Tuesday, January 14, 2020

Aku Hanya Melukis Kecantikan


“Silahkan,” Tae Soo menyodorkan sekaleng soda ke Won Geun. Dengan sungkan, Won Geun pun menerimanya.

“Ah, kamsahmnida. Seharusnya Anda tidak perlu repot-repot begini.”

“Aniyo, gwaenchanayo. Itu bukanlah apa-apa,” tanggap Tae Soo kemudian duduk di depan Won Geun. Seperti biasa, ia bersikap santai. Dengan menaruh kaki kanannya di atas kirinya dan bersender di punggung sofa.

“Maaf, karena kami mengganggu waktu Anda sekali lagi,” kata Won Geun.

“Tidak masalah. Aku akan membantu pihak kepolisian apapun yang aku bisa. Lagipula, Anda datang di waktu yang tepat sebelum aku pergi ke Vietnam.”

“Anda akan pergi ke Vietnam?”

“Ne. Ada perjalanan bisnis. Aku akan berangkat besok lusa, dan akan kembali bulan depan. Aku akan membantu sebisaku mumpung aku masih di sini,” ujar Tae Soo dengan segala gelagat ramahnya. Siapa saja pasti akan sungkan jika berhadapan dengan orang seperti ini. Pantas saja Baek Ji awalnya meragukan orang seperti ini. Kini Won Geun paham maksudnya.

“Ini tentang… Min Soo Min, sekretaris Anda.”

“Ah, ne. Aku dengar dia sudah ditemukan. Aku turut berduka cita,” tanggap Tae Soo cepat. Yang didengar Won Geun memang sebuah ucapan bela sungkawa. Tapi entah kenapa rasanya ekspresinya tak cocok sedikit pun. Memang jika dilihat secara sekilas, duka cita sudah dipasang Tae Soo dengan benar di wajah itu. Hanya saja, ada kesan datar di sana. Seperti seorang anak yang memasukkan balok ke lubang yang berbentuk lingkaran besar. Masuk memang, tapi tidak sesuai.

“Bolehkan aku langsung menanyakan sesuatu pada Anda?”

“Ah, tentu saja. Silahkan.”

“Dalam rekaman CCTV, kami melihat Min Soo Min masuk ke ruangan ini membawa pisau dapur. Tapi, setelah keluar, dia tidak membawanya.”

“Ah, itu? Dia membawanya karena aku yang menyuruhnya. Aku menggunakannya untuk mengupas apel untuk kekasihku. Tunggu sebentar!” Tae Soo bangkit. Ia menuju ke lemari pendingin yang tak jauh darinya. Ada sebuah piring putih dengan kulit apel. Pisau yang ada di atasnya ia ambil dan ia taruh di atas meja. “Ini pisau yang diberikannya padaku. Silahkan jika Anda akan membawanya. Kurasa ada sidiki jari Min Soo Min di sana,” tambah Tae Soo. Won Geun tercengang. Apa iya dia harus membawa pisau ini hanya untuk meyakinkan bahwa Min Soo Min memang membawanya atas suruhan Kim Tae Soo?

“Gwaenchanayo. Jika Anda ingin membawanya tidak masalah. Aku masih punya banyak di rumahku.”

“Ne?”

“Oh, itu. Aku mengoleksi banyak pisau dapur. Selain lukisan, benda ini yang aku sukai.” Penuturan Tae Soo membuat Won Geun mengangguk aneh. Apa ini sebuah pengakuan? Pikirnya.

“Apakah Anda mengenal Oh Chae Rim?” tanya Won Geun selanjutnya.

“Oh Chae Rim? Ah… Chae Rimie[1]?” mendengar cara memanggil Tae Soo pada Oh Chae Rim, sepertinya mereka memang cukup dekat. “Ne. Dia adalah adik sahabatku, Oh Chae Ryeong. Aku sudah mengenalnya sejak aku satu jurusan dengan Chae Ryeong saat kuliah dulu. Bahkan… dia sempat menyatakan perasaannya padaku.” Penjelasan Tae Soo lebih dari yang Won Geun harapkan. “Tapi, kenapa Anda menanyakannya?”

“Di tempat kami menemukan mayat Min Soo Min, dia adalah salah satu orang yang pergi ke sana. Tapi, dia menghilang dan tidak dapat kami temukan sampai sekarang. Apa mungkin Anda melihatnya akhir-akhir ini?”

“Em…” Tae Soo nampak berpikir. Melihat? Yah, bahkan ia sempat bercakap-cakap dan menjajal salah satu koleksi pisaunya, kan? Apa dia akan mengaku semudah itu? “Aniyo. Aku belum melihatnya sejak terakhir kali aku mengantar Chae Ryeong ke Bandara untuk pergi ke Jepang,” ia memilih menutupinya dulu.

Won Geun benar-benar tak mengerti orang seperti apa Kim Tae Soo ini. Caranya bersikap, dan menjawab pertanyaan nampak tenang sekali. Bahkan, mendengar Chae Rim salah satu orang yang dicurigai kepolisian, ia bersikap biasa saja. Padahal seperti katanya barusan, Oh Chae Rim adalah adik dari sahabatnya sendiri. Tapi sebelum ia menemukan bukti yang cukup kuat, ia tak mungkin membawa orang ini ke ruang interogasi di kantor polisi. Karenanya ia hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang memang ia butuhkan. Selain ia mendapatkan rekaman CCTV dari seluruh lantai di gedung ini, ia pun mendapatkan barang-barang Min Soo Min yang masih tertinggal di meja kerjanya. Setelah itu dia pergi, dengan diantar Tae Soo sampai ke lantai bawah, dengan alasan dia memang ada urusan di lantai 1.

“Kalau begitu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” ujar Won Geun sebelum pergi. Tae Soo mengakhiri pertemuan itu dengan senyum malaikatnya. Membuat Won Geun berpikir banyak sekali bagaimana caranya orang seperti itu bisa membunuh orang lain, jika memang dia benar-benar tersangkanya.

Baru saja dia melewati pintu masuk, ada seorang bocah SMA yang melewatinya. Karena merasa kenal, ia berbalik. Pandangannya mengikuti jalannya bocah itu yang ternyata menemui Tae Soo di depan lift. “Bukankah itu haksaeng yang menjadi saksi di TKP Min Soo Min?” gumam Won Geun. Sesaat ia memperhatikan apa yang dilakukan bocah itu dengan seseorang seperti Kim Tae Soo. Tapi ia mengubur dulu rasa penasarannya. Mungkin ia akan menanyakan sesuatu tentang Kim Tae Soo pada bocah itu jika suatu saat diperlukan. Dilanjutkannya langkahnya meninggalkan galeri Tae Soo.

“Oh, Han Ki Jae? Kau ke sini lagi?” Tae Soo menyambut hangat kedatangan bocah SMA yang tak lain adalah Ki Jae itu. Dengan wajah datar, Ki Jae berdiri tepat di hadapan Tae Soo. “Hyo Kyung sedang kusuruh keluar. Jadi sekarang dia tidak ada di sini,” tambahnya, tak ingin terlalu lama mendapat tatapan seperti itu dari Ki Jae.

“Arayo.”

“Ara?” Tae Soo cukup heran dengan jawabannya. Darimana dia tahu? Apa Hyo Kyung yang memberi tahunya?

Ki Jae kemudian mengeluarkan selembar kertas dari tas ranselnya. Entah apa isinya, yang jelas kertas itu ia berikan pada Tae Soo. “Apa ini?” tanya Tae Soo kemudian membaca isi kertas itu. Sebuah kontrak pelatihan dengan agensi musik.

“Aku akan menjadi trainee di agensi itu. Aku tidak tahu kapan aku akan debut. Mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Bisa berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Tapi aku akan berusaha keras untuk bisa debut secepatnya,” ia memberi penjelasan lebih soal kontrak itu. Tae Soo sendiri belum begitu paham dengan maksudnya. Lalu apa urusannya soal kontrak itu dengan dirinya, kan? Mengganti kata, “Jadi maksudnya apa?” Tae Soo hanya mengangkat kedua alisnya. “Sampai saat aku bisa benar-benar sukses, hanya sampai saat itu, Anda boleh meminta Hyo Kyung nuna untuk tinggal bersama Anda. Saat aku sudah sukses, Anda harus mengembalikannya padaku,” tambahnya.

“Ya, Ki Jae~ya! Tidak bisa begitu, kan? Ya! Bukankah sudah kukatakan aku ini menyukai Han Hyo Kyung. Kenapa aku harus mengembalikannya padamu?”

“Sampai aku memang sudah sukses!” sentak Ki Jae. Ia tak ingin mendengar tanggapan dari Kim Tae Soo. “Kembalikan Hyo Kyung nuna padaku. Dan aku…” kalimatnya terputus. Di benaknya masih sedikit ragu untuk melanjutkannya. Lebih dari itu, sebenarnya dia tidak rela mengatakannya. Tapi jika itu memang untuk kakaknya, ia akan melakukannya. “Dan aku akan mengembalikannya padamu lagi jika memang dia yang ingin menikah denganmu,” lanjutnya. Tae Soo sempat tak percaya dengan kata-katanya. Namun mata Ki Jae menunjukkan keseriusannya. Walaupun ia tentu tak akan dengan semudah itu memberikan Hyo Kyung pada Ki Jae. Bukankah Hyo Kyung adalah goresan terakhir baginya? Kembalikan itu jika memang harus, tak ada aturan kan di dalamnya? Tae Soo memikirkan keadaan tercantik seperti apa yang akan ia ciptakan di wajah Hyo Kyung jika tiba saatnya ia harus mengembalikannya pada bocah ini.

“Sampai saat itu, aku minta pada Anda. Tolong jaga Hyo Kyung nuna dengan baik. Jika memang Anda menyukainya, tolong bersikaplah seperti pria yang menyukai wanitanya,” lanjut Ki Jae lagi.
“Ya! Apa kau tidak berpikir kalau kata-katamu itu terlalu berlebihan untuk haksaeng sepertimu, ha?” decak Tae Soo tak percaya. Yang diberikan Ki Jae hanya tatapan seriusnya. Bibirnya terkunci rapat, ia meminta kepastian pada Tae Soo. “Aku sudah bilang padamu bahwa aku menyukainya.” Senyum separuh Tae Soo muncul. “Dan aku… akan memperlakukannya seperti aku memperlakukan wanita yang aku sukai. Kau jangan khawatir.”

Ki Jae nampaknya puas dengan jawaban itu. Dia hanya menunduk ala kadarnya kemudian pergi dari sana. Masih menyisakan Tae Soo dengan senyuman separuhnya. Sebelum Ki Jae benar-benar melewati pintu itu, ia mengambil ponselnya. Dihubunginya Hyo Kyung yang sebenarnya hanya ada di ruangannya.

“Chukkahae[2], Hyo Kyung~a. Mulai sekarang, aku akan memikirkan cara untuk membuatmu menjadi yang paling cantik dari wanita-wanita sebelumnya,” ucapnya dengan nada sedingin mungkin.

***

Lantai dasar cukup sepi. Mungkin 1, 2, 3 mobil yang masuk, atau keluar untuk parkir. Sedangkan Won Geun sendiri belum meninggalkan tempat parkir. Dia baru saja menerima panggilan dari temannya. Sampai ia melihat seseorang melintasi mobilnya. Sepertinya ia kenal.

“Aku akan menelponmu lagi,” diakhirinya telpon itu. Ia memilih mengikuti orang yang baru saja melepas jaket hitamnya. “Woo Hyun~a!” panggilnya. Punggungnya saja ia sudah sangat mengenalinya. Pun orang itu berbalik. Dan benar adanya, memanglah itu Woo Hyun.

Awalnya Woo Hyun ragu kalau itu Won Geun. Kemudian Won Geun mendekatinya, ia tersenyum. “Won Geun hyung!” sapanya balik. Bisa bertemu dengan Woo Hyun di sini cukup mengejutkan. Walau memang Woo Young dan Woo Hyun tinggal di Gangnam Gu juga. Tapi, untuk apa dia kemari.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya langsung.

“Ah… aku mengunjungi seseorang yang kukenal di sini.”

“Nugu…”

“Kim Tae Soo. Pemilik gedung ini.” Jawaban ini membuat Won Geun cukup terkejut. Seseorang seperti Woo Hyun bisa mengenal orang seperti Tae Soo. Perkaranya, hubungan apa yang bisa membuat mereka berkenalan? “Kau mengenalnya?” ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Ne. Aku mengenal dia beberapa tahun yang lalu saat aku mengunjungi galerinya,” Woo Hyun memberikan jawaban yang sama seperti yang ia berikan pada Woo Young. Won Geun pun tidak protes. Kepalanya mengangguk, pertanyaannya sudah terjawab. Kalau Woo Hyun dibutuhkan untuk mengorek informasi tentang Tae Soo, mungkin akan lebih mudah. Mengingat kakaknya sendirilah yang menangani kasus ini.

“Kau mau pergi kemana? Biar kuberi tumpangan,” tawar Won Geun.

“Tidak usah, Hyung. Aku juga harus mampir ke suatu tempat dulu,” tolak Woo Hyun. Tak ada pilihan. Lagipula, tawaran Won Geun lebih seperti basa-basi untuk mengakhiri obrolan mereka. Tak ada apapun lagi yang dibahas, Woo Hyun pamitan. Dia melewati tempat parkir, tapi dia tidak punya mobil. Untuk apa lewat sini? Pikir Won Geun. Lebih dari itu, setahu Won Geun, Woo Hyun tidak punya ijin mengemudi. Tadi kalau melihat jaket yang dikenakannya, ia pun cukup heran. Apakah pekerjaan menjaga perpustakaan bisa memiliki gaji sebesar itu untuk membeli jaket yang di matanya nampak mahal? Ah, untuk apa pula dia mengurusi benda milik orang lain?

***

Woo Young baru saja keluar dari rumah orang tua Seok Ryeong. Kakak Seok Ryeong, Eun Seok Joong mengantarnya sampai depan gerbang. Wajah Seok Joong yang sedikit mirip dengan Seok Ryeong kadang-kadang menjadi alasan Woo Young selalu merindukan rumah ini. Terlebih orang tua Seok Ryeong juga menganggapnya seperti anak mereka sendiri. Jika orang yang belum tahu kalau Seok Ryeong sudah dianggap meninggal, pasti mereka mengira Woo Young benar-benar sudah menjadi menantu di rumah ini.

“Sering-seringlah ke sini,” pinta Seok Joong. Woo Young hanya membalasnya dengan senyuman. Ia tidak bisa mengiyakannya. Bukan karena dia sendiri tak mau. Hanya saja, pekerjaannya tentu memberatkan. Jangankan untuk mampir kemari, bisa bertemu setiap hari dengan Woo Hyun saja, ia bersyukur. “Berhati-hatilah di jalan,” pesan Seok Joong kemudian masuk duluan ke dalam, karena memang Woo Young yang menyuruhnya.

Baru membuka pintu mobil, ponsel Woo Young bergetar. Ada panggilan masuk. “Eoh, Baek Ji~ya? Wae geurae?”

“Ketua tim, kita menemukannya! Oh Chae Rim! Kita menemukan Oh Chae Rim!” seru Baek Ji dari seberang. Tanpa menunggu Baek Ji mematikan telponnya, buru-buru Woo Young masuk ke mobil. Menancap gas sedalam mungkin, membelah jalanan, dan bahkan tak tanggung-tanggung memasang lampu sirine agar bisa melaju lebih leluasa.

***

Sebuah club malam di Apgujeong Dong malam ini lebih ramai dari biasanya. Tak hanya kalangan anak muda yang berpakaian bling-bling yang datang, tapi polisi berseragam dan beberapa detektiv yang siap memasangi garis polisi. Tidak ada musik, tidak ada lampu disko. Yang ada hanyalah kericuhan mereka yang ingin menyaksikan apa yang sedang menjadi pusat perhatian polisi-polisi itu.
Woo Young yang baru datang memarkirkan mobilnya sembarang. Di tengah-tengah kumpulan orang-orang, dan pintu masuk yang lebih sesak, dia menyelinap. Mencari celah agar dapat menggapai anak-anak buahnya yang sudah melingkar di dekat garis polisi. “Ada apa?” tanyanya sedikit terengah. Won Geun yang tepat di sampingnya tak menjawab. Hanya matanya saja yang menyuruh Woo Young untuk melihat apa yang sedang dilakukan polisi-polisi berseragam itu di area garis polisi.

“Oh Chae Rim?” tanyanya. Demi mendapat jawabannya sendiri, ia menerobos melewati garis polisi itu. Tapi wajah yang ia lihat adalah wajah hancur yang sudah tak dapat dikenali lagi siapa. 
“Bagaimana kau menyimpulkan ini Oh Chae Rim?” tanyanya pada salah seorang polisi di situ.

“Dari sini,” jawabnya, memberikan tas yang berisi dompet, lengkap dengan seluruh kartu identitas Chae Rim. Sekali lagi ia menoleh ke mayat itu. Jadi, benarlah ini Oh Chae Rim. “Apa sebab kematiannya?”

“Kita belum bisa memastikannya sebelum masuk ke meja otopsi. Sulit mengatakan dia mati hanya karena wajahnya yang hancur itu,” jawab polisi itu. Woo Young mengangguk paham. Kemudian diberikannya dompet itu pada Won Geun setelah ia menjauh sedikit dari mayat itu. “Siapa yang melapor pertama kali?” tanyanya.

“Orang yang di sana itu,” Baek Ji yang menjawabnya sambil menunjuk seorang pria yang duduk tak jauh dari mereka.

“Kau dapatkan keterangannya?” tanya Woo Young lagi.

“Ne. Dia bilang dia hanya duduk di sini dan melihat keanehan dari Oh Chae Rim karena tidak segera mengangkat kepalanya. Dia pikir dia sudah mabuk. Saat mencoba membangunkannya, saat itulah dia tahu kalau Oh Chae Rim sudah tak bernyawa lagi,” jelas Baek Ji dengan wajah prihatinnya.

“Bagaimana dengan saksi? Apa tidak ada yang melihat Oh Chae Rim datang dengan seseorang? Bartender? Tidak adakah bartendernya?”

“Bartender tidak melihat kedatangan Oh Chae Rim. Saat itu dia sedang pergi ke toilet,” kini giliran Won Geun yang menjawabnya. Bartender yang ia maksud sudah berdiri di tempatnya. Melihat ngeri ke arah si mayat. Sedangkan Woo Young menjambak rambutnya sendiri. “Di antara orang sebanyak ini, apakah mungkin tidak ada yang melihat kedatangan Oh Chae Rim?” sentaknya frustasi.

Tapi, tiba-tiba datang seorang wanita dengan gaun malamnya yang begitu mini. Mengekspos bagian atas dan bawahnya begitu jelas. Baek Ji sempat berdehem karena penampilan yang begitu terbuka itu. Sedangkan Woo Young dan Won Geun bersikap biasa saja. “Aku melihat kedatangan gadis itu. Tapi, aku tak mau pergi ke kantor polisi. Bisakah aku memberikan kesaksiannya langsung di sini saja?” ujarnya.

“Tentu saja,” jawab Woo Young. Buru-buru Baek Ji mengeluarkan buku catatannya untuk merekam apa yang akan dikatakan wanita ini.

“Awalnya aku tak begitu paham dia datang kapan. Tapi, yang aku tahu, dia kemari bersama seorang pria. Kupikir gadis itu mabuk, karena saat datang gadis itu mengalungkan tangan kirinya ke leher pria itu. Seluruh wajahnya juga tertutup rambutnya. Kemudian dia duduk di situ, dan setelah pria itu menerima telpon, pria itu pergi ke luar. Setelah itu, pria itu tidak kembali lagi sampai aku tahu kalau ternyata gadis ini sudah mati,” jelasnya.

“Bisakah Anda jelaskan ciri-ciri pria itu?” tanya Baek Ji. Siap sedia lagi dengan pulpennya.

“Em… tingginya sekitar 170… ah, 175 cm? Ya… sekitar setinggi itu. Aku tak memperhatikan wajahnya. Karena dia sendiri juga memakai topi dan jaket yang menutupi sebagian wajahnya. Jaket yang digunakannya sepertinya jaket yang lumayan mahal. Makannya kukira pria itu adalah kekasih gadis itu.”

“Jaket seperti apa yang digunakannya?”

“Jaket… ah, aku pernah melihat jaket seperti itu sebelumnya, makannya aku bisa bilang itu jaket yang lumayan mahal. Warnanya hitam, sepertinya jaket keluaran terbaru. Aku pernah melihatnya… di… apa seorang idol yang memakainya, ya?” Penjelasan jaket ini, entah kenapa mengingatkan Won Geun pada seseorang. Dikeluarkannya ponselnya. Seperti wanita ini, rasanya kalau mengingat jaket mahal, dia pun pernah melihat seorang bintang pop pernah menggunakannya. Diketiknya nama yang ia ingat, dan mencarinya di internet. Muncul beberapa foto. Salah satu foto yang menggunakan jaket yang ia ingat yang ia tunjukkan.

“Apa jaket seperti ini?” tanyanya.

“Ya! Tidak sama memang, tapi hampir mirip seperti ini,” jawabnya dengan mata yang berbinar-binar. Lain halnya dengan Woo Young yang langsung menatap Won Geun. “Bagaimana kau bisa tahu?” herannya.

“Hanya… aku sedikit menyukai idol ini,” jawabnya asal. Woo Young sendiri tak begitu percaya dengan jawabannya. Tapi perhatiannya teralihkan karena Soo Jin yang entah darimana datang.

“Hyung! Hyung darimana saja, sih?” tanya Baek Ji heran. Soo Jin sendiri tak menggubrisnya. Dia lebih tertarik dengan Woo Young yang ia tahu tadi belum datang saat ia datang kemari bersama dengan yang lain. “Ada seseorang yang menghilang, Ketua,” lapornya. Kemudian muncullah seorang pria 30 tahunan dengan setelan jas abu-abu.

“Dia siapa?” bisik Baek Ji, yang lagi-lagi tak digubris oleh Soo Jin.

“Aku manajer tempat ini. Tadi, seharusnya penyanyi itu masih ada di sini. Aku sendiri tak tahu kapan tepatnya dia menghilang. Namanya Song Hani,” jelas pria itu.

“Oh, kalau Song Hani aku tadi melihatnya keluar. Ah! Aku baru ingat. Dia keluar tepat setelah pria yang bersama gadis itu pergi,” potong wanita itu.

“Anda mengenal Song Hani?” tanya Won Geun.

“Semua orang di sini siapa yang tidak mengenalnya?” dia malah balik bertanya. Dari situ Won Geun mengambil kesimpulan, berarti Song Hani cukup dijadikan primadona di sini.

“Anda punya fotonya?” tanya Woo Young pada pria itu. Pria itu lalu menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Foto itu seperti foto yang diambil oleh Hani sendiri. Tentu saja pria itu langsung mendapat tatapan aneh dari keempat detektif di depannya itu. “Ehem! Aku adalah fansnya,” ujarnya tanpa ditanya.

Selajutnya hanya desahan nafas pelan dari keempat orang itu. “Kita kehilangan orang setelah menemukan orang yang sebelumnya hilang dalam keadaan mati. Apa… kita akan menemukan Song Hani dengan cara ini lagi, Hyung?” lirih Baek Ji. Soo Jin yang mendengarnya langsung memukul kepalanya. Bisa-bisanya bocah ini bicara begitu dengan mudahnya, padahal ketua tim mereka sendiri kelihatan sangat frustasi dengan kasus ini.

***

Seharian Hyo Kyung tak diijinkan keluar dari ruangan serba putih di balik lemari buku di ruangan Tae Soo itu. Yang ia lakukan pun tak lain hanya menonton film-film yang mulai menjadi kesukaannya di sini. Tentu saja ia tak akan melakukannya jika Tae Soo yang tak menayangkannya secara cuma-cuma. Hingga keadaanya sekarang lebih mirip robot yang tanpa ekspresi. Jika Min Hyuk memeriksa Hyo Kyung sekarang, mungkin sederet penyakit sudah ia voniskan pada gadis itu. Semisal stress, gangguan mental, depresi, dan penyakit jiwa lainnya. Bisa saja dia sudah masuk golongan kelas bawah di rumah sakit jiwa!

Setidaknya, dengan keadaannya yang seperti itu, ia masih bisa memikirkan Ki Jae. Tak ada dalam otaknya yang akan menggambarkan kejadian buruk untuk Ki Jae. Karena imajinasinya sendiri pun tak bisa bermain, ia tak ingin hal itu terjadi di dunia nyata. Saat Tae Soo menyuruhnya menunggu, maka ia harus siap menunggu. Saat Tae Soo memintanya untuk kembali ke ranjang, maka ia pun harus siap untuk kembali ke tempat itu. Termasuk sekarang. Walaupun kakinya serasa hampir putus dari tubuhnya, ia tetap memenuhi permintaan Tae Soo untuk naik ke lantai atas. Menemuinya di rumahnya.

Tae Soo sudah memberinya password masuk ke rumahnya. Ia lebih leluasa untuk masuk keluar ke sana. Walaupun ia sendiri tak menginginkannya. Ini kali kedua ia kemari. Dan perasaannya tak pernah hilang, ada sesuatu yang membuatnya sangat takut untuk masuk. Wajahnya boleh saja kehilangan banyak ekspresi, tapi untuk mendapatkan sinyal-sinyal merasakan situasi, dengan sangat jelas ia masih bisa melakukannya.

Baru pertama kali melangkah, ia sudah mendengar suara engahan seseorang. Suaranya tak begitu jelas. Yang terpikir di otak Hyo Kyung adalah mulutnya seperti tersumbat sesuatu. Ia tak berani mengira-ngira lagi apa yang terjadi. Pelan-pelan ia menambah langkah, dan Tae Soo lah yang pertama kali ia lihat. Duduk di kursi membelakanginya dengan kertas gambar dan pensil di tangannya. Sebuah pisau dapur ia letakkan di meja di depannya. Warna dari pisau itu membuat Hyo Kyung mencari seseorang lagi di sana. Lebih tepatnya si pemilik engahan itu.

“Eng… eng…” suara itu makin jelas. Hyo Kyung sendiri sudah yakin dimana tepatnya orang ini berada. Dia ada di depan Tae Soo. Berjarak 1 meter barangkali. Tempat tamu spesial Tae Soo biasa berada. Ya, di patung yang berbentuk kursi di air mancur itu. Ia hampir berteriak melihat orang yang ada di sana sudah dalam posisi terikat. Naasnya, tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Menampakkan jelas lekak-lekuk tubuhnya. Hyo Kyung langsung membekap mulutnya sendiri saat wanita malang itu bentuk wajahnya sudah tak karuan. Curat-murat dengan goresan yang cukup dalam dan warna merah yang menambah make up-nya. Rambutnya sudah tak keruan lagi bentuknya. Dengan kain putih yang menyumpal mulutnya, ia berusaha berteriak. Matanya tertuju Hyo Kyung, seolah meminta pertolongan padanya.

Tae Soo sepertinya sadar reaksi dari wanita itu. Ia berbalik dan langsung tersenyum melihat kedatangan kekasihnya. “Neo wasseo[3]?” ia nampak sangat senang sekali. Sama sekali tak peduli dengan sikap Hyo Kyung melihat keadaan wanita itu. Mungkin, Tae Soo mengira Hyo Kyung sudah terbiasa dengan adegan seperti ini, karena dengan semua film yang ia berikan itu. Nyatanya ia salah. Melihat secara langsung dengan dari balik layar kaca, tentu akan sangat beda. Terlebih orang itu ada tepat di depan matanya!

“Hyo Kyung, duduklah di sini,” pinta Tae Soo. Nadanya lebih terdengar seperti sebuah perintah. Tak ada penolakan. Sungguh, memang tak bisa. Hyo Kyung bagaikan anak penurut yang menyenangkan hati. Pelan-pelan, ia sampai juga di samping Tae Soo. Sesuai pula dengan pinta sang kekasih, ia duduk di sampingnya. “Perhatikan caraku menggambar dengan baik,” pinta Tae Soo lagi. Hyo Kyung tak begitu paham maksudnya. Entah yang harus dilihatnya itu gambaran Tae Soo atau wanita malang itu. Air matanya yang bercucuran membuat hati Hyo Kyung miris bukan main. Apa yang bisa dilakukannya? Meski rasa kemanusiannya ingin sekali menolong, tapi rasa takutnya pada Tae Soo lebih besar. Ia tak berdaya.

“Tidak! Kau tidak boleh seperti itu. Nanti gambarku tidak bagus jadinya!” sentak Tae Soo pada wanita itu. Ia kemudian berdiri. Mengganti buku gambar dan pensilnya dengan pisau di meja. Hyo Kyung mendelik melihatnya mendekati wanita itu. “Seharusnya ini tak seperti ini, kan?” gumam Tae Soo pada dirinya sendiri. Ia menyeka sebagian darah di pipi kanan wanita itu. Selintas, ia kembali memperhatikannya. Persis seperti pelukis yang sedang membetulkan objek lukisnya. Menurutnya masih ada yang kurang. Dan tak lama ia menemukan kekurangan itu. Bekas pipi yang baru saja ia seka keringatnya itu yang ia benarkan. “Eungggg….!!!” Teriakan wanita itu tersumbat kain. Dengan mudahnya Tae Soo menancapkan pisau yang ia bawa ke pipi itu dan merobeknya sampai ke bawah dagu. Hyo Kyung yang hanya melihatnya saja bisa merasakan ngilu luar biasa di pipinya sendiri. Apa lagi wanita itu?

“Kenapa masih kurang bagus juga, ya?” gumam Tae Soo lagi. Dia berpindah. Dengan cara sama, ia memilih pundak hingga hampir ke dadanya.  Sekali lagi teriakan itu menukik ke gendang telinga Hyo Kyung. Kakinya tergerak. Antara ingin menolong dan menampik jauh-jauh pisau itu dan tetap diam di tempatnya. Sayangnya ia terlalu pengecut. Justru kembalinya Tae Soo ke tempat duduknya membuatnya makin lengket di tempat duduknya itu. Rintih itu tak bisa lagi ia dengar. Alih-alih menyaksikan kepedihan itu, ia melirik ke buku gambar yang sudah kembali ke tangan Tae Soo. Hebat benar! Tae Soo bisa menggambarnya sama persis. Bahkan dengan warna darah yang ia dapatkan langsung dari objeknya. Mengenaskan!

“Ah…” tiba-tiba Tae Soo mendesah pelan. Gerakan pensilnya berhenti. Nampaknya objeknya belum begitu sempurna di matanya. Dari wanita itu, ia beralih ke Hyo Kyung. “Hyo Kyung~a!” panggilnya. Hyo Kyung terlunjak saking terkejutnya. Terlebih karena Tae Soo tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. “Sebentar saja, eoh?” pintanya. Hyo Kyung tak bisa menghindar ketika tangan Tae Soo meraih tengkuknya. Mendekatkan kepalanya dengan Tae Soo. Dalam waktu 5 detik, Tae Soo melumat bibir Hyo Kyung dengan kasarnya. Bahkan tangan Hyo Kyung sampai kebingungan mencari apa saja yang  bisa ia remas. Ia harus menyalurkan perasaan tegang dan mencekam karena perlakuan Tae Soo itu padanya. Sampai Tae Soo mengakhirinya, ia tetap tak dapat menemukan apapun.

“Ah…” desah Tae Soo puas. Entah apa yang dimaksudkannya, Hyo Kyung benar-benar tak mengerti.  Bahkan senyumnya itu… arkh! Andai saja Hyo Kyung punya energi lebih, ingin benar ia menancapkan pisau dapur itu ke wajah mengerikannya itu. “Aku mengerti apa yang salah. Bibirnya tak senikmat bibirmu, Hyo Kyung~a.” Jadi itukah alasannya? “Sepertinya aku tahu alasannya…” tambahnya. Ia kembali berdiri. Mendekati wanita itu lagi. “… itu karena bibirnya sudah dinikmati banyak lelaki, kan? Ah, Hyo Kyung~a! Dia ini adalah penyanyi klub malam. Kudengar dia juga melayani banyak tamu yang datang ke sana. Bibirnya sudah tidak perawan… ah!” Tae Soo tersentak. Ia berikan tatapan bersalahnya pada Hyo Kyung. “Mianhae, Hyo Kyung~a. Aku lupa. Kau juga pernah melakukannya dengan yang lain kan, ya? Tiga bajingan itu.” Tatapan bersalahnya lenyap, berganti dengan tawa. Sungguh! Siapapun yang mendengar tawanya itu akan mengira bahwa itu adalah tawa seorang iblis!

“Tapi, kau jangan khawatir! Aku sudah menghilangkan jejak-jejak bajingan-bajingan itu dari bibir dan tubuhmu. Karena kau sangat manis saat kita melakukannya, jadi aku sampai lupa kalau tubuhmu sudah digerayangi laki-laki lain,” tambahnya. Munafik jika hati Hyo Kyung tak hancur mendengarnya. Tapi ia pun hanya melampiaskannya di dalam hati, dengan kedua tangan yang mengepal penuh amarah. Dan rasa marahnya hilang ketika mendengar rintih dan teriakan tertahan dari wanita itu. Tae Soo kembali memainkan pisaunya di bibir merahnya.

“Kurasa sekarang sempurna.” Tae Soo mengakhiri tarian pisau itu. Ia selesai, membuat wajah cantik yang ia inginkan. Dia akan segera menyelesaikan gambar yang diinginkannya. Hyo Kyung tak tahu apakah wanita itu masih hidup atau tidak. Karena yang Hyo Kyung tahu, Tae Soo meninggalkan pisau itu tepat di dadanya. Matanya pun sudah tertutup. Rintihnya tak terdengar lagi.

“Kau tak perlu cemburu. Aku tidak berbuat apapun dengan wanita itu. Aku tak suka tubuhnya,” kata Tae Soo begitu selesai dengan gambarnya. Ia tersenyum puas dengan hasil karyanya. Disodorkannya gambaran itu ke depan mata Hyo Kyung. Hanya itu, dan ia mengambil ponselnya.

“Woo Hyun~a! Aku sudah selesai. Kau bisa bereskan sekarang,” ujarnya seperti biasa tiap kali selesai menggambar. Ponsel itu tak lantas ia kembalikan ke saku bajunya. Diletakkan begitu saja di atas meja. Buku gambar dan pensilnya ia bawa di tangan kirinya. Sedang tangan kanannya meraih tangan Hyo Kyung yang gemetaran dengan lembut. Wajah malaikatnya terbentuk. Seharusnya itu menenangkan. Tapi ini masih terasa mengerikan. Tanpa kata-kata, ia meminta Hyo Kyung berdiri. 
Membawanya ke kamarnya yang sama-sama serba putih, persis seperti kamar di dalam ruang kerjanya itu. Hyo Kyung mengira ia harus menemani Tae Soo lagi di atas ranjang seperti biasa. Tapi ternyata Tae Soo malah mendekati rak buku besar yang ada di sana. Ia menggerakkan sebuah buku dan terbukalah sebuah ruangan. Cara kerjanya sama dengan kamar di lantai 4 itu. Bedanya adalah, ruangan itu bukanlah sebuah kamar. Melainkan ruangan berisi puluhan, atau mungkin cat, kuas, kanvas, dan berbagai peralatan melukis lainnya. Tae Soo kembali meraih tangannya dan menuntunnya untuk masuk. Bau cat langsung menyeruak ke rongga hidung Hyo Kyung. Jadi di sinikah ruangan Tae Soo melukis selama ini?

Ruangan ini cukup luas. Banyak lukisan yang sudah selesai dan hanya digeletakkan begitu saja, menyandar di dinding. Ada juga yang sengaja digantung di dinding. Semuanya lukisan normal. Bukan potret mengerikan seperti yang ia buat di buku gambar kesayangannya itu. Ah, dan ia meletakkan buku gambar itu di meja kecil di dekat kain besar yang menutupi sesuatu. Mungkin itu juga adalah lukisan. Hyo Kyung tak tahu itu.

“Ada yang ingin kutunjukkan padamu,” ujar Tae Soo. Kain besar itu ia sibakkan. Benar, ada sesuatu di baliknya. Yaitu bingkai berukuran 1,7 x 1 meter yang membingkai sebuah lukisan yang hampir membuat kedua bola mata Hyo Kyung melompat keluar. Entah itu hanya imanjinasi Tae Soo saja, atau bukan. Tapi rasanya lukisan itu benar-benar nyata. Dengan latar belakang sebuah ruangan dengan perabot kursi, meja, lemari, dan benda-benda lain, ada 9 orang yang bergelimpangan dengan bentuk kematian yang bermacam-macam. Warna merah dimana-mana. Gurat mengenaskan dimana-mana. Itu hanya lukisan. Tapi Hyo Kyung merasa ia benar-benar berdiri di tengah mayat-mayat itu.
“Awalnya aku menggambarnya di kertas seukuran buku gambarku itu. Lalu beberapa tahun yang lalu aku melukisnya di sini. Kalau kau mau melihat yang asli, ah… aku menaruhnya di suatu tempat. Biar kucari dulu,” jelas Tae Soo, kemudian ia mulai sibuk mencari benda yang ia maksud ke semua tempat. “Warna merahnya hanya warna cat. Jadi tidak akan terasa begitu hidup. Tunggu, kucari yang asli. Yang asli akan lebih terasa hidup di matamu,” tambahnya lagi. Masih membolak-balikkan benda-benda yang dirasa menghalangi pencariannya.

“Kau pasti bertanya-tanya kan, siapa orang-orang itu? Ahaha… sayangnya aku juga tidak tahu,” lanjut Tae Soo. Akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Selembar kertas yang di dalam buku sketsa di belakang lukisan itu. “Tapi aku mengenal 1 orang.” Diserahkannya kertas itu pada Hyo Kyung. Sama persis. Hanya saja, lukisan di kertas itu kelihatan lebih lama, dan seperti kata Tae Soo, dengan warna darah yang asli, jelas lukisan itu nampak lebih hidup. “Orang ini. Hanya orang ini yang aku tahu.” Ia menunjuk satu mayat pria yang lebih gempal. Di antara yang lain, dia yang lebih mengenaskan. Mata dan mulutnya sudah tak punya rupa. Berganti dengan warna merah yang mencuat-cuat. Leher, dada, perut, kaki, tangan, dan semua bagian-bagian tubuhnya yang lain tak ada yang tak luput dari warna merah itu.

“Orang inilah yang paling menyenangkan. Ah, duduklah.” Dibawanya Hyo Kyung duduk di kursi kayu yang biasa ia gunakan untuk duduk saat melukis. Sedang ia sendiri mengambil kertas itu dari tangan Hyo Kyung dan menaruhnya di depan lukisan yang lebih besar. Dia bercerita sambil menggunakan dua gambar sama yang berukuran berbeda itu.

“Jadi, 22 tahun yang lalu, aku tidak tinggal di sini. Eh… aku tinggal di Gyeonggi. Ya, aku tinggal di Gyeonggi. Kau tahu? Aku tak pernah tinggal di gedung sebesar ini. Aku tidak pernah punya tempat tidur, tv, kulkas, atau perabot-perabotan yang lain. Yang aku punya hanya dua warna, yaitu gelap dan terang. Dan aku tidak pernah duduk di sofa yang empuk, atau kursi rotan yang nyaman. Aku hanya duduk di atas lantai dingin dan memeluk kedua lututku sendiri.

“Ah, waktu itu, aku tak pernah ingat sejak kapan aku tinggal di tempat itu. Aku masih ingat bau tempat itu. Hanya ruangan kecil yang punya lubang berukuran sedang yang membantuku membedakan dua warna itu. Gelap dan terang. Gelap berarti malam, dan terang berarti siang? Hh! Aku tak pernah kenal dua waktu itu dulu. Aku hanya tahu, bahwa aku lebih menyukai gelap daripada saat terang.

“Kau tahu kenapa? Karena saat terang tiba, orang ini…” Tae Soo menunjuk pria gempal tadi. “… juga akan datang. Kau tahu yang dia bawa apa? Dia… membawa warna lain untukku, yang bisa kau sebut sebagai warna merah. Dan warna baru itu keluar dari tubuhku. Dia gunakan benda tumpul seperti pentungan dan pisau dapur untuk mengenalkanku warna itu. Terus, terus berulang-ulang. Sampai aku tak pernah ingat, apa sebenarnya rasa saat warna itu keluar sedikit demi sediki dari tubuhku.” Tae Soo diam sejenak. Membiarkan Hyo Kyung membayangkan, sebenarnya apa yang terjadi pada Tae Soo 22 tahun yang lalu itu. Pentungan, pisau dapur? Warna merah dari tubuhnya? Bayangan-bayangan mengenaskan bermunculan di otaknya.

“Kemudian, suatu kali dia membawakanku buku gambar dan pensil. Dia menyuruhku untuk menggambar. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan benda itu. Tapi aku berusaha melakukannya, karena aku merasa untuk mengeluarkan warna merah dari tubuhku itu rasanya sungguh tak menyenangkan. Tapi tiap kali aku selesai, dia tak menyukai gambaranku. Dia akan mengeluarkan lagi warna merah itu dari tubuhku dengan pentungannya. Dan dia memberiku teknik baru, yaitu dengan membuat goresan di punggungku. Kau pernah melihatnya, kan?” tanya Tae Soo lagi. Hyo Kyung mulai mengerti, bagaimana Tae Soo mendapatkan luka-luka itu di punggungnya. Tapi Tae Soo bisa menceritakan semua itu dengan wajah yang sangat tenang. Atau malah dengan wajah yang seolah bahagia. Daripada menceritakan kisah yang mengerikan, yang dirasakannya adalah seperti menceritakan kisah liburannya di pulau Jeju. Menyenangkan!

“Setiap hari dia melakukannya. Aku harus menggambar. Dia menyuruhku menggambar seseorang yang aku tak tahu apa itu. Dan karena aku tak tahu, maka aku akan mendapat satu goresan lagi. Aku bahkan tak tahu caranya berteriak. Karena aku tak pernah diajari untuk mengekspresikan rasa tiap kali pisau itu membuat goresan di punggungku. Mataku selalu panas, tapi tak ada yang mengajariku untuk berkedip hingga mengeluarkan air dari sana. Tak ada yang mengajariku, dan aku pun hanya diam. Sampai jumlah goresan di punggungku ini berjumlah 99, aku berhasil menggambar seseorang yang dia inginkan itu. Dia tertawa, dia senang. Pisaunya tidak mengencani punggungku lagi. Pentungannya tidak menyapa kepala dan dadaku lagi. Dia senang, dan pergi meninggalkanku dengan buku gambar itu.” Sepertinya cerita Tae Soo selesai. Ia melangkah, mendekati Hyo Kyung dan membelai rambut poninya.

“Kau tahu apa yang kugambar di buku itu, Hyo Kyung~a?” tanyanya datar. Hyo Kyung menggeleng. Ia tentu tak akan tahu. “Aku menggambar sesuatu yang hanya dan selalu kugambar sampai sekarang. Aku menggambar…” Tae Soo sengaja menggantung kata-katanya. Srek! Tiba-tiba tangannya menyobek bagian depan baju Hyo Kyung dengan mudahnya. Ia berhasil mengintimadasi Hyo Kyung sampai gadis itu hanya bisa mematung. Menyaksikan bagaimana senyum separuhnya berubah menjadi seringaian yang mengerikannya tak ada satu kata pun dalam kamus yang bisa mewakilinya. Tangannya berpindah ke tengkuk Hyo Kyung. Mendorong paksa kepala Hyo Kyung dan menempatkan mata Hyo Kyung memperhatikan lebih jelas lekak-lekuk wajah tampan sekaligus dinginnya. Bibirnya kembali terbuka. Siap melanjutkan kalimatnya yang terpenggal. “… kecantikan!”

“Hmmp!” bibir Hyo Kyung terkunci. Tae Soo tak membiarkannya berteriak, meskipun sebenarnya Hyo Kyung sendiri tak bisa melakukannya. Tae Soo melepas tangannya di tengkuk Hyo Kyung. Karenanya, tubuh Hyo Kyung limbung dan terjerembam ke lantai. Sedetik pun Hyo Kyung tak sempat merasakan nyeri di kepalanya karena terantuk lantai. Karena bibir Tae Soo kembali mengunci bibirnya rapat-rapat. Terlepas dari bibir itu, Hyo Kyung merasa perlahan tubuh Tae Soo mulai menindih tubuhnya.
 
Sebelumnya                  Selanjutnya

[1] Biasanya bila pada nama seseorang yang diakhiri dengan imbuhan ~ie, menandakan hubungan yang sangat akrab untuk orang yang memanggilnya itu.
[2] Selamat
[3] Kau sudah datang