Penghujung semester empat. Tidak ada kuliah,
hanya sedikit kegiatan yang harus dirampungkan di hima. Sandi juga tak terlalu
aktif di hima jurusannya sendiri. Cintanya sudah ia curahkan semua ke Korek Ati. Paling-paling dia datang
kalau dibutuhkan saja. Selebihnya, ia akan mengungsi ke studio. Kalaupun hanya
untuk sekedar tidur, dia pasti akan lebih sering di sana.
Karenanya sekarang ia pun ada di studio. Berbaring
di atas sofa, memejamkan mata tapi tidak tidur. Hanya sekedar merilekskan
otaknya saja. Besok dia pergi bersama yang lain. Tentu saja dengan menerima
tawaran dari mama dan papanya. Pergi ke Bali. Tadinya Derwan sempat menolak.
Alasannya mengurusi Desi. Tapi Sandi berhasil memaksanya. Dia tidak akan
mungkin kuat kalau cuma bertiga saja bersama Falin dan Army. Bisa-bisa dia
malah jadi tour guide saja.
Mengingat
bagaimana Falin tiap hari tak pernah jauh-jauh dari Sandi. Mungkin itu juga
yang membuatnya agak lebih lelah akhir-akhir ini. Lelah hati.
Tapi kalau dia mau menembak Falin sekarang
juga waktunya tidak tepat. Lagipula, dia juga sedang tak ingin bunuh diri,
mengaku pada Falin tapi ujung-ujungnya ditolak oleh Falin. Hubungan jadi
canggung, dan mereka jadi renggang. Dia jadi tak bisa sedekat sekarang dengan
Falin. Mungkin itu juga pikiran yang menganggunya selama ini. Heh! Bahkan ia tersenyum kecut mengingat
sikapnya yang begitu pengecut.
Suara pintu terbuka. Ia hanya mengangkat
kepala sebentar. Army yang masuk. Ia terlihat tak begitu terusik. Karenanya ia
kembali memejamkan matanya.
“San?” suara Army terdengar. Mungkin ia mulai
sadar kalau ada Sandi di sini.
“Ehm?” dehem Sandi sebagai tanggapan. Setelah
itu Army tak bicara lagi. Ia mengambil kursi, duduk agak jauh dari Sandi. Ia
tahu Sandi tak sepenuhnya tidur. Karena itulah ia mengeluarkan gitarnya. Petikan senar terdengar, Sandi tetap diam. Aman, berarti tak apa-apa kalau ia
bermain gitar sekarang.
“Tak
mudah... tuk melepas bayangmu...
Kau yang pertama mengisi relung hatiku...” Menghapus yang Terukir-nya Mita Lestari
yang ia pilih.
“Tak
mudah... tuk melepas rasa ini...
Tapi kusadari diriku lebih berarti
Berlari... dan terus kuberlari hingga rasa ini pergi
Apa yang harus kulakukan... melupakanmu
Sampai mati kan kucoba... aku tak bisa...
Apa yang harus kulakukan... menghapuskanmu...
Yang terukir di hatiku...” jreng! Army mengakhiri permainan gitarnya. Saat itulah ia sadar, Sandi sudah mengganti posisinya, duduk menghadap ke arahnya. Army tersenyum tapi Sandi hanya diam. Memasang muka datar hingga membuatnya bingung sendiri.
Tapi kusadari diriku lebih berarti
Berlari... dan terus kuberlari hingga rasa ini pergi
Apa yang harus kulakukan... melupakanmu
Sampai mati kan kucoba... aku tak bisa...
Apa yang harus kulakukan... menghapuskanmu...
Yang terukir di hatiku...” jreng! Army mengakhiri permainan gitarnya. Saat itulah ia sadar, Sandi sudah mengganti posisinya, duduk menghadap ke arahnya. Army tersenyum tapi Sandi hanya diam. Memasang muka datar hingga membuatnya bingung sendiri.
“Kenapa?” tanyanya. Sandi belum menjawab.
Sampai kira-kira sepuluh detik barulah ia membuka mulutnya. “Elo suka banget,
ya?” tapi malah dengan pertanyaan yang menggantung seperti ini.
“Ha?” tentu saja Army tak mengerti.
“Elo... elo suka banget sama gitar, ya?” ulang
Sandi. Kali ini lebih jelas. Terbukti dari senyum Army yang terbentuk. Ia tak
lantas menjawab, melainkan memasukkan gitarnya dulu ke dalam tasnya.
“Ehm!”
jawabnya kemudian sambil mengangguk.
“Elo ada impian buat
jadi gitaris terkenal?”
“Daripada mimpi gue,
lebih tepatnya buat mewujudkan mimpi seseorang,” wajah Army nampak mengenang
sesuatu. Sandi memang cukup penasaran. Tapi rasanya tak tepat untuk bertanya
secara langsung. Kalau dia boleh menebak, apa mungkin seseorang yang dimaksud
itu adalah orang dalam foto di halaman pertama buku diarynya waktu itu? Dia
mirip dengan Army, bukan? Besar kemungkinan orang itu ada pertalian darah
dengan Army.
“Yang jelas, elo bisa
bilang gitar itu sebagian hidup gue. Gue suka banget. Mungkin...
bisa elo anggep sesuka elo sama Naruto. Atau mungkin lebih.”
“Lebih?”
“Iya.”
“Misalnya?”
“Cinta pertama yang belum bisa terungkap
sampai sekarang.” Jawaban ini membuat Sandi terdiam lagi. Apa maksud Army
sebenarnya? “Elo...” ia beranjak, berdiri dan berjalan mendekati Army. Tapi
belum sampai ia benar-benar dekat dengan Army, dua orang lainnya datang. Derwan
dan Falin.
“Hay, semuanya!” sapa Falin lebih dulu. Sandi
kembali lagi ke sofanya. Di tangan Falin membawa sesuatu, tapi ia sedang tak
tertarik. Ia hanya duduk, diam memperhatikan apa yang mereka lakukan. Atau
lebih tepatnya ia menatap Army. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di
benaknya. Termasuk pertanyaan: Apa dia
tahu gue suka sama Falin?
***
Sekitar pukul delapan tepat mereka berempat
sampai di Bandara Soekarno Hatta. Pak Ade, sopir yang biasanya mengantar
mamanya Sandi kemanapun pergi kali ini diminta untuk membawa mobil Sandi.
Sekarang ia sibuk menurunkan barang-barang orang-orang ini dengan Army yang
membantunya dengan senang hati. Padahal awalnya Pak Ade menolak. Tapi Army
tetap saja memaksa. Yah... ia pun tak bisa menolak juga jadinya. Padahal yang
cukup dekat dengan Pak Ade itu Derwan. Tadi saja sepanjang perjalanan ia duduk
di depan. Ngobrol ini itu dengan Pak Ade. Tentang keluarga, tentang lalu lintas
dan banyak lagi. Bukan maksudnya Derwan atau Falin tidak sopan dan tidak baik
hati. Hanya saja, Sandi selalu bilang kalau mereka akan merasa berdosa kalau
pekerjaannya diganggu. Ya sudah dibiarkan saja. Tapi Army yang masih awam dan
belum tahu tentang peringatan itu mereka biarkan saja.
Hanya tiga ransel besar dan sebuah koper
sedang warna biru tua yang keluar dari bagasi mobil. Tiga tas itu milik para
pria, sedangkan si koper adalah milik Falin. Padahal Falin sudah bawa-bawa
ransel kecil di punggungnya. Tapi masih saja ada barang yang musti ia jejalkan
ke koper. Cewek... terlalu banyak tetek bengek yang dibawa. Meskipun nanti
ujung-ujungnya di sana juga pasti belanja baju lagi. Oke, kita biarkan saja.
Setelah Pak Ade pamit, mereka berempat masuk.
Sandi yang mengurusi masalah tiket, yang lain terima beres. Hanya menunggu
beberapa menit sampai jadwal keberangkatan mereka tiba. Karena Sandi yang
mengurus soal tiket, maka dari itu Sandi dapat jackpout. Ia dapat kursi tepat di sebelah Falin. Kelas satu,
kira-kira berjarak lima kursi ke depan dari kursi Army dan Derwan yang juga
duduk bersebelahan. Ia harus memanfaatkan kesempatan ini baik-baik.
Masuk ke pesawat, Falin sempat
celingak-celinguk mencari tempat duduknya, menyamakannya dengan tiket yang
sudah berpindah ke tangannya. Tapi tiba-tiba ia merasakan seseorang meremas
jarinya. “Oh!” serunya sedikit terkejut. Sandi menggeretnya ke kursi mereka.
Falin tak banyak protes. Genggaman di tangannya itu juga rasanya tak berarti
apa-apa. Justru Sandilah yang merasa
senang. Ia bisa melakukan kontak dengan Falin. Rasanya sudah lama sekali.
Tanpa membuka mulut seinci pun Falin duduk
rileks di kursinya. Kursinya di dekat jendela. Ia bisa leluasa melihat pemandangan
di luar. Meskipun nanti yang dilihatnya paling cuma awan. Yang jelas ia anteng.
Tak banyak gerak, tak banyak protes, tak banyak berceloteh. Agak jadi pendiam
memang, tapi Sandi senang bisa berada di dekatnya seperti ini. Apalagi dengan
senyum yang masih setia nyantol di
wajah manis si pujaan hati. Hah... senangnya.
“Kita di hotel apa di villa, Say?” tanya
Falin, akhirnya bersuara. Tapi tatapannya masih ada untuk di luar jendela.
Pesawat belum take-off. Jadi, yang
dilihatnya hanya beberapa orang yang masih berbaris masuk ke pesawat.
“Maunya?” Sandi malah balik bertanya.
Falin tiba-tiba menoleh. Mungkin ia agak
bingung dengan pertanyaan yang muncul ini. “Kok maunya? Elo nyewanya apaan,
geh?” tanya Falin lagi. Sedikit menyikut lengan Sandi, kesal.
“Gue sewa villa. Jadi lebih leluasa. Elo juga
demennya di villa kan daripada di hotel?” tanggap Sandi. Falin mengangguk
senang. Ia tersenyum begitu lebar hingga membuat Sandi benar-benar gemas.
Tangannya gatal mencubit pipi kanan Falin. Bocah itu memang tak protes. Tapi ia
merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menghampiri jantungnya. Ia diam sebentar,
bahkan pipinya memerah. Bukan karena cubitan Sandi, melainkan karena ia merasa
tak wajar dengan sikap Sandi barusan. Kenapa
Saya jadi aneh begini? Pikirnya.
Yang membuat Falin makin salah untuk
bertingkah, kalau bahasa kerennya salting
alias menggarami (eh...), sikap Sandi setelah pramugari cantik datang
membawakan menu pesawat setelah beberapa menit pesawat take off . Falin hanya memesan steak,
tapi dari yang mulai mengambilkan dari tangan si pramugari, sampai pakai acara
motong-motong dagingnya segala. “Eh, gila! Gue bisa sendiri kali!” bahkan protesannya sama
sekali tak didengar. Sandi bersikap lebih lembut. Bahkan ia mau mengalah untuk
beberapa hal yang sebenarnya Falin jadikan sebagai bahan untuk berdebat seperti
biasanya.
Entah sudah berapa kali tangan Sandi terulur, mengacak rambutnya
gemas dengan semua celotehan Falin yang sebenarnya biasa saja. Jangan salahkan
Falin kalau ia makin salah tingkah.
Tapi alih-alih dari rasa salah tingkahnya,
untuk menunggu pesawat satu ini landing,
ia sudah keburu mengantuk. Matanya sejak tadi sudah ketar-ketir, melek merem.
Falin tak sadar sejak ia diserang kantuk itu Sandi sudah memperhatikannya
dengan senyuman. Padahal penerbangan ini tak akan memakan waktu satu jam nanti.
Begitu Falin benar-benar tertidur, ia biarkan
kepala mungil Falin menyandar di bahunya. Selama Falin tidur, ia benar-benar
puas memandangi wajah itu. Alisnya... matanya... hidungnyan dan... bibirnya. Ia
benar-benar senang memandanginya. Lipgloss
pink di bibir Falin terlihat apik
merekat di sana. Entah kenapa pandangan Sandi berhenti di sana. Bibir ini...
tiba-tiba tangannya mendingin. Jantungnya benar-benar tak karuan benar rasanya.
Walaupun otaknya berkali-kali berkata tidak, ia benar-benar tak bisa mengelak.
Perlahan... ia mendekati wajah itu. Dan cup!
Ia berhasil mendapatkannya. Setelah itu Falin menggeliat, ia tak sadar apa yang
sudah dilakukan Sandi barusan. Karenanya Sandi tersenyum. Hanya satu kecupan
singkat, rasanya tak apa-apa. Sejauh ini pun, hal paling berani yang ia lakukan
mungkin hanya ini. Ia terkekeh pelan kalau sampai Falin sadar apa yang sudah ia
lakukan padanya.
Baru beberapa menit
sejak Sandi pun ikut merapatkan kelopak matanya, suara pramugari terdengar.
Mereka sudah sampai. Tapi yang pertama kali terbangun adalah Falin. Ia cukup
terkejut melihat bagaimana posisi mereka berdua tertidur. Kepalanya bersandar
di pundak Sandi, dan kepala Sandi bersandar di kepalanya. Karena gerakannya
mungkin, Sandi jadi terbangun. Masih setengah sadar, ia menatap Falin dengan
pertanyaan. “Kenapa?”
“Udah sampe. Ayo,
turun!” ajak Falin kemudian. Ia sempat melihat sekeliling, orang-orang sudah
mulai sibuk mencoba turun. Sandi yang nyawanya belum sepenuhnya terkumpul
terpaksa berdiri. Bahkan tak ada waktu itu menyadarkan diri, Falin langsung
menggandeng tangannya. Pasalnya si Army dan Derwan sudah tidak ada di bangku
mereka. Ia tak ingin kalau mereka berdua nanti menunggunya lama. Tapi ia sama
sekali tak tahu, kalau Sandi sudah senangnya bukan kepalang.
Matanya tak lepas
dari tangan mereka berdua yang saling bertautan.
Tapi kesenangan Sandi
surut. Bagaimana tidak? Begitu turun, mengambil barang-barang mereka, Falin
kembali lengket dengan Army. Bahkan ketika sebuah mobil paket dari villa
pesanan Sandi menjemput mereka, Falin memilih duduk di dekat pintu sebelah kiri.
Padahal Sandi duduknya di dekat pintu sebelahnya. Dan yang tengah? Tentu saja
Army. Dan Sandi akhirnya pun memilih tukar tempat dengan Derwan, duduk di depan
saja. Aman. Pikirnya.
Sekitar 30 menit dari
Bandara Ngurah Rai, mereka sampai di sebuah villa mewah di daerah Canggu.
Derwan dan Falin pernah datang kemari, tentu saja bersama dengan Sandi. Lengkap
dengan mama dan papa Sandi. Tapi ini tentu saja pertama kalinya untuk Army.
Villa ini terlalu berlebihan menurutnya jika hanya dijadikan untuk menginap
selama sepuluh hari saja. Pertama kali berada di pelataran villa mata mereka
sudah disambut dengan pemandangan yang spektakuler. Tepatnya di sebelah Selatan
nampak pemandangan pura Hindu yang berada di tepi pantai. Di sebelah Timur dan
Utara ada pemandangan Gunung Agung dan perbukitannya yang begitu menawan.
Sebelah Barat yang nampak jelas garis cakrawalanya di atas laut itu Army yakini
sebagai tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam. Dari villa ini mereka
hanya butuh waktu sekitar 10 menit menuju Seminyak, Legian atau Nirwana Golf
Course. Tempat tinggal yang cukup nyaman memang. Melihat pelayanannya yang
begitu mengayomi ini –termasuk bagaimana pelayannya langsung membawakan semua
barang-barang mereka ke dalam villa,
dengan segala sambutan dan tetek bengek lain yang memanjakan tourist—Army
tak bisa membayangkan berapa banyak yang harus dikocek orang tua Army untuk
menyewa tempat ini.
Masuk ke dalam villa,
sebuah meja panjang dengan taplak putih bersih menjadi alas empat gelas minuman
berwarna hijau –mungkin jus lemon, soalnya ada irisan melon gitu di atasnya—dan
buah-buahan segar. Army bingung, tiga yang lain tak acuh sama sekali. Ada empat
kamar, itu artinya mereka dapat jatah satu-satu. Tiga di lantai satu, dan satu
lagi di lantai dua. Falin memilih kamar atas, sendirian. Jadi tiga cowok-cowok
ini di kamar yang ada di lantai satu. Army memilih kamar yang paling dekat
dengan posisinya berdiri.
Begitu masuk ke dalam
sana, sebuah kamar yang cukup luas, yah… tidak seluas kamar Sandi, menyediakan doublebed
berukuran besar. Kerennya ranjang ini menghadap langsung ke jendela besar yang
menghadap ke laut. Ada sebuah tv 32 inch di sebelah kiri ranjang,
stereo, pemutar film dan sambungan telfon. Army tidak ingin berlama-lama
terbengong. Ia sudah pernah, karena sejatinya kamar Sandi lebih mewah dari
tempat ini. Lemarinya pun lemari yang normal, bukan satu ruangan penuh yang
hanya dipersembahkan untuk pakaian. Hanya sebuah lemari dua pintu warna putih.
Tak banyak yang dibawa Army, karenanya ia hanya butuh waktu sekitar lima menit
untuk menata baju-bajunya ke dalam sana.
Selesai beres-beres,
ia membuka jendela lebar-lebar. Angin sepoi-sepoi mengelus wajahnya lembut. Bau
air laut langsung menyapa indera penciumannya begitu ia berjalan ke balkon. Ia
tersenyum puas menikmati apa yang terpantul di retina matanya. Bukankah ini
benar-benar menakjubkan untuknya?
“Udah selesai
beresan?” suara seseorang tiba-tiba terdengar. Army menoleh ke kanan, sudah ada
Sandi di balkon kamarnya. Ada segelas minuman dari ruangan di depan tadi di
tangannya. Posisinya setengah duduk di balkon, menghadap ke Army. Senyum Army
lalu terbentuk.
“Em.” Army mengangguk.
“Gue enggak bawa barang banyak,” lanjutnya.
Sandi hanya
memandanginya. Datar. Apa boleh Army merasa bingung sekarang? “Kenapa?” tanyanya
kemudian. Sandi nampak tersentak. Alih-alih pergi dari salah tingkahnya, ia
mengubah posisinya. Berjalan sebentar ke depan, kemudian menghadap ke laut.
Menyandarkan kedua tangannya ke balkon, dengan gelas yang siap menumpahkan
isinya ke mulut Sandi. Begitu satu teguk mengaliri tenggorokannya, barulah
Sandi kembali menoleh ke arah Army.
“Mi!” panggilnya
kemudian. Army hanya diam. Tak perlu rasanya panggilan itu ia jawab. “Gue boleh
nanya sesuatu?” tanya Sandi kemudian.
“Apa?” balas Army
cepat. Ia masih tak bosan menatap langsung ke kedua mata Sandi. Tapi tidak
dengan Sandi. Ia kembali memilih laut.
“Apa…” ia nampak ragu
untuk menanyakannya. “… ada orang yang lagi elo suka?”
Dahi Army nampak
berkerut. “Kenapa emangnya?” dia malah balik bertanya.
“Enggak… nanya aja.”
Sandi kembali menengguk minumannya. Angin pantai memainkan poninya.
Sepuluh
detik Army memandanginya. Mungkin ia bingung dengan pertanyaan Sandi ini. Tapi
ia berusaha bersikap santai. Sesuai kata Sandi, mungkin dia hanya ingin
bertanya.
“Em… ada,” jawabnya.
Mengganti posisinya persis seperti Sandi. Memandang laut, sedikit menerawang,
membayangkan seseorang.
“Udah berapa lama elo
suka sama dia?” tanya Sandi lagi.
“Belum terlalu lama,
sih.”
“Dia tau elo suka sama
dia?”
“Entahlah…” Army
tersenyum kecut.
“Terus, dianya sendiri
gimana ke elo?”
“Dia baik. Cuma… gue
enggak yakin dia bisa terima perasaan gue ini.”
“Kenapa?”
“Karena gue enggak
mungkin bisa bersanding sama dia. Ada yang lebih mencintai dia daripada gue.
Dan orang itu lebih pantes buat dia,” jawabnya jelas. Entah karena bagian mana,
Sandi menoleh kembali ke arahnya. Memandanginya cukup lama hingga bisa melihat
ekspresi tak enak di wajah manis Army. Apakah itu sebuah ekspresi kecewa, Sandi
tak bisa menebaknya.
“Woy!” suara seseorang
mengganggu diamnya mereka. Sebelah kiri balkon Army, itu Derwan. Dia baru saja
keluar dari kamarnya. “Ngobrolin apaan, sih?” tanyanya, langsung menuju
pembatas balkon sebelah kanannya. Army dan Sandi bukannya menjawab malah
tersenyum datar. Entah apa yang ada di pikiran keduanya sekarang.
***
Satu hari setelah
kedatangan mereka di Pulau Dewata, keempatnya memilih tetap di villa. Hanya
obrolan ringan di taman yang ada di tengah kolam renang di belakang villa.
Ditemani dengan makanan dan minuman yang mereka pesan ke koki di villa ini.
Sorenya mereka menikmati senja di balkon kamar masing-masing. Malamnya mereka
istirahat. Sandi bilang ia sudah menyewa sebuah kapal pesiar untuk keliling
laut seharian penuh.
Esok harinya, mereka
benar-benar pergi dengan kapal pesiar. Keempat cowok itu hanya memakai kaos
biasa dengan jeans dengan warna yang berbeda. Derwan kaos putih dengan
warna merah di bagian kerah dengan jeans panjang biru. Army dengan kaos
abu-abu dan jeans panjang hitam. Sedangkan Sandi dengan kaos biru
bergaris dengan jeans putih selutut. Yang paling cantik tentu saja
Falin. Bahkan Sandi sempat terpana sekejap ketika gadis satu itu turun ke
lantai satu tadi pagi.
Dengan gaun selutut model halterneck motif bunga
merah di atas dasar merah muda, topi pantai bergaris, dan tas kecil dari benang
wol yang ia jadikan sebagai tempat handphone-nya, serta sandal jepit
tali transparan warna merah muda. Rambutnya ia biarkan tergerai. Sandi tak
ingat melihat Falin secantik hari ini. Dia benar-benar terlihat anggun.
“Wuuu!” sorak Derwan
ketika Falin sudah sampai di depan mereka tadi. “Falin cantik banget. Iya kan,
San?” lanjutnya lagi menyikut lengan Sandi. Melihat Falin yang malah tersenyum,
menambah kadar kemanisan wajah bulatnya itu, Sandi makin salah tingkah.
Alibinya menyentak mereka agar bergegas cepat. “Ayo! Lama banget, sih!”
mendengar kata-kata itu tentu saja Falin langsung merengut. Tapi tak lama
karena Army lah yang selanjutnya menyambutnya dengan senyuman.
Satu jam lamanya
mereka berlayar di atas laut. Sandi dan Derwan asik bercakap di bagian Bow,
bagian depan kapal. Duduk di atas kursi berjemur di Sun deck. Sedangkan
Army sejak tadi jadi fotografernya Falin. Mereka berdua ada di ujung Bow.
Segala macam pose sudah dilakukan Falin. Yah… walaupun kadang-kadang ia juga
memotret Army, sih. Tapi, tetap saja Army yang kerja lebih keras.
“Aw!” tiba-tiba Falin
merintih. Rambutnya yang tertiup angin ada yang masuk ke matanya. Army
mendekat. Sedikit panik, sekali lagi sedikit, ya? Jadi biasa aja
bayanginnya!
“Kenapa?” tanya Army.
“Aw… ini… aduh,
rambutku masuk mata,” jawab Falin masih mencoba mengucek-ngucek matanya yang
agak perih.
“Eh, bentar! Jangan
dikucek!” Army menarik tangan Falin, menjauhkan dari matanya. Sebaliknya ia
mendekat, mencoba membantu dengan meniup matanya beberapa kali.
Tapi Sandi yang tak
sengaja melihat adegan itu memandang mereka berdua dari sudut yang salah. Dari
tempatnya duduk sekarang, ketimbang meniup mata Falin, Army lebih terlihat
seperti sedang mencium Falin. Sontak ia berdiri. Karena ada sesuatu yang
tiba-tiba mendidih di balik dadanya. Ia berjalan, tak peduli dengan keheranan
Derwan karena Sandi berhenti begitu saja di tengah percakapan mereka. Sampai
Sandi sudah mendekati kedua temannya yang lain, ia masih memperhatikannya. Tapi
ia langsung mendelik sempurna ketika tangan Sandi menggeret kerah kaos Army dan
melayangkan sebuah tinju yang cukup keras di pipinya.
“Aaa!” teriak Falin
kaget. Karena tinju itu, Army mundur beberapa langkah. Tapi keseimbangannya tak
bertahan lama. Ia gagal membuat tubuhnya tetap berada di kapal. Bahkan pembatas
kapal tak mampu menghentikannya tercebur ke laut. Byur! Suara tubuh Army
jatuh ke laut.
“Army!” teriakan Falin
terdengar. Sandi sendiri cukup terkejut. Ia tak bermaksud membuat Army sampai
harus tercebur ke laut. Keduanya buru-buru melongok ke bawah. Ada sedikit warna
merah yang muncul ke permukaan. “Army!” panggilan Falin tidak ada tanggapan.
Byur! Suara yang sama lagi-lagi terdengar. Ternyata
itu Derwan. Ia bertindak cepat, lebih tanggap dari Sandi yang tiba-tiba
diserang panik. Demi apa tak ada niatannya untuk membuat Army menyapa air laut.
Warna merah tadi juga apa? Darahkah? Darah Army? Ia ketakutan sendiri.
Tapi begitu Derwan
kembali dengan Army di lengannya, ia bisa mendesah lega. Buru-buru ia
melemparkan ban yang untung saja berada tak jauh darinya. Susah payah ia dengan
bantuan Falin mencoba menaikkan Army kembali ke kapal.
“Army, Army!” racau
Falin berkali-kali. Derwan lagi-lagi lebih cepat. Ia yang baru saja naik ke
atas kapal juga segera melakukan CPR. Berkali-kali hingga Army terbatuk dan
memuntahkan air laut yang sempat tertelan.
“Uhuk! Uhuk!” akhirnya
Army sadar. Mereka bertiga seharusnya bisa bernafas lega. Tapi nyatanya tidak.
Karena setelahnya Army malah mengerang kesakitan.
“Ke, kenapa, Mi?”
tanya Falin kebingungan. Sandi lah yang pertama kali menyadarinya. Tangan kanan
Army sudah berlumuran darah. Apa mungkin tangan Army terantuk karang?
“Da… darah…”
***
Sandi sama sekali tak
bisa menyembunyikan bagaimana kekalutannya sekarang. Ia hanya duduk di kursi
tunggu, di depan apotek rumah sakit. Tak jauh dari ruangan dimana Army
ditempatkan sekarang. Kukunya mungkin sudah habis ia gigiti sejak tadi. Kalut,
cemas, dan khawatir semua berbaur menjadi satu hingga menciptakan mata gusarnya
sekarang. Lebih dari itu, bahkan tubuhnya mendingin. Bagaimana tangan Army yang
berdarah tadi terus terbayang di pikirannya.
Tiba-tiba seseorang
menghampirinya. Dengan langkah sedikit tergesa. Walau hanya sebatas melihat kakinya
saja, ia tahu kalau orang ini adalah Falin. Begitu gadis ini tepat berada di
depannya ia mendongak. Menyaksikan bagaimana mata merah Falin menatapnya penuh
benci. Ia berdiri. Lantas bibirnya bergetar, kesulitan menanyakan bagaimana
keadaan Army. “Li, Lin…”
Plak! Tapi Falin malah menamparnya. Cukup keras,
bahkan membuat wajah Sandi memerah seketika. Hampir sama dengan warna mata
Sandi yang langsung menatap Falin tak percaya. Tiga belas tahun lamanya,
rasanya baru kali ini ia mendapat tamparan seperti ini dari Falin. Bertengkar
dan bercekcok sering. Tapi itu tidak didasari dengan kebencian. Rasa panas yang
menghampiri pipinya sekarang ini terasa betul kebenciannya. Sebegitu
marahkahnya Falin padanya? Apakah separah itu keadaan Army sekarang?
Falin hanya
menatapnya, tentu saja masih dengan tatapan yang sama. Mereka terdiam cukup
lama. Mungkin Falin sendiri juga tak percaya ia baru saja menampar sahabatnya
sendiri. Derwan yang melihat adegan itu hanya bisa terpaku di tempatnya. Tak
ada energi untuk menghampiri kedua sahabatnya itu. Ia bahkan hanya diam ketika
Falin beranjak pergi. Menyisakan Sandi yang kembali terduduk lantaran masih shock
dengan apa yang sudah didapatnya dari Falin.
Derwan menghela
nafasnya. Kemudian berbalik, menatap nanar pintu ruangan rumah sakit. Di dalam
sana ada Army. Yang memberi tatapan sama dengan tangan kanannya yang sudah
dibalut perban. Ada rasa tak percaya dan tak terima. Berharap apa yang
dikatakan dokter tadi hanya mimpi, atau lebih baik lagi hanya gurauan.
“Karena pergelangan
Anda terantuk karang cukup keras, saya takut Anda tidak bisa bermain gitar
lagi. Selebihnya, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat
seberapa parah cedera yang Anda alami,” jelas dokter paruh baya tadi. Ia
ingin tak percaya. Tapi sayangnya itu adalah sebuah kenyataan yang harus ia
percayai.
“Lanjutin mimpi
kakak, Mi,” pikiran Army
kembali ke masa lalu. Sebuah gitar putih diulurkan padanya. Dari seseorang yang
mungkin terpaut sekitar sepuluh tahun darinya. Wajah yang mirip sekali dengannya
itu mengulas sebuah senyum. Cukup manis, hanya saja terlihat begitu pahit.
“Kakak mau ke mana?”
tanya Army kecil. Tapi orang yang dipanggilnya kakak itu hanya tersenyum. Meski
perlahan ada buliran air yang mengalir di kedua pipinya, ia masih mempertahankan
senyumannya dengan getaran. “Maafin kakak, Mi. Maafin kakak…” ujarnya seraya
mengusap-usap rambut Army.
Tes! Setetes air membasahi perban di tangan Army.
Lambat laun tetesan lainnya menyusul, disertai dengan isakan yang begitu lirih.
Army menangis. Ia tak ingin menangisinya. Tapi entahlah, dadanya terasa sesak
jika ia menahan terlalu lama air matanya. Bahkan sekarang tak hanya sesak, ada
perih. Perih yang begitu menyayat. Hingga Sandi yang entah sejak kapan sudah
ada di daun pintu mendapat efeknya. Tubuhnya bergetar lebih hebat dari
sebelumnya.
“Yang jelas, elo
bisa bilang gitar itu sebagian hidup gue.” Ia ingat kata-kata Army tentang gitar waktu itu.
“Apa yang udah gue lakuin?” batinnya kalut.
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment