“Oke, gue ke sana!” Sandi menutup telponnya.
Baru saja ia hendak memasukkan hp-nya itu ke dalam saku kemejanya, malah
setumpuk laporan yang tadinya mau dia bawa sementara dengan satu tangan saja
jatuh berserakan di lantai. “Ckk!” decaknya sebal pada dirinya sendiri. Mau tak
mau ia harus menyita sedikit waktunya untuk memungutinya kembali.
“Perlu bantuan?” tiba-tiba seorang cowok
dengan balutan jeans hitam dan kaos oblong biru muda berjongkok di depannya.
Sandi mendongak dan mendapati ulasan senyum manis darinya. Setara dengan
wajahnya, cowok manis.
“Thanks,” ujarnya pelan. Karena tanpa
di-iyakan olehnya, cowok ini pun akhirnya menolongnya juga.
Selesai, Sandi berdiri. Tentunya dengan cowok
ini juga. “Makasih banget lo,” ucapnya lagi. Cowok ini lagi-lagi hanya
tersenyum. Tangannya meraih gitar yang sempat ia letakkan di atas kursi tunggu
di depan salah satu ruang kesehatan kampus mereka. Tanpa mengucap secuil kata
lagi, cowok ini berjalan. Melewati Sandi yang tiba-tiba termenung. Mencoba
mengingat sesuatu yang hampir ia lupakan.
“Eh! Gitar!” sentaknya tiba-tiba. Apa yang ia
lupakan sepertinya sudah ia ingat kembali. “Eh, tunggu!” teriaknya seraya
berbalik. Cowok tadi ikut berbalik. Kembali bertatap muka dengan Sandi. Tak
ingin ambil resiko, Sandi gantian menaruh kertas-kertas laporan praktikumnya di
atas kursi. Barulah ia maju selangkah. Mengulurkan tangan, bermaksud
memperkenalkan diri.
“Kenalin, gue Sandi. Em... Sandi Yahya,”
ucapnya lebih dulu. Cowok ini awalnya bengong. Tapi lima detik kemudian barulah
ia paham maksudnya. Senyum yang memunculkan lesung pipi di kedua pipinya itu
kembali terurai.
“Army,” balasnya. Sandi ikut tersenyum. Ada
maksud yang harus ia sampaikan. Maksud yang sempat tadi ia lupakan.
“Anu... Army, eh... aduh... gimana manggilnya,
ya?”
“Santai aja. Gue masih semester empat juga,
kok.” Pernyataan ini malah membuat Sandi melongo. Masalahnya, darimana ini
orang bisa tahu kalau dia semester empat? Tapi kemelongooannya itu teratasi
ketika Army menunjuk laporannya. Oh, iya. Ada NPM-nya (Nomor Pokok Mahasiswa)
di sana. Bukankah dua digit di nomor itu menunjukkan semester berapa ia
sekarang?
“Hehe... anu... gue mau nanya. Elo... bisa main gitar?” telunjuk Sandi
mengarah ke gitar itu.
“Iya. Dikit,” jawab Army. “Kenapa?” tanyanya.
Yang di pikiran Sandi sekarang cuma satu. Seramah-ramahnya orang yang pernah ia
temui, cowok ini ramah banget! Tidak hanya karena ia sempat ditolong tadi.
Tapi, nada bicaranya dan gestur tubuhnya ini lo, berasa cowok keturunan ningrat. Sopan banget!
“Jadi gini... gue dari radio kampus, Korek
Ati. Nah, kebetulan kami lagi cari bintang nih, buat ngisi menu siaran tambahan
nanti malem. Kalo elo enggak keberatan, elo bisa mampir ke studio. Kami on air
sekitar jam 8-an,
lah,” Sandi mulai menyampaikan maksud hatinya.
“Bintang? Wah... enggak salah milih orang? Gue
enggak terlalu pinter main gitar,” lagi-lagi tutur kata Army membuat Sandi
hampir gigit jari. Ini merendah, atau memang jangan-jangan nih bocah memang enggak bisa main gitar?
“Yah... bintang kampus kan bisa siapa aja.
Kalo enggak keberatan, mampir dulu aja. Soal jadi tampil atau enggaknya, bisa
diputusin waktu selesai ngeliat kami siaran. Gimana?” tawar Sandi lagi. Army
untuk kesekian kalinya memberikan senyuman. Agak aneh memang, tapi rasanya
cowok ini cukup enak diajak akrab.
