Tuesday, January 14, 2020

Jangan Bergerak!


Perpustakaan sudah mulai ramai. Padahal, niat awal Yun Tae Yong kemari untuk tidur. Semalaman dia bekerja paruh waktu. Pulangnya pun dia harus mengurusi tugas sekolah yang berjibun. Sampai-sampai dia tak punya cukup banyak waktu tidur. Dipikirnya, perpustakaan adalah tempat yang cukup nyaman dan tenang. Tapi, melihat banyak orang di sini, rasanya lebih baik kalau dia kembali ke kelas.


Baru dua langkah keluar dari sana, dia berbalik lagi. Sempat tadi ia melihat Kwon Song Yi dari kejauhan mulai mendekat ke sana. Daripada ketangkap, dia berbalik lagi. Sayangnya, Song Yi sudah melihatnya. Tak akan dibiarkannya Tae Yong menghindarinya. Ia pun berlari, dan berhasil menghadang langkah Tae Yong. “Mau kemana kau?” tanyanya ketus. Tae Yong tersenyum kikuk. Mau bagaimana lagi? Menghindar pun tak ada gunanya.

“Wae?” tanyanya sok polos. Tentu saja Song Yi langsung mengembungkan kedua pipinya. Pasalnya, beberapa hari ini Tae Yong yang memang tak sekelas dengannya itu selalu saja menghindarinya. Beberapa hari ini pula Ki Jae tak pernah masuk sekolah. Ponselnya mati, dan rumahnya pun kosong. Satu-satunya orang yang bisa ditanyai soal Ki Jae tentu hanya Tae Yong. Selama itu Song Yi mencoba menemuinya, dan baru sekarang ia berhasil. Tapi bocah ini malah berpura-pura tak ada yang terjadi.

“Beritahu aku, dimana Han Ki Jae sekarang?” pintanya. Tae Yong berhenti tersenyum. Sebaliknya, ia menghela nafas panjang. Dia maklum kalau Song Yi mengkhawatirkannya. Hanya saja, dia sendiri pun tak tahu dimana Ki Jae sekarang. “Aku tidak tahu. Kenapa kau bertanya padaku?” balasnya.

“Lalu aku harus bertanya pada siapa lagi? Bukankah kau ini sahabatnya? Bagaimana mungkin kau tidak tahu dimana dia?” rutuk Song Yi sebal. Sekali lagi, Tae Yong menghela nafasnya.

“Song Yi, sebaiknya kau berhenti,” ujar Tae Yong, lain dari jawaban yang diinginkan Song Yi.

“Mwo?”

“Kurasa… kau benar-benar harus berhenti menyukai Han Ki Jae.” Song Yi tersentak. Semburat merah mewarnai pipinya. Dia tak pernah bicara langsung soal perasaannya pada Ki Jae ke Tae Yong. Ia sendiri tak yakin kalau orang ini memang tahu bagaimana perasaannya sebenarnya. Lebih dari hal itu, untuk apa pula Tae Yong membicarakan hal ini? Bukankah pertanyaannya barusan bukan soal perasaannya?

“Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Aku bertanya soal Ki Jae! Kenapa kau mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal?”

“Aku, bahkan seluruh orang di sekolah ini tahu bagaimana perasaanmu pada Ki Jae. Sudahlah! Kau tak perlu menghindarinya,” tambah Tae Yong, sukses membuat rona merah tadi menyebar ke wajah Song Yi. Dia salah tingkah. Kacak pinggangnya tak bertahan lama. Gestur-gestur grogi plus gugupnya yang mulai bermunculan.

“Apa-apaan kau ini? Siapa yang menyukai Han Ki Jae?! Lagipula, kenapa kau menyuruhku untuk berhenti? Apa hakmu melarangku?!”

“Han Ki Jae juga menyukaimu.” Deg! Song Yi langsung terdiam mendengarnya. Untuk yang satu ini, ia benar-benar terkejut. Sekaligus dia sendiri mulai senang. “Hanya saja… kurasa dia tak akan pernah menerima perasaanmu. Dia sudah berusaha agar kau tak mendekatinya. Percayalah…perasaanmu itu hanya menjadi beban untuknya.” Rasa senang tadi hilang seketika. Ia tak serta merta menerima pernyataan itu. Beban? Bagaimana bisa? Song Yi sedikit tak bisa menerimanya. Daripada hal itu, ia sendiri belum mengatakan ya kalau dia menyukai Ki Jae pada Tae Yong, kan? Mempercayai Ki Jae juga menyukainya juga rasanya harus ia tunda dulu. Lebih baik, ia menghindar dulu.

“Huh! Kenapa kau menyebalkan sekali sih, Yun Tae Yong?!” rutuknya, kemudian pergi. Ia lupa, perihal pertanyaannya tentang keberadaan Ki Jae. Meninggalkan Tae Yong yang untuk ketiga kalinya menghela nafas. Menatap ponselnya sendiri dan menampilkan fotonya bersama Ki Jae. “Bukan Song Yi saja yang khawatir. Aku juga hampir mati cemas mencarimu kemana-mana. Sebenarnya kau ini kemana, Ki jae?” gumamnya pelan.

***

Orang yang sudah membuat Song Yi dan Tae Yong khawatir itu sekarang baru saja membuka kelopak matanya. Menatap atap putih yang nampak asing baginya. Yang dirasanya adalah kepala sakit luar biasa. Tubuhnya terasa lemas. Dan ada sesuatu yang menusuk-nusuk tulangnya. Sekujur tubuhnya sakit, dan ia kesulitan mencari tahu dimana keberadaannya sekarang.

Selain atap, yang ia lihat lainnya adalah kantung infuse. Diturutnya selang itu sampai terhubung dengan pergelangan tangan kirinya. Ada seseorang yang meletakkan kepalanya di dekat tangannya itu. Siapa itu? Ia tak tahu. Hanya saja, sekarang ia tahu. Dia berada di rumah sakit.

“Kenapa aku bisa ada di sini?” ujarnya tanpa sadar membangunkan orang itu. Ah, ternyata itu adalah Do Baek Ji. Wajahnya nampak kucel, sedikit terkejut melihat Ki Jae yang sudah sadar. “Kau sudah bangun?” sapanya dengan suara khas orang baru bangun tidur. Walaupun baru bangun tidur, wajahnya kelihatan sangat lemah. Mungkin ia menunggui Ki Jae semalaman penuh. “Apa yang kau rasakan? Apa aku harus memanggilkanmu dokter?” lanjutnya.

“Aniyo. Gwaenchanayo,” tolak Ki Jae pelan sambil beringsut duduk. Baek Ji membantu dengan meletakkan bantalnya secara vertikal. Sebaliknya, wajahnya menunjukkan ada yang tidak beres di pikirnya. Tak perlu perintah, terang saja Baek Ji tertarik. “Wae?” tanyanya heran. Ki Jae tak langsung menjawabnya. Tatapannya redup. Mungkin ia mengingat apa yang terjadi sebelum dia ke kantor polisi kemarin.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu kemarin? Kenapa kau datang dengan baju basah kuyup penuh keringat begitu? Kau salah tempat kan kalau sakit? Seharusnya kau kemari, bukan malah ke kantor polisi,” sambung Baek Ji, gerah karena Ki Jae tak segera mengutarakan kecamuk batinnya. Ki Jae sendiri memang mendengar hal itu. Dia maklum, dia memang menyusahkan pihak kepolisian. Bukan apa-apa. Hanya saja, apa yang ia lihat kemarin membuatnya harus datang ke sana.

Pelan, Ki Jae kembali memohon, “Tolong selamatkan, Nunaku.” Tangannya gemetar, meremas selimut rumah sakit pelan. Baek Ji memilih diam. Ia yakin, tanpa ditanya, Ki Jae pasti akan menceritakan apa yang terjadi padanya.

Ya, dan dengan nada benci yang ia tahan-tahan, ia menceritakan secara detil kepada Baek Ji. Bahwa ia melihat Hyo Kyung kemarin, setelah pulang dari tempat latihan, dan dia melihat kakaknya itu seperti robot. Mengikuti gandengan tangan Kim Tae Soo. Persis seperti anjing peliharaan yang tanpa berkomentar menurut pada majikannya. Hyo Kyung sendiri tak banyak bertingkah. Tak ada tanda-tanda kehidupan di matanya. Bibirnya dicium Tae Soo, dan dengan halusnya pria itu menyuruhnya masuk. Tanpa komentar, tanpa gerakan anggukan kepala atau reaksi lainnya, dengan sangat menurutnya Hyo Kyung masuk ke dalam mobil. Bodohnya, Ki Jae tak mencegahnya. Hatinya sakit, tapi kakinya tak bisa diajak kompromi. Ia terpaku dan melemas. Hatinya mencelos sungguh hebat melihat keadaan kakaknya yang jauh dari kata normal. Ia sempat tahu soal Min Soo Min yang adalah sekretaris di tempat Tae Soo. Dia hanya takut, takut apa yang terjadi pada Min Soo Min terjadi pada Han Hyo Kyung. Walaupun Hyo Kyung sendiri mengatakan dia sendiri tak apa-apa. Tapi, siapa yang akan percaya jika keadaannya seperti orang yang kehilangan akal seperti itu?

“Kumohon… aku tak tahu harus kemana lagi mencari pertolongan,” pinta Ki Jae lagi. Lebih memelas nadanya dari pintanya yang pertama. Sebagai tanggapan, Baek Ji hanya mampu mendesah pelan. Apa yang bisa dilakukannya? Mereka pun tengah menyelidiki Kim Tae Soo. Tak banyak bukti yang bisa menyudutkannya sebagai tersangka. Itu yang sedang diusahakan. Lagipula, jika tak ada pengakuan dari Hyo Kyung sendiri, itu pun tak ada artinya. Keterangan Ki Jae saja belum cukup untuk memberatkan orang itu.

“Kami juga sedang menyelidikinya. Aku tak bisa mengatakan iya, tapi kami akan berusaha melindungi Han Hyo Kyung. Kau bilang kau akan debut dan mengambil kembali kakakmu dari Kim Tae Soo itu, kan? Tak sepantasnya kau menjadi cengeng seperti ini. Kau itu laki-laki. Jangan cengeng!” sentak Baek Ji pelan. Senyumnya muncul, mencoba menguatkan bocah itu. Meski ia sendiri tahu, tak akan ada pengaruhnya.

“Ki Jae, kau pernah bertemu dengan Tae Soo beberapa kali, kan?” tanya Baek Ji kemudian. Ki Jae mengangguk. “Apa kau… tidak berpikir ada sesuatu yang mencurigakan darinya?” tambahnya. Ia berpikir, mungkin info sekecil apapun dari Ki Jae bisa membantu penyelidikan.

Ki Jae nampak berpikir. Ada sesuatu yang dipikirkannya, tapi sedikit lupa. “Itu…” ia kelihatan kesulitan mengingatnya. Di bayangannya, seorang Kim Tae Soo memang terlalu ramah untuk menjadi penjahat. Atau dia tak perlu kecurigaannya pada Kim Tae Soo secara langsung. Mungkin dari benda lain. Tunggu! Lukisannya!

“Ne. Aku teringat sesuatu. Lukisannya sedikit aneh.”

“Lukisan?”

“Ne. Di salah satu lukisannya, aku melihat ada lukisan wanita yang kelihatan kesakitan.” Oke! Baek Ji tambah tak mengerti dengan kata-kata bocah ini. Apalagi setelahnya Ki Jae malah mencari tasnya. Tak jauh, Baek Ji meletakkannya di dekat meja. “Apa yang mau kau cari?” tanyanya seraya memberikan tas itu pada Ki Jae. Ki Jae belum menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya. Mencari-cari sesuatu di internet. Salah satu lukisan Tae Soo yang ia sodorkan pada Baek Ji. Wah, memang benar orang itu terkenal. Bahkan, lukisannya saja banyak di internet.

“Ini lukisan Kim Tae Soo?” tanya Baek Ji. Ki Jae mengangguk cepat. Berharap, tatapan Baek Ji yang nampak teliti di lukisan itu bisa membuat polisi ini sedikit paham apa yang dimaksudkannya. Tapi, lama sekali Baek Ji menatap gambar itu, tak ada reaksi. Dia malah mengangkat kepalanya, menatap Ki Jae dengan alis yang terangkat sebelah. “Mwoya ige[1]?”

“Coba Anda lihat di sebelah sini,” ujar Ki Jae. Itu hanya gambar abstrak, yang jika dilihat hanya campuran warna yang tidak jelas. Atas bantuan telunjuk Ki Jae yang menunjuk dominan warna merah di sana, serta tangan Ki Jae yang mencoba memperbesar ukurannya, membuat Baek Ji menemukan sosok wanita yang dimaksud Ki Jae tadi. Lukisan di dalam lukisan. Seperti itulah kira-kira. Seperti lukisan Mona Lisa yang ternyata ada wanita lain di dalamnya, dan lukisan abstrak ini menampakkan wajah wanita yang tak begitu jelas. Dengan wajah mengerikan, dan mulut terbuka. Persis seperti gambar-gambar penghuni neraka yang sedang berteriak kesakitan. Baek Ji menggaruk kepalanya. Sedikit heran juga, bocah ini bisa menemukan detail yang sangat sulit ditemukan itu. 

“Yah… karena kau bilang begitu, memang seperti wanita, sih,” dia sendiri masih ragu.

“Tak ada lagi?” Baek Ji masih mengharap info lain. Sayangnya, Ki Jae menggeleng lemah. Yah… ia tak bisa memaksa bocah ini, kan?

“Kau sudah sadar?” tiba-tiba suara lain terdengar. Soo Jin yang datang. Ki Jae mengangguk demi menjawab pertanyaan. Ia sedikit senang, ada yang memperhatikannya. Meski mereka bukan siapa-siapanya.

Soo Jin lalu mengode Baek Ji untuk keluar dari sana. Ki Jae paham. Itu pasti soal penyelidikan. Tapi, mereka hanya mengobrol di depan pintu. Membuat Ki Jae melihat bagaimana ekspresi Baek Ji mendengar bisikan dari Soo Jin. Lelaki itu nampak terkejut. Ada apa? Meski Ki Jae penasaran, tentu saja ia tak akan bertanya. “Ki Jae~ya!” panggilan Baek Ji membuatnya terpengarah. “Aku harus pergi. Tak masalah kan kalau kau kutinggal sendirian?” tanyanya. Kepala Ki Jae mengangguk. 
Setelahnya, Baek Ji benar-benar pergi. Secepat mungkin dia berlari. Pasti ada kasus baru? Hah… Ki Jae mendesah pelan. Hatinya nelangsa. Memikirkan nasib kakaknya. Kenapa dengan bodohnya ia tak bisa membawanya pergi dari laki-laki itu? Dia menyesali kedunguannya sendiri.

Tanpa disadarinya, ada seseorang yang menggantikan tempat Soo Jin dan Baek Ji tadi di depan pintu. Seorang wanita tua. Lebih tepatnya, wanita itu adalah wanita yang ditemui Won Geun dan Woo Young semalam. Matanya nanar menatap Ki Jae.

“Han Ki Jae masih belum siuman,” ia ingat kata Won Geun setelah menerima telpon dari Soo Jin setelah mewawancarinya semalam. Nama itu, membuatnya tercengang. Sekali lagi ia menanyakannya, “Maaf. Siapa tadi namanya?”

“Han Ki Jae, Eommonim. Dia anak yang kuceritakan tadi,” jawab Woo Young. Matanya membelalak. Seolah memang ia sangat tak asing dengan nama itu. “Anda bilang dia punya nuna? Siapa nama nunanya?” tanyanya lagi.

“Han Hyo Kyung, Eommonim.” Tambahlah dia terpengarah. Apa itu takdir? Entahlah. Ia sendiri belumt terlalu yakin. “Apa mungkin Anda mengenal mereka, Eommonim?” pertanyaan Woo Young membuatnya terkejut. Ia menggeleng. “Aniyo,” jawabnya datar. Walau di wajahnya berkata sebaliknya. Woo Young sadar itu. Tapi ia tak lantas menanyakannya. Biarlah, pikirnya.

Dan pertanyaannya sudah terjawab sekarang. Apa itu takdir? Ya, mungkin memang itu takdir. Dia melihat wajah Ki jae yang mulai beranjak dewasa itu, seolah tak banyak berubah. Persis seperti 15 tahun yang lalu. Hanya badannya yang lebih tinggi, dan raut wajahnya tak seceria saat itu. “Ki Jae~ya…” lirihnya. Tak tahan dengan air matanya sendiri, ia membekap mulutnya. Takut bocah itu mendengar isakannya. Dengan langkahnya yang terus melemas, ia berjalan pelan. Keluar dari rumah sakit itu dan terisak-isak dalam diamnya. Ia hampir jatuh andai tak Baek Ji yang ternyata belum sepenuhnya meninggalkan rumah sakit menangkapnya.

“Eommonim, gwaenchanayo?” tanyanya panik. Susah payah ia bangun. Setidaknya menolak pelan bantuan dari Baek Ji. Sendirinya tak ingin dibantu memang. Dia mengangguk-angguk. Tangannya memberi isyarat pada Baek Ji untuk melepaskannya. Tak sanggup bibirnya menjawab pertanyaan tadi.

“Baek Ji~ya, ppali[2]!” teriakan Soo Jin di parkiran memaksa Baek Ji pergi. Agak was-was sebenarnya. Takut kalau perempuan tua itu pingsan tiba-tiba. Sebelumnya dia sempat berpesan, “Eommonim masuk saja ke dalam kalau merasa tidak enakan.” Barulah dia benar-benar meninggalkannya.

Memang benar dia merasa tidak enakan. Bahkan hatinya hancur berkeping-keping. Tapi, apa dokter bisa menyatukannya kembali. “Eommonim! Kumohon, Anda  bisa menyelamatkan nyawa kakak beradik. Sekarang adiknya ada di kantor polisi kami. Dia ingin menyelamatkan nunanya. Mereka sudah lama tinggal sendiri tanpa kedua orang tuanya. Jika nunanya mati, maka anak itu akan hidup sendirian. Apakah Anda tidak punya perikemanusiaan?!” teriakan Woo Young semalam berngiang-ngiang di kepalanya. Kakaknya… Han Hyo Kyung. Anaknya bersama Kim Tae Soo?

“Kudengar kau punya anak perempuan yang cantiknya sama sepertimu. Kalau boleh, aku ingin mengunjungimu secepatnya. Oh, kaulah orang yang belum kubuat cantik, kan?” suara telpon tak dikenal 7 tahun setelah kepergiannya dari rumah majikannya saat itu menusuk-nusuk imajinya. Ketakutan menyergapnya erat-erat. Tujuh tahun ia menghindar, dan bocah mengerikan yang menghabisi anggota keluarganya dalam satu malam itu tetap bisa mendapatkan nomornya. Dan ia meninggalkan Ki Jae dan Hyo Kyung. Berharap bocah itu tak bisa menemukannya. Tapi, nyatanya, bocah yang kata Woo Young semalam adalah Kim Tae Soo itu berhasil menemukan anak-anaknya.

“Ki Jae~ya… Hyo Kyung~a… eomma mianhae…” sesaknya berulang-ulang.

***

Bau mayat wanita tanpa busana yang sudah ditutup koran itu sangat menyengat. Petugas forensik yang datang memeriksanya, mengira-ngira kematiannya sudah lebih dari lima hari. Tubuhnya sangat kaku. Hanya saja, saat diperiksa tak ada tanda-tanda kekerasan seksual. Tak ada identitas yang bisa ditemukan. Siapa wanita ini, tak bisa diidentifikasi. Wajahnya hancur, penuh dengan gurat luka.

“Siapa yang menemukannya?” tanya Won Geun pada Baek Ji yang lebih dulu datang dari dirinya dan Woo Young. Baek Ji menunjuk seorang kakek-kakek yang masih ditanyai petugas di sudut tak jauh dari mereka. “Dia hanya laki-laki tua yang mengangut sampah. Banyak warga yang mengeluh karena bau sampah di sini sangat menyengat. Ternyata, memang ada mayat di sini,” jawabnya. Won Geun mendesah perlahan. Ditatapnya Woo Young yang berdialog dengan petugas forensik itu. Soo Jin menepi. Melihat-lihat lokasi. Berharap CCTV di sana menangkap sudut yang tepat. Dan sekilas ia sempat bertanya-tanya pada orang-orang yang berkumpul di sana.

Woo Young selesai. Dengan helaan yang sama, ia mendekati dua anak buahnya. “Apa ini pembunuh yang sama, Hyung?” tanya Won Geun. Jawaban yang pasti, anggukan lemah darinya. “Ya, sepertinya begitu.”

“Sepertinya kita bisa dapat beberapa sudut yang bagus,” Soo Jin dengan laporannya.

“Kita akan periksa CCTV. Dapatkan keterangan dari beberapa orang yang tinggal di sekitar sini. Sepertinya kita harus menunggu petugas untuk mengidentifikasi siapa mayat ini,” ujar Woo Young. 

“Bagaimana keaadan Han Ki Jae?” ia beralih ke Baek Ji.

“Dia sudah sadar tadi. Kurasa dia hanya kelelahan. Semalam dia dari tempat latihan dan melihat Han Hyo Kyung dibawa pergi Kim Tae Soo dalam keadaan yang memprihatinkan,” jelas Baek Ji. “Ah… soal itu juga…” drrt! Ddrt! Tambahan Baek Ji terpotong. Ponsel Soo Jin bergetar dan terpaksa membuatnya berhenti sebentar. Kompak benar mereka bertiga memperhatikan eskpresi wajah Soo Jin. Ada yang tak beres. Apalagi setelahnya matanya membulat besar.

“Waeyo, Hyung?” tanya Baek Ji lebih dulu. Sampai lupa ia kalau ada yang mau ia sampaikan tadi.

“Itu…” ddrt! Drrt! Kali ini suara ponsel Won Geun yang bergetar. “Yeoboseyo?” tanggapnya. Belum selesai panggilan itu, suara ponsel Woo Young juga terdengar. Jadilah dua orang itu saling menjawab panggilan dari seseorang. Tak jauh beda dari ekspresi Soo Jin tadi, keduanya nampak terkejut. Dalam waktu yang hampir berbarengan, panggilan mereka berakhir.

“Waeyo? Waeyo?”  hanya Baek Ji yang nampak kebingungan. Tak ada orang yang menelponnya seperti tiga rekannya yang lain. Tapi tak ada jawaban dari ketiganya.

***

Wanita ini membuka matanya. Pelan-pelan, sambil menikmati kepalanya yang terasa nyeri. “Akh…” erangnya. Sakit di kepalanya menjalar ke seluruh persendian tubuhnya. Usahanya gagal untuk mengurangi nyeri di kepalanya. Tangan yang akan digunakannya untuk menekannya tak bisa berkutik. Telinganya yang mulai berfungsi mendengar samar-samar suara gemercik air. Dan tempat yang dirasakannya untuk duduk ini terasa dingin. Tangannya melingkar ke belakang. Ah, dia terikat.
Matanya kemudian terbuka. Melihat sempat tertegun dengan air mancur di dekatnya itu. Juga dekorasi ruangan yang sangat elit ini. Beberapa perabot mewah dan tempat yang sedikit asing. Ia dimana? Itulah yang ingin ditanyakannya. Tapi, merasa terikat seperti ini lebih menarik rasa penasarannya. Mulutnya memang tak tersumpal apapun. Hanya saja, tenggorokannya pelik untuk mengeluarkan suara.

Pandangannya menyapu hingga sudut pandang yang bisa dijangkau kepalanya. Ada seorang yang memberi harapan padanya untuk lepas dari posisi itu. Seorang gadis yang duduk di sofa, tak jauh darinya. Dia menatap ke arahnya. Tapi, tak ada bayangan dirinya di sana. Tatapan wanita itu, sepertinya mati. Tapi, ketimbang memikirkan hal itu, bukankah lebih baik untuk menanyakan posisinya sekarang, bukan? Dipaksakannya tenggorokannya terbuka. Mulutnya akan berusaha sebaik mungkin untuk menarik perhatian wanita itu. “Maaf…” ia mulai berucap. Wanita itu masih tak bergeming. Ia mulai cemas. Jangan-jangan malah orang itu yang membuatnya seperti ini.

“Sebenarnya… ini dimana?” tanyanya ragu. Satu detik… dua detik… tiga detik… masih tak ada respon. “Apa Anda mendengarkanku?” tambahnya lagi. Wanita itu… tiga detik lagi memang tak bergeming. Tapi hanya tiga detik. Setelah itu kepalanya bergerak. Bulu matanya yang agak panjang itu mengerjap. Walau tak banyak perubahan, paling tidak sekarang di matanya benar-benar mengarah kepadanya.

“Ini di mana?” tanyanya lagi. Bibir wanita itu nampak bergetar. Tangannya terangkat, menunjuk ke arah wanita itu gamblang. “Ini adalah…” suaranya terdengar sangat-sangat menyedihkan. Ada getaran yang terasa menyakiti pendengaran saja. “… paradise,” tuntas jawabannya. Tentu saja jawaban seperti itu tak mudah dimengerti.

“Ne?” justru tanggapan seperti inilah yang ada. Tapi, wanita itu tak berniat mengulangi jawabannya. Rasanya pun memang tak perlu. Karena, setelah itu terdengar suara kode akses masuk ke dalam sini terdengar dari pintu depan. Ada yang masuk. Dengan setelan tuxedo serba putihnya. Tangannya membawa buku gambar dan pensil. Setelah mengganti panthopelnya dengan sandal rumahnya, ia menghampirinya. Senyum separuhnya terbentuk melihat orang itu sudah terbangun. Menatapnya dengan heran, bingung sekaligus ngeri. Senyum separuh itu, lebih terlihat seperti senyum malaikat maut!

“Kau sudah bangun?” tanyanya. “Welcome to paradise! Aku akan membuatmu melupakan rasa takutmu soal wajahmu yang kau anggap kurang cantik itu,” tambahnya.

***

Tim Jo Woo Young sekarang tengah membeku cukup lama di meja mereka masing-masing. Satu benda yang mereka tatapi sejak tadi. Adalah papan kaca yang menampilkan lima mayat wanita, dengan wajah hancur dan tanpa identitas. Dalam waktu satu hari, mereka mendapat korban sebanyak itu. Dengan satu kata kunci yang sama: kelima wanita itu dibunuh oleh orang yang sama. Yaitu orang yang selama ini mereka cari-cari.

“Bagaimana bisa ini terjadi?” gumam Baek Ji. Soo Jin yang menanggapinya dengan helaan nafas panjang. Bergantian dua atasannya, Jo Woo Young dan Go Won Geun ia tatapi. Keduanya tak menunjukkan ekspresi yang berbeda. Sama-sama terlihat kacau. Menyudahi ratapannya, Woo Young menatap tajam ke ketiga anak buahnya.

“Cepat tangkap pembunuh gila itu!” sentaknya. Dia bangun. Menghilang beberapa menit dan kembali dengan satu kardus flash disk. “Tidak ada yang boleh pulang sampai menemukan sesuatu dari semua flash disk ini!” tambahnya. Soo Jin dan Baek Ji memberi respon yang sama. Rasanya flash disk itu terlalu banyak. Bagaimana Woo Young menemukan semua rekaman CCTV sebanyak ini hanya dalam waktu setengah hari? Mereka tak bisa menjawabnya. Dan bagaimana mereka bisa secepatnya menemukan sesuatu yang dimaksud Woo Young itu dari semua flash disk ini agar mereka pun bisa pulang secepatnya? Sekali lagi mereka tak tahu.

“Sementara itu, aku ingin menemui seseorang,” tambahnya. Tanpa menunggu persetujuan dari yang lain, ia pergi begitu saja. Membawa rasa marah dan pening di kepalanya.

Won Geun sendiri menatapnya. Tak sama dengan Soo Jin dan Baek Ji yang mulai menancapkan flash disk-flash disk itu ke komputer masing-masing, pikirnya masih dijejali satu orang. Pria berbaju serba hitam itu. Dan kenyataan bahwa dia sangat mencurigai Woo Hyun. Sekali lagi ia menilik dua video lama itu. Sekali lagi pula ia membandingkannya dengan bayangannya soal Woo Hyun yang membawa jaket hitam ini. Apa orang ini memang Woo Hyun?

“Jika kalian menemukan pria serba hitam itu, segera beritahu padaku!” titahnya pada Baek Ji dan Soo Jin. Tak ada suara, hanya anggukan kepala yang nampak sangat lesu.

“Kukira kita hanya harus menemukan adanya Kim Tae Soo di antara rekaman-rekaman ini kan, Hyung?” ujar Baek Ji.

“Tidak ada satu pun bukti yang mengarah padanya. Dan kalaupun orang berpakaian serba hitam itu kita curigai sebagai dirinya, perawakannya berbeda jauh. Pasti sangat sulit menjatuhinya vonis tersangka,” timpal Soo Jin.

“Won Geun Hyung!” Baek Ji beralih ke Won Geun yang mulai membantu pekerjaan mereka. Won Geun mengangkat kepalanya, menunggu Baek Ji mengatakan apa maksudnya memanggil namanya barusan. “Bagaimana pertemua kalian dengan saksi utama kasus 22 tahun yang lalu di Gyeonggi itu?”

“Apa ada info soal Kim Tae Soo, Hyung?” tambah Soo Jin. Won Geun membenarkannya. “Saksi itu tak mengenal Kim Tae Soo. Tapi, Kim Tae Soo kecil adalah anak yang ia kenal 22 tahun yang lalu. Dialah bocah 10 tahun yang membunuh seluruh orang yang ada di rumah itu.” Mendengar hal ini, bola mata Soo Jin dan Baek Ji hampir keluar. “Bocah 10 tahun?!” sentak mereka tak percaya.

“Apa hal itu mungkin?” Baek Ji bertanya lagi.

“Bocah itu tak dibesarkan dengan benar. Selama hidupnya, dia dikurung di dalam ruangan dan mendapat siksaan oleh pemilik pabrik itu setiap harinya. Begitu dia bebas, dia membunuh semua yang ada di rumah itu.”

“Dan bocah itu Kim Tae Soo?” selidik Soo Jin. Won Geun membenarkannya. Dan karena hal itu juga, mulut Baek Ji giliran yang membulat. Sebenarnya mereka masih penasaran soal cerita saksi itu. Tapi, Won Geun menghentikan mereka bertanya. “Periksa dulu semua rekaman itu, baru aku akan menceritakan detailnya pada kalian!” bentaknya. Dan tanpa komentar, Soo Jin dan Baek Ji menurutinya.

***

Woo Hyun baru saja keluar dari lift rahasia di gedung Kim Tae Soo. Tak ada siapapun di tempat parkir. Tapi, di dekat pintu masuk parkiran ada seseorang yang berdiri di sana. Menatapi asal semua penjuru tempat itu. Ia mengenalnya. Walau tak begitu yakin, tapi dia mendekatinya.

“Woo Young Hyung?” terkanya. Orang itu berbalik dan benarlah. Dia memang Jo Woo Young. Apa ekspresi yang ditunjukkannya? Woo Hyun tak bisa membacanya.

“Oh, Woo Hyun~a!” sapanya. Woo Hyun tak memberi ekspresi lain kecuali ekspresi bingungnya. 
“Kenapa Hyung ada di sini?” tanyanya heran.

“Oh, itu… aku ada perlu dengan Kim Tae Soo,” jawab Woo Young. Woo Hyun kelihatan paham. Lantas ia tak memberi pertanyaan lanjutan. Sebaliknya, justru Woo Young lah yang bertanya padanya. “Kau sendiri? Kenapa kau tidak ada di sekolah dan malah ada di sini?” sebenarnya ada nada menyelidik di sana. Tapi, Woo Hyun tak menyadarinya.

“Aku juga punya keperluan dengan Kim Tae Soo. Kurasa dia tidak ada di ruangannya.”

“Kenapa kau lewat sini? Bukannya lewat pintu depan.”

“Aku menemui seseorang dulu sebelum pergi.”

“Siapa?” deg! Woo Hyun mulai sadar dengan nada itu. Terlebih tatapan Woo Young seolah mencoba mengintimidasinya.

“Ada…. Seseorang itu… kurasa Hyung tak perlu mengetahuinya,” jawabnya. Nadanya melirih. Dia ingin menjawab jujur, “Aku baru menemui Seok Ryeong Nuna, Hyung.” Bukan sekarang. Mungkin suatu saat nanti dia bisa menjawab hal seperti itu dengan benar. “Kenapa? Kau penasaran sekali?” tambahnya. Giliran Woo Young yang tersentak. Apa gelagatnya terlalu terburu-buru?

“Oh, tidak. Aku hanya… heran saja. Akhir-akhir ini kau jarang sekali ada di sekolah tempatmu bekerja itu.”

“Kau tahu soal itu? Apa kau datang ke sekolah tiap hari?”

“Aku hanya mampir saat aku menyelidiki TKP di sekitar sana. Dan kukira, aku bisa menemuimu. Tapi ternyata orang lain yang ada di perpustakaan itu.”

“Ehm,” Woo Hyun mengangguk. “Kim Tae Soo memberiku beberapa pekerjaan. Gajinya cukup lumayan daripada di perpustakaan itu.” Pekerjaan? Woo Young sungguh ingin menanyakan hal itu. Tapi ia urungkan. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

Dia mencoba tertawa. “Kau sudah meninggalkan buku-buku yang kau cintai?”

“Tidak juga. Aku masih bekerja di sana. Hanya saja, aku hanya bekerja jika Kim Tae Soo tidak membutuhkanku di sini.”

“Kau… akhir-akhir ini menjadi lebih dekat dengan Kim Tae Soo sepertinya, ya? Seingatku kau bilang dia hanya kenalanmu.”

“Ya. Dan sekarang aku merasa berhutang budi padanya. Dia… membantuku tentang sesuatu,” Woo Hyun mencoba tersenyum. Dia sadar, kakaknya mulai mencurigainya. Mungkin karena hal itu juga dia nampak tenang menjawab semua pertanyaan Woo Young padanya. Tak ada keraguan di tiap jawabannya. Bahkan, malah sepertinya Woo Hyun ingin memberitahu kenyataan yang sebenarnya pada kakaknya itu. Sayangnya, Woo Young masih belum tega untuk secara terang-terangan mencurigainya. Walaupun sebenarnya kedatangannya kemari juga untuk memastikan kecurigaannya pada adik kandungnya itu.

“Baiklah. Apa kau mau pulang? Aku bawa mobil, aku bisa mengantarmu pulang sebelum kembali ke kantor,” tawar Woo Young.

“Kau tidak jadi menemui Kim Tae Soo?”

“Mungkin tidak untuk hari ini. Bukankah kau sendiri yang bilang sepertinya dia tak ada di ruangannya?”

“Ah, benar juga.” Woo Hyun kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar. Ditutupinya sebisa mungkin rasa bersalahnya itu pada sang kakak. “Ayo! Kapan lagi aku bisa diantar kau pulang seperti ini? Kau kan selalu sibuk,” ujarnya. Lebih dulu dia berjalan. Tak sadar bahwa Jo Woo Young sangat tersentil dengan kalimatnya barusan. Kau kan selalu sibuk. Apa karena hal itu maka Woo Young tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Woo Hyun? Ditatapnya punggung Woo Hyun lama. Sampai bocah itu berbalik dan memasang tampang bingungnya. “Tidak jadi  mengantarku?” tanyanya.

“Tidak. Tentu saja aku akan mengantarmu. Aku… harus punya waktu untuk adikku sendiri, kan?” tanggapnya, menambah beberapa langkah agar berjalan tepat di samping Woo Hyun. Senyum Woo Hyun terurai. Meski itu kelihatan terlalu getir di mata Woo Young.

***

Satu sentuhan lagi, dan gambar Tae Soo selesai. Ditatapnya lama dulu. Membandingkannya dengan yang asli. Jika dirasanya sudah mirip, maka ia akan tersenyum. Menggantikan senyum separuhnya dan menyisakan senyum malaikat khas miliknya. Diraihnya tisu. Membersihkan sisa-sisa pekerjaannya yang masih tertinggal di tangannya.

Bau anyir terasa menusuk-nusuk hidung. Ini tidak mengganggu. Justru Tae Soo menyukainya. Meski kadang pun ia selalu mengeluh pada Jo Woo Hyun, bahwa ia ingin semua bau itu segera disingkirkan. Sejatinya sendiri menghirupnya dalam-dalam. Seolah puas dengan hasil pekerjaannya. Baju milik wanita tanpa nyawa di depannya itu sudah raip. Menjadi kumpulan potongan kain di lantai. Dia menyukainya. Menurutnya, cantiknya akan lebih terkespos jika dibiarkan telanjang bulat seperti itu.
Dari wanita itu, ia beralih. Tentu ke arah kekasihnya yang duduk diam. Tak ada yang tahu. Kengerian, sedih dan rasa jijiknya menelusup di balik persendiannya. Menggerogoti ekspresi sesungguhnya di dalamnya. Hingga yang tersisa hanya wajah datar tanpa ekspresinya itu.

“Kurang dua orang lagi,” ujar Tae Soo. Kaki berjalan mengitari Han Hyo Kyung. Di belakangia berhenti. Meremas kedua pundaknya perlahan dilanjut dengan melingkarkan tangannya ke leher Hyo Kyung. Kepalanya menyempil ke leher sebelah kanannya. Disesapnya dalam-dalam aroma tubuh Hyo Kyung. Wangi yang sangat ia gilai. Hidungnya mengelus permukaan lehernya itu. Membuat Hyo Kyung bergidik pelan, merasa geli dan gugup sekaligus. “Giliranmu sebentar lagi,” bisiknya impulsif.
Sekilas Hyo Kyung merasa basah di lehernya. Namun apa yang ditakutkannya tak terjadi. Tae Soo hanya beralih ke wajahnya, mengecup bibirnya sekilas dan tak melanjutkan aksi apapun pada Hyo Kyung. Diambilnya kemeja putih yang menggantung di dinding. Mengganti kemejanya sendiri. 
Selesai dengan setelan resminya, dia kembali melirik Hyo Kyung. “Mandilah! Kita akan melanjutkannya nanti. Ada klien yang harus kuurusi,” ujarnya datar. Hyo Kyung tak bergeming. Kepalanya seolah ditumbuk palu raksasa. Bau anyir dan perasaan campur aduk mengiris-ngiris kewarasannya. Dibiarkannya begitu saja Tae Soo yang pergi. Dalam diam, mungkin ia bermaksud menuruti kemauan Tae Soo tadi. Tapi entahlah, sekujur tubuhnya tak mau diajak bekerja sama.

Sementara itu, Tae Soo sudah sampai di lantai satu. Menemui seorang klien dengan setelan serba cream yang baru saja memasuki pintu lobi. Adalah hal yang lumrah bagi seorang Kim Tae Soo menyambut kliennya seperti itu. Tak ada yang akan mengira bagaimana kepribadian aslinya dibalik keramahtamahannya itu.

“Lama tidak berjumpa, Kang Sajangnim!” sapanya ramah. Pria itu pun menyambutnya dengan cuaca yang sama. Mereka lalu terlibat obrolan yang agaknya cukup santai. Meskipun masih membahasakan bisnis pula.

Di antara pembicaraan mereka itu, seorang wanita memandangi Tae Soo. Tepatnya wanita tua yang ditemui Woo Young, yang memperhatikan Han Ki Jae di rumah sakit, dan sekaligus yang menangisi nasib dari Han Hyo Kyung. Wanita itu menatap intens lekuk di wajah Tae Soo. Persis sama dengan foto yang ditunjukkan Woo Young malam itu. “Dan anak itu, adalah anak ini.” Ia ingat kata-kata Woo Young. Wajah kecil yang ia ingat 22 tahun yang lalu, adalah milik dari pria dewasa sempurna di depannya itu. Jadi mereka adalah orang yang sama?

Tenggelam dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri, sepertinya wanita ini tak sadar kalau Tae Soo menyadari gerak-geriknya sejak tadi. Bahkan sampai Tae Soo menghampirinya, menepuk pundaknya pelan, ia melonjak dan hampir menjatuhkan tas tangan yang ia bawa. “Maafkan aku karena mengejutkanmu,” ujar Tae Soo lembut. Senyumnya tak pernah tanggal. Meski sebenarnya tak ada pengaruhnya sedikit pun untuk wanita ini. Malah membuatnya gugup. Yang bisa diingatnya bukanlah keramahannya saat ini. Tapi wajah datarnya bersimbah darah dengan mayat-mayat yang ada di sekelilingnya di masa lalu.

“Aniyo. Gwaenchanayo,” balasnya singkat. Tak tahan ia memandang balik tatapan mata Tae Soo. Gurat wajah Tae Soo memang ramah. Tapi matanya berkata lain. Seolah, ada aksi intimidasi di sana.

“Apa mungkin… Anda mengenalku?” tanya Tae Soo. Tatapannya terlihat makin tajam. Karena itu pula wanita itu makin dalam menundukkan pandangannya. Bibirnya hampir saja berucap, “Aniyo. Aku tidak mengenal Anda.” Tapi, otaknya memberi solusi lain. “Seseorang yang terkenal seperti Anda, bagaimana mungkin aku tidak kenal?” dan ia sedikit selamat. Tae Soo tak lagi mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Ia tertawa kecil menanggapi jawaban itu.

“Lalu… apa ada yang bisa kubantu, Eommonim?” Tae Soo mengganti topik pembicaraanya. Wanita ini mencoba mengimbangi. Ia bersikap lebih tenang. Lantas lukisan di dekatnya ia amati betul-betul. Hanya lukisan abstrak yang penuh dengan warna merah. Tapi yang tervisualisasi oleh matanya adalah wajah menyedihkan Tae Soo semasa kecil. Bibirnya mengulas senyum. Menarik perhatian Tae Soo.

“Anda menyukai lukisan ini?”

“Ne. Lukisan ini mengingatku pada seorang bocah laki-laki yang sering sekali terluka. Dia…” deg! Wanita ini tersentak. Tanpa sadar ia hampir menceritakan tentang Tae Soo pada Tae Soo sendiri.

“Waeyo? Apa yang terjadi dengan bocah laki-laki itu? Kenapa dia sering terluka?”

“Ah, bukan apa-apa.” Lagi. Tae Soo terlalu sensitif untuk tidak menyadari perubahan itu. Tapi kali ini ia membiarkannya. Sampai wanita itu pergi dari hadapannya pun, ia hanya diam. Hanya ekspresi datar di wajahnya saja yang menunjukkan ia mungkin bermaksud menyelidiki latar belakang wanita itu. Lebih dari itu, rasanya ia pernah melihat wanita itu sebelumnya di suatu tempat.

***

Kantor kepolisian sudah kehilangan cahaya. Tak ada satu pun lampu yang terlihat masih menyala. Paling hanya lampu di pos satpam yang ada di depan. Dalam kegelapan itu, masih ada redup cahaya dari monitor komputer di meja Woo Young. Tentu dengan pemiliknya yang masih senang mengencani video yang ia putar berulang-ulang. Membandingkan yang satu dengan yang lain. 
Sekaligus membandingkan pula dengan yang ada di otaknya.

Jaket, topi, dan yang paling menyita perhatiannya adalah gelang itu. Memang, tak menutup kemungkinan jutaan manusia pasti punya gelang seperti itu. Tapi, makin diperhatikan, wajah yang tak begitu jelas dari laki-laki serba hitam itu memanglah begitu mirip dengan orang yang ada di otaknya sekarang. Berulangkali ia berteriak dalam hatinya, “Tidak mungkin!” tapi otaknya terus mengiyakan. Ini memanglah orang yang ia curigai.

Ia bangkit. Menghirup napasnya dalam-dalam. Harus dipastikannya sendiri secara langsung. Ia hanya tak ingin kecurigaannya membunuh dirinya pelan-pelan.

Setelah menekan tombol power di monitornya, ia pergi. Mengambil kunci mobil di atas meja dan keluar dari sana. Menyisakan seseorang yang sejak tadi memperhatikannya. Begitu Woo Young benar-benar keluar dari sana, ia yang menggantikannya menghadap komputer Woo Young. Tombol power kembali ditekan, menampilkan video dalam keadaan pause. Cahaya dari monitor terpantul di wajahnya. Menampilkan sosok Won Geun yang tak jauh beda dengan ekspresi Woo Young tadi. Ia menghela nafas panjang. “Apa Woo Young hyung sudah menyadarinya?” tanyanya seorang diri.

Sementara itu, Woo Young sudah sampai di rumahnya. Gelap. Tak ada siapapun di sana. Aneh. Padahal Woo Hyun tak bilang akan menginap di rumah teman. Kalaupun di lembur, dia pasti akan menyelasaikan pekerjaannya di rumah. Atau mungkin dia sudah tidur? Tapi, sampai ia masuk pun, tak ada siapun. Woo Hyun tidak di rumah.

Hingga ada suara langkah seseorang di luar. Woo Hyunkah? Woo Young urung untuk membuka pintu. Sebaliknya, dimatikannya lampu ruang tamu lagi. Dipilihnya duduk di kursi yang ia hadapkan langsung ke pintu. Dengan sabar ia tunggu sampai seseorang masuk dan menghidupkan lampu.

Klik! Suara saklar terdengar begitu pintu dibuka. Ruangan terang kembali. Dan seseorang berpakaian serba hitamlah yang masuk. Masih belum sadar sepertinya akan keberadaan Woo Young di sana. Ia melepas topi dan maskernya.

“Darimana kau?” tanya Woo Young. Ya, pria itu adalah Woo Hyun, yang sekarang sudah terkejut karena sadar, ia sedang tak sendirian di sana.

“Hyu… hyung?” bahkan ia terlihat gugup. “Se, sejak kapan kau ada di sana?”

“Baru saja,” jawab Woo Youn datar. Ia belum mau menunjukkan ekspresi apa-apa. Perasaan bersalah menelusupi dirinya begitu saja. Sebagai alibi, ia berdiri. Memasukkan tangannya yang mulai gemetaran ke dalam saku jaketnya. Dan srek! Ia malah menyentuh pistol di dalam sana. Ah! Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jaket itu… topi itu… tampilan itu…

“Oh… kukira kau akan lembur. Kau membuatku terkejut, Hyung! Aneh sekali. Kenapa tidak menghidupkan lampu kalau kau ada di sana?” lanjut Woo Hyun. Ia berhasil menguasai dirinya sendiri. Pelan, ia melepas atribut yang membuatnya serba hitam. Menyisakan jeans hitam dan kaos oblong putih. Sepatuya pun ia lepas. Tak risih benar ia diperhatikan Woo Young terus-terusan.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” tambah Woo Young.

“Oh… aku hanya pergi ke suatu tempat. Tidak terlalu penting untuk dibicarakan,” jawab Woo Hyun santai. Diambilnya minum dari dispenser di dekat pintu masuk. Ditenggaknya satu gelas demi 
membasahi tenggorokannya sendiri.

“Sampai larut malam begini?”

“Ehm,” Woo Hyun mengangguk. Mulutnya masih penuh dengan air. Woo Young mengangguk pelan. Rasanya ia tak bisa menyelidiki pasal kepergian Woo Hyun malam ini. Harus ada yang lain. Yang lain yang ia bicarakan agar memancing Woo Hyun untuk bicara sesuatu. Tentang Tae Soo misalnya.

“Woo Hyun~a!” panggilnya. Sebagai tanggapan, Woo Hyun hanya menatapnya. Sambil sesekali menyeka keringat dan sisa-sisa letihnya. “Sejak kapan kau mengenal Kim Tae Soo?” pertanyaan ini membuat Woo Hyun diam sesaat. Tatapannya pun sedikit berubah saat membalas tatapan Woo Young padanya.

“Cukup lama. Sekitar 3 tahun,” jawabnya. “Kenapa memangnya?”

“Selama itu, dan aku tidak tahu.”

“Kau itu kenapa, Hyung? Kau memang tak begitu tahu keseharianku. Untuk orang seperti Kim Tae Soo, jadi kau tak tahu soal itu pun tak masalah untukku. Aku sudah terbiasa.” Kalimat-kalimat itu menohok hati Woo Young dalam-dalam. Bukankah tadi itu adalah sebuah keluhan? Kalau dia adalah kakak yang jahat, yang tak pernah punya waktu untuk adiknya sendiri.

“Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku ingin istirahat. Hari ini aku lelah sekali.” Woo Hyun hampir beranjak dari tempatnya. Tapi Woo Young menarik tangannya. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari jaket yang dibawa Woo Hyun. Keduanya menatap benda apa itu. Pisau. Pisau?!

Lama. Dua-duanya terlalu lama berdiam. Woo Hyun yang mengawali bubarnya diam dari mereka berdua. Dia merunduk, tangannya meraih pisau itu. Ada yang tertinggal di lantai. Tidak banyak, tapi cukup untuk menjelaskan bahwa itu adalah bercak kemerahan. Darah?

“Ah… kenapa aku memasukkan pisau ini ke dalam saku jaketku, ya?”

Jegrek! Suara pistol terdengar dikokang setelah keluar dari saku jaket Woo Young. Pendengaran Woo Hyun sensitif. Memaksa kepalanya pelan mengarah ke Woo Young dengan pistol yang sudah mengarah tepat ke kepalanya. Wajah kakaknya memucat. Dengan mata kemerahan dan sebulir air yang meluncur mulus dari pipinya. Ia hanya diam. Tak bisa berkomentar, dan merasa terlalu lancang untuk menanyakan perihal apa yang membuat pistol itu mengarah seolah ingin menembus otaknya saat itu juga.

“Jangan bergerak!” suara Woo Young bergetar. “Ja… jangan bergerak…” dan selanjutnya, isak tangisnya yang terdengar.
 
Sebelumnya                        Selanjutnya

[1] Apa ini?
[2] Cepat

No comments:

Post a Comment