Hujan baru saja reda.
Tapi air-air dari atap bangunan masih berjatuhan. Karenanya beberapa genangan
air terbentuk. Hujan tadi cukup deras. Tapi langit kelihatan begitu cerah
sekarang. Awan-awan hitam tadi sudah berpencar semua. Masih ada beberapa awan
putih yang bersemburat di langit biru. Hingga panasanya mentari terasa mulai
menyengat.
Jam baru menunjukkan
pukul 3. Masih banyak lalu lalang kendaraan dari arah kampus, baik yang datang maupun yang pergi. Itu artinya
masih banyak perkuliahan yang berlangsung. Halte ini juga tak banyak orang.
Hanya ada beberapa orang yang duduk, tapi tak berniat untuk menunggu bis
berikutnya. Paling hanya mengobrol santai, atau sekedar duduk sambil
mendengarkan musik dari headseat di telinga mereka.
Army duduk di halte
paling ujung. Menyandarkan kepalanya di tiang di sampingnya. Matanya memandangi
jalanan di depannya. Tak ada yang pasti ditangkap retinanya. Hanya saja
pikirnya melayang kemana-mana. Bagaimana ia memperlakukan Falin dengan kurang
ajarnya tadi. Kenapa ia bisa berbuat demikian hanya untuk meyakinkan Sandi akan
perasaannya sendiri.
Atau pikirnya pergi ke
percakapannya dengan Sandi tadi. Saat Sandi sebenarnya berniat menghindarinya.
Tapi ia berhasil membuatnya bolos kuliah, hanya untuk bicara empat mata saja
dengannya. Di depan Fakultas Sandi, ada sebuah bangku panjang yang biasanya
dijadikan mahasiswa sebagai tempat nongkrong atau berburu wifi. Mereka
duduk bersama, ada jarak, juga atmosfer kecanggungan.
Dalam diam mereka,
Sandi melirik tangan Army. Sudah tidak ada perban di sana. Tapi apa bedanya?
Toh, Army tidak akan pernah bisa bermain gitar lagi. Kemudian rasa bersalah itu
kembali di hati Sandi. Tapi ada pikiran yang lain, yang membuat Sandi begitu
sulit mengujar maaf. Ia tahu yang ia lihat hanyalah salah paham. Tapi pikiran
yang lain itu bukan masalah yang terjadi
di kapal waktu itu. Ada lagi. Entahlah, hanya Sandi yang tahu sepertinya.
“Elo yang bawa buku
gue?” tanya Army memecah kesunyian. Pertanyaan ini membuat Sandi terkejut. Ia
menoleh, menatap Army yang memasang ekspresi yang tidak bisa ia artikan.
Tapi Army tak
melanjutkan pertanyaannya. “Bener ternyata,” malah ini yang ia katakan. Berarti
dia sudah mendapatkan jawabannya bukan? Lagipula itu terlihat jelas di wajah
Sandi. Ia ketahuan, membawa buku Army. Tentu saja timeline itu. Bukan
buku kuliah, atau buku-buku lainnya.
Sandi menunduk. Ia tak
perlu bicara, Army sudah mengetahuinya. Lantas otaknya diserang tulisan-tulisan
di buku itu. Semuanya, hingga membuat tubuhnya dingin. Army melihatnya,
bagaimana seorang Sandi bergetar.
“Awalnya itu buku
kakak gue,” lanjut Army. Berhasil mengembalikan tatapan Sandi padanya. “Foto di
halaman pertama buku itu, itu foto kakak gue.”
“Kakak?”
“Mimpi seseorang yang
mau gue wujudkan, itu mimpi kakak gue,” cerita Army mengenang. “Impian dia
adalah menjadi gitaris terkenal, sekelas dengan Jimi Hendrix, atau Joe
Satriani, atau gitaris-gitaris terbaik dunia yang lain.” Army menyebutkan
nama-nama gitaris yang sama sekali tak diketahui oleh Sandi. “Impian dia
membuat dunia takjub dengan bakatnya. Dan mimpi itu, dia kasih ke gue sebelum
dia pergi untuk selamanya.” Ada senyum tipis yang terbentuk di wajah manis itu.
Tapi lesung pipitnya tak ada yang muncul. Meski senyuman itu terlihat manis,
entah kenapa senyuman itu terlalu miris untuk Sandi. Dengan cederanya tangan
Army, bukankah itu artinya mimpi itu tak bisa diwujudkannya?
“Tapi gue udah enggak
papa, San,” lanjut Army lagi. Sandi menatapnya. Menuntut penjelasan lebih dari
pernyataan itu. “Awalnya sakit memang. Tapi gue selalu bisa buat bangkit dari
keterperukan gue. Gue enggak pantes bersedih lama-lama, pengecut namanya,” tambahnya.
Sandi sebenarnya tak mengerti dengan makna lain dari kata-kata ini. Dia masih
memilih diam. Itu lebih baik, karena sepertinya pun Army hanya ingin bicara
padanya. Tak butuh balasan.
“Elo baca semuanya,
kan?” pertanyaan Army berlanjut. Aneh rasanya kalau Army bertanya perlu
jawaban. Pikir saja, kalau pun Sandi tidak membacanya, untuk apa Sandi
menyimpan buku itu, bukannya mengembalikannya? Lagi-lagi diam, Sandi tak ingin
bicara apapun. Titik!
“Sorry. Gue enggak
ngomong semua itu ke elo. Gue pikir gue bakalan baik-baik aja kalo gue tetep
diem. Tapi kenyataannya, elo udah tahu sendiri.” Army menghela nafasnya pelan.
Ia tak lagi menatap Sandi. Mungkin terlalu lelah karena tak ada balasannya.
Sandi memilih tanah di bawahnya yang menjadi objek penglihatannya.
“Sekarang elo udah
tahu semuanya. Mau elo gimana?” tanya Army lagi.
“Hh!” Sandi terkekeh
pelan mendengar pertanyaan ini. Bibirnya menyungging senyum. Ah, tidak! Lebih
tepatnya itu seringaian. “Apa mau gue?” ia ulang pertanyaan itu. “Bukannya
seharusnya gue yang nanya itu ke elo?” ia balik menanyakannya pada Army.
Matanya memerah sudah. “Sekarang… apa mau elo?” tantangnya. Army hanya diam.
Tapi otaknya terus berputar. Bertanya pada hatinya, apa yang diinginkannya
sekarang.
“Apa boleh…” digantungnya
kata-katanya. Bukan untuk membuat Sandi penasaran. Hanya saja ia tak yakin akan
mengatakannya. “…gue buat Falin ngelupain gue dan sadar siapa yang sebenarnya
dia cintai?” tambahnya.
“Apa?”
“Tapi elo harus janji…
elo enggak boleh ganggu sebelum gue bener-bener buat Falin bakalan ngelupain
perasaan dia ke gue selamanya.”
“Elo… mau ngapain elo
sebenarnya?”
Army menjeda
jawabannya. Ia ingin membuat Sandi menatapnya demi mengetahui bahwa ia sedang
tidak main-main dengan kata-katanya. “Gue bakalan buat Falin benci sama gue.
Gue janji!”
“Hah…” desah Army
pelan. Rasanya ia terlalu cepat bertindak. Ada penyesalan dalam hatinya. Tapi
kalau dipikir lagi, sepertinya ini lebih baik. Semuanya sudah jelas sekarang.
Tak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi.
“Army?” tiba-tiba
suara seseorang membuyarkan lamunannya. Derwan sudah ada di sana dengan motor
yang ia bawa dari kedai tempatnya bekerja.
“Wan?” Army berdiri.
Menghampirinya. Sedang Derwan malah fokus ke koper di dekat Army.
“Elo mau ke mana?”
tanyanya kemudian.
“Oh?” Army ikut-ikutan
menengok ke arah kopernya. “Em… gue belum kepikiran,” jawabnya.
“Jangan-jangan… elo…”
Derwan hanya memberi tatapan pada Army. Tapi Army sudah mengerti apa yang akan
dikatakan Derwan. Karenanya ia mengangguk, membenarkan isi otak Derwan saat
ini.
Terdengar helaan nafas
dari Derwan. Ah, tak perlu tanya lagi apa yang terjadi. Meskipun ia tak
sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi ini pasti karena masalah cinta
segitiga itu. Apa lagi yang bisa dia lakukan?
“Ke tempat gue aja,
yuk!” katanya, baru muncul ide. Orang tuanya kan belum pulang. Rasanya tak
masalah kalau dia ada teman di rumah. Sekalian juga kalau Army tidak kuliah
bisa menemani Desi di rumah. Army kan sudah dekat dengan Desi.
“Enggak, deh. Gue lagi
enggak pengen ngerepotin siapa-siapa sekarang,” tolaknya halus. Derwan tak
mungkin memaksa. Kalau tebakannya benar, Army pasti hanya ingin sendiri
sekarang.
“Kalo gitu… apa elo
mau cari kosan?” idenya yang baru.
“Kosan?”
“Em! Di tempat temen
gue ada kamar kosong yang mau disewain. Kalo elo mau, gue bisa anterin elo ke
sana. Enggak jauh-jauh amat kok dari Fakultas elo.” Army nampak berpikir. Tak
mungkin juga kalau ia akan tidur di halte. Lagipula ia masih ada cukup uang
untuk mencari tempat kos. Sepertinya ini bukan ide yang buruk.
“Boleh.”
“Yok, gue anter!”
Army tersenyum.
“Thanks, Wan.”
***
Sudah satu minggu ini
Falin sama sekali tak ada kabar. Yang sibuk jelas Sandi, meskipun yang ia
tanyai juga tak kalah sibuknya. Siapa lagi kalau bukan Tria? Masalahnya bocah
ini juga tak tahu kemana perginya bocah satu itu. Setiap kali ia datangi
rumahnya, orang rumah selalu bilang dia tidak ada. Bbm, line, sms,
telfon, semuanya tak ada respon.
“Nanti gue kabarin elo
kalo ada info soal dia,” ujar Tria sebelum Sandi pergi. Tapi ketika Sandi
hampir pergi, dia malah menahannya lagi. “Elo pasti tahu sesuatu. Sebenernya,
Fahmi kenapa sih, San?” tanyanya. Sedikit hati-hati, ia hanya tak ingin
menyinggung Sandi. Selama kemurungan Falin kemarin-kemarin juga, yang menjadi
DJ Sandi lagi. Itu berarti Falin tidak masuk ke studio lagi, kan? Apa ada
masalah dengan Sandi? Tria mencoba menerka-nerka.
“Gue duluan, ya?”
jelas Sandi tak akan memberitahukannya. Senyuman terakhirnya bisa dibaca Tria: Rasanya
bukan area elo buat ikut campur. Agak kasar memang. Tapi nyatanya memang
itu yang dilihat Tria. Yah… kalau membicarakan soal dua orang ini, jangankan
dia. Derwan yang paling dekat dengan mereka saja tak serta merta tahu semuanya.
Sandi baru berbalik.
Belum terlalu jauh meninggalkan kelas Tria. Kedatangan seseorang menghentikan
langkahnya. “Falin?” Falin ada di depannya. Mata itu memerah, tapi sayangnya
Sandi terlalu lega dengan kedatangannya hingga tak sadar apa makna dari mata
merah itu.
“Elo dari mana a…”
Plak! Tiba-tiba tangan Falin menampar pipi Sandi.
Tak sekuat tamparan saat di Bali waktu itu. Tapi keterkejutan Sandi lebih
banyak sekarang. Tentu saja. Masalahnya kali ini Sandi benar-benar tak tahu apa
maksud tamparan ini.
“A, apa… elo…” ia
bahkan tak bisa berucap dengan jelas. Baru ia sadar sekarang, mata merah Falin
menunjukkan kebenciannya pada Sandi. Tapi apa alasannya?
“Elo bener-bener udah
keterlaluan, Say!” tegas Falin, akhirnya membuka mulutnya. Sandi hanya bisa
memandanginya. Ia harus bersabar sampai Falin menjelaskan apa maksud
tamparannya tadi.
“Sebenernya elo
kenapa, sih?! Elo ada dendam pribadi sama Army? Apa?!”
Army?
“Enggak cukup elo
bikin dia enggak bisa main gitar lagi, dan sekarang elo tega ngusir dia dari
rumah elo? Kalo emang elo enggak suka sama dia, dari awal enggak perlu ngajakin
dia nginep di rumah elo! Jadi dia enggak akan kehilangan mimpinya sebagai
gitaris terkenal! Kalo suatu saat ada yang ngambil mimpi elo sebagai animator
mendunia itu, dan bukannya maaf yang elo terima dari orang itu, tapi malah
perlakuan kayak gini, apa elo bakalan terima? Elo mikir sampe sejauh itu
enggak, San?!”
Sandi membuka mulutnya
cukup lebar. Ia tak menyangka, sebanyak ini Falin akan membela Army. Salahkah
jika ia semakin yakin bagaimana sebenarnya perasaan Falin pada Army? Bahkan
setelah perlakuan Army padanya waktu itu. Dan itu sama sekali tak jadi masalah?
Hh! Ia tersenyum kecut. Mengejek kekalahannya
sendiri. Army orang baru, tapi sudah berhasil menempati hati Falin seluas ini.
Ya, ia membenarkan kata-kata Falin. Seharusnya dari awal dia tidak pernah
membawa Army ke Korek Ati. Ah, tidak! Seharusnya sejak awal ia tak perlu
menerima bantuan dari Army di klinik kampus waktu itu. Jika kata seharusnya
itu benar-benar terjadi, bukankah semua kenyataan ini tidak akan pernah
terjadi?
Tapi sayangnya itu
sudah terlambat. “Elo…” bibir Sandi bergetar. Ia sempat menggigit bibir
bawahnya sebelum akhirnya mengucap
kalimat yang sama sekali tak bisa dimengerti Falin. “… enggak tahu
apa-apa, Lin.” Dan setelahnya, Sandi pergi. Begitu Sandi pergi, Falin ambruk.
Hatinya terasa perih. Bukan karena ia tak tahu apa makna kalimat pendek
barusan. Hanya saja, satu bulir air berhasil mengalir dari mata Sandi. Untuk
kedua kalinya, ia melihat air mata itu setelah tiga belas tahun berlalu. Ia
sadar, ia tak pernah bisa melihat Sandi menangis. Ia tak menginginkannya, tapi
hatinya perih begitu saja melihatnya. Apa yang sebenarnya diinginkan hatinya?
***
Pukul delapan tepat.
Derwan menghela nafas panjangnya. Ia sudah lelah menatap pintu. Berharap
seseorang akan datang. Tapi kenyataannya, nihil.
Ia mengambil handphone-nya.
Mengetik beberapa karakter untuk memberitahukan pada Petirs, siaran
malam ini dibatalkan. Untuk besok malam dan seterusnya, ia akan memikirkannya
nanti. Demi apapun, dia juga tak akan mengganti kursi DJ itu dengan dirinya
sendiri. Lagipula, dia juga sedang tak bernafsu untuk siaran. Semua masalah
yang terjadi antara kedua sahabatnya itu, dia ingin segera menyelesaikannya.
Tapi, bagaimana caranya? Ia belum menemukannya.
Cekrek! Suara pintu terbuka. Karenanya kepalanya
reflek menoleh. Ada seseorang yang masuk. Sepertinya ragu-ragu. Karena daun
pintu tak serta merta terbuka. Pelan-pelan. Bahkan hanya kepalanya dulu yang
masuk. Sisanya belakangan.
“Falin?” orang itu
menoleh. Ya, ternyata memang Falin. Ah, ia sudah terlanjur mengumumkan
pembatalan siaran. Sepertinya pun Falin juga tak berniat menjadi DJ malam ini.
Dari caranya melihat sekeliling, sepertinya ia sedang mencari Sandi. Satu hal,
wajah dan ekspresi itu, Derwan baru melihatnya pertama kali ini. Begitu
menyedihkan. Sebegitu besarnyakah permasalahan mereka?
“Orang yang elo cari
enggak ada di sini,” katanya. Falin menghentikan aksi cari mencarinya. Akhirnya
ia masuk, setelah melihat Derwan tak lagi tertarik dengannya. Sibuk dengan
kebiasannya, memberesi kabel-kabel atau peralatan siaran lainnya yang
berantakan.
Sofa yang ia tuju. Ia
duduk, dengan bayangan Sandi yang menawarinya martabak telor. Bermain catur
bersama. Atau yang sedang mengumpatinya habis-habisan tentang semuanya. Dengan jeans
pemberiannya. Yang selalu ia kenakan meski terlihat begitu kumal dan tak nyaman
dipakai. Baru tadi pagi ia bertemu Sandi, tapi sekarang ia sudah merindunya.
Lebih tepatnya rindu saat-saat menggemberikan bersamanya di tempat ini. Bukan
saat yang menyedihkan seperti sekarang ini.
“Udah berapa lama?”
tanyanya tiba-tiba. Tak ada orang lain di sini. Jelas pertanyaan ini diajukan
untuk Derwan.
“Apanya?”
“Army keluar dari
rumah Sandi.” Mata Derwan mendelik. Darimana dia bisa tahu Army enggak di
rumah Sandi lagi?
“Gue tadi ngeliat elo
nemuin dia di kosan temen elo. Enggak mungkin kan kalo Army punya temen di
sana. Lagian, bajunya juga keliatan santai, malah kayak baju abis bangun tidur.
Dia sekarang tinggal di sana, kan?” Falin lebih mirip seperti penyidik
sekarang. Ia membuat hipotesisnya sendiri, dan nyatanya itu pun benar adanya.
“Belum lama. Satu
mingguan, lah,” jawab Derwan jujur. Ia pilih untuk menyudahi saja pekerjaannya.
Dihampirinya Falin. Tapi sofa di depannya yang ia pilih.
“Kenapa dia pergi dari
sana?”
“Gue enggak tahu.”
“Sandi yang ngusir
dia, kan?”
“Lin! Bisa-bisanya elo
bilang gitu! Elo kira Sandi sejahat apa, sih?” tegas Derwan. Cukup sebal
sebenarnya. Falin terlalu cepat berspekulasi. “Gue enggak tahu sebenernya siapa
yang harus disalahin. Tapi gue juga enggak mau elo seenaknya sendiri
berpendapat. Kita sama-sama enggak tahu apa yang dirasain Sandi sekarang.
Jangan hakimin dia tanpa ada penjelasan dari dia dulu, Lin.”
Falin malah menangis
mendangar kata-kata itu. Ya, yang dikatakan Derwan sepenuhnya benar. Ia sedang
tidak adil dengan Sandi, sampai ia menghakiminya begitu saja. Tapi kalau dia
dibilang membela Army tidak sepenuhnya benar. Ia masih seutuhnya membenci
perlakuan Army waktu itu sampai sekarang.
Melihat air mata itu,
Derwan terenyuh. Ia berdiri. Membawa kepala Falin dalam pelukannya. Ia
mengusap-usap kepala Falin. Lebih dari sekedar sahabat, ia menyayangi Falin
sudah sama seperti ia menyayangi Desi. Bukan hanya dari jaman sekolah. Dari
masih orok, bahkan mungkin saat masih dalam kandungan mereka sudah bersahabat.
Tanggal lahir mereka hanya beda lima hari. Mereka tumbuh bersama, Derwan tahu
bagaimana seluk beluk seorang Falin. Sampai menangis seperti ini, adalah saat
dimana Falin benar-benar putus asa.
Suara pintu terbuka lagi.
Berarti ada seseorang lagi yang masuk. Apakah itu Sandi?
“Mi?” ah, ternyata
Army yang masuk. Dia sempat tersenyum, tapi langsung hilang begitu melihat
Falin yang masih berusaha mengusap air matanya. Usaha yang gagal jika ia
mencoba menutupinya. Army jelas tahu kalau dia baru saja menangis. Tapi
tujuannya kemari bukan untuk menanyakan tangisan Falin.
Ia masuk. Ada yang
aneh, Army membawa masuk sebuah koper. Koper miliknya, persis seperti koper
yang dilihat Derwan saat di halte. “Gue udah nemuin orang buat gantiin gue di
kamar kos itu,” katanya.
“Apa?” tapi Derwan tak
begitu mengerti apa maksudnya. Apa Army berniat menjelaskannya? Tidak. Ia cuma
memberikan senyuman. Lantas kemudian ia duduk.
Bermaksud menyampaikan maksud kedatangannya kemari.
Yang ia tatap sekarang
Falin. Gadis ini sekarang bahkan tak sudi menatapnya. Yah, ia pantas
menerimanya, bila mengingat lagi kejadian hari itu. Ah! Bagaimana caranya agar
tidak ingat?
“Gue mau minta maaf
sama elo, Mi,” ucapnya tulus. Sebenarnya Falin sedikit tersentuh, tapi dia
berusaha mempertahankan posisinya. “Gue bener-bener minta maaf. Gue sadar, gue
udah terlalu jahat sama elo. Elo pantes buat benci sama gue. Kalo elo mau, elo
boleh tampar gue, atau apapun itu. Walaupun elo pasti enggak bakalan puas, tapi
paling enggak itu bisa sedikit ngurangin rasa sakit hati elo.” Falin diam,
Derwan kebingungan. Hanya dia yang tak tahu menahu masalah apa yang terjadi
antara dua orang ini. Tapi rasanya pun bukan waktu yang tepat untuk
menanyakannya sekarang.
“Tapi satu hal. Gue harap
elo mau maafin Sandi. Sepenuhnya, semuanya kesalahan gue. Bukan dia.” Mendengar
nama Sandi disebut, perlahan kepala Falin terangkat. Menatap Army membuatnya luluh. Wajah itu
terlalu tulus mengujarkan setiap kata. Army benar-benar menyesal.
“Gue terlalu naif. Gue
terlalu serakah kalo gue tetep diem aja. Bukan Sandi yang seharusnya minta maaf
ke gue. Tapi gue yang seharusnya berterima kasih sama dia. Karena dia, selama
ini dia hanya diem. Dia tetep diem soal kenyataan tentang gue…” Army memandang
dua orang di depannya bergantian. “… yang enggak pernah kalian tahu,”
lanjutnya.
Kemudian ia terlihat
mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sebuah buku, dengan sampul biru
tebal disodorkan ke mereka. Timeline itu!
“Gue serahin buku ini
ke kalian berdua. Selebihnya… gue enggak keberatan, gimana kalian mau nilai gue
nantinya.” Setelah itu tangan kanannya merogoh saku jaketnya. Sebuah amplop
coklat panjang yang keluar dari sana.
“Gue ambil ini tanpa
sepengatahuan Sandi. Tapi gue rasa… elo perlu baca ini.” Diberikannya amplop
itu pada Falin. Meski ragu, akhirnya Falin mengambilnya juga.
“Gue duluan.”
“Elo mau ke mana, Mi?”
tanya Derwan tiba-tiba. Menghentikan Army yang hampir saja langsung hengkang
begitu ia berdiri dari tempatnya. Derwan sekarang juga sama, berdiri. Mungkin
kalau dia sampai, ia sudah menarik tangan Army. Menyuruhnya menjelaskan semua
ini baru membiarkannya pergi.
“Gue enggak seharusnya
ada di sini. Kota ini, seharusnya gue enggak balik lagi ke sini. Makannya gue
harus pulang. Kembali ke tempat seharusnya gue berada.”
“Elo mau balik?”
“Ehm,” Army menangguk.
“Tapi, Mi…”
“Gue pergi.” Finish! Semuanya selesai sekarang. Ia sudah berhasil mengakhirinya. Ia hanya harus menghilang. Menyerahkan semua keputusan pada mereka berdua.
***
Selasa,
24 Desember 2002
Ini
malam natal. Seharusnya aku, Mama, Papa dan adik kecil kesayanganku ada di
dekat pohon natal. Mengelilingi pohon natal dengan nyanyian natal diiringi
dengan petikan dari gitarku. Malam ini juga seharusnya ulang tahunku yang
ke tujuh belas tahun. Seharusnya aku mendapat kebahagiaan dua kali lipat.
Tapi
sayangnya hari ini aku dan Army berada di bawah meja. Saling berpelukan
merasa kedinginan karena situasi ini. Tidak akan ada salju di negaraku, ya…
seharusnya kami tak merasa kedinginan di sini. Apalagi kami saling berpelukan.
Tapi nyatanya, ini yang terjadi pada kami.
Suara
gelas, piring, atau benda apa saja meneror telingaku. Kupererat pelukanku
pada Army. Kututup kedua telinganya dari umpat serapah dua orang yang tak
lelah-lelahnya bercekcok. Mama punya selingkuhan! Papa tidak terima dan
membuat keributan setelah pulang dengan bau alkohol di seluruh tubuhnya.
Mereka sekarang sedang bertengkar. Saling mengumpat dan berteriak. Mereka
tak peduli dengan kami yang jadi korban. Adik kecilku yang harus bergetar
ketakutan karena pertengkaran mereka yang tak pernah punya ujung sama
sekali.
Tiga halaman
selanjutnya masih sama. Semuanya tentang pertengkaran. Derwan melanjutkan
bacaannya. Ia sudah melewatkan dua pertiga halaman awal. Semuanya isi tentang
kebahagiaan.
Bagaimana keluarga harmonis itu terbentuk hingga berakhir seperti
dalam halaman ini. Derwan mulai tahu bagaimana kelanjutannya.
Halaman berikutnya…
Minggu, 3
Agustus 2003
Akhirnya
perceraian itu terjadi. Mereka tak membuat rumah berantakan lagi karena mama
memilih pergi dengan laki-laki itu. Meninggalkanku dan Army bersama papa yang
tak pernah mengurusi kami. Tapi tak masalah, karena keadaan rumah jauh lebih
tenang.
Tapi malam
itu, papa membawa banyak orang ke rumah. Semuanya laki-laki. Awalnya aku hanya
berpikir mereka kolega kerja papa. Tapi orang-orang itu tak pergi sampai larut
malam. Mereka terlalu berisik hingga aku harus turun untuk melihat apa yang
sebenarnya mereka lakukan sampai larut malam begini. Army sudah tidur, dan aku
yang turun ke bawah. Tapi aku menyesal turun ke sana! Aku benar-benar bodoh
sampai memilih pergi ke sana!
Mereka semua iblis! Mereka semua monster! Apa yang mereka lakukan dengan tubuh mereka dalam keadaan telanjang seperti itu?! Tuhan! Aku ingin muntah! Itu menjijikkan! Benar-benar menjijikkan! Mereka semua gila! Mereka semua termasuk papa! Mereka tak punya otak! Mereka hanya binatang! Makhluk menjijikkan yang tak pantas hidup di bumi ini!
Senin, 15
September 2003
Dia mencoba masuk ke dalam kamarku! Tuhan! Selamatkan aku! Aku tak ingin menjadi korban perlakuan menjijikannya! Aku tak mau! Sungguh! Aku ingin keluar dari sini, Tuhan! Selamatkan aku! Selamatkan aku! Selamatkan aku!
Halaman Berikutnya...
Rabu, 17
September 2003
Tuhan… inikah akhirku? Haruskah aku menjadi makanan menjijikkan papaku sendiri setiap malam? Tuhan! Jika kau biarkan aku menjadi seperti ini kuharap kau selamatkan Army! Selamatkan dia! Jangan biarkan dia berakhir seperti aku! Jangan pernah!
Kamis, 29
Oktober 2003
Aku tak tahan lagi! Aku sudah sekarat dengan semua ini! Aku ingin pergi saja dari dunia ini! Aku tak bisa menolaknya meski aku punya kekuatan! Iblis bajingan itu mengancamku, akan membuang gitarku dan Army! Dia tahu kelemahanku! Kalau aku tak bisa membunuhnya, paling tidak biarkan aku mati saja, Tuhan! Sebagai ganti nyawaku, selamatkan adikku! Aku akan membuatnya tetap hidup dengan mimpiku! Dia harus menjadi lebih baik dari aku. Keluar dari neraka ini dan hidup bebas di luar. Maafkan aku, Tuhan. Aku melangkahi takdirmu. Ambil sisa nyawaku untuk adikku. Biarkan dia hidup lebih lama dariku.
Setelah halaman tadi tulisannya berubah. Apa ini ditulis oleh orang yang berbeda?
Sabtu, 19
Mei 2012
Sekarang aku tahu kenapa kakak pergi. Dia menderita. Semuanya karena papa!
Ya ampun! Ini Army?! Batin Derwan cukup terkejut.
Senin, 21
Mei 2012
Aku tak
tahu tanggal berapa pertama kali aku melihat adegan-adegan itu. Adegan yang
bisa membuat bulu kudukku merinding. Sekarang aku tahu kenapa kakak memberiku
gitar itu. Seharusnya sejak awal aku melihat ke dalamnya. Buku ini ada di sana.
Seharusnya aku membaca isinya agar aku tak berakhir di sana. Di bawah meja di
kamar bajingan itu melihat semua yang dia lakukan dengan orang-orang yang ia
bawa ke rumah. Aku benar-benar tak tahu kenapa aku harus ada di sana. Saat
umurku masih sekecil itu aku melihat semua adegan itu.
Aku ingat pernah menyelamatkan satu orang. Dia seumuran denganku. Entah sejak kapan bajingan itu memulai hobi bejatnya itu pada anak-anak. Dia tampak menyedihkan. Bahkan sampai saat ini aku masih ingat bagaimana ia diperlakukan oleh Anjing itu! Syukurlah aku melepaskannya saat itu. Karena tiga bulan setelah itu, akhirnya bajingan itu pergi dari hidupku! Aku berharap dia membusuk di penjara! Selama-lamanya! Kalau perlu dia dihukum gantung!
Lembar-lembaran bagian Army tak begitu banyak. Sepertinya ia tak terlalu suka dengan hobi menulis seperti kakaknya. Tapi masih ada beberapa lembar lagi. Derwan masih setia membacanya.
Senin, 25
Juni 2012
Bajingan
itu keluar dari penjara! Dia menemuiku! Dia datang kemari dengan mulut manisnya
yang mengaku bersalah! Tidak! Aku tak bisa memaafkannya! Tak akan kubiarkan dia
kembali ke kehidupanku! Aku tak peduli kalaupun dia akan membusuk di jalanan!
Aku tak
akan pernah memaafkannya! Semua yang dia lakukan pada orang-orang itu! Pada
kakakku! Juga padaku!
Tak ada yang tahu ini. Aku sudah gila! Aku tak tahu bagaimana kejadian ini berlangsung. Aku menyadarinya, ketika aku sudah duduk di SMA. Aku… aku tidak tertarik pada wanita!
Derwan kembali membekap mulutnya sendiri. Ini lebih mengejutkan! Kalimat terakhir tadi, maksudnya apa? Ia makin penasaran dengan halaman-halaman berikutnya.
Jum’at, 1
Agustus 2014
Aku kembali
ke Kota ini. Kota saat aku menyaksikan semua hal yang tak ingin kubahas lagi.
Karena anjing itu aku berubah menjadi seperti dia. Kakak, maafkan aku. Aku
benar-benar berubah menjadi seperti ini.
Aku menghindar dari keramaian. Aku tak punya teman. Aku hanya tak ingin membuat mereka memperbesar rasa tak lazim ini. Aku tak ingin menjadi tidak normal! Kumohon! Siapapun selamatkan aku!
Lembar berikutnya...
Sabtu, 13
Februari 2016
Aku
mendapat hadiah ke Jepang setelah mengikuti lomba gitar Nasional. Aku berhasil
memulai langkah pertama untuk mewujudkan mimpi yang dititipkan kakak padaku.
Tapi karena aku kemari rasa bodoh itu datang lagi. Aku bertemu seseorang. Hanya
berpapasan. Dia juga dari Indonesia, dan saat aku pulang aku bertemu lagi
dengannya.
Namanya
Sandi Yahya. Aku diajak menjadi bintang radio di kampus. Aku bahkan diajak
tinggal di rumahnya. Seharusnya aku menolaknya, tapi aku tak bisa. Dia
memaksaku, dan aku tak enak untuk menolaknya. Tapi karena ini rasa menjijikkan
ini kembali. Aku hanya diam. Aku tak mau dia merasa terganggu olehku. Aku
bahkan malu untuk mengakui bahwa aku menyukainya. Makin lebih dan lebih setiap
hari. Aku ingin mengakhirinya, tapi tak tahu bagaimana caranya.
Tapi kemarin aku melihat fotonya. Dia adalah laki-laki yang kuselamatkan dulu. Yang tampilannya begitu menyedihkan dan menyelamatkanku dari iblis itu! Tapi dia korban dari orang yang membuatku lahir ke dunia. Ya, Tuhan! Dia anak itu!
Srek! Derwan menjatuhkan buku itu. Kali ini ia benar-benar shock. Kenyataan apa ini? Apa maksud dari semua ini? Apa Army baru saja menulis cerita di buku ini? Tapi, tidak! Bukankah ini kenyataannya? Ya, Tuhan! Dia benar-benar tak habis pikir. Jadi ini yang dimaksud Sandi, bahwa ia dan Falin memang tak tahu apa yang sebenarnya. Dia benar-benar tak tahu! Dan sekarang ia menyesal karena mengetahui kenyataan ini. Ia sekarang bingung bagaimana harus menceritakan ini semua pada Falin besok.
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment