Ini bukan soal pertanyaan yang sejak tadi
muncul di hatinya. Bukan pula soal harus kemana ia menetapkan hatinya. Tapi ini
tentang hujan rintik di luar yang mulai menderas. Perlahan tanpa kilat ataupun
petir, rasa dingin ini menyambar ke balik kemeja setiap insan di bawahnya.
Menelusup manis di sela pori-pori dan menyapa titik kedinginan paling parah
yang pernah ada. Seharusnya semua merasakan dingin ini begitu menyengat. Tapi
entah kenapa, yang dirasakan gadis satu ini bukan itu.
Satu hal, ia bahkan tak sempat berpikir untuk
menolak serangan yang tiba-tiba ini. Ia terlalu terkejut.
Cukup lama, namun pria
ini mulai sadar, yang dilakukannya tak ada artinya. Sedikit pun ia tak
menikmatinya. Karenanya, ia melepasnya sepihak. Membiarkan
gadis yang hanya sepundaknya ini merasakan nafasnya yang mulai tersengal. Bibir gadis itu memerah.
Sedikit bergetar, mungkin efek dari keterkejutannya tadi. Sesaat lama, hingga
rasa nikmat yang tadi menjalarinya membuatnya sedikit kecewa. Kecewa karena apa
yang dirasakannya tadi tiba-tiba berhenti.
Sedangkan pria di depannya ini menatapnya.
Datar. Entah apa yang ada di pikirannya. Posisinya tetap sama. Menghimpit tubuh
mungil gadis ini ke dinding. Tangan kirinya masih setia menopang tubuhnya agar
tak serta merta menghimpit gadis ini lebih rapat. Kepalanya tertunduk,
menyejajarkan dengan tatapan gadis ini. Melihat ekspresi si gadis yang menuntut
suatu jawaban, alasan kenapa ia melakukan adegan tadi, ia menghela nafasnya
ringan. Perlahan mengendurkan posisinya. Memberi ruang agar si gadis mudah
mencari oksigen.
Pandangannya turun ke bawah. Tepatnya kembali
ke bibir itu. Ada jejaknya di sana. Matanya menyipit, seolah meyakinkan dirinya
bahwa itu memang bekas miliknya. Kini ia diganduli pertanyaan besar. Benarkah
ia baru saja melakukan hal itu pada gadis ini?
“Aku...” mulutnya mulai bergetar. Kalimatnya
terpaksa tersendat karena ludahnya tertelan sedikit. Mungkin ia terlalu berat
untuk mengatakan ini. Tapi, wajah gadis
ini terus menuntut. Mewakili bibirnya yang sepertinya tak mampu lagi untuk
melontarkan kata-kata.
“Aku...” ya! Ia harus membulatkan tekad jika
ingin mengakhiri ini. “Aku enggak punya rasa sama kamu.”
Blarr! Kalimat lirih ini tiba-tiba menyerupai petir dahsyat. Menyambar
telinga dan hati gadis ini. Memaksa matanya mendelik sempurna lantaran tak
percaya dengan kalimat barusan. Hatinya memanas. Menggenang air di kedua sudut
matanya. Perlahan tangannya bergetar seirama dengan bibirnya. Ada perih yang
menjadi penyebab getaran dan amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun di sudut
hatinya.
Plak! Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi pria ini. Sekuat tenaga, seolah
semua perih di hatinya terluap di sana. Tak ada kata-kata umpatan yang cocok
untuk membantai pria ini. Karenanya ia memilih keluar. Membawa linangan air
mata yang mulai membanjiri wajahnya.
Sementara itu, pria yang sudah membuatnya
sakit hati itu mengangkat kepalanya. Lewat sudut matanya bisa dilihatnya dengan
jelas. Sosok yang berdiri di balik pintu memperhatikan ia sejak tadi. Lantas ia
menoleh. Memberi tatapan seadanya pada sosok itu. Ia tahu, tangan sosok itu
mulai mengepal. Bergetar keras menahan sekuat tenaga amarahnya yang tiada
terkira. Bahkan tatapan itu terlalu tajam untuknya. Hingga rasanya, tatapan itu
hampir mampu membunuhnya saat itu juga.
***
“Selamat malam Petirs! Para Pengamuk Hati Lovers tercinta! Gimana nih kabarnya? Pastinya dan
seharusnya pada baik, dong? Balik lagi nih bareng gue, Fahmi Linasta, DJ dengan
suara merdu semerdu burung pipit yang lagi sakit tenggorokan di radio kampus
tercinta kita, Korek Ati, Komunitas Pengorek Amukan Hati di 77, 8. Kali ini,
dan tentunya untuk seterusnya, gue bakalan temenin malam senin elo semua
dengan penuh suka duka. Jadi, buat elo-elo yang selalu mengutuk malam Senin karena besok itu hari Senin, bakalan tambah terpuruk lagi karena dengerin suara gue. Haha...
bercanda, kok. Tenang-tenang. Gue selalu bisa bikin kalian happy di malam Senin yang agak-agak
mendung bombay ini. Atau dari Petirs
yang emang pengen nangis, bisa-bisa. Tinggal ambil bawang merah aja, usapin ke
mata terus dengerin suara gue sekarang. Haha...
“Oke, deh. Daripada dengerin kata sambutan gak
jelas bin apadah banget dari gue, mending kalian semua dengerin aja menu malam Senin kita ini.
Oke... seperti biasa gue akan memperdengarkan ke kalian semua lagu-lagu romantis, sedih, patah hati
dan segala jenis genre dari band-band terkenal anak bangsa. Terus, tentunya
bakalan selalu ada sesi request dan
penyampaian amukan-amukan hati dari Petirs
dengan menghubungi nomor kita yang tentunya enggak akan pernah ganti sebelum
gue punya duit beli hp baru, ya? Haha...
“Tapi yang bikin spesial, kita bakalan bacain
surat-surat yang masuk ke inbok kita pagi tadi. Kenapa spesial? Karena
surat-surat ini datang dari orang-orang yang pernah dengerin amukan hati para Petirs yang beruntung, yang akhirnya
amukan hatinya didenger sama si do’i. Cie... selamet, ya? Semoga abis ini
hubungan kalian bakalan lebih ada perubahan. Tentunya perubahan yang lebih
bagus, ya?” Falin terhenti. Karenanya Derwan harus menaikkan volume backsound. Kemudian Derwan sendiri
mengikuti arah pandang Falin. Ada seseorang yang baru saja masuk. Duduk dengan
melipat tangan dan tersenyum melihat Falin. Falin sendiri cukup terkejut
melihat kedatangannya. Sama seperti Derwan. Tapi karena ini masih siaran, ia
harus menunda dulu kekagetannya.
“Oke! Untuk sesi pembukaan, sebelum ada amukan
dari Petirs, kita nikmatin dulu, nih
lagunya Once, Dealova. Check it out!”
Falin mencoba mengambil waktu empat menit untuk menghampiri bocah itu. Sedangkan
Derwan kebingungan, pasalnya tidak dengar tadi si Falin mau memutar lagu apa
untuk pendengar.
“Woy, Lin! Lagu apa, nih?” tanyanya setengah
berbisik.
“Dealova,” jawab Falin dan buru-buru melepas headseat-nya. Dari ruang siaran, berlari
menghambur ke arah bocah itu. “Saya!” teriaknya histeris. Derwan hanya bisa
geleng-geleng kepala melihatnya kegirangan melompat ke pelukan Sandi. Sampai-sampai
kursi yang diduduki Sandi kejengkang ke belakang. Bruk! Tempat ini malah jadi gaduh sendiri. Padahal hanya ada tiga
orang di sana sekarang.
“Saya, Saya, Saya!” racaunya lagi. Sandi yang
kesakitan mencoba berdiri. Tangannya garuk-garuk kepala. Berasa bapak baru pulang kerja, gue! Dumelnya dalam hati.
“Aduh, Lin. Kira-kira dong kalo mau nyambut!”
sentaknya, sebal.
“Gila! Elo pulang kapan? Kok enggak
kabar-kabar, sih?” Falin malah tak menggubris sama sekali kata-kata Sandi
barusan.
“Tadi siang nyampe bandara. Daripada kabar-kabar, mending
gue cari makan. Kangen gue sama makanan Indonesia. Giliran gue ke sini, malah elo
tubruk seenak jidat elo!” timpalnya.
“Eh! Elo beneran pulang dari Jepang, kan?”
“Kenapa emang?”
“Kok logat elo enggak ke-Jepang-Jepang-an,
sih? Elo dari Tanah Abang doang, kali?”
“Enak aja! Emang kalo gue ke Jepang, gue harus
ke-Jepang-Jepang-an, gitu? Terus kalo gue ke akherat, gue harus
ke-akherat-akherat-an gitu?”
“Ye! Yang ada kalo elo udah nyampe sana, elo
enggak bakalan bisa balik lagi, keles!”
“Sandi Yahya!” suara Derwan terdengar.
Akhirnya bocah itu masuk juga ke adegan ini. Nyaris saja sesi ini hanya ada
Falin dan Sandi. Ia mendekat, memberi pelukan ala pria ke Sandi. Senyum hangat
menyambut kedatangan sahabatnya yang baru saja datang dari jauh.
“Kok elo enggak kabar-kabar, sih? Kan gue bisa
jemput, tadi!” tambahnya.
“Gue enggak mau ganggu siaran elo berdua aja.”
“Oh, iya, bener! Siaran!” sentak Falin
tiba-tiba. Ia kembali lagi ke tempatnya. Dealova baru setengah berputar. Tapi
rasanya ia harus standby lagi di
tempatnya. Siaga, siapa tahu habis ini akan ada panggilan masuk.
Sementara itu Sandi menatapnya kembali. Kali
ini dengan posisi berdiri. Ditemani Derwan yang juga tersenyum melihat semangat
Falin hari ini. Walaupun gadis itu selalu terlihat ceria, tapi begitu Sandi
pulang dari Jepang dan ada di sini, entah kenapa semangatnya jadi bertambah beberapa
kali lipat.
Selanjutnya Derwan melirik Sandi. Senyumnya
makin lebar melihat ekspresi senang sobatnya ini. Tak ada wajah sebahagia ini
dari Sandi kalau tanpa Falin. “Tiga bulan, serasa tiga abad, ya?” celetuknya.
Sandi mendelik. Spontan menoleh ke kanan dengan cepat.
“A, apa?” tanyanya. Entah kenapa ia tiba-tiba
gugup. Tentu saja melihat salah tingkah dari Sandi Derwan tertawa renyah.
“Hei! Apanya yang apa? Masa enggak paham,
sih?” godanya.
“A, apaan? Ti, tiga bulan ya tiga bulan! A,
apanya yang serasa tiga abad? Lebay elo mah!” Sandi mengelak sebisa mungkin.
Tapi Derwan tak lekas berhenti tertawa. Karenanya pun wajah Sandi memerah. Sama
dengan warna jaket yang ia kenakan sekarang. Sedang tanpa peduli bagaimana
reaksi Sandi, Derwan melirik ke bawah. Melihat jeans yang dikenakan Sandi.
Bukankah ini adalah jeans pemberian Falin di ulang tahunnya tahun lalu?
“Bahkan jeans dari dia aja masih elo pake.
Kayaknya elo bilang udah enggak muat lagi,” ternyata Derwan sama sekali tak
lelah menggoda Sandi. Sandi hanya garuk-garuk kepala. Memanas memang wajahnya.
Tapi rasanya untuk menanggapi godaan ini ia harus semedi dulu tiga tahun.
Memangnya dia pernah menang kalau adu kongekan sama Derwan? Lagipula, badannya
masih capek. Alih-alih menghindar dari ejekan Derwan yang mungkin akan lebih
parah lagi, ia memilih sofa. Membaringkan kepalanya di punggung sofa dan
menghirup napas dalam-dalam. Derwan menyusulnya.
“Capek?” tanyanya. Sandi langsung tersenyum
merasakan pijatan di kedua bahunya. Barusan mengejek habis-habisan. Sekarang
Derwan sudah bertingkah menjadi sahabat yang melebihi saudara. Bahkan tak
segan-segan Dewan mengambilkan minum. Menyuruhnya minum dulu baru memejamkan
mata.
“Pulang aja daripada elo di sini,” ujarnya.
“Ah! Males! Di rumah enggak ada siapa-siapa.”
“Bonyok elo pergi lagi?”
“Ho’oh. Padahal anaknya baru aja pulang. Tapi
gue udah ditinggal minggat gitu aja.”
Derwan terdiam. Ekspresi prihatinnya membuat
Sandi terpaksa mengangkat kepala, risih saja melihatnya. “Heh! Gue emang anak
orang kaya yang suka ditinggal ke luar negeri buat kerja. Tapi gue enggak
kekurangan kasih sayang! Jangan samain gue sama anak-anak kurang perhatian di
sinetron-sinetron!” sentaknya. Tapi tetap saja, wajah dengan ekspresi yang
minta digampar itu tak kunjung hilang.
Sekitar satu jam kemudian, siaran selesai.
Derwan membiarkan Sandi berbaring di sofa. Sementara ia beres-beres, Falin
malah membangunkan Sandi. Dengan santainya ia berteriak ke telinga Sandi.
Sampai-sampai Sandi melompat dari sofa. Perutnya tiba-tiba mual merasakan detak
jantungnya berpacu lebih cepat, saking syoknya. Kalau digambarkan dengan alam
gaib, barusan rohnya lagi jalan-jalan di pantai, tiba-tiba ada angin topan
terus rohnya itu kelempar ke tubuhnya dengan kecepatan 100km/jam!
“Ya ampun, Falin! Kira-kira kek kalo mau
bangunin orang! Untung aja jantung gue enggak copot! Kan nyari donor jantung
susah!” dumelnya. Tapi toh Falin tak menggubrisnya. Entah apa yang
diinginkannya, ia berjongkok. Tangannya menengadah dengan ekspresi mupeng yang nyantol di mukanya.
“Apaan?” tanya Sandi bingung.
“Oleh-oleh...” mendengar kata ini, ekspresi
Sandi berubah kesal, plus serasa gubrak!
Apadah banget dia terbangun dengan keadaan syok berat hanya karena ditagih
oleh-oleh. Perasaan tadi Derwan yang sempat berduaan dengannya tak menanyakan
itu sama sekali. Dasar cewek!
“Apaan, sih? Yukata, ya?” Sandi mengaduk-aduk
ranselnya.
“Uwah! Beneran, nih? Gue dibeliin yukata?”
Falin melompat kegirangan. Matanya tak sabar menunggu sesuatu yang paling
diinginkannya keluar dari ransel Sandi.
“Nih!” tangan Sandi terulur. Lantas melihat
apa yang ada di tangan Sandi, ekspresi Sandi yang kesal, plus serasa gubrak tadi berpindah ke wajahnya.
“Apaan, nih?” tanyanya datar. Tangannya menunjuk benda yang menurutnya terlalu
kecil untuk disebut yukata itu.
“Ini. Yukata.”
“Yukata dari mana?”
“Ya, dari Jepang!”
“SAYA!!!” teriakan Falin berhasil membuat
Derwan menghentikan aksi beberesnya. Lantas ia menutup telinganya sendiri.
Takut kalau-kalau gendang telinganya pecah karena suara supersonic yang keluar barusan. “Iya gue tahu! Ini Yukata! Tapi
yang gue minta bukan gantungan kunci bentuk yukata! Tapi yukata yang beneran.
Yang bisa gue pake!” protesnya.
“Ini juga bisa dipake,” tangan Sandi terulur.
Mengambil hp Falin dan menggantungkan gantungan kunci fiberglass berbentuk baju cewek Jepang berwarna ungu cerah itu.
“See? Bisa, kan?” ujarnya sambil mengulas senyuman manis. Bibir Falin
monyong-monyong. Tak terima sebenarnya. Tapi ya sudahlah. Namanya juga dikasih.
“Makasih, deh!” sungutnya sebal. Lantas
langsung beralih dari sana. Keluar dari ruang siaran dengan dongkol.
“Mahal kale kalo gue mau beliin elo yukata
yang beneran, Lin! Lagian elo mau ngapain pake yukata di negara yang panasnya
ngalahin open mode high, hah?!” teriaknya, mencoba memberi alasan. Tapi
Falinnya sudah keburu pergi. Akhirnya ia hanya bisa menghela napas. Yah...
Falin marah. Tapi pasti nanti bakalan reda sendiri.
“Kemana tuh anak?” tanya Derwan seraya
mencangklong tas srempangnya.
“Haha... gue udah bikin dia bete. Yah... nanti
juga reda sendiri,” balas Sandi.
“Oh, iya. Elo udah balik, berarti elo dong
yang siaran selanjutnya. Falin cuma gantiin elo selama elo ke Jepang, kan?”
tanya Derwan. Ah, iya. Sandi baru ingat. Bukankah Falin jadi penyiar radio
kampus ini juga atas permintaannya?
Sekitar satu bulan sebelum keberangkatannya ke Jepang ia
yang memintanya. Bahkan ia harus rela tidak ikut kuliah beberapa kali hanya
untuk membuntuti Falin dan memohonnya beberapa kali agar mau menggantikannya.
“Ngapain juga gue harus gantiin elo? Apa untungnya
coba buat gue?” tolak Falin saat itu.
“Terkenal. Keterampilan bicara elo jadi makin
terasah. Elo bisa dengerin curahan hati banyak petirs.”
“Ha? Petirs?” Falin mengangkat alis sebelah
kananya. “Itu petir versi jamak, ya? Kayak boy, boys, book, books. Emang bahasa
Indonesia bisa dijamakin tinggal nambahin ‘s’? Emang petir bisa curhat? Apaan,
sih? Bingung gue!” sekarang ia malah garuk-garuk kepala. Hampir saja Sandi
gigit jari melihat kebodohannya soal kampus. Bahkan nama pendengar radio kampus
mereka saja ia tak tahu. Falin terlalu betah berkutat dengan kuliah.
Berorganisasi saja hanya di hima jurusan. Itu pun jadi anggota. Dia kurang update. Istilah kasarnya mungkin terlalu
kuper. Tapi sifat cueknya soal
hal-hal begituan juga amit-amit. Kadang-kadang harus ngelus dada dulu kalau
berhadapan dengan Falin yang tak tahu dua pertiga soal kampusnya sendiri. Sandi
mulai curiga, jangan-jangan nih anak tak tahu juga nama rektor yang menjabat di
kampus mereka sekarang.
“Please deh, Lin! Elo kalo kuper plus kudetnya
enggak usah alay tingkat surga, deh! Petirs
aja elo enggak tahu! Jangan-jangan elo juga enggak tahu nama radio kampus kita,
yang lagi gue tawarin ke elo ini apaan!”
“Oh, iya. Bener juga. Apaan, sih?”
Gubrak! Sandi kejengkang, kepalanya terbentur tembok, nyawanya melayang dan
inilah akhir cerita.
Tamat...
...
...
Please
deh! Masa gini doang novelnya!
Gubrak lagi!
“Ehem! Oke, deh. Biar gue jelasin ke elo.”
Sandi memasang tampilan cool-nya.
Saking cool-nya,
sampai-sampai
tukang es yang barusan lewat langsung minta tolong buat dinginin esnya yang
hampir mencair semua. #please abaikan!
“Nama radio kampus yang gue rilis bersama
Derwan itu adalah Korek Ati.”
“Korek api!”
“Korek ati.”
“Korek api!”
“Woy! Ini pan yang mau jelasin gue! Diem dulu
nape?!” Sandi tersulut emosinya.
“Oke, sorry. Lanjutkan!” tapi Falin dengan
seenak jidatnya memasang tampang watados-nya.
“Ehem! Jadi, Korek Ati ini merupakan akronim
dari Komunitas Pengorek Amukan Hati.
Radio kampus tercinta yang selalu bersedia menjadi tong bagi kamu-kamu, dengan
segala usia, pekerjaan, profesi, tempat, peradaban, habitat, dan...”
“Gue enggak pengen belajar biologi, Say.
Fokus, dong!” sentak Falin jengkel.
“Oke-oke! Sorry. Kebawa jurusan.” Sandi
kembali fokus. “Pokoknya kami adalah tempat untuk mencurahkan isi hati. Dan
syukur-syukur yang pada mencurahkan isi hati tadi bisa lega, atau bahkan ada
yang merespon amukan hati dia. Semisal, ada yang ngungkapin perasaan ke cewek,
cewek itu bakalan nolak langsung secara mentah-mentah dan enggak pernah bisa mateng
lagi.”
Gubrak! Sekarang Falin yang kejengkang.
“Nah. Bagi para pendengar setia Korek Ati ini
disebuat Petirs, Para Pengamuk Hati Lovers. Selama ini, kami udah berjasa. Banyak
pasangan yang jadian gara-gara kami. Bahkan juga nyampek ada orang tua yang akhirnya
sadar terlalu keras bawa anaknya buat dapet IP bagus di setiap semester.”
“Jadi yang dengerin bukan cuma mahasiswa nih
ceritanya?”
“Mahasiswa, sih.”
“Kok tu orang tua bisa sadar?”
“Ya... soalnya anaknya ngaku sendiri ke emak
sama engkongnya.”
Gubrak! Sekarang penulis yang kejengkang.
“Gimana? Menarik, kan?”
“Kagak!” Falin mulai beranjak dari tempat
duduknya.
“Jahat! Elo enggak tahu gimana perjuangan gue
sama Derwan masukin proposal ke rektorat cuma buat merintis radio kampus satu
ini selama dua tahun, Lin. Hiks... hiks...” Sandi sesenggukan. Guling-guling di
atas meja. Gedebuk! Dan pada akhirnya
jatuh juga...
“Lah emang Derwan sendiri kenapa enggak dia
yang siaran?” tanya Falin. Tak jadi pergi.
“Masalahnya Derwan itu malu-malu kucing panas
dingin.”
“Pribahasa macam apa itu?” tuk! Toyoran Falin mendarat cantik ke
jidat Sandi.
“Singkatnya dia enggak bisa banyak omong.
Panjangnya, dia enggak bisa baaaaaanyak omong!”
“Sumpah elo kalo enggak bisa serius gue
tinggal juga!” Falin mulai kesal dibuatnya. Bahkan lengan kemejanya ia gulung
sampai bahu. Bersiap mengajak berantem Sandi kapanpun dia siap.
“Ya maka dari itu! Satu-satunya dari banyak
temen gue yang gue percayain buat megang amanat besar ini cuma elo, Lin. Gue
dapet beasiswa ke Jepang, nih. Sayang banget kalo enggak gue ambil cuma
gara-gara enggak ada yang bisa gantiin gue siaran,” pinta Sandi memelas.
“Oke, deh!”
“Eh? Semudah ini elo mau?” Sandi melongo.
Bingung dengan kesuper tiba-tibaannya Falin.
“Gue siap gantiin elo pergi ke Jepang!”
“What
the fuck decision is it?!” hampir saja Sandi mencakar muka menyebalkan
Falin. “Yah, Lin! Seriusan dikit, dong!” teriaknya frustasi. Rambutnya
nelangsa, dijambak-jambak sekuat-kuatnya. Sekarang dia terkonfirmasi, tampilan
seratus persen seperti orang yang baru saja bangun tidur.
“Em... gue dapet apa, dong?” Falin pikir-pikir
lagi.
“Apa? Oleh-oleh. Mumpung gue ke Jepang, gitu,”
tawar Sandi.
“Ya! Ya! Gue punya sesuatu yang pengen banget
gue dapetin dari Jepang.”
“Apaan? Bukan geisha atau Gunung Fuji yang penting, kan?”
“Ya... kalo elo sanggup bawanya kemari ya
enggak papa, sih!”
“Udahlah! Buruan, woy!”
“Yukata, ya?” tiba-tiba mata Falin berbinar.
“Yukata? Apaan, tuh?”
“Norak! Katanya mau ke Jepang, tapi enggak tau
apa itu yukata!” umpatan ini berhasil menohok perut Sandi seketika. Jleb! “Itu loh! Baju tradisionalnya
cewek Jepang kalo ngikutin festival-festival gitu. Yang ada pitanya di
belakang,” jelasnya terperinci.
“Oh, kimono?”
“Iya! Tapi yang versi cewek. Yah? Yah?” pinta
Falin lagi. Sandi garuk-garuk kepala. Mungkin menimbang-nimbang, apa benar dia
bisa membawakan yukata untuk Falin nantinya.
“Ehm... yah... gue usahain, deh,” jawabnya
kemudian. Setelahnya, Falin lompat-lompat tak jelas. Sambil berdendang ia
melangkah keluar. Padahal jawaban iya atau tidak dia mau menggantikan Sandi
siaran belum ia sampaikan.
“Tapi selama tiga bulan ini dia enjoy banget
jadi penyiar. Bahkan rating radio kita makin tinggi. Elo
tahu, kemarin ada
iklan yang minta masuk ke radio kita,” suara Derwan membuyarkan lamunan Sandi.
Mereka sudah sampai di parkiran.
“Oh, iya?” tanyanya cukup heran, sekaligus
senang juga, sih. Bahkan sampai ada iklan. Mungkin kalau dia bisa menggaet
lebih banyak iklan lagi, kampus bakalan menerimanya menjadi salah satu Unit
Kegiatan Mahasiswa di kampusnya. Jadi dia bisa merekrut kader-kader baru tahun
depan.
“He’em. Tapi kita nungguin elo, sebagai ketua
kita butuh izin dari elo mau masukin tuh iklan atau enggak. Jadi, yah... kita
pending dulu.” Derwan menunjuk mobil merahnya yang terparkir di sudut. Tadi dia
sudah menawarkan Sandi untuk pulang bareng. Sandi barusan dari bandara langsung
ke
kampus. Jelas saja dia tidak bawa mobil.
Sandi manggut-manggut. Seharusnya tak jadi
masalah untuk memasukkan iklan ke radio. Malah menguntungkan. Tapi sikap Derwan
untuk menunggu pendapat dari sang ketua juga lebih betul. “Kita terima aja.
Lumayan, buat beli perlengkapan dan makan tiap malem,” putusnya.
“Juga...”Klak! Sandi
membuka pintu mobil depan. Lantas ia tak masuk ke dalam, melainkan menatap
bintang di atap langit hitam. “...kita tetep pake Falin jadi penyiar utama kita
aja, deh.” Senyumnya mengembang sempurna. Melihatnya, Derwan ikut tersenyum.
Barulah ia masuk, menyusul Sandi yang masuk duluan, memilih menjadi sopir
sebagai kompensasi diberi tumpangan olehnya.

No comments:
Post a Comment