Keluar dari kamar
Sandi, Derwan menghela nafasnya. Kepalanya menggeleng lemah saat Army bertanya
padanya, “Gimana?”
“Dia bener-bener udah
pulang duluan. Petugas villa dapet pesen dari dia, katanya kita boleh tinggal
selama yang kita mau,” jelas Derwan lagi. Gantian Army yang menghela nafasnya.
Sementara Derwan mencoba mengontak Sandi lagi, ia menatap Falin yang hanya
duduk di atas sofa. Bagaimana cara menggambarkan ekspresi bocah itu sekarang?
Ia hanya menatap layar ponselnya. Tapi Army yakin, ia tidak benar-benar fokus
dengan benda itu. Setelah pertengkarannya dengan Sandi semalam, Falin jadi
pendiam sekali. Wajah cerianya yang biasanya selalu nyantol di sana sama
sekali tidak ada.
Kebetulan malam tadi
Army baru pulang. Setelah berjalan sendiri di pantai, mencoba memasukkan
kenyataan bahwa ia tak akan bisa bermain gitar lagi ke otaknya. Meski sulit,
tapi tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah. Tapi begitu kembali ke
villa, malah Falin dan Sandi mendebatkan musibah yang ia alami.
“Elo keterlaluan, Say!
Seharusnya elo lihat dulu apa yang terjadi! Jangan asal main pukul gitu aja!”
teriakan Falin yang pertama kali ia dengar.
“Iya… gue tahu gue
salah. Berapa kali gue harus bilang ke elo kalo gue bener-bener enggak
bermaksud buat dia kayak gitu?” Sandi masih mencoba menekan emosinya.
“Elo itu… elo lihat
sekarang Army udah enggak bisa main gitar lagi! Elo… elo itu kenapa sih, Say?”
“Lin… please!
Udah, ya?”
“Udah? Hah?! Udah? Elo
pikir gimana perasaan Army sekarang?”
“Elo sendiri mikirin
perasaan gue enggak?!” akhirnya Sandi tak bisa mengontrol lagi emosinya.
“Apa?”
“Elo nyuruh gue
mikirin gimana perasaan Army? Elo sendiri… elo sendiri apa pernah mikirin
gimana perasaan gue tiap ngeliat kedeketan elo sama Army yang keterlaluan itu,
hah?”
“Loh?! Kenapa elo
sewot gue deket sama siapa? Masalahnya buat elo apaan?”
Sandi mendengus kesal.
Digigitnya bibir bawahnya sendiri demi menahan emosinya memuncak lebih tinggi
lagi. Setelah melempar pandangannya ke sembarang tempat, ia kembali menatap
wajah Falin yang masih memberinya seribu pertanyaan tentang pertanyaan yang
baru saja ia ajukan. Ada rasa tak percaya di wajah Sandi kalau Falin
benar-benar tak mengerti maksudnya. Gue cemburu, Lin! Hatinya menjerit.
“Jujur sama gue!”
pintanya tegas. “Elo… apa elo suka sama Army?” tanyanya lirih, tapi jelas
begitu tajam. Sebenarnya ia tak ingin menanyakan ini. Ia takut hatinya akan
terasa sakit jika mendengar jawaban dari Falin nantinya. Tapi sudahlah. Toh,
bibirnya sudah mengatakannya. Ia hanya perlu menunggu, jawaban apa yang akan
diberikan Falin padanya.
“Kenapa emangnya?”
“Jawab aja!”
“Kenapa emangnya kalau
gue suka sama Army. Masalah buat elo?” deg! Tak hanya Sandi, bahkan Army
pun benar-benar terkejut dengan jawaban itu. Tapi bagaimana rasa yang ada di
hati Army jelas tak sama dengan apa yang ada di hati Sandi. Ia merasakannya. Ternyata
rasa sakitnya jauh dari perkiraan Sandi. Sakit itu benar-benar keterlaluan.
Hanya jawaban seperti ini, tapi Sandi merasa hatinya hampir robek. Atau malah
sudah robek? Entahlah. Tapi yang jelas ia cukup puas dengan pertengkaran itu.
Jawaban tadi menjadi akhir dari percekcokan mereka malam tadi. Hingga Sandi
memilih mengunci diri di kamarnya sampai pagi tadi. Satu orang pun tak ada yang
tahu kapan tepatnya Sandi meninggalkan pulau Bali. Bahkan sampai sekarang bocah
itu sama sekali tak bisa dihubungi.
“Aduh, San, San!”
rutuk Derwan sebal sendiri. Army memilih diam. Meski otaknya terus berputar
mencari cara bagaimana harusnya ia mengambil sikap untuk menghadapi Falin dan
Sandi ke depannya.
***
Satu bulan berlalu,
Sandi dan Falin benar-benar lepas kontak. Mereka berdua kini perang dingin.
Bahkan siaran di Korek Ati juga jadi korban. Tak ada Army. Sandi kembali
menjadi DJ. Radio harus tetap berjalan meski hubungan mereka berempat
sedang kacau sekarang. Miris. Jelas yang paling merasa dirugikan adalah Derwan.
Ia terpaksa menjadi penengah. Netral lebih baik untuknya. Kalaupun suatu saat
nanti perang dingin ini tetap berlanjut, ia harus menyiapkan dirinya untuk
menjadi perantara komunikasi di antara tiga orang itu.
Sikap Sandi ke Derwan
sebenarnya biasa saja. Malah Sandi bersikap seolah tak ada yang terjadi. Ia
berusaha sebisa mungkin menghidupkan situasi seperti sebelumnya. Meski tanpa
Falin, ia ingin tetap gila bila bersama Derwan. Tapi Derwan yang tahu
semuanya jelas tak akan bisa bersikap biasa. Namun sayangnya ia tak pernah
mampu menanyakan bagaimana perasaan Sandi sebenarnya sekarang. Bukan karena ia
takut. Hanya saja, ia sudah lebih dulu tahu bagaimana hati sahabatnya ini
sedang dirundung pilu. Terus berkutat dalam kepura-puraan senyum dan tawa. Elo
enggak bisa bohongin perasaan elo sendiri, San, gumam hatinya melihat Sandi
menghabiskan martabak telor dengan lahapnya.
“Tadi gue ketemu
Army,” kata Derwan tiba-tiba membuat Sandi terdiam seketika. Hanya lima detik,
hingga Sandi memilih kembali tersenyum.
“Oh, ya?”
“Dia bilang elo enggak
pulang ke rumah. Elo tinggal di mana?”
“Gue tempat si Bimo.
Banyak tugas yang numpuk. Elo kan tahu Bimo lebih pinter dari gue. Dia
satu-satunya yang bisa bantuin gue ngerjain laporan setumpuk itu. Kalo elo ketemu
dia lagi, bilangin sorry, ya? Gue belum sempet ngabarin ke dia. Pasti enggak
enak tinggal di tempat orang lain yang orangnya enggak ada di rumahnya
sendiri.”
Derwan diam. Ingin
menyaksikan lebih lama lagi bagaimana acting sahabatnya ini tetap
berlanjut. Lama-lama ia geram sendiri. Kalau saja ia sedang emosi, mungkin ia
sudah meninju wajah ini.
“Army enggak papa, San.”
“Ha?” kali ini Sandi
mendongak. Membalas tatapa Derwan padanya.
“Dia berusaha cari
mimpi yang lain. Gue tahu bukan cuma itu yang ganggu hati elo sekarang. Tapi
seenggaknya, elo kurangin beban rasa bersalah elo itu ke Army.” Mendengar
kata-kata ini, Sandi tak jadi mengambil martabak telor terakhir. Tangannya
kembali menaruhnya ke dalam kotak. Lantas ia berdiri. Mungkin bermaksud pergi
dari sana karena ia mulai tak suka dengan arah pembicaraan ini.
Sebelum ia benar-benar
pergi, ia mengucap kalimat yang membuat Derwan sulit untuk menerjemahkannya.
“Elo enggak ngerti, Wan. Elo ataupun Falin, kalian berdua sama-sama enggak
ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Enggak ngerti.”
Apa maksudnya?
***
Semester baru, rasanya
semuanya serba baru. Tas baru, sepatu baru, baju baru, rambut baru, pacar
seharusnya baru juga, dong. (Enggak punya pacar -_- )
Tapi entah kenapa
sesuatu yang baru dari Falin sama sekali tak disukai Tria. Bukan baju, bukan
pula tas, termasuk bukan juga sepatu, boro-boro pacar. Melainkan wajah mrengut
yang rasanya jarang sekali nangkring di wajah itu. Satu bulan ini, libur
sih memang… tapi Tria kan rumahnya tak jauh-jauh amat dari Falin. Bocah ini tak
seceria biasanya. Malah tak pernah sama sekali. Jangankan ketawa ngakak, gila,
dan nyerocos abis seperti biasanya, senyum aja tidak! Setiap kali ditanya, “Elo
kenapa sih, Mi?” jawabannya selalu, “Enggak papa.” Padahal maksudnya kan,
“Enggak penting juga gue cerita ke elo.”
Alhasil bau harum
semester baru harus sirna karena kesendiran Tria menjalani setiap langkah
seorang diri tanpa ditemani seorang Falin (Lebay lu!) bukan karena itu, sih.
Cuma, rasanya aneh saja begitu melihat sikap Falin yang mendadak jadi sok
pendiam. Awal masuk kuliah itu malah ia mengira Falin kena demam, atau penyakit
yang lebih parah lagi. Ayanan semisal (Yaelah -_- )
Tapi bukan Tria
namanya kalau rela didiamkan super lama seperti ini. Ibarat hewan itu, kadar
kelamaannya sudah seperti siput yang lagi bawa-bawa batu bata satu truk. Itu
pun kalau si siput enggak cemet duluan karena batu bata itu. Oke!
Focus!
Ia beranjak, berdiri
dan bergegas mendekati Falin di bangkunya. Tapi baru saja hendak membuka
bibirnya, Falin malah tiba-tiba berdiri. “What?!” teriaknya cukup kencang.
Membuat Tria mundur sejengkal, saking kagetnya. Falin rusuh, mendorongnya
seenak dengkul sampai ia mendarat di antara kursi-kursi kosong mahasiswa. Ia
melongo, ditinggal Falin tanpa sempat berujar sepatah kata pun.
Lalu ke mana Falin? Ia
masih berlari. Entah sms dari siapa hingga membuatnya lari pontang-panting
sampai ke depan Fakultas. Belum juga sampai, tapi tampilan bling-bling
dari tante-tante yang baru saja turun dari mobil warna merah jreng sudah
ada di sana. Tante itu melepas kacamata hitamnya yang berbentuk bintang.
Matanya yang sudah dibubuhi sarang burung, eh… bulu mata palsu
maksudnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Debu saja bahkan tak sempat
berniat menyapa wajahnya yang tebal dengan bedak kuning. Selena Gomez lewat!
“Tante!” panggilan
Falin berhasil membuatnya berbalik. Bibir merahnya tersenyum cemerlang. Mirip
iklan pasta gigi yang merknya tak boleh disebutkan. Tit… Sensor.
Sampai di depan tante
ini Falin jelas terengah-engah. Tapi sang tante langsung ambil tindakan.
Darimana datangnya minuman di tangannya saya juga tidak tahu. Yang jelas, Falin
langsung menyambarnya begitu orange juice botolan itu disodorkan tepat
di depan jidatnya.
“Makasih, Tan,”
ujarnya. Lumayan, setengah ngos-ngosannya hilang.
“Ya ampun, Fahmi!
Tante kangen banget sama kamu! Kok kamu makin cantik aja sih, Sayang?” ujar
perempuan setengah tua ini. (Apa maksud dari kalimat ini? -_- ) Ada yang
bisa menebaknya? Tante super bling-bling ini tidak lain dan tidak bukan
adalah mamanya Sandi. Oh, iya. Bahkan penulis sampai lupa menyebutkan namanya
di awal-awal, kan? Mama Sandi namanya Shiren Sungkar! Plak! Elu
percaya? Jelas kagak! Bukan, bukan! Namanya adalah Santi Adrian, dan untuk
Papa super kaya itu namanya Rangga Yahya. So, kalian mengerti sekarang
kan kenapa nama belakang Sandi itu Yahya, bukannya Paijo, atau Paimen. Karena
kenyataannya Sandi bukan anak dari dua orang pemilik nama orang desa itu. Sandi: Please,
deh! Gue dari kota, coy! (Dan lu kira elu bangga? -_- )
“Eh, iya, Tante,” ujar
Falin sambil susah payah melepaskan pelukan yang dirasanya sudah keterlaluan
ini. “Tante ngapain ke sini? Nyariin Say… eh, Sandi, ya?” Falin hampir saja
keceplosan memanggil Sandi seperti biasa. Takutnya si tante bakalan bingung
nanti. Yah… walaupun sebenarnya mamanya Sandi juga sudah tahu sih sebutan ini.
“Loh, Tante kan sms
kamu. Ya berarti Tante nyariinnya kamu, dong.”
“Oh, gitu ya, Tante?
Eh… ada apa ya, Tante?”
“Itu…”
“Ma!” teriak seseorang
tiba-tiba. Reflek, Falin ataupun si tante, alias sang mama menoleh ke sumber
suara. Itu Sandi yang datang. Awalnya ia berusaha bergegas menghampiri mamanya.
Tapi begitu melihat Falin ada di sana, ia berhenti sebentar. Lantas
memperlambat langkahnya. Falin pun sama. Ia tiba-tiba diam, bingung bagaimana
harus bersikap. Demi mengalihkan perhatiannya, hal konyol yang ia lakukan
adalah mengikat tali sepatunya yang sebenarnya tidak lepas.
Sandi sampai. Tepat
berdiri di samping Falin yang masih berjongkok. Ia sempat menengok gadis ini,
barulah mamanya yang ia interogasi. “Mama ngapain ke sini?” tanyanya sedikit
protes. Yah… bukan hanya protes karena kedatangannya yang tiba-tiba juga, sih.
Tapi karena ternyata yang dipanggil ke sini bukan hanya Sandi saja. Tapi sampai
membawa-bawa Falin segala.
Falin selesai dengan
tali sepatunya. Ia berdiri, tentu saja dengan kecanggungannya. Ia sama sekali
tak berani menatap Sandi yang hanya berjarak beberapa senti saja dari tempatnya
berdiri.
“Nah, udah dateng kan
dua-duanya. Sekarang ikut, ya?”
“Ikut?” tanya Falin
bingung.
“Mau ke mana, Ma?”
wajah Sandi nampak kesal.
“Makan siang. Kalian
pasti belum makan, kan?”
“U, udah kok, Tan.
Tante sama Sandi aja, ya? Falin masih ada kelas soalnya,” jawab Falin. Matanya
sempat melirik Sandi, mencoba mencari bantuan. Mana mungkin bisa pergi bersama
dalam keadaan canggung begini?
“Nanti Tante balikin
kamu sebelum jam kuliah kamu mulai. Udah, ayok!” grep! Mamanya Sandi tak
terima tolakan lebih lanjut. Dengan seenak baju bling-blingnya itu ia menggeret
tangan Sandi dan Falin begitu saja. Falin sempat kebingungan. Syukur Sandi
berhasil menghentikan mamanya ini dengan melepas geretan di tangannya itu
dengan paksa.
“Ma! Udahlah! Sandi
enggak laper!” tegas Sandi. Tapi mamanya berhasil memasang wajah memelas. Sandi
benar-benar tak tahan melihatnya seperti itu. Walaupun keberatan, tapi akhirnya
dia masuk juga ke mobil. Tentu saja di depan. Nah, sesudah Sandi masuk, senyum
kemenangan langsung muncul di wajah glamornya itu. Terpaksa, Falin pun ikut juga
masuk ke mobil.
Di dalam mobil, Sandi
hanya diam saja. Hanya Falin dan mamanya saja yang berceloteh ria. Wajahnya
terus berpaling ke luar jendela. Tentu saja Falin yang melihatnya sedikit
kecewa. Satu pertanyaannya, apakah Sandi benar-benar marah padanya?
Mobil merah itu
membawa mereka ke sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari kampus. Sandi
hanya memesan milkshake strawberry. Dia sedang tidak punya nafsu makan
sekarang. Itu pun hanya diaduk-aduknya dan paling cuma dua atau tiga kali
sedotan. Sedangkan Falin yang duduk di sampingnya spaghetti. Padahal
tadinya dia juga mau pesan minum saja. Tapi jelas tante ini tak akan
mengizinkannya. Alhasil, dia pun harus memakannya. Kan enggak lucu kalau
dia cuma mengaduk-aduk mienya seperti Sandi yang terus mengaduk-aduk milkshake-nya.
“Kalian ini lagi
berantem, ya?” tebak Mama terlanjur benar. Mereka berdua cukup terkejut
mendengarnya. Tapi Sandi bereaksi cukup datar. Meski ia bereaksi dengan
mengangkat kepalanya, tapi ia hanya melirik Falin yang mendelik sebentar.
Setelah itu ia membiarkan Falin untuk menjawab pertanyaan itu.
“E, enggak kok, Tan.
Iya kan, San?” disikutnya lengan Sandi. Tapi Sandi tak menyahut. Ia benar-benar
tak bernafsu dengan percakapan ini. Juga tak tertarik untuk berakting seolah
tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
“Ehm… bohong! Kalian
aja dari tadi enggak cekcok kayak biasanya. Padahal kan biasanya kalo Tante
ajak kalian pergi gini pasti ada aja yang diributin.”
“Kebetulan lagi enggak
ada bahan buat diributin, Tan. Hehe…” Falin tertawa kikuk.
“Ah… terserah, deh!
Tante enggak mau ikut campur masalah
kalian. Yang penting, berantemnya jangan lama-lama, ya?” ujar Mama. Falin
membalasnya dengan senyuman tipis. Walaupun itu yang diinginkannya, tapi
rasanya tak mungkin. Ia terlalu takut untuk menegor Sandi, apalagi minta maaf.
Lagipula, dia juga merasa kalau Sandi juga masih bersalah dalam hal ini. Tak
punya kepekaan yang banyak untuk tahu perasaan Sandi sebenarnya padanya.
“Oh, iya. Kemarin
Tante ketemu sama mama kamu lo, Mi,” tambah mama lagi.
“Oh, iya, Tan?”
“Iya. Kemarin, Tante
ngobrol banyak gitu sama mama kamu. Oh, iya. Dan kami juga udah putusin,
setelah kalian lulus, kita bakalan ngadain pesta pertunangan.”
“Uhuk! Uhuk!” tiba-tiba Falin tersedak mendengar info
terbaru barusan. Sandi menyodorkan air putih padanya. Ia cukup terkejut memang.
Tapi rasanya tak ada waktu untuk terkejut sekarang. Lagipula kerongkongannya
sedang sakit sekarang. Ditenggaknya air itu cepat-cepat. “Tu, tunangan?!”
barulah setelah itu ia menanggapi info tadi.
“Iya. Nah… setelah
satu tahun, baru kalian bisa menikah.”
“Me, menikah?!”
“Ma!” Sandi mencoba
protes. Tapi mamanya malah bingung melihat reaksi mereka.
“Loh, kenapa? Apa
kalian mau menikah langsung setelah lulus kuliah?”
“Eh?!” Falin makin
terkejut. Bisa-bisanya orang ini menyebut kata-kata menikah semudah itu? “Ta,
tapi, Tan. Ke, kenapa…”
“Jangan seenaknya
sendiri ngambil keputusan gitu dong, Ma.”
“Eh! Mama enggak
seenaknya, kok. Ngapain juga harus ditunda-tunda, kan? Kalian kan udah kenal
lama. Tiga belas tahun itu waktu yang udah keterlaluan lama kalo buat
cinta-cintaan monyet kalian! Kalian udah pada gede. Lagian nih, ya… kalo aja
kemaren Mama enggak ngomongin masalah ini sama Tante Silvia, bisa aja Fahmi
dijodohin sama Derwan nanti. Mama enggak mau, dong.”
“Tapi Mama kan belum
ngomongin soal ini sama Sandi.”
“Ih! Buat apa lagi
diomongin? Emangnya kalian enggak mau nikah nantinya? Mau, kan?” mama menatap
Falin dan Sandi bergantian. Sandi tak menanggapi, hanya kesal di wajahnya.
Sedangkan Falin sendiri masih terkejut dengan keputusan itu. Dalam hatinya ia
mencibir mamanya yang seenaknya saja memutuskan hal gila ini.
“Papa kamu juga udah
setuju, kok. Om Herman juga bilang dia lebih suka kamu daripada Derwan yang
jadi menantunya.”
“Pa, papa juga?!”
Falin tambah terkejut mendengar nama papanya disebut-sebut. Jadi mereka berdua
bersekongkol?
“Kenapa sih kalian
ini? Kalian tinggal duduk aja kok nanti di pelaminan. Biarin yang tua-tua ini
yang ngurusin pestanya,” ucap mamanya santai.
“Falin enggak mau
nikah sama Sandi, Ma. Enggak usah ngaco, deh,” tanggap Sandi. Ia kembali
menundukkan kepalanya. Ingat kembali bagaimana entengnya Falin mengatakan kata
suka untuk Army waktu itu.
“Loh, kenapa? Fahmi
enggak suka sama Sandi?”
“Bu, bukan gitu, Tan.”
Mata Falin melirik Sandi. Sepertinya dia sudah tidak bisa diharapkan. Sandi
sudah tak kelihatan tertarik lagi dengan percakapan ini. “Fahmi masih pengen
kerja dulu.”
“Iya, enggak papa.
Setelah menikah kamu masih bisa kerja, kok. Yang penting kalian diiket dulu.”
“Ya… itu, kan… itu…”
“Heh! Mentang-mentang
kalian lagi berantem terus bilang enggak pengen nikah. Ih! Bentar lagi juga
pasti baikan! Percaya deh sama Tante.”
“A, anu, Tan… itu…”
Tiba-tiba tangan Sandi
menggeser gelas di depan Falin. Tentu saja air di gelas itu langsung tumpah ke
baju Falin. Tidak banyak sih memang. Tapi Falin tentu saja terkejut.
“Oh, sorry. Kayaknya
elo harus bersihin di toilet dulu,” ujar Sandi, datar. Tak ada rasa bersalah
sama sekali. Lagipula, dia memang sengaja, kan? Sedang Falin sendiri menatapnya.
Mencari jawaban apa maksudnya Sandi melakukan ini? Ia mengerti, maksud Sandi
adalah membantunya keluar dari kegugupannya menanggapi bahasan pernikahan
mereka.
“Pe, permisi sebentar,
Tan,” pamitnya. Mama Sandi mengangguk mengizinkannya. Setelah itu baru ia
memberi tatapan horornya pada Sandi.
“Kamu ni apa-apaan,
sih? Berantemnya keterlaluan!” sentak mamanya. Sandi tak peduli. Yang penting
ia sudah menghentikan bahasan tadi. Ia juga terlalu risih mendengar kegugupan
Falin terus-terusan. Ia makin yakin kalau Falin benar-benar tak punya rasa
padanya. Jadi rasanya ia harus mulai percaya bahwa Falin memang menyukai Army,
bukan dirinya.
***
“Berantemnya jangan
kelamaan! Enggak baik lo berantem lama-lama!” pesan mamanya Sandi sebelum pergi
pada Falin. Jawabannya anggukan kepala, tidak lebih. Ia sendiri juga belum tahu
bagaimana harus mengakhiri perang dingin mereka ini.
“San!” panggil Mama
gantian ke Sandi. Sandi mendekat, Falin melangkah mundur.
“Kamu kapan pulang?
Betah amat di kosan Bimo?” pertanyaan ini membuat Falin bingung. Kapan
pulang? Kosan Bimo?
“Urusan Sandi belum
selesai, Ma,” jawab Sandi.
“Urusan apa sih kamu
ini? Sok sibuk! Kamu enggak kasihan apa sama Army? Kamu kira enak apa tinggal
di rumah orang lain, tapi orangnya sendiri enggak ada di rumah?”
Apalagi ini? Jadi,
Sandi enggak pulang ke rumah?
“Em…” kepala Sandi
mengangguk. “Nanti kalo tugas-tugas Sandi udah selesai, Sandi pulang. Nanti
Sandi bilang juga ke Army-nya,” ia mencoba memberi pengertian pada mamanya.
Walaupun sempat mendengus kesal, tapi akhirnya mamanya pergi juga.
Begitu mamanya pergi,
Sandi belum berbalik sama sekali. Falin masih ada di sana. Menatap Sandi, maju
mundur antara memanggilnya atau tidak. Tangannya bahkan terulur. Berusaha
menggapai tangan Sandi agar berbalik menghadap ke arahnya. Tapi diurungkannya.
Hatinya begitu berat untuk memulai bicara lebih dulu. Bahkan sekarang pun Sandi
tak bergeming sama sekali. Bukankah itu artinya memang Sandi tak ingin
membicarakan apapun padanya?
Tapi begitu ia
berbalik, Sandi ikut berbalik. Menatap punggungnya yang makin menjauh, nanar.
Ia ingin sekali mengejarnya, memeluknya dari belakang dan berbisik ke
telinganya, “Aku mencintaimu.” Tapi sayangnya ia terlanjur tahu bagaimana
jawaban Falin nantinya. Hatinya sudah mantap, mengatakan bahwa Falin bukan
mencintainya, tapi orang lain. Diam, mungkin ini lebih baik. Meski ia yakin
dengan diamnya ini tak akan bisa menghilangkan perasaanya pada gadis itu.
Sandi berbalik ke arah
yang berbeda. Bermaksud melangkah kembali ke gedung kuliahnya. Namun ia terhenti
lantaran seseorang yang tak begitu jauh sudah berdiri di depannya. “Army?”
***
“Mi!” panggil Tria
mengejutkan Falin. “Gue duluan, ya?” pamitnya. Falin tak menjawab, hanya
senyuman tipis yang diberikannya. Tria memang kesal, tapi tak ada pilihannya. Keputusannya
membiarkan saja bocah ini sampai bosan sendiri bersikap seperti itu. Walaupun
ia tak tahu ini akan berlangsung sampai berapa lama.
Sudah tidak ada orang
lagi di kelas. Falin baru menyadarinya. Sepertinya ia terlalu lama memikirkan
Sandi di pikirannya sejak tadi. Rasanya ia tak ingat dosen terakhir tadi
menjelaskan apa. Padahal mata kuliah Kajian Prosa dan Drama ini adalah
favoritnya. Yah… sudahlah. Sudah berlalu.
Ia berdiri.
Membereskan bukunya, memasukkannya satu persatu ke dalam tas. Ia menoleh
sebentar ke arah jendela. Gelap. Hujan turun rintik-rintik. Ah… sial! Gue
enggak bawa payung lagi! Umpatnya dalam hati.
“Fahmi!” seseorang
memanggilnya. Ia belum selesai dengan bukunya, tapi reflek kepalanya menoleh.
Asalnya dari pintu. Seseorang yang cukup ia kenal berdiri di sana. Rambutnya
basah, juga baju di sekitar bahunya. Nafasnya tersengal, apa mungkin dia datang
ke sini dengan berlari?
“Army?” ya, orang itu
adalah Army. Dia mendekat, tak peduli dengan kebingungan Falin atas
kedatangannya. “Elo ngapain ke sini?” tanya Falin masih bingung. Tapi tak ada
jawaban. Yang ada Army malah terus melangkah. Tatapannya entah mengapa membuat
Falin gugup. Army makin dekat, tapi Falin malah mencoba menjauh.
“Mi?” usahanya membuat
Army bersuara tidak berhasil. Kakinya melangkah mundur. Tak sekompromi dengan
hatinya yang sebenarnya ingin tetap berada di sana. Batinnya terus bertanya,
kenapa dia malah menghindari Army. Tapi otaknya mengatakan hal lain. Ada yang
tidak beres dengan tatapan Army padanya.
Dug! Punggung Falin mencium dinding. Habis, langkah
mundurnya tak bisa lagi dibuat.
“Mi, Mi? E, elo mau
nga, ngapain?” tanyanya gugup. Tak bisa dipungkirinya, deguban di jantungnya
terlalu kencang. Apa mungkin Army pun mendengar suara ini? Bagaimana Army terus
mencoba mendekat padahal mereka sudah makin rapat sepertinya Falin mengerti.
Hingga, hup! Dia berhasil menyapu bibir Falin, saat itulah Falin
terkejut. Namun setiap perlakuan Army dalam adegan itu lambat laun menghentikan
keterkejutan Falin. Pelan-pelan dia menikmatinya. Hingga sampai Army
mengehentikan adegan itu secara pihak, bahkan ia bertanya mengapa ia merasa
kecewa.
Army menatapnya datar. Entah apa yang ada di pikirannya. Posisinya tetap sama. Tangan
kirinya masih setia menopang tubuhnya agar tak serta merta menghimpit Falin lebih rapat.
Kepalanya tertunduk, menyejajarkan dengan tatapan gadis ini. Melihat ekspresi Falin
yang menuntut suatu jawaban, alasan kenapa ia melakukannya, ia menghela
nafasnya ringan. Perlahan mengendurkan posisinya. Memberi ruang agar Falin mencari oksigen.
Pandangan Army turun ke bawah. Tepatnya kembali ke bibir
itu. Ada jejaknya di sana. Matanya menyipit, seolah meyakinkan dirinya bahwa
itu memang bekas miliknya. Kini ia diganduli pertanyaan besar. Benarkah ia baru
saja melakukan hal itu pada gadis ini?
“Aku...” mulutnya mulai bergetar. Kalimatnya
terpaksa tersendat karena ludahnya tertelan sedikit. Mungkin ia terlalu berat
untuk mengatakan ini. Tapi, wajah Falin terus menuntut.
Mewakili bibirnya yang sepertinya tak mampu lagi untuk melontarkan kata-kata.
“Aku...” Army membulatkan tekadnya. “Aku enggak punya rasa
sama kamu.”
Blarr! Suara petir terdengar.
Bukan petir di langit, lebih tepatnya di dada Falin. Matanya mendelik. Hatinya panas. Tubuhnya mulai bergetar,
menyusul getaran di bibirnya yang sudah dulu terbentuk
Plak! Tangannya mengayun
reflek. Ia berhasil menyisakan bekas merah di pipi Army. Tak ada lagi kata-kata yang mampu mewakili
perasaanya. Tak dibiarkannya air matanya mengalir di depan Army. Ia memilih
untuk keluar.
Sementara itu, ada seseorang di pintu kelas bagian belakang. Sandi, dia menyaksikan
semuanya. Hatinya sakit. Tentu saja. Lihat saja kepalan di tangannya yang
seolah ingin menghabisi Army saat itu juga. Army menyadarinya. Ia menoleh,
memberi tatapan berisi jawaban dari pertanyaan Sandi selama ini. Gue enggak
ada perasaan apapun sama Fahmi. Sandi mengerti, dan rasanya ia tak ingin
berada di sana. Bagaimana Falin keluar dengan semua deraian dari matanya itu
lebih menarik perhatiannya.
Ia memilih mengambil
jalan lain. Ia cukup tahu jalan mana yang akan diambil Falin. Buktinya ia
berhasil menghadang Falin. Menghentikan langkah gadis ini dengan memeluknya
cukup erat. Keterkejutan Falin tak ia hiraukan. Ia makin memeluknya dengan
erat. Hatinya pedih. Ada rasa bersalah yang berkelebat di hatinya. Ini
keterlaluan. Jika bisa, ingin sekali ia berteriak. Tapi yang ada hanyalah air
matanya saja yang keluar.
Tapi Falin tak lantas
diam. Ia belum tahu siapa yang memeluknya dengan tiba-tiba ini. Paksaannya
untuk lepas berhasil. Sandi melepaskannya dan mereka saling bertatapan. Falin
terenyuh melihat air mata itu mengalir di wajah Sandi. Rasanya sudah sangat
lama ia tak melihat air mata itu. Terakhir kali adalah tiga belas tahun yang
lalu. Itu pun saat pertama kali mereka bertemu. Apa Sandi melihat semuanya?
Merasa pertanyaannya
benar, ia kembali melangkah. Tapi baru beberapa langkah, grep! Tangannya
ditarik Sandi. Sandi hanya bisa menatap punggungnya, Falin tak berbalik sama
sekali. Meski merasakan sebuah getaran di genggaman itu, tapi Falin tak mau
berada di sana lebih lama. Genggaman Sandi terlepas, Falin memaksa tangannya
untuk dilepaskan. Hingga Falin pergi, Sandi tetap mematung di tempatnya.

No comments:
Post a Comment