“My son!
Where are you? Mom and Daddy are coming!” teriakan dari pintu depan membuat
wajah Sandi yang tadinya tegang bukan main, karena ia sedang asik melawan Army
di dunia playstation di kamarnya
langsung ganti seratus delapan puluh derajat. Kalau Army tidak salah,
ekspresinya sekarang berubah jadi, sialan!
Apa, sih? Hadeuh... akhirnya datang juga, dan kata-kata tak mengenakkan
lainnya. Tadi Army juga sempat mendengar suara wanita yang melengking tajam.
Tapi ia tak menyangka kalau suara tadi akan terdengar lagi, bersamaan dengan
suara bulat laki-laki yang disusul dengan suara pintu kamar Sandi yang
terjeblak begitu saja.
“Hai, Sayang!” begitulah kira-kira suara
berikutnya yang muncul. Army yang sempat terkejut segera mengganti gurat di
wajahnya dengan mulutnya yang ia biarkan menganga lebar. Bukan karena dua orang
itu sesuai dengan dugaannya, bahwa mereka adalah orang tua Sandi, tapi
penampilan mereka yang membuatnya tak habis habis habis habis berpikir walaupun
diulang-ulang berpikir. Oke! Kita mulai dari mamanya Sandi. Rambut ikal buatan
salon berwarna coklat yang dibiarkan mengembang, kacamata coklat, bulu-bulu
yang merangkap sebagai syal berwarna hitam putih, dress musim dingin biru tua, dan sepatu super heels yang membuatnya 5 cm lebih tinggi dari sang papa.
Kemudian untuk si Papa, kacamata coklat yang sama persis dengan milik sang
mama, kaos dalam putih yang dibalut dengan jaket kulit coklat, syal wol warna
hitam, jeans bolong-bolong biru tua panjang, dan sepatu kets funky warna putih yang bahkan lebih keren dari koleksi milik
Sandi sekalipun. Oke! Sekarang kalian boleh mengimajinasikan mereka adalah
pasangan selebriti nyentrik yang lagi naik pamor, ketimbang mengimajinasikannya
sebagai orang tua yang punya seorang anak berumur 21 tahun!
“Sandi Yahya! Anak mama yang paling ganteng di
seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merouke!” teriakan sang mama kembali
terdengar. Army memilih minggir ketika wanita empat puluh tahunan itu berlari
dan memeluk Sandi dengan eratnya. Ekspresinya menunjukkan seolah ia sudah tak
bertemu Sandi berabad-abad lamanya. Tapi si anak malah memasang tampang datar.
Tanpa ekspresi, atau bisa sebut saja dia sudah kehilangan ekspresinya karena
melihat kelakuan kedua orang tuanya yang jauh dari kata normal!
“Kamu baik-baik aja kan, Sayang? Kamu makannya
teratur, kan? Mama kangen berat loh sama kamu! Kamu enggak lupa kan gosok gigi
tiap mau tidur? Enggak lupa sarapan, dan oh, ya? Kucing mama kamu teratur kasih
makannya, kan? Kamu mandiin, kan?”
“Ma...”
“Hey, My Son! Do you miss Daddy?” oke!
Sekarang giliran si Papa yang datang tak kalah hebohnya. Sandi ludes sekarang.
Yang dicubuti pipinya, yang diacak-acak rambutnya, yang dipegang-pegang
sana-sini, dan semuanya. Tapi ia masih sabar. Ia akan menunggu sebentar sampai
mereka puas atau paling tidak merasa bahwa anaknya sekarang sedang kedatangan
tamu!
“Sayang... kamu kok diem aja, sih? Kamu sakit,
ya? Apanya yang sakit nak? Apa kita perlu ke dokter? Oke? Papa kamu punya
kenalan dokter spesialis baru yang bener-bener ahli! Dateng langsung dari
Australia. Tapi dia asli keturunan orang Padang. Ayo, nak! Kita berangkat
sekarang!”
“Kamu enggak enakan, Sayang? Atau ada dosen
kamu yang udah bikin mood kamu enggak enak? Apanya, ya? Sandi! Bilang sama
mama! Bilang, bilang!”
“Ehem!” tiba-tiba suara Army terdengar. Tidak.
Ini bukan karena dia ingin menghentikan adegan itu. Tapi entah kenapa melihat
adegan di depannya itu membuat tenggorokannya kering tiba-tiba. Sepertinya
kata-kata Sandi untuk menutup telinganya saat kedua orang ini kembali
benar-benar seratus persen tidak salah sama sekali!
Akhirnya kedua orang ini sadar. Dengan cepat
kacamata mereka langsung mereka lepas. Memastikan kebenaran bahwa ada orang
lain di antara mereka bertiga sekarang.
“Eh, ada tamu?” ujar sang Mama. Papa Sandi
akhirnya berdiri. Membenarkan pakaiannya dan langsung duduk di samping Army.
“Om minta maaf atas kericuhan ini. Maklum, Sandi adalah anak tunggal kami.
Jadi, kalau ditinggal satu hari saja, kami sudah sangat khawatir.”
“Kalau khawatir kenapa tiap hari ditinggal?”
gumam Sandi kesal.
“Loh! Kamu Army, kan?” terkaan Mama membuat
Sandi, termasuk Army juga, cukup terkejut.
“Mama kok kenal sama Army?” tanya Sandi heran.
“Ya ampun! Mana mungkin mama enggak kenal? Dia
kan artis top di kampus kamu sekarang. Semua cewek lagi tergila-gila sama dia,
Sandi. Ah, kamu ini! Masa kayak gitu aja pake kamu tanyain? Iya kan, Nak Army?”
ujar Mama menjabat tangan Army dengan semangatnya. Army hanya manggut-manggut
dan bingung harus memberi ekspresi apa di wajahnya sekarang.
“Oke! Dan nyokap gue lebih update daripada gue! Sial...” umpat
Sandi seorang diri.
“Jadi kamu temennya Sandi? Om jarang banget
liat kamu ke sini.”
“Saya kenal sama Sandi baru beberapa hari,
Om,” jawab Army. Sandi mulai tak tahan. Kedua orang ini harus ia singkirkan
dulu agar ganti baju dan normal dulu.
“Udah, Ma, Pa. Sekarang, mending Papa sama
Mama ganti baju dulu, istirahat dulu, mandi dulu atau
apa gitu dulu.
Perkenalannya kita lanjutin nanti. Lepas-lepasan rindu-rinduannya nanti lagi.
Oke!” susah payah Sandi menarik kedua orang itu. Mereka berdua sempat merajuk,
tapi Sandi lebih kuat. Selain kepalanya mulai nyut-nyutan, ia juga mulai malu
dengan tanggapan teman barunya ini. Yah... walaupun Army tidak sepenuhnya
menganggap aneh kedua orang tua Sandi. Malah, ia iri. Bukankah itu adalah
ekspresi orang tua yang seharusnya diberikan pada anaknya? Entah sudah berapa
lama ia tidak mendapatkan ekspresi seperti itu.
Begitu mengunci pintu, Sandi menghela
nafasnya. Berbalik dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena Army yang
hanya tertawa kecil setelahnya. “See? Seharusnya elo siapin sumbat telinga
tadi, kan?” celetuknya. Army hanya tertawa, tak mau berkomentar apapun.
“Kalo udah ganti baju, mereka pasti lebih
normal dikit. Biasa, bawaan fashion.
Jadi agak sedikit soak. Mungkin karena efek jetleg
juga. Haha...” Sandi tertawa kikuk. Army mengangguk dengan tawa yang masih
tersisa. Jadi begini suasana keluarga Sandi yang sesungguhnya.
***
Selembar kertas di depan kaca itu diamatinya
betul-betul. Untuk pengamatan yang begitu teliti, ada raut gugup di sana.
Mungkin ia juga ragu untuk masuk ke dalam. Namun, tatapan matanya yang sayu
memberinya dorongan untuk melakukannya. Setelah menarik nafas dalam-dalam dan
menghembuskannya dengan cepat, ia mencoba memasang senyuman. Barulah ia membuka
pintu kaca itu.
“Selamat datang!” sapa seorang pegawai di
sana. Seorang cewek, rambut pendek agak coklat pendek, kira-kira di bawah
telinga pas. Wajahnya yang kecil sangat cocok dengan bentuk rambut bulatnya
itu. Apa dia mengecat rambutnya?
“Apa Anda sudah melakukan reservasi?” tanyanya
lagi. Senyumannya yang tipis tidak mau hilang. Sekarang giliran Derwan yang
bingung. Dia kan kemari bukan untuk jadi pelanggan.
“Ehm, anu...” tangannya menggaruk kepalanya
sendiri. “Tadi di depan ada tulisan lowongan pekerjaan, jadi saya...”
“Oh! Apa kamu mahasiswa?” tiba-tiba senyum
tipis di wajah cewek itu berubah begitu lebar. Tapi tak ada waktu bagi Derwan
untuk terkejut. Karenanya ia langsung mengangguk. Hal yang membuatnya terkejut
selanjutnya adalah, karena tiba-tiba cewek ini langsung menarik tangannya.
Dengan lari kecil ia menggeret Derwan memasuki sebuah ruangan dengan tulisan Staff Only di pintunya tadi. Ia tak
sempat protes.
“Kita dapat pegawai!” seru cewek ini. Derwan
melongo. Ia baru sadar kalau ada sebuah meja dan kursi di depan cewek ini
setelah ia melongok ke depan, tepatnya di balik cewek ini. Ada sebuah balok
kecil di atas meja. Ada tulisannya Direktur
Utama. Saat itu juga ekspresi Derwan berubah menjadi: Apa-apaan ini? Kenapa begitu? Karena waktu kursi yang sebenarnya
seperti kursi dosen di kelasnya itu berputar berbalik, hanya seorang laki-laki
yang sepertinya sebaya dengannya. Jadi direktur utamanya seperti ini? Apa dia
ini mahasiswa? Derwan bertanya-tanya. Kalau diberi efek, ada beberapa tanda
tanya kecil-kecil yang berputar-putar mengelilingi kepalanya. Apa, dah -_-
“Oke, jadi siapa nama kamu?” suara laki-laki, ehm, ganti cowok aja, deh. Suara cowok
ini terdengar berat. Atau mungkin hanya dibuat-buat. Karena kedua tangannya
menutupi mulutnya, hingga menyisakan dagunya yang lancip. Entah kenapa Derwan
merasa bosan melihat tingkahnya yang sepertinya berlagak sok misterius. Padahal
rambutnya lurus di belah dua, dibuat seklimis mungkin. Ada jerawat besar yang
nongkrong di hidung sedangnya, maksudnya
enggak pesek, enggak terlalu mancung juga serta kacamata berukuran sedang. Ketimbang
direktur utama, Derwan lebih senang menganggapnya sebagai anggota boyband tahun
90-an.
“Harfi! Harfi! Enggak usah pake
wawancara-wawancaraan segala! Kita ini kekurangan pegawai!” brak! Cewek ini tiba-tiba berubah
derastis. Rok pendeknya yang tadinya Derwan kira menunjukkan sifat feminim,
ternyata tak beda jauh dengan teman sekelas Falin yang hampir mirip seperti
ekor Falin. Siapa lagi kalau bukan Tria?
[Tria: Bentar! Jadi kenapa gue dibilang ekor?]
[Penulis: Abisnya elo kalau Falin pergi
kemana-mana, ngikut mulu, sih!]
[Tria: Enggak juga! Menurut elo kalau Falin ke
WC gue ngikut?]
[Penulis: Bisa aja, kan? Elo nemenin, jadi...]
[Derwan: Maaf, bisa kembali ke scene saya?]
#Abaikan mereka!
Derwan mengambil satu langkah mundur. Dan
bocah yang bernama Harfi itu langsung kembali ke sifat normalnya, mungkin
orangnya sedikit kikuk. Kenapa mungkin terus daritadi? Karena dia adalah tokoh
baru, jadi penulis belum memberinya banyak sifat. -_-
“Pa, paling enggak gue harus tahu nama dia
kan, Rose?” ujarnya terbata-bata.
“Berapa kali gue bilang, jangan panggil gue
kayak gitu!” teriakan cewek ini kembali terdengar. Derwan tak menyangka,
suaranya yang kecil tadi bisa sekeras ini. Sekarang ia mulai tak yakin,
benarkah ia akan kerja di sini? Dengan kedua orang ini?
