Sandi benar-benar tak kembali lagi setelah
pertengkarannya dengan Derwan. Terpaksa Army harus pulang sendiri ke rumah
Sandi. Tapi ternyata Sandi tidak lagi menginap di rumah temannya. Dia ada, dan
sudah terlelap di atas kasurnya. Army tak ingin mengusiknya, karenanya ia memilih
sofa.
Belum sempat menutup matanya, Army tertarik
dengan sesuatu yang tak sengaja ia lihat di bawah meja di dekatnya ini.
Bentuknya mirip buku, dengan sampul berwarna hitam. Kira-kira seukuran buku
akuntansi yang besar. Begitu diambil, barulah ia tahu. Itu adalah sebuah album
foto.
Halaman pertama menampilkan foto keluarga, ada
Army di tengah-tengah mama dan papanya dengan setelan resmi. Mamanya nampak ayu
dengan gaun putih panjang yang press di tubuhnya. Tidak kelihatan seperti
wanita karir karena wajah keibuannya lebih kelihatan dengan senyum ceria itu.
Army ikut tersenyum. Kalau ia tidak salah tebak, mungkin ini foto Sandi waktu
SMA.
Lembar-lembar berikutnya ada foto-foto Sandi
bersama papa ataupun mamanya. Sepertinya foto-foto liburan. Dari foto-foto ini
Army makin yakin bahwa Sandi benar-benar anak orang kaya. Lihat saja, hampir
semua foto-foto itu diambil di luar negeri. Entah sudah berapa kali Sandi pergi
ke berbagai negara dengan kedua orang tuanya. Iri? Tentu saja. Bukan iri karena
jalan-jalan ke luar negerinya. Tapi iri dengan foto-foto Sandi yang menunjukkan
betapa ia dekat dan bahagianya bersama orang tuanya. Meski kadang-kadang Sandi
risih sendiri dengan sikap orang tuanya yang berlebihan. Yah... paling tidak
itu yang selama ini ia sampaikan pada Army.
Mulai dari lembar pertengahan, foto-foto Sandi
dengan teman-temannya. Hanya beberapa lembar saja yang menunjukkan fotonya
bersama teman dalam jumlah banyak. Selebihnya hanya tiga orang. Siapa lagi
kalau bukan foto Sandi bersama Falin dan Derwan? Dari foto dengan seragam SMP,
SMA, sampai kuliah. Ada juga beberapa foto liburan. Hanya mereka bertiga. Army
tak berhenti tersenyum melihat gaya-gaya konyol
mereka di foto-foto itu. Ekspresi tertawa, tersenyum, cemberut, dan
gila-gilaan benar-benar menunjukkan kedekatan mereka. Sekali lagi iri menyerang
Army. Rasanya ia tak pernah punya sahabat yang bertahan lama seperti mereka
ini. Jangankan sahabat, bahkan teman
pun mungkin tidak ada.
Beberapa lembar terakhir album ini, foto-foto
masa kecil Sandi. Sepertinya Sandi menatanya rapi sesuai genre foto. Beberapa
lembar yang tak begitu banyak ini menampilkan Sandi versi bayi, balita,
anak-anak sampai menjelang remaja. Satu foto yang membuat Army diam cukup lama.
Sandi yang mungkin masih usia anak SD berpose sendirian duduk di sofa tanpa
ekspresi. Sepertinya Army tak asing dengan wajah ini. Ia pernah melihatnya
sebelumnya, tapi dimana dan kapan? Otaknya terus berputar. Menampilkan
memori-memori lama yang ada kaitannya dengan wajah Sandi kecil ini. Di foto
lainnya, Army terus mencoba mengingatnya. Hingga sampailah ia pada kejadian
tiga belas tahun yang lalu saat ia belum pindah dari kota ini. Saat itu sekitar
satu bulan setelah perceraian orang tuanya, ia masih tinggal dengan ayahnya.
“Kamu enggak papa?” itulah kalimat pertama
yang ia berikan untuk seorang anak kecil yang terikat di kursi di tengah gudang
rumahnya. Wajahnya penuh lebam dan luka, serta seragam merah putihnya yang
sudah sangat lusuh. Matanya sembam. Malah ia kembali menangis saat Army
menghampirinya. Waktu Army mencoba menyentuhnya, bocah itu malah ketakutan.
“Jangan nangis. Aku bakalan ngelepasin kamu.
Tapi kamu janji harus langsung kabur dari sini, lari sejauh-jauhnya. Oke?” ujarnya.
Bocah kecil itu mengangguk lemah. Setelah Army melepas ikatan di tangan dan
kakinya, ia benar-benar pergi.
Wajah itu, bocah laki-laki malang itu,
bukankah wajahnya sama persis dengan wajah Sandi kecil di foto ini? Apa mungkin
bocah itu memang benar Sandi? Atau mungkin foto ini bukan Sandi kecil, tapi
orang lain? Tapi kalau dibandingkan dengan wajah Sandi yang sekarang, masih
cukup mirip. Lagipula, Sandi kan anak tunggal. Lain ceritanya kalau orang
tuanya menyimpan foto sepupu Sandi atau siapa saja begitu yang masih ada
hubungan darah dengan Sandi. Tapi, tidak! Sebanyak apapun dipikir, ini
memanglah Sandi kecil. Tak salah lagi.
Army membuka lembaran terakhir. Meski awalnya
ia tak begitu fokus karena matanya sudah beralih ke Sandi yang tertidur di
tempat tidurnya. Tapi selembar kertas di halaman terakhir itu membuatnya
kembali melihat foto apa kira-kira yang
disertai dengan selembar kertas yang dilipat dua, setengah dari ukuran album
ini. Foto terakhir itu, menampilkan foto Sandi dan Falin. Sepertinya foto
kelulusan SMA, karena seragam mereka penuh warna. Rambut keduanya juga tak
luput dari warna merah, hijau dan kuning. Lalu kertas ini kertas apa?
Begitu membukanya, mata Army spontan membaca
beberapa deret kalimat awal di kertas itu. Ini... surat cinta?
***
Matahari baru sepenggal menapaki kaki langit.
Tapi suasana di jalan raya, tepatnya menuju kampus sudah cukup ramai. Terlebih
di kedai coklat tempat Derwan bekerja. Mungkin karena cerahnya hari ini, ice cocholate jadi menu favorit. Memang
tak banyak yang duduk di kedai sekarang. Beberapa orang memesannya dan langsung
membawanya pergi begitu saja. Tapi tetap saja ketiga orang di sana cukup sibuk.
Tling! Pintu terbuka. Satu lagi pelanggan datang. Mawar yang kebetulan ada di
dekat pintulah yang menyapanya. “Selamat datang!” sapanya ceria. Begitu ia
melihat wajah dari pelanggannya ini, ia sempat terpana. Matanya langsung
menangkap sinyal-sinyal kegantengan dari wajah itu. Tak sadar bibirnya
senyum-senyum sendiri.
“Ada yang bisa saya bantu?” tawarnya ramah.
“Oh, itu...”
Mendengar suara ini, rasanya Derwan kenal.
Begitu ia menoleh ke arah pintu saat itulah ia tahu, bahwa orang yang sempat
membuat Mawar kepincut adalah
sahabatnya sendiri. “Sandi?”
***
Sudah lima belas menit lamanya Sandi diam
saja. Duduk di salah satu tempat duduk di dekat jendela. Derwan ada di
depannya. Terus menatap Sandi yang hanya memandangi ice cocholate yang ia pesan tadi sebagai objek utamanya. Sesekali ia
melihat jam tangannya demi melihat sudah berapa banyak waktu yang ia gunakan
untuk absen dari pekerjaannya. Tapi sepertinya keadaan sedang berpihak. Mungkin
skenario Tuhan (yang berarti gue sebagai
penulisnya. Hohoho...), setelah kedatangan Sandi tadi, perlahan pelanggan
hanya datang paling sebiji dua biji (lu
kira buah-buahan? -_-). Buktinya si mata empat, eh... Harfi maksudnya, dan
si Rose (Gue Mawar!!!!), oke! Mawar... sejak tadi malah sibuk intip-intip ke
dua orang itu. Apalah... nampak tak delah yang nak dibuat (Eh, bentar! Kenapa gue jadi berubah melayu begini? -_-)
“Ehm... gue...” akhirnya mulut Sandi terbuka.
Meski benar-benar lirih, yah... paling tidak ada kemajuan. Ketimbang diam terus
sok jadi Patung
Liberty
dadakan, kan? “Itu... Wan... gue...”
“Sorry,” potong Derwan. Mungkin ia pun terlalu
risih dengan kegagapan Sandi yang tiba-tiba seperti ini. Bahkan mendapat
tatapan bingung dari wajah Sandi yang akhirnya diangkatnya itu pun, ia bisa pasang wajah sedatar mungkin. Tapi ia mulai serius. Terlihat
dari caranya menyudahi duduk bersandar di punggung kursinya itu.
“Elo pasti mau bilang itu, kan?” terka Derwan,
terlanjur benar. Tapi ada senyum tipis yang ia bentuk. Hanya saja, senyuman itu
malah membuat Sandi makin salah tingkah. Ia tak menyangka akan segugup ini
menghadapi seorang Derwan. Kalau dipikir-pikir, baru kali ini ia bertengkar
hebat dengan Derwan. Bahkan sampai ada jotos-jotosan segala. Meskipun ini
adalah kali pertama ia bertengkar hebat dengan Derwan, tapi ia selalu seperti
biasa. Tak akan bisa bertahan lebih lama. See?
Bahkan sekarang ia yang datang duluan untuk minta maaf.
“Itu...”
“Seharusnya gue yang bilang itu.” Derwan
kembali memutus kalimat Sandi. Mata Sandi kembali menatap Derwan. Mungkin
sedikit terkejut dengan kalimat barusan. “Gue tahu gue enggak dewasa. Bahkan
gue dibilang sinting sama Falin, cih!” bibirnya mendecih pelan. Merasa lucu
mendapat ejekan itu semalam. “Sorry, San. Gue bener-bener berpikiran pendek.
Keadaan ekonomi keluarga gue lagi buruk. Gue bahkan enggak sempet mikir kalo
elo pasti mau bantuin gue. Gue main tersinggung gitu aja.”
“Ya... gue juga yang salah. Gue enggak ngomong dulu sama
elo,” Sandi ikut menyesal.
“Bukan. Gue yang salah, karena dari awal
enggak ngomong ke elo atau Falin soal keadaan Desi. Gue cuma enggak mau elo
berdua kepikiran.” Sandi hanya mengangguk. Sepertinya keadaan ini mulai clear. “Ah, ya. Satu lagi!” Derwan
teringat sesuatu. “Gue mulai kerja sambilan. Elo tahu kan beasiswa enggak bisa
diandelin. Datengnya enggak jelas. Tapi gue janji gue bakalan bayar utang gue
secepetnya.”
“Wan!”
“Please, San. Bukan gue enggak mau punya utang
apapun sama elo. Tapi karena gue sahabat elo, makannya gue enggak mau elo
nanggung beban keluarga gue. Peran gue itu buat dukung elo, dampingin elo
sebagai sahabat. Bukan jadi parasit yang malah nyusahin sahabatnya. Elo udah
nolongin gue, itu buktiin bahwa elo pun ada di saat gue susah. Tapi ada kalanya
gue harus mikir, karena ini adalah tanggung jawab gue sebagai kakaknya Desi.
Bukan elo. Tolong ngerti,” pinta Derwan pelan. Terdengar helaan nafas pelan
dari Sandi. Derwan benar-benar keras kepala.
“Kolot, elo!” cibirnya kesal. “Hah... coba gue
omongin ini aja sama bokap gue. Elo pasti enggak bakalan bisa ngomong mau
balikin duit segala!” lanjutnya. Derwan hanya menanggapinya dengan tawa.
Atmosfer di sana sudah cukup hangat sepertinya.
“Udah! Balik kerja sono! Gue pesen cake chocolate! Enggak pake lama!”
yah... Sandi kembali. Senyuman Derwan makin lebar. Dengan semangat ia berdiri
dan mengangguk spontan.
“Okey, Pelanggan terhormat! Saya akan datang dengan
cepat melebihi Sonic sekalipun!” candanya. Berhasil, Sandi pun tertawa. Begitu
Derwan pergi untuk mengambil pesanannya, matanya melihat sekeliling. Ia belum
sempat mengamati bagaimana tempat sahabatnya ini bekerja. Tapi belum sampai 45%
matanya menyapu tempat ini, dua orang di balik meja pesanan itu membuatnya
berhenti. Masalahnya adalah tatapan dua orang itu cukup, eh... mencurigakan?
Anu, em... tidak, tidak! Agak... ah... bagaimana ya menjelaskannya?
“Gue enggak nyangka, Wan,” suara Harfi yang
pertama kali menyambut kedatangan Derwan di meja pesanan. Nampaknya Derwan
cukup bingung dengan kalimat itu. “Em?” ia hanya mengangkat alisnya.
“Jadi itu gebetan elo?” lanjutnya. Sukses
membuat Derwan melongo.
“Ganteng, sih. Atau jangan-jangan elo malah
udah jadian sama dia?” tambah Mawar. Hap!
Derwan memilih mengatupkan bibirnya. Kedua orang ini sedang tak beres. Malah ia
khawatir dengan si Sandi. Dan benarlah. Setelah ia berbalik menengok bagaimana
ekspresi Sandi ditatap empat, ah tidak... enam mata seperti itu, lebih mirip
seperti bocah SD yang ketahuan ngompol di kelas oleh teman-temannya. Ada
ekspresi dan isyarat darinya. Yang Derwan tangkap adalah: Tu dua orang mau makan gue, ya? Tolongin gue, woy!
***
Perawat baru saja keluar setelah mengganti
infus Desi. Sudah seharian ini ia sendirian. Yang ia lakukan hanya bermain game di handphone-nya, tiduran, ke kamar mandi, makan makanan yang
disediakan rumah sakit, dan tidak ada lagi. Bosan membuatnya menekuk wajah
seharian. Tapi kalau dia menghubungi Derwan, jelas dia juga tak akan datang.
Tadi kan sudah pesan akan kemari sore hari. Lagipula dia juga tidak ingin
menganggu aktivitas kakaknya di kampus.
“Tok! Tok! Tok!” suara seseorang mengusiknya.
Ia menoleh, tepatnya ke arah pintu. Ada sebuah boneka beruang coklat yang nongol di bingkai pintu. Desi sempat
bingung. Tapi setelah seseorang yang membawa boneka itu menampakkan diri,
senyumnya mengembang begitu lebarnya.
“Pangeran!” serunya senang. Ya, itu
adalah Sandi.
“Hai, Tuan Putri!” sapa Sandi memberikan
senyuman yang cukup lebar pada Desi. Derwan menyusul di belakangnya. Melihat
Sandi yang langsung memeluk adiknya itu, ia tersenyum. Menjadi penonton saja
saat dua orang ini beradegan seolah sudah bertahun-tahun tak bertemu. Kalau
dipikir-pikir, seharusnya sejak awal ia membawa Sandi kemari. Lihatlah betapa
senangnya Desi hanya karena diberi boneka oleh Sandi.
“Kok Pangeran baru dateng, sih?
Kemaren-kemaren kemana?” tanya Desi manja. Mengusap-usap wajah Sandi yang sudah
duduk di samping kanannya.
“Maaf, ya? Pangeran habis memburu naga yang
menyerang istana. Jadi belum sempet jengukin Tuan Putri, deh,” jawab Sandi
tetap dengan senyumannya.
“Oh, iya? Terus gimana naganya? Pangeran
berhasil ngalahin naganya?”
“Em,” Sandi menggelengkan kepalanya. “Naga itu
ternyata enggak jahat. Tapi dia cuma kesepian dan butuh temen. Makannya dia
bikin masalah di istana. Akhirnya, Pangeran jadi temen dia, dan dia jadi enggak
bikin masalah lagi di istana.”
“Oh, iya? Aku juga mau dong temenan sama
Naga.”
“Boleh. Tapi, ada syaratnya?”
“Syarat? Apa?”
“Tuan Putri harus cepetan sembuh. Jangan sakit
lagi.”
“Iya. Kata susternya, bentar lagi aku boleh
pulang, kok. Jadi, sebentar lagi pasti sembuh.”
Derwan hanya tertawa kecil melihat percakapan mereka.
Rasanya Desi bahkan lebih manja kalau bersama Sandi. Sekarang ia seperti tidak
terlihat. Sejak tadi mereka sama sekali tak melibatkannya dalam percakapan
mereka.
Makasih
ya, San? Gumamnya dalam hati.
***
Malam ini Derwan datang. Di rumah sakit ada sepupunya
yang menunggui Desi. Walaupun Sandi menyuruhnya untuk absen dulu, tapi ia tetap
memaksa. “Kangen juga sama Korek Ati,” jawabnya sebagai alasan. Alhasil Sandi
tak bisa menolak.
Dengan kedatangan Derwan, berarti tugas Sandi
hilang. Ia kembali menjadi penonton. Atau lebih tepatnya bos yang memantau
kerja anak-anak buahnya. Dapur siaran juga sudah terisi, bahkan dua orang. Army
seolah sudah menjadi bagian dari radio ini. Mungkin peran Sandi sekarang hanya
menjadi jalan agar radio mereka semester depan bisa menjadi UKM di kampusnya.
Sebelum siaran, Derwan yang paling sibuk.
Sedangkan Army dan Falin duduk di sofa mendiskusikan bahan siaran nanti. Sandi?
Dia jadi bayangan saja, terabaikan, tak terlihat, bahkan mungkin seolah tak
ada. Dia duduk tepat di depan dua orang ini. Matanya panas, kepalanya hampir
meledak, dan dadanya gelo.
Apalagi melihat tangan Army yang tak
pernah luput dari kepala Falin. Atau cara duduk mereka yang terlalu dekat
menurutnya. Atau bagaimana tawa mereka terbentuk bersama. Ah! Itu benar-benar
membuatnya sebal!
Sret! Alih-alih dengan rasa sebalnya, ia mengambil alih laptop Falin di atas
meja. Menyambungkan wifi, kemudian
membuka mozilla. Pengisian password keluar. Jarinya bahkan dengan
amarah mengetikkan kata saya. Tapi
laman pengisian password kembali
kosong. Berarti passwordnya salah. Ia
ketik berulang kali, tetap saja salah.
“Elo ngapain, sih?” tanya Falin
mengejutkannya. Barulah ia sadar kalau Falin sudah tidak bersama Army. Army
sudah masuk ke dapur siaran entah sejak kapan. Kesempatan. Ia langsung
mengambil alih tempat duduk Army tadi.
“Password!” ujarnya, agak tegas.
“Password apaan?”
“Wifi.”
“Oh...” Falin menarik laptopnya. Tanpa kata-kata, ia mengetikkan satu kata. Mata Sandi tentu saja tak ingin melewatkannya. Tapi rasanya ia menyesal karena sudah melihatnya. Kata yang menjadi password itu sepertinya ia mengerti apa maksudnya: Arfa.
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment