Wednesday, January 15, 2020

Nafas Mawar



Meski mawar merah ini adalah yang terakhir, tapi rasanya sosokmu masih jelas berada di depanku. Menatapku nanar, dengan mata merah semerah kelopak bunga ini. Apa durinya melukaimu? Apa durinya membuatmu berdarah? Aku begitu heran dan sesegera mungkin ingin menanyakannya. Tapi apalah mampuku? Kau… sudah pergi.


Gundukan di depanku ini membuat seluruh rambut di setiap inci tubuhku berdiri. Wangi mawar, kuharap kau bernafas di sela harum ini. Aku tak sempat mengerti, mengapa waktu harus berputar? Saat ragamu ada, saat jiwamu pun berada di dalamnya, tanganmu terlalu sulit untuk kuraih. Kakiku gemetar, menapaki tanah yang kau balut dengan tetesan air matamu. Masih jelas di gendang telingaku, bagaimana kau menjerit, merintih, meneriaki namaku, sedang aku sama sekali tak berdaya.

Matamu yang berarir. Mungkin suaramu hampir mampu mengungguli silet. Menyobek pasti pendengaranku. Bahkan batinku ikut tersayat. Betapa pedih mataku melihat sosokmu yang menderita di bawah bajingan biadab yang sangat ingin kuhabisi! Aku ingin menghabisinya! Menggorok lehernya, memutuskan urat nadinya, dan mematahkan semua tulangnya. Bodohnya aku tak bisa! 
Dungunya aku hanya bisa menjerit kesetanan meneriaki namamu. Aku tahu kau kesakitan, aku pula begitu! Rintihanmu, menyayat-nyayat hatiku. Tangis, dan dera air matamu membuat seluruh tulangku ngilu! Merasakan dingin yang melebihi puncak musim dingin. Aku ingin meraihmu! Tapi bajingan satu ini mencengkeram erat kedua tanganku. Sampai aku mencoba berontak, bajingan yang lain menarik kuat rambutku. Menindik seluruh sela punggungku, hingga tak bisa kurasakan lagi, apakah benar kulitku ada di punggungku atau tidak.

Ini gila! Bajingan! Biadab! Mereka semua tak lebih buruk dari semua binatang menjijikkan yang ada di dunia ini! Mereka lebih rendah! Mereka hina! Bagaimana mungkin mereka melucuti semua pakaianmu?! Ya Tuhan! Di depan mataku! Tidak! Aku benci situasi ini! Aku ingin memecahkan kepala bajingan di dekatmu itu! Tidak!

“Kumohon… jangan!” teriakanku terabaikan. Aku hanya seperti musik bagi mereka. Ah, tidak. Lebih tepatnya aku hanya backsound. Yang keberadaanku malah menjadi situasi ini makin dramatis. Cih! Persetan dengan semua anggapan mereka! Bahkan aku memohon! Bodoh! Dungu! Kenapa kulakukan itu?! Tuhan! Dimana Kau? Tidakkah Kau lihat cintaku merintih di bawah kelakuan biadab dari bajingan itu! Setan! Kutuk! Hina! Biadab! Bajingan!

“JANGAN!!!” sekali lagi, kurasakan tenggorokanku hampir pecah. Aku tak peduli. Aku ingin berlari ke arahmu. Tapi aku tak bisa! Sungguh! Aku benar-benar tak bisa! Sampai kurasakan beberapa cambukan melejit indah ke punggungku. Semuanya, mungkin secara normal akan terasa sakit. Tapi itu lebih sakit ketika melihatmu berada di sana! Berteriak, merintih, dan mencoba meminta bantuanku! Dungu! Aku begitu dungu! Tuhan! Tuhan! Bantulah cintaku itu! Tidak! Bantulah aku!

“Jangan…. Jangan… jangan… jangan… tidak… jangan… jangan… ku… kumohon, jangan!” tak bisakah mereka melihat betapa deritaku sudah sampai titik kehabisanku? Tidak bisakah rintihanku merenggut hati kecil yang barangkali masih ada setitik welas asih dari mereka? Demi apapun! Aku tak peduli kalau mereka akan merajamku! Menyiksaku dengan duri mawar, atau daun pintu, atau ujung pensil, atau pisau berkarat, atau apapun! Tapi jangan lakukan itu pada cintaku! Kumohon! Jangan!

“Aaa….!” Teriakanmu! Tuhan! Teriakannya begitu menyakitkan! Ini sadis! Aku bisa mati pelan-pelan! Tidak! Aku begitu tersiksa! Aku memberontak! Demi semua rasa sakit di dunia ini, kurasa semua masuk ke dalam diriku sekarang! Tidak! Jangan! Kumohon! Kumohon! Akan kulakukan apapun untuk membuatmu tidak berada dalam posisi itu.

“Tidak! Jangan! Lepaskan! Lepaskan dia!” aku berteriak, berontak, semua yang kulakukan semampuku. Tanganku bukan lagi milikku. Apa ini? Besi panas? Entahlah! Semuanya sudah menjalari tubuhku! Cess! Kurasakan panas menyengat tangan dan kakiku. Aku tidak peduli. Hatiku lebih tersayat! Hatiku disiram minyak panas! Jangan dengan kekasihku! Jangan!

“An…. Aaah…!”

“BANGSAT!!! BAJINGAN!!! LEPASKAN AKU!!!” aku sudah tak tahan. Harusnya aku berontak. Ini terlalu sakit! Tidak! Kumohon! Berapa banyak aku harus meracau? Lantas tak ada sedikit pun energi yang mengisiku. Lihatlah bagaimana seringaian bajingan itu melakukan itu padamu! Bangsat! Bajingan! Biadab! Oh, Tuhan! Tidak bisakah Kau berikan yang lain selain umpatan yang hanya bisa kusebut dalam dada seperti ini? Mataku tersakiti, melihat semuanya! Melihat bajingan itu tersenyum penuh rasa nikmat dengan semua tingkah menjijijkkannya pada kekasihku! Kumohon! Jangan lakukan itu! Jangan!

“AAAA!!!” teriakanku kurasa makin kencang. Aku tahu, respon teriakanku ini tepat begitu besi panas itu menyapa perutku. Tapi aku berteriak bukan karena itu. Aku berteriak tak lain hanya karenamu. Hanya karena sesaknya dadaku mengeluarkan semua rasa sakitku dengan seluruh buliran air mata ini. Sial! Aku menangis! Membuat mereka semua tertawa penuh kemenangan! Bajingan! Mereka semua biadab!

“Hentikan…. Hentikan…” Tuhan… ada apa dengan suaraku? Kenapa aku makin kehilangan kesadaranku? Kenapa ini? Tidak! Kumohon jangan! Jangan ambil kesadaranku! Aku hanya ingin menghentikan bajingan itu! Aku ingin menyelamatkan kekasihku. Tak akan kulakukan dosa apapun demi menyelematkannya. Atau paling tidak, ambil saja nyawaku sebagai gantinya. Kumohon! Aku tak tega melihatnya seperti itu. Jangan… jangan…

Tapi ini terus berlanjut. Semuanya mulai memutih. Putih dan tak bisa lagi kulihat apapun, kurasakan apapun. Entahlah, namun suara jerit tangismu masih kudengar. Hingga di sela jeritanmu yang kian melambat, kudengar suara sirene. Apakah polisi datang?

“Anthony! Anthony!” tunggu? Suara siapa ini?

“Ini aku, Leo. Sadarlah, An! Sadarlah!” ah, kau datang Leo? Kuharap kau tidak terlambat. Tapi aku benar-benar tak bisa menangkap kesadaranku lagi, Leo. Ingatlah, harum mawar berduri itu menyelimuti hidungku. Kuharap hilangnya jeritan kekasihku tidak berarti banyak. Karena aku, tak bisa lagi bernafas benar.

SEKIAN

No comments:

Post a Comment