“Ho… dibales! Dibales! Mia! Liat,
nih! Bbm gue dibales sama Kak Dedi!” seru Farra begitu senangnya. Kuberi
senyuman palsu padanya. Yah, sebenarnya aku sedikit cemburu. Tentu saja!
Walaupun aku belum sepenuhnya menyukai Kak Dedi, tapi kan aku duluan yang mulai
tertarik padanya. Hah… mungkin salahku juga karena aku tak memberitahu Farra
duluan, kenapa aku tertarik untuk ikut hima.
Kupilih bangun. Tenggorokanku
terasa kering. Teh punyaku sudah habis. Tadi Sati yang membuatnya, dan ia tak
membawa air putih sekalian.
Satu gelas penuh kuhabiskan dalam
sekali teguk. Wah! Sebegitunyakah aku kehausan?
“Bawa sekalian itu sebotol, Mi!”
tiba-tiba suara Tora mengangetkanku. Sontak aku berbalik. Tora sudah berada
tepat di belakangku. Ya, ampun! Jarak kami begitu dekatnya. Ia terus saja
memajukan tubuhnya. Tu, tunggu! A, apa yang mau dia lakukan?
“Nga, ngapain, sih?”
“Apa, sih? Gue cuma mau ngambil
gula, kok!” aku terdiam. Agak kikuk juga, terlebih saat melihat tangannya sudah
menggamit wadah gula putih yang memang terletak tepat di belakangku. Eh, dia
malah menjulurkan lidahnya padaku. Rasanya ingin benar kupukul wajahnya itu
dengan gelas!
Hh! Salahku juga membuat mereka
terlalu nyaman dengan rumahku. Sampai-sampai, mereka berkeliaran di sini
seenaknya mereka sendiri. Hanya beberapa ruangan yang memang mereka tak berani
masuk. Kamar orang tuaku dan ruang kerja papa. Aku tak melarang, tapi mereka
sendiri yang sadar diri. Baguslah.
Tapi, sungguhan! Kenapa pula tadi
aku berpikiran yang macam-macam soal Tora, ya? Hh! Aku terlalu banyak menonton
drama Korea! Harus kukurangi! Kukurangi! Ingat, Mia! Tora tidak menyukaimu!
Ingat, cewek yang waktu itu di parkiran bersama Tora. Dia jauh lebih cantik
darimu! Jauh! Sangat jauh!
Aku kembali ke mereka. Sati sudah
bangun. Apalagi yang dia lakukan setelah bangun kalau tidak mencari hpnya?
Bukankah pernah kukatakan bahwa mungkin saja ia akan mati tanpa hpnya itu?
Kulirik Tora. Aku mendecak tak
percaya ia bisa kembali ke laptopnya. Dan Wawan baru saja selesai dengan
telponannya tadi. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan. Wawan
mengusili Sati yang baru setengah sadar itu. Dan Farra masih berbunga-bunga
dengan Kak Dedi pastinya. Kurasa lebih baik aku mengambil laptopku juga.
Menyibukkan diri.
“Mau ke mana?” tanya Farra.
“Ke kamar, ambil laptop,” jawabku
lantas bergegas pergi.
Aku tak pernah memindahkan
laptopku dari atas meja kamar. Kalau kuliah, paling yang kubawa kalau tidak i-pad,
notebook saja yang ringan. Karena malam ini mau menyibukkan diri dengan
karya-karya, di antara orang-orang itu, jadi aku harus mengeluarkan benda kesayanganku
ini.
Brak! Tak sengaja aku
menjatuhkan tasku. Oh, tumben sekali aku meletakkan tasku di atas meja seperti
ini. Biasanya kugantung di belakang pintu. Ah, aku tak ingat kenapa aku
meletakkannya di sini.
Ada sebuah buku yang keluar. Hey!
Ternyata diaryku masih ada di sini. Ah, aku baru ingat. Tiba-tiba bayangan
Andre yang dengan santainya menjawab iya, dia sudah membaca seluruh isi diary
ini.
Kuurungkan kembali ke belakang.
Sebaliknya, aku duduk di kursi. Meskipun aku ingat beberapa yang kutulis di
sini, tapi tak semuanya. Sedang bocah itu sudah menghabiskan semuanya. Apa saja
kira-kira yang kutulis?
Baru selembar pertama, wajahku
sudah memanas. Ini adalah tulisanku yang sangat, sangat alay! Setiap
huruf k kuganti dengan huruf x! Dan parahnya aku menggunakan
huruf q untuk menuliskan kata aku! Ya, ampun! Apakah ini
benar-benar aku yang menulisnya? Oh! Tak bisa kubayangkan bagaiamana wajah
seorang Andre setelah membaca ini. Sebanyak apapun kubayangkan, hanya wajah
datarnya yang keluar. Tapi aku malu! Malu sekali!
Lembar demi lembar,
bayangan-bayangan masa lalu datang semua. Benar! Aku ingat betul pengalamanku
memakai pembalut. Tapi, ya Tuhan! Aku bahkan menuliskannya dengan rinci.
Bagaimana rasanya, bagaimana cara… ah! Apa yang harus kulakukan! Aku hanya bisa
menjerit seorang diri. Oh, kuharap mereka tak mendengar suaraku di sini.
Lembar-lembar berikutnya sudah
mulai tak terlalu frontal. Oh, kenapa bisa aku sepolos ini waktu itu?
Semua
kejadian kutuliskan dengan detail. Mulai di kelas 3 SMP, barulah bahasaku mulai
kesastra-sastraan. Ah, ya. Bukankah ini adalah tingkat dimana aku mulai mencoba
menulis sastra. Hanya cerpen abal-abal. Ada sedikit beberapa kalimat yang
sekarang ini masih sering kugunakan di cerita-cerita yang kubuat. Aku tersenyum
sendiri membacanya. Karena di bagian ini juga aku mulai sangat dekat dengan
Brian. Ah, Brian. Kenapa kejadian soal pundak yang kosong itu kembali lagi ke
otakku?
Diaryku berakhir di kejadian saat
aku bertabrakan dengan Andre di hari pertama kuliah. Tunggu! Kejadian ini?
Kubaca lebih teliti. Hah! Ini
semua soal umpatan untuk Andre?!
Dasar! Kenapa, ya? Ada makhluk
tak tahu diri itu? Udah nabrak gue, cuma bilang sorry, abis itu pergi gitu aja
lagi! Enggak tahu apa kalo kertas yang gue bawa itu banyak? Huh! Melayang deh
pangeran impian gue! Sialan elo! Awas kalo ketemu lagi! Gue bakalan
penyet-penyet elo jadi rempeyek! Kalo bisa sekalian jadi bergedel! Huh! Tu
orang nyebelinnya kok banget-banget sih! Awas ya! Awas!
Ah, kenapa aku tak ingat pernah
menulis ini? Tersisa dua halaman. Dan kenapa aku harus membawa buku ini hari
itu? Oh, aku amnesia! Amnesia! Aku tak ingat apapun!
Huh! Andai saja aku bisa
benar-benar menjadikan bocah itu rempeyek! Sayangnya aku terlalu pengecut, tak
kuat menghadapi wajah tanpa dosanya itu. Dia yang pendiam begitu, saat bicara
kan sedikit menakutkan. Setiap presentasi saja, dia hanya jadi operator!
Menjawab seperlunya, dan tak ada yang berani menyanggahnya lagi. Sial! Sial!
Tapi, nasib baiknya memang dia yang menemukan. Karena sampai sekarang, tak ada
siapapun yang membicarakan soal kehidupan yang seluruhnya kutumpahkan dalam
diary itu.
Kusimpan diary itu di dalam laci.
Kurasa besok aku harus membeli diary baru. Kalau dipikir, sejak masuk kuliah,
aku jadi jarang menulis diary. Padahal, aku kan punya impian. Suatu saat, aku
akan membuat autobiografiku sendiri. Atau, kalau aku mendadak amnesia, maka aku
akan mudah mengingat seperti apa masa laluku. Kalau perlu, kuwariskan ke
anak-anakku. Dan mereka akan tahu, betapa lucunya kehidupan ibunya dulu. Hihi…
aku geli sendiri memikirkan masa depan. Kenapa aku muluk-muluk sekali? Biarkan
mengalir sajalah.
Hampir saja aku kelupaan dengan
laptopku saat keluar. Hh! Ini semua gara-gara Andre. Nah, ya? Kenapa aku
jadi menyalahkan orang itu, ya?
“Loh, Sati sama Tora ke mana?”
tanyaku mendapati dua orang itu sudah tidak ada di tempatnya. Hanya tinggal
Wawan dan Sati yang masih asik dengan kegiatan masing-masing.
“Mereka keluar. Nyari makan,”
Wawan yang menjawabnya. Dia hanya melirikku sekilas, kemudian balik ke hpnya.
Kupilih tempat duduk di samping
Sati tepat. Bersila senyaman mungkin dan mulai membuka latop merah mudaku. Aku
siap, untuk berimajinasi. Mumpung suasananya sedang adem. Apalagi, si
brisik Tora tidak ada. Game dari laptopnya tidak terdengar. Hanya suara
cekikik-cekiki dari Sati. Dan Wawan, entahlah. Bocah itu autisnya kumat. Iklim
yang sangat bagus untuk menulis.
Melanjutkan novelku yang
terbengkalai mungkin lebih baik. Ada beberapa judul di folder proses.
Huh… kenapa aku meninggalkan banyak cerita yang belum tuntas seperti ini? Harus
kuselesaikan salah satu.
“Em… yang mana, ya?”
Drrt! Drrt! Drrt! Belum
juga mulai menulis, malah ada panggilan masuk. Tora?
“Iya, kenapa?”
“Mau apa? Mie ayam apa bakso?”
hm… to the point sekali.
“Gue mie ayam aja. Eh, elo berdua
mau apa?” tanyaku beralih ke Sati dan Wawan.
“Oke.” Tut… tut… tut… heh?
Mati? Kan Sati dan Wawan belum kutanyai.
“Tadi kita udah pesen, kok,”
Wawan membaca pikiranku. Aku mengangguk-angguk paham. Berniat untuk kembali ke
laptopku, tlung! Ada bbm masuk. Oke, kutunda lagi. Dan sekarang dari
Farra.
Siapin mangkuk lima, ya.
Pesannya. Harus sekarang, ya? Kulihat Wawan dan Sati. Berharap mereka mau
menggantikanku. Jangankan untuk minta tolong, mereka melihat ke arahku saja
sama sekali tidak. Okelah! Aku tuan rumah, dan sepertinya akulah yang harus
melayani mereka. Asal bukan aku saja nanti yang cuci piring.
Lima mangkuk, lima sendok, dan
lima garpu. Em… mungkin kami juga membutuhkan saus dan kecap tambahan.
Sepertinya persedian saus pedasku masih ada. Oke, apalagi kira-kira? Sudah
cukup kan, ya? Tadi minum yang kubawa juga masih banyak. Oke, cukup ini saja. Hup!
Tanganku masih muat ternyata.
“Gue suka sama elo dan enggak
pake alesan!” baru saja aku keluar dari dapur, tiba-tiba teriakan Sati mendatangi
pendengaranku. Aku cukup terkejut. Sekarang ini aku benar-benar di rumahku,
kan? Kenapa aku merasa sedang ada di gedung bisokop? Lihat saja di serambi itu.
Dengan lighting dari lampu yang ada di serambi, dan posisiku yang lebih
gelap dari mereka, aku menyaksikan sebuah adegan. Tunggu! Adegan apa ini?
Barusan aku mendengar kata suka-suka begitu. Terlebih dengan posisi
Wawan yang membelakangi Sati. Tak begitu jelas memang. Tapi, kurasa ekspresi
sebal yang sedang dipasang Wawan sekarang.
Prang! Ups! Tak sengaja
garpu yang kubawa jatuh. Aku mengejutkan mereka? Ya, tentu saja. Mereka berdua
langsung menatapku. A, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku menganggu
adegan mereka?
“Ehm… so, sorry. La, lanjutin
aja,” ujarku kikuk. Pelan, aku melangkah mundur. Kubiarkan satu garpu yang
jatuh itu. Kupilih pergi secepat mungkin dari sana. Dengan lima mangkuk plus
sendok dan garpu serta dua botol berisi kecap dan saus, aku melarikan diri
ke ruang tamu. Entah kenapa aku memilih ke ruang tamu. Yang jelas, karena tanganku
terlalu penuh, sesegera mungkin kuletakkan mereka semua ke atas meja. Kudengar
suara motor Sati di luar. Nasib baik, Tora dan Farra sudah kembali.
“Ngapain elo di sini?” tanya
Farra yang masuk lebih dulu. “Mau makan di sini?” ia menunjuk peralatan makan
yang tersusun tak begitu rapi di atas meja.
“Bukan. Cuma, mending kita jangan
ke belakang dulu, deh,” jawabku memelas.
“Kenapa emangnya?”
“Ngapain kok di sini?” kini
giliran Tora yang masuk. Farra mengedikkan bahunya. Dan aku bingung harus
menjawab apa pertanyaan itu. Apa aku harus jujur apa yang sedang terjadi di
belakang sana? Apa aku harus mengatakan, “Ada adegan yang tak patut ditonton di
belakang,”? Kalau boleh, ya maka akan kukatakan sekarang juga.
Sayangnya, Wawan tiba-tiba
muncul. Wajahnya benar-benar kesal luar biasa. Ia sempat terhenti, menatap kami
bertiga yang pasang wajah bingung. Ah, tidak! Hanya Farra dan Tora yang
bingung. Sedangkan aku? Oh, entahlah. Ekspresi apa yang kupasang sekarang.
“Wan!” selanjutnya yang kami
dengar adalah suara Sati. Tak lama, ia pun muncul tepat di belakang Wawan.
Wawan tak bernafsu untuk berbalik. Ia memilih melanjutkan langkahnya yang
terhenti. Baru saja selangkah melalui Tora, ia berhenti. Tangannya merogoh saku
jaketnya dan memberikan kunci motornya pada Tora.
“Elo bawa deh motor gue,” ujarnya
sebelum benar-benar pergi. Dan setelah itu, kami bingung harus berbuat apa.
Terlebih melihat Sati yang sudah dipenuhi dengan air mata.
“Ada apaan, sih?” kudengar
bisikan Tora pada Farra.
“Mana gue tahu!” balas Farra, sama-sama
berbisik.
Yah… meskipun aku tadi ada di TKP, tapi aku sendiri tak benar-benar tahu apa yang terjadi.
Sebelumnya Selanjutnya