Matahari sudah
seperempat meninggalkan puncak langit. Beberapa perkuliahan sudah berakhir.
Tapi ada juga yang lagi apes dapat kuliah sore. Termasuk kelas Falin. Dosennya
memang belum datang. Tapi mereka tidak bisa pulang. Dosennya sudah berpesan
pada ketua kelas untuk menunggu sampai setengah empat. Terpaksa mereka semua
tetap menunggu di dalam kelas.
Tria sudah
meninggalkan Falin yang masih mematung di tempat duduknya. Tadi dia sudah
membujuknya untuk ikut keluar kelas. Tapi bocah ini sama sekali tak
menggubrisnya. Dengan hati dongkol ia pun pergi sendiri. Lantas yang dilakukan
Falin hanya menatap amplop coklat di atas mejanya ini. Amplop yang diberikan
Army semalam. Sampai sore ini pun Falin belum berani membukanya. Entahlah, apa
yang ia takutkan.
Tepat setengah empat,
dosen mata kuliah terakhir hari ini akhirnya masuk juga. Baru beberapa menit
Falin mencoba fokus dulu dengan kuliah ini, matanya malah menangkap seseorang
yang berdiri di luar pintu. Memberinya sinyal berkali-kali sejak tadi agar
Falin menoleh ke arahnya. “Derwan?” lirihnya melihat teman semasa kecilnya itu
nampak gusar.
Derwan bingung harus
berbuat apa untuk membuat Falin mengerti kata-katanya. Karena berulang kali ia
mencoba mengucapkannya dengan pelafalan bibir yang dirasanya cukup jelas Falin
tetap saja tak mengerti. Ada satu cara lagi. Ia membuka ranselnya. Mengambil
kertas dan pulpen dan menuliskan sesuatu di sana.
Begitu kertas itu
diangkat Derwan ke atas kepala, Falin menyipitkan matanya.
Cepet keluar! Tulis Derwan di sana. Falin sempat menanyakan
alasannya. Tapi Derwan terus menyuruhnya keluar. Jelas Falin bingung. Bagaimana
caranya ia bisa keluar dari sini. Padahal dosen satu ini killer-nya
bukan main.
“Yang tidak bawa KBBI
harap meninggalkan ruangan!” set! Falin berdiri. Ini kesempatannya. Baru
kali ini ia merasa senang karena lupa membawa aset jurusannya itu. Tanpa
berucap apapun, ia menenteng tasnya. Keluar dengan percaya dirinya dari kelas.
Tak peduli dengan mulut teman-teman satu kelasnya yang menganga lebar lantaran
takjub dengan keberanian Falin. Termasuk dosen di depan.
Tapi Falin benar-benar
tak peduli. Ia lebih tertarik dengan maksud Derwan menyuruhnya keluar.
“Kenapa, Wan?”
“Sandi! Sandi berhenti
kuliah, Lin!”
“Apa?!”
***
Dua lembar dua ratus
ribuan Falin sodorkan ke supir taksi ini. Sebelum ia buru-buru keluar. Padahal
supir taksi itu sempat memanggilinya. Masih ada sisa dari ongkos yang
ditampilkan agronya. “Ambil aja, Pak!” teriak Falin.
“Beneran?
Alhamdulillah!” ujar supir setengah baya itu senang.
Selanjutnya Falin
terus berlari. Nafasnya tersengal mencari tulisan keberangkatan ke Bendara
Tokyo. Ya, sekarang dia ada di Bandara. Bermaksud mencari seseorang yang sudah
menulis surat yang masih ia genggam di tangannya.
“Gue nelpon Sandi
tadi siang. Dia bilang dia berhenti kuliah. Dia mau lanjut studi ke Jepang. Dia
berangkat sore ini. Dia bilang dia udah ngurusin semuanya sejak sebulan yang
lalu. Sebenernya dia minta ke gue buat enggak ngasih tahu soal ini ke elo. Tapi
gue rasa elo harus tahu, Lin. Lin! Temuin dia sebelum dia bener-bener pergi!
Selesain salah paham kalian secepatnya!” jelas Derwan tadi.
Tanpa pikir panjang Falin langsung bergegas kemari.
Melemparkan tasnya kepada Derwan sebelum mengambil uang di dalam dompetnya.
Lantas sekarang ia
berputar-putar. Di antara orang-orang itu, hanya sosok Sandi yang ia harapkan.
“Say, elo di mana?” racaunya berkali-kali. Matanya mulai berair. Ada rasa takut
kehilangan yang muncul. Bahkan ia belum sempat membaca surat ini.
“Saya… Saya…” bibirnya
terus-terusan bergetar menyebut nama Sandi. Kakinya mulai terasa lemas. Matanya
yang berair tadi mulai membanjiri wajahnya. Beberapa orang yang lewat sempat
menubruknya. Ia mulai linglung lantaran Sandi benar-benar tak ia temukan.
“Saya…” kakinya mulai
bergegas membawanya ke pusat info. Petugas di sana cukup terkejut melihat
kedatangannya yang sudah dipenuhi linangan air mata.
“A, ada yang bisa saya
bantu?” tanyanya, melunturkan kewajibannya.
“Penerbangan menuju
Tokyo,” jawab Falin begitu lirih. Tapi petugas ini masih bisa mendengar
suaranya. Ia kemudian mengecek komputernya. Mencari informasi yang diinginkan
Falin.
“Penerbangan ke Tokyo
sepuluh menit lagi berangkat. Pintunya sebelah sana,” ujar petugas cantik ini
menunjuk antrian beberapa orang. Dua dari antrian paling depan, seseorang
dengan jeans yang cukup ia kenal ada di sana. Itu adalah jeans
yang ia berikan untuk Sandi sebagai hadiah ulang tahun itu.
“Saya!” teriaknya
seraya mencoba berlari. Ia terus memanggilinya bahkan ketika Sandi sudah maju
beberapa langkah. Petugas pemeriksa tiket pesawat menghentikannya. “Maaf.
Tolong tiketnya.”
“Pak! Saya cuma mau
nemuin temen saya bentar aja, Pak. Saya engggak bakal masuk ke pesawat kok,
Pak,” pinta Falin memelas.
“Maaf. Tapi Anda tidak
diperbolehkan masuk jika Anda tidak memiliki tiket.”
“Saya bukan teroris,
Pak. Saya cuma mau ketemu temen saya, Pak. Lima menit, ah, enggak! Tiga puluh
detik aja, Pak.”
“Maafkan saya. Tapi
Anda benar-benar tidak boleh masuk kemari. Silahkan pergi.”
“Pak…” pinta Falin
benar-benar tak ada gunanya. Rasanya semuanya pun sudah terlambat. Sandi sudah
tidak kelihatan. Sandi benar-benar pergi. Dia pergi. Dia pergi tanpa Falin
sempat mengucap maaf.
Falin berbalik.
Linangan air matanya mengalir lebih deras. Bahkan isakannya sampai terdengar orang
lain. Wajar saja jika orang-orang yang melewatinya sempat memandanginya heran.
Tapi Falin benar-benar tak peduli. Ia terus melangkah dan tangannya mulai
membuka perlahan amplop itu. Hanya satu lembar, dan begitu terbuka Falin
langsung mengenali tulisan ini.
“Dear, Falin…
Gue enggak tahu
situasi apa yang udah buat gue berhasil ngasih surat ini ke elo. Tapi kalo
emang sekarang elo udah megang surat ini, itu artinya gue berhasil ngungkapin
perasaan gue ke elo yang udah gue pendem selama ini. Biarin gue pake aku-kamuan
sekarang.
Aku enggak pernah
tahu kapan tepatnya aku mulai punya rasa ini ke kamu. Tapi satu hal, aku mulai
mengagumimu sejak pertemuan pertama kita. Empatimu… aku benar-benar berterima
kasih karena tanpamu, mungkin aku sudah mati di sana. Banyak orang yang lewat,
tapi yang berani menghampiriku hanya kamu, Lin.
Aku suka ketika
kamu dan Derwan terus mengurusiku tanpa keluhan. Kalian enggak kenal aku, tapi
kalian tetep mau terima aku selayaknya saudara. Kalau inget masa-masa itu, aku
selalu berhutang budi sama kalian.
Tapi, Lin… mungkin
aku mulai sadar tentang perasaan ini saat orang tuaku nemuin aku. Aku harus
berpisah denganmu. Aku hanya berpisah beberapa hari dari kamu, tapi apa kamu
tahu aku merindumu setengah mati? Bocah kecil delapan tahun itu mulai merasakan
rasa yang akhirnya bisa aku sebut sebagai… cinta.
Ya, Lin… maaf… aku
memendam perasaan ini dari kamu. Aku hanya enggak mau kehilangan kamu. Aku
enggak pernah tahu gimana perasaan kamu ke aku. Aku takut kamu bener-bener cuma
anggep aku sahabat kamu dan bakalan menjauh dari aku kalau tahu perasaan aku
yang sebenarnya.
Mungkin dengan cara diam, aku bisa tetap berada di samping
kamu. Memperhatikanmu, terlibat pertengkaran kecil denganmu, tertawa denganmu
dan semuanya… aku menyukainya. Aku benar-benar mencintaimu setulusnya, Lin.
Maaf… aku enggak
pandai membuat kata-kata puitis buat kamu. Ini puncaknya. Ini puncak dari rasa
aku ke kamu. Karena jika surat ini ada di tangan kamu, itu artinya aku udah
enggak bisa lagi buat mendem perasaan ini dari kamu. Setulusnya, aku
benar-benar mencintaimu Fahmi Linasta. Lebih dari apapun, bahkan rasa cintaku
ke kamu mungkin bisa kamu samakan dengan rasa cintaku untuk kedua orang tuaku.
Kamu wanitaku. Selamanya aku hanya bisa mencintaimu. Maafkan aku punya rasa
ini. Kalau suatu saat kita harus berpisah karena rasaku ini, maaf sekali lagi.
Aku enggak akan pernah bisa menghilangkan rasa cinta ini buat kamu.
Orang yang akan selalu mencintaimu
Saya
Bruk! Kedua kaki Falin sudah tak bisa lagi menopang
tubuhnya. Falin ambruk di antara orang-orang yang hampir menganggapnya gila. Ia
tak masalah kalaupun akan ada seseorang yang menghubungi rumah sakit jiwa
karena tangisannya yang menjadi-jadi sekarang.
Elo jahat, Say!
Kenapa elo enggak pernah bilang ke gue langsung! Gue juga cinta sama elo, Say! Sangat!
Sangat cinta! Kenapa elo enggak pernah tahu! Kenapa?! Hati Falin menjerit di sela tangisnya.
***
Derwan menatap nanar
sahabatnya. Falin benar-benar terlihat kacau. Ia hanya duduk di sofa,
memandangi meja datar. Membuat Derwan harus terpaksa berada di dapur rekaman.
Ia mendapat teguran dari atasan kampus. Jika Korek Ati tak beroperasi,
bisa-bisa mereka benar-benar ditutup sebelum sempat menjadi UKM di kampus ini.
Setidaknya itu impian Sandi sebelum pergi. Akhirnya ia harus siap menjadi DJ
sekarang.
Tepat pukul delapan.
Derwan dengan kegrogiannya berhasil membawakan radio selayaknya DJ biasa. Meski
tak semahir Sandi ataupun Falin, tapi setidaknya ia tak terdengar begitu kaku.
Selama siaran, matanya tak henti-hetinya melirik Falin. Berharap dia akan
bereaksi jika mendengar sedikit gurauannya menanggapi telpon yang masuk. Tapi
kenyataannya, nihil.
“Oke. Kita akan bacain
mention yang udah masuk, ya. Coba kita lihat. Hem…” Derwan mulai sibuk
mengamati komputer di depannya. Beberapa mention ia baca, tak lupa
dengan tanggapan-tanggapan yang ia buat sendiri. Rasanya benar-benar kebas. Ia
sebenarnya ingin langsung pergi dari sini. Tapi tidak. Ia harus bertahan. Hanya
dua jam. Ia yakinkan dirinya sendiri untuk melakukannya dengan baik malam ini
saja. Malam selanjutnya? Dia akan memikirkannya nanti.
“Ada lagi mention
yang masuk, nih. Dari…” dahi Derwan berkerut membaca nama akun yang akan ia
bacakan mention-nya. “Password?” ujarnya sedikit bingung dengan nama
ini.
Tapi tidak dengan
Falin. Entah mengapa mendengar kata itu ia menoleh ke ruang siaran. Derwan
menyadarinya, tapi rasanya ia harus terus membacanya.
“Kamu tahu bagaimana
sebuah korek bekerja? Ia rela terbakar, untuk membuat setitik pelita di
kegelapan. Aku ingin seperti itu. Biarkan aku menjadi korek dalam ati-mu
yang sewaktu-waktu mungkin gelap. Meski aku terbakar dan akan hangus,
setidaknya satu kali aku bisa menghilangkan kegelapan di hatimu…” suara Derwan
melirih. Yang ia lihat adalah reaksi Falin. Ia sempat tercengang sebentar. Tapi
setelahnya dia menangis. Tangannya menangkup wajahnya sendiri. Derwan bisa
tebak akun ini milik siapa. Tak ada lagi rasanya yang bisa membuat Falin
sekacau ini sekarang kalau bukan bocah itu.
“Andai elo tahu
gimana kacaunya Falin sekarang, San…” gumamnya dalam hati.
***
11 Tahun kemudian…
Matahari dari arah
timur mulai terasa menyengat. Jam sudah menunjukkan pukul 7 tepat. Jalanan
sudah benar-benar ramai. Beberapa kendaraan dengan berbagai jenis memenuhi
jalanan. Suara klakson, deru motor, dan langkah tergesa orang-orang yang
bersiap pergi ke tujuan masing-masing. Baru saja mereka keluar dari rumah,
begitu sampai di jalanan bau wangi dan segar mereka sudah bau asap dan peluh. Time
to working.
Tap! Seseorang dengan balutan kemeja dan celana
dasar yang begitu rapinya menghentikan langkahnya. Kepalanya mendongak, menatap
layar besar di atas gedung bertingkat. Dibenarkannya kacamatanya demi melihat
berita apa yang ditampilkan tv super besar itu.
“Seorang animator
terkenal di Jepang ternyata berasal dari Indonesia. Beberapa anime hasil
karyanya bahkan sudah terkenal di seluruh dunia. Kali ini ia akan kembali ke
Indonesia demi memajukan animasi di Indonesia. Animator tampan ini bernama
Sandi Yahya.” Begitu nama
animator itu disebut, seorang yang cukup ia kenal muncul di layar. Laki-laki,
dengan setelan jas resmi yang begitu necis tersenyum ke arah kamera. “Saya
akan kembali, mengabdi ke Negara tercinta.”
Senyuman manis orang
ini memunculkan kedua lesung pipitnya. Ia kembali melangkah dengan senyuman
yang tak lekas pergi dari wajahnya.
Hanya beberapa meter
ia melangkah, ia sudah sampai di sebuah kantor sederhana. Sebuah plang dengan
tulisan Poli Jiwa: dr. Army S., SpKJ. Seharusnya tak ada siapapun saat
ia masuk ke sana. Tapi yang dilihatnya seseorang dengan seragam SMA lengkap
sudah duduk di tempat duduknya.
“Desi?” panggilnya
ragu. Remaja itu berbalik. Wajahnya langsung sumringah melihat kedatangan orang
yang sejak tadi ia tunggu.
“Pangeran!” teriaknya
senang. Serta merta ia memeluk pangeran-nya. “Lama banget, sih? Tuan
Putri capek nih nunggunya.”
“Desi…” dilepaskannya
pelukan itu. Ia menghela nafasnya melihat wajah cemberut sang putri.
Tapi setelah itu ia tersenyum. Ia memilih menuju mejanya. Menaruh tas yang ia
bawa kemudian mengambil jas putih yang tergantung di belakang kursi, lalu
mengenakannya.
“Kamu bolos lagi, ya?”
tanyanya sambil menoleh sebentar. Desi melipat kedua tangannya kemudian duduk
di sofa yang tak jauh darinya. Dokter ini, yah… kalian bisa memanggilnya Army,
mendekatinya. Tangannya mengulurkan sebotol jus jeruk padanya. Tangannya begitu
gemas melihat gelembung di kedua pipi itu. Karenanya ia mencubitnya.
“Biarin aja! Aku lagi
marah sama kak Derwan! Masa semalem dia bilang aku enggak boleh nikah sama kak
Army. Padahal aku cuma lupa enggak cuci piring sore,” lapornya sebal. Army
tertawa pelan. Yah… Derwan sepertinya belum menyetujui hubungan mereka. Terlalu
konyol memang. Hey! Usia mereka terpaut begitu jauh. Bagaimana mungkin Derwan
bisa menyetujui mereka begitu saja? Meski ia tahu betul Army benar-benar
menyukai adiknya, tapi entahlah… itu masih sulit untuk diterima.
Tiba-tiba handphone
Army bergetar. Diambilnya benda itu dari saku celananya. Derwan. Ia
tersenyum, baru tadi dibicarakan, sekarang orang ini sudah menelponnya.
“Iya, Wan?” mata Desi
mendelik mendengar setengah nama kakaknya disebut. “Iya, Desi di sini.”
Army tersenyum melihat bagaimana ekspresi Desi sebal karena ia sudah
mengadukannya pada Derwan. “Ehm! Dia enggak mau ke sekolah katanya.”
“Iya! Iya! Desi
berangkat! Pokoknya kakak harus ngrestuin Desi sama Kak Army!” teriak Desi
frustasi. Buru-buru ia mengambil tasnya dan keluar dari sana. Army tertawa
dibuatnya.
“Ya… dia udah pergi.
Sandi? Ya… gue rasa dia pulang. Ehm, oke.”
Setelah mengakhiri
panggilan, Derwan memasukkan handphone-nya ke saku bajunya. “Rapihkan
barisan!” teriaknya pada beberapa mahasiswa yang sudah lengkap memakai seragam
olahraga. Ia sendiri pun terlihat gagah dengan seragam olahraga dan pluit yang
ia kalungkan di lehernya.
“Absen mana absen?”
***
“Selamat malam Petirs!
Para pengamuk hati lovers tercinta! Gimana nih kabarnya? Pasti masih pada
galau, ya? Terutama si para jomblo yang enggak ada yang ngapelin di malam
minggu yang cukup cerah ini. Haha… oke-oke! Tenang, ada gue, Mia Lestari yang
akan menemani malam kalian dengan suka cita.
“Nah, kali ini, sesuai
janji minggu kemarin, gue bakalan mendatangkan bintang tamu, yaitu pengurus
pertama dari Korek Ati sekaligus penulis kondang yang lagi naik daun.
Nah, langsung saja nih, kita ngobrol-ngobrol bareng Kakaknya langsung: Fahmi
Linasta.”
Di samping Mia sudah
ada seorang wanita dengan gaun putih lengan pendek selutut yang begitu menawan
yang tak lain dan tak bukan adalah Falin. Rambut panjangnya ia biarkan menjuntai ke depan bahu
sebelah kanan. Senyumnya terbentuk ketika Mia memutar kursinya condong ke
arahnya.
“Selamat malam Kak
Fahmi.”
“Malam.”
“Wah… suatu kehormatan
nih bisa mendatangkan kak Fahmi di sini. Saya ini pengagum berat karya-karya
kak Fahmi, loh.”
“Oh, iya?”
“Ya, Kak. Kakak juga
kan salah satu angkatan pertama, pendiri dari Korek Ati kita ini. Mau
tanya-tanya aja, Kak. Gimana sih awal-awalnya Korek Ati ini dulu? Kita
udah menjadi radio top yang bahkan enggak cuma di kampus aja. Sekarang, kita
udah merambah ke seluruh Jakarta nih, Kak.”
“Ya, syukurlah. Dulu
sih, pas awal-awal pengurusnya hanya tiga orang. Dulu jangankan untuk merambah
ke luar kampus, menjadi UKM aja susah banget.”
Mia terus menanyakan
seputar Korek Ati. Falin pun menjawab dengan sepenuh hati, sesuai dengan
yang ia inginkan. Tapi tiba-tiba Mia menanyakan hal yang sangat pribadi.
“Kak Fahmi ini
kira-kira udah punya pasangan belum? Kan kak Fahmi udah waktunya untuk menikah,
masa iya belum ada calon?”
“Ahaha… soal itu…”
Falin jelas bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan ini.
“Jadi?”
“Em…”
Belum sempat Falin
menjawabnya, tiba-tiba lampu studi padam. Tapi komputer dan alat siaran masih
berfungsi sepenuhnya. Semuanya sempat kebingungan. Apalagi Falin. Rasanya dulu
tak pernah studio mati dengan tiba-tiba seperti ini.
“Hidupin lampunya!”
teriak seseorang dari dapur siaran. Beberapa detik kemudian, lampu kembali
hidup. Tapi begitu lampu hidup, suara permainan piano terdengar. Falin
celingukan mencari suara ini. Dari luar dapur siaran, ada sebuah grand piano
putih dengan seseorang dengan setelan putih duduk di atas kursinya. Bermain
dengan khidmat hingga membuat Falin bangun dari tempat duduknya. Pelan-pelan ia
melangkah keluar demi melihat siapa orang itu. Ia tak melihat Mia dan beberapa
temannya yang menjadi pengurus Korek Ati sudah tersenyum. Inikah rencana
mereka?
Pria itu memainkan
lagu lamanya Yovie & Nuno. Suara ini… Falin rasanya tahu.
Dengarkanlah,
wanita pujaanku
Malam ini akan
kusampaikan
Hasrat suci kepadamu,
dewiku
Dengarkanlah
kesungguhan ini
Aku ingin…
mempersuntingmu
Tuk yang pertama…
dan terakhir
Jangan kau tolak
dan buatku hancur
Ku tak akan
mengulang tuk meminta
Satu keyakinan
hatiku ini
Akulah yang terbaik
untukmu
Dengarkanlah,
wanita pujaanku
malam ini akan kusampaikan
janji suci satu untuk selamanya
dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin…
mempersuntingmu
Tuk yang pertama…
dan terakhir
Jangan kau tolak
dan buatku hancur
Ku tak akan
mengulang tuk meminta
Satu keyakinan
hatiku ini
Akulah yang terbaik
untukmu
Oh..woo…oh..woo…oh..wooo
Lagu itu berakhir, tepat ketika Falin sudah
berada di belakang pria ini. Pria ini berdiri setelah menggamit seikat mawar merah
di atas pianonya. Ia berbalik dan berhasil membuat mata Falin menatapnya tak
percaya. Senyumannya mengundang genangan di mata Falin. Ia mengambil beberapa
langkah agar bisa berada tepat di depan Falin. Tangannya terulur memberikan
bunga itu. Meskipun ragu, Falin menerimanya juga.
Selanjutnya pria ini
hanya tersenyum. Senyumnya cukup lama setelah kemudian ia mengambil nafas
dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu ia berlutut, tangan kanannya
merogoh saku jasnya. Sebuah kotak merah yang dikeluarkannya. Ia membukanya dan
menyodorkannya ke depan Falin. Ada sebuah cincin di dalamnya. Falin hanya
menatapnya, tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia masih tak percaya bahwa yang
ia lihat ini adalah Sandi! Ya, Sandi Yahya! Orang yang sudah sebelas tahun
lamanya selalu ia rindukan. Orang yang bahkan tak pernah memberinya kabar sama
sekali. Benarkah ini Sandi? Ia masih bertanya-tanya dalam hatinya.
“Fahmi Linasta… will
you marry me?” ujar Sandi pelan. Tapi begitu tepat di hati Falin. Falin tak
bereaksi. Genangan di matanya mulai banyak. Tapi satu tetes pun belum sempat
melompat keluar.
Lama menunggu respon
dari Falin, Sandi akhirnya berdiri. Diambilnya tangan Falin dan dipasangkannya
cincin itu. “Bete, ah! Lama! Elo mau atau enggak, pokoknya elo harus jadi istri
gue,” katanya kemudian sambil tertawa kecil.
Tes… akhirnya air itu keluar. Melihatnya tentu saja
Sandi malah kebingungan. “Eh, eh! Loh, kok malah nangis, sih? Aduh… iya… iya… maaf kalo elo enggak
mau.. aduh, duh… jangan nangis dong, Lin…” racau Sandi kebingungan. Tapi
tangisan Falin malah makin menjadi.
“A, aduh, Lin… heh!
Heh! Ja, jangan nangis, dong… aduh… Lin…”
Grep! Sandi terdiam seketika. Falin tiba-tiba
memeluknya begitu saja. Meski tangisan Falin terus terdengar, Sandi tersenyum.
Ia sadar, ini adalah air mata kebahagian Falin.
“I love you, Lin. More
I more,” bisik Sandi mempererat pelukannya.
“Me too, Say. I love
you more I more,” balas Falin di sela tangisnya.
Semua yang ada di sana
tersenyum. Bahkan ada juga yang sampai ikut menangis. Lagu yang dinyanyikan
Sandi tadi kembali diputar. Menjadi backsong yang pas bagi momen ini.
Sementara itu Derwan dan Army sudah ada di depan pintu menyungging senyum
melihat kedua orang itu akhirnya bersatu.
Kau tau bagaimana
sebuah batang korek api bekerja? Ia rela berkorban agar muncul sebuah api
sebagai pelita di kegelapan. Terima kasih untuk batang korek api yang berhasil menerangi hati yang gelap untuk
selamanya.
…SEKIAN…
Sebelumnya Epilog

No comments:
Post a Comment