Falin berhenti sebentar. Kakinya otomatis
terdiam begitu melihat seseorang yang baru saja keluar dari ruang praktikum
Biologi di depan sana. Dengan balutan jas putih, terlalu sepadan dengan kulit
sawo matang cerahnya itu. Begitu sadar siapa pemilik wajah familiar itu, ia
lantas tersenyum.
“Saya!” teriaknya seraya menggunakan kembali
kakinya. Ia berlari, spontan melambai begitu orang itu menoleh, mencari asal
suara panggilan ke namanya tadi. Ah, tidak. Dari cara panggilan saja ia sudah
bisa menebaknya kalau itu Falin.
Siapa lagi yang memanggil Sandi dengan panggilan “Saya”—akronim dari nama
panjangnya SAndi YAhya—itu kalau bukan si Falin?
“Saya, Saya!” teriak Falin lagi. Padahal sudah
dekat. Sandi lantas melongo. Tidak biasanya Falin ada di sini. Lebih tepatnya,
ini bukan gedung kuliahnya. Meski mereka sama-sama di Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, tapi jurusan mereka beda. Gedung juga beda, jauh malah. Memang
tidak mungkin sih kalau mahasiswa se-jurusan dengan Falin menginjakkan kaki di
tempat ini. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang adalah, untuk apa bocah ini ada
di sini? Apa hanya untuk menemuinya?
“He? Lin, elo ngapain di sini?” tanyanya
begitu Falin tepat berada di sampingnya. Semburat merah menyambar pipinya
karena sadar gadis ini tak henti-hentinya mengumbar senyuman manis ini.
Reflek,
ia alihkan pandangannya ke arah lain. Bisa jelas dirasakannya bagaimana pipinya
memanas. Hanya, ia tak ingin menunjukkannya pada Falin saja. Lagipula, ia
terlalu gengsi untuk melakukannya.
“Nga, ngapain elo di sini?” ulangnya, lebih
grogi. Tapi nyatanya Falin abai saja. Tak ada rasa curiga, apalagi berburuk
sangka. Parameter semangat Falin hari ini benar-benar luar biasa. Sampai-sampai
sejak pagi ia selalu menanggapi positif kejadian yang ia temui. Mulai dari
temannya yang tidak sengaja menginjak kakinya, sampai sepatunya menginjak tokai kucing. Dia tetap beraura positif.
“Nah!” decaknya. Sandi kembali menoleh, dan
lagi ia temui senyuman itu. Kali ini, ia langsung pindah ke bawah. Tepatnya ke
tangan Falin yang tiba-tiba menyodorkan sesuatu padanya.
“Eh?”
Sekotak bekal, dengan warna biru muda,
disodorkan padanya. Sandi heran plus bingung plus penasaran plus tak mengerti,
jadi kotak bekal ini harus dia apakan. Kenapa disodorkan padanya? Untuknyakah?
“Buat gue?” pertanyaan ini langsung ditanggapi dengan anggukan kepala. Sandi
memang menerimanya, sih. Tapi ia langsung diliputi rasa curiga. Jangan-jangan
isinya bukan makanan. Tapi bom, tapi granat, tapi misil, atau tapi-tapi yang lain
yang lebih parah, semisal.... tikus!
“A, apaan, nih?!” pikiran tadi memaksanya
menjauhkan bekal itu dari tubuhnya. Bermaksud menghindar, takut apa yang ada di
pikirannya tadi terjadi. Falin sama Derwan kan usilnya minta ampun. Amit-amit!
Tak pandang umur, profesi dan jenis kelamin. Semuanya dikerjai. Mereka berdua
bakalan berhenti kalau mereka sudah puas. Termasuk, kalau sampai yang dikerjai
nangis darah tapi mereka belum puas, maka mereka tak akan berhenti. Walaupun
pada kenyataannya, objek dari aksi jahil mereka itu hanya ada satu dan
satu-satunya, serta tak akan pernah tergantikan, yaitu Sandi Yahya.
“Selamat menikmati!” tanggap Falin, sukses
membuat Sandi melongo. Lantaran gadis ini langsung cabut begitu mengucapkan
kalimat barusan. Senyumannya pun masih nemplok.
Senyuman tulus, setulus-tulusnya tanpa torehan kejahilan sedikit pun.
Tiba-tiba angin berdesir. Meniup poni Sandi
dan jasnya yang tidak ia kancingkan. “A, apa-apaan, ini?”
***
Kaki Falin kembali terhenti begitu ia sampai
di depan gedung Jurusan Ilmu Pendidikan. Tepatnya di kelas Olahraga. Senyum
yang ia munculkan saat melihat Sandi di depan ruang praktek tadi kembali
muncul. Sekarang Derwan yang baru saja keluar dari kelas. Tampilannya
menunjukkan bahwa bocah itu hampir menuju lapangan. Hanya kaos berkerah,
padanan warna merah dan putih, celana olahraga hitam di atas lutut, dan sepatu
kets warna putih. Rambutnya basah hingga memperjelas bentuk wajahnya yang oval.
“Derwan!” teriaknya dengan nada panjang.
Siapapun pasti langsung tertarik dengan panggilan ini. Bahkan bukan hanya
Derwan yang menoleh sekarang. Teman-teman Derwan yang lain, yang tadi sempat
melakukan aktivitas lainnya langsung beralih ke Falin. Tak jarang dari mereka
langsung ikut tersenyum karena melihat senyuman Falin. Yah, tak bisa dipungkiri,
wajah bulat Falin yang terlalu manis itu bisa memikat siapa saja. Apalagi
dengan raut seceria itu. Belum lagi gaya berlarinya yang seolah minta dipeluk
setelah sampai di tempat.
“Wah, Falin!” seru seseorang di dekat Derwan. Tatapan tajam dari Derwan langsung didapatnya.
Tiba-tiba saja kengerian dahsyat langsung menjalar ke tubuhnya melihat tatapan
itu. Ia minggir, tak mau ikut campur dengan pertemuan dua orang ini. Tak ada
kesempatan untuknya mendekati Falin walau hanya satu detik.
“Ngapain elo ke sini, Lin?” tanya Derwan
seraya mengalungkan handuk biru kecilnya ke leher. Melihat mata berbinar Falin
membuatnya abai pada sengalan nafas gadis ini. Falin berlari dari jurusannya
mungkin. Tapi ia hanya heran tujuannya kemari apa. Tidak biasanya Falin mendatanginya
langsung kemari. Padahal biasanya hanya lewat hp. Syukur-syukur nelpon, sms mah
baru yang dilakukannya.
“I... hh... ini,” tangannya terulur.
Menyodorkan sekotak bekal biru muda padanya. Derwan melongo, lantaran bingung
apa maksudnya.
“Hah? Apa?” tanyanya polos. Bahkan ia belum
mengambil sodoran itu.
“Ini,” ulang Falin lagi. Kini ia sudah berdiri
setelah sempat tertunduk, membuang sesak napasnya.
“Elo mau ngapain? Minta pegangin? Enggak bisa
pegang sendiri, tah?”
Gubrak! Falin kejengkang. (Berasa enggak ada bahasa lain nih penulis satu -_- )
“Ini buat elo kutu kupret! Makannya, kalo pake
internet jangan ngandelin wifi! Beli kuota di konter nape?!” Falin geram
sendiri dibuatnya. Sedangkan Derwan masih abai. Tiga detik sebelum akhirnya
mengambil kotak itu, ia sempat menggaruk kepalanya. Masih bingung mungkin.
Tapi, ia belum sempat bertanya apa isinya, Falin sudah ngacir lebih dulu.
Penasaran, ia pun membukanya.
Di tempat lain, tepatnya di depan ruang
praktikum, Sandi juga melakukan hal yang sama. Membuka kotak bekal pemberian
Falin. Bedanya, kalau Derwan dipenuhi rasa penasaran, Sandi dipenuhi rasa
curiga. Siapa tahu ini salah satu aksi kejahilan Falin padanya. Tapi, begitu
kotak itu terbuka, wajah kedua orang ini menunjukkan ekspresi yang hampir menyerupai
pinang dibelah pisau belati. Eh!
Maksudnya pinang dibelah dua. Sama, plek!
Tak ada bedanya. Mata berbinar, ekspresi sumringah dan suara perut yang
tiba-tiba mendukung bentuk ekspresi ini. Ini benar-benar makanan. Nasi putih
dengan porsi sedang, dan omlet besar di sebelahnya dengan saus yang cantik
menghiasi luarnya.
Satu sendok, Derwan dan Sandi benar-benar
melakukan hal yang sama. Omlet itu yang cukup menggiurkan. Makannya keduanya
pun langsung menyambar benda yang sama. Begitu masuk ke mulut, em... enak, sih.
Tapi, kok...
“Huwa!”
***
Kursi siaran ini tidak bisa diam. Bukan karena
keinginan dari si kursi itu sendiri. Tapi, tentu saja karena si yang duduk ini
tidak mau berhenti untuk berputar-putar. Santai, sambil berdendang bak bos
perusahaan besar yang baru menang lotre. Entah lagu apa yang ia komat-kamitkan
di bibirnya. Yang jelas, ekspresi bahagia tertempel rekat di wajahnya sekarang.
Mendengar seseorang membuka pintu, ia berdiri
spontan. Mulutnya menyungging senyum melihat siapa yang datang. Sandi dan
Derwan. Sontak ia berlari, menghampiri kedua orang itu dengan ekspresi sama
yang tak bisa ia tanggalkan walau sebentar.
“Hai! Malem! Gimana kabarnya?” sapanya
sumringah. Sandi dan Derwan bereaksi sama. Melongo bin heran. Mungkin sekarang
mereka saling bertelepati, menanyakan hal yang sama di dalam benak
masing-masing. Nih bocah kesurupan apaan
sih dari tadi pagi? Apalagi setelah Falin berjingkat-jingkat ria sambil
memutari mereka berdua. Persis seperti Maru –kucingnya Derwan—kalau menyambut
kepulangan Derwan.
Tanpa peduli dengan jawaban datar dari dua
orang ini, Falin menuju sofa. Duduk manis sambil memainkan hp-nya dengan tetap
berdendang lagu entah apa itu. Derwan
tak ingin ambil pusing. Buru-buru ia kembali ke tugasnya. Menyiapkan segala
sesuatu untuk siaran. Kurang setengah jam lagi. Paling tidak, ia bisa makan
dulu sebelum siaran nanti.
Sedangkan Sandi memilih duduk di samping
Falin. Toh, ia pun tak ada kerjaan di sini. Kontrak Falin belum habis, ia yang
biasanya penyiar di sini tak punya kerjaan lain. Lagipula, Sandi juga tak
berniat mengakhiri kontrak. Biarlah Falin saja yang tetap menjadi penyiar. Ia akan menggantikannya
kalau sempat. Belum sempat ia sampaikan ke Falin memang. Seharusnya malam ini.
Tapi, kelakuan Falin membuatnya cukup penasaran, sehingga apa yang hendak
disampaikannya pasal kontrak siaran berubah jadi sebuah kalimat tanya, “Elo
kenapa sih, Lin? Kayaknya seneng banget?”
“Hem... tanya dulu boleh?” tapi Falin malah
balik bertanya.
“Tanya? Apaan?”
“Sama elo juga, Wan!” teriaknya, mengarah ke
Derwan. Mendengar namanya disebut, Derwan menoleh. Tanpa beranjak dari
tempatnya, ia bermaksud mendengar dulu penjelasan dari Falin.
“Apaan?”
“Tadi bekalnya gimana? Enak?” lanjutnya. Sandi
sempat kecewa. Melihat Falin yang menoleh ke arahnya dan Derwan bergantian, itu
artinya yang dapat bekal tadi bukan cuma dirinya. Yah... padahal Sandi sudah
berbunga-bunga mendapat sarapan buatan Falin. Ia sempat berpikir itu spesial
untuknya saja. Tapi ternyata, Derwan pun juga mendapatkannya.
“Enak sih tapi...”
“Enggak enak!” Sandi memotong jawaban Derwan.
Sukses membuat mata bulat Falin membesar.
“Hah?!”
“Itu tadi omlet, kan?”
“Iya. Kenapa? Keasinan? Gue belum mau nikah,
kok!” jawaban Falin memaksa Sandi untuk menjitak kepalanya pelan. Pletak!
“Bukan itu, dodol!” umpat Sandi kesal. Derwan
tak jadi ikut andil. Biarlah Sandi yang menjawab pertanyaan tadi. Ia harus
menyelesaikan pekerjaannya. Memilih kaset-kaset yang akan dipakai untuk siaran
malam ini.
“Bukan? Terus?”
“Yang elo bikin tadi omlet beneran atau bubur
omlet, sih?”
“Bu, bubur omlet?”
“Iya! Omlet apaan yang cair begitu? Masak
begituan aja kagak bisa! Itu telornya belum mateng udah maen angkat aja elo!”
cerocos Sandi. Falin melongo, Derwan tertawa membenarkan. Barulah setelah itu
Falin cengar-cengir.
“Anggep aja itu omlet setengah mateng.
Hehe...” elaknya. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyikapi
perasaan malu yang sempat menghampirinya.
“Dasar!” tambah Sandi lagi. “Eh, ya. Terus apa
hubungannya bekal itu sama ke-hyperaktifan elo sekarang?”
“Oh, iya. Tadinya sih, maksud gue kalo tu
omlet enak, gue bakalan jadiin itu menu siaran tambahan. Jadi, diselingan lagu
bakal gue share gitu resepnya. Kan lumayan, nambah bahan omongan. Daripada
siaran isinya kata-kata gak jelas gue mulu, kan?” jelasnya. Satu detik, Sandi
dan Derwan saling pandang, dua detik hening, tiga detik dentang jam terdengar
lebih keras, empat detik... lima detik...
“Buahahahahaha.....!” tiba-tiba gelak tawa
dari mereka berdua memenuhi seisi ruangan. Falin melongo, tidak tahu harus
merespon bagaimana. Atau lebih tepatnya ia sendiri tak tahu yang ditertawakan
Sandi dan Derwan itu apa. Ia merasa dari penjelasannya barusan tidak ada yang
lucu. Lagipula, profesinya sekarang adalah penyiar, bukan pelawak apalagi
peserta stand up comedy. Jadi
seharusnya tidak ada tawa begitu mendengar tuturannya barusan.
“Apaan, sih? Apanya yang lucu?” tanyanya
bingung. Sandi dan Derwan tak lantas merespon. Perlahan, mereka menguasai diri
mereka sendiri. Akhirnya Derwan memilih menghentikan pekerjaannya. Lantas
sambil meredam tawa, menggeret kursi ke depan mereka berdua. Bungkusan plastik
berisi sekotak martabak telor yang tadi ia beli bersama Sandi sebelum kemari ia
taruh di atas meja. Membukanya dan melahapnya satu potong. Tapi Falin dan Sandi
sepertinya belum tertarik. Apalagi Falin. Ia masih seratus persen bingung dan
minta penjelasan lebih lanjut.
“Apanya?! Apanya yang lucu?! Kenapa ketawa?!”
tanyanya berulang-ulang.
“Aduh, Lin! Kita ini siaran radio kampus.
Bukan acara master chef Indonesia. Elo ngapain kurang kerjaan ngasih resep
masakan ke pendengar? Mending juga kalo enak. Bikin mual nah iya!”
“Oh, gitu!” respon Falin ketus. Heh! Nyebelin banget, sih! Gue kan cuma mau
ngasih masukan! Dasar! Dumelnya dalam hati. Lantas ia mengambil sepotong
martabak tadi. Melahapnya dalam satu gigitan dengan tampang kesal luar biasa.
“Tapi ide Falin bagus lo, San,” Derwan ikut
nimbrung.
“Bagus darimananya? Elo mau abis ini kita
diberhetiin sama rektor gara-gara ngeracunin pendengar yang ngikutin resepnya
Falin?” lagi-lagi mereka berdua tertawa karena celetukan ini. Falin makin
sebal. Bibirnya monyong-monyong lima senti. Giginya gemeletukan. Padahal makan
martabak, tapi berasa makan tulang ayam.
“Bukan, bukan. Bukan itu maksud gue. Soal menu
siaran tambahan. Boleh juga tuh dipake,” lanjut Derwan. Sandi manggut-manggut.
Condongan badannya ke depan menandakan bahwa ia mulai tertarik dengan ulasan
Derwan tentang ide Falin barusan. “Semisal, kita ngundang bintang tamu gitu.
Yah... yang bisa ngasih hiburan. Kayak, nyanyi kek, gitaran kek, apa kek. Biar
ada warna baru di siaran kita,” tambahnya lagi. Sebagai respon, Sandi masih
manggut-manggut. Nampak setuju dengan gagasan ini. Menambah menu siaran baru,
mungkin bagus juga.
“Nanti menu barunya dikasih nama,” Falin yang
kesal kembali bicara.
“Apa?” tanya Sandi.
“Omlet setengah mateng in breaking news!” celutuknya. Untuk kesekian kalinya, Sandi dan Derwan terbahak-bahak. Sedangkan Falin makin jengkel. Bahkan ia tak sadar, setengah dari porsi besar martabak telor ini dia sendiri yang menyantapnya.
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment