Menjadi bagian dari keluarga Sandi, meskipun
hanya sementara, rasanya hampir mengubah kebiasaan hidup Army. Bisa tinggal di
rumah yang sebegitu besarnya, meski hanya ber-tittle “numpang”, tak pernah terbayang di otaknya sejak pertama
kali ia mengerti dunia sampai saat ini.
Tidur di atas kasur yang ia pastikan
super mahal, dengan kamar luas dan perabot yang cukup lengkap, bahkan berlebih,
ibarat keong sawah yang biasanya bergumul dengan lumpur yang bau mendapat
cangkang baru yang terbuat dari emas. Amazing!
Bahkan sekarang ini, saat ia sudah duduk di
sebuah kursi dengan baju putih yang
membalutnya sehingga kelihatan mewah, dengan hidangan yang rasanya baru pertama
kali ia lihat di matanya, ia masih tak percaya. Benarkah aku ada di sini? Itulah yang sejak tadi ia pikirkan di
kepalanya. Yang ia kenakan sekarang adalah setelan tuxedo milik Sandi. Itu pun karena dipaksa mamanya Sandi untuk
mengenakannya. Kalau tidak, mungkin ia akan memakai kaos oblong dan jeans
bolong. Karena tak terpikir bahwa ia pasti akan malu jika benar-benar
mengenakan setelan yang ia pikirkan sebelum berangkat kemari.
Restoran super mewah, di Jakarta Pusat.
Mungkin saja di kawasan elit tempat para konglomerat, pemegang saham perusahaan
besar, dan jutawan lainnya. Ia percaya bahwa ada sebuah tempat yang seperti
ini, yang mendapat bintang sampai lima biji. Tapi ia tak menyangka bahwa ia
bisa sampai di sini. Lihat saja bagaimana para pelanggan dijamu dengan alunan
musik, yang walaupun terdengar asing untuknya, tapi sumpah enak didengar! Bagaimana cara pelayan berseragam sama itu
melayani pelanggan-pelanggannya dengan penuh khidmat, hampir mirip dengan
suasana pengantin yang tengah mengadakan ijab qobul. Waw! Ini semua terlalu
luar biasa untuknya. Apalagi melihat temannya, siapa lagi kalau bukan Sandi,
bersikap biasa saja. Menyadarkannya, Sandi benar-benar berbeda darinya.
Steak
medium cook ada di hadapannya. Ia masih canggung
memegang garpu dan pisau di tangannya. Meski ia sudah berhasil menelan beberapa
potong. Tetap saja, rasanya terlalu luar biasa baginya. Semilir AC
mengelus-elus ubun-ubun kepalanya. Ini benar-benar nikmat! Tapi ia tak akan
berani untuk bermimpi bisa merasakan ini selamanya.
“Sebentar lagi libur semester, kan? Mau
liburan kemana?” suara mamanya Sandi akhirnya terdengar. Setelah mereka sejak
tadi hanya senyap.
“Aduh, Ma. Yang ditanya bukannya nilai malah
liburan!” celetuk Sandi ketus. Army kalem, jadi pendengar saja.
“Loh, anak Mama kan pinter. Masalah nilai mah,
biar kamu aja yang ngurusin, San. Mama terima
beres aja.” Mendengar jawaban ini, Sandi manyun-manyun. Army tersenyum
karenanya.
“Mau kamu nilainya kecil juga, enggak ngaruh.
Papa bakalan ngrekrut kamu tanpa ngeliat ijazah!” timpal Papanya.
“Gimana sih, Pa? Care dikit kek sama kehidupan
Sandi.”
“Sayang, anak Mama sama Papa kan cuma kamu.
Nanti kalau Papamu ini pensiun, yang mau nerusin perusahaannya siapa? Jadi,
lebih baik sekarang kamu cari cewek, kelar kuliah langsung married. Biar Mama buru-buru punya mantu, punya cucu. Nah, kalo
udah punya cucu kan, Mama udahan enggak berkarir lagi. Gantian, karirnya Mama
kasih ke istri kamu itu,” cerocos Mamanya ikut ambil bagian.
“Mama! Sandi ini masih muda. Udah disodorin
perusahaan segala. Disuruh nikah segala. Masih panjang perjalanan anakmu ini,
Ma! Lagian, siapa juga yang mau nerusin
perusahaan Papa? Males!”
“Emang kamu mau jadi apa?” tanya sang Papa.
“Sandi pengen jadi animator, punya perusahaan tv kartun terkenal, lebih terkenal dari perusahaan-perusahaan
animator di Jepang. Ngangkat cerita dari komikus-komikus
Indonesia, biar komikus-komikus kita enggak kalah saing sama Jepang!” jawaban
Sandi menggebu-gebu. Yang tak disangka Army, Papa dan Mamanya tertawa lepas.
Rasanya tak mencerminkan kaum bangsawan seperti di tv-tv itu. Tapi melihat
sekitar, tak ada yang merasa tertarik atau merasa terganggu dengan meja mereka.
Bukankah itu artinya sikap mereka dengan tawa semacam tadi sudah biasa? Atau memang
karena moral antipati penduduk kota ini memang sudah tak ada? Ah, rasanya tak
perlu dipikirkan.
“Oke-oke! Nanti biar Papa jual aja
perusahaannya, terus Papa sumbangin ke tempat yang membutuhkan.”
“Uhuk!” Army tiba-tiba tersedak. Baru mereka
bertiga langsung fokus padanya. Mungkin heran juga kenapa dia tiba-tiba bisa
tersedak begitu saja. Mama Sandi yang
paling dekat tempat duduknya langsung ngambil
aksi. Segelas air putih sudah disodorkannya.
“Pelan-pelan dong makannya, Mi,” ujar Mama.
“Ehem, makasih, Tante.” Gila! Enak banget nih orang ngomong perusahaan asal jual aja? Pikir
Army kemudian. Oh... jadi karena itu Army tersedak. Tapi iya juga, sih. Perusahaan, entah sebesar apa itu,
tapi yang jelas besar, dong.
Buktinya, bisa membangun rumah sebesar itu. Pasti dibangun dengan susah payah,
waktu yang lama dan... pokoknya itu sayang banget kalau sampai dijual dan
disumbangkan begitu saja. Mungkin ini saatnya membenarkan kata-kata Sandi waktu
itu. Kalau orang tuanya hanya suka mengoleksi benda-benda untuk investasi.
Bukan uang semata.
“Udah, ah! Balik lagi ke liburannya. Kamu mau
kemana?” Mamanya balik ke topik awal.
“Kemaren kamu udah ke Paris. Besok kamu ke
Singapur aja, ya? Yang deket. Biar enggak lama-lama. Repot kalo Mamamu ini udah
galau gara-gara kepisah sama kamu lama-lama!” celetuk Papa.
“Terserah, deh,” jawab Sandi, seperti tak
peduli.
“Ajak Fahmi lagi, ya? Derwan juga. Eh, nak
Army juga ikut, ya?” tawar Mamanya, menepuk-nepuk pundak Army.
Army nampak diam sebentar. Mungkin ambil
pikiran dulu. “Kayaknya Army enggak usah ikut deh, Tante,” tolaknya halus.
“Loh, kenapa?” oke, pertanyaan sesingkat ini
berhasil mengejutkannya. Bukan karena pertanyaan ini fenomenal, aneh bin bisa
dijadikan sebagai keajaiban dunia yang ke-8. Melainkan karena baik si Papa,
Mama bahkan Sandi mengujarkannya secara serempak. Hampir mirip paduan suara
yang semuanya hanya mengambil nada do dengan suara 1. Anah, gue ngomong apaan, sih? -_-
“Itu... Army rasanya udah kapok jalan-jalan ke
luar negeri. Ngerasa beda aja sama budaya lokal. Waktu di Jepang kemarin juga
rasanya aneh, enggak betahan gitu jadinya,” ujarnya ngasal. Padahal sebenarnya
dia merasa tak enak saja. Tadi saja kalau tak dipaksa Sandi, dia mana mau ikut
kemari hanya sekedar untuk mengisi perut. “Gue enggak ada temennya. Elo tahu
sendiri bonyok gue kalau ngelantur kayak mana,” kata Sandi tadi sebelum
berangkat. Tentunya dengan segala tetek bengek kalimat lainnya juga. Intinya
itu saja yang masih gue inget. -_-
Mereka bertiga diam. Sama-sama pasang tampang
mikir. Termasuk Sandi. Baru sekarang Army mengakui kalau Sandi memang anak
kandung mereka. Mirip alay-nya.
“Ya udah. Kalo kamu enggak mau ke luar negeri,
ke Bali aja. Masih di Indonesia, kan? Oke!” suara Mama mengakhiri diamnya
mereka. Sandi nampak setuju. Army sebenarnya hampir menolak lagi. Tapi
lagi-lagi Sandi terus membujuknya. Mau tak mau ia terpaksa ikut. Oke, paling
tidak masih ada Falin dan Derwan. Rasa tak enaknya ia pinggirkan dulu lah. Tak
enak juga kalau dibujuk terus-terusan seperti ini.
Setelahnya, percakapan tetap berlanjut. Banyak
yang dijadikan bahan pembicaraan. Satu hal yang ditangkap Army kali ini. Orang
tua Sandi benar-benar menyayanginya. Sepertinya ia tahu kenapa orang tuanya
benar-benar tampak tak ingin pisah dari Sandi walau hanya satu detik saja.
Mereka terlalu menikmati waktu-waktu bersama anak tunggalnya ini.
***
Malam semakin larut. Ruangan ini juga mulai
sepi. Sepertinya pasien-pasien di tempat tidur yang lain sudah pulas. Hanya ada
suara beberapa orang lirih. Itu pun dari luar. Selebihnya hanya suara kipas
angin di atas. Atau suara dengkuran seseorang yang entah siapa.
Derwan mengelus kepala Desi pelan. Setelahnya
ia menarik selimut. Menutupi tubuh mungil Desi sampai sedada. Niatnya sih
tidur. Tapi kantuk sama sekali belum menyerangnya.
Baru saja hampir beranjak dari kursi, tapi dia
teringat sesuatu. Kamera Sandi kemarin masih ada di tasnya. Ada foto-foto yang
sempat ia ambil. Sandi menitipinya pesan untuk meng-upload foto-foto siaran kemarin malam ke twitter dan facebook.
Daripada nanti lupa, lebih baik ia lakukan sekarang.
Tasnya yang sejak tadi ia geletakkan di lantai
diambilnya. Mengambil laptop dan kamera digital.
Selesai menransfer semuanya, ia tak langsung membuka internet. Selain modemnya
belum nyontol di laptopnya,
foto-fotonya juga harus ia pilih-pilih dulu.
Bibirnya tak lepas dari senyuman ketika
melihat bagaimana teman-temannya terpampang di layar laptopnya. Senyum Falin,
senyum Army, dan senyuman Sandi. Bukan hanya di dapur siaran, tapi ia juga
sempat mengambil foto mereka saat berebut makanan dan bercanda setelah siaran.
Tapi senyumnya menghilang ketika melihat beberapa ekspresi Sandi. Bukan
senyuman. Lebih mirip seperti cemberut. Beberapa foto tidak menggambarkan apa
penyebabnya. Tapi foto-foto selanjutnya ia mulai sadar, Sandi memperhatikan
Falin dan Army. Sebelumnya ia tak pernah melihat ekspresi seperti ini di wajah
Sandi. Kalau dilihat-lihat, memang Army begitu intim dengan Falin. Bahkan
sepertinya sejak kedatangan Army, Falin lebih banyak tersenyum karena bocah
itu. Bukan lagi karena Sandi. Pertengkaran tak penting antara Falin dan Sandi
juga jadi jarang terjadi. Bahkan
rasanya ia tak pernah melihat Sandi dan Falin bermainn catu bersama lagi
sekarang.
“Falin...
makin deket sama Army, ya?” ah, ia ingat kata-kata
Sandi sebelum pulang kemarin.
“Ha?” tanggapnya waktu itu. Mungkin waktu itu dia tak begitu fokus. Apalagi
setelahnya Sandi malah bilang, “Enggak,” dan langsung masuk ke mobil. Dan,
yah... sekarang ia sadar apa yang dimaksud Sandi waktu itu.
“Hah...” desahnya pelan. Bukankah ini terlalu
lama? Kalau dihitung-hitung sudah tiga belas tahun Sandi memendam rasa pada
teman kecilnya itu. Yah... meskipun Sandi tak pernah mengatakannya langsung
pada Derwan. Tapi itu jelas sekali. Falinnya saja yang keterlaluan. Yang tidak
sadar. Kalau analisis Derwan benar juga, Falin pun sepertinya juga punya rasa
pada Sandi. Apa mungkin itu sudah berubah sejak kedatangan Army?
***
“Gue ke kamar mandi bentar, ya?” ujar Army
begitu mereka berdua sudah masuk di dalam kamar. Sandi hanya mengangguk, lantas
langsung melepas setelannya ke ruang ganti. Oke, lebih baik kusebutkan saja itu
lemari. Karena memang Sandi dan
anggota keluarganya pun menyebutnya sebagai lemari.
Kaos oblong abu-abu dan boxer motif tengkorak yang ia pilih. Begitu selesai, niatnya sih mau keluar. Tapi ada yang menarik perhatiannya. Di sudut
ruangan, tepatnya di dekat pintu. Kalau pintu itu dibuka, pasti tak akan
kelihatan. Ia mendekat. Ah, ini buku. Sampul birunya tebal, tapi agak lusuh.
Cover depannya ada tulisannya Time Line.
Penasaran, ia pun membukanya. Karena ia pun tak ingat pernah punya buku seperti
ini. Halaman pertama ada foto seseorang sedang bermain gitar putih, sudah cukup usang. Mungkin ini foto lama. Kalau dilihat-lihat,
orang ini mirip Army. Hanya sebatas mirip, jelas bukan Army. Jadi apakah ini
mungkin milik Army?
