“Silahkan,” Tae Soo
menyodorkan sekaleng soda ke Won Geun. Dengan sungkan, Won Geun pun
menerimanya.
“Ah, kamsahmnida.
Seharusnya Anda tidak perlu repot-repot begini.”
“Maaf, karena kami
mengganggu waktu Anda sekali lagi,” kata Won Geun.
“Tidak masalah. Aku
akan membantu pihak kepolisian apapun yang aku bisa. Lagipula, Anda datang di
waktu yang tepat sebelum aku pergi ke Vietnam.”
“Anda akan pergi ke
Vietnam?”
“Ne. Ada perjalanan
bisnis. Aku akan berangkat besok lusa, dan akan kembali bulan depan. Aku akan
membantu sebisaku mumpung aku masih di sini,” ujar Tae Soo dengan segala
gelagat ramahnya. Siapa saja pasti akan sungkan jika berhadapan dengan orang
seperti ini. Pantas saja Baek Ji awalnya meragukan orang seperti ini. Kini Won
Geun paham maksudnya.
“Ini tentang… Min Soo
Min, sekretaris Anda.”
“Ah, ne. Aku dengar dia
sudah ditemukan. Aku turut berduka cita,” tanggap Tae Soo cepat. Yang didengar
Won Geun memang sebuah ucapan bela sungkawa. Tapi entah kenapa rasanya
ekspresinya tak cocok sedikit pun. Memang jika dilihat secara sekilas, duka
cita sudah dipasang Tae Soo dengan benar di wajah itu. Hanya saja, ada kesan
datar di sana. Seperti seorang anak yang memasukkan balok ke lubang yang
berbentuk lingkaran besar. Masuk memang, tapi tidak sesuai.
“Bolehkan aku langsung
menanyakan sesuatu pada Anda?”
“Ah, tentu saja.
Silahkan.”
“Dalam rekaman CCTV,
kami melihat Min Soo Min masuk ke ruangan ini membawa pisau dapur. Tapi,
setelah keluar, dia tidak membawanya.”
“Ah, itu? Dia
membawanya karena aku yang menyuruhnya. Aku menggunakannya untuk mengupas apel
untuk kekasihku. Tunggu sebentar!” Tae Soo bangkit. Ia menuju ke lemari
pendingin yang tak jauh darinya. Ada sebuah piring putih dengan kulit apel.
Pisau yang ada di atasnya ia ambil dan ia taruh di atas meja. “Ini pisau yang
diberikannya padaku. Silahkan jika Anda akan membawanya. Kurasa ada sidiki jari
Min Soo Min di sana,” tambah Tae Soo. Won Geun tercengang. Apa iya dia harus
membawa pisau ini hanya untuk meyakinkan bahwa Min Soo Min memang membawanya
atas suruhan Kim Tae Soo?
“Gwaenchanayo. Jika
Anda ingin membawanya tidak masalah. Aku masih punya banyak di rumahku.”
“Ne?”
“Oh, itu. Aku
mengoleksi banyak pisau dapur. Selain lukisan, benda ini yang aku sukai.”
Penuturan Tae Soo membuat Won Geun mengangguk aneh. Apa ini sebuah
pengakuan? Pikirnya.
“Apakah Anda mengenal
Oh Chae Rim?” tanya Won Geun selanjutnya.
“Oh Chae Rim? Ah… Chae
Rimie[1]?”
mendengar cara memanggil Tae Soo pada Oh Chae Rim, sepertinya mereka memang cukup
dekat. “Ne. Dia adalah adik sahabatku, Oh Chae Ryeong. Aku sudah mengenalnya
sejak aku satu jurusan dengan Chae Ryeong saat kuliah dulu. Bahkan… dia sempat
menyatakan perasaannya padaku.” Penjelasan Tae Soo lebih dari yang Won Geun
harapkan. “Tapi, kenapa Anda menanyakannya?”
“Di tempat kami
menemukan mayat Min Soo Min, dia adalah salah satu orang yang pergi ke sana.
Tapi, dia menghilang dan tidak dapat kami temukan sampai sekarang. Apa mungkin
Anda melihatnya akhir-akhir ini?”
“Em…” Tae Soo nampak
berpikir. Melihat? Yah, bahkan ia sempat bercakap-cakap dan menjajal salah satu
koleksi pisaunya, kan? Apa dia akan mengaku semudah itu? “Aniyo. Aku belum
melihatnya sejak terakhir kali aku mengantar Chae Ryeong ke Bandara untuk pergi
ke Jepang,” ia memilih menutupinya dulu.
Won Geun benar-benar
tak mengerti orang seperti apa Kim Tae Soo ini. Caranya bersikap, dan menjawab
pertanyaan nampak tenang sekali. Bahkan, mendengar Chae Rim salah satu orang
yang dicurigai kepolisian, ia bersikap biasa saja. Padahal seperti katanya
barusan, Oh Chae Rim adalah adik dari sahabatnya sendiri. Tapi sebelum ia
menemukan bukti yang cukup kuat, ia tak mungkin membawa orang ini ke ruang
interogasi di kantor polisi. Karenanya ia hanya menanyakan
pertanyaan-pertanyaan yang memang ia butuhkan. Selain ia mendapatkan rekaman
CCTV dari seluruh lantai di gedung ini, ia pun mendapatkan barang-barang Min
Soo Min yang masih tertinggal di meja kerjanya. Setelah itu dia pergi, dengan
diantar Tae Soo sampai ke lantai bawah, dengan alasan dia memang ada urusan di
lantai 1.
“Kalau begitu, sekali
lagi saya ucapkan terima kasih,” ujar Won Geun sebelum pergi. Tae Soo
mengakhiri pertemuan itu dengan senyum malaikatnya. Membuat Won Geun berpikir
banyak sekali bagaimana caranya orang seperti itu bisa membunuh orang lain,
jika memang dia benar-benar tersangkanya.
Baru saja dia melewati
pintu masuk, ada seorang bocah SMA yang melewatinya. Karena merasa kenal, ia
berbalik. Pandangannya mengikuti jalannya bocah itu yang ternyata menemui Tae
Soo di depan lift. “Bukankah itu haksaeng yang menjadi saksi di TKP Min Soo
Min?” gumam Won Geun. Sesaat ia memperhatikan apa yang dilakukan bocah itu
dengan seseorang seperti Kim Tae Soo. Tapi ia mengubur dulu rasa penasarannya.
Mungkin ia akan menanyakan sesuatu tentang Kim Tae Soo pada bocah itu jika
suatu saat diperlukan. Dilanjutkannya langkahnya meninggalkan galeri Tae Soo.
“Oh, Han Ki Jae? Kau ke
sini lagi?” Tae Soo menyambut hangat kedatangan bocah SMA yang tak lain adalah
Ki Jae itu. Dengan wajah datar, Ki Jae berdiri tepat di hadapan Tae Soo. “Hyo
Kyung sedang kusuruh keluar. Jadi sekarang dia tidak ada di sini,” tambahnya,
tak ingin terlalu lama mendapat tatapan seperti itu dari Ki Jae.
“Arayo.”
“Ara?” Tae Soo cukup
heran dengan jawabannya. Darimana dia tahu? Apa Hyo Kyung yang memberi tahunya?
Ki Jae kemudian
mengeluarkan selembar kertas dari tas ranselnya. Entah apa isinya, yang jelas
kertas itu ia berikan pada Tae Soo. “Apa ini?” tanya Tae Soo kemudian membaca
isi kertas itu. Sebuah kontrak pelatihan dengan agensi musik.
“Aku akan menjadi
trainee di agensi itu. Aku tidak tahu kapan aku akan debut. Mungkin akan
memakan waktu yang cukup lama. Bisa berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Tapi
aku akan berusaha keras untuk bisa debut secepatnya,” ia memberi penjelasan lebih
soal kontrak itu. Tae Soo sendiri belum begitu paham dengan maksudnya. Lalu apa
urusannya soal kontrak itu dengan dirinya, kan? Mengganti kata, “Jadi maksudnya
apa?” Tae Soo hanya mengangkat kedua alisnya. “Sampai saat aku bisa benar-benar
sukses, hanya sampai saat itu, Anda boleh meminta Hyo Kyung nuna untuk tinggal
bersama Anda. Saat aku sudah sukses, Anda harus mengembalikannya padaku,”
tambahnya.
“Ya, Ki Jae~ya! Tidak
bisa begitu, kan? Ya! Bukankah sudah kukatakan aku ini menyukai Han Hyo Kyung.
Kenapa aku harus mengembalikannya padamu?”
“Sampai aku memang
sudah sukses!” sentak Ki Jae. Ia tak ingin mendengar tanggapan dari Kim Tae
Soo. “Kembalikan Hyo Kyung nuna padaku. Dan aku…” kalimatnya terputus. Di
benaknya masih sedikit ragu untuk melanjutkannya. Lebih dari itu, sebenarnya
dia tidak rela mengatakannya. Tapi jika itu memang untuk kakaknya, ia akan
melakukannya. “Dan aku akan mengembalikannya padamu lagi jika memang dia yang
ingin menikah denganmu,” lanjutnya. Tae Soo sempat tak percaya dengan kata-katanya.
Namun mata Ki Jae menunjukkan keseriusannya. Walaupun ia tentu tak akan dengan
semudah itu memberikan Hyo Kyung pada Ki Jae. Bukankah Hyo Kyung adalah goresan
terakhir baginya? Kembalikan itu jika memang harus, tak ada aturan kan
di dalamnya? Tae Soo memikirkan keadaan tercantik seperti apa yang akan
ia ciptakan di wajah Hyo Kyung jika tiba saatnya ia harus mengembalikannya pada
bocah ini.
“Sampai saat itu, aku
minta pada Anda. Tolong jaga Hyo Kyung nuna dengan baik. Jika memang Anda
menyukainya, tolong bersikaplah seperti pria yang menyukai wanitanya,” lanjut
Ki Jae lagi.
“Ya! Apa kau tidak
berpikir kalau kata-katamu itu terlalu berlebihan untuk haksaeng sepertimu,
ha?” decak Tae Soo tak percaya. Yang diberikan Ki Jae hanya tatapan seriusnya.
Bibirnya terkunci rapat, ia meminta kepastian pada Tae Soo. “Aku sudah bilang
padamu bahwa aku menyukainya.” Senyum separuh Tae Soo muncul. “Dan aku… akan
memperlakukannya seperti aku memperlakukan wanita yang aku sukai. Kau jangan
khawatir.”
Ki Jae nampaknya puas
dengan jawaban itu. Dia hanya menunduk ala kadarnya kemudian pergi dari sana.
Masih menyisakan Tae Soo dengan senyuman separuhnya. Sebelum Ki Jae benar-benar
melewati pintu itu, ia mengambil ponselnya. Dihubunginya Hyo Kyung yang
sebenarnya hanya ada di ruangannya.
“Chukkahae[2],
Hyo Kyung~a. Mulai sekarang, aku akan memikirkan cara untuk membuatmu menjadi
yang paling cantik dari wanita-wanita sebelumnya,” ucapnya dengan nada sedingin
mungkin.
***
Lantai dasar cukup
sepi. Mungkin 1, 2, 3 mobil yang masuk, atau keluar untuk parkir. Sedangkan Won
Geun sendiri belum meninggalkan tempat parkir. Dia baru saja menerima panggilan
dari temannya. Sampai ia melihat seseorang melintasi mobilnya. Sepertinya ia
kenal.
“Aku akan menelponmu
lagi,” diakhirinya telpon itu. Ia memilih mengikuti orang yang baru saja
melepas jaket hitamnya. “Woo Hyun~a!” panggilnya. Punggungnya saja ia sudah
sangat mengenalinya. Pun orang itu berbalik. Dan benar adanya, memanglah itu
Woo Hyun.
Awalnya Woo Hyun ragu
kalau itu Won Geun. Kemudian Won Geun mendekatinya, ia tersenyum. “Won Geun
hyung!” sapanya balik. Bisa bertemu dengan Woo Hyun di sini cukup mengejutkan.
Walau memang Woo Young dan Woo Hyun tinggal di Gangnam Gu juga. Tapi, untuk apa
dia kemari.
“Apa yang kau lakukan
di sini?” tanyanya langsung.
“Ah… aku mengunjungi
seseorang yang kukenal di sini.”
“Nugu…”
“Kim Tae Soo. Pemilik
gedung ini.” Jawaban ini membuat Won Geun cukup terkejut. Seseorang seperti Woo
Hyun bisa mengenal orang seperti Tae Soo. Perkaranya, hubungan apa yang bisa
membuat mereka berkenalan? “Kau mengenalnya?” ia mencoba meyakinkan dirinya
sendiri.
“Ne. Aku mengenal dia
beberapa tahun yang lalu saat aku mengunjungi galerinya,” Woo Hyun memberikan
jawaban yang sama seperti yang ia berikan pada Woo Young. Won Geun pun tidak
protes. Kepalanya mengangguk, pertanyaannya sudah terjawab. Kalau Woo Hyun
dibutuhkan untuk mengorek informasi tentang Tae Soo, mungkin akan lebih mudah.
Mengingat kakaknya sendirilah yang menangani kasus ini.
“Kau mau pergi kemana?
Biar kuberi tumpangan,” tawar Won Geun.
“Tidak usah, Hyung. Aku
juga harus mampir ke suatu tempat dulu,” tolak Woo Hyun. Tak ada pilihan.
Lagipula, tawaran Won Geun lebih seperti basa-basi untuk mengakhiri obrolan
mereka. Tak ada apapun lagi yang dibahas, Woo Hyun pamitan. Dia melewati tempat
parkir, tapi dia tidak punya mobil. Untuk apa lewat sini? Pikir Won Geun. Lebih
dari itu, setahu Won Geun, Woo Hyun tidak punya ijin mengemudi. Tadi kalau
melihat jaket yang dikenakannya, ia pun cukup heran. Apakah pekerjaan menjaga
perpustakaan bisa memiliki gaji sebesar itu untuk membeli jaket yang di matanya
nampak mahal? Ah, untuk apa pula dia mengurusi benda milik orang lain?
***
Woo Young baru saja
keluar dari rumah orang tua Seok Ryeong. Kakak Seok Ryeong, Eun Seok Joong
mengantarnya sampai depan gerbang. Wajah Seok Joong yang sedikit mirip dengan
Seok Ryeong kadang-kadang menjadi alasan Woo Young selalu merindukan rumah ini.
Terlebih orang tua Seok Ryeong juga menganggapnya seperti anak mereka sendiri.
Jika orang yang belum tahu kalau Seok Ryeong sudah dianggap meninggal, pasti
mereka mengira Woo Young benar-benar sudah menjadi menantu di rumah ini.
“Sering-seringlah ke
sini,” pinta Seok Joong. Woo Young hanya membalasnya dengan senyuman. Ia tidak
bisa mengiyakannya. Bukan karena dia sendiri tak mau. Hanya saja, pekerjaannya
tentu memberatkan. Jangankan untuk mampir kemari, bisa bertemu setiap hari
dengan Woo Hyun saja, ia bersyukur. “Berhati-hatilah di jalan,” pesan Seok
Joong kemudian masuk duluan ke dalam, karena memang Woo Young yang menyuruhnya.
Baru membuka pintu
mobil, ponsel Woo Young bergetar. Ada panggilan masuk. “Eoh, Baek Ji~ya? Wae
geurae?”
“Ketua tim, kita
menemukannya! Oh Chae Rim! Kita menemukan Oh Chae Rim!” seru Baek Ji dari
seberang. Tanpa menunggu Baek Ji mematikan telponnya, buru-buru Woo Young masuk
ke mobil. Menancap gas sedalam mungkin, membelah jalanan, dan bahkan tak
tanggung-tanggung memasang lampu sirine agar bisa melaju lebih leluasa.
***
Sebuah club malam di
Apgujeong Dong malam ini lebih ramai dari biasanya. Tak hanya kalangan anak
muda yang berpakaian bling-bling yang datang, tapi polisi berseragam dan
beberapa detektiv yang siap memasangi garis polisi. Tidak ada musik, tidak ada
lampu disko. Yang ada hanyalah kericuhan mereka yang ingin menyaksikan apa yang
sedang menjadi pusat perhatian polisi-polisi itu.
Woo Young yang baru
datang memarkirkan mobilnya sembarang. Di tengah-tengah kumpulan orang-orang,
dan pintu masuk yang lebih sesak, dia menyelinap. Mencari celah agar dapat
menggapai anak-anak buahnya yang sudah melingkar di dekat garis polisi. “Ada
apa?” tanyanya sedikit terengah. Won Geun yang tepat di sampingnya tak
menjawab. Hanya matanya saja yang menyuruh Woo Young untuk melihat apa yang
sedang dilakukan polisi-polisi berseragam itu di area garis polisi.
“Oh Chae Rim?”
tanyanya. Demi mendapat jawabannya sendiri, ia menerobos melewati garis polisi
itu. Tapi wajah yang ia lihat adalah wajah hancur yang sudah tak dapat dikenali
lagi siapa.
“Bagaimana kau menyimpulkan ini Oh Chae Rim?” tanyanya pada salah
seorang polisi di situ.
“Dari sini,” jawabnya,
memberikan tas yang berisi dompet, lengkap dengan seluruh kartu identitas Chae
Rim. Sekali lagi ia menoleh ke mayat itu. Jadi, benarlah ini Oh Chae Rim. “Apa
sebab kematiannya?”
“Kita belum bisa memastikannya
sebelum masuk ke meja otopsi. Sulit mengatakan dia mati hanya karena wajahnya
yang hancur itu,” jawab polisi itu. Woo Young mengangguk paham. Kemudian diberikannya
dompet itu pada Won Geun setelah ia menjauh sedikit dari mayat itu. “Siapa yang
melapor pertama kali?” tanyanya.
“Orang yang di sana
itu,” Baek Ji yang menjawabnya sambil menunjuk seorang pria yang duduk tak jauh
dari mereka.
“Kau dapatkan
keterangannya?” tanya Woo Young lagi.
“Ne. Dia bilang dia
hanya duduk di sini dan melihat keanehan dari Oh Chae Rim karena tidak segera
mengangkat kepalanya. Dia pikir dia sudah mabuk. Saat mencoba membangunkannya,
saat itulah dia tahu kalau Oh Chae Rim sudah tak bernyawa lagi,” jelas Baek Ji
dengan wajah prihatinnya.
“Bagaimana dengan
saksi? Apa tidak ada yang melihat Oh Chae Rim datang dengan seseorang?
Bartender? Tidak adakah bartendernya?”
“Bartender tidak
melihat kedatangan Oh Chae Rim. Saat itu dia sedang pergi ke toilet,” kini
giliran Won Geun yang menjawabnya. Bartender yang ia maksud sudah berdiri di
tempatnya. Melihat ngeri ke arah si mayat. Sedangkan Woo Young menjambak
rambutnya sendiri. “Di antara orang sebanyak ini, apakah mungkin tidak ada yang
melihat kedatangan Oh Chae Rim?” sentaknya frustasi.
Tapi, tiba-tiba datang
seorang wanita dengan gaun malamnya yang begitu mini. Mengekspos bagian atas
dan bawahnya begitu jelas. Baek Ji sempat berdehem karena penampilan yang
begitu terbuka itu. Sedangkan Woo Young dan Won Geun bersikap biasa saja. “Aku
melihat kedatangan gadis itu. Tapi, aku tak mau pergi ke kantor polisi. Bisakah
aku memberikan kesaksiannya langsung di sini saja?” ujarnya.
“Tentu saja,” jawab Woo
Young. Buru-buru Baek Ji mengeluarkan buku catatannya untuk merekam apa yang
akan dikatakan wanita ini.
“Awalnya aku tak begitu
paham dia datang kapan. Tapi, yang aku tahu, dia kemari bersama seorang pria.
Kupikir gadis itu mabuk, karena saat datang gadis itu mengalungkan tangan
kirinya ke leher pria itu. Seluruh wajahnya juga tertutup rambutnya. Kemudian
dia duduk di situ, dan setelah pria itu menerima telpon, pria itu pergi ke
luar. Setelah itu, pria itu tidak kembali lagi sampai aku tahu kalau ternyata
gadis ini sudah mati,” jelasnya.
“Bisakah Anda jelaskan
ciri-ciri pria itu?” tanya Baek Ji. Siap sedia lagi dengan pulpennya.
“Em… tingginya sekitar
170… ah, 175 cm? Ya… sekitar setinggi itu. Aku tak memperhatikan wajahnya.
Karena dia sendiri juga memakai topi dan jaket yang menutupi sebagian wajahnya.
Jaket yang digunakannya sepertinya jaket yang lumayan mahal. Makannya kukira
pria itu adalah kekasih gadis itu.”
“Jaket seperti apa yang
digunakannya?”
“Jaket… ah, aku pernah
melihat jaket seperti itu sebelumnya, makannya aku bisa bilang itu jaket yang
lumayan mahal. Warnanya hitam, sepertinya jaket keluaran terbaru. Aku pernah
melihatnya… di… apa seorang idol yang memakainya, ya?” Penjelasan jaket ini,
entah kenapa mengingatkan Won Geun pada seseorang. Dikeluarkannya ponselnya.
Seperti wanita ini, rasanya kalau mengingat jaket mahal, dia pun pernah melihat
seorang bintang pop pernah menggunakannya. Diketiknya nama yang ia ingat, dan
mencarinya di internet. Muncul beberapa foto. Salah satu foto yang menggunakan
jaket yang ia ingat yang ia tunjukkan.
“Apa jaket seperti
ini?” tanyanya.
“Ya! Tidak sama memang,
tapi hampir mirip seperti ini,” jawabnya dengan mata yang berbinar-binar. Lain
halnya dengan Woo Young yang langsung menatap Won Geun. “Bagaimana kau bisa
tahu?” herannya.
“Hanya… aku sedikit
menyukai idol ini,” jawabnya asal. Woo Young sendiri tak begitu percaya dengan
jawabannya. Tapi perhatiannya teralihkan karena Soo Jin yang entah darimana
datang.
“Hyung! Hyung darimana
saja, sih?” tanya Baek Ji heran. Soo Jin sendiri tak menggubrisnya. Dia lebih
tertarik dengan Woo Young yang ia tahu tadi belum datang saat ia datang kemari
bersama dengan yang lain. “Ada seseorang yang menghilang, Ketua,” lapornya.
Kemudian muncullah seorang pria 30 tahunan dengan setelan jas abu-abu.
“Dia siapa?” bisik Baek
Ji, yang lagi-lagi tak digubris oleh Soo Jin.
“Aku manajer tempat
ini. Tadi, seharusnya penyanyi itu masih ada di sini. Aku sendiri tak tahu
kapan tepatnya dia menghilang. Namanya Song Hani,” jelas pria itu.
“Oh, kalau Song Hani
aku tadi melihatnya keluar. Ah! Aku baru ingat. Dia keluar tepat setelah pria
yang bersama gadis itu pergi,” potong wanita itu.
“Anda mengenal Song
Hani?” tanya Won Geun.
“Semua orang di sini
siapa yang tidak mengenalnya?” dia malah balik bertanya. Dari situ Won Geun
mengambil kesimpulan, berarti Song Hani cukup dijadikan primadona di sini.
“Anda punya fotonya?”
tanya Woo Young pada pria itu. Pria itu lalu menunjukkan sebuah foto di
ponselnya. Foto itu seperti foto yang diambil oleh Hani sendiri. Tentu saja
pria itu langsung mendapat tatapan aneh dari keempat detektif di depannya itu.
“Ehem! Aku adalah fansnya,” ujarnya tanpa ditanya.
Selajutnya hanya
desahan nafas pelan dari keempat orang itu. “Kita kehilangan orang setelah
menemukan orang yang sebelumnya hilang dalam keadaan mati. Apa… kita akan
menemukan Song Hani dengan cara ini lagi, Hyung?” lirih Baek Ji. Soo Jin yang
mendengarnya langsung memukul kepalanya. Bisa-bisanya bocah ini bicara begitu
dengan mudahnya, padahal ketua tim mereka sendiri kelihatan sangat frustasi
dengan kasus ini.
***
Seharian Hyo Kyung tak
diijinkan keluar dari ruangan serba putih di balik lemari buku di ruangan Tae
Soo itu. Yang ia lakukan pun tak lain hanya menonton film-film yang mulai
menjadi kesukaannya di sini. Tentu saja ia tak akan melakukannya jika
Tae Soo yang tak menayangkannya secara cuma-cuma. Hingga keadaanya sekarang
lebih mirip robot yang tanpa ekspresi. Jika Min Hyuk memeriksa Hyo Kyung
sekarang, mungkin sederet penyakit sudah ia voniskan pada gadis itu. Semisal
stress, gangguan mental, depresi, dan penyakit jiwa lainnya. Bisa saja dia
sudah masuk golongan kelas bawah di rumah sakit jiwa!
Setidaknya, dengan
keadaannya yang seperti itu, ia masih bisa memikirkan Ki Jae. Tak ada dalam
otaknya yang akan menggambarkan kejadian buruk untuk Ki Jae. Karena
imajinasinya sendiri pun tak bisa bermain, ia tak ingin hal itu terjadi di
dunia nyata. Saat Tae Soo menyuruhnya menunggu, maka ia harus siap menunggu.
Saat Tae Soo memintanya untuk kembali ke ranjang, maka ia pun harus siap
untuk kembali ke tempat itu. Termasuk sekarang. Walaupun kakinya serasa
hampir putus dari tubuhnya, ia tetap memenuhi permintaan Tae Soo untuk naik ke
lantai atas. Menemuinya di rumahnya.
Tae Soo sudah
memberinya password masuk ke rumahnya. Ia lebih leluasa untuk masuk
keluar ke sana. Walaupun ia sendiri tak menginginkannya. Ini kali kedua ia
kemari. Dan perasaannya tak pernah hilang, ada sesuatu yang membuatnya sangat
takut untuk masuk. Wajahnya boleh saja kehilangan banyak ekspresi, tapi untuk
mendapatkan sinyal-sinyal merasakan situasi, dengan sangat jelas ia masih bisa
melakukannya.
Baru pertama kali
melangkah, ia sudah mendengar suara engahan seseorang. Suaranya tak begitu
jelas. Yang terpikir di otak Hyo Kyung adalah mulutnya seperti tersumbat
sesuatu. Ia tak berani mengira-ngira lagi apa yang terjadi. Pelan-pelan ia
menambah langkah, dan Tae Soo lah yang pertama kali ia lihat. Duduk di kursi
membelakanginya dengan kertas gambar dan pensil di tangannya. Sebuah pisau
dapur ia letakkan di meja di depannya. Warna dari pisau itu membuat Hyo Kyung
mencari seseorang lagi di sana. Lebih tepatnya si pemilik engahan itu.
“Eng… eng…” suara itu
makin jelas. Hyo Kyung sendiri sudah yakin dimana tepatnya orang ini berada.
Dia ada di depan Tae Soo. Berjarak 1 meter barangkali. Tempat tamu spesial
Tae Soo biasa berada. Ya, di patung yang berbentuk kursi di air mancur itu. Ia
hampir berteriak melihat orang yang ada di sana sudah dalam posisi terikat.
Naasnya, tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Menampakkan jelas
lekak-lekuk tubuhnya. Hyo Kyung langsung membekap mulutnya sendiri saat wanita
malang itu bentuk wajahnya sudah tak karuan. Curat-murat dengan goresan yang
cukup dalam dan warna merah yang menambah make up-nya. Rambutnya sudah
tak keruan lagi bentuknya. Dengan kain putih yang menyumpal mulutnya, ia
berusaha berteriak. Matanya tertuju Hyo Kyung, seolah meminta pertolongan padanya.
Tae Soo sepertinya
sadar reaksi dari wanita itu. Ia berbalik dan langsung tersenyum melihat
kedatangan kekasihnya. “Neo wasseo[3]?”
ia nampak sangat senang sekali. Sama sekali tak peduli dengan sikap Hyo Kyung
melihat keadaan wanita itu. Mungkin, Tae Soo mengira Hyo Kyung sudah terbiasa
dengan adegan seperti ini, karena dengan semua film yang ia berikan itu.
Nyatanya ia salah. Melihat secara langsung dengan dari balik layar kaca, tentu
akan sangat beda. Terlebih orang itu ada tepat di depan matanya!
“Hyo Kyung, duduklah di
sini,” pinta Tae Soo. Nadanya lebih terdengar seperti sebuah perintah. Tak ada
penolakan. Sungguh, memang tak bisa. Hyo Kyung bagaikan anak penurut yang
menyenangkan hati. Pelan-pelan, ia sampai juga di samping Tae Soo. Sesuai pula dengan
pinta sang kekasih, ia duduk di sampingnya. “Perhatikan caraku menggambar
dengan baik,” pinta Tae Soo lagi. Hyo Kyung tak begitu paham maksudnya. Entah
yang harus dilihatnya itu gambaran Tae Soo atau wanita malang itu. Air matanya
yang bercucuran membuat hati Hyo Kyung miris bukan main. Apa yang bisa
dilakukannya? Meski rasa kemanusiannya ingin sekali menolong, tapi rasa
takutnya pada Tae Soo lebih besar. Ia tak berdaya.
“Tidak! Kau tidak boleh
seperti itu. Nanti gambarku tidak bagus jadinya!” sentak Tae Soo pada wanita
itu. Ia kemudian berdiri. Mengganti buku gambar dan pensilnya dengan pisau di
meja. Hyo Kyung mendelik melihatnya mendekati wanita itu. “Seharusnya ini tak
seperti ini, kan?” gumam Tae Soo pada dirinya sendiri. Ia menyeka sebagian darah
di pipi kanan wanita itu. Selintas, ia kembali memperhatikannya. Persis seperti
pelukis yang sedang membetulkan objek lukisnya. Menurutnya masih ada yang
kurang. Dan tak lama ia menemukan kekurangan itu. Bekas pipi yang baru saja ia
seka keringatnya itu yang ia benarkan. “Eungggg….!!!” Teriakan wanita
itu tersumbat kain. Dengan mudahnya Tae Soo menancapkan pisau yang ia bawa ke
pipi itu dan merobeknya sampai ke bawah dagu. Hyo Kyung yang hanya melihatnya
saja bisa merasakan ngilu luar biasa di pipinya sendiri. Apa lagi wanita itu?
“Kenapa masih kurang
bagus juga, ya?” gumam Tae Soo lagi. Dia berpindah. Dengan cara sama, ia
memilih pundak hingga hampir ke dadanya.
Sekali lagi teriakan itu menukik ke gendang telinga Hyo Kyung. Kakinya
tergerak. Antara ingin menolong dan menampik jauh-jauh pisau itu dan tetap diam
di tempatnya. Sayangnya ia terlalu pengecut. Justru kembalinya Tae Soo ke
tempat duduknya membuatnya makin lengket di tempat duduknya itu. Rintih itu tak
bisa lagi ia dengar. Alih-alih menyaksikan kepedihan itu, ia melirik ke buku
gambar yang sudah kembali ke tangan Tae Soo. Hebat benar! Tae Soo bisa menggambarnya
sama persis. Bahkan dengan warna darah yang ia dapatkan langsung dari objeknya.
Mengenaskan!
“Ah…” tiba-tiba Tae Soo
mendesah pelan. Gerakan pensilnya berhenti. Nampaknya objeknya belum begitu
sempurna di matanya. Dari wanita itu, ia beralih ke Hyo Kyung. “Hyo Kyung~a!”
panggilnya. Hyo Kyung terlunjak saking terkejutnya. Terlebih karena Tae Soo
tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. “Sebentar saja, eoh?” pintanya. Hyo Kyung tak
bisa menghindar ketika tangan Tae Soo meraih tengkuknya. Mendekatkan kepalanya
dengan Tae Soo. Dalam waktu 5 detik, Tae Soo melumat bibir Hyo Kyung dengan
kasarnya. Bahkan tangan Hyo Kyung sampai kebingungan mencari apa saja yang bisa ia remas. Ia harus menyalurkan perasaan
tegang dan mencekam karena perlakuan Tae Soo itu padanya. Sampai Tae Soo
mengakhirinya, ia tetap tak dapat menemukan apapun.
“Ah…” desah Tae Soo
puas. Entah apa yang dimaksudkannya, Hyo Kyung benar-benar tak mengerti. Bahkan senyumnya itu… arkh! Andai saja Hyo
Kyung punya energi lebih, ingin benar ia menancapkan pisau dapur itu ke wajah
mengerikannya itu. “Aku mengerti apa yang salah. Bibirnya tak senikmat bibirmu,
Hyo Kyung~a.” Jadi itukah alasannya? “Sepertinya aku tahu alasannya…”
tambahnya. Ia kembali berdiri. Mendekati wanita itu lagi. “… itu karena
bibirnya sudah dinikmati banyak lelaki, kan? Ah, Hyo Kyung~a! Dia ini adalah
penyanyi klub malam. Kudengar dia juga melayani banyak tamu yang datang ke sana.
Bibirnya sudah tidak perawan… ah!” Tae Soo tersentak. Ia berikan tatapan
bersalahnya pada Hyo Kyung. “Mianhae, Hyo Kyung~a. Aku lupa. Kau juga pernah
melakukannya dengan yang lain kan, ya? Tiga bajingan itu.” Tatapan bersalahnya
lenyap, berganti dengan tawa. Sungguh! Siapapun yang mendengar tawanya itu akan
mengira bahwa itu adalah tawa seorang iblis!
“Tapi, kau jangan
khawatir! Aku sudah menghilangkan jejak-jejak bajingan-bajingan itu dari bibir
dan tubuhmu. Karena kau sangat manis saat kita melakukannya, jadi aku sampai
lupa kalau tubuhmu sudah digerayangi laki-laki lain,” tambahnya. Munafik jika
hati Hyo Kyung tak hancur mendengarnya. Tapi ia pun hanya melampiaskannya di
dalam hati, dengan kedua tangan yang mengepal penuh amarah. Dan rasa marahnya hilang
ketika mendengar rintih dan teriakan tertahan dari wanita itu. Tae Soo kembali
memainkan pisaunya di bibir merahnya.
“Kurasa sekarang
sempurna.” Tae Soo mengakhiri tarian pisau itu. Ia selesai, membuat wajah
cantik yang ia inginkan. Dia akan segera menyelesaikan gambar yang
diinginkannya. Hyo Kyung tak tahu apakah wanita itu masih hidup atau tidak.
Karena yang Hyo Kyung tahu, Tae Soo meninggalkan pisau itu tepat di dadanya.
Matanya pun sudah tertutup. Rintihnya tak terdengar lagi.
“Kau tak perlu cemburu.
Aku tidak berbuat apapun dengan wanita itu. Aku tak suka tubuhnya,” kata Tae
Soo begitu selesai dengan gambarnya. Ia tersenyum puas dengan hasil karyanya.
Disodorkannya gambaran itu ke depan mata Hyo Kyung. Hanya itu, dan ia mengambil
ponselnya.
“Woo Hyun~a! Aku sudah
selesai. Kau bisa bereskan sekarang,” ujarnya seperti biasa tiap kali selesai
menggambar. Ponsel itu tak lantas ia kembalikan ke saku bajunya. Diletakkan
begitu saja di atas meja. Buku gambar dan pensilnya ia bawa di tangan kirinya.
Sedang tangan kanannya meraih tangan Hyo Kyung yang gemetaran dengan lembut.
Wajah malaikatnya terbentuk. Seharusnya itu menenangkan. Tapi ini masih terasa
mengerikan. Tanpa kata-kata, ia meminta Hyo Kyung berdiri.
Membawanya ke
kamarnya yang sama-sama serba putih, persis seperti kamar di dalam ruang
kerjanya itu. Hyo Kyung mengira ia harus menemani Tae Soo lagi di atas
ranjang seperti biasa. Tapi ternyata Tae Soo malah mendekati rak buku besar
yang ada di sana. Ia menggerakkan sebuah buku dan terbukalah sebuah ruangan.
Cara kerjanya sama dengan kamar di lantai 4 itu. Bedanya adalah, ruangan itu
bukanlah sebuah kamar. Melainkan ruangan berisi puluhan, atau mungkin cat,
kuas, kanvas, dan berbagai peralatan melukis lainnya. Tae Soo kembali meraih
tangannya dan menuntunnya untuk masuk. Bau cat langsung menyeruak ke rongga
hidung Hyo Kyung. Jadi di sinikah ruangan Tae Soo melukis selama ini?
Ruangan ini cukup luas.
Banyak lukisan yang sudah selesai dan hanya digeletakkan begitu saja, menyandar
di dinding. Ada juga yang sengaja digantung di dinding. Semuanya lukisan
normal. Bukan potret mengerikan seperti yang ia buat di buku gambar
kesayangannya itu. Ah, dan ia meletakkan buku gambar itu di meja kecil di dekat
kain besar yang menutupi sesuatu. Mungkin itu juga adalah lukisan. Hyo Kyung
tak tahu itu.
“Ada yang ingin
kutunjukkan padamu,” ujar Tae Soo. Kain besar itu ia sibakkan. Benar, ada
sesuatu di baliknya. Yaitu bingkai berukuran 1,7 x 1 meter yang membingkai
sebuah lukisan yang hampir membuat kedua bola mata Hyo Kyung melompat keluar.
Entah itu hanya imanjinasi Tae Soo saja, atau bukan. Tapi rasanya lukisan itu
benar-benar nyata. Dengan latar belakang sebuah ruangan dengan perabot kursi,
meja, lemari, dan benda-benda lain, ada 9 orang yang bergelimpangan dengan
bentuk kematian yang bermacam-macam. Warna merah dimana-mana. Gurat mengenaskan
dimana-mana. Itu hanya lukisan. Tapi Hyo Kyung merasa ia benar-benar berdiri di
tengah mayat-mayat itu.
“Awalnya aku
menggambarnya di kertas seukuran buku gambarku itu. Lalu beberapa tahun yang
lalu aku melukisnya di sini. Kalau kau mau melihat yang asli, ah… aku
menaruhnya di suatu tempat. Biar kucari dulu,” jelas Tae Soo, kemudian ia mulai
sibuk mencari benda yang ia maksud ke semua tempat. “Warna merahnya hanya warna
cat. Jadi tidak akan terasa begitu hidup. Tunggu, kucari yang asli. Yang asli
akan lebih terasa hidup di matamu,” tambahnya lagi. Masih membolak-balikkan
benda-benda yang dirasa menghalangi pencariannya.
“Kau pasti
bertanya-tanya kan, siapa orang-orang itu? Ahaha… sayangnya aku juga tidak
tahu,” lanjut Tae Soo. Akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Selembar kertas
yang di dalam buku sketsa di belakang lukisan itu. “Tapi aku mengenal 1 orang.”
Diserahkannya kertas itu pada Hyo Kyung. Sama persis. Hanya saja, lukisan di kertas
itu kelihatan lebih lama, dan seperti kata Tae Soo, dengan warna darah yang
asli, jelas lukisan itu nampak lebih hidup. “Orang ini. Hanya orang ini yang
aku tahu.” Ia menunjuk satu mayat pria yang lebih gempal. Di antara yang lain,
dia yang lebih mengenaskan. Mata dan mulutnya sudah tak punya rupa. Berganti
dengan warna merah yang mencuat-cuat. Leher, dada, perut, kaki, tangan, dan
semua bagian-bagian tubuhnya yang lain tak ada yang tak luput dari warna merah
itu.
“Orang inilah yang
paling menyenangkan. Ah, duduklah.” Dibawanya Hyo Kyung duduk di kursi kayu
yang biasa ia gunakan untuk duduk saat melukis. Sedang ia sendiri mengambil
kertas itu dari tangan Hyo Kyung dan menaruhnya di depan lukisan yang lebih
besar. Dia bercerita sambil menggunakan dua gambar sama yang berukuran berbeda
itu.
“Jadi, 22 tahun yang
lalu, aku tidak tinggal di sini. Eh… aku tinggal di Gyeonggi. Ya, aku tinggal
di Gyeonggi. Kau tahu? Aku tak pernah tinggal di gedung sebesar ini. Aku tidak
pernah punya tempat tidur, tv, kulkas, atau perabot-perabotan yang lain. Yang
aku punya hanya dua warna, yaitu gelap dan terang. Dan aku tidak pernah duduk
di sofa yang empuk, atau kursi rotan yang nyaman. Aku hanya duduk di atas
lantai dingin dan memeluk kedua lututku sendiri.
“Ah, waktu itu, aku tak
pernah ingat sejak kapan aku tinggal di tempat itu. Aku masih ingat bau tempat
itu. Hanya ruangan kecil yang punya lubang berukuran sedang yang membantuku
membedakan dua warna itu. Gelap dan terang. Gelap berarti malam, dan terang
berarti siang? Hh! Aku tak pernah kenal dua waktu itu dulu. Aku hanya tahu,
bahwa aku lebih menyukai gelap daripada saat terang.
“Kau tahu kenapa?
Karena saat terang tiba, orang ini…” Tae Soo menunjuk pria gempal tadi. “… juga
akan datang. Kau tahu yang dia bawa apa? Dia… membawa warna lain untukku, yang
bisa kau sebut sebagai warna merah. Dan warna baru itu keluar dari tubuhku. Dia
gunakan benda tumpul seperti pentungan dan pisau dapur untuk mengenalkanku
warna itu. Terus, terus berulang-ulang. Sampai aku tak pernah ingat, apa
sebenarnya rasa saat warna itu keluar sedikit demi sediki dari tubuhku.” Tae
Soo diam sejenak. Membiarkan Hyo Kyung membayangkan, sebenarnya apa yang
terjadi pada Tae Soo 22 tahun yang lalu itu. Pentungan, pisau dapur? Warna
merah dari tubuhnya? Bayangan-bayangan mengenaskan bermunculan di otaknya.
“Kemudian, suatu kali
dia membawakanku buku gambar dan pensil. Dia menyuruhku untuk menggambar. Aku
tak tahu apa yang harus kulakukan dengan benda itu. Tapi aku berusaha
melakukannya, karena aku merasa untuk mengeluarkan warna merah dari tubuhku itu
rasanya sungguh tak menyenangkan. Tapi tiap kali aku selesai, dia tak menyukai
gambaranku. Dia akan mengeluarkan lagi warna merah itu dari tubuhku dengan
pentungannya. Dan dia memberiku teknik baru, yaitu dengan membuat goresan di
punggungku. Kau pernah melihatnya, kan?” tanya Tae Soo lagi. Hyo Kyung mulai
mengerti, bagaimana Tae Soo mendapatkan luka-luka itu di punggungnya. Tapi Tae
Soo bisa menceritakan semua itu dengan wajah yang sangat tenang. Atau malah
dengan wajah yang seolah bahagia. Daripada menceritakan kisah yang mengerikan,
yang dirasakannya adalah seperti menceritakan kisah liburannya di pulau Jeju.
Menyenangkan!
“Setiap hari dia
melakukannya. Aku harus menggambar. Dia menyuruhku menggambar seseorang yang
aku tak tahu apa itu. Dan karena aku tak tahu, maka aku akan mendapat satu
goresan lagi. Aku bahkan tak tahu caranya berteriak. Karena aku tak pernah
diajari untuk mengekspresikan rasa tiap kali pisau itu membuat goresan di
punggungku. Mataku selalu panas, tapi tak ada yang mengajariku untuk berkedip
hingga mengeluarkan air dari sana. Tak ada yang mengajariku, dan aku pun hanya
diam. Sampai jumlah goresan di punggungku ini berjumlah 99, aku berhasil
menggambar seseorang yang dia inginkan itu. Dia tertawa, dia senang. Pisaunya
tidak mengencani punggungku lagi. Pentungannya tidak menyapa kepala dan dadaku
lagi. Dia senang, dan pergi meninggalkanku dengan buku gambar itu.” Sepertinya
cerita Tae Soo selesai. Ia melangkah, mendekati Hyo Kyung dan membelai rambut
poninya.
“Kau tahu apa yang
kugambar di buku itu, Hyo Kyung~a?” tanyanya datar. Hyo Kyung menggeleng. Ia
tentu tak akan tahu. “Aku menggambar sesuatu yang hanya dan selalu kugambar
sampai sekarang. Aku menggambar…” Tae Soo sengaja menggantung kata-katanya. Srek!
Tiba-tiba tangannya menyobek bagian depan baju Hyo Kyung dengan mudahnya. Ia
berhasil mengintimadasi Hyo Kyung sampai gadis itu hanya bisa mematung.
Menyaksikan bagaimana senyum separuhnya berubah menjadi seringaian yang
mengerikannya tak ada satu kata pun dalam kamus yang bisa mewakilinya.
Tangannya berpindah ke tengkuk Hyo Kyung. Mendorong paksa kepala Hyo Kyung dan
menempatkan mata Hyo Kyung memperhatikan lebih jelas lekak-lekuk wajah tampan
sekaligus dinginnya. Bibirnya kembali terbuka. Siap melanjutkan kalimatnya yang
terpenggal. “… kecantikan!”
“Hmmp!” bibir Hyo Kyung terkunci. Tae Soo tak membiarkannya berteriak, meskipun sebenarnya Hyo Kyung sendiri tak bisa melakukannya. Tae Soo melepas tangannya di tengkuk Hyo Kyung. Karenanya, tubuh Hyo Kyung limbung dan terjerembam ke lantai. Sedetik pun Hyo Kyung tak sempat merasakan nyeri di kepalanya karena terantuk lantai. Karena bibir Tae Soo kembali mengunci bibirnya rapat-rapat. Terlepas dari bibir itu, Hyo Kyung merasa perlahan tubuh Tae Soo mulai menindih tubuhnya.
Sebelumnya Selanjutnya
[1] Biasanya bila pada nama
seseorang yang diakhiri dengan imbuhan ~ie, menandakan hubungan yang sangat
akrab untuk orang yang memanggilnya itu.