Hujan…
Ia menggesek rambutku.
Menertibkan anak-anak poniku. Biar berjejer rapi layaknya barisan upacara
bendera. Ia menilik ubun-ubunku. Menyerahkan sensasi dinginnya dan meredupkan
panas yang menyakiti kepalaku. Hujan… hal yang kusuka tak lagi ada dalam
kantung sesuatu yang kujadikan sebuah favorit.
Mumpung belum ada yang
merembes ke balik bajuku. Kubalut dengan jaket tebal. Melihat derainya yang tak
kunjung habis, kurasa aku pun memerlukan payung. Satu, yang warnanya hitam.
Yang mengingatkanku pada kenangan hujan yang saat itu masuk daftar sesuatu yang
aku kagumi.
Dari balik payung,
kudengar eluhan rintik hujan. Protes berulang-ulang, karena tak mampu menggapai
kepalaku. Hanya, suaranya memeras memoriku. Memaksa rintik lain yang meluncur
dari balik kelopak mataku. Aku ingat saat ini. Juga tempat-tempat yang terjejak
sepatuku. Dan tanah-tanah yang terbawa aliran air. Menjejali ingatku soal
dirinya yang ingin sekali kutemui hari ini.
Ini adalah hari kedua.
Soal hujan yang bertandang terburu dan tergesa. Menyapa tiap sembulan mentari,
hingga tak bisa aku keringkan baju dan gerimis hatiku sendiri. Aku tak
membutuhkan ribuan langkah. Sampai bisa mendatangi sebuah tempat yang menyimpan
masa lalu menyenangkanku. Aku berdiri di depan pintu kaca, yang bisa dengan
gamblang membiaskan orang-orang menggigil dan menyeruput kopi atau pun coklat
panas. Badanku memang menggigil. Tapi, kopi panas dan coklat panas tak akan
bisa menghangatkan musim dingin yang bernaung di hatiku.
“Selamat datang!” ujar
suara seseorang tepat setelah sepatu basahku menapak keset bertuliskan welcome
di sana. Senyum pemilik suara itu terajut manis di depan pandanganku.
Seharusnya aku menyukainya, kan? Tapi yang kurasakan adalah perih yang mengiris
kalbu. Aku… rindu saat hujan itu. Hujan… apakah kau rindu saat-saat aku bisa
ikut tersenyum karena melihat rajutan senyum ini?
Dia pergi, ke tempat
dimana orang-orang di sini membutuhkannya. Memanggilnya dengan daftar-daftar
nama di buku menu. Mengabaikanku yang baru saja ia sapa. Kupilih tempat duduk
yang paling dekat. Menghalau rintik-rintik hujan yang masih tersisa. Kulipat
payung, dan kusilangkan kakiku sendiri. Mengambil buku menu di atas meja.
Membaca satu per satu namanya, dan memutuskan satu saja.
“Bisa kucatat pesanan
Anda, Tuan?” dia datang lagi. Dengan senyumnya, dengan rambut kucir rapinya.
Tak lelah ia karena kuabaikan. Segores pun senyumku tak bisa terbentuk. Tapi
aku harus memesan, kan? Aku sudah sampai di sini. Walau yang kubutuhkan bukan
menu-menu itu. Melainkan dirinya. Dia yang menyayat jiwaku sampai ke
akar-akarnya.
“Berikan aku menu
spesial hari ini,” ujarku. Kucoba menyisipkan sedikit senyum, demi menyambut
keramahannya. Aku benar-benar asing di matanya. Sungguh! Hujan… ini
menyedihkan.
Dia kembali dalam 10
menit. Adalah waktu yang lama mengingat rinduku padanya sungguh memilukan.
“Silahkan dinikmati!” ramahnya masih sangat banyak ternyata. Giliranku jumud,
lebih mirip dengan es. Sekali lagi, dia pergi dari hadapanku tanpa sadar aku
yang sebenarnya.
Keteguk minuman yang
disajikannya. Tak ada pengaruhnya. Jiwaku masih dingin, senyap dan sunyi.
Getirku menatap cincin yang tersemat di jari manisku. Tanganku kemudian
mengingat, ada sesuatu yang pernah terselip di kantung jaketku. Sekarang sudah
tak ada. Kemana? Satu pun ruang penyimpanan memoriku tak meninggalkannya. Yang
kuingat hanya dia yang marah, mengembalikan cincin itu tanpa berbalik setelah
meninggalkanku. Dan tanpa kata, dua kali aku menemuinya, dia sungguh tak
menematkanku dalam keping-keping memorinya.
Mataku sungguh ingin
menatapnya lebih lama. Tidak dengan batinku. Sungguh lelah. Tak ada pula
pengaruhnya untukku. Baik kemarin, sekarang, atau masa lalu, yang tersisa hanya
hujan. Dia menangis karena hujan melunturkan ingatannya tentangku. Karena hujan
pula, yang sempat mengenalkanku padanya. Hujan… jika boleh kuminta, datangkan
hujan yang sama seperti aku bisa mengoleksi senyum manisnya itu dalam laci-laci
ingatanku. Hujan… dan biarlah dia terus tersenyum tanpa kuingat lagi adanya
wajah marah yang meninggalkanku.
Aku berdiri.
Menanggalkan cincin di jemariku bersamaan dengan uang bayaran atas minuman yang
kutengguk. Hanya sedikit. Seperempat bagian saja tak sampai. Tandangku
berakhir. Kusiapkan payung. Sepatuku harus mau menyapa aliran air di jalanan
menjauh dari tempat ini.
Baru kusampai di daun
pintu, belum sempat melangkah keluar. Dia memanggilku. “Maaf, Anda meninggalkan
ini,” ujarnya. Apa yang diberikannya? Cincin ini. Dia mengulurkannya padaku
dengan begitu sopannya. Bibirku akhirnya bisa tersenyum karenanya. Ini bukan
senyum balasan atas keramahan dan kesopannya. Justru sebaliknya. Ini senyum
pahit, getir, dan keterlaluan perihnya.
Tanpa kata, kudorong
pelan uluran tangannya. Sekilas meremas jemarinya untuk menggengam saja cincin
itu. Kutampilkan senyum getirku. Sialnya rintik dari mataku tak mampu
kebendung. Matanya tercengang, mungkin karena air mata itu. Dayaku bahkan tak
sampai hanya untuk menghapusnya.
Entah karena apa,
kulihat rintik yang sama di wajahnya. Dia menangis? Tapi untuk apa? Tatapannya
ini, apa artinya? Aku tak mengerti. Bibirnya bahkan rapat. Seolah memang tak
ada alasan untuknya menangis seperti ini. Apa hanya karena aku menelurkan air
yang sama pula, maka dia seperti ini? Oh! Dungunya bibirku tak mampu terbuka.
Rapat, aku yakin ada yang menjahit bibirku dengan rapinya.
“Ini…” bibirnya
terucap. Aku tak peduli. Kuasaku sudah tak mampu berdiri lebih lama di sana.
Seingatku, aku ingin pergi. Maka kulanjutkan langkah ini. Keluar dari sana dan
menyapa rinai-rinai air. Tersenyum dengan dada sesak luar biasa. Hujan… ingatku
dengan perkataan seseorang yang mengenalnya. “Sepulang dari tempatmu, dia
kecelakaan. Dia kehilangan seluruh memorinya.”
Seperti itu katanya. Lalu hujan
di matanya tadi, apa dia mengingatku?
Hujan…
Ingatkan saja dia soal hari saat aku dan dia saling bertukar senyuman. Jangan sakit hatinya.
SELESAI