“Soo Min~a! Soo Min~a!
Soo Min~a! Min~a!” kantor kepolisian sudah sangat gaduh di pagi-pagi begini.
Padahal baru beberapa polisi saja yang sudah ada di meja kerjanya. Keluarga Min
Soo Min, datang dengan tangis yang begitu mengiris hati. Ibunya sejak tadi
sudah pingsan 2 kali. Ayahnya cukup kerepotan menanganinya berkali-kali.
Sedangkan kakaknya hanya bisa ikut menangis sambil berteriak, “Siapa yang sudah
membunuh adikku?! Kalian harus menangkapnya segera! Akan kubunuh bajingan itu!”
berulang-ulang kali. Hwang Do Guk, polisi yang paling muda yang kebetulan atau
memang takdir duduk paling dekat dengan pintu masuk. Hingga tanpa tahu menahu,
keluarganya langsung menghambur ke arahnya.
Soo Min lebih cepat, mungkin gadis itu masih
bernafas.
Won Geun yang melihat
mereka berdua begitu terpuruk tak membiarkannya begitu saja. Dijawilnya
keduanya. Mengisyaratkan mereka untuk ke ruangan investigasi tim mereka. Karena
mereka tak kunjung merespon, Won Geun mendahuluinya. Beberapa saat setelah
merasa sudah terlalu sakit melihat penderitaan keluarga korban, akhrinya
keduanya mengikuti senior mereka itu.
Di sana sudah ada Woo
Young. Sebagai ketua tim, nampak sekali dia yang sangat terpukul. Kepalanya
nyut-nyutan sejak tadi. Saat anggota timnya masuk, dia menopang kepalanya
sendiri dengan kedua tangannya. Won Geun mencoba bersikap biasa saja dengan
langsung duduk di tempatnya. Sedangkan si junior, Baek Ji dan Soo Jin tentu
saja langsung ikut bersimpati. Mereka diam di pintu. Sampai Woo Young menyadari
kedatangan mereka. “Apa yang kalian lakukan? Cepat masuk!” titahnya langsung
berdiri mendekati papan kaca untuk memulai hipotesis-hipotesis yang sudah
mereka kumpulkan. Won Geun menyiapkan layar proyektor di sampingnya. Kemudian
dua orang itu, dengan lemas menyiapkan LCD, membuka laptop dan mengeluarkan
berkas-berkas dari dalam laci.
“Oke! Kita mulai dari
hasil otopsi. Bagaimana?” tanya Woo Young setelah ketiga bawahannya sudah
menempati posisi masing-masing. Won Geun duduk di samping Baek Ji yang menjadi
operator. Sedangkan Soo Jin duduk berseberangan dengannya dengan berkas-berkas
yang sudah mulai ia buka-buka.
“Kematian Mi Soo Min
dipastikan sudah berjarak 2 hari. Setelah pembunuhan dilakukan, mayatnya sempat
masuk ke tempat pendingin,” jelas Won Geun. Woo Young menulis sebisanya ke
papan kaca itu dengan spidol merah. “Melihat bentuk luka di dadanya, petugas
mengidentifikasi senjata pembunuhannya seukuran pisau dapur,” tambah Won Geun
lagi.
“Bagaimana dengan TKP?”
Woo Young beralih ke Baek Ji. Baek Ji kemudian menampilkan beberapa foto yang
diambilnya di toilet tempat audisi itu. Bilik tempat mayat Soo Min ditemukan,
dan beberapa foto lain di tempat yang lain di toilet itu. “Senjata pembunuhan
tidak ditemukan. Di gagang pintu ditemukan sedikit sidik jari peserta audisi
yang menghilang,” lapornya kemudian.
“Peserta yang hilang?”
“Di rekaman CCTV…” kini
Baek Ji menampilkan rekaman CCTV yang ia dapatkan. “… hanya peserta bernama Oh
Chae Rim yang masuk ke dalam toilet sebelum ada orang yang menemukan mayat Min
Soo Min. Kita lihat! Dia masuk ke dalam sana. Tapi saat orang lain masuk sampai
polisi datang, dia tidak keluar dari dalam sana,” penjelasan Baek Ji persis
sama dengan video itu.
“Ada sebuah jendela
yang memungkinkan satu orang dewasa keluar dari sana,” tambahnya.
“Bisa saja, Oh Chae Rim
atau orang yang sudah menaruh mayat Soo Min melewati jendela itu?” terka Soo
Jin. Baek Ji mengangguk membenarkan. “Selain itu, di bagian belakang toilet
jalur keluar jendela itu, tidak ada CCTV sama sekali,” tangguhnya. Woo Young
mengangguk-angguk.
“Bagaimana keterangan
dari mantan kekasih Soo Min?”
“Mereka putus 6 hari
sebelum Soo Min menghilang. Tapi, jika sesuai dengan perkataan Ketua Tim Jo,
kalau dia masih bekerja, maka kita tidak bisa menyebutnya sebagai menghilang,”
jawab Soo Jin berspekulasi, mewakili Won Geun yang sama-sama mendatangi rumah
mantan kekasih Soo Min waktu itu. “Alasan mereka putus karena ada wanita lain
yang membuat mantan kekasihnya jatuh cinta. Tapi, wanita itu adalah orang
China. Jadi, dia sama sekali tak mengenal Min Soo Min. Begitu pula dengan Min
Soo Min,” tambahnya.
“Justru yang ada
hubungannya dengan Soo Min adalah peserta yang menghilang itu, Hyung,” Won Geun
menimpali. Ketiganya nampak penasaran dengan jawaban Won Geun. Sejatinya memang
mereka belum tahuu akan hal itu. “Memang tak berhubungan secara langsung. Tapi,
baik Min Soo Min maupun Oh Chae Rim sama-sama mengenal Kim Tae Soo.”
“Oh! Pemilik galeri
itu?” decak Baek Ji tak percaya. Won Geun menganggukkan kepalanya. “Min Soo Min
bekerja sebagai sekretaris Kim Tae Soo, dan Oh Chae Rim merupakan adik dari
sahabat Kim Tae Soo, Oh Chae Ryeong. Kim Tae Soo dan Oh Chae Rim juga saling
mengenal satu sama lain.” Penjelasan Won Geun membuat Baek Ji dan Soo Jin
mengangguk-angguk paham. Sedangkan Woo Young kembali ke kecurigaannya saat
pertama kali menemui Tae Soo. Naluri detektifnya sepertinya menyuruhnya untuk
menyelidiki lebih jauh. Hubungan-hubungan itu, sebaiknya ia harus memulainya
dari sana.
“Soo Jin, kau
buka-bukalah kembali berkas mengenai orang-orang yang hilang sebelum ini.
Bagaimana dan siapa saja orang-orang yang ada di belakang mereka!” titahnya.
Soo Jin mengangguk menyanggupi.
“Baek Ji, kau selidiki
seperti apa Oh Chae Rim itu dari teman-temannya. Kau bisa minta bantuan dari
Hwang Do Guk. Biar aku yang bicara pada Ketua Tim Seo untuk mengizinkannya. Aku
akan menyelediki sekitar TKP dan memeriksa CCTV di tempat Soo Min bekerja
sekali lagi. Jika sempat, aku juga akan menemui Oh Chae Ryeong untuk memastikan
apakah ia sempat pulang setelah atau sebelum audisi,” tambahnya.
“Ah, dan untuk Won Geun!”
ia ketinggalan satu orang. “Kau selidiki lebih jauh orang seperti apa Kim Tae
Soo itu!” titahnya.
“Waeyo? Apa ada yang
salah dengan orang itu?” malah Baek Ji yang berkomentar. Itu wajar. Karena
dialah orang yang ikut Woo Young saat menemui Tae Soo saat itu. Menurutnya Tae
Soo orang yang cukup ramah.
“Aku hanya ingin meluruskan
pikiranku,” jawabnya penuh dengan ekspresi menyediliknya itu.
***
Pakaian dinas
Woo Hyun sudah siap. Topi hitam, jubah hitam, dan tas golf yang ia tenteng di
belakang punggungnya. Ia baru saja meninggalkan pekerjaan sampingannya sebagai
penjaga perpusatakan dengan alasan sakit hari ini. Dia pun sudah menyiapkan
pekerja paruh waktu tiap dia mendapat tugas dadakan seperti ini. Di dalam lift
ia sempat mengingat kata-kata Tae Soo sebelum menyuruhnya membereskan kerjanya
tadi. “Aku sudah menyiapkan goresanku yang ke 71. Kau hanya perlu menaruh Oh
Chae Rim di tempat yang akan kudatangi besok malam,” bahkan ia pun sudah
menyiapkan tugas lanjutan untuknya. “Kau penasaran kan kenapa aku seperti
terlalu terburu-buru? Karena aku merasa, hyungmu sebentar lagi akan menemuiku
untuk yang kedua kalinya.” Jika memang perasaan Tae Soo benar, apakah kakaknya
benar-benar sudah mencurigai Tae Soo? Secepat itukah? Rasanya tidak mungkin.
Atau Tae Soo memang sengaja melakukan sesuatu yang membuatnya lebih cepat
dicurigai? Jika memang iya, berarti kata-katanya soal ia ingin segera ditangkap
memang tidak main-main.
Tling! Ia sampai. Pintu lift terbuka. Ia hanya harus membuka
pintu di depannya yang akan menghubungkannya langsung dengan lemari buku di
kamar Tae Soo. Ia masuk, dan persis seperti dugaannya, kamar Tae Soo tak akan
mungkin jadi tempat eksekusinya. Tentu saja air mancur itu. Tapi, ia cukup
terkejut begitu sampai di sana. Bukan karena naasnya bentuk Oh Chae Rim, tapi
karena Han Hyo Kyung ada di sana dengan wajah pucat luar biasa. Ia terkulai
lemas bersandar ke sofa dengan nafas yang hampir habis. Nurani manusianya masih
ada. Karenanya ia segera berlari. “Gwaechanayo?” tanyanya panik. Tubuh Hyo
Kyung malah gemeteran. Makin hebat saja saat Woo Hyun menampar-nampar pelan pipinya.
Dia dingin sekali. Berapa lama kira-kira gadis ini berada dalam kondisi ini?
Ia baru akan
membopongnya keluar, mengatasi Han Hyo Kyung sebelum ia menjadi mayat kedua di
sini. Tapi ponselnya berdering. Dari Tae Soo. “Yeoboseyo?” sambutnya cepat. Di
saat seperti ini, adakah yang diinginkan Tae Soo?
“Kau jangan melakukan
sesuatu dengan Han Hyo Kyung. Dia urusanku,” katanya. Seolah ia memang ada di
sini. Woo Hyun saja sempat mencari ke sekeliling. Tapi Tae Soo tidak ada di
sini. Itu artinya yang menyiapkan Hyo Kyung di sini memang Tae Soo. Gadis ini
lebih mirip manusia yang hampir meregang nyawa. Benarkah ia harus
meninggalkannya begitu saja?
“Tapi…”
“Kau bereskan saja apa
yang terjadi. Aku akan datang ke sana sebelum gadisku benar-benar mati,” Tae
Soo tak ingin tahu apapun alasan Woo Hyun. Bibir bawah digigitnya sendiri. Ia
memang sudah biasa menyingkirkan mayat hasil karya Tae Soo yang beraneka ragam
bentuknya. Tapi dia sendiri tak pernah melihat orang yang hampir sekarat hanya
karena melihat bentuk mayat yang tidak normal. Daripada menyingkirkan orang
mati, bukankah lebih logis kalau menyelamatkan orang yang hampir mati? Tapi,
dengan terpaksa ia memilih berpikir gila, jauh dari kata logis. Ada yang harus
diselamatkannya ketimbang Han Hyo Kyung, orang yang sama sekali tak ia kenal.
Tak mungkin dia membiarkan pengorbanannya selama ini menemani permainan Kim Tae
Soo hancur hanya karena satu gadis ini. Karenanya ia bangun. Bekerja secepat
mungkin memberesi mainan Tae Soo yang sudah rusak itu. Juga semua sisa-sisa
yang harus disingkirkan. Dia akan menyulap ruangan menyeramkan ini kembali ke
ruangan mewah yang membuat siapa saja akan tergiur untuk tinggal di sini.
Sebelum ia pergi, ia
sempatkan lagi untuk melihat Han Hyo Kyung. Benarkah orang ini akan bertahan hidup?
Ia berharap Kim Tae Soo akan segera datang. Hup! Satu paket tas golf
siap ia singkirkan.
Sekitar satu jam
kemudian, barulah Tae Soo masuk. Keadaan Hyo Kyung benar-benar sudah di ujung
kuku saja. Tae Soo mendekatinya dan menampakkan senyuman malaikatnya. “Kau
nampak kacau, Chagi~ya,” ujarnya begitu lembut. Tenggorokan Hyo Kyung tercekat.
Peluh dinginnya menghalangi pandangannya pada wajah Tae Soo. Yang ia rasakan
Tae Soo menjejalkan cairan entah apa itu ke mulutnya. Setelahnya, akhirnya ia
sepenuhnya kehilangan kesadarannya.
***
Fakultas Ekonomi dan
Bisnis, Perguruan Tinggi Swasta Gangnam Gu, Seoul. Do Baek Ji dan Hwang Do Guk
keluar dari mobil mereka. Berbekal buku kecil dan sebuah pena. Baek Ji sudah
mengunduh iformasi mahasiswa-mahasiswa di Fakultas ini. Dengan info itu di
ponselnya, ia akan mulai menyisir tempat ini untuk mengetahui informasi lebih
jelas tentang Oh Chae Rim.
“Apa kau mengenal Oh
Chae Rim, mahasiswa Jurusan Manajemen?” pertanyaan itu yang keduanya ajukan
tiap menemui orang-orang dalam daftar mereka. Dan berbagai jawaban muncul.
“Ne. Aku cukup
mengenalnya.”
“Banyak yang kenal
dengannya.”
“Kurasa, aku pernah
mendengar namanya. Aku belum pernah melihatnya secara langsung. Aku mahasiswa
transfer.”
“Kami tidak sering
menyapa. Tapi kami mengenalnya.”
“Apa hari ini dia tidak
masuk?”
“Oh, aku tak
memperhatikan kelas.”
“Sepertinya tidak. Aku
tidak melihat dia sejak tadi.”
“Aku juga baru datang.”
“Orang seperti apa Oh
Chae Rim itu?”
“Oh Chae Rim… ahaha…
aku tak ingin membahasnya.”
“Dia gadis paling jahat
di tempat ini.”
“Jahat?”
“Dia hanya datang untuk
bermain. Kurasa dia tidak punya satu buku mata kuliah pun.”
“Dia selalu memamerkan
kekayaan kakaknya. Tidak lebih.”
“Dia berjalan ke sana
kemari hanya untuk memperlihatkan barang-barang yang dia punya.”
“Dia selalu mengejek
orang lain.”
“Oh! Aku tak mengerti
mengapa ada orang seperti itu di dunia ini!”
“Kudengar, dia sedikit
sombong.”
“Aku tak terlalu dekat
dengannya. Tapi, dia selalu berjalan dengan gayanya yang seperti ratu.”
“Dia selalu bilang ingin
ikut audisi. Dan kudengar dia menghilang setelah ditemukan mayat di tempat
itu.”
“Oh, benarkah?”
“Pantas saja. Untuk
orang sepertinya, dia bisa saja membunuh orang lain.”
“Maaf. Kami tidak
berteman.”
“Aku? Aku memang sering
berjalan dengannya. Tapi itu tak lebih hanya untuk menikmati uangnya saja.”
“Aku memang pernah jadi
pacarnya. Tapi dia yang memaksaku. Kami putus satu minggu yang lalu. Itu pun
dia sendiri yang memutuskanku. Aku tak sedih. Karena aku juga tidak
menyukainya.”
“Dia… aku tidak tahu
kenapa dia hidup tanpa teman sejati.”
“Semua orang hanya
memanfaatkannya.”
“Dia pikir dia punya
talenta untuk jadi bintang. Tapi dia tak lebih dari orang yang menghamburkan
uang kakaknya untuk menghabiskan waktunya di salon.”
“Kudengar dia keluar 3
hari yang lalu. Dia menggunakan uang bayaran kuliah untuk operasi plastik.”
“Kurasa hidung dan
matanya tidak ada yang asli. Bahkan pipinya sepertinya silikon.”
“Ah! Kenapa kalian
membicarakan monster itu?!” dan gadis terakhir yang mereka tanyai pun
jawabannya hampir sama saja. “Hah…” dua orang ini mendesah pelan. Sepertinya Oh
Chae Rim adalah musuh bebuyutan semua orang. Tak ada satu orang pun yang
mengatainya baik. Dari orang yang hanya pernah mendengar namanya, sampai teman
dekatnya sekalipun. Semuanya tak dapat dimintai keterangan pasal menghilangnya
Oh Chae Rim. Apalagi menanyai tempat-tempat dimana biasanya ia pergi.
“Dia gadis yang
menarik, kan?” desah Baek Ji yang langsung disetujui oleh Do Guk.
“Haruskah kita pergi ke
beberapa salon di sekitar sini, Hyung?” tanya Do Guk melihat kembali
catatannya. Dari semua keterangan orang-orang itu, mereka bisa menyimpulkan
kalau Chae Rim memang sering ke salon. Ia mengusap wajahnya sebelum pergi.
Hanya memikirkan berapa banyak salon yang ada di Gangnam Gu saja sudah membuat
kepalanya berat bukan main.
Sementara Soo Jin mulai
membuka-buka berkas orang-orang hilang itu. Tak jarang ia pun mencari informasi
melalui internet. Asal sekolah, bagaimana keadaan sekolahnya, dan orang-orang
yang mengenal korban dari sosial media. Matanya ia buka lebar-lebar untuk
memperhatikan satu per satu akun orang-orang itu. Terakhir kali mereka
beraktivitas, dan situs-situs apa saja yang mereka datangi yang tertera di
sosial medianya. Beberapa kali ia juga mengangkat gagang telpon. Menghubungi
sana-sini untuk memenuhi tugas yang sudah diberikan padanya.
Hal yang sama juga
terjadi dengan Won Geun. Banyak informasi tentang Tae Soo di internet. Apa-apa
saja bisnis yang sudah ia jalankan dan sebagainya. Tapi ia tak melakukannya
sebatas itu. Seseorang yang ia kenal dapat membantunya mengorek informasi lebih
tentang pemilik galeri itu. “Aku mohon bantuannya,” pintanya kepada seseorang
di seberang panggilan telponnya itu.
Sedangkan ketua tim
mereka, Jo Woo Young, sudah mendatangi TKP. Masih ada garis polisi. Ia hanya
perlu melangkahinya. Tangannya sudah ia balut dengan sarung tangan. Setiap
sudut ia jangkau. Dari atas pintu, atas bilik-bilik, sampai ke dalam-dalam
lubang toilet ia periksa. Bekas garis mayat Min Soo Min juga masih ada.
Keterangan dari polisi tidak ada barang bukti yang tertinggal. Tidak ada darah
tercecer. Ia bisa simpulkan ini benar-benar sudah sangat mulus diskenariokan.
Kemudian ia mendongak. Melihat jendela muat satu orang dewasa di atas sana.
Dijajalnya menaiki wastafel. Jika orang itu setinggi dirinya, maka jarak segini
cukup mudah dijangkau. Itu artinya, Oh Chae Rim tidak akan mungkin melompat
lewat sini. Lagipula, dengan pakaiannya yang menggunakan rok ketat hari itu,
mustahil gadis itu bisa menjangkau jendela ini dengan kakinya. Ia pun melongok
ke luar. Apa dia harus memeriksa ke sana?
Dan Woo Young pun
berputar. Keluar dan berdiri di bawah jendela itu. Perkiraannya, kalau orang
itu melompat dari sini, maka setidaknya akan ada jejak sepatu. Atau jejak-jejak
yang lain di sekitar semak rendah ini. Memang ada semak yang rusak. Artinya kemungkinan besar orang
itu memang melompat dari sini. Jika bukan Oh Chae Rim yang melompat, artinya Oh
Chae Rim dilempar dari sini. Atau ada seseorang yang lain yang menunggunya di
bawah. Tapi jika kemungkinannya adalah yang pertama, maka seharusnya ada
sesuatu yang tertinggal dari Oh Chae Rim. Woo Young mulai mengaduk-aduk semak
itu. Disisirnya dengan teliti rumput-rumput itu. Tapi tak ada apapun. Polisi
sebelumnya sudah menyapu bersih tempat ini sepertinya.
Ia berjalan mengitari
daerah itu. Benar, memang tak ada CCTV. Ini memang benar-benar sangat rapi. Orang ini melakukan kejahatan dengan
memperhatikan lokasi. Ditanyainya satu per satu orang-orang yang lewat. Tapi
hanya gelengan kepala yang ia dapat. Karenanya ia pun hanya bisa menghela
nafasnya. Sejauh ini, apakah dia tidak bisa menemukan apapun? Sepertinya Sebaiknya
ia menyudahi tempat ini. Ah, dia harus menemui Oh Chae Ryeong.
Tempat tinggal Oh Chae
Ryeong ada di Cheongdam Dong, Gangnam Gu. Sebuah rumah besar dengan halaman
yang cukup luas. Rumah yang pantas di tempatkan di Dong ini memang. Gerbang besarnya hitam ini tertutup. Memaksa Woo Young
untuk menekan bel yang ada di sebelah kanan.
“Yeoboseyo?” suara
wanita yang terdengar setelah ia menekan bel itu.
“Anyeong hasseo[1].
Aku Polisi Jo Woo Young dari kantor kepolisian Gangnam Gu,” ujar Woo Young
memperkenalkan dirinya.
“Ada perlu apa, ya?”
“Apakah aku bisa
menemui Oh Chae Ryeong?”
“Oh, maaf. Tuan Oh
sedang berada di Jepang untuk pekerjaannya.”
“Kira-kira kapan dia
kembali?”
“Maaf. Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, apa Oh
Chae Rim, adiknya ada?” Woo Young mengganti pertanyaannya.
“Nona Chae Rim jarang
sekali pulang. Hari ini pun dia tidak ada di sini.”
“Ah, baiklah kalau
begitu. Jika Oh Chae Ryeong sudah kembali, tolong katakan padanya untuk
menghubugi kami.”
“Ne.” Sekali lagi, Woo
Young tak mendapatkan apapun. Ini baru sehari. Terlalu dini untuk menyerah
sekarang.
***
Hal pertama yang
dirasakannya adalah tubuhnya serasa remuk. Rasanya mirip dengan ketika sekujur
tubuh ngilu setelah mengelilingi lapangan bola selama 15 menit, padahal
sebelumnya sangat jarang olahraga. Kira-kira seperti itu. Atau malah lebih
parah. Karena di bagian-bagian tertentu tubuhnya terasa perih. Sungguh!
Jangankan untuk bangun. Membuka mata saja rasanya sangat sulit.
Namun suara seseorang
yang cukup ia kenal mengusik manis pendengarannya. Suaranya cukup dekat.
Seperti suara tawa renyah tapi dengan volume lirih. Samar-samar, nyaris hilang
kadang-kadang. Karenanya ia membuka matanya. Kepalanya sangat pusing menerima
cahaya yang menyerbu retinanya. Perlu beberapa saat sampai ia bisa beradaptasi
dengan benar. Ia yakin kepalanya tidak disanggah bantal. Tapi ini serasa nyaman
untuk menjadi bantalnya. Sesaat ia menggeliat. Menepis sebentar pening di
kepalanya demi melihat apakah yang sudah ia jadikan bantal tanpa sadar ini. Ini
seperti lengan seseorang. Lantas siapa pemiliknya? Apakah orang yang sama
dengan pemilik tawa ini? Ini… Kim Tae Soo!
“Ah!” sentaknya reflek
menjauh. Mata Hyo Kyung membulat sempurna. Sejak kapan ia sudah ada di ruangan
serba putih ini lagi bersama Kim Tae Soo? Bahkan ia tidur di atas lengan Tae
Soo. Bila melihat selimut putih ini menutupi dirinya, dan Tae Soo sendiri topless
seperti ini, apakah mungkin…
“Kau bangun?” tanya Tae
Soo. Sisa-sisa tawanya masih ada. Hyo Kyung belum mau menjawab pertanyaan itu.
Ia ingin pastikan dulu apakah ia memang hanya berbalut selimut yang sama dengan
Tae Soo ini. Dan memanglah itu yang terjadi padanya. Dirasanya tak ada kain
lain yang membungkus tubuhnya di balik selimut ini. Sesenti lagi ia menjaga
jarak dari Tae Soo. Bagaimana bisa ia tak mengingat apapun?
Sampai rasanya ia tak
perlu lagi menanyakan hal itu. Ada suara yang sangat ia kenali sebagai suaranya
sendiri. Suara yang tak wajar yang membuatnya merasa jijik padahal baru
mendengarnya. Perlahan, kepalanya menoleh ke kiri. Tepatnya ke layar tv yang
sejak tadi membuat Tae Soo tertawa. Kini mata Hyo Kyung lebih besar dari yang
tadi. Bahkan mulutnya pun tak mau kalah. Ia hampir muntah melihat dirinya
sendiri yang tampil full nacked dan segala macam yang ia lakukan di
tampilan itu. Tae Soo malah melanjutkan tawanya. “Kau sangat imut sekali, kan?”
ujarnya tanpa beban. Sekuat hati Hyo Kyung menahan air di matanya. Tapi tetap
saja ia tak kuasa. Video ini bahkan lebih parah dari video saat ia diperkosa 3
bajingan itu. Ini padahal Kim Tae Soo,
kekasihnya sendiri. Yang membuatnya tak berhenti menangis adalah melihat
kelakuannya sendiri yang seolah kerasukan setan.
“Wae?” suara Tae Soo
melirih. Tangannya menghapus air mata di pipi Hyo Kyung pelan-pelan.
Dipalingkannya pula wajah Hyo Kyung dari video itu dan menghadap ke dirinya.
“Uljima… uljima…”[2]
pintanya dan terus membingkai wajah Hyo Kyung dengan kedua tangannya. “Wae? Kau
menyesal? Tidak apa-apa. Kau sangat cantik tadi. Sungguh! Aku tidak bohong,”
sungguh! Kata-katanya tak menghibur Hyo Kyung sedikit pun. Kini Hyo Kyung tahu
apa yang sudah dijejalkan ke mulutnya oleh Tae Soo saat di rumahnya. Itu yang
membuatnya berbuat hal menjijikkan yang tak ia ingat sedikit pun.
“Uljima! Uljima!” Tae
Soo mulai membentak. Nadanya memburu sangat cepat. Seolah ia sangat membenci
air mata yang tak mau dibendung dari mata Hyo Kyung. Jelas, yang dilakukannya
malah membuat aliran itu makin deras saja. Entah hatinya luluh atau apa, nada
bicaranya kembali memelan. Bahkan ia membawa Hyo Kyung ke dalam pelukannya.
Bertindak seperti kekasihnya sungguhan, ia mengelus-elus rambut Hyo Kyung
sayang. Entahlah. Apakah yang ia lakukan itu benar-benar kasih sayang atau apa.
“Uljima Hyo Kyung~a. Mianhae…” lirih Tae Soo membuat Hyo Kyung sedikit
tercengang. Apa baru saja ia tak salah dengar? Tae Soo mengucap maaf atas
kelakuannya? Apa orang ini sudah kembali menjadi Tae Soo yang dulu pertama kali
ia kenal?
“Mianhae, Hyo Kyung~a.
Aku tak ingin membuatmu mati sekarang. Aku, aku harus menyelesaikan 29 goresan
lagi. Baru akan tiba giliranmu,” ah… Hyo Kyung menyesal sempat tercengang.
Pikirnya salah besar. Tae Soo tak akan menjadi Tae Soo yang ia impikan.
“Tapi…” disudahinya
pelukan itu. Ditatapnya kembali erat-erat wajah Hyo Kyung. Kedua ibu jarinya
masih senang menyingkirkan titik-titik basah di sana. Senyumnya muncul. “… aku
sangat bahagia. Kau tahu kenapa?” tanyanya, antusias sekali. Hyo Kyung tak
yakin Tae Soo memang menempatkan ekspresi itu dengan benar di wajahnya. “Aku
akan segera mempunyai anak darimu!” serunya yang sukses membuat Hyo Kyung
mendelik, sebagai ganti dari tangisannya. Tangannya keder. Ia belum
begitu paham maksud dari ucapan pria ini. Tapi mendengar kata anak sudah
nyaris menghancurkan persendiannya.
“Karena kau yang sangat
hebat, aku melakukannya dengan sangat baik. Aku sadar, aku tidak perlu pengaman
untuk hal itu. Aku melakukannya dengan sangat baik. Lihatlah!” demi
mengekspresikannya, tak segan-segan Tae Soo membuat kepala Hyo Kyung kembali ke
layar itu. Menyaksikan apa saja yang begitu gilanya menusuk-nusuk
penglihatannya. “Iya, kan? Iya, kan?” tingkah Tae Soo sungguh seperti
anak-anak. Ia bahkan berdiri. Melompat-lompat kegirangan, tak karuan. Adalah
ekspresi yang tak pernah muncul sebelum-sebelumnya. “Aku akan punya anak! Aku
akan punya anak! Hyo Kyung~a! Saranghae!” serunya riang gembira. Sedang hal itu
sama sekali tak dirasakan oleh Hyo Kyung. Tidak secuil pun!