Bruk!
“Ah, gomenasai (maaf),” ujar
laki-laki ini sambil menunduk. Tapi ia berlalu begitu saja. Padahal aku belum
sempat membalas permintaan maafnya barusan. Setidaknya aku sudah sempat melihat
wajahnya.
Aku hampir beranjak
sebelum melihat sebuah kartu pengenal. Aku mengambilnya. Ah, ini milik
laki-laki tadi. Sandi Yahya. Oh, ternyata dia juga dari Indonesia. Bahkan
seumuran denganku. Yang lebih mengejutkan lagi adalah dia satu universitas
denganku.
Hari berikutnya aku
berpapasan lagi dengannya. Aku terus mengamatinya, tapi dia sama sekali tak
sadar. Aku ingin mengembalikannya sebenarnya. Tapi entah kenapa aku urung
melakukannya. Mungkin aku merasa kartu ini pun tak begitu penting untuknya.
Setiap dia makan di restauran, aku duduk di dekatnya. Aku mengamati semua yang
dia lakukan. Makan, minum, berjalan, memfoto objek atau apapun itu. Dia
benar-benar tidak tahu.
Tiga hari aku
mengikutinya. Aku sama sekali tak sadar bahwa aku sudah berlaku bodoh. Aku
biarkan diriku yang tidak normal ini terus menjadi. Aku mencoba menekannya
selama ini, tapi kenapa aku malah melanjutkannya? Ah, tidak! Aku harus berhenti
sebelum aku benar-benar mengembangkan perasaan bodoh ini.
Tapi rasanya Tuhan
berkata lain. Tepat setelah kepulanganku dari Jepang, aku bertemu lagi
dengannya. Aku melihatnya menjatuhkan barang-barang yang ia bawa di klinik
universitas. Aku membantunya, tapi dia hanya berujar terima kasih kemudian berlalu
begitu saja. Aku sudah membuat keputusan untuk mengakhiri rasa penasaranku
dengannya. Tapi dia malah memanggilku lagi. Dia sepertinya tertarik dengan
gitarku. Aku sempat mendengar suaranya mengatakan gitar tadi.
“Em… kenalin. Gue…
Sandi Yahya.” Ia mengulurkan tangannya. Aku pun melakukan hal yang sama.
“Army.”
Sebelumnya

No comments:
Post a Comment