Tuesday, January 14, 2020

Aku Menyukaimu Tanpa Alasan!


“Ho… dibales! Dibales! Mia! Liat, nih! Bbm gue dibales sama Kak Dedi!” seru Farra begitu senangnya. Kuberi senyuman palsu padanya. Yah, sebenarnya aku sedikit cemburu. Tentu saja! Walaupun aku belum sepenuhnya menyukai Kak Dedi, tapi kan aku duluan yang mulai tertarik padanya. Hah… mungkin salahku juga karena aku tak memberitahu Farra duluan, kenapa aku tertarik untuk ikut hima.

Sekarang Farra mulai sibuk dengan hpnya sendiri. Kulihat Wawan sedang telponan dengan entah siapa di bangku dekat kolam. Sati sejak tadi malah molor dengan bantal boneka kucingku yang ia gondola tadi dari kamar. Yang tersisa hanya Tora. Dia tak bisa kuajak mengobrol. Selain, karena dia sedang sibuk dengan game-nya, aku kan juga tak bisa membicarakan sesuatu dengannya kalau cuma berdua. Walaupun sekarang posisinya kami berlima bersama, tetap saja. Entah harus dengan topik apa aku membuat obrolan dengannya.

Kupilih bangun. Tenggorokanku terasa kering. Teh punyaku sudah habis. Tadi Sati yang membuatnya, dan ia tak membawa air putih sekalian.

Satu gelas penuh kuhabiskan dalam sekali teguk. Wah! Sebegitunyakah aku kehausan?

“Bawa sekalian itu sebotol, Mi!” tiba-tiba suara Tora mengangetkanku. Sontak aku berbalik. Tora sudah berada tepat di belakangku. Ya, ampun! Jarak kami begitu dekatnya. Ia terus saja memajukan tubuhnya. Tu, tunggu! A, apa yang mau dia lakukan?

“Nga, ngapain, sih?”

“Apa, sih? Gue cuma mau ngambil gula, kok!” aku terdiam. Agak kikuk juga, terlebih saat melihat tangannya sudah menggamit wadah gula putih yang memang terletak tepat di belakangku. Eh, dia malah menjulurkan lidahnya padaku. Rasanya ingin benar kupukul wajahnya itu dengan gelas!

Hh! Salahku juga membuat mereka terlalu nyaman dengan rumahku. Sampai-sampai, mereka berkeliaran di sini seenaknya mereka sendiri. Hanya beberapa ruangan yang memang mereka tak berani masuk. Kamar orang tuaku dan ruang kerja papa. Aku tak melarang, tapi mereka sendiri yang sadar diri. Baguslah.

Tapi, sungguhan! Kenapa pula tadi aku berpikiran yang macam-macam soal Tora, ya? Hh! Aku terlalu banyak menonton drama Korea! Harus kukurangi! Kukurangi! Ingat, Mia! Tora tidak menyukaimu! Ingat, cewek yang waktu itu di parkiran bersama Tora. Dia jauh lebih cantik darimu! Jauh! Sangat jauh!

Aku kembali ke mereka. Sati sudah bangun. Apalagi yang dia lakukan setelah bangun kalau tidak mencari hpnya? Bukankah pernah kukatakan bahwa mungkin saja ia akan mati tanpa hpnya itu?

Kulirik Tora. Aku mendecak tak percaya ia bisa kembali ke laptopnya. Dan Wawan baru saja selesai dengan telponannya tadi. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan. Wawan mengusili Sati yang baru setengah sadar itu. Dan Farra masih berbunga-bunga dengan Kak Dedi pastinya. Kurasa lebih baik aku mengambil laptopku juga. Menyibukkan diri.

“Mau ke mana?” tanya Farra.

“Ke kamar, ambil laptop,” jawabku lantas bergegas pergi.

Aku tak pernah memindahkan laptopku dari atas meja kamar. Kalau kuliah, paling yang kubawa kalau tidak i-pad, notebook saja yang ringan. Karena malam ini mau menyibukkan diri dengan karya-karya, di antara orang-orang itu, jadi aku harus mengeluarkan benda kesayanganku ini.

Brak! Tak sengaja aku menjatuhkan tasku. Oh, tumben sekali aku meletakkan tasku di atas meja seperti ini. Biasanya kugantung di belakang pintu. Ah, aku tak ingat kenapa aku meletakkannya di sini.

Ada sebuah buku yang keluar. Hey! Ternyata diaryku masih ada di sini. Ah, aku baru ingat. Tiba-tiba bayangan Andre yang dengan santainya menjawab iya, dia sudah membaca seluruh isi diary ini.

Kuurungkan kembali ke belakang. Sebaliknya, aku duduk di kursi. Meskipun aku ingat beberapa yang kutulis di sini, tapi tak semuanya. Sedang bocah itu sudah menghabiskan semuanya. Apa saja kira-kira yang kutulis?

Baru selembar pertama, wajahku sudah memanas. Ini adalah tulisanku yang sangat, sangat alay! Setiap huruf k kuganti dengan huruf x! Dan parahnya aku menggunakan huruf q untuk menuliskan kata aku! Ya, ampun! Apakah ini benar-benar aku yang menulisnya? Oh! Tak bisa kubayangkan bagaiamana wajah seorang Andre setelah membaca ini. Sebanyak apapun kubayangkan, hanya wajah datarnya yang keluar. Tapi aku malu! Malu sekali!

Lembar demi lembar, bayangan-bayangan masa lalu datang semua. Benar! Aku ingat betul pengalamanku memakai pembalut. Tapi, ya Tuhan! Aku bahkan menuliskannya dengan rinci. Bagaimana rasanya, bagaimana cara… ah! Apa yang harus kulakukan! Aku hanya bisa menjerit seorang diri. Oh, kuharap mereka tak mendengar suaraku di sini.

Lembar-lembar berikutnya sudah mulai tak terlalu frontal. Oh, kenapa bisa aku sepolos ini waktu itu? 

Semua kejadian kutuliskan dengan detail. Mulai di kelas 3 SMP, barulah bahasaku mulai kesastra-sastraan. Ah, ya. Bukankah ini adalah tingkat dimana aku mulai mencoba menulis sastra. Hanya cerpen abal-abal. Ada sedikit beberapa kalimat yang sekarang ini masih sering kugunakan di cerita-cerita yang kubuat. Aku tersenyum sendiri membacanya. Karena di bagian ini juga aku mulai sangat dekat dengan Brian. Ah, Brian. Kenapa kejadian soal pundak yang kosong itu kembali lagi ke otakku?

Diaryku berakhir di kejadian saat aku bertabrakan dengan Andre di hari pertama kuliah. Tunggu! Kejadian ini?

Kubaca lebih teliti. Hah! Ini semua soal umpatan untuk Andre?!

Dasar! Kenapa, ya? Ada makhluk tak tahu diri itu? Udah nabrak gue, cuma bilang sorry, abis itu pergi gitu aja lagi! Enggak tahu apa kalo kertas yang gue bawa itu banyak? Huh! Melayang deh pangeran impian gue! Sialan elo! Awas kalo ketemu lagi! Gue bakalan penyet-penyet elo jadi rempeyek! Kalo bisa sekalian jadi bergedel! Huh! Tu orang nyebelinnya kok banget-banget sih! Awas ya! Awas!

Ah, kenapa aku tak ingat pernah menulis ini? Tersisa dua halaman. Dan kenapa aku harus membawa buku ini hari itu? Oh, aku amnesia! Amnesia! Aku tak ingat apapun!

Huh! Andai saja aku bisa benar-benar menjadikan bocah itu rempeyek! Sayangnya aku terlalu pengecut, tak kuat menghadapi wajah tanpa dosanya itu. Dia yang pendiam begitu, saat bicara kan sedikit menakutkan. Setiap presentasi saja, dia hanya jadi operator! Menjawab seperlunya, dan tak ada yang berani menyanggahnya lagi. Sial! Sial! Tapi, nasib baiknya memang dia yang menemukan. Karena sampai sekarang, tak ada siapapun yang membicarakan soal kehidupan yang seluruhnya kutumpahkan dalam diary itu.

Kusimpan diary itu di dalam laci. Kurasa besok aku harus membeli diary baru. Kalau dipikir, sejak masuk kuliah, aku jadi jarang menulis diary. Padahal, aku kan punya impian. Suatu saat, aku akan membuat autobiografiku sendiri. Atau, kalau aku mendadak amnesia, maka aku akan mudah mengingat seperti apa masa laluku. Kalau perlu, kuwariskan ke anak-anakku. Dan mereka akan tahu, betapa lucunya kehidupan ibunya dulu. Hihi… aku geli sendiri memikirkan masa depan. Kenapa aku muluk-muluk sekali? Biarkan mengalir sajalah.

Hampir saja aku kelupaan dengan laptopku saat keluar. Hh! Ini semua gara-gara Andre. Nah, ya? Kenapa aku jadi menyalahkan orang itu, ya?

“Loh, Sati sama Tora ke mana?” tanyaku mendapati dua orang itu sudah tidak ada di tempatnya. Hanya tinggal Wawan dan Sati yang masih asik dengan kegiatan masing-masing.

“Mereka keluar. Nyari makan,” Wawan yang menjawabnya. Dia hanya melirikku sekilas, kemudian balik ke hpnya.

Kupilih tempat duduk di samping Sati tepat. Bersila senyaman mungkin dan mulai membuka latop merah mudaku. Aku siap, untuk berimajinasi. Mumpung suasananya sedang adem. Apalagi, si brisik Tora tidak ada. Game dari laptopnya tidak terdengar. Hanya suara cekikik-cekiki dari Sati. Dan Wawan, entahlah. Bocah itu autisnya kumat. Iklim yang sangat bagus untuk menulis.

Melanjutkan novelku yang terbengkalai mungkin lebih baik. Ada beberapa judul di folder proses. Huh… kenapa aku meninggalkan banyak cerita yang belum tuntas seperti ini? Harus kuselesaikan salah satu.

“Em… yang mana, ya?”

Drrt! Drrt! Drrt! Belum juga mulai menulis, malah ada panggilan masuk. Tora?

“Iya, kenapa?”

“Mau apa? Mie ayam apa bakso?” hm… to the point sekali.

“Gue mie ayam aja. Eh, elo berdua mau apa?” tanyaku beralih ke Sati dan Wawan.

“Oke.” Tut… tut… tut… heh? Mati? Kan Sati dan Wawan belum kutanyai.

“Tadi kita udah pesen, kok,” Wawan membaca pikiranku. Aku mengangguk-angguk paham. Berniat untuk kembali ke laptopku, tlung! Ada bbm masuk. Oke, kutunda lagi. Dan sekarang dari Farra.

Siapin mangkuk lima, ya. Pesannya. Harus sekarang, ya? Kulihat Wawan dan Sati. Berharap mereka mau menggantikanku. Jangankan untuk minta tolong, mereka melihat ke arahku saja sama sekali tidak. Okelah! Aku tuan rumah, dan sepertinya akulah yang harus melayani mereka. Asal bukan aku saja nanti yang cuci piring.

Lima mangkuk, lima sendok, dan lima garpu. Em… mungkin kami juga membutuhkan saus dan kecap tambahan. Sepertinya persedian saus pedasku masih ada. Oke, apalagi kira-kira? Sudah cukup kan, ya? Tadi minum yang kubawa juga masih banyak. Oke, cukup ini saja. Hup! Tanganku masih muat ternyata.

“Gue suka sama elo dan enggak pake alesan!” baru saja aku keluar dari dapur, tiba-tiba teriakan Sati mendatangi pendengaranku. Aku cukup terkejut. Sekarang ini aku benar-benar di rumahku, kan? Kenapa aku merasa sedang ada di gedung bisokop? Lihat saja di serambi itu. Dengan lighting dari lampu yang ada di serambi, dan posisiku yang lebih gelap dari mereka, aku menyaksikan sebuah adegan. Tunggu! Adegan apa ini? Barusan aku mendengar kata suka-suka begitu. Terlebih dengan posisi Wawan yang membelakangi Sati. Tak begitu jelas memang. Tapi, kurasa ekspresi sebal yang sedang dipasang Wawan sekarang.

Prang! Ups! Tak sengaja garpu yang kubawa jatuh. Aku mengejutkan mereka? Ya, tentu saja. Mereka berdua langsung menatapku. A, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku menganggu adegan mereka?

“Ehm… so, sorry. La, lanjutin aja,” ujarku kikuk. Pelan, aku melangkah mundur. Kubiarkan satu garpu yang jatuh itu. Kupilih pergi secepat mungkin dari sana. Dengan lima mangkuk plus sendok dan garpu serta dua botol berisi kecap dan saus, aku melarikan diri ke ruang tamu. Entah kenapa aku memilih ke ruang tamu. Yang jelas, karena tanganku terlalu penuh, sesegera mungkin kuletakkan mereka semua ke atas meja. Kudengar suara motor Sati di luar. Nasib baik, Tora dan Farra sudah kembali.

“Ngapain elo di sini?” tanya Farra yang masuk lebih dulu. “Mau makan di sini?” ia menunjuk peralatan makan yang tersusun tak begitu rapi di atas meja.

“Bukan. Cuma, mending kita jangan ke belakang dulu, deh,” jawabku memelas.

“Kenapa emangnya?”

“Ngapain kok di sini?” kini giliran Tora yang masuk. Farra mengedikkan bahunya. Dan aku bingung harus menjawab apa pertanyaan itu. Apa aku harus jujur apa yang sedang terjadi di belakang sana? Apa aku harus mengatakan, “Ada adegan yang tak patut ditonton di belakang,”? Kalau boleh, ya maka akan kukatakan sekarang juga.

Sayangnya, Wawan tiba-tiba muncul. Wajahnya benar-benar kesal luar biasa. Ia sempat terhenti, menatap kami bertiga yang pasang wajah bingung. Ah, tidak! Hanya Farra dan Tora yang bingung. Sedangkan aku? Oh, entahlah. Ekspresi apa yang kupasang sekarang.

“Wan!” selanjutnya yang kami dengar adalah suara Sati. Tak lama, ia pun muncul tepat di belakang Wawan. Wawan tak bernafsu untuk berbalik. Ia memilih melanjutkan langkahnya yang terhenti. Baru saja selangkah melalui Tora, ia berhenti. Tangannya merogoh saku jaketnya dan memberikan kunci motornya pada Tora.

“Elo bawa deh motor gue,” ujarnya sebelum benar-benar pergi. Dan setelah itu, kami bingung harus berbuat apa. Terlebih melihat Sati yang sudah dipenuhi dengan air mata.

“Ada apaan, sih?” kudengar bisikan Tora pada Farra.

“Mana gue tahu!” balas Farra, sama-sama berbisik.

Yah… meskipun aku tadi ada di TKP, tapi aku sendiri tak benar-benar tahu apa yang terjadi.

Sebelumnya         Selanjutnya