Ditaruhnya buku itu di atas koper Army. Ia
urung melangkah. Kira-kira apa yang dimaksud kata Time Line tadi? Agak ragu awalnya. Tapi akhirnya Sandi kembali
mengambilnya. Membuka beberapa lembar demi memangkas rasa ingin tahunya. Ada
hari, tanggal, bulan dan tahun. Kalimat-kalimat awal membawa kata-kata aku. Ah... ini buku harian. “Rahasia
pasti,” gumamnya seraya menaruh kembali buku itu.
Tapi baru dua langkah, ia kembali berbalik.
Pikirannya satu, yang jelas ada wajah Falin. Kedekatan Army dan Falin, apa
mungkin juga tertulis di sini? Tapi apa boleh ia membaca buku harian orang
sembarangan? Lagipula foto di
depan ini juga bukan foto Army, bisa saja kan ini bukan buku harian milik Army?
Iya,
enggak, iya, enggak, iya, enggak, iya, enggak.
Tangannya maju mundur. Antara iya dan tidak untuk kembali mengambil buku itu.
Kalau diberi efek, ada dua Sandi yang ada di samping kiri kanannya. Sandi putih
dengan sayap bidadari dan cincing emas di atas kepala di sebelah kanan. Dan
Sandi merah dengan ekor dan senjata trisula hitam di sebelah kiri. Keduanya
berdebat untuk memasuki pikiran Sandi.
“Ambil aja. Daripada elo penasaran, kan?
Sebenernya si Army itu suka enggak sama Falin,” Sandi merah beraksi.
“Jangan, San. Army kan udah mulai deket sama
elo. Kalo elo penasaran, elo bisa tanya langsung sama orangnya. Lagian, itu belum tentu juga buku harian Army,” Sandi putih menimpali.
“Kalo elo nanya langsung, iya kalo Armynya
jawab jujur. Kalo enggak? Gimana hayo?”
“Kalo Army nganggep elo sahabatnya, enggak
mungkin dia bohong sama elo.”
“Iya kalo dia nganggep elo sahabatnya. Kalo
enggak? Buktinya, dia makin ke sini makin deket kan sama Falin?”
“Dia deket sama Falin mungkin lebih
menganggapnya sebagai sahabat. Sama kayak kedeketan Derwan dan Falin. Elo
enggak pernah cemburu sama Derwan, kan?”
“Itu baru mungkin. Segala kemung...”
“DIAM!!!” teriak Sandi geram dengan perdebatan
mereka. Saking terkejutnya, dua Sandi jadi-jadian itu langsung menghilang.
Sebenarnya juga karena tiba-tiba pintu lemari terbuka, sih. Menampilkan Army yang cukup heran dengan teriakan barusan.
“Kenapa, San?” tanya Army. Sukses membuat
Sandi gugup. Mungkin kalau dihitung-hitung, detak jantungnya ada 500-an lah.
“Ah? E, enggak papa,” jawab Sandi sambil
berbalik. Keputusan finalnya, tangannya meraih buku itu lagi. Menyembunyikan di
balik punggungnya. “Elo mau ganti, ya?” tanyanya, canggung. Meski heran, Army
tetap menjawan. Meski hanya anggukan kepala.
“Oh, oke. Elo masuk aja. Gue mau ke toilet.
Au... perut gue sakit,” ujarnya bohong. Dengan jalan mundur, ia mencoba keluar
dari sini. “Elo kalo mau tidur, tidur duluan, deh. Gue kayaknya bakalan lama,”
tambahnya lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Army, ia langsung ngacir ke kamar
mandi. Tak peduli apa yang akan dipikirkan Army nantinya. Yang jelas ia sudah
ketar-ketir gak ketulungan. Bahkan
ketika membuka buku itu di kamar mandi, tangannya masih gemetaran.
“Gila! Udah kayak maling apa aja gue,” cibirnya pada dirinya
sendiri. Satu persatu, ia baca tulisan-tulisan di buku tebal ini. Tinta pada lembar-lembar pertama sudah hampir
memudar. Mungkin buku ini sudah menemani Army sejak lama.
Lihat saja warna pinggiran kertas yang sudah mencoklat ini.
Lembar per lambar berhasil dibaca Sandi.
Tadinya ia ingin langsung ke ujung saja. Tapi rasa penasaran mengalahkannya. Tulisannya
datar. Tidak puitis, tidak juga terlalu lugas. Yang jelas, Sandi memberi banyak
ekspresi ketika membacanya.
Tepat di lembaran tengah-tengah, melihat dari
tahunnya, itu sudah terjadi sekitar tiga belas tahun yang lalu. Gurat kaget ada
di wajah Sandi. Getaran di tangannya bertambah hebat. Bahkan keringat dinginnya
keluar. Andai ada yang mengukur tubuhnya sekarang, mungkin sudah jauh di bawah
suhu normal. Bahkan getarannya itu menular ke bibirnya.
Buk! Buku itu terjatuh dari tangannya, berbarengan dengan air yang mengalir
dari matanya. Dadanya serasa dihantam beton. Kakinya sudah tak mungkin lagi
untuk berdiri.
Apa kira-kira yang ada di buku itu?
***
Hampir saja kuku tangan Falin habis ia gigiti
kalau saja dosen di depan tidak segera mengakhiri perkuliahan hari ini. Tria
yang duduk di sampingnya hanya memasang tampang jengah. Tiga sks, tapi Falin
sama sekali tidak fokus sejak tadi. Dia yang biasanya lincah, mengangkat
tangan, berceloteh panjang lebar seolah ingin melampaui dosen mata kuliah itu
sendiri, sejak tadi hanya seperti itu. Kakinya sama sekali tak bisa diam. Jam
di tangannya kalau bisa bilang, dia akan mengatakan, “Gue bosen ngeliatin muka
elo bolak-balik ngeliatin gue.”
“Ya, untuk materi selanjutnya ini kalian
lanjutkan di rumah, ya?” tutup dosen pria paruh baya di depan. Baru saja dosen
itu berdiri, Falin sudah ancang-ancang
dari tempat duduknya. Berpikir perkuliahan ini benar-benar berakhir, ia
langsung ngacir. Tak peduli Tria yang
sejak tadi teriak-teriak menanyakan kemana kepergiannya. Padahal setelah ini
kan ada rapat di hima Jurusan.
“Woy, Mi! Mau kemana elo?” suara seseorang
dari kelas itu terdengar sama seperti Tria. Tapi tak ada reaksi dari Falin. Ia
sudah menghilang di balik pintu, mendahului si dosen malah. Tria menoleh demi
melihat siapa pemilik suara tadi. Bara, ketua hima jurusannya. Ia yang mendapat
tatapan tanya dari sang ketua hanya mengangkat bahunya. “Gue juga enggak tahu,”
ujarnya pelan.
Sementara itu, di dekat parkiran, tiga cowok
dengan tampang yang minta dipacari itu mulai nampak letih. Satu yang duduk di bamper depan mobil mendengus
berkali-kali melihat jam, memastikan berapa lama mereka sudah menunggu.
Setengah jam! Dan bocah yang mereka tunggu sejak tadi belum datang. Ceritanya
sore ini, Desi sudah boleh pulang. Tadinya cuma Sandi yang mau ikut, maksudnya
kan sekalian mengantar. Tapi karena kuliahnya Army sudah selesai, sekalian ikut. Eh, enggak taunya Falin ikut-ikutan juga mau
ikut. Sudah selama ini, tapi dianya malah tak kunjung nongol. Padahal tadi dia yang sibuk memberi wanti-wanti, “Awas, lo! Jangan lama-lama! Gue enggak ada kuliah
soalnya.” Tapi dia sendirinya yang telat.
“Udahlah! Tinggal aja tu anak!” teriaknya
frustasi. Derwan yang berdiri bersandar di pintu mobil depan di samping Army
hanya menoleh sebentar. Toh, walaupun Sandi berkata seperti itu, mana mungkin
dia bakalan tega meninggalkan Falin. Meskipun dia sudah mau masuk ke dalam
mobil. Tapi begitu Falin terlihat, tergesa dan sambil teriak-teriak, juga
lambaian tangannya yang minta ditunggu, ia urung masuk ke dalam. Wajah tampan
itu langsung berubah senang. Yah... walaupun hanya sebentar, karena setelah itu
ia langsung menghujati Falin dengan seribu umpatan.
“Gila, ya! Elo suruh kita nunggu berapa lama
lagi? Hampir jadi debu nunggu elo lamanya ngalahin siput yang jalan
ditanjakan!”
“A... aduh... so, sorry... do, dosen gue...
ti, tiba-tiba... masuk,” ujarnya terbata-bata. Masih ngos-ngosan. Army dan Derwan yang melihatnya hanya tersenyum tipis.
“Ya udah. Buruan masuk!” ujar Sandi langsung
masuk ke dalam mobilnya. Army awalnya berniat duduk di depan, tapi Sandi
tiba-tiba meminta Derwan yang mendampinginya menyetir, alias duduk di tempat
yang dituju Army. “Sorry, Mi. Ada yang mau gue obrolin sama Derwan,” katanya. Army hanya mengangguk,
tanpa merasa tersinggung. Duduk di depan atau belakang menurutnya sama saja.
Tapi malah Derwan yang bingung. Masalahnya kan kalau Army duduk di belakang,
berarti ia bisa duduk berduaan dengan Falin. Apa yang sebenarnya diinginkan
Sandi?
Setelah semuanya masuk, Falin yang nyerocos
panjang lebar di dalam mobil. Menceritakan kekesalannya karena dosen yang
tiba-tiba masuk tanpa kabar-kabar tadi. Hanya Derwan yang menanggapi. Army
kadang-kadang, itu pun hanya seperlunya. Sedangkan Sandi banyak diamnya. Derwan
sadar memang akan hal itu. Tapi ia tak akan mungkin menanyakannya sekarang.
Melihat bagaimana keadaan wajah Sandi sekarang, ia takut untuk menebak-nebak.
Tapi menurutnya, ini bukan karena Army dan Falin yang duduk berdua di belakang.
Entah karena apa, ia sendiri juga tak bisa membaca pikiran Sandi.
Belum sempat sampai ke jalan utama, Derwan
menepuk bahu Sandi. “Berhenti bentar,” pintanya.
“Kenapa?” tanya Sandi setelah menoleh singkat.
“Udah berhenti dulu,” ulangnya. Falin dan Army
juga heran. Apa Derwan mau ke suatu tempat dulu?
Sandi menurut. Di depan mini market di depan,
ia berhenti. “Keluar,” pinta Derwan lagi. Pertanyaan yang sama diberikan Sandi
padanya. Tapi Derwan tak berniat menjawabnya.
“Ada apaan, sih?” tanya Sandi ketika Derwan
membuka pintu di sampingnya. Tak ada niat Derwan untuk menjawab. Ia tarik
tangan Sandi untuk keluar dari mobil. “Kenapa, sih? Mau kemana?” tanya Sandi
lagi. Derwan kini merespon. Meski hanya helaan nafas. Karena matanya langsung
turun ke tangan Sandi yang sudah ia lepaskan. Yah... sejak tadi itu yang ia
lihat. Lihatlah bagaimana tangan Sandi gemetaran sejak memegang kemudi. Derwan
tak ingin ambil resiko. Ia harus mengembalikan uang Sandi untuk biaya rumah
sakit Desi. Dia tak ingin membuat temannya ini harus membayar uang rumah sakit
kalau sampai terjadi apa-apa dengan mereka berempat. Dengan keadaan Sandi yang
seperti itu, rasanya bocah ini tak mungkin lagi untuk menyetir.
“Gue aja yang nyetir,” tambahnya langsung
masuk begitu saja ke dalam mobil.
“He?” sepertinya Sandi belum mengerti kenapa
Derwan bersikap seperti itu. Tapi karena Derwan pun juga sudah duduk anteng
di bangku kemudi, tak ada pilihan lain. Ia harus mengalah.
Ketika Derwan berubah posisi ke bangku kemudi,
saat itulah atmosfer di dalam mobil berubah derastis. Semua diam, takut salah
bicara. Tapi tidak dengan Sandi. Perlahan ia mengerti kenapa Derwan
menggantikan posisinya. Tangannya yang gemetaran tadi agak berkurang, meski
tidak sepenuhnya hilang. Apa yang tertulis di time line milik Army semalam masih memberinya dampak yang cukup
hebat. Bahkan saat ia bangun tadi pagi ia masih ada di toilet. Tanpa bisa
menutup mata sama sekali. Meski Army cukup heran dengan keadaannya, ia tak
langsung bertanya. Karena sikap Sandi pun juga jadi agak sedikit aneh.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka
sudah sampai di Rumah Sakit swasta di Jakarta Pusat. Rumah sakit yang cukup
besar meski tak terlalu elit. Sampai masuk ke dalam juga tak ada obrolan apapun
di antara mereka. Ketika bertemu Desi baru semuanya seolah kembali normal.
Meski tak sepenuhnya benar.
“Pangeran!” teriak Desi melihat Sandi yang
pertama kali masuk. Sandi tersenyum dan langsung merengkuhnya dalam pelukan.
Cukup lama, hingga membuat Derwan makin curiga dengan sikapnya. “Pangeran
kangen sama Tuan Putri,” ujarnya lirih seraya melepas pelukannya. Tangannya
mengusap ubun-ubun Desi dengan sayang. Caranya berhasil. Ia sedikit tenang.
Tapi juga dengan mengabaikan keheranan ketiga temannya yang lain.
“Desi bisa pulang jam berapa?” tanya Falin
pada Derwan.
“Jam delapan. Nunggu dokternya ngecek terakhir
kali,” jawab Derwan.
“Hai, Sayang!” sapa Falin kemudian beralih ke
Desi. Desi pun cukup senang dengan kedatangan Falin di sampingnya. Desi
langsung berceloteh panjang lebar. Dengan Sandi dan dengan Falin. Tapi Sandi
tak banyak bicara. Ia hanya tersenyum setiap menanggapi kata-kata Desi. Falin
mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dengan Sandi. Bukankah dia biasanya
selalu yang banyak omong? Apalagi kalau sudah bersama Desi.
Sementara Derwan sibuk memberesi barang-barang
Desi, mereka bertiga menonton anime di laptop Falin. Tentu saja karena
permintaan sang tuan putri. Sekalian mengusir kecanggungan. Karena Sandi pun
tetap betah dengan sikap diamnya.
Satu judul yang dipilih Desi Ouran Host Club. Beberapa adegan
berhasil membuat Desi tertawa renyah. Tapi tidak dengan Sandi. Wajahnya pucat,
benar-benar serupa dengan mayat. Derwan yang sadar akan hal itu melihat apa
yang ditampilkan laptop Falin.
“Emang kalo cowok sama cowok boleh pacaran ya,
Kak?” tanya Desi polos.
“Loh! Kok gitu?”
“Itu. Masa yang mukanya mirip itu kayak orang
pacaran, kan?”
“Haha... itu gak pacaran, Sayang. Itu karena
kakak sama adeknya sayang banget. Sama kayak Desi sama Kak Derwan. Desi sayang
kan sama Kakak?” tanggap Falin. Desi menjawabnya dengan anggukan kepala. Tapi
baru saja Falin ingin berkata lagi, Derwan menyikut lengannya. Matanya menunjuk
Sandi di sebalah kanan Desi. Falin mengikuti arah matanya. Barulah ia sadar apa
yang dimaksud Derwan. Army yang masih orang baru menyadari kode-kode-an mereka berdua. Apalagi setelah itu Sandi bangkit dan
keluar dari ruangan. Ditambah dengan wajah Falin dan Derwan yang merasa
bersalah.
“Ada apaan, sih?” tanya Army memberanikan
diri. Semuanya cukup terkejut dengan pertanyaan ini. Tentu saja Desi tidak,
karena ia masih fokus dengan tontonannya.
“Enggak papa, kok.” Jawab keduanya, hampir
serempak. Alih-alih mengalihkan perhatian Army, Falin beralih ke Desi.
Sedangkan Derwan kembali menyibukkan diri dengan barang-barang adiknya.
Terpaksa, Army harus menelan rasa penasarannya sendiri.
***
Pulangnya, Army yang diminta Derwan untuk
mengantar Falin. Kunci mobil Sandi masih ada di tangannya. Sandinya malah entah
pergi kemana. Desi terpaksa tinggal semalam lagi.
“Sorry, ya? Ngerepotin,” ujar Falin begitu
mereka sudah ada di jalan.
“Em... enggak papa, kok. Masa iya elo pulang
sendirian. Udah malem juga. Taksi juga pasti udah susah nyarinya,” jawab Army.
Falin hanya tersenyum.
“Hah...” desah Falin pelan. Bohong kalau Army
tidak tertarik dengannya. “Kenapa?” jelas pertanyaan ini yang keluar. Tapi
Falin tak menjawab. “Sandi, ya?” tebaknya. Terlanjur tepat. Falin hanya diam.
Tapi ekspresinya membenarkan jawaban itu.
“Boleh gue tebak lagi?” tambah Army. “Sandi
enggak suka anime tadi, kan? Soal... cowok sama cowok?” mendengar pertanyaan
ini Falin mendelik.
“Kok elo bisa tahu?” tanyanya cepat. Tapi
jawaban Army hanya gedikkan bahu. “Nebak aja,” katanya kemudian.
Falin diam sebentar. Mungkin hatinya
ketar-ketir, antara harus cerita pada Army atau tidak. Tapi rasanya, kalaupun
ia cerita pada Army juga tak akan masalah. Sekalian, mungkin ia juga bisa lega.
“Jadi ceritanya...”
Oke! Gue
bikin flash back mode on aje, ye?
Falin baru saja keluar dari sekolahnya. Sejak
keluar dari kelas tadi, mukanya sudah ditekuk. Lantaran Derwan lagi-lagi
meninggalkannya. Mulutnya komat-kamit menghujat Derwan yang sudah pulang
duluan. Lagi-lagi ia harus pulang sendiri.
Baru setengah jalan, ia berhenti. Telinganya
mendengar suara tangisan seseorang. Tapi tak ada siapapun di sekitarnya. Di
belakang, di depan, di atas, dan gak
mungkin juga kalo di bawah. Lagipula dia sedang melewati sebuah gang sempit
yang rasanya aneh saja kalau ada orang tidak kelihatan. Sebagai gadis kecil
delapan tahun, tentu saja takut langsung menyelimutinya. Tapi dia juga
penasaran. Ada suara tak ada rupa. Apa mungkin hantu?
Dipasangnya telinganya betul-betul. Ia coba
cari kemana asal suara ini sumbernya. Ada sebuah kardus bekas kulkas di dekat
tong sampah di sebelah kanannya. Pelan-pelan, mengambil langkah kucing. Rasa
penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ada warna hitam yang menyembul dari
dalam kardus. Ia ragu kalau itu kucing hitam. Apalagi kalau tikus got, tak
mungkin sebesar itu. “Item-item,
bergerak. Apaan, ya?” batinnya. Pelan-pelan, tangannya meraih bagian atas
kardus.
Membukanya pelan-pelan demi melihat apa yang ada dalam kardus itu.
“Ah!” ia cukup terkejut setelah tahu ada anak
manusia di dalamnya. Anak kecil di dalam itu juga kelihatan terkejut. Melihat
adanya Falin di sana, tangisnya makin kencang. Kepalanya menggeleng-geleng,
seolah takut pada Falin.
“Ka, kamu siapa?” tanya Falin ragu-ragu. Tapi
melihat tampangnya yang lusuh, serta lebam yang menghiasi wajah imutnya, hati
Falin terenyuh. Tapi bocah itu tak menjawab. Falin bingung harus bagaimana.
Akhirnya ia hanya terus mengoceh di sampingnya. Sampai bocah itu benar-benar
berhenti menangis. Lambat laun ia mau menerima uluran tangan Falin. Keluar dari
dalam kardus. Tapi begitu bocah yang tak lebih tinggi dari Falin ini keluar,
Falin yang giliran hampir menangis. Bocah ini benar-benar parah. Lebam di
wajahnya tak mewakili bagaimana luka-luka di kaki dan tubuhnya terbentuk.
Karena robekan di beberapa bagian pakaiannya, menampilkan darah. Baik yang baru
saja keluar ataupun yang sudah kering. Miris, Falin benar-benar tak tahan
melihatnya. Falin tak mungkin membiarkannya berjalan. Tapi dia juga tidak bisa
menggendongnya.
“Falin,” suara seseorang mengejutkan keduanya.
“Derwan!” seru Falin senang melihat kedatangan Derwan.
“Kamu darimana aja? Aku cariin di kelas enggak
taunya udah pulang duluan,” tambah Derwan lagi. Tapi belum sempat ia mendapat
jawaban dari Falin, matanya tertarik dengan bocah kecil di depan Falin
sekarang. “I, ini... siapa?” tanyanya dengan suara yang melirih. Falin tak
menjawab. Tapi, wajah kecil Derwan tak beda jauh dengan wajah Falin pertama
kali melihat bocah itu sekarang. Tanpa pikir panjang, ia merubah posisi tas
punggungnya ke depan. Lalu berjongkok di depan bocah itu.
“Buruan naik,” ujar
Derwan. Meski awalnya ragu, tapi karena melihat Falin menganggukkan kepala,
bocah itu jadi juga naik ke punggung Derwan. Dengan susah payah Derwan
menggendongnya. Pasalnya tubuh Derwan pun tak beda jauh dari bocah ini. Tapi
Derwan tetap bertahan, bahkan sampai mereka tiba di rumah.
“Anak kecil itu?” tanya Army, memotong cerita
Falin. Sebenernya cerita gue kan, ya?
-_-
“Iya. Itu Saya,” jawab Falin. “Sejak saat itu,
Saya tinggal di rumah Derwan. Derwan udah kayak kakaknya. Elo inget kan pas gue
sama Derwan cerita soal Derwan yang ngurusin Saya waktu kecil karena Saya
sakit?” Army mengangguk. “Selama dua bulan, Saya sama sekali enggak bisa
ngomong. Waktu udah bisa ngomong, baru dia bisa cerita apa yang sebenarnya
terjadi sama dia.” Sebelum sampai ke puncak cerita ini, Falin menghela nafasnya
panjang. “Waktu itu Saya diculik. Dan...” ah... rasanya terlalu berat hanya
untuk diutarakan sebentar saja. “...dia mengalami kekerasan seksual. Makannya
sampe sekarang dia selalu sensitif kalau berhubungan dengan homo-homoan gitu.”
Penjelasan Falin selesai. Ada sedikit perubahan di wajah Army. Anak kecil yang ia temui di masa lalunya itu?
Apakah benar itu memang Sandi?
Sementara Army mengantar Falin, Derwan menilik
Sandi. Dia nampak menyedihkan, duduk memeluk kedua lututnya di bangku tunggu
paling ujung lorong lantai ini. Derwan tak ingin menghampirinya. Pasti Sandi
butuh waktu sendiri. Hanya saja, melihatnya seperti itu seolah melihat Sandi
tiga belas tahun yang lalu. Saat bocah itu sama sekali tak mau makan sampai
beberapa hari. Bagaimana ia selalu ketakutan ketika mulai memejamkan mata.
Sampai ia bisa melihat senyum Sandi di hari ulang tahun Falin yang ke delapan
tahun waktu itu. Sebelum itu, Sandi benar-benar mirip seperti sekarang.
“Hah...” hanya desahan ringan yang bisa ia keluarkan sekarang. Luka di masa lalu itu, bagaimana bisa ia sebagai sahabat membantunya untuk sembuh?
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment