Tuesday, January 14, 2020

Boneka Pisang


Satu minggu aku tidak ke kampus. Satu minggu pula kunonaktifkan hpku. Aku tak ingin diganggu siapapun, termasuk mama dan papa sekalipun. Kukunci diriku sendiri di kamar. Makan pun sekenanya. Sekarang kurasa aku tak perlu diet. Karena berat badanku pasti turun banyak sekali.
Aku keluar hanya untuk mandi dan makan. Makan pun hanya dua sendok paling banyak. Setelah itu kembali ke kamarku. Mama yang paling khawatir. Tapi aku menolak semua tawaran untuk pergi jalan-jalan dan semacamnya. Atau pergi ke dokter. Tidak! Kurasa dokter pun tak akan bisa menyembuhkan sakit di balik dadaku sekarang.

Sungguh! Aku benar-benar marah dengan Tora. Dia benar-benar keterlaluan. Semua kata-katanya mampu mengiris hatiku menjadi potongan kecil. Terlebih, rahasia soal perasaanku pada Kak Dedi yang selama ini kusimpan rapat-rapat dari Farra, karena mulut sialannya itu, semuanya terbongkar. Hal inilah yang tak bisa membuatku melangkah ke kampus. Bertemu Farra? Apa yang harus kukatakan?

“Sayang?” mama masuk ke kamar. Kuabaikan. Aku tetap telungkup, menenggelamkan wajahku ke bantal. Kurasakan mama duduk di dekatku. Tak lama, tangannya mengusap rambutku. Hah… aku merasa bersalah pada mama. Padahal mama kan tidak salah apa-apa. Apalagi papa. Papalah yang paling khawatir, terlebih saat pertama kali aku datang dengan linangan air mata waktu itu. Kalau saja mama tak berhasil menenangkan papa, mungkin papa sudah mengacak-acak kampus dan mencari orang yang berhasil membuat putri kesayangannya menangis. Bahkan sampai absen satu minggu full!

“Mia pengen sendirian, Ma…” rajukku. Berharap mama meninggalkanku.

“Kamu dari kemaren pengen sendirian mulu. Mama bolos kerja gara-gara kamu, loh. Masa kamu nyuekin mama terus, sih?” balas mamaku. Aku hanya tak ingin menunjukkan kesedihanku pada mama. Tapi tentu saja tak akan berhasil. Mama jelas lebih mengenalku daripada siapapun.
Perlahan, kubalikkan badanku. Kulihat wajah cemburut mama melihat tampangku.

“Kumelnya, anak mama!” ejek mama sambil mencubiti kedua pipiku.

“Ma…”

“Haha… iya, iya. Udah, ayo bangun! Cuci muka. Sisir rambutnya, ganti baju.”

“Mia enggak pengen ke mana-mana, Ma.”

“Mama enggak mau ngajakin kamu ke mana-mana, kok. Itu, ada temen kamu di ruang tamu.”

“Temen? Siapa, Ma?”

“Nanti juga kamu tahu sendiri. Udah, cepet sana ke kamar mandi!” tanpa memberitahuku, mama langsung keluar dari kamar. Teman? Siapa? Tidak mungkin Tora, kan? Atau salah satu dari Sati, Farra, dan Wawan? Atau malah Brian? Tapi kalau Brian rasanya tak mungkin. Kalau Tora bagaimana? Kalau benar itu Tora, aku tak akan keluar! Biar saja dia mau menungguiku seharian. Nanti aku harus mengintip dulu, baru benar-benar keluar untuk memastikan siapa teman yang dimaksud mama tadi.

Setelah mengganti piyamaku dengan kaos oblong dan celana pendek selutut, mengucir rambut alakadarnya, aku keluar. Niatku mengintip tak berhasil, karena dia duduk di kursi yang membelakangi pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah ini. Tapi, kalau dilihat dari punggungnya, sepertinya ini bukan Tora. Lalu, siapa, ya?

“Sia…” hah?! Andre?! Benar! Ini Andre? Tampilannya persis seperti saat ia datang ke rumah untuk menemui papa waktu itu. Hanya saja, kaosnya sekarang berwarna coklat. Ia memandangiku datar.

