Thursday, January 16, 2020

Flash Back End


Keluar dari kamar Sandi, Derwan menghela nafasnya. Kepalanya menggeleng lemah saat Army bertanya padanya, “Gimana?”

“Dia bener-bener udah pulang duluan. Petugas villa dapet pesen dari dia, katanya kita boleh tinggal selama yang kita mau,” jelas Derwan lagi. Gantian Army yang menghela nafasnya. Sementara Derwan mencoba mengontak Sandi lagi, ia menatap Falin yang hanya duduk di atas sofa. Bagaimana cara menggambarkan ekspresi bocah itu sekarang? Ia hanya menatap layar ponselnya. Tapi Army yakin, ia tidak benar-benar fokus dengan benda itu. Setelah pertengkarannya dengan Sandi semalam, Falin jadi pendiam sekali. Wajah cerianya yang biasanya selalu nyantol di sana sama sekali tidak ada.


Kebetulan malam tadi Army baru pulang. Setelah berjalan sendiri di pantai, mencoba memasukkan kenyataan bahwa ia tak akan bisa bermain gitar lagi ke otaknya. Meski sulit, tapi tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah. Tapi begitu kembali ke villa, malah Falin dan Sandi mendebatkan musibah yang ia alami.

“Elo keterlaluan, Say! Seharusnya elo lihat dulu apa yang terjadi! Jangan asal main pukul gitu aja!” teriakan Falin yang pertama kali ia dengar.

“Iya… gue tahu gue salah. Berapa kali gue harus bilang ke elo kalo gue bener-bener enggak bermaksud buat dia kayak gitu?” Sandi masih mencoba menekan emosinya.

“Elo itu… elo lihat sekarang Army udah enggak bisa main gitar lagi! Elo… elo itu kenapa sih, Say?”

“Lin… please! Udah, ya?”

“Udah? Hah?! Udah? Elo pikir gimana perasaan Army sekarang?”

“Elo sendiri mikirin perasaan gue enggak?!” akhirnya Sandi tak bisa mengontrol lagi emosinya.

“Apa?”

“Elo nyuruh gue mikirin gimana perasaan Army? Elo sendiri… elo sendiri apa pernah mikirin gimana perasaan gue tiap ngeliat kedeketan elo sama Army yang keterlaluan itu, hah?”

“Loh?! Kenapa elo sewot gue deket sama siapa? Masalahnya buat elo apaan?”

Sandi mendengus kesal. Digigitnya bibir bawahnya sendiri demi menahan emosinya memuncak lebih tinggi lagi. Setelah melempar pandangannya ke sembarang tempat, ia kembali menatap wajah Falin yang masih memberinya seribu pertanyaan tentang pertanyaan yang baru saja ia ajukan. Ada rasa tak percaya di wajah Sandi kalau Falin benar-benar tak mengerti maksudnya. Gue cemburu, Lin! Hatinya menjerit.

“Jujur sama gue!” pintanya tegas. “Elo… apa elo suka sama Army?” tanyanya lirih, tapi jelas begitu tajam. Sebenarnya ia tak ingin menanyakan ini. Ia takut hatinya akan terasa sakit jika mendengar jawaban dari Falin nantinya. Tapi sudahlah. Toh, bibirnya sudah mengatakannya. Ia hanya perlu menunggu, jawaban apa yang akan diberikan Falin padanya.

“Kenapa emangnya?”

“Jawab aja!”

“Kenapa emangnya kalau gue suka sama Army. Masalah buat elo?” deg! Tak hanya Sandi, bahkan Army pun benar-benar terkejut dengan jawaban itu. Tapi bagaimana rasa yang ada di hati Army jelas tak sama dengan apa yang ada di hati Sandi. Ia merasakannya. Ternyata rasa sakitnya jauh dari perkiraan Sandi. Sakit itu benar-benar keterlaluan. Hanya jawaban seperti ini, tapi Sandi merasa hatinya hampir robek. Atau malah sudah robek? Entahlah. Tapi yang jelas ia cukup puas dengan pertengkaran itu. Jawaban tadi menjadi akhir dari percekcokan mereka malam tadi. Hingga Sandi memilih mengunci diri di kamarnya sampai pagi tadi. Satu orang pun tak ada yang tahu kapan tepatnya Sandi meninggalkan pulau Bali. Bahkan sampai sekarang bocah itu sama sekali tak bisa dihubungi.

“Aduh, San, San!” rutuk Derwan sebal sendiri. Army memilih diam. Meski otaknya terus berputar mencari cara bagaimana harusnya ia mengambil sikap untuk menghadapi Falin dan Sandi ke depannya.

***

Satu bulan berlalu, Sandi dan Falin benar-benar lepas kontak. Mereka berdua kini perang dingin. Bahkan siaran di Korek Ati juga jadi korban. Tak ada Army. Sandi kembali menjadi DJ. Radio harus tetap berjalan meski hubungan mereka berempat sedang kacau sekarang. Miris. Jelas yang paling merasa dirugikan adalah Derwan. Ia terpaksa menjadi penengah. Netral lebih baik untuknya. Kalaupun suatu saat nanti perang dingin ini tetap berlanjut, ia harus menyiapkan dirinya untuk menjadi perantara komunikasi di antara tiga orang itu.

Sikap Sandi ke Derwan sebenarnya biasa saja. Malah Sandi bersikap seolah tak ada yang terjadi. Ia berusaha sebisa mungkin menghidupkan situasi seperti sebelumnya. Meski tanpa Falin, ia ingin tetap gila bila bersama Derwan. Tapi Derwan yang tahu semuanya jelas tak akan bisa bersikap biasa. Namun sayangnya ia tak pernah mampu menanyakan bagaimana perasaan Sandi sebenarnya sekarang. Bukan karena ia takut. Hanya saja, ia sudah lebih dulu tahu bagaimana hati sahabatnya ini sedang dirundung pilu. Terus berkutat dalam kepura-puraan senyum dan tawa. Elo enggak bisa bohongin perasaan elo sendiri, San, gumam hatinya melihat Sandi menghabiskan martabak telor dengan lahapnya.

“Tadi gue ketemu Army,” kata Derwan tiba-tiba membuat Sandi terdiam seketika. Hanya lima detik, hingga Sandi memilih kembali tersenyum.

“Oh, ya?”

“Dia bilang elo enggak pulang ke rumah. Elo tinggal di mana?”

“Gue tempat si Bimo. Banyak tugas yang numpuk. Elo kan tahu Bimo lebih pinter dari gue. Dia satu-satunya yang bisa bantuin gue ngerjain laporan setumpuk itu. Kalo elo ketemu dia lagi, bilangin sorry, ya? Gue belum sempet ngabarin ke dia. Pasti enggak enak tinggal di tempat orang lain yang orangnya enggak ada di rumahnya sendiri.”

Derwan diam. Ingin menyaksikan lebih lama lagi bagaimana acting sahabatnya ini tetap berlanjut. Lama-lama ia geram sendiri. Kalau saja ia sedang emosi, mungkin ia sudah meninju wajah ini. 

“Army enggak papa, San.”

“Ha?” kali ini Sandi mendongak. Membalas tatapa Derwan padanya.

“Dia berusaha cari mimpi yang lain. Gue tahu bukan cuma itu yang ganggu hati elo sekarang. Tapi seenggaknya, elo kurangin beban rasa bersalah elo itu ke Army.” Mendengar kata-kata ini, Sandi tak jadi mengambil martabak telor terakhir. Tangannya kembali menaruhnya ke dalam kotak. Lantas ia berdiri. Mungkin bermaksud pergi dari sana karena ia mulai tak suka dengan arah pembicaraan ini.

Sebelum ia benar-benar pergi, ia mengucap kalimat yang membuat Derwan sulit untuk menerjemahkannya. “Elo enggak ngerti, Wan. Elo ataupun Falin, kalian berdua sama-sama enggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Enggak ngerti.”

Apa maksudnya?

***

Semester baru, rasanya semuanya serba baru. Tas baru, sepatu baru, baju baru, rambut baru, pacar seharusnya baru juga, dong. (Enggak punya pacar -_- )

Tapi entah kenapa sesuatu yang baru dari Falin sama sekali tak disukai Tria. Bukan baju, bukan pula tas, termasuk bukan juga sepatu, boro-boro pacar. Melainkan wajah mrengut yang rasanya jarang sekali nangkring di wajah itu. Satu bulan ini, libur sih memang… tapi Tria kan rumahnya tak jauh-jauh amat dari Falin. Bocah ini tak seceria biasanya. Malah tak pernah sama sekali. Jangankan ketawa ngakak, gila, dan nyerocos abis seperti biasanya, senyum aja tidak! Setiap kali ditanya, “Elo kenapa sih, Mi?” jawabannya selalu, “Enggak papa.” Padahal maksudnya kan, “Enggak penting juga gue cerita ke elo.”

Alhasil bau harum semester baru harus sirna karena kesendiran Tria menjalani setiap langkah seorang diri tanpa ditemani seorang Falin (Lebay lu!) bukan karena itu, sih. Cuma, rasanya aneh saja begitu melihat sikap Falin yang mendadak jadi sok pendiam. Awal masuk kuliah itu malah ia mengira Falin kena demam, atau penyakit yang lebih parah lagi. Ayanan semisal (Yaelah -_- )

Tapi bukan Tria namanya kalau rela didiamkan super lama seperti ini. Ibarat hewan itu, kadar kelamaannya sudah seperti siput yang lagi bawa-bawa batu bata satu truk. Itu pun kalau si siput enggak cemet duluan karena batu bata itu. Oke! Focus!

Ia beranjak, berdiri dan bergegas mendekati Falin di bangkunya. Tapi baru saja hendak membuka bibirnya, Falin malah tiba-tiba berdiri. “What?!” teriaknya cukup kencang. Membuat Tria mundur sejengkal, saking kagetnya. Falin rusuh, mendorongnya seenak dengkul sampai ia mendarat di antara kursi-kursi kosong mahasiswa. Ia melongo, ditinggal Falin tanpa sempat berujar sepatah kata pun.

Lalu ke mana Falin? Ia masih berlari. Entah sms dari siapa hingga membuatnya lari pontang-panting sampai ke depan Fakultas. Belum juga sampai, tapi tampilan bling-bling dari tante-tante yang baru saja turun dari mobil warna merah jreng sudah ada di sana. Tante itu melepas kacamata hitamnya yang berbentuk bintang. Matanya yang sudah dibubuhi sarang burung, eh… bulu mata palsu maksudnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Debu saja bahkan tak sempat berniat menyapa wajahnya yang tebal dengan bedak kuning. Selena Gomez lewat!

“Tante!” panggilan Falin berhasil membuatnya berbalik. Bibir merahnya tersenyum cemerlang. Mirip iklan pasta gigi yang merknya tak boleh disebutkan. Tit… Sensor.

Sampai di depan tante ini Falin jelas terengah-engah. Tapi sang tante langsung ambil tindakan. Darimana datangnya minuman di tangannya saya juga tidak tahu. Yang jelas, Falin langsung menyambarnya begitu orange juice botolan itu disodorkan tepat di depan jidatnya.

“Makasih, Tan,” ujarnya. Lumayan, setengah ngos-ngosannya hilang.

“Ya ampun, Fahmi! Tante kangen banget sama kamu! Kok kamu makin cantik aja sih, Sayang?” ujar perempuan setengah tua ini. (Apa maksud dari kalimat ini? -_- ) Ada yang bisa menebaknya? Tante super bling-bling ini tidak lain dan tidak bukan adalah mamanya Sandi. Oh, iya. Bahkan penulis sampai lupa menyebutkan namanya di awal-awal, kan? Mama Sandi namanya Shiren Sungkar! Plak! Elu percaya? Jelas kagak! Bukan, bukan! Namanya adalah Santi Adrian, dan untuk Papa super kaya itu namanya Rangga Yahya. So, kalian mengerti sekarang kan kenapa nama belakang Sandi itu Yahya, bukannya Paijo, atau Paimen. Karena kenyataannya Sandi bukan anak dari dua orang pemilik nama orang desa itu. Sandi: Please, deh! Gue dari kota, coy! (Dan lu kira elu bangga? -_- )

“Eh, iya, Tante,” ujar Falin sambil susah payah melepaskan pelukan yang dirasanya sudah keterlaluan ini. “Tante ngapain ke sini? Nyariin Say… eh, Sandi, ya?” Falin hampir saja keceplosan memanggil Sandi seperti biasa. Takutnya si tante bakalan bingung nanti. Yah… walaupun sebenarnya mamanya Sandi juga sudah tahu sih sebutan ini.

“Loh, Tante kan sms kamu. Ya berarti Tante nyariinnya kamu, dong.”

“Oh, gitu ya, Tante? Eh… ada apa ya, Tante?”

“Itu…”

“Ma!” teriak seseorang tiba-tiba. Reflek, Falin ataupun si tante, alias sang mama menoleh ke sumber suara. Itu Sandi yang datang. Awalnya ia berusaha bergegas menghampiri mamanya. Tapi begitu melihat Falin ada di sana, ia berhenti sebentar. Lantas memperlambat langkahnya. Falin pun sama. Ia tiba-tiba diam, bingung bagaimana harus bersikap. Demi mengalihkan perhatiannya, hal konyol yang ia lakukan adalah mengikat tali sepatunya yang sebenarnya tidak lepas.

Sandi sampai. Tepat berdiri di samping Falin yang masih berjongkok. Ia sempat menengok gadis ini, barulah mamanya yang ia interogasi. “Mama ngapain ke sini?” tanyanya sedikit protes. Yah… bukan hanya protes karena kedatangannya yang tiba-tiba juga, sih. Tapi karena ternyata yang dipanggil ke sini bukan hanya Sandi saja. Tapi sampai membawa-bawa Falin segala.

Falin selesai dengan tali sepatunya. Ia berdiri, tentu saja dengan kecanggungannya. Ia sama sekali tak berani menatap Sandi yang hanya berjarak beberapa senti saja dari tempatnya berdiri.

“Nah, udah dateng kan dua-duanya. Sekarang ikut, ya?”

“Ikut?” tanya Falin bingung.

“Mau ke mana, Ma?” wajah Sandi nampak kesal.

“Makan siang. Kalian pasti belum makan, kan?”

“U, udah kok, Tan. Tante sama Sandi aja, ya? Falin masih ada kelas soalnya,” jawab Falin. Matanya sempat melirik Sandi, mencoba mencari bantuan. Mana mungkin bisa pergi bersama dalam keadaan canggung begini?

“Nanti Tante balikin kamu sebelum jam kuliah kamu mulai. Udah, ayok!” grep! Mamanya Sandi tak terima tolakan lebih lanjut. Dengan seenak baju bling-blingnya itu ia menggeret tangan Sandi dan Falin begitu saja. Falin sempat kebingungan. Syukur Sandi berhasil menghentikan mamanya ini dengan melepas geretan di tangannya itu dengan paksa.

“Ma! Udahlah! Sandi enggak laper!” tegas Sandi. Tapi mamanya berhasil memasang wajah memelas. Sandi benar-benar tak tahan melihatnya seperti itu. Walaupun keberatan, tapi akhirnya dia masuk juga ke mobil. Tentu saja di depan. Nah, sesudah Sandi masuk, senyum kemenangan langsung muncul di wajah glamornya itu. Terpaksa, Falin pun ikut juga masuk ke mobil.

Di dalam mobil, Sandi hanya diam saja. Hanya Falin dan mamanya saja yang berceloteh ria. Wajahnya terus berpaling ke luar jendela. Tentu saja Falin yang melihatnya sedikit kecewa. Satu pertanyaannya, apakah Sandi benar-benar marah padanya?

Mobil merah itu membawa mereka ke sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari kampus. Sandi hanya memesan milkshake strawberry. Dia sedang tidak punya nafsu makan sekarang. Itu pun hanya diaduk-aduknya dan paling cuma dua atau tiga kali sedotan. Sedangkan Falin yang duduk di sampingnya spaghetti. Padahal tadinya dia juga mau pesan minum saja. Tapi jelas tante ini tak akan mengizinkannya. Alhasil, dia pun harus memakannya. Kan enggak lucu kalau dia cuma mengaduk-aduk mienya seperti Sandi yang terus mengaduk-aduk milkshake-nya.

“Kalian ini lagi berantem, ya?” tebak Mama terlanjur benar. Mereka berdua cukup terkejut mendengarnya. Tapi Sandi bereaksi cukup datar. Meski ia bereaksi dengan mengangkat kepalanya, tapi ia hanya melirik Falin yang mendelik sebentar. Setelah itu ia membiarkan Falin untuk menjawab pertanyaan itu.

“E, enggak kok, Tan. Iya kan, San?” disikutnya lengan Sandi. Tapi Sandi tak menyahut. Ia benar-benar tak bernafsu dengan percakapan ini. Juga tak tertarik untuk berakting seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

“Ehm… bohong! Kalian aja dari tadi enggak cekcok kayak biasanya. Padahal kan biasanya kalo Tante ajak kalian pergi gini pasti ada aja yang diributin.”

“Kebetulan lagi enggak ada bahan buat diributin, Tan. Hehe…” Falin tertawa kikuk.

“Ah… terserah, deh! Tante enggak mau ikut campur  masalah kalian. Yang penting, berantemnya jangan lama-lama, ya?” ujar Mama. Falin membalasnya dengan senyuman tipis. Walaupun itu yang diinginkannya, tapi rasanya tak mungkin. Ia terlalu takut untuk menegor Sandi, apalagi minta maaf. Lagipula, dia juga merasa kalau Sandi juga masih bersalah dalam hal ini. Tak punya kepekaan yang banyak untuk tahu perasaan Sandi sebenarnya padanya.

“Oh, iya. Kemarin Tante ketemu sama mama kamu lo, Mi,” tambah mama lagi.

“Oh, iya, Tan?”

“Iya. Kemarin, Tante ngobrol banyak gitu sama mama kamu. Oh, iya. Dan kami juga udah putusin, setelah kalian lulus, kita bakalan ngadain pesta pertunangan.”

“Uhuk! Uhuk!” tiba-tiba Falin tersedak mendengar info terbaru barusan. Sandi menyodorkan air putih padanya. Ia cukup terkejut memang. Tapi rasanya tak ada waktu untuk terkejut sekarang. Lagipula kerongkongannya sedang sakit sekarang. Ditenggaknya air itu cepat-cepat. “Tu, tunangan?!” barulah setelah itu ia menanggapi info tadi.

“Iya. Nah… setelah satu tahun, baru kalian bisa menikah.”

“Me, menikah?!”

“Ma!” Sandi mencoba protes. Tapi mamanya malah bingung melihat reaksi mereka.

“Loh, kenapa? Apa kalian mau menikah langsung setelah lulus kuliah?”

“Eh?!” Falin makin terkejut. Bisa-bisanya orang ini menyebut kata-kata menikah semudah itu? “Ta, tapi, Tan. Ke, kenapa…”

“Jangan seenaknya sendiri ngambil keputusan gitu dong, Ma.”

“Eh! Mama enggak seenaknya, kok. Ngapain juga harus ditunda-tunda, kan? Kalian kan udah kenal lama. Tiga belas tahun itu waktu yang udah keterlaluan lama kalo buat cinta-cintaan monyet kalian! Kalian udah pada gede. Lagian nih, ya… kalo aja kemaren Mama enggak ngomongin masalah ini sama Tante Silvia, bisa aja Fahmi dijodohin sama Derwan nanti. Mama enggak mau, dong.”

“Tapi Mama kan belum ngomongin soal ini sama Sandi.”

“Ih! Buat apa lagi diomongin? Emangnya kalian enggak mau nikah nantinya? Mau, kan?” mama menatap Falin dan Sandi bergantian. Sandi tak menanggapi, hanya kesal di wajahnya. Sedangkan Falin sendiri masih terkejut dengan keputusan itu. Dalam hatinya ia mencibir mamanya yang seenaknya saja memutuskan hal gila ini.

“Papa kamu juga udah setuju, kok. Om Herman juga bilang dia lebih suka kamu daripada Derwan yang jadi menantunya.”

“Pa, papa juga?!” Falin tambah terkejut mendengar nama papanya disebut-sebut. Jadi mereka berdua bersekongkol?

“Kenapa sih kalian ini? Kalian tinggal duduk aja kok nanti di pelaminan. Biarin yang tua-tua ini yang ngurusin pestanya,” ucap mamanya santai.

“Falin enggak mau nikah sama Sandi, Ma. Enggak usah ngaco, deh,” tanggap Sandi. Ia kembali menundukkan kepalanya. Ingat kembali bagaimana entengnya Falin mengatakan kata suka untuk Army waktu itu.

“Loh, kenapa? Fahmi enggak suka sama Sandi?”

“Bu, bukan gitu, Tan.” Mata Falin melirik Sandi. Sepertinya dia sudah tidak bisa diharapkan. Sandi sudah tak kelihatan tertarik lagi dengan percakapan ini. “Fahmi masih pengen kerja dulu.”

“Iya, enggak papa. Setelah menikah kamu masih bisa kerja, kok. Yang penting kalian diiket dulu.”

“Ya… itu, kan… itu…”

“Heh! Mentang-mentang kalian lagi berantem terus bilang enggak pengen nikah. Ih! Bentar lagi juga pasti baikan! Percaya deh sama Tante.”

“A, anu, Tan… itu…”

Tiba-tiba tangan Sandi menggeser gelas di depan Falin. Tentu saja air di gelas itu langsung tumpah ke baju Falin. Tidak banyak sih memang. Tapi Falin tentu saja terkejut.

“Oh, sorry. Kayaknya elo harus bersihin di toilet dulu,” ujar Sandi, datar. Tak ada rasa bersalah sama sekali. Lagipula, dia memang sengaja, kan? Sedang Falin sendiri menatapnya. Mencari jawaban apa maksudnya Sandi melakukan ini? Ia mengerti, maksud Sandi adalah membantunya keluar dari kegugupannya menanggapi bahasan pernikahan mereka.

“Pe, permisi sebentar, Tan,” pamitnya. Mama Sandi mengangguk mengizinkannya. Setelah itu baru ia memberi tatapan horornya pada Sandi.

“Kamu ni apa-apaan, sih? Berantemnya keterlaluan!” sentak mamanya. Sandi tak peduli. Yang penting ia sudah menghentikan bahasan tadi. Ia juga terlalu risih mendengar kegugupan Falin terus-terusan. Ia makin yakin kalau Falin benar-benar tak punya rasa padanya. Jadi rasanya ia harus mulai percaya bahwa Falin memang menyukai Army, bukan dirinya.

***

“Berantemnya jangan kelamaan! Enggak baik lo berantem lama-lama!” pesan mamanya Sandi sebelum pergi pada Falin. Jawabannya anggukan kepala, tidak lebih. Ia sendiri juga belum tahu bagaimana harus mengakhiri perang dingin mereka ini.

“San!” panggil Mama gantian ke Sandi. Sandi mendekat, Falin melangkah mundur.

“Kamu kapan pulang? Betah amat di kosan Bimo?” pertanyaan ini membuat Falin bingung. Kapan pulang? Kosan Bimo?

“Urusan Sandi belum selesai, Ma,” jawab Sandi.

“Urusan apa sih kamu ini? Sok sibuk! Kamu enggak kasihan apa sama Army? Kamu kira enak apa tinggal di rumah orang lain, tapi orangnya sendiri enggak ada di rumah?”

Apalagi ini? Jadi, Sandi enggak pulang ke rumah?

“Em…” kepala Sandi mengangguk. “Nanti kalo tugas-tugas Sandi udah selesai, Sandi pulang. Nanti Sandi bilang juga ke Army-nya,” ia mencoba memberi pengertian pada mamanya. Walaupun sempat mendengus kesal, tapi akhirnya mamanya pergi juga.

Begitu mamanya pergi, Sandi belum berbalik sama sekali. Falin masih ada di sana. Menatap Sandi, maju mundur antara memanggilnya atau tidak. Tangannya bahkan terulur. Berusaha menggapai tangan Sandi agar berbalik menghadap ke arahnya. Tapi diurungkannya. Hatinya begitu berat untuk memulai bicara lebih dulu. Bahkan sekarang pun Sandi tak bergeming sama sekali. Bukankah itu artinya memang Sandi tak ingin membicarakan apapun padanya?

Tapi begitu ia berbalik, Sandi ikut berbalik. Menatap punggungnya yang makin menjauh, nanar. Ia ingin sekali mengejarnya, memeluknya dari belakang dan berbisik ke telinganya, “Aku mencintaimu.” Tapi sayangnya ia terlanjur tahu bagaimana jawaban Falin nantinya. Hatinya sudah mantap, mengatakan bahwa Falin bukan mencintainya, tapi orang lain. Diam, mungkin ini lebih baik. Meski ia yakin dengan diamnya ini tak akan bisa menghilangkan perasaanya pada gadis itu.

Sandi berbalik ke arah yang berbeda. Bermaksud melangkah kembali ke gedung kuliahnya. Namun ia terhenti lantaran seseorang yang tak begitu jauh sudah berdiri di depannya. “Army?”

***

“Mi!” panggil Tria mengejutkan Falin. “Gue duluan, ya?” pamitnya. Falin tak menjawab, hanya senyuman tipis yang diberikannya. Tria memang kesal, tapi tak ada pilihannya. Keputusannya membiarkan saja bocah ini sampai bosan sendiri bersikap seperti itu. Walaupun ia tak tahu ini akan berlangsung sampai berapa lama.

Sudah tidak ada orang lagi di kelas. Falin baru menyadarinya. Sepertinya ia terlalu lama memikirkan Sandi di pikirannya sejak tadi. Rasanya ia tak ingat dosen terakhir tadi menjelaskan apa. Padahal mata kuliah Kajian Prosa dan Drama ini adalah favoritnya. Yah… sudahlah. Sudah berlalu.
Ia berdiri. Membereskan bukunya, memasukkannya satu persatu ke dalam tas. Ia menoleh sebentar ke arah jendela. Gelap. Hujan turun rintik-rintik. Ah… sial! Gue enggak bawa payung lagi! Umpatnya dalam hati.

“Fahmi!” seseorang memanggilnya. Ia belum selesai dengan bukunya, tapi reflek kepalanya menoleh. Asalnya dari pintu. Seseorang yang cukup ia kenal berdiri di sana. Rambutnya basah, juga baju di sekitar bahunya. Nafasnya tersengal, apa mungkin dia datang ke sini dengan berlari?

“Army?” ya, orang itu adalah Army. Dia mendekat, tak peduli dengan kebingungan Falin atas kedatangannya. “Elo ngapain ke sini?” tanya Falin masih bingung. Tapi tak ada jawaban. Yang ada Army malah terus melangkah. Tatapannya entah mengapa membuat Falin gugup. Army makin dekat, tapi Falin malah mencoba menjauh.

“Mi?” usahanya membuat Army bersuara tidak berhasil. Kakinya melangkah mundur. Tak sekompromi dengan hatinya yang sebenarnya ingin tetap berada di sana. Batinnya terus bertanya, kenapa dia malah menghindari Army. Tapi otaknya mengatakan hal lain. Ada yang tidak beres dengan tatapan Army padanya.

Dug! Punggung Falin mencium dinding. Habis, langkah mundurnya tak bisa lagi dibuat.

“Mi, Mi? E, elo mau nga, ngapain?” tanyanya gugup. Tak bisa dipungkirinya, deguban di jantungnya terlalu kencang. Apa mungkin Army pun mendengar suara ini? Bagaimana Army terus mencoba mendekat padahal mereka sudah makin rapat sepertinya Falin mengerti. Hingga, hup! Dia berhasil menyapu bibir Falin, saat itulah Falin terkejut. Namun setiap perlakuan Army dalam adegan itu lambat laun menghentikan keterkejutan Falin. Pelan-pelan dia menikmatinya. Hingga sampai Army mengehentikan adegan itu secara pihak, bahkan ia bertanya mengapa ia merasa kecewa.

Army menatapnya datar. Entah apa yang ada di pikirannya. Posisinya tetap sama. Tangan kirinya masih setia menopang tubuhnya agar tak serta merta menghimpit Falin lebih rapat. Kepalanya tertunduk, menyejajarkan dengan tatapan gadis ini. Melihat ekspresi Falin yang menuntut suatu jawaban, alasan kenapa ia melakukannya, ia menghela nafasnya ringan. Perlahan mengendurkan posisinya. Memberi ruang agar Falin mencari oksigen.

Pandangan Army turun ke bawah. Tepatnya kembali ke bibir itu. Ada jejaknya di sana. Matanya menyipit, seolah meyakinkan dirinya bahwa itu memang bekas miliknya. Kini ia diganduli pertanyaan besar. Benarkah ia baru saja melakukan hal itu pada gadis ini?

“Aku...” mulutnya mulai bergetar. Kalimatnya terpaksa tersendat karena ludahnya tertelan sedikit. Mungkin ia terlalu berat untuk  mengatakan ini. Tapi, wajah Falin terus menuntut. Mewakili bibirnya yang sepertinya tak mampu lagi untuk melontarkan kata-kata.

“Aku...” Army membulatkan tekadnya. “Aku enggak punya rasa sama kamu.”

Blarr! Suara petir terdengar. Bukan petir di langit, lebih tepatnya di dada Falin. Matanya mendelik. Hatinya panas. Tubuhnya mulai bergetar, menyusul getaran di bibirnya yang sudah dulu terbentuk
Plak! Tangannya mengayun reflek. Ia berhasil menyisakan bekas merah di pipi Army. Tak ada lagi kata-kata yang mampu mewakili perasaanya. Tak dibiarkannya air matanya mengalir di depan Army. Ia memilih untuk keluar.

Sementara itu, ada seseorang di pintu kelas bagian belakang. Sandi, dia menyaksikan semuanya. Hatinya sakit. Tentu saja. Lihat saja kepalan di tangannya yang seolah ingin menghabisi Army saat itu juga. Army menyadarinya. Ia menoleh, memberi tatapan berisi jawaban dari pertanyaan Sandi selama ini. Gue enggak ada perasaan apapun sama Fahmi. Sandi mengerti, dan rasanya ia tak ingin berada di sana. Bagaimana Falin keluar dengan semua deraian dari matanya itu lebih menarik perhatiannya.

Ia memilih mengambil jalan lain. Ia cukup tahu jalan mana yang akan diambil Falin. Buktinya ia berhasil menghadang Falin. Menghentikan langkah gadis ini dengan memeluknya cukup erat. Keterkejutan Falin tak ia hiraukan. Ia makin memeluknya dengan erat. Hatinya pedih. Ada rasa bersalah yang berkelebat di hatinya. Ini keterlaluan. Jika bisa, ingin sekali ia berteriak. Tapi yang ada hanyalah air matanya saja yang keluar.

Tapi Falin tak lantas diam. Ia belum tahu siapa yang memeluknya dengan tiba-tiba ini. Paksaannya untuk lepas berhasil. Sandi melepaskannya dan mereka saling bertatapan. Falin terenyuh melihat air mata itu mengalir di wajah Sandi. Rasanya sudah sangat lama ia tak melihat air mata itu. Terakhir kali adalah tiga belas tahun yang lalu. Itu pun saat pertama kali mereka bertemu. Apa Sandi melihat semuanya?

Merasa pertanyaannya benar, ia kembali melangkah. Tapi baru beberapa langkah, grep! Tangannya ditarik Sandi. Sandi hanya bisa menatap punggungnya, Falin tak berbalik sama sekali. Meski merasakan sebuah getaran di genggaman itu, tapi Falin tak mau berada di sana lebih lama. Genggaman Sandi terlepas, Falin memaksa tangannya untuk dilepaskan. Hingga Falin pergi, Sandi tetap mematung di tempatnya.

Sebelumnya               Selanjutnya

No comments:

Post a Comment