Wednesday, January 15, 2020

Sandi, Password, atau Hint?


My son! Where are you? Mom and Daddy are coming!” teriakan dari pintu depan membuat wajah Sandi yang tadinya tegang bukan main, karena ia sedang asik melawan Army di dunia playstation di kamarnya langsung ganti seratus delapan puluh derajat. Kalau Army tidak salah, ekspresinya sekarang berubah jadi, sialan! Apa, sih? Hadeuh... akhirnya datang juga, dan kata-kata tak mengenakkan lainnya. Tadi Army juga sempat mendengar suara wanita yang melengking tajam. Tapi ia tak menyangka kalau suara tadi akan terdengar lagi, bersamaan dengan suara bulat laki-laki yang disusul dengan suara pintu kamar Sandi yang terjeblak begitu saja.


“Hai, Sayang!” begitulah kira-kira suara berikutnya yang muncul. Army yang sempat terkejut segera mengganti gurat di wajahnya dengan mulutnya yang ia biarkan menganga lebar. Bukan karena dua orang itu sesuai dengan dugaannya, bahwa mereka adalah orang tua Sandi, tapi penampilan mereka yang membuatnya tak habis habis habis habis berpikir walaupun diulang-ulang berpikir. Oke! Kita mulai dari mamanya Sandi. Rambut ikal buatan salon berwarna coklat yang dibiarkan mengembang, kacamata coklat, bulu-bulu yang merangkap sebagai syal berwarna hitam putih, dress musim dingin biru tua, dan sepatu super heels yang membuatnya 5 cm lebih tinggi dari sang papa. Kemudian untuk si Papa, kacamata coklat yang sama persis dengan milik sang mama, kaos dalam putih yang dibalut dengan jaket kulit coklat, syal wol warna hitam, jeans bolong-bolong biru tua panjang, dan sepatu kets funky warna putih yang bahkan lebih keren dari koleksi milik Sandi sekalipun. Oke! Sekarang kalian boleh mengimajinasikan mereka adalah pasangan selebriti nyentrik yang lagi naik pamor, ketimbang mengimajinasikannya sebagai orang tua yang punya seorang anak berumur 21 tahun!

“Sandi Yahya! Anak mama yang paling ganteng di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merouke!” teriakan sang mama kembali terdengar. Army memilih minggir ketika wanita empat puluh tahunan itu berlari dan memeluk Sandi dengan eratnya. Ekspresinya menunjukkan seolah ia sudah tak bertemu Sandi berabad-abad lamanya. Tapi si anak malah memasang tampang datar. Tanpa ekspresi, atau bisa sebut saja dia sudah kehilangan ekspresinya karena melihat kelakuan kedua orang tuanya yang jauh dari kata normal!

“Kamu baik-baik aja kan, Sayang? Kamu makannya teratur, kan? Mama kangen berat loh sama kamu! Kamu enggak lupa kan gosok gigi tiap mau tidur? Enggak lupa sarapan, dan oh, ya? Kucing mama kamu teratur kasih makannya, kan? Kamu mandiin, kan?”

“Ma...”

“Hey, My Son! Do you miss Daddy?” oke! Sekarang giliran si Papa yang datang tak kalah hebohnya. Sandi ludes sekarang. Yang dicubuti pipinya, yang diacak-acak rambutnya, yang dipegang-pegang sana-sini, dan semuanya. Tapi ia masih sabar. Ia akan menunggu sebentar sampai mereka puas atau paling tidak merasa bahwa anaknya sekarang sedang kedatangan tamu!

“Sayang... kamu kok diem aja, sih? Kamu sakit, ya? Apanya yang sakit nak? Apa kita perlu ke dokter? Oke? Papa kamu punya kenalan dokter spesialis baru yang bener-bener ahli! Dateng langsung dari Australia. Tapi dia asli keturunan orang Padang. Ayo, nak! Kita berangkat sekarang!”

“Kamu enggak enakan, Sayang? Atau ada dosen kamu yang udah bikin mood kamu enggak enak? Apanya, ya? Sandi! Bilang sama mama! Bilang, bilang!”

“Ehem!” tiba-tiba suara Army terdengar. Tidak. Ini bukan karena dia ingin menghentikan adegan itu. Tapi entah kenapa melihat adegan di depannya itu membuat tenggorokannya kering tiba-tiba. Sepertinya kata-kata Sandi untuk menutup telinganya saat kedua orang ini kembali benar-benar seratus persen tidak salah sama sekali!

Akhirnya kedua orang ini sadar. Dengan cepat kacamata mereka langsung mereka lepas. Memastikan kebenaran bahwa ada orang lain di antara mereka bertiga sekarang.

“Eh, ada tamu?” ujar sang Mama. Papa Sandi akhirnya berdiri. Membenarkan pakaiannya dan langsung duduk di samping Army. “Om minta maaf atas kericuhan ini. Maklum, Sandi adalah anak tunggal kami. Jadi, kalau ditinggal satu hari saja, kami sudah sangat khawatir.”

“Kalau khawatir kenapa tiap hari ditinggal?” gumam Sandi kesal.

“Loh! Kamu Army, kan?” terkaan Mama membuat Sandi, termasuk Army juga, cukup terkejut.

“Mama kok kenal sama Army?” tanya Sandi heran.

“Ya ampun! Mana mungkin mama enggak kenal? Dia kan artis top di kampus kamu sekarang. Semua cewek lagi tergila-gila sama dia, Sandi. Ah, kamu ini! Masa kayak gitu aja pake kamu tanyain? Iya kan, Nak Army?” ujar Mama menjabat tangan Army dengan semangatnya. Army hanya manggut-manggut dan bingung harus memberi ekspresi apa di wajahnya sekarang.

“Oke! Dan nyokap gue lebih update daripada gue! Sial...” umpat Sandi seorang diri.

“Jadi kamu temennya Sandi? Om jarang banget liat kamu ke sini.”

“Saya kenal sama Sandi baru beberapa hari, Om,” jawab Army. Sandi mulai tak tahan. Kedua orang ini harus ia singkirkan dulu agar ganti baju dan normal dulu.

“Udah, Ma, Pa. Sekarang, mending Papa sama Mama ganti baju dulu, istirahat dulu, mandi dulu atau 
apa gitu dulu. Perkenalannya kita lanjutin nanti. Lepas-lepasan rindu-rinduannya nanti lagi. Oke!” susah payah Sandi menarik kedua orang itu. Mereka berdua sempat merajuk, tapi Sandi lebih kuat. Selain kepalanya mulai nyut-nyutan, ia juga mulai malu dengan tanggapan teman barunya ini. Yah... walaupun Army tidak sepenuhnya menganggap aneh kedua orang tua Sandi. Malah, ia iri. Bukankah itu adalah ekspresi orang tua yang seharusnya diberikan pada anaknya? Entah sudah berapa lama ia tidak mendapatkan ekspresi seperti itu.

Begitu mengunci pintu, Sandi menghela nafasnya. Berbalik dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena Army yang hanya tertawa kecil setelahnya. “See? Seharusnya elo siapin sumbat telinga tadi, kan?” celetuknya. Army hanya tertawa, tak mau berkomentar apapun.

“Kalo udah ganti baju, mereka pasti lebih normal dikit. Biasa, bawaan fashion. Jadi agak sedikit soak. Mungkin karena efek jetleg juga. Haha...” Sandi tertawa kikuk. Army mengangguk dengan tawa yang masih tersisa. Jadi begini suasana keluarga Sandi yang sesungguhnya.

***

Selembar kertas di depan kaca itu diamatinya betul-betul. Untuk pengamatan yang begitu teliti, ada raut gugup di sana. Mungkin ia juga ragu untuk masuk ke dalam. Namun, tatapan matanya yang sayu memberinya dorongan untuk melakukannya. Setelah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat, ia mencoba memasang senyuman. Barulah ia membuka pintu kaca itu.

“Selamat datang!” sapa seorang pegawai di sana. Seorang cewek, rambut pendek agak coklat pendek, kira-kira di bawah telinga pas. Wajahnya yang kecil sangat cocok dengan bentuk rambut bulatnya itu. Apa dia mengecat rambutnya?

