“Jeoseonghamnida,
Seonsaengnim!” ucap seorang murid SMA yang sudah berdiri di depan pintu. Ia
menunduk sembilan puluh derajat begitu pria yang dipanggilnya guru itu berbalik
menatapnya. “Saya terlambat,” sambungnya lagi. Pria itu hanya tersenyum sedikit
dan mengisyaratkannya untuk langsung masuk saja.
Bocah itu tersenyum
manis kemudian masuk ke ruangan itu. Kepalanya celingukan sesaat melihat tempat
duduk yang kosong. Tempat les ini memang cukup bagus. Tak heran jika tempat ini
selalu penuh. Hari ini saja rasanya tak ada tempat yang kosong untuk
ditempatinya. Tapi seseorang membantunya menemukan kursi kosong. Ia menunjuk
sebuah tempat di dekat seseorang yang meletakkan kepalanya di atas meja.
“Nuguya?” tanyanya
melihat orang yang akan menjadi teman sebangkunya itu. Rasanya ia tak pernah
melihat gadis ini. Tapi, hey! Apa yang dilakukannya? Apa ia sedang tertidur?
“Wah! Ada juga yang
lebih parah dariku? Apa biaya les di sini semurah itu sampai ada yang tertidur
di sini?” tanyanya dengan suara yang sengaja ia besarkan. Membuat yang lain,
termasuk tutor di depan menoleh ke arahnya. Tapi gadis ini sama sekali tak
bergeming dari tempatnya.
“Ya! Ahjumma! Pulanglah
ke rumah kalau mau tidur!” bentaknya. Lantas berhasilkah tindakannya? Ah, tidak!
Mungkin rambut panjang gadis ini berhasil menyumpal kedua telinganya dari
teriakan bocah yang berparas manis ini. “Ya!”
“YA!!!” tiba-tiba saja
gadis ini terbangun. Wajah manis bocah ini langsung membalalak kaget, tak
percaya bahwa orang yang sedari tadi diam seperti tak mendengar apa-apa
tiba-tiba sudah mengangkat kepalanya setelah berteriak padanya. Wajahnya yang
lusuh menatap wajah manis orang yang sudah mengganggu tidurnya itu. “Apa yang
kau lakukan sehingga menggangguku, eoh?!” bentaknya lagi. Oh ayolah! Apa ia tak
sadar semua mata sudah memandangi mereka dengan penuh keheranan.
“Neon nuguya?!” tanpa
jawaban, mata gadis ini menurut seragamnya. Membaca satu persatu hangul di name
tag pada almamaternya. “Oh… Kim Kibum? Itukah namamu?” ah, Kim Kibum?
“Untuk alasan apa kau
menganggu tidurku, hah?!”
“Ehem…!” ha… kena
kalian berdua! “Apa kita bisa lanjutkan pelajaran hari ini?” siapa ini? Tentu
saja sang tutor di depan. Dan saat itu juga, gadis yang dipanggil Kibum ahjumma
ini baru menyadari. Kau sedang tidak di rumah! Semua mata itu berhasil membuat
wajahnya merona malu.
“Jeoseonghamnida…”
ucapnya menundukkan kepalanya berkali-kali. Sedangkan Kibum? Ia malah tersenyum
melihat kelakuan gadis aneh ini. Yah… setidaknya itu menurutnya.
***
“Hah…” desahan kesal berkali-kali
keluar dari bibir mungil Han Hyo Kyo. Bibirnya sudah gemertakan menahan emosi
sejak tadi. Ia masih mencoba meredam api amarahnya ditengah malam dingin ini.
Tapi, semakin ia mendengar suara jejak kaki di belakangnya, ia tak tahan lagi!
“Ya!” teriaknya
berbalik secepat kilat. Hey, siapa itu yang di belakangnya? Bocah menyebalkan
yang baru saja ia kenal di tempat les tadi. Siapa lagi kalau bukan Kim Kibum?
Sejak tadi ternyata Kibum mengikuti Hyo Kyo. Padahal berkali-kali Hyo Kyo
menyuruhnya pergi. Tapi ia seperti hantu yang tak akan berhenti mengikuti
mangsanya sebelum ia berhasil menakutinya sampai gila!
“Ttarawajima! Harus
berapa kali kubilang jangan mengikutiku, hah?!” bentak Hyo Kyo lagi.
Dengan wajah polos
seolah tak punya dosa sedikit pun, Kibum malah bertanya, “Wae?”
“Seharusnya aku yang
bertanya! Kenapa kau mengikutiku, hah?!” wah! Kibum berhasil membuat Hyo Kyo
sampai pada puncak kemarahannya.
“Apa tidak boleh?” oh,
Tuhan! Kenapa bocah manis ini terlalu polos?
“Tentu saja tidak!
Untuk apa kau mengikutiku, eoh?!”
“Molla.”
Hyo Kyo terdiam sesaat.
Wajahnya terlihat makin geram pada bocah satu ini. Rasanya ingin sekali ia
memakannya bulat-bulat. Atau paling tidak, bisa menjambak rambutnya dan
menenggelamkan kepalanya ke dalam timbunan salju terdekat!
“ARKGH!!!!
MICHIGETTA!!!”
Set… Kibum mundur selangkah.
Melihat Han Hyo Kyo memukul-mukul kepalanya frustasi seperti itu, membuatnya
sedikit takut. Dan sempat berfikir… apa mungkin dia tidak waras?
“Sebenarnya apa yang
kau mau?”
“Keunyang…. Aku hanya suka
saja mengikutimu, ahjumma!” Kibum kembali tersenyum. Yah…
Hyo Kyo sempat kagum
juga dengan senyuman itu. Tapi, semua itu langsung musnah ketika mendengar
bibir imut Kibum memanggilnya ahjumma. Hey, ia baru berumur 27 tahun, kan?
Bagaimana mungkin bocah ingusan itu memanggilnya ahjumma?
“Pulang saja sana!”
usir Hyo Kyo. Tapi kelihatannya, reaksi yang diberikan Kibum kali ini lain.
Sepertinya wajahnya berubah murung. Hey, apa Hyo Kyo salah bicara?
“Apa yang harus
kulakukan di sana?” desisnya.
“Mwoya?” bahkan ia
berhasil membuat nada suara Hyo Kyo menurun. Apa Hyo Kyo benar-benar salah
bicara?
“Aniya. Arasseo, nan
ka,” hey! Ia menyerahkah?
Tapi, belum ada satu
langkah, Kibum berbalik lagi. “Ah, Ahjumma!” panggilnya.
Serr… semilir angin
perlahan menghembus poni Kibum dan menampilkan mata beningnya yang benar-benar
menawan. Ia hanya menunjukkan senyum tipisnya tapi benar-benar terlihat
mempesona. Ya, Han Hyo Kyo yang menilainya begitu.
“Kita bertemu lagi
besok, eoh?” ting! Kibum memberikan wink
mautnya. Sekali lagi tersenyum dan kemudian meninggalkan Han Hyo Kyo yang
melongo setelah kepergiannya.
“Omo! Apa yang baru
saja dilakukannya? Oh, Ya Tuhan! Apa-apaan ini? Aku digoda oleh bocah SMA?!”
decaknya tak percaya.
***
Kibum memasuki
kamarnya. Tak peduli dengan lantai yang sudah dibersihkan pembantu di rumahnya,
ia masih membiarkan sepatu cat putihnya membalut kakinya. Seolah tanpa beban,
dilemparkannya tas punggunya sembarangan. Begitu juga dengan tubuhnya,
dihempaskannya begitu saja di atas tempat tidurnya yang empuk. Yah… sedikit
mengurangi lelahnya jasmaninya hari ini. Sekolah seharian, dan sorenya ia harus
ke tempat les Bahasa Jepang. Hh, meski itu bukan keinginan Kibum, bahkan ia tak
suka sama sekali dengan yang namanya bahasa orang lain. Tapi itu karena
ayahnya.
Demi menjadi anak yang baik, ia harus menuruti semua kemauan ayahnya.
Ia masih diam. Matanya
memang memandangi plafon biru laut di atasnya. Tapi fikirannya bertamasya ke
kejadian yang ia alami hari ini? Bukan dari sekolah. Ah, tak ada yang menarik
baginya di tempat membosankan itu. Tapi tempat les hari ini. Tak biasanya ia bisa
tersenyum di tempat itu. Tapi begitu datangnya orang baru bernama Han Hyo Kyo
itu, bisa memunculkan kedua lesung pipit di pipinya.
Jujur, ia geli sendiri
dengan kelakuannya tadi. Ia senang sekali menganggu wanita yang dipanggilnya
ahjumma itu. Sejak di sana, ia tahu betul bahwa Hyo Kyo tak bisa fokus
mengikuti tutor Jepang itu mengajar. Lantaran Kibum suka sekali curi-curi
pandang ke arahnya. Ah, tidak! Lebih tepatnya, Kibum terus saja memandanginya.
Siapa coba yang tidak risih dengan kelakuannya?
Ah, ya. Kibum sendiri
kini tengah tersenyum. Tersenyum bingung dengan kelakuannya sendiri. Tak pernah
rasanya ia suka mengganggu wanita seperti itu. Ige sarang iramyeon? Hatinya bertanya. Hey, tapi benarkah ia
menyukai gadis yang terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya itu? Apa tidak
boleh? Molla!
“Tuan muda!” tiba-tiba
suara seseorang mengusik lamunannya. Kibum hanya melirik sekilas. Seorang
wanita paruh baya sudah berdiri di depan pintu dengan celemek di roknya. Di
tangannya sudah menggenggam benda hitam. Hem, telfon sepertinya.
“Ne?” balas Kibum malas
untuk bangkit.
“Telfon dari Tuan
Besar,” jawab ahjumma itu.
“Appa?” Kibum seolah
menanggalkan semua lelahnya. Senyum manisnya tersungging jelas di wajahnya.
Dengan semangat ia melunjak dari tempat tidur dan menyahut telfon di tangan
sang ahjumma yang lebih sering menemaninya di rumah.
Ahjumma itu tersenyum
melihat Kibum dengan keras menyapa ayahnya di seberang sana. Setelahnya, ia
memilih pergi dari sana. Membiarkan Kibum bercakap panjang dengan ayahnya.
Mungkin.
“Appa?” sapa Kibum
lebih dulu.
“Oh, Kibum~a? Kau sudah
pulang?” balas ayahnya.
“Ne, appa. Kita jadi
kan malam ini?” sanggah Kibum cepat.
“Ah, mianhae. Appa
harus lembur malam ini. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini
juga. Dan besok, appa harus menemui klien di Jepang membicarakan bisnis.
Mungkin minggu depan appa pulang. Kau mengerti, kan?”
Oh, senyum Kibum
memudar. Janji ayahnya pulang cepat untuk sekedar makan malam bersama lagi-lagi
tak ditepati. Rasanya dongkol sekali mendengar penjelasan panjang itu bagi
Kibum. Padahal, sudah perih perutnya menahan lapar. Bayangannya bercerita
banyak soal apa yang dialaminya hari ini pada ayahnya, pupus sudah.
“Kibum, kau di sana?”
“Ne…” jawab Kibum
singkat. Bahkan suaranya tak sesemangat tadi.
“Appa harap kau
mengerti. Appa melakukan ini juga demi kamu, nak.”
“Ne…” lagi-lagi
sesingkat itu jawabannya. Ia sudah terlanjur kecewa.
“Arasseo. Appa tutup
telfonnya. Kau baik-baik di rumah, eoh?”
“Ne.” hanya itu dan… tut..tut… telfonnya sudah diputus.
Kibum mendesah
perlahan. Ditaruhnya telfon itu di atas mejanya. Matanya yang terlanjur ke arah
meja, menatap sebuah figura di sana. Foto ayahnya tengah menggendong seorang
anak kecil di atas pundaknya. Sepertinya anak itu adalah Kibum sendiri.
“Aku lupa wajah tuamu
seperti apa sekarang?” lirihnya pelan. Hh…
tak ada gunanya. Sudahlah, Kibum tak ingin terlalu lama kecewa. Bukankah ini
sudah menjadi kebiasannya? Makan malam sendiri. Ah, tidak. Semua aktifitasnya
di rumah ini selalu ia lakukan sendiri. Dan sekarang, saatnya mengikuti
tuntutan cacing-cacing yang sudah berdemo di perut Kibum.
“Ahjumma! Tolong
buatkan aku mie ramen!”
***
“Wae geurae? Kenapa kau
suka sekali mengangguku, eoh?” ah… lagi-lagi Hyo Kyo berhasil naik pitam.
Apalagi yang diperbuat Kibum kecuali menatapinya seperti orang yang terhipnotis
saja.
“Apa aku menggagumu
hanya dengan menatapi kecantikanmu, eoh?” Kibum malah balik bertanya. Ia tersenyum
begitu melihat rona merah di wajah Hyo Kyo. Ia pasti malu dipuji Kibum seperti
itu.
“Ahjumma!” hai! Tak
jemu-jemunya Kibum mengusiknya.
“Wae?” Tanya Hyo Kyo
kesal.
“Kenapa kau mengambil
les Bahasa Jepang. Kau itu sudah tua, tahu!”
“Seenaknya saja kau
bicara! Aku ini baru 27 tahun, tahu! Lagipula kenapa kau terus menggunakan banmal padaku,
hah?! Apa aku ini temanmu?!” protes Hyo Kyo
tak terima.
“Itu sudah tua buatku. Masalah aku
menggunakan banmal atau tidak, bukankah itu terserahku?”
“Ish…” desis Hyo Kyo
makin kesal.
“Jawab aku!”
“Kenapa kau ingin
tahu?”
“Kau itu pelit sekali!
Dasar ahjumma pelit! Aku kan hanya bertanya!” rajuk Kibum seperti anak kecil.
Hah… apalagi yang harus dilakukan Hyo Kyo selain menjawab pertanyaan Kibum?
Sudah satu minggu ia satu bangku dengan anak ini. Heh… tak bosan-bosannya bocah
ini mengaggunya!
“Aku akan pergi ke
Jepang.”
“Mwo? Jepang? Wae?”
“Wae, mwoya?”
“Kenapa harus pergi ke
Jepang? Untuk apa kau pergi ke sana?!”
“Ya! Neon nuguya? Apa
urusannya denganmu aku pergi ke Jepang atau tidak, hah?” hey, benar, bukan? Kim
Kibum, siapa kau? Tak ada urusanya denganmu Hyo Kyo mau pergi kemana saja, kan?
“Aku kan hanya
bertanya!” dalih Kibum.
Hyo Kyo tersenyum
melihat wajah Kibum yang seolah menutupi sesuatu. “Wae? Kau takut merindukanku?”
selidiknya. Kibum malah menatapnya dengan wajah menggemaskan. Ah… rasanya ingin
sekali Hyo Kyo mencubit kedua pipinya yang imut benar itu!
“Geureomyeon! Tentu
saja aku akan merindukanmu!”
“Mwo?” hey, bicara apa
barusan anak ini? Benarkah yang dikatakannya barusan?
Belum sempat Hyo Kyo
menanyainya lebih jauh, si tutor Jepang sudah datang. Ah... ya sudahlah.
Mungkin anak ini hanya bercanda, fikir Hyo Kyo.
***
“Ahjumma, mau
menemaniku ke toko buku?” Kibum berhasil menghentikan langkah Hyo Kyo. Mereka
baru saja selesai dengan les Bahasa Jepang mereka. Tak ada lagi yang ada di
sana kecuali mereka. Hyo Kyo yang celingukan tentu saja membuat Kibum bingung.
“Kau mencari siapa?”
tanyanya.
“Kau mengajakku?” Hyo
Kyo malah balik bertanya.
“Geureomyeon! Memangnya
ada siapa lagi di sini? Lagipula tak ada orang lain yang kupanggil Ahjumma
kecuali kau dan pembantuku di rumah,” jawab Kibum sambil nyengir. Ah, sial!
Jadi Hyo Kyo disamakan dengan pembantu rumah tangga?
“Kenapa kau
mengajakku?”
“Karena aku tak punya
teman,” jawab Kibum cepat. Tapi, hey… ekspresinya berubah kembali? Ia dengan
cepat merubah wajahnya itu menjadi murung. Salahkah jika hati Hyo Kyo
bertanya-tanya ada apa dengan kehidupan anak ini sebenarnya?
“Ah… arasseo! Aku bisa
sekalian belanja,” akhirnya Hyo Kyo menerima ajakannya. Dan ia pun berhasil
mengembalikan wajah ceria Kibum seperti biasa.
“Oh, jinjja? Ahjumma
benar-benar mau menemaniku?” ah, lihatlah! Bahkan ia berubah seratus delapan
puluh derajat dalam waktu singkat! Bahkan ia sempat melonjak kegirangan
mendengar persetujuan Hyo Kyo. Kau lebih
manis saat tersenyum Kim Kibum, Hyo Kyo membatin.
***
Di toko buku, Kibum tak
henti-hentinya mencuri pandang ke arah Hyo Kyo. Lewat sela-sela rak buku, ia
bisa dengan jelas melihat Hyo Kyo yang tengah membaca cover novel di seberang
sana. Wajahnya yang terlihat tenang dan sesekali menunjukkan ekspresi yang
berubah-ubah membuat senyum Kibum tak henti untuk tersungging. Dan, hup! Begitu
Hyo Kyo menoleh ke arahnya, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke buku di
tangannya. Kelakuannya itu hanya ditanggapi senyum tipis dan gelengan kepala
dari Hyo Kyo.
“Sudah ketemu buku yang
kau cari?” tanya Hyo Kyo begitu mendekati Kibum.
“Hem… aku ketinggalan
banyak chapter,” jawab Kibum. Hyo Kyo terlihat mengerutkan keningnya. Bukankah
itu jawaban yang tidak tepat.
Ditengoknya tangan
Kibum. Ya Tuhan! Setumpuk buku komic, ada sekitar sepuluh buku sudah ada di tas
plastik yang entah darimana Kibum mendapatkannya. “Kau ke sini mengajakku hanya
untuk membeli buku yang tidak berguna itu?” protes Hyo Kyo.
“Siapa bilang buku ini
tidak berguna? Aku bisa menyesal jika melewatkan satu chapter sekali pun!”
“Apa gunanya kau
membeli buku-buku seperti itu, eoh?”
“Komic ini,
mengajarkanku bagaimana sebuah pertemanan dan keluarga yang sesungguhnya
terbentuk. Sangat menyentuh,” jelas Kibum sambil tersenyum. Ah… teman dan
keluarga? Betapa kurangnyakah bocah ini dengan dua kata itu?
“Ayo kita ke kasir!”
ajak Kibum masih dengan senyumannya. Hyo Kyo tak langsung menyambutnya. Ia
masih bingung dengan bocah berkulit salju itu. Tapi tak lama, ia menyusulnya
juga.
***
Cukup berjalan kaki.
Selain untuk menghemat uang saku, jalan juga tak begitu jauh dari rumah mereka
berdua. Lagipula, tak ada lagi yang akan dikerjakan oleh keduanya. Hyo Kyo
sudah selesai dengan pekerjaannya siang tadi. Dan di Seoul, oh, dia hanya hidup
seorang diri. Sedangkan Kibum, rasanya di rumah atau di jalanan seperti ini,
sama saja baginya. Tapi malam ini, dan malam-malam sebelumnya, semenjak ia
bertemu dengan Hyo Kyo, paling tidak ada yang menemani jalannya. Meski sebelum
ini, ia yang memaksa mengikuti Hyo Kyo dari belakang.
“Appaku sangat kaya
raya. Dalam otaknya hanya bisnis yang ada,” Kibum memulai ceritanya tanpa
diminta. Hyo Kyo sempat menoleh sesaat padanya. Yah, ini sebenarnya yang ia
inginkan. Ia sudah terlanjur penasaran dengan kehidupan seorang Kim Kibum.
“Dia sering pergi ke
luar negeri, dan jarang sekali ada di rumah. Yang menemaniku di rumah hanya
ahjumma pembantu di rumah kami. Dalam satu tahun, bisa kuhitung dengan jari
berapa kali aku bertemu dengannya. Bahkan, kalau aku tidak melihat fotonya di
kamarku, aku sudah lupa dengan wajahnya sekarang. Hh…” Kibum tersenyum kecut.
Kenyataan hidupnya yang sepi, padahal masih ada keluarga dalam hidupnya,
benar-benar miris.
“Eomma…”
“Dia sudah meninggal,”
jawab Kibum sebelum Hyo Kyo selesai melontarkan pertanyaannya.
“Oh, mianhae…” ucap Hyo
Kyo merasa tak enak.
“Gwaenchana. Memang itu
yang terjadi,” balas Kibum. Wajahnya masih memahat senyum. Tapi bukan senyum
manis yang biasa dilihat Hyo Kyo. Melainkan senyum ketir menahan kenyataan
pahit hidup.
“Aku tak punya teman
untuk cerita apapun di hidupku. Temanku di sekolah banyak, tapi tak ada yang
tulus. Yang mereka harapkan dariku hanya uang. Tidak lebih,” Kibum melanjutkan
ceritanya. Ah, jadi itukah kenapa ia bertingkah seperti anak kecil dan selalu
murung jika disinggung masalah teman dan keluarga? Kim Kibum kurang perhatian
dan cinta. Begitukah?
“Ahjumma!” oh, hampir
saja Hyo Kyo melonjak kaget mendengar panggilan Kibum yang tiba-tiba.
“Wae?” Tanya Hyo Kyo
sedikit kesal.
“Karena aku tak punya
teman cerita, bolehkah aku bercerita padamu?”
Hyo Kyo tak lekas
menjawab. Dipandanginya dulu wajah Kibum. “Tentang apa?” tanyanya kemudian.
“Aku akan cerita…”
Kibum mengalihkan pandangannya ke langit malam yang tanpa bintang. Ia
tersenyum, senyuman semula. Senyuman remaja SMA yang begitu manis dan terlihat
polos.
“Cinta pertamaku,” sambungnya kemudian.
“Cinta pertamaku,” sambungnya kemudian.
Hyo Kyo tersenyum.
Sepertinya anak ini sudah menganggap dirinya begitu dekat. Tak banyak anak SMA
yang mau cerita masalah cinta pertama. Apalagi Hyo Kyo hanyalah orang lain yang
baru dikenalnya satu minggu. “Ara! Ceritalah!” tanggap Hyo Kyo ikut tersenyum.
“Dengarkan dengan baik,
eoh?” tegas Kibum. “Aku mengenal seseorang, yang begitu aneh. Pertama kali
bertemu, dia dalam keadaan kacau. Dia suka sekali marah-marah, padahal tak
jelas apa salahku,” Kibum mulai bercerita. Hyo Kyo menjadi pendengar yang baik
dengan hanya diam mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kibum.
“Dia… cantik. Senyumnya
indah, seperti bulan sabit. Saat dia marah… kurasa aku harus kabur darinya.
Sangat mengerikan, sama seperti bijuu
(monster dalam anime komic Naruto). Aku bertemu dengannya di tempat les. Saat
itu dia sedang tidur, dan aku mengganggunya hingga ia terbangun dan berteriak
ke arahku.”
Tap…
Hyo Kyo menghentikan langkahnya. Ada sesuatu yang ia tahu. Sepertinya ia tahu
siapa yang dimaksud Kibum sebenarnya.
Sadar Hyo Kyo sudah tak
ada di sampingnya, Kibum berbalik. Ia tersenyum melihat Hyo Kyo melemparinya
tatapan tak percaya. “Eoh… Geurae. Ahjumma, neorago. Cinta pertamaku,” yak!
Kibum menyuarakan isi hati Hyo Kyo. “Eotte?”
Hyo Kyo masih diam.
Cukup lama. Begitu sebuah bus berhenti di halte di dekat mereka, barulah ia
mendecak tak percaya. “Hh… jangan bercanda denganku! Itu sama sekali tidak
lucu!” sentaknya.
Kibum hanya melongo
melihatnya bergegas pergi duluan. Tunggu! Apa dia marah?
“Ya, ahjumma! Eoddiga?”
teriakan Kibum bahkan tak digubris sama
sekali oleh Hyo Kyo. “Apa aku salah bicara? Nan jinjja neol johahae!” satu lagi
teriakan Kibum yang diacuhkan Hyo Kyo. “Apa-apaan itu? Hh…” Kibum mendecak tak
percaya. Itukah tanggapan dari pernyataan cintanya yang pertama?
***
Sudah tiga hari Hyo Kyo
tak datang ke tempat les. Awalnya Kibum mengira ia marah dengannya. Tapi
setelah ia bertanya pada tutor les mereka, ternyata Hyo Kyo sudah keluar dari
sana. Wah! Seberapa marahkahnya dia
sampai keluar dari sini? Fikir Kibum masih sama. Dengan berbagai usaha,
akhirnya Kibum tahu dimana alamat tempat kerjanya. Hey, ia sudah tahu dimana
rumah Hyo Kyo. Mereka sudah sering pulang bersama, bukan? Kibum sudah sempat ke
rumahnya dan tak ada siapa-siapa tadi. Satu-satunya tempat yang bisa
dikunjunginya hanya tempat kerjanya.
Sebuah perusahaan Home Shoping yang didatanginya. Masih
lengkap dengan seragam SMA-nya, ia memasuki lobi. Melihat lobi yang begitu
besar tak membuatnya kebingungan mencari pusat informasi. Hey, jangan lupakan
ayahnya yang seorang konglomerat!
“Bisa saya bertemu
dengan ahjumma?” tanyanya pada seorang wanita yang ada di sana.
“Siapa ahujummamu,
itu?” ah, ya benar. Siapa yang mengenal ahjumma yang dimaksudkannya itu?
“Hyo Kyo. Han Hyo Kyo,”
jawab Kibum.
“Dia di bagian apa?”
ah, kenapa wanita ini bertanya lagi.
“Mollayo,” tentu saja
Kibum tak tahu. Ia tak pernah menanyakan itu pada Hyo Kyo.
“Kau tak tahu ahjummamu
bekerja di bagian apa?” Tanya wanita itu lagi. Gelengan super polos yang
diberikan Kibum. Bahkan tak dipertimbangkannya tatapan curiga dari wanita itu.
Menganggapnya hanya bocah SMA yang salah masuk tempat.
Tapi ia sepertinya tak
perlu bertanya lagi. Orang yang dicarinya sudah berjalan melewati lobi dengan
kardus cukup besar di tangannya.
“Ahjumma!” panggilnya
seraya berlari ke arah Hyo Kyo. “Kenapa kau tak pergi ke tempat les?” Tanya
Kibum begitu ia sudah tepat di depan Hyo Kyo.
“Oh, Kim Kibum!
Kebetulan kau datang! Ayo, bantu aku membawa ini!” dengan seenaknya sendiri Hyo
Kyo memberikan kardus itu kepada Kibum. Kibum hampir-hampir saja
menjatuhkannya. Berat sekali.
“Ige mwoya?”
“Barang-barangku,”
jawab Hyo Kyo singkat.
“Mau dibawa kemana?”
“Taksi di depan.”
“Untuk apa?”
“Aku berhenti dari
sini. Dua hari lagi aku akan pergi ke Jepang.” Mendengar penjelas itu, mata
Kibum membelalak besar.
“Mwo?!” sentaknya tak
percaya. Dan Bruk! Ditaruhnya kardus
itu di lantai.
“Apa yang kau lakukan,
hah?” Tanya Hyo Kyo heran.
“Bisa-bisanya kau akan
pergi setelah mengabaikanku?!” teriak Kibum kesal. Hyo Kyo malah heran sendiri
dengan tingkahnya.
“Ka, kau itu kenapa,
hah?”
“Kukira kau marah.
Betapa sulitnya aku bertemu denganmu. Aku bahkan bolos sekolah hanya untuk
mencarimu, tapi tak ketemu. Sekarang saat aku bertemu denganmu, kau bilang kau
akan pergi? Seenaknya sendiri!” cerocos Kibum panjang lebar.
“Ya, wae geurae?
Bukankah sudah kukatakan kalau aku akan pergi ke Jepang waktu itu? Lagipula apa
urusannya denganmu, eoh?”
“Lalu bagaiamana dengan
perasaanku, eoh?!” teriak Kibum tak kalah kencangnya.
“Mwo?” tanya Hyo Kyo
tak percaya.
“Teganya kau
menggantungkan anak SMA?!” teriakan Kibum berhasil membuat orang-orang yang
lewat memandangi Hyo Kyo tak percaya.
“Ya, kau mau
mempermalukanku?” tanya Hyo Kyo setengah berbisik. Bukankah ia baru saja
dipermalukan?
“Sudah kukatakan
padamu, ini cinta pertamaku. Kau bukannya menjawab iya apa tidak, kau malah
pergi begitu saja malam itu. Pergi tanpa kabar, bahkan aku tak punya nomor
telfonmu! Apa kau fikir aku bercanda soal perasaanku, hah? Nan neol jinjja
saranghanda!!!” nafas Kibum tersengal. Kedua matanya berkaca-kaca menahan air
yang hendak melompat keluar. Bibirnya bergetar mengakhiri kata-katanya.
Hyo Kyo hanya
menatapnya. Jadi benar bocah ini jatuh cinta padanya? Ya, ia berfikir saat itu
Kibum hanya bercanda. Tapi, melihat ekspresi itu, Hyo Kyo kini yakin bahwa dia
benar-benar mempunyai rasa terhadapnya.
“Kibum~a… apa kau
sadar… berapa jarak usia kita?” Hyo Kyo mencoba memberi pengertian.
“Persetan dengan umur!
Apa tak boleh anak SMA jatuh cinta dengan wanita dua puluh tujuh tahun, eoh?!”
Hyo Kyo terdiam. Oh,
salahkanyakah membiarkan bocah ini terlalu lama bersamanya? Salahnyakah membuat
bocah ini merasa nyaman di dekatnya? Dan bahkan kini bocah ini mencintainya.
“Kibum~a…” rasanya tak
kuat Hyo Kyo mengutarakan kebenarannya. “Kau tahu apa alasanku ke Jepang?” dia
malah bertanya?
Tapi tanpa menunggu
jawaban dari Kibum, ia melanjutkannya. Meski berat hati sebenarnya. “Aku...
akan menikah. Dengan orang Jepang.”
Blaarr!!!
Seolah disambar petir dahsyat. Setitik perih perlahan berkembang di hati Kibum.
Perih, dan sakit rasanya. Kenyataan yang begitu menyakitkan hingga ia
mematahkan hatinya. Pertama kali ia jatuh cinta, dan pertama kalinya juga kini
ia merasakan sakitnya patah hati. Inikah rasanya? Seolah dunia sudah tak
mengambang lagi di ruang angkasa. Terjun bebas entah kemana.
Dengan mulut tercekat,
dan air mata yang berhasil melompat keluar, Kibum berbalik. Perlahan, meski
dengan langkah gontai, ia melangkah pergi. Telinganya seolah tertutup tak mampu
mendengar panggilan Hyo Kyo padanya. Hatinya sudah remuk. Ia sudah tak tahu
harus bagaimana lagi. Yang bisa dilakukannya hanya menggerakkan kakinya sejauh
mungkin dari sana.
***
Tinggal besok Hyo Kyo
berangkat. Semua sudah diurus, tapi hatinya benar-benar tak nyaman. Yah, ia
masih terfikirkan Kim Kibum. Bisa dilihatnya wajah hancur Kibum saat ia pergi
waktu itu. Apa ia sudah melakukan kesalahan mengatakan kebenarannya pada Kibum?
Ah, entahlah.
Ting…tong…
seseorang membunyikan bel rumahnya. Dengan lesu, Hyo Kyo berdiri dan pergi ke
depan untuk membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, mata Hyo Kyo membalak besar.
“Kibum~a!” ah, ya
benar. Kibum sudah ada di sana. Tapi Kibum yang manis benar-benar terlihat
hancur. Rambutnya yang biasanya rapih dan membingkai wajah imutnya begitu apik,
kini terlihat acak-acakkan bak sarang burung. Matanya memerah dan ada bekas aliran air mata di kedua pipinya yang putih.
Tubuhnya masih mengenakan seragam sekolahnya. Tapi sepertinya, seragam itu tak
dilepasnya sejak ia bertemu dengan Hyo Kyo waktu itu. Benar-benar lusuh dan
sudah tak berbentuk lagi. Dasinya serampangan dan almamaternya sudah tak
sempurna lagi letaknya.
“Apa yang terjadi
padamu?” Hyo Kyo mencoba meraih tubuh Kibum. Tapi tiba-tiba… Bruk! Kibum berlutut di depannya. Tentu
saja hal itu membuat Hyo Kyo panik bukan main. Berkali-kali ia menyuruh Kibum
bangun, tapi Kibum hanya diam mematung.
“Ahjumma!” panggilnya
kemudian. “Aku mohon… jadilah pacarku sehari saja,” ucapnya lagi.
Hati Hyo Kyo mencelos.
Betapa hancurnya bocah ini mendengar ia yang akan menikah. Ia bisa sehancur ini
mendengar sebuah penolakan?
“Hanya sehari saja… aku
mohon… jadilah pacarku…” Kibum memohon lagi. Bibirnya gemetaran menahan air
mata di matanya. Meski tak berhasil, mengalir lagi air mata itu.
“Ireohnarago!” tak
tahan, Hyo Kyo ikut menangis. Ia mencoba menarik tangan Kibum untuk beridiri.
Tapi Kibum tetap berlutut.
“Hanya sehari… ahjumma…
jebal… hiks…” bahkan ia sampai terisak. Ah, Hyo Kyo tak akan mungkin tega
membiarkannya berlama-lama dalam keadaan seperti itu.
“Arasseo. Aku akan
menjadi pacarmu dalam sehari.”
Secepat kilat, tangis
Kibum berhenti. Didongakkannya kepalanya cepat pula. Menatap wajah Hyo Kyo
sekilas, kemudian beranjak berdiri. “Jinjja?!” tanyanya tak percaya. Nadanya
kembali. Nada periangnya kembali. Bahkan senyumnya kembali meski masih ada
setetes air yang melewati hidung bangirnya.
Hanya sebuah anggukan
kepala dari Hyo Kyo membuat Kibum melonjak kegirangan. Dihapusnya air mata di
pipinya. Dirapihkannya rambut dan seragam sekolahnya. “Kau benar-benar mau?”
Kibum masih mencoba memastikannya. Hyo Kyo tersenyum melihat wajah manis periang
Kibum kembali.
“Eoh.”
“Uwah!!! Daebak!!!”
serunya kegiragan. Ya Tuhan! Bagaimana bisa anak ini berubah secepat itu?
Masih dengan senyumnya,
ia mengulurkan tangan kanannya pada Hyo Kyo. Mengajaknya untuk pergi entah
kemana. Hyo Kyo menyambut uluran itu dengan senyuman juga.
“Izinkan aku
membersihkan tubuhku di pemandian umum nanti ya, ahjumma?” pesannya sambil
melangkah. Hyo Kyo hanya tertawa. Bahkan ia ingat pada tubuhnya yang kotor?
Hanya berjalan-jalan
keliling Seoul. Senyuman Kibum terlihat tak seperti biasanya. Ia terlihat
begitu bahagia bersama Hyo Kyo. Berbagai macam tempat yang romantis mereka
datangi. Benar-benar seperti pasangan lainnya. Kibum hanya berani menggandeng
tangan Hyo Kyo tidak lebih. Lagipula, di dalam otaknya, tak lebih dari sekedar
membawa Hyo Kyo berjalan-jalan. Berfoto bersama di photo box, membeli ice cream, bermain roller coaster, dan
lain-lain. Tidak lebih. Itu sudah membuat hatinya senang bukan main. Meski ia
tahu, kebahagian ini hanya akan berlangsung untuk hari ini saja. Kibum berusaha
melupakan kenyataan itu saat bersamanya.
***
“Jadi… kau akan pergi
besok?” tanya Kibum di ujung hari mereka. Mereka sudah ada di depan rumah Hyo
Kyo sekarang. Hyo Kyo terus saja tersenyum melihat Kibum dengan pakaian santai.
Bukan seragam sekolah seperti biasanya. Ia terlihat begitu tampan dengan baju
itu.
“Eoh…” jawab Hyo Kyo
singkat.
“Kau… akan jadi orang
Jepang, ya?” tanya Kibum lagi.
“Eoh…”
“Tak akan kembali lagi
kemari?”
“Eoh…”
“Tak ingin berkunjung
sama sekali?”
“Aku sudah tak punya keluarga
lagi di sini,” akhirnya lain juga jawaban Hyo Kyo.
“Tak akan
merindukanku?”
“Eoh…” Kibum terdiam.
Jadi benar Hyo Kyo sama sekali tak punya perasaan sedikit pun padanya. Bahkan
setelah hari ini? “Eoh… aku akan benar-benar akan merindukanmu. Bocah SMA yang
mencintaiku.” Senyum Hyo Kyo mengembang.
Dan itu berhasil membuat Kibum juga tersenyum.
“Aku menyedihkan, kan?”
Kibum melontarkan pertanyaan yang membuat Hyo Kyo bingung sendiri. “Pertama
kali aku jatuh cinta, dengan seorang ahjumma. Pertama kali aku menyatakan
cinta, pertama kali itu juga aku patah hati. Dan pertama kali itu pula cintaku
tidak diterima.” Ah… mengapa ekspresi murung itu kembali lagi? Benar-benar tak
enak dipandang!
“Ya! Apa kau sudah
lupa? Aku sudah menjadi pacarmu hari ini. Itu artinya cintamu sudah diterima,
walau hanya satu hari,” ucap Hyo Kyo membuat kepala Kibum mendongak perlahan
demi menyaksikan senyuman bulan sabit kesukaannya.
“Kim Kibum… kau sudah
memberiku hadiah sebelum pergi dari negara tercinta ini. Bila bukan karenamu,
aku pasti tak akan pernah mampu mengelilingi Seoul seperti hari ini. Gomawo…”
sambung Hyo Kyo. Kibum hanya diam. Tak tahu harus bicara apa.
“Sebelum aku pergi… aku
juga ingin memberimu sesuatu.” Hyo Kyo maju perlahan. Hanya beberapa senti
jaraknya dengan Kibum, ia sedikit berjinjit. Meraih bibir Kibum dengan
bibirnya. Beberapa saat lamanya ia berhasil membuat Kibum membatu dalam posisi
itu. Merasakan betapa lembutnya bibir itu di bibirnya. Begitu Hyo Kyo
menyudahinya, ia masih mematung dengan tegang.
“Kuharap… kau
mengingatnya sebagai cerita yang manis. Bukan masa lalu yang pahit,” Hyo Kyo
berpesan sebelum akhirnya ia kembali melontarkan senyumannya. Melihat Kibum
masih tetap diam, ia tertawa pelan. Ya, bukankah itu tadi ciuman pertama Kibum?
“Ka!” usirnya kemudian.
Kibum tersentak. Akhirnya ia tersadar dan salah tingkah yang kemudian menjalari
dirinya.
“Eoh, arasseo. Nan ka.
Hati-hati di perjalan, ahjumma!” pesannya sebelum pergi. Hyo Kyo hanya
mengangguk sebegai jawabannya.
“Nan ka?” Kibum masih
salah tingkah. Begitu berbalik, tangannya bergetar menyentuh bibirnya. Oh,
ciuman pertama! Ia tersenyum senang menyadari kenyataan bahwa ia baru saja
mendapatkannya!
***
“Jeoseonghamnida
seongsaengnim!” seseorang terdengar baru saja memasuki ruangan ini. Kibum tak perduli.
Ia enggan untuk mengangkat kepalanya dari meja. Ia pun tetap acuh saat ia
mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
“Oh… betapa murahnya
biaya les di sini sampai ada yang tertidur, eoh?” suara cempreng seorang wanita
terdengar. Kibum mencoba menutup telinganya.
“Ya, ahjussi! Kalau kau
mau tidur, pulang saja sana! Ya!”
“Mwo? Ahjussi?! Ya! Aku
ini masih SMA!!!” balas Kibum tak terima. Begitu mengangkat kepalanya, tatapan
kematian langsung diberikannya pada wanita berambut pendek di sampingnya itu.
“Hanya ahjussi yang
suka tertidur di mana saja! Itu artinya, kau seorang ahjussi!” balas wanita itu
tak mau kalah.
“Hey, dasar bodoh! Kau
tak lihat aku memakai seragam apa ini, hah?” Kibum menarik kerah almamaternya.
Menunjukkan identitasnya sebagai anak SMA. “Aku masih SMA!!! Kau itu yang anak
SMA tapi berwajah ahjumma!!!”
“Kalau begitu jangan
tidur di sini!”
“Siapa yang tidur,
hah?!”
“Ehem…” Kibum dan gadis
itu menoleh serempak ke arah tutor di depan.
“Bisa kita lanjutkan
pelajarannya?” sambung tutor itu lagi. Kibum baru sadar bahwa semua orang sudah
memperhatikan mereka berdua dengan tatapan aneh. Akhirnya Kibum hanya bisa
menundukkan kepalanya berulang kali meminta maaf dan menutupi rasa malunya.
Tapi gadis itu, ia malah tersenyum dan mengambil tempat duduk di samping Kibum.
“Sialan! Awas kau nanti, dasar ahjumma SMA
menyebalkan!”
...END…

No comments:
Post a Comment