Thursday, January 16, 2020

Epilog Korek Ati


Bruk!

“Ah, gomenasai (maaf),” ujar laki-laki ini sambil menunduk. Tapi ia berlalu begitu saja. Padahal aku belum sempat membalas permintaan maafnya barusan. Setidaknya aku sudah sempat melihat wajahnya.


Aku hampir beranjak sebelum melihat sebuah kartu pengenal. Aku mengambilnya. Ah, ini milik laki-laki tadi. Sandi Yahya. Oh, ternyata dia juga dari Indonesia. Bahkan seumuran denganku. Yang lebih mengejutkan lagi adalah dia satu universitas denganku.

Hari berikutnya aku berpapasan lagi dengannya. Aku terus mengamatinya, tapi dia sama sekali tak sadar. Aku ingin mengembalikannya sebenarnya. Tapi entah kenapa aku urung melakukannya. Mungkin aku merasa kartu ini pun tak begitu penting untuknya. Setiap dia makan di restauran, aku duduk di dekatnya. Aku mengamati semua yang dia lakukan. Makan, minum, berjalan, memfoto objek atau apapun itu. Dia benar-benar tidak tahu.

Tiga hari aku mengikutinya. Aku sama sekali tak sadar bahwa aku sudah berlaku bodoh. Aku biarkan diriku yang tidak normal ini terus menjadi. Aku mencoba menekannya selama ini, tapi kenapa aku malah melanjutkannya? Ah, tidak! Aku harus berhenti sebelum aku benar-benar mengembangkan perasaan bodoh ini.

Tapi rasanya Tuhan berkata lain. Tepat setelah kepulanganku dari Jepang, aku bertemu lagi dengannya. Aku melihatnya menjatuhkan barang-barang yang ia bawa di klinik universitas. Aku membantunya, tapi dia hanya berujar terima kasih kemudian berlalu begitu saja. Aku sudah membuat keputusan untuk mengakhiri rasa penasaranku dengannya. Tapi dia malah memanggilku lagi. Dia sepertinya tertarik dengan gitarku. Aku sempat mendengar suaranya mengatakan gitar tadi.

“Em… kenalin. Gue… Sandi Yahya.” Ia mengulurkan tangannya. Aku pun melakukan hal yang sama.
 
“Army.”

Sebelumnya

No comments:

Post a Comment