Thursday, January 16, 2020

Mengambil Mimpi Orang Lain


 Penghujung semester empat. Tidak ada kuliah, hanya sedikit kegiatan yang harus dirampungkan di hima. Sandi juga tak terlalu aktif di hima jurusannya sendiri. Cintanya sudah ia curahkan semua ke Korek Ati. Paling-paling dia datang kalau dibutuhkan saja. Selebihnya, ia akan mengungsi ke studio. Kalaupun hanya untuk sekedar tidur, dia pasti akan lebih sering di sana.


Karenanya sekarang ia pun ada di studio. Berbaring di atas sofa, memejamkan mata tapi tidak tidur. Hanya sekedar merilekskan otaknya saja. Besok dia pergi bersama yang lain. Tentu saja dengan menerima tawaran dari mama dan papanya. Pergi ke Bali. Tadinya Derwan sempat menolak. Alasannya mengurusi Desi. Tapi Sandi berhasil memaksanya. Dia tidak akan mungkin kuat kalau cuma bertiga saja bersama Falin dan Army. Bisa-bisa dia malah jadi tour guide saja. 
Mengingat bagaimana Falin tiap hari tak pernah jauh-jauh dari Sandi. Mungkin itu juga yang membuatnya agak lebih lelah akhir-akhir ini. Lelah hati.

Tapi kalau dia mau menembak Falin sekarang juga waktunya tidak tepat. Lagipula, dia juga sedang tak ingin bunuh diri, mengaku pada Falin tapi ujung-ujungnya ditolak oleh Falin. Hubungan jadi canggung, dan mereka jadi renggang. Dia jadi tak bisa sedekat sekarang dengan Falin. Mungkin itu juga pikiran yang menganggunya selama ini. Heh! Bahkan ia tersenyum kecut mengingat sikapnya yang begitu pengecut.

Suara pintu terbuka. Ia hanya mengangkat kepala sebentar. Army yang masuk. Ia terlihat tak begitu terusik. Karenanya ia kembali memejamkan matanya.

“San?” suara Army terdengar. Mungkin ia mulai sadar kalau ada Sandi di sini.

“Ehm?” dehem Sandi sebagai tanggapan. Setelah itu Army tak bicara lagi. Ia mengambil kursi, duduk agak jauh dari Sandi. Ia tahu Sandi tak sepenuhnya tidur. Karena itulah ia mengeluarkan gitarnya. Petikan senar terdengar, Sandi tetap diam. Aman, berarti tak apa-apa kalau ia bermain gitar sekarang.

“Tak mudah... tuk melepas bayangmu... 
Kau yang pertama mengisi relung hatiku...” Menghapus yang Terukir-nya Mita Lestari yang ia pilih.


“Tak mudah... tuk melepas rasa ini...
Tapi kusadari diriku lebih berarti
Berlari... dan terus kuberlari hingga rasa ini pergi
Apa yang harus kulakukan... melupakanmu
Sampai mati kan kucoba... aku tak bisa...
Apa yang harus kulakukan... menghapuskanmu...
Yang terukir di hatiku...”
jreng! Army mengakhiri permainan gitarnya. Saat itulah ia sadar, Sandi sudah mengganti posisinya, duduk menghadap ke arahnya. Army tersenyum tapi Sandi hanya diam. Memasang muka datar hingga membuatnya bingung sendiri.

“Kenapa?” tanyanya. Sandi belum menjawab. Sampai kira-kira sepuluh detik barulah ia membuka mulutnya. “Elo suka banget, ya?” tapi malah dengan pertanyaan yang menggantung seperti ini.

“Ha?” tentu saja Army tak mengerti.

“Elo... elo suka banget sama gitar, ya?” ulang Sandi. Kali ini lebih jelas. Terbukti dari senyum Army yang terbentuk. Ia tak lantas menjawab, melainkan memasukkan gitarnya dulu ke dalam tasnya. 

“Ehm!” jawabnya kemudian sambil mengangguk.

“Elo ada impian buat jadi gitaris terkenal?”

“Daripada mimpi gue, lebih tepatnya buat mewujudkan mimpi seseorang,” wajah Army nampak mengenang sesuatu. Sandi memang cukup penasaran. Tapi rasanya tak tepat untuk bertanya secara langsung. Kalau dia boleh menebak, apa mungkin seseorang yang dimaksud itu adalah orang dalam foto di halaman pertama buku diarynya waktu itu? Dia mirip dengan Army, bukan? Besar kemungkinan orang itu ada pertalian darah dengan Army.

“Yang jelas, elo bisa bilang gitar itu sebagian hidup gue. Gue suka banget. Mungkin... bisa elo anggep sesuka elo sama Naruto. Atau mungkin lebih.”

“Lebih?”

“Iya.”

“Misalnya?”

“Cinta pertama yang belum bisa terungkap sampai sekarang.” Jawaban ini membuat Sandi terdiam lagi. Apa maksud Army sebenarnya? “Elo...” ia beranjak, berdiri dan berjalan mendekati Army. Tapi belum sampai ia benar-benar dekat dengan Army, dua orang lainnya datang. Derwan dan Falin.

“Hay, semuanya!” sapa Falin lebih dulu. Sandi kembali lagi ke sofanya. Di tangan Falin membawa sesuatu, tapi ia sedang tak tertarik. Ia hanya duduk, diam memperhatikan apa yang mereka lakukan. Atau lebih tepatnya ia menatap Army. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di benaknya. Termasuk pertanyaan: Apa dia tahu gue suka sama Falin?

***

Sekitar pukul delapan tepat mereka berempat sampai di Bandara Soekarno Hatta. Pak Ade, sopir yang biasanya mengantar mamanya Sandi kemanapun pergi kali ini diminta untuk membawa mobil Sandi. Sekarang ia sibuk menurunkan barang-barang orang-orang ini dengan Army yang membantunya dengan senang hati. Padahal awalnya Pak Ade menolak. Tapi Army tetap saja memaksa. Yah... ia pun tak bisa menolak juga jadinya. Padahal yang cukup dekat dengan Pak Ade itu Derwan. Tadi saja sepanjang perjalanan ia duduk di depan. Ngobrol ini itu dengan Pak Ade. Tentang keluarga, tentang lalu lintas dan banyak lagi. Bukan maksudnya Derwan atau Falin tidak sopan dan tidak baik hati. Hanya saja, Sandi selalu bilang kalau mereka akan merasa berdosa kalau pekerjaannya diganggu. Ya sudah dibiarkan saja. Tapi Army yang masih awam dan belum tahu tentang peringatan itu mereka biarkan saja.

Hanya tiga ransel besar dan sebuah koper sedang warna biru tua yang keluar dari bagasi mobil. Tiga tas itu milik para pria, sedangkan si koper adalah milik Falin. Padahal Falin sudah bawa-bawa ransel kecil di punggungnya. Tapi masih saja ada barang yang musti ia jejalkan ke koper. Cewek... terlalu banyak tetek bengek yang dibawa. Meskipun nanti ujung-ujungnya di sana juga pasti belanja baju lagi. Oke, kita biarkan saja.

Setelah Pak Ade pamit, mereka berempat masuk. Sandi yang mengurusi masalah tiket, yang lain terima beres. Hanya menunggu beberapa menit sampai jadwal keberangkatan mereka tiba. Karena Sandi yang mengurus soal tiket, maka dari itu Sandi dapat jackpout. Ia dapat kursi tepat di sebelah Falin. Kelas satu, kira-kira berjarak lima kursi ke depan dari kursi Army dan Derwan yang juga duduk bersebelahan. Ia harus memanfaatkan kesempatan ini baik-baik.

Masuk ke pesawat, Falin sempat celingak-celinguk mencari tempat duduknya, menyamakannya dengan tiket yang sudah berpindah ke tangannya. Tapi tiba-tiba ia merasakan seseorang meremas jarinya. “Oh!” serunya sedikit terkejut. Sandi menggeretnya ke kursi mereka. Falin tak banyak protes. Genggaman di tangannya itu juga rasanya tak berarti apa-apa.  Justru Sandilah yang merasa senang. Ia bisa melakukan kontak dengan Falin. Rasanya sudah lama sekali.

Tanpa membuka mulut seinci pun Falin duduk rileks di kursinya. Kursinya di dekat jendela. Ia bisa leluasa melihat pemandangan di luar. Meskipun nanti yang dilihatnya paling cuma awan. Yang jelas ia anteng. Tak banyak gerak, tak banyak protes, tak banyak berceloteh. Agak jadi pendiam memang, tapi Sandi senang bisa berada di dekatnya seperti ini. Apalagi dengan senyum yang masih setia nyantol di wajah manis si pujaan hati. Hah... senangnya.

“Kita di hotel apa di villa, Say?” tanya Falin, akhirnya bersuara. Tapi tatapannya masih ada untuk di luar jendela. Pesawat belum take-off. Jadi, yang dilihatnya hanya beberapa orang yang masih berbaris masuk ke pesawat.

“Maunya?” Sandi malah balik bertanya.

Falin tiba-tiba menoleh. Mungkin ia agak bingung dengan pertanyaan yang muncul ini. “Kok maunya? Elo nyewanya apaan, geh?” tanya Falin lagi. Sedikit menyikut lengan Sandi, kesal.

“Gue sewa villa. Jadi lebih leluasa. Elo juga demennya di villa kan daripada di hotel?” tanggap Sandi. Falin mengangguk senang. Ia tersenyum begitu lebar hingga membuat Sandi benar-benar gemas. Tangannya gatal mencubit pipi kanan Falin. Bocah itu memang tak protes. Tapi ia merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menghampiri jantungnya. Ia diam sebentar, bahkan pipinya memerah. Bukan karena cubitan Sandi, melainkan karena ia merasa tak wajar dengan sikap Sandi barusan. Kenapa Saya jadi aneh begini? Pikirnya.

Yang membuat Falin makin salah untuk bertingkah, kalau bahasa kerennya salting alias menggarami (eh...), sikap Sandi setelah pramugari cantik datang membawakan menu pesawat setelah beberapa menit pesawat take off . Falin hanya memesan steak, tapi dari yang mulai mengambilkan dari tangan si pramugari, sampai pakai acara motong-motong dagingnya segala. “Eh, gila! Gue bisa sendiri kali!” bahkan protesannya sama sekali tak didengar. Sandi bersikap lebih lembut. Bahkan ia mau mengalah untuk beberapa hal yang sebenarnya Falin jadikan sebagai bahan untuk berdebat seperti biasanya. 
Entah sudah berapa kali tangan Sandi terulur, mengacak rambutnya gemas dengan semua celotehan Falin yang sebenarnya biasa saja. Jangan salahkan Falin kalau ia makin salah tingkah.

Tapi alih-alih dari rasa salah tingkahnya, untuk menunggu pesawat satu ini landing, ia sudah keburu mengantuk. Matanya sejak tadi sudah ketar-ketir, melek merem. Falin tak sadar sejak ia diserang kantuk itu Sandi sudah memperhatikannya dengan senyuman. Padahal penerbangan ini tak akan memakan waktu satu jam nanti.

Begitu Falin benar-benar tertidur, ia biarkan kepala mungil Falin menyandar di bahunya. Selama Falin tidur, ia benar-benar puas memandangi wajah itu. Alisnya... matanya... hidungnyan dan... bibirnya. Ia benar-benar senang memandanginya. Lipgloss pink di bibir Falin terlihat apik merekat di sana. Entah kenapa pandangan Sandi berhenti di sana. Bibir ini... tiba-tiba tangannya mendingin. Jantungnya benar-benar tak karuan benar rasanya. Walaupun otaknya berkali-kali berkata tidak, ia benar-benar tak bisa mengelak. Perlahan... ia mendekati wajah itu. Dan cup! Ia berhasil mendapatkannya. Setelah itu Falin menggeliat, ia tak sadar apa yang sudah dilakukan Sandi barusan. Karenanya Sandi tersenyum. Hanya satu kecupan singkat, rasanya tak apa-apa. Sejauh ini pun, hal paling berani yang ia lakukan mungkin hanya ini. Ia terkekeh pelan kalau sampai Falin sadar apa yang sudah ia lakukan padanya.

Baru beberapa menit sejak Sandi pun ikut merapatkan kelopak matanya, suara pramugari terdengar. Mereka sudah sampai. Tapi yang pertama kali terbangun adalah Falin. Ia cukup terkejut melihat bagaimana posisi mereka berdua tertidur. Kepalanya bersandar di pundak Sandi, dan kepala Sandi bersandar di kepalanya. Karena gerakannya mungkin, Sandi jadi terbangun. Masih setengah sadar, ia menatap Falin dengan pertanyaan. “Kenapa?”

“Udah sampe. Ayo, turun!” ajak Falin kemudian. Ia sempat melihat sekeliling, orang-orang sudah mulai sibuk mencoba turun. Sandi yang nyawanya belum sepenuhnya terkumpul terpaksa berdiri. Bahkan tak ada waktu itu menyadarkan diri, Falin langsung menggandeng tangannya. Pasalnya si Army dan Derwan sudah tidak ada di bangku mereka. Ia tak ingin kalau mereka berdua nanti menunggunya lama. Tapi ia sama sekali tak tahu, kalau Sandi sudah senangnya bukan kepalang. 
Matanya tak lepas dari tangan mereka berdua yang saling bertautan.

Tapi kesenangan Sandi surut. Bagaimana tidak? Begitu turun, mengambil barang-barang mereka, Falin kembali lengket dengan Army. Bahkan ketika sebuah mobil paket dari villa pesanan Sandi menjemput mereka, Falin memilih duduk di dekat pintu sebelah kiri. Padahal Sandi duduknya di dekat pintu sebelahnya. Dan yang tengah? Tentu saja Army. Dan Sandi akhirnya pun memilih tukar tempat dengan Derwan, duduk di depan saja. Aman. Pikirnya.

Sekitar 30 menit dari Bandara Ngurah Rai, mereka sampai di sebuah villa mewah di daerah Canggu. Derwan dan Falin pernah datang kemari, tentu saja bersama dengan Sandi. Lengkap dengan mama dan papa Sandi. Tapi ini tentu saja pertama kalinya untuk Army. Villa ini terlalu berlebihan menurutnya jika hanya dijadikan untuk menginap selama sepuluh hari saja. Pertama kali berada di pelataran villa mata mereka sudah disambut dengan pemandangan yang spektakuler. Tepatnya di sebelah Selatan nampak pemandangan pura Hindu yang berada di tepi pantai. Di sebelah Timur dan Utara ada pemandangan Gunung Agung dan perbukitannya yang begitu menawan. Sebelah Barat yang nampak jelas garis cakrawalanya di atas laut itu Army yakini sebagai tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam. Dari villa ini mereka hanya butuh waktu sekitar 10 menit menuju Seminyak, Legian atau Nirwana Golf Course. Tempat tinggal yang cukup nyaman memang. Melihat pelayanannya yang begitu mengayomi ini –termasuk bagaimana pelayannya langsung membawakan semua barang-barang  mereka ke dalam villa, dengan segala sambutan dan tetek bengek lain yang memanjakan tourist—Army tak bisa membayangkan berapa banyak yang harus dikocek orang tua Army untuk menyewa tempat ini.

Masuk ke dalam villa, sebuah meja panjang dengan taplak putih bersih menjadi alas empat gelas minuman berwarna hijau –mungkin jus lemon, soalnya ada irisan melon gitu di atasnya—dan buah-buahan segar. Army bingung, tiga yang lain tak acuh sama sekali. Ada empat kamar, itu artinya mereka dapat jatah satu-satu. Tiga di lantai satu, dan satu lagi di lantai dua. Falin memilih kamar atas, sendirian. Jadi tiga cowok-cowok ini di kamar yang ada di lantai satu. Army memilih kamar yang paling dekat dengan posisinya berdiri.

Begitu masuk ke dalam sana, sebuah kamar yang cukup luas, yah… tidak seluas kamar Sandi, menyediakan doublebed berukuran besar. Kerennya ranjang ini menghadap langsung ke jendela besar yang menghadap ke laut. Ada sebuah tv 32 inch di sebelah kiri ranjang, stereo, pemutar film dan sambungan telfon. Army tidak ingin berlama-lama terbengong. Ia sudah pernah, karena sejatinya kamar Sandi lebih mewah dari tempat ini. Lemarinya pun lemari yang normal, bukan satu ruangan penuh yang hanya dipersembahkan untuk pakaian. Hanya sebuah lemari dua pintu warna putih. Tak banyak yang dibawa Army, karenanya ia hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk menata baju-bajunya ke dalam sana.

Selesai beres-beres, ia membuka jendela lebar-lebar. Angin sepoi-sepoi mengelus wajahnya lembut. Bau air laut langsung menyapa indera penciumannya begitu ia berjalan ke balkon. Ia tersenyum puas menikmati apa yang terpantul di retina matanya. Bukankah ini benar-benar menakjubkan untuknya?

“Udah selesai beresan?” suara seseorang tiba-tiba terdengar. Army menoleh ke kanan, sudah ada Sandi di balkon kamarnya. Ada segelas minuman dari ruangan di depan tadi di tangannya. Posisinya setengah duduk di balkon, menghadap ke Army. Senyum Army lalu terbentuk.

“Em.” Army mengangguk. “Gue enggak bawa barang banyak,” lanjutnya.

Sandi hanya memandanginya. Datar. Apa boleh Army merasa bingung sekarang? “Kenapa?” tanyanya kemudian. Sandi nampak tersentak. Alih-alih pergi dari salah tingkahnya, ia mengubah posisinya. Berjalan sebentar ke depan, kemudian menghadap ke laut. Menyandarkan kedua tangannya ke balkon, dengan gelas yang siap menumpahkan isinya ke mulut Sandi. Begitu satu teguk mengaliri tenggorokannya, barulah Sandi kembali menoleh ke arah Army.

“Mi!” panggilnya kemudian. Army hanya diam. Tak perlu rasanya panggilan itu ia jawab. “Gue boleh nanya sesuatu?” tanya Sandi kemudian.

“Apa?” balas Army cepat. Ia masih tak bosan menatap langsung ke kedua mata Sandi. Tapi tidak dengan Sandi. Ia kembali memilih laut.

“Apa…” ia nampak ragu untuk menanyakannya. “… ada orang yang lagi elo suka?”

Dahi Army nampak berkerut. “Kenapa emangnya?” dia malah balik bertanya.

“Enggak… nanya aja.” Sandi kembali menengguk minumannya. Angin pantai memainkan poninya. 
Sepuluh detik Army memandanginya. Mungkin ia bingung dengan pertanyaan Sandi ini. Tapi ia berusaha bersikap santai. Sesuai kata Sandi, mungkin dia hanya ingin bertanya.

“Em… ada,” jawabnya. Mengganti posisinya persis seperti Sandi. Memandang laut, sedikit menerawang, membayangkan seseorang.

“Udah berapa lama elo suka sama dia?” tanya Sandi lagi.

“Belum terlalu lama, sih.”

“Dia tau elo suka sama dia?”

“Entahlah…” Army tersenyum kecut.

“Terus, dianya sendiri gimana ke elo?”

“Dia baik. Cuma… gue enggak yakin dia bisa terima perasaan gue ini.”

“Kenapa?”

“Karena gue enggak mungkin bisa bersanding sama dia. Ada yang lebih mencintai dia daripada gue. Dan orang itu lebih pantes buat dia,” jawabnya jelas. Entah karena bagian mana, Sandi menoleh kembali ke arahnya. Memandanginya cukup lama hingga bisa melihat ekspresi tak enak di wajah manis Army. Apakah itu sebuah ekspresi kecewa, Sandi tak bisa menebaknya.

“Woy!” suara seseorang mengganggu diamnya mereka. Sebelah kiri balkon Army, itu Derwan. Dia baru saja keluar dari kamarnya. “Ngobrolin apaan, sih?” tanyanya, langsung menuju pembatas balkon sebelah kanannya. Army dan Sandi bukannya menjawab malah tersenyum datar. Entah apa yang ada di pikiran keduanya sekarang.

***

Satu hari setelah kedatangan mereka di Pulau Dewata, keempatnya memilih tetap di villa. Hanya obrolan ringan di taman yang ada di tengah kolam renang di belakang villa. Ditemani dengan makanan dan minuman yang mereka pesan ke koki di villa ini. Sorenya mereka menikmati senja di balkon kamar masing-masing. Malamnya mereka istirahat. Sandi bilang ia sudah menyewa sebuah kapal pesiar untuk keliling laut seharian penuh.

Esok harinya, mereka benar-benar pergi dengan kapal pesiar. Keempat cowok itu hanya memakai kaos biasa dengan jeans dengan warna yang berbeda. Derwan kaos putih dengan warna merah di bagian kerah dengan jeans panjang biru. Army dengan kaos abu-abu dan jeans panjang hitam. Sedangkan Sandi dengan kaos biru bergaris dengan jeans putih selutut. Yang paling cantik tentu saja Falin. Bahkan Sandi sempat terpana sekejap ketika gadis satu itu turun ke lantai satu tadi pagi. 
Dengan gaun selutut model halterneck motif bunga merah di atas dasar merah muda, topi pantai bergaris, dan tas kecil dari benang wol yang ia jadikan sebagai tempat handphone-nya, serta sandal jepit tali transparan warna merah muda. Rambutnya ia biarkan tergerai. Sandi tak ingat melihat Falin secantik hari ini. Dia benar-benar terlihat anggun.

“Wuuu!” sorak Derwan ketika Falin sudah sampai di depan mereka tadi. “Falin cantik banget. Iya kan, San?” lanjutnya lagi menyikut lengan Sandi. Melihat Falin yang malah tersenyum, menambah kadar kemanisan wajah bulatnya itu, Sandi makin salah tingkah. Alibinya menyentak mereka agar bergegas cepat. “Ayo! Lama banget, sih!” mendengar kata-kata itu tentu saja Falin langsung merengut. Tapi tak lama karena Army lah yang selanjutnya menyambutnya dengan senyuman.

Satu jam lamanya mereka berlayar di atas laut. Sandi dan Derwan asik bercakap di bagian Bow, bagian depan kapal. Duduk di atas kursi berjemur di Sun deck. Sedangkan Army sejak tadi jadi fotografernya Falin. Mereka berdua ada di ujung Bow. Segala macam pose sudah dilakukan Falin. Yah… walaupun kadang-kadang ia juga memotret Army, sih. Tapi, tetap saja Army yang kerja lebih keras.

“Aw!” tiba-tiba Falin merintih. Rambutnya yang tertiup angin ada yang masuk ke matanya. Army mendekat. Sedikit panik, sekali lagi sedikit, ya? Jadi biasa aja bayanginnya!

“Kenapa?” tanya Army.

“Aw… ini… aduh, rambutku masuk mata,” jawab Falin masih mencoba mengucek-ngucek matanya yang agak perih.

“Eh, bentar! Jangan dikucek!” Army menarik tangan Falin, menjauhkan dari matanya. Sebaliknya ia mendekat, mencoba membantu dengan meniup matanya beberapa kali.

Tapi Sandi yang tak sengaja melihat adegan itu memandang mereka berdua dari sudut yang salah. Dari tempatnya duduk sekarang, ketimbang meniup mata Falin, Army lebih terlihat seperti sedang mencium Falin. Sontak ia berdiri. Karena ada sesuatu yang tiba-tiba mendidih di balik dadanya. Ia berjalan, tak peduli dengan keheranan Derwan karena Sandi berhenti begitu saja di tengah percakapan mereka. Sampai Sandi sudah mendekati kedua temannya yang lain, ia masih memperhatikannya. Tapi ia langsung mendelik sempurna ketika tangan Sandi menggeret kerah kaos Army dan melayangkan sebuah tinju yang cukup keras di pipinya.

“Aaa!” teriak Falin kaget. Karena tinju itu, Army mundur beberapa langkah. Tapi keseimbangannya tak bertahan lama. Ia gagal membuat tubuhnya tetap berada di kapal. Bahkan pembatas kapal tak mampu menghentikannya tercebur ke laut. Byur! Suara tubuh Army jatuh ke laut.

“Army!” teriakan Falin terdengar. Sandi sendiri cukup terkejut. Ia tak bermaksud membuat Army sampai harus tercebur ke laut. Keduanya buru-buru melongok ke bawah. Ada sedikit warna merah yang muncul ke permukaan. “Army!” panggilan Falin tidak ada tanggapan.

Byur! Suara yang sama lagi-lagi terdengar. Ternyata itu Derwan. Ia bertindak cepat, lebih tanggap dari Sandi yang tiba-tiba diserang panik. Demi apa tak ada niatannya untuk membuat Army menyapa air laut. Warna merah tadi juga apa? Darahkah? Darah Army? Ia ketakutan sendiri.

Tapi begitu Derwan kembali dengan Army di lengannya, ia bisa mendesah lega. Buru-buru ia melemparkan ban yang untung saja berada tak jauh darinya. Susah payah ia dengan bantuan Falin mencoba menaikkan Army kembali ke kapal.

“Army, Army!” racau Falin berkali-kali. Derwan lagi-lagi lebih cepat. Ia yang baru saja naik ke atas kapal juga segera melakukan CPR. Berkali-kali hingga Army terbatuk dan memuntahkan air laut yang sempat tertelan.

“Uhuk! Uhuk!” akhirnya Army sadar. Mereka bertiga seharusnya bisa bernafas lega. Tapi nyatanya tidak. Karena setelahnya Army malah mengerang kesakitan.

“Ke, kenapa, Mi?” tanya Falin kebingungan. Sandi lah yang pertama kali menyadarinya. Tangan kanan Army sudah berlumuran darah. Apa mungkin tangan Army terantuk karang?

“Da… darah…”

***

Sandi sama sekali tak bisa menyembunyikan bagaimana kekalutannya sekarang. Ia hanya duduk di kursi tunggu, di depan apotek rumah sakit. Tak jauh dari ruangan dimana Army ditempatkan sekarang. Kukunya mungkin sudah habis ia gigiti sejak tadi. Kalut, cemas, dan khawatir semua berbaur menjadi satu hingga menciptakan mata gusarnya sekarang. Lebih dari itu, bahkan tubuhnya mendingin. Bagaimana tangan Army yang berdarah tadi terus terbayang di pikirannya.

Tiba-tiba seseorang menghampirinya. Dengan langkah sedikit tergesa. Walau hanya sebatas melihat kakinya saja, ia tahu kalau orang ini adalah Falin. Begitu gadis ini tepat berada di depannya ia mendongak. Menyaksikan bagaimana mata merah Falin menatapnya penuh benci. Ia berdiri. Lantas bibirnya bergetar, kesulitan menanyakan bagaimana keadaan Army. “Li, Lin…”

Plak! Tapi Falin malah menamparnya. Cukup keras, bahkan membuat wajah Sandi memerah seketika. Hampir sama dengan warna mata Sandi yang langsung menatap Falin tak percaya. Tiga belas tahun lamanya, rasanya baru kali ini ia mendapat tamparan seperti ini dari Falin. Bertengkar dan bercekcok sering. Tapi itu tidak didasari dengan kebencian. Rasa panas yang menghampiri pipinya sekarang ini terasa betul kebenciannya. Sebegitu marahkahnya Falin padanya? Apakah separah itu keadaan Army sekarang?

Falin hanya menatapnya, tentu saja masih dengan tatapan yang sama. Mereka terdiam cukup lama. Mungkin Falin sendiri juga tak percaya ia baru saja menampar sahabatnya sendiri. Derwan yang melihat adegan itu hanya bisa terpaku di tempatnya. Tak ada energi untuk menghampiri kedua sahabatnya itu. Ia bahkan hanya diam ketika Falin beranjak pergi. Menyisakan Sandi yang kembali terduduk lantaran masih shock dengan apa yang sudah didapatnya dari Falin.

Derwan menghela nafasnya. Kemudian berbalik, menatap nanar pintu ruangan rumah sakit. Di dalam sana ada Army. Yang memberi tatapan sama dengan tangan kanannya yang sudah dibalut perban. Ada rasa tak percaya dan tak terima. Berharap apa yang dikatakan dokter tadi hanya mimpi, atau lebih baik lagi hanya gurauan.

“Karena pergelangan Anda terantuk karang cukup keras, saya takut Anda tidak bisa bermain gitar lagi. Selebihnya, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat seberapa parah cedera yang Anda alami,” jelas dokter paruh baya tadi.  Ia ingin tak percaya. Tapi sayangnya itu adalah sebuah kenyataan yang harus ia percayai.

“Lanjutin mimpi kakak, Mi,” pikiran Army kembali ke masa lalu. Sebuah gitar putih diulurkan padanya. Dari seseorang yang mungkin terpaut sekitar sepuluh tahun darinya. Wajah yang mirip sekali dengannya itu mengulas sebuah senyum. Cukup manis, hanya saja terlihat begitu pahit.

“Kakak mau ke mana?” tanya Army kecil. Tapi orang yang dipanggilnya kakak itu hanya tersenyum. Meski perlahan ada buliran air yang mengalir di kedua pipinya, ia masih mempertahankan senyumannya dengan getaran. “Maafin kakak, Mi. Maafin kakak…” ujarnya seraya mengusap-usap rambut Army.

Tes! Setetes air membasahi perban di tangan Army. Lambat laun tetesan lainnya menyusul, disertai dengan isakan yang begitu lirih. Army menangis. Ia tak ingin menangisinya. Tapi entahlah, dadanya terasa sesak jika ia menahan terlalu lama air matanya. Bahkan sekarang tak hanya sesak, ada perih. Perih yang begitu menyayat. Hingga Sandi yang entah sejak kapan sudah ada di daun pintu mendapat efeknya. Tubuhnya bergetar lebih hebat dari sebelumnya.

“Yang jelas, elo bisa bilang gitar itu sebagian hidup gue.” Ia ingat kata-kata Army tentang gitar waktu itu.

“Apa yang udah gue lakuin?” batinnya kalut.

Sebelumnya                Selanjutnya

No comments:

Post a Comment