Tuesday, January 14, 2020

Kepada Hujan


Hujan…

Ia menggesek rambutku. Menertibkan anak-anak poniku. Biar berjejer rapi layaknya barisan upacara bendera. Ia menilik ubun-ubunku. Menyerahkan sensasi dinginnya dan meredupkan panas yang menyakiti kepalaku. Hujan… hal yang kusuka tak lagi ada dalam kantung sesuatu yang kujadikan sebuah favorit.

Mumpung belum ada yang merembes ke balik bajuku. Kubalut dengan jaket tebal. Melihat derainya yang tak kunjung habis, kurasa aku pun memerlukan payung. Satu, yang warnanya hitam. Yang mengingatkanku pada kenangan hujan yang saat itu masuk daftar sesuatu yang aku kagumi.

Dari balik payung, kudengar eluhan rintik hujan. Protes berulang-ulang, karena tak mampu menggapai kepalaku. Hanya, suaranya memeras memoriku. Memaksa rintik lain yang meluncur dari balik kelopak mataku. Aku ingat saat ini. Juga tempat-tempat yang terjejak sepatuku. Dan tanah-tanah yang terbawa aliran air. Menjejali ingatku soal dirinya yang ingin sekali kutemui hari ini.

Ini adalah hari kedua. Soal hujan yang bertandang terburu dan tergesa. Menyapa tiap sembulan mentari, hingga tak bisa aku keringkan baju dan gerimis hatiku sendiri. Aku tak membutuhkan ribuan langkah. Sampai bisa mendatangi sebuah tempat yang menyimpan masa lalu menyenangkanku. Aku berdiri di depan pintu kaca, yang bisa dengan gamblang membiaskan orang-orang menggigil dan menyeruput kopi atau pun coklat panas. Badanku memang menggigil. Tapi, kopi panas dan coklat panas tak akan bisa menghangatkan musim dingin yang bernaung di hatiku.

“Selamat datang!” ujar suara seseorang tepat setelah sepatu basahku menapak keset bertuliskan welcome di sana. Senyum pemilik suara itu terajut manis di depan pandanganku. Seharusnya aku menyukainya, kan? Tapi yang kurasakan adalah perih yang mengiris kalbu. Aku… rindu saat hujan itu. Hujan… apakah kau rindu saat-saat aku bisa ikut tersenyum karena melihat rajutan senyum ini?

Dia pergi, ke tempat dimana orang-orang di sini membutuhkannya. Memanggilnya dengan daftar-daftar nama di buku menu. Mengabaikanku yang baru saja ia sapa. Kupilih tempat duduk yang paling dekat. Menghalau rintik-rintik hujan yang masih tersisa. Kulipat payung, dan kusilangkan kakiku sendiri. Mengambil buku menu di atas meja. Membaca satu per satu namanya, dan memutuskan satu saja.

“Bisa kucatat pesanan Anda, Tuan?” dia datang lagi. Dengan senyumnya, dengan rambut kucir rapinya. Tak lelah ia karena kuabaikan. Segores pun senyumku tak bisa terbentuk. Tapi aku harus memesan, kan? Aku sudah sampai di sini. Walau yang kubutuhkan bukan menu-menu itu. Melainkan dirinya. Dia yang menyayat jiwaku sampai ke akar-akarnya.

“Berikan aku menu spesial hari ini,” ujarku. Kucoba menyisipkan sedikit senyum, demi menyambut keramahannya. Aku benar-benar asing di matanya. Sungguh! Hujan… ini menyedihkan.

Dia kembali dalam 10 menit. Adalah waktu yang lama mengingat rinduku padanya sungguh memilukan. “Silahkan dinikmati!” ramahnya masih sangat banyak ternyata. Giliranku jumud, lebih mirip dengan es. Sekali lagi, dia pergi dari hadapanku tanpa sadar aku yang sebenarnya.

Keteguk minuman yang disajikannya. Tak ada pengaruhnya. Jiwaku masih dingin, senyap dan sunyi. Getirku menatap cincin yang tersemat di jari manisku. Tanganku kemudian mengingat, ada sesuatu yang pernah terselip di kantung jaketku. Sekarang sudah tak ada. Kemana? Satu pun ruang penyimpanan memoriku tak meninggalkannya. Yang kuingat hanya dia yang marah, mengembalikan cincin itu tanpa berbalik setelah meninggalkanku. Dan tanpa kata, dua kali aku menemuinya, dia sungguh tak menematkanku dalam keping-keping memorinya.

Mataku sungguh ingin menatapnya lebih lama. Tidak dengan batinku. Sungguh lelah. Tak ada pula pengaruhnya untukku. Baik kemarin, sekarang, atau masa lalu, yang tersisa hanya hujan. Dia menangis karena hujan melunturkan ingatannya tentangku. Karena hujan pula, yang sempat mengenalkanku padanya. Hujan… jika boleh kuminta, datangkan hujan yang sama seperti aku bisa mengoleksi senyum manisnya itu dalam laci-laci ingatanku. Hujan… dan biarlah dia terus tersenyum tanpa kuingat lagi adanya wajah marah yang meninggalkanku.

Aku berdiri. Menanggalkan cincin di jemariku bersamaan dengan uang bayaran atas minuman yang kutengguk. Hanya sedikit. Seperempat bagian saja tak sampai. Tandangku berakhir. Kusiapkan payung. Sepatuku harus mau menyapa aliran air di jalanan menjauh dari tempat ini.

Baru kusampai di daun pintu, belum sempat melangkah keluar. Dia memanggilku. “Maaf, Anda meninggalkan ini,” ujarnya. Apa yang diberikannya? Cincin ini. Dia mengulurkannya padaku dengan begitu sopannya. Bibirku akhirnya bisa tersenyum karenanya. Ini bukan senyum balasan atas keramahan dan kesopannya. Justru sebaliknya. Ini senyum pahit, getir, dan keterlaluan perihnya.
Tanpa kata, kudorong pelan uluran tangannya. Sekilas meremas jemarinya untuk menggengam saja cincin itu. Kutampilkan senyum getirku. Sialnya rintik dari mataku tak mampu kebendung. Matanya tercengang, mungkin karena air mata itu. Dayaku bahkan tak sampai hanya untuk menghapusnya.
Entah karena apa, kulihat rintik yang sama di wajahnya. Dia menangis? Tapi untuk apa? Tatapannya ini, apa artinya? Aku tak mengerti. Bibirnya bahkan rapat. Seolah memang tak ada alasan untuknya menangis seperti ini. Apa hanya karena aku menelurkan air yang sama pula, maka dia seperti ini? Oh! Dungunya bibirku tak mampu terbuka. Rapat, aku yakin ada yang menjahit bibirku dengan rapinya.

“Ini…” bibirnya terucap. Aku tak peduli. Kuasaku sudah tak mampu berdiri lebih lama di sana. Seingatku, aku ingin pergi. Maka kulanjutkan langkah ini. Keluar dari sana dan menyapa rinai-rinai air. Tersenyum dengan dada sesak luar biasa. Hujan… ingatku dengan perkataan seseorang yang mengenalnya. “Sepulang dari tempatmu, dia kecelakaan. Dia kehilangan seluruh memorinya.” 
Seperti itu katanya. Lalu hujan di matanya tadi, apa dia mengingatku?

Hujan…
 
Ingatkan saja dia soal hari saat aku dan dia saling bertukar senyuman. Jangan sakit hatinya.

SELESAI