Tuesday, January 14, 2020

Jangan Marah


“Kamu ni bikin aku kesel, deh! Udah ah! Aku marah sama kamu!” sentak Febriel pada Ega. Entah karena apa temannya ini marah padanya dengan tiba-tiba.

“Yah, yah! Bil, jangan marah, dong. Kan aku cuma bercanda,” pinta Ega. Ia benar-benar tak bisa bila ada teman ceweknya yang marah dengannya.


“Bodo! Pokoknya Ebil marah sama Bang Ega!” sentak Febriel lagi kemudian pergi meninggalkan Ega sendirian di bangkunya. Ega tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin bercandanya kelewat batas. Atau mungkin memang Febriel yang menanggapinya berlebihan. Ah! Entahlah! Ega memang paling sulit jika harus dihadapkan oleh cewek yang marah. Ia tak akan mungkin mengejar Febriel. Alhasil, ia memilih diam di bangkunya.

Hingga perkuliahan berlangsung, ia terus saja memikirkan Febriel. Dicueki oleh teman satu kelompok sendiri benar-benar tak nyaman. Apalagi itu adalah seorang cewek. Ah! Benar-benar menyebalkan! Ia harus menanyakannya pada Ulfa, teman sekelasnya juga yang menurutnya sudah membuatnya berada di posisi ini.

“Mi!” panggilnya ketika Ulfa baru saja akan keluar dari kelas.

“Apaan, Ris?” jawab Ulfa mendekati Ega. Ya, hanya Ulfa yang memanggilnya dengan sebutan Karis, dan Ega pun memanggilnya dengan sebutan Mia, nama tengah Ulfa.

“Aku pengen nanya sesuatu sama kamu,” jawab Ega memasang wajah seriusnya. Tapi menurut Ulfa, itu adalah wajah paling lucu sedunia. Ia hampir tertawa jika Ega tak mengatakan bahwa ia tengah serius sekarang.

“Oke, oke. Ada apa Kharisma Ega Julianza?” tanya Ulfa menyembunyikan tawanya.

“Kamu ngomong ke Febriel ya kalau dia ada yang ngikutin itu dari aku?” tanya Ega seolah marah. Nah, Ulfa malah pasang wajah cemberutnya. Salah?

“Loh, kok kamu jadi marah sama aku, sih? Lah, itu kan emang bener kata kamu, kan?” balas Ulfa dengan nada tinggi.

“Ya iya, sih. Tapi ya enggak diomongin ke dia juga kali, Mi. Itu kan rahasia,” tanggap Ega sepertinya cukup kesal pada Ulfa.

“Iya, deh, maaf. Aku kan enggak tahu kalau itu rahasia,” jawab Ulfa dengan entengnya. Tapi kelihatannya Ega masih kesal pada Ulfa. Ulfa yang melihat wajah kekesalan Ega malah ikut-ikutan kesal. “Aku ni udah minta maaf lo! Enggak mau maafin ya udah!” sentak Ulfa kesal. Ia hampir saja pergi kalau Ega tak menarik tangannya.

“Yah, kenapa jadi kamu yang marah, sih?” rajuk Ega merasa tak enak.

“Ya, iyalah! Kamunya aja pasang tampang sepet gitu!” Ulfa tak mau kalah.

“Iya, deh maaf. Tapi jangan omongin ke siapa-siapa lagi dong soal itu.”

“Iya, iya!” sret! Hampir saja Ulfa pergi lagi.

“Ya jangan marah, dong!” pinta Ega lagi-lagi.

“Marah lah! Wek!” Ulfa senang sekali meledeknya.

“Mi, plis, Mi! Aku ni enggak bisa kalau ada temen cewek yang marah sama aku.”

 “Bodo! Aku marah!” Ulfa bermaksud bercanda. Tapi melihat tampang Ega yang benar-benar melas, akhirnya ia sadar kalau Ega serius.

“Emang kenapa sih, Ris? Kok kamu enggak bisa kalau ada temen cewek yang marah sama kamu?” tanya Ulfa penasaran. Ega cuma menghela nafasnya. Ia tak mungkin cerita. Lagipula, jika ia cerita belum tentu juga Ulfa akan mengerti.

“Ya, enggak bisa aja deh, pokoknya,” jawabnya seadanya. Dengan tampang lusuh dan lemas, ia memilih pergi. Meninggalkan Ulfa yang masih melongo bingung dengan sikapnya. Tak biasanya seorang Ega yang lincah, bahkan kelewat hyperactive itu terlihat murung. Ia ingin menanyakannya, tapi ia terlanjur tak enak hati. Alhasil, dibiarkannya sendiri Ega yang kembali ke tempat duduknya. Diam merenung sambil menjadikan handphonenya sebagai alibi dari kesedihannya.

***

“Kamu kasih nomer aku ke siapa?” tanya Olivia adik kelas Ega dulu di kelas delapan. Ega yang tiba-tiba didatangi dengan pertanyaan yang singkat namun begitu dingin itu tentu saja terkejut. Ia tak pernah merasa pernah memberikan nomer Olivia kepada siapapun.

“Enggak ke siapa-siapa tuh, Liv,” jawab Ega jujur. Tapi sepertinya Olivia tidak percaya.

“Alah, enggak usah bohong, deh!” sentak Olivia makin marah. Tapi Ega jelas tak pernah memberikan nomor adik kelas yang mulai ia sukai ini sejak bertemu gara-gara kelas yang diacak saat ulangan semester lalu. Olivia duduk di belakangnya, dan dengan mudahnya ia mendapatkan nomornya. Tapi sekarang? Setelah sekian lamanya ia sering sms-an dengan cewek ini, ia tak pernah melihat Olivia semarah ini. Seolah ia hampir saja akan memakan Ega hidup-hidup.

“Suer! Aku enggak pernah kasih nomermu ke siapa-siapa!” Ega mencoba meyakinkan.

“Terus Andre, Andre itu siapa?” Olivia makin mendesak. Ega diam. Mencoba mengingat-ingat, adakah temannya yang bernama Andre?

“Andre siapa?” Ega balik bertanya. Jelas ia butuh penjelasannya. Pasalnya, rasanya ia tak pernah punya teman bernama Andre.

“Andre, anak kelas C!” jelas Olivia pada akhirnya. Ah, Ega ingat sudah. Waktu itu ia sempat pamer pada Andre, teman sekaligus adik kelasnya. Ega tahu Andre juga menyukai Olivia. Waktu itu ia bermaksud pamer pada Andre bahwa ia sudah selangkah lebih maju mendekati Olivia dengan mendapatkan nomornya. Tapi ia tak tahu kalau Andre sampai mengambil nomor Olivia secara diam-diam dari handphonenya.

“Sumpah, Liv! Aku enggak pernah kasih nomer kamu ke dia. Dia kali yang ngambil nomermu di hpku,” Ega mencoba membela dirinya. Tapi nyatanya, Olivia benar-benar tak mau mendengarnya lagi.

“Aku enggak nyangka, ya? Kamu bilang kamu enggak bakal ngasih nomerku ke siapa-siapa. Tapi kamu bohong!” umpat Olivia kesal. Begitu saja ditinggalkannya Ega. Sedangkan Ega hanya bisa terdiam. Merasa bersalah karena tak pernah melihat Olivia semarah itu.

Selang beberapa hari, Ega semakin sulit menghubungi Olivia. Ia berkali-kali sempat melihat Olivia lewat. Namun, ia tak pernah sempat mendekatinya, lantaran Olivia sendirilah yang menghindarinya. Tapi selama itu pula rasa suka Ega makin menjadi. Ia tak ada pilihan lain. Hingga suatu malam ia bermaksud menghubungi Olivia.

Berkali-kali Ega mencoba  menelfonnya. Tapi tak ada respon. Hingga sekitar ke lima belas kali, barulah Olivia merespon. Mungkin karena bosan, Olivia memilih untuk mengangkat panggilan itu.

“Kenapa?” bahkan pertanyaan Olivia begitu ketus.

“Liv, kamu masih marah ya sama aku?” tanya Ega benar-benar tak enak. Tapi Olivia hanya diam saja. Tak ada respon. Mau tak mau, Ega mengutarakan apa saja yang ada dalam hatinya. Ia katakan sejujurnya bahwa ia sudah lama menyukainya. Ia ingin Olivia menjadi pacarnya, terlepas dari kemarahan Olivia soal nomor itu. Tapi, seolah disambar petir, hati Ega retak dan mungkin hancur berkeping-keping.

“Maaf, aku enggak bisa,” hanya itu jawaban yang ia dapat. Dan telfon diputus secara sepihak oleh Olivia. Ega termangu cukup lama. Mungkin jika tak ingat bahwa ia adalah lelaki, air matanya bisa saja meleleh. Tapi, Ega tak lantas melakukannya. Ia tahu, masih ada kesempatan. Mungkin jika ia menyatakannya di depan umum, Olivia mau menerimanya. Jadilah keesokannya ia bermaksud menembak Olivia untuk kedua kalinya.

Sampai di sekolah, Ega sempat melihat mimbar yang biasanya dipakai pemandu senam setiap jum’at pagi di sekolahnya. Sempat terlintas di pikirannya, menyatakan perasaannya di sini dan dilihat semua orang. Tapi sepertinya akan terlihat begitu gila. Ia urungkan niatnya.
Jam istirahat pertama, Ega bergegas ke kelas Olivia. Begitu melihat Olivia yang keluar dari kelasnya, ia segera menariknya ke belakang kelas.

“Ngapain, sih?!” Olivia membanting tangan Ega dari tangannya. Wajahnya, asli kesel banget! Tapi Ega tak lantas ciut. Ia benar-benar bulat akan menyatakan perasaannya lagi kali ini.

“Serius, Liv. Aku beneran cinta sama kamu. Kamu mau ya jadi pacar aku?” pinta Ega seraya berlutut di depan Olivia. Meskipun di belakang kelas, ada banyak orang yang melihat adegan itu. Semburat merah tampak di kedua pipi Olivia. Ia merasa dipermalukan, bukannya merasa itu romantis.

“Aku enggak bisa, maaf!” sentaknya. Kemudian ia pergi, lagi-lagi meninggalkan Ega sendirian dalam posisi berlututnya itu. Perih, mungkin itu yang dirasakan Ega saat itu. Tapi entah kenapa, Ega masih enggan untuk keluar dari pilihannya. Olivia, ia masih berpikir untuk mendapatkannya.

Satu minggu berlalu, Ega benar-benar putus asa. Ia kehabisan akal, bagaimana caranya lagi ia bisa membuat Olivia menerimanya. Hingga suatu hari ia melihat kotak kalung di atas televisi. Itu milik tantenya. Digamitnya kotak itu, dan barulah idenya muncul.

Nekad, ia pergi ke pasar yang cukup jauh dari rumahnya. Tanpa sepengetahuan ayahnya, ia bawa kabur motor yang ada di rumah. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Sesampainya di sana, Ega mendatangi toko aksesoris. Satu benda yang ia lihat, sepasang kalung couple berbentuk hati yang terbelah dua. Ia tersenyum, berfikir mungkin cara ini akan berhasil. Dengan uang tiga puluh rupiah, ia pulang membawa kalung itu. Dengan perasaan penuh harap, bahwa caranya kali ini pasti akan berhasil. Meski hujan mengguyur tubuhnya waktu itu, dan ketika ia pulang pun ia sempat menerima semprotan dari ayahnya karena membawa kabur motor begitu saja, ia tetap tak peduli.

Sebuah kertas foto ia lipat sedemikian rapihnya untuk membungkus bagian luar kotak kalung milik tantenya itu. Ia masukkan sebelah kalung yang ia beli tadi. Ia selipkan sepucuk surat cinta untuk Olivia, dan terakhir, ia bungkus kotak itu dengan  kertas kado. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Seratus persen ia yakin, caranya pasti berhasil. Ia rela begadang hanya untuk membuat sekotak perhiasan sederhana itu.

Ketika ayam mulai berkokok esok harinya, Ega langsung stay di depan kelas Olivia. Tapi Olivia sama sekali tak mau keluar menemuinya. Dara teman satu bangkunya yang dijadikan Ega pusat bantuan.

“Tolong lah, Ra. Bantuin gua, ya?” pinta Ega.

“Heh! Ya ampun, Kak. Oke, deh! Mana?” akhirnya Dara luluh juga. Apalagi melihat tampang Ega yang asli melas banget! Bukannya merasa kasihan, tapi karena tampangnya menyebalkan untuk tetap ditatap, lebih baik menerima permintaan tolongnya.

Setelah mengambil kotak tadi, Dara kembali masuk ke dalam kelas. Ega mengintip dari jendela. Dilihatnya Olivia berdebat sekilas dengan Dara. Ia tetap kekeh tak mau menerima apa yang dititipkan Ega pada Dara. Kelihatan cukup kesal, akhirnya Dara keluar lagi.

“Gimana?” tanya Ega.

Dara malah mengangkat bahunya. “Enggak mau,” jawabnya singkat.

“Ya udah, deh! Tarok aja di tasnya!” ucap Ega frustasi. Diacaknya rambutnya kesal. Tak ingin mengintip lagi dari jendela, Ega memilih pergi. Urusan Olivia mau menerimanya atau tidak, belakangan saja. Paling tidak, Olivia membaca surat yang sudah ia selipkan di sana. Surat yang bertuliskan bagaimana ia benar-benar menyukai Olivia dan bagaimana ia benar-benar tak tahu soal Andre yang mendapatkan nomornya begitu saja. Siapa tahu Olivia bisa luluh dan menerimanya.

Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba esok paginya, Ega mendapati Olivia menyeret Dara untuk masuk ke kelasnya. Ia tak peduli kakak-kakak kelasnya –teman-teman Ega—melihatnya sinis. Ia mengembalikan kotak itu pada Ega.

Ditatapnya kotak itu cukup lama. Ega tak mendapati bekas dibukanya kotak itu. Apakah itu artinya Olivia sama sekali tak menyentuh kotak itu?

“Ini maksudnya apa, Liv?” tanya Ega memastikan. Didongaknya kepalanya saking ia tak kuasanya berdiri. Kakinya lemas, lantaran ia sebenarnya sudah tahu apa yang akan dikatakan Olivia setelah ini.

“Maaf, Kak. Aku enggak bisa terima ini. Kakak kasih aja ke yang lain, yang lebih baik dari aku,” jelas Olivia.

Ega beralih ke arah Dara. Ekspresi sedih dan perasaan bersalah diberikan Dara pada kakak kelasnya itu. Tapi Ega pun  tak bisa menyalahkan Dara. Dara sudah membantunya. Bukankah masalah diterima atau tidaknya itu adalah urusan Olivia? Meski tak bisa ia pungkiri ia benar-benar sakit hati atas penolakan untuk ketiga kalinya itu.

Olivia menarik Dara keluar dari kelas itu. Menyisakan Ega yang meraba kotak itu dengan tangan bergetar. Tak bisa lagi ia hindari, sebulir air mata mengalir jua melewati pipinya.

***

“Woy, Ga!” hampir saja Ega terjungkal saking kagetnya. Pandu dengan seenak jidatnya menggebrak meja yang ia tempati sekarang. Hampir saja ia ketiduran.

“Apaan sih, Ndu?!” tanya Ega kesal. Pandu malah ketawa ngakak seperti tak punya dosa.

“Bangun lah! Katanya mau tidur? Haha!” Pandu malah makin kepingkal. Ega cuma bisa menggaruk kepalanya.

“Pulang, yok!” ajak Pandu. Ega tak lantas menjawabnya. Ia sempat melihat ke sekeliling kelas. 
Hanya ada beberapa orang saja. “Enggak ada dosen?” tanyanya pada sang ketua kelas.
Pandu hanya mengangguk. Kemudian keluar dari kelas itu. Ega masih diam. Di kursi yang tak jauh darinya, ia melihat Febriel masih berbincang-bincang dengan Irma.

Ia pun bangkit. Bermaksud menanyakan, apakah Febriel masih marah padanya atau tidak. Ia benar-benar terauma, kejadian Olivia terulang kembali. Bahkan, sampai sekarang Ega sama sekali tak bisa menghubungi Olivia. Entah kemana cewek satu itu. Ia tak ingin kehilangan temannya lagi.

Sebelumnya       Selanjutnya

No comments:

Post a Comment