Perpustakaan
sudah mulai ramai. Padahal, niat awal Yun Tae Yong kemari untuk tidur.
Semalaman dia bekerja paruh waktu. Pulangnya pun dia harus mengurusi tugas
sekolah yang berjibun. Sampai-sampai dia tak punya cukup banyak waktu tidur.
Dipikirnya, perpustakaan adalah tempat yang cukup nyaman dan tenang. Tapi,
melihat banyak orang di sini, rasanya lebih baik kalau dia kembali ke kelas.
Baru
dua langkah keluar dari sana, dia berbalik lagi. Sempat tadi ia melihat Kwon
Song Yi dari kejauhan mulai mendekat ke sana. Daripada ketangkap, dia berbalik
lagi. Sayangnya, Song Yi sudah melihatnya. Tak akan dibiarkannya Tae Yong
menghindarinya. Ia pun berlari, dan berhasil menghadang langkah Tae Yong. “Mau
kemana kau?” tanyanya ketus. Tae Yong tersenyum kikuk. Mau bagaimana lagi?
Menghindar pun tak ada gunanya.
“Wae?”
tanyanya sok polos. Tentu saja Song Yi langsung mengembungkan kedua pipinya.
Pasalnya, beberapa hari ini Tae Yong yang memang tak sekelas dengannya itu
selalu saja menghindarinya. Beberapa hari ini pula Ki Jae tak pernah masuk
sekolah. Ponselnya mati, dan rumahnya pun kosong. Satu-satunya orang yang bisa
ditanyai soal Ki Jae tentu hanya Tae Yong. Selama itu Song Yi mencoba
menemuinya, dan baru sekarang ia berhasil. Tapi bocah ini malah berpura-pura
tak ada yang terjadi.
“Beritahu
aku, dimana Han Ki Jae sekarang?” pintanya. Tae Yong berhenti tersenyum.
Sebaliknya, ia menghela nafas panjang. Dia maklum kalau Song Yi
mengkhawatirkannya. Hanya saja, dia sendiri pun tak tahu dimana Ki Jae
sekarang. “Aku tidak tahu. Kenapa kau bertanya padaku?” balasnya.
“Lalu
aku harus bertanya pada siapa lagi? Bukankah kau ini sahabatnya? Bagaimana
mungkin kau tidak tahu dimana dia?” rutuk Song Yi sebal. Sekali lagi, Tae Yong
menghela nafasnya.
“Song
Yi, sebaiknya kau berhenti,” ujar Tae Yong, lain dari jawaban yang diinginkan
Song Yi.
“Mwo?”
“Kurasa…
kau benar-benar harus berhenti menyukai Han Ki Jae.” Song Yi tersentak.
Semburat merah mewarnai pipinya. Dia tak pernah bicara langsung soal
perasaannya pada Ki Jae ke Tae Yong. Ia sendiri tak yakin kalau orang ini
memang tahu bagaimana perasaannya sebenarnya. Lebih dari hal itu, untuk apa
pula Tae Yong membicarakan hal ini? Bukankah pertanyaannya barusan bukan soal
perasaannya?
“Apa
yang sebenarnya kau bicarakan? Aku bertanya soal Ki Jae! Kenapa kau mengatakan
hal-hal yang tidak masuk akal?”
“Aku,
bahkan seluruh orang di sekolah ini tahu bagaimana perasaanmu pada Ki Jae.
Sudahlah! Kau tak perlu menghindarinya,” tambah Tae Yong, sukses membuat rona
merah tadi menyebar ke wajah Song Yi. Dia salah tingkah. Kacak pinggangnya tak
bertahan lama. Gestur-gestur grogi plus gugupnya yang mulai bermunculan.
“Apa-apaan
kau ini? Siapa yang menyukai Han Ki Jae?! Lagipula, kenapa kau menyuruhku untuk
berhenti? Apa hakmu melarangku?!”
“Han
Ki Jae juga menyukaimu.” Deg! Song Yi langsung terdiam mendengarnya.
Untuk yang satu ini, ia benar-benar terkejut. Sekaligus dia sendiri mulai
senang. “Hanya saja… kurasa dia tak akan pernah menerima perasaanmu. Dia sudah
berusaha agar kau tak mendekatinya. Percayalah…perasaanmu itu hanya menjadi
beban untuknya.” Rasa senang tadi hilang seketika. Ia tak serta merta menerima
pernyataan itu. Beban? Bagaimana bisa? Song Yi sedikit tak bisa menerimanya.
Daripada hal itu, ia sendiri belum mengatakan ya kalau dia menyukai Ki
Jae pada Tae Yong, kan? Mempercayai Ki Jae juga menyukainya juga rasanya harus
ia tunda dulu. Lebih baik, ia menghindar dulu.
“Huh!
Kenapa kau menyebalkan sekali sih, Yun Tae Yong?!” rutuknya, kemudian pergi. Ia
lupa, perihal pertanyaannya tentang keberadaan Ki Jae. Meninggalkan Tae Yong
yang untuk ketiga kalinya menghela nafas. Menatap ponselnya sendiri dan
menampilkan fotonya bersama Ki Jae. “Bukan Song Yi saja yang khawatir. Aku juga
hampir mati cemas mencarimu kemana-mana. Sebenarnya kau ini kemana, Ki jae?”
gumamnya pelan.
***
Orang
yang sudah membuat Song Yi dan Tae Yong khawatir itu sekarang baru saja membuka
kelopak matanya. Menatap atap putih yang nampak asing baginya. Yang dirasanya
adalah kepala sakit luar biasa. Tubuhnya terasa lemas. Dan ada sesuatu yang
menusuk-nusuk tulangnya. Sekujur tubuhnya sakit, dan ia kesulitan mencari tahu
dimana keberadaannya sekarang.
Selain
atap, yang ia lihat lainnya adalah kantung infuse. Diturutnya selang itu sampai
terhubung dengan pergelangan tangan kirinya. Ada seseorang yang meletakkan
kepalanya di dekat tangannya itu. Siapa itu? Ia tak tahu. Hanya saja, sekarang
ia tahu. Dia berada di rumah sakit.
“Kenapa
aku bisa ada di sini?” ujarnya tanpa sadar membangunkan orang itu. Ah, ternyata
itu adalah Do Baek Ji. Wajahnya nampak kucel, sedikit terkejut melihat Ki Jae
yang sudah sadar. “Kau sudah bangun?” sapanya dengan suara khas orang baru
bangun tidur. Walaupun baru bangun tidur, wajahnya kelihatan sangat lemah.
Mungkin ia menunggui Ki Jae semalaman penuh. “Apa yang kau rasakan? Apa aku
harus memanggilkanmu dokter?” lanjutnya.
“Aniyo.
Gwaenchanayo,” tolak Ki Jae pelan sambil beringsut duduk. Baek Ji membantu
dengan meletakkan bantalnya secara vertikal. Sebaliknya, wajahnya menunjukkan
ada yang tidak beres di pikirnya. Tak perlu perintah, terang saja Baek Ji
tertarik. “Wae?” tanyanya heran. Ki Jae tak langsung menjawabnya. Tatapannya
redup. Mungkin ia mengingat apa yang terjadi sebelum dia ke kantor polisi
kemarin.
“Sebenarnya
apa yang terjadi padamu kemarin? Kenapa kau datang dengan baju basah kuyup
penuh keringat begitu? Kau salah tempat kan kalau sakit? Seharusnya kau kemari,
bukan malah ke kantor polisi,” sambung Baek Ji, gerah karena Ki Jae tak segera
mengutarakan kecamuk batinnya. Ki Jae sendiri memang mendengar hal itu. Dia
maklum, dia memang menyusahkan pihak kepolisian. Bukan apa-apa. Hanya saja, apa
yang ia lihat kemarin membuatnya harus datang ke sana.
Pelan,
Ki Jae kembali memohon, “Tolong selamatkan, Nunaku.” Tangannya gemetar, meremas
selimut rumah sakit pelan. Baek Ji memilih diam. Ia yakin, tanpa ditanya, Ki
Jae pasti akan menceritakan apa yang terjadi padanya.
Ya,
dan dengan nada benci yang ia tahan-tahan, ia menceritakan secara detil kepada
Baek Ji. Bahwa ia melihat Hyo Kyung kemarin, setelah pulang dari tempat
latihan, dan dia melihat kakaknya itu seperti robot. Mengikuti gandengan tangan
Kim Tae Soo. Persis seperti anjing peliharaan yang tanpa berkomentar menurut
pada majikannya. Hyo Kyung sendiri tak banyak bertingkah. Tak ada tanda-tanda
kehidupan di matanya. Bibirnya dicium Tae Soo, dan dengan halusnya pria itu
menyuruhnya masuk. Tanpa komentar, tanpa gerakan anggukan kepala atau reaksi
lainnya, dengan sangat menurutnya Hyo Kyung masuk ke dalam mobil. Bodohnya, Ki
Jae tak mencegahnya. Hatinya sakit, tapi kakinya tak bisa diajak kompromi. Ia
terpaku dan melemas. Hatinya mencelos sungguh hebat melihat keadaan kakaknya
yang jauh dari kata normal. Ia sempat tahu soal Min Soo Min yang adalah
sekretaris di tempat Tae Soo. Dia hanya takut, takut apa yang terjadi pada Min
Soo Min terjadi pada Han Hyo Kyung. Walaupun Hyo Kyung sendiri mengatakan dia
sendiri tak apa-apa. Tapi, siapa yang akan percaya jika keadaannya seperti
orang yang kehilangan akal seperti itu?
“Kumohon…
aku tak tahu harus kemana lagi mencari pertolongan,” pinta Ki Jae lagi. Lebih
memelas nadanya dari pintanya yang pertama. Sebagai tanggapan, Baek Ji hanya
mampu mendesah pelan. Apa yang bisa dilakukannya? Mereka pun tengah menyelidiki
Kim Tae Soo. Tak banyak bukti yang bisa menyudutkannya sebagai tersangka. Itu
yang sedang diusahakan. Lagipula, jika tak ada pengakuan dari Hyo Kyung sendiri,
itu pun tak ada artinya. Keterangan Ki Jae saja belum cukup untuk memberatkan
orang itu.
“Kami
juga sedang menyelidikinya. Aku tak bisa mengatakan iya, tapi kami akan
berusaha melindungi Han Hyo Kyung. Kau bilang kau akan debut dan mengambil
kembali kakakmu dari Kim Tae Soo itu, kan? Tak sepantasnya kau menjadi cengeng
seperti ini. Kau itu laki-laki. Jangan cengeng!” sentak Baek Ji pelan.
Senyumnya muncul, mencoba menguatkan bocah itu. Meski ia sendiri tahu, tak akan
ada pengaruhnya.
“Ki
Jae, kau pernah bertemu dengan Tae Soo beberapa kali, kan?” tanya Baek Ji
kemudian. Ki Jae mengangguk. “Apa kau… tidak berpikir ada sesuatu yang
mencurigakan darinya?” tambahnya. Ia berpikir, mungkin info sekecil apapun dari
Ki Jae bisa membantu penyelidikan.
Ki
Jae nampak berpikir. Ada sesuatu yang dipikirkannya, tapi sedikit lupa. “Itu…”
ia kelihatan kesulitan mengingatnya. Di bayangannya, seorang Kim Tae Soo memang
terlalu ramah untuk menjadi penjahat. Atau dia tak perlu kecurigaannya pada Kim
Tae Soo secara langsung. Mungkin dari benda lain. Tunggu! Lukisannya!
“Ne.
Aku teringat sesuatu. Lukisannya sedikit aneh.”
“Lukisan?”
“Ne.
Di salah satu lukisannya, aku melihat ada lukisan wanita yang kelihatan
kesakitan.” Oke! Baek Ji tambah tak mengerti dengan kata-kata bocah ini.
Apalagi setelahnya Ki Jae malah mencari tasnya. Tak jauh, Baek Ji meletakkannya
di dekat meja. “Apa yang mau kau cari?” tanyanya seraya memberikan tas itu pada
Ki Jae. Ki Jae belum menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya. Mencari-cari sesuatu
di internet. Salah satu lukisan Tae Soo yang ia sodorkan pada Baek Ji. Wah,
memang benar orang itu terkenal. Bahkan, lukisannya saja banyak di internet.
“Ini
lukisan Kim Tae Soo?” tanya Baek Ji. Ki Jae mengangguk cepat. Berharap, tatapan
Baek Ji yang nampak teliti di lukisan itu bisa membuat polisi ini sedikit paham
apa yang dimaksudkannya. Tapi, lama sekali Baek Ji menatap gambar itu, tak ada
reaksi. Dia malah mengangkat kepalanya, menatap Ki Jae dengan alis yang
terangkat sebelah. “Mwoya ige[1]?”
“Coba
Anda lihat di sebelah sini,” ujar Ki Jae. Itu hanya gambar abstrak, yang jika
dilihat hanya campuran warna yang tidak jelas. Atas bantuan telunjuk Ki Jae
yang menunjuk dominan warna merah di sana, serta tangan Ki Jae yang mencoba
memperbesar ukurannya, membuat Baek Ji menemukan sosok wanita yang dimaksud Ki
Jae tadi. Lukisan di dalam lukisan. Seperti itulah kira-kira. Seperti lukisan
Mona Lisa yang ternyata ada wanita lain di dalamnya, dan lukisan abstrak ini
menampakkan wajah wanita yang tak begitu jelas. Dengan wajah mengerikan, dan
mulut terbuka. Persis seperti gambar-gambar penghuni neraka yang sedang
berteriak kesakitan. Baek Ji menggaruk kepalanya. Sedikit heran juga, bocah ini
bisa menemukan detail yang sangat sulit ditemukan itu.
“Yah… karena kau bilang
begitu, memang seperti wanita, sih,” dia sendiri masih ragu.
“Tak
ada lagi?” Baek Ji masih mengharap info lain. Sayangnya, Ki Jae menggeleng
lemah. Yah… ia tak bisa memaksa bocah ini, kan?
“Kau
sudah sadar?” tiba-tiba suara lain terdengar. Soo Jin yang datang. Ki Jae mengangguk
demi menjawab pertanyaan. Ia sedikit senang, ada yang memperhatikannya. Meski
mereka bukan siapa-siapanya.
Soo
Jin lalu mengode Baek Ji untuk keluar dari sana. Ki Jae paham. Itu pasti soal
penyelidikan. Tapi, mereka hanya mengobrol di depan pintu. Membuat Ki Jae
melihat bagaimana ekspresi Baek Ji mendengar bisikan dari Soo Jin. Lelaki itu
nampak terkejut. Ada apa? Meski Ki Jae penasaran, tentu saja ia tak akan
bertanya. “Ki Jae~ya!” panggilan Baek Ji membuatnya terpengarah. “Aku harus
pergi. Tak masalah kan kalau kau kutinggal sendirian?” tanyanya. Kepala Ki Jae
mengangguk.
Setelahnya, Baek Ji benar-benar pergi. Secepat mungkin dia berlari.
Pasti ada kasus baru? Hah… Ki Jae mendesah pelan. Hatinya nelangsa. Memikirkan
nasib kakaknya. Kenapa dengan bodohnya ia tak bisa membawanya pergi dari
laki-laki itu? Dia menyesali kedunguannya sendiri.
Tanpa
disadarinya, ada seseorang yang menggantikan tempat Soo Jin dan Baek Ji tadi di
depan pintu. Seorang wanita tua. Lebih tepatnya, wanita itu adalah wanita yang
ditemui Won Geun dan Woo Young semalam. Matanya nanar menatap Ki Jae.
“Han
Ki Jae masih belum siuman,” ia ingat kata Won Geun
setelah menerima telpon dari Soo Jin setelah mewawancarinya semalam. Nama itu,
membuatnya tercengang. Sekali lagi ia menanyakannya, “Maaf. Siapa tadi
namanya?”
“Han
Ki Jae, Eommonim. Dia anak yang kuceritakan tadi,” jawab Woo Young. Matanya
membelalak. Seolah memang ia sangat tak asing dengan nama itu. “Anda bilang dia
punya nuna? Siapa nama nunanya?” tanyanya lagi.
“Han
Hyo Kyung, Eommonim.” Tambahlah dia terpengarah. Apa itu takdir? Entahlah. Ia
sendiri belumt terlalu yakin. “Apa mungkin Anda mengenal mereka, Eommonim?”
pertanyaan Woo Young membuatnya terkejut. Ia menggeleng. “Aniyo,” jawabnya
datar. Walau di wajahnya berkata sebaliknya. Woo Young sadar itu. Tapi ia tak
lantas menanyakannya. Biarlah, pikirnya.
Dan
pertanyaannya sudah terjawab sekarang. Apa itu takdir? Ya, mungkin memang itu
takdir. Dia melihat wajah Ki jae yang mulai beranjak dewasa itu, seolah tak
banyak berubah. Persis seperti 15 tahun yang lalu. Hanya badannya yang lebih
tinggi, dan raut wajahnya tak seceria saat itu. “Ki Jae~ya…” lirihnya. Tak
tahan dengan air matanya sendiri, ia membekap mulutnya. Takut bocah itu
mendengar isakannya. Dengan langkahnya yang terus melemas, ia berjalan pelan.
Keluar dari rumah sakit itu dan terisak-isak dalam diamnya. Ia hampir jatuh
andai tak Baek Ji yang ternyata belum sepenuhnya meninggalkan rumah sakit
menangkapnya.
“Eommonim,
gwaenchanayo?” tanyanya panik. Susah payah ia bangun. Setidaknya menolak pelan
bantuan dari Baek Ji. Sendirinya tak ingin dibantu memang. Dia
mengangguk-angguk. Tangannya memberi isyarat pada Baek Ji untuk melepaskannya.
Tak sanggup bibirnya menjawab pertanyaan tadi.
“Baek
Ji~ya, ppali[2]!”
teriakan Soo Jin di parkiran memaksa Baek Ji pergi. Agak was-was sebenarnya.
Takut kalau perempuan tua itu pingsan tiba-tiba. Sebelumnya dia sempat
berpesan, “Eommonim masuk saja ke dalam kalau merasa tidak enakan.” Barulah dia
benar-benar meninggalkannya.
Memang
benar dia merasa tidak enakan. Bahkan hatinya hancur berkeping-keping. Tapi,
apa dokter bisa menyatukannya kembali. “Eommonim! Kumohon, Anda bisa menyelamatkan nyawa kakak beradik.
Sekarang adiknya ada di kantor polisi kami. Dia ingin menyelamatkan nunanya.
Mereka sudah lama tinggal sendiri tanpa kedua orang tuanya. Jika nunanya mati,
maka anak itu akan hidup sendirian. Apakah Anda tidak punya perikemanusiaan?!”
teriakan Woo Young semalam berngiang-ngiang di kepalanya. Kakaknya… Han Hyo
Kyung. Anaknya bersama Kim Tae Soo?
“Kudengar
kau punya anak perempuan yang cantiknya sama sepertimu. Kalau boleh, aku ingin
mengunjungimu secepatnya. Oh, kaulah orang yang belum kubuat cantik, kan?” suara telpon tak dikenal 7 tahun setelah kepergiannya
dari rumah majikannya saat itu menusuk-nusuk imajinya. Ketakutan menyergapnya
erat-erat. Tujuh tahun ia menghindar, dan bocah mengerikan yang menghabisi
anggota keluarganya dalam satu malam itu tetap bisa mendapatkan nomornya. Dan
ia meninggalkan Ki Jae dan Hyo Kyung. Berharap bocah itu tak bisa menemukannya.
Tapi, nyatanya, bocah yang kata Woo Young semalam adalah Kim Tae Soo itu
berhasil menemukan anak-anaknya.
“Ki
Jae~ya… Hyo Kyung~a… eomma mianhae…” sesaknya berulang-ulang.
***
Bau
mayat wanita tanpa busana yang sudah ditutup koran itu sangat menyengat.
Petugas forensik yang datang memeriksanya, mengira-ngira kematiannya sudah
lebih dari lima hari. Tubuhnya sangat kaku. Hanya saja, saat diperiksa tak ada
tanda-tanda kekerasan seksual. Tak ada identitas yang bisa ditemukan. Siapa wanita
ini, tak bisa diidentifikasi. Wajahnya hancur, penuh dengan gurat luka.
“Siapa
yang menemukannya?” tanya Won Geun pada Baek Ji yang lebih dulu datang dari
dirinya dan Woo Young. Baek Ji menunjuk seorang kakek-kakek yang masih ditanyai
petugas di sudut tak jauh dari mereka. “Dia hanya laki-laki tua yang mengangut
sampah. Banyak warga yang mengeluh karena bau sampah di sini sangat menyengat.
Ternyata, memang ada mayat di sini,” jawabnya. Won Geun mendesah perlahan.
Ditatapnya Woo Young yang berdialog dengan petugas forensik itu. Soo Jin
menepi. Melihat-lihat lokasi. Berharap CCTV di sana menangkap sudut yang tepat.
Dan sekilas ia sempat bertanya-tanya pada orang-orang yang berkumpul di sana.
Woo
Young selesai. Dengan helaan yang sama, ia mendekati dua anak buahnya. “Apa ini
pembunuh yang sama, Hyung?” tanya Won Geun. Jawaban yang pasti, anggukan lemah
darinya. “Ya, sepertinya begitu.”
“Sepertinya
kita bisa dapat beberapa sudut yang bagus,” Soo Jin dengan laporannya.
“Kita
akan periksa CCTV. Dapatkan keterangan dari beberapa orang yang tinggal di
sekitar sini. Sepertinya kita harus menunggu petugas untuk mengidentifikasi
siapa mayat ini,” ujar Woo Young.
“Bagaimana keaadan Han Ki Jae?” ia beralih ke
Baek Ji.
“Dia
sudah sadar tadi. Kurasa dia hanya kelelahan. Semalam dia dari tempat latihan
dan melihat Han Hyo Kyung dibawa pergi Kim Tae Soo dalam keadaan yang
memprihatinkan,” jelas Baek Ji. “Ah… soal itu juga…” drrt! Ddrt!
Tambahan Baek Ji terpotong. Ponsel Soo Jin bergetar dan terpaksa membuatnya
berhenti sebentar. Kompak benar mereka bertiga memperhatikan eskpresi wajah Soo
Jin. Ada yang tak beres. Apalagi setelahnya matanya membulat besar.
“Waeyo,
Hyung?” tanya Baek Ji lebih dulu. Sampai lupa ia kalau ada yang mau ia
sampaikan tadi.
“Itu…”
ddrt! Drrt! Kali ini suara ponsel Won Geun yang bergetar. “Yeoboseyo?”
tanggapnya. Belum selesai panggilan itu, suara ponsel Woo Young juga terdengar.
Jadilah dua orang itu saling menjawab panggilan dari seseorang. Tak jauh beda
dari ekspresi Soo Jin tadi, keduanya nampak terkejut. Dalam waktu yang hampir
berbarengan, panggilan mereka berakhir.
“Waeyo?
Waeyo?” hanya Baek Ji yang nampak
kebingungan. Tak ada orang yang menelponnya seperti tiga rekannya yang lain.
Tapi tak ada jawaban dari ketiganya.
***
Wanita
ini membuka matanya. Pelan-pelan, sambil menikmati kepalanya yang terasa nyeri.
“Akh…” erangnya. Sakit di kepalanya menjalar ke seluruh persendian tubuhnya. Usahanya
gagal untuk mengurangi nyeri di kepalanya. Tangan yang akan digunakannya untuk
menekannya tak bisa berkutik. Telinganya yang mulai berfungsi mendengar
samar-samar suara gemercik air. Dan tempat yang dirasakannya untuk duduk ini
terasa dingin. Tangannya melingkar ke belakang. Ah, dia terikat.
Matanya
kemudian terbuka. Melihat sempat tertegun dengan air mancur di dekatnya itu.
Juga dekorasi ruangan yang sangat elit ini. Beberapa perabot mewah dan tempat
yang sedikit asing. Ia dimana? Itulah yang ingin ditanyakannya. Tapi, merasa
terikat seperti ini lebih menarik rasa penasarannya. Mulutnya memang tak
tersumpal apapun. Hanya saja, tenggorokannya pelik untuk mengeluarkan suara.
Pandangannya
menyapu hingga sudut pandang yang bisa dijangkau kepalanya. Ada seorang yang
memberi harapan padanya untuk lepas dari posisi itu. Seorang gadis yang duduk
di sofa, tak jauh darinya. Dia menatap ke arahnya. Tapi, tak ada bayangan
dirinya di sana. Tatapan wanita itu, sepertinya mati. Tapi, ketimbang
memikirkan hal itu, bukankah lebih baik untuk menanyakan posisinya sekarang,
bukan? Dipaksakannya tenggorokannya terbuka. Mulutnya akan berusaha sebaik
mungkin untuk menarik perhatian wanita itu. “Maaf…” ia mulai berucap. Wanita
itu masih tak bergeming. Ia mulai cemas. Jangan-jangan malah orang itu yang
membuatnya seperti ini.
“Sebenarnya…
ini dimana?” tanyanya ragu. Satu detik… dua detik… tiga detik… masih tak ada
respon. “Apa Anda mendengarkanku?” tambahnya lagi. Wanita itu… tiga detik lagi
memang tak bergeming. Tapi hanya tiga detik. Setelah itu kepalanya bergerak.
Bulu matanya yang agak panjang itu mengerjap. Walau tak banyak perubahan, paling
tidak sekarang di matanya benar-benar mengarah kepadanya.
“Ini
di mana?” tanyanya lagi. Bibir wanita itu nampak bergetar. Tangannya terangkat,
menunjuk ke arah wanita itu gamblang. “Ini adalah…” suaranya terdengar
sangat-sangat menyedihkan. Ada getaran yang terasa menyakiti pendengaran saja.