“Ehem!” cowok bernama Harfi itu membenarkan
rompinya, juga kerah kemejanya kotak-kotaknya. “Rose berarti Mawar, Mawar
adalah nama kamu. So, what the different?” ucapnya santai.
“Huft!” Mawar meniup poninya. Ia berbalik,
kembali dengan senyum lebarnya. Rasanya sifat tomboynya tadi tak pantas kalau
diklopkan dengan wajahnya yang begitu feminim ini. “Hai! Maaf, atas keributan
tadi. Dia memang gitu. Biasa, lagi PMS mungkin.” Siapa yang PMS sebenarnya? -_-
“Namaku Mawar. Ehm, karena kamu mahasiswa, aku
pake gue-gue elo-elo aja, ya? Nama gue Mawar, Fakultas Pertanian,
Agroteknologi, semester empat. Nama elo siapa?” tangannya terulur, sangat
ceria. Derwan sempat kikuk dibuatnya. Tapi akhirnya ia sadar, gadis ini pasti
menyenangkan. Karenanya ia membalas senyum itu.
“Derwan. Fakultas Keguruan, Pendidikan
Olahraga, semester empat,” Derwan memperkenalkan dirinya persis dengan cara si
Mawar memperkenalkan dirinya tadi.
“Wah, berarti kita sama, dong,” serunya
senang. “Oh, iya. Si mata empat ini, direktur utama kita namanya Harfi, sekelas
sama gue. Tapi dia lebih muda satu tahun dari kita, tapi mukanya boros, kan?”
“Yang itu kenapa harus disebutin juga, sih?”
Harfi menundukkan kepalanya kesal. Derwan hanya tersenyum.
“Jadi, selamat bergabung di kedai coklat ini,
Derwan! Elo bisa mulai bekerja besok sore. Oke?” tambah Mawar lagi. Derwan
mengangguk senang.
***
“Elo dimana?” tanpa basa-basi nasi basi enggak enak dimakan, pertanyaan ini
langsung terdengar begitu Falin mengangkat telpon dan bertanya, “Iya, Say?”
“Perpus.”
“Ngapain?”
“Nyari anakan marmut! Ya nyari bukulah! Pake
nanya lagi!” sentak Falin sebal.
“Oke, gue ke sana.”
“Mau nga...” tut... tut... tut... belum lengkap pertanyaan ini, Sandi memutus
panggilannya begitu saja. Tak heran kalau Falin langsung mencibirkan bibirnya
sebal. Tria di yang sedang nungging
mencari buku di rak paling bawah menanggapinya dengan kata tanya, “Siapa?”
“Saya,” jawab Falin seraya memasukkan handphone-nya ke saku kemejanya.
“Kenapa?” tanya Tria lagi, mulai berjongkok.
Pegal dengan posisinya.
“Entah. Mau ke sini katanya.” Falin
mengedikkan bahunya. Tria hanya mengangguk. Tak tertarik untuk membahas telpon
tadi. Ia sudah menemukan buku yang ia cari untuk dijadikan bahan refrensi
presentasi kelompoknya minggu depan. Kumpulan
Puisi Sejuta Penyair Indonesia.
“Yak! Gue udah nemu!” serunya senang sambil
berdiri. “Gue ke ruang baca duluan, ya?” ujarnya. Falin hanya mengangguk. Lebih
baik dia sendirian, daripada barang-barang mereka di ruang baca tadi kelamaan
ditinggal.
Lima menit ditinggal Tria, Falin merasakan
seseorang mengusap kepalanya. Ia mendongak, lantaran orang itu sudah berdiri di
sampingnya. Dengan senyum tipisnya, ia mensejajarkan wajahnya dengan Falin.
“Hai!” sapanya santai. Tapi Falin menanggapinya lain. Sejurus kemudian, plak! Telapak tangannya berhasil membuat
cap di wajah orang yang tak lain dan tak bukan, ini asli bukan sulap bukan
sihir, adalah Sandi. Dia cepat juga sudah sampai di sini. Padahal jarak dari
Fakultas ke perpus cukup jauh. Belum parkir yang merepotkan, mundur salah, maju
salah, dan kalau mobil jelas tak bisa ke samping, kan? Pembahasan ini terasa tak penting, kan?
“A, aduh! Kira-kira dong, Lin!” sentak Sandi
tak terima. Tangannya sibuk mengelus-elus wajahnya yang terasa panas untuk
beberapa saat. Karena ia langsung kikuk sebab orang di sampingnya langsung
menyentaknya, “Sst!” dan seketika ia langsung diam.
“Mau ngomongin apaan?” bisik Falin, antisipasi
kalau orang berkacamata tebal di samping Sandi itu akan menghardik mereka lagi.
“Ehm... elo udah selesai belum nyari bukunya?”
tanya Sandi melirik beberapa buku yang dibawa Falin. Cukup banyak, bahkan
sampai hampir menutupi dagunya.
Falin menengok bawaannya. Belum sempat
pertanyaan Sandi tadi terjawab, tangan Sandi terulur. Mengambil alih buku-buku
yang seharusnya cukup berat untuk ia bawa sendiri itu. Dan tanpa izin darinya,
Sandi sudah ngeloyor begitu saja ke ruang baca. Falin mengambil satu lagi buku
yang paling mudah ia jangkau. Kemudian barulah ia berlari kecil mengikuti
Sandi.
Sampai di sana, Tria menurunkan bukunya.
Melihat seorang Sandi berjalan dengan setumpuk buku sastra di tangannya. Di
belakangnya ada Falin yang persis serupa dengan seorang anak yang ditinggal
bapaknya jalan duluan. Tak sadar senyumnya terbentuk. Bukankah mereka terlihat cocok? Pikirnya begitu saja.
“Hai, Tria!” sapa Sandi, dengan volume suara
yang sudah ia kecilkan. Membalas sapaan itu Tria hanya tersenyum. Sandi tak
canggung untuk mengambil tempat duduk tepat di depannya. Sedangkan Falin yang
baru datang mempoutkan bibirnya kesal dan duduk di samping kanan Sandi.
“Oy! Oy! Elo kerajinan banget, ya? Ngapa
enggak sekalian rak buku bagian sastra bukunya elo bawa semua kemari?” ejek
Tria melihat buku-buku yang sudah Sandi turunkan ke atas meja. Menumpuknya
menjadi beberapa bagian agar tidak menutupi pandangannya dari Tria.
“Eih... gue enggak terlalu paham sama teori
bagian kelompok gue. Kalau refrensinya banyak, siapa tahu ide gue muncul,”
jawab Falin. Sandi belum tertarik untuk masuk ke pembicaraan mereka. Ia menarik
laptop dengan wadah berbentuk Keroro
di dekat Tria. Membukanya tanpa ragu karena ia paham betul itu adalah milik
Falin. Tria hanya meliriknya sekilas, perbincangannya dengan Falin belum
selesai.
“Anggota kelompok elo pergi kemana?” tanyanya
kembali.
Falin mengedikkan bahunya. Setelah satu buku
yang ia bawa tadi ia buka, melihat sebentar daftar isinya, ia menghela nafasnya
kasar. Barulah kepalanya langsung menoleh ke kanan. Sandi sudah mengaktifkan
laptop miliknya. Bukan karena Sandi dengan seenak dengkulnya membuka
folder-folder miliknya, makannya ia terlihat kesal seperti itu. Tapi, anak ini
sejak datang belum memberitahukan perihal kedatangannya kemari. Tak mungkin kan
kalau mau sekedar menganggu aktifitasnya mengerjakan tugas sekarang? Pasti ada
sesuatu yang ingin dibicarakannya.
“Jadi elo mau ngapain kemari?” tanya Falin
agak ketus. Sandi tak menjawab. Pikirnya autis ke laptop milik Falin. Padahal
ia hanya membuka tutup folder-folder di sana. Tak lebih.
Drrt!
Drrt! Tiba-tiba handphone
Tria di atas meja bergetar. Buru-buru Tria mengangkatnya. “Iya? Oke, gue ke
depan,” ujarnya menerima telpon dari seberang sana. Tanpa berkata-kata, ia
memberi isyarat pada Falin untuk pergi sebentar. Falin hanya mengangguk. Toh,
masih ada Sandi di sini.
Begitu Tria pergi, ia kembali ke bocah satu
ini. Tangannya menyikut lengan Sandi, malas memanggilnya lagi dengan bibir.
