Hari ini tak ada jam kuliah. Dosen tiba-tiba saja check
in ke dokter. Kelas itu terpaksa (dengan hati yang riang gembira) keluar
dari kelas dan menghambur sembarangan entah kemana. Ega sendiri bingung harus
bagaimana. Ia menghampiri beberapa temannya yang duduk di depan parkiran.
“Pulang, Ga?” tanya Pandu menepuk pundak Ega. Hanya gelengan kepala
yang diberikan Ega. Ia malas benar mau pulang. Melihat mereka yang masih stay
cool di sini, ia pun melakukan hal yang sama.
Tapi, satu per satu temannya malah pulang. Cuma tinggal Ulfa yang
memaksanya tinggal, menemaninya hingga jemputannya datang.
“Siapa yang mau jemput kamu, Mi?” tanya Ega.
“Temen di kontrakkan,” jawab Ulfa datar.
Kemudian keduanya diam. “Ris!” barulah tiba-tiba Ulfa bersuara.
“Apaan?”
“Besok beneran kan BM-nya cair?” tanya Ulfa antusias. Pasalnya uang
beasiswanya sudah berulang kali diundur. Padahal, duit di dompet sudah semakin
tipis.
“Mungkin,” hanya itu yang bisa dijawab Ega. Ia sendiri juga tak tahu.
Meskipun ia sangat berharap beasiswa itu secepatnya cair. Menjadi orang yang
kurang mampu benar-benar tak mengenakkan. Ketika semuanya harus dibeli dengan
uang, sedangkan justru benda itu yang tak pernah dipunyainya. Apalagi Ulfa. Ega
tahu, dialah yang paling anti kalau sudah membicarakan masalah uang. Entah itu
tentang iuran, beli buku kuliah, atau apa sajalah. Bahkan, setiap harinya, Ega
tak pernah bisa membujuk Ulfa untuk membeli teh gelas yang biasa ia jual. Ulfa adalah temannya
yang paling anti jajan!
“Ris, gimana sih caranya maafin orang?” tanya Ulfa tiba-tiba. Keluar
dari topik pembicaraan sebelumnya. Ia melihat lurus ke depan. Lewat pandangan
kosong yang dilontarkannya, Ega tahu bocah ini pasti sedang ada masalah.
“Ya maafin ajalah, Mi. Emang mau digimanain lagi?” Ega malah balik
bertanya.
“Susah,” celetuk Ulfa cepat. “Dimaafin enggak ikhlas, enggak dimaafin
kok kebangetan,” tambahnya lagi. Ega malah tertawa.
“Yah, emang gitu lah, Mi. Emang siapa, sih?” tanya Ega penasaran.
“Ya ada deh pokoknya, Ris.”
“Aku, ya?”
Ulfa langsung menoleh ke arahnya cepat. “Ngapain aku marah sama kamu?
Enggak penting!” sentak Ulfa.
“Ya, Allah, Mi!” desah Ega. Mendengarnya, Ulfa gantian tertawa.
Kemudian ia terdiam lagi. Salahkah jika Ega menebak-nebak, apa yang sedang
dihadapi temannya yang cerewetnya minta ampun ini? Akhir-akhir ini ia lebih
banyak diam. Ketika presentasi agama kemarin, ia juga tak bersuara sama sekali.
Padahal, biasanya dia yang paling bawel.
“Eh, itu temenku udah dateng,” serunya cepat. Ega berbalik. Seorang
cewek dengan jaket abu-abu, kerudung hitam dan rok hitam sudah mengendari motor
mio mendekat ke mereka. Berhenti, dan
sempat berkenalan dengannya. Namanya Rohmah.
“Pulang ya, Ris? Makasih udah mau nungguin,” pamit Ulfa. Ega hanya
tersenyum, tak lebih. Dan setelahya? Ia kembali sendiri. Memaksa semua ingatan
masa lalunya kembali. Dan inilah yang paling dibencinya.
***
Libur kelulusan telah usai. Ega kini masuk ke SMA. Seragam baru, putih
abu-abu ia kenakan. Bersama teman seakhir hayat, Puguh Nurrohim, ia siap untuk
mendapatkan semua yang serba baru. Siapa sangka tampangnya yang benar-benar
culun menjadikannya cukup dikenal dengan kisah cinta berikutnya yang tak ada
bedanya dari kisah-kisah cinta sebelumnya.
Awalnya, ia bertemu dengan gadis ini di Pramuka. Namanya Bunga. Dia
tidak cantik, tapi manis. Sebenarnya tadinya hanya taraf bercanda. Ega
menggombali Bunga. Tapi, makin lama, benih-benih cinta itu muncul. Ega semakin
sering kontak dengan Bunga. Apalagi Bunga satu kelas dengan Ega. Membuat Ega
tak bisa memendam perasannya lebih lama.
Ega kembali mendapat seorang pacar. Manis dan begitu perhatian padanya.
Satu bulan, rasanya Ega benar-benar serasa di surga. Bunga membuatnya begitu
bahagia. Bahkan, akhirnya Ega bisa melupakan Olivia setelah sekian lamanya
merasa bersalah. Olivia benar-benar hilang kontak dengannya. Facebook diblokir,
Twitter diganti dan nomor telfon pun diganti. Ega benar-benar tak bisa
menghubunginya lagi. Dan Bunga bisa membuat Ega melupakan Olivia.
Tapi, satu bulan berlalu, Ega mendengar gosip yang benar-benar tak
mengenakkannya. “Ega, dia itu cuma jadiin kamu pelampiasannya,” kata salah
seorang teman Ega, termasuk teman Bunga.
Ega tak percaya, tentu saja. Mana mungkin Bunga yang begitu peduli dan
perhatian padanya hanya menjadikannya pelampiasan? Namun, kepercayaan Ega tak
lantas tanpa cela. Ada kalanya ia merasa perlu membuktikan kata-kata
teman-temannya. Setidaknya, untuk meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya
gosip tanpa kebenaran.
Ia mencoba mengajak Bunga jalan. Tapi, Bunga tak mau. Bunga hanya
peduli lewat sms, tak lebih dari itu. Bahkan, ketika di kelas saja, Bunga sama
sekali tak mau berduaan dengan Ega. Ega jadi semakin curiga dan mencoba mencari
tahu kebenaran gosip itu.
Berhari-hari Ega mencari tahu kebenaran itu. Bunga adalah mantan dari
seniornya di pramuka, tepatnya seorang ketua pramuka, pradana. Hanya selisih
beberapa hari setelah putus dari seniornya itu, Bunga menerima Ega. Keyakinan
Ega soal kebaikan Bunga makin lama makin luntur. Hingga akhirnya, Ega
benar-benar percaya bahwa gosip itu adalah sebuah kenyataan.
“Maaf, kayaknya kita harus udahan, Ga.” Akhirnya Bunga mengatakan
kalimat yang ditunggu-tunggu Ega.
“Kenapa?” tanya Ega berpura tak tahu.
“Karena aku ngerasa kita udah enggak cocok aja.”
Ega beranjak berdiri. Ia tak mau melancarkan pukulan tangannya ke
tembok terdekat. “Bener cuma karena enggak cocok?”
“Maksud kamu?” Bunga ikutan berdiri. Bahkan ia menatap tajam ke wajah
Ega. Tapi tidak dengan Ega. Ia berusaha setenang mungkin dengan melempar
pandangannya ke depan. Menahan sekuat tenaga kemarahannya.
“Kamu jadian sama aku bukan karena kamu benaran suka sama aku, kan?”
“Maksud kamu apa, sih?”
“Aku ini cuma kamu jadiin pelampiasan, kan?” tak ada jawaban. Bunga
hanya diam, dan dari sanalah Ega tahu bahwa gadis ini sudah memobohonginya
selama ini.
“Jadi bener?” Ega gantian menatap tajam wajah Bunga. Sedang Bunga sudah
menundukkan kepalanya.
“Aku enggak nyangka kamu setega ini! Aku pikir, kamu cewek yang pantes
aku cintai. Tapi nyatanya? Nol besar!” finish! Ega hengkang dari tempat itu. Ia
tak tahu apa yang dirasakan Bunga. Tapi nyatanya, malah ia yang sakit hati.
Rasanya benar-benar sakit. Ia merasa menjadi laki-laki paling bodoh yang pernah
ada. Kenapa ia bisa tak sadar bahwa selama ini ia hanya dijadikan pelampiasan?
Sesak, menyebar ke seluruh dadanya.
Yang paling disesalinya adalah, ia benar-benar tak bisa menghilangkan
rasa sakit hatinya. Bahkan ia tak bisa mendengar nasehat-nasehat dari teman-teman
terdekatnya, “Cewek enggak cuma satu, Ga.” Ia ingin percaya soal itu, tapi itu
begitu sulit. Ia bodohkan dirinya sendiri yang sulit sekali melupakan Bunga.
Gadis jahat yang sudah memporak-porandakan hatinya. Entahlah, rasanya sakit
hati benar-benar menjamahnya sekarang.
Pulang sekolah hari ini, Puguh dan Kemal
–sahabat-sahabatnya—mengajaknya pergi ke kuburan China. Bukan untuk apa-apa,
hanya untuk melepas lelah sepulang sekolah. Kuburan ini lebih mirip dengan
taman. Semuanya tanahnya dipenuhi rumput china. Hijau dimana-mana. Batu-batu
nisan malah kelihatan seperti tempat-tempat duduk yang dipasang sedemikian
rapihnya. Andai kata di depan sana tak ada tulisan Peristirahan Terakhiri, mungkin orang-orang sudah mengira
tempat ini benar-benar taman.
Di sana, Ega juga tak kelihatan fresh. Puguh dan Kemal yang sadar akan hal
itu menepuk pundaknya pelan.
“Lo kenapa sih, Ga? Kusut amat muka lo, kayak cucian belum disetrika,”
ujar Puguh memasang wajah turut sedihnya.
Ega tetap diam. Menunduk lesu tak berdaya berucap sepatah kata pun.
“Udah lah, Ga. Cerita dong sama kita-kita. Kalau lo ada masalah, bagi
lah! Jangan dipendem sendiri,” Kemal menambahkan.
Menunggu cukup lama, dan dengan banyak bujukan dan rayuan, akhirnya Ega
luluh. Ia tahu, sebenarnya Puguh dan Kemal tahu masalahnya. Hanya saja, mereka
tak tahu kalau masalah ia putus dari Bunga masih membekas sakit di sudut
hatinya.
“Dia enggak pantes buat kamu. Cari yang lebih baik dari dia masih
banyak kok, Ga, Ga!” ucap keduanya menenangkan Ega. Tapi, entahlah. Ega tak
lantas bisa menerimanya begitu saja.
Pulang dari kuburan tadi, Ega berpapasan dengan seorang cewek. Dilihat
dari pakaiannya, ia pasti anak SMA.
“Mau bareng enggak, dek?” tawar cewek itu memberhentikan motornya.
“Eh, iya, mbak. Makasih,” balas Ega.
“Kamu yang gonceng ya, dek?”
“Oh, iya, Mbak,” jawab Ega. Jadilah ia yang menggonceng cewek yang
sejak tadi memanggilnya dek itu. Hanya pembicaraan di atas motor, mereka sudah
begitu dekat. Cewek itu bernama Desi. Kelas tiga SMA di sekolah tetangga. Meski
begitu, ia seumuran dengan Ega.
“Rumahnya dimana, dek?” tanya Desi.
“Masih jauh, Mbak. Mbak rumahnya dimana?” Ega balik bertanya.
“Baru aja lewat.”
Ciitt!!! Ega menghentikan motornya. “Waduh, dimana, Mbak?
Ya udah, saya turun di sini aja, Mbak,” ujar Ega merasa tak enak.
“Udah, enggak papa. Aku anterin kamu aja nyampek rumah.”
“Wah, enggak ngerepotin nih, Mbak?”
“Iya, enggak papa. Udah, ayok jalan lagi,” putus Desi. Ega menurut
saja. Lagiapula, kapan lagi dapat
tumpangan gratis seperti ini?
Baru juga sampai di jalan depan rumah, Ega mendapati pamannya yang
garangnya melebih bang Napi sekalipun, sudah ada di depan pintu. Berkacak
pinggang dan menatapnya tajam seolah ingin menerkam Ega saat itu juga. Kontan
saja Ega menginjak pedal rem sekuat-kuatnya.
“Udah nyampek, dek?” tanya Desi heran.
“Udah, Mbak. Itu rumah saya. Makasih ya, Mbak?” Ega turun begitu saja.
Membiarkan Desi tetap pada posisinya yang duduk di belakang. Untung saja Desi
bisa menahan motornya agar tidak jatuh.
“Wah, aku enggak disuruh mampir dulu, nih?” canda Desi. Tapi, melihat
tatapan mematikan dari pamannya, Ega tak mungkin menanggapi candaan Desi.
“Kapan-kapan aja deh, Mbak. Makasih ya, Mbak?” ucap Ega lagi. Tanpa
menunggu hingga Desi pergi, Ega ngeloyor begitu saja masuk ke dalam rumah. Melewati
pamannya yang untung saja tak memberi komentar apapun.
Buk! Dibantingnya tubuhnya di atas kasur. Menatapi plafon rumahnya hampa. Mengingat kebodohannya sendiri. Ia benar-benar merasa bodoh hingga ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia tak tahu bagaimana caranya memaafkan kebodohannya. Hanya meremat sprei kasur, tak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Sebelumnya Selanjutnya
