Pulang dari kuliah, Ega bermaksud pergi sebentar ke pantai. Melepas
lelah dan penatnya. Tapi, karena hujan turun, ia urungkan niatnya. Ia bahkan
belum sempat pulang, hingga akhirnya ia berhenti di sebuah minimarket. Sambil
menunggu hujan reda, ia kembali meletakkan headset-nya di kedua telinganya.
Selang beberapa waktu, seorang cewek dengan rambut ikal terurai juga
berteduh di sana. Ia membawa payung, tapi mungkin karena tak tahan dengan
derasnya hujan, atau mungkin ia ingin mampir ke minimarket ini, ia juga
berteduh di sini. Tapi, ia bukannya masuk ke dalam malah menatap Ega cukup
lama. Tentu saja Ega merasa risih dengan sikapnya itu.
“Ngapain sih ni cewek?” pikir Ega. Tapi, cewek itu terus saja menatapnya. Seakan-akan ia merasa bahwa Ega ini adalah pelaku dari sebuah pencurian bank besar atau salah satu tersangka terlibat kasus bank century itu. Nah lo!
“Ega!” sentak cewek itu tiba-tiba.
Ega yang merasa namanya disebut sontak saja menatap tajam ke wajah
cewek ini. Darimana cewek ini tahu namanya? Padahal di almamaternya tak ada
namanya satu huruf pun. Lalu, apa ia mengenal cewek ini?
“Ega! Kamu Ega, kan? Kharisma Ega Julianza?” sentak cewek ini lagi. Ega
semakin menyipitkan matanya. Ia berpikir, apa benar ia pernah mengenal cewek
ini? Atau ia salah dengar karena hujan begitu derasnya terdengar?
“Ehm, maaf...kamu...” Ega mencoba menerka-nerka. Padahal, jelas kentara
di wajahnya, ia benar-benar tak ingat siapa cewek ini sebenarnya.
“Ini aku, Mawar. Kamu inget, kan? Cewek pertama kamu!” cewek itu
memukul bahunya cukup keras. Ega memandangnya lagi cukup lama. Dan SRETT!!! Ia ingat semuanya.
“MAWAR?!”
***
“Ka...kamu mau enggak jadi pacar aku?” ucap Ega terbata-bata. Ia tak
kuasa jika harus menatap ke kedua mata Mawar. Tapi sebisa mungkin ia menatap
bibir atau apa sajalah yang ada di wajah Mawar. Asalkan jangan mata.
“Ka, kamu suka sama aku?” Mawar malah balik bertanya. Sedangkan kedua
temannya yang lain hanya cengo dengan mulutnya yang menganga lebar, tak percaya
dengan adegan tembak menembak yang dilakukan Ega sekarang ini. Yang ada di
pikiran mereka hanya satu, “Ni anak PD banget!”
“I, iya, Mawar. Aku udah lama banget naksir sama kamu. Kamu mau kan
jadi pacar aku?” tanya Ega lagi. Kali ini, ia beranikan menatap kedua mata
bocah berambut ikal yang berwajah oval ini. Ia benar-benar cantik menurut Ega.
Sudah dari kelas tiga ia naksir padanya. Tapi baru kali ini ia berani
mengungkapkan perasaannya.
Ia terus menatap Mawar yang malah memandang ke kedua temannya. Meski
yang dipandangi masih saja melompong menatap adegan di depan mereka tak percaya. Mawar
juga bingung harus menjawab apa. Tapi akhirnya, ia menganggukkan kepalanya. Dan
hanya Ega yang bersorak kegirangan. Tapi kedua teman Mawar langsung pingsan di
saat itu juga. Bukan karena kaget dengan teriakan Ega, tapi karena shock
lantaran tak percaya Mawar mau menerima Ega yang bertampang pas-pasan itu.
***
“Jadi sekarang kamu kuliah di Unila, ya?” tanya Mawar setelah ia
tertawa lepas mengingat kejadian menggelikan mereka dulu. Bocah sekecil itu
sempat-sempatnya merasakan cinta. Entah itu cinta monyet atau cinta badak,
mereka juga tak tahu.
“Iya, kamu di IAIN?” balas Ega. Ia hanya mendapat anggukan kepala dari
Mawar. Ega sempat menatapnya lama. Mawar tak pernah berubah. Ia masih saja
cantik seperti dulu. Hanya saja wajahnya terlihat lebih dewasa. Ia tertawa lagi
mengingat ia pernah berpacaran dengan gadis ini selama tiga tahun lamanya.
Mereka putus karena keduanya pisah sekolah. Ega di SMP Negeri, sedangkan Mawar
di Madrasah Tsanawiyah.
“Maaf, ya? Kita harus berpisah,” kata-kata Ega kecil kembali mereka
ingat. Saat itu, Mawar hanya menatapnya dengan datar. Tampang polosnya tak
menunjukkan ekpresi sedih karena diputuskan pacar. Sama seperti ketika ia
menerima Ega waktu itu, Mawar hanya menganggukkan kepalanya. Meski Ega sempat
memberinya sebuah cincin hadiah dari lolipop yang ia beli tadi pagi, sebagai
hadiah kenang-kenangan.
“Terus gimana, Ga? Kamu udah bisa move on dari aku, kan?” canda Mawar menatap
rintik hujan yang makin deras saja. Sepertinya dewa hujan membuat mereka bertahan
lebih lama. Membiarkan reoni antara keduanya berlangsung lebih.
“Aduh, akunya masih jomblo aja nih, War. Berarti aku belum bisa move
on, ya?”
balas Ega, tentu saja bercanda juga. Lagipula, ia tahu. Ia maupun Mawar sudah
tak ada perasaan apapun lagi. Bahkan, Ega sendiri meragukan kebenaran
perasaannya saat itu. Ia benar-benar masih seumur jagung waktu itu.
“Emang susah kok, Ga. Akunya kelewat cantik dan manis, sih.” Keduanya
kemudian tertawa. Hujan masih enggan untuk berhenti. Membuat mereka harus mencari
bahan obrolan lebih banyak.
Sebenarnya Mawar bisa saja pulang. Toh, di
tangannya sudah ada payung. Kalau dia mau, ia bisa saja meninggalkan Ega dan
pulang lebih dulu. Tapi, ia tentu saja tak enak. Lagipula, Ega adalah orang
yang paling asik diajak ngobrol. Sia-sia jika pertemuannya yang mungkin akan
singkat ini, jika tak dimanfaatkan. Dewa hujan juga sudah mendukung keduanya.
Tapi, jika menginginkan mereka balikan, itu adalah hal yang sangat mustahil.
Sekitar lima belas menit sudah mereka berbincang-bincang. Hujan belum
sepenuhnya reda. Tapi waktu yang makin sore memaksa Mawar untuk pulang duluan.
Ega sempat menawarkan untuk pulang bersama. Tapi Mawar menolaknya dengan
alasan, “Nanti kamu kepincut lagi lo sama aku.” Ega hanya membalas dengan
senyuman. Begitu Mawar pergi, hanya angin yang menyapa dirinya. Bahkan, setelah
putus dari Mawar, rasanya kisah cintanya tak pernah berbuah manis.
Begitu hujan reda, Ega bergegas pulang ke rumah.
Sebelumnya Selanjutnya
