Matahari hampir seperempat jalan menuju
puncak! gemilang cahaya. Mengukir cita, seindah asa... menuju puncak, ehem! Mulai dari awal!
Matahari hampir seperempat jalan menuju
puncak. Di rumah super duper megah bin mewah itu seorang tante-tante yang di
cerita ini kebetulan (kebetulan? -_- ) berperan menjadi mamanya Sandi sedang
sibuk bolak-balik kulkas dan meja makan. Mengurusi tiga kepala yang
masing-masing punya satu mulut untuk sarapan pagi ini. Kenapa rumah sebesar itu
sang tuan rumah menyiapkan makanannya sendiri? Mohon dilihat di meja makan
sekarang. Hanya ada roti, susu empat gelas, air putih dan beberapa selai dengan
rasa yang berbeda-beda. Selebihnya, seperti makan siang dan makan malam dengan
menu yang membutuhkan kompor dan sejenisnya, mama Sandi akan angkat tangan.
Kalo cuma sarapan sesederhana itu, sih... jimpil!
Selesai dengan kegiatan mondar-mandirnya, ia
duduk. Tepatnya di sebelah papa yang sudah lengkap dengan setelan resminya,
yang duduk di kursi kepala rumah tangga. Sandi ada di depan mama, dan Army ada
di sampingnya tentu saja. Sejak tadi Army memilih diam. Tidak canggung, sih.
Hanya saja, ia terlalu sopan untuk memulai pembicaraan terlebih dulu.
“Oh, ya. Nak Army ini ngambil jurusan apa?”
tanya mama yang sudah berpenampilan lebih normal layaknya wanita karir yang
siap berangkat kerja. Bukan dengan tampilan bak model kesasar seperti pertama
kali pulang dari Australia kemarin.
“Jurusan Kimia, Fakultas Mipa, Tante,” jawab
Army lembut.
“Masih satu aliran dengan Sandi, dong.
Sama-sama Mipa, hahaha...” sang papa tiba-tiba tertawa. Apanya yang lucu coba?
“Beda dong, Pa. Kalo Army itu murni, kalo
Sandi Keguruan. Kalo Army itu belajarnya zat-zat buatan manusia, kalo Sandi
belajarnya makhluk-makhluk ciptaan Tuhan. Terus bahasan Army tadi kan enggak
lucu, Pa. Ngapain Papa ketawa coba?” tanggap Sandi, pasang tampang datar, atau
mungkin kesal, atau sebal, atau jengkel? Ah, sudahlah...
“Tapi kalo kamu mau masuk ke Fakultasnya Army
bisa, kan?” tambah Papanya lagi.
“Enggak bisa.”
“Kenapa?” mamanya ikut nimbrung.
“Sandi udah tua buat ikut tes masuk
Universitas lagi. Dan Sandi juga enggak mau pindah jurusan,” jawab Sandi lagi,
masih memasang ekspresi yang sama. Ekspresinya tambah parah ketika orang tuanya
itu diam sebentar kemudian tertawa begitu kencangnya. Entah apa yang membuat
mereka tertawa, Sandi juga tak begitu mengerti.
Tapi, sejauh yang Army lihat, keadaan keluarga
ini begitu harmonis. Bahkan kelakuan konyol kedua orang tua Sandi ini mampu
membuat senyumnya terurai. Menurutnya, itu adalah cara mereka memanjakan Sandi.
Menanggapi setiap tutur ataupun kelakuan Sandi dengan positif dan menjadikan
Sandi sebagai teman, tidak seperti anak. Selama lima hari ini, itulah yang ia
amati selama ini. Ada rasa cemburu yang diam-diam muncul di benaknya. Andai orang
tuanya tak bercerai, mungkin ia pun akan merasakan suasana pagi seindah ini.
Tangan Sandi terulur, bermaksud meraih gelas
susu di depannya. Tapi, tiba-tiba tangan Army juga terulur. Entah apa
maksudnya, bahkan ia sempat mengenggam tangan Sandi. Dan saat itulah Sandi
sadar, bahwa...
“Awwwww....!” teriaknya. Prang! Gelas dan susu itu terkapar di atas meja. “A, aduh! Aduh!
Panas! Panas, panas!” susu itu masih panas. Army hanya garuk-garuk kepala.
Maksudnya mau menghentikan tangan Sandi, malah tangan Sandi sudah keduluan
menyentuh gelas itu.
“Gimana sih, San!” mama bergerak. Ia mengambil
tisu basah dan mendekati Sandi. Mengelap tangan anaknya dan sesekali
meniupinya. “Makannya kalo mau minum susu, ditanyain dulu susunya siap enggak
buat diminum. Kamu ini...”
“Aduh, Ma. Di saat kayak gini aja
sempet-sempetnya bercanda,” eluh Sandi kesal. Papanya hanya menghela nafas. Ia
melirik seorang pekerja wanita di sampingnya, mengisyaratkannya untuk
membersihkan meja. Army yang tadinya sudah berdiri untuk membersihkannya terpaksa
harus berhenti.
“Biar saya saja, Tuan,” ujar wanita yang
sepertinya baru berumur sekitar 27 tahunan itu. Army menurut, ia pun duduk
kembali.
“Sudah, sudah. Nak Army lanjutkan saja
sarapannya,” tambah papa Sandi. Army menanggapinya dengan anggukan kepala.
Sedang ia kembali melirik adegan di sampingnya itu sebelum mengambil rotinya
yang baru saja ia olesi selai coklat. Lagi-lagi ia tersenyum, dan rasa cemburu
itu kembali mengintip pikirnya.
***
Hanya suara lagu Hey, Soul Sisters dari Train yang terdengar dari mobil ini.
Selebihnya, tak ada percakapan berarti sejak 2 km Sandi dan Army keluar dari
rumah. Sesekali Sandi ikut bernyanyi, sedangkan Army hanya menoleh ke luar
jendela. Anehnya tak ada rasa canggung di antara keduanya. Baru lima hari, tapi
rasanya mereka sudah terlalu akrab.
Kali ini Sandi yang ada kuliah pagi. Army ikut
berangkat dengan alasan ada rapat di jurusannya. Lagipula, itu lebih praktis
daripada ia harus naik angkot sampai ke kampus.
Sampai mobil Sandi masuk ke area kampusnya,
dan sampai lagu sudah berganti pun, mereka masih enggan untuk bicara. Mungkin
memang tidak ada yang perlu dibicarakan. Lagipula keduanya merasa nyaman saja.
Tak ada salah satu dari mereka yang mencoba mencari bahan pembicaraan. Tapi,
begitu melewati sebuah kedai coklat, Army membuka mulutnya. “Bukannya itu
Derwan?” gumamnya, tapi lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan bagi Sandi.
Karenanya Sandi ikut menoleh ke kiri. Memastikan benarkah orang yang dilihat
Army itu adalah Derwan. Awalnya ia ragu, karena orang yang sedang mengangkat
sebuah kotak dari depan toko itu memakai seragam dan topi yang menutupi
sebagian bawahnya. Tapi, begitu orang itu keluar lagi, barulah ia yakin bahwa
itu benar-benar Derwan.
“Dia kerja di sana?” tanya Army lagi. Belum
mau melepaskan padangannya dari kedai itu. Meski mobil Sandi sudah tak tepat
berada di depannya. Sedang Sandi sendiri enggan menjawab. Matanya memang sudah
kembali ke jalanan. Tapi otaknya memikirkan kata-kata Falin kemarin.
“...Karena,
dua hari sejak rumahnya itu sepi dan tutup, Derwan enggak pernah kelihatan di
rumah...” apa mungkin dua hari tak di rumah Derwan
bekerja di kedai itu? Pertanyaan Army tadi ia jawab di dalam hati. Enggak, Darwin enggak pernah kerja di sana,
bahkan enggak pernah kerja. Ada sebuah simpati yang langsung menjalar di
hatinya. Sedang pikirannya terus bertanya-tanya, apa kira-kira yang sedang
disembunyikan Darwin darinya dan Falin?
***
“Falin!” panggil Sandi begitu melihat Falin
baru keluar dari gedung kuliahnya. Mendengar namanya dipanggil tentu saja Falin
menoleh. Lagipula, dari cara panggilannya, dan suara yang tak asing lagi di
telinganya itu, ia sudah tahu betul siapa orangnya. Ia tersenyum, “Say!”
panggilnya balik. Tapi di wajah Sandi sedang tak ada senyuman. Malah kerut di
dahinya. Tentu saja senyumnya langsung pudar.
“Kenapa, sih? Muka ditekuk gitu kayak
pinggiran pastel!” rutuknya sebal. Siang-siang, baru keluar dari kuliah dengan
dosen yang menjemukan malah disodori tampang Sandi yang minta digampar.
Beberapa teman Falin yang mengenalnya dan menyapanya begitu ia sampai di depan
Falin pas, baru bisa membuatnya senyum. Itu pun hanya seulas, tipis pula.
“Gue rasa beneran ada yang enggak beres sama
keluarga Derwan,” jawabnya langsung. Ia sedang tak ada nafsu untuk menanggapi
kata-kata Falin yang menyamainya dengan pinggiran pastel tadi.
“Kok?”
“Tadi pagi pas gue berangkat, gue liat dia
kerja di kedai coklat yang baru buka di depan itu.”
“Dia lagi beli coklat kali.”
“Masalahnya dia pake seragam pegawainya, Lin,”
suara Sandi meninggi. Bukankah kelihatan jelas bahwa Sandi sangat
mengkhawatirkan Derwan sekarang?
“Terus rencana elo gimana? Kalaupun kita tanya
langsung dia pasti enggak bakalan jawab.”
Mendengar kalimat ini, Sandi menghela
nafasnya. Benar juga. Kalaupun ia memergoki Derwan di kedai itu, yang ada nanti
Derwan malah marah atau semacamnya. Hah... kadang tipe Derwan yang tak suka
merepotkan orang lain inilah yang kadang membuat Sandi jengkel sendiri. Kalau
ingat Derwan yang paling tertutup di antara mereka bertiga, rasanya ia ingin
sekali memukulnya. Sepertinya ia harus mencari jalan lain.
“Oh, bentar!” sentak Falin. Ia mengeluarkan handphone-nya dari saku kemejanya.
Sepertinya barusan ada telpon. “Iya, Mi?” Mi?
Sandi langsung tertarik dengan percakapan Falin. Pasalnya, selain hanya nama Mi tadi yang terdengar, ekspresi wajah
Falin berubah derastis. Jadi senang bukan main, gitu. Kesannya, baru saja Falin menjumpai hari natal, tahun baru,
agustusan, dan hari ulang tahunnya sekaligus. Semua ekspresi pas ia dapat
hadiah di hari-hari itulah yang terukir di wajah itu sekarang.
“Ehm, iya. Gue baru keluar kelas, nih. Elo
dimana emang?” tanyanya. Entah ini hanya perasaan Sandi, suara Falin jadi lebih
lembut. Jauh lebih lembut ketimbang saat Falin bicara dengannya ataupun Derwan.
Atau bahkan dengan dosen sekalipun mungkin. Atau ini hanya perasaan Sandi saja,
ah... entahlah.
“Di depan Fakultas. Oh, oke. Gue ke sana,”
katanya mengakhiri panggilan itu.
“Siapa?” tanya Sandi secepatnya. Rasa
penasaran baru saja mencekiknya. Meskipun ia sebenarnya sudah tahu siapa orang
yang baru saja membuat Falin sesenang itu.