“Ngapain elo ke sini?” tanyaku dengan nada yang masih cukup terkejut atas kedatangannya. “Ini bukan tempat umum yang bisa elo datengin sembarangan!” lanjutku lagi. Dia belum menjawab, malah merubah tatapannya tadi dengan tatapan yang tak mudah kuartikan. Apa ada yang salah dari penampilanku? Aku tak sekacau waktu pertama kali dia tandang kemari, kok. Apa celanaku kependekan? Ah, biasa saja!

“Apa, sih?”

“Gue nyesel dateng ke sini.”

“Hah?”

“Elo enggak berangkat seminggu, dan ternyata elo baik-baik aja?” ia mendesah pelan. Jadi, benar dia datang kemari untuk menjengukku? “Elo enggak capek berdiri aja?” tanyanya kemudian. Reflek, aku langsung duduk di kursi di sampingnya. Tatapannya padaku masih berlanjut. Aku jadi bingung harus menanggapinya bagaimana.

“Elo ngapain aja selama ini? Jalan-jalan? Healing? Meditasi? Snorkling? Atau apa?”

“Apaan sih, elo?”

“Gue kira elo sakit.” Nada bicaranya menurun. Apa aku terlalu ke-PD-an, kalau aku mengira dia khawatir padaku? “Soalnya… waktu itu gue sempet ngikutin elo. Dan… gue denger semuanya.”

Ah… jadi karena itu? Andre mendengar pertengkaranku dengan Tora? Aku tak marah. Tapi dia pasang wajah bersalah. “Udah, deh. Enggak usah dibahas. Gue lagi pengen nglupain soal kejadian itu,” balasku. Usahaku membuatnya merasa baikan, sepertinya tak berhasil. Tatapan prihatinnya malah tambah ditunjukkan padaku. Heran. Ini kali pertama aku melihat Andre seperti ini.

“Ikut gue, yuk!” tiba-tiba dia berdiri.

“Hah? Ke mana?”

“Jalan-jalan.”

“Jalan-jalan?”

“Gantian. Kan waktu itu elo yang tiba-tiba maksa gue nemenin elo ke toko buku.”

“Ya… tapi kan…”

“Udah! Ayo!” tiba-tiba dia menggamit tanganku. Tentu saja aku terkejut. Karena dengan spontannya dia menarikku sampai ke ambang pintu. Sampai akhirnya ia berbalik. Mungkin merasa kelupaan sesuatu.

“Tante, Mianya Andre bawa, ya?” teriaknya. Kulihat mama berlari dari dalam keluar. Senyum mama begitu lebar dan mengangguk semangat menjawab izin Andre tadi.

“Iya. Hati-hati, ya! Pulangnya jangan malam-malam!” balas mama. Astaga! Sejak kapan mama dan Andre sedekat ini? Seolah Andre sering main ke sini saja. Dan, tanpa meminta pendapatku lebih dulu, Andre kembali menarikku sampai keluar.

Ia baru melepaskan tanganku sampai di depan teras. Mobil sport putih sudah ada di depan mataku.

“I, ini. Mobil bokap gue. Motor gue lagi diservis jadi…” jelasnya tak rampung. Yang aku heran, kenapa pula ia harus menjelaskannya? Lagipula, tak mungkin kan Om Azril memakai mobil sport gaya anak muda macam ini? Sekali lihat, juga aku langsung tahu kalau ini pasti milik Andre. Padahal, papa pernah bilang kalau Om Azril jabatannya di kantor sama saja dengan papa. Lantas, kenapa beliau sepertinya kaya sekali? Atau jangan-jangan, Om Azril punya perusahaan lain dan merangkap menjadi karyawan biasa di kantor papa? Mereka kan sering pindah-pindah rumah. Oke! Rasanya sekarang bukan waktu yang tepat untuk menghitung kekayaan seseorang. Tidak setelah pintu depan tiba-tiba dibuka oleh Andre. Untukku?

“Masuk!” titahnya bak raja. Aku masih dengan mata melototku. Tak percaya dengan maunya barusan. Dengan paksa, ia mendorongku  masuk dan menutup pintu mobil cukup keras. Tentu saja aku sempat terkejut. Aku bahkan masih memandanginya bingung saat ia sudah melajukan mobil ini keluar dari pekarangan rumahku. Barulah setelah sampai jalan raya, kuberanikan bertanya padanya.

