Tuesday, January 14, 2020

Seorang Anak dalam Kegelapan


Banyak anak-anak yang berlarian di halaman. Beberapa sama sekali tak punya sopan santun. Lewat begitu saja di antara Won Geun dan Soo Jin yang sejak tadi penat menunggu pengurus panti ini. Bila mengingat anak-anak itu adalah anak-anak menyedihkan yang kehilangan orang tuanya, tentu karena ketidaksopansatunan yang mereka dapatkan akan dibiarkan begitu saja. Malah mereka ikut tertawa saat tawa renyah mereka terdengar di sana-sini.
“Nuguseyo?” suara seseorang mengejutkan mereka. Sontak mereka berbalik, dan seorang wanita yang rambutnya mulai beruban sudah ada di depan mereka. Ah, sepertinya dialah pengurus panti ini.

“Permisi. Saya Go Won Geun, dari kepolisian Gangnam Gu,” ujar Won Geun menunjuk kartu identitasnya. Wanita itu nampak terkejut dan sedikit bingung. Untuk apa polisi mengunjunginya, kan?

“Wae geuraeyo?” tanyanya agak gugup.

“Kami hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan pada Anda. Apa kami boleh masuk?” suara Won Geun melemah, lebih sopan. Kenyamanan harus ia ciptakan dulu di sini. Bisa gawat kalau-kalau wanita ini bukannya menerima mereka malah menutup pintu dan tak membiarkan mereka masuk barang sebentar, kan?

Dan yang dilakukan Won Geun berhasil. Wanita itu tersenyum kemudian mempersilahkan mereka masuk. Ketiganya duduk saling melingkar. Menyisakan satu sofa yang paling jauh dari pintu. Won Geun bersiap memberi pertanyaan. Sedangkan Soo Jin sudah menyiapkan buku catatannya.

“Kami kemari untuk menanyakan seseorang,” mulai Won Geun. “Apa mungkin… ada anak yang bernama Kim Tae Soo 22 tahun yang lalu tinggal di sini?”

“Kim… Tae Soo?” wanita itu nampak berpikir. “Chakkamanyo,” tambahnya. Ia kemudian berdiri. Masuk sebentar ke dalam. Ia keluar membawa beberapa berkas. Sepertinya itu berkas-berkas lama. Dilihat dari tahunnya, itu memang 22 tahun yang lalu. Dia berusaha mencari nama yang dimaksud kedua orang ini. Satu per satu ia buka, dan menemukan satu berkas bernama Kim Tae Soo. “Ah, ini dia!” dibukanya berkas itu. Menampilkan seorang bocah berumur 10 tahun.

“Ini Kim Tae Soo?” Soo Jin mencoba meyakinkan.

“Ne. Hanya ini yang bernama Kim Tae Soo yang masuk 22 tahun yang lalu,” jelas wanita ini.

“Kalau kami boleh tahu, dia berasal dari mana?” giliran Won Geun yang bertanya.

“Anak ini… dia datang tanpa identitas sama sekali.”

“Ah, jadi dia mendapatkan nama Kim Tae Soo dari sini?”

“Ne. Aku yang menemukannya di depan panti. Dia terduduk di bawah hujan lebat. Saat aku menanyainya, dia tidak ingat siapa dan darimana dia berasal.” Won Geun dan Soo Jin kini saling pandang. Tak ingat siapa dan darimana berasal. Makin rumit saja. Lagipula, mereka pun belum yakin kalau Kim Tae Soo ini memang Kim Tae Soo yang mereka cari, kan?

“Kapan tepatnya dia pergi dari sini?” tanya Won Geun lagi.

“Dia meninggalkan panti saat umurnya 18 tahun. Dia anak yang pendiam. Dia tidak pernah keluar dari kamarnya, kecuali untuk mandi dan makan. Yang dia lakukan hanya menggambar saja.” Ah! Menggambar! Hanya karena satu kata ini, mereka yakin kalau Kim Tae Soo inilah memang Kim Tae Soo yang mereka cari. “Tak ada yang mau mengadopsinya. Dia pun pergi tanpa memberitahu kami. Aku tidak pernah tahu kemana perginya,” tambah pengurus itu lagi.

“Apa… dia meninggalkan sesuatu di sini?”

“Entahlah… ah! Biar kucari dulu,” wanita itu kembali masuk lagi. Sementara menunggu, Won Geun dan Soo Jin melihat-lihat berkas milik Kim Tae Soo itu. Lihatlah, bahkan foto anak ini begitu tampan. Dia seperti malaikat kecil yang tidak nampak dosanya. Sama persis dengan Kim Tae Soo yang terakhir kali Won Geun temui. Walau foto ini tanpa senyum, tapi Won Geun berkali-kali bisa kagum dengan wajah malaikatnya.

Wanita itu akhirnya kembali ke ruang tamu. Dia membawa sebuah kardus dan meletakkannya di atas meja. Soo Jin menyingkirkan berkas-berkas itu agar kardus yang dibawanya bisa leluasa bertengger di atas meja. Mereka memilih menunggu, sampai wanita itu mengeluarkan isinya.

“Tak banyak yang ditinggalkannya. Dia hanya meninggalkan buku gambarnya, dan gelas alumunium ini,” jelasnya sambil mengeluarkan sebuah buku gambar kecil yang sudah usang. “Beberapa hanya baju yang pernah dipakainya. Ah, ini ada pensil. Pensil dan gelas alumunium ini adalah barang yang pertama kali ia bawa,” tambahnya lagi dengan pensil kecil yang benar-benar sudah kelihatan sangat lama yang ia jajarkan dengan buku gambar dan gelas aluminium itu. Won Geun memilih gelas aluminium itu. Sedangkan Soo Jin membuka-buka buku gambarnya. Semua gambarnya nampak normal. Walaupun untuk anak 10 tahun itu adalah gambar yang terlalu menakjubkan menurutnya. Semuanya gambar abstrak, yang rasanya sangat mungkin untuk digambar seorang seniman yang tidak punya hawa membunuh sekalipun.

Tertarik dengan gelas itu, tentu saja Won Geun punya alasan. Entah rasanya ia pernah melihat gelas ini di suatu tempat. Tapi ia tak tahu dimana. Kalau melihat selintas, memang modelnya biasa-biasa saja. Tapi, jika diperhatikan dengan betul-betul, rasanya tak banyak model yang seperti ini. Dimana… dimana dia pernah melihatnya?

“Tapi sebenarnya ada apa, ya?” wanita ini mengejutkan Won Geun dan Soo Jin. “Apa… Anda, Anda ini mengenal Kim Tae Soo?”

“Ne. Dia adalah pemilik galeri sekaligus pelukis yang sedang sangat terkenal, tidak hanya di Korea Selatan, tapi juga di seluruh Asia,” jelas Won Geun dengan senyuman yang tak lupa ia sematkan di bibirnya.

“Jeongmalyo[1]?” wajah wanita itu nampak cerah. Sepertinya ia cukup senang dengan berita itu. “Ah… dia tumbuh dengan baik. Aku sempat khawatir dengan masa depannya, karena sifat pendiamnya itu,” dia nampak lega sekali. Won Geun dan Soo Jin yang nampak bersalah. Nasib baik mereka tak segera mengatakan kalau Tae Soo adalah salah satu tersangka yang sedang mereka selidiki. Karena wanita ini sepertinya sangat menyayangi Kim Tae Soo.

Merasa tak ada lagi yang bisa mereka dapatkan di sini, mereka pamit. Wanita ini bahkan mengantar mereka sampai gerbang depan. Keduanya benar-benar tak mengerti, jika bocah seperti Kim Tae Soo besar di tempat yang penuh dengan keramahan seperti ini, bisa menjadi salah satu daftar tersangka pembunuhan berantai itu. Agak tak masuk akal, apabila mencocokkannya pula dengan wajah malaikat Kim Tae Soo.

Mereka baru akan masuk ke dalam mobil saat Soo Jin menerima pesan dari Baek Ji.  “Kita menemukan ponsel yang menghubungi bos Yun Tae Yong untuk mengantar mobil itu, Hyung,” lapornya setelah membaca pesan itu.

“Jeongmal? Eoddi?”

Bukannya menjawab, Soo Jin malah memunculkan senyumannya. Sedikit decakan tak percaya keluar pula dari mulutnya. “Itu… ponsel milik Song Hani. Dan ponselnya ada di rumahnya sendiri.”

“Mwo?”

***

“Silahkan,” Tae Soo menyajikan sekaleng soda ke meja. Karena Woo Young pun tak menerimanya secara langsung. Ia sendiri juga sudah memegang soda yang sama, yang tadi ia keluarkan dari kulkas kecil yang tak jauh dari mereka. Woo Young tak tertarik dengan dia yang mulai mengambil tempat duduk di sofa di depannya. Ini rumah Tae Soo, dan ia mengakui bahwa orang ini memang benar-benar kaya. Bahkan ada air mancur segala di tengah ruangan ini. Satu patung yang menyita perhatiannya. Tentu saja patung kursi yang ada di dekat air mancur itu. Juga beberapa lukisan yang terpajang di dinding. Bukan lukisan manusia, atau lukisan-lukisan abstrak seperti yang dipajang Tae Soo di lantai 1 sampai 3. Tapi, lukisan pisau-pisau dapur yang dibuat dengan berbagai bentuk dan ukuran.

“Ada apa lagi sekarang? Sampai Anda repot-repot datang kemari lagi,” Tae Soo menghentikan pandangan Woo Young pada semua perabotan di rumahnya ini.

“Ah… sebelumnya aku ingin meminta maaf, karena aku mengganggu waktu Anda. Padahal sepertinya Anda baru pulang dari Vietnam, kan?” ujar Woo Young, mengawali wawancaranya. Seperti biasa, Tae Soo nampak bersikap santai. Posisinya pun tak beda jauh dengan posisi yang ia gunakan tiap kali polisi datang ke tempatnya. Kaki kanan yang ia pangkukan dengan cantik di kaki kirinya. Baru setengah yang ia minum, diletakkannya sodanya sendiri di atas meja.

“Aniyo, gwaenchanayo. Aku tak terlalu lelah. Tapi kekasihkulah yang sangat lelah. Sekarang dia sudah tidur di kamarku,” jawab Tae Soo dengan senyum khasnya. Woo Young tak bisa menanggapinya dengan benar. Karenanya hanya senyum canggung dan sedikit tidak menggubris kalimatnya itu yang ia munculkan.

“Ini tentang Oh Chae Rim,” lanjut Woo Young.

“Oh Chae Rim? Polisi yang kemarin juga menanyakan soal Oh Chae Rim. Kenapa dengan Oh Chae Rim?”

“Apa Anda belum mendengar kabar soal Oh Chae Rim dari Oh Chae Ryeong?” Woo Young sedikit terkejut. Wajah Tae Soo menunjukkan ia sama sekali belum mendengar kabar kematian Oh Chae Rim.

“Ah… soal kematiannya? Ya, aku sudah mendengarnya. Aku benar-benar menyesal tidak bisa datang menghibur sahabatku, Chae Ryeong. Tapi, ada apa memangnya?” ah, ternyata Woo Young salah. 
Orang ini sudah mendengarnya. Yang membuatnya mengumpat sebal dalam hati adalah, ekspresinya yang kelewat datar itu tak menunjukkan kalau dia benar-benar berbela sungkawa. Terlebih yang meninggal ini adalah adik dari orang yang ia sebut sahabat itu.

“Mayatnya kami temukan di club malam yang tak jauh dari sini. Dan yang kami tahu,  orang yang membawanya adalah orang ini.” Woo Young mengeluarkan selembar foto. Tak lain adalah pria berjaket itu. “Apa mungkin Anda pernah melihatnya?”

Demi melihat foto yang diletakkan Woo Young di atas meja, Tae Soo memajukan duduknya. Diperhatikannya dengan seksama, dan setelahnya ia kembali lagi ke posisinya semula. Senyum separuhnya muncul, mengawali keterangannya. “Bagaimana aku bisa tahu? Wajahnya sama sekali tidak kelihatan.” Woo Young ikut tersenyum. Jika orang ini memang tidak bersalah, pasti akan mengatakan hal yang sama, bukan? Hanya saja, ekspresinya yang membuat Woo Young masih terus ingin memburunya.

“Kalau begitu, bagaimana dengan ini?” Woo Young kembali mengeluarkan foto. Foto mobil tempat mayat Song Hani ditemukan. Kali ini Tae Soo memandanginya lebih lama.

“Ini…” ia mulai bersuara. “… adalah mobilku.” Jawaban ini membuat Woo Young tercengang. Apa orang ini sedang membuat pengakuan dengannya? “Bagaimana Anda mendapatkan fotonya?”

“Bagaimana Anda yakin kalau ini adalah mobil Anda?”

“Aku bisa paham hanya dengan sekali melihat ini,” telunjuk Tae Soo menunjuk ke plat mobil itu. 
“Aku menggunakan plat palsu untuk mobil ini. Karena aku meminjamkannya untuk teman yang tidak punya ijin mengemudi. Jadi, kalau dia membuat masalah, mobil ini tidak akan bisa dilacak oleh polisi… ah! Apa aku baru saja membuat pengakuan?” ia tersentak. Tapi, itu hanya sedetik. Karena senyumnya yang muncul itu menunjukkan seolah tak ada yang terjadi sedetik yang lalu itu. “Apa aku akan mendapat hukuman karena memalsukan plat mobil?” tanyanya begitu santainya. Woo Young benar-benar tak percaya dengan semua ekspresi yang ia buat itu. Bagaimana dia bisa menganalisisnya jika seperti ini? Satu pun dari ekspresi itu, ia tak dapat menemukan mana ekspresi yang memang menunjukkan isi hatinya dengan sebenarnya.

“Tapi selama ini, temanku tak pernah menimbulkan masalah. Dia hanya menggunakannya tak pernah jauh-jauh dari Gangnam Gu. Aku yakin itu,” tambah Tae Soo lagi. “Ah, dan… mobil ini baru saja menghilang.”

Woo Young tersentak. “Bagaimana bisa? Kapan?” burunya. Tae Soo kembali mengubah ekspresinya. Seperti ia sangat senang sekali melihat keterkejutan di wajah Woo Young itu. “Tiga minggu yang lalu,” jawabnya. Woo Young tambah tak percaya. Rasanya ia ingin segera memborgol tangan orang ini. Bagaimana bisa ia dengan semudah itu mengatakan tentang hilangnya mobil itu? Tepat setelah mereka benar-benar menemukan Song Hani 3 tahun yang lalu. Seberapa jauh orang ini akan mengaku, Woo Young akan memancingnya sekali lagi.

“Apa Anda mengenal penyanyi club malam yang ada di sana. Orang ini,” sekali lagi, Woo Young mengeluarkan foto Hani yang ia dapatkan dari manajer club itu. Tanpa perlu memajukan duduknya lagi, Tae Soo mengangguk. “Ne. Semua orang yang datang ke club itu pasti akan tahu siapa dia,” jawabnya enteng. “Ada apa dengannya?”

“Song Hani… dia sudah meninggal,” terang Woo Young. Berharap mendapat sesuatu lagi dari wajah Kim Tae Soo. Ada segurat keterkejutan di sana. Tapi, lagi-lagi hanya dalam hitungan detik. Bagaimana bisa orang ini memainkan ekspresi seenaknya sendiri?

“Benarkah? Wah… umur seseorang memang tidak pernah ada yang tau, kan? Padahal malam sebelum aku berangkat ke Vietnam, aku sempat bertemu dengannya.” Tae Soo kembali mengaku. Benarkah… benarkah orang ini yang membunuh wanita-wanita itu?  Tapi kenapa dia mengaku semudah ini? Woo Young benar-benar tak bisa memahaminya. Atau memang ini adalah triknya? Atau ada orang lain? Pria berjaket ini, dan semuanya! Ah! Otaknya hampir meledak sendiri memikirkannya.

“Anda bertemu dengannya? Apa yang Anda lakukan dengannya?”

“Ah… itu…” Tae Soo sedikit ragu menjawabnya. “Tolong rahasiakan ini dari kekasihku, ya? Dia sangat menyukaiku, dan pasti akan hancur bila mendengar hal ini,” bisiknya, mencondongkan tubuhnya mengarah ke Woo Young. Gurat di wajah Woo Young belum sepenuhnya paham apa maksud perkataanya itu. “Aku sempat bermain dengannya selama satu malam penuh,” jawabnya santai. Mata Woo Young mendelik. “Ehem!” ia berdehem sebentar. Sekarang ia mengerti apa yang dimaksud merahasiakan hal itu dari kekasihnya. Tapi apa yang ada di dalam pikiran Woo Young tentang kata bermain dan yang ada di dalam pikiran Tae Soo tentu saja berbeda. Tae Soo tak masalah soal itu.

“Lalu apa hubungannya dengan mobilku?” tanya Tae Soo lagi.

“Mayat Song Hani ditemukan di dalam bagasi mobil Anda di Jembatan Seogang 3 minggu yang lalu.”

“Oh, itu sangat mengejutkan. Apa orang yang mencuri mobilku dengan orang yang membunuh Song Hani adalah orang yang sama?”

“Kami belum bisa memastikannya.” Kepala Tae Soo mengangguk-angguk. Apa yang ada di balik semua ekspresinya itu, Woo Young sungguh ingin menebaknya. Sayangnya ia tak bisa. Orang ini terlalu jenius bila menyangkut soal ekspresi. Seharusnya ia mengajak Won Geun kemari.

“Semakin aku melihat Anda… aku jadi semakin yakin bahwa Anda memang mirip dengan seseorang yang aku kenal,” tiba-tiba Tae Soo mengalihkan pembicaraan. Woo Young belum menanggapinya. Dibiarkannya mata Tae Soo yang menyipit-nyipit seperti menjajaki setiap detil di wajahnya. “Apa mungkin… Anda mengenal Jo Woo Hyun?” tanya Tae Soo kemudian. Awalnya Woo Young memang terkejut. Tapi ia ingat, Woo Hyun pun mengatakan bahwa dia memang mengenal orang ini. Karenanya dengan tegas ia menjawab, “Ya, dia adalah adik kandungku.” Dan mata sipit Tae Soo kembali melebar.

“Ah, pantas saja! Aku selalu memikirkan hal ini sejak pertama kali aku Anda datang kemari. Dan… jika dipikir-pikir lagi, nama kalian memang hampir mirip, kan? Jo Woo Young, Jo Woo Hyun,” kalimat Tae Soo lebih mirip seperti sebuah gumaman bagi Woo Young. Ia ingin tak menanggapinya. 
“Aku dan Woo Hyun cukup dekat,” tapi mendengar kalimat ini, bohong kalau dia tak tertarik. Pasalnya Woo Hyun bilang dia hanya mengenal Kim Tae Soo sesaat saja. Tapi sekarang Tae Soo mengatakan hal sebaliknya.

“Bagaimana Anda bisa mengenal Woo Hyun?”

“Ah!” sentak Tae Soo. Pertanyaan ini menyadarkan akan suatu hal. “Maaf, tapi aku tidak bisa menceritakan hal ini pada Anda. Ini adalah rahasia kami berdua,” tambahnya. Kalimatnya diakhiri dengan senyumannya yang begitu manis. Beda dengan senyum-senyum sebelumnya. Hah! Sekali lagi, Woo Young benci harus menerka-nerka makna ekspresi wajahnya. Lebih dari itu, dia mulai memikirkan hubungan apa yang sudah dibuat Woo Hyun dengan orang ini? Mungkin ia harus menanyakannya lagi pada Woo Hyun langsung.

***

Selepas Woo Young meninggalkan apartemennya, Tae Soo masuk ke kamarnya. Tentu Hyo Kyung tidak istirahat seperti katanya. Gadis itu hanya diam, mematung layaknya orang yang sudah kehilangan seluruh akalnya, duduk bersandar punggung tempat tidur dan menatap kosong ke depan. Mungkin Tae Soo tak bisa melihat betapa kacau gadis yang ia bilang ia sayangi itu. Ia merasa setiap ia melihat Hyo Kyung, dalam keadaan apapun itu, bisa membuatnya tersenyum. Daripada berkata menyayangi, itu lebih seperti obsesi. Ya, nampaknya Tae Soo sangat terobsesi dengan Hyo Kyung. Terutama pada tubuh dan wajahnya. Tiap kali Tae Soo melihatnya, ia sangat ingin selalu bermain dengan wanita malang itu. Sama seperti sekarang. Bahkan belum tuntas lelahnya karena terbang beberapa jam lamanya, ia sudah ingin menyantap Hyo Kyung saja. Andaikan suara pintu yang terhubung dengan lift rahasia itu tidak terdengar, mungkin ia sudah melucuti pakaian Hyo Kyung saat itu juga. Baru 2 kancing kemejanya terbuka. Jadi tak masalah jika ia biarkan begitu saja.

“Ah… paketku sudah datang,” ujarnya santai. “Apa kau mau ikut? Aku akan mulai menggambar lagi sekarang,” tambahnya. Hyo Kyung sama sekali tak bereaksi. Hanya diam, memasang telinganya. Jikalau Tae Soo menyuruhnya untuk ikut, ia tinggal berdiri. Mengekorinya seperti sebelum-sebelumnya. Apalagi memang yang bisa dilakukannya kecuali menuruti pria ini?

“Tapi sepertinya kau masih lelah. Ehm… tak apalah. Kau boleh absen sekarang. Lagipula, kau sudah sangat baik menemaniku selama di Vietnam kemarin, kan?” Tae Soo berubah pikiran. Tak bisa dipastikan, apakah ia merasa prihatin pada keadaan Hyo Kyung, atau sedang ingin menikmati objek gambarnya sendirian saja. Bahkan ia menyuruh Hyo Kyung untuk jalan-jalan keluar. “Pergilah jalan-jalan keluar. Aku tidak mau mengurungmu selamanya di sampingku,” ucapnya. Setiap ucapan Tae Soo adalah remot kontrol bagi Hyo Kyung. Serta merta ia berdiri. Melewati begitu saja Tae Soo yang mengantarnya dengan senyum tipis. Sempat ia melirik Woo Hyun yang sedang sibuk mengikat hasil buruan-nya. Hanya sekilas. Karena ia sudah mendapat perintah untuk pergi jalan-jalan maka dia akan melaksanakkannya. Toh, Woo Hyun hanya memberinya sedikit perhatian. Sedikit rasa kemanusiannya terketuk. Keadaan Hyo Kyung benar-benar di luar dugaannya. Jika boleh menebak, 
maka Hyo Kyung sudah ia anggap tak punya jiwa lagi.

Tae Soo keluar, berarti Woo Hyun sudah selesai. Tinggal menunggu perintahnya untuk memberesi semua pekerjaannya setelah selesai. Biasanya Tae Soo hanya akan memberinya senyuman sebelum ia keluar melewati lift khusus itu. Tapi kali ini, Tae Soo sempatkan untuk berucap, “Kau sudah bekerja dengan baik.” Langkah Woo Hyun terhenti karenanya. Kepalanya menoleh, Tae Soo sudah berada tepat di sampingnya. Senyuman itu belum tertanggal. Agak tak percaya juga sebenarnya Woo Hyun mendengar kalimat barusan.

“Pekerjaanmu hampir selesai,” tambah Tae Soo lagi. Sebelum menghampiri goresan barunya dan tangan kirinya yang bebas dari kertas gambar, pisau dapur, dan pensil itu menggenggam pundak Woo Hyun. Sebenarnya Woo Hyun masih betah berdiam di sana, demi menghalau perasaan cengangnya barusan. Karena tak biasanya Tae Soo berucap seperti itu. Kata-kata Tae Soo soal dia ingin agar polisi segera menangkapnya sungguh tak main-main. Sedikit mengherankan memang. Tapi, terus diam di sana, dan menyaksikan bagaimana Tae Soo mengeksekusi gadis yang sudah mulai tersadar karena tangan Tae Soo yang membelai-belai wajahnya itu, Woo Hyun memilih pergi. Matanya tak setega itu untuk memelototi hilangnya nyawa seorang manusia dengan perlahan.

***

Matahari mulai berpamitan dengan langit Seoul. Menyisakan warna-warna kemerahan yang jika diperhatikan betul-betul memang sangat cantik. Hanya saja, warna cantik itu tak begitu berlaku untuk orang-orang Seoul yang termakan kesibukan. Tanpa menyadari terang sudah berganti gelap, mereka bercumbu panas dengan pekerjaan yang kadang-kadang tak membuat mereka nyaman pula.

Dari ruang latihan, Ki Jae masih basah kuyup dengan keringat. Lee Hyeon, teman satu grup tiap latihan padahal sudah menegurnya untuk ganti baju dulu sebelum pergi. Mentang-mentang mereka diberi tenggang waktu untuk pulang lebih awal, Ki Jae langsung lari keluar sambil menyambar tasnya. Mumpung langit belum sepenuhnya menggelap, dia ingin sekali menemui Hyo Kyung. Satu bulan pergi tanpa kabar, Ki Jae ingin setidaknya, kalaupun tak bisa terlibat percakapan dengan kakaknya itu, ia ingin melihatnya dari jauh.

Hanya butuh beberapa menit, dengan taksi, Ki Jae sampai di depan gedung galeri Kim Tae Soo. Galeri itu masih ramai. Selain dari pengunjung galeri, juga orang-orang yang memang tinggal di apartement di lantai-lantai atas sana. Mata Ki Jae menyisir orang-orang di sana. Menurutnya adalah kemungkinan kecil Hyo Kyung ada di antara mereka. Karena setahunya, Tae Soo jarang sekali mengijinkannya keluar. Tapi siapa sangka, orang yang dicarinya sedang duduk sendirian di depan sana. Tatapnya hambar ke arah jalanan. Roknya yang kotor karena duduk di undakan yang membatasi jalan dengan sederet tanaman hias di belakangnya tak ia pedulikan. Ki Jae yang hampir tersenyum karena bisa melihatnya, spontan berubah murung. Terpaksa ia mengurungkan niatnya untuk hanya melihatnya dari jauh. Ia mendekat, dan tambah cemaslah dirinya.

“Nuna!” panggilnya. Seinci pun, bahkan Hyo Kyung tak bergeming. Angin senja mengelus-elus wajahnya. Menerbangkan anak-anak rambutnya yang terpisah dari rambutnya yang terurai lurus ke belakang. Wajahnya memang tidak pucat. Tapi, jika tanpa ekspresi dan seolah tak sadar kedatangan adiknya sendiri di sini, siapa yang tidak akan khawatir?

“Apa yang terjadi padamu, hah?!” Ki Jae mengguncang-guncangkan tubuh Hyo Kyung. Masih tak ada respon. “Nuna!” teriaknya lagi. “Nuna! Kau itu kenapa? Kau kenapa, hah?! Berhentilah membuatku takut, Nuna! Nuna! Nuna!” racau Ki Jae berkali-kali. Tubuhnya mendingin. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Hyo Kyung. Sampai-sampai air matanya berlompatan keluar. Seberapa pun banyaknya ia mengoyak tubuh kurus kakaknya itu, tetap tak ada reaksi.

“Ya, Han Hyo Kyung! Sadarlah! Kau kenapa?! Ya! Nuna! Nuna! Hyo Kyung Nuna!” sentak Ki Jae lagi. Sedikit rasa takutnya berkurang, karena bola mata Hyo Kyung tergerak. Matanya beralih, dari pandangan asalnya ke jalanan, mulai menatapi wajah Ki Jae. Sesaat lamanya ia mengitari wajah itu. Seperti sedang mengingat-ingat, siapakah pemilik wajah ini.

“Ki Jae?” bahkan ia sendiri tak yakin dengan penglihatannya.

“Eoh! Ini aku ini, Han Ki Jae, adikmu! Nuna! Kau ini kenapa, hah?!” tanya Ki Jae lagi. Hyo Kyung akhirnya tersadar. Gelagatnya menunjukkan seolah ia baru sadar kalau ada Ki Jae di sana.

“Kau… apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya. Ki Jae melepas tangannya dari pundak Hyo Kyung. Sedikit takutnya yang pergi tadi kembali. Ia tahu, kakaknya baru saja sadar akan kehadirannya. Sejak tadi, orang ini memang tak sadar ada dirinya. Tak sadar sudah berapa kali ia memanggil namanya, dan mengoyak-ngoyak tubuhnya.

“Kau… apa kau baik-baik saja?” tanyanya sedikit takut. Hyo Kyung berdiri. Bukan untuk menjawab pertanyaan tadi. Tapi yang dilakukannya adalah menghapus air mata Ki Jae. “Kenapa kau menangis?” tanyanya. Seolah tak tahu kalau barusan Ki Jae juga memberinya pertanyaan.

“Kau… kau ini… a, apa yang terjadi padamu?” ulang Ki Jae. Seberapa banyak pun air matanya dihapus oleh Hyo Kyung, malah makin banyak yang mengalir keluar.

“Gwaenchana. Memangnya aku harus kenapa? Nuna baik-baik saja, Ki Jae~ya. Jangan menangis seperti ini. Jangan membuat nuna takut!” didekapnya Ki Jae dalam pelukannya. Sebaliknya, Ki Jae memeluknya lebih erat. Dalam hati ia membalas kata-kata Hyo Kyung, “Justru kaulah yang membuatku takut, Nuna. Ada apa sebenarnya denganmu?” kalaupun pertanyaan itu ia verbalkan, Hyo Kyung pasti hanya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Dia baik-baik saja. Sedang menurut Ki Jae keadaannya tidak baik-baik saja.

Ki Jae memilih diam dulu. Sampai ia sendiri bisa menenangkan dirinya dulu. Hyo Kyung tadi sempat memegang bajunya yang basah. Karenanya ia langsung diusir. “Kenapa pakai baju basah-basah seperti ini? Cepat pulang, dan ganti bajumu. Nanti kau sakit!” pesannya. Sempat-sempatnya ia memberi Ki Jae uang untuk ongkos taksi katanya. Sebenarnya Ki Jae tak rela meninggalkannya. Tapi ia tahu. Dengan ia yang masih ada di sana, pasti akan membuat Hyo Kyung merasa keberatan.

Lantas karena Hyo Kyung menyuruhmu pulang, ia tak menurut begitu saja. Hatinya kacau. Dia tak kan semudah itu percaya dengan kata-kata Hyo Kyung. Dia baik-baik saja? Munafik jika dia langsung mempercayainya kemudian tak peduli. Dia adiknya, dan hal yang wajar jika dia khawatir akan hal itu. Hyo Kyung lebih seperti orang linglung. Apa yang sudah dilakukan Tae Soo padanya, Ki Jae tak tahu. Dia sendiri sudah menyerahkan Hyo Kyung untuk sementara waktu pada Tae Soo. 
Tapi, melihat Hyo Kyung seperti tadi, dia akan membawa pulang kakaknya bagaimana pun caranya.
Dengan baju yang masih penuh dengan keringat itu, dia memilih untuk ke kantor polisi Gangnam Gu. Bukan pulang ke rumah seperti perintah Hyo Kyung tadi. Polisi yang ia kenal, menangani mayat yang ia temukan di toilet tempat audisi waktu itu, atau polisi yang menginterogasi Tae Yong. Won Geun, dialah pula yang pertama kali menyadari kedatangan Ki Jae saat bocah itu celingukan mencari siapa saja yang bisa menolongnya.

“Ya, Han Ki Jae! Apa yang kau lakukan di sini?” teriak Won Geun. Ditutupnya dulu berkas yang ia bawa demi mendekati Ki Jae. Ia cukup terkejut. Tak disangka, dia bisa menangis seperti ini. “Ka, kau kenapa, hah? Kenapa menangis seperti bayi?” Won Geun mulai panik.

“Gyeongchal~nim, ku, kumohon. Selamatkan nunaku,” pinta Ki Jae. Tangannya dingin sekali, meraih kedua tangan Won Geun yang penuh dengan berkasnya. Gemetaran pula.

“Ya, ya! Kau ini kenapa, hah?! Berhenti menangis dan jelaskan padaku apa yang terjadi!”

“Nuna… selamatkan dia… kumohon… aku mohon padamu…Gyeongchal~nim…”

***

Kuku putih Hyo Kyung satu per satu berubah warna. Biru, merah muda, kuning, hijau, dan warna-warna lain dengan motif yang berbeda-beda pula. Bukan dia yang menggantinya. Melainkan jemari dan telapak tangan Tae Soo yang jauh lebih besar darinya. Dengan telatennya, lebih professional malah daripada dengan pegawai-pegawai salon terkenal di Gangnam Gu, ia merubah kuku Hyo Kyung dari yang bernilai 10 won, menjadi 1 juta won.

“Kau sangat cantik, Hyo Kyung~a…” desahnya pelan. Sesekali mengusap pipi Hyo Kyung dan menciuminya. Candu. Tae Soo benar-benar terobesesi dengan Hyo Kyung. Entah bagaimana gadis yang sebenarnya tak sebanding cantiknya dengan gadis-gadis lain yang sudah ia pindahkan ke buku gambarnya itu, bisa sangat tinggi bertahta di hati Tae Soo. Hyo Kyung sendiri tak tahu. Atau malah memikirkan itu saja ia tak sempat. Karena ia lebih senang diam, merenung dan pasrah dengan semua perlakuan Tae Soo padanya. Hanya itu. Dan apapun yang akan dipuji oleh Tae Soo, hanya melintas dari telinga kanan ke telinga kirinya.

Kalau diperhatikan betul-betul, sebenarnya tak hanya kuku Hyo Kyung yang berubah warna. Tapi lehernya. Juga beberapa bagian tubuh Hyo Kyung yang lain kini kemerah-merahan. Apapun yang terjadi, kau bisa menebaknya hanya dengan melihat bagaimana mereka hanya berbalut selimut. Tae Soo yang bertelanjang dada, menjelaskan apa yang sudah mereka lakukan sebelum acara mengecat kuku yang dilakukan Tae Soo sekarang. Ini sudah biasa. Bukankah setiap malam Tae Soo memang akan membawa Hyo Kyung ke surga yang ia bicarakan. Meski surga itu lebih mirip neraka bagi Hyo Kyung sendiri.

“Aku hampir selesai,” ujarnya. Mengakhiri sapuan kuas mininya ke kelingking kanan. Warna merah. Warna kesukaannya. Satu warna yang paling sering mendominasi buku gambarnya. “Yeppo,” tambahnya lagi. Meletakkan tangan Hyo Kyung dan kembali mengusap-usap wajah Hyo Kyung dengan punggung tangannya. Puas dengan wajah itu, Tae Soo bergelayut manja. Memilih kaki Hyo Kyung yang terbungkus selimut untuk meletakkan kepalanya di sana. Dimintanya Hyo Kyung mengusap-usap kepalanya. Tanpa penolakan, Hyo Kyung melakukannya dengan sangat baik.

“Hyo Kyung~a!” panggilnya. Tak ada sahutan. Tae Soo pun tak begitu memerlukannya. “Tidakkah kita harus membawamu ke rumah sakit?” tanyanya. Hyo Kyung sedikit bereaksi. Meski hanya sebuah perpindahan pupil matanya, dari dinding di depan ke wajah Tae Soo yang mulai meng­­-copy paste wajah malaikat di sana. “Bukankah selama 1 bulan ini kita terlalu sering berduaan di ranjang? Aku tidak pernah melihatmu datang bulan. Kita harus memeriksanya, kan? Siapa tahu kau memang sudah hamil,” tambahnya begitu santai. Memejamkan matanya sesaat sembari menikmati tangan Hyo Kyung di kepalanya. Tapi tiba-tiba tangan itu berhenti, tepat setelah mendengar tambahan penjelasan darinya tadi. Tae Soo cukup heran. Wajah Hyo Kyung tak sepenuhnya berubah. Hambar di wajah itu masih saja tercipta. Hanya saja, yang membuatnya sedikit lain, matanya sedikit membulat. 
Menanggalkann sayunya sedikit saja. Tae Soo sadar akan hal itu. Karenanya ia bangun. Meraih bibir 
Hyo Kyung dengan bibirnya. Menyapunya begitu lembut dan sangat manis. Seolah Tae Soo  memang sangat-sangat mencintai Hyo Kyung. Entahlah. Adakah cinta di hati Tae Soo untuk Hyo Kyung? Hanya pria ini sendiri yang tahu.

“Kenapa kau begitu terkejut, hah? Aku kan sudah bilang, aku akan mendapatkan bayi darimu. Jika kau hamil, maka aku akan menunda waktu kematianmu sampai anak itu lahir.” Senyum di bibir Tae Soo jelas berbanding terbalik dengan apa yang dikatakannya barusan. Hanya karena Hyo Kyung hamil, adalah hal yang mustahil untuk membiarkannya tetap hidup. Ah… ya. Bukankah karena Tae Soo memilihnya sebagai goresan terakhir, maka Hyo Kyung masih hidup sampai sekarang. Dia hanya memperlambat kematiannya, kan? Bukan membatalkannya.

“Atau jika kita beruntung, maka kau akan mengandung anak perempuan. Kemudian, aku bisa mempercantik kalian berdua dalam waktu yang bersamaan. Maka kau tidak akan terlalu lama untuk menjadi wanita paling cantik di dunia ini,” tambahnya. Apa lagi pilihan Hyo Kyung? Hamil atau tidak, takdirnya jelas hanya satu, yaitu mati di tangan Tae Soo. Tak ada lagi.

***

“Haksaeng itu lagi, Hyung? Kenapa dia datang kemari tadi?” Baek Ji cukup terkejut mendengar nama Han Ki Jae disebu Won Geun barusan. Dia baru saja datang, dan mendapati obrolan antara Won Geun dan Soo Jin nampak serius.

“Ehm. Bahkan tadi dia sempat menangis. Kau ingat Han Hyo Kyung? Kekasih Kim Tae Soo itu adalah nunanya,” jawab Won Geun. Baek Ji mengangguk-angguk paham. Hanya saja ia masih butuh penjelasan apa tujuan bocah itu kemari tadi. “Dia tadi bertemu dengan Han Hyo Kyung. Keadaannya seperti orang linglung. Dia memintaku untuk menyelidiki Han Tae Soo itu. Ternyata dia pun tahu soal mayat Min Soo Min yang ia temukan itu adalah sekretaris Kim Tae Soo.”

“Apa mungkin… Kim Tae Soo sudah menghipnotisnya atau semacamnya?” tanya Soo Jin.

“Kita tidak tahu pasti. Karena kita sendiri pun belum melihat langsung keadaan Han Hyo Kyung seperti apa. Lebih dari itu, kita juga belum punya bukti yang cukup kuat untuk menyatakan Kim Tae Soo adalah dalang dari semua kasus ini. Dan juga…”

“Ya, ya! Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah seharusnya kalian ada di rumah Song Hani itu?” tiba-tiba Woo Young datang, tepat sebelum Won Geun berusaha menguak apa yang ada di pikirnya. Ada Woo Young, dan perasaannya soal Woo Hyun yang belum tertuntaskan tak bisa ia katakan terus terang sekarang.

“Aku sudah memeriksa semua sudut rumahnya, Ketua. Aku mendapatkan ponselnya dari sana. Dan ada beberapa panggilan dari Kim Tae Soo memang,” lapor Baek Ji.

“Ehm. Aku sudah tahu soal itu. Kim Tae Soo sendiri yang bilang kalau dia bertemu dengan Song Hani sebelum keberangkatannya ke Vietnam.”

“Dia yang mengatakannya sendiri?” ulang Soo Jin, cukup terkejut. Won Geun dan Baek Ji pun juga sama. Serempak mereka mendecak tak percaya begitu Woo Young menegaskan dengan anggukan kepalanya.

“Bukankah orang itu terlalu berterus terang? Saat aku ke sana, dia bilang dengan santainya bahwa dia menyukai pisau dapur. Bahkan dia punya banyak koleksi di rumahnya katanya,” timpal Won Geun.

“Wajahnya terlalu santai. Dia… seperti malaikat yang tidak punya dosa saja,” Baek Ji ikut berpendapat.

“Yah… tadi dia juga bilang bahwa mobil dengan plat palsu itu memang miliknya.”

“Ne?!” sentak Baek Ji. Soo Jin dan Won Geun melebarkan mulut mereka. Hal itu di luar dugaan mereka. Padahal Baek Ji sendiri sudah mendapatkan beberapa nama orang-orang yang punya mobil seperti itu. Sedikit meringankan pekerjaan memang. Hanya, mengaku seperti itu membuatnya kelihatan terlalu mudah. “Apa itu berarti dia mengaku kalau dia yang sudah menaruh mayat Song Hani di bagasi mobil itu? Bukankah Yun Tae Yong juga bilang dia mengambil mobil itu dari depan gedungnya, kan?” lanjut Baek Ji.

“Tidak juga. Karena dia bilang, mobilnya hilang 3 minggu yang lalu. Dan, dia juga tidak menggunakan mobilnya sendiri. Tapi, temannya yang menggunakannya.”

“Nuguyo?”

“Aku juga tidak tahu. Dia tidak mengatakannya,” jawab Woo Young. Baek Ji terlalu banyak bertanya. “Aku juga sudah memeriksa CCTV. Lagi-lagi memang pria berjaket hitam itu yang pertama kali meletakkannya di sana. Tapi, tak ada tanda-tanda kalau dia meletakkan mayat Song Hani di sana. Berarti dia menaruh mayatnya sebelum memarkirkan mobil itu di depan galeri. Ah, selain Kim Tae Soo, bagaimana dengan panggilan lainnya di ponsel Song Hani?”

“Semuanya sudah terhapus. Dan kartu memorinya pun tidak ada di dalamnya,” jawab Baek Ji.

“Bagaimana dengan kunjungan kalian ke panti asuhan itu?” Woo Young beralih ke Won Geun dan Soo Jin. Soo Jin melangkah ke mejanya. Membuka laci mejanya dan mengeluarkan kantung plastik berisi gelas aluminium, buku gambar, dan pensil yang sudah dimasukkan ke dalam plastik bening, dijadikan sebagai bukti sementara. “Kami menemukan ini sebagai barang peninggalan Kim Tae Soo di panti itu.” Soo Jin menyerahkan ketiganya ke Woo Young. Woo Young nampak mengamatinya. Seperti Won Geun, ia seolah pernah melihat gelas ini di suatu tempat.

“Kau memikirkan hal yang sama denganku, Hyung,” ujar Won Geun. Dengan cekatan, ia beralih ke laptopnya. Mengetik beberapa karakter dan berakhir di tombol enter. Layarnya menampilkan sebuah website dengan gambar gelas yang sama seperti yang dipegang Woo Young sekarang. “Aku berusaha mengingatnya. Tapi aku benar-benar lupa. Saat aku mencari gelas aluminium, ada beberapa website yang menampilkannya. Aku baru ingat, dulu aku pernah punya 1 seperti ini di rumah. Gelas yang sama, dan hanya diproduksi oleh satu pabrik di daerah Gyeonggi.”

“Ah, kau benar. Aku baru ingat sekarang. Aku rasa, aku pernah menemukan gelas seperti ini di kasus…” Woo Young tersentak. “Soo Jin! Cepat kau minta berkas kasus pembunuhan di rumah pemilik pabrik gelas ini 22 tahun yang lalu ke kantor kepolisian Gyeonggi!” tanpa banyak bertanya, Soo Jin langsung mematuhinya.

“Ah… jadi karena itu pabrik itu sudah ditutup?” sela Won Geun. Kembali memperhatikan laptopnya. Mengetik kasus yang dimaksud Woo Young dan tampil beberapa laman yang memberitakannya. Kebanyakan laman koran dari Gyeonggi. “Pembunuhan masal. Gelas aluminium menjadi produk terakhirnya,” Won Geun membaca baris pertama salah satu artikel yang ia baca. “Ada satu orang yang menghilang, Hyung?”

“Ya. Kalau ingatanku belum pudar, ada satu orang, yaitu pelayan mereka. Kami tidak bisa menemukannya sampai aku pindah kemari.”

“Ketua Tim yang menangani kasus itu sebelumnya?” tanya Baek Ji. “Apa pelayan itu yang menjadi tersangka pembunuhan masal itu?” tambahnya lagi.

“Jika dia dicurigai, alibi yang akan dibawanya cukup kuat. Waktu kematian mayat-mayat itu adalah sebelum jam kerjanya. Jadi, daripada menunjukknya sebagai tersangka, jika saja ketemu, maka dia bisa menjadi saksi dari tragedi itu.”

“Kim Tae Soo membawa gelas ini pertama kali dia datang di panti asuhan itu. Apa itu artinya dia berasal dari rumah pemilik pabrik itu?” tanya Won Geun.

“Kita belum tahu soal itu. Setidaknya, kita harus tahu dulu kemana saja gelas-gelas ini dipasarkan. Lalu kita akan memeriksa ke semua tempat itu, dan mengidentifikasi asal sesungguhnya Kim Tae Soo itu darimana,” putus Woo Young yang langsung disambut desahan nafas panjang dari Baek Ji. Memikirkan berapa banyak orang-orang yang menerima gelas seperti ini, bukankah pasti akan sangat banyak? Tidak salon, tidak pula klinik operasi plastik, sekarang konsumen gelas aluminium itu. Akhir-akhir ini, orang-orang kepolisian sepertinya sangat suka mengunjungi tempat-tempat yang jumlahnya tak terbatas ada di Korea ini.

***

Ruang tamu kosong. Hanya saja, suara shower dari kamar mandi menandakan bahwa Woo Hyun memang ada di rumah. Begitu masuk, Woo Young langsung berbaring di atas lantai. Melenguh panjang menatap langit-langit. Kepalanya seperti tertimpa bogem keras sekali. Nama-nama orang dan tempat-tempat kasus pembunuhan berputar-putar di otaknya.

Suara shower berhenti. Menandakan beberapa menit lagi pasti Woo Hyun keluar. Dengan rambut basah dan handuk yang berbalut dari bawah pusar sampai atas lutut. “Kau sudah pulang, Hyung?” sapanya. Woo Young hanya berdehem. Tak melihat bagaimana Woo Hyun memasang senyum senangnya, karena orang yang jarang pulang ini akhirnya di rumah juga. Tak mau mengusik Woo Young yang perlahan mulai memejamkan matanya, ia masuk ke kamarnya. Kaos putih polos, dan celana pendek di atas lutut. Kamarnya memang tak pernah ia kunci. Sehingga, belum selesai ia mengenakan celananya, Woo Young masuk ke dalam. Berpindah dari lantai di depan tadi ke tempat tidurnya.

“Kau lelah sekali, Hyung,” ujarnya. Woo Young tak menanggapinya. Dibiarkan dulu kakaknya itu mengistirahatkan otaknya. Ini sudah malam. Tapi rasanya cuaca terlalu panas untuk Woo Young. 
“Hidupkan kipas anginnya,” pintanya. Woo Hyun menurut. Pelan-pelan, kipas di atas Woo Young itu berputar-putar. Selama dia menikmati anginnya, Woo Hyun menghidupkan laptopnya. Menginput beberapa data dari buku catatannya ke dalam tabel. Daftar peminjam buku di perpustakaan.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Woo Young. Entah sejak kapan dia sudah duduk. Menggaruk-garuk belakang telinganya dan mengintip sebentar yang dilakukan Woo Hyun.

“Aku memindahkan data peminjam buku ke komputer,” jawab Woo Hyun. Pekerjaan yang terlalu gampang menurut Woo Young. Kalau ingat prestasi Woo Hyun selama sekolah, seharusnya dia bisa mendapat pekerjaan lebih dari itu. Ah, sudahlah. Lagipula Woo Hyun memang menyukai buku. Pekerjaan di perpustakaan memang lebih cocok untuknya.

Woo Young bangun. Walaupun tak begitu sibuk, Woo Young tak ingin mengganggu adiknya bekerja. Tapi ia berhenti karena melihat gantungan baju di samping pintu. Ada beberapa baju yang biasa ia lihat dipakai Woo Hyun. Tapi, satu jaket yang menarik perhatiannya. Warnanya hitam. Dan rasanya ia pernah melihatnya di suatu tempat. “Ini milikmu?” jaket itu sudah berpindah ke tangannya. Direntangkannya lebar-lebar demi melihat bagaiama rupa sebenarnya benda ini.

“Mwo?” Woo Hyun berbalik. Melihat apa yang ada dimaksud Woo Young. “Iya, itu punyaku. Ada apa, Hyung?” ia malah balik bertanya.

Sedang Woo Young diam. Semakin diperhatikan, semakin yakinlah ia. Jaket ini, rasanya memang jaket ini persis seperti pria berjaket yang sedang timnya cari. Dia yang membawa mayat Min Soo Min, mayat Oh Chae Rim, dan mayat Song Hani. Yang kemungkinan besar adalah saksi utama, dan bisa saja menjadi tersangka utama. Kemudian tadi Woo Hyun bilang ini adalah miliknya? “Kau… punya jaket semahal ini?” tanya Woo Young lagi. Wajah Woo Hyun nampak biasa saja. “Apa itu jaket yang mahal?” lagi-lagi dia balik bertanya. Woo Young meliriknya. Mencari siapa  tahu ada wajah cemas di sana. Tapi, yang ada malah tatapan bingung dari Woo Hyun. “Wae geurae?”

“Tidak. Hanya saja…” Woo Young tak jadi melanjutkan kalimatnya. Rasanya ada yang harus ia pastikan dulu. Beralih matanya ke pergelangan tangan Woo Hyun. Gelang pemberian Seok Ryeong masih ada di tangannya. “Kau masih memakainya?” dan mendengar pertanyaan ini, wajah bingung Woo Hyun hilang. Berubah dengan wajah murung dan berbalik begitu saja. Seperti tak suka. Dan jawabannya pun hanya, “Ehm,” saja. Tak jadi tertarik dengan pertanyaan Woo Young soal jaket itu. Pekerjaannya ia lanjutkan. Woo Young sendiri menatapnya nanar. Ia ingat, kata-kata Chae Ryeong saat diinterogasi saat itu. Aku berusaha sebaik mungkin agar bisa lebih kaya dari orang tua bodoh itu. Sampai aku tak pernah punya waktu untuk adikku sendiri. Tiba-tiba ia merasa takut. Adakah sesuatu yang disembunyikan Woo Hyun padanya karena ia tak pernah memperhatikannya dengan benar?

Semakin berpikir, rasanya ia melewatkan sesuatu. Ia tersentak. Bukankah Woo Hyun mengenal Kim Tae Soo? Ia sendiri mulai gusar. Ada sesuatu lagi yang sepertinya harus dicarinya. Daun pintu ia balik. Ada sebuah topi hitam yang menggantung di belakangnya. Apa ini juga milik Woo Hyun.
Sekali lagi, ia menoleh ke arah Woo Hyun. Entah karena memang ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, atau ia mulai kehilangan mood karena pembicaraan soal gelang itu, nampaknya ia tak begitu menyadari kecurigaan Woo Young yang mulai terajut. “Aku… akan kembali ke kantor,” ujarnya. Ia benar-benar pergi. Padahal Woo Hyun sendiri langsung berbalik. Bermaksud mencegahnya untuk kembali ke sana. Belum tuntas rasanya rindunya pada Woo Young yang jarang pulang itu. Belum lagi, sekarang ini ia tak diizinkan untuk membawakannya makanan seperti biasa. Jika mengingat alasannya membawa makanan…  deg! Sendu Woo Hyun berakhir. Apa barusan Woo Young menanyakan soal jaketnya? Jaket itu, bukankah jaket yang selalu ia gunakan tiap kali membereskan pekerjaan Tae Soo. Jaket yang diberikan Kim Tae Soo sendiri padanya. Apa mungkin Woo Young mulai menemukan sesuatu?

***

Kembali dalam 15 menit. Kantor kepolisian ini begitu sepi. Yang terdengar hanya bunyi jam di dinding. Tak ada niatan Woo Young untuk menghidupkan lampu. Rasa cemas dan kalutnya sendiri sudah menjadi petunjuk agar kakinya benar melangkah ke meja kerjanya. Ia terhenti berjarak sekitar 3 ubin dari mejanya sendiri. Laptop di meja Won Geun masih menyala. Sedang tak ada siapapun di sini. Ia mendekat. Laptop itu sepertinya baru saja ditinggal Won Geun pergi. Ada dua kemungkinan. Dia lupa mematikannya, atau dia hanya pergi sebentar. Barang kali ke toilet. Tapi, melihat sebuah video yang masih tayang dalam mode pause itu, rasanya Won Geun memang hanya pergi sementara saja. Demi menyibak rasa penasarannya, Woo Young mendekat. Melihat apa yang sedang ditengok Won Geun dalam video itu. Space. Dia putar lagi video itu.

Pria berjaket hitam itu lagi. Tiga video dibuka dalam media player yang berbeda. Sehingga nampak seperti sedang dibandingkan satu sama lain. Tiga-tiganya Woo Young putar. Dan pria berjaket itu semuanya sama. Berarti memang ini satu orang. Dan yang dicari Woo Young benar-benar ada. Gelang itu… bukankah ini milik Woo Hyun?

“Hyung?” jantung Woo Young nyaris melompat keluar melalui kerongkongannya. Dia memang tahu kalau Won Geun masih ada di sini. Munculnya yang tiba-tiba itu yang minta dipukul keras-keras. Sempat berpikir untuk protes. Namun, apa ini? Dia sendiri malah merasa gugup. Dia kan tidak melakukan kesalahan apapun.

“Apa yang kau lakukan di sini, Hyung?” wajah Won Geun nampak heran. Pertanyaan yang sama akan dilontarkan Woo Young kalau saja Won Geun tak lebih dulu melirik apa yang ada di balik punggung Woo Young. Tentu 3 video itu. Balik, dialah yang gugup sekarang. “Ka… kau melihatnya?”

“O… eoh… Ka, kau sendiri tidak pulang? Kenapa kau bersikeras sekali mencari orang ini?” dalam hati Woo Young bersungut. Untuk apa pula dia bertanya seperti itu? Apa sekarang dia bermaksud menutupi kenyataan kalau sepertinya pria berjaket hitam yang mereka cari-cari itu adalah Woo Hyun? Hanya gelang, kan? Kalau hanya gelang, dia hanya perlu mencari alasan lain agar itu bukan Woo Hyun. Lantas jaket, kemudian topi itu? Adakah dalih lain untuk mengelak rasa takut dan gerah pikirnya sekarang?

“Em… soal itu. Aku sudah…” ponsel Won Geun memotong kalimatnya. Sedikit, Won Geun merasa terselamatkan. Dia jelas belum ingin mengungkap kecurigaannya sendiri. Padahal jelas Woo Young bercurigaan sama dengannya. Woo Hyun, benarkah pria berjaket hitam itu adalah dia?

“Yeoboseyo?” sapa Won Geun. Woo Young menurunkan level gugupnya. Khidmat mendengar dan beranalisis soal ekspresi Won Geun yang dibentuk tiap ia diam, mendengar orang yang ada di sana berkomentar. Apa kira-kira isi percakapan mereka? “Arasseo. Gomawo?” begitulah kalimat terakhir Won Geun. Setelahnya, wajahnya cerah. Di sela-sela remang-remang cahaya di ruang kerja ini, senyumnya sendiri yang serupa dengan neon. “Kita menemukannya, Hyung!” serunya senang. Siapa yang ditemukan? Woo Young tak punya kesempatan bertanya karena Won Geun langsung kabur setelah mengambil jaketnya di dekat laptop tadi.

***

Mobil hitam itu sudah 7 jam lebih terparkir di sana. Di depan rumah kecil yang pintunya mungkin saja sudah berkarat saking jarangnya terbuka oleh pemiliknya. Rumah kecil itu nampak kusut dengan jamur-jamur dinding yang menjadi grafis lukis abstrak sembarangan. Ada tanaman merambat di setapak kecil, undakan untuk naik dan masuk lewat pintu depannya. Sekali lirik, siapapun akan tahu kalau rumah ini nyaris tak bernafas. Walau sebenarnya ada satu orang di dalamnya.

Won Geun menggeliat. Meregangkan badannya dan bunyi kreteuk-kreteuk dimana-mana. Mulutnya menguap lebar diikuti Woo Young yang semedi di depan kemudi. Mata keduanya merah, tapi dipaksa-paksa untuk melotot. Wajah mereka curat marut, antara lelah dan mengantuk luar biasa. Mereka duduk terlalu lama. Sampai rasanya hampir copot dua pasang bokong itu, saking eratnya menempel di kursi mobil.

Satu botol air mineral hampir habis oleh Woo Young sendiri. Dia masih tahan dengan buang air kecilnya. Hanya letihnya tak karuan menimpuki semangatnya tetap mengintai. “Kau tahu darimana dia ada Wa Dong?” tanyanya, di sela tegukan satu dan duanya.

“Dia memang ada di Gyeonggi Do kan, Hyung?” tanggap Won Geun. “Aku hanya perlu menyuruh seorang pro untuk melacak keberadaannya. Gyeonggi tak sepadat Seoul, jadi itu lebih mudah,” sambungnya. Woo Young mencibirkan bibirnya. Sempat ia curiga, sebenarnya orang-orang kenalan Won Geun ini jangan-jangan adalah para kriminal-kriminal yang sudah level atas untuk masalah cari-mencari orang. Buktinya, sudah lama sekali dia mencari satu-satunya saksi mata dari pembunuhan satu rumah pemilik pabrik gelas itu dulu. Tapi, bocah itu hanya butuh beberapa hari untuk bisa menemukannya. Jika salah satu dari kenalan Won Geun ia lihat, akan langsung ia borgol. Dibawanya ke ruang interogasi dan meretas habis kiat-kiat menemukan orang yang sudah lama dicari. Tunggu! Kenapa Won Geun tak pernah memakai kenalan-kenalannya itu untuk mencari orang-orang yang hilang selama ini?

“Apa benar kenalanmu itu bisa mencari orang hilang semudah ini?”

Won Geun nampak terusik. Mata merahnya sedikit mengembang, menatap Woo Young agak sebal. “Itu tidak mudah, Hyung. Kalau aku bukan teman mereka, aku akan menghabiskan seluruh biaya hidupku untuk mencari orang ini. Lagipula, jika semudah itu, maka aku bisa saja meminta bantuan mereka untuk menemukan orang-orang yang masuk dalam daftar orang hilang di kantor kita!” rutuknya, menjawab semua pertanyaan tak penting di benak Woo Young. Akhirnya dia pun memilih diam. Yang penting kan sekarang saksi sudah ketemu. Tinggal menunggu sampai orang itu benar-benar keluar. Soalnya pun semalam sampai kandas tangan mereka mengetuk-etuk pintu depan. Menipis pula pita suara mereka, berteriak-teriak meminta dibukakan pintu. Belum dapat gonggongan anjing sebelah, atau dilempar sepatu butut dari tetangga yang merasa terusik. Jadilah, mereka menunggu di sini. Ini sudah jam 8 pagi, dan saksi utama itu tak kunjung keluar.

“Aku heran, apa yang dilakukan orang itu sampai tak mau keluar?” gumam Won Geun. Bibir Woo Young lagi mencibir. Dalam hati ia mendecih tak percaya, “Lantas bagaimana orangmu itu bisa menemukan orang yang hanya hitungan jari saja keluar rumah?” tak ada waktu untuk memverbalkannya, karena suara pintu terbuka yang mereka rindukan terdengar. Yak! Dan wanita hampir setengah abad itu keluar dari sana. Lengkap dengan dua kantung sampah yang pastinya hanya akan ia letakkan di depan rumah. Buru-buru Woo Young keluar. Berlari agar wanita itu tak lagi masuk ke dalam. “Eommonim[2]!” teriakannya malah membuat wanita itu mendelik. Dan dengan langkahnya yang tersandung-sandung, berusaha masuk ke dalam. Woo Young tentu tak akan membiarkannya. Meski tak sepenuhnya menahannya agar di luar, paling tidak ia berhasil membuat pintu depan itu tertunda merapat.

“Pergilah! Aku tidak ingin bicara apapun pada kalian!” sentak wanita itu. Won Geun kini ikut membantu. Sayangnya, mereka belum tega untuk membuat wanita itu terjeblak ke belakang, hanya untuk menemuinya face to face.

“Eommonim! Anda benar-benar yang menyaksikan pembunuhan itu, kan? Jika kau tidak mau menjadi saksi, maka kami akan menjadikanmu sebagai tersangka. Anda tahu, kan? Satu-satunya orang yang hilang dari kejadian itu adalah Anda,” Woo Young mencoba membujuknya. Tak berhasil. Hasilnya wanita itu masih berkeras saja untuk menutup pintu. “Tolonglah, Eommonim! Bantu kami menemukan siapa pembunuhnya, maka kami bisa menyelamatkan banyak orang!” tambah Woo Young lagi. Masih juga belum berhasil.

“Eommonim! Aku akan melakukan apapun yang Anda minta jika Anda mau berbicara dengan kami.”

“Shireo[3]!” brak! Ajaib! Wanita itu bisa sekuat itu mendorong pintu. Sampai rapat sudah. Terdengar suara bermacam gembok dari dalam. Artinya wanita itu sungguh tak akan membiarkan kedua orang ini masuk. Woo Young melengus panjang. Disusul Won Geun yang hanya meniup wajahnya sendiri. Mereka harus menunggu lebih lama lagi.

Lima jam lamanya, wanita itu benar-benar tak keluar. Saat keluar, karena ada orang yang mengetuk pintu. Sepertinya tukang antar paket. Woo Young mengambil kesempatan, segera mengendap-endap di belakangnya. Tapi, wanita itu masih gencar memberi penolakan padanya. Sampai tengah malam lagi, orang itu benar-benar tak keluar.

Ini sudah burger ke delapan yang Woo Young lahap. Won Geun sudah pulas di sampingnya. Matanya memang sudah membengkak, tapi Woo Young tak ingin menyerah. Menunggu dua hari, tak masalah. Dia pernah melakukan lebih dari ini.

Drt… drt… ponsel Won Geun berdering. Sontak bocah itu langsung terbangun. Woo Young tak menggubrisnya. Matanya masih betah mengintai sesenti saja kalau pintu rumah itu terbuka.

“Yeoboseyo?” suara Won Geun terdengar parau sekali.

“Hyung, eoddiyo, hyung?! Eoddiyo?” Soo Jin terdengar panik sekali. Seketika hilang kantuk Won Geun. Sepenggal uapannya tertinggal di matanya yang mulai mendelik, dan debaran jantungnya yang tak ingin dikontrol. “Wae, wae? Wae geurae?” ia ikut-ikutan panik. Menarik minat Woo Young untuk menanggalkan pekerjaannya. Seriusnya pindah ke ekspresi dan jawaban Won Geun untuk panggilan itu.

“Ki Jae kemari. Dan, sekarang dia pingsan di kantor.”

“Mwo?! Ki Jae pingsan?!”

“Mwo?” ulang Woo Young. “Kenapa dia ada di sana?” tanyanya. Won Geun meneruskannya pada Soo Jin. “Dia sejak jam 9 tadi sudah di sini. Saat dia datang, wajahnya pucat sekali. Bajunya basah kuyup karena keringat. Aku tidak tahu dia darimana. Tapi, dia minta tolong lagi untuk menyelamatkan Han Hyo Kyung,” jelas Soo Jin. Woo Young sudah mendekatkan telinganya ke ponsel itu. Jadilah, tanpa penjelasan lagi dari Won Geun, ia sudah lebih dulu tahu.

Geram, Woo Young turun dari mobil. Menggedor-gedor daun pintu yang rapat itu. “Eommonim! Kumohon, Anda  bisa menyelamatkan nyawa kakak beradik. Sekarang adiknya ada di kantor polisi kami. Dia ingin menyelamatkan nunanya. Mereka sudah lama tinggal sendiri tanpa kedua orang tuanya. Jika nunanya mati, maka anak itu akan hidup sendirian. Apakah Anda tidak punya perikemanusiaan?!” Woo Young nyaris berteriak. Won Geun langsung lari, menyelamatkannya dari amukan tetangga, kalau-kalau mereka mau melempar perabot rumah karena berisiknya orang itu. 

“Hyung! Hyung! Sabar, Hyung!” tapi, nyatanya Woo Young tak peduli. Berulang-ulang dia berteriak, “Apa Anda tidak pernah punya anak? Coba pikirkan mereka berdua adalah anak-anak Anda. Anda pergi dari rumah, Anda bisa menyelamatkan mereka tapi Anda tidak berani! Jadi mereka yang menderita!” sampai tenggorokannya mau pecah rasanya. Masih tak ada reaksi. Woo Young hampir menyerah. Kalau saja tak mendengar sedikit suara daun pintu ini berbunyi, mungkin ia sudah akan hengkang. Mengurusi Han Ki Jae dan mencari kesempatan lain agar dapat surat izin mendobrak rumah ini. Entah karena mendengar soal Han Ki Jae ini, wanita itu luluh. Ia tak seutuhnya yakin dengan keputusannya sendiri. Mata sendunya menunduk, menilik sebenar Woo Young dan Won Geun yang sudah menampilkan wajah cerah mereka.

“Masuklah…” akhirnya ia mengizinkan. Meninggalkan daun pintu yang baru seperempat terbuka. Woo Young tersenyum begitu lebar. Dengan mantap masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang sangat bersih, tapi kelihatan sangat suram. Hawa kesepian dan kesunyian terasa di permukaan kulit Woo Young saat masuk. Wajah sayu dan lesu milik wanita ini saja sudah mengekspresikannya. Mereka hanya disuguhi sandal rumah yang kelihatan sangat tua. Mungkin setua wanita ini. Tak ada kata 
“Silahkan” dari wanita ini, tapi keduanya sudah duduk di kursi kayu yang berdampingan dengan meja yang sama-sama tuanya dengan sandal yang mereka gunakan.

Sedang berhadapan dengan mereka, wanita itu duduk. Menunggu pertanyaan apa yang akan disodorkan oleh dua polisi tak tahu adat yang bertamu semalam ini. Yang berhasil menggugah hatinya, mengizinkan mereka masuk ke dalam sini. Setelah sebelumnya tak ada yang bernafsu menjejakkan kaki kemari.

“Hyung!” bisik Won Geun. Menyentak Woo Young dengan tatapan herannya pada semua perabot tua di rumah ini. Woo Young segera mengeluarkan selembar foto dari

“Apa Anda mengenal Kim Tae Soo?” pertanyaannya mengiringi foto itu. Mata wanita itu menyipit. Menatap wajah Tae Soo. Benar-benar terlihat asing untuknya. Jadilah dia menggeleng pelan. Tatapannya pada Woo Young juga meyakinkannya. Orang ini memang tak kenal Tae Soo. “Lalu bagaimana dengan bocah ini?” tanyanya lagi. Satu lembar foto lagi yang ia keluarkan. Foto masa kecil Kim Tae Soo yang didapat Won Geun dari panti tempat Tae Soo berasal.

Ada perubahan di wajah tua itu. Yang tadinya hanya ekspresi nol besar tahunya, dan sekarang pupilnya melebar. Tanda ia sedikit terkejut dengan foto lama itu. Woo Young memperhatikannya betul-betul. Bibir tua itu pun masih merepat. Woo Young tahu, adalah hal yang tak mudah untuk membuatnya bicara. Yang jelas, ia tahu. Wanita ini memang mengenal wajah kecil milik Kim Tae Soo. Jika mengingat bahwa Kim Tae Soo mendapatkan namanya di panti itu, maka wanita ini memang mengenalnya sebelum masuk panti. Jauh dari itu, wanita ini bekerja di rumah pemilik pabrik itu. Apa hubungan Kim Tae Soo dengan hal ini, ia harus menggalinya dengan wanita ini.

“Anda tidak perlu menjawabnya. Sebaliknya…” Woo Young menarik foto versi dewasa Kim Tae Soo. Sedang yang satunya tetap ia biarkan di atas meja.  Membiarkan wanita itu terus menatapnya. Ia suka melihat ekspresi-ekspresi yang muncul di setiap gurat keriputnya. Wanita ini… menatap foto ini pasti dengan memikirkan sesuatu.

“…bisakah Anda ceritakan insiden 22 tahun yang lalu, soal pembunuhan masal dari rumah pemilik pabrik itu?” lanjut Woo Young. Won Geun sudah mengeluarkan alat perekam, dan buku kecil. Dengan pulpen hitamnya, ia siap mencatat.

Wanita ini masih ragu-ragu. Berulang kali yang ia tatapi hanya Woo Young dan Won Geun bergantian. Sebisa mungkin Woo Young meyakinkannya, tak apa jika menceritakan semuanya. Cukup lama memang. Tapi akhirnya, wanita itu mulai bercerita.

***

Blar!!! Malam itu, hujan terlalu deras. Tak ada tanaman yang sedang kehausan. Lubang-lubang juga tak terlalu menginginkannya. Semua air itu dipaksa turun. Mengiringinya dengan kilat-kilat dan suara yang menusuk telinga dalam-dalam.

Tuan rumah berbadan besar baru saja turun dari mobilnya. Ia pulang lebih cepat. Ia hanya ingin bertemu istri tercintanya lebih cepat. Bahkan ia membawa banyak barang-barang dan makanan kesukaan wanitanya. Juga untuk menyapa seluruh anggota keluarga esok hari. Karena ia ingat, besok adalah hari ulang tahun kematian ayahnya. Maka semuanya pasti akan berkumpul. Sudah banyak yang ia persiapkan untuk menyapa semuanya.

Seorang satpam berlari menyapanya. “Sajangnim, cepat sekali pulangnya?” tanyanya sambil mengulurkan payung. Tuan yang dipanggilnya sajangnim itu tertawa. “Aku sudah rindu dengan istriku,” ujarnya senang. Sayangnya, ekspresi senangnya itu tak tertular di wajah satpam itu. Malah sebaliknya. Ada wajah takut di sana. Nasib baik, tuan rumah itu tak melihatnya. Ia masih suka, berlari dan masuk ke dalam rumahnya. Beberapa pembantu rumah tangga membantu mengambili barang-barang yang ia bawa.

Tak seperti biasa. Setiap pulang ia selalu berteriak, memanggil istrinya. Malam ini, dia benar-benar ingin memberi kejutan. “Dimana istriku?” tanyanya kepada seorang wanita muda yang sudah lama mengabdi di rumah itu. Tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya. Matanya merujuk ke kamar. Tuan rumahnya itu hanya tersenyum. Padahal, ekspresi yang sama terselip di wajah ayu itu.

Dengan pelan, ia mulai mendekati daun pintu. Senyumnya belum pudar beberapa detik. Sampai ekspresinya agak sedikit heran. Pasalnya, telinganya mendengar sesuatu yang tak lazim. Ini… seperti suara istrinya. Anehnya, ini bukan suara yang ia inginkan. Suaranya seperti desahan. Ia makin penasaran, maka ditempelkannya telinganya sendiri ke daun pintu. Makin jelaslah suara itu. Bahkan disusul dengan suara orang lain. Ini… suara lelaki. Otaknya mulai mengerti. Apa yang terjadi di dalam. Serta merta ia menjeblak pintu itu. Matanya membulat sempurna, melihat istrinya telanjang bulat bersama lelaki lain. Menikmati rintik hujan dengan cara merapatkan tubuh bersama.

Mulai dari malam itu, hujan terus mengguyur rumah itu. Petir selalu terdengar padahal tak ada awan hitam sedikit pun. Wanita yang selama ini ia cintai mengkhianatinya. Dengan sahabatnya sendiri semasa kuliah seni itu. Ia tak berdaya. Ia ingin membunuh wanita itu. Sayangnya, ia terlalu mencintainya. Sepihak, dengan hati yang pelan-pelan mengeras, ia menutup mata dan telinganya. Menganggap tak ada apapun yang terjadi. Menghindari rasa sakit hatinya, ia meminta seluruh keluarganya tinggal di rumah besar itu.

Sampai akhirnya, wanita itu hamil. Tuan rumah itu benar-benar murka. Murkanya tak pernah bisa terbalas. Tiap kali melihat wajah istrinya, adalah cinta yang muncul, yang mengalahkan segalanya. Dibiarkannya bayi dari rahim itu lahir. Bayi yang wajahnya mampu membuat seluruh rahangnya menggeram sempurna. Gemeletukan giginya tiap melihat parasnya begitu mirip dengan lelaki bajingan malam itu. Satu ini, ia benar-benar tak menerimanya. Istrinya ia pisahkan dari bayi itu. Ia kurung di dalam kamar tersendiri. Dan, bayi itu ia pisahkan sendiri di dalam kamar yang lain. Pembantu wanita yang paling muda yang diminta mengurusnya.

Sepuluh tahun belakangan, tuan rumah itu melampiaskan semua kekecewaannya pada istrinya itu pada anak itu. Terlebih, setelah wanita itu menghilang dari rumah. Anak itu tak diziinkan diberi makanan rutin tiap hari. Ia tak diizinkan untuk belajar apapun soal kehidupan manusia. Ia hanya mengenal gelap dan terang. Sejak akalnya mulai berjalan, ia dipindahkan ke kamar tanpa jendela. Dengan lubang di atap saja yang memberitahunya, itu siang atau malam. Ia bahkan tak tahu apa itu siang atau malam. Yang ia tahu hanya gelap dan terang. Ia tak tahu nama-nama benda dan bahkan namanya sendiri.Yang ia tahu, ia membenci gelap dan lebih menyukai gelap. Karena saat itu, seorang wanita yang selama ini mengurusnya akan masuk. Tanpa wajah yang bisa dengan jelas ia lihat. Memberinya sesuatu yang tak ia tahu apa itu. Yang jelas, berhasil membuat perih di perutnya menghilang, dan kering ditenggorokannya sirna.

Sedangkan saat terang, ada dua benda yang ia lihat. Satu benda yang sangat tajam dan benda panjang yang tumpul. Tuan rumah itu yang membawakannya untuknya. Menyayat setiap inci kulitnya dengan benda tajam itu, dan meremukkan tulangnya dengan benda tumpul itu. Tanpa ia tahu sendiri apa salahnya. Ia tak mengerti caranya menangis dan merasakan sakit. Yang ia tahu, hanya ia tak menyukai semua itu. Meski ia pun tak terlalu paham, bagaimana caranya menolak.

Suatu hari, tuan rumah itu membawakannya buku gambar. Dilemparnya buku gambar itu padanya. Tiap mengingat wajah anak itu, yang dilihatnya adalah wajah bajingan itu. Maka, yang ia pikirkan, anak itu bisa menggambar seperti lelaki itu. “Cepat gambar eommamu!” bentaknya. Anak itu tak mengerti apa yang dimaksud dengan eomma. Bahkan ia sendiri tak paham apa yang harus dilakukannya dengan buku gambar dan pensil itu. Ia tak bisa bertanya, dan mendapat sapaan dari dua benda itu. Warna-warna merah dan bau anyir berlomba keluar dari tubuhnya yang sudah membiru di sana-sini.

Malam itu, ia meringkih. Otaknya berputar keras, mencari cara agar ia bisa memenuhi keinginan tuan rumah itu. Hingga puluhan hari, ia mendapat cara baru. Punggungnya akan dilukis garis lurus oleh benda tajam itu. Sampai ia bisa benar-benar menciptakan eomma seperti apa yang diinginkan orang itu.

Ketika gelap datang, ia membuka bibirnya. Saat wanita muda itu datang dengan nampannya. “Apa itu eomma?” tanyanya polos. Dengan suara ketir yang bisa menyayat hati mana pun. Wanita itu pun menangis. Hanya saja, air matanya tak nampak dalam gelap. Tak mengapa bagi anak itu. Karena ia lebih suka dalam gelap ini.

“Eomma adalah orang yang sudah membuatmu seperti ini. Yang sudah membuatmu dalam kegelapan seperti ini. Yang memberimu luka dan rasa sakit ini!” jawabnya geram. Tangannya mengepal kuat-kuat, menahan isakannya. Anak itu tak begitu paham apa maksudnya. Tapi ia tak bertanya lagi.
Terang mendatanginya. Saatnya ia harus menggambar lagi. Namun, sebelum tuan rumah itu datang, yang ia lihat adalah sebuah gelas aluminium. Ia benar-benar tak mengenalnya. Diambilnya gelas itu. Ditatapnya erat-erat dan bisa dilihatnya bayangannya sendiri. Wajahnya yang penuh lebam dan keadaanya yang menyedihkan. Dia tak paham, tapi ia tahu, bahwa inilah yang dimaksud luka dan rasa sakit yang dimaksud wanita itu.

Hingga tuan rumah itu datang. Kembali, adalah buku gambar yang disiapkan lebih dulu. Sedangkan ditemani benda tajam dan tumpul itu, tuan rumah itu duduk di satu-satunya kursi yang ada di ruangan hampa itu. Anak itu diam, menggenggam pensil dan buku gambarnya. Kata-kata wanita muda itu terus saja berngiang di kepalanya. Eomma adalah orang yang sudah membuatmu seperti ini. Yang sudah membuatmu dalam kegelapan seperti ini. Yang memberimu luka dan rasa sakit ini! Maka yang ia ingat adalah wajahnya sendiri di gelas aluminium di dekatnya itu. Pelan, ia mulai menggores pensil itu. Yang ia lukis adalah wajahnya sendiri. Dibuatnya lebih menyedihkan. Dilukisnya sedetil mungkin dan lebih mengenaskan dari keadaannya. Tes! Darah segar keluar dari hidungnya. Lama, ditatapnya darah yang mengotori bukunya. Tangannya bermaksud membersihkannya dari sana. Tapi yang ada, gambar itu malah terbalut dengan warna merahnya. Otaknya berputar, menganggap mungkin dengan warna itu akan lebih baik. Diperluaslah warna merah itu.

“Sudah belum?!” suara tuan rumah itu mengaum. Mirip singa yang kelaparan. Anak itu tanpa komentar menyerahkannya. Dia sudah siap dengan benda tumpul atau benda tajam itu. Ia sudah menyiapkan punggungnya untuk mendapat goresan baru. Tapi nyatanya, lelaki itu malah memandangi lukisan ciptaannya lama. Perlahan, ia mulai terkikik. Makin keras dan makin keras saja. Tiba-tiba anak itu membencinya. Daripada amukannya selama ini, ia tak suka dengan suara tawa keras itu. Ia menutup telinganya sendiri, saking bencinya. Ia sendiri tak tahu kenapa ia begitu membenci tawa itu.

“Benar! Ini adalah gambar yang benar! Bukankah dia lebih cantik jika seperti ini? Hahaha…” kemudian ia keluar. Meninggalkan benda tumpul dan tajam itu di sana. Menyisakan anak itu menatap kedua benda yang memusuhinya selama ini. Sedang dalam telinganya mengiang kosakata baru: cantik.

“Apa itu cantik?” ia kembali bertanya saat gelap tiba. Wanita itu meraba-raba bentuk wajah anak itu dengan remang cahaya yang menyelinap dari lubang. “Cantik?” ulangnya. Anak itu mengangguk.

“Cantik itu… adalah sesuatu yang membuat orang yang memilikinya merasa senang,” jawabnya setelah lama berpikir.

“Kau juga… suka cantik?” pertanyaan anak itu masih polos. Dalam gelap, wanita itu tersenyum. Dengan mantap ia mengangguk, “Iya. Aku sangat menyukai kecantikan.” Dan wanita itu pergi.

Terang kembali datang. Tuan rumah itu tak datang. Ada rasa lega di dada anak itu. Sekali lagi, yang ia lihat adalah dua benda di depannya. Ia menatapnya terus-menerus. Tanpa bergerak. Bayangnya menggambar semua yang sudah dilakukan dua benda itu ke tubuhnya. “Benda itu bisa membuat orang lain merasa senang dengan kecantikan?” bisiknya pada dirinya sendiri. Seharian, yang ia lakukan hanya menatapnya. Sampai suara petir mengejutkannya. Menyuruhnya berhenti menatap benda itu. Ia menyukai benda yang tajam, karena warna merah bisa didapatnya lebih cepat. Maka yang ia ambil adalah benda itu. Dicarinya cahaya untuk bisa menatap benda itu lebih jelas dari kegelapan ini. Sampai yang ia temukan adalah, daun pintu satu-satunya jalan keluar dari ruangan itu terbuka sedikit. Apa mungkin wanita muda itu lupa menguncinya? Ia tak tahu. Yang jelas, perlahan, kakinya melangkah keluar. Dia melihat semua benda yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ia terus berjalan, dan menemukan banyak ruangan yang tidak terkunci.

Sampai di sebuah kamar yang tak jauh dari tempatnya terkunci selama ini, memunculkan senyumnya. Senyum yang tak pernah ia tampakkan sebelumnya. Senyum separuhnya. Nampak seperti malaikat dan iblis dalam waktu yang bersamaan. Kamar ini, milik tuan rumah itu. Ia sedang pulas dalam tidurnya. Dengan langkah kucing, ia masuk. Menggenggam erat benda tajam yang ia bawa. Ditatapnya betul-betul tiap lekuk wajah lelaki itu. Wajah amukannya terbayang. Wajah bengisnya terbayang. Sampai tawa kerasnya yang ia benci terbayang. Tangannya tiba-tiba mengayun. Menusuk tepat ke dadanya yang sejak tadi hanya naik turun teratur. Dan segera setelah cairan merah meresap keluar dari piyamanya, matanya mendelik sempurna. Menatap anak itu dengan keterkejutannya. Ia berusaha bangun, tapi anak itu mencabut benda itu dari dadanya. Ia membenci mata lelaki itu. Dipindahkannya benda tajam itu ke sana. Jleb!

“Akh….!!!” Teriakannya menyakiti telinga anak itu. Dari mata, benda itu terbang ke mulutnya. Terus dan terus. Teriakannya menari-nari di gendang telinga anak itu. Ia tersenyum lebih dalam. Dan warna-warna darah membasahi wajahnya yang sangat sempurna. Ia tertawa dalam teriakan lelaki ini. Sedetik pun, ia tak biarkan lelaki itu bangun dari tidurnya. Semuanya ia sudah jelajahi. Perut, wajah, dada, kaki, tangan, semuanya. Dan terakhir, lampu tidur yang ia bantingkan ke kepalanya. Dan… hilanglah teriakan-teriakan tadi.

Wajahnya kembali mendatar. Ditatapnya lama tubuh tegap yang sudah tak bernyawa itu. Ia menoleh cepat ketika telinganya mendengar derap langkah seseorang dari luar ruangan ini. Ada seorang wanita tua yang menganga lebar. Awalnya dia hanya nampak ketakutan. Tapi, tiba-tiba ia berteriak. Lagi, menyakiti telinga anak itu. Kakinya melangkah cepat. Menggenggam benda tajam bergagang hitam itu dan separuh lampu tidur yang masih tersisa di tangan kirinya. Dengan perlakuan yang sama, wanita tua itu berakhir dengan tragis layaknya lelaki itu. Kemudian, satu per satu orang bermunculan. Tubuh kecil bocah itu berhasil membuat mereka semua bergelimpangan. Darah segar memuncrat dimana-mana. Anak itu menikmatinya. Dengan senyum separuh, dengan tawa keras, dan mata yang menyerupai mata iblis. Sungguh mengerikan! Dia menebas habis nyawa orang-orang yang berbadan lebih besar darinya.

Tak ada lagi teriakan. Anak itu mulai bosan. Diseretnya satu per satu tubuh-tubuh menyedihkan itu ke ruang tamu. Ditatanya seapik mungkin. Kemudian ia mencari buku gambarnya. Menyobek satu lembar dan mengambil setetes-setetes darah dari mereka. Menggambar mereka semua sama persis dan mewarnainya dengan darah masing-masing. Senyumnya kembali muncul. Gambarnya selesai. Tapi, ia melupakan satu orang. Lelaki yang selama ini selalu menemaninya di waktu terang di ruangan itu belum ia bawa kemari. Ia kembali ke atas. Masuk ke dalam kamar dengan darah yang menggenang dimana-mana. Kaki kirinya yang ia seret. Melewati tangga dan ia lempar begitu saja hingga kepalanya teratuk meja. Ditatapnya lagi, rasanya masih ada yang kurang. Diambilnya kembali tubuh itu, kemudian di dekapnya lama. Tangannya berayun, mendaratkan satu tusukan lagi ke perutnya. Dan setelah itu, tubuhnya limbung.

Ia tersenyum lagi. Dan lepas dari tuan rumah itu, matanya menangkap seseorang lain yang ada di pintu. Pintu tertutup itu terbuka, dengan wanita muda yang membekap mulutnya sendiri. Meski tak begitu paham, tapi anak itu tahu, wanita muda itu adalah wanita yang selama ini menamaninya di waktu gelap. Senyumnya hilang. Mendatar. “Kau?” tanyanya. Mencoba memastikan. Tapi, wanita itu malah tambah ketakutan. Bekapan tangannya lepas.

“Aaa…!!!” teriakan akhirnya lolos juga dari bibirnya. Anak itu tak bereaksi. Dia bahkan masih diam di sana. Tapi, wanita muda itu malah ambruk.

***

“Dan setelah itu… anak itu menghilang entah kemana,” wanita tua itu mengakhiri ceritanya. Won Geun dan Woo Young nampak tak percaya dengan ceritanya. Tapi, itulah yang memang terjadi.

“Dan anak itu, adalah anak ini. Begitu?” Woo Young mencoba memancingnya kembali. Wanita tua itu kembali menatap foto itu. Tipis, kepalanya mengangguk. “Dia hanya anak dalam kegelapan. Aku tak tahu dia bisa menjadi monster seperti itu,” tambahnya.

Woo Young menghela nafasnya panjang. Menatap Won Geun yang menyisakan gurat-gurat terpengarah atas cerita tadi. Jadi benar, anak itu adalah Kim Tae Soo. Psikopat yang sudah membunuh banyak orang. Anak dalam kegelapan yang harus segera mereka buktikan bersalah.


Sebelumnya                    Selanjutnya

[1] Benarkah
[2] Panggilan sopan untuk wanita yang lebih tua/bisa jadi mengakrabkan/panggilan untuk ibu orang lain.
[3] Tidak mau

No comments:

Post a Comment