Meski mawar
merah ini adalah yang terakhir, tapi rasanya sosokmu masih jelas berada di
depanku. Menatapku nanar, dengan mata merah semerah kelopak bunga ini. Apa
durinya melukaimu? Apa durinya membuatmu berdarah? Aku begitu heran dan
sesegera mungkin ingin menanyakannya. Tapi apalah mampuku? Kau… sudah pergi.
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Wednesday, January 15, 2020
Tuesday, January 14, 2020
Kepada Hujan
Hujan…
Ia menggesek rambutku.
Menertibkan anak-anak poniku. Biar berjejer rapi layaknya barisan upacara
bendera. Ia menilik ubun-ubunku. Menyerahkan sensasi dinginnya dan meredupkan
panas yang menyakiti kepalaku. Hujan… hal yang kusuka tak lagi ada dalam
kantung sesuatu yang kujadikan sebuah favorit.
Sila ke-5
Baju kumal, bau tanah,
noda keringat. Sepatu merk tiger yang KW-nya kualitas atas bercumbu
dengan lumpur. Bau sabun pel lantai saja belum hilang semestinya. Dalang dari
gantinya bau itu ya cuma sepatu itu. Lebih benar biangnya ya si pemilik. Bocah
penyandang sabuk hitam kejuaraan gundu antar kelas di sekolahnya, Asrul.
Subscribe to:
Posts (Atom)
