Kuliah kami selesai lebih awal
hari ini. Jam kedua dosen tidak masuk. Tadinya aku berniat pulang saja. Tapi,
Farra dan Sati menggandengku ke sekretariat.
Ah, periode magang kami sudah
selesai. Sekarang kami menjadii pengurus. Tentunya harus lebih sering ke
sekretariat. Terlebih Farra yang sekarang menjabat menjadi wakil sekretaris
umum. Sedangkan aku dan Sati hanya sebagai anggota bidang saja. Termasuk Wawan
dan Tora yang juga akhirnya ikut berkumpul di sini. Kami berempat memang jarang
berkumpul di rumahku lagi. Sekarang basecamp kami pindah di sini. Tak
pernah sehari pun terlewat untuk mengunjungi sekretariat.
Dan sekarang aku bingung, apa
yang harus kulakukan. Kudekati Farra yang mulai membuka laptopnya. Dia sibuk
mendata surat-surat itu. Bekerja semestinya. Ugh! Aku useless sekali.
Akhirnya kupilih lemari. Mencari buku yang bisa kujadikan bahan bacaan. Yang
kutemukan komik romance seri tunggal.
Tak lama setelah kami di sini,
beberapa pengurus datang. Duduk, dan mengobrol seperti biasa. Aku belum mau
meninggalkan bukuku. Lagi pun, tak ada juga yang datang dan mengusikku.
Bersandar lemari, dan kadang-kadang menyingkir sedikit kalau ada yang mau
membuka lemari.
Setelah 2 jam melakukan kegiatan
masing-masing, seperti biasa, kami berkumpul di teras belakang. Bercanda
seperti biasa. Letak sekretariat ini dataran yang menurun. Karena sekretariat
kami yang paling pojok, maka letak kami di dataran yang paling rendah. Makannya
teras depan dan belakang malah jadi seperti panggung.
Apa saja kami jadikan bahan
candaan. Wawan dan Sati yang paling atraktif. Mereka berdiri di bawah.
Sedangkan aku dan Yuni, teman di prodi Bahasa Prancis duduk di pintu melihat
kelakuan mereka. Tora letaknya lebih dekat dengan mereka berdua. Sesekali ia
menimpali. Membuat suasana sore ini makin cerah saja.
Farra di dalam. Sepertinya ada
yang harus dikerjakannya bersama Tiara, sekretaris Umum kami. Satu prodi, tapi
beda kelas. Dia sekelas dengan Badri. Ah, iya. Soal Badri, meskipun hubunganku
dengannya biasa-biasa saja, tapi aku cukup bersyukur karena dia tidak mendaftar
di hima. Bukan apa-apa. Hanya saja, aku pasti bingung harus bersikap seperti
apa. Tak lucu kan, kalau tiba-tiba aku berkata padanya, “Terima kasih atas
lukanya.” Walau hanya sebagai bahan guyonan, rasanya tak enak.
Azan ashar berkumandang. Beberapa
cewek, termasuk aku dan Sati tidak sholat. Sekretariat lebih sepi beberapa
saat. Aku tetap berada di tempatku. Sedangkan Sati sudah masuk ke dalam. Bernyanyi-nyayi
tak jelas. Tak perlu kuganggu. Biarlah. Sepertinya dia sedang senang. Kalau
kulihat, juga berdasarkan seluruh ceritanya, perkembangannya dengan Rizal makin
meningkat. Yah… kupikir tinggal menunggu sampai ada kabar jadian dari mereka
saja.
“Udah sholat?” tanya Sati pada
Wawan. Sepertinya ia terkejut, karena bocah itu selesai lebih cepat dari yang
lain.
“Dia orang pada ngobrol. Males!
Gue duluan, deh,” ujar Wawan. Padahal tidak ada yang tanya.
Wawan mendekatiku. Duduk di
tempat Tora duduk tadi. Sati masih di dalam. Tadi padahal ada Nita dan Yola
juga dengan kami. Tapi sekarang tidak ada. Kemana, ya? Mungkin saja ke kantin.
Aku baru akan membuka pembicaraan
dengan Wawan saat kudengar hpku berbunyi. Ada panggilan masuk. Terpaksa aku
masuk, karena hpku sedang kucas. Sati keluar, sepertinya menggantikan tempatku.
Brian? Kenapa dia menelponku?