“… paradise,” tuntas jawabannya. Tentu saja jawaban seperti itu tak mudah
dimengerti.
“Ne?”
justru tanggapan seperti inilah yang ada. Tapi, wanita itu tak berniat
mengulangi jawabannya. Rasanya pun memang tak perlu. Karena, setelah itu
terdengar suara kode akses masuk ke dalam sini terdengar dari pintu depan. Ada
yang masuk. Dengan setelan tuxedo serba putihnya. Tangannya membawa buku gambar
dan pensil. Setelah mengganti panthopelnya dengan sandal rumahnya, ia menghampirinya.
Senyum separuhnya terbentuk melihat orang itu sudah terbangun. Menatapnya
dengan heran, bingung sekaligus ngeri. Senyum separuh itu, lebih terlihat
seperti senyum malaikat maut!
“Kau
sudah bangun?” tanyanya. “Welcome to paradise! Aku akan membuatmu melupakan
rasa takutmu soal wajahmu yang kau anggap kurang cantik itu,” tambahnya.
***
Tim
Jo Woo Young sekarang tengah membeku cukup lama di meja mereka masing-masing.
Satu benda yang mereka tatapi sejak tadi. Adalah papan kaca yang menampilkan
lima mayat wanita, dengan wajah hancur dan tanpa identitas. Dalam waktu satu
hari, mereka mendapat korban sebanyak itu. Dengan satu kata kunci yang sama:
kelima wanita itu dibunuh oleh orang yang sama. Yaitu orang yang selama ini
mereka cari-cari.
“Bagaimana
bisa ini terjadi?” gumam Baek Ji. Soo Jin yang menanggapinya dengan helaan
nafas panjang. Bergantian dua atasannya, Jo Woo Young dan Go Won Geun ia
tatapi. Keduanya tak menunjukkan ekspresi yang berbeda. Sama-sama terlihat
kacau. Menyudahi ratapannya, Woo Young menatap tajam ke ketiga anak buahnya.
“Cepat
tangkap pembunuh gila itu!” sentaknya. Dia bangun. Menghilang beberapa menit
dan kembali dengan satu kardus flash disk. “Tidak ada yang boleh pulang sampai
menemukan sesuatu dari semua flash disk ini!” tambahnya. Soo Jin dan Baek Ji
memberi respon yang sama. Rasanya flash disk itu terlalu banyak. Bagaimana Woo
Young menemukan semua rekaman CCTV sebanyak ini hanya dalam waktu setengah
hari? Mereka tak bisa menjawabnya. Dan bagaimana mereka bisa secepatnya menemukan
sesuatu yang dimaksud Woo Young itu dari semua flash disk ini agar
mereka pun bisa pulang secepatnya? Sekali lagi mereka tak tahu.
“Sementara
itu, aku ingin menemui seseorang,” tambahnya. Tanpa menunggu persetujuan dari
yang lain, ia pergi begitu saja. Membawa rasa marah dan pening di kepalanya.
Won
Geun sendiri menatapnya. Tak sama dengan Soo Jin dan Baek Ji yang mulai
menancapkan flash disk-flash disk itu ke komputer masing-masing, pikirnya masih
dijejali satu orang. Pria berbaju serba hitam itu. Dan kenyataan bahwa dia
sangat mencurigai Woo Hyun. Sekali lagi ia menilik dua video lama itu. Sekali
lagi pula ia membandingkannya dengan bayangannya soal Woo Hyun yang membawa
jaket hitam ini. Apa orang ini memang Woo Hyun?
“Jika
kalian menemukan pria serba hitam itu, segera beritahu padaku!” titahnya pada
Baek Ji dan Soo Jin. Tak ada suara, hanya anggukan kepala yang nampak sangat
lesu.
“Kukira
kita hanya harus menemukan adanya Kim Tae Soo di antara rekaman-rekaman ini
kan, Hyung?” ujar Baek Ji.
“Tidak
ada satu pun bukti yang mengarah padanya. Dan kalaupun orang berpakaian serba
hitam itu kita curigai sebagai dirinya, perawakannya berbeda jauh. Pasti sangat
sulit menjatuhinya vonis tersangka,” timpal Soo Jin.
“Won
Geun Hyung!” Baek Ji beralih ke Won Geun yang mulai membantu pekerjaan mereka.
Won Geun mengangkat kepalanya, menunggu Baek Ji mengatakan apa maksudnya
memanggil namanya barusan. “Bagaimana pertemua kalian dengan saksi utama kasus
22 tahun yang lalu di Gyeonggi itu?”
“Apa
ada info soal Kim Tae Soo, Hyung?” tambah Soo Jin. Won Geun membenarkannya.
“Saksi itu tak mengenal Kim Tae Soo. Tapi, Kim Tae Soo kecil adalah anak yang
ia kenal 22 tahun yang lalu. Dialah bocah 10 tahun yang membunuh seluruh orang
yang ada di rumah itu.” Mendengar hal ini, bola mata Soo Jin dan Baek Ji hampir
keluar. “Bocah 10 tahun?!” sentak mereka tak percaya.
“Apa
hal itu mungkin?” Baek Ji bertanya lagi.
“Bocah
itu tak dibesarkan dengan benar. Selama hidupnya, dia dikurung di dalam ruangan
dan mendapat siksaan oleh pemilik pabrik itu setiap harinya. Begitu dia bebas,
dia membunuh semua yang ada di rumah itu.”
“Dan
bocah itu Kim Tae Soo?” selidik Soo Jin. Won Geun membenarkannya. Dan karena
hal itu juga, mulut Baek Ji giliran yang membulat. Sebenarnya mereka masih
penasaran soal cerita saksi itu. Tapi, Won Geun menghentikan mereka bertanya.
“Periksa dulu semua rekaman itu, baru aku akan menceritakan detailnya pada
kalian!” bentaknya. Dan tanpa komentar, Soo Jin dan Baek Ji menurutinya.
***
Woo
Hyun baru saja keluar dari lift rahasia di gedung Kim Tae Soo. Tak ada siapapun
di tempat parkir. Tapi, di dekat pintu masuk parkiran ada seseorang yang
berdiri di sana. Menatapi asal semua penjuru tempat itu. Ia mengenalnya. Walau
tak begitu yakin, tapi dia mendekatinya.
“Woo
Young Hyung?” terkanya. Orang itu berbalik dan benarlah. Dia memang Jo Woo
Young. Apa ekspresi yang ditunjukkannya? Woo Hyun tak bisa membacanya.
“Oh,
Woo Hyun~a!” sapanya. Woo Hyun tak memberi ekspresi lain kecuali ekspresi
bingungnya.
“Kenapa Hyung ada di sini?” tanyanya heran.
“Oh,
itu… aku ada perlu dengan Kim Tae Soo,” jawab Woo Young. Woo Hyun kelihatan
paham. Lantas ia tak memberi pertanyaan lanjutan. Sebaliknya, justru Woo Young
lah yang bertanya padanya. “Kau sendiri? Kenapa kau tidak ada di sekolah dan
malah ada di sini?” sebenarnya ada nada menyelidik di sana. Tapi, Woo Hyun tak
menyadarinya.
“Aku
juga punya keperluan dengan Kim Tae Soo. Kurasa dia tidak ada di ruangannya.”
“Kenapa
kau lewat sini? Bukannya lewat pintu depan.”
“Aku
menemui seseorang dulu sebelum pergi.”
“Siapa?”
deg! Woo Hyun mulai sadar dengan nada itu. Terlebih tatapan Woo Young
seolah mencoba mengintimidasinya.
“Ada….
Seseorang itu… kurasa Hyung tak perlu mengetahuinya,” jawabnya. Nadanya
melirih. Dia ingin menjawab jujur, “Aku baru menemui Seok Ryeong Nuna, Hyung.”
Bukan sekarang. Mungkin suatu saat nanti dia bisa menjawab hal seperti itu
dengan benar. “Kenapa? Kau penasaran sekali?” tambahnya. Giliran Woo Young yang
tersentak. Apa gelagatnya terlalu terburu-buru?
“Oh,
tidak. Aku hanya… heran saja. Akhir-akhir ini kau jarang sekali ada di sekolah
tempatmu bekerja itu.”
“Kau
tahu soal itu? Apa kau datang ke sekolah tiap hari?”
“Aku
hanya mampir saat aku menyelidiki TKP di sekitar sana. Dan kukira, aku bisa
menemuimu. Tapi ternyata orang lain yang ada di perpustakaan itu.”
“Ehm,”
Woo Hyun mengangguk. “Kim Tae Soo memberiku beberapa pekerjaan. Gajinya cukup
lumayan daripada di perpustakaan itu.” Pekerjaan? Woo Young sungguh
ingin menanyakan hal itu. Tapi ia urungkan. Sepertinya ini bukan waktu yang
tepat.
Dia
mencoba tertawa. “Kau sudah meninggalkan buku-buku yang kau cintai?”
“Tidak
juga. Aku masih bekerja di sana. Hanya saja, aku hanya bekerja jika Kim Tae Soo
tidak membutuhkanku di sini.”
“Kau…
akhir-akhir ini menjadi lebih dekat dengan Kim Tae Soo sepertinya, ya?
Seingatku kau bilang dia hanya kenalanmu.”
“Ya.
Dan sekarang aku merasa berhutang budi padanya. Dia… membantuku tentang
sesuatu,” Woo Hyun mencoba tersenyum. Dia sadar, kakaknya mulai mencurigainya.
Mungkin karena hal itu juga dia nampak tenang menjawab semua pertanyaan Woo
Young padanya. Tak ada keraguan di tiap jawabannya. Bahkan, malah sepertinya
Woo Hyun ingin memberitahu kenyataan yang sebenarnya pada kakaknya itu.
Sayangnya, Woo Young masih belum tega untuk secara terang-terangan mencurigainya.
Walaupun sebenarnya kedatangannya kemari juga untuk memastikan kecurigaannya
pada adik kandungnya itu.
“Baiklah.
Apa kau mau pulang? Aku bawa mobil, aku bisa mengantarmu pulang sebelum kembali
ke kantor,” tawar Woo Young.
“Kau
tidak jadi menemui Kim Tae Soo?”
“Mungkin
tidak untuk hari ini. Bukankah kau sendiri yang bilang sepertinya dia tak ada
di ruangannya?”
“Ah,
benar juga.” Woo Hyun kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar. Ditutupinya
sebisa mungkin rasa bersalahnya itu pada sang kakak. “Ayo! Kapan lagi aku bisa
diantar kau pulang seperti ini? Kau kan selalu sibuk,” ujarnya. Lebih dulu dia
berjalan. Tak sadar bahwa Jo Woo Young sangat tersentil dengan kalimatnya
barusan. Kau kan selalu sibuk. Apa karena hal itu maka Woo Young tak
tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Woo Hyun? Ditatapnya punggung Woo Hyun
lama. Sampai bocah itu berbalik dan memasang tampang bingungnya. “Tidak
jadi mengantarku?” tanyanya.
“Tidak.
Tentu saja aku akan mengantarmu. Aku… harus punya waktu untuk adikku sendiri,
kan?” tanggapnya, menambah beberapa langkah agar berjalan tepat di samping Woo
Hyun. Senyum Woo Hyun terurai. Meski itu kelihatan terlalu getir di mata Woo
Young.
***
Satu
sentuhan lagi, dan gambar Tae Soo selesai. Ditatapnya lama dulu.
Membandingkannya dengan yang asli. Jika dirasanya sudah mirip, maka ia akan
tersenyum. Menggantikan senyum separuhnya dan menyisakan senyum malaikat khas
miliknya. Diraihnya tisu. Membersihkan sisa-sisa pekerjaannya yang masih
tertinggal di tangannya.
Bau
anyir terasa menusuk-nusuk hidung. Ini tidak mengganggu. Justru Tae Soo
menyukainya. Meski kadang pun ia selalu mengeluh pada Jo Woo Hyun, bahwa ia
ingin semua bau itu segera disingkirkan. Sejatinya sendiri menghirupnya
dalam-dalam. Seolah puas dengan hasil pekerjaannya. Baju milik wanita tanpa
nyawa di depannya itu sudah raip. Menjadi kumpulan potongan kain di lantai. Dia
menyukainya. Menurutnya, cantiknya akan lebih terkespos jika dibiarkan
telanjang bulat seperti itu.
Dari
wanita itu, ia beralih. Tentu ke arah kekasihnya yang duduk diam. Tak ada yang
tahu. Kengerian, sedih dan rasa jijiknya menelusup di balik persendiannya.
Menggerogoti ekspresi sesungguhnya di dalamnya. Hingga yang tersisa hanya wajah
datar tanpa ekspresinya itu.
“Kurang
dua orang lagi,” ujar Tae Soo. Kaki berjalan mengitari Han Hyo Kyung. Di
belakangia berhenti. Meremas kedua pundaknya perlahan dilanjut dengan
melingkarkan tangannya ke leher Hyo Kyung. Kepalanya menyempil ke leher sebelah
kanannya. Disesapnya dalam-dalam aroma tubuh Hyo Kyung. Wangi yang sangat ia
gilai. Hidungnya mengelus permukaan lehernya itu. Membuat Hyo Kyung bergidik
pelan, merasa geli dan gugup sekaligus. “Giliranmu sebentar lagi,” bisiknya
impulsif.
Sekilas
Hyo Kyung merasa basah di lehernya. Namun apa yang ditakutkannya tak terjadi.
Tae Soo hanya beralih ke wajahnya, mengecup bibirnya sekilas dan tak
melanjutkan aksi apapun pada Hyo Kyung. Diambilnya kemeja putih yang
menggantung di dinding. Mengganti kemejanya sendiri.
Selesai dengan setelan
resminya, dia kembali melirik Hyo Kyung. “Mandilah! Kita akan melanjutkannya
nanti. Ada klien yang harus kuurusi,” ujarnya datar. Hyo Kyung tak bergeming.
Kepalanya seolah ditumbuk palu raksasa. Bau anyir dan perasaan campur aduk
mengiris-ngiris kewarasannya. Dibiarkannya begitu saja Tae Soo yang pergi.
Dalam diam, mungkin ia bermaksud menuruti kemauan Tae Soo tadi. Tapi entahlah,
sekujur tubuhnya tak mau diajak bekerja sama.
Sementara
itu, Tae Soo sudah sampai di lantai satu. Menemui seorang klien dengan setelan
serba cream yang baru saja memasuki pintu lobi. Adalah hal yang lumrah bagi
seorang Kim Tae Soo menyambut kliennya seperti itu. Tak ada yang akan mengira
bagaimana kepribadian aslinya dibalik keramahtamahannya itu.
“Lama
tidak berjumpa, Kang Sajangnim!” sapanya ramah. Pria itu pun menyambutnya
dengan cuaca yang sama. Mereka lalu terlibat obrolan yang agaknya cukup santai.
Meskipun masih membahasakan bisnis pula.
Di
antara pembicaraan mereka itu, seorang wanita memandangi Tae Soo. Tepatnya
wanita tua yang ditemui Woo Young, yang memperhatikan Han Ki Jae di rumah
sakit, dan sekaligus yang menangisi nasib dari Han Hyo Kyung. Wanita itu
menatap intens lekuk di wajah Tae Soo. Persis sama dengan foto yang ditunjukkan
Woo Young malam itu. “Dan anak itu, adalah anak ini.” Ia ingat kata-kata
Woo Young. Wajah kecil yang ia ingat 22 tahun yang lalu, adalah milik dari pria
dewasa sempurna di depannya itu. Jadi mereka adalah orang yang sama?
Tenggelam
dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri, sepertinya wanita ini tak sadar kalau
Tae Soo menyadari gerak-geriknya sejak tadi. Bahkan sampai Tae Soo
menghampirinya, menepuk pundaknya pelan, ia melonjak dan hampir menjatuhkan tas
tangan yang ia bawa. “Maafkan aku karena mengejutkanmu,” ujar Tae Soo lembut.
Senyumnya tak pernah tanggal. Meski sebenarnya tak ada pengaruhnya sedikit pun
untuk wanita ini. Malah membuatnya gugup. Yang bisa diingatnya bukanlah
keramahannya saat ini. Tapi wajah datarnya bersimbah darah dengan mayat-mayat
yang ada di sekelilingnya di masa lalu.
“Aniyo.
Gwaenchanayo,” balasnya singkat. Tak tahan ia memandang balik tatapan mata Tae
Soo. Gurat wajah Tae Soo memang ramah. Tapi matanya berkata lain. Seolah, ada
aksi intimidasi di sana.
“Apa
mungkin… Anda mengenalku?” tanya Tae Soo. Tatapannya terlihat makin tajam.
Karena itu pula wanita itu makin dalam menundukkan pandangannya. Bibirnya
hampir saja berucap, “Aniyo. Aku tidak mengenal Anda.” Tapi, otaknya memberi
solusi lain. “Seseorang yang terkenal seperti Anda, bagaimana mungkin aku tidak
kenal?” dan ia sedikit selamat. Tae Soo tak lagi mencondongkan tubuhnya
lebih dekat. Ia tertawa kecil menanggapi jawaban itu.
“Lalu…
apa ada yang bisa kubantu, Eommonim?” Tae Soo mengganti topik pembicaraanya.
Wanita ini mencoba mengimbangi. Ia bersikap lebih tenang. Lantas lukisan di
dekatnya ia amati betul-betul. Hanya lukisan abstrak yang penuh dengan warna
merah. Tapi yang tervisualisasi oleh matanya adalah wajah menyedihkan Tae Soo
semasa kecil. Bibirnya mengulas senyum. Menarik perhatian Tae Soo.
“Anda
menyukai lukisan ini?”
“Ne.
Lukisan ini mengingatku pada seorang bocah laki-laki yang sering sekali
terluka. Dia…” deg! Wanita ini tersentak. Tanpa sadar ia hampir
menceritakan tentang Tae Soo pada Tae Soo sendiri.
“Waeyo?
Apa yang terjadi dengan bocah laki-laki itu? Kenapa dia sering terluka?”
“Ah,
bukan apa-apa.” Lagi. Tae Soo terlalu sensitif untuk tidak menyadari perubahan
itu. Tapi kali ini ia membiarkannya. Sampai wanita itu pergi dari hadapannya
pun, ia hanya diam. Hanya ekspresi datar di wajahnya saja yang menunjukkan ia
mungkin bermaksud menyelidiki latar belakang wanita itu. Lebih dari itu,
rasanya ia pernah melihat wanita itu sebelumnya di suatu tempat.
***
Kantor
kepolisian sudah kehilangan cahaya. Tak ada satu pun lampu yang terlihat masih
menyala. Paling hanya lampu di pos satpam yang ada di depan. Dalam kegelapan
itu, masih ada redup cahaya dari monitor komputer di meja Woo Young. Tentu
dengan pemiliknya yang masih senang mengencani video yang ia putar
berulang-ulang. Membandingkan yang satu dengan yang lain.
Sekaligus
membandingkan pula dengan yang ada di otaknya.
Jaket,
topi, dan yang paling menyita perhatiannya adalah gelang itu. Memang, tak
menutup kemungkinan jutaan manusia pasti punya gelang seperti itu. Tapi, makin
diperhatikan, wajah yang tak begitu jelas dari laki-laki serba hitam itu memanglah
begitu mirip dengan orang yang ada di otaknya sekarang. Berulangkali ia
berteriak dalam hatinya, “Tidak mungkin!” tapi otaknya terus mengiyakan. Ini
memanglah orang yang ia curigai.
Ia
bangkit. Menghirup napasnya dalam-dalam. Harus dipastikannya sendiri secara
langsung. Ia hanya tak ingin kecurigaannya membunuh dirinya pelan-pelan.
Setelah
menekan tombol power di monitornya, ia pergi. Mengambil kunci mobil di atas
meja dan keluar dari sana. Menyisakan seseorang yang sejak tadi
memperhatikannya. Begitu Woo Young benar-benar keluar dari sana, ia yang
menggantikannya menghadap komputer Woo Young. Tombol power kembali ditekan,
menampilkan video dalam keadaan pause. Cahaya dari monitor terpantul di
wajahnya. Menampilkan sosok Won Geun yang tak jauh beda dengan ekspresi Woo
Young tadi. Ia menghela nafas panjang. “Apa Woo Young hyung sudah
menyadarinya?” tanyanya seorang diri.
Sementara
itu, Woo Young sudah sampai di rumahnya. Gelap. Tak ada siapapun di sana. Aneh.
Padahal Woo Hyun tak bilang akan menginap di rumah teman. Kalaupun di lembur,
dia pasti akan menyelasaikan pekerjaannya di rumah. Atau mungkin dia sudah
tidur? Tapi, sampai ia masuk pun, tak ada siapun. Woo Hyun tidak di rumah.
Hingga
ada suara langkah seseorang di luar. Woo Hyunkah? Woo Young urung untuk membuka
pintu. Sebaliknya, dimatikannya lampu ruang tamu lagi. Dipilihnya duduk di
kursi yang ia hadapkan langsung ke pintu. Dengan sabar ia tunggu sampai
seseorang masuk dan menghidupkan lampu.
Klik! Suara saklar terdengar begitu pintu dibuka. Ruangan
terang kembali. Dan seseorang berpakaian serba hitamlah yang masuk. Masih belum
sadar sepertinya akan keberadaan Woo Young di sana. Ia melepas topi dan
maskernya.
“Darimana
kau?” tanya Woo Young. Ya, pria itu adalah Woo Hyun, yang sekarang sudah terkejut
karena sadar, ia sedang tak sendirian di sana.
“Hyu…
hyung?” bahkan ia terlihat gugup. “Se, sejak kapan kau ada di sana?”
“Baru
saja,” jawab Woo Youn datar. Ia belum mau menunjukkan ekspresi apa-apa.
Perasaan bersalah menelusupi dirinya begitu saja. Sebagai alibi, ia berdiri.
Memasukkan tangannya yang mulai gemetaran ke dalam saku jaketnya. Dan srek!
Ia malah menyentuh pistol di dalam sana. Ah! Apa yang harus dilakukannya
sekarang? Jaket itu… topi itu… tampilan itu…
“Oh…
kukira kau akan lembur. Kau membuatku terkejut, Hyung! Aneh sekali. Kenapa
tidak menghidupkan lampu kalau kau ada di sana?” lanjut Woo Hyun. Ia berhasil
menguasai dirinya sendiri. Pelan, ia melepas atribut yang membuatnya serba
hitam. Menyisakan jeans hitam dan kaos oblong putih. Sepatuya pun ia lepas. Tak
risih benar ia diperhatikan Woo Young terus-terusan.
“Kau
belum menjawab pertanyaanku,” tambah Woo Young.
“Oh…
aku hanya pergi ke suatu tempat. Tidak terlalu penting untuk dibicarakan,”
jawab Woo Hyun santai. Diambilnya minum dari dispenser di dekat pintu masuk.
Ditenggaknya satu gelas demi
membasahi tenggorokannya sendiri.
“Sampai
larut malam begini?”
“Ehm,”
Woo Hyun mengangguk. Mulutnya masih penuh dengan air. Woo Young mengangguk
pelan. Rasanya ia tak bisa menyelidiki pasal kepergian Woo Hyun malam ini.
Harus ada yang lain. Yang lain yang ia bicarakan agar memancing Woo Hyun untuk
bicara sesuatu. Tentang Tae Soo misalnya.
“Woo
Hyun~a!” panggilnya. Sebagai tanggapan, Woo Hyun hanya menatapnya. Sambil
sesekali menyeka keringat dan sisa-sisa letihnya. “Sejak kapan kau mengenal Kim
Tae Soo?” pertanyaan ini membuat Woo Hyun diam sesaat. Tatapannya pun sedikit
berubah saat membalas tatapan Woo Young padanya.
“Cukup
lama. Sekitar 3 tahun,” jawabnya. “Kenapa memangnya?”
“Selama
itu, dan aku tidak tahu.”
“Kau
itu kenapa, Hyung? Kau memang tak begitu tahu keseharianku. Untuk orang seperti
Kim Tae Soo, jadi kau tak tahu soal itu pun tak masalah untukku. Aku sudah
terbiasa.” Kalimat-kalimat itu menohok hati Woo Young dalam-dalam. Bukankah
tadi itu adalah sebuah keluhan? Kalau dia adalah kakak yang jahat, yang tak
pernah punya waktu untuk adiknya sendiri.
“Jika
tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku ingin istirahat. Hari ini aku lelah
sekali.” Woo Hyun hampir beranjak dari tempatnya. Tapi Woo Young menarik
tangannya. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari jaket yang dibawa Woo
Hyun. Keduanya menatap benda apa itu. Pisau. Pisau?!
Lama.
Dua-duanya terlalu lama berdiam. Woo Hyun yang mengawali bubarnya diam dari
mereka berdua. Dia merunduk, tangannya meraih pisau itu. Ada yang tertinggal di
lantai. Tidak banyak, tapi cukup untuk menjelaskan bahwa itu adalah bercak
kemerahan. Darah?
“Ah…
kenapa aku memasukkan pisau ini ke dalam saku jaketku, ya?”
Jegrek! Suara pistol terdengar dikokang setelah keluar dari
saku jaket Woo Young. Pendengaran Woo Hyun sensitif. Memaksa kepalanya pelan
mengarah ke Woo Young dengan pistol yang sudah mengarah tepat ke kepalanya.
Wajah kakaknya memucat. Dengan mata kemerahan dan sebulir air yang meluncur
mulus dari pipinya. Ia hanya diam. Tak bisa berkomentar, dan merasa terlalu
lancang untuk menanyakan perihal apa yang membuat pistol itu mengarah seolah
ingin menembus otaknya saat itu juga.
“Jangan bergerak!” suara Woo Young bergetar. “Ja… jangan bergerak…” dan selanjutnya, isak tangisnya yang terdengar.
No comments:
Post a Comment