“Army. Gue duluan ya, Say? Nanti kita bahas
soal Derwan. Gue mau ketemu dia dulu,” jawab Falin buru-buru pergi. Tapi, grep! Sandi menghentikan langkahnya.
Merasakan lengannya digenggam, Falin kembali berbalik.
“Apaan?”
“Sepenting itu? Nanti malem kan kita siaran.
Bisa ketemu nanti, kan?” kalau itu bukan Falin, orang lain jelas sudah
tahu betul nada bicaranya sekarang
adalah nada bicara orang tingkat akut kecemburuannya. Falin saja yang tak bisa
menebaknya. Biasa, kuota di otaknya hampir habis. What the... -_-
“Ini mah urusan pribadi. Enggak lucu kalo gue
bahasnya di Korek Ati. Udah, ya? Bye!” tangan kiri Falin melepaskan genggaman
Sandi. Mau tak mau Sandi harus melepaskannya. Tapi, entah kenapa otaknya
menyuruhnya melangkah. Meski tak begitu terburu-buru, ia berniat mengikuti
Falin. Ia harus memastikan apa yang dimaksud dengan pribadi barusan. Apalagi didorong dengan hatinya yang tiba-tiba
memanas. Rasanya, ekspresi seperti itu tak pernah ditujukan Falin padanya.
Pernah sih, tapi itu pun kalau Falin sedang mengharap sesuatu darinya. Semisal,
menagih janjinya dibelikan yukata
sepulang ia dari Jepang kemarin. Selain itu, tak pernah, tuh.
Sampai di depan Fakultas Mipa, Falin berhenti.
Tepatnya karena ia sudah bertemu dengan Army yang sejak tadi sudah berdiri di
depan gedung utama fakultas itu. Senyum lebar dibentuk bibir Falin. Sandi hanya
mengamatinya dari kejauhan. Wajar ia tak mendengar pembicaraan apapun antara
mereka. Tapi satu yang membuat hatinya makin panas. Tangan Army mengusap kepala
Falin. Ditambah dengan ekspresi tersipu dari Falin. Apa-apaan itu?! Dengusnya dalam hati, sebal stadium akhir.
***
“Setelah siaran bareng Army nih, makin banyak petirs yang nanya soal kehidupan pribadi
gitaris kampus kita. Nanti nama pendengar setianya ganti bisa-bisa. Dari petirs jadi arvers, Army Lovers gitu. Gimana nih, Mi? Kira-kira apa ada nama
buat penggemar Army sendiri?” bibir DJ Falin mulai beraksi. Di sampingnya Army
beberapa kali tersenyum karena sikap Falin. Walaupun sudah beberapa kali
menemani Falin siaran, tapi ia masih saja bisa dibuat tertawa.
“Soal penggemar, gue rasa enggak ada nama, ya?
Karena rasanya gue juga belum pantes dibilang punya penggemar,” jawab Army
seadanya.
“Tapi banyak loh yang suka sama permainan
gitar Army. Suara kan juga udah lumayan. Bintangnya kampus, wajar dong kalau
punya penggemar.”
“Gue sebut aja mereka temen yang belum
dijumpai. Kalau banyak yang dukung apa yang udah gue lakuin, ya gue berterima kasih sama kalian
semua. Karena dukungan dari temen-temen juga, gue bisa sampai sejauh ini.”
“Wah, wah. Keren banget kan, ya? Jadi, namanya
bukan penggemar, tapi temen yang belum dijumpai. Oke... ehm...” Falin membaca
layar laptopnya. Ada sebuah tweet
dari petirs yang ia blok.
“Dari
banyak pertanyaan yang udah petirs mention ke twitter Korek Ati, ada pertanyaan yang ngebahas soal karir Army
sendiri. Denger-denger, Army katanya udah pernah ditawarin sama agensi musik
gitu, ya? Gimana kelanjutannya?”
“Ahaha... soal itu, gue belum terlalu mikirin.
Masalah ditawarin sama agensi musik sih enggak. Rasanya berita itu terlalu
dibesar-besarkan sama Univ dan Fakultas. Cuma pernah kenalan aja sama salah
satu manager agensi. Tapi untuk saat ini, mau nyelesain kuliah aja dulu. Buat
gitar, itu sih sebagai hobi plus nyari tambahan uang jajan aja.” Dan
seterusnya, percakapan berlanjut.
Di luar dapur siaran, ada seorang yang tak
henti-hetinya mengadu gigi-gigi di balik mulutnya. Siapa lagi kalau bukan Sandi
Yahya? Dia sejak tadi hanya berdiri. Melihat kedekatan orang di dalam sana
dengan panas api yang membara. Kalau diibaratkan dengan anime Naruto
kesukaannya, mungkin sekarang ia sedang mode keluarnya si Kyubi, monster yang ada di tubuh Naruto itu. Keluar taring, keluar
tanduk, keluar ekor, nyembur, dah... -_-
Selain itu, daripada kita membahas soal Sandi
yang sedang mendidih-mendidihnya, digodok api cemburu, lebih baik kita bahas
satu orang yang seharusnya tak pernah absen dari siaran. Derwan. Malam ini
bocah itu tidak datang. Tidak ada kabar, bahkan handphone-nya dimatikan. Sejak jam lima tadi, baik Sandi ataupun
Falin sudah menghubunginya. Tapi semuanya nihil. Tak salah, jika mereka,
sebagai sahabatnya, begitu mengkhawatirkannya. Terlebih Sandi. Kalau tak ingat
ia sudah memasukkan proposal pengajuan Korek
Ati sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat Universitas ke rektor, ia akan
men-cancel jadwal siaran hari ini.
Korek Ati harus terus berjalan jika ingin proposal itu dapat tanda tangan, dan
paling tidak dapat dana tambahan.
