Thursday, January 16, 2020

Ahjumma in My Lesson



“Jeoseonghamnida, Seonsaengnim!” ucap seorang murid SMA yang sudah berdiri di depan pintu. Ia menunduk sembilan puluh derajat begitu pria yang dipanggilnya guru itu berbalik menatapnya. “Saya terlambat,” sambungnya lagi. Pria itu hanya tersenyum sedikit dan mengisyaratkannya untuk langsung masuk saja.


Bocah itu tersenyum manis kemudian masuk ke ruangan itu. Kepalanya celingukan sesaat melihat tempat duduk yang kosong. Tempat les ini memang cukup bagus. Tak heran jika tempat ini selalu penuh. Hari ini saja rasanya tak ada tempat yang kosong untuk ditempatinya. Tapi seseorang membantunya menemukan kursi kosong. Ia menunjuk sebuah tempat di dekat seseorang yang meletakkan kepalanya di atas meja.

“Nuguya?” tanyanya melihat orang yang akan menjadi teman sebangkunya itu. Rasanya ia tak pernah melihat gadis ini. Tapi, hey! Apa yang dilakukannya? Apa ia sedang tertidur?

“Wah! Ada juga yang lebih parah dariku? Apa biaya les di sini semurah itu sampai ada yang tertidur di sini?” tanyanya dengan suara yang sengaja ia besarkan. Membuat yang lain, termasuk tutor di depan menoleh ke arahnya. Tapi gadis ini sama sekali tak bergeming dari tempatnya.

“Ya! Ahjumma! Pulanglah ke rumah kalau mau tidur!” bentaknya. Lantas berhasilkah tindakannya? Ah, tidak! Mungkin rambut panjang gadis ini berhasil menyumpal kedua telinganya dari teriakan bocah yang berparas manis ini. “Ya!”

“YA!!!” tiba-tiba saja gadis ini terbangun. Wajah manis bocah ini langsung membalalak kaget, tak percaya bahwa orang yang sedari tadi diam seperti tak mendengar apa-apa tiba-tiba sudah mengangkat kepalanya setelah berteriak padanya. Wajahnya yang lusuh menatap wajah manis orang yang sudah mengganggu tidurnya itu. “Apa yang kau lakukan sehingga menggangguku, eoh?!” bentaknya lagi. Oh ayolah! Apa ia tak sadar semua mata sudah memandangi mereka dengan penuh keheranan.

“Neon nuguya?!” tanpa jawaban, mata gadis ini menurut seragamnya. Membaca satu persatu hangul di name tag pada almamaternya. “Oh… Kim Kibum? Itukah namamu?” ah, Kim Kibum?

“Untuk alasan apa kau menganggu tidurku, hah?!”

“Ehem…!” ha… kena kalian berdua! “Apa kita bisa lanjutkan pelajaran hari ini?” siapa ini? Tentu saja sang tutor di depan. Dan saat itu juga, gadis yang dipanggil Kibum ahjumma ini baru menyadari. Kau sedang tidak di rumah! Semua mata itu berhasil membuat wajahnya merona malu.

“Jeoseonghamnida…” ucapnya menundukkan kepalanya berkali-kali. Sedangkan Kibum? Ia malah tersenyum melihat kelakuan gadis aneh ini. Yah… setidaknya itu menurutnya.

***

“Hah…” desahan kesal berkali-kali keluar dari bibir mungil Han Hyo Kyo. Bibirnya sudah gemertakan menahan emosi sejak tadi. Ia masih mencoba meredam api amarahnya ditengah malam dingin ini. Tapi, semakin ia mendengar suara jejak kaki di belakangnya, ia tak tahan lagi!

“Ya!” teriaknya berbalik secepat kilat. Hey, siapa itu yang di belakangnya? Bocah menyebalkan yang baru saja ia kenal di tempat les tadi. Siapa lagi kalau bukan Kim Kibum? Sejak tadi ternyata Kibum mengikuti Hyo Kyo. Padahal berkali-kali Hyo Kyo menyuruhnya pergi. Tapi ia seperti hantu yang tak akan berhenti mengikuti mangsanya sebelum ia berhasil menakutinya sampai gila!

“Ttarawajima! Harus berapa kali kubilang jangan mengikutiku, hah?!” bentak Hyo Kyo lagi.
Dengan wajah polos seolah tak punya dosa sedikit pun, Kibum malah bertanya, “Wae?”

“Seharusnya aku yang bertanya! Kenapa kau mengikutiku, hah?!” wah! Kibum berhasil membuat Hyo Kyo sampai pada puncak kemarahannya.

“Apa tidak boleh?” oh, Tuhan! Kenapa bocah manis ini terlalu polos?

“Tentu saja tidak! Untuk apa kau mengikutiku, eoh?!”

“Molla.”

Hyo Kyo terdiam sesaat. Wajahnya terlihat makin geram pada bocah satu ini. Rasanya ingin sekali ia memakannya bulat-bulat. Atau paling tidak, bisa menjambak rambutnya dan menenggelamkan kepalanya ke dalam timbunan salju terdekat!

“ARKGH!!!! MICHIGETTA!!!”

Set… Kibum mundur selangkah. Melihat Han Hyo Kyo memukul-mukul kepalanya frustasi seperti itu, membuatnya sedikit takut. Dan sempat berfikir… apa mungkin dia tidak waras?

“Sebenarnya apa yang kau mau?”

“Keunyang…. Aku hanya suka saja mengikutimu, ahjumma!” Kibum kembali tersenyum. Yah… 
Hyo Kyo sempat kagum juga dengan senyuman itu. Tapi, semua itu langsung musnah ketika mendengar bibir imut Kibum memanggilnya ahjumma. Hey, ia baru berumur 27 tahun, kan? Bagaimana mungkin bocah ingusan itu memanggilnya ahjumma?

“Pulang saja sana!” usir Hyo Kyo. Tapi kelihatannya, reaksi yang diberikan Kibum kali ini lain. Sepertinya wajahnya berubah murung. Hey, apa Hyo Kyo salah bicara?

“Apa yang harus kulakukan di sana?” desisnya.

“Mwoya?” bahkan ia berhasil membuat nada suara Hyo Kyo menurun. Apa Hyo Kyo benar-benar salah bicara?

“Aniya. Arasseo, nan ka,” hey! Ia menyerahkah?

Tapi, belum ada satu langkah, Kibum berbalik lagi. “Ah, Ahjumma!” panggilnya.

Serr… semilir angin perlahan menghembus poni Kibum dan menampilkan mata beningnya yang benar-benar menawan. Ia hanya menunjukkan senyum tipisnya tapi benar-benar terlihat mempesona. Ya, Han Hyo Kyo yang menilainya begitu.

“Kita bertemu lagi besok, eoh?” ting! Kibum memberikan wink mautnya. Sekali lagi tersenyum dan kemudian meninggalkan Han Hyo Kyo yang melongo setelah kepergiannya.

“Omo! Apa yang baru saja dilakukannya? Oh, Ya Tuhan! Apa-apaan ini? Aku digoda oleh bocah SMA?!” decaknya tak percaya.

***

Kibum memasuki kamarnya. Tak peduli dengan lantai yang sudah dibersihkan pembantu di rumahnya, ia masih membiarkan sepatu cat putihnya membalut kakinya. Seolah tanpa beban, dilemparkannya tas punggunya sembarangan. Begitu juga dengan tubuhnya, dihempaskannya begitu saja di atas tempat tidurnya yang empuk. Yah… sedikit mengurangi lelahnya jasmaninya hari ini. Sekolah seharian, dan sorenya ia harus ke tempat les Bahasa Jepang. Hh, meski itu bukan keinginan Kibum, bahkan ia tak suka sama sekali dengan yang namanya bahasa orang lain. Tapi itu karena 
ayahnya. Demi menjadi anak yang baik, ia harus menuruti semua kemauan ayahnya.

Ia masih diam. Matanya memang memandangi plafon biru laut di atasnya. Tapi fikirannya bertamasya ke kejadian yang ia alami hari ini? Bukan dari sekolah. Ah, tak ada yang menarik baginya di tempat membosankan itu. Tapi tempat les hari ini. Tak biasanya ia bisa tersenyum di tempat itu. Tapi begitu datangnya orang baru bernama Han Hyo Kyo itu, bisa memunculkan kedua lesung pipit di pipinya.

Jujur, ia geli sendiri dengan kelakuannya tadi. Ia senang sekali menganggu wanita yang dipanggilnya ahjumma itu. Sejak di sana, ia tahu betul bahwa Hyo Kyo tak bisa fokus mengikuti tutor Jepang itu mengajar. Lantaran Kibum suka sekali curi-curi pandang ke arahnya. Ah, tidak! Lebih tepatnya, Kibum terus saja memandanginya. Siapa coba yang tidak risih dengan kelakuannya?

Ah, ya. Kibum sendiri kini tengah tersenyum. Tersenyum bingung dengan kelakuannya sendiri. Tak pernah rasanya ia suka mengganggu wanita seperti itu. Ige sarang iramyeon? Hatinya bertanya. Hey, tapi benarkah ia menyukai gadis yang terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya itu? Apa tidak boleh? Molla!

“Tuan muda!” tiba-tiba suara seseorang mengusik lamunannya. Kibum hanya melirik sekilas. Seorang wanita paruh baya sudah berdiri di depan pintu dengan celemek di roknya. Di tangannya sudah menggenggam benda hitam. Hem, telfon sepertinya.

“Ne?” balas Kibum malas untuk bangkit.

“Telfon dari Tuan Besar,” jawab ahjumma itu.

“Appa?” Kibum seolah menanggalkan semua lelahnya. Senyum manisnya tersungging jelas di wajahnya. Dengan semangat ia melunjak dari tempat tidur dan menyahut telfon di tangan sang ahjumma yang lebih sering menemaninya di rumah.

Ahjumma itu tersenyum melihat Kibum dengan keras menyapa ayahnya di seberang sana. Setelahnya, ia memilih pergi dari sana. Membiarkan Kibum bercakap panjang dengan ayahnya. Mungkin.

“Appa?” sapa Kibum lebih dulu.

“Oh, Kibum~a? Kau sudah pulang?” balas ayahnya.

“Ne, appa. Kita jadi kan malam ini?” sanggah Kibum cepat.

“Ah, mianhae. Appa harus lembur malam ini. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini juga. Dan besok, appa harus menemui klien di Jepang membicarakan bisnis. Mungkin minggu depan appa pulang. Kau mengerti, kan?”

Oh, senyum Kibum memudar. Janji ayahnya pulang cepat untuk sekedar makan malam bersama lagi-lagi tak ditepati. Rasanya dongkol sekali mendengar penjelasan panjang itu bagi Kibum. Padahal, sudah perih perutnya menahan lapar. Bayangannya bercerita banyak soal apa yang dialaminya hari ini pada ayahnya, pupus sudah.

“Kibum, kau di sana?”

“Ne…” jawab Kibum singkat. Bahkan suaranya tak sesemangat tadi.

“Appa harap kau mengerti. Appa melakukan ini juga demi kamu, nak.”

“Ne…” lagi-lagi sesingkat itu jawabannya. Ia sudah terlanjur kecewa.

“Arasseo. Appa tutup telfonnya. Kau baik-baik di rumah, eoh?”

“Ne.” hanya itu dan… tut..tut… telfonnya sudah diputus.

Kibum mendesah perlahan. Ditaruhnya telfon itu di atas mejanya. Matanya yang terlanjur ke arah meja, menatap sebuah figura di sana. Foto ayahnya tengah menggendong seorang anak kecil di atas pundaknya. Sepertinya anak itu adalah Kibum sendiri.

“Aku lupa wajah tuamu seperti apa sekarang?” lirihnya pelan. Hh… tak ada gunanya. Sudahlah, Kibum tak ingin terlalu lama kecewa. Bukankah ini sudah menjadi kebiasannya? Makan malam sendiri. Ah, tidak. Semua aktifitasnya di rumah ini selalu ia lakukan sendiri. Dan sekarang, saatnya mengikuti tuntutan cacing-cacing yang sudah berdemo di perut Kibum.

“Ahjumma! Tolong buatkan aku mie ramen!”

***

“Wae geurae? Kenapa kau suka sekali mengangguku, eoh?” ah… lagi-lagi Hyo Kyo berhasil naik pitam. Apalagi yang diperbuat Kibum kecuali menatapinya seperti orang yang terhipnotis saja.

“Apa aku menggagumu hanya dengan menatapi kecantikanmu, eoh?” Kibum malah balik bertanya. Ia tersenyum begitu melihat rona merah di wajah Hyo Kyo. Ia pasti malu dipuji Kibum seperti itu.

“Ahjumma!” hai! Tak jemu-jemunya Kibum mengusiknya.

“Wae?” Tanya Hyo Kyo kesal.

“Kenapa kau mengambil les Bahasa Jepang. Kau itu sudah tua, tahu!”

“Seenaknya saja kau bicara! Aku ini baru 27 tahun, tahu! Lagipula kenapa kau terus menggunakan banmal padaku, hah?! Apa aku ini temanmu?!” protes Hyo Kyo tak terima.

“Itu sudah tua buatku. Masalah aku menggunakan banmal atau tidak, bukankah itu terserahku?

“Ish…” desis Hyo Kyo makin kesal.

“Jawab aku!”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Kau itu pelit sekali! Dasar ahjumma pelit! Aku kan hanya bertanya!” rajuk Kibum seperti anak kecil. Hah… apalagi yang harus dilakukan Hyo Kyo selain menjawab pertanyaan Kibum? Sudah satu minggu ia satu bangku dengan anak ini. Heh… tak bosan-bosannya bocah ini mengaggunya!

“Aku akan pergi ke Jepang.”

“Mwo? Jepang? Wae?”

“Wae, mwoya?”

“Kenapa harus pergi ke Jepang? Untuk apa kau pergi ke sana?!”

“Ya! Neon nuguya? Apa urusannya denganmu aku pergi ke Jepang atau tidak, hah?” hey, benar, bukan? Kim Kibum, siapa kau? Tak ada urusanya denganmu Hyo Kyo mau pergi kemana saja, kan?

“Aku kan hanya bertanya!” dalih Kibum.

Hyo Kyo tersenyum melihat wajah Kibum yang seolah menutupi sesuatu. “Wae? Kau takut merindukanku?” selidiknya. Kibum malah menatapnya dengan wajah menggemaskan. Ah… rasanya ingin sekali Hyo Kyo mencubit kedua pipinya yang imut benar itu!

“Geureomyeon! Tentu saja aku akan merindukanmu!”

“Mwo?” hey, bicara apa barusan anak ini? Benarkah yang dikatakannya barusan?

Belum sempat Hyo Kyo menanyainya lebih jauh, si tutor Jepang sudah datang. Ah... ya sudahlah. Mungkin anak ini hanya bercanda, fikir Hyo Kyo.

***

“Ahjumma, mau menemaniku ke toko buku?” Kibum berhasil menghentikan langkah Hyo Kyo. Mereka baru saja selesai dengan les Bahasa Jepang mereka. Tak ada lagi yang ada di sana kecuali mereka. Hyo Kyo yang celingukan tentu saja membuat Kibum bingung.

“Kau mencari siapa?” tanyanya.

“Kau mengajakku?” Hyo Kyo malah balik bertanya.

“Geureomyeon! Memangnya ada siapa lagi di sini? Lagipula tak ada orang lain yang kupanggil Ahjumma kecuali kau dan pembantuku di rumah,” jawab Kibum sambil nyengir. Ah, sial! Jadi Hyo Kyo disamakan dengan pembantu rumah tangga?

“Kenapa kau mengajakku?”

“Karena aku tak punya teman,” jawab Kibum cepat. Tapi, hey… ekspresinya berubah kembali? Ia dengan cepat merubah wajahnya itu menjadi murung. Salahkah jika hati Hyo Kyo bertanya-tanya ada apa dengan kehidupan anak ini sebenarnya?

“Ah… arasseo! Aku bisa sekalian belanja,” akhirnya Hyo Kyo menerima ajakannya. Dan ia pun berhasil mengembalikan wajah ceria Kibum seperti biasa.

“Oh, jinjja? Ahjumma benar-benar mau menemaniku?” ah, lihatlah! Bahkan ia berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat! Bahkan ia sempat melonjak kegirangan mendengar persetujuan Hyo Kyo. Kau lebih manis saat tersenyum Kim Kibum, Hyo Kyo membatin.

***

Di toko buku, Kibum tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Hyo Kyo. Lewat sela-sela rak buku, ia bisa dengan jelas melihat Hyo Kyo yang tengah membaca cover novel di seberang sana. Wajahnya yang terlihat tenang dan sesekali menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah membuat senyum Kibum tak henti untuk tersungging. Dan, hup! Begitu Hyo Kyo menoleh ke arahnya, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke buku di tangannya. Kelakuannya itu hanya ditanggapi senyum tipis dan gelengan kepala dari Hyo Kyo.

“Sudah ketemu buku yang kau cari?” tanya Hyo Kyo begitu mendekati Kibum.

“Hem… aku ketinggalan banyak chapter,” jawab Kibum. Hyo Kyo terlihat mengerutkan keningnya. Bukankah itu jawaban yang tidak tepat.

Ditengoknya tangan Kibum. Ya Tuhan! Setumpuk buku komic, ada sekitar sepuluh buku sudah ada di tas plastik yang entah darimana Kibum mendapatkannya. “Kau ke sini mengajakku hanya untuk membeli buku yang tidak berguna itu?” protes Hyo Kyo.

“Siapa bilang buku ini tidak berguna? Aku bisa menyesal jika melewatkan satu chapter sekali pun!”

“Apa gunanya kau membeli buku-buku seperti itu, eoh?”

“Komic ini, mengajarkanku bagaimana sebuah pertemanan dan keluarga yang sesungguhnya terbentuk. Sangat menyentuh,” jelas Kibum sambil tersenyum. Ah… teman dan keluarga? Betapa kurangnyakah bocah ini dengan dua kata itu?

“Ayo kita ke kasir!” ajak Kibum masih dengan senyumannya. Hyo Kyo tak langsung menyambutnya. Ia masih bingung dengan bocah berkulit salju itu. Tapi tak lama, ia menyusulnya juga.

***

Cukup berjalan kaki. Selain untuk menghemat uang saku, jalan juga tak begitu jauh dari rumah mereka berdua. Lagipula, tak ada lagi yang akan dikerjakan oleh keduanya. Hyo Kyo sudah selesai dengan pekerjaannya siang tadi. Dan di Seoul, oh, dia hanya hidup seorang diri. Sedangkan Kibum, rasanya di rumah atau di jalanan seperti ini, sama saja baginya. Tapi malam ini, dan malam-malam sebelumnya, semenjak ia bertemu dengan Hyo Kyo, paling tidak ada yang menemani jalannya. Meski sebelum ini, ia yang memaksa mengikuti Hyo Kyo dari belakang.

“Appaku sangat kaya raya. Dalam otaknya hanya bisnis yang ada,” Kibum memulai ceritanya tanpa diminta. Hyo Kyo sempat menoleh sesaat padanya. Yah, ini sebenarnya yang ia inginkan. Ia sudah terlanjur penasaran dengan kehidupan seorang Kim Kibum.

“Dia sering pergi ke luar negeri, dan jarang sekali ada di rumah. Yang menemaniku di rumah hanya ahjumma pembantu di rumah kami. Dalam satu tahun, bisa kuhitung dengan jari berapa kali aku bertemu dengannya. Bahkan, kalau aku tidak melihat fotonya di kamarku, aku sudah lupa dengan wajahnya sekarang. Hh…” Kibum tersenyum kecut. Kenyataan hidupnya yang sepi, padahal masih ada keluarga dalam hidupnya, benar-benar miris.

“Eomma…”

“Dia sudah meninggal,” jawab Kibum sebelum Hyo Kyo selesai melontarkan pertanyaannya.

“Oh, mianhae…” ucap Hyo Kyo merasa tak enak.

“Gwaenchana. Memang itu yang terjadi,” balas Kibum. Wajahnya masih memahat senyum. Tapi bukan senyum manis yang biasa dilihat Hyo Kyo. Melainkan senyum ketir menahan kenyataan pahit hidup.

“Aku tak punya teman untuk cerita apapun di hidupku. Temanku di sekolah banyak, tapi tak ada yang tulus. Yang mereka harapkan dariku hanya uang. Tidak lebih,” Kibum melanjutkan ceritanya. Ah, jadi itukah kenapa ia bertingkah seperti anak kecil dan selalu murung jika disinggung masalah teman dan keluarga? Kim Kibum kurang perhatian dan cinta. Begitukah?

“Ahjumma!” oh, hampir saja Hyo Kyo melonjak kaget mendengar panggilan Kibum yang tiba-tiba.

“Wae?” Tanya Hyo Kyo sedikit kesal.

“Karena aku tak punya teman cerita, bolehkah aku bercerita padamu?”

Hyo Kyo tak lekas menjawab. Dipandanginya dulu wajah Kibum. “Tentang apa?” tanyanya kemudian.

“Aku akan cerita…” Kibum mengalihkan pandangannya ke langit malam yang tanpa bintang. Ia tersenyum, senyuman semula. Senyuman remaja SMA yang begitu manis dan terlihat polos.
“Cinta pertamaku,” sambungnya kemudian.

Hyo Kyo tersenyum. Sepertinya anak ini sudah menganggap dirinya begitu dekat. Tak banyak anak SMA yang mau cerita masalah cinta pertama. Apalagi Hyo Kyo hanyalah orang lain yang baru dikenalnya satu minggu. “Ara! Ceritalah!” tanggap Hyo Kyo ikut tersenyum.

“Dengarkan dengan baik, eoh?” tegas Kibum. “Aku mengenal seseorang, yang begitu aneh. Pertama kali bertemu, dia dalam keadaan kacau. Dia suka sekali marah-marah, padahal tak jelas apa salahku,” Kibum mulai bercerita. Hyo Kyo menjadi pendengar yang baik dengan hanya diam mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kibum.

“Dia… cantik. Senyumnya indah, seperti bulan sabit. Saat dia marah… kurasa aku harus kabur darinya. Sangat mengerikan, sama seperti bijuu (monster dalam anime komic Naruto). Aku bertemu dengannya di tempat les. Saat itu dia sedang tidur, dan aku mengganggunya hingga ia terbangun dan berteriak ke arahku.”

Tap… Hyo Kyo menghentikan langkahnya. Ada sesuatu yang ia tahu. Sepertinya ia tahu siapa yang dimaksud Kibum sebenarnya.

Sadar Hyo Kyo sudah tak ada di sampingnya, Kibum berbalik. Ia tersenyum melihat Hyo Kyo melemparinya tatapan tak percaya. “Eoh… Geurae. Ahjumma, neorago. Cinta pertamaku,” yak! Kibum menyuarakan isi hati Hyo Kyo. “Eotte?”

Hyo Kyo masih diam. Cukup lama. Begitu sebuah bus berhenti di halte di dekat mereka, barulah ia mendecak tak percaya. “Hh… jangan bercanda denganku! Itu sama sekali tidak lucu!” sentaknya.
Kibum hanya melongo melihatnya bergegas pergi duluan. Tunggu! Apa dia marah?

“Ya, ahjumma! Eoddiga?” teriakan Kibum  bahkan tak digubris sama sekali oleh Hyo Kyo. “Apa aku salah bicara? Nan jinjja neol johahae!” satu lagi teriakan Kibum yang diacuhkan Hyo Kyo. “Apa-apaan itu? Hh…” Kibum mendecak tak percaya. Itukah tanggapan dari pernyataan cintanya yang pertama?

***

Sudah tiga hari Hyo Kyo tak datang ke tempat les. Awalnya Kibum mengira ia marah dengannya. Tapi setelah ia bertanya pada tutor les mereka, ternyata Hyo Kyo sudah keluar dari sana. Wah! Seberapa marahkahnya dia sampai keluar dari sini? Fikir Kibum masih sama. Dengan berbagai usaha, akhirnya Kibum tahu dimana alamat tempat kerjanya. Hey, ia sudah tahu dimana rumah Hyo Kyo. Mereka sudah sering pulang bersama, bukan? Kibum sudah sempat ke rumahnya dan tak ada siapa-siapa tadi. Satu-satunya tempat yang bisa dikunjunginya hanya tempat kerjanya.

Sebuah perusahaan Home Shoping yang didatanginya. Masih lengkap dengan seragam SMA-nya, ia memasuki lobi. Melihat lobi yang begitu besar tak membuatnya kebingungan mencari pusat informasi. Hey, jangan lupakan ayahnya yang seorang konglomerat!

“Bisa saya bertemu dengan ahjumma?” tanyanya pada seorang wanita yang ada di sana.

“Siapa ahujummamu, itu?” ah, ya benar. Siapa yang mengenal ahjumma yang dimaksudkannya itu?

“Hyo Kyo. Han Hyo Kyo,” jawab Kibum.

“Dia di bagian apa?” ah, kenapa wanita ini bertanya lagi.

“Mollayo,” tentu saja Kibum tak tahu. Ia tak pernah menanyakan itu pada Hyo Kyo.

“Kau tak tahu ahjummamu bekerja di bagian apa?” Tanya wanita itu lagi. Gelengan super polos yang diberikan Kibum. Bahkan tak dipertimbangkannya tatapan curiga dari wanita itu. Menganggapnya hanya bocah SMA yang salah masuk tempat.

Tapi ia sepertinya tak perlu bertanya lagi. Orang yang dicarinya sudah berjalan melewati lobi dengan kardus cukup besar di tangannya.

“Ahjumma!” panggilnya seraya berlari ke arah Hyo Kyo. “Kenapa kau tak pergi ke tempat les?” Tanya Kibum begitu ia sudah tepat di depan Hyo Kyo.

“Oh, Kim Kibum! Kebetulan kau datang! Ayo, bantu aku membawa ini!” dengan seenaknya sendiri Hyo Kyo memberikan kardus itu kepada Kibum. Kibum hampir-hampir saja menjatuhkannya. Berat sekali.

“Ige mwoya?”

“Barang-barangku,” jawab Hyo Kyo singkat.

“Mau dibawa kemana?”

“Taksi di depan.”

“Untuk apa?”

“Aku berhenti dari sini. Dua hari lagi aku akan pergi ke Jepang.” Mendengar penjelas itu, mata Kibum membelalak besar.

“Mwo?!” sentaknya tak percaya. Dan Bruk! Ditaruhnya kardus itu di lantai.

“Apa yang kau lakukan, hah?” Tanya Hyo Kyo heran.

“Bisa-bisanya kau akan pergi setelah mengabaikanku?!” teriak Kibum kesal. Hyo Kyo malah heran sendiri dengan tingkahnya.

“Ka, kau itu kenapa, hah?”

“Kukira kau marah. Betapa sulitnya aku bertemu denganmu. Aku bahkan bolos sekolah hanya untuk mencarimu, tapi tak ketemu. Sekarang saat aku bertemu denganmu, kau bilang kau akan pergi? Seenaknya sendiri!” cerocos Kibum panjang lebar.

“Ya, wae geurae? Bukankah sudah kukatakan kalau aku akan pergi ke Jepang waktu itu? Lagipula apa urusannya denganmu, eoh?”

“Lalu bagaiamana dengan perasaanku, eoh?!” teriak Kibum tak kalah kencangnya.

“Mwo?” tanya Hyo Kyo tak percaya.

“Teganya kau menggantungkan anak SMA?!” teriakan Kibum berhasil membuat orang-orang yang lewat memandangi Hyo Kyo tak percaya.

“Ya, kau mau mempermalukanku?” tanya Hyo Kyo setengah berbisik. Bukankah ia baru saja dipermalukan?

“Sudah kukatakan padamu, ini cinta pertamaku. Kau bukannya menjawab iya apa tidak, kau malah pergi begitu saja malam itu. Pergi tanpa kabar, bahkan aku tak punya nomor telfonmu! Apa kau fikir aku bercanda soal perasaanku, hah? Nan neol jinjja saranghanda!!!” nafas Kibum tersengal. Kedua matanya berkaca-kaca menahan air yang hendak melompat keluar. Bibirnya bergetar mengakhiri kata-katanya.

Hyo Kyo hanya menatapnya. Jadi benar bocah ini jatuh cinta padanya? Ya, ia berfikir saat itu Kibum hanya bercanda. Tapi, melihat ekspresi itu, Hyo Kyo kini yakin bahwa dia benar-benar mempunyai rasa terhadapnya.

“Kibum~a… apa kau sadar… berapa jarak usia kita?” Hyo Kyo mencoba memberi pengertian.

“Persetan dengan umur! Apa tak boleh anak SMA jatuh cinta dengan wanita dua puluh tujuh tahun, eoh?!”

Hyo Kyo terdiam. Oh, salahkanyakah membiarkan bocah ini terlalu lama bersamanya? Salahnyakah membuat bocah ini merasa nyaman di dekatnya? Dan bahkan kini bocah ini mencintainya.

“Kibum~a…” rasanya tak kuat Hyo Kyo mengutarakan kebenarannya. “Kau tahu apa alasanku ke Jepang?” dia malah bertanya?

Tapi tanpa menunggu jawaban dari Kibum, ia melanjutkannya. Meski berat hati sebenarnya. “Aku... akan menikah. Dengan orang Jepang.”

Blaarr!!! Seolah disambar petir dahsyat. Setitik perih perlahan berkembang di hati Kibum. Perih, dan sakit rasanya. Kenyataan yang begitu menyakitkan hingga ia mematahkan hatinya. Pertama kali ia jatuh cinta, dan pertama kalinya juga kini ia merasakan sakitnya patah hati. Inikah rasanya? Seolah dunia sudah tak mengambang lagi di ruang angkasa. Terjun bebas entah kemana.

Dengan mulut tercekat, dan air mata yang berhasil melompat keluar, Kibum berbalik. Perlahan, meski dengan langkah gontai, ia melangkah pergi. Telinganya seolah tertutup tak mampu mendengar panggilan Hyo Kyo padanya. Hatinya sudah remuk. Ia sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Yang bisa dilakukannya hanya menggerakkan kakinya sejauh mungkin dari sana.

***

Tinggal besok Hyo Kyo berangkat. Semua sudah diurus, tapi hatinya benar-benar tak nyaman. Yah, ia masih terfikirkan Kim Kibum. Bisa dilihatnya wajah hancur Kibum saat ia pergi waktu itu. Apa ia sudah melakukan kesalahan mengatakan kebenarannya pada Kibum? Ah, entahlah.

Ting…tong… seseorang membunyikan bel rumahnya. Dengan lesu, Hyo Kyo berdiri dan pergi ke depan untuk membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, mata Hyo Kyo membalak besar.

“Kibum~a!” ah, ya benar. Kibum sudah ada di sana. Tapi Kibum yang manis benar-benar terlihat hancur. Rambutnya yang biasanya rapih dan membingkai wajah imutnya begitu apik, kini terlihat acak-acakkan bak sarang burung. Matanya memerah dan ada bekas aliran air mata di kedua pipinya yang putih. Tubuhnya masih mengenakan seragam sekolahnya. Tapi sepertinya, seragam itu tak dilepasnya sejak ia bertemu dengan Hyo Kyo waktu itu. Benar-benar lusuh dan sudah tak berbentuk lagi. Dasinya serampangan dan almamaternya sudah tak sempurna lagi letaknya.

“Apa yang terjadi padamu?” Hyo Kyo mencoba meraih tubuh Kibum. Tapi tiba-tiba… Bruk! Kibum berlutut di depannya. Tentu saja hal itu membuat Hyo Kyo panik bukan main. Berkali-kali ia menyuruh Kibum bangun, tapi Kibum hanya diam mematung.

“Ahjumma!” panggilnya kemudian. “Aku mohon… jadilah pacarku sehari saja,” ucapnya lagi.

Hati Hyo Kyo mencelos. Betapa hancurnya bocah ini mendengar ia yang akan menikah. Ia bisa sehancur ini mendengar sebuah penolakan?

“Hanya sehari saja… aku mohon… jadilah pacarku…” Kibum memohon lagi. Bibirnya gemetaran menahan air mata di matanya. Meski tak berhasil, mengalir lagi air mata itu.

“Ireohnarago!” tak tahan, Hyo Kyo ikut menangis. Ia mencoba menarik tangan Kibum untuk beridiri. Tapi Kibum tetap berlutut.

“Hanya sehari… ahjumma… jebal… hiks…” bahkan ia sampai terisak. Ah, Hyo Kyo tak akan mungkin tega membiarkannya berlama-lama dalam keadaan seperti itu.

“Arasseo. Aku akan menjadi pacarmu dalam sehari.”

Secepat kilat, tangis Kibum berhenti. Didongakkannya kepalanya cepat pula. Menatap wajah Hyo Kyo sekilas, kemudian beranjak berdiri. “Jinjja?!” tanyanya tak percaya. Nadanya kembali. Nada periangnya kembali. Bahkan senyumnya kembali meski masih ada setetes air yang melewati hidung bangirnya.

Hanya sebuah anggukan kepala dari Hyo Kyo membuat Kibum melonjak kegirangan. Dihapusnya air mata di pipinya. Dirapihkannya rambut dan seragam sekolahnya. “Kau benar-benar mau?” Kibum masih mencoba memastikannya. Hyo Kyo tersenyum melihat wajah manis periang Kibum kembali.

“Eoh.”

“Uwah!!! Daebak!!!” serunya kegiragan. Ya Tuhan! Bagaimana bisa anak ini berubah secepat itu?

Masih dengan senyumnya, ia mengulurkan tangan kanannya pada Hyo Kyo. Mengajaknya untuk pergi entah kemana. Hyo Kyo menyambut uluran itu dengan senyuman juga.

“Izinkan aku membersihkan tubuhku di pemandian umum nanti ya, ahjumma?” pesannya sambil melangkah. Hyo Kyo hanya tertawa. Bahkan ia ingat pada tubuhnya yang kotor?

Hanya berjalan-jalan keliling Seoul. Senyuman Kibum terlihat tak seperti biasanya. Ia terlihat begitu bahagia bersama Hyo Kyo. Berbagai macam tempat yang romantis mereka datangi. Benar-benar seperti pasangan lainnya. Kibum hanya berani menggandeng tangan Hyo Kyo tidak lebih. Lagipula, di dalam otaknya, tak lebih dari sekedar membawa Hyo Kyo berjalan-jalan. Berfoto bersama di photo box, membeli ice cream, bermain roller coaster, dan lain-lain. Tidak lebih. Itu sudah membuat hatinya senang bukan main. Meski ia tahu, kebahagian ini hanya akan berlangsung untuk hari ini saja. Kibum berusaha melupakan kenyataan itu saat bersamanya.

***

“Jadi… kau akan pergi besok?” tanya Kibum di ujung hari mereka. Mereka sudah ada di depan rumah Hyo Kyo sekarang. Hyo Kyo terus saja tersenyum melihat Kibum dengan pakaian santai. Bukan seragam sekolah seperti biasanya. Ia terlihat begitu tampan dengan baju itu.

“Eoh…” jawab Hyo Kyo singkat.

“Kau… akan jadi orang Jepang, ya?” tanya Kibum lagi.

“Eoh…”

“Tak akan kembali lagi kemari?”

“Eoh…”

“Tak ingin berkunjung sama sekali?”

“Aku sudah tak punya keluarga lagi di sini,” akhirnya lain juga jawaban Hyo Kyo.

“Tak akan merindukanku?”

“Eoh…” Kibum terdiam. Jadi benar Hyo Kyo sama sekali tak punya perasaan sedikit pun padanya. Bahkan setelah hari ini? “Eoh… aku akan benar-benar akan merindukanmu. Bocah SMA yang mencintaiku.” Senyum Hyo Kyo  mengembang. Dan itu berhasil membuat Kibum juga tersenyum.

“Aku menyedihkan, kan?” Kibum melontarkan pertanyaan yang membuat Hyo Kyo bingung sendiri. “Pertama kali aku jatuh cinta, dengan seorang ahjumma. Pertama kali aku menyatakan cinta, pertama kali itu juga aku patah hati. Dan pertama kali itu pula cintaku tidak diterima.” Ah… mengapa ekspresi murung itu kembali lagi? Benar-benar tak enak dipandang!

“Ya! Apa kau sudah lupa? Aku sudah menjadi pacarmu hari ini. Itu artinya cintamu sudah diterima, walau hanya satu hari,” ucap Hyo Kyo membuat kepala Kibum mendongak perlahan demi menyaksikan senyuman bulan sabit kesukaannya.

“Kim Kibum… kau sudah memberiku hadiah sebelum pergi dari negara tercinta ini. Bila bukan karenamu, aku pasti tak akan pernah mampu mengelilingi Seoul seperti hari ini. Gomawo…” sambung Hyo Kyo. Kibum hanya diam. Tak tahu harus bicara apa.

“Sebelum aku pergi… aku juga ingin memberimu sesuatu.” Hyo Kyo maju perlahan. Hanya beberapa senti jaraknya dengan Kibum, ia sedikit berjinjit. Meraih bibir Kibum dengan bibirnya. Beberapa saat lamanya ia berhasil membuat Kibum membatu dalam posisi itu. Merasakan betapa lembutnya bibir itu di bibirnya. Begitu Hyo Kyo menyudahinya, ia masih mematung dengan tegang.

“Kuharap… kau mengingatnya sebagai cerita yang manis. Bukan masa lalu yang pahit,” Hyo Kyo berpesan sebelum akhirnya ia kembali melontarkan senyumannya. Melihat Kibum masih tetap diam, ia tertawa pelan. Ya, bukankah itu tadi ciuman pertama Kibum?

“Ka!” usirnya kemudian. Kibum tersentak. Akhirnya ia tersadar dan salah tingkah yang kemudian menjalari dirinya.

“Eoh, arasseo. Nan ka. Hati-hati di perjalan, ahjumma!” pesannya sebelum pergi. Hyo Kyo hanya mengangguk sebegai jawabannya.

“Nan ka?” Kibum masih salah tingkah. Begitu berbalik, tangannya bergetar menyentuh bibirnya. Oh, ciuman pertama! Ia tersenyum senang menyadari kenyataan bahwa ia baru saja mendapatkannya!

***

“Jeoseonghamnida seongsaengnim!” seseorang terdengar baru saja memasuki ruangan ini. Kibum tak perduli. Ia enggan untuk mengangkat kepalanya dari meja. Ia pun tetap acuh saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.

“Oh… betapa murahnya biaya les di sini sampai ada yang tertidur, eoh?” suara cempreng seorang wanita terdengar. Kibum mencoba menutup telinganya.

“Ya, ahjussi! Kalau kau mau tidur, pulang saja sana! Ya!”

“Mwo? Ahjussi?! Ya! Aku ini masih SMA!!!” balas Kibum tak terima. Begitu mengangkat kepalanya, tatapan kematian langsung diberikannya pada wanita berambut pendek di sampingnya itu.

“Hanya ahjussi yang suka tertidur di mana saja! Itu artinya, kau seorang ahjussi!” balas wanita itu tak mau kalah.

“Hey, dasar bodoh! Kau tak lihat aku memakai seragam apa ini, hah?” Kibum menarik kerah almamaternya. Menunjukkan identitasnya sebagai anak SMA. “Aku masih SMA!!! Kau itu yang anak SMA tapi berwajah ahjumma!!!”

“Kalau begitu jangan tidur di sini!”

“Siapa yang tidur, hah?!”

“Ehem…” Kibum dan gadis itu menoleh serempak ke arah tutor di depan.

“Bisa kita lanjutkan pelajarannya?” sambung tutor itu lagi. Kibum baru sadar bahwa semua orang sudah memperhatikan mereka berdua dengan tatapan aneh. Akhirnya Kibum hanya bisa menundukkan kepalanya berulang kali meminta maaf dan menutupi rasa malunya. Tapi gadis itu, ia malah tersenyum dan mengambil tempat duduk di samping Kibum.

“Sialan! Awas kau nanti, dasar ahjumma SMA menyebalkan!”

...END…

No comments:

Post a Comment