Soo
Jin baru keluar dari kamar mandi saat telpon di meja kerja Woo Young berbunyi.
Woo Young tidak ada di sana. Semua rekan timnya sudah dipulangkan pula oleh
ketuanya itu. Masih ada beberapa petugas yang bergelut dengan kasus
masing-masing. Jadi tak ada yang tertarik untuk membantu mengangkat panggilan
itu. Soo Jin mempercepat langkahnya.
“Yeoboseyo?”
sapanya.
“To…
tolong…”
“Wae
geuraeyo?”
“A,
ada mayat di sini.” Soo Jin tersentak. Mayat? Dahinya makin berkerut mendengar
penjelasan lebih jauh dari si penelpon ini.
“Mwoyo?!
Sekarang Anda ada dimana?” Soo Jin tergesa mencatat alamat dari orang ini.
Sembarang kertas ia pakai untuk mencatat. Tapi, belum selesai ia mencatatnya,
ia sudah paham. Bukankah ini alamat galerinya Kim Tae Soo?
“Baiklah.
Aku akan segera ke sana,” ujarnya mengakhiri panggilan itu. Dari telpon ia
beralih ke ponselnya. Kontak paling cepat yang ia temukan adalah Won Geun.
“Wae?!”
terdengar teriakan dari sana. Sepertinya Won Geun sedang kesal.
“Hyung
eoddiyo?” tanyanya tergesa. “Ada tiga mayat di apartement Kim Tae Soo. Tapi Kim
Tae Soo tidak ada di sana. Aku akan ke sana lebih dulu, Hyung. Aku akan
menghubungi yang lain. Kau bisa datang, kan?” tut… tut… ah! Mati. Sial!
Soo Jin harus bergerak sendiri. Buru-buru ia mengambil kunci mobil di meja
kerjanya. Tak peduli dengan panggilan petugas lain yang ingin menanyakan ada
apa sebenarnya.
***
Woo
Young belum pulang sebenarnya. Sejak tadi dia ada di atas atap gedung
kepolisian. Menatap hamparan cahaya kota Seoul yang seharusnya menenangkan hati
dan pikirannya. Tapi nyatanya tidak. Sungguh! Dia benar-benar kalut dan
digerogoti perasaan bersalah luar biasa. Andai ia sedikit lemah, mungkin dia
akan memilih lompat dari sini karena semua kegilaan ini.
Drrt…
drrt! Ponsel di saku celananya bergetar. Ada
pesan masuk. Dari Won Geun. Anak itu baru saja pamit tadi. Tapi sekarang malah
sudah mengontaknya.
Hyung,
kumohon cepat ke Songpa Gu. Ada yang tidak beres dengan Han Hyo Kyung di dalam
rumahnya bersama Han Ki Jae.
Apa ini? Woo Young tak paham sama sekali. Tapi
nalurinya berkata ia harus cepat. Tak ada waktu untuk membalasnya. Apapun itu,
pasti Won Geun dalam situasi yang tidak benar jika sampai menyuruhnya pergi
sekarang. Yang lebih ganjil, Hyo Kyung ada di dalam rumahnya sendiri. Bukankah
Han Hyo Kyung mulai tinggal bersama Kim Tae Soo? Ah! Pertanyaan terus malah
yang muncul. Ia harus bergegas.
***
“Han
Hyo Kyung~ssi! Kumohon buka pintunya!” Won Geun masih belum bisa mendobrak
pintu itu. Sedang Hyo Kyung mulai gusar, antara pintu yang hampir terdobrak,
atau seringaian Tae Soo di sampingnya. Ki Jae pun sama sekali tak berkutik dari
tempatnya.
“Ayo,
Hyo! Apa yang kau tunggu? Cepat bunuh Han Ki Jae!” sentak Tae Soo. Menambah
getaran di sekujur tubuh Hyo Kyung.
“Andwae,
Nuna! Sadarlah! Nuna, aku Han Ki Jae! Adikmu!” teriak Ki Jae. Hyo Kyung seolah
dipermainkan. Telinganya menangkap suara dari ketiga orang ini. Kepalanya ikut
celingukan. Hatinya mau meledak harus mana yang ia turuti.
“Nuna!”
“Diam!”
lebih tinggi Hyo Kyung mengacungkan pisaunya. Akhirnya pilihan jatuh ke Ki Jae.
Sungguh, tak ada dayanya mengayun pisau itu untuk melukai segaris aja kulit Ki
Jae. Tapi, bila mengingat perlakuan Tae Soo, juga ancaman-ancamannya soal nyawa
Ki Jae, bukankah lebih baik seperti ini? Mati bersama sebelum Tae Soo
mengakhiri hidup mereka. Tak ada jaminan, setelah membunuhnya, Tae Soo tidak
membunuh Han Ki Jae.
“Kita
sudahi saja, Ki Jae,” ujarnya, sembari menambah selangkah demi selangkah
mendekat ke Ki Jae. Ki Jae makin merapat ke dinding. Kepalanya hanya terus
menggeleng. Bodoh! Bodoh memang! Padahal
kekuatannya jelas bisa menghalau serangan Hyo Kyung. Hanya sekali lagi, rasa
dongkol dan tidak percayanya mengalahkan kekuatannya sendiri.
Brak!!! Suara pintu terjeblak terdengar keras sekali. Hyo
Kyung tak terusik dengan masuknya Won Geun, setelah beberapa kali mencoba
membuka pintu itu dan akhirnya berhasil. Sebaliknya, Won Geun yang bereaksi.
Ada mungkin tiga detik ia menerkejuti kejadian yang ada di dalam. Kakak kandung
mengacungkan pisau ke adik kandungnya sendiri, dan seorang pria berada di dekat
mereka lengkap dengan pensil dan kertas gambarnya.
“Ki
Jae~ya!” panggilnya. Ki Jae sempat menoleh kea rah pintu. Tapi Won Geun sudah
lebih dulu tiba di depannya. Meraup tubuh kurus Hyo Kyung dan menghentikan
pisaunya yang mungkin tinggal beberapa senti saja sampai ke leher Ki Jae.
“Hentikan,
Hyo Kyung~ssi! Sadarlah! Dia Han Ki Jae! Adikmu!” sekuat tenaga Won Geun
mengunci pergerakan Hyo Kyung. Gadis itu meronta-ronta. Jeritannya melemaskan
persendian Ki Jae. Hingga akhirnya bocah itu terduduk lemas di lantai. Sedang
satu suara yang jelas paling mengganggu di antara mereka. Dengan senangnya Tae
Soo malah tertawa-tawa di tempatnya. Sungguh tawa yang mengerikan! Pensilnya
menari-nari di atas kertas gambar itu. Entah gambar apa yang sudah ia buat.
“Lepaskan
aku! Lepaskan aku!” ronta Hyo Kyung tak letih-letihnya.
“Won
Geun~a!” tiba-tiba Woo Young datang. Tak butuh waktu lama baginya untuk
memahami situasi ini. Borgolnya siap meringkus Tae Soo. Cukup mudah, karena Tae
Soo tak banyak melawan. Dia hanya memprotes sedikit, “Jo Gyeongchal, ja, jangan
borgol aku dulu. Aku belum sempat menggambar kekasihku mati. Tu, tunggu
sebentar!” tanpa ada perlawanan berarti.
“Kim
Tae Soo~ssi, Anda kami tahan atas percobaan pembunuhan dan pembunuhan atas tiga
wanita yang kami temukan di apartementmu.”
“Oke,
oke. Aku terima itu. Tapi, tidak bisakah kau biarkan kekasihku menjadi gambar
terakhirku? Se, sekali saja. Hahahaha….” Bahkan tawanya tak hilang-hilang dari
sana. Membuat Won Geun sendiri yang sejak tadi mendengarnya merinding. Sungguh!
Orang ini bukan manusia!
“Andwae!
Andwae…!!!” jeritan Hyo Kyung makin keras. Ki Jae tak kuasa melihatnya.
Dipeluknya kaki Hyo Kyung dengan tangis luar biasa. Sedang Won Geun berusaha
semampunya, menahan pergerakan Hyo Kyung. Bahkan tenaganya jauh lebih besar
dari yang ia bayangkan.
“Nuna….
Nuna….” hanya isak lirih Ki Jae yang menyayat hatinya. Alangkah malang nasib
bocah ini, fikirnya.
***
Soo
Jin keluar dari ruang interogasi. Dengan kasar ia melempar bukunya ke atas meja
kerjanya. Menarik perhatian Won geun dan Baek Ji. “Bagaimana?” tanya Baek Ji,
mewakili juga si Won Geun.
“Daebak[1]!
Dia mengakui semuanya!” decaknya tak percaya.
“Jinjjayo?
Semuanya?” ulang Baek Ji seolah tak percaya. Hanya anggukan lemas dari Soo Jin
yang meyakinkannya.
“Bagaimana
bisa dia tidak merasa bersalah sama sekali, ya?”
“Kurasa
dia benar-benar seorang psikopat.”
“Kau
benar,” Won Geun menimpali. “Psikopat tidak pernah punya perasaan bersalah pada
korban-korbannya. Justru ia menikmati apa yang sudah ia lakukan,” penjelasan
Won Geun mendapat perhatian lebih dari Baek Ji dan Soo Jin.
“Aku
sudah menyuruh orang menyelidiki semua detil soal Kim Tae Soo. Banyak wanita
yang tidak tercatat di kasus kita yang hilang. Semuanya pun berhubungan dengan
Kim Tae Soo. Dan semuanya juga sama-sama memiliki masalah soal kecantikan.
Inilah yang kurasa menyebabkan seorang Kim Tae Soo menjadi seperti itu.”
“Menjadi
seperti sekarang ini? Jadi itu ada sebabnya?” Baek Ji penasaran.
“Tentu
saja. Psikopat adalah sebuah penyakit. Lebih tepatnya penyakit jiwa. Dan semua
penyakit tentu ada penyebabnya, bukan?” tanya Won Geun yang langsung dijawab
dengan anggukan kepala oleh kedunya. “Untuk kasus Tae Soo ini, sepertinya dia
terobsesi dengan kecantikan. Ia bermaksud membuat wanita-wanita itu cantik
dengan persepsinya sendiri. Berdasarkan cerita dari saksi utama kasus di
Gyeonggi itu, menjelaskan semuanya. Persepsi Tae Soo, si bocah yang tak pernah
melihat dunia luar, soal kecantikan sangat jauh dari persepsi orang normal.
Kematian dan darah yang ia jadikan acuan untuk membuat seorang wanita menjadi
cantik.”
“Pantas
saja. Tadi Tae Soo dengan santainya berkata, ‘Apakah yang kulakukan salah,
Gyeongchal~nim? Aku hanya membantu mengatasi masalah mereka. Lebih daripada
membunuh, aku sudah menyelamatkan kekhawatiran mereka soal kecantikan mereka
masing-masing.’ Bulu kudukku merinding mendengar bagaimana caranya menjawab.
Seperti jawaban anak SMA saat ditanyai soal matematika anak SD,” tambah Soo
Jin.
“Lalu…
kenapa ia tidak membunuh Han Hyo Kyung? Bukankah wanita itu selama ini
bersamanya?” tanya Baek Ji lagi.
“Ada
beberapa kemungkinan,” jawab Won Geun. “Pertama, karena dia memang mencitai Han
Hyo Kyung, walaupun kemungkinan itu sangat kecil. Kedua, dia ingin menjadikan
Hyo Kyung korban terakhirnya. Dan yang ketiga, Hyo Kyung tak sama dengan
korban-korbannya sebelumnya. Hasil penyelidikan menunjukkan ia tak pernah risau
soal penampilannya.” Baek Ji manggut-manggut dengan penjelasan Won Geun.
“Bukankah
ini sedikit aneh, Hyung?” Soo Jin menimpali.
“Soal
apa?”
“Selama
ini kita sangat kesulitan menangkap Kim Tae Soo. Tapi, tiba-tiba dia membiarkan
pintu apartementnya terbuka lebar. Dan menurut pengakuan office boy itu,
Tae Soo sendiri yang menyuruhnya naik ke apartemenya. Padahal sebelumnya tak
ada orang yang diizinkan masuk ke sana. Seolah dia sengaja ingin dirinya
sendiri tertangkap.”
“Mungkin
saja misinya sudah selesai,” jawab Baek Ji asal. Tapi Won Geun justru setuju
padanya.
“Baek Ji benar. Mungkin Kim Tae Soo punya target tersendiri. Dan
setelah targetnya selesai, tujuan hidupnya pun selesai, bukan?”
“Ah…
begitukah?” Soo Jin manggut-manggut.
“Ketua
tim? Lalu dimana ketua tim, Hyung?” tanya Baek Ji kemudian.
“Ketua
tim masih ada di dalam. Dia menyuruhku keluar duluan,” jawabnya. Mendengar
jawaban itu, tatapan Won Geun beralih ke pintu ruang interogasi. Apa yang
kira-kira masih ditanyakan Woo Young pada Kim Tae Soo. Mungkinkah soal Woo
Hyun?
Tapi yang
ada, di dalam Woo Young hanya diam. Menatap Kim Tae Soo yang duduk santai,
balas menatapnya. Tangannya diborgol, tapi ia bisa dengan leluasa bersikap
sewajarnya. Bersandar ke punggung kursi dengan senyum tipis yang enggan hilang
sejak tadi.
“Ada
lagi yang bisa kujawab, Gyeongchal~nim?” tanya Tae Soo. Mungkin ia mulai jengah
dengan diamnya Woo Young. “Kau tidak ikut pergi dengan temanmu tadi. Pasti ada
yang masih mengganggu fikiranmu, kan?”
“Woo
Hyun!” sentaknya. Awalnya Tae Soo tak paham. Tapi kemudian ia tersenyum lebih
lebar.
“Ah… Woo Hyunnie?” ulangnya. Tak sadar gigi Woo Young sudah gemeletukan
mendengar cara Tae Soo memanggil adiknya. Seolah mereka memang benar-benar
sudah sedekat itu.
Tae
Soo kemudian mencodongkan tubuhnya. “Ada apa dengannya?” tanyanya santai.
Menaruh kedua tangannya ke atas meja.
“Kenapa
kau melibatkannya bersamamu?”
“Aniyo.
Dia tidak bersalah,” jawaban ini membuat Woo Young sedikit tersentak. Dia
berharap demikian. Woo Hyun memang tidak bersalah. Hey! Apa pengakuan Tae Soo
bisa ia jadikan bukti agar Woo Hyun tak mendekam di penjara bersama si brengsek
ini?
“Yang
dia lakukan hanya membereskan pekerjaannku. Semisal menghilangkan jejak dan
sebagainya. Tapi dia tak pernah ikut ambil bagian dari pekerjaanku. Bahkan ia
tak pernah tahu siapa-siapa saja yang akan kujadikan target,” ujarnya santai.
“Lagipula… ia melakukan itu bukan tanpa sebab. Dia ingin menyelamatkan
seseorang.” Raut wajah Woo Young membuatnya tertawa. “Jadi kau belum tahu siapa
yang dilindungi Woo Hyun sampai ia harus menghapus seluruh jejakku, ya?”
tanyanya.
Tak perlu jawaban, memang itulah yang sebenarnya.
“Karena
aku sudah berakhir di sini, kurasa membongkar semuanya pun tak jadi masalah,”
tambah Tae Soo. “Ada satu ruangan yang tidak akan bisa kau masuki jika menaiki
lift biasa. Ada satu lift tersembunyi yang menghubungkan ruanganku, rumahku, dan
satu ruangan yang selalu dikunjungi Woo Hyun ke parkiran. Aku akan memberimu
kuncinya dan kau bisa ke sana. Tak perlu susah payah mencari kamar di lantai
berapa itu. Karena dari lift itu, hanya ada tiga tombol. Satu ke kamarku, satu
ke ruang kerjaku, dan satu lagi ke kamar itu. Pergilah ke sana, dan kau akan
tahu siapa yang sedang dilindungi oleh adikmu itu, Jo Gyeongchal~nim,” jelas
Tae Soo panjang lebar. Seringaiannya terbentuk, senyum separuh yang sangat
khas. Siapa? Siapa yang Woo Hyun coba selamatkan?
***
Tlit….
Tlit… tlit… suara mesin ini
menyambut kedatangan Woo Young dan Won Geun. Won Geun tinggal tepat di bibir
pintu lift. Membiarkan langkah Woo Young pelan bergetar menuju tengah ruangan.
Tepatnya ke sebuah ranjang berbalut sprei putih. Air matanya tumpah melihat
wajah pucat yang sangat ia kenal. “Seok… Seok Ryeong~a…” suaranya bahkan
bergetar. Tangannya tak kuasa, mengambang di atas wajah itu. Dadanya sesak luar
biasa. Lututnya melemas. Ia hampir
jatuh, tapi ditahannya sekuat tenaga.
“Ba,
bagaimana kau… bagaimana kau bisa…. A, apa yang…” suaranya tersendak dengan
isaknya. Ia tak tahan dan akhirnya bruk! Ambruk juga ia ke lantai. Tapi
ranjang itu tak lebih tinggi dari duduknya. Karenanya pun ia masih bisa melihat
dengan jelas bagaimana wajah kekasih yang selama ini ia kira sudah meninggalkan
dunia masih ada di sana. Ini mimpi, ya! Ia berharap ini mimpi. Tapi sayangnya,
saat ia meraih tangan itu, rasanya dingin. Benar-benar dingin. Benarkah
gadisnya masih hidup? Mesin itu tak membohinya kan pasti.
“Apa
yang terjadi?” tanyanya. Ia sadar, Shin Min Hyuk sudah ada di sana. Merasa
dilempari pertanyaan itu, ia mendekat. Berdiri tepat di samping Woo Young yang
menyedihkan. Sebelum menjawab pertanyaan itu, ia mendesah pelan. “Aku
memindahkannya dari rumah sakit.”
“Kenapa
kau lakukan itu?”
“Ini…”
Dokter Shin menelan ludahnya. Tak seharusnya ia bersikap terlalu simpati
sebagai dokter.
“…atas permintaan Jo Woo Hyun,” jawabannya mengiris hati Woo
Young begitu dalamnya. Inikah yang dimaksud Woo Hyun dengan menyelamatkan
seseorang. Dan itu adalah Eun Seok Ryeong? Kekasihnya dan sekaligus calon kakak
ipar Woo Hyun? Woo Young tak ingin percaya, tapi inilah yang terjadi.
Dikumpulkannya
kekuatan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangun. Menghapus air matanya dan
mencoba bersikap tegar. Ia laki-laki, meski sesakit apa, tak sepantasnya ia
selemah ini. Terlebih di hadapan anak buahnya dan juga… kekasihnya.
“Bagaimana
keadaannya?” tanyanya, memberanikan diri menerima kenyataan selanjutnya.
“Tak
ada perubahan,” jawab Dokter Shin. “Sejak pertama kali ia dibawa kemari, sampai
sekarang keadaannya hanya seperti ini. Dia hidup berkat bantuan alat-alat itu.
Atau, lebih tepatnya hanya jantungnya saja yang berdetak. Otaknya sudah mati.
Kalaupun bangun, dia tak akan bisa berbuat apapun. Tapi, hanya nol koma saja
kemungkinannya bisa hidup lagi,” sambungnya. Woo Young tak berkomentar.
Ditelannya lamat-lamat air matanya. Dibendung sekuat tenaga. Tak ada yang perlu
disesali, bukan? Meski dadanya meronta, menyalahkan semua yang terjadi pada
dirinya sendiri. Dia memang salah. Tak ada pikiran sampai sejauh ini, Woo Hyun
akan berbuat semua ini. Hingga semua kejadian-kejadian soal Woo Hyun, tentang
gelang yang masih disimpannya, dan tak ada setetes air mata pun meluncur saat
pemakaman waktu itu, menjelaskan semuanya. Inilah yang dilakukan Woo Hyun
selama ini. Dan apakah Tae Soo yang membantunya?
“Kau
suruhan Kim Tae Soo?” tanyanya dingin. Dokter Shin hanya menunduk. Jawaban
sudah ada pada Kim Tae Soo sendiri. Entah apa mungkin dia akan menerima hukuman
seperti apa. Ia pasrah.
“Seonsaeng~nim!”
panggil Woo Young setelah lama diam. Membuat Min Hyuk kembali mengangkat
kepalanya. “Biarkan dia istirahat dengan damai. Aku tak tahan melihatnya
seperti ini lagi.” Selesai. Itulah pilihan Woo Young. Ada atau tidak tubuh Seok
Ryeong, bukankah gadis ini memang sudah lama mati?
Min
Hyuk menuruti pintanya. Satu per satu alat-alat di tubuh Seok Ryeong ia lepas.
Hingga suara mesin tadi berubah menjadi sebuah tlit…. Yang panjang.
Garis lurus dari layarnya menunjukkan, gadisnya sudah benar-benar pergi.
***
Pintu
terbuka. Mata Ki Jae langsung tertuju pada kakaknya tercinta. Gadis malang itu
terdiam, dengan tatapan kosong menghadap ke luar jendela rumah sakit ini.
Wajahnya sungguh pucat. Bibirnya kering dan beberapa lebam di pipinya akibat
aksinya kemarin masih lekat.
Ki
Jae masuk. Masih belum mengusik diamnya Hyo Kyung. Bunga lily yang ia bawa ia
masukkan ke dalam vas. Mengganti bunga yang sudah layu. Ia mencoba tersenyum. Meski rasanya
sungguh susah.
“Nuna~ya…”
panggilnya pelan. Mengambil kursi dan duduk di samping Hyo Kyung. Gadis itu
masih diam. Bersila tenang tak bergerak sedikit pun. Bahkan kelopak matanya pun
tak berkedip.
“Nuna…” ulang Ki Jae lagi. Kali ini tangannya meraih ubun-ubun
Hyo Kyung. Mengusap-usap rambutnya sayang. Barulah Hyo Kyung sadar dan
memindahkan tatapannya ke Ki Jae. Awalnya ia diam. Tapi begitu senyum Ki Jae
mengembang, matanya mulai mengerjap.
“Ki
Jae~ya…” balasnya.
“Iya,
ini aku. Han Ki Jae, adikmu.”
“Kau…
apa yang kau lakukan di sini?” tatapan Hyo Kyung menghidup. Bahkan raut
khawatirnya terlihat. “Kau tidak pergi ke sekolah?” tanyanya. Sedikit saja,
lega itu menghampiri Ki Jae. Ia mengangguk menjawab pertanyaan itu.
“Aku sudah
pulang. Lihat! Aku masih mengenakan seragamku.”
“Latihanmu?
Kau tidak latihan? Kapan kau akan jadi penyanyi seperti impianmu?”
Hati
Ki Jae mencelos. Bahkan ia masih ingat soal itu. “Em…” Ki Jae mengangguk cepat.
Ia tak tahan, sungguh tak tahan. Air matanya mengalir dengan mudahnya.
“Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan debut dan menjadi penyanyi. Nuna, kita
bisa pindah ke Gangnam Gu dan mencari rumah yang lebih besar. Kau tidak perlu
bekerja lagi. Aku akan menjadi tulang punggung keluarga. Kau tidak perlu
khawatir.”
“Benarkah?”
senyum Hyo Kyung terbentuk. “Kau pasti sangat senang, kan?” tambahnya. Ki Jae
tak bisa menggambarkan betapa bahagianya ia melihat senyuman itu. Tapi, lambat
laun senyuman itu luntur. Menghilang sedikit demi sedikit dan kepala Hyo Kyung
kembali ke luar jendela. Raut hidupnya lenyap.
“Nuna?”
panggilan Ki Jae tak ia dengar. “Nuna?” Ki Jae mulai gusar. Ia hampir meraih
tangan Hyo Kyung, tapi kepala Hyo Kyung sudah lebih dulu menatapnya kembali.
“Nuna…” ia tersenyum. Berharap Hyo Kyung tersenyum seperti tadi. Tapi yang ada
raut datar Hyo Kyung berubah ketakutan. Bahkan ia menjaga jarak dari Ki Jae.
“Nuguseyo?”
tanyanya.
“Nuna?”
“Jangan!
Kumohon jangan! Jangan! Jangan! Jangan!” uluran tangan Ki Jae tak terbalas. Hyo
Kyung mundur ke pojok ruangan. Kepalanya menggeleng cepat. Ia kebingungan
menutupi pandangannya dari Ki Jae. Sedang bibirnya terus berucap, “Jangan!
Jangan! Jangan!”
“Nuna…
Nuna…akh!” kebahagian Ki Jae hanya sepintas. Hyo Kyung tak bisa tersenyum lagi.
Bahkan ia tak mengenali Ki Jae. “Mianhae, Nuna… Jeongmal mianhae… ini semua
salahku… salahku…” ia hanya bisa sesenggukan di antara racauan Hyo Kyung yang
menyedihkan.
***
2
Bulan kemudian…
“Keluar!”
sentak seorang petugas, membukakan jeruju besi. Kepala Tae Soo terangkat. Menatapnya
dengan tatapan datar. “Ada yang mengunjungimu,” tambah petugas itu lagi. Tae
Soo tak banyak berkomentar. Patuh, ia berdiri. Keluar dengan langkah seadanya.
Menuju ruangan yang terhubung dengan ruangan sebelahnya. Hanya dibatasi
didnding kaca dengan lubang-lubang kecil. Ada seorang wanita di sebelah sana.
Ia
duduk. Menunggu sampai wanita itu berbalik. Ah! Wanita yang waktu itu ia lihat
di lobi di galerinya. “Nuguseyo?” tanyanya, seolah memang tak pernah
melihatnya. Padahal jelas ia pernah melihatnya.
“Benar
kau tak mengenalku?” tanyanya.
“Ah…
Anda yang di lobi waktu itu, kan? Sekarang aku ingat.” Bahkan tak ada raut
seolah baru mengingat sesuatu di wajah itu. Hanya datar saja. Meski senyum
separuhnya terbentuk, tapi tak ada ekspresi apapun di sana. “Ada perlu apa Anda
mengunjungiku?” tanyanya. “Oh! Maaf… biar kuganti pertanyaanku. Bagaimana Anda
bisa tahu aku ada di sini? Apa Anda mengenalku?”
Wanita
ini tak merespon. Tae Soo pun tak ingin berkata banyak. Ditunggunya, detik demi
detik. Wanita ini sama sekali tak angkat suara. “Eommonim, apa kau tidak punya
waktu? Kenapa diam saja jika ingin mengunjungiku?” tak ada respon. Tae Soo
sebenarnya tak masalah. Menunggu lebih lama, tak apa. Hanya saja, ia masih
belum sempat menyelidiki wanita ini. Ingat, dia merasa pernah melihat orang ini
jauh sebelum bertemu dengannya di lobi waktu itu.
“Koma[2]~ya…”
lirih wanita ini akhirnya. Tae Soo mendelik. Pasalnya hanya satu orang yang
memanggilnya seperti itu. Ditatapnya lagi wanita ini lebih rinci. Benarkah?
Benarkah ia… “Benar. Ini aku. Koma~ya…” ia membenarkan pikiran Tae Soo.
Terlihat jelas bagaimana perubah di wajah itu. Baru jelas sekarang, wajah ini
memang wajah yang ia kenal. Yang ia tinggalkan sendiri di antara mayat-mayat di
rumah itu. Yang membawainya makanan tiap gelap menyapanya di ruangan. Yang
mengajarinya apa arti cantik sesungguhnya.
“Hahaha…
kau… selama ini kau kemana saja?” pertanyaan Tae Soo terabaikan. Rasa kasihan
memenuhi dada wanita ini. “Aku mencarimu kemana-mana. Tapi yang kutemukan hanya
wanita yang mirip denganmu. Kau tahu dia…. Atau…. Jangan-jangan Han Hyo Kyung
adalah…”
“Ya.
Hyo Kyung adalah anakku.”
“Ah….
Ternyata seperti itu. Pantas dia mirip sekali denganmu.”
“Lalu…
kenapa kau tidak membunuhnya seperti yang lain?”
Tae
Soo mencodongkan tubuhnya. Kedua tangannya ia lipat di atas meja yang terhubung
dengan meja di depan wanita ini. “Kau… pasti belum tahu, kan? Kenapa aku
membiarkanmu hidup waktu itu?” tanyanya santai. Senyum separuhnya lebih terasa
sekarang.
“Benar. Kenapa kau membiarkanku hidup waktu itu?”
“Karena
aku berterima kasih tentu saja,” jawab Tae Soo cepat. Kembali ia menyandarkan
tubuhnya ke punggung kursi. “Kau yang selama itu mengurusku. Tak ada orang lain
yang lebih peduli terhadapku kecuali kau. Aku juga manusia yang masih paham dengan
cara berterima kasih yang
benar.”
“Seharusnya
kau membunuhku waktu itu. Aku sama sekali tidak merasa lebih baik karena kau
biarkan hidup.”
“Aku
belum selesai bicara,” sergap Tae Soo. Membuat wanita itu diam. “Ada hadiah
yang ingin kuberikan padamu. Kau… kaulah goresanku yang terakhir itu. Kau tidak
tahu, kan?” ujarnya. Posisinya benar-benar santai. Bahkan tangannya sudah
beralih, terlipat di depan dada. “Kau yang mengajariku apa arti cantik
sesungguhnya. Tunggulah. Aku akan memberikan kecantikan paling hebat untukmu.”
Gret… wanita ini mengepal kuat dompet di pangkuannya.
Tatapan Tae Soo berhasil menyulut ketakutannya. “Kau… kau akan menerima hukuman
mati atas kelakuanmu. Kau tidak akan bisa…”
“Ani!
Aku akan keluar dari sini. Kau harus siap menungguku,” potong Tae Soo. Nafas
wanita itu tercekat. Senyuman malaikat Tae Soo tak menenangkan sama sekali.
Justru membuatnya makin terintimidasi begitu hebatnya.
“Tunggulah!
Kau adalah goresan terakhirku yang sesungguhnya!”
***
“Aku
akan melihat-lihat sebentar sebelum pulang.” Malam yang gelap. Dua petugas
belum pulang. Satunya memilih keluar. Menghisap rokok di antara udara dingin
yang menusuk begitu tajamnya. Sedang satu lagi kembali ke dalam. Niatnya
mengecek keadaan sel sebentar. Tapi, satu sel membelalakkan matanya.
“Ke,
kenapa? Sel itu bisa…” kakinya langsung berlari. Sel yang ia lihat terbuka
lebar dan sudah tak ada siapapun di sana. “Choi Sunbaenim! Choi Sunbaenim!”
teriaknya. Petugas yang di luar mendengar suaranya. Dengan sergap ia buru-buru
masuk. Menyusul petugas yang ada di dalam itu.
“Wae?
Wae? Wae geurae?!” tanyanya begitu sampai.
“Kau
lihat ini? Kenapa sel ini bisa terbuka?”
“Tunggu!
Siapa yang ada di sini?” tatapan keduanya bertemu. Sepertinya mereka ingat
siapa yang ada di sel ini sebelumnya.
“Kim
Tae Soo!”
END
No comments:
Post a Comment