Thursday, January 16, 2020

Korek Ati (End)


Matahari sudah seperempat meninggalkan puncak langit. Beberapa perkuliahan sudah berakhir. Tapi ada juga yang lagi apes dapat kuliah sore. Termasuk kelas Falin. Dosennya memang belum datang. Tapi mereka tidak bisa pulang. Dosennya sudah berpesan pada ketua kelas untuk menunggu sampai setengah empat. Terpaksa mereka semua tetap menunggu di dalam kelas.
Hanya beberapa orang saja yang betah di dalam kelas. Yang lainnya asyik di luar. Duduk di teras kelas dan mengobrol atau melakukan hal lain. Mengerjakan tugas mata kuliah lain atau hanya sekedar menikmati wifi kampus. Selebihnya, paling-paling mlipir pergi karena bosan harus menunggu lebih lama.

Tria sudah meninggalkan Falin yang masih mematung di tempat duduknya. Tadi dia sudah membujuknya untuk ikut keluar kelas. Tapi bocah ini sama sekali tak menggubrisnya. Dengan hati dongkol ia pun pergi sendiri. Lantas yang dilakukan Falin hanya menatap amplop coklat di atas mejanya ini. Amplop yang diberikan Army semalam. Sampai sore ini pun Falin belum berani membukanya. Entahlah, apa yang ia takutkan.

Tepat setengah empat, dosen mata kuliah terakhir hari ini akhirnya masuk juga. Baru beberapa menit Falin mencoba fokus dulu dengan kuliah ini, matanya malah menangkap seseorang yang berdiri di luar pintu. Memberinya sinyal berkali-kali sejak tadi agar Falin menoleh ke arahnya. “Derwan?” lirihnya melihat teman semasa kecilnya itu nampak gusar.

Derwan bingung harus berbuat apa untuk membuat Falin mengerti kata-katanya. Karena berulang kali ia mencoba mengucapkannya dengan pelafalan bibir yang dirasanya cukup jelas Falin tetap saja tak mengerti. Ada satu cara lagi. Ia membuka ranselnya. Mengambil kertas dan pulpen dan menuliskan sesuatu di sana.

Begitu kertas itu diangkat Derwan ke atas kepala, Falin menyipitkan matanya.

Cepet keluar! Tulis Derwan di sana. Falin sempat menanyakan alasannya. Tapi Derwan terus menyuruhnya keluar. Jelas Falin bingung. Bagaimana caranya ia bisa keluar dari sini. Padahal dosen satu ini killer-nya bukan main.

“Yang tidak bawa KBBI harap meninggalkan ruangan!” set! Falin berdiri. Ini kesempatannya. Baru kali ini ia merasa senang karena lupa membawa aset jurusannya itu. Tanpa berucap apapun, ia menenteng tasnya. Keluar dengan percaya dirinya dari kelas. Tak peduli dengan mulut teman-teman satu kelasnya yang menganga lebar lantaran takjub dengan keberanian Falin. Termasuk dosen di depan.

Tapi Falin benar-benar tak peduli. Ia lebih tertarik dengan maksud Derwan menyuruhnya keluar.

“Kenapa, Wan?”

“Sandi! Sandi berhenti kuliah, Lin!”

“Apa?!”

***

Dua lembar dua ratus ribuan Falin sodorkan ke supir taksi ini. Sebelum ia buru-buru keluar. Padahal supir taksi itu sempat memanggilinya. Masih ada sisa dari ongkos yang ditampilkan agronya. “Ambil aja, Pak!” teriak Falin.

“Beneran? Alhamdulillah!” ujar supir setengah baya itu senang.

Selanjutnya Falin terus berlari. Nafasnya tersengal mencari tulisan keberangkatan ke Bendara Tokyo. Ya, sekarang dia ada di Bandara. Bermaksud mencari seseorang yang sudah menulis surat yang masih ia genggam di tangannya.

“Gue nelpon Sandi tadi siang. Dia bilang dia berhenti kuliah. Dia mau lanjut studi ke Jepang. Dia berangkat sore ini. Dia bilang dia udah ngurusin semuanya sejak sebulan yang lalu. Sebenernya dia minta ke gue buat enggak ngasih tahu soal ini ke elo. Tapi gue rasa elo harus tahu, Lin. Lin! Temuin dia sebelum dia bener-bener pergi! Selesain salah paham kalian secepatnya!” jelas Derwan tadi. 
Tanpa pikir panjang Falin langsung bergegas kemari. Melemparkan tasnya kepada Derwan sebelum mengambil uang di dalam dompetnya.

Lantas sekarang ia berputar-putar. Di antara orang-orang itu, hanya sosok Sandi yang ia harapkan. “Say, elo di mana?” racaunya berkali-kali. Matanya mulai berair. Ada rasa takut kehilangan yang muncul. Bahkan ia belum sempat membaca surat ini.

“Saya… Saya…” bibirnya terus-terusan bergetar menyebut nama Sandi. Kakinya mulai terasa lemas. Matanya yang berair tadi mulai membanjiri wajahnya. Beberapa orang yang lewat sempat menubruknya. Ia mulai linglung lantaran Sandi benar-benar tak ia temukan.

“Saya…” kakinya mulai bergegas membawanya ke pusat info. Petugas di sana cukup terkejut melihat kedatangannya yang sudah dipenuhi linangan air mata.

“A, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, melunturkan kewajibannya.

“Penerbangan menuju Tokyo,” jawab Falin begitu lirih. Tapi petugas ini masih bisa mendengar suaranya. Ia kemudian mengecek komputernya. Mencari informasi yang diinginkan Falin.

“Penerbangan ke Tokyo sepuluh menit lagi berangkat. Pintunya sebelah sana,” ujar petugas cantik ini menunjuk antrian beberapa orang. Dua dari antrian paling depan, seseorang dengan jeans yang cukup ia kenal ada di sana. Itu adalah jeans yang ia berikan untuk Sandi sebagai hadiah ulang tahun itu.

“Saya!” teriaknya seraya mencoba berlari. Ia terus memanggilinya bahkan ketika Sandi sudah maju beberapa langkah. Petugas pemeriksa tiket pesawat menghentikannya. “Maaf. Tolong tiketnya.”

“Pak! Saya cuma mau nemuin temen saya bentar aja, Pak. Saya engggak bakal masuk ke pesawat kok, Pak,” pinta Falin memelas.

“Maaf. Tapi Anda tidak diperbolehkan masuk jika Anda tidak memiliki tiket.”

“Saya bukan teroris, Pak. Saya cuma mau ketemu temen saya, Pak. Lima menit, ah, enggak! Tiga puluh detik aja, Pak.”

“Maafkan saya. Tapi Anda benar-benar tidak boleh masuk kemari. Silahkan pergi.”

“Pak…” pinta Falin benar-benar tak ada gunanya. Rasanya semuanya pun sudah terlambat. Sandi sudah tidak kelihatan. Sandi benar-benar pergi. Dia pergi. Dia pergi tanpa Falin sempat mengucap maaf.

Falin berbalik. Linangan air matanya mengalir lebih deras. Bahkan isakannya sampai terdengar orang lain. Wajar saja jika orang-orang yang melewatinya sempat memandanginya heran. Tapi Falin benar-benar tak peduli. Ia terus melangkah dan tangannya mulai membuka perlahan amplop itu. Hanya satu lembar, dan begitu terbuka Falin langsung mengenali tulisan ini.

“Dear, Falin…

Gue enggak tahu situasi apa yang udah buat gue berhasil ngasih surat ini ke elo. Tapi kalo emang sekarang elo udah megang surat ini, itu artinya gue berhasil ngungkapin perasaan gue ke elo yang udah gue pendem selama ini. Biarin gue pake aku-kamuan sekarang.

Aku enggak pernah tahu kapan tepatnya aku mulai punya rasa ini ke kamu. Tapi satu hal, aku mulai mengagumimu sejak pertemuan pertama kita. Empatimu… aku benar-benar berterima kasih karena tanpamu, mungkin aku sudah mati di sana. Banyak orang yang lewat, tapi yang berani menghampiriku hanya kamu, Lin.

 Aku suka ketika kamu dan Derwan terus mengurusiku tanpa keluhan. Kalian enggak kenal aku, tapi kalian tetep mau terima aku selayaknya saudara. Kalau inget masa-masa itu, aku selalu berhutang budi sama kalian.

Tapi, Lin… mungkin aku mulai sadar tentang perasaan ini saat orang tuaku nemuin aku. Aku harus berpisah denganmu. Aku hanya berpisah beberapa hari dari kamu, tapi apa kamu tahu aku merindumu setengah mati? Bocah kecil delapan tahun itu mulai merasakan rasa yang akhirnya bisa aku sebut sebagai… cinta.

Ya, Lin… maaf… aku memendam perasaan ini dari kamu. Aku hanya enggak mau kehilangan kamu. Aku enggak pernah tahu gimana perasaan kamu ke aku. Aku takut kamu bener-bener cuma anggep aku sahabat kamu dan bakalan menjauh dari aku kalau tahu perasaan aku yang sebenarnya. 
Mungkin dengan cara diam, aku bisa tetap berada di samping kamu. Memperhatikanmu, terlibat pertengkaran kecil denganmu, tertawa denganmu dan semuanya… aku menyukainya. Aku benar-benar mencintaimu setulusnya, Lin.

Maaf… aku enggak pandai membuat kata-kata puitis buat kamu. Ini puncaknya. Ini puncak dari rasa aku ke kamu. Karena jika surat ini ada di tangan kamu, itu artinya aku udah enggak bisa lagi buat mendem perasaan ini dari kamu. Setulusnya, aku benar-benar mencintaimu Fahmi Linasta. Lebih dari apapun, bahkan rasa cintaku ke kamu mungkin bisa kamu samakan dengan rasa cintaku untuk kedua orang tuaku. Kamu wanitaku. Selamanya aku hanya bisa mencintaimu. Maafkan aku punya rasa ini. Kalau suatu saat kita harus berpisah karena rasaku ini, maaf sekali lagi. Aku enggak akan pernah bisa menghilangkan rasa cinta ini buat kamu.

Orang yang akan selalu mencintaimu

Saya

Bruk! Kedua kaki Falin sudah tak bisa lagi menopang tubuhnya. Falin ambruk di antara orang-orang yang hampir menganggapnya gila. Ia tak masalah kalaupun akan ada seseorang yang menghubungi rumah sakit jiwa karena tangisannya yang menjadi-jadi sekarang.

Elo jahat, Say! Kenapa elo enggak pernah bilang ke gue langsung! Gue juga cinta sama elo, Say! Sangat! Sangat cinta! Kenapa elo enggak pernah tahu! Kenapa?! Hati Falin menjerit di sela tangisnya.

***

Derwan menatap nanar sahabatnya. Falin benar-benar terlihat kacau. Ia hanya duduk di sofa, memandangi meja datar. Membuat Derwan harus terpaksa berada di dapur rekaman. Ia mendapat teguran dari atasan kampus. Jika Korek Ati tak beroperasi, bisa-bisa mereka benar-benar ditutup sebelum sempat menjadi UKM di kampus ini. Setidaknya itu impian Sandi sebelum pergi. Akhirnya ia harus siap menjadi DJ sekarang.

Tepat pukul delapan. Derwan dengan kegrogiannya berhasil membawakan radio selayaknya DJ biasa. Meski tak semahir Sandi ataupun Falin, tapi setidaknya ia tak terdengar begitu kaku. Selama siaran, matanya tak henti-hetinya melirik Falin. Berharap dia akan bereaksi jika mendengar sedikit gurauannya menanggapi telpon yang masuk. Tapi kenyataannya, nihil.

“Oke. Kita akan bacain mention yang udah masuk, ya. Coba kita lihat. Hem…” Derwan mulai sibuk mengamati komputer di depannya. Beberapa mention ia baca, tak lupa dengan tanggapan-tanggapan yang ia buat sendiri. Rasanya benar-benar kebas. Ia sebenarnya ingin langsung pergi dari sini. Tapi tidak. Ia harus bertahan. Hanya dua jam. Ia yakinkan dirinya sendiri untuk melakukannya dengan baik malam ini saja. Malam selanjutnya? Dia akan memikirkannya nanti.

“Ada lagi mention yang masuk, nih. Dari…” dahi Derwan berkerut membaca nama akun yang akan ia bacakan mention-nya. “Password?” ujarnya sedikit bingung dengan nama ini.

Tapi tidak dengan Falin. Entah mengapa mendengar kata itu ia menoleh ke ruang siaran. Derwan menyadarinya, tapi rasanya ia harus terus membacanya.

“Kamu tahu bagaimana sebuah korek bekerja? Ia rela terbakar, untuk membuat setitik pelita di kegelapan. Aku ingin seperti itu. Biarkan aku menjadi korek dalam ati-mu yang sewaktu-waktu mungkin gelap. Meski aku terbakar dan akan hangus, setidaknya satu kali aku bisa menghilangkan kegelapan di hatimu…” suara Derwan melirih. Yang ia lihat adalah reaksi Falin. Ia sempat tercengang sebentar. Tapi setelahnya dia menangis. Tangannya menangkup wajahnya sendiri. Derwan bisa tebak akun ini milik siapa. Tak ada lagi rasanya yang bisa membuat Falin sekacau ini sekarang kalau bukan bocah itu.

“Andai elo tahu gimana kacaunya Falin sekarang, San…” gumamnya dalam hati.

***

11 Tahun kemudian…

Matahari dari arah timur mulai terasa menyengat. Jam sudah menunjukkan pukul 7 tepat. Jalanan sudah benar-benar ramai. Beberapa kendaraan dengan berbagai jenis memenuhi jalanan. Suara klakson, deru motor, dan langkah tergesa orang-orang yang bersiap pergi ke tujuan masing-masing. Baru saja mereka keluar dari rumah, begitu sampai di jalanan bau wangi dan segar mereka sudah bau asap dan peluh. Time to working.

Tap! Seseorang dengan balutan kemeja dan celana dasar yang begitu rapinya menghentikan langkahnya. Kepalanya mendongak, menatap layar besar di atas gedung bertingkat. Dibenarkannya kacamatanya demi melihat berita apa yang ditampilkan tv super besar itu.

“Seorang animator terkenal di Jepang ternyata berasal dari Indonesia. Beberapa anime hasil karyanya bahkan sudah terkenal di seluruh dunia. Kali ini ia akan kembali ke Indonesia demi memajukan animasi di Indonesia. Animator tampan ini bernama Sandi Yahya.” Begitu nama animator itu disebut, seorang yang cukup ia kenal muncul di layar. Laki-laki, dengan setelan jas resmi yang begitu necis tersenyum ke arah kamera. “Saya akan kembali, mengabdi ke Negara tercinta.”

Senyuman manis orang ini memunculkan kedua lesung pipitnya. Ia kembali melangkah dengan senyuman yang tak lekas pergi dari wajahnya.

Hanya beberapa meter ia melangkah, ia sudah sampai di sebuah kantor sederhana. Sebuah plang dengan tulisan Poli Jiwa: dr. Army S., SpKJ. Seharusnya tak ada siapapun saat ia masuk ke sana. Tapi yang dilihatnya seseorang dengan seragam SMA lengkap sudah duduk di tempat duduknya.

“Desi?” panggilnya ragu. Remaja itu berbalik. Wajahnya langsung sumringah melihat kedatangan orang yang sejak tadi ia tunggu.

“Pangeran!” teriaknya senang. Serta merta ia memeluk pangeran-nya. “Lama banget, sih? Tuan Putri capek nih nunggunya.”

“Desi…” dilepaskannya pelukan itu. Ia menghela nafasnya melihat wajah cemberut sang putri. Tapi setelah itu ia tersenyum. Ia memilih menuju mejanya. Menaruh tas yang ia bawa kemudian mengambil jas putih yang tergantung di belakang kursi, lalu mengenakannya.

“Kamu bolos lagi, ya?” tanyanya sambil menoleh sebentar. Desi melipat kedua tangannya kemudian duduk di sofa yang tak jauh darinya. Dokter ini, yah… kalian bisa memanggilnya Army, mendekatinya. Tangannya mengulurkan sebotol jus jeruk padanya. Tangannya begitu gemas melihat gelembung di kedua pipi itu. Karenanya ia mencubitnya.

“Biarin aja! Aku lagi marah sama kak Derwan! Masa semalem dia bilang aku enggak boleh nikah sama kak Army. Padahal aku cuma lupa enggak cuci piring sore,” lapornya sebal. Army tertawa pelan. Yah… Derwan sepertinya belum menyetujui hubungan mereka. Terlalu konyol memang. Hey! Usia mereka terpaut begitu jauh. Bagaimana mungkin Derwan bisa menyetujui mereka begitu saja? Meski ia tahu betul Army benar-benar menyukai adiknya, tapi entahlah… itu masih sulit untuk diterima.

Tiba-tiba handphone Army bergetar. Diambilnya benda itu dari saku celananya. Derwan. Ia tersenyum, baru tadi dibicarakan, sekarang orang ini sudah menelponnya.

“Iya, Wan?” mata Desi mendelik mendengar setengah nama kakaknya disebut. “Iya, Desi di sini.” Army tersenyum melihat bagaimana ekspresi Desi sebal karena ia sudah mengadukannya pada Derwan. “Ehm! Dia enggak mau ke sekolah katanya.”

“Iya! Iya! Desi berangkat! Pokoknya kakak harus ngrestuin Desi sama Kak Army!” teriak Desi frustasi. Buru-buru ia mengambil tasnya dan keluar dari sana. Army tertawa dibuatnya.

“Ya… dia udah pergi. Sandi? Ya… gue rasa dia pulang. Ehm, oke.”

Setelah mengakhiri panggilan, Derwan memasukkan handphone-nya ke saku bajunya. “Rapihkan barisan!” teriaknya pada beberapa mahasiswa yang sudah lengkap memakai seragam olahraga. Ia sendiri pun terlihat gagah dengan seragam olahraga dan pluit yang ia kalungkan di lehernya.

“Absen mana absen?”

***

“Selamat malam Petirs! Para pengamuk hati lovers tercinta! Gimana nih kabarnya? Pasti masih pada galau, ya? Terutama si para jomblo yang enggak ada yang ngapelin di malam minggu yang cukup cerah ini. Haha… oke-oke! Tenang, ada gue, Mia Lestari yang akan menemani malam kalian dengan suka cita.

“Nah, kali ini, sesuai janji minggu kemarin, gue bakalan mendatangkan bintang tamu, yaitu pengurus pertama dari Korek Ati sekaligus penulis kondang yang lagi naik daun. Nah, langsung saja nih, kita ngobrol-ngobrol bareng Kakaknya langsung: Fahmi Linasta.”

Di samping Mia sudah ada seorang wanita dengan gaun putih lengan pendek selutut yang begitu menawan yang tak lain dan tak bukan adalah Falin. Rambut panjangnya ia biarkan menjuntai ke depan bahu sebelah kanan. Senyumnya terbentuk ketika Mia memutar kursinya condong ke arahnya.

“Selamat malam Kak Fahmi.”

“Malam.”

“Wah… suatu kehormatan nih bisa mendatangkan kak Fahmi di sini. Saya ini pengagum berat karya-karya kak Fahmi, loh.”

“Oh, iya?”

“Ya, Kak. Kakak juga kan salah satu angkatan pertama, pendiri dari Korek Ati kita ini. Mau tanya-tanya aja, Kak. Gimana sih awal-awalnya Korek Ati ini dulu? Kita udah menjadi radio top yang bahkan enggak cuma di kampus aja. Sekarang, kita udah merambah ke seluruh Jakarta nih, Kak.”

“Ya, syukurlah. Dulu sih, pas awal-awal pengurusnya hanya tiga orang. Dulu jangankan untuk merambah ke luar kampus, menjadi UKM aja susah banget.”

Mia terus menanyakan seputar Korek Ati. Falin pun menjawab dengan sepenuh hati, sesuai dengan yang ia inginkan. Tapi tiba-tiba Mia menanyakan hal yang sangat pribadi.

“Kak Fahmi ini kira-kira udah punya pasangan belum? Kan kak Fahmi udah waktunya untuk menikah, masa iya belum ada calon?”

“Ahaha… soal itu…” Falin jelas bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan ini.

“Jadi?”

“Em…”

Belum sempat Falin menjawabnya, tiba-tiba lampu studi padam. Tapi komputer dan alat siaran masih berfungsi sepenuhnya. Semuanya sempat kebingungan. Apalagi Falin. Rasanya dulu tak pernah studio mati dengan tiba-tiba seperti ini.

“Hidupin lampunya!” teriak seseorang dari dapur siaran. Beberapa detik kemudian, lampu kembali hidup. Tapi begitu lampu hidup, suara permainan piano terdengar. Falin celingukan mencari suara ini. Dari luar dapur siaran, ada sebuah grand piano putih dengan seseorang dengan setelan putih duduk di atas kursinya. Bermain dengan khidmat hingga membuat Falin bangun dari tempat duduknya. Pelan-pelan ia melangkah keluar demi melihat siapa orang itu. Ia tak melihat Mia dan beberapa temannya yang menjadi pengurus Korek Ati sudah tersenyum. Inikah rencana mereka?

Pria itu memainkan lagu lamanya Yovie & Nuno. Suara ini… Falin rasanya tahu.

Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin… mempersuntingmu
Tuk yang pertama… dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Dengarkanlah, wanita pujaanku
malam ini akan kusampaikan
janji suci satu untuk selamanya
dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin… mempersuntingmu
Tuk yang pertama… dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Oh..woo…oh..woo…oh..wooo

 Lagu itu berakhir, tepat ketika Falin sudah berada di belakang pria ini. Pria ini berdiri setelah menggamit seikat mawar merah di atas pianonya. Ia berbalik dan berhasil membuat mata Falin menatapnya tak percaya. Senyumannya mengundang genangan di mata Falin. Ia mengambil beberapa langkah agar bisa berada tepat di depan Falin. Tangannya terulur memberikan bunga itu. Meskipun ragu, Falin menerimanya juga.

Selanjutnya pria ini hanya tersenyum. Senyumnya cukup lama setelah kemudian ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu ia berlutut, tangan kanannya merogoh saku jasnya. Sebuah kotak merah yang dikeluarkannya. Ia membukanya dan menyodorkannya ke depan Falin. Ada sebuah cincin di dalamnya. Falin hanya menatapnya, tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia masih tak percaya bahwa yang ia lihat ini adalah Sandi! Ya, Sandi Yahya! Orang yang sudah sebelas tahun lamanya selalu ia rindukan. Orang yang bahkan tak pernah memberinya kabar sama sekali. Benarkah ini Sandi? Ia masih bertanya-tanya dalam hatinya.

“Fahmi Linasta… will you marry me?” ujar Sandi pelan. Tapi begitu tepat di hati Falin. Falin tak bereaksi. Genangan di matanya mulai banyak. Tapi satu tetes pun belum sempat melompat keluar.

Lama menunggu respon dari Falin, Sandi akhirnya berdiri. Diambilnya tangan Falin dan dipasangkannya cincin itu. “Bete, ah! Lama! Elo mau atau enggak, pokoknya elo harus jadi istri gue,” katanya kemudian sambil tertawa kecil.

Tes… akhirnya air itu keluar. Melihatnya tentu saja Sandi malah kebingungan. “Eh, eh! Loh, kok malah nangis,  sih? Aduh… iya… iya… maaf kalo elo enggak mau.. aduh, duh… jangan nangis dong, Lin…” racau Sandi kebingungan. Tapi tangisan Falin malah makin menjadi.

“A, aduh, Lin… heh! Heh! Ja, jangan nangis, dong… aduh… Lin…”

Grep! Sandi terdiam seketika. Falin tiba-tiba memeluknya begitu saja. Meski tangisan Falin terus terdengar, Sandi tersenyum. Ia sadar, ini adalah air mata kebahagian Falin.

“I love you, Lin. More I more,” bisik Sandi mempererat pelukannya.

“Me too, Say. I love you more I more,” balas Falin di sela tangisnya.

Semua yang ada di sana tersenyum. Bahkan ada juga yang sampai ikut menangis. Lagu yang dinyanyikan Sandi tadi kembali diputar. Menjadi backsong yang pas bagi momen ini. Sementara itu Derwan dan Army sudah ada di depan pintu menyungging senyum melihat kedua orang itu akhirnya bersatu.

Kau tau bagaimana sebuah batang korek api bekerja? Ia rela berkorban agar muncul sebuah api sebagai pelita di kegelapan. Terima kasih untuk batang korek api yang  berhasil menerangi hati yang gelap untuk selamanya.
 

…SEKIAN…


Sebelumnya            Epilog

No comments:

Post a Comment