Tapi bukan Sandi kalau ia hanya tinggal diam
saja. Tadi ia sempat menghubungi Agus, salah satu teman kelas yang cukup dekat
dengan Derwan. Meskipun awalnya dia bilang tak tahu apa yang terjadi dengan
Derwan, tapi ia mau menyelidiki bocah itu. Ia rela tidak mengajar les malam ini
hanya untuk membuntuti Derwan. Karenanya Sandi sempat berpikir untuk mentraktir
bocah itu kapan-kapan.
Belum sempat menyelesaikan kecemburuannya yang
di atas rata-rata itu, atau bahkan bisa disebut sebagai jealous expert, handphone
Sandi bergetar. Dari Agus. Karenanya sesegera mungkin ia mengangkatnya.
Kesampingkan dulu rasa sebalnya yang barusan meluap-luap.
“Iya, Gus?” tanyanya langsung. Ia diam,
bersikap layaknya pendengar setia. Di ujung pembicaraan ekspresinya berubah.
Ada sesuatu yang membuatnya berubah mood
seketika dari kata-kata Agus di telpon. Setelah telpon itu terputus, Sandi
memandang Falin. Nasib baik saat itu lagu sedang diputar. Matanya seolah
bertelepati dengan Falin, hingga Falin mengerti. Pasti ada yang tidak beres
dengan Derwan.
***
Di depan sebuah kamar rumah sakit yang dihuni
4 orang ini Sandi malah menghentikan langkahnya. Tirai tempat tidur yang paling
dekat dengan pintu itu baru saja terbuka. Orang itu, orang yang baru saja
menyibak tirai itulah yang membuatnya berbalik. Menggeser tempatnya berdiri
hingga punggungnya menempel ke dinding. Setelah sepuluh detik, barulah ia
melongok ke dalam. Hanya kepalanya saja yang ia biarkan terlihat dari dalam.
Orang tadi, yang jelas adalah sahabat yang telah ia kenal selama tiga belas
tahun lamanya itu sudah duduk di sebelah gadis kecil yang terbaring dengan
selang infus di nadi kirinya. Baju biru mudanya menunjukkan dengan jelas bahwa
ia adalah pasien di ruangan ini. Sandi kenal betul siapa itu. Tak akan ada
gadis dengan wajah yang hampir mendekati wajah Derwan kalau bukan Desi, adiknya
yang baru berumur tujuh tahun.
Sandi tetap urung masuk. Ada sesuatu yang
mengganjal batinnya, dan menahan kakinya untuk beranjak dari tempat itu. Hanya
bibirnya yang mendesah pelan. Tanpa ada niat sedikit pun darinya untuk masuk.
Bahkan sampai Falin dan Army datang menghampirinya. Siaran pasti baru saja
selesai.
“Dimana?” tanya Falin, dengan nafas yang masih
tersengal. Mungkin mereka berdua lari dari lobi di lantai bawah sampai ruangan
paling ujung di lantai tiga ini. Pertanyaan singkat tadi juga Sandi tak
bernafsu untuk menjawabnya. Karenanya Falin langsung masuk. Sedangkan Army
menatap Sandi sebentar. Dengan jelas ia bisa melihat gurat kesedihan dan
mungkin kekecewaan di sana. Ia paham, Sandi pasti tak akan bisa ditanyai
apa-apa. Setelahnya ia pun ikut menyusul Falin, masuk ke dalam.
“Wan!” panggilan Falin membuat Derwan
mendongak, melihat kedatangannya.
“Kak Falin!” seru Desi dengan senyum lebar di
bibirnya. Falin ikut tersenyum. Tangannya spontan mengusap rambut panjang Desi
yang berantakan di bantal. Tak lupa ia membalas senyum itu. Meskipun tak bisa
selebar senyuman Desi.
“Falin... Ar... my?” Derwan bingung sendiri.
Bagaimana tidak? Bukankah seharusnya mereka tidak tahu kalau Desi ada di sini?
Apalagi Army. Kalau Falin yang tetangga lewat lima rumah dengannya itu bisa
saja tahu. Tapi kenapa sampai Army ada di sini juga? “Elo berdua tahu darimana
gue di sini?” tanyanya kemudian. Army tak menjawab. Ia biarkan Falin untuk
menjelaskannya.
“Saya ada di luar,” jawabnya, melenceng dari
pertanyaan Derwan.
“Sandi?” Derwan langsung bangun mendengar nama
Sandi disebut. Di luar katanya? Kakinya segera melangkah. Memastikan kebenaran
dari kata-kata Falin barusan. Tapi begitu ia sampai di luar, yang ia lihat hanya
punggung Sandi. Bocah itu sudah berjalan pergi. Langkahnya pelan, tapi sudah
cukup jauh untuk Derwan hampiri. Apalagi belum sempat ia memanggil sahabatnya
itu, ia sudah berbelok.
“Loh, mana Kak Sandinya?” tanya Desi begitu
Derwan kembali lagi ke dalam. Falin dan Army menatapnya berbarengan, menuntut
jawaban atas pertanyaan Desi barusan.
“Kak Sandinya sibuk. Mau pulang duluan
katanya,” jawabnya bohong. Ia tahu betul bagaimana adiknya ini cukup dekat
dengan Sandi. Melihat cara jalan Sandi tadi, Derwan tahu bocah itu pasti kecewa
dengannya. Mungkin ia juga marah, makannya tak ingin menemuinya sekarang.
Yah... besok akan ia jelaskan pada Sandi secepatnya.
Setengah jam Army dan Falin ada di ruangan
itu. Army memilih mengobrol dengan Desi. Dalam waktu singkat ia bisa begitu
dekat dengan adik kecil Derwan itu. Bahkan Desi sudah memberi Army julukan, Pangeran Manis. Sebelumnya Sandi juga
mendapat julukan sebagai Pangeran Karisma.
Mungkin itulah caranya menunjukkan kenyamanan dengan seseorang. Ah, tapi entah
kenapa Falin tidak mendapat julukan apapun. Mungkin Falin tidak cukup menarik
untuk diberi julukan. Hahahaha.... (Tawa
Sarkastis Mode On)
Sementara dua orang itu saling bercanda ria,
Falin menarik Derwan keluar. Mengajaknya duduk di bangku tunggu di depan
ruangan ini. Menginterogasinya bak detektif piawai yang baru dapat kasus hebat.
Wajahnya pun terlihat menekan Derwan. Yah... pasti dia juga cukup kecewa dengan
Derwan. Hal seperti ini malah Derwan simpan sendiri.
“Desi sakit apa?” tanyanya.
“Operasinya lancar, kok.”
“Operasi?!” mendengar jawaban yang sama sekali
tak sinkron dengan pertanyaannya, Falin malah kaget sendiri. Bahkan sampai
operasi segala? “Sakit apa pake operasi segala?”
“Hah... usus buntu,” jawab Derwan lemah.
“Sejak kapan?”
“Lusa.”
“Dan orang tua elo?”
“Mereka belum pulang. Masih di kampung.”
“Jadi soal orang tua elo yang ke kampung elo
enggak bohong?”
Derwan hanya mengangguk.
“Terus kenapa elo enggak cerita kalo Desi ada
di sini. Enggak sempet? Atau emang elo mau nyembunyiin ini dari kita?”
“Bukan gitu, Lin. Gue enggak mau ngerepotin
elo sama Sandi aja.”
“Ngerepotin apanya sih, Wan? Tinggal ngomong
aja. Apa susahnya coba?”
“Iya, sorry. Gue salah,” sesal Derwan pada
akhirnya.
“Orang tua elo tahu?” tanya Falin lagi. Derwan
menggeleng lemah.
“Gue enggak tega mau ngomongnya. Orang tua gue
di kampung juga lagi ngurusin kakek yang sakit. Mereka enggak mungkin kalo gue
suruh balik sekarang. Gue juga enggak mau mereka khawatir. Lagian Desi juga
udah enggak papa.”
“Gue mau tanya, kenapa toko roti elo tutup?
Bahkan udah lebih dari seminggu,” tambah Falin lagi. Rasanya belum puas ia
melakoni peran detektif sekarang.
Tapi mendengar pertanyaan ini Derwan lagi-lagi
menghela nafasnya. Ia tahu ini adalah masalah keluarga. Tapi rasanya kalau
mengecewakan Falin yang begitu dekat dengannya, bahkan melebihi saudara ini ia
pun tak akan sanggup. Apalagi sikap serius Falin sekarang memberinya
peringatan, bahwa ia tak akan berhenti bertanya sebelum ia menjawab semuanya.
“Kami kehabisan bahan baku. Uang buat beli
bahan baru dibawa kabur sama adek bokap gue. Jadi, terpaksa tutup dulu. Selama
bokap gue mau nyari kerjaan, kakek malah sakit. Jadi belum ada uang,” jelasnya
lirih.
“Mobil elo?”
“Gue jual buat ganti
biaya kerugian pesanan yang dibatalin. Apesnya waktu itu lagi ada pesanan
banyak buat acara kantoran. Harinya udah mepet, tapi kami enggak bisa bikin
apa-apa.” Kini giliran Falin yang mengehela nafasnya.
Masalah sebesar ini menimpa sahabatnya, ia malah tak tahu. Rasanya hatinya
benar-benar nelangsa.
“Jadi ini alasan elo kerja di kedai coklat
itu. Buat biayain biaya rumah sakit?”
“Elo tahu darimana gue kerja di kedai coklat?”
“Sandi ngeliat elo pas berangkat kuliah pagi
tadi.” Mendengar nama Sandi lagi, Derwan menghela nafasnya berat. Entah semarah
apa bocah itu sekarang padanya. Bagaimana cara ia akan memulai penjelasannya
besok, ia benar-benar tak tahu.
Sekitar jam setengah sebelas, Army dan Falin
pamit pulang. Lagipula Desi juga sudah tidur. Mereka harus segera pergi sebelum
diusir petugas rumah sakit karena jam besuk sebenarnya sudah selesai dari tadi.
Karena arah jalan pulang mereka pun berbeda, mereka pisah. Padahal tadinya Army
sempat ingin mengantar Falin. Tapi Falin menolaknya. Akhirnya Army pulang
sendiri. Paling tidak ia masih ingat jalan pulang ke rumah Sandi. Sampai di
sana, hanya pembantu yang menyambutnya. Orang tua Sandi belum pulang, berikut
juga Sandi.
“Tuan muda bilang, den Army langsung tidur
saja. Katanya beliau mau nginap di tempat temannya,” jelas salah seorang
pembantu saat Army tanyai. Yah... tak ada pilihan lain baginya selain tidur
sendiri sekarang.
***
Hari ini Derwan absen kuliah. Tadi pagi ia
sudah bekerja di kedai sampai jam tiga siang. Sebenarnya hari ini ada satu mata
kuliah jam setengah empat. Tapi kasihan kalau Desi ditinggal terlalu lama. Dan
rasanya ia juga harus absen di Korek Ati
satu hari lagi. Ia ingin memberi perhatian ekstra dulu untuk sang adik.
“Pengeran Karisma enggak dateng hari ini,
Kak?” tanya Desi begitu Derwan kembali dari
kamar mandi.
“Iya?”
“Pangeran Karisma, Kak Sandi. Kenapa dia
enggak jengukin Desi?” tanya Desi lagi. Derwan bingung harus jawab apa,
sekaligus pertanyaan ini mengingatkannya pada Sandi. Ah... ya. Dia belum sempat
menghubungi Sandi sama sekali.
“Kak Sandinya lagi siaran. Kan Kakak enggak dateng hari
ini. Tapi siarannya harus lanjut. Kalau Kak Sandinya ke sini, nanti siapa yang
ngelanjutin siaran?” jelas Derwan sebisa mungkin. Meskipun Desi sudah
manggut-manggut paham, tapi gurat kecewa masih ada di sana. Karenanya Derwan
makin tambah tak enak.
“Kita ganti infusnya dulu, ya?” tiba-tiba
suara perawat mengusik mereka. Derwan minggir sebentar, membiarkan sang perawat
melakukan tugasnya.
“Desi pulangnya kapan, Sus?” tanya Desi.
“Setelah luka operasinya kering, sudah boleh
pulang. Mungkin 3-4 hari lagi,” jawab sang perawat setelah selesai mengganti
infus, dan menilik sebentar catatan pasien yang tak pernah tanggal dari
tangannya.
“Asik! Berarti Desi bentar lagi udah boleh
pulang!” serunya senang. Tapi tidak dengan Derwan.
“Saya belum melunasi administrasinya, Sus.
Bukannya enggak bisa keluar sebelum lunas?”
“Oh... tapi di sini bilangnya sudah lunas.”
Oke, Derwan makin bingung. Bahkan setengahnya saja ia belum membayarnya.
Lagipula, ia ke bagian administrasi saja belum untuk menanyakan berapa biaya operasi dan tetek bengek lainnya.
“Siapa yang melunasi, Sus?” tanyanya lagi.
“Saya tidak tahu. Anda bisa menanyakannya
langsung ke bagian administrasi untuk mengetahuinya. Saya permisi dulu, ya?”
jawabnya ramah. Kemudian pergi setelah mendengar ucapan terima kasih dari
Derwan.
“Kakak keluar bentar ya, Des? Kalo ada
apa-apa, sms kakak aja, ya?” Derwan mengambil handphone Desi dari atas meja. Setelah mendapat izin dari adiknya,
ia keluar. Tepatnya ia menuju bagian administrasi. Ada seorang petugas dengan
seragam merah muda yang sepertinya sedang sibuk mengurusi sesuatu.
“Maaf, Sus,” ujarnya menghentikan pekerjaan
perawat itu.
“Iya? Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya wali dari pasien Desi Hardina, kamar
Dahlia nomor 303. Mau menanyakan soal biaya administrasinya, Sus.”
“Tunggu sebentar, saya cek dulu, ya?” petugas
itu memeriksa monitornya. Mencari satu nama yang dimaksud Derwan. “Oh, iya. Di
sini keterangan sudah lunas hari ini pukul 9 pagi tadi,” jawabnya, yang tentu
saja membuat Derwan bingung.
“Tapi saya belum ngelunasin, Sus. Kira-kira,
siapa yang sudah bayarin ya, Sus?”
“Ehm... di sini nama pelunas tertera saudara
Sandi Yahya.”
“Sandi?” gumam Derwan seorang diri. Setelah
berujar terima kasih, ia kembali ke kamar Desi dengan raut wajah yang membuat
adiknya itu bingung. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.
***
Jadwal siaran masih lama. Tapi tiga orang itu,
Sandi, Falin dan Army sudah ada di studio. Entah sejak kapan Army jadi anggota
dari Korek Api. Lihat saja apa yang
dilakukannya sekarang, ia seperti menggantikan absen Derwan dua hari ini. Ia
yang sibuk bersih-bersih. Bersama Falin. Tapi Sandi yang biasanya selalu saja
ada bahan eyel-eyelan dengan Falin
lebih banyak diamnya. Bahkan sejak tadi ia hanya duduk di sofa, memandangi
laptop Falin asal membuka folder-folder tak penting. Baik Falin maupun Army tak
berani menganggunya. Mukanya asle bete
banget!
Sandi baru menyudahi aksi tak pentingnya itu
setelah mendengar Falin menyebut, “Derwan?” nama ini tentu saja membuatnya
penasaran untuk menoleh ke pintu, tepatnya ke arah pandang Falin yang disusul
Army setelah menunda pekerjaannya. Ya, benar. Derwan ada di sana. Matanya
memerah, apalagi setelah bertemu dengan tatapan Sandi yang masih bingung
bagaimana bisa dia ada di sini. Atau lebih tepatnya lagi apa maksud
kedatangannya dengan temperamen yang tak bisa ditebak seperti itu. Saat Sandi
hendak berdiri, barangkali berniat menanyakan pasal kedatangannya, tiba-tiba buk! Sebuah pukulan cukup keras mendarat
di pipi kanannya. Nasib baik laptop Falin sudah ia taruh. Kalau tidak, mungkin
benda itu akan hancur mengingat Sandi yang langsung terpelanting ke lantai
saking tak siapnya dengan tinju yang ia dapat barusan.
“Aaa!” teriakan Falin memecah keheningan
sesaat itu. Buru-buru ia berlari, menghalau Derwan yang sepertinya hendak
memberikan layangan tinju yang lain untuk Sandi yang sudah pontang-panting
bangun. “Derwan! Apa-apaan sih, elo?!” sentak Falin. Ia berusaha melotot,
memberi sedikit tekanan pada Derwan. Tapi rasanya tak berhasil. Belum sampai
pada titik terendah emosinya, ia mendorong Falin.
“Aaa...!” teriakan Falin berikutnya membuat
Sandi gantian melotot. Matanya mulai merah melihat Falin yang hampir terantuk
meja kalau saja Army tak sigap langsung menangkapnya.
“Apa-apaan sih, elo?!” pertanyaan yang sama
dilempar Sandi pada Derwan. Tapi Derwan tak memberinya jawaban dengan
kata-kata. Grep! Derwan mencengkeram
erat kerah Sandi dan sekali lagi, buk!
Tinju kedua berhasil ia layangkan. Tapi kali ini Sandi terlanjur siap. Ia tak
serta merta langsung terpelanting seperti tadi. Meski sudut bibirnya mulai
berdarah. Ia kembali pada Derwan. Bermaksud mencengkeram balik kaos Derwan,
tapi tangan Derwan lebih cepat darinya.
“Elo anggep gue apa sih, San?!” suara Derwan
akhirnya terdengar. “Elo anggep gue pengemis,
hah?!” sentaknya lebih keras.
“Hah?” polos, pertanyaan singkat ini jelas
menggambarkan betapa tak mengertinya Sandi dengan teriakan barusan.
“Elo kira gue enggak bisa buat biayain biaya
rumah sakit adek gue sendiri? Kenapa elo ikut campur, hah?! Gue enggak pernah
minta bantuan elo! Mentang-mentang elo kaya, elo bisa mandang rendah gue gitu
aja, apa?!”
“Apa?” pertanyaan singkat Sandi yang kedua
kali ini lebih punya ekspresi. Ia sedikit tak percaya dengan kata-kata Derwan.
Matanya mulai memerah, ada setitik sakit yang tiba-tiba menyenggol hatinya.
“Kalian berdua, udah!” Falin kembali mencoba melerai.
“Minggir, Lin!” tapi lagi-lagi Derwan
mendorongnya.
“Fahmi!” untunglah Army masih sudi menjadi
penyelamatnya.
“Woy!” grep!
Sandi benar-benar tak terima. Derwan sudah kelewatan. Apa ia tak ingat siapa
Falin sebenarnya, sampai-sampai ia tega mendorong Falin untuk yang kedua
kalinya. Tapi meskipun Sandi berhasil mencengkeram kaos Derwan, cengkeraman
Derwan padanya tidak mengendur. Justru makin kuat malah. Dalam jarak sedekat
ini, Sandi bisa mendengar bagaimana geraham Derwan gemeletukan dan rahangnya
yang mengeras.
“Kenapa elo mandang rendah gue gitu, San? Gue
bukan pengemis!”
“Gue enggak pernah bilang elo pengemis!”
“Ya terus kenapa elo sok-sokan bayarin biaya
rumah sakit Desi, hah?! Masih ada gue sebagai kakaknya! Elo pikir elo siapa?!”
Deg! Kalimat terakhir itu mengendurkan cengkeram Sandi. Akhirnya ia
melepaskannya. Mata merahnya mulai berair. Meski tak sampai keluar, tapi
rasanya titik tadi mulai bertambah. Dadanya mulai terasa sakit. Lantas ia tak
mau berlama-lama dalam situasi ini. Ia tampik keras-keras tangan Derwan agar mau
melepaskannya. Set! Tangan itu
terlepas, dan menyisakan tatapan nanar Sandi pada Derwan.
“Iya! Elo bener! Emang gue siapa, yang udah
berusaha bantuin orang yang gue kira nganggep gue sahabatnya, bukan orang
lain!” sentak Sandi. Ada perubahan ekspresi di wajah Derwan. Mungkin ia pun
terkejut dan mulai sadar apa yang sudah ia katakan pada Sandi tadi pasti
menyakiti hati Sandi.
“Kalo emang elo keberatan, elo bisa balikin duit gue,
kok. Enggak perlu pake acara nonjok-nonjok gue segala!” skak! Derwan tak bisa lagi bicara. Yah... Sandi sendiri juga
memilih hengkang dari sana. Meninggalkan Derwan yang menyesali perbuatannya,
serta Falin dan Army yang memandang kepergiannya kemudian beralih ke Derwan.
***
Segelas air putih diulurkan Army ke Derwan
yang sudah duduk lemas di sofa. “Thanks,” ujarnya singkat. Army hanya tersenyum
menanggapinya. Sedangkan Falin hanya berdiri, menyandar kaca yang membatasi
ruangan ini dengan dapur rekaman. Gestur tubuhnya, kedua tangan yang ia lipat
di depan dada dan kakinya yang ia tekuk sebelah, menandakan bahwa ia
benar-benar marah dengan Derwan sekarang. Karenanya Army memilih diam. Ia duduk
di samping Derwan tanpa berani memberi komentar apapun.
“Sinting elo, Wan!” umpatan Falin kemudian
terdengar. “Maksud elo apaan, sih? Dateng-dateng maen tonjok gitu aja! Dewasa
dikit, kek!” tambahnya lagi. Agaknya berpengaruh. Buktinya Derwan mengangkat
kepalanya. Menatapnya dengan tatapan yang merasa bersalah.
“Elo enggak papa?” tanyanya, mengingat Falin
yang ia dorong dua kali tadi. Tapi pertanyaan ini tak membuat Falin senang.
Justru ia makin kesal. Dengusan nafas sebalnya terdengar. Bahkan ia mulai
berjalan ke arahnya. Duduk di sofa di depannya. Kalau saja tak ada meja yang
membatasi mereka, mungkin ia sudah memukul Derwan saking kesalnya.
“Seharusnya pertanyaan itu enggak elo tanyain
ke gue! Elo sadar, siapa yang paling sakit hati, kan? Dan elo masih ngejorok di
sini aja, bukannya ngejar Saya dan minta maaf sama dia. Apa salahnya sih
bantuin sahabat sendiri? Lagian elo kan juga tahu, gimana Saya sayangnya sama
Desi. Kenapa yang kayak gitu elo permasalahin, sih? Sampe nanya emang Saya tu
siapa, elo? Elo sadar, elo juga salah enggak ngasih kabar adek elo sakit ke
kita. Apa gue sama Saya itu udah enggak ada artinya lagi buat elo? Seharusnya
elo yang kena tonjok tadi!” oceh Falin panjang lebar.
“Hah...” tangan Derwan meraup wajahnya
sendiri. Tentunya setelah menaruh gelas tadi di atas meja. Ia sadar ia salah.
Tapi apalah daya, ia sudah melayangkan tinjunya dan Sandi pun sudah keburu
pergi. “Gue kebawa emosi, Lin. Begonya gue ngerasa tersinggung sama sikap
Sandi. Gue enggak mikir panjang, kalo dia pasti cuma mau nolongin gue. Tapi,
gue juga enggak pengen nyusahin dia ataupun elo. Itu karena gue nganggep elo
berdua itu sahabat gue. Gue enggak mau jadi parasit buat sahabat gue sendiri,
Lin,” jelasnya.
Yah... Falin luluh. Apalagi melihat tampang
Derwan yang sudah benar-benar kacau.
“Nah, Wan,” suara Falin mulai lirih.
Sepertinya marahnya sudah benar-benar reda. Army sebagai pengamat tersenyum
tipis melihat perubahan besar itu. Begitu mudahnya seorang Falin meredakan
emosinya.
“Kalo dipikir-pikir, apa yang udah dilakuin
Saya itu enggak ada apa-apanya sama yang udah elo lakuin buat dia,” Falin mulai
mengenang masa lalu. Langit-langit studio ia jadikan monitor untuk
menggambarkan bagaimana masa-masa kecil mereka bertiga. Seolah tergambar dengan
jelas, bagaimana seorang Derwan kecil menggendong Sandi kecil dengan dirinya
sendiri yang mengikuti dari belakang. Bagaimana seorang Derwan kecil menyuapi
Sandi kecil roti tawar diolesi mentega. Bagaimana seorang Derwan kecil berusaha
sekuat tenaga membuat seorang Sandi kecil tertawa. Bagaimana seorang Derwan
kecil mengusap keringat Sandi kecil saat bermimpi buruk ketika tidur siang di
teras rumahnya. Bukankah saat itu bahkan dirinya sendiri hanya menjadi penonton
dari sikap Derwan yang melibihi saudara sendiri bagi Sandi.
Seolah ikut melihat gambaran masa-masa kecil
mereka, Derwan ikut tersenyum. Bagaimana ia bisa kenal dan terus tumbuh bersama
Falin dan Sandi mulai terputar kembali di otaknya.
“Elo selalu bantuin dia pas dia sakit. Elo
bahkan sering bolos sekolah biar dia enggak sendirian. Kemana-mana elo yang
gendong dia. Bahkan elo nyampe lupa kalo orang yang lebih dulu sahabatan sama
elo itu gue!” Falin berhasil memunculkan tawa lirih Derwan. Suasana yang dingin
tadi perlahan menghangat.
“Sandi pernah sakit?” tanya Army, kembali
bersuara. Setidaknya karena pertanyaan ini Falin dan Derwan ingat bahwa ada
orang lain di antara mereka berdua sejak tadi.
“Ehm, iya. Pertama kali ketemu Saya, dia
sakit. Dia enggak bisa ngomong dan enggak bisa jalan. Jadi kemana-mana Derwan
gendong dia sampe dia bisa jalan dan ngomong lagi,” jawab Falin dengan senyum
lebar. “Dan itu udah lama banget. Waktu itu umur kami baru delapan tahun. Oh,
iya. Kalo diitung sampe sekarang... ah! Itu bukan usia jagung lagi, Wan!
Seharusnya elo sadar dong gimana sifat Saya! Kasarnya ngomong, dia pengen bales
budi sama elo. Walaupun gue yakin seratus persen kalo dia itu tulus, elo udah
dianggep lebih dari sekedar sahabat! Tapi, sodara! Masa elo enggak paham-paham,
sih!”
“Sorry, Lin...”
“Cck! Minta maaf ke Saya, Wan. Jangan ke gue.”
“Ehm, ya. Elo bener. Gue harus minta maaf sama
dia.”
“Oh, iya!” seru Army tiba-tiba, mencoba
menghangatkan suasana yang sepertinya hampir mendingin lagi. “Gue awalnya
sempet bingung sama cara panggilan Fahmi ke Sandi. Juga panggilan kalian ke
Fahmi.”
“Oh, itu...”
“Alesannya sih karena kita manggil dia Falin.
Singkatan dari Fahmi Linasta. Dia ikut-ikutan manggil Sandi pake singkatan,
Sandi Yahya, jadi Saya. Tapi malah kadang bikin bingung orang lain. Itu Saya yang dimaksud artinya kata ganti
orang pertama tunggal. Pernah sampe dia ribut sama dosen cuma gara-gara nyariin
Sandi pake cara manggil dia itu,” jelas Derwan, memotong kata-kata Army.
“Ya lagian... kalo emang enggak mau dipanggil
singkatan, jangan manggil gue gitu mulu, dong. Falin, Falin! Itu kan nama kecil
gue,” protes Falin sebal.
“Elo enggak pernah manggil gue Dehar, kalo elo mau nyingkat nama gue.
Gue kan juga manggil elo Falin.”
“Ya, elo sama Saya kan beda. Gue udah kenal
elo sejak lahir. Tapi Saya kan cuma ngikut-ngikut elo doang.”
“Oh, ya? Masa?” goda Derwan lagi. Melihat
semburat merah di wajah Falin, Army tertawa.
“Udah, ah! Mau siap-siap buat siaran!” Falin ketara sekali gugupnya. Secepatnya ia bangun dan masuk ke dapur rekaman. Menyisakan dua orang itu yang tertawa bareng. Tapi, baru beberapa detik ia melongok keluar. “Buruan minta maaf sama Saya!” hardiknya. Derwan hanya mengangguk, denga sisa senyuman di bibirnya. Ya, mungkin ia harus meluruskan masalah ini dengan Sandi besok.
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment