Tuesday, January 14, 2020

Sulit Memaafkan


Hari ini tak ada jam kuliah. Dosen tiba-tiba saja check in ke dokter. Kelas itu terpaksa (dengan hati yang riang gembira) keluar dari kelas dan menghambur sembarangan entah kemana. Ega sendiri bingung harus bagaimana. Ia menghampiri beberapa temannya yang duduk di depan parkiran.

“Pulang, Ga?” tanya Pandu menepuk pundak Ega. Hanya gelengan kepala yang diberikan Ega. Ia malas benar mau pulang. Melihat mereka yang masih stay cool di sini, ia pun melakukan hal yang sama.

Tapi, satu per satu temannya malah pulang. Cuma tinggal Ulfa yang memaksanya tinggal, menemaninya hingga jemputannya datang.

“Siapa yang mau jemput kamu, Mi?” tanya Ega.

“Temen di kontrakkan,” jawab Ulfa datar.

Kemudian keduanya diam. “Ris!” barulah tiba-tiba Ulfa bersuara.

“Apaan?”

“Besok beneran kan BM-nya cair?” tanya Ulfa antusias. Pasalnya uang beasiswanya sudah berulang kali diundur. Padahal, duit di dompet sudah semakin tipis.

“Mungkin,” hanya itu yang bisa dijawab Ega. Ia sendiri juga tak tahu. Meskipun ia sangat berharap beasiswa itu secepatnya cair. Menjadi orang yang kurang mampu benar-benar tak mengenakkan. Ketika semuanya harus dibeli dengan uang, sedangkan justru benda itu yang tak pernah dipunyainya. Apalagi Ulfa. Ega tahu, dialah yang paling anti kalau sudah membicarakan masalah uang. Entah itu tentang iuran, beli buku kuliah, atau apa sajalah. Bahkan, setiap harinya, Ega tak pernah bisa membujuk Ulfa untuk membeli teh gelas yang biasa ia jual. Ulfa adalah temannya yang paling anti jajan!

“Ris, gimana sih caranya maafin orang?” tanya Ulfa tiba-tiba. Keluar dari topik pembicaraan sebelumnya. Ia melihat lurus ke depan. Lewat pandangan kosong yang dilontarkannya, Ega tahu bocah ini pasti sedang ada masalah.

“Ya maafin ajalah, Mi. Emang mau digimanain lagi?” Ega malah balik bertanya.

“Susah,” celetuk Ulfa cepat. “Dimaafin enggak ikhlas, enggak dimaafin kok kebangetan,” tambahnya lagi. Ega malah tertawa.

“Yah, emang gitu lah, Mi. Emang siapa, sih?” tanya Ega penasaran.

“Ya ada deh pokoknya, Ris.”

“Aku, ya?”

Ulfa langsung menoleh ke arahnya cepat. “Ngapain aku marah sama kamu? Enggak penting!” sentak Ulfa.

“Ya, Allah, Mi!” desah Ega. Mendengarnya, Ulfa gantian tertawa. Kemudian ia terdiam lagi. Salahkah jika Ega menebak-nebak, apa yang sedang dihadapi temannya yang cerewetnya minta ampun ini? Akhir-akhir ini ia lebih banyak diam. Ketika presentasi agama kemarin, ia juga tak bersuara sama sekali. Padahal, biasanya dia yang paling bawel.

“Eh, itu temenku udah dateng,” serunya cepat. Ega berbalik. Seorang cewek dengan jaket abu-abu, kerudung hitam dan rok hitam sudah mengendari motor mio mendekat ke mereka. Berhenti, dan sempat berkenalan dengannya. Namanya Rohmah.

“Pulang ya, Ris? Makasih udah mau nungguin,” pamit Ulfa. Ega hanya tersenyum, tak lebih. Dan setelahya? Ia kembali sendiri. Memaksa semua ingatan masa lalunya kembali. Dan inilah yang paling dibencinya.

***

Libur kelulusan telah usai. Ega kini masuk ke SMA. Seragam baru, putih abu-abu ia kenakan. Bersama teman seakhir hayat, Puguh Nurrohim, ia siap untuk mendapatkan semua yang serba baru. Siapa sangka tampangnya yang benar-benar culun menjadikannya cukup dikenal dengan kisah cinta berikutnya yang tak ada bedanya dari kisah-kisah cinta sebelumnya.

Awalnya, ia bertemu dengan gadis ini di Pramuka. Namanya Bunga. Dia tidak cantik, tapi manis. Sebenarnya tadinya hanya taraf bercanda. Ega menggombali Bunga. Tapi, makin lama, benih-benih cinta itu muncul. Ega semakin sering kontak dengan Bunga. Apalagi Bunga satu kelas dengan Ega. Membuat Ega tak bisa memendam perasannya lebih lama.

Ega kembali mendapat seorang pacar. Manis dan begitu perhatian padanya. Satu bulan, rasanya Ega benar-benar serasa di surga. Bunga membuatnya begitu bahagia. Bahkan, akhirnya Ega bisa melupakan Olivia setelah sekian lamanya merasa bersalah. Olivia benar-benar hilang kontak dengannya. Facebook diblokir, Twitter diganti dan nomor telfon pun diganti. Ega benar-benar tak bisa menghubunginya lagi. Dan Bunga bisa membuat Ega melupakan Olivia.

Tapi, satu bulan berlalu, Ega mendengar gosip yang benar-benar tak mengenakkannya. “Ega, dia itu cuma jadiin kamu pelampiasannya,” kata salah seorang teman Ega, termasuk teman Bunga.
Ega tak percaya, tentu saja. Mana mungkin Bunga yang begitu peduli dan perhatian padanya hanya menjadikannya pelampiasan? Namun, kepercayaan Ega tak lantas tanpa cela. Ada kalanya ia merasa perlu membuktikan kata-kata teman-temannya. Setidaknya, untuk meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya gosip tanpa kebenaran.

Ia mencoba mengajak Bunga jalan. Tapi, Bunga tak mau. Bunga hanya peduli lewat sms, tak lebih dari itu. Bahkan, ketika di kelas saja, Bunga sama sekali tak mau berduaan dengan Ega. Ega jadi semakin curiga dan mencoba mencari tahu kebenaran gosip itu.

Berhari-hari Ega mencari tahu kebenaran itu. Bunga adalah mantan dari seniornya di pramuka, tepatnya seorang ketua pramuka, pradana. Hanya selisih beberapa hari setelah putus dari seniornya itu, Bunga menerima Ega. Keyakinan Ega soal kebaikan Bunga makin lama makin luntur. Hingga akhirnya, Ega benar-benar percaya bahwa gosip itu adalah sebuah kenyataan.

“Maaf, kayaknya kita harus udahan, Ga.” Akhirnya Bunga mengatakan kalimat yang ditunggu-tunggu Ega.

“Kenapa?” tanya Ega berpura tak tahu.

“Karena aku ngerasa kita udah enggak cocok aja.”
Ega beranjak berdiri. Ia tak mau melancarkan pukulan tangannya ke tembok terdekat. “Bener cuma karena enggak cocok?”

“Maksud kamu?” Bunga ikutan berdiri. Bahkan ia menatap tajam ke wajah Ega. Tapi tidak dengan Ega. Ia berusaha setenang mungkin dengan melempar pandangannya ke depan. Menahan sekuat tenaga kemarahannya.

“Kamu jadian sama aku bukan karena kamu benaran suka sama aku, kan?”

“Maksud kamu apa, sih?”

“Aku ini cuma kamu jadiin pelampiasan, kan?” tak ada jawaban. Bunga hanya diam, dan dari sanalah Ega tahu bahwa gadis ini sudah memobohonginya selama ini.

“Jadi bener?” Ega gantian menatap tajam wajah Bunga. Sedang Bunga sudah menundukkan kepalanya.

“Aku enggak nyangka kamu setega ini! Aku pikir, kamu cewek yang pantes aku cintai. Tapi nyatanya? Nol besar!” finish! Ega hengkang dari tempat itu. Ia tak tahu apa yang dirasakan Bunga. Tapi nyatanya, malah ia yang sakit hati. Rasanya benar-benar sakit. Ia merasa menjadi laki-laki paling bodoh yang pernah ada. Kenapa ia bisa tak sadar bahwa selama ini ia hanya dijadikan pelampiasan? Sesak, menyebar ke seluruh dadanya.

Yang paling disesalinya adalah, ia benar-benar tak bisa menghilangkan rasa sakit hatinya. Bahkan ia tak bisa mendengar nasehat-nasehat dari teman-teman terdekatnya, “Cewek enggak cuma satu, Ga.” Ia ingin percaya soal itu, tapi itu begitu sulit. Ia bodohkan dirinya sendiri yang sulit sekali melupakan Bunga. Gadis jahat yang sudah memporak-porandakan hatinya. Entahlah, rasanya sakit hati benar-benar menjamahnya sekarang.

Pulang sekolah hari ini, Puguh dan Kemal –sahabat-sahabatnya—mengajaknya pergi ke kuburan China. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk melepas lelah sepulang sekolah. Kuburan ini lebih mirip dengan taman. Semuanya tanahnya dipenuhi rumput china. Hijau dimana-mana. Batu-batu nisan malah kelihatan seperti tempat-tempat duduk yang dipasang sedemikian rapihnya. Andai kata di depan sana tak ada tulisan Peristirahan Terakhiri, mungkin orang-orang sudah mengira tempat ini benar-benar taman.

Di sana, Ega juga tak kelihatan fresh. Puguh dan Kemal yang sadar akan hal itu menepuk pundaknya pelan.

“Lo kenapa sih, Ga? Kusut amat muka lo, kayak cucian belum disetrika,” ujar Puguh memasang wajah turut sedihnya.

Ega tetap diam. Menunduk lesu tak berdaya berucap sepatah kata pun.

“Udah lah, Ga. Cerita dong sama kita-kita. Kalau lo ada masalah, bagi lah! Jangan dipendem sendiri,” Kemal menambahkan.

Menunggu cukup lama, dan dengan banyak bujukan dan rayuan, akhirnya Ega luluh. Ia tahu, sebenarnya Puguh dan Kemal tahu masalahnya. Hanya saja, mereka tak tahu kalau masalah ia putus dari Bunga masih membekas sakit di sudut hatinya.

“Dia enggak pantes buat kamu. Cari yang lebih baik dari dia masih banyak kok, Ga, Ga!” ucap keduanya menenangkan Ega. Tapi, entahlah. Ega tak lantas bisa menerimanya begitu saja.
Pulang dari kuburan tadi, Ega berpapasan dengan seorang cewek. Dilihat dari pakaiannya, ia pasti anak SMA.

“Mau bareng enggak, dek?” tawar cewek itu memberhentikan motornya.

“Eh, iya, mbak. Makasih,” balas Ega.

“Kamu yang gonceng ya, dek?”

“Oh, iya, Mbak,” jawab Ega. Jadilah ia yang menggonceng cewek yang sejak tadi memanggilnya dek itu. Hanya pembicaraan di atas motor, mereka sudah begitu dekat. Cewek itu bernama Desi. Kelas tiga SMA di sekolah tetangga. Meski begitu, ia seumuran dengan Ega.

“Rumahnya dimana, dek?” tanya Desi.

“Masih jauh, Mbak. Mbak rumahnya dimana?” Ega balik bertanya.

“Baru aja lewat.”

Ciitt!!! Ega menghentikan motornya. “Waduh, dimana, Mbak? Ya udah, saya turun di sini aja, Mbak,” ujar Ega merasa tak enak.

“Udah, enggak papa. Aku anterin kamu aja nyampek rumah.”

“Wah, enggak ngerepotin nih, Mbak?”

“Iya, enggak papa. Udah, ayok jalan lagi,” putus Desi. Ega menurut saja. Lagiapula, kapan lagi dapat 
tumpangan gratis seperti ini?

Baru juga sampai di jalan depan rumah, Ega mendapati pamannya yang garangnya melebih bang Napi sekalipun, sudah ada di depan pintu. Berkacak pinggang dan menatapnya tajam seolah ingin menerkam Ega saat itu juga. Kontan saja Ega menginjak pedal rem sekuat-kuatnya.

“Udah nyampek, dek?” tanya Desi heran.

“Udah, Mbak. Itu rumah saya. Makasih ya, Mbak?” Ega turun begitu saja. Membiarkan Desi tetap pada posisinya yang duduk di belakang. Untung saja Desi bisa menahan motornya agar tidak jatuh.

“Wah, aku enggak disuruh mampir dulu, nih?” canda Desi. Tapi, melihat tatapan mematikan dari pamannya, Ega tak mungkin menanggapi candaan Desi.

“Kapan-kapan aja deh, Mbak. Makasih ya, Mbak?” ucap Ega lagi. Tanpa menunggu hingga Desi pergi, Ega ngeloyor begitu saja masuk ke dalam rumah. Melewati pamannya yang untung saja tak memberi komentar apapun.

Buk! Dibantingnya tubuhnya di atas kasur. Menatapi plafon rumahnya hampa. Mengingat kebodohannya sendiri. Ia benar-benar merasa bodoh hingga ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia tak tahu bagaimana caranya memaafkan kebodohannya. Hanya meremat sprei kasur, tak ada lagi yang bisa ia lakukan.

Sebelumnya     Selanjutnya