Tiba-tiba aku ragu untuk mengangkatnya. Apa yang akan ditanyakannya? Kenapa
enggak pernah ketemu lagi? Pertanyaan semacam itukah? Sudah berapa lama ya
aku tak melihatnya? Selain karena sibuk di hima, aku juga agak canggung untuk
menemuinya duluan. Soal gambar di bukunya itu… aku bahkan belum menanyakannya.
“Halo?” ujarku, memutuskan untuk
menjawab panggilan itu.
“Hay, Mi! Di mana?”
“Di sekret. Kenapa, Ian?” duh,
apa dia mau mengajakku bertemu.
“Nah, kebetulan. Boleh minta
tolong, enggak? Rizal enggak bisa dihubungin. Kayaknya di sekret, deh. Boleh
minta tolong liatin enggak? Terus bilangin, suruh sms gue gitu,” ujarnya. Ah…
hanya itu? Hahah… apa yang kuharapkan?
“Oke.” Setelah berucap terima
kasih, ia mematikannya.
Huft… aku jadi berpikir ulang
kalau Brian itu tak benar-benar menyukaiku. Bisa saja kan, inisial-inisial itu
bukan berarti namaku. Atau, ada Mia yang lain di luar sana. Ya, siapa tahu.
Buktinya, dia juga tak pernah mengirimiku pesan duluan selama ini.
Hah! Sudahlah, Mia! Yang harus
kau lakukan sekarang adalah ke sekretariat Ilmu Pendidikan (IP) dan mencari
Rizal. Siapa tahu dia sudah selesai sholat.
Kupilih lewat pintu depan.
Sepatuku kan juga di depan. Tak masalah kalaupun harus berjalan lebih jauh.
Sekretariat IP ada di paling depan. Saat aku ke sana, hanya ada Debby,
satu-satunya teman SMA yang satu Fakultas denganku. Aku tak begitu dekat
dengannya. Jadi kalau bertemu hanya sekedar say hello saja. Sama seperti
sekarang, aku datang dan menanyakan yang memang menjadi kepentinganku saja.
“Hey, Deb! Rizalnya enggak ada,
ya?”
“Rizal? Rizal, ya? Tadi kayaknya
ke belakang, deh,” jawabnya. Belakang? Maksudnya ke arah sekretariat himaku?
“Oke, makasih.” Debby tersenyum
sebelum aku pergi.
Kalau ke belakang, berarti lewat
belakang saja, kan? Tadi Debby juga menunjuk ke arah sini. Dan ternyata benar,
Rizal ada di sana. Berdiri di depan pintu belakang sekretariat BEM yang
tertutup. Tinggal dua ruangan lagi sampai ke himaku. Kenapa dia diam di situ,
ya?
“Ri…” panggilanku terpaksa
kutelan kembali. Aku tahu kenapa Rizal sampai diam mematung di sana. Dari sini,
jelas bisa kulihat. Ada dua orang berpelukan di depan pintu himaku. Bu,
bukankah itu Wawan dan Sati? Apa yang mereka lakukan?
Aku tak mengerti apa yang
terjadi. Yang jelas, kulihat Wawan yang memang menghadap kemari mengangkat
pandangannya. Apa yang dilihatnya adalah Rizal? Lantas apa maksud tatapannya
itu? Sampai membuat Rizal berbalik. Melangkah, mungkin untuk kembali ke
sekretariatnya. Tapi ia kembali terhenti karena melihatku.
***
Sepuluh menit kami hanya diam.
Sampai mi ayam pesanan kami datang, tak ada satu pun di antara kami yang
memulai pembicaraan. Mi ayam panas sampai mendingin. Sisa-sisa asapnya
menari-nari di antara kami. Menjawil-jawil mulut kami untuk berbicara. Tapi
yang ada hanya desahan yang dimulai dari Rizal.
“Yuk, makan!” serunya. Ia
tersenyum, tapi tak secerah seperti biasa. Aku juga bingung, kenapa aku
mengajaknya kemari. Padahal tadi aku sudah makan siang. Dan aku juga makan di
sini! Pun, tanpa basa-basi Rizal menerima tawaranku.
Ia mulai mengaduk mi ayamnya.
Membubuhinya dengan saus dan kecap. Aku pun ikut beraksi. Melihatnya mulai
lahap menyantap minya itu, kuambil garpu. Satu sendok dan aku tak tahan.
Rasanya aku harus memulai pembicaraan lebih dulu.
“Em… Zal!” panggilku. Ia hanya
berdehem tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanan traktiran dariku ini.
“Soal…” lanjutku. “Sati sama Wawan…”
“Mi!” tiba-tiba Rizal memotong
kata-kataku. Ia berhenti dan perlahan mengangkat kepalanya. Ekspresinya datar.
Atau, aku saja yang tak bisa membacanya, entahlah. Ia membubuhi ekspresinya
dengan senyum tipis sebelum bicara.
“Gue tahu maksud elo ngajak gue
ke sini. Tapi… gue bisa atasin sendiri,” ucapnya. Aku diam. Apa benar aku hanya
harus diam seperti ini? “Biar gue sendiri yang nanya ke Sati,” tambahnya.
Dibuatnya senyum yang lebih lebar. Mencoba meyakinkanku. Berat memang. Tapi,
kurasa ini memang bukan ranahku. Biarlah, seperti katanya tadi, dia yang
mengurusi masalah itu sendiri.
“Elo sendiri gimana?” ia membuka
obrolan yang lain.
“Apanya?”
“Kok gue enggak pernah ngeliat
elo nemuin Brian lagi, sih? Elo berdua lagi berantem, tah?” ah… dia
mengingatkanku pada permintaan Brian tadi. Tapi, karena pertanyaannya barusan,
rasanya aku tak bernafsu untuk menyampaikan pesan Brian. Lagipula, sudah
terlalu terlambat kalau menyuruh Rizal mengirim sms ke Brian sekarang.
“Nah, gue awalnya enggak tahu
kalo ternyata kalian itu belum jadian. Kalian deket banget, sih,” tambahnya.
Aku benar-benar tak tahu harus menanggapinya seperti apa. “Alesan gue ngira elo
berdua pacaran itu, soalnya elo sering banget ke sana. Satu lagi, karena di
buku-bukunya itu dia sering gambar elo. Ah, ya. Termasuk di buku yang gue kasih
ke elo waktu itu. Liat, enggak?” tanyanya. Aku tak menjawabnya. Diam lebih baik
mungkin.
“Padahal… gue udah lama nyuruh
Brian buat nembak elo. Tapi dianya bilang enggak papa, kayak gini aja.”
“Dia bilang gitu?” aku mulai
tertarik. Apa kira-kira yang dikatakan Brian tentangku?
“Heem. Dia bilang, dia enggak
enak kalo mau mulai duluan. Dia takut, kalo elo tahu perasaannya, elo bakalan
ngejauhin dia. Tapi sepanjang yang gue tahu, kayaknya elo juga suka sama dia?
Gue bener, enggak?” terkanya. Dia memaksaku untuk diam lagi. Karena
kukembalikan pertanyaan itu ke diriku sendiri. Apa aku juga menyukai Brian?
Selama ini, aku selalu merasa nyaman dengannya. Perhatiannya, aku sangat suka.
Juga, saat ia membiarkan pundaknya untukku menangis, itu pertama kalinya aku
berdebar karena seorang Brian. Hadiah darinya, dan seluruh waktunya. Apa boleh
aku menyukai Brian?
***
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul
di otakku secara berlebihan. Sudah sangat lama! Lama sekali aku tak bertegur
sapa dengan Brian. Sampai aku berpikir, bahwa sebenarnya ia menelponku untuk
mencari Rizal hanya alasannya saja. Telah kudengar sendiri dari mulut Rizal,
Brian memang menyukaiku. Juga soal gambar di bukunya itu, memang aku. Lantas,
bagaimana aku harus bersikap? Selama ini aku menjauhinya karena canggung karena
ketidaktahuanku. Sekarang aku tahu, apa yang akan kulakukan?
Kuambil hpku di atas meja
belajar. Mencari kontak Brian di bbm. Aku ragu untuk mengontaknya duluan. Tapi,
kalau aku bersikap seperti ini terus, kasihan juga Brian kan. Aku sendiri
bagaimana? Perasaan apa yang kupunyai untuk Brian? Bukankah selama ini aku
menganggapnya seperti kakakku sendiri, hingga semua masalah kutumpahkan
padanya? Apa sikapku ini sudah membuatnya menyukaiku? Akh! Aku bingung!
Kutekan kontaknya. Pelan, jariku
membentuk kata Ian. Aku masih ragu untuk bertanya apa, tapi sayangnya
jariku ceroboh menekan tombol enter. Tak sempat kutarik, karena tanda R
sudah mengiringi pesanku. Terlambat! Brian sudah membacanya.
Iya? Balasnya singkat.
Oke! Harus kubalas apa sekarang?
Lagi apa? Eh! Kenapa aku bertanya soal ini? Soal buku
elo yang waktu itu… ah, tidak! Tidak! Apa aku mau mengaku kalau aku sudah
tahu semuanya? Memangnya kalau sudah tahu apa kelanjutannya? Lagi dimana?
Em… sedikit aneh. Untuk apa aku menanyakan hal ini? Tapi, tak apalah. Basa-basi
di awal.
Lagi di luar. Kenapa, Mi?
balasnya sekitar selang lima detik. Di luar? Apa tak apa kalau kusuruh dia
kemari? Oh, oh! Aku harus bersiap juga, kan? Lebih baik mengobrolkannya secara
langsung dengannya. Apapun yang akan terjadi, terjadilah!
Bisa ke rumah gue, enggak? Ada
yang mau gue omongin.
Ke rumah elo? Eung…
pesannya terpenggal. Tulisan Brian D sedang mengetik kutunggui.
Lama sekali. Apa dia ragu untuk datang ke sini? Apa dia keberatan?
Satu jam, ya? Satu jam lagi
gue ke situ. Eh? Benar? Dia mau kemari? Padahal dia sedang di luar. Aku
jadi semakin yakin, Brian memang menyukaiku.
Oke. Gue tunggu, ya? Hanya
D. Tak apa. Mungkin dia masih di jalan.
Kulihat jam di hpku. Masih jam 7.
Satu jam lagi berarti dia akan datang kemari jam 8. Tak lucu kalau aku
menyambutnya dengan piama begini, kan? Aku harus ganti baju. Setelan biasa,
jeans selutut dan kaos polos biru tua. Rambut kukucir satu. Hanya sekedar
mengobrol. Tak perlu persiapann yang muluk-muluk.
Jam 8 tepat. Aku ke depan. Belum
ada siapa-siapa, tapi kuputuskan untuk tetap di sana. Menunggui kalau-kalau
Brian sudah datang, aku tinggal berlari tanpa harus dia memanggil untuk
dibukakan gerbangnya.
Sepuluh menit! Brian telat
sepuluh menit! Hanya sepuluh menit, tapi rasanya seperti sepuluh jam! Jantungku
berdebar tak karuan. Kepalaku cenat-cenut, memikirkan kata-kata apa yang harus
kukatakan padanya nanti saat memulai pembicaraan? Semua kalimat terasa canggung
dan aneh! Akh! Apa keputusanku benar untuk menyuruhnya datang kemari? Tapi,
semuanya harus jelas, kan? Bagaimana kelanjutannya nanti, biar sajalah. Sudah
kepalang basah.
“Mi!” suara yang kutunggu
akhirnya terdengar. Brian datang. Spontan senyumku terbentuk. Aku berlari dan
membukakan gerbang. Brian datang dengan senyuman lebar. Tapi sayangnya,
senyumnya tak membangkitkan senyumku untuk lebih lebar. Malah senyumku
meluntur. Aku urung untuk menyuruhnya masuk. Hanya karena satu alasan, Brian
tidak sendirian. Ada seseorang di belakangnya. Dan orang itu adalah seorang
gadis.
“Ada apa?” tanyanya. Aku tak
menjawab, masih menatap gadis itu. Bahkan sampai Brian turun dari motor dan
menggamit tangan gadis itu mendatangiku, mataku tak bisa lepas darinya. Apalagi
tangan itu! Tangan! Apa maksudnya ini?
“Elo mau ngomongin apa, Mi?”
tanya Brian tepat setelah berada di depanku. Kuabaikan pertanyaan itu.
“Ini siapa?” tanyaku datar.
“Oh, iya. Kenalin, ini Nagita.”
Gadis ini tersenyum. Ia mengulurkan tangannya. Kugamit tangan itu ragu. Tapi ia
terlalu ramah. Disebutnya namanya sendiri dengan lembut, “Nagita.”
“Mia,” kubalas dengan ramah pula.
Meskipun kuakui, aku baru saja beracting. Tidak! Hatiku tak bisa ramah.
Aku masih menerka, siapa dia? Siapa sampai bersama Brian di malam minggu
seperti ini?
“Ehm… dia ini…”
“Pacar?” sentakku cepat. Aku
menjadi tak sabaran. Dan aku benar-benar benci saat Brian hanya tertawa kecil
sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. Begitu juga dengan gadis ini. Kurasa
wajahnya sudah memerah. Oh, aku sungguh benci! Kenapa tiba-tiba seperti ini?
“Oh, iya? Tadi elo mau ngomongin
apa?”
Apa? Aku sendiri tak tahu aku mau
bicara apa dengannya? “Papa ngajakin elo makan bareng malem ini,” jawabku. Aku
tahu dia akan menolak. Tak mungkin dia akan membawa serta pacarnya ini jika
makan bersama papa, kan? Jadi kurasa jawabanku sudah benar.
“Oh… oh, ya? Ah, itu…” benar,
kan? Dia mulai bingung. Sesekali ia melihat ke arah Nagita.
“Gue tahu, pasti elo berdua udah
makan, kan? Enggak papa. Lagian, elo udah telat juga.”
“Te, telat?”
“Pulang aja. Kasihan juga Nagita,
udah malem.” Maaf, tapi aku ingin sekali mengusir kalian berdua secepat
mungkin. Dadaku sudah sesak sekali. Ada sesuatu di pelupuk mataku yang memaksa
untuk keluar. Akan kutahan dulu, setidaknya sampai kalian pergi dari sini.
“Oh… ya, ya udah kalo gitu.
Sampein maaf gue ke om, ya?” balas Brian. Aku hanya mengangguk. Aku tahu aku
keterlaluan. Menyuruhnya kemari, tapi mengusirnya secepat ini. Kurasa mereka
pun tak keberatan. Karena setelah itu mereka pun menyanggupinya. Tak bisa
kubalas senyuman Brian sebelum pergi. Walau hanya pura-pura, aku benar-benar
tak sanggup.
Sampai mereka benar-benar sudah
tak kelihatan, aku ambruk. Kakiku melemas. Aku kenapa? Kenapa rasanya sesesak
ini? Baru saja aku bertanya pada diriku sendiri, apa aku menyukai Brian? Tidak
jika kujawab dengan logika. Tapi, kenapa sekarang rasanya seperti ini?
Blar!!! Tiba-tiba petir
menyambar. Tepat setelah yang tadi di pelupuk mata berhasil keluar, rintik
hujan mengguyurku. Makin lama makin lebat, hanya saja aku tak peduli. Aku
sesenggukan. Meluruhkan semua air mata bersama air hujan. Aku berjongkok persis
seperti anak yang tidak dibukakan pintu oleh ibunya. Basah biarlah basah.
Sakit? Oh, dadaku lebih sakit sekarang ini. Aku ini kenapa? Berkali-kali
kutanyakan hal itu pada diriku sendiri.
Tangisku terhenti saat hujan di
atasku tiba-tiba terhenti. Tak kurasakan lagi ada rintik air menimpahi
kepalaku. Ada sepasang kaki di depanku. Kudongakkan kepalaku demi melihat
melihat siapa pemilik kaki ini. Tora? Benarkah Tora yang memayungiku ini?
Kutatap lama. Benar! Ini memang Tora.
Ia berjongkok. Matanya kelihatan panik melihatku menangis.
“Elo ngapain sih ujan-ujanan di depan rumah malem-malem gini?” tanyanya. Aku
tahu pertanyaannya itu ketus, tapi kurasa ia mengkhawatirkanku. Aku kembali
menangis. Kali ini lebih keras. Karena hal itu, aku berhasil membuat matanya
membulat besar. Kurasa ia cukup terkejut. Dan hup! Tanpa pikir panjang,
aku memeluknya.
Srek! Kurasa payung yang dibawanya terjatuh. Bisa kurasakan kembali air hujan tertumpah di atas kepalaku. Mengalir ke wajahku dan menderaskan air mataku. Bisa kurasakan deguban kencang dari dada Tora. Aku tak peduli! Aku sungguh tak peduli! Biarlah Tora akan berpikir apa. Aku sungguh membutuhkan ini. Kumohon, biarkan aku memelukmu sampai sesak di dadaku berhenti, Tora!
Sebelumnya Selanjutnya