“I, ini mau ke mana, sih?”

“Ke mana aja, yang penting sama elo.” Sebuah jawaban yang hampir mengeluarkan mataku dari tempatnya. Aku speechless. A, apa maksudnya tadi? Dan… kenapa tiba-tiba jantungku berdebar tak karuan. Oh, kurasakan wajahku memerah. Ya ampun! Aku ini kenapa? Lebih baik kualihkan pandanganku ke jendela di sebelah kiri. Berpura-pura mencari pemandangan di luar demi menghilangkan perasaan tak karuan ini. Dia ini kenapa, sih?

Setengah perjalanan, hanya digunakannya untuk berputar-putar. Mulutku tak bisa hanya diam dengan ketidakpastiannya ini. “Mau ke mana, sih?!”

“Em…” dia malah garuk-garuk kepala. Kuyakin pasti dia sendiri tak tahu mau ke mana. Salah siapa asal bawa orang tanpa tujuan yang jelas! “Ke… ke Time Zone aja, yok!” ia memutar stirnya ke kiri. Menuju ke arah Karang. Time Zone yang permainannya banyak memang ada di atas mall Chandra. Sebenarnya ada satu lagi di mall Robinson yang tak jauh dari Terminal Rajabasa. Tapi, permainannya tak sebanyak Time Zone yang akan kami tuju ini.

“Elo pernah bilang, elo suka ke time zone, kan?”

“Hm? Kapan gue bilang gitu?”

“Itu… di buku diary elo ada tulisannya,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Sebegitukahnya ia mengingat isi diary-ku? Kurasa, ia mengajakku untuk menemaninya tadi hanya sebagai alasan agar aku mau keluar. Apa salah, jika kurasa dia mengkhawatirkanku? Apa mama ya yang menyuruhnya mengajakku keluar? Tapi, kalau mama tak begitu mengenal Andre, kan? Apa papa? Ya! Pasti papa. Kan papa yang paling ngotot menjodohkanku dengan Andre. Jangan-jangan, selama ini Andre tahu kalau papaku mau menjodohkanku dengannya? Apa mungkin malah dia, Om Azril, papa, dan bahkan mama sudah bersekongkol di belakangku selama ini? Andre pura-pura jutek dan cuek denganku selama ini hanya untuk mendekatiku? Jangan-jangan benar! Kalau benar, berarti selama ini aku…

“Turun!” sentaknya mengangetkanku. Aku tersentak, ternyata kami sudah sampai. Bahkan aku tak sadar, kapan mobilnya terparkir rapi. Tanpa menungguku, dia sudah keluar duluan.

Terpaksa aku ikut keluar. Tak ingin kehilangan jejaknya, aku membuntutinya tepat di belakangnya. Dekat sekali. Sampai-sampai, saat ia berhenti, aku sempat menabraknya. Yang diberikannya padaku hanya helaan nafas. Kemudian dia jalan lagi.

Time Zone ada di lantai paling atas. Di dalam lift, untungnya ada orang lain. Jadi, kalaupun aku diam saja tidak akan canggung-canggung amat. Sampai di atas, dia masih saja jalan duluan. Sekarang aku persis seperti anak yang sedang diajak jalan-jalan ayahnya. Aku hanya diam, duduk di kursi dekat permainan basket. Menunggunya menukar uang dengan karcis permaianan. Sekitar sepuluh menit ia selesai mengantri. Kemudian tanpa basa-basi lagi, menarikku agar bangun.

“Apa?” tanyaku linglung. Dia hanya menatapku saja tanpa bicara apa-apa.

“Mau apa?” tanyanya. Tangannya menyodorkan beberapa karcis padaku. Aku celingukan. Bingung mau main apa. Ini hari minggu. Selain anak-anak, beberapa pasangan pacaran juga banyak yang di sini. Mau main apa? Semuanya penuh.

“Lama!” sentaknya. Lagi-lagi tanganku ditariknya.

Ia menarikku sampai ke permainan bola pingpong. Aku benar-benar canggung awalnya. Tapi, karena tiba-tiba dia memukul bola pingpong itu begitu keras ke kepalaku, aku langsung bersemangat. Apapun yang terjadi, aku harus membalas perbuatannya barusan. Tapi sayangnya, sampai waktu permaianannya habis, aku gagal memukul kepalanya. Dia hanya tertawa mengejek.

Selanjutnya aku lebih menikmatinya. Kubuang jauh-jauh semua pikiran soal menjodohkan, atau apapun itu. Pokoknya, aku sudah diajak kemari, dan aku akan bersenang-senang sebisaku. Semua permainan kujajal. Mulai dari balap motor, tembak-tembakan, sampai yang membuat Andre benar-benar malas adalah dance stepping. Padahal tadi dia yang bersemangat mengajakku kemari. Tapi dia sekarang malah kelihatan malu. Aku gerak-gerak sendiri, sedangkan dia diam-diam pergi dari sana. Menjauh sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. Sial! Apa aku terlalu memalukan?

Ia bermain sendiri ke permainan basket. Karena sebal, kuambil sebuah bola dan kulempar ke kepalanya. Dia marah, dan gantian memukul bola itu ke wajahku. Jadilah, kami malah perang-perangan. Sampai ada anak kecil yang memandangi kami sambil melongo. Barulah kami kikuk sendiri dan memilih menyudahi aksi kami.

Yang kutuju selanjutnya adalah mesin boneka. Ada boneka pisang yang benar-benar aku inginkan. Dua, tiga kali aku tak pernah berhasil. Akhirnya, Andre yang mencobanya. Satu kali, gagal. Dua kali gagal. Tiga kali, gagal. Sampai berkali-kali, sampai aku lelah sendiri melihatnya, dia terus saja gagal. Padahal aku sudah bilang sudah hentikan saja, dia tetap saja bersikeras. Sampai kurasa ia menguras banyak isi dompetnya hanya untuk menaklukkan mesin sialan itu. Hingga mungkin sampai tiga puluh kali, baru dia berhenti.

“Pasti mesin itu rusak, deh!” gerutunya sambil duduk di sampingku. Keringatnya banyak sekali. Rambutnya sudah sepenuhnya acak-acakan. Aku mendecak tak percaya.

“Yang pengen bonekanya kan gue. Kenapa jadi elo sih yang kepayahan kayak gini?” umpatku. Dia hanya berdehem setelah melirikku sebentar. Barulah ia kemudian bangun.

“Mau ke mana?” tanyaku melihat dia mulai beranjak pergi.

“Nuker tiket,” jawabnya.

Sepuluh menit pergi, ia kembali dengan boneka pisang di tangannya. Tanpa melihat ke arahku, ia menyerahkan boneka itu padaku.

“Ini? Dari nuker tiket?” tanyaku tak percaya.

“Iyalah. Elo kira dari mesin sialan itu?”

“Mana mungkin. Tiket kita tadi kan enggak banyak-banyak amat. Segitu mah palingan juga dapetnya cuma Sprite kalengan. Kalo enggak malah cuma permen lima bungkus.”

“Enggak mau ya udah. Gue buang aja, nih!” hampir saja ia melempar boneka itu sembarangan.

“Eh! Elo ini main buang aja!” langsung saja kusambar boneka itu. Kan sayang boneka sebagus ini dibuang seenak jidat. Masih mending kalau dikasikan ke anak kecil. Ini mah mau dilempar ke tong sampah.

“Udah, ah! Yok!” ia berjalan duluan lagi.

“Mau ke mana?”

“Makan!” jawabnya. Aku hanya bisa manyun-manyun. Dia itu, kalau tidak teriak-teriak seperti itu apa tidak bisa, ya?

Andre membawaku ke kafe di dalam mall. Aku hanya pesan ice cream saja. Sedangkan Andre benar-benar memesan makan. Nasi dan ayam goreng. Dia makan lahap sekali, sampai membuatku tak berhenti menatapnya heran. Dia ini lapar apa doyan?

“Apa, sih?!” sentaknya. Mungkin risih karena tatapanku. Anehnya, aku tidak merasa jengkel. Apa aku mulai terbiasa dengan setiap bentak-bentakannya itu? Sebaliknya, aku malah tersenyum.

“Makasih, ya,” bibirku berucap tanpa sadar. Selanjutnya, aku baru memahami perasaanku sendiri. Karena Andre mengajakku kemari, bukankah aku merasa lega? Setidaknya, meskipun sedihku tak sepenuhnya hilang, aku tak semurung sebelumnya.

“Eh! Jangan ke-PD-an, ya! Jalan-jalan ini bukan dalam rangka ngibur elo, ya!”

“Iya-iya! Tapi tetep aja. Walaupun elo bilang kayak gitu, gue tetep ngerasa terhibur, kok. Hati gue agak lega gitu. Makannya gue bilang makasih.” Jawabanku kali ini membuatnya terdiam. Paha ayam yang tadi hampir masuk ke dalam mulutnya, ia letakkan kembali.

“Ada yang bilang, kalo elo senyum bisa meringankan satu beban elo. Karena gue enggak bisa nanggung beban elo sekarang, paling enggak gue bisa bantu meringankan satu beban elo itu.”

Deg! Apa barusan itu benar-benar diucapkan oleh Andre? Tentu saja aku terkejut. Dan, sekarang apa ini? Kenapa jantungku malah tak bisa normal? Terlebih saat tiba-tiba Andre melanjutkan kalimatnya tadi dengan tatapan tepat ke mataku. Oh, no! Ke, kenapa wajahku memanas?

“Buruan dong makannya! Mau balik, enggak?!” sentaknya. Aku hampir melunjak karena ia menggebrak meja seenak udelnya! Sampai-sampai beberapa orang di samping kami melihat ke arah sini dengan heran. Padahal dia sendiri makanannya belum habis, tapi dia sudah bangun duluan. Pergi begitu saja tanpa merasa bersalah sudah membuatku hampir kena serangan jantung dadakan.

***

Jam lima tepat Andre sudah mengantarku sampai depan rumah. Setelah dari mall tadi, dia sempat mengajakku ke toko buku. Hanya sekedar melihat-lihat. Dia bilang sih tidak menemukan buku yang dia cari. Sedangkan aku? Sebenarnya banyak sekali yang ingin kubeli. Tapi kan aku tidak bawa dompet. Jadi terpaksa, aku hanya bisa menelan ludahku melihat tumpukan buku yang melambai-lambai, minta dibaca.

Ia hanya mengantarku sampai depan gerbang. Tidak sampai masuk ke dalam. Karena kurasa dia sendiri pun tidak akan ikut turun, jadi aku langsung keluar setelah sekali lagi berucap terima kasih.

Kukira, setelah aku keluar, dia akan langsung pergi begitu saja. Dia malah menurunkan kaca jendela tempatku duduk tadi. Aku merunduk. Barangkali dia ingin bilang sesuatu.

“Kenapa?” tanyaku. Dia bukannya menjawab malah menatapi boneka pisang yang kubawa. Kenapa? Apa dia ingin boneka ini dikembalikan padanya? Tadi kan dia sudah memberikannya padaku.

“Besok… elo berangkat, kan?” tanyanya setelah diam. Barulah ia menatapku karena aku tak segera memberinya jawaban. Aku sendiri bingung. Dan kuulangi pertanyaan itu pada diriku sendiri. Apa besok aku sudah siap untuk pergi ke kampus? Bertemu Tora? Bertemu Farra? Aku harus bersikap bagaimana?

“Berangkat!” titahnya kemudian. Padahal aku belum bilang apa-apa padanya. “Pokoknya elo harus berangkat! Kalo enggak… gue bakal ke sini dan seret elo buat ke kampus!” lanjutnya. Tanpa menunggu reaksiku, dia langsung menutup kaca itu kembali. Tancap gas dan berlalu pergi.

Selepas kepergiannya, aku melongo. Berpikir lebih banyak, kenapa Andre bersikap aneh seharian ini?
Bahkan sampai masuk kamar pun, aku masih bertanya-tanya. Sampai Andre pun mengirimiku pesan, “Boneka pisangnya jangan dikasih nama gue, ya? Gue enggak suka pisang!” akhirnya pertanyaan tadi malah kembali padaku.

Sambil menatapi boneka pisang darinya tadi di atas kasur, pertanyaan besar muncul.

Apa aku mulai suka pada Andre? Atau… ini hanya pelarianku dari Tora saja?

Sebelumnya            Selanjutnya