Tuesday, January 14, 2020

99-1


Soo Jin baru keluar dari kamar mandi saat telpon di meja kerja Woo Young berbunyi. Woo Young tidak ada di sana. Semua rekan timnya sudah dipulangkan pula oleh ketuanya itu. Masih ada beberapa petugas yang bergelut dengan kasus masing-masing. Jadi tak ada yang tertarik untuk membantu mengangkat panggilan itu. Soo Jin mempercepat langkahnya.


“Yeoboseyo?” sapanya.

“To… tolong…”

“Wae geuraeyo?”

“A, ada mayat di sini.” Soo Jin tersentak. Mayat? Dahinya makin berkerut mendengar penjelasan lebih jauh dari si penelpon ini.

“Mwoyo?! Sekarang Anda ada dimana?” Soo Jin tergesa mencatat alamat dari orang ini. Sembarang kertas ia pakai untuk mencatat. Tapi, belum selesai ia mencatatnya, ia sudah paham. Bukankah ini alamat galerinya Kim Tae Soo?

“Baiklah. Aku akan segera ke sana,” ujarnya mengakhiri panggilan itu. Dari telpon ia beralih ke ponselnya. Kontak paling cepat yang ia temukan adalah Won Geun.

“Wae?!” terdengar teriakan dari sana. Sepertinya Won Geun sedang kesal.

“Hyung eoddiyo?” tanyanya tergesa. “Ada tiga mayat di apartement Kim Tae Soo. Tapi Kim Tae Soo tidak ada di sana. Aku akan ke sana lebih dulu, Hyung. Aku akan menghubungi yang lain. Kau bisa datang, kan?” tut… tut… ah! Mati. Sial! Soo Jin harus bergerak sendiri. Buru-buru ia mengambil kunci mobil di meja kerjanya. Tak peduli dengan panggilan petugas lain yang ingin menanyakan ada apa sebenarnya.

***

Woo Young belum pulang sebenarnya. Sejak tadi dia ada di atas atap gedung kepolisian. Menatap hamparan cahaya kota Seoul yang seharusnya menenangkan hati dan pikirannya. Tapi nyatanya tidak. Sungguh! Dia benar-benar kalut dan digerogoti perasaan bersalah luar biasa. Andai ia sedikit lemah, mungkin dia akan memilih lompat dari sini karena semua kegilaan ini.

Drrt… drrt! Ponsel di saku celananya bergetar. Ada pesan masuk. Dari Won Geun. Anak itu baru saja pamit tadi. Tapi sekarang malah sudah mengontaknya.

Hyung, kumohon cepat ke Songpa Gu. Ada yang tidak beres dengan Han Hyo Kyung di dalam rumahnya bersama Han Ki Jae.

 Apa ini? Woo Young tak paham sama sekali. Tapi nalurinya berkata ia harus cepat. Tak ada waktu untuk membalasnya. Apapun itu, pasti Won Geun dalam situasi yang tidak benar jika sampai menyuruhnya pergi sekarang. Yang lebih ganjil, Hyo Kyung ada di dalam rumahnya sendiri. Bukankah Han Hyo Kyung mulai tinggal bersama Kim Tae Soo? Ah! Pertanyaan terus malah yang muncul. Ia harus bergegas.

***

“Han Hyo Kyung~ssi! Kumohon buka pintunya!” Won Geun masih belum bisa mendobrak pintu itu. Sedang Hyo Kyung mulai gusar, antara pintu yang hampir terdobrak, atau seringaian Tae Soo di sampingnya. Ki Jae pun sama sekali tak berkutik dari tempatnya.

“Ayo, Hyo! Apa yang kau tunggu? Cepat bunuh Han Ki Jae!” sentak Tae Soo. Menambah getaran di sekujur tubuh Hyo Kyung.

“Andwae, Nuna! Sadarlah! Nuna, aku Han Ki Jae! Adikmu!” teriak Ki Jae. Hyo Kyung seolah dipermainkan. Telinganya menangkap suara dari ketiga orang ini. Kepalanya ikut celingukan. Hatinya mau meledak harus mana yang ia turuti.

“Nuna!”

“Diam!” lebih tinggi Hyo Kyung mengacungkan pisaunya. Akhirnya pilihan jatuh ke Ki Jae. Sungguh, tak ada dayanya mengayun pisau itu untuk melukai segaris aja kulit Ki Jae. Tapi, bila mengingat perlakuan Tae Soo, juga ancaman-ancamannya soal nyawa Ki Jae, bukankah lebih baik seperti ini? Mati bersama sebelum Tae Soo mengakhiri hidup mereka. Tak ada jaminan, setelah membunuhnya, Tae Soo tidak membunuh Han Ki Jae.

“Kita sudahi saja, Ki Jae,” ujarnya, sembari menambah selangkah demi selangkah mendekat ke Ki Jae. Ki Jae makin merapat ke dinding. Kepalanya hanya terus menggeleng. Bodoh! Bodoh  memang! Padahal kekuatannya jelas bisa menghalau serangan Hyo Kyung. Hanya sekali lagi, rasa dongkol dan tidak percayanya mengalahkan kekuatannya sendiri.

Brak!!! Suara pintu terjeblak terdengar keras sekali. Hyo Kyung tak terusik dengan masuknya Won Geun, setelah beberapa kali mencoba membuka pintu itu dan akhirnya berhasil. Sebaliknya, Won Geun yang bereaksi. Ada mungkin tiga detik ia menerkejuti kejadian yang ada di dalam. Kakak kandung mengacungkan pisau ke adik kandungnya sendiri, dan seorang pria berada di dekat mereka lengkap dengan pensil dan kertas gambarnya.

“Ki Jae~ya!” panggilnya. Ki Jae sempat menoleh kea rah pintu. Tapi Won Geun sudah lebih dulu tiba di depannya. Meraup tubuh kurus Hyo Kyung dan menghentikan pisaunya yang mungkin tinggal beberapa senti saja sampai ke leher Ki Jae.

“Hentikan, Hyo Kyung~ssi! Sadarlah! Dia Han Ki Jae! Adikmu!” sekuat tenaga Won Geun mengunci pergerakan Hyo Kyung. Gadis itu meronta-ronta. Jeritannya melemaskan persendian Ki Jae. Hingga akhirnya bocah itu terduduk lemas di lantai. Sedang satu suara yang jelas paling mengganggu di antara mereka. Dengan senangnya Tae Soo malah tertawa-tawa di tempatnya. Sungguh tawa yang mengerikan! Pensilnya menari-nari di atas kertas gambar itu. Entah gambar apa yang sudah ia buat.

“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” ronta Hyo Kyung tak letih-letihnya.

“Won Geun~a!” tiba-tiba Woo Young datang. Tak butuh waktu lama baginya untuk memahami situasi ini. Borgolnya siap meringkus Tae Soo. Cukup mudah, karena Tae Soo tak banyak melawan. Dia hanya memprotes sedikit, “Jo Gyeongchal, ja, jangan borgol aku dulu. Aku belum sempat menggambar kekasihku mati. Tu, tunggu sebentar!” tanpa ada perlawanan berarti.

“Kim Tae Soo~ssi, Anda kami tahan atas percobaan pembunuhan dan pembunuhan atas tiga wanita yang kami temukan di apartementmu.”

“Oke, oke. Aku terima itu. Tapi, tidak bisakah kau biarkan kekasihku menjadi gambar terakhirku? Se, sekali saja. Hahahaha….” Bahkan tawanya tak hilang-hilang dari sana. Membuat Won Geun sendiri yang sejak tadi mendengarnya merinding. Sungguh! Orang ini bukan manusia!

“Andwae! Andwae…!!!” jeritan Hyo Kyung makin keras. Ki Jae tak kuasa melihatnya. Dipeluknya kaki Hyo Kyung dengan tangis luar biasa. Sedang Won Geun berusaha semampunya, menahan pergerakan Hyo Kyung. Bahkan tenaganya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

“Nuna…. Nuna….” hanya isak lirih Ki Jae yang menyayat hatinya. Alangkah malang nasib bocah ini, fikirnya.

***

Soo Jin keluar dari ruang interogasi. Dengan kasar ia melempar bukunya ke atas meja kerjanya. Menarik perhatian Won geun dan Baek Ji. “Bagaimana?” tanya Baek Ji, mewakili juga si Won Geun.

“Daebak[1]! Dia mengakui semuanya!” decaknya tak percaya.

“Jinjjayo? Semuanya?” ulang Baek Ji seolah tak percaya. Hanya anggukan lemas dari Soo Jin yang meyakinkannya.

“Bagaimana bisa dia tidak merasa bersalah sama sekali, ya?”

“Kurasa dia benar-benar seorang psikopat.”

“Kau benar,” Won Geun menimpali. “Psikopat tidak pernah punya perasaan bersalah pada korban-korbannya. Justru ia menikmati apa yang sudah ia lakukan,” penjelasan Won Geun mendapat perhatian lebih dari Baek Ji dan Soo Jin.

“Aku sudah menyuruh orang menyelidiki semua detil soal Kim Tae Soo. Banyak wanita yang tidak tercatat di kasus kita yang hilang. Semuanya pun berhubungan dengan Kim Tae Soo. Dan semuanya juga sama-sama memiliki masalah soal kecantikan. Inilah yang kurasa menyebabkan seorang Kim Tae Soo menjadi seperti itu.”

“Menjadi seperti sekarang ini? Jadi itu ada sebabnya?” Baek Ji penasaran.

“Tentu saja. Psikopat adalah sebuah penyakit. Lebih tepatnya penyakit jiwa. Dan semua penyakit tentu ada penyebabnya, bukan?” tanya Won Geun yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh kedunya. “Untuk kasus Tae Soo ini, sepertinya dia terobsesi dengan kecantikan. Ia bermaksud membuat wanita-wanita itu cantik dengan persepsinya sendiri. Berdasarkan cerita dari saksi utama kasus di Gyeonggi itu, menjelaskan semuanya. Persepsi Tae Soo, si bocah yang tak pernah melihat dunia luar, soal kecantikan sangat jauh dari persepsi orang normal. Kematian dan darah yang ia jadikan acuan untuk membuat seorang wanita menjadi cantik.”

“Pantas saja. Tadi Tae Soo dengan santainya berkata, ‘Apakah yang kulakukan salah, Gyeongchal~nim? Aku hanya membantu mengatasi masalah mereka. Lebih daripada membunuh, aku sudah menyelamatkan kekhawatiran mereka soal kecantikan mereka masing-masing.’ Bulu kudukku merinding mendengar bagaimana caranya menjawab. Seperti jawaban anak SMA saat ditanyai soal matematika anak SD,” tambah Soo Jin.

“Lalu… kenapa ia tidak membunuh Han Hyo Kyung? Bukankah wanita itu selama ini bersamanya?” tanya Baek Ji lagi.

“Ada beberapa kemungkinan,” jawab Won Geun. “Pertama, karena dia memang mencitai Han Hyo Kyung, walaupun kemungkinan itu sangat kecil. Kedua, dia ingin menjadikan Hyo Kyung korban terakhirnya. Dan yang ketiga, Hyo Kyung tak sama dengan korban-korbannya sebelumnya. Hasil penyelidikan menunjukkan ia tak pernah risau soal penampilannya.” Baek Ji manggut-manggut dengan penjelasan Won Geun.

“Bukankah ini sedikit aneh, Hyung?” Soo Jin menimpali.

“Soal apa?”

“Selama ini kita sangat kesulitan menangkap Kim Tae Soo. Tapi, tiba-tiba dia membiarkan pintu apartementnya terbuka lebar. Dan menurut pengakuan office boy itu, Tae Soo sendiri yang menyuruhnya naik ke apartemenya. Padahal sebelumnya tak ada orang yang diizinkan masuk ke sana. Seolah dia sengaja ingin dirinya sendiri tertangkap.”

“Mungkin saja misinya sudah selesai,” jawab Baek Ji asal. Tapi Won Geun justru setuju padanya. 
“Baek Ji benar. Mungkin Kim Tae Soo punya target tersendiri. Dan setelah targetnya selesai, tujuan hidupnya pun selesai, bukan?”

“Ah… begitukah?” Soo Jin manggut-manggut.

“Ketua tim? Lalu dimana ketua tim, Hyung?” tanya Baek Ji kemudian.

“Ketua tim masih ada di dalam. Dia menyuruhku keluar duluan,” jawabnya. Mendengar jawaban itu, tatapan Won Geun beralih ke pintu ruang interogasi. Apa yang kira-kira masih ditanyakan Woo Young pada Kim Tae Soo. Mungkinkah soal Woo Hyun?

Tapi yang ada, di dalam Woo Young hanya diam. Menatap Kim Tae Soo yang duduk santai, balas menatapnya. Tangannya diborgol, tapi ia bisa dengan leluasa bersikap sewajarnya. Bersandar ke punggung kursi dengan senyum tipis yang enggan hilang sejak tadi.

“Ada lagi yang bisa kujawab, Gyeongchal~nim?” tanya Tae Soo. Mungkin ia mulai jengah dengan diamnya Woo Young. “Kau tidak ikut pergi dengan temanmu tadi. Pasti ada yang masih mengganggu fikiranmu, kan?”

“Woo Hyun!” sentaknya. Awalnya Tae Soo tak paham. Tapi kemudian ia tersenyum lebih lebar. 
“Ah… Woo Hyunnie?” ulangnya. Tak sadar gigi Woo Young sudah gemeletukan mendengar cara Tae Soo memanggil adiknya. Seolah mereka memang benar-benar sudah sedekat itu.

Tae Soo kemudian mencodongkan tubuhnya. “Ada apa dengannya?” tanyanya santai. Menaruh kedua tangannya ke atas meja.

“Kenapa kau melibatkannya bersamamu?”

“Aniyo. Dia tidak bersalah,” jawaban ini membuat Woo Young sedikit tersentak. Dia berharap demikian. Woo Hyun memang tidak bersalah. Hey! Apa pengakuan Tae Soo bisa ia jadikan bukti agar Woo Hyun tak mendekam di penjara bersama si brengsek ini?

“Yang dia lakukan hanya membereskan pekerjaannku. Semisal menghilangkan jejak dan sebagainya. Tapi dia tak pernah ikut ambil bagian dari pekerjaanku. Bahkan ia tak pernah tahu siapa-siapa saja yang akan kujadikan target,” ujarnya santai. “Lagipula… ia melakukan itu bukan tanpa sebab. Dia ingin menyelamatkan seseorang.” Raut wajah Woo Young membuatnya tertawa. “Jadi kau belum tahu siapa yang dilindungi Woo Hyun sampai ia harus menghapus seluruh jejakku, ya?” tanyanya. 
Tak perlu jawaban, memang itulah yang sebenarnya.

“Karena aku sudah berakhir di sini, kurasa membongkar semuanya pun tak jadi masalah,” tambah Tae Soo. “Ada satu ruangan yang tidak akan bisa kau masuki jika menaiki lift biasa. Ada satu lift tersembunyi yang menghubungkan ruanganku, rumahku, dan satu ruangan yang selalu dikunjungi Woo Hyun ke parkiran. Aku akan memberimu kuncinya dan kau bisa ke sana. Tak perlu susah payah mencari kamar di lantai berapa itu. Karena dari lift itu, hanya ada tiga tombol. Satu ke kamarku, satu ke ruang kerjaku, dan satu lagi ke kamar itu. Pergilah ke sana, dan kau akan tahu siapa yang sedang dilindungi oleh adikmu itu, Jo Gyeongchal~nim,” jelas Tae Soo panjang lebar. Seringaiannya terbentuk, senyum separuh yang sangat khas. Siapa? Siapa yang Woo Hyun coba selamatkan?

***

Tlit…. Tlit… tlit… suara mesin ini menyambut kedatangan Woo Young dan Won Geun. Won Geun tinggal tepat di bibir pintu lift. Membiarkan langkah Woo Young pelan bergetar menuju tengah ruangan. Tepatnya ke sebuah ranjang berbalut sprei putih. Air matanya tumpah melihat wajah pucat yang sangat ia kenal. “Seok… Seok Ryeong~a…” suaranya bahkan bergetar. Tangannya tak kuasa, mengambang di atas wajah itu. Dadanya sesak luar biasa.  Lututnya melemas. Ia hampir jatuh, tapi ditahannya sekuat tenaga.

“Ba, bagaimana kau… bagaimana kau bisa…. A, apa yang…” suaranya tersendak dengan isaknya. Ia tak tahan dan akhirnya bruk! Ambruk juga ia ke lantai. Tapi ranjang itu tak lebih tinggi dari duduknya. Karenanya pun ia masih bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah kekasih yang selama ini ia kira sudah meninggalkan dunia masih ada di sana. Ini mimpi, ya! Ia berharap ini mimpi. Tapi sayangnya, saat ia meraih tangan itu, rasanya dingin. Benar-benar dingin. Benarkah gadisnya masih hidup? Mesin itu tak membohinya kan pasti.

“Apa yang terjadi?” tanyanya. Ia sadar, Shin Min Hyuk sudah ada di sana. Merasa dilempari pertanyaan itu, ia mendekat. Berdiri tepat di samping Woo Young yang menyedihkan. Sebelum menjawab pertanyaan itu, ia mendesah pelan. “Aku memindahkannya dari rumah sakit.”

“Kenapa kau lakukan itu?”

“Ini…” Dokter Shin menelan ludahnya. Tak seharusnya ia bersikap terlalu simpati sebagai dokter. 
“…atas permintaan Jo Woo Hyun,” jawabannya mengiris hati Woo Young begitu dalamnya. Inikah yang dimaksud Woo Hyun dengan menyelamatkan seseorang. Dan itu adalah Eun Seok Ryeong? Kekasihnya dan sekaligus calon kakak ipar Woo Hyun? Woo Young tak ingin percaya, tapi inilah yang terjadi.

Dikumpulkannya kekuatan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangun. Menghapus air matanya dan mencoba bersikap tegar. Ia laki-laki, meski sesakit apa, tak sepantasnya ia selemah ini. Terlebih di hadapan anak buahnya dan juga… kekasihnya.

“Bagaimana keadaannya?” tanyanya, memberanikan diri menerima kenyataan selanjutnya.

“Tak ada perubahan,” jawab Dokter Shin. “Sejak pertama kali ia dibawa kemari, sampai sekarang keadaannya hanya seperti ini. Dia hidup berkat bantuan alat-alat itu. Atau, lebih tepatnya hanya jantungnya saja yang berdetak. Otaknya sudah mati. Kalaupun bangun, dia tak akan bisa berbuat apapun. Tapi, hanya nol koma saja kemungkinannya bisa hidup lagi,” sambungnya. Woo Young tak berkomentar. Ditelannya lamat-lamat air matanya. Dibendung sekuat tenaga. Tak ada yang perlu disesali, bukan? Meski dadanya meronta, menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya sendiri. Dia memang salah. Tak ada pikiran sampai sejauh ini, Woo Hyun akan berbuat semua ini. Hingga semua kejadian-kejadian soal Woo Hyun, tentang gelang yang masih disimpannya, dan tak ada setetes air mata pun meluncur saat pemakaman waktu itu, menjelaskan semuanya. Inilah yang dilakukan Woo Hyun selama ini. Dan apakah Tae Soo yang membantunya?

“Kau suruhan Kim Tae Soo?” tanyanya dingin. Dokter Shin hanya menunduk. Jawaban sudah ada pada Kim Tae Soo sendiri. Entah apa mungkin dia akan menerima hukuman seperti apa. Ia pasrah.

“Seonsaeng~nim!” panggil Woo Young setelah lama diam. Membuat Min Hyuk kembali mengangkat kepalanya. “Biarkan dia istirahat dengan damai. Aku tak tahan melihatnya seperti ini lagi.” Selesai. Itulah pilihan Woo Young. Ada atau tidak tubuh Seok Ryeong, bukankah gadis ini memang sudah lama mati?

Min Hyuk menuruti pintanya. Satu per satu alat-alat di tubuh Seok Ryeong ia lepas. Hingga suara mesin tadi berubah menjadi sebuah tlit…. Yang panjang. Garis lurus dari layarnya menunjukkan, gadisnya sudah benar-benar pergi.

***

Pintu terbuka. Mata Ki Jae langsung tertuju pada kakaknya tercinta. Gadis malang itu terdiam, dengan tatapan kosong menghadap ke luar jendela rumah sakit ini. Wajahnya sungguh pucat. Bibirnya kering dan beberapa lebam di pipinya akibat aksinya kemarin masih lekat.

Ki Jae masuk. Masih belum mengusik diamnya Hyo Kyung. Bunga lily yang ia bawa ia masukkan ke dalam vas. Mengganti bunga yang sudah  layu. Ia mencoba tersenyum. Meski rasanya sungguh susah.

“Nuna~ya…” panggilnya pelan. Mengambil kursi dan duduk di samping Hyo Kyung. Gadis itu masih diam. Bersila tenang tak bergerak sedikit pun. Bahkan kelopak matanya pun tak berkedip. 
“Nuna…” ulang Ki Jae lagi. Kali ini tangannya meraih ubun-ubun Hyo Kyung. Mengusap-usap rambutnya sayang. Barulah Hyo Kyung sadar dan memindahkan tatapannya ke Ki Jae. Awalnya ia diam. Tapi begitu senyum Ki Jae mengembang, matanya mulai mengerjap.

“Ki Jae~ya…” balasnya.

“Iya, ini aku. Han Ki Jae, adikmu.”

“Kau… apa yang kau lakukan di sini?” tatapan Hyo Kyung menghidup. Bahkan raut khawatirnya terlihat. “Kau tidak pergi ke sekolah?” tanyanya. Sedikit saja, lega itu menghampiri Ki Jae. Ia mengangguk menjawab pertanyaan itu.

“Aku sudah pulang. Lihat! Aku masih mengenakan seragamku.”

“Latihanmu? Kau tidak latihan? Kapan kau akan jadi penyanyi seperti impianmu?”

Hati Ki Jae mencelos. Bahkan ia masih ingat soal itu. “Em…” Ki Jae mengangguk cepat. Ia tak tahan, sungguh tak tahan. Air matanya mengalir dengan mudahnya. “Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan debut dan menjadi penyanyi. Nuna, kita bisa pindah ke Gangnam Gu dan mencari rumah yang lebih besar. Kau tidak perlu bekerja lagi. Aku akan menjadi tulang punggung keluarga. Kau tidak perlu khawatir.”

“Benarkah?” senyum Hyo Kyung terbentuk. “Kau pasti sangat senang, kan?” tambahnya. Ki Jae tak bisa menggambarkan betapa bahagianya ia melihat senyuman itu. Tapi, lambat laun senyuman itu luntur. Menghilang sedikit demi sedikit dan kepala Hyo Kyung kembali ke luar jendela. Raut hidupnya lenyap.

“Nuna?” panggilan Ki Jae tak ia dengar. “Nuna?” Ki Jae mulai gusar. Ia hampir meraih tangan Hyo Kyung, tapi kepala Hyo Kyung sudah lebih dulu menatapnya kembali. “Nuna…” ia tersenyum. Berharap Hyo Kyung tersenyum seperti tadi. Tapi yang ada raut datar Hyo Kyung berubah ketakutan. Bahkan ia menjaga jarak dari Ki Jae.

“Nuguseyo?” tanyanya.

“Nuna?”

“Jangan! Kumohon jangan! Jangan! Jangan! Jangan!” uluran tangan Ki Jae tak terbalas. Hyo Kyung mundur ke pojok ruangan. Kepalanya menggeleng cepat. Ia kebingungan menutupi pandangannya dari Ki Jae. Sedang bibirnya terus berucap, “Jangan! Jangan! Jangan!”

“Nuna… Nuna…akh!” kebahagian Ki Jae hanya sepintas. Hyo Kyung tak bisa tersenyum lagi. Bahkan ia tak mengenali Ki Jae. “Mianhae, Nuna… Jeongmal mianhae… ini semua salahku… salahku…” ia hanya bisa sesenggukan di antara racauan Hyo Kyung yang menyedihkan.

***

2 Bulan kemudian…

“Keluar!” sentak seorang petugas, membukakan jeruju besi. Kepala Tae Soo terangkat. Menatapnya dengan tatapan datar. “Ada yang mengunjungimu,” tambah petugas itu lagi. Tae Soo tak banyak berkomentar. Patuh, ia berdiri. Keluar dengan langkah seadanya. Menuju ruangan yang terhubung dengan ruangan sebelahnya. Hanya dibatasi didnding kaca dengan lubang-lubang kecil. Ada seorang wanita di sebelah sana.

Ia duduk. Menunggu sampai wanita itu berbalik. Ah! Wanita yang waktu itu ia lihat di lobi di galerinya. “Nuguseyo?” tanyanya, seolah memang tak pernah melihatnya. Padahal jelas ia pernah melihatnya.

“Benar kau tak mengenalku?” tanyanya.

“Ah… Anda yang di lobi waktu itu, kan? Sekarang aku ingat.” Bahkan tak ada raut seolah baru mengingat sesuatu di wajah itu. Hanya datar saja. Meski senyum separuhnya terbentuk, tapi tak ada ekspresi apapun di sana. “Ada perlu apa Anda mengunjungiku?” tanyanya. “Oh! Maaf… biar kuganti pertanyaanku. Bagaimana Anda bisa tahu aku ada di sini? Apa Anda mengenalku?”

Wanita ini tak merespon. Tae Soo pun tak ingin berkata banyak. Ditunggunya, detik demi detik. Wanita ini sama sekali tak angkat suara. “Eommonim, apa kau tidak punya waktu? Kenapa diam saja jika ingin mengunjungiku?” tak ada respon. Tae Soo sebenarnya tak masalah. Menunggu lebih lama, tak apa. Hanya saja, ia masih belum sempat menyelidiki wanita ini. Ingat, dia merasa pernah melihat orang ini jauh sebelum bertemu dengannya di lobi waktu itu.

“Koma[2]~ya…” lirih wanita ini akhirnya. Tae Soo mendelik. Pasalnya hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu. Ditatapnya lagi wanita ini lebih rinci. Benarkah? Benarkah ia… “Benar. Ini aku. Koma~ya…” ia membenarkan pikiran Tae Soo. Terlihat jelas bagaimana perubah di wajah itu. Baru jelas sekarang, wajah ini memang wajah yang ia kenal. Yang ia tinggalkan sendiri di antara mayat-mayat di rumah itu. Yang membawainya makanan tiap gelap menyapanya di ruangan. Yang mengajarinya apa arti cantik sesungguhnya.

“Hahaha… kau… selama ini kau kemana saja?” pertanyaan Tae Soo terabaikan. Rasa kasihan memenuhi dada wanita ini. “Aku mencarimu kemana-mana. Tapi yang kutemukan hanya wanita yang mirip denganmu. Kau tahu dia…. Atau…. Jangan-jangan Han Hyo Kyung adalah…”

“Ya. Hyo Kyung adalah anakku.”

“Ah…. Ternyata seperti itu. Pantas dia mirip sekali denganmu.”

“Lalu… kenapa kau tidak membunuhnya seperti yang lain?”

Tae Soo mencodongkan tubuhnya. Kedua tangannya ia lipat di atas meja yang terhubung dengan meja di depan wanita ini. “Kau… pasti belum tahu, kan? Kenapa aku membiarkanmu hidup waktu itu?” tanyanya santai. Senyum separuhnya lebih terasa sekarang.

“Benar. Kenapa kau membiarkanku hidup waktu itu?”

“Karena aku berterima kasih tentu saja,” jawab Tae Soo cepat. Kembali ia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. “Kau yang selama itu mengurusku. Tak ada orang lain yang lebih peduli terhadapku kecuali kau. Aku juga manusia yang masih paham dengan cara berterima kasih yang 
benar.”

“Seharusnya kau membunuhku waktu itu. Aku sama sekali tidak merasa lebih baik karena kau biarkan hidup.”

“Aku belum selesai bicara,” sergap Tae Soo. Membuat wanita itu diam. “Ada hadiah yang ingin kuberikan padamu. Kau… kaulah goresanku yang terakhir itu. Kau tidak tahu, kan?” ujarnya. Posisinya benar-benar santai. Bahkan tangannya sudah beralih, terlipat di depan dada. “Kau yang mengajariku apa arti cantik sesungguhnya. Tunggulah. Aku akan memberikan kecantikan paling hebat untukmu.”

Gret… wanita ini mengepal kuat dompet di pangkuannya. Tatapan Tae Soo berhasil menyulut ketakutannya. “Kau… kau akan menerima hukuman mati atas kelakuanmu. Kau tidak akan bisa…”

“Ani! Aku akan keluar dari sini. Kau harus siap menungguku,” potong Tae Soo. Nafas wanita itu tercekat. Senyuman malaikat Tae Soo tak menenangkan sama sekali. Justru membuatnya makin terintimidasi begitu hebatnya.

“Tunggulah! Kau adalah goresan terakhirku yang sesungguhnya!”

***

“Aku akan melihat-lihat sebentar sebelum pulang.” Malam yang gelap. Dua petugas belum pulang. Satunya memilih keluar. Menghisap rokok di antara udara dingin yang menusuk begitu tajamnya. Sedang satu lagi kembali ke dalam. Niatnya mengecek keadaan sel sebentar. Tapi, satu sel membelalakkan matanya.

“Ke, kenapa? Sel itu bisa…” kakinya langsung berlari. Sel yang ia lihat terbuka lebar dan sudah tak ada siapapun di sana. “Choi Sunbaenim! Choi Sunbaenim!” teriaknya. Petugas yang di luar mendengar suaranya. Dengan sergap ia buru-buru masuk. Menyusul petugas yang ada di dalam itu.

“Wae? Wae? Wae geurae?!” tanyanya begitu sampai.

“Kau lihat ini? Kenapa sel ini bisa terbuka?”

“Tunggu! Siapa yang ada di sini?” tatapan keduanya bertemu. Sepertinya mereka ingat siapa yang ada di sel ini sebelumnya.

“Kim Tae Soo!”

END

Sebelumnya              Epilog


[1] Hebat
[2] Bocah

No comments:

Post a Comment