Meski mawar
merah ini adalah yang terakhir, tapi rasanya sosokmu masih jelas berada di
depanku. Menatapku nanar, dengan mata merah semerah kelopak bunga ini. Apa
durinya melukaimu? Apa durinya membuatmu berdarah? Aku begitu heran dan
sesegera mungkin ingin menanyakannya. Tapi apalah mampuku? Kau… sudah pergi.
Gundukan di
depanku ini membuat seluruh rambut di setiap inci tubuhku berdiri. Wangi mawar,
kuharap kau bernafas di sela harum ini. Aku tak sempat mengerti, mengapa waktu
harus berputar? Saat ragamu ada, saat jiwamu pun berada di dalamnya, tanganmu
terlalu sulit untuk kuraih. Kakiku gemetar, menapaki tanah yang kau balut
dengan tetesan air matamu. Masih jelas di gendang telingaku, bagaimana kau
menjerit, merintih, meneriaki namaku, sedang aku sama sekali tak berdaya.
Matamu yang
berarir. Mungkin suaramu hampir mampu mengungguli silet. Menyobek pasti
pendengaranku. Bahkan batinku ikut tersayat. Betapa pedih mataku melihat
sosokmu yang menderita di bawah bajingan biadab yang sangat ingin kuhabisi! Aku
ingin menghabisinya! Menggorok lehernya, memutuskan urat nadinya, dan
mematahkan semua tulangnya. Bodohnya aku tak bisa!
Dungunya aku hanya bisa
menjerit kesetanan meneriaki namamu. Aku tahu kau kesakitan, aku pula begitu!
Rintihanmu, menyayat-nyayat hatiku. Tangis, dan dera air matamu membuat seluruh
tulangku ngilu! Merasakan dingin yang melebihi puncak musim dingin. Aku ingin
meraihmu! Tapi bajingan satu ini mencengkeram erat kedua tanganku. Sampai aku
mencoba berontak, bajingan yang lain menarik kuat rambutku. Menindik seluruh
sela punggungku, hingga tak bisa kurasakan lagi, apakah benar kulitku ada di
punggungku atau tidak.
Ini gila!
Bajingan! Biadab! Mereka semua tak lebih buruk dari semua binatang menjijikkan
yang ada di dunia ini! Mereka lebih rendah! Mereka hina! Bagaimana mungkin
mereka melucuti semua pakaianmu?! Ya Tuhan! Di depan mataku! Tidak! Aku benci
situasi ini! Aku ingin memecahkan kepala bajingan di dekatmu itu! Tidak!
“Kumohon…
jangan!” teriakanku terabaikan. Aku hanya seperti musik bagi mereka. Ah, tidak.
Lebih tepatnya aku hanya backsound. Yang keberadaanku malah menjadi
situasi ini makin dramatis. Cih! Persetan dengan semua anggapan mereka! Bahkan
aku memohon! Bodoh! Dungu! Kenapa kulakukan itu?! Tuhan! Dimana Kau? Tidakkah
Kau lihat cintaku merintih di bawah kelakuan biadab dari bajingan itu! Setan!
Kutuk! Hina! Biadab! Bajingan!
“JANGAN!!!”
sekali lagi, kurasakan tenggorokanku hampir pecah. Aku tak peduli. Aku ingin
berlari ke arahmu. Tapi aku tak bisa! Sungguh! Aku benar-benar tak bisa! Sampai
kurasakan beberapa cambukan melejit indah ke punggungku. Semuanya, mungkin
secara normal akan terasa sakit. Tapi itu lebih sakit ketika melihatmu berada
di sana! Berteriak, merintih, dan mencoba meminta bantuanku! Dungu! Aku begitu
dungu! Tuhan! Tuhan! Bantulah cintaku itu! Tidak! Bantulah aku!
“Jangan….
Jangan… jangan… jangan… tidak… jangan… jangan… ku… kumohon, jangan!” tak
bisakah mereka melihat betapa deritaku sudah sampai titik kehabisanku? Tidak
bisakah rintihanku merenggut hati kecil yang barangkali masih ada setitik welas
asih dari mereka? Demi apapun! Aku tak peduli kalau mereka akan merajamku!
Menyiksaku dengan duri mawar, atau daun pintu, atau ujung pensil, atau pisau
berkarat, atau apapun! Tapi jangan lakukan itu pada cintaku! Kumohon!
Jangan!
“Aaa….!”
Teriakanmu! Tuhan! Teriakannya begitu menyakitkan! Ini sadis! Aku bisa mati
pelan-pelan! Tidak! Aku begitu tersiksa! Aku memberontak! Demi semua rasa sakit
di dunia ini, kurasa semua masuk ke dalam diriku sekarang! Tidak! Jangan! Kumohon!
Kumohon! Akan kulakukan apapun untuk membuatmu tidak berada dalam posisi itu.
“Tidak!
Jangan! Lepaskan! Lepaskan dia!” aku berteriak, berontak, semua yang kulakukan
semampuku. Tanganku bukan lagi milikku. Apa ini? Besi panas? Entahlah! Semuanya
sudah menjalari tubuhku! Cess! Kurasakan panas menyengat tangan dan
kakiku. Aku tidak peduli. Hatiku lebih tersayat! Hatiku disiram minyak panas!
Jangan dengan kekasihku! Jangan!
“An….
Aaah…!”
“BANGSAT!!!
BAJINGAN!!! LEPASKAN AKU!!!” aku sudah tak tahan. Harusnya aku berontak. Ini
terlalu sakit! Tidak! Kumohon! Berapa banyak aku harus meracau? Lantas tak ada
sedikit pun energi yang mengisiku. Lihatlah bagaimana seringaian bajingan itu
melakukan itu padamu! Bangsat! Bajingan! Biadab! Oh, Tuhan! Tidak
bisakah Kau berikan yang lain selain umpatan yang hanya bisa kusebut dalam dada
seperti ini? Mataku tersakiti, melihat semuanya! Melihat bajingan itu tersenyum
penuh rasa nikmat dengan semua tingkah menjijijkkannya pada kekasihku! Kumohon!
Jangan lakukan itu! Jangan!
“AAAA!!!”
teriakanku kurasa makin kencang. Aku tahu, respon teriakanku ini tepat begitu besi
panas itu menyapa perutku. Tapi aku berteriak bukan karena itu. Aku berteriak
tak lain hanya karenamu. Hanya karena sesaknya dadaku mengeluarkan semua rasa
sakitku dengan seluruh buliran air mata ini. Sial! Aku menangis! Membuat mereka
semua tertawa penuh kemenangan! Bajingan! Mereka semua biadab!
“Hentikan….
Hentikan…” Tuhan… ada apa dengan suaraku? Kenapa aku makin kehilangan
kesadaranku? Kenapa ini? Tidak! Kumohon jangan! Jangan ambil kesadaranku! Aku
hanya ingin menghentikan bajingan itu! Aku ingin menyelamatkan kekasihku. Tak
akan kulakukan dosa apapun demi menyelematkannya. Atau paling tidak, ambil saja
nyawaku sebagai gantinya. Kumohon! Aku tak tega melihatnya seperti itu. Jangan…
jangan…
Tapi ini
terus berlanjut. Semuanya mulai memutih. Putih dan tak bisa lagi kulihat
apapun, kurasakan apapun. Entahlah, namun suara jerit tangismu masih kudengar.
Hingga di sela jeritanmu yang kian melambat, kudengar suara sirene. Apakah
polisi datang?
“Anthony!
Anthony!” tunggu? Suara siapa ini?
“Ini aku,
Leo. Sadarlah, An! Sadarlah!” ah, kau datang Leo? Kuharap kau tidak terlambat.
Tapi aku benar-benar tak bisa menangkap kesadaranku lagi, Leo. Ingatlah, harum
mawar berduri itu menyelimuti hidungku. Kuharap hilangnya jeritan kekasihku
tidak berarti banyak. Karena aku, tak bisa lagi bernafas benar.
SEKIAN

No comments:
Post a Comment