. “Gwaechanayo?” tanyanya panik. Tubuh Hyo Kyung malah gemeteran. Makin hebat saja saat Woo Hyun menampar-nampar pelan pipinya. Dia dingin sekali. Berapa lama kira-kira gadis ini berada dalam kondisi ini?

Ia baru akan membopongnya keluar, mengatasi Han Hyo Kyung sebelum ia menjadi mayat kedua di sini. Tapi ponselnya berdering. Dari Tae Soo. “Yeoboseyo?” sambutnya cepat. Di saat seperti ini, adakah yang diinginkan Tae Soo?

“Kau jangan melakukan sesuatu dengan Han Hyo Kyung. Dia urusanku,” katanya. Seolah ia memang ada di sini. Woo Hyun saja sempat mencari ke sekeliling. Tapi Tae Soo tidak ada di sini. Itu artinya yang menyiapkan Hyo Kyung di sini memang Tae Soo. Gadis ini lebih mirip manusia yang hampir meregang nyawa. Benarkah ia harus meninggalkannya begitu saja?

“Tapi…”

“Kau bereskan saja apa yang terjadi. Aku akan datang ke sana sebelum gadisku benar-benar mati,” Tae Soo tak ingin tahu apapun alasan Woo Hyun. Bibir bawah digigitnya sendiri. Ia memang sudah biasa menyingkirkan mayat hasil karya Tae Soo yang beraneka ragam bentuknya. Tapi dia sendiri tak pernah melihat orang yang hampir sekarat hanya karena melihat bentuk mayat yang tidak normal. Daripada menyingkirkan orang mati, bukankah lebih logis kalau menyelamatkan orang yang hampir mati? Tapi, dengan terpaksa ia memilih berpikir gila, jauh dari kata logis. Ada yang harus diselamatkannya ketimbang Han Hyo Kyung, orang yang sama sekali tak ia kenal. Tak mungkin dia membiarkan pengorbanannya selama ini menemani permainan Kim Tae Soo hancur hanya karena satu gadis ini. Karenanya ia bangun. Bekerja secepat mungkin memberesi mainan Tae Soo yang sudah rusak itu. Juga semua sisa-sisa yang harus disingkirkan. Dia akan menyulap ruangan menyeramkan ini kembali ke ruangan mewah yang membuat siapa saja akan tergiur untuk tinggal di sini.

Sebelum ia pergi, ia sempatkan lagi untuk melihat Han Hyo Kyung. Benarkah orang ini akan bertahan hidup? Ia berharap Kim Tae Soo akan segera datang. Hup! Satu paket tas golf siap ia singkirkan.

Sekitar satu jam kemudian, barulah Tae Soo masuk. Keadaan Hyo Kyung benar-benar sudah di ujung kuku saja. Tae Soo mendekatinya dan menampakkan senyuman malaikatnya. “Kau nampak kacau, Chagi~ya,” ujarnya begitu lembut. Tenggorokan Hyo Kyung tercekat. Peluh dinginnya menghalangi pandangannya pada wajah Tae Soo. Yang ia rasakan Tae Soo menjejalkan cairan entah apa itu ke mulutnya. Setelahnya, akhirnya ia sepenuhnya kehilangan kesadarannya.

***

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Perguruan Tinggi Swasta Gangnam Gu, Seoul. Do Baek Ji dan Hwang Do Guk keluar dari mobil mereka. Berbekal buku kecil dan sebuah pena. Baek Ji sudah mengunduh iformasi mahasiswa-mahasiswa di Fakultas ini. Dengan info itu di ponselnya, ia akan mulai menyisir tempat ini untuk mengetahui informasi lebih jelas tentang Oh Chae Rim.

“Apa kau mengenal Oh Chae Rim, mahasiswa Jurusan Manajemen?” pertanyaan itu yang keduanya ajukan tiap menemui orang-orang dalam daftar mereka. Dan berbagai jawaban muncul.

“Ne. Aku cukup mengenalnya.”

“Banyak yang kenal dengannya.”

“Kurasa, aku pernah mendengar namanya. Aku belum pernah melihatnya secara langsung. Aku mahasiswa transfer.”

“Kami tidak sering menyapa. Tapi kami mengenalnya.”
 
“Apa hari ini dia tidak masuk?”

“Oh, aku tak memperhatikan kelas.”

“Sepertinya tidak. Aku tidak melihat dia sejak tadi.”

“Aku juga baru datang.”

“Orang seperti apa Oh Chae Rim itu?”

“Oh Chae Rim… ahaha… aku tak ingin membahasnya.”

“Dia gadis paling jahat di tempat ini.”

“Jahat?”

“Dia hanya datang untuk bermain. Kurasa dia tidak punya satu buku mata kuliah pun.”

“Dia selalu memamerkan kekayaan kakaknya. Tidak lebih.”

“Dia berjalan ke sana kemari hanya untuk memperlihatkan barang-barang yang dia punya.”

“Dia selalu mengejek orang lain.”

“Oh! Aku tak mengerti mengapa ada orang seperti itu di dunia ini!”

“Kudengar, dia sedikit sombong.”

“Aku tak terlalu dekat dengannya. Tapi, dia selalu berjalan dengan gayanya yang seperti ratu.”

“Dia selalu bilang ingin ikut audisi. Dan kudengar dia menghilang setelah ditemukan mayat di tempat itu.”

“Oh, benarkah?”

“Pantas saja. Untuk orang sepertinya, dia bisa saja membunuh orang lain.”

“Maaf. Kami tidak berteman.”

“Aku? Aku memang sering berjalan dengannya. Tapi itu tak lebih hanya untuk menikmati uangnya saja.”

“Aku memang pernah jadi pacarnya. Tapi dia yang memaksaku. Kami putus satu minggu yang lalu. Itu pun dia sendiri yang memutuskanku. Aku tak sedih. Karena aku juga tidak menyukainya.”

“Dia… aku tidak tahu kenapa dia hidup tanpa teman sejati.”

“Semua orang hanya memanfaatkannya.”

“Dia pikir dia punya talenta untuk jadi bintang. Tapi dia tak lebih dari orang yang menghamburkan uang kakaknya untuk menghabiskan waktunya di salon.”

“Kudengar dia keluar 3 hari yang lalu. Dia menggunakan uang bayaran kuliah untuk operasi plastik.”

“Kurasa hidung dan matanya tidak ada yang asli. Bahkan pipinya sepertinya silikon.”

“Ah! Kenapa kalian membicarakan monster itu?!” dan gadis terakhir yang mereka tanyai pun jawabannya hampir sama saja. “Hah…” dua orang ini mendesah pelan. Sepertinya Oh Chae Rim adalah musuh bebuyutan semua orang. Tak ada satu orang pun yang mengatainya baik. Dari orang yang hanya pernah mendengar namanya, sampai teman dekatnya sekalipun. Semuanya tak dapat dimintai keterangan pasal menghilangnya Oh Chae Rim. Apalagi menanyai tempat-tempat dimana biasanya ia pergi.

“Dia gadis yang menarik, kan?” desah Baek Ji yang langsung disetujui oleh Do Guk.
“Haruskah kita pergi ke beberapa salon di sekitar sini, Hyung?” tanya Do Guk melihat kembali catatannya. Dari semua keterangan orang-orang itu, mereka bisa menyimpulkan kalau Chae Rim memang sering ke salon. Ia mengusap wajahnya sebelum pergi. Hanya memikirkan berapa banyak salon yang ada di Gangnam Gu saja sudah membuat kepalanya berat bukan main.

Sementara Soo Jin mulai membuka-buka berkas orang-orang hilang itu. Tak jarang ia pun mencari informasi melalui internet. Asal sekolah, bagaimana keadaan sekolahnya, dan orang-orang yang mengenal korban dari sosial media. Matanya ia buka lebar-lebar untuk memperhatikan satu per satu akun orang-orang itu. Terakhir kali mereka beraktivitas, dan situs-situs apa saja yang mereka datangi yang tertera di sosial medianya. Beberapa kali ia juga mengangkat gagang telpon. Menghubungi sana-sini untuk memenuhi tugas yang sudah diberikan padanya.

Hal yang sama juga terjadi dengan Won Geun. Banyak informasi tentang Tae Soo di internet. Apa-apa saja bisnis yang sudah ia jalankan dan sebagainya. Tapi ia tak melakukannya sebatas itu. Seseorang yang ia kenal dapat membantunya mengorek informasi lebih tentang pemilik galeri itu. “Aku mohon bantuannya,” pintanya kepada seseorang di seberang panggilan telponnya itu.

Sedangkan ketua tim mereka, Jo Woo Young, sudah mendatangi TKP. Masih ada garis polisi. Ia hanya perlu melangkahinya. Tangannya sudah ia balut dengan sarung tangan. Setiap sudut ia jangkau. Dari atas pintu, atas bilik-bilik, sampai ke dalam-dalam lubang toilet ia periksa. Bekas garis mayat Min Soo Min juga masih ada. Keterangan dari polisi tidak ada barang bukti yang tertinggal. Tidak ada darah tercecer. Ia bisa simpulkan ini benar-benar sudah sangat mulus diskenariokan. Kemudian ia mendongak. Melihat jendela muat satu orang dewasa di atas sana. Dijajalnya menaiki wastafel. Jika orang itu setinggi dirinya, maka jarak segini cukup mudah dijangkau. Itu artinya, Oh Chae Rim tidak akan mungkin melompat lewat sini. Lagipula, dengan pakaiannya yang menggunakan rok ketat hari itu, mustahil gadis itu bisa menjangkau jendela ini dengan kakinya. Ia pun melongok ke luar. Apa dia harus memeriksa ke sana?

Dan Woo Young pun berputar. Keluar dan berdiri di bawah jendela itu. Perkiraannya, kalau orang itu melompat dari sini, maka setidaknya akan ada jejak sepatu. Atau jejak-jejak yang lain di sekitar semak rendah ini. Memang ada semak  yang rusak. Artinya kemungkinan besar orang itu memang melompat dari sini. Jika bukan Oh Chae Rim yang melompat, artinya Oh Chae Rim dilempar dari sini. Atau ada seseorang yang lain yang menunggunya di bawah. Tapi jika kemungkinannya adalah yang pertama, maka seharusnya ada sesuatu yang tertinggal dari Oh Chae Rim. Woo Young mulai mengaduk-aduk semak itu. Disisirnya dengan teliti rumput-rumput itu. Tapi tak ada apapun. Polisi sebelumnya sudah menyapu bersih tempat ini sepertinya.

Ia berjalan mengitari daerah itu. Benar, memang tak ada CCTV. Ini memang benar-benar sangat rapi.  Orang ini melakukan kejahatan dengan memperhatikan lokasi. Ditanyainya satu per satu orang-orang yang lewat. Tapi hanya gelengan kepala yang ia dapat. Karenanya ia pun hanya bisa menghela nafasnya. Sejauh ini, apakah dia tidak bisa menemukan apapun? Sepertinya Sebaiknya ia menyudahi tempat ini. Ah, dia harus menemui Oh Chae Ryeong.

Tempat tinggal Oh Chae Ryeong ada di Cheongdam Dong, Gangnam Gu. Sebuah rumah besar dengan halaman yang cukup luas. Rumah yang pantas di tempatkan di Dong ini memang. Gerbang  besarnya hitam ini tertutup. Memaksa Woo Young untuk menekan bel yang ada di sebelah kanan.

“Yeoboseyo?” suara wanita yang terdengar setelah ia menekan bel itu.

“Anyeong hasseo[1]. Aku Polisi Jo Woo Young dari kantor kepolisian Gangnam Gu,” ujar Woo Young memperkenalkan dirinya.

“Ada perlu apa, ya?”

“Apakah aku bisa menemui Oh Chae Ryeong?”

“Oh, maaf. Tuan Oh sedang berada di Jepang untuk pekerjaannya.”

“Kira-kira kapan dia kembali?”

“Maaf. Aku tidak tahu.”

“Kalau begitu, apa Oh Chae Rim, adiknya ada?” Woo Young mengganti pertanyaannya.

“Nona Chae Rim jarang sekali pulang. Hari ini pun dia tidak ada di sini.”

“Ah, baiklah kalau begitu. Jika Oh Chae Ryeong sudah kembali, tolong katakan padanya untuk menghubugi kami.”

“Ne.” Sekali lagi, Woo Young tak mendapatkan apapun. Ini baru sehari. Terlalu dini untuk menyerah sekarang.

***

Hal pertama yang dirasakannya adalah tubuhnya serasa remuk. Rasanya mirip dengan ketika sekujur tubuh ngilu setelah mengelilingi lapangan bola selama 15 menit, padahal sebelumnya sangat jarang olahraga. Kira-kira seperti itu. Atau malah lebih parah. Karena di bagian-bagian tertentu tubuhnya terasa perih. Sungguh! Jangankan untuk bangun. Membuka mata saja rasanya sangat sulit.

Namun suara seseorang yang cukup ia kenal mengusik manis pendengarannya. Suaranya cukup dekat. Seperti suara tawa renyah tapi dengan volume lirih. Samar-samar, nyaris hilang kadang-kadang. Karenanya ia membuka matanya. Kepalanya sangat pusing menerima cahaya yang menyerbu retinanya. Perlu beberapa saat sampai ia bisa beradaptasi dengan benar. Ia yakin kepalanya tidak disanggah bantal. Tapi ini serasa nyaman untuk menjadi bantalnya. Sesaat ia menggeliat. Menepis sebentar pening di kepalanya demi melihat apakah yang sudah ia jadikan bantal tanpa sadar ini. Ini seperti lengan seseorang. Lantas siapa pemiliknya? Apakah orang yang sama dengan pemilik tawa ini? Ini… Kim Tae Soo!

“Ah!” sentaknya reflek menjauh. Mata Hyo Kyung membulat sempurna. Sejak kapan ia sudah ada di ruangan serba putih ini lagi bersama Kim Tae Soo? Bahkan ia tidur di atas lengan Tae Soo. Bila melihat selimut putih ini menutupi dirinya, dan Tae Soo sendiri topless seperti ini, apakah mungkin…

“Kau bangun?” tanya Tae Soo. Sisa-sisa tawanya masih ada. Hyo Kyung belum mau menjawab pertanyaan itu. Ia ingin pastikan dulu apakah ia memang hanya berbalut selimut yang sama dengan Tae Soo ini. Dan memanglah itu yang terjadi padanya. Dirasanya tak ada kain lain yang membungkus tubuhnya di balik selimut ini. Sesenti lagi ia menjaga jarak dari Tae Soo. Bagaimana bisa ia tak mengingat apapun?

Sampai rasanya ia tak perlu lagi menanyakan hal itu. Ada suara yang sangat ia kenali sebagai suaranya sendiri. Suara yang tak wajar yang membuatnya merasa jijik padahal baru mendengarnya. Perlahan, kepalanya menoleh ke kiri. Tepatnya ke layar tv yang sejak tadi membuat Tae Soo tertawa. Kini mata Hyo Kyung lebih besar dari yang tadi. Bahkan mulutnya pun tak mau kalah. Ia hampir muntah melihat dirinya sendiri yang tampil full nacked dan segala macam yang ia lakukan di tampilan itu. Tae Soo malah melanjutkan tawanya. “Kau sangat imut sekali, kan?” ujarnya tanpa beban. Sekuat hati Hyo Kyung menahan air di matanya. Tapi tetap saja ia tak kuasa. Video ini bahkan lebih parah dari video saat ia diperkosa 3 bajingan itu. Ini padahal Kim Tae Soo,  kekasihnya sendiri. Yang membuatnya tak berhenti menangis adalah melihat kelakuannya sendiri yang seolah kerasukan setan.

“Wae?” suara Tae Soo melirih. Tangannya menghapus air mata di pipi Hyo Kyung pelan-pelan. Dipalingkannya pula wajah Hyo Kyung dari video itu dan menghadap ke dirinya. “Uljima… uljima…”[2] pintanya dan terus membingkai wajah Hyo Kyung dengan kedua tangannya. “Wae? Kau menyesal? Tidak apa-apa. Kau sangat cantik tadi. Sungguh! Aku tidak bohong,” sungguh! Kata-katanya tak menghibur Hyo Kyung sedikit pun. Kini Hyo Kyung tahu apa yang sudah dijejalkan ke mulutnya oleh Tae Soo saat di rumahnya. Itu yang membuatnya berbuat hal menjijikkan yang tak ia ingat sedikit pun.

“Uljima! Uljima!” Tae Soo mulai membentak. Nadanya memburu sangat cepat. Seolah ia sangat membenci air mata yang tak mau dibendung dari mata Hyo Kyung. Jelas, yang dilakukannya malah membuat aliran itu makin deras saja. Entah hatinya luluh atau apa, nada bicaranya kembali memelan. Bahkan ia membawa Hyo Kyung ke dalam pelukannya. Bertindak seperti kekasihnya sungguhan, ia mengelus-elus rambut Hyo Kyung sayang. Entahlah. Apakah yang ia lakukan itu benar-benar kasih sayang atau apa. “Uljima Hyo Kyung~a. Mianhae…” lirih Tae Soo membuat Hyo Kyung sedikit tercengang. Apa baru saja ia tak salah dengar? Tae Soo mengucap maaf atas kelakuannya? Apa orang ini sudah kembali menjadi Tae Soo yang dulu pertama kali ia kenal?

“Mianhae, Hyo Kyung~a. Aku tak ingin membuatmu mati sekarang. Aku, aku harus menyelesaikan 29 goresan lagi. Baru akan tiba giliranmu,” ah… Hyo Kyung menyesal sempat tercengang. Pikirnya salah besar. Tae Soo tak akan menjadi Tae Soo yang ia impikan.

“Tapi…” disudahinya pelukan itu. Ditatapnya kembali erat-erat wajah Hyo Kyung. Kedua ibu jarinya masih senang menyingkirkan titik-titik basah di sana. Senyumnya muncul. “… aku sangat bahagia. Kau tahu kenapa?” tanyanya, antusias sekali. Hyo Kyung tak yakin Tae Soo memang menempatkan ekspresi itu dengan benar di wajahnya. “Aku akan segera mempunyai anak darimu!” serunya yang sukses membuat Hyo Kyung mendelik, sebagai ganti dari tangisannya. Tangannya keder. Ia belum begitu paham maksud dari ucapan pria ini. Tapi mendengar kata anak sudah nyaris menghancurkan persendiannya.

“Karena kau yang sangat hebat, aku melakukannya dengan sangat baik. Aku sadar, aku tidak perlu pengaman untuk hal itu. Aku melakukannya dengan sangat baik. Lihatlah!” demi mengekspresikannya, tak segan-segan Tae Soo membuat kepala Hyo Kyung kembali ke layar itu. Menyaksikan apa saja yang begitu gilanya menusuk-nusuk penglihatannya. “Iya, kan? Iya, kan?” tingkah Tae Soo sungguh seperti anak-anak. Ia bahkan berdiri. Melompat-lompat kegirangan, tak karuan. Adalah ekspresi yang tak pernah muncul sebelum-sebelumnya. “Aku akan punya anak! Aku akan punya anak! Hyo Kyung~a! Saranghae!” serunya riang gembira. Sedang hal itu sama sekali tak dirasakan oleh Hyo Kyung. Tidak secuil pun!


Sebelumnya           Selanjutnya

[1] Halo! (sapaan)
[2] Jangan menangis