Falin berjalan santai menuju kelasnya.
Beberapa kali kepalanya menoleh ke beberapa kelas yang sudah terisi penuh
dengan mahasiswa sejurusan dengannya. Sekali ia melihat jam tangannya,
memastikan jam kuliahnya masih cukup lama. Bahkan, ketika ia sudah masuk kelas
saja, belum ada satu orang pun yang nongol. Alhasil, ia duduk sendirian. Tempat
favoritnya, depan pojok kanan, dekat jendela.
“Fahmi!” tiba-tiba suara seseorang membuatnya
mengedikkan bahu. Cukup terkejut, dan hampir saja handphone di tangannya itu terjun ke lantai.
“Ya ampun! Tria! Gila! Ngagetin aja elo!”
protesnya melihat sahabatnya itu tergopoh, dan menarik kursi langsung tepat
berada di depannya. Matanya berubah jadi jengkol, eh... salah. Sebesar jengkol
maksudnya. Nafasnya memburu, keringatnya mengalir dari dahi, tenggorokannya
membunyikan suara ludah yang baru saja ia telan, bibirnya tipis berwarna merah
muda, ehm... sepertinya Tria abis ganti
lipstik #plak!
“Elo! Elo! Elo!” sentaknya berulang-ulang.
Jari telunjuknya teracung, dua-duanya. Melihat tampang bingung Falin, ia jadi
gregetan. Alhasil kerah baju kemeja Falin jadi korban. Ia tarik-tarik sampai
membuat pemiliknya hampir kehilangan kesadaran. Lebay!
“Aduh! Aduh! Tria! Apa-apaan sih, elo?!”
teriak Falin mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Tria. “Dateng-dateng
ngagetin, tiba-tiba narik-narik kerah baju gue seenak jidat elo! Elo mau jadi
tersangka pembunuhan pagi-pagi buta gini, heh?!” sentaknya sebal. Sejurus ia
menjadikan handphone-nya tadi menjadi
cermin. Membenahi tampilannya yang hampir berantakan karena ulah Tria.
“Pagi-pagi buta dari alam barzah! Elo enggak
liat tu matahari udah cengengesan kayak matahari di Teletabis sejak tadi,
hah?!”
“Apaan, sih? Enggak penting elo, ah!”
“Ya itu dia! Seenggak pentingnya gue, elo
lebih enggak banget tau!” sentak Tria lagi.
“Apaan, sih? Enggak ngerti gue!”
“Semalem! Semalem elo ngapain, hah?!”
“Molor, lah! Ngapain lagi!”
“Siaran dodol!”
“Nah, itu tau! Pake nanya lagi elo.”
Hosh...
hosh... Tria mengatur nafasnya. Sepertinya ia harus
sedikit tenang untuk menghadapi Falin sekarang. “Elo semalem siaran, itu... itu
bintang tamunya siapa?” tanyanya lebih tenang sedikit.
“Elo enggak denger? Atau elo lagi budek
semalem?”
“Setdah, lu! Gue denger! Makannya gue nanya!”
“Nah elo denger, ngapain lagi pake nanya,
hah?!”
“Fahmi, elo, ya!”
“Fahmi...!!!” teriakan lain terdengar.
Setidaknya Falin tertolong. Karena kalau tidak ada segerombolan cewek-cewek
rumpi di kelasnya itu tergopoh, persis seperti Tria tadi, masuk dan meneriaki
namanya, mungkin pukulan Tria sudah mendarat di kepalanya.
“Fahmi! Semalem itu beneran Army?” tanya
mereka serempak. Falin melompong
sebentar. Bulu-bulu di pulpen yang mereka bawa hampir membuat hidungnya bersin
lantaran benda itu dekat dengan hidungnya. Setelah melihat ekpsresi penasaran
akut di wajah mereka, ia mengangguk pelan.
“Ya ampun! Oh My God! O.M.G, wanna be, baby!
Itu beneran Army? Si legendaris kampus kita itu? Si raja gitaris yang udah buat
kampus kita terkenal bahkan sampe Merauke itu? Ya Tuhan! Keren banget! Dia...”
dan bla, bla, bla! Penulis malas
melanjutkannya. Selebihnya, Tria yang mengurusnya. Dengan satu sepakan,
cewek-cewek itu menyingkir sudah dari hadapan Falin. Kini gilirannya untuk
menginterogasi Falin yang mulutnya menganga lebar. Baru saja ia sadar, rasanya
sifat kecowok-cowokkan-annya
akhir-akhir ini muncul karena terlalu lama bergaul dengan Tria.
“Jadi itu beneran Army?” Tria mengulang
pertanyaan cewek-cewek tadi. Demi meyakinkannya sendiri. Falin dan dirinya
sendiri tahu, mereka berdua, ah, tidak! Bahkan mungkin semua cewek di kampus
ini begitu menyukai cowok gitaris yang sudah menjadi wallpaper handphone Falin
sekarang ini. Jadi wajar saja kalau mereka semua histeris tak karuan. Hampir
mirip seperti orang utan pas musim kawin. Setdah
analoginya! -_-
“Iya! Itu Army!” Falin meyakinkannya. Saat itu
jugalah ia menyesal. Karena setelah itu ia harus menderita asma dadakan, lantaran Tria memeluknya dengan erat sekali.
“Gila, elo! Uhuk! Uhuk! Beneran pengen jadi
tersangka pembunuhan... uhuk! Kali elo, ya?” ujarnya setelah berhasil
melepaskan diri.
“Gue enggak peduli! Sekarang, jawab gue!” Tria
kembali ke tempat duduknya. Matanya kembali sebesar jengkol. “Kenapa elo enggak
kabar-kabar ke gue kalo tadi malem itu bintang tamunya itu The Sweet Prince,
hah? Kenapa?!” sentaknya lengkap dengan cibiran bibirnya.
“Ye! Gue aja enggak tahu kalau bakalan ada dia
semalem. Dadakan tau!” balas Falin, mencoba membela dirinya.
“Mana mungkin! Kan elo DJ-nya! Masa DJ radio
enggak tahu skenario acara siarannya sendiri, sih?!”
“Beneran! Yang bawa Army semalem itu Saya!”
“Nah, iya. Elo, kan?”
“Saya! Bukan gue!”
“Saya sama gue apa bedanya? Sekarang elo mau
belajar kata ganti orang sama gue, hah?!”
“Ya ampun! Sandi Yahya! Kenapa elo selalu
bingung gitu sih kalo gue bilang Saya!”
“Ya lagian elo, sih. “Saya” itu kata ganti
orang pertama tunggal. Kenapa elo pake buat manggil nama orang coba? Udah jelas
namanya Sandi Yahya, ngapain disingkat jadi “Saya” segala? Bingungin!”
Fuh! Falin meniup poninya kesal, bercampur ampek sebenarnya. Rasa-rasanya perdebatan mereka tak ada artinya
sama sekali.
“Si Sandi nemuin tuh orang di mana?”
“Nemu?! Hello! Elo kira si Army itu duit
gopek, maen temu-temuan gitu?”
“Whatever,
deh!”
“Gue enggak sempet tanya. Gue udah seneng aja
kali ketemu Army. Mana sempet buat mikir yang kayak begituan?” bibir Falin
tersungging mengingat bagaimana senangnya ia bertemu Army semalam. “Terus, gue
udah sempet foto lagi sama dia,” pamernya menyodorkan hanphonenya tepat di
depan jidat Tria, eh... mata
maksudnya.
Tanpa ba-bi-i-bu-bu-di-ke-pa-sar lagi, Tria
langsung menyambarnya. Berteriak sehisteris mungkin melihat wajah dua orang
yang ia tahu itu nongol di depan layar. “Ya, ampun! Gue pernah liat video dia,
tapi gue enggak nyangka kalo dia emang manis
banget!” komennya tak ketinggalan.
“Asli! Manis banget! Apalagi lesung pipitnya
itu. Uh! Gila, Sis!” Falin jadi ikutan heboh. Cewek-cewek hebring tadi saja sampai melongo. Mau ikutan hebring takut disepak lagi sama Tria. Akhirnya mereka sepakat untuk
berteriak sekencang-kencangnya di dalam hati. Apaan, sih? -_-
“Oh, iya! Terus dia bakalan dateng lagi enggak
buat siaran nanti malem?” Tria menghentikan kehebohan mereka yang membuat
cowok-cowok sekelas mereka tak jadi masuk ke kelas, dan memilih pergi
sejauh-jauhnya dari sana.
Falin nampak berpikir sekejap. Hanya setengah
detik, sih. “Mana gue tahu? Yang
ngurusin soal itu kan si Saya,” jawabnya kemudian.
“Yaelah. Kan elo penyiarnya. Seharusnya elo
tahu, dong.”
“Masalahnya gue juga enggak tahu si Army itu
sekarang di mana. Kan enggak mungkin gue mau ngubek-ngubek kampus kita ini buat
nemuin dia.”
“Elo enggak minta nomer hp-nya, tah?” menjawab
pertanyaan ini Falin hanya menggelengkan kepalanya. “Ah, gimana sih elo?”
“Em...” telunjuk kanan Falin menyentuh
bibirnya. Khas Falin ketika berpikir serius. Jadi Falin bisa serius juga gitu maksudnya.
“Apa gue tanya Saya aja, ya?” lanjutnya
setelah menemukan secuplik ide di pojokkan otaknya. Tria hanya menganggukkan
kepalanya, setuju. Sedangkan handphone
Falin ia sodorkan biar Falin bisa langsung menghubungi Sandi.
Di satu sisi, Sandi sedang fokus dengan
jalanan. Ia baru keluar dari gerbang rumahnya. Belum terlibat satu obrolan pun
dengan Army. Army juga memilih diam. Belum ada bahan obrolan yang tepat
mungkin. Tapi suara lagu Closer-nya Joe Inoue yang jadi OST-nya Naruto dari handphone Sandi di dekat kemudi itu
membuatnya membuka mulut. “Ada telpon, tuh,” ujarnya karena Sandi tak langsung
tanggap dengan hanphone-nya. Tapi
tadi matanya sempat melihat nama yang muncul di layar. Itu dari Falin. Dia
hanya tersenyum tanpa mengambilnya.
“Biasa dia, mah. Miscall doang. Abis itu pasti sms,” jawabnya. Benarlah. Beberapa
detik kemudian, suara tlung!
terdengar. Menanggapi hal itu Army tertawa kecil. Sepertinya Sandi dan Falin
benar-benar dekat. Ah, apalagi dengan foto yang terselip di novel semalam itu.
“Enggak dibuka?” tanya Army karena lagi-lagi
Sandi hanya diam saja.
“Tolong bukain, deh. Males pegang hp kalo lagi
nyetir.”
“Enggak papa?”
Sandi langsung menoleh, dengan senyum tipis.
“Kenapa? Enggak ada apa-apa juga. Dia enggak bakalan ngirimin gue kata-kata
romantis juga. Falin bukan cewek gue gini,” jelasnya. Tapi Army malah tersenyum
dengan arti yang tentu saja membuat Sandi kikuk. Jelas terpampang di senyuman
itu kata-kata Gue enggak tanya juga
hubungan elo sama Falin apaan. Bagaimana Army memergokinya menyimpan foto
Falin di novel semalam itu kembali ia ingat. Ah... ia akhirnya mengalihkan
pandangannya ke jalanan lagi.
Sesuai permintaan Sandi, Army meraih handphone itu. Membukanya dengan mudah
karena Sandi tidak memasanginya password
apapun. Begitu membacanya, Army tertawa. Sandi jadi bingung. Lantas pertanyaan,
“Kenapa?” langsung terucap dari bibirnya.
“Nanti malem Army dateng lagi, enggak? Dateng
lagi, kan? Iya, kan? Dateng kan, ya? Datengin, Saya! Datengin pokoknya! Harus!”
Army membacanya ulang sms Falin untuk Sandi. Tanggapan Sandi hanya gelengan
kepala. “Bales apaan?” tanya Army kemudian.
“Elonya sendiri gimana?” Sandi malah balik
bertanya.
Army tak langsung menjawab. “Dateng aja, deh.
Sebagai bayarannya, elo tetep nginep di tempat gue aja,” malah Sandi yang mendahuluinya bicara.
“Masalah datengnya sih oke. Enggak perlu ada
bayarannya segala juga enggak papa. Enggak enak dong gue nginep tempat elo
mulu,” ujar Army kemudian, bersikap sopan, seperti biasa.
“Yah... yang enggak enak kita dong malahan.
Kitanya ngerepotin elo mulu, tapi cuma dapet martabak telor doang.” Mendengar
kata-kata ini Army tertawa. “Lagian, gue bete di rumah sendirian. Daripada elo
ngeluarin
duit buat ngekos, mending uangnya buat nraktirin kita-kita martabak telor tiap
siaran. Sekalian nemenin gue. Bukan apa-apa. Bokap nyokap gue itu sering banget
ke luar negeri. Ini bukan sombong, ya. Tapi keluhan! Sumpah! Gue kayak anak
yang enggak keurus, deh. Tiap hari sendirian di rumah.”
“Sendirian?” dahi Army berkerut. “Dengan
orang-orang sebanyak itu di rumah elo, elo bilang sendirian?”
“Mereka itu enggak bakalan ngomong sama gue
kalo enggak penting. Sebenernya gue juga heran kenapa orang sebanyak itu
ditarok di rumah gue. Gue juga heran sama bonyok, kenapa bikin rumah segede
itu. Kan jadi cape kalo mau bersih-bersih. Percaya enggak percaya, ya? Bokap
nyokap gue itu, enggak pernah punya duit. Sekalinya punya duit pasti buat beli
sesuatu. Buat investasi, Sayang,”
Sandi meniru suara mamanya. “Terus, kalo masalah orang-orang di rumah gue itu
pasti nanti bilangnya, Membantu
pemerintah mengurangi pengangguran, Sandi,” kali ini ia meniru suara
papanya. “Bener-bener enggak habis pikir gue!” Sandi menggeleng-gelengkan
kepalanya. Army no coment. Hanya tawa
saja yang ia produksi sejak tadi.
“Tapi awalnya gue sempet kaget aja. Tampilan
elo yang biasa ini, bener-bener jauh sama rumah elo. Dan kayaknya isi lemari
elo itu jarang elo pake,” ujar Army setelah puas dengan tawanya sendiri.
“Isi lemari gue itu yang menuhin nyokap gue,
Mi. Sampe sekarang aja gue bingung kenapa banyak banget tuxedo di lemari itu. Gue kan jarang banget ke acara resmi. Yah...
kecuali kalo bokap maksa gue buat ikut acara kantoran bareng mitra bisnisnya.
Atau kalo gue dapet job MC di mana gitu. Tapi kan satu aja cukup, ya? Enggak
dipake tiap hari gini. Kan enggak lucu juga kalo gue ke kampus pake baju
begituan. Kondangan aja belum tentu pake jas, kan?” Akhirnya Army tak berhasil
menghentikan tawanya. Sepertinya Sandi belum bosan membuatnya tertawa.
“Selain lemari, barang-barang di kamar itu gue
beli pake duit gue sendiri. Yah... walaupun duitnya juga dari mereka, tapi
enggak semata-mata langsung gue minta langsung. Pake duit jajan gitu. Makannya
tampilan gue biasa aja. Dan, mobil ini, nih. Pake duit gue hasil nge-job juga,
tahu.”
“Oh, iya?”
“Iya. Seperempatnya doang tapi,” lanjutnya.
Tawa Army meledak mendengar jawaban konyol itu. Seperempatnya aja belagu lu, San! -_-
“Oh, iya. Ntar kalo bonyok gue pulang, elo
siap-siap aja tutup kuping, ya? Apalagi nyokap gue. Haduh... dia pasti heboh
banget kalo ada temen gue ke rumah. Dimaklumin aja. Kadang gue aja enggak kuat
kalo mereka ada di rumah. Ckckck!” keluh Sandi. Tawa Army menghilang, berganti
dengan senyuman tipis.
Kalimat, “Masih lebih baik daripada enggak
ada, kan?” membuat Sandi menoleh sempurna. Saat itulah ia mendapati perubahan
ekspresi Army.
“Ehm... orang tua elo u, udah enggak ada?”
tanya Sandi hati-hati. Army menoleh dengan senyuman tipis.
“Masih, kok. Dua-duanya masih hidup. Tapi gue
enggak tau aja ada di mana.”
“Maksudnya?”
“Mereka udah cerai sejak umur gue delapan
tahun. Gue denger-denger, nyokap gue udah punya keluarga sendiri, dan bokap gue
entah ke mana. Terakhir gue ngeliat bokap gue, waktu umur gue tujuh belas tahun. Setelah
itu, sama sekali enggak pernah ketemu dia. Gue ngikut kakek dan paman gue sampe lulus SMA.
Dan sekarang... gue sendirian karena gue merantau,” jelasnya sambil tersenyum
lebih lebar dari yang tadi.
“Aduh... so, sorry nih, Mi. Gue enggak
bermaksud...”
“Enggak papa. Emang itu kenyataannya, kok.
Santai aja,” tanggap Army mencoba mengembalikan suasana. Sandi kembali
tersenyum.
“Jadi intinya... elo harus mau tinggal di
rumah gue, ya? Gue males dengerin Falin berisik nanti malem kalo elo enggak
dateng,” Sandi mengalihkan pembicaraan. Army hanya mengangguk. Tak ada pilihan sekarang.
***
Jam kuliah Sandi kurang dua jam lagi. Karena
Army ada kuliah pagi makannya dia harus rela dua jam lebih awal ke kampus.
Kalau saja ia tak bilang ada yang mau dibicarakan dengan Derwan, mungkin Army
akan menolak untuk diantar ke kampus. Mengingat bagaiamana sopannya seorang
Army. Yah... walaupun tak ada hal apapun yang akan dibicarakan dengan Derwan,
menemuinya untuk kali ini mungkin lebih baik. Daripada ia harus mondar-mandir
di depan kelas sendirian, lebih baik ngobrol dengan Derwan. Derwan pasti sudah
ada di kampus. Kalaupun dia tidak ada di kelas, pasti dia sedang ada di
sekretariat himpunan jurusannya.
Tapi Sandi tak perlu pergi ke sekretariat
karena Derwan lengkap dengan setelan baju olahraganya itu sedang duduk
sendirian di bangku bawah pohon alpukat, depan gedung jurusannya. Sandi
tersenyum bermaksud menghampirinya. Tapi saat sudah kurang beberapa langkah
lagi, ia urung melanjutkannya. Derwan ternyata sedang mengontak seseorang. Dari
ekspresi yang ditunjukkannya itu, sepertinya ada sebuah kabar buruk.
Berkali-kali tangan kanannya yang bebas mengusap wajahnya sendiri. Sandi
menunggu sampai ia selesai dengan telponnya. Barulah ia duduk di bangku di
depan Derwan dengan ekspresi datar. Derwan tentu saja terkejut dengan
kedatangannya yang tiba-tiba itu. Kalau saja Sandi tak memasang wajah
simpatinya sekarang, apalagi dengan posisi kedua tangan yang menopang dagunya
sendiri itu, pasti ia akan langsung melancarkan protes keras karena sudah
membuat jantungnya hampir copot.
“Apaan?” tanyanya berasa kebas dengan sikap
Sandi sekarang.
“Ada apa?” Sandi malah balik bertanya.
“Apanya?”
“Tadi telpon dari rumah, kan?” terka Sandi,
terlanjur benar sebenarnya. Tapi Derwan tentu saja tak akan mengakuinya.
“Enggak ada apa-apa, kok,” jawabnya bohong.
“Pasti ada apa-apa. Buktinya mukanya enggak
enak banget, kayak martabak telor gosong,” ucap Sandi asal.
“Apaan, sih! Enggak ada apa-apa, kok. Enggak
usah sok tahu, elo!”
“Ah, bohong elo! Beneran, nih?”
“Iya, beneran!” tekan Derwan mencoba
meyakinkan Sandi. Tapi sepertinya Sandi tak akan percaya begitu saja. Ia harus
mengalihkan pembicaraan ini. “Ngapain elo jam segini udah ngampus?” dan ia
berhasil. Sandi mulai mengganti posisinya. Ia akan menanggapi pertanyaan ini.
“Gue tadi nganterin Army. Dia ada kuliah pagi
katanya.”
“Army?”
“Oh, iya. Gue belum bilang sama elo, ya?
Semalem dia nginep tempat gue.”
“Kok bisa?”
“Dia kan baru pulang dari Jepang. Dia lupa
enggak memperpanjang sewa kosnya. Jadi waktu dia pulang, kosannya udah disewain
sama orang lain. Jadi, yah... gue ajak aja ke rumah. Bokap sama nyokap juga
lagi enggak di rumah. Lumayan, buat nemenin gue di rumah.”
“Sampe kapan?”
“Tadi sih gue ngajakin dia buat di rumah aja.
Sebagai gantinya, dia jadi bintang tamu kita sebagai selingan siaran. Kan
lumayan, tuh. Dia juga kan lagi eksis-eksisnya di kampus.” Derwan
manggut-manggut, membenarkan kata-kata Sandi.
“Ya, semalem juga twitter kita penuh banget sama respon-respon positif dari
pendengar. Hem, dengan begini gue rasa iklan yang bakalan kita urus itu jadi
lebih bertahan lama, kan? Lumayan. Siapa tahu akhir semester ini kita bisa beli
peralatan baru, kan?”
“Lebih dari itu. Gue pengennya kita dapet
anggota baru. Kan enggak lucu kalo kita mulu yang ngurusin tu radio,” tambah
Sandi.
“Derwan!” suara seseorang dari depan pintu
gedung terdengar. Tak hanya Derwan, Sandi juga ikut menoleh. Mengikuti sumber
suara. Seorang cowok yang tampilan tak jauh beda dari Derwan memberinya kode
untuk jalan. Beberapa orang yang Sandi kenal sebagai teman sekelas Derwan juga
keluar dari gedung. Sepertinya jam kuliah Derwan sudah mulai. “Gue ke lapangan
dulu, ya?” pamitnya. Sandi tak menyahut, hanya anggukan kepala. Setelahnya, ia
hanya menghela nafas. Lebih dari merasa sendirian lagi, ia memikirkan Derwan.
Kira-kira ada masalah apa di rumahnya sampai membuat wajah memprihatinkan tadi
muncul?
***
Sekali lagi siaran bersama bintang kampus.
Sandi kalem duduk di sofa. Karena dia pun tak banyak berperan hari ini. Ia
hanya menjadi direktor. Memberi beberapa ekspresi tanggapan jikalau Falin mulai
mengoceh tak jelas, atau bagaimana caranya menanggapi telpon masuk atau retweet dari Petirs. Selebihnya, Derwan yang berekspresi. Karena banyaknya
tingkah Falin yang merespon heboh adanya Army di sampingnya berhasil membuat
semburat merah di wajah sahabatnya satu itu. Ia tertawa sendiri karena tak
biasanya ia melihat luapan cemburu dari seorang Sandi. Selama ini kan yang
dekat dengan Falin jarang yang jelas. Mungkin Sandi merasa kalah telak.
Pasalnya Army kan digandrungi banyak cewek. Nah dia? Digandrungi banyak cewek
enggak, digandrungi tugas menumpuk baru iya.
Selesai siaran, menu cemilan mereka ganti.
Bukan martabak telor seperti biasanya. Saking tak biasanya, tukang martabak
telornya sms Sandi, kenapa tidak datang seperti biasa. “Apa perlu dianter?”
bahkan tawaran delivery saja sampai
diajukan. Oke, yang ini bercanda. Kurang
kerjaan bener tu tukang martabak nyimpenin nomer Sandi? (Kampret, lu!)
Oh, ya. Sampai lupa. Jadi, dari martabak telor
berubah jadi nasi goreng dengan siuran ayam, telor dadar dan beberapa irisan
tomat yang dibuat langsung dengan wajan, spatula,
dan barang-barang lainnya yang ada di rumah Falin. Ya, tumben-tumbenan Falin
membuat makan malam dan dibawa-bawa kemari. Tanpa embel-embel harus jadi menu
siaran pula. Saking banyaknya persepsi di otak Sandi, ada satu yang membuat
warna merah tadi balik lagi keciprat di wajahnya, Jangan-jangan karena dia tahu kalau Army bakalan jadi bintang tamu
lagi. Huft! Dan hanya Derwan yang menyadarinya.
Falin terus-terusan ngoceh, Derwan
sedikit-sedikit menimpali, Sandi menimpali banyak, sedangkan Army hanya
beberapa senyum dan tawa. Tentu saja. Karena obrolan malam ini adalah tentang
mereka bertiga. Army hanya menjadi pendengar. Ia tak akan tahu apa-apa kalau
ikut menanggapi. Paling hanya kata-kata, “Oh, ya?” atau “Masa?” dan selebihnya
hanya tawa.
“Uhuk! Uhuk!” tiba-tiba Falin tersedak.
“Dasar! Makannya jangan ngomong mulu!” umpat
Sandi. Tangannya terulur, mengambil botol mineral di dekatnya. Tapi belum
sempat ia memberikannya ke Falin, ia sudah keduluan. Army sudah memberikan air
minumnya ke Falin. Karenanya ia melongo. Apalagi setelah itu tangan Army
sempat-sempatnya mengusap sudut bibir Falin karena ada sisa nasi di sana. Walau
ekspresi Army biasa saja, hanya tanggapan senyuman, tapi ekspresi Falin yang
membuatnya merasakan panas di dadanya. Apa itu tadi ekspresi terpesonanya
Falin? Sandi menebak-nebak.
Melihat hal itu, Derwan melirik Sandi. Ekspresi santainya tadi berubah derastis. Ia tahu sahabatnya mulai dibakar api cemburu. Ia ingin tersenyum, tapi entah kenapa ia juga heran dengan sikap Army. Karenanya ia hanya diam. Setelah itu atmosfer di sini benar-benar tak membuatnya nyaman sekali. Hah... desahnya pelan, tanpa ada yang tahu tentu saja.
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment