Tuesday, January 14, 2020

Pergi Ke Surga


Kantor kepolisian Gangnam Gu. Jika ini adalah siang hari, maka dari ujung pintu masuk sampai ujung dinding di lantai ini akan dipenuhi para manusia yang baru saja kepergok polisi melakukan suatu kesalahan. Bila dibandingkan dengan suasana jalanan di Gangnam Gu, maka tempat ini akan lebih ramai. Dari penjahat kelas tengik yang sudah memutilasi orang banyak, atau bahkan dari haksaeng yang terlibat semrawut tawuran antar fandom[1] idol di Korea. Dari yang akalnya sejernih air sumur, sampai yang cuma di awang-awang ada ketika menjawab pertanyaan tersusun dari polisi.

Hanya saja di luar sudah mulai menggelap. Beberapa komputer di sini memang masih hidup. Tinggal beberapa polisi pula yang ada di sini. Satu di pojok paling kiri di sudut ruangan, memasukkan tisu ke dalam lubang hidung kirinya, dan kepalanya yang berulangkali terkulai ke kanan, ke kiri, dan ke belakang, saking tak kuatnya menahan kantuk. Masih ada satu lagi yang duduk menghadap komputernya dengan mata yang lebih terang dari neon. Jari telunjuk kanan saja yang ia gunakan, untuk menekan tombol space dan backward pada video rekaman CCTV yang ia dapatkan hari ini. Dahinya yang berkerut dan pelipisnya yang sedikit pening tak ia hiraukan.

Polisi lain mendekatinya. Berbagi kopi sebentar, dan kemudian ikut memperhatikan yang dilihatnya. “Kau temukan sesuatu, hyung?” tanyanya. Woo Young, yang merupakan ketua di tim ini, yaitu polisi serba fokus malam itu menggelengkan kepalanya. Sudah 3 jam dia memperhatikan layar komputernya. Dengan tampilan yang sama. Tapi ia tetap tak mendapatkan apapun.

“Tak ada yang aneh. Karena beberapa menit setelah Min Soo Min keluar dari ruangan Kim Tae Soo, dia langsung pergi dari kantor galeri itu.”

“Berarti Min Soo Min tidak hilang di galeri itu. Kau sudah periksa CCTV di sepanjang jalan yang ia lalui?”

“Sudah. Ada beberapa CCTV yang rusak saat ia menaiki bus. Jadi dari sana aku sudah tidak bisa mengidentifikasi lagi kemana perginya dia setelah turun dari bus.”

“Sudah kau periksa bus yang ditumpanginya?”

“Tadi aku pergi bersamanya.” Jo Woo Young menunjuk si pulas di sampingnya. “Supir bus itu mengatakan tidak hapal semua penumpangnya. Bukankah itu wajar?” Rekannya ini, Go Won Geun membenarkan.

“Kita lanjutkan besok saja. Aku bersama Park Soo Jin akan memeriksa beberapa rumah temannya yang ada di Gangnam dan menanyai mantan kekasihnya yang ada di Hwaseong itu. Lebih baik sekarang kita pulang dulu. Kita lanjutkan besok saja,” saran Won Geun. Membunuh penasaran ini memang tak mudah. Terlebih semuanya kelihatan rapi. Tak ada yang mencurigakan. Lantas menghilang kemana Min Soo Min?

***

Ki Jae menengok jam kecil di atas tv. Sebelas tepat. Hyo Kyung belum juga pulang. Sampai sudah habis ramyeon yang dimakannya. Diletakkannya tutup panci yang digunakannya sebagai piring tadi. Kedua sumpitnya ia letakkan di sampingnya. Hah… kemana orang itu? Dia berdiri. Pikirnya ia ingin menjemput saja ke halte. Tapi ternyata Hyo Kyung sudah pulang. Dia ada di depan pintu. Hanya diam saja dengan mata redup yang menyapu lantai di bawahnya.

“Apa yang kau lakukan di sana? Nuna, kau tidak mau masuk?” tanya Ki Jae heran melihat tingkah Hyo Kyung. Hyo Kyung yang mulai tersadar menatap Ki Jae. Menyampaikan wajah pucatnya yang begitu mengkhawatirkan. “Wa, wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?” Ki Jae mendekatinya.

“Aniya. Gwaenchana,” jawaban Hyo Kyung mengurungkan niatnya untuk memeriksa dahi kakaknya itu. Siapa yang mau percaya dengan jawabannya barusan? Sedang ia masuk dengan langkah gontai seolah siap terjerembam kapan saja ke lantai. Alih-alih dengan kondisi tubuh Hyo Kyung sekarang, Ki Jae menemukan keganjilan dari sepatu kakaknya. Ada sesuatu berwarna merah yang mengotori sepatu itu. Ia berjongkok, memastikan cairan apa itu. Bukankah ini darah? “Ya! Kau terluka?” paniknya makin menjadi. Hyo Kyung yang belum sampai juga menghabiskan setengah jalannya menuju tangga ke kamarnya, menoleh kembali.

“Wae[2]?” tanyanya masih dalam nada yang teramat lemah. Dia kehilangan energi terlalu banyak. Sebenarnya tadi, saat ia melihat panci ramyeon di atas meja, dia ingin mengomeli Ki Jae. Bocah itu sering sekali makan ramyeon akhir-akhir ini. Jangankan untuk mengomel, bernafas saja rasanya sangat berat. Terlebih menghadapai Ki Jae dengan gurat kecemasannya itu. “Ada darah di sepatumu.” Mulailah dia terkejut. Sepatunya sudah berpindah ke tangan Ki Jae. Darah Sekretaris Min! Bagaimana mungkin masih ada yang tertinggal di sana?

“A, aniya. Tadi aku membantu orang yang kecelakaan di jalannya,” alibinya. Ki Jae mendesah pelan. Cukup lega, artinya kakaknya tidak apa-apa. “Kalau begitu kubersihkan, ya? Sekalian aku mau mencuci sepatuku.”

Ki Jae hampir mengambil yang sebelahnya lagi. “Jangan. Aku akan membersihkannya sendiri besok.”

“Ah… sekalian saja.”

“Kubilang jangan!” tiba-tiba Hyo Kyung menyentak begitu keras. Sentakan seperti ini sudah sering diterima Ki Jae. Tapi bila mengingat bagaimana keadaan Hyo Kyung saat masuk tadi, tentu Ki Jae terkejut. Belum lagi ekspresi itu kelihatan tak biasa di mata Ki Jae. Setelahnya pun Hyo Kyung tak merasa  bersalah sudah membuatnya terkejut. Alhasil dia hanya bisa berkata, “A, arasseo[3].” Dan membiarkan Hyo Kyung mulai menaiki anak tangga satu persatu.

Serpihan energinya yang masih tersisa ia paksa keluar untuk masuk secepatnya ke kamar. Kepalanya seperti santan mendidih rasanya. Bruk! Obatnya adalah kasur yang empuk. Walau sebenarnya obat itu tak manjur sama sekali untuknya. Kurang lebih, hanya mengurangi 1% dari didihan itu. Ditambah dengan air mata yang meleleh gampang dari matanya. Didihan di santannya tak mau berkurang lebih. Apalagi dengan mengingat kejadian di kantor Tae soo tadi. Mengingat bagaimana seorang malaikat seindah itu bisa berubah dalam waktu hanya beberapa jam. Atau sebenarnya dia memang seperti itu? Memiliki hubungan selama 2 bulan denganmu kurasa sudah terlalu cukup untuk menunjukkan diriku yang sebenarnya padamu. Ya, inilah aku yang sesungguhnya. Persis seperti kata-katanya tadi, kan?
Wajah mengenaskan Sekretaris Min membaluti pikirnya. Padahal yang tertusuk hanya di dada. 
Melihat mata yang terbuka lebar itu, memberi delusi kesakitan yang sangat-sangat bagi Hyo Kyung. Tak sempat pikir juga ia, yang dilakukan Tae Soo setelah membunuhnya malah duduk dengan hobinya yaitu menggambar. Masih ingat jelas di otaknya, bagaimana Tae Soo tertawa cukup keras saat gambarnya selesai dibuat. Jantungnya hampir saja melompat keluar dari mulutnya. Tae Soo pun setelah itu berdiri. Berjalan tanpa ragu dan melangkahi tubuh Soo Min hanya untuk mendekati Hyo Kyung. Setiap inci di tubuh Hyo Kyung tadi sudah tak bisa dikendalikan. Otaknya menyuruh untuk pergi. Hatinya ketakutan setengah mati. Malah yang dilakukan tubuhnya adalah membangkang perintah otaknya. Dia diam, menjadi es dengan bergetar hebat luar biasa.

Menyamai sikapnya saat beberapa kali selesai melukis, dia akan menunjukkannya pada Hyo Kyung. Begitulah saat itu. Senyum separuhnya muncul untuk mengantarkan kalimat, “Eotte[4]? Lukisan kali ini benar-benar indah, bukan?” dihiasi dengan ekspresi puas yang terasa tipis. Karena selebihnya ekspresi di sana hanya kekosongan.

Dengan ketakutan seperti itu jelas yang menjawab hanya deru nafas Hyo Kyung yang tiada henti. Badannya serasa mengigil, merasakan sensasi tiap kali jemari Tae Soo menyentuhnya. Padahal hal itu sudah biasa. Bahkan itu hanya rambut, pundak dan sesekali wajah. Tapi yang dirasakannya kali ini bukan jemari Tae Soo yang pernah ia genggami. Ini hanya seonggok es yang berbentuk duri. “Hem… bukankah keadaanya sekarang lebih baik? Wajah cantiknya terlalu percuma hanya untuk menjadi kusam karena diputuskan kekasihnya. Aku membuatnya merasa lebih baik.” Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya!

“Ah, Hyo Kyung~a! Aku baru teringat sesuatu.” Tae Soo beralih dari mayat Soo Min ke meja di dekatnya. Meja tempat Hyo Kyung meletakkan makan siangnya tadi di sana. Dia mengambil remot tv dan menaruh buku gambarnya. “Lihat ini!” pintanya setelah menyalakan tv. Hyo Kyung tak perlu berbalik. Karena posisinya sudah tepat menghadap layar itu. Matanya mendelik sempurna melihat apa yang terpampang di layar itu. Juga teriakan dan rintihan yang melemaskan sekujur tubuhnya. Itu adalah 5 bulan yang lalu. Alasan mengapa ia bisa bertemu dengan Tae Soo. Adalah video jerit tangisnya saat diperkosa 3 orang lelaki sepulang dari Gangdong Gu. Saat itu Tae Soo yang menyelematkannya. Tae Soo pula yang menyembuhkan mentalnya hingga ia berakhir menjadi kekasihnya sekarang. Apa yang terjadi dengan video itu? Ia tak pernah tahu ada video semacam itu. Belum lagi yang memutarnya adalah Tae Soo. Dengan senyum mengerikan seolah merasa senang dan puas.

“Oh… kau pasti bertanya bagaimana bisa aku mendapatkan video ini, kan?” Tae Soo menebak tepat pikiran Hyo Kyung. Lipatan rok Hyo Kyung sudah kusut sekali tergenggam kepalan tangannya yang sangat kuat. Kejadian mengerikan itu baru saja hilang dari ingatannya. Lantas dengan kejinya Tae Soo memutarnya tepat di depan matanya. “Saat itu kebetulan aku baru membeli kamera baru. Aku ingin mengetesnya dengan adegan yang mengesankan. Bukankah gambarnya sangat jernih?” jadi, yang merekamnya adalah Tae Soo sendiri?! Ah, lebih dari itu. Dia bilang ingin mengetes kamera barunya? Bisakah disimpulkan bahwa adegan itu adalah rekayasa darinya? Tiga pria yang sudah dengan biadabnya merenggut kesuciannya dengan perlakuan binatang itu adalah suruhannya. Hyo Kyung ingin marah. Harga dirinya tercabik-cabik. Ia mencintai orang yang menghancurkan hidupnya sendiri. Tapi apalah yang bisa ia lakukan sekarang? Hanya melemaskan persendiannya sendiri dalam posisi berdiri dan berkerudung selimut takut dan sakit hati tak terkira. Intimidasi Tae Soo padanya tak dapat dilawan.

“Aku berencana untuk memberikannya pada adikmu.” Hyo Kyung tersentak mendengar hal ini. Matanya bertambah besar menatap raut santai di sampingnya itu. “Kira-kira akan sehancur apa hatinya melihat kakaknya dalam adegan itu, ya?” lanjutnya.

“Kau bisa melakukan sesuatu untukku jika tak mau video itu berpindah ke tangan adikmu.” Hyo Kyung penasaran apa yang diinginkannya. Yang dilakukannya hanya menaruh telunjuknya di depan bibirnya. “Sst!” desisnya. Senyum lebarnya memperjelas maksudnya.

“Kalau kau tak masalah dengan video itu, atau untuk mengindarinya kau pergi jauh, atau lebih parahnya kau membunuh dirimu sendiri, maka aku ada solusi lainnya.” Perlahan Tae Soo mendekati telinga Hyo Kyung. Dengan lirih dan tajamnya ia berbisik, “Aku akan mengakhiri cerita hidup adik yang sangat kau sayangi itu.” Dan bertambah banyaklah pompaan di jantung Hyo Kyung. Diumpatinya dirinya sendiri karena ia tak punya penyakit jantung. Andaikan itu terjadi, dia lebih baik mati saat itu juga, kan? Merasakan jemari Tae Soo menyentuh bibirnya hanya untuk mendesis, “Sst!” lagi saja seolah menarik nyawanya pelan-pelan keluar dari kerongkongannya. Sedikit pun ia tak berani membalas tatapan Tae Soo yang mulai mengitari wajahnya.

“Aku sudah tak lama tidak mencicipinya,” katanya menghentikan tatapannya ke bibir Hyo Kyung. Sontak Hyo Kyung mundur selangkah saat bibir Tae Soo hampir menyentuh bibirnya. Namun sepertinya itu adalah keputusan yang salah. Karena wajah santai Tae Soo tadi berubah menjadi sangat mengerikan. Matanya yang tadi berdiameter biasa saja, kini memelototinya. “Kau menghindar?” tanyanya lirih. Tak ada jawaban dari Hyo Kyung. Hanya takut dan takut saja yang bertumbuh kian besarnya. “Kau menghindar?! Hah?!” teriaknya membuat Hyo Kyung melonjak sesaat. Deru nafas Hyo Kyung pun tak mau kalah. Sesak di dadanya memaksanya bernafas melalui mulutnya. Menghasilkan isak-isak kecil yang memperjelas perasaannya sekarang.

“Ah… kau membuatku marah!” desahnya, kini suaranya kembali pelan. “Hyo Kyung~a… aku ini adalah kekasihmu. Apa aku tidak boleh mencium bibir kekasihku sendiri?” Tae Soo mendecak tak percaya. Munafik jika mengatakan ia memikirkan Hyo Kyung yang ketakutan lantas membuang marahnya tadi begitu saja. Di pikirannya, saat ini bukan waktu yang tepat. Masih banyak waktu untuk bersenang-senang dengan gadis ini. “Sudahlah. Aku tak pernah membunuh dua kali dalam sehari,” ujarnya kemudian. Kalimatnya ini memberi kesimpulan pada Hyo Kyung, bahwa ini bukan kali pertama seorang Tae Soo menjadi malaikat maut. Lantas berapa kali? Siapa saja? Sejak kapan? Begitulah pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Dirutukinya dirinya sendiri yang tak berkutik. Paku di tubuhnya makin dalam menancap ke tempat itu. Sampai ia sejengkal pun tak dapat pergi. Atau berlari. Atau menghindari semua kegilaan dari makhluk entah apa yang berjubah manusia ini.
Sedang Tae Soo sudah tak tertarik lagi. Dimatikannya video itu. Ia beralih ke ponselnya. Ponsel Hyo Kyung sudah ia masukkan ke dalam tas Hyo Kyung saat ia mulai menghubungi seseorang. 

“Yeoboseyo? Eoh… aku sudah selesai dengan gambarku. Kau bisa kemari dan bereskan semua kekacauan ini. Ah… ruanganku jadi sangat bau. Kau tahu, kan? Jika aku terlalu lama mencium bau darah ini, maka hyungmu bisa kujadikan korban selanjutnya secepatnya. Haha… aku bercanda. Aku masih membutuhkanmu di masa depan. Em…” panggilannya berakhir. Sekali lagi ia melihat ke arah Hyo Kyung. Dibiarkan saja gadis ini kaku dalam takutnya. Sedangkan ia sendiri keluar dari sana.
Kini sekujur tubuh Hyo Kyung gemetaran. Persis seperti manusia yang terjebak dalam badai salju. Air matanya mengalir tak henti-henti mengingat apa yang sudah dialaminya tadi sore di galeri itu. Berharap itu semua hanya mimpi. Tae Soo yang ia kenal bukanlah monster seperti tadi. Dia adalah malaikat yang menyelamatkan hidupnya selama ini. Yang membawanya kembali dalam senyuman karena merasa hidupnya telah berakhir. Toh, harapannya adalah hal yang transparan. Tembus pandang bahkan.

Suara ponselnya yang tiba-tiba terdengar mampu membuatnya terlonjak. Dia terduduk seketika melihat nama yang ada di ponsel itu. Kim Tae Soo. Orang itu menelponnya. Untuk apa? Isak-isak takutnya mulai menggrayanginya. Jari telunjuknya sendiri bergetar berusaha menekan tombol accept di layar. Haruskah ia menerimanya? Dia tak ingin, tapi tubuhnya bagai terhipnotis. Tentu hipnotis itu datang dari isak-isak takut dan ingatan jelas wajah mengerikan bercampur datar sekaligus dari seorang Kim Tae Soo. “Yeo… yeoboseyo?” tak bisa ia sembunyikan gagapnya. Spreinya yang jadi korban tangan kanannya yang berusaha sekuat tenaga menenggelamkan isaknya agar tak terdengar di sana.

“Oh… chagi~ya[5]!” andai saja kejadian tadi sore tak pernah ia lihat, mungkin sahutan ini akan membuatnya melompat kegirangan. Kali ini terlalu mengerikan. Padahal untuk orang yang mendengarnya, suara ini begitu lembutnya. “Apa yang sedang kau lakukan sekarang?”
Susah payah Hyo Kyung menggerakkan lidahnya untuk mengeluarkan jawaban. “Wae… wae geu… geuraeyo?”

“Ah… ani. Bogoshipo[6],” jawab Tae Soo. Seolah ada sebilah pisau di urat nadi di leher Hyo Kyung. Jika seperti ini jawabannya, apakah ia harus menemuinya? Setelah ia baru saja pulang dengan keadaan yang jauh dari kata normal ini? Bisa-bisa ia benar-benar mati sebelum sampai di sana. Dan jika dia sudah mati, apakah ancaman Tae Soo akan segera berlaku? Soal melenyapkan cerita hidup Ki Jae?

“Kau… pasti masih memikirkan soal Min Biseo tadi, ya?” tebakannya benar. “Oh, ayolah. Jangan terlalu dipikirkan! Em…. Daripada kau memikirkannya, lebih baik kau memikirkanku saja. Kau bilang aku selalu ada di otakmu, kan? Wajahku yang tampan selalu membuatmu rindu, kan?” Oh, ayolah! Itu adalah dulu, saat Hyo Kyung belum mengerti orang seperti apa Kim Tae Soo itu. Jika sekarang ia disuruh memikirkannya, jelas dia akan terserang tekanan batin, bahkan mental. Mengingat makhluk tanpa perasaan yang membunuh orang lain hanya untuk melukisnya. Tidakkah aneh jika orang seperti itu harus banyak-banyak dipikirkan?

“Aku ingin kau datang ke galeri besok. Untuk seterusnya, kau berhenti saja dari tempat kerjamu. Aku akan memberi uang yang banyak jika kau menemuiku besok,” tambah Tae Soo lagi begitu mudahnya. Tak ada pilihan lain. Menolak berarti bunuh diri. Meski jika dipikirkan dengan logika, datang pun adalah bunuh diri. Ini lebih seperti pedang bermata dua. “Kau tidak mau menjawabku?” suara lembut itu akhirnya berganti dengan suara dinginnya.

“Ne, ne. A, aku akan datang.”

“Baguslah.” Orang ini benar-benar pandai mengganti suaranya. Dingin, dan sekarang lembut lagi. Manakah suaranya yang normal? Sulit sekali diindetifikasi. “Kukira kau tidak akan menemuiku lagi hanya karena kejadian tadi. Padahal aku sudah susah payah memberitahumu bagaimana diriku yang sebenarnya. Bukankah kekasih yang saling mencintai harus menerima pasangannya apa adanya?” dasar, gila! Jika dia adalah orang normal, yang memang hanya punya sikap pemarah, pemilih, atau kadang-kadang kekanakan, itu tak masalah. Tapi ini adalah psikopat! Bagaimana bisa sikap seperti itu bisa diterima? Sementara ia sendiri tak akan memikirkan perasaan orang lain barang seujung kuku pun.

“Aku tutup, ya? Jangan lupa untuk memimpikanku.” Tut…tut… begitu panggilan terputus, Hyo Kyung menarik nafasnya dalam. Menghembuskannya perlahan, dan terus seperti itu. Ia harus secepat mungkin memenuhi paru-parunya dengan oksigen, dan menghapus pelan-pelan rasa takut yang menghantuinya sejak tadi. Ditatapnya fotonya bersama Tae Soo yang ia pajang di atas meja. Betapa bedanya senyum itu dengan senyuman yang menggantung di sudut-sudut pikirannya tadi. Aku telah bertemu dengan monster.

***

Suara shower berhenti. Berjarak dua menit, seseorang keluar dari sana. Hanya berbalut handuk putih di bawah pusar sampai atas lututnya. Kepalanya basah, masih enggan ia bersihkan. Dia melangkah dan membasahi lantai. Tubuhnya memang di sana, tapi pikirannya melalang buana. Tak jauh, hanya di tempat tadi ia melihat wanita yang berpapasan dengannya di lift galeri pagi tadi. Wajahnya saat ia melihatnya sore tadi jauh lebih buruk daripada wajahnya berpapasan dengannya.
Jo Woohyun, dia yang berhasil membuat kesan mengerikan pertama dengan Hyo Kyung hanya dalam satu hari. Di hari yang sama pula, ia menunjukkan identitasnya sebagai pesuruh Kim Tae Soo. Ada lift lain di ruangan Tae Soo yang terhubung langsung dengan tempat parkir di lantai dasar. Saat ia masuk ke sana, yang ia lihat hanya mayat Min Soo Min dan Han Hyo Kyung yang terduduk lemas di dekat mayat itu. Matanya memerah, dan air terus-terusan keluar dari sana. Walaupun suaranya sudah hilang. Woo Hyun ingin tak mempedulikannya. Tapi saat ia akan memasukkan tubuh Min Soo Min ke dalam tas golf, Hyo Kyung bersuara.

“Jadi kau… bekerja untuknya?” tanyanya. Woo Hyun menaruh kembali tubuh Soo Min sebelum diangkat lebih dari 1 cm dari lantai. Diperhatikannya dulu Hyo Kyung yang nampak sangat terauma. Wajahnya bahkan lebih pucat daripada mayat itu. Ia tak menghadap langsung ke Woohyun, tapi sepertinya ia bisa melihat apa yang akan dilakukan Woo Hyun. Terlebih dengan tampilannya yang berbeda jauh dengan tampilannya yang tadi. Jaket hitam, dan celana hitam. Ket putih dan sebuah tudung kecil yang bisa menutupi kepalanya. “Sudah berapa lama?” pertanyaan Hyo Kyung berlanjut. Pelan, Woo Hyun sendiri merasa kasihan padanya. Sejak pertama ia melihat Hyo Kyung sering mendatangi kantor ini, ia tahu hal ini akan terjadi. Melihat keadaanya secara langsung ternyata lebih menyedihkan.

Woo Hyun kembali melanjutkan pekerjaannya. Dengan hati-hati ia memasukkan wanita malang itu ke dalam tas besar yang ia bawa. Sama-sama berwarna hitam. Pisau, ia bersihkan dengan tisu. Tangannya sendiri berbalut sarung tangan. Dengan rapi dan telitinya ia bereskan apa-apa saja yang akan mengundang kecurigaan kalaupun polisi datang nanti. Termasuk darah yang mengotori sepatu Hyo Kyung.

Ia berdiri, melirik sepintas Hyo Kyung. Kakinya akan melangkah menuju lift, tapi suara Hyo Kyung kembali terdengar. “Kim Biseo… akan kau bawa kemana?” tanyanya. Woo Hyun sempat menoleh. Tatapan kosong gadis itu sudah hilang. Wajahnya nampak khawatir. Kali ini Woo Hyun menjawabnya. “Saat kau mulai menjadi pesuruh Kim Tae Soo, kau tidak seharusnya banyak bertanya. Orang itu… pasti sudah mengancammu dengan sesuatu, bukan?” Hyo Kyung menjawab dengan matanya. Bibirnya mungkin masih sedikit kaku. Terlalu lama ia bergetar meskipun Tae Soo sudah pergi sejak tadi. “Kalau begitu, sebaiknya kau tetap diam. Maka selanjutnya kau akan baik-baik saja,” katanya kemudian pergi dari sana.

Woo Hyun sendiri tahu, ini bukan kali pertama Kim Tae Soo mempunyai kekasih. Semuanya hanya bertahan 2 bulan, dan mati. Yang masih menjadi pikirannya adalah, tak biasanya Tae Soo membawa gadis biasa saja seperti itu. Wanita-wanita yang sebelumnya ia gandeng adalah wanita yang cukup cantik dengan tubuh model. Dan melihat bagaimana Tae Soo masih membiarkannya hidup setelah memberinya surprise seperti yang ia lakukan pada kekasih-kekasihnya sebelumnya, itu lebih aneh lagi. Apa yang spesial dari gadis itu sebenarnya?

“Na wasseo[7],” suara pintu terbuka. Seorang pria dengan tampang lelah luar biasa, serta rambut gondrongnya yang berantakan masuk.

“Wae geurae?” tanya Woo Hyun yang melihat kelelahan itu. Pria itu hanya menatapnya dan kembali mendesah. Merasakan beberapa nyeri yang merajaj leher dan punggungnya. Ia duduk di dekat meja yang ada di depan tv. Tak jauh dari Woo Hyun.

“Apa ada kasus melelahkan lagi?” Woo Hyun bertanya untuk kedua kalinya. Kali ini ia mendapat jawabannya, “Ehm. Seseorang yang bekerja di galeri lukisan itu menghilang selama 5 hari.”

“Lima hari?” dahi Woo Hyun berkerut. Bukankah Min Soo Min selama ini masih bekerja? Seharusnya jika memang kasus orang hilangnya dilaporkan, tidak seharusnya dilaporkan hari ini. Apalagi ia baru menghilang hari ini. Yang ia tahu, selama ini Soo Min selalu stand by di tempat kerjanya. Lantas kenapa bisa menghilang selama 5 hari? Kim Tae Soo bukan pula tipe orang yang akan menahan wanita terlalu lama, kecuali itu adalah kekasihnya.

“Kehilangannya membingungkan. Dia tidak pulang ke rumahnya, tapi dia masih bekerja di sana. Aku memeriksa CCTV, dan tak ada yang aneh dari sana.” CCTV? Ah, Woo Hyun ingat. Tae Soo akan menyiapkan wanita lain yang ia poles semirip mungkin dengan korbannya. Bahkan ia selalu menyiapkannya semulus mungkin. Dari CCTV itu, setelah Min Soo Min masuk, tentu wanita yang disiapkan Tae Soo akan keluar dari sana. Semuanya normal. Kecuali ada satu saja CCTV yang dipasang di ruangan Tae Soo. Maka semuanya akan terbongkar. Sayangnya Tae Soo bukan orang sebodoh itu.

“Ah, ya. Aku sempat melihatmu di CCTV. Kau pergi mengunjungi Kim Tae Soo. Kau mengenalnya?”

“Ehm!” Woo Hyun mengangguk. Dia sudah terlalu terlatih untuk menciptakan alibi. “Aku mengenalnya saat mengunjungi galerinya untuk melihat sebuah lukisan. Aku bertemu dengannya dan kami mengobrol tentang banyak hal. Sejak saat itu aku sering menemuinya.” Alibi yang sangat sempurna. Siapa pula yang akan curiga? Lagipula, Woo Hyun sendiri adalah orang yang tak ada sangkut pautnya dengan wanita bernama Min Soo Min itu. Mengenal saja tidak. Tentu akan menambah kesempurnaan alibi itu. Buktinya pria ini mengangguk. Woo Young hyung, mianhae[8].

***

Tak pernah rasanya Hyo Kyung segugup ini hanya untuk menekan tombol 4 di lift ini. Ludahnya sudah tak terhitung yang ia telan dengan sulitnya. Ini meregang nyawa. Lebih menegangkan daripada melompat dari lantai paling atas gedung ini sekalipun. Merasakan seluruh tubuh mendingin, tak sedingin saat berada di puncak musim dingin. Tak juga rasanya terlalu mengerikan seolah bertemu hantu di siang bolong. Ini semua lebih dari itu. Namun pilihannya hanya satu: ia harus naik ke lantai 4.

Klik! Perlahan, lift itu membawanya. Biasanya ia akan menggerutu, seakan lift itu tak kunjung sampai ke tempat Tae Soo. Empat lantai serasa 400 lantai. Sedangkan sekarang yang ia rasakan 4 lantai seolah hanya 1 detik. Ting! Dia sampai. Untuk melangkah saja membutuhkan banyak keberanian. Ia tak tahu harus mengisi energi keberaniannya dimana. Terlebih tak ada satu orang pun di sini. Ya, ini hari libur. Lantas tanpa adanya orang di sini, apa yang akan dilakukan Tae Soo? Memainkan pisau dapur, bukankah itu lebih leluasa? Min Soo Min saja, dalam waktu ketika orang-orang masih sangat banyak di lantai-lantai yang lain bisa kehilangan nyawanya dengan mudah.
Langkahnya semrawut. Ia sendiri tak yakin apa benar kakinya masih bisa menopang tubuhnya. Otaknya memeras tenaganya semaksimal mungkin. Berpikir keras soal keselamatan Ki Jae daripada keselamatannya sendiri. Apapun yang akan dilakukan Tae Soo padanya hari ini, biarlah Ki Jae dulu yang selamat.

Pintu tak terkunci, seperti biasa. Hyo Kyung tak berlari seperti biasanya. Tae Soo yang kerap kali menghadap jendela juga sekarang duduk di sofa yang menghadap serong ke arah pintu. Mata mereka bertemu. Tapi tatapannya seolah menghangat. “Oh, wasseo!” sambutnya sambil memerkan kedua lesung pipinya. Hyo Kyung sadar, kenapa dia bersikap seolah sewajarnya manusia normal. Ada dua orang yang ada di ruangannya. Mereka yang sama-sama tak berpenampilan seelit rakyat Gangnam Gu, hanya jeans dan kaos yang dibalut dengan jaket, menyambut kedatangannya. Sedikit tatapan keduanya bertanya pada Tae Soo, siapa gadis ini.

“Dia kekasihku. Dia yang akan memberikan kalian penjelasan lebih banyak soal Min Kyori,” ujar Tae Soo memperkenalkan Hyo Kyung. Tapi Hyo Kyung tak senang. Kedua matanya mendelik saat tahu kalau dua orang ini adalah dari pihak kepolisian.

“Saya Jo Woo Young, dari kantor kepolisian Gangnam Gu. Kami punya beberapa pertanyaan untukmu,” kata yang lebih tinggi. Hyo Kyung memberinya tundukan kepala seadanya. Kalau saja ia boleh berdiri, ia akan berdiri saja. Gawatnya adalah Tae Soo menyuruhnya duduk di sampingnya. Tangannya yang tiba-tiba merangkul pundaknya dari belakang menempatkan Hyo Kyung dalam keadaan tegang luar biasa. Namun dalam keadaan itu, ia sempatkan membalas tatapan Tae Soo. Ia tak mendapat titah apapun untuk menjawab pertanyaan polisi. Lantas apa yang akan dijawabnya? “Bukankah, kau ada saat Min Kyori ada di sini kemarin siang? Ah… sore juga, kan?” pertanyaan Tae Soo dapat dimengerti Hyo Kyung. Jadi ia hanya harus menjawab hal itu.

“Ne,” jawabnya singkat. Kedua polisi itu, terutama Jo Woo Young nampak curiga dengan suara paraunya. Terlebih keadaannya yang sama sekali kelihatan tak baik. “Dia sedang sakit. Kemarin kami baru saja bertengkar. Jadi sekarang dia sedikit canggung duduk di sampingku. Dengan adanya kalian, aku bisa memeluknya seperti ini. Kamsahamnida,” bukan Tae Soo jika tak bisa mengatasi sedikit kecurigaan itu. Jo Woo Young dan Do Baek Ji yang lebih muda darinya itu mengangguk. Secepat kilat mereka menepis kecurigaan itu.

Hyo Kyung menjawab semuanya. Soal wajah pucat Min Soo Min siang itu, dan penampilannya yang berantakan. Juga soal berkas yang salah ia berikan pada Tae Soo. Ia ceritakan kalau Min Soo Min memang putus dari pacarnya. Semuanya dia ceritakan, kecuali tentang kenyataan kalau Tae Soo mengakui membunuhnya dan dengan santainya menggambarnya di buku gambar waktu itu.
“Dia masih bekerja lima hari ini. Aku tidak tahu kalau dia tidak pulang ke rumahnya selama itu. Dan karena hari ini hari minggu, kupikir wajar dia tidak datang. Jika dia datang besok, aku akan memberitahu kalian,” timpal Tae Soo. Tak ada jalan lain. Sebanyak apapun ditanyakan, dua orang ini sangat sempurna alibinya. Woo Young sudah kehabisan pertanyaan. Jika mau membenarkan, perkataan Tae Soo ada benarnya. Ya, jika Min Soo Min besok kembali bekerja, maka kasus mereka selesai. Jika tidak, maka harus ada penyelidikan lebih lanjut. Terlebih karena di sini pun sudah tidak ada yang bisa ia gali, sepertinya ia harus menelusuri bus yang ditumpangi Min Soo Min setelah keluar dari kantor kemarin. Kesaksian dari mantan kekasihnya juga masih dicari Go Won Geun dan Park Soo Jin.

Jo Woo Young dan Do Baek Ji berdiri. Disusul setelah itu Han Hyo Kyung. Dia kembali terlonjak saat Tae Soo meletakkan tangannya di pundaknya. Nasib baik untuk Tae Soo karena dua polisi itu tak sempat menyadarinya. “Maaf telah mengganggu waktunya,” ujar Woo Young undur diri.

“Aniyo. Gwaenchanayo. Kami akan menghubungimu jika Min Soo Min datang besok,” balas Tae Soo sambil tersenyum. Yang dilihat Hyo Kyung adalah senyum kemenangan. Tak sama dengan pandangan kedua polisi itu yang melihatnya sebagai senyuman yang sangat ramah sekali. Setelah mereka keluar, makin terasalah aura dingin dari Tae Soo sekarang. Tangannya memang sudah tidak di pundak Hyo Kyung lagi. Sebaliknya, Tae Soo berjalan pelan ke depannya. Setiap suara panthopel itu seolah mencekik lehernya pelan. “Karena kau sudah datang, sebaiknya kita pergi sekarang.”
Hyo Kyung mengangkat kepalanya. Tae Soo tak bilang akan pergi ke suatu tempat dengannya semalam di telpon. “Eo, eoddikayo[9]?” demi menjawab pertanyaan ini, senyum separuh Tae Soo terbentuk.

“Paradise!”

Sebelumnya          Selanjutnya

[1] Sebutan komunitas fans artis
[2] Kenapa
[3] Baiklah
[4] Bagaimana
[5] Sayang
[6] Rindu/ingin melihat
[7] Aku pulang
[8] Maaf (informal)
[9] Pergi kemana