Wednesday, January 15, 2020

Arfa?


Sandi benar-benar tak kembali lagi setelah pertengkarannya dengan Derwan. Terpaksa Army harus pulang sendiri ke rumah Sandi. Tapi ternyata Sandi tidak lagi menginap di rumah temannya. Dia ada, dan sudah terlelap di atas kasurnya. Army tak ingin mengusiknya, karenanya ia memilih sofa.


Belum sempat menutup matanya, Army tertarik dengan sesuatu yang tak sengaja ia lihat di bawah meja di dekatnya ini. Bentuknya mirip buku, dengan sampul berwarna hitam. Kira-kira seukuran buku akuntansi yang besar. Begitu diambil, barulah ia tahu. Itu adalah sebuah album foto.

Halaman pertama menampilkan foto keluarga, ada Army di tengah-tengah mama dan papanya dengan setelan resmi. Mamanya nampak ayu dengan gaun putih panjang yang press di tubuhnya. Tidak kelihatan seperti wanita karir karena wajah keibuannya lebih kelihatan dengan senyum ceria itu. Army ikut tersenyum. Kalau ia tidak salah tebak, mungkin ini foto Sandi waktu SMA.

Lembar-lembar berikutnya ada foto-foto Sandi bersama papa ataupun mamanya. Sepertinya foto-foto liburan. Dari foto-foto ini Army makin yakin bahwa Sandi benar-benar anak orang kaya. Lihat saja, hampir semua foto-foto itu diambil di luar negeri. Entah sudah berapa kali Sandi pergi ke berbagai negara dengan kedua orang tuanya. Iri? Tentu saja. Bukan iri karena jalan-jalan ke luar negerinya. Tapi iri dengan foto-foto Sandi yang menunjukkan betapa ia dekat dan bahagianya bersama orang tuanya. Meski kadang-kadang Sandi risih sendiri dengan sikap orang tuanya yang berlebihan. Yah... paling tidak itu yang selama ini ia sampaikan pada Army.

Mulai dari lembar pertengahan, foto-foto Sandi dengan teman-temannya. Hanya beberapa lembar saja yang menunjukkan fotonya bersama teman dalam jumlah banyak. Selebihnya hanya tiga orang. Siapa lagi kalau bukan foto Sandi bersama Falin dan Derwan? Dari foto dengan seragam SMP, SMA, sampai kuliah. Ada juga beberapa foto liburan. Hanya mereka bertiga. Army tak berhenti tersenyum melihat gaya-gaya konyol  mereka di foto-foto itu. Ekspresi tertawa, tersenyum, cemberut, dan gila-gilaan benar-benar menunjukkan kedekatan mereka. Sekali lagi iri menyerang Army. Rasanya ia tak pernah punya sahabat yang bertahan lama seperti mereka ini. Jangankan sahabat, bahkan teman pun mungkin tidak ada.

Beberapa lembar terakhir album ini, foto-foto masa kecil Sandi. Sepertinya Sandi menatanya rapi sesuai genre foto. Beberapa lembar yang tak begitu banyak ini menampilkan Sandi versi bayi, balita, anak-anak sampai menjelang remaja. Satu foto yang membuat Army diam cukup lama. Sandi yang mungkin masih usia anak SD berpose sendirian duduk di sofa tanpa ekspresi. Sepertinya Army tak asing dengan wajah ini. Ia pernah melihatnya sebelumnya, tapi dimana dan kapan? Otaknya terus berputar. Menampilkan memori-memori lama yang ada kaitannya dengan wajah Sandi kecil ini. Di foto lainnya, Army terus mencoba mengingatnya. Hingga sampailah ia pada kejadian tiga belas tahun yang lalu saat ia belum pindah dari kota ini. Saat itu sekitar satu bulan setelah perceraian orang tuanya, ia masih tinggal dengan ayahnya.

“Kamu enggak papa?” itulah kalimat pertama yang ia berikan untuk seorang anak kecil yang terikat di kursi di tengah gudang rumahnya. Wajahnya penuh lebam dan luka, serta seragam merah putihnya yang sudah sangat lusuh. Matanya sembam. Malah ia kembali menangis saat Army menghampirinya. Waktu Army mencoba menyentuhnya, bocah itu malah ketakutan.

“Jangan nangis. Aku bakalan ngelepasin kamu. Tapi kamu janji harus langsung kabur dari sini, lari sejauh-jauhnya. Oke?” ujarnya. Bocah kecil itu mengangguk lemah. Setelah Army melepas ikatan di tangan dan kakinya, ia benar-benar pergi.

Wajah itu, bocah laki-laki malang itu, bukankah wajahnya sama persis dengan wajah Sandi kecil di foto ini? Apa mungkin bocah itu memang benar Sandi? Atau mungkin foto ini bukan Sandi kecil, tapi orang lain? Tapi kalau dibandingkan dengan wajah Sandi yang sekarang, masih cukup mirip. Lagipula, Sandi kan anak tunggal. Lain ceritanya kalau orang tuanya menyimpan foto sepupu Sandi atau siapa saja begitu yang masih ada hubungan darah dengan Sandi. Tapi, tidak! Sebanyak apapun dipikir, ini memanglah Sandi kecil. Tak salah lagi.

Army membuka lembaran terakhir. Meski awalnya ia tak begitu fokus karena matanya sudah beralih ke Sandi yang tertidur di tempat tidurnya. Tapi selembar kertas di halaman terakhir itu membuatnya kembali  melihat foto apa kira-kira yang disertai dengan selembar kertas yang dilipat dua, setengah dari ukuran album ini. Foto terakhir itu, menampilkan foto Sandi dan Falin. Sepertinya foto kelulusan SMA, karena seragam mereka penuh warna. Rambut keduanya juga tak luput dari warna merah, hijau dan kuning. Lalu kertas ini kertas apa?

Begitu membukanya, mata Army spontan membaca beberapa deret kalimat awal di kertas itu. Ini... surat cinta?

***

Matahari baru sepenggal menapaki kaki langit. Tapi suasana di jalan raya, tepatnya menuju kampus sudah cukup ramai. Terlebih di kedai coklat tempat Derwan bekerja. Mungkin karena cerahnya hari ini, ice cocholate jadi menu favorit. Memang tak banyak yang duduk di kedai sekarang. Beberapa orang memesannya dan langsung membawanya pergi begitu saja. Tapi tetap saja ketiga orang di sana cukup sibuk.

Tling! Pintu terbuka. Satu lagi pelanggan datang. Mawar yang kebetulan ada di dekat pintulah yang menyapanya. “Selamat datang!” sapanya ceria. Begitu ia melihat wajah dari pelanggannya ini, ia sempat terpana. Matanya langsung menangkap sinyal-sinyal kegantengan dari wajah itu. Tak sadar bibirnya senyum-senyum sendiri.

“Ada yang bisa saya bantu?” tawarnya ramah.

“Oh, itu...”

Mendengar suara ini, rasanya Derwan kenal. Begitu ia menoleh ke arah pintu saat itulah ia tahu, bahwa orang yang sempat membuat Mawar kepincut adalah sahabatnya sendiri. “Sandi?”

***

Sudah lima belas menit lamanya Sandi diam saja. Duduk di salah satu tempat duduk di dekat jendela. Derwan ada di depannya. Terus menatap Sandi yang hanya memandangi ice cocholate yang ia pesan tadi sebagai objek utamanya. Sesekali ia melihat jam tangannya demi melihat sudah berapa banyak waktu yang ia gunakan untuk absen dari pekerjaannya. Tapi sepertinya keadaan sedang berpihak. Mungkin skenario Tuhan (yang berarti gue sebagai penulisnya. Hohoho...), setelah kedatangan Sandi tadi, perlahan pelanggan hanya datang paling sebiji dua biji (lu kira buah-buahan? -_-). Buktinya si mata empat, eh... Harfi maksudnya, dan si Rose (Gue Mawar!!!!), oke! Mawar... sejak tadi malah sibuk intip-intip ke dua orang itu. Apalah... nampak tak delah yang nak dibuat (Eh, bentar! Kenapa gue jadi berubah melayu begini? -_-)

“Ehm... gue...” akhirnya mulut Sandi terbuka. Meski benar-benar lirih, yah... paling tidak ada kemajuan. Ketimbang diam terus sok jadi Patung Liberty dadakan, kan? “Itu... Wan... gue...”

“Sorry,” potong Derwan. Mungkin ia pun terlalu risih dengan kegagapan Sandi yang tiba-tiba seperti ini. Bahkan mendapat tatapan bingung dari wajah Sandi yang akhirnya diangkatnya itu pun, ia bisa pasang wajah sedatar mungkin. Tapi ia mulai serius. Terlihat dari caranya menyudahi duduk bersandar di punggung kursinya itu.

“Elo pasti mau bilang itu, kan?” terka Derwan, terlanjur benar. Tapi ada senyum tipis yang ia bentuk. Hanya saja, senyuman itu malah membuat Sandi makin salah tingkah. Ia tak menyangka akan segugup ini menghadapi seorang Derwan. Kalau dipikir-pikir, baru kali ini ia bertengkar hebat dengan Derwan. Bahkan sampai ada jotos-jotosan segala. Meskipun ini adalah kali pertama ia bertengkar hebat dengan Derwan, tapi ia selalu seperti biasa. Tak akan bisa bertahan lebih lama. See? Bahkan sekarang ia yang datang duluan untuk minta maaf.

“Itu...”

“Seharusnya gue yang bilang itu.” Derwan kembali memutus kalimat Sandi. Mata Sandi kembali menatap Derwan. Mungkin sedikit terkejut dengan kalimat barusan. “Gue tahu gue enggak dewasa. Bahkan gue dibilang sinting sama Falin, cih!” bibirnya mendecih pelan. Merasa lucu mendapat ejekan itu semalam. “Sorry, San. Gue bener-bener berpikiran pendek. Keadaan ekonomi keluarga gue lagi buruk. Gue bahkan enggak sempet mikir kalo elo pasti mau bantuin gue. Gue main tersinggung gitu aja.”

“Ya... gue juga yang salah. Gue enggak ngomong dulu sama elo,” Sandi ikut menyesal.

“Bukan. Gue yang salah, karena dari awal enggak ngomong ke elo atau Falin soal keadaan Desi. Gue cuma enggak mau elo berdua kepikiran.” Sandi hanya mengangguk. Sepertinya keadaan ini mulai clear. “Ah, ya. Satu lagi!” Derwan teringat sesuatu. “Gue mulai kerja sambilan. Elo tahu kan beasiswa enggak bisa diandelin. Datengnya enggak jelas. Tapi gue janji gue bakalan bayar utang gue secepetnya.”

“Wan!”

“Please, San. Bukan gue enggak mau punya utang apapun sama elo. Tapi karena gue sahabat elo, makannya gue enggak mau elo nanggung beban keluarga gue. Peran gue itu buat dukung elo, dampingin elo sebagai sahabat. Bukan jadi parasit yang malah nyusahin sahabatnya. Elo udah nolongin gue, itu buktiin bahwa elo pun ada di saat gue susah. Tapi ada kalanya gue harus mikir, karena ini adalah tanggung jawab gue sebagai kakaknya Desi. Bukan elo. Tolong ngerti,” pinta Derwan pelan. Terdengar helaan nafas pelan dari Sandi. Derwan benar-benar keras kepala.

“Kolot, elo!” cibirnya kesal. “Hah... coba gue omongin ini aja sama bokap gue. Elo pasti enggak bakalan bisa ngomong mau balikin duit segala!” lanjutnya. Derwan hanya menanggapinya dengan tawa. Atmosfer di sana sudah cukup hangat sepertinya.

“Udah! Balik kerja sono! Gue pesen cake chocolate! Enggak pake lama!” yah... Sandi kembali. Senyuman Derwan makin lebar. Dengan semangat ia berdiri dan mengangguk spontan.

“Okey, Pelanggan terhormat! Saya akan datang dengan cepat melebihi Sonic sekalipun!” candanya. Berhasil, Sandi pun tertawa. Begitu Derwan pergi untuk mengambil pesanannya, matanya melihat sekeliling. Ia belum sempat mengamati bagaimana tempat sahabatnya ini bekerja. Tapi belum sampai 45% matanya menyapu tempat ini, dua orang di balik meja pesanan itu membuatnya berhenti. Masalahnya adalah tatapan dua orang itu cukup, eh... mencurigakan? Anu, em... tidak, tidak! Agak... ah... bagaimana ya menjelaskannya?

“Gue enggak nyangka, Wan,” suara Harfi yang pertama kali menyambut kedatangan Derwan di meja pesanan. Nampaknya Derwan cukup bingung dengan kalimat itu. “Em?” ia hanya mengangkat alisnya.

“Jadi itu gebetan elo?” lanjutnya. Sukses membuat Derwan melongo.

“Ganteng, sih. Atau jangan-jangan elo malah udah jadian sama dia?” tambah Mawar. Hap! Derwan memilih mengatupkan bibirnya. Kedua orang ini sedang tak beres. Malah ia khawatir dengan si Sandi. Dan benarlah. Setelah ia berbalik menengok bagaimana ekspresi Sandi ditatap empat, ah tidak... enam mata seperti itu, lebih mirip seperti bocah SD yang ketahuan ngompol di kelas oleh teman-temannya. Ada ekspresi dan isyarat darinya. Yang Derwan tangkap adalah: Tu dua orang mau makan gue, ya? Tolongin gue, woy!

***

Perawat baru saja keluar setelah mengganti infus Desi. Sudah seharian ini ia sendirian. Yang ia lakukan hanya bermain game di handphone-nya, tiduran, ke kamar mandi, makan makanan yang disediakan rumah sakit, dan tidak ada lagi. Bosan membuatnya menekuk wajah seharian. Tapi kalau dia menghubungi Derwan, jelas dia juga tak akan datang. Tadi kan sudah pesan akan kemari sore hari. Lagipula dia juga tidak ingin menganggu aktivitas kakaknya di kampus.

“Tok! Tok! Tok!” suara seseorang mengusiknya. Ia menoleh, tepatnya ke arah pintu. Ada sebuah boneka beruang coklat yang nongol di bingkai pintu. Desi sempat bingung. Tapi setelah seseorang yang membawa boneka itu menampakkan diri, senyumnya mengembang begitu lebarnya. 
“Pangeran!” serunya senang. Ya, itu adalah Sandi.

“Hai, Tuan Putri!” sapa Sandi memberikan senyuman yang cukup lebar pada Desi. Derwan menyusul di belakangnya. Melihat Sandi yang langsung memeluk adiknya itu, ia tersenyum. Menjadi penonton saja saat dua orang ini beradegan seolah sudah bertahun-tahun tak bertemu. Kalau dipikir-pikir, seharusnya sejak awal ia membawa Sandi kemari. Lihatlah betapa senangnya Desi hanya karena diberi boneka oleh Sandi.

“Kok Pangeran baru dateng, sih? Kemaren-kemaren kemana?” tanya Desi manja. Mengusap-usap wajah Sandi yang sudah duduk di samping kanannya.

“Maaf, ya? Pangeran habis memburu naga yang menyerang istana. Jadi belum sempet jengukin Tuan Putri, deh,” jawab Sandi tetap dengan senyumannya.

“Oh, iya? Terus gimana naganya? Pangeran berhasil ngalahin naganya?”

“Em,” Sandi menggelengkan kepalanya. “Naga itu ternyata enggak jahat. Tapi dia cuma kesepian dan butuh temen. Makannya dia bikin masalah di istana. Akhirnya, Pangeran jadi temen dia, dan dia jadi enggak bikin masalah lagi di istana.”

“Oh, iya? Aku juga mau dong temenan sama Naga.”

“Boleh. Tapi, ada syaratnya?”

“Syarat? Apa?”

“Tuan Putri harus cepetan sembuh. Jangan sakit lagi.”

“Iya. Kata susternya, bentar lagi aku boleh pulang, kok. Jadi, sebentar lagi pasti sembuh.”

Derwan hanya tertawa kecil melihat percakapan mereka. Rasanya Desi bahkan lebih manja kalau bersama Sandi. Sekarang ia seperti tidak terlihat. Sejak tadi mereka sama sekali tak melibatkannya dalam percakapan mereka.

Makasih ya, San? Gumamnya dalam hati.

***

Malam ini Derwan datang. Di rumah sakit ada sepupunya yang menunggui Desi. Walaupun Sandi menyuruhnya untuk absen dulu, tapi ia tetap memaksa. “Kangen juga sama Korek Ati,” jawabnya sebagai alasan. Alhasil Sandi tak bisa menolak.

Dengan kedatangan Derwan, berarti tugas Sandi hilang. Ia kembali menjadi penonton. Atau lebih tepatnya bos yang memantau kerja anak-anak buahnya. Dapur siaran juga sudah terisi, bahkan dua orang. Army seolah sudah menjadi bagian dari radio ini. Mungkin peran Sandi sekarang hanya menjadi jalan agar radio mereka semester depan bisa menjadi UKM di kampusnya.

Sebelum siaran, Derwan yang paling sibuk. Sedangkan Army dan Falin duduk di sofa mendiskusikan bahan siaran nanti. Sandi? Dia jadi bayangan saja, terabaikan, tak terlihat, bahkan mungkin seolah tak ada. Dia duduk tepat di depan dua orang ini. Matanya panas, kepalanya hampir meledak, dan dadanya gelo. Apalagi  melihat tangan Army yang tak pernah luput dari kepala Falin. Atau cara duduk mereka yang terlalu dekat menurutnya. Atau bagaimana tawa mereka terbentuk bersama. Ah! Itu benar-benar membuatnya sebal!

Sret! Alih-alih dengan rasa sebalnya, ia mengambil alih laptop Falin di atas meja. Menyambungkan wifi, kemudian membuka mozilla. Pengisian password keluar. Jarinya bahkan dengan amarah mengetikkan kata saya. Tapi laman pengisian password kembali kosong. Berarti passwordnya salah. Ia ketik berulang kali, tetap saja salah.

“Elo ngapain, sih?” tanya Falin mengejutkannya. Barulah ia sadar kalau Falin sudah tidak bersama Army. Army sudah masuk ke dapur siaran entah sejak kapan. Kesempatan. Ia langsung mengambil alih tempat duduk Army tadi.

“Password!” ujarnya, agak tegas.

“Password apaan?”

“Wifi.”

“Oh...” Falin menarik laptopnya. Tanpa kata-kata, ia mengetikkan satu kata. Mata Sandi tentu saja tak ingin melewatkannya. Tapi rasanya ia menyesal karena sudah melihatnya. Kata yang menjadi password itu sepertinya ia mengerti apa maksudnya: Arfa.

Sebelumnya             Selanjutnya

No comments:

Post a Comment