“Oke, deh. Kalo gue ada luang, gue usahain
mampir,” jawabnya. Tentu saja berhasil membuat Sandi tersenyum senang. “Oke,
gue duluan, ya? Masih ada yang harus diurus.” Pamitannya bahkan sopan banget! Sandi
cuma ngangguk-ngangguk. Getaran di saku kemejanya mengingatkannya sesuatu.
Ketua kelas yang tiba-tiba pingsan di lab tadi harus ia jenguk sekarang. Lantai
dua, ruangan paling pojok. Ambil laporan, melangkah ke lift, dan menunggu pintu
terbuka.
Ah, ya. Satu lagi... Sandi kembali menoleh.
Ah, Army sudah menghilang di lorong depan. Perasaan
gue pernah ketemu. Di mana, ya?
***
Jarum jam menunjuk antara angka tujuh dan angka delapan. Tapi ruang siaran
sudah lengkap dengan tiga personil abadinya, yakni Sandi, Falin dan Derwan.
Meski begitu yang sejak tadi sibuk hanya Derwan. Sedangkan dua makhluk yang
lain itu sibuk cengengesan bermain
catur di tempat istirahat di dekat pintu. Derwan sih tak jadi masalah. Malah
dia ikut terhibur tiap kali melihat Falin ataupun Sandi kena jitak setiap ada
salah satu pion mereka yang mati.
“Gue enggak akan kalah malem ini. Itu artinya,
elo harus siapin duit buat traktir gue martabak telor deket lampu merah itu,”
ujar Sandi ketika Falin kesulitan mengambil langkah. Tangannya maju mundur,
bingung menempatkan pion berbentuk kuda putih itu di tangannya.
“Kalo elo yang kalah, elo yang traktirin gue,”
balas Falin tak mau kalah.
“Enggak mungkin gue kalah. Semalem gue abis
mimpi mujur banget pokoknya.”
“Apaan?”
“Megang tokai kambing.”
“Hek! Mujur darimana? Itu mah pertanda apes!” tap! Falin menemukan jalan bagi kuda putih-nya. “Maju!” titahnya.
Giliran Sandi garuk-garuk kepala. Berpikir
keras agar bisa sekali lagi menjitak jidat Falin. Kalau melihat peluang menang
sih, otomatis sebentar lagi dia bakalan jadi juara. Lihat saja pion Falin yang
sudah banyak sekali terkumpul di pihaknya. Bibirnya cengar-cengir membayangkan martabak telor yang menggugah selera
yang pastinya akan ia dapatkan nanti.
“Jalan! Malah mikir jorok lagi elo!” sentak
Falin tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Tak ada balasan. Hanya saja, bibir
Sandi monyong-monyong.
“Permisi!” suara seseorang yang masuk ke ruang
siaran membuat Sandi tak jadi menjalankan pionnya. Seorang cowok tegap dengan
rambut setengah gondrong bertamu ke tempat mereka. Kaos putih tanpa kerah
polos, dengan balutan jaket kulit coklat, serta jeans hitam dan sepatu ket
putih menyempurnakan wajahnya yang manis. Gitar di dalam wadah hitam ditenteng
tangan kirinya. Ia tersenyum pada Derwan yang menyambutnya duluan.
“Iya?” Derwan ambil bagian. Tangannya mulai
menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Bukan apa-apa, hanya saja
pria manis ini rasanya pernah ia lihat sebelumnya. Tapi dimana?
“Oh, elo dateng?” seruan Sandi yang tiba-tiba
membuat cowok ini menoleh ke kiri. Senyum lesung pipitnya itu kembali menghias
wajahnya. Tangan kanannya yang bebas terulur, menyambut tangan Sandi.
“Enggak ada kerjaan. Kebetulan lewat, jadi
sekalian aja mampir,” balasnya. Sandi nampak begitu gembira. Sampai-sampai ia
lupa untuk memperkenalkan bocah ini pada kedua temannya yang lain.
“Eh, iya. Ini... kenalin temen-temen gue,”
lanjutnya setelah ingat. Falin berdiri, Derwan lebih mendekat. Derwan dulu yang
ia salami. “Army,” katanya memperkenalkan diri.
“Derwan,” balas Derwan.
“Dan ini... ratu siaran kami,” Sandi beralih
ke Falin. Tapi, belum sempat Army mengulurkan tangan, tiba-tiba Falin sudah
menyambar tangannya duluan.
“Elo Army, kan?” terkanya. Ehm, sebentar.
Mungkin bukan terka, hanya saja mungkin Falin mencoba meyakinkan dirinya
sendiri kalau orang yang tengah berdiri di hadapannya sekarang itu adalah Army.
Tadi dia kan sudah sempat mendengar perkenalannya dengan Derwan.
“I, iya?” Army tentu saja salah tingkah.
Pasalnya itu tangannya diremas erat-erat. Seolah Falin tidak ingin
melepaskannya begitu saja. Sandi yang melihatnya langsung menjitak kepalanya,
sebal.
“Apa-apaan sih, elo? Tamu, nih!” sentaknya.
Tapi Falin seolah tak menggubrisnya. Lagi-lagi tangannya terulur. “Gue Falin.
Ya ampun! Mimpi apa gue semalem bisa ketemu sama elo? Elo tahu, gue itu
penggemar berat elo. Aduh! Sumpah! Gue seneng banget, nih! Eh, kapan elo mau
bikin album, ya?” buru Falin bertubi-tubi. Sandi melongo. Derwan langsung
manggut-manggut. Sekarang ia ingat siapa orang yang bernama Army ini.
Tanpa basa-basi, Falin menggeret Army masuk ke
ruang siaran. Entah apa yang dicelotehkannya sekarang. Yang jelas, Sandi
menjadi orang paling cengo sekarang. Setahunya, dia yang menjadi tuan rumah
atas kedatangan Army. Seharusnya ia yang memperkenalkan Army dengan ruang
siaran dan semacamnya. Tapi kenapa tiba-tiba malah dia yang sepertinya menjadi
satu-satunya yang tidak tahu apa-apa?
“Elo bisa ketemu tu anak di mana, San?” Derwan
menyikut lengannya.
“Tadi siang, di klinik. Karena dia bawa gitar,
gue rasa dia cocok aja gitu jadi bintang tamu kita.”
“Jangan bilang elo enggak tahu ya siapa Army
itu?” terka Derwan, diselingi dengan tawa kecilnya. Sandi masih diam, lantaran
ia benar-benar tidak tahu apa-apa sekarang.
“Oh, iya. Gue lupa. Elo kan tiga bulan di
Jepang. Pantes kalau muka elo bener-bener cengo sekarang,” jelas Derwan yang
sukses membuat Sandi mencibirkan bibirnya kesal. “Itu Army. Dua bulan yang
lalu, dia menang lomba gitaris nasional. Bahkan satu bulan yang lalu, sebagai
hadiah juara satu, dia jalan-jalan ke Jepang. Dia bintang kampus kita
sekarang.” Kali ini Sandi manggut-manggut. Sekarang ia mengerti kenapa Falin
sampai sehisteris itu.
“Keren deh kalau Korek Ati bisa datengin dia
sebagai bintang tamu. Good job!” puji Derwan yang akhirnya kembali melanjutkan
beres-beresnya. Sandi tersenyum tipis, lantas kembali melongok ke ruang siaran.
Falin tak henti-hentinya tertawa. Bahkan sempat-sempatnya minta foto bareng,
minta tanda tangan, dan ini itulah. Karena itu juga ada sesuatu yang aneh di
balik dada Sandi sekarang. Entah kenapa ia cukup kesal melihat kedekatan mereka
berdua. Tak sadar, bibirnya mengurucut sebal.
***
Sandi baru selesai mengeluarkan mobilnya dari
parkiran. Hanya malam hari ia bisa leluasa memasuk-keluarkan mobilnya sesuka
hati. Padahal kalau siang, hah! Bisa sampai dua jam dia baru bisa keluar dari
area parkir. Belum antri untuk keluar ke jalan utama. Rasanya, kapan-kapan ia
ingin sekali ikut anak-anak BEM protes ke pimpinan kampus untuk membenahi
parkiran. Bisa bikin pusing tujuh kecamatan kalau membicarakan masalah parkir.
Belum sempat ia keluar ke jalan utama, matanya
menangkap seseorang di depan sana. “Itu bukannya Army?” gumamnya seorang diri.
Melihat tampilan dan bawaannya itu, gitar plus sebuah koper kecil, ia makin
yakin kalau itu Army. Apalagi setelah ia membunyikan klakson, dan orang itu
menoleh. Jelaslah kalau itu Army. Bawa-bawa
koper, mau kemana, ya? Tanyanya dalam hati.
“Woy, Mi!” panggilnya setelah menurunkan kaca
jendela. Merasa namanya dipanggil, Army mendekat. Menundukkan kepalanya demi
melihat siapa orang yang ada di dalam mobil itu.
“Mau ke mana?” tanya Sandi.
Army malah mengangkat bahunya. “Belum tahu,”
jawabnya singkat.
“Nah, kok belum tahu? Emang elo tinggal
di mana?” tanya Sandi lagi.
“Seharusnya kos.”
“Seharusnya?”
“Iya. Tapi gue baru sadar, kontrak kos gue udah
abis selama gue pergi ke Jepang. Gue lupa bayar sewa selanjutnya. Waktu udah
sampe sana, kamar gue udah disewa sama mahasiswa lain. Jadi, yah... gue belum
tahu mau ke mana.”
Sandi manggut-manggut paham. Iba juga sih
melihatnya membawa koper-koper tak jelas arah dan tujuan seperti itu. Apalagi,
ini sudah malam. Mau cari kos juga pasti harus pilih-pilh dulu. Kalau pun mau
ke hotel, jam segini angkot pun pasti sudah susah dicari. “Ikut gue aja, yok!”
ajaknya kemudian.
“Ke mana?”
“Ke rumah gue.”
Army nampak berpikir sejenak. “Enggak, ah!
Ngerepotin,” tolaknya halus. Ingat, Army adalah manusia paling sopan yang
pernah Sandi temui rasanya.
“Enggak papa. Anggep aja, bayaran karena udah
mau jadi bintang tamu di siaran kita tadi.”
“Gue enggak papa. Enggak minta bayaran juga.”
“Terus emang elo mau tidur di mana? Halte?”
Army tersenyum tipis. Walaupun tetap saja
kedua lesung pipitnya kembali muncul. “Ya... kenapa enggak. Gue bisa tidur
di mana aja.”
“Ah, udahlah! Di rumah gue enggak ada
siapa-siapa, kok. Bonyok gue lagi pergi ke luar negeri. Sekalian juga, gue cari
temen. Enggak enak juga di rumah sendirian.”
Army kembali berpikir. “Nanti elonya enggak
nyaman,” ia masih mencoba menolak.
“Kalau gue enggak nyaman, gue enggak nawarin
elo.”
“Beneran nih enggak papa?”
“Yoi! Santai aja,” ujar Sandi meyakinkan.
Senyum Army kembali terpahat. Tak ada pilihan lain. Daripada mati kedinginan
tidur di luar, mendingan ikut Sandi. Walaupun ia belum terlalu mengenalnya,
tapi menolak bantuan rasanya kurang etis. Tak apa. Semalam saja mungkin tak
akan menjadi beban.
“Emang elo aslinya mana?” tanya Sandi begitu
mereka sudah mulai memasuki jalan utama. Army yang sempat diam karena menikmati
pemandangan kerlip lampu malam jalanan menoleh ke kiri.
“Iya?” tanyanya, tak
sempat mendengar pertanyaan Sandi barusan.
“Elo aslinya mana? Kok di sini ngekos?” ulang
Sandi.
“Padang.”
“Jauh amat dari Padang? Di Padang enggak ada
kampus elo bisa nyampe dimari?”
Army hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan
itu. Tak perlu jawaban. Karena buktinya Sandi pun ikut tertawa. Setelahnya
mereka terlibat banyak percakapan. Meskipun Army sopannya tak ketulungan, tapi
ternyata dia cukup seru diajak bicara. Apa saja yang Sandi bicarakan, selalu
nyambung dengan tanggapan Army. Well,
bagus nih diajak akrab. Siapa tahu besok-besok dia tetep mau diajakin siaran, hati
Sandi bergumam senang.
Begitu sampai, mulut Army terdiam. Bukan
karena dia terlalu lelah untuk menanggapi Sandi. Hanya saja, rumah yang
notabenenya adalah milik teman barunya ini terlalu megah untuk dibilang sebuah
rumah. Bahkan pertama kali dihadapkan dengan gerbang besar berwarna putih di
depan tadi sudah membuat mulutnya menganga sempurna. Ada satpam di depan, yang
kalau ditekan tombol merah yang seperti tombol bel rumah kebanyakan itu
langsung membukakan pintu. Ada dua pria dengan alat walky talky, setelan tuxedo lengkap dengan kacamata hitamnya,
berdiri di dekat pintu menyerupai patung selamat datang. Tadi di halaman Army
tak letih-letihnya mengagumi tatanan apik taman mini dengan air mancur di
tengah. Jalan yang cukup untuk dua mobil ini terhubung langsung dari gerbang
depan sampai depan pintu rumah. Begitu turun, Sandi melemparkan kunci mobil ke
salah satu pria penjaga pintu tadi.
Tanpa aba-aba apapun dari Sandi, dia langsung mengambil alih mobil dan
membawanya sampai garasi di sebelah kanan rumah. Kalau Army tak salah lihat,
garasi yang terbuka itu memperlihatkan sekitar lima mobil jika ditambah dengan
mobil yang dikendarai Sandi tadi. Untuk dirinya yang hapal betul dengan merk
mobil, mobil yang dibawa Sandi adalah yang terjelek. Terang saja ia tak
menyangka kalau Sandi benar-benar anak orang kaya. Sekaya-kayanya orang yang pernah
ia kenal selama ini.
Belum selesai matanya menyapu bersih pelataran
depan ini, matanya kini dihadapkan dengan rumah super besar. Dua pintu coklat
ini dia perkirakan sekitar tujuh orang sekaligus mungkin bisa masuk secara bersamaan. Perlahan, pintu itu
terbuka. Menampilkan beberapa perabot mewah yang ada di depan. Bahkan ia
sendiri tak yakin untuk berjalan masuk kalau Sandi tidak menariknya segera.
Saat ia masuk, saat itulah ia sadar yang membuat pintu tadi terbuka adalah dua pelayan wanita yang
sama-sama berambut panjang dengan seragam sama, hitam putih. Army pernah
sekilas melihat drama korea Boys Before
Flower yang diputar teman-teman perempuannya waktu jaman SMA dulu.
Keadaan
rumah Sandi sekarang tak jauh beda dengan drama itu. Ia tak habis pikir kalau
di kehidupan nyata memang ada orang seperti itu. Ya, Sandi buktinya.
Tiba-tiba dua wanita tadi bermaksud mengambil
koper dan gitarnya. “Eh, saya bisa bawa sendiri. Enggak papa,” tolaknya sopan.
Sandi tertawa. Satu isyarat tangannya membuat dua wanita tadi langsung minggir,
kemudian berlalu ke dalam. Ia tak heran jika reaksi Army seperti ini. Dulu,
waktu pertama kali Derwan kemari juga sama persis reaksinya. Apalagi Falin. Ya,
tahu sendiri bagaimana hebohnya gadis satu itu. Bahkan ia tak malu-malu untuk
berlari kesana kemari hanya untuk mengecek keaslian setiap perabotan mewah di
rumah ini.
“Hey!” tangan Sandi merangkul bahu Army.
Membantunya agar merasa nyaman. Mungkin bermaksud menyadarkannya bahwa tempat
yang kelewat luas ini masih disebut rumah, bukan istana. “Santai aja. Anggep
rumah sendiri,” lanjutnya.
“Ah, iya,” jawab Army sebisanya. Mengangguk pelan dengan ekspresi
canggung sekali. Yah... bagaimana bisa ia menganggap istana ini adalah rumahnya. Setengahnya
aja enggak ada deh rumah gue sama rumah elo, lirihnya membatin.
“Yok!” ajak Sandi lagi. Tak ada kata apapun
lagi yang bisa keluar dari mulut Army. Ia hanya menurut, mengikuti langkah
Sandi ke sebuah kamar tepat di bawah tangga ke lantai dua. Ruangan yang
bersebelahan dengan ruang tengah ini berukuran 10 x 6 meter dengan tempat tidur untuk dua orang di
tengah ruangan, lemari buku di sebelah kanan ruangan. Berbagai buku tertata
rapi di sana. Mulai dari buku kuliah, buku bacaan, sampai komic dan beberapa
kaset PS di bagian bawah. Di sebelahnya, tv 30 inchi bertengger manis di atas
meja dengan DVD player dan PS beserta perabotnya tersimpan rapi di bagian
bawahnya. Di dinding atas tempat tidur poster kartun Naruto berukuran cukup
besar tertempel di sana. Di sebelah kiri ada dua pintu. Entahlah, ada apa di
balik kedua pintu itu, mungkin yang satunya kamar mandi. Di sisi kanan tempat
tidur ada nakas dengan banyak miniatur tokoh-tokoh anime Naruto dan beberapa
koleksi lainnya. Di sisi kiriya, ada sebuah meja kecil berlaci dengan lampu
tidur dan beberapa hiasan meja, seperti pigura, jam weker berbentuk Naruto, dan
sebuah buku kecil. Di sudut ruangan, tepatnya di sebelah pintu di sebelah kiri
tadi ada sebuah Grand Piano putih lengkap dengan kursinya. Barulah setelahnya,
di sebelah kiri pintu ada sofa panjang dengan sebuah meja kecil di depannya. Kamar
ini terlalu luas. Bahkan, kalau kamar ini dijadikan sebagai sebuah rumah,
nampaknya akan sangat cukup.
“Yah... jadi gini tempat persembunyian kecil
gue kalo di rumah,” kata-kata Sandi membuat Army menelan ludahnya sendiri. Satu
kata yang ia garis bawahi kecil. Jika
yang seukuran begini ia sebut kecil, bagaimana dengan kamar kosnya selama ini
yang hanya berukuran, ah... paling seperempatnya saja tidak sampai.
“Sini, biar gue bantu,” tambah Sandi lagi
mengambil alih koper Army. Ia menentengnya masuk ke pintu dekat pintu kamar
mandi tadi. Ah, sekarang paham Army, ada apa di balik pintu itu. Itu adalah
sebuah lemari. Ya, dan Army bisa membayangkan berapa banyak baju Sandi di balik
pintu itu.
Cengo dengan keadaan ini, Army memilih tempat
tidur untuk ia jadikan tempat duduk. Kepalanya tak henti-hentinya celingukan.
Antara kagum dan tidak percaya, bahwa Sandi yang berpenampilan super biasa tadi
adalah si pemilik kamar ini. Adalah anak dari orang yang sudah memiliki
bangunan yang terlalu berlebihan jika disebut rumah. Adalah anak dari majikan
yang sudah mempekerjakan orang-orang berseragam yang ia jumpai tadi. Tadi baru
halaman depan, ruang tamu, ruang tengah dan kamar. Imajinasinya mungkin tak
cukup bagus untuk menggambarkan seperti apa lagi ruang-ruang yang lainnya.
Sekitar lima menit kemudian, Sandi sudah
keluar dari lemari yang Army anggap sudah pantas menjadi kamar itu. Sandi topless. Hanya berbalut handuk putih
dari bawah pusar sampai atas lutut. Army sempat melongo, karena tak sadar bahwa
di balik setelan Sandi tadi terdapat sebuah tubuh yang cukup atletis. Kulit
Sandi bahkan terlalu putih untuk disebut sebagai seorang pria. Kini Army
menanyakan satu hal, benarkah orang ini keturunan Indonesia asli?
“Gue mandi dulu, ya? Elo santai-santai aja
dulu. Kalo mau nonton tv, nonton aja. Pokoknya, anggep rumah sendiri, deh,”
usai mengucap itu, ia sudah masuk ke pintu di sebelahnya. Dan setelahnya
terdengar bunyi shower dari dalam. Army
mulai kikuk sendiri harus berbuat apa. Orang asing yang pertama kali ia temui
sepulang dari liburannya adalah anak konglomerat yang dengan mudahnya
membiarkannya datang dan menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri.
Sekarang ia bingung harus berbuat apa. Toh, meskipun Sandi bilang harus
menganggap ini adalah rumahnya sendiri, nyatanya ia tak bisa. Ia terlalu asing,
bahkan tak tahu menahu benda-benda yang ada di ruangan ini harus ia berlakukan
seperti apa. Tapi ada satu benda yang dirasanya masih bisa ia jangkau. Lemari
buku. Karenanya ia bangkit, merasa tertarik dengan koleksi komic milik Sandi.
Satu diambilnya. Hanya ia bolak-balik sebentar. Hanya tertarik dengan gambarnya
saja. Setelah itu ia kembalikan lagi. Kemudian telunjuk kanannya menyisir.
Mencari buku lain di lantai kedua lemari ini. Bukan komic, hanya buku-buku
bacaan. Uniknya tak ada satupun buku di sini dengan penulis yang sama. Satu
penulis satu buku. Itu artinya Sandi tak terlalu menyukai salah satu penulis
saja. Di lantai ketiga ada beberapa novel. Satu judul membuatnya tertarik,
diambilnya. Tapi, srek ada selembar
kertas terjatuh.
Tak jadi dengan novelnya, Army lebih tertarik
dengan kertas itu. Ah, atau lebih tepatnya ia harus tanggung jawab meletakkan
kembali kertas itu ke tempatnya semula. Begitu ia mengambilnya, barulah ia
sadar itu adalah selembar foto. Saat ia membaliknya, saat itulah ia langsung
mengenali orang dalam foto ini. Sangat baru, karena baru beberapa jam yang lalu
ia berkenalan dengan orang ini. Ini Falin. Senyumnya lebih tipis ketimbang saat bertemu dengannya
tadi. Ia terlihat lebih manis. Rambutnya pendek, dengan bando biru muda yang
menghias di atasnya. Entah foto ini diambil kapan. Tapi yang jelas, ini bukan
foto Falin saat ini.
Pintu kamar mandi terbuka. Karenanya Army
mengalihkan pandangannya dari foto tadi ke arah keluarnya Sandi sekarang. Ia
diam menyaksikan betapa atletisnya bentuk tubuh Sandi. Mungkin ekspresi itu
adalah ekspresi cemburunya, mengingat tubuhnya tak sebagus itu. Apalagi dengan
tampilan topless seperti itu. Kalau
saja ada cewek yang melihat tubuhnya sekarang, pasti sudah klepek-klepek pingsan, atau minimal mimisan lah...
“E, elo ngeliatin apa?” tiba-tiba Sandi
menutup dadanya. Merasa canggung dengan tatapan Army. Tentu saja Army langsung
mendecih dengan bauran tawanya. Sandi jadi kikuk sendiri. Tapi matanya langsung
mendelik begitu melihat apa yang ada di tangan Army sekarang. “Oh, itu!”
serunya begitu kencang. Kakinya mengambil langkah seribu, lebih cepat dari
Sonic, lebih cepat dari Tazmania, lebih cepat dari kartun manapun yang
benar-benar cepat sekalipun. Bahkan... lebih cepat dari ngelesnya orang kentut
yang ketahuan. Please deh...
“I, ini,” nada suaranya gugup. Segugup
tangannya menyembunyikan foto yang sudah ia ambil. “Fa, Falin ketinggalan...
waktu... sekolah... simpen... jadi... gue...” gagapnya tak jelas. Army tertawa.
Hampir terbahak. Tapi mungkin karena image
sopannya, tawanya itu tak sampai meledak.
“Gue enggak nanya, kok. Jadi, santai aja,”
tanggap Army di sela tawanya. Lagi-lagi wajah Sandi berubah kikuk. Alih-alih
dengan ekspresi wajahnya sendiri, ia menyuruh Army mandi. “Gue udah mandi
sebelum ke studio tadi. Gue ganti baju aja. Ada di sana, kan?” tolak Army
kalem. Tangannya menunjuk pintu yang di sebelah pintu kamar mandi. Sandi mengangguk
membenarkan.
“Gue ambil baju dulu buat ganti. Nti elo bisa
ganti di dalem, gue di sini aja,” ujar Sandi. Tapi ia malah bingung sendiri.
Mereka kan sama-sama cowok, kenapa dia harus canggung? Ah, dia pun sudah terlanjur mengatakannya. Jadi, apa
boleh buat? Ia hanya harus mengambil baju untuk gantinya sekarang.
Setelah mengambil sebuah boxer dan kaos hitam
polos, lengkap dengan dalamannya juga,
hehe..., ia keluar. Tangannya kembali menggaruk kepalanya yang sebenarnya
tidak gatal. Kenapa dia tidak ganti di dalam saja tadi? “Mungkin karena gue belum terlalu kenal sama dia. Jadi, agak sedikit
canggung kali, ya?” pikirnya. “Masuk aja,” ujarnya setelah keluar. Army
hanya mengangguk dan langsung masuk ke ruangan yang lagi-lagi penulis sebutkan,
itu lemari!
Army masuk dengan pandangan tak kalah takjub
dari pertama kali ia masuk ke kamar Sandi tadi. Pasalnya di kamar ini sederet
baju tergantung sempurna. Hampir mirip seperti butik malah. Ada satu deret yang
isinya setelan resmi semua. Dan sederet lagi baju-baju biasa seperti kaos, baju
tanpa lengan dan beberapa kemeja. Beberapa deret bawahan, mulai dari jeans
panjang sampai pendek, boxer, dan celana panjang. Semuanya rapi dalam satu
lemari kaca yang cukup besar di sudut yang berhadapan langsung dengan pintu. Di
sebelah kanan ada lemari kecil, ehm...
lebih pantas disebut etalase. Mata Army mendelik melihat beberapa jam tangan
bermerk terpajang layaknya toko aksesoris di mall. Di sebelah kiri ada rak
sepatu. Jangan tanya ada berapa bentuk, jenis dan merk sepatu yang ada di rak
sebesar itu, karena Army, termasuk
penulis juga, tak berniat untuk menghitungnya. Beberapa lemari kecil tanpa
kaca, yang Army tentu saja tak tahu apa isinya. Rasanya tanpa membukanya saja
ia sudah bisa mengira-ngira balutan busana apalagi yang ada di sana. Lantas ia
celingukan lantaran ingat apa tujuannya masuk kemari. Kopernya. Kira-kira
dimana Sandi menaruh kopernya?
“Koper elo di sebelah rak sepatu!” tiba-tiba
suara Sandi terdengar dari luar. Army tersenyum. Sepertinya Sandi membaca
batinnya sekarang. Benarlah, ada di sana. Army membukanya. Mencari celana kain
pendek selutut. Ia hanya menanggalkan jeans dan jaketnya. Kaosnya tetap ia
kenakan. Ia hanya akan tidur. Rasanya tak perlu ganti lagi. Lagipula, matanya
tak kuat berada di sini lama-lama. Kemewahan ini menyilaukan matanya.
Berkali-kali ia takjub dalam hati. Tampilan sesederhana Sandi ternyata begitu
menakjubkan di belakangnya. Siapa sangka dia benar-benar kaya. Seumur-umur, ia
belum pernah tahu ada mahasiswa yang punya ruangan sendiri yang disebut lemari!
Bukankah itu benar-benar keren?
Ia keluar, dengan senyuman yang nyantol di
wajahnya. Bukan karena hal spesial, hanya saja Sandi nampak memangku gitarnya.
“Elo ngapain?” tanyanya setelah duduk di samping Sandi. Sandi nampak terkejut.
Buru-buru ia mengembalikan gitar yang belum keluar dari tempatnya itu.
“So, sorry. Gue cuma penasaran aja, kok.
Enggak rusak, kok,” jawabnya gugup. Army lagi-lagi tertawa kecil. Ia paham,
mereka belum akrab. Rasa canggung pasti bakalan ada. Tapi, agak aneh saja karena sebelum ini
Sandi lebih terasa akrab lebih dulu. Mungkin karena Army menemukan foto Falin
tadi. Bisa saja di hati Sandi timbul pertanyaan besar, “Apa gue ketahuan?” terlebih untuk Army yang berhasil mendapat
senyum sumringah dari Falin untuk pertama kalinya tadi. Sesopan Army
kelihatannya sekarang, tak akan ada yang tahu kalau sampai dia keceplosan
membeberkannya pada Falin, kan?
“Elo bisa main piano?” tanya Army kemudian.
Mengeluarkan gitarnya begitu Sandi berdiri mendekati pianonya.
“Ehm, sedikit,” jawabnya. Senyumnya terbesit
tipis ketika menyentuh sudut piano itu.
“Mau duet sama gue?” tawar Army. Sandi
mengangkat kedua alisnya. Tanda ia belum begitu paham dengan tawaran barusan. Army
mengangkat gitarnya, bersiap memainkannya. Kepalanya mengisyaratkan Sandi untuk
duduk di bangku piano itu.
“Malem-malem gini?”
“Sebentar aja, enggak papa, kan? Gue udah lama
enggak duet sama orang lain,” tanggap Army.
Kaki Sandi melangkah, mulai duduk di atas
bangku itu. “Jadi sebelumnya elo pernah?” tanyanya seraya membuka tutup tuts
pianonya. Sepertinya ia mulai setuju untuk berduet sebentar.
“Sama
piano cuma beberapa kali. Tapi duet dengan sesama gitar…sering. Tapi itu
dulu...,” nada suaranya seolah mengenang sesuatu. Senyuman
tipisnya membuat wajah Sandi mendatar. Mungkin ada sesuatu di masa lalu seorang
Army. Siapa yang tahu?
“Lagu apa?” Sandi mencoba mengembalikan
suasana. Ia berhasil, senyuman sopan dan manis dari Army keluar. Sandi sempat
kepincut. Mungkin, kalau rambut Army lebih panjang lagi dia akan terlihat
seperti cewek yang benar-benar cantik dengan dua lesung pipit itu.
(Sandi says: Penulisnya gila! Gue enggak kepincut! Enak aja! Tolong ya, bagian kata “kepincut” itu dihapus. Menjatuhkan harga diri gue sebagai lelaki sejati! Huft!) Sorry, San! Enggak bisa dihapus. Tombol deletenya lagi rusak :p
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment