“Uwah! Kau hebat, Baek
Ji~ya!” decak Soo Jin sambil bertos ria dengan si maknae[1]
itu. Menemukan orang yang sudah membawa pergi Song Hani membuat mereka nampak
senang. Hal itu tidak berlaku untuk Won Geun. Matanya menyipit tajam,
memperhatikan betul-betul pria yang wajahnya tak jelas sama sekali itu.
Ditekannya tombol pause demi memperjelas penglihatannya. Baek Ji dan Soo
Jin cukup dibuatnya bingung.
“Waeyo, Hyung?” tanya
Baek Ji. Won Geun tak menjawabnya. Pria ini… kenapa pria ini menurutnya mirip
dengan Woo Hyun? Dengan jaket yang dikenakannya ini, tak salah lagi. Ini memang
Woo Hyun, kan? Lagipula, saat ia mendengar keterangan dari wanita itu soal
jaket yang dipakai pria yang bersama Oh Chae Rim waktu itu memanglah Woo Hyun
yang ada di pikirannya. Siang sebelum mayat Oh Chae Rim ditemukan, dia kan
bertemu dengan Woo Hyun dan jaket itu.
“Wae geurae?” tiba-tiba
Woo Young datang, dan membuatnya berhenti dengan serius memperhatikan video
itu.
“Kami menemukan pria
yang membawa Song Hani pergi, Ketua,” lapor Baek Ji bangga. Woo Young jelas
langsung tertarik dan ikut memperhatikan video itu. Baek Ji sudah mem-play-nya
kembali. Woo Young menghela nafasnya. Setidaknya, mereka dapat sedikit
petunjuk, bahwa yang membawa Song Hani pergi memanglah yang membawa mayat Oh
Chae Rim ke club itu. Sementara Woo Young ikut memuji hasil kerja Baek Ji, Won
Geun sendiri yang diliputi rasa tak enak. Melihat Woo Young seperti ini,
tidakkah ia keterlaluan jika mencurigai Woo Hyun? Tapi, bila mengingat soal Woo
Hyun yang mengenal Tae Soo, memang hal itu patut diselidiki lagi. Rasanya agak
ganjil seseorang seperti Woo Hyun bisa mengenal orang seperti Kim Tae Soo.
“Jelaskan padaku apa
yang terjadi!” teriak seseorang yang masuk dengan tiba-tiba ke sana. Membuat
semua polisi yang masih di tempat kerjanya terlunjak kaget. Orang itu memang
perpenampilan layaknya orang kantoran. Tapi melihat letak dasinya yang
semrawutan, juga rambutnya yang berantakan itu, orang-orang mungkin akan
memanggilnya orang gila yang terobsesi menjadi orang kaya. Kantor kepolisian
Gangnam Gu memang selalu ramai. Tapi, kedatangannya yang lebih cepat dari
pengunjung-pengunjung yang lain itulah yang membuat mereka panik bukan
kepalang. Apalagi dia main melempar berkas kepolisian sana-sini.
“Oh, bukankah dia Oh
Chae Ryeong?” Soo Jin yang pertama kali mengenalinya. Ah, jadi tamu dadakan itu
datang untuk tim mereka. Yah, akhirnya dia datang. Walaupun terlambat, paling
tidak mereka bisa menggali informasi soal Chae Rim pada kakak kandungnya itu.
***
Chae Ryeong memang
belum divonis menjadi tersangka. Tapi demi menenangkannya, juga menghindari amukannya
terhadap benda-benda di tempat kerja polisi, dia dibawa ke ruang interogasi.
Soo Jin dan Baek Ji yang menanyainya. Sedangkan Woo Young mengamatinya dari
ruang pengamat. Kaca besar pembatas ruangan itu hanya tembus pandang untuk Woo
Young. Sedangkan mereka yang ada di ruang interogasi itu tak ada di sana.
“Jadi… Chae Ryeong~ssi[2]…”
Soo Jin bingung harus memulainya darimana.
“Mungkin memang akulah
yang membunuh adikku. Buktinya aku langsung dibawa ke ruangan ini,” ujar Chae
Ryeong nampak frustasi. Tatapannya begitu sendu. Melihat bengkak di matanya,
jelas dia sudah sangat banyak mengeluarkan air mata untuk kematian Chae Rim.
“Aniyo. Bukan begitu.
Kami membawamu kemari agar lebih leluasa untuk bicara soal Oh Chae Rim,” tambah
Soo Jin.
Tapi Chae Ryeong malah
menggeleng pelan. “Aniyo. Kurasa aku memang yang membunuhnya.” Soo Jin dan Baek
Jim akin bingung. Keduanya saling berpandangan, tak tahu harus menanggapi apa.
Sedangkan Woo Young masih terus mengamati. Seperti dugaannya, setelah itu pun
Chae Ryeong bercerita banyak hal, padahal kedua orang itu belum menanyainya
apapun.
“Dia tidak pernah
pulang ke rumah. Karena sebenarnya dia sangat membenciku. Aku dan Chae Rim
tinggal berdua saja di Korea. Sedangkan kedua orang tua kami tinggal di Amerika
dengan pasangan mereka masing-masing.”
“Apa… orang tua kalian
sudah bercerai?” tanya Baek Ji sedikit takut menyinggung perasaan Chae Ryeong.
Apalagi karena pertanyaan ini, Chae Ryeong yang awalnya hanya menatap lantai
mulai mengangkat kepalanya. Dia menggeleng
menjawab pertanyaan itu. “Aniyo. Mereka tidak bercerai. Hanya tinggal bersama
dalam satu rumah dengan pasangan mereka masing-masing.” Jawaban yang cukup
mengejutkan. Soo Jin dan Baek Ji akhirnya memilih diam. Orang ini tak perlu
ditanyai lagi. Pasti dia akan bercerita panjang lebar soal adiknya itu.
“Sejak umurku 25 tahun,
aku membawanya ke Korea. Dengan warisan dari kakek, aku bisa melanjutkan
kuliah, dan Chae Rim masuk ke SMA. Aku berusaha sebaik mungkin agar bisa lebih
kaya dari orang tua bodoh itu. Sampai aku tak pernah punya waktu untuk adikku
sendiri.
“Dia selalu pergi dari
rumah. Dia hanya pulang untuk meminta uang. Lama kelamaan ia brutal. Ia sering
pergi ke club malam, tinggal di motel dan menghambur-hamburkan uang. Dia sangat
terobsesi untuk menjadi penyanyi. Padahal aku sudah bilang padanya, dia itu
tidak punya bakat dalam bidang itu. Mungkin dia marah padaku. Dia bahkan
menggunakan uang kuliah untuk pergi ke salon. Dia meminta uang padaku untuk
operasi plastik. Tapi aku tidak memberikannya. Bahkan aku tidak mencarinya dulu
sebelum aku pergi ke Jepang. Dan saat aku kembali… dia sudah… akh…” Chae Ryeong
tiba-tiba sesenggukan. Tak jauh beda dari seorang bayi yang ditinggal ibunya,
begitulah seorang Chae Ryeong menangis. Tak cocok betul dengan tampilannya yang
cukup maskulin. Kedua orang itu saja kalah macho. Tapi bisa sampai
menangis seperti itu, bukankah itu menandakan kalau orang ini sangat kehilangan
adiknya?
“Bukankah
kemungkinannya menjadi tersangka sangat kecil?” terka Baek Ji. Soo Jin hanya
diam. Meski setuju, tapi dia tidak bisa serta merta mengatakan seperti itu.
Bukankah semua tersangka selalu punya siasat untuk mengelabui hukuman?
Melepaskan Chae Ryeong dari daftar tersangka juga belum bisa mereka lakukan.
Yah… walaupun bukti pun tak banyak menunjuk ke Oh Chae Ryeong.
“Ani, Won Geun~a. Apa
kau pikir…” Woo You memutar kursinya. Tidak ada siapapun di belakangnya. Dia
baru sadar kalau sejak tadi memang tidak ada Won Geun di belakangnya. Lantas
kemana bocah itu?
Meninggalkan interogasi
itu, Woo Young berjalan keluar. Mencari Won Geun. Dia masih duduk di tempatnya,
dengan wajah serius memandangi layar laptop. “Apa yang kau lakukan di sini?”
tanyanya, cukup mengejutkan Won Geun. Wajar saja kalau Woo Young sedikit curiga
dengan tingkahnya. “Kau ini kenapa?” tanyanya lagi. Ketimbang merasa gugup, Won
Geun ingin melaporkan hasil temuannya dulu.
“Hyung, lihatlah ini!”
pintanya, sambil menggeser posisi laptopnya agar bisa dilihat Woo Young dengan
baik. Lagi-lagi video rekaman CCTV. Ini adalah rekaman di depan toilet tempat
mayat Min Soo Min waktu itu ditemukan. Mereka sudah melihatnya berkali-kali.
“Ada apa dengan ini?”
tanya Woo Young heran. Demi menjelaskannya, Won Geun memutar video CCTV di
depan club malam itu. Yang menunjukkan Song Hani dibawa oleh pria berjaket
hitam. Disejajarkannya dua video itu. “Aku baru sadar hal ini tadi,” jelasnya.
Sekarang Woo Young paham yang dimaksud Won Geun. Telunjuk Won Geun menunjuk
seorang pria dengan jaket dan topi yang sama di rekaman yang di depan toilet.
Pria itu membopong seorang wanita yang setahu mereka waktu itu memang pingsan.
“Aku sudah memutar ulang videonya, dan menghitung jumlah orang-orang yang masuk
ke toilet itu. Tapi, orang ini tidak masuk ke toilet, tapi tiba-tiba keluar
dengan membawa seorang wanita yang pingsan. Jika kita perhatikan baik-baik,
bukankah wanita yang dibawanya ini mengenakan pakaian yang sama dengan Oh Chae
Rim saat masuk ke toilet itu?” Won Geun menambah daftar putarnya, yaitu saat Oh
Chae Rim mulai masuk ke dalam toilet. Nampak baju yang dikenakannya memang
sama. Walaupun yang dibopong pria itu memakai jaket tebal, tapi baju di
dalamnya itu masih bisa terlihat walau sedikit. Ya, analisis Won Geun memang
benar. Pria itu membawa Oh Chae Rim.
“Jadi, memang benar
pria inilah yang memasukkan mayat Min Soo Min, dan menculik Oh Chae Rim,
kemudian meletakkan Oh Chae Rim di club itu, dan sekarang membawa kabur Song
Hani?” Woo Young menjelaskan lebih detail. Won Geun mengangguk membenarkan.
“Tapi kalau kita lihat
lagi video ini,” Won Geun melanjutkan dengan memutar satu video di depan club.
“Song Hani tidak kelihatan diculik, Hyung. Justru dia masuk seperti kemauannya
sendiri,” tambahnya. Woo Young memperhatikan video itu dengan seksama. Memang,
dari sudut itu Hani tidak kelihatan dipaksa. Malah sepertinya ia sempat
tersenyum dengan pria serba hitam itu. “Apa mungkin dia malah terlibat dengan
kasus ini?” Woo Young malah membuat spekulasi baru. Ya, ini memang sedikit
membingungkan. Walaupun tadi Won Geun tak sempat berpikir seperti itu, sekarang
dia membenarkan ucapan Woo Young barusan.
Lebih dari itu, Won
Geun memandangi Woo Young bukan hanya karena ia baru saja menyetujui spekulasi
ketua timnya itu. Lantas ini tentang pikirannya soal pria berjaket hitam itu.
Sejak tadi Won Geun memperhatikan dua video itu tanpa henti. Diulang-ulang.
Memang sebenarnya di otaknya sudah tertanam, pemilik jaket mahal itu memang Woo
Hyun. Padahal, orang-orang Gangnam Gu bisa saja punya bejibun jaket seperti itu
di lemarinya, kan? Tapi semakin diperhatikan, pria itu memang sangat mirip
dengan Woo Hyun. Bukan hanya karena jaketnya. Tapi perawakannya cukup untuk
menambah kecurigaan Won Geun. “Hyung!” dipanggilnya Woo Young. Sebenarnya dia
ingin mengungkapkan unek-uneknya. Hanya, melihat wajah lelah Woo Young, ia
urungkan niatnya. Dia tak boleh langsung berargumen tanpa bukti yang kuat.
“Wae?”
“A, aniyo.”
“Mwoya?” protes Woo
Young. Makin lama ia merasa sikap Won Geun makin aneh saja.
Tak lama, Baek Ji dan
Soo Jin datang mendekat. Bertampang putus asa disertai dengan helaan nafas
panjang yang lebih mirip paduan suara. Baek Ji langsung duduk di tempatnya
setelah membanting buku catatannya ke meja. Sedangkan Soo Jin masih memilih
berdiri. Mendapat tatapan dari ketua timnya, dia menggeleng lemah. “Tidak ada
gunanya. Dia malah menangis seperti wanita di ruang interogasi,” jelasnya.
“Sepertinya dia memang
sangat menyayangi adiknya. Tapi sayangnya, keterangannya tidak menambah
informasi untuk kita. Dia sendiri tidak terlalu paham kemana-mana saja adiknya
itu biasa pergi. Dan dia juga memberikan keterangan yang sama seperti yang
dikatakan teman-temannya,” Baek Ji menimpali.
“Pertama kita harus
mencari tahu dulu, siapa pria berjaket yang membawa mayat Min Soo Min dan mayat
Oh Chae Rim itu.”
“Bagaimana ketua bisa
yakin kalau dia yang membawa mayat Min Soo Min?” tanya Soo Jin keheranan.
Barulah Woo Young menunjukkan video di laptop Won Geun itu. Keduanya nampak
terkejut, tapi juga senang sekaligus. “Berarti penjahat kita memang dia, kan?”
Baek Ji memberi komentar.
“Tidak bisa kita
simpulkan secepat itu. Setidaknya, kita tahu, jika kita bisa menemukannya, kita
bisa tahu siapa yang ada di baliknya,” jawab Won Geun.
“Ketua, apa menurutmu
Song Hani terlibat dari kasus ini. Bukankah saat kita lihat rekaman CCTV di
depan club itu, dia masuk ke dalam mobil dengan sukarela?” Soo Jin ikut
berspekulasi. Won Geun sempat terkejut, spekulasinya sama dengan ketua tim
mereka. Tapi setelahnya ia tersenyum. Bahkan juniornya lebih pintar darinya
ternyata.
“Ya. Bisa jadi. Tapi
belum tentu juga. Ah, bagaimana dengan plat nomor mobilnya? Kalian bisa
menemukan siapa pemiliknya?” Woo Young beralih ke Baek Ji yang mulai berkutat
dengan laptopnya. Mencari laporan yang memang seharusnya ia laporkan.
“Ini adalah mobil
impor. Dan plat nomornya adalah nomor palsu.”
“Palsu?” Won Geun dan
Soo Jin hampir berbarengan menanyakannya. Baek Ji mengangguk.
“Orang ini sudah
menyiapkan semuanya,” gumam Woo Young. Won Geun tiba-tiba kembali ke laptopnya.
Sepertinya dia baru kepikiran sesuatu. Dia mencari rekaman CCTV di depan tempat
audisi itu. Begitu menemukan apa yang ia cari, dia menjetikkan jarinya.
“Ketemu!” serunya senang. Woo Young cukup penasaran dengan temuannya. Itu
adalah tempat parkir. Dan pria itu memasukkan wanita yang pingsan itu: yang
sudah mereka terka adalah Oh Chae Rim, ke dalam mobil yang sama. Setelah Won
Geun mencocokkan nomor platnya dengan video di depan club, memang sama.
Mobilnya pun belum ganti.
“Hyung, bukankah hasil
otopsi Oh Chae Rim menunjukkan tikaman dengan senjata yang sama dengan Min Soo
Min?” Soo Jin menatap Won Geun. Karena Won Geun yang memeriksa langsung ke
ruang otopsi Oh Chae Rim, dia mengangguk. “Berarti pembunuh yang berada di
balik kasus yang ini memanglah pembunuh yang sama. Terlebih, pria itu juga
berada di dua TKP itu, kan?” tambahnya lagi. Kali ini bukan cuma Won Geun yang
mengangguk, tapi Baek Ji juga. Ketiganya, termasuk Woo Young menunggu hipotesis
apa yang akan dia ucapkan. Walaupun lebih muda dari Won Geun, setidaknya Soo
Jin cukup mahir dengan membuat hipotesis-hipotesis.
“Kupikir, yang dilakukan
pembunuh ini cukup aneh,” ujarnya.
“Aneh? Apanya yang
aneh?” tanya Baek Ji.
Soo Jin mengangguk dulu
sebelum menjawab. “Jika memang orang yang membunuh Min Soo Min dan Oh Chae Rim
adalah orang yang sama, kemudian, dalang dari hilangnya orang-orang sebelum ini
adalah orang yang sama pula, maka itu cukup aneh. Selama ini, yang kita tahu,
orang-orang yang masuk ke kasus kita adalah sebagian besar wanita. Kemudian,
wanita-wanita itu selalu memiliki masalah kecantikan. Min Soo Min misalnya. Ia
diputuskan kekasihnya karena dia tidak lebih cantik dari wanita China itu.
Kemudian, Oh Chae Rim terobesesi untuk melakukan operasi plastik. Beberapa
haksaeng yang hilang juga wanita, dan mereka beberapa dibuli karena wajahnya
yang dianggap jelek. Ada juga pasien operasi plastik yang gagal, dan
orang-orang mengira dia membunuh dirinya sendiri. Tapi, kita tidak pernah
menemukannya sampai sekarang.”
“Artinya, dengan
ditemukannya mayat Min Soo Min dan Oh Chae Rim, dia mencoba menunjukkan
identitasnya pada polisi?” tambah Won Geun. Soo Jin mengangguk mantap.
“Tapi kenapa?” Baek Ji
masih belum paham dengan hipotesis itu.
“Ada dua kemungkinan.
Dia tidak bisa menemukan tempat untuk menyembunyikan orang-orang yang ia bunuh
lagi, atau dia mulai bosan dan mungkin saja ingin segera ditangkap,” jawab Won
Geun. Baek Ji mulai paham. Kepalanya mengangguk beberapa kali.
“Tapi dua mayat ini
ditemukan dengan jejak-jejak yang sulit juga kita temukan. Apa orang ini
bermaksud mempermainkan kita?” decak Won Geun tak percaya.
“Berhenti dengan spekulasi
kalian. Kita tidak bisa hanya membuat hipotesis tanpa adanya bukti yang jelas.
Pertama, kita harus menemukan sesuatu untuk membuat tersangka kita semakin
jelas. Sebaiknya kalian periksa lagi CCTV di sepanjang jalan mobil yang membawa
Song Hani pergi. Do Baek Ji, telusuri siapa-siapa saja yang mempunyai mobil
seperti itu. Kita persempit di Gangnam Gu dulu. Park Soo Jin, kau ikut aku
menyelidiki rumah Song Hani di Ceongdam Dong itu, kita harus mencari sesuatu
yang bisa membantu kita menemukan tersangka kita!” titah Woo Young langsung
ditanggapi, “Ne!” yang keras dari ketiganya. “Ah… dan satu lagi!” ia
ketinggalan satu hal. “Jangan hapus Kim Tae Soo dari daftar tersangka kita. Won
Geun, kau bisa periksa panti asuhan tempatnya berasal!”
“Ne!” jawab Won Geun
mantab.
Kemudian Woo Young
mengisyaratkan Soo Jin untuk mengikutinya. Tapi, telpon di meja Baek Ji yang
berdering menghentikan langkah mereka berdua. “Yeoboseyo?” Soo Jin yang
menerimanya. “Ne?! Eoddiyo?!” ia nampak terkejut. Ketiga orang yang tersisa di sana
hanya saling pandang. Mereka diam, menunggu sampai Baek Ji selesai dengan
telponnya. Dan begitu ia selesai, tiga orang itu jadi santapan matanya.
“Kita… menemukan Song
Hani.”
***
Bocah berseragam SMA
itu duduk tak nyaman di kursi itu. Berulang kali ia melempar pandangannya ke
ruang interogasi ini. Pertama kalinya ia ada di sini. Dan sejak dia tiba-tiba
ditangkap langsung saat ia sedang belajar di kelas, dia dimasukkan ke dalam
sini dan ditinggal beberapa lamanya.
Di ruang pengamatan,
baik Woo Young dan ketiga anak buahnya hanya memandangi bocah itu. Menunggu
beberapa saat sampai bocah itu bereaksi. Tapi, yang dilakukan bocah itu hanya
memasang tampang bingung dan sedikit takutnya. Sedikit heran memang. Tiga
minggu bekerja, mengaduk-aduk CCTV di sekitar Jembatan Seogang dan yang mereka
dapatkan adalah bocah sekolah itu yang membawa mobil itu ke sana.
“Aku saja yang masuk,
Hyung,” ujar Won Geun. Woo Young tak menjawabnya, tapi ia sudah pergi duluan.
Saat ia masuk, bocah
itu juga hanya memandanginya tanpa berani bertanya. Ia duduk, mengeluarkan
sebuah laporan yang sudah dibuat tentang alasan bocah ini ada di sini.
“Jadi kau yang membawa
mobil itu ke Jembatan Seogang 3 minggu yang lalu?” tanya Won Geun langsung.
Diliriknya name tag di bajunya. Yun Tae Yong, nama yang cukup bagus
untuk bocah berwajah pas-pasan sepertinya.
“Ne,” jawabnya sedikit
takut. “Tapi, kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya kemudian.
“Di dalam mobil itu ada
mayat Song Hani. Kau tidak tahu?”
“Ne? Mayat? Eoddiyo?”
bocah ini nampak terkejut. Won Geun memperhatikan mimik wajahnya. Kelihatannya
dia memang sama sekali tak tahu pasal mayat Song Hani yang ada di dalam mobil
itu.
“Kau yang membawanya ke
sana, dan kau tidak tahu kalau di dalam bagasinya ada mayat?”
“Aku sama sekali tidak
tahu. Aku hanya melakukan tugasku. Anda tahu, kan? Jasa pengantar barang yang mengantarkan
apa saja? Malam itu aku ditugasi untuk membawa mobil itu dari Apgujeong Dong ke
Jembatan Seogang. Tapi aku sama sekali tak tahu apa isinya.”
“Apgujeong Dong?” ulang
Won Geun. Reaksi yang sama diberikan oleh Woo Young, Baek Ji dan Soo Jin.
“Apgujeong Dong bukankah tempat tinggal Kim Tae Soo?” tanya Soo Jin pada Baek
Ji. Tentu saja Baek Ji mengangguk.
“Siapa yang
menyuruhmu?” Won Geun melanjutkan interogasinya.
“Bosku tentu saja.
Bosku akan mendapat telpon dari pelanggan, dan bosku akan menelponku. Kemudian
aku akan ke tempat itu.”
“Apgujeong Dong itu,
kau mengambil mobil itu darimana?”
“Oh… aku tidak ingat
nama tempatnya. Tapi, itu di depan galeri lukis. Gedungnya tidak lebih tinggi
dari gedung-gedung yang lain. Sepertinya… ada sekitar 10-15 lantai,” jelas Yun
Tae Yong. Mereka jelas tercengang. Gedung yang dimaksud Tae Yong ini, bukankah
milik Kim Tae Soo? Apalagi setelah Won Geun menunjukkan foto gedung itu, bocah
itu membenarkannya.
“Jadi memang benar
kasus ini ada hubungannya dengan Kim Tae Soo kan, Ketua?” Baek Ji langsung
menerka. Woo Young hanya diam. Dia masih tertarik dengan interogasi itu.
“Jika memang itu Kim
Tae Soo, kenapa dia ceroboh sekali? Meninggalkan mobil itu tepat di depan
tempat tinggalnya,” Soo Jin ikut berpendapat. Ya, hal ini rasanya terlalu
mudah. Apa benar Kim Tae Soo meminta untuk segera ditangkap?
“Bisakah kau meminta
nomor telpon orang yang menghubungi bosmu itu?” tanya Won Geun lagi. Tae Yong
nampak ragu. “Aku tidak yakin. Itu sudah sangat lama. Jangan terlalu berharap
banyak, ya?” Tapi kemudian ia menghubungi bosnya. Setelah agak berdebat
sedikit, dia berhasil mendapatkan nomor itu. Diberikannya nomor itu pada Won
Geun.
“Tapi… apa kau
benar-benar tidak tahu mayat siapa itu?”
“Siapa tadi namanya?”
“Song Hani. Apa kau
tidak kenal seseorang yang bernama Song Hani?”
“Song Hani aku tidak
tahu. Tapi, kalau Hani EXID[3]
aku tahu. ” Jawaban itu membuat Baek Ji dan Soo Jin di ruang pengamatan
terkekeh. Sedangkan Woo Young diam saja. Dia sendiri tak tahu apa-apa soal
dunia musik di negaranya sendiri. Mana mungkin dia akan tahu siapa itu Hani
EXID?
“Ya!” sentak Won Geun
sedikit kesal dengan jawabannya.
“Jinjja mollayo[4]!
Lagipula, bagaimana aku bisa mengenal orang-orang yang ada di Gangnam Gu?
Sedangkan aku sendiri tinggal di Songpa Gu!” pekik Tae Yong frustasi. Won Geun
baru menyadari sesuatu. Kalau tidak salah, bocah ini juga berasal dari sekolah
yang sama dengan bocah bernama Han Ki Jae itu. Dan Han Ki Jae bukankah waktu
itu ia lihat menemui Kim Tae Soo? Dan jika menelusuri pikirannya lebih lanjut,
tempat sekolah Han Ki Jae bukankah tempat Jo Woo Hyun bekerja? Dan kemudian
pria berjaket itu… ah! Dia terlalu banyak berspekulasi tanpa adanya bukti!
“Baiklah. Kau mungkin
memang tidak tahu. Lagipula, mayat itu juga ada di bagasi. Kau tidak akan tahu
jika memang bukan kau yang membunuhnya.”
“Mwoyo? Hah! Apakah itu
masuk akal? Bocah SMA sepertiku membunuh orang lain? Aku hanya bekerja paruh
waktu untuk membayar tagihan telponku saja, Gyeongchal~nim!” protes Tae Yong
tak terima. Won Geun hanya tersenyum menanggapinya. “Tapi… bagaimana Anda bisa
tahu kalau aku yang menaruh mobil itu di sana?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja dari CCTV
yang ada di sana.”
“Ah… CCTV?” bocah itu
mengangguk-angguk paham. “Polisi memang boleh mendapatkan rekaman CCTV dimana
saja, kan? Itulah kenapa aku ingin sekali menjadi polisi,” lanjutnya sambil
tertawa kecil. Mendengar hal itu, Won Geun mendecak tak percaya. “Kau mau jadi
polisi?” tanyanya. Agaknya pertanyaan itu terdengar seperti ejekan untuk Tae
Yong. Lihat saja wajahnya yang kelihatan marah sekarang.
“Waeyo? Apa aku tidak
bisa jadi polisi? Aku memang tidak kaya. Tapi, otakku juga lumayan cerdas.
Tunggu saja sampai aku benar-benar jadi polisi, aku akan menyelesaikan kasus
yang lebih banyak daripada Anda!” sentaknya sebal. Ia berhasil membuat Won Geun
tertawa.
“Ya, ya. Baiklah!
Kuharap kau segera jadi polisi dan bisa membantuku menangani kasus-kasus yang
sedang beterbangan akhir-akhir ini. Kau boleh pergi.” Mendengar kata pergi,
Tae Yong langsung berdiri. Sebenarnya sejak tadi dia sangat ingin langsung
keluar dari tempat itu. Tapi, dia urungkan niatnya. Pasalnya menurutnya hal ini
terlalu mudah untuk bisa langsung pergi dari kantor polisi seperti itu.
“Tapi… apa aku
benar-benar dihapus dari datar tersangka?”
“Siapa yang bilang?”
Won Geun malah balik bertanya.
“Tapi aku kan sudah
bilang bukan aku yang membunuh Song Hani itu! Dan aku hanya melaksanakan
tugasku! Aku sama sekali tidak tahu apapun, Gyeongchal~nim!” rutuk Tae Yong.
Tingkahnya mirip benar seperti anak kecil. Bahkan ia tak malu-malu untuk
menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Won Geun berdiri.
Badannya yang jauh lebih tinggi dari Tae Yong memudahkannya untuk mengacak-acak
rambutnya. “Satu hal yang harus kau pelajari saat menjadi polisi. Kau harus
mencurigai semua orang,” katanya. Kemudian meninggalkan Tae Yong yang masih
tersungut-sungut tak jelas.
Keluar dari ruangan
itu, Won Geun dikejutkan bocah yang berdiri tepat di depan pintu. “Kau
mengagetkanku saja!” sentaknya. Tapi bocah itu hanya memberinya tatapan datar.
Won Geun mengenalnya. “Ya! Bukankah kau Han Ki Jae? Dari tempat audisi itu,
kan?” telunjuk Won Geun mengarah tepat di depan hidung Ki Jae.
“Tae Yong… dia tidak
bersalah,” katanya lirih. Tapi masih jelas didengar oleh Won Geun.
“Mwoya? Jadi kau adalah
teman Yun Tae Yong?”
“Ki Jae~ya!” Tae Yong
akhirnya keluar juga dari tempat itu. Kepalanya tertunduk sedikit saat melihat
Won Geun masih ada di sana. Ragu-ragu dia berucap, “Anda benar. Semua orang
memang harus dicurigai untuk polisi. Anda bisa menghubungiku kapan saja jika
membutuhkan sesuatu. Aku janji tidak akan kabur kemanapun.” Won Geun dibuatnya
tersenyum. Menanggapi tatapan khawatir dari Ki Jae, dia hanya tersenyum.
Kemudian merangkulnya pergi dari sana. “Nan gwaenchana, Sekki~ya[5]!”
ucapnya sambil mengacak-acak rambut Ki Jae. Won Geun yang melihat mereka hanya
tersenyum tipis. Sepertinya mereka adalah teman dekat.
Diikuti Baek Ji dan Soo
Jin, Woo Young menyusul Won Geun. Sama-sama saling menghela nafas karena mereka
harus menemui mayat yang seharusnya menjadi saksi mereka. “Bukankah ini artinya
Song Hani tidak terlibat?” Soo Jin berpendapat. Won mengangguk membenarkan.
“Tapi, Hyung… kau melupakan sesuatu,” tambah Soo Jin lagi.
“Mwo?”
“Yun Tae Yong,
seharusnya kau tetap menahannya karena dia tidak punya ijin mengemudi, kan?”
“Ah, kau benar.
Bagaimana bisa aku melupakannya?” Won Geun tersentak. Tapi melihat Soo Jin yang
mentertawainya, ia pun ikut tertawa. Nampaknya pun Woo Young tak terlalu
peduli. Jadi sepertinya hal itu tak akan mereka masukkan ke dalam daftar kasus
mereka.
“Tidak ada orang yang
hilang lagi kan di tempat kita menemukan mayat Song Hani itu?” tanya Woo Young,
mengalihkan pembicaraan soal Yun Tae Yong.
“Ne,” jawab Baek Ji.
“Setidaknya kita bisa
lebih mencurigai Kim Tae Soo karena hal ini. Segera lacak nomor telpon yang
menyuruh Yun Tae Yong untuk membawa mobil itu. Kita akan mendapatkan rekaman
CCTV dari jalanan di sekitar gedung milik Kim Tae Soo. Kita juga belum sempat
menyelidiki rumah Song Hani, dan panti asuhan Tae Soo berasal. PR kita terlalu
banyak! Kalian harus lebih cepat sebelum ada korban-korban lain yang
berdatangan!” sentak Woo Young, membangkitkan anak buahnya. “Ah, ya? Bukankah
Kim Tae Soo seharusnya pulang hari ini dari Vietnam? Aku akan segera ke sana
sekalian mendapatkan rekaman CCTV dari sekitar jalan tempatnya,” tambahnya dan
langsung pergi. Won Geun menatapnya lama. Soal perasaan curiganya pada Woo
Hyun, masih ia simpan seorang diri. Pikirnya kalau ia sudah punya cukup bukti,
dia akan segera memberitahukannya pada Woo Young. Mengesampingkan siapakah
status Woo Hyun bagi Woo Young. Seperti katanya, semua orang patut dicurigai.
***
Keluar dari kantor
kepolisian, Yun Tae Yong dan Han Ki Jae mampir ke mini market di seberang
jalan. Tae Yong membelikan Ki Jae susu pisang, dan mereka meminumnya sambil
duduk-duduk di bangku yang ada di depan mini market itu.
“Ah…” desah Tae Yong,
lega berhasil mengusir rasa hausnya. Sedangkan Ki Jae masih memandanginya saja,
belum menyentuh susu pisang miliknya. “Wae? Kau sudah tidak suka susu pisang
sejak menjadi calon bintang terkenal?” canda Tae Yong. Candaan itu tak berhasil
untuk Ki Jae. Wajah prihatinnya masih saja bernaung di sana. Inilah yang paling
dibenci oleh Tae Yong. Tatapan itu seolah menanyakan, “Apa kau punya uang untuk
mentraktirku susu pisang ini?”
“Ya! Aku tidak semiskin
yang kau pikirkan! Lagipula, aku dan kau itu jauh lebih miskin dirimu tahu!”
cibirnya sebal. “Kalau kau masih merasa tak enak, nanti saat kau sudah debut,
kau bisa gantian mentraktirku susu pisang satu mobil penuh!”
“Bukan itu, Bodoh!” Ki
Jae balik mencibirnya. “Bagaimana kau bisa masuk ke kantor polisi? Dan bukannya
memberi pembelaan, kau malah dengan sukarela pergi begitu saja. Kita kan masih
di tengah jam pelajaran!”
“Apa kau gila? Kau
pikir aku mau jika harus polisi memborgolku dan menyeretku dari kelas hanya
karena aku menolak ajakan mereka? Lagipula, kalau aku tidak bersalah, kenapa
aku harus menghindar?”
“Memang benar kau
mencuri mobil itu?”
“Aih… kau ini!” Tae
Yong makin sebal saja dengan sikap Ki Jae. “Kau pikir aku tahu tempat-tempat
menjual mobil curian?”
“Makannya jawab
pertanyaanku! Kenapa kau bisa sampai masuk ke kantor polisi?”
“Di dalam bagasi mobil
yang kuantarkan itu ada mayatnya.”
“Mwo?!” pekik Ki Jae.
Tae Yong yang baru saja menenggak susu pisangnya langsung tersedak. Dia bahkan
tak sempat protes, karena Ki Jae memburunya lagi dengan pertanyaan. “Bagaimana
bisa? Kenapa kau tidak tahu? Siapa sebenarnya yang menyuruhmu mengantar mobil
itu, hah?!”
“Ya! Ya! Tidak bisa kau
tanyanya satu-satu?” dumel Tae Yong memukul punggung Ki Jae keras-keras.
“Bagaimana bisa aku tahu ada mayat di dalam bagasi yang tidak aku buka sedetik
pun, hah? Yang menyuruhku mengantar mobil itu tentu saja bosku!” tapi akhirnya
pun ia menjawab semua pertanyaan itu.
“Di mana kau mengambil
mobil itu?”
“Hah… bagaimana bisa
pertanyaanmu seperti polisi tadi, hah?”
“Ah, sudahlah! Jawab
saja pertanyaanku!”
“Kenapa memangnya? Kau
mau ikut menyelidikinya? Ya! Yang mau jadi polisi itu aku! Bukan kau! Kau kalau
punya mimpi jangan banyak-banyak! Apa kau tidak mau menyisakannya untukku?”
“Ya, Yun Tae Yong!”
“Geumanhae[6]!
Berhentilah mengurusi urusanku. Itu semua sudah diurus oleh polisi. Seharusnya
kau mengurusi urusanmu sendiri. Daripada kau pergi kemari, bukankah seharusnya
kau pergi ke tempat latihan. Kau harus segera debut dan sukses, kan? Dengan
begitu Hyo Kyung nuna tidak perlu tinggal dengan kekasihnya lagi. Apa kau sudah
lupa?” Ki Jae akhirnya diam. Sejenak, dia merenung. Walaupun ia sudah
menyerahkan Hyo Kyung untuk sementara waktu pada Tae Soo, tapi mengingat
kakaknya itu pergi ke luar negeri begitu saja, masih bisa membuatnya khawatir.
Sedikit, dia membenarkan kata-kata sahabatnya ini. Dia harus segera debut. Karena
walau semalaikat apapun wajah Kim Tae Soo itu, sedikit pun ia tak pernah bisa
menyukainya. Ia sendiri tak tahu kenapa.
***
Bandara Incheon. Tae
Soo baru saja keluar dari pesawat. Selain menggandeng kopernya, tangan Hyo
Kyung sangat erat di genggamannya. Wanita manapun pasti akan iri dengan Hyo
Kyung. Selain wajah Tae Soo yang sangat sempurna, penampilan Tae Soo juga
menunjukkan statusnya di strata sosial. Cara jalannya saja bak model. Jika saja
ada embel-embel gelar artis di namanya, mungkin dia sudah disambut jutaan
penggemar sekarang. Dan tentu saja mereka akan menjerit-jerit tak terima dengan
gandengan di tangan Hyo Kyung itu.
Dari awal keluar tadi,
Tae Soo sudah menyandang ponselnya ke telinga. Nampaknya ia menghubungi
seseorang. “Eoh, aku sudah pulang. Sekarang aku sedang ada di bandara. Ahahaha…
kau tahu. Aku menyelesaikan 20 gambarku di sana. Tidak, tidak. Aku tidak ingin
berurusan dengan polisi Vietnam. Jadi aku menyuruh orang untuk segera
membereskannya. Ehm, aku hanya ingin tinggal di penjara kepolisian Gangnam Gu.
Bukan di negara orang lain. Ah, ya. bagaimana dengan goresanku yang kemarin?
Apa aku sudah berhasil membuat polisi itu makin mudah menemukanku? Ahaha…
kurasa aku harus menemukan 8 goresan
lainnya lebih cepat. Ah, ya. Kau bisa membantuku menemukannya. Apa? Ah, aku
tahu itu kurang 1 goresan lagi. Tapi…” Tae Soo melirik Hyo Kyung yang tak ayal
bak sebuah patung berjalan. “…aku sudah menemukan 1 goresan itu sejak lama. Ya…
kau urus saja 8 goresan itu. Aku ingin segera memenuhi buku gambarku. Ya… oke…”
percakapan panjang itu selesai. Kembali lirikannya mengarah ke Hyo Kyung.
Diselipkannya anak rambut Hyo Kyung ke belakang telinganya.
“Kau cantik sekali, Hyo
Kyung~a…” desahnya pelan. Entah karena tak mendengarnya, atau sudah bosan
dengan kalimat yang selalu berulang di bibir Tae Soo ini, Hyo Kyung sama sekali
tak bereaksi. Sungguh! Kalau saja jantungnya tak berdetak, mungkin dia memang
benar-benar menjelma menjadi patung yang tanpa ekspresi.
“Tunggulah sebentar lagi. Aku akan membuatmu lebih cantik lagi dari ini,” tambahnya, kemudian melanjutkan langkahnya.