Satu minggu aku tidak ke kampus.
Satu minggu pula kunonaktifkan hpku. Aku tak ingin diganggu siapapun, termasuk
mama dan papa sekalipun. Kukunci diriku sendiri di kamar. Makan pun sekenanya.
Sekarang kurasa aku tak perlu diet. Karena berat badanku pasti turun banyak sekali.
Sungguh! Aku benar-benar marah
dengan Tora. Dia benar-benar keterlaluan. Semua kata-katanya mampu mengiris
hatiku menjadi potongan kecil. Terlebih, rahasia soal perasaanku pada Kak Dedi
yang selama ini kusimpan rapat-rapat dari Farra, karena mulut sialannya itu,
semuanya terbongkar. Hal inilah yang tak bisa membuatku melangkah ke kampus.
Bertemu Farra? Apa yang harus kukatakan?
“Sayang?” mama masuk ke kamar.
Kuabaikan. Aku tetap telungkup, menenggelamkan wajahku ke bantal. Kurasakan
mama duduk di dekatku. Tak lama, tangannya mengusap rambutku. Hah… aku merasa
bersalah pada mama. Padahal mama kan tidak salah apa-apa. Apalagi papa. Papalah
yang paling khawatir, terlebih saat pertama kali aku datang dengan linangan air
mata waktu itu. Kalau saja mama tak berhasil menenangkan papa, mungkin papa sudah mengacak-acak kampus dan mencari orang yang
berhasil membuat putri kesayangannya menangis. Bahkan sampai absen satu minggu full!
“Mia pengen sendirian, Ma…”
rajukku. Berharap mama meninggalkanku.
“Kamu dari kemaren pengen
sendirian mulu. Mama bolos kerja gara-gara kamu, loh. Masa kamu nyuekin mama
terus, sih?” balas mamaku. Aku hanya tak ingin menunjukkan kesedihanku pada
mama. Tapi tentu saja tak akan berhasil. Mama jelas lebih mengenalku daripada
siapapun.
Perlahan, kubalikkan badanku.
Kulihat wajah cemburut mama melihat tampangku.
“Kumelnya, anak mama!” ejek mama
sambil mencubiti kedua pipiku.
“Ma…”
“Haha… iya, iya. Udah, ayo
bangun! Cuci muka. Sisir rambutnya, ganti baju.”
“Mia enggak pengen ke mana-mana, Ma.”
“Mama enggak mau ngajakin kamu ke mana-mana, kok. Itu, ada temen kamu di
ruang tamu.”
“Temen? Siapa, Ma?”
“Nanti juga kamu tahu sendiri.
Udah, cepet sana ke kamar mandi!” tanpa memberitahuku, mama langsung keluar
dari kamar. Teman? Siapa? Tidak mungkin Tora, kan? Atau salah satu dari Sati,
Farra, dan Wawan? Atau malah
Brian? Tapi kalau Brian rasanya tak mungkin. Kalau Tora bagaimana? Kalau benar
itu Tora, aku tak akan keluar! Biar saja dia mau menungguiku seharian. Nanti
aku harus mengintip dulu, baru benar-benar keluar untuk memastikan siapa teman
yang dimaksud mama tadi.
Setelah mengganti piyamaku dengan
kaos oblong dan celana pendek selutut, mengucir rambut alakadarnya, aku keluar.
Niatku mengintip tak berhasil, karena dia duduk di kursi yang membelakangi
pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah ini. Tapi, kalau dilihat dari
punggungnya, sepertinya ini bukan Tora. Lalu, siapa, ya?
“Sia…” hah?! Andre?! Benar! Ini
Andre? Tampilannya persis seperti saat ia datang ke rumah untuk menemui papa
waktu itu. Hanya saja, kaosnya sekarang berwarna coklat. Ia memandangiku datar.
“Ngapain elo ke sini?” tanyaku
dengan nada yang masih cukup terkejut atas kedatangannya. “Ini bukan tempat
umum yang bisa elo datengin sembarangan!” lanjutku lagi. Dia belum menjawab,
malah merubah tatapannya tadi dengan tatapan yang tak mudah kuartikan. Apa ada
yang salah dari penampilanku? Aku tak sekacau waktu pertama kali dia tandang
kemari, kok. Apa celanaku kependekan? Ah, biasa saja!
