"Meskipun aku ingin, kau dan aku, takkan
bisa bersatu. Aku dan kau adalah rival! Rival sejati. Untuk itulah! Lupakan
apapun yang sudah kulakukan padamu! Pergi! Pergi dari hadapanku dan jangan
pernah menampakkan dirimu di depanku lagi! Apa kau sudah mengerti
sekarang?!"
Kata-kata itu terus saja berdengung di telinga
Meyi. Setiap ucapan dari bibir Yesung tadi pagi seperti pedang yang telah
berhasil menyayat-nyayat hatinya. Ia tak menyangka, kata-kata itu benar-benar
pedas terasa. Baru ia rasakan bagaimana pedihnya kata-kata itu terdengar. "Suaramu tak lebih bagus dari Kang Meyi," tiba-tiba bayang-bayang masa lalu menggantung di fikirannya. Saat-saat pedang yang menusuk di dalam hati Yesung dulu dikembalikan kepadanya. Ya! Hari itulah awal dimana Yesung mulai membencinya, dan mungkin, itulah mengapa pria itu tega mengucapkan kata-kata yang benar-benar menyakitkan.
"Ya, suaraku jauh lebih baik dari Yesung! Semuanya tahu itu. Akulah rival paling berat untuknya," dan itu juga kata-kata yang cukup menyakitkan bukan untuk Yesung? Sayangnya, menyesal sekarang untuk seorang Kang Meyi tak ada gunanya. Luka di hati Yesung pasti begitu dalam dan sulit untuk terobati.
"Baik! Kau sendiri yang bilang kita adalah rival! Kau dan aku, adalah rival sejati. Jangan menangis saat aku mengalahkanmu dan berada di puncak nanti!" wajah kecil Yesung itu mengeras. Sebenarnya tangannya sudah mengepal sejak tadi. Tapi ia masih ingat, sebelum ini, Meyi adalah sahabatnya. Sebelum guru memberi nilai lebih buruk dari Meyi untuk ujian menyanyi waktu itu. Ia tak akan tega. Karena sejatinya, ia masih menyayangi bocah cantik itu. Yah, mungkin sampai sekarang masih sama.
Genggaman Meyi pada buku pelajarannya bertambah erat. Menyisakan kumal, ah! Bahkan koyak sudah. Rasa sakit di bibirnya rasanya tak mampu membendung sesak di dadanya.
Bahkan saat ada seorang pria memandanginya tepat di depannya, tak ia hiraukan. Ia yang sedari tadi hanya diam. Ikut miris dengan tangisan yang tak berujung air mata setetes pun di sana. Ia tahu, sahabatnya yang satu ini mengalami patah hati yang luar biasa. Tapi, tak ada yang mampu ia perbuat kecuali diam memandang wajah sendu Kang Meyi.
"Hey, Yun Geum Sang!" tiba-tiba suara berat seseorang menggema di seluruh ruangan. Pemilik nama itu langsung menatap si pemilik suara yang berdiri tepat di ambang pintu. Yesung!
"Aku ingin bicara denganmu!" masih lantang suara berat itu terdengar. Tak hanya tangis diam Meyi yang terhenti, tapi seluruh aktifitas teman sekelasnya juga. Tak biasanya bintang besar di sekolah mereka itu terlihat begitu geram dengan amarah yang seolah berada di puncaknya. Meski ia terkenal jarang sekali tersenyum, tapi rasanya tak pernah ia terlihat semarah itu.
"Tak bisakah kau bicara dengan pelan, hah?" Geum Sang sudah berada di depannya. Tanpa perintah, ia keluar lebih dulu keluar dari ruangan itu. Wajahnya memanas, malu dengan sikap sahabat keduanya setelah Meyi ini.
Sedang Yesung melirik tajam ke arah tempat duduk di pojok kanan paling belakang. Tempat dimana Meyi juga membalas tatapannya masih sendu. Ia hanya mendecak pelan sebelum berlalu menyusul Geum Sang di luar.
"Hey, Yun Geum Sang!" Yesung mencoba menghentikan langkah Geum Sang. Mereka sudah berada di depan gedung aula. Rasanya terlalu jauh tempat itu bagi Yesung.
"Hey, Kim Jong Woon!" Geum Sang malah balik memanggil Yesung dengan nama aslinya. Tapi usaha Yesung berhasil. Geum Sang berhenti bahkan berbalik menatapnya.
"Kau sudah terlampau batas!" Ucapnya begitu lirih, tapi tajam.
"Kenapa? Kau pun menganggapku orang lain sekarang? Kenapa kau panggil aku seperti itu, hah?" Yesung seolah tak menghiraukan ucapan Geum Sang. Risih telinganya mendegar panggilan itu dari bibir sahabat kecilnya itu.
"Kau tahu, Meyi sudah meminta maaf padamu. Tak bisakah kau lupakan kejadian itu dan kembali seperti dulu lagi, hah? Kita bertiga..."
"Jangan sebutkan nama wanita itu saat aku sedang bersamamu!"
"Yesung!"
"Aku menyuruhmu keluar bukan untuk membicarakannya!" bentak Yesung lagi.
Geum Sang mendecak tak percaya. Bukankah ini kali pertamanya Yesung membentaknya? "Aku tak tahu seberapa banyak kau sudah berubah, Yesung!"
"Aku yang ingin bicara denganmu! Maka dengarkan!"
"Aku tak mendengarkan orang yang sudah keterlaluan sepertimu!"
"Yun Geum Sang!" Panggilan Yesung berhasil menghentikan langkahnya untuk segera pergi dari sana. Tapi Geum Sang hanya diam. Menunggu hal apa yang akan disampaikan Yesung padanya.
"Kukatakan sebagian kecil yang ingin kukatakan! Aku..." Yesung membalikkan badannya menatap punggung Geum Sang. "...sendirian. Kau tahu?!"
"Buk!" Dengan kasar pundak Yesung menghantam bahu Geum Sang. Dialah yang akhirnya pergi dari sana pertama kali.
Menatapnya, Geum Sang hanya menghela nafasnya.
***
Berkali-kali Yesung menabrak member Super Junior yang lain saat latihan. Ia benar-benar tak konsen dengan latihan kali ini. Eunhyuk sejak tadi sudah memperingatinya, tapi tetap saja ia seperti itu.
"Hyung!" Akhirnya ia tak tahan juga. Teriakannya seketika menghentikan gerakan mereka semua yang ada di sana. Siwon yang paling dekat dengan tape mematikan lagu yang masih berputar. Keputusan yang salah karena heninglah yang menyertai mereka. Sedang Yesung memilih menatap lantai ketimbang membalas semua tatapan di sekelilingnya.
"Kita istirahat dulu!" Bahkan Leeteuk pun turun tangan. "Yesung, ikut aku sebentar," sambungnya lagi sebelum ia keluar bersama Yesung.
Di kafe depan dorm mereka, Leeteuk malah diam sudah membawa Yesung ke sana. Ia dengan santainya mengaduk-aduk jus jeruk di depannya. Tak dihiraukannya Yesung yang mulai sebal dengan tingkahnya.
"Apa yang sebenarnya ingin Teukkie hyung katakan?" Tanyanya geram.
"Seharusnya aku yang bertanya, ada masalah apa kau ini?" Leeteuk malah balik bertanya. Entah tatapan santai atau apa yang sekarang diberikannya pada dongsaengnya ini.
"Apa? Tidak ada apa-apa," jawab Yesung.
"Seseorang berkata padaku, 'Aku sakit hati, hyung. Sakit hati karena diriku sendiri.' Bisa kau bantu aku mengingat siapa orang ini?" Yesung terdiam. Orang yang dimaksud Leeteuk tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri. Alhasil, yang dipoerbuatnya sekarang hanya menundukkan kepalanya.
"Apa? Ini tentang Kang Meyi?" tebak Leeteuk terlampau tepat. Hati Yesung langsung gelisah. Sedikit panas mendengar kata itu. Meski ia sendiri tak menyangka, Leeteuk bisa menebaknya dengan tepat.
"Tidak! Jangan bicarakan wanita itu di depanku, hyung!" bahkan Yesung tega membentak Leeteuk. Oh, seberapa parahnyakah sakit hatinya pada Kang Meyi?
"Kau biarkan dendammu menguasaimu, Sunggie. Kau biarkan sisi baikmu tenggelam di dalamnya. Kau angkuh saat mampu membalas dendammu. Kau sudah dipuncak, tapi kau ingin lebih dari ini. Kau sudah berhasil mengalahkan Kang Meyi sebagai vokalis terbaik empat tahun berturut-turut. Tapi dendammu menginginkan lebih? Kenapa kau turuti, hah?"
"Apa yang sebenarnya kau katakan, hyung?" Yesung mulai tak nyaman berada di posisinya sendiri.
"Jangan, Sunggie. Jangan biarkan hatimu merana. Jangan biarkan impian yang sudah kau raih berujung sia-sia. Jangan turuti dendammu lebih dari ini," sambung Leeteuk lagi.
"Aku muak dengan pembicaraan ini, hyung! Cukup!"
"Sreet!" Yesung bangkit dari duduknya. Tapi Leeteuk pun melakukan hal yang sama.
"Kau muak dengan gayamu sendiri. Kau menipu perasaanmu sendiri pada Kang Meyi. Sebelum terlambat, tak bisakah kau menghapus semua dendammu itu, hah?" Finish! Leeteuklah yang meninggalkannya terlebih dulu. Membiarkannya mengerutkan dahi di atas alis tebalnya. Membuatnya makin kesal pada dirinya sendiri. Tapi sayangnya, tak ada media apapun yang bisa meluapkan perasaannya sekarang.
***
"Aku di depan dorm-mu," tulis Geum Sang dalam sms yang baru saja masuk ke ponsel Yesung. Setelahnya, ia segera beranjak dari atas tempat tidurnya. Tak dihiraukannya Ryeowook yang terbangun karena ulahnya menutup pintu kamar mereka dengan kasar.
Geum Sang berada di depan dengan mobil hitam yang ia duduki bempernya. Dengan sweeter cream dan jeans panjang mampu melindunginya dari udara malam yang cukup dingin, lantaran sudah sekitar satu jam ia menunggu di sana. Hanya saja, ia memilih menyuruh Yesung keluar baru saja. Entahlah kenapa.
"Apa?" tanya Yesung begitu berada tepat di depannya.
"Hanya ingin menyuruhmu minta maaf pada Meyi," jawab Geum Sang yang langsung ditanggapi Yesung dengan melangkahkan kakinya hendak masuk kembali dalam dorm.
"Kang Meyi pergi ke New York agar kau tak bisa lagi melihat wajahnya. Ia tak akan menampakkan dirinya lagi sesuai keinginanmu."
"Deg!" Jantung Yesung seolah berhenti berdetak. Langkahnya memang terhenti, kakinya memang menancap kuat di atas jalan setapak itu. Tapi rasanya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya.
"Kau mungkin masih punya waktu menyusulnya di bandara."
"Srek!" Geum Sang melemparkan kunci mobilnya tepat di samping kiri kaki Yesung. Ia tak peduli apa yang akan dilakukan Yesung. Akankah ia mengambil kunci itu dan pergi ke bandara atau tidak. Yang jelas, ia sudah menyetop taxi dan pergi dari sana.
Tak lama setelah Geum Sang pergi, Yesung hampir saja memilih masuk saja ke dalam dorm. Tapi ketika pintu lift hampir tertutup, ia menahannya dengan tangan kanannya, dan kembali berlari keluar. Menggamit kunci mobil Geum Sang dan membawa mobilnya melaju ke Bandara Seoul.
Begitu sampai, kedua mata Yesung rasanya tak menemui sosok Kang Meyi. Ya, gadis itu sama sekali tak ia temukan. Sebanyak apapun Yesung mencari, tak ada juga orang yang dicarinya itu. Tak ada cara lain kecuali bertanya pada petugas bandara yang ada.
"New York, penerbangan New York, nona, hh, hh..." ucap Yesung terbata-bata. Tapi petugas itu mengerti apa yang dimaksud orang yang familiar wajahnya ini. "Kim Jong Woon Super Junior ada di sini!" Itulah yang ada di dalam fikirannya.
"Penerbangan terakhir ke New York sudah berangkat sekitar lima menit yang lalu, tuan," jawab wanita itu tersenyum manis.
"Kang, Kang Meyi? Di, dia..."
"Ya, nona Kang Meyi baru saja masuk ke penerbangan ini tadi." Senyum itu masih tersungging di bibir petugas itu. Berharap mendapat tanda tangan anak SMA yang merupakan bintang besar di negaranya itu, hanya sia-sia saja. Begitu mendengar kenyataan itu, Yesung sudah kehilangan seluruh energi di tubuhnya. Dengan lemas ia berjalan gontai keluar dari bandara yang luas itu. Setiap langkahnya begitu berat terasa. Hanya menjangkau pintu mobil pun rasanya seperti memanggul batu puluhan ton beratnya. Dengan susah payah, ia berhasil masuk ke dalam mobil milik Geum Sang.
"Apa..." Suara Yesung tercekat di tenggorokan. Dua tetes embun melompat berbarengan dari kedua matanya. Disusul dengan getaran dan rasa sesak yang membuncah di dadanya. Bertambah deraslah air yang mengalir itu. Sakit! Rasanya benar-benar sakit dan sesak sekaligus! Cairan merah kental yang terasa asin di lidahnya baru saja keluar dari bibir bawahnya. Pandangannya sudah buram dengan air mata. Ia tak pernah merasa sesakit ini.
"Kau muak dengan gayamu sendiri. Kau menipu perasaanmu sendiri pada Kang Meyi. Sebelum terlambat, tak bisakah kau menghapus semua dendammu itu, hah?" Kata-kata Leeteuk kembali ke ingatannya. Ya, semuanya sudah terlambat sekarang.
"Mianhae... Meyi~ya..."
...END...

No comments:
Post a Comment