“Apa Anda sudah melakukan reservasi?” tanyanya lagi. Senyumannya yang tipis tidak mau hilang. Sekarang giliran Derwan yang bingung. Dia kan kemari bukan untuk jadi pelanggan.

“Ehm, anu...” tangannya menggaruk kepalanya sendiri. “Tadi di depan ada tulisan lowongan pekerjaan, jadi saya...”

“Oh! Apa kamu mahasiswa?” tiba-tiba senyum tipis di wajah cewek itu berubah begitu lebar. Tapi tak ada waktu bagi Derwan untuk terkejut. Karenanya ia langsung mengangguk. Hal yang membuatnya terkejut selanjutnya adalah, karena tiba-tiba cewek ini langsung menarik tangannya. Dengan lari kecil ia menggeret Derwan memasuki sebuah ruangan dengan tulisan Staff Only di pintunya tadi. Ia tak sempat protes.

“Kita dapat pegawai!” seru cewek ini. Derwan melongo. Ia baru sadar kalau ada sebuah meja dan kursi di depan cewek ini setelah ia melongok ke depan, tepatnya di balik cewek ini. Ada sebuah balok kecil di atas meja. Ada tulisannya Direktur Utama. Saat itu juga ekspresi Derwan berubah menjadi: Apa-apaan ini? Kenapa begitu? Karena waktu kursi yang sebenarnya seperti kursi dosen di kelasnya itu berputar berbalik, hanya seorang laki-laki yang sepertinya sebaya dengannya. Jadi direktur utamanya seperti ini? Apa dia ini mahasiswa? Derwan bertanya-tanya. Kalau diberi efek, ada beberapa tanda tanya kecil-kecil yang berputar-putar mengelilingi kepalanya. Apa, dah -_-

“Oke, jadi siapa nama kamu?” suara laki-laki, ehm, ganti cowok aja, deh. Suara cowok ini terdengar berat. Atau mungkin hanya dibuat-buat. Karena kedua tangannya menutupi mulutnya, hingga menyisakan dagunya yang lancip. Entah kenapa Derwan merasa bosan melihat tingkahnya yang sepertinya berlagak sok misterius. Padahal rambutnya lurus di belah dua, dibuat seklimis mungkin. Ada jerawat besar yang nongkrong di hidung sedangnya, maksudnya enggak pesek, enggak terlalu mancung juga serta kacamata berukuran sedang. Ketimbang direktur utama, Derwan lebih senang menganggapnya sebagai anggota boyband tahun 90-an.

“Harfi! Harfi! Enggak usah pake wawancara-wawancaraan segala! Kita ini kekurangan pegawai!” brak! Cewek ini tiba-tiba berubah derastis. Rok pendeknya yang tadinya Derwan kira menunjukkan sifat feminim, ternyata tak beda jauh dengan teman sekelas Falin yang hampir mirip seperti ekor Falin. Siapa lagi kalau bukan Tria?

[Tria: Bentar! Jadi kenapa gue dibilang ekor?]

[Penulis: Abisnya elo kalau Falin pergi kemana-mana, ngikut mulu, sih!]

[Tria: Enggak juga! Menurut elo kalau Falin ke WC gue ngikut?]

[Penulis: Bisa aja, kan? Elo nemenin, jadi...]

[Derwan: Maaf, bisa kembali ke scene saya?] #Abaikan mereka!

Derwan mengambil satu langkah mundur. Dan bocah yang bernama Harfi itu langsung kembali ke sifat normalnya, mungkin orangnya sedikit kikuk. Kenapa mungkin terus daritadi? Karena dia adalah tokoh baru, jadi penulis belum memberinya banyak sifat. -_-

“Pa, paling enggak gue harus tahu nama dia kan, Rose?” ujarnya terbata-bata.

“Berapa kali gue bilang, jangan panggil gue kayak gitu!” teriakan cewek ini kembali terdengar. Derwan tak menyangka, suaranya yang kecil tadi bisa sekeras ini. Sekarang ia mulai tak yakin, benarkah ia akan kerja di sini? Dengan kedua orang ini?

