Wednesday, January 15, 2020

Injury in Past


Menjadi bagian dari keluarga Sandi, meskipun hanya sementara, rasanya hampir mengubah kebiasaan hidup Army. Bisa tinggal di rumah yang sebegitu besarnya, meski hanya ber-tittle “numpang”, tak pernah terbayang di otaknya sejak pertama kali ia mengerti dunia sampai saat ini. 
Tidur di atas kasur yang ia pastikan super mahal, dengan kamar luas dan perabot yang cukup lengkap, bahkan berlebih, ibarat keong sawah yang biasanya bergumul dengan lumpur yang bau mendapat cangkang baru yang terbuat dari emas. Amazing!


Bahkan sekarang ini, saat ia sudah duduk di sebuah kursi dengan baju putih yang membalutnya sehingga kelihatan mewah, dengan hidangan yang rasanya baru pertama kali ia lihat di matanya, ia masih tak percaya. Benarkah aku ada di sini? Itulah yang sejak tadi ia pikirkan di kepalanya. Yang ia kenakan sekarang adalah setelan tuxedo milik Sandi. Itu pun karena dipaksa mamanya Sandi untuk mengenakannya. Kalau tidak, mungkin ia akan memakai kaos oblong dan jeans bolong. Karena tak terpikir bahwa ia pasti akan malu jika benar-benar mengenakan setelan yang ia pikirkan sebelum berangkat kemari.

Restoran super mewah, di Jakarta Pusat. Mungkin saja di kawasan elit tempat para konglomerat, pemegang saham perusahaan besar, dan jutawan lainnya. Ia percaya bahwa ada sebuah tempat yang seperti ini, yang mendapat bintang sampai lima biji. Tapi ia tak menyangka bahwa ia bisa sampai di sini. Lihat saja bagaimana para pelanggan dijamu dengan alunan musik, yang walaupun terdengar asing untuknya, tapi sumpah enak didengar! Bagaimana cara pelayan berseragam sama itu melayani pelanggan-pelanggannya dengan penuh khidmat, hampir mirip dengan suasana pengantin yang tengah mengadakan ijab qobul. Waw! Ini semua terlalu luar biasa untuknya. Apalagi melihat temannya, siapa lagi kalau bukan Sandi, bersikap biasa saja. Menyadarkannya, Sandi benar-benar berbeda darinya.

Steak medium cook ada di hadapannya. Ia masih canggung memegang garpu dan pisau di tangannya. Meski ia sudah berhasil menelan beberapa potong. Tetap saja, rasanya terlalu luar biasa baginya. Semilir AC mengelus-elus ubun-ubun kepalanya. Ini benar-benar nikmat! Tapi ia tak akan berani untuk bermimpi bisa merasakan ini selamanya.

“Sebentar lagi libur semester, kan? Mau liburan kemana?” suara mamanya Sandi akhirnya terdengar. Setelah mereka sejak tadi hanya senyap.

“Aduh, Ma. Yang ditanya bukannya nilai malah liburan!” celetuk Sandi ketus. Army kalem, jadi pendengar saja.

“Loh, anak Mama kan pinter. Masalah nilai mah, biar kamu aja yang ngurusin, San. Mama terima  beres aja.” Mendengar jawaban ini, Sandi manyun-manyun. Army tersenyum karenanya.

“Mau kamu nilainya kecil juga, enggak ngaruh. Papa bakalan ngrekrut kamu tanpa ngeliat ijazah!” timpal Papanya.

“Gimana sih, Pa? Care dikit kek sama kehidupan Sandi.”

“Sayang, anak Mama sama Papa kan cuma kamu. Nanti kalau Papamu ini pensiun, yang mau nerusin perusahaannya siapa? Jadi, lebih baik sekarang kamu cari cewek, kelar kuliah langsung married. Biar Mama buru-buru punya mantu, punya cucu. Nah, kalo udah punya cucu kan, Mama udahan enggak berkarir lagi. Gantian, karirnya Mama kasih ke istri kamu itu,” cerocos Mamanya ikut ambil bagian.

“Mama! Sandi ini masih muda. Udah disodorin perusahaan segala. Disuruh nikah segala. Masih panjang perjalanan anakmu ini, Ma! Lagian, siapa juga yang mau  nerusin perusahaan Papa? Males!”

“Emang kamu mau jadi apa?” tanya sang Papa.

“Sandi pengen jadi animator, punya perusahaan tv kartun terkenal, lebih terkenal dari perusahaan-perusahaan animator di Jepang. Ngangkat cerita dari komikus-komikus Indonesia, biar komikus-komikus kita enggak kalah saing sama Jepang!” jawaban Sandi menggebu-gebu. Yang tak disangka Army, Papa dan Mamanya tertawa lepas. Rasanya tak mencerminkan kaum bangsawan seperti di tv-tv itu. Tapi melihat sekitar, tak ada yang merasa tertarik atau merasa terganggu dengan meja mereka. Bukankah itu artinya sikap mereka dengan tawa semacam tadi sudah biasa? Atau memang karena moral antipati penduduk kota ini memang sudah tak ada? Ah, rasanya tak perlu dipikirkan.

“Oke-oke! Nanti biar Papa jual aja perusahaannya, terus Papa sumbangin ke tempat yang membutuhkan.”

“Uhuk!” Army tiba-tiba tersedak. Baru mereka bertiga langsung fokus padanya. Mungkin heran juga kenapa dia tiba-tiba bisa tersedak  begitu saja. Mama Sandi yang paling dekat tempat duduknya langsung ngambil aksi. Segelas air putih sudah disodorkannya.

“Pelan-pelan dong makannya, Mi,” ujar Mama.

“Ehem, makasih, Tante.” Gila! Enak banget nih orang ngomong perusahaan asal jual aja? Pikir Army kemudian. Oh... jadi karena itu Army tersedak. Tapi iya juga, sih. Perusahaan, entah sebesar apa itu, tapi yang jelas besar, dong. Buktinya, bisa membangun rumah sebesar itu. Pasti dibangun dengan susah payah, waktu yang lama dan... pokoknya itu sayang banget kalau sampai dijual dan disumbangkan begitu saja. Mungkin ini saatnya membenarkan kata-kata Sandi waktu itu. Kalau orang tuanya hanya suka mengoleksi benda-benda untuk investasi. Bukan uang semata.

“Udah, ah! Balik lagi ke liburannya. Kamu mau kemana?” Mamanya balik ke topik awal.

“Kemaren kamu udah ke Paris. Besok kamu ke Singapur aja, ya? Yang deket. Biar enggak lama-lama. Repot kalo Mamamu ini udah galau gara-gara kepisah sama kamu lama-lama!” celetuk Papa.

“Terserah, deh,” jawab Sandi, seperti tak peduli.

“Ajak Fahmi lagi, ya? Derwan juga. Eh, nak Army juga ikut, ya?” tawar Mamanya, menepuk-nepuk pundak Army.

Army nampak diam sebentar. Mungkin ambil pikiran dulu. “Kayaknya Army enggak usah ikut deh, Tante,” tolaknya halus.

“Loh, kenapa?” oke, pertanyaan sesingkat ini berhasil mengejutkannya. Bukan karena pertanyaan ini fenomenal, aneh bin bisa dijadikan sebagai keajaiban dunia yang ke-8. Melainkan karena baik si Papa, Mama bahkan Sandi mengujarkannya secara serempak. Hampir mirip paduan suara yang semuanya hanya mengambil nada do dengan suara 1. Anah, gue ngomong apaan, sih? -_-

“Itu... Army rasanya udah kapok jalan-jalan ke luar negeri. Ngerasa beda aja sama budaya lokal. Waktu di Jepang kemarin juga rasanya aneh, enggak betahan gitu jadinya,” ujarnya ngasal. Padahal sebenarnya dia merasa tak enak saja. Tadi saja kalau tak dipaksa Sandi, dia mana mau ikut kemari hanya sekedar untuk mengisi perut. “Gue enggak ada temennya. Elo tahu sendiri bonyok gue kalau ngelantur kayak mana,” kata Sandi tadi sebelum berangkat. Tentunya dengan segala tetek bengek kalimat lainnya juga. Intinya itu saja yang masih gue inget. -_-

Mereka bertiga diam. Sama-sama pasang tampang mikir. Termasuk Sandi. Baru sekarang Army mengakui kalau Sandi memang anak kandung mereka. Mirip alay-nya.

“Ya udah. Kalo kamu enggak mau ke luar negeri, ke Bali aja. Masih di Indonesia, kan? Oke!” suara Mama mengakhiri diamnya mereka. Sandi nampak setuju. Army sebenarnya hampir menolak lagi. Tapi lagi-lagi Sandi terus membujuknya. Mau tak mau ia terpaksa ikut. Oke, paling tidak masih ada Falin dan Derwan. Rasa tak enaknya ia pinggirkan dulu lah. Tak enak juga kalau dibujuk terus-terusan seperti ini.

Setelahnya, percakapan tetap berlanjut. Banyak yang dijadikan bahan pembicaraan. Satu hal yang ditangkap Army kali ini. Orang tua Sandi benar-benar menyayanginya. Sepertinya ia tahu kenapa orang tuanya benar-benar tampak tak ingin pisah dari Sandi walau hanya satu detik saja. Mereka terlalu menikmati waktu-waktu bersama anak tunggalnya ini.

***

Malam semakin larut. Ruangan ini juga mulai sepi. Sepertinya pasien-pasien di tempat tidur yang lain sudah pulas. Hanya ada suara beberapa orang lirih. Itu pun dari luar. Selebihnya hanya suara kipas angin di atas. Atau suara dengkuran seseorang yang entah siapa.

Derwan mengelus kepala Desi pelan. Setelahnya ia menarik selimut. Menutupi tubuh mungil Desi sampai sedada. Niatnya sih tidur. Tapi kantuk sama sekali belum menyerangnya.

Baru saja hampir beranjak dari kursi, tapi dia teringat sesuatu. Kamera Sandi kemarin masih ada di tasnya. Ada foto-foto yang sempat ia ambil. Sandi menitipinya pesan untuk meng-upload­ foto-foto siaran kemarin malam ke twitter dan facebook. Daripada nanti lupa, lebih baik ia lakukan sekarang.
Tasnya yang sejak tadi ia geletakkan di lantai diambilnya. Mengambil laptop dan kamera digital. Selesai menransfer semuanya, ia tak langsung membuka internet. Selain modemnya belum nyontol di laptopnya, foto-fotonya juga harus ia pilih-pilih dulu.

Bibirnya tak lepas dari senyuman ketika melihat bagaimana teman-temannya terpampang di layar laptopnya. Senyum Falin, senyum Army, dan senyuman Sandi. Bukan hanya di dapur siaran, tapi ia juga sempat mengambil foto mereka saat berebut makanan dan bercanda setelah siaran. Tapi senyumnya menghilang ketika melihat beberapa ekspresi Sandi. Bukan senyuman. Lebih mirip seperti cemberut. Beberapa foto tidak menggambarkan apa penyebabnya. Tapi foto-foto selanjutnya ia mulai sadar, Sandi memperhatikan Falin dan Army. Sebelumnya ia tak pernah melihat ekspresi seperti ini di wajah Sandi. Kalau dilihat-lihat, memang Army begitu intim dengan Falin. Bahkan sepertinya sejak kedatangan Army, Falin lebih banyak tersenyum karena bocah itu. Bukan lagi karena Sandi. Pertengkaran tak penting antara Falin dan Sandi juga jadi jarang terjadi. Bahkan rasanya ia tak pernah melihat Sandi dan Falin bermainn catu bersama lagi sekarang.

“Falin... makin deket sama Army, ya?” ah, ia ingat kata-kata Sandi sebelum pulang kemarin.

“Ha?” tanggapnya waktu itu. Mungkin waktu itu dia tak begitu fokus. Apalagi setelahnya Sandi malah bilang, “Enggak,” dan langsung masuk ke mobil. Dan, yah... sekarang ia sadar apa yang dimaksud Sandi waktu itu.

“Hah...” desahnya pelan. Bukankah ini terlalu lama? Kalau dihitung-hitung sudah tiga belas tahun Sandi memendam rasa pada teman kecilnya itu. Yah... meskipun Sandi tak pernah mengatakannya langsung pada Derwan. Tapi itu jelas sekali. Falinnya saja yang keterlaluan. Yang tidak sadar. Kalau analisis Derwan benar juga, Falin pun sepertinya juga punya rasa pada Sandi. Apa mungkin itu sudah berubah sejak kedatangan Army?

***

“Gue ke kamar mandi bentar, ya?” ujar Army begitu mereka berdua sudah masuk di dalam kamar. Sandi hanya mengangguk, lantas langsung melepas setelannya ke ruang ganti. Oke, lebih baik kusebutkan saja itu lemari. Karena memang Sandi dan anggota keluarganya pun menyebutnya sebagai lemari.

Kaos oblong abu-abu dan boxer motif tengkorak yang ia pilih. Begitu selesai, niatnya sih mau keluar. Tapi ada yang menarik perhatiannya. Di sudut ruangan, tepatnya di dekat pintu. Kalau pintu itu dibuka, pasti tak akan kelihatan. Ia mendekat. Ah, ini buku. Sampul birunya tebal, tapi agak lusuh. Cover depannya ada tulisannya Time Line. Penasaran, ia pun membukanya. Karena ia pun tak ingat pernah punya buku seperti ini. Halaman pertama ada foto seseorang sedang bermain gitar putih, sudah cukup usang. Mungkin ini foto lama. Kalau dilihat-lihat, orang ini mirip Army. Hanya sebatas mirip, jelas bukan Army. Jadi apakah ini mungkin milik Army?

Ditaruhnya buku itu di atas koper Army. Ia urung melangkah. Kira-kira apa yang dimaksud kata Time Line tadi? Agak ragu awalnya. Tapi akhirnya Sandi kembali mengambilnya. Membuka beberapa lembar demi memangkas rasa ingin tahunya. Ada hari, tanggal, bulan dan tahun. Kalimat-kalimat awal membawa kata-kata aku. Ah... ini buku harian. “Rahasia pasti,” gumamnya seraya menaruh kembali buku itu.

Tapi baru dua langkah, ia kembali berbalik. Pikirannya satu, yang jelas ada wajah Falin. Kedekatan Army dan Falin, apa mungkin juga tertulis di sini? Tapi apa boleh ia membaca buku harian orang sembarangan? Lagipula foto di depan ini juga bukan foto Army, bisa saja kan ini bukan buku harian milik Army?

Iya, enggak, iya, enggak, iya, enggak, iya, enggak. Tangannya maju mundur. Antara iya dan tidak untuk kembali mengambil buku itu. Kalau diberi efek, ada dua Sandi yang ada di samping kiri kanannya. Sandi putih dengan sayap bidadari dan cincing emas di atas kepala di sebelah kanan. Dan Sandi merah dengan ekor dan senjata trisula hitam di sebelah kiri. Keduanya berdebat untuk memasuki pikiran Sandi.

“Ambil aja. Daripada elo penasaran, kan? Sebenernya si Army itu suka enggak sama Falin,” Sandi merah beraksi.

“Jangan, San. Army kan udah mulai deket sama elo. Kalo elo penasaran, elo bisa tanya langsung sama orangnya. Lagian, itu belum tentu juga buku harian Army,” Sandi putih menimpali.

“Kalo elo nanya langsung, iya kalo Armynya jawab jujur. Kalo enggak? Gimana hayo?”

“Kalo Army nganggep elo sahabatnya, enggak mungkin dia bohong sama elo.”

“Iya kalo dia nganggep elo sahabatnya. Kalo enggak? Buktinya, dia makin ke sini makin deket kan sama Falin?”

“Dia deket sama Falin mungkin lebih menganggapnya sebagai sahabat. Sama kayak kedeketan Derwan dan Falin. Elo enggak pernah cemburu sama Derwan, kan?”

“Itu baru mungkin. Segala kemung...”

“DIAM!!!” teriak Sandi geram dengan perdebatan mereka. Saking terkejutnya, dua Sandi jadi-jadian itu langsung menghilang. Sebenarnya juga karena tiba-tiba pintu lemari terbuka, sih. Menampilkan Army yang cukup heran dengan teriakan barusan.

“Kenapa, San?” tanya Army. Sukses membuat Sandi gugup. Mungkin kalau dihitung-hitung, detak jantungnya ada 500-an lah.

“Ah? E, enggak papa,” jawab Sandi sambil berbalik. Keputusan finalnya, tangannya meraih buku itu lagi. Menyembunyikan di balik punggungnya. “Elo mau ganti, ya?” tanyanya, canggung. Meski heran, Army tetap menjawan. Meski hanya anggukan kepala.

“Oh, oke. Elo masuk aja. Gue mau ke toilet. Au... perut gue sakit,” ujarnya bohong. Dengan jalan mundur, ia mencoba keluar dari sini. “Elo kalo mau tidur, tidur duluan, deh. Gue kayaknya bakalan lama,” tambahnya lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Army, ia langsung ngacir ke kamar mandi. Tak peduli apa yang akan dipikirkan Army nantinya. Yang jelas ia sudah ketar-ketir gak ketulungan. Bahkan ketika membuka buku itu di kamar mandi, tangannya masih gemetaran.

“Gila! Udah kayak  maling apa aja gue,” cibirnya pada dirinya sendiri. Satu persatu, ia baca tulisan-tulisan di buku tebal ini. Tinta pada lembar-lembar pertama sudah hampir memudar. Mungkin buku ini sudah menemani Army sejak lama. Lihat saja warna pinggiran kertas yang sudah mencoklat ini.
Lembar per lambar berhasil dibaca Sandi. Tadinya ia ingin langsung ke ujung saja. Tapi rasa penasaran mengalahkannya. Tulisannya datar. Tidak puitis, tidak juga terlalu lugas. Yang jelas, Sandi memberi banyak ekspresi ketika membacanya.

Tepat di lembaran tengah-tengah, melihat dari tahunnya, itu sudah terjadi sekitar tiga belas tahun yang lalu. Gurat kaget ada di wajah Sandi. Getaran di tangannya bertambah hebat. Bahkan keringat dinginnya keluar. Andai ada yang mengukur tubuhnya sekarang, mungkin sudah jauh di bawah suhu normal. Bahkan getarannya itu menular ke bibirnya.

Buk! Buku itu terjatuh dari tangannya, berbarengan dengan air yang mengalir dari matanya. Dadanya serasa dihantam beton. Kakinya sudah tak mungkin lagi untuk berdiri.

Apa kira-kira yang ada di buku itu?

***

Hampir saja kuku tangan Falin habis ia gigiti kalau saja dosen di depan tidak segera mengakhiri perkuliahan hari ini. Tria yang duduk di sampingnya hanya memasang tampang jengah. Tiga sks, tapi Falin sama sekali tidak fokus sejak tadi. Dia yang biasanya lincah, mengangkat tangan, berceloteh panjang lebar seolah ingin melampaui dosen mata kuliah itu sendiri, sejak tadi hanya seperti itu. Kakinya sama sekali tak bisa diam. Jam di tangannya kalau bisa bilang, dia akan mengatakan, “Gue bosen ngeliatin muka elo bolak-balik ngeliatin gue.”

“Ya, untuk materi selanjutnya ini kalian lanjutkan di rumah, ya?” tutup dosen pria paruh baya di depan. Baru saja dosen itu berdiri, Falin sudah ancang-ancang dari tempat duduknya. Berpikir perkuliahan ini benar-benar berakhir, ia langsung ngacir. Tak peduli Tria yang sejak tadi teriak-teriak menanyakan kemana kepergiannya. Padahal setelah ini kan ada rapat di hima Jurusan.

“Woy, Mi! Mau kemana elo?” suara seseorang dari kelas itu terdengar sama seperti Tria. Tapi tak ada reaksi dari Falin. Ia sudah menghilang di balik pintu, mendahului si dosen malah. Tria menoleh demi melihat siapa pemilik suara tadi. Bara, ketua hima jurusannya. Ia yang mendapat tatapan tanya dari sang ketua hanya mengangkat bahunya. “Gue juga enggak tahu,” ujarnya pelan.

Sementara itu, di dekat parkiran, tiga cowok dengan tampang yang minta dipacari itu mulai nampak letih. Satu yang duduk di bamper depan mobil mendengus berkali-kali melihat jam, memastikan berapa lama mereka sudah menunggu. Setengah jam! Dan bocah yang mereka tunggu sejak tadi belum datang. Ceritanya sore ini, Desi sudah boleh pulang. Tadinya cuma Sandi yang mau ikut, maksudnya kan sekalian mengantar. Tapi karena kuliahnya Army sudah selesai, sekalian ikut. Eh, enggak taunya Falin ikut-ikutan juga mau ikut. Sudah selama ini, tapi dianya malah tak kunjung nongol. Padahal tadi dia yang sibuk memberi wanti-wanti, “Awas, lo! Jangan lama-lama! Gue enggak ada kuliah soalnya.” Tapi dia sendirinya yang telat.

“Udahlah! Tinggal aja tu anak!” teriaknya frustasi. Derwan yang berdiri bersandar di pintu mobil depan di samping Army hanya menoleh sebentar. Toh, walaupun Sandi berkata seperti itu, mana mungkin dia bakalan tega meninggalkan Falin. Meskipun dia sudah mau masuk ke dalam mobil. Tapi begitu Falin terlihat, tergesa dan sambil teriak-teriak, juga lambaian tangannya yang minta ditunggu, ia urung masuk ke dalam. Wajah tampan itu langsung berubah senang. Yah... walaupun hanya sebentar, karena setelah itu ia langsung menghujati Falin dengan seribu umpatan.

“Gila, ya! Elo suruh kita nunggu berapa lama lagi? Hampir jadi debu nunggu elo lamanya ngalahin siput yang jalan ditanjakan!”

“A... aduh... so, sorry... do, dosen gue... ti, tiba-tiba... masuk,” ujarnya terbata-bata. Masih ngos-ngosan. Army dan Derwan yang melihatnya hanya tersenyum tipis.

“Ya udah. Buruan masuk!” ujar Sandi langsung masuk ke dalam mobilnya. Army awalnya berniat duduk di depan, tapi Sandi tiba-tiba meminta Derwan yang mendampinginya menyetir, alias duduk di tempat yang dituju Army. “Sorry, Mi. Ada yang mau gue obrolin sama Derwan,” katanya. Army hanya mengangguk, tanpa merasa tersinggung. Duduk di depan atau belakang menurutnya sama saja. Tapi malah Derwan yang bingung. Masalahnya kan kalau Army duduk di belakang, berarti ia bisa duduk berduaan dengan Falin. Apa yang sebenarnya diinginkan Sandi?

Setelah semuanya masuk, Falin yang nyerocos panjang lebar di dalam mobil. Menceritakan kekesalannya karena dosen yang tiba-tiba masuk tanpa kabar-kabar tadi. Hanya Derwan yang menanggapi. Army kadang-kadang, itu pun hanya seperlunya. Sedangkan Sandi banyak diamnya. Derwan sadar memang akan hal itu. Tapi ia tak akan mungkin menanyakannya sekarang. Melihat bagaimana keadaan wajah Sandi sekarang, ia takut untuk menebak-nebak. Tapi menurutnya, ini bukan karena Army dan Falin yang duduk berdua di belakang. Entah karena apa, ia sendiri juga tak bisa membaca pikiran Sandi.

Belum sempat sampai ke jalan utama, Derwan menepuk bahu Sandi. “Berhenti bentar,” pintanya.
“Kenapa?” tanya Sandi setelah menoleh singkat.

“Udah berhenti dulu,” ulangnya. Falin dan Army juga heran. Apa Derwan mau ke suatu tempat dulu?
Sandi menurut. Di depan mini market di depan, ia berhenti. “Keluar,” pinta Derwan lagi. Pertanyaan yang sama diberikan Sandi padanya. Tapi Derwan tak berniat menjawabnya.

“Ada apaan, sih?” tanya Sandi ketika Derwan membuka pintu di sampingnya. Tak ada niat Derwan untuk menjawab. Ia tarik tangan Sandi untuk keluar dari mobil. “Kenapa, sih? Mau kemana?” tanya Sandi lagi. Derwan kini merespon. Meski hanya helaan nafas. Karena matanya langsung turun ke tangan Sandi yang sudah ia lepaskan. Yah... sejak tadi itu yang ia lihat. Lihatlah bagaimana tangan Sandi gemetaran sejak memegang kemudi. Derwan tak ingin ambil resiko. Ia harus mengembalikan uang Sandi untuk biaya rumah sakit Desi. Dia tak ingin membuat temannya ini harus membayar uang rumah sakit kalau sampai terjadi apa-apa dengan mereka berempat. Dengan keadaan Sandi yang seperti itu, rasanya bocah ini tak mungkin lagi untuk menyetir.

“Gue aja yang nyetir,” tambahnya langsung masuk begitu saja ke dalam mobil.

“He?” sepertinya Sandi belum mengerti kenapa Derwan bersikap seperti itu. Tapi karena Derwan pun juga sudah duduk anteng di bangku kemudi, tak ada pilihan lain. Ia harus mengalah.

Ketika Derwan berubah posisi ke bangku kemudi, saat itulah atmosfer di dalam mobil berubah derastis. Semua diam, takut salah bicara. Tapi tidak dengan Sandi. Perlahan ia mengerti kenapa Derwan menggantikan posisinya. Tangannya yang gemetaran tadi agak berkurang, meski tidak sepenuhnya hilang. Apa yang tertulis di time line milik Army semalam masih memberinya dampak yang cukup hebat. Bahkan saat ia bangun tadi pagi ia masih ada di toilet. Tanpa bisa menutup mata sama sekali. Meski Army cukup heran dengan keadaannya, ia tak langsung bertanya. Karena sikap Sandi pun juga jadi agak sedikit aneh.

Sekitar lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di Rumah Sakit swasta di Jakarta Pusat. Rumah sakit yang cukup besar meski tak terlalu elit. Sampai masuk ke dalam juga tak ada obrolan apapun di antara mereka. Ketika bertemu Desi baru semuanya seolah kembali normal. Meski tak sepenuhnya benar.

“Pangeran!” teriak Desi melihat Sandi yang pertama kali masuk. Sandi tersenyum dan langsung merengkuhnya dalam pelukan. Cukup lama, hingga membuat Derwan makin curiga dengan sikapnya. “Pangeran kangen sama Tuan Putri,” ujarnya lirih seraya melepas pelukannya. Tangannya mengusap ubun-ubun Desi dengan sayang. Caranya berhasil. Ia sedikit tenang. Tapi juga dengan mengabaikan keheranan ketiga temannya yang lain.

“Desi bisa pulang jam berapa?” tanya Falin pada Derwan.

“Jam delapan. Nunggu dokternya ngecek terakhir kali,” jawab Derwan.

“Hai, Sayang!” sapa Falin kemudian beralih ke Desi. Desi pun cukup senang dengan kedatangan Falin di sampingnya. Desi langsung berceloteh panjang lebar. Dengan Sandi dan dengan Falin. Tapi Sandi tak banyak bicara. Ia hanya tersenyum setiap menanggapi kata-kata Desi. Falin mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dengan Sandi. Bukankah dia biasanya selalu yang banyak omong? Apalagi kalau sudah bersama Desi.

Sementara Derwan sibuk memberesi barang-barang Desi, mereka bertiga menonton anime di laptop Falin. Tentu saja karena permintaan sang tuan putri. Sekalian mengusir kecanggungan. Karena Sandi pun tetap betah dengan sikap diamnya.

Satu judul yang dipilih Desi Ouran Host Club. Beberapa adegan berhasil membuat Desi tertawa renyah. Tapi tidak dengan Sandi. Wajahnya pucat, benar-benar serupa dengan mayat. Derwan yang sadar akan hal itu melihat apa yang ditampilkan laptop Falin.

“Emang kalo cowok sama cowok boleh pacaran ya, Kak?” tanya Desi polos.

“Loh! Kok gitu?”

“Itu. Masa yang mukanya mirip itu kayak orang pacaran, kan?”

“Haha... itu gak pacaran, Sayang. Itu karena kakak sama adeknya sayang banget. Sama kayak Desi sama Kak Derwan. Desi sayang kan sama Kakak?” tanggap Falin. Desi menjawabnya dengan anggukan kepala. Tapi baru saja Falin ingin berkata lagi, Derwan menyikut lengannya. Matanya menunjuk Sandi di sebalah kanan Desi. Falin mengikuti arah matanya. Barulah ia sadar apa yang dimaksud Derwan. Army yang masih orang baru menyadari kode-kode-an mereka berdua. Apalagi setelah itu Sandi bangkit dan keluar dari ruangan. Ditambah dengan wajah Falin dan Derwan yang merasa bersalah.

“Ada apaan, sih?” tanya Army memberanikan diri. Semuanya cukup terkejut dengan pertanyaan ini. Tentu saja Desi tidak, karena ia masih fokus dengan tontonannya.

“Enggak papa, kok.” Jawab keduanya, hampir serempak. Alih-alih mengalihkan perhatian Army, Falin beralih ke Desi. Sedangkan Derwan kembali menyibukkan diri dengan barang-barang adiknya. Terpaksa, Army harus menelan rasa penasarannya sendiri.

***

Pulangnya, Army yang diminta Derwan untuk mengantar Falin. Kunci mobil Sandi masih ada di tangannya. Sandinya malah entah pergi kemana. Desi terpaksa tinggal semalam lagi.

“Sorry, ya? Ngerepotin,” ujar Falin begitu mereka sudah ada di jalan.

“Em... enggak papa, kok. Masa iya elo pulang sendirian. Udah malem juga. Taksi juga pasti udah susah nyarinya,” jawab Army. Falin hanya tersenyum.

“Hah...” desah Falin pelan. Bohong kalau Army tidak tertarik dengannya. “Kenapa?” jelas pertanyaan ini yang keluar. Tapi Falin tak menjawab. “Sandi, ya?” tebaknya. Terlanjur tepat. Falin hanya diam. Tapi ekspresinya membenarkan jawaban itu.

“Boleh gue tebak lagi?” tambah Army. “Sandi enggak suka anime tadi, kan? Soal... cowok sama cowok?” mendengar pertanyaan ini Falin mendelik.

“Kok elo bisa tahu?” tanyanya cepat. Tapi jawaban Army hanya gedikkan bahu. “Nebak aja,” katanya kemudian.

Falin diam sebentar. Mungkin hatinya ketar-ketir, antara harus cerita pada Army atau tidak. Tapi rasanya, kalaupun ia cerita pada Army juga tak akan masalah. Sekalian, mungkin ia juga bisa lega.

“Jadi ceritanya...”

Oke! Gue bikin flash back mode on aje, ye?

Falin baru saja keluar dari sekolahnya. Sejak keluar dari kelas tadi, mukanya sudah ditekuk. Lantaran Derwan lagi-lagi meninggalkannya. Mulutnya komat-kamit menghujat Derwan yang sudah pulang duluan. Lagi-lagi ia harus pulang sendiri.

Baru setengah jalan, ia berhenti. Telinganya mendengar suara tangisan seseorang. Tapi tak ada siapapun di sekitarnya. Di belakang, di depan, di atas, dan gak mungkin juga kalo di bawah. Lagipula dia sedang melewati sebuah gang sempit yang rasanya aneh saja kalau ada orang tidak kelihatan. Sebagai gadis kecil delapan tahun, tentu saja takut langsung menyelimutinya. Tapi dia juga penasaran. Ada suara tak ada rupa. Apa mungkin hantu?

Dipasangnya telinganya betul-betul. Ia coba cari kemana asal suara ini sumbernya. Ada sebuah kardus bekas kulkas di dekat tong sampah di sebelah kanannya. Pelan-pelan, mengambil langkah kucing. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ada warna hitam yang menyembul dari dalam kardus. Ia ragu kalau itu kucing hitam. Apalagi kalau tikus got, tak mungkin sebesar itu. “Item-item, bergerak. Apaan, ya?” batinnya. Pelan-pelan, tangannya meraih bagian atas kardus. 
Membukanya pelan-pelan demi melihat apa yang ada dalam kardus itu.

“Ah!” ia cukup terkejut setelah tahu ada anak manusia di dalamnya. Anak kecil di dalam itu juga kelihatan terkejut. Melihat adanya Falin di sana, tangisnya makin kencang. Kepalanya menggeleng-geleng, seolah takut pada Falin.

“Ka, kamu siapa?” tanya Falin ragu-ragu. Tapi melihat tampangnya yang lusuh, serta lebam yang menghiasi wajah imutnya, hati Falin terenyuh. Tapi bocah itu tak menjawab. Falin bingung harus bagaimana. Akhirnya ia hanya terus mengoceh di sampingnya. Sampai bocah itu benar-benar berhenti menangis. Lambat laun ia mau menerima uluran tangan Falin. Keluar dari dalam kardus. Tapi begitu bocah yang tak lebih tinggi dari Falin ini keluar, Falin yang giliran hampir menangis. Bocah ini benar-benar parah. Lebam di wajahnya tak mewakili bagaimana luka-luka di kaki dan tubuhnya terbentuk. Karena robekan di beberapa bagian pakaiannya, menampilkan darah. Baik yang baru saja keluar ataupun yang sudah kering. Miris, Falin benar-benar tak tahan melihatnya. Falin tak mungkin membiarkannya berjalan. Tapi dia juga tidak bisa menggendongnya.

“Falin,” suara seseorang mengejutkan keduanya. “Derwan!” seru Falin senang melihat kedatangan Derwan.

“Kamu darimana aja? Aku cariin di kelas enggak taunya udah pulang duluan,” tambah Derwan lagi. Tapi belum sempat ia mendapat jawaban dari Falin, matanya tertarik dengan bocah kecil di depan Falin sekarang. “I, ini... siapa?” tanyanya dengan suara yang melirih. Falin tak menjawab. Tapi, wajah kecil Derwan tak beda jauh dengan wajah Falin pertama kali melihat bocah itu sekarang. Tanpa pikir panjang, ia merubah posisi tas punggungnya ke depan. Lalu berjongkok di depan bocah itu. 
“Buruan naik,” ujar Derwan. Meski awalnya ragu, tapi karena melihat Falin menganggukkan kepala, bocah itu jadi juga naik ke punggung Derwan. Dengan susah payah Derwan menggendongnya. Pasalnya tubuh Derwan pun tak beda jauh dari bocah ini. Tapi Derwan tetap bertahan, bahkan sampai mereka tiba di rumah.

“Anak kecil itu?” tanya Army, memotong cerita Falin. Sebenernya cerita gue kan, ya? -_-

“Iya. Itu Saya,” jawab Falin. “Sejak saat itu, Saya tinggal di rumah Derwan. Derwan udah kayak kakaknya. Elo inget kan pas gue sama Derwan cerita soal Derwan yang ngurusin Saya waktu kecil karena Saya sakit?” Army mengangguk. “Selama dua bulan, Saya sama sekali enggak bisa ngomong. Waktu udah bisa ngomong, baru dia bisa cerita apa yang sebenarnya terjadi sama dia.” Sebelum sampai ke puncak cerita ini, Falin menghela nafasnya panjang. “Waktu itu Saya diculik. Dan...” ah... rasanya terlalu berat hanya untuk diutarakan sebentar saja. “...dia mengalami kekerasan seksual. Makannya sampe sekarang dia selalu sensitif kalau berhubungan dengan homo-homoan gitu.” Penjelasan Falin selesai. Ada sedikit perubahan di wajah Army.  Anak kecil yang ia temui di masa lalunya itu? Apakah benar itu memang Sandi?

Sementara Army mengantar Falin, Derwan menilik Sandi. Dia nampak menyedihkan, duduk memeluk kedua lututnya di bangku tunggu paling ujung lorong lantai ini. Derwan tak ingin menghampirinya. Pasti Sandi butuh waktu sendiri. Hanya saja, melihatnya seperti itu seolah melihat Sandi tiga belas tahun yang lalu. Saat bocah itu sama sekali tak mau makan sampai beberapa hari. Bagaimana ia selalu ketakutan ketika mulai memejamkan mata. Sampai ia bisa melihat senyum Sandi di hari ulang tahun Falin yang ke delapan tahun waktu itu. Sebelum itu, Sandi benar-benar mirip seperti sekarang.

“Hah...” hanya desahan ringan yang bisa ia keluarkan sekarang. Luka di masa lalu itu, bagaimana bisa ia sebagai sahabat membantunya untuk sembuh?

Sebelumnya               Selanjutnya

No comments:

Post a Comment