“Apa, sih?”
“Gue nyesel dateng ke sini.”
“Hah?”
“Elo enggak berangkat seminggu,
dan ternyata elo baik-baik aja?” ia mendesah pelan. Jadi, benar dia datang
kemari untuk menjengukku? “Elo enggak capek berdiri aja?” tanyanya kemudian.
Reflek, aku langsung duduk di kursi di sampingnya. Tatapannya padaku masih
berlanjut. Aku jadi bingung harus menanggapinya bagaimana.
“Elo ngapain aja selama ini?
Jalan-jalan? Healing? Meditasi? Snorkling? Atau apa?”
“Apaan sih, elo?”
“Gue kira elo sakit.” Nada
bicaranya menurun. Apa aku terlalu ke-PD-an, kalau aku mengira dia khawatir
padaku? “Soalnya… waktu itu gue sempet ngikutin elo. Dan… gue denger semuanya.”
Ah… jadi karena itu? Andre
mendengar pertengkaranku dengan Tora? Aku tak marah. Tapi dia pasang wajah
bersalah. “Udah, deh. Enggak usah dibahas. Gue lagi pengen nglupain soal
kejadian itu,” balasku. Usahaku membuatnya merasa baikan, sepertinya tak
berhasil. Tatapan prihatinnya malah tambah ditunjukkan padaku. Heran. Ini kali
pertama aku melihat Andre seperti ini.
“Ikut gue, yuk!” tiba-tiba dia
berdiri.
“Hah? Ke mana?”
“Jalan-jalan.”
“Jalan-jalan?”
“Gantian. Kan waktu itu elo yang
tiba-tiba maksa gue nemenin elo ke toko buku.”
“Ya… tapi kan…”
“Udah! Ayo!” tiba-tiba dia
menggamit tanganku. Tentu saja aku terkejut. Karena dengan spontannya dia
menarikku sampai ke ambang pintu. Sampai akhirnya ia berbalik. Mungkin merasa
kelupaan sesuatu.
“Tante, Mianya Andre bawa, ya?”
teriaknya. Kulihat mama berlari dari dalam keluar. Senyum mama begitu lebar dan
mengangguk semangat menjawab izin Andre tadi.
“Iya. Hati-hati, ya! Pulangnya
jangan malam-malam!” balas mama. Astaga! Sejak kapan mama dan Andre sedekat
ini? Seolah Andre sering main ke sini saja. Dan, tanpa meminta pendapatku lebih
dulu, Andre kembali menarikku sampai keluar.
Ia baru melepaskan tanganku
sampai di depan teras. Mobil sport putih sudah ada di depan mataku.
“I, ini. Mobil bokap gue. Motor
gue lagi diservis jadi…” jelasnya tak rampung. Yang aku heran, kenapa pula ia
harus menjelaskannya? Lagipula, tak mungkin kan Om Azril memakai mobil sport
gaya anak muda macam ini? Sekali lihat, juga aku langsung tahu kalau ini pasti
milik Andre. Padahal, papa pernah bilang kalau Om Azril jabatannya di kantor
sama saja dengan papa. Lantas, kenapa beliau sepertinya kaya sekali? Atau
jangan-jangan, Om Azril punya perusahaan lain dan merangkap menjadi karyawan
biasa di kantor papa? Mereka kan sering pindah-pindah rumah. Oke! Rasanya
sekarang bukan waktu yang tepat untuk menghitung kekayaan seseorang. Tidak
setelah pintu depan tiba-tiba dibuka oleh Andre. Untukku?
“Masuk!” titahnya bak raja. Aku
masih dengan mata melototku. Tak percaya dengan maunya barusan. Dengan paksa,
ia mendorongku masuk dan menutup pintu
mobil cukup keras. Tentu saja aku sempat terkejut. Aku bahkan masih memandanginya
bingung saat ia sudah melajukan mobil ini keluar dari pekarangan rumahku.
Barulah setelah sampai jalan raya, kuberanikan bertanya padanya.
“I, ini mau ke mana, sih?”
“Ke mana aja, yang penting sama elo.” Sebuah jawaban yang hampir
mengeluarkan mataku dari tempatnya. Aku speechless. A, apa maksudnya
tadi? Dan… kenapa tiba-tiba jantungku berdebar tak karuan. Oh, kurasakan
wajahku memerah. Ya ampun! Aku ini kenapa? Lebih baik kualihkan pandanganku ke
jendela di sebelah kiri. Berpura-pura mencari pemandangan di luar demi
menghilangkan perasaan tak karuan ini. Dia ini kenapa, sih?
Setengah perjalanan, hanya
digunakannya untuk berputar-putar. Mulutku tak bisa hanya diam dengan
ketidakpastiannya ini. “Mau ke mana,
sih?!”
“Em…” dia malah garuk-garuk
kepala. Kuyakin pasti dia sendiri tak tahu mau ke mana. Salah siapa asal bawa orang tanpa tujuan yang jelas! “Ke… ke Time
Zone aja, yok!” ia memutar stirnya ke kiri. Menuju ke arah Karang. Time
Zone yang permainannya banyak memang ada di atas mall Chandra.
Sebenarnya ada satu lagi di mall Robinson yang tak jauh dari Terminal
Rajabasa. Tapi, permainannya tak sebanyak Time Zone yang akan kami tuju
ini.
“Elo pernah bilang, elo suka ke time
zone, kan?”
“Hm? Kapan gue bilang gitu?”
“Itu… di buku diary elo ada
tulisannya,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Sebegitukahnya ia mengingat isi diary-ku?
Kurasa, ia mengajakku untuk menemaninya tadi hanya sebagai alasan agar aku mau
keluar. Apa salah, jika kurasa dia mengkhawatirkanku? Apa mama ya yang
menyuruhnya mengajakku keluar? Tapi, kalau mama tak begitu mengenal Andre, kan?
Apa papa? Ya! Pasti papa. Kan papa yang paling ngotot menjodohkanku
dengan Andre. Jangan-jangan,
selama ini Andre tahu kalau papaku mau menjodohkanku dengannya? Apa mungkin
malah dia, Om Azril, papa, dan bahkan mama sudah bersekongkol di belakangku
selama ini? Andre pura-pura jutek dan cuek denganku selama ini hanya untuk
mendekatiku? Jangan-jangan benar! Kalau benar, berarti selama ini aku…
“Turun!” sentaknya
mengangetkanku. Aku tersentak, ternyata kami sudah sampai. Bahkan aku tak
sadar, kapan mobilnya terparkir rapi. Tanpa menungguku, dia sudah keluar
duluan.
Terpaksa aku ikut keluar. Tak
ingin kehilangan jejaknya, aku membuntutinya tepat di belakangnya. Dekat
sekali. Sampai-sampai, saat ia berhenti, aku sempat menabraknya. Yang
diberikannya padaku hanya helaan nafas. Kemudian dia jalan lagi.
Time Zone ada di lantai
paling atas. Di dalam lift, untungnya ada orang lain. Jadi, kalaupun aku diam
saja tidak akan canggung-canggung amat. Sampai di atas, dia masih saja jalan
duluan. Sekarang aku persis seperti anak yang sedang diajak jalan-jalan
ayahnya. Aku hanya diam, duduk di kursi dekat permainan basket. Menunggunya
menukar uang dengan karcis permaianan. Sekitar sepuluh menit ia selesai
mengantri. Kemudian tanpa basa-basi lagi, menarikku agar bangun.
“Apa?” tanyaku linglung. Dia hanya
menatapku saja tanpa bicara apa-apa.
“Mau apa?” tanyanya. Tangannya
menyodorkan beberapa karcis padaku. Aku celingukan. Bingung mau main apa. Ini
hari minggu. Selain anak-anak, beberapa pasangan pacaran juga banyak yang di
sini. Mau main apa? Semuanya penuh.
“Lama!” sentaknya. Lagi-lagi
tanganku ditariknya.
Ia menarikku sampai ke permainan
bola pingpong. Aku benar-benar canggung awalnya. Tapi, karena tiba-tiba dia
memukul bola pingpong itu begitu keras ke kepalaku, aku langsung bersemangat.
Apapun yang terjadi, aku harus membalas perbuatannya barusan. Tapi sayangnya,
sampai waktu permaianannya habis, aku gagal memukul kepalanya. Dia hanya
tertawa mengejek.
Selanjutnya aku lebih
menikmatinya. Kubuang jauh-jauh semua pikiran soal menjodohkan, atau apapun itu.
Pokoknya, aku sudah diajak kemari, dan aku akan bersenang-senang sebisaku.
Semua permainan kujajal. Mulai dari balap motor, tembak-tembakan, sampai yang
membuat Andre benar-benar malas adalah dance stepping. Padahal tadi dia
yang bersemangat mengajakku kemari. Tapi dia sekarang malah kelihatan malu. Aku
gerak-gerak sendiri, sedangkan dia diam-diam pergi dari sana. Menjauh sambil
menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. Sial! Apa aku terlalu memalukan?
Ia bermain sendiri ke permainan
basket. Karena sebal, kuambil sebuah bola dan kulempar ke kepalanya. Dia marah,
dan gantian memukul bola itu ke wajahku. Jadilah, kami malah perang-perangan.
Sampai ada anak kecil yang memandangi kami sambil melongo. Barulah kami kikuk
sendiri dan memilih menyudahi aksi kami.
Yang kutuju selanjutnya adalah
mesin boneka. Ada boneka pisang yang benar-benar aku inginkan. Dua, tiga kali
aku tak pernah berhasil. Akhirnya, Andre yang mencobanya. Satu kali, gagal. Dua
kali gagal. Tiga kali, gagal. Sampai berkali-kali, sampai aku lelah sendiri
melihatnya, dia terus saja gagal. Padahal aku sudah bilang sudah hentikan saja,
dia tetap saja bersikeras. Sampai kurasa ia menguras banyak isi dompetnya hanya
untuk menaklukkan mesin sialan itu. Hingga mungkin sampai tiga puluh kali, baru
dia berhenti.
“Pasti mesin itu rusak, deh!”
gerutunya sambil duduk di sampingku. Keringatnya banyak sekali. Rambutnya sudah
sepenuhnya acak-acakan. Aku mendecak tak percaya.
“Yang pengen bonekanya kan gue.
Kenapa jadi elo sih yang kepayahan kayak gini?” umpatku. Dia hanya berdehem
setelah melirikku sebentar. Barulah ia kemudian bangun.
“Mau ke mana?” tanyaku melihat dia mulai beranjak pergi.
“Nuker tiket,” jawabnya.
Sepuluh menit pergi, ia kembali
dengan boneka pisang di tangannya. Tanpa melihat ke arahku, ia menyerahkan
boneka itu padaku.
“Ini? Dari nuker tiket?” tanyaku
tak percaya.
“Iyalah. Elo kira dari mesin
sialan itu?”
“Mana mungkin. Tiket kita tadi
kan enggak banyak-banyak amat. Segitu mah palingan juga dapetnya cuma Sprite
kalengan. Kalo enggak malah cuma permen lima bungkus.”
“Enggak mau ya udah. Gue buang
aja, nih!” hampir saja ia melempar boneka itu sembarangan.
“Eh! Elo ini main buang aja!”
langsung saja kusambar boneka itu. Kan sayang boneka sebagus ini dibuang seenak
jidat. Masih mending kalau dikasikan ke anak kecil. Ini mah mau dilempar ke
tong sampah.
“Udah, ah! Yok!” ia berjalan
duluan lagi.
“Mau ke mana?”
“Makan!” jawabnya. Aku hanya bisa
manyun-manyun. Dia itu, kalau tidak teriak-teriak seperti itu apa tidak bisa,
ya?
Andre membawaku ke kafe di dalam mall.
Aku hanya pesan ice cream saja. Sedangkan Andre benar-benar memesan
makan. Nasi dan ayam goreng. Dia makan lahap sekali, sampai membuatku tak
berhenti menatapnya heran. Dia ini lapar apa doyan?
“Apa, sih?!” sentaknya. Mungkin
risih karena tatapanku. Anehnya, aku tidak merasa jengkel. Apa aku mulai
terbiasa dengan setiap bentak-bentakannya itu? Sebaliknya, aku malah tersenyum.
“Makasih, ya,” bibirku berucap
tanpa sadar. Selanjutnya, aku baru memahami perasaanku sendiri. Karena Andre
mengajakku kemari, bukankah aku merasa lega? Setidaknya, meskipun sedihku tak
sepenuhnya hilang, aku tak semurung sebelumnya.
“Eh! Jangan ke-PD-an, ya!
Jalan-jalan ini bukan dalam rangka ngibur elo, ya!”
“Iya-iya! Tapi tetep aja.
Walaupun elo bilang kayak gitu, gue tetep ngerasa terhibur, kok. Hati gue agak
lega gitu. Makannya gue bilang makasih.” Jawabanku kali ini membuatnya terdiam.
Paha ayam yang tadi hampir masuk ke dalam mulutnya, ia letakkan kembali.
“Ada yang bilang, kalo elo senyum
bisa meringankan satu beban elo. Karena gue enggak bisa nanggung beban elo
sekarang, paling enggak gue bisa bantu meringankan satu beban elo itu.”
Deg! Apa barusan itu
benar-benar diucapkan oleh Andre? Tentu saja aku terkejut. Dan, sekarang apa
ini? Kenapa jantungku malah tak bisa normal? Terlebih saat tiba-tiba Andre
melanjutkan kalimatnya tadi dengan tatapan tepat ke mataku. Oh, no! Ke,
kenapa wajahku memanas?
“Buruan dong makannya! Mau balik,
enggak?!” sentaknya. Aku hampir melunjak karena ia menggebrak meja seenak
udelnya! Sampai-sampai beberapa orang di samping kami melihat ke arah sini
dengan heran. Padahal dia sendiri makanannya belum habis, tapi dia sudah bangun
duluan. Pergi begitu saja tanpa merasa bersalah sudah membuatku hampir kena
serangan jantung dadakan.
***
Jam lima tepat Andre sudah
mengantarku sampai depan rumah. Setelah dari mall tadi, dia sempat
mengajakku ke toko buku. Hanya sekedar melihat-lihat. Dia bilang sih tidak
menemukan buku yang dia cari. Sedangkan aku? Sebenarnya banyak sekali yang
ingin kubeli. Tapi kan aku tidak bawa dompet. Jadi terpaksa, aku hanya bisa
menelan ludahku melihat tumpukan buku yang melambai-lambai, minta dibaca.
Ia hanya mengantarku sampai depan
gerbang. Tidak sampai masuk ke dalam. Karena kurasa dia sendiri pun tidak akan
ikut turun, jadi aku langsung keluar setelah sekali lagi berucap terima kasih.
Kukira, setelah aku keluar, dia
akan langsung pergi begitu saja. Dia malah menurunkan kaca jendela tempatku
duduk tadi. Aku merunduk. Barangkali dia ingin bilang sesuatu.
“Kenapa?” tanyaku. Dia bukannya
menjawab malah menatapi boneka pisang yang kubawa. Kenapa? Apa dia ingin boneka
ini dikembalikan padanya? Tadi kan dia sudah memberikannya padaku.
“Besok… elo berangkat, kan?”
tanyanya setelah diam. Barulah ia menatapku karena aku tak segera memberinya
jawaban. Aku sendiri bingung. Dan kuulangi pertanyaan itu pada diriku sendiri.
Apa besok aku sudah siap untuk pergi ke kampus? Bertemu Tora? Bertemu Farra?
Aku harus bersikap bagaimana?
“Berangkat!” titahnya kemudian.
Padahal aku belum bilang apa-apa padanya. “Pokoknya elo harus berangkat! Kalo
enggak… gue bakal ke sini dan seret elo buat ke kampus!” lanjutnya. Tanpa
menunggu reaksiku, dia langsung menutup kaca itu kembali. Tancap gas dan
berlalu pergi.
Selepas kepergiannya, aku
melongo. Berpikir lebih banyak, kenapa Andre bersikap aneh seharian ini?
Bahkan sampai masuk kamar pun,
aku masih bertanya-tanya. Sampai Andre pun mengirimiku pesan, “Boneka pisangnya
jangan dikasih nama gue, ya? Gue enggak suka pisang!” akhirnya pertanyaan tadi
malah kembali padaku.
Sambil menatapi boneka pisang
darinya tadi di atas kasur, pertanyaan besar muncul.
Apa aku mulai suka pada Andre? Atau… ini hanya pelarianku dari Tora saja?
Sebelumnya Selanjutnya