“Ehem!” cowok bernama Harfi itu membenarkan rompinya, juga kerah kemejanya kotak-kotaknya. “Rose berarti Mawar, Mawar adalah nama kamu. So, what the different?” ucapnya santai.

“Huft!” Mawar meniup poninya. Ia berbalik, kembali dengan senyum lebarnya. Rasanya sifat tomboynya tadi tak pantas kalau diklopkan dengan wajahnya yang begitu feminim ini. “Hai! Maaf, atas keributan tadi. Dia memang gitu. Biasa, lagi PMS mungkin.” Siapa yang PMS sebenarnya? -_-

“Namaku Mawar. Ehm, karena kamu mahasiswa, aku pake gue-gue elo-elo aja, ya? Nama gue Mawar, Fakultas Pertanian, Agroteknologi, semester empat. Nama elo siapa?” tangannya terulur, sangat ceria. Derwan sempat kikuk dibuatnya. Tapi akhirnya ia sadar, gadis ini pasti menyenangkan. Karenanya ia membalas senyum itu.

“Derwan. Fakultas Keguruan, Pendidikan Olahraga, semester empat,” Derwan memperkenalkan dirinya persis dengan cara si Mawar memperkenalkan dirinya tadi.

“Wah, berarti kita sama, dong,” serunya senang. “Oh, iya. Si mata empat ini, direktur utama kita namanya Harfi, sekelas sama gue. Tapi dia lebih muda satu tahun dari kita, tapi mukanya boros, kan?”

“Yang itu kenapa harus disebutin juga, sih?” Harfi menundukkan kepalanya kesal. Derwan hanya tersenyum.

“Jadi, selamat bergabung di kedai coklat ini, Derwan! Elo bisa mulai bekerja besok sore. Oke?” tambah Mawar lagi. Derwan mengangguk senang.

***

“Elo dimana?” tanpa basa-basi nasi basi enggak enak dimakan, pertanyaan ini langsung terdengar begitu Falin mengangkat telpon dan bertanya, “Iya, Say?”

“Perpus.”

“Ngapain?”

“Nyari anakan marmut! Ya nyari bukulah! Pake nanya lagi!” sentak Falin sebal.

“Oke, gue ke sana.”

“Mau nga...” tut... tut... tut... belum lengkap pertanyaan ini, Sandi memutus panggilannya begitu saja. Tak heran kalau Falin langsung mencibirkan bibirnya sebal. Tria di yang sedang nungging mencari buku di rak paling bawah menanggapinya dengan kata tanya, “Siapa?”

“Saya,” jawab Falin seraya memasukkan handphone-nya ke saku kemejanya.

“Kenapa?” tanya Tria lagi, mulai berjongkok. Pegal dengan posisinya.

“Entah. Mau ke sini katanya.” Falin mengedikkan bahunya. Tria hanya mengangguk. Tak tertarik untuk membahas telpon tadi. Ia sudah menemukan buku yang ia cari untuk dijadikan bahan refrensi presentasi kelompoknya minggu depan. Kumpulan Puisi Sejuta Penyair Indonesia.

“Yak! Gue udah nemu!” serunya senang sambil berdiri. “Gue ke ruang baca duluan, ya?” ujarnya. Falin hanya mengangguk. Lebih baik dia sendirian, daripada barang-barang mereka di ruang baca tadi kelamaan ditinggal.

Lima menit ditinggal Tria, Falin merasakan seseorang mengusap kepalanya. Ia mendongak, lantaran orang itu sudah berdiri di sampingnya. Dengan senyum tipisnya, ia mensejajarkan wajahnya dengan Falin. “Hai!” sapanya santai. Tapi Falin menanggapinya lain. Sejurus kemudian, plak! Telapak tangannya berhasil membuat cap di wajah orang yang tak lain dan tak bukan, ini asli bukan sulap bukan sihir, adalah Sandi. Dia cepat juga sudah sampai di sini. Padahal jarak dari Fakultas ke perpus cukup jauh. Belum parkir yang merepotkan, mundur salah, maju salah, dan kalau mobil jelas tak bisa ke samping, kan? Pembahasan ini terasa tak penting, kan?

“A, aduh! Kira-kira dong, Lin!” sentak Sandi tak terima. Tangannya sibuk mengelus-elus wajahnya yang terasa panas untuk beberapa saat. Karena ia langsung kikuk sebab orang di sampingnya langsung menyentaknya, “Sst!” dan seketika ia langsung diam.

“Mau ngomongin apaan?” bisik Falin, antisipasi kalau orang berkacamata tebal di samping Sandi itu akan menghardik mereka lagi.

“Ehm... elo udah selesai belum nyari bukunya?” tanya Sandi melirik beberapa buku yang dibawa Falin. Cukup banyak, bahkan sampai hampir menutupi dagunya.

Falin menengok bawaannya. Belum sempat pertanyaan Sandi tadi terjawab, tangan Sandi terulur. Mengambil alih buku-buku yang seharusnya cukup berat untuk ia bawa sendiri itu. Dan tanpa izin darinya, Sandi sudah ngeloyor begitu saja ke ruang baca. Falin mengambil satu lagi buku yang paling mudah ia jangkau. Kemudian barulah ia berlari kecil mengikuti Sandi.

Sampai di sana, Tria menurunkan bukunya. Melihat seorang Sandi berjalan dengan setumpuk buku sastra di tangannya. Di belakangnya ada Falin yang persis serupa dengan seorang anak yang ditinggal bapaknya jalan duluan. Tak sadar senyumnya terbentuk. Bukankah mereka terlihat cocok? Pikirnya begitu saja.

“Hai, Tria!” sapa Sandi, dengan volume suara yang sudah ia kecilkan. Membalas sapaan itu Tria hanya tersenyum. Sandi tak canggung untuk mengambil tempat duduk tepat di depannya. Sedangkan Falin yang baru datang mempoutkan bibirnya kesal dan duduk di samping kanan Sandi.

“Oy! Oy! Elo kerajinan banget, ya? Ngapa enggak sekalian rak buku bagian sastra bukunya elo bawa semua kemari?” ejek Tria melihat buku-buku yang sudah Sandi turunkan ke atas meja. Menumpuknya menjadi beberapa bagian agar tidak menutupi pandangannya dari Tria.

“Eih... gue enggak terlalu paham sama teori bagian kelompok gue. Kalau refrensinya banyak, siapa tahu ide gue muncul,” jawab Falin. Sandi belum tertarik untuk masuk ke pembicaraan mereka. Ia menarik laptop dengan wadah berbentuk Keroro di dekat Tria. Membukanya tanpa ragu karena ia paham betul itu adalah milik Falin. Tria hanya meliriknya sekilas, perbincangannya dengan Falin belum selesai.

“Anggota kelompok elo pergi kemana?” tanyanya kembali.

Falin mengedikkan bahunya. Setelah satu buku yang ia bawa tadi ia buka, melihat sebentar daftar isinya, ia menghela nafasnya kasar. Barulah kepalanya langsung menoleh ke kanan. Sandi sudah mengaktifkan laptop miliknya. Bukan karena Sandi dengan seenak dengkulnya membuka folder-folder miliknya, makannya ia terlihat kesal seperti itu. Tapi, anak ini sejak datang belum memberitahukan perihal kedatangannya kemari. Tak mungkin kan kalau mau sekedar menganggu aktifitasnya mengerjakan tugas sekarang? Pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya.

“Jadi elo mau ngapain kemari?” tanya Falin agak ketus. Sandi tak menjawab. Pikirnya autis ke laptop milik Falin. Padahal ia hanya membuka tutup folder-folder di sana. Tak lebih.

Drrt! Drrt! Tiba-tiba handphone Tria di atas meja bergetar. Buru-buru Tria mengangkatnya. “Iya? Oke, gue ke depan,” ujarnya menerima telpon dari seberang sana. Tanpa berkata-kata, ia memberi isyarat pada Falin untuk pergi sebentar. Falin hanya mengangguk. Toh, masih ada Sandi di sini.

Begitu Tria pergi, ia kembali ke bocah satu ini. Tangannya menyikut lengan Sandi, malas memanggilnya lagi dengan bibir.

“Hah... belum juga nemu folder yang pas. Udah ganggu aja elo!” keluhnya. Tapi ia tak mau membuat Falin lebih kesal lagi. Karenanya ia menggeser kursinya. Mengarahkan tubuhnya ke arah Falin. “Elo enggak dapet kabar apa-apa dari Derwan?” tanyanya to the point.

Falin malah bingung. Melihat ekspresi itu, Sandi menghela nafasnya. “Jadi elo juga enggak tahu, ya?” desahnya. Ia kembali ke laptop Falin. Kali ini Falin yang menggeser kursinya. Menaruh dagunya ke atas tangan Sandi. Memaksa Sandi untuk meliriknya. Bukankah itu artinya Sandi harus menjelaskan lebih banyak?

“Kemaren gue ngeliat dia enggak enak banget mukanya pas lagi nelpon. Gue rasa ada masalah di rumahnya,” jelasnya. Falin mengangkat kepalanya. Matanya bergerak ke atas. Mungkinkah ia sedang memikirkan sesuatu?

“Rumahnya tutup dua hari ini,” katanya kemudian.

“Oh, ya?”

“Ehm. Enggak ada orang belakangan ini. Toko rotinya juga tutup, bahkan lebih dari seminggu yang lalu.”

“Yang kayak gitu baru elo omongin ke gue sekarang?” bibir Sandi monyong. Sebal dengan tuturan Falin yang menurutnya terlanjur polos.

“Kadang toko rotinya emang bisa tutup beberapa hari. Biasanya lagi kehabisan bahan. Elo kan tau sendiri nyokapnya Darwin ambil bahannya dari luar kota. Tapi, karena gue denger elo bilang mungkin ada masalah di rumahnya, gue juga jadi curiga. Karena, dua hari sejak rumahnya itu sepi dan tutup, Darwin enggak pernah kelihatan di rumah. Pas gue tanya waktu papasan di kampus, dia bilang orang tuanya lagi ke tempat kakeknya di kampung. Desi nginep di tempat temennya, dan dia juga bilang nginep di tempat temen sekelasnya. Tapi gue ngerasa ada yang ditutupin gitu, deh,” jelas Falin panjang lebar. Reaksi dari Sandi persis seperti dugaannya. Ada wajah prihatin di sana. Ya, Sandi pasti mengkhawatirkan Darwin. Apalagi kalau mengingat apa yang sudah dilakukan keluarga Darwin padanya dulu.

“Gue nanti cari tahu lagi, deh,” putusnya final. Ia kembali ke laptop Falin. Kali ini ia menyudahi pencarian foldernya. Ia membuka mozilla. “Sandi elo apa?” tanyanya kemudian. Falin yang tidak sadar Sandi sudah mengganti topik pembicaraan menaikkan alisnya.

“Hm?”

“Sandi wifi elo. Sandi gue udah terkunci di laptop gue, jadi enggak bisa digunain di laptop lain.”

“Eh... anu... itu...” tiba-tiba Falin tergagap. “Sa, sandi, a, apaan? Nama elo, kan?” tanyanya asal.

“Hah... maksud gue password! Password wifi elo apa?”

“Password? Iya, Sandi,” muka Falin tiba-tiba berubah merah. Sandi malah menggaruk-garuk kepalanya bingung dengan sikap Falin ini. “Sandi itu... password... hint, kan?”

“Iya, password! Sandinya apaan? Hint, hint! Ah, elo mah!” oke, Sandi mulai kesal sekarang.

“I, itu... ma, mau ngapain, sih?”

“Baca komik online. Buruan, ah!”

“Sandi, deh! Nama elo!”

“Ya ampun, Falin!”

“Ssst!” Sandi tersentak. Aduh... ia lupa sekarang dia sedang berada di tempat keramat yang bahkan tak mengijinkanmu untuk bicara berfrekuensi 1 Hz sekalipun.

“Ini...” Falin berdiri, menekan keyboard, menuliskan passwordnya sendiri. Setelah itu dia pergi. Sedangkan Sandi melongo. Barusan Falin mengetik Saya.

“Ini...?”

Sebelumnya             Selanjutnya

No comments:

Post a Comment