“Hah... belum juga nemu folder yang pas. Udah
ganggu aja elo!” keluhnya. Tapi ia tak mau membuat Falin lebih kesal lagi.
Karenanya ia menggeser kursinya. Mengarahkan tubuhnya ke arah Falin. “Elo
enggak dapet kabar apa-apa dari Derwan?” tanyanya to the point.
Falin malah bingung. Melihat ekspresi itu,
Sandi menghela nafasnya. “Jadi elo juga enggak tahu, ya?” desahnya. Ia kembali
ke laptop Falin. Kali ini Falin yang menggeser kursinya. Menaruh dagunya ke
atas tangan Sandi. Memaksa Sandi untuk meliriknya. Bukankah itu artinya Sandi
harus menjelaskan lebih banyak?
“Kemaren gue ngeliat dia enggak enak banget
mukanya pas lagi nelpon. Gue rasa ada masalah di rumahnya,” jelasnya. Falin
mengangkat kepalanya. Matanya bergerak ke atas. Mungkinkah ia sedang memikirkan
sesuatu?
“Rumahnya tutup dua hari ini,” katanya
kemudian.
“Oh, ya?”
“Ehm. Enggak ada orang belakangan ini. Toko
rotinya juga tutup, bahkan lebih dari seminggu yang lalu.”
“Yang kayak gitu baru elo omongin ke gue
sekarang?” bibir Sandi monyong. Sebal
dengan tuturan Falin yang menurutnya terlanjur polos.
“Kadang toko rotinya emang bisa tutup beberapa
hari. Biasanya lagi kehabisan bahan. Elo kan tau sendiri nyokapnya Darwin ambil
bahannya dari luar kota. Tapi, karena gue denger elo bilang mungkin ada masalah
di rumahnya, gue juga jadi curiga. Karena, dua hari sejak rumahnya itu sepi dan
tutup, Darwin enggak pernah kelihatan di rumah. Pas gue tanya waktu papasan di
kampus, dia bilang orang tuanya lagi ke tempat kakeknya di kampung. Desi nginep
di tempat temennya, dan dia juga bilang nginep di tempat temen sekelasnya. Tapi
gue ngerasa ada yang ditutupin gitu, deh,” jelas Falin panjang lebar. Reaksi
dari Sandi persis seperti dugaannya. Ada wajah prihatin di sana. Ya, Sandi
pasti mengkhawatirkan Darwin. Apalagi kalau mengingat apa yang sudah dilakukan
keluarga Darwin padanya dulu.
“Gue nanti cari tahu lagi, deh,” putusnya
final. Ia kembali ke laptop Falin. Kali ini ia menyudahi pencarian foldernya.
Ia membuka mozilla. “Sandi elo apa?”
tanyanya kemudian. Falin yang tidak sadar Sandi sudah mengganti topik
pembicaraan menaikkan alisnya.
“Hm?”
“Sandi wifi
elo. Sandi gue udah terkunci di laptop gue, jadi enggak bisa digunain di laptop
lain.”
“Eh... anu... itu...” tiba-tiba Falin
tergagap. “Sa, sandi, a, apaan? Nama elo, kan?” tanyanya asal.
“Hah... maksud gue password! Password wifi elo apa?”
“Password? Iya, Sandi,” muka Falin tiba-tiba
berubah merah. Sandi malah menggaruk-garuk kepalanya bingung dengan sikap Falin
ini. “Sandi itu... password... hint, kan?”
“Iya, password! Sandinya apaan? Hint, hint!
Ah, elo mah!” oke, Sandi mulai kesal sekarang.
“I, itu... ma, mau ngapain, sih?”
“Baca komik online. Buruan, ah!”
“Sandi, deh! Nama elo!”
“Ya ampun, Falin!”
“Ssst!” Sandi tersentak. Aduh... ia lupa
sekarang dia sedang berada di tempat keramat yang bahkan tak mengijinkanmu untuk
bicara berfrekuensi 1 Hz sekalipun.
“Ini...” Falin berdiri, menekan keyboard, menuliskan passwordnya
sendiri. Setelah itu dia pergi. Sedangkan Sandi melongo. Barusan Falin mengetik
Saya.
“Ini...?”
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment