Tuesday, January 14, 2020

Retak, Bukan Patah


Hah… di luar hujan. Papa dan mama juga belum pulang. Besok tidak ada tugas. Jadi aku menganggur. Saatnya mengisi blogku. Sambil menunggu kedatangan dua orang yang sangat kusayangi itu. Yah… itu pun kalau aku tak ketiduran duluan.

Tlung! Aku baru membuka google chrome, notifikasi dari blogku muncul. Ada komentar dari sebuah akun di salah satu cerpenku.

Be Your Self:
Nice story J

Hanya ini? Kupikir ini hanya sekedar komen angin saja. Sekali datang, nanti juga pergi lagi. Tapi, tak lama setelah itu dari akun yang sama mengirim komentar lagi.

Ternyata kamu pinter bikin cerita, ya?

Ah, siapa, ya? Klik, kukunjungi blognya. Di sebelah kanan ada foto profilnya. Eh… bukannya ini Badri?

Segera aku kembali ke blogku. Kubalas komentarnya:

Badri, ya?

Hanya tiga detik dan komentar balasan darinya muncul.

Yups!

Bisa nemu blog ini darimana?

Ada, deh…  Ternyata, selain cantik, kamu juga pinter bikin sastra-sastra, ya? Banyak juga udahan ini isi blogmu.

Tak terasa aku tersenyum. Kenapa dia tiba-tiba pakai kamu-kamuan begini? Dan kenapa pula aku jadi merasa senang? Ah, masa iya aku menyukai Badri? Hanya karena perlakuannya yang tak seberapa ini?

Selanjutnya dia mengechatku langsung lewat akun google+.

Kok belum tidur?

Ehm… belum ngantuk. Masih ngetik juga.

Besok kuliah jam berapa?

Pagi. Setengah 8.

Aku jemput, ya?

Eh… jemput?

Wah… enggak usah. Dianter papa udahan.

Oh, gitu. Pulangnya?

Kenapa pulangnya?

Pulangnya jam berapa?

Jam  tiga selesai.

Aku anter, ya?

Ampun! Dia ini kenapa, ya? Apa salah kalau aku menerka bahwa dia benar-benar menyukaiku? Boleh tidak aku berharap sekarang?

Emang pulang jam berapa?

Udah, gak papa. Pokoknya aku anter. Bye! Tidur sana!

Maksa amat? Tapi, dipaksa-paksa begini akunya malah kegirangan. Hah… rasanya aku benar-benar sudah mulai suka pada yang namanya Badri ini.

***

Belum juga sampai aku pulang kuliah, Badri yang menghampiriku duluan ke kelas. Dia mengajakku makan di luar. Bukan di kantin Fakultas. Farra dan Sati mendorongku, memaksaku untuk ikut saja. Agak ragu, sih. Tapi, akhirnya aku mau juga. Tak begitu spesial. Dia mengajakku ke kafe baru di daerah Kampung Baru, daerah kos-kosan yang kebanyakan mahasiswa dari Universitas Lampung.

“Elo ngekos di sekitar sini juga, ya? Nyampe tahu ada kafe baru di sini,” tanyaku saat kami selesai memesan. Dia mengangguk.

“Ya. Enggak jauh dari sini, kok. Lurus nyebrang rel,” ujarnya. Aku mengangguk-angguk.

Sejak tadi dia menghampiriku, dia terus saja menggunakan kata aku kamu. Karena aku merasa aneh dan canggung sekaligus, jadi masa bodoh! Dia menggunakan aku kamu-an, biar saja. Aku tetap dengan kata gue elo.

Tlung! Hpku berbunyi. Ada bbm masuk. Dari Tora.

Dimana? Tulisnya di sana.

Makan jawabku singkat.

Sama? Apa, sih? Ikut campur saja! Menyebalkan. Biarlah. Kuabaikan saja. Lagipula, pesanan kami sudah datang. Aku hanya pesan nasi ayam crispy. Sedangkan, Badri pesan capcai. Sengaja, aku pesan yang paling murah. Karena, walaupun aku bawa uang, pasti Badri akan menolak kalau aku bayar sendiri. Well, pastinya aku ditraktir, kan?

Tlung! Ada bbm lagi. Ah, dari Tora lagi! Biar sajalah!

Tlung! Tlung! Tlung! Ya, ampun! Kenapa bbmnya berkali-kali begini, sih?

Kenapa cuma R?

Dimana, sih?

Sama siapa?

Di kantin kok gak ada?

Mia!

Woy!

Budek, ya?

Gue telpon nih!

Ping!!!

Ping!!!

Ping!!!

“Siapa?” tanya Badri mengangetkanku. Hampir saja hp kulempar ke mukanya. “Sorry. Aku ngagetin kamu, ya?”

“Eh, eh, enggak, kok. Tau, nih! Spam!” kataku bohong. Bisa-bisa Badri merasa tak enak kalau ini dari Tora. Seperti malam itu juga, kan. Segera kumatikan paket datanya. Masa bodoh Tora mau mendumel apa nanti. Kan tidak enak juga kalau mengabaikan orang yang jelas-jelas sedang ada di depanku sekarang.

Dan benarlah. Sepulang dari sana, Tora terus saja mengomel padaku. Sejak aku masuk ke kelas, mendudukkan pantatku ke kursi paling dekat, sampai-sampai saat jam kuliah sudah dimulai.

“Tora! Bisa diam tidak? Mau menggantikan ibu menjelaskan materi ini?” bahkan ia sampai kena tegur dosen. Tapi dia tak kapok-kapok. Dia melempariku kertas kecil yang aku malas sekali untuk membukanya. Bisa kubayangkan dia akan tetap membuntutiku kalau saja aku tak berteriak ke mukanya, “Gue ini mau ke toilet? Mau ikut! Ya udah ayok!” dan akhirnya dia bisa diam juga.

“Heran banget sama Tora! Dia udah kayak kucing kebelet kawin tau, gak?” dumel Sati yang kugeret ke toilet. Yah, walaupun akhirnya si Farra juga ikut mengekori kami.

“Hush! Kalo ngomong!” tegur Farra sambil menyisir rambut pendeknya.

“Ya dia itu. Sejak ngeliat Mia pergi sama Badri tadi, dia gak bisa diem. Nanyain mulu ke gue, tuh Mia mau ke mana? Kenapa dibiarin pergi, sih? Berisik tau, gak!”

“Jangan-jangan Tora suka lagi sama elo, Mi? Dia cemburu gitu elo jalan sama Badri?” terka Farra asal.

“Heh! Enak aja ngomongnya! Gak mungkinlah! Tiap hari kerjaannya bikin gue kesel gitu,” tampikku. Heh! Mana mungkin Tora menyukaiku.

“Cowok itu cara PDKT-nya lain-lain. Kalo elo mau bandingin cara Badri PDKT ke elo sama caranya Tora, ya gak mungkin samalah. Liat aja kelakuannya setiap hari gimana. Mau selembut dan sekeren Badri? Mana mungkin!”

“Eh, ya juga, ya? Bener juga. Caranya khawatir itu, loh. Kayaknya enggak mungkin banget kalo cuma dalam rangka khawatir ke temen. Iya, deh. Gue setuju sama elo, Ra. Kayaknya Tora emang suka deh sama elo, Mi,” tambah Sati.

“Heh! Udah, ah! Kenapa jadi jodoh-jodohin gue sama Tora, sih? Gak, gak! Dia gak mungkin suka sama gue. Udah! Gak usah berspekulasi yang gak jelas gitu! Imposible, tahu! Udah, ah!” tampikku lagi. Menghindar dari semua kemungkinan mereka itu, aku keluar duluan.

Bruk! Aduh, aku menabrak seseorang. “Eh, so…” wah? Siapa ini yang kutabrak? Andre? Heran, kenapa ya aku selalu tabrakan dengannya? Biasanya, kalau di tv-tv begitu, yang sering tabrakan jodoh, kan? Tapi, jangankan jodoh. Bicara dengannya saja aku tak pernah. Bahkan, satu kelompok saja juga tidak pernah.

“Mau ke toilet, ya?” tanyaku. Mengingat toilet di gedung kami tidak ada pembatas. Tidak ada toilet untuk laki-laki atau perempuan. Semuanya jadi satu. Jadi, harus gantian. Apalagi di sini laki-lakinya lebih sedikit. Jadi, untuk para laki-laki harus ekstra keras untuk antri ke toilet. Kecuali kalau mau berjalan sedikit jauh ke mushola yang baru ada pemisahan toilet. Itu pun kalau sedang tidak ramai.

“Ehm, masih ada Farra sama…”

“Hai, An!” ah, Farra dan Sati sudah keluar. Kulihat Sati mencoba akrab dengannya. Mungkin karena dari sekolah yang sama, Sati bisa santai saja mengakrabi Andre seperti itu. Yang didapat bahkan hanya kedipan mata saja dari Andre. Dan Sati cuma bisa garuk-garuk kepala setelahnya. Kalau aku jadi Sati, sudah kutarik rambutnya. Baik-baik disapa malah dilempari kacang!

Aku mencoba tak acuh. Kalaupun aku mendumelkan soal Andre, pasti Sati hanya akan menjawab, “Emang gitu kok orangnya.” Makannya aku kembali melanjutkan langkahku.

Baru keluar dari sana, Tora kembali menempel padaku.

“Apa sih, Tora?!” sentakku akhirnya sebal. Sejak tadi dia kudiamkan, tapi dia sendiri tak bisa diam. Malah makin menjadi-jadi.

“Elo tadi darimana, sih? Di bbm cuma diread doang. Dibales juga gak, malah gak aktif lagi abis itu!”

“Gue abis makan! Gue makan di kafe baru di Kampung Baru. Gue makan sama Badri. Dia yang ngajakin, dia yang bayarin! Gue makan nasi putih sama ayam crispy. Pake teh botol. Abis itu gue nemenin dia beli kuota di konter yang gak jauh dari sono. Udah! Gitu doang! Puas?!” cerocosku panjang lebar. Sengaja kupelototkan mataku. Walau tinggiku tak sebanding dengannya yang macam tiang listrik ini, kupaksakan mensejajarkan wajahku dengan wajahnya. Yah… walaupun tak berhasil, sih. Meski begitu, aku berhasil membuatnya diam dan tak mengikutiku lagi.

Hingga tiba jam pulang, dia pasang wajah murungnya. “Mau pulang? Gue anter, yok! Pake motor Wawan,” ajaknya. Di tangannya sudah ada kunci motor Wawan.

“Gak usah. Gue udah janjian sama Badri. Lagian, bukannya elo ada rapat di hima?” tolakku pelan. Meski masih kesal, agak simpati juga melihat tampangnya yang memelas begitu. Setelah mendengar jawabanku tadi, ia memutar bola matanya. Tanpa ba bi bu lagi, dia pergi begitu saja. Marahkah?

Tunggu! Apa benar kata Sati dan Farra, ya? Apa mungkin Tora menyukaiku? Ah, masa iya? Ya, ampun! Kenapa aku jadi disukai dua cowok begini? Nanti kalau mereka saling tonjok-tonjokkan cuma memperebutkanku bagaimana? Oh, apa aku terlalu bermimpi?

Tidak! Tidak! Mia, hal yang mustahil Tora menyukaimu! Oke? Fokus pada Badri saja. Dia sudah menunggumu di parkiran.

***

Malam Sabtu, aku sudah janjian dengan Badri. Karena ia tahu, kalau malam minggu pasti aku akan dikuasai oleh keempat orang itu, ia mengajakku nonton.

“Ehm… enggak papa kan kalo nonton? Ada film yang pingin banget aku tonton sama kamu dari kemaren,” ujarnya waktu itu. Aku sih iya-iya saja. Mungkin karena aku sudah terlanjur kesemsem dengannya. Yah, aku akui. Aku menyukainya. Dan mungkin saja dia juga menyukainya. Jawabannya iya juga ia terus memperlakukanku seperti ini.

Aku tinggal di sekitaran terminal Rajabasa. Jadi, dari kampus sampai rumahku jaraknya sekitar 1 km. Berarti, kalau tidak macet, Badri hanya butuh waktu sekitaran 10 menit untuk sampai ke sini. Tapi, dalam waktu lima menit dia sudah ada di depan rumahku. Memaksaku berdandan seadanya. Jeans panjang hitam, dan kemeja setengah tiang merah kota-kotak. Rambut kukepang kereta di belakang. Hanya pakai lipgloss dan bedak putih. Sedikit semprotan parfum dan tas merah kecil yang senada dengan kemejaku. Sepatu cats putih dan selesai. Inilah gaya main seorang Mia Natali.

Dia menyambutku dengan senyuman. Tapi karena senyumannya itu dibumbui dengan tatapan yang membuatku kikuk, terpaksa aku bertanya, “Kenapa, sih?”

“Enggak papa. Kamu cantik,” jawabnya. Ah! Sial! Wajahku memanas. Apa sekarang wajahku mulai memerah.

“Ayok, deh!” ajakku, mengalihkan kegugupanku. Dia memberiku helm dan menyuruhku naik. Ke 21 (dibaca twenty one) kami pergi. Berjarak 4 km dari sini. Letaknya ada di lantai atas Mall Bumi Kedaton. Salah satu mall yang cukup terkenal di Bandar Lampung.

Ini yang paling aku sukai kalau keluar malam di Bandar Lampung. Sepanjang jalan, ada pohon-pohon yang sengaja di tanam sebagai pemisah jalur kanan dan kiri. Di batang-batang pohon itu dipasangi lampu kecil-kecil warna-warni. Bila gelap sudah menyapa seperti ini, kelihatan bagus sekali. Andai saja kami terus berjalan sampai ke Teluk, mungkin mataku akan lebih dimanjakan. Karena, jalanan ke arah sana kita bisa melihat perbukitan yang ditumbuhi rumah-rumah penduduk. Malam-malam begini pasti lampu-lampu dari sana kelihatan seperti bintang. Maklum. Aku agak norak dengan bintang. Di kota kan tidak bisa leluasa melihat bintang yang bertabur banyak di langit. Yang kelihatan paling-paling cuma bintang yang besar-besar saja. Selebihnya, hanya bulan saja yang menguasai langit. Itu pun kalau memang bulannya sedang muncul.

“Mia!” panggil Badri.

“Hm?” sedikit kunaikkan suaraku. Lalu lalang kendaraan yang lain membuatku sulit mendengar. Apalagi ditambah helm ini.

“Enggak tidur, kan?”

“Ha? Enggak, tuh. Kenapa emangnya?”

“Kok diem aja?”

“Oh… hehe… gue emang suka berubah jadi pendiem kalo di jalan. Suka ngeliat jalan aja.”

“Oh, gitu. Kirain tidur. Awas, jatuh!” ingatnya. Aku hanya mengangguk-angguk.

Sampai di sana, dia mengajakku menonton comic 8. Ah, ternyata film komedi. Aku sudah berpikir dia akan mengajakku menonton film horror. Siapa tahu, dia seperti mereka-mereka itu, kan? Curi-curi kesempatan dengan cewek yang diajak nonton seperti ini. Saat si cewek takut melihat hantu di film, maka reflek akan dipeluk kan cowok di sampingnya? Ternyata aku salah. Dia tidak seperti itu. Lagipula, aku juga hobi nonton film horror. Dan aku yang paling tidak takut dengan yang namanya hantu-hantu itu. Jadi, kalaupun kami benar-benar menonton film horror, tak akan berpengaruh apapun padaku.

Sambil mengantri, Badri memesan satu popcorn ukuran besar dan dua minuman. Dia menawarkan diri untuk membawa ketiga benda itu sendirian sampai di dalam. Ya sudah. Kalau dia memaksa. Tak masalah, aku juga tak jadi kerepotan.

Awal menonton, kami biasa saja. Tertawa kalau ada adegan lucu. Dan benar-benar fokus dengan film. Nah, yang membuatku agak ketar-ketir, tiba-tiba saja dia memindahkan jaketnya ke tubuhku. Kutatap heran dia. Dia pura-pura tak tahu. Sok-sok asik lagi nonton filmnya. Padahal ketara sekali, dia pasti tahu aku sedang menatapnya. Melempari pertanyaan, ini maksudnya apa jaket ini ada di bahuku sekarang? Tapi dia masih tak acuh.

“Mau jalan-jalan dulu enggak ke Teluk? Ngeliat pemandangan aja,” tawarnya setelah kami selesai dengan comic 8 gokil tadi.

“Ehm… boleh,” jawabku. Tak masalah mungkin. Ini juga baru jam sembilan. Masih sempat lah sampai jam sepuluh aku akan mengajaknya pulang.

Sampai di parkiran, aku baru sadar. Jaketnya masih ada padaku. “Eh, ini jaketnya?”

“Pake aja. Dingin.”

“Terus elo sendiri?”

“Masa iya, aku biarin kamu kedinginan sementara aku anget sendirian, sih?” deg! Duh… Tuhan! Aku bisa kena serangan jantung kalau seperti ini terus. Aku senang, tentu saja!

Seperti katanya tadi, kami hanya jalan-jalan. Melihat lampu-lampu jalan dan perumahan penduduk di perbukitan. Berhenti sebentar untuk membeli minum dan jagung bakar. Setelah itu, dia mengantarku pulang.

“Nih, helmnya,” ujarku setelah turun dari motor. Dia mengambilnya sambil tersenyum. Aku bingung, karena dia tak kunjung pulang malah diam saja sambil terus saja menatapku. Kulirik ke dalam gerbang, mobil papa sudah terparkir cantik di sana. Wah, bisa gawat kalau papaku sampai tahu aku pulang dengan cowok. Hush! Kenapa tak pulang-pulang, sih?

“Ya udah, sana pulang!” usirku pada akhirnya. Dia malah tertawa. Apanya coba yang lucu?

“Oke. Aku pulang, ya?” pamitnya. Huft… akhirnya sadar juga dia. Aku tak mungkin mengajaknya mampir. Sudah malam.

“Ehm. Makasih ya, traktirannya.”

“Ehm. Makasih juga, ya? Atas waktunya yang menyenangkan,” balasnya. Ah, cepat sana pulang! Kalau tidak, wajahku benar-benar bisa mendidih ini.

“Oke, bye!” dan akhirnya dia pulang. Senyumku terbentuk begitu saja. Hari yang menyenangkan!
Tlung! Baru saja aku akan masuk, hpku bergetar. Ah, aku bara sadar. Sejak tadi hp ku-silent. Baru sekarang aku mendengar getarannya dari dalam tas. Ada bbm masuk. Dari siapa, ya?

Eh! Ada 10 panggilan tak terjawab? Dari siapa? Tak mungkin dari papa, kan? Ehm, coba kucek. Ah, ternyata bukan. Hah? Dari Tora? Kenapa dia menelfonku sampai 10 kali begini?

Ada notifikasi bbm. Ternyata hanya ada dari Tora dan beberapa bc-an pengumuman tugas dan semacamnya. Lantas yang dari Tora? Ya, ampun! Dia menge-Ping-iku berkali-kali.

Dimana, sih?

Mia?

Ini gue udah di depan rumah elo!

Enggak ada siapa-siapa, tah?

Gila! Elo dimana, sih?

Ping!

Ping!

Ping!

Mia!

Woy, budek!

Gila!

Elo teller apa di dalem?

Eh, gila! Gue hampir diusir tetangga elo nih gara-gara teriak-teriak dari tadi.

Angkat telfon gue!

Ping!

Ping!

Ping!

Mia Natali!

Miasya Allah!

Ping!

Ping!

Ping!

Hah?! Tadi Tora ke sini? Mau apa? Kenapa tidak bilang dari tadi siang, sih? Kan kalau begini aku jadi merasa bersalah.

Sambil masuk ke dalam, kucoba kontak nomornya. Ah, malah tidak aktif. Kubalas bbmnya ceklis. Whats App, ceklis juga. Line, sama saja. Apa hpnya mati? Ada apa, ya? Apa cuma mau pinjam novel, ya? Kan kami ada tugas merangkum novel di mata kuliah Pengantar Sastra. Yah, mungkin. Dia kan paling tak suka baca novel. Pasti dia tidak punya sebiji pun makannya mau pinjam padaku.

Besok lagi ah aku hubungi dia. Sekarang, yang harus kupikirkan adalah menjelaskan kepada mama dan papa ke mana aku pergi malam ini. Semoga saja mereka tidak marah.

***

Huft… Tora tak menjawab telponku. Aku tanya ke Farra dan Sati, katanya juga sama saja. Tora menghilang, bersama Wawan yang nomornya dan seluruh akun sosmednya tiba-tiba non aktif. Mereka berdua sebenarnya kemana? Dan kenapa Tora semalam ke sini?

“Ngelamunin apa, sih?” aku tersentak. Badri sudah ada di depanku dengan dua porsi nasi ayam. Tadi malam, tepat sebelum aku terlelap, dia memintaku menamaninya ke toko buku. Makan siangnya, ia mengajakku ke KFC.

“Ehm? Enggak ada, kok,” jawabku. Dia tak protes, hanya tersenyum manis seperti biasa.

Aku makan tapi tak bisa fokus. Otakku masih dipenuhi Tora. Alasan ia datang ke rumah semalam. Padahal, sebelumnya dia tak pernah datang ke rumahku sendirian tanpa yang lain. Hah… Nasib baik Badri tak banyak mengajakku mengobrol.

“Mau pulang langsung apa kamu mau ke suatu tempat dulu?” tanyanya setelah kami selesai makan. Aku tak bernafsu sama sekali untuk main hari ini. Padahal, seharusnya aku senang. Mengingat aku mulai mengakui kalau aku menyukai cowok di depanku ini.

Kugelengkan kepalaku menjawab pertanyaannya.

“Pulang aja. Gue juga udah dapet novel yang gue cari,” kuangkat paper bag kecil dari toko buku tadi. Padahal, tadi aku ingin membelinya sendiri. Tapi katanya, “Anggep aja sebagai ucapan makasih karena udah nemenin aku.” Dia memaksa, ya sudah tak bisa kutolak.

Yang membuatku kembali fokus pada perasaanku pada Badri adalah, dia memakaikan helmnya padaku.

“Eh… gue kan bisa pake sendiri,” ucapku reflek. Dia tak merespon, hanya tersenyum. Aku diam, aku kikuk, tapi aku senang. Bahkan senyumku terbentuk sendiri. Tentu saja setelah kami mulai di jalan. Aku terlalu malu untuk menunjukkannya langsung di depannya.

Dia berhenti di pom bensin. Aku minggir dan berdiri di dekat ibu-ibu yang sedang menunggu suaminya mengisi bensin. Anak perempuannya sekitar lima tahun menarik ujung sweeterku. Ia tersenyum begitu lucu padaku. Aku berjongkok dan mengusap-usap wajahnya. “Namanya siapa?” tanyaku gemas. Tapi dia malah tertawa.

Tak sengaja kepalaku menoleh ke arah Badri. Tadinya hanya ingin memastikan, apa dia sudah selesai. Dan yang kudapati adalah senyumannya. Entah kenapa hari ini dia banyak sekali tersenyum padaku. Sebaliknya, dia sendiri tak banyak bicara. Duh… jantungku.

“Udah?” tanyaku begitu ia mendekatiku. Baru saja aku akan naik, dia menyuruhku menunggu.

“Bentar-bentar. Ada telpon,” katanya. Kupilih tetap berdiri sembari kusimak ia menjawab orang di seberang itu. “Iya? Lagi di luar, kenapa? Hah? Udah di kosan? Sama siapa? Kok enggak ngasih kabar, sih? Apa? Hh…” kenapa dia nampak panik begitu? Sekilas ia melirikku, tapi kembali lagi ke telpon itu. “Oke, oke. Ehm… lima menit lagi aku nyampe,” lanjutnya kemudian memasukkan kembali hpnya ke saku jaketnya.

Badri beralih ke aku. Dia memberiku tatapan yang entah apa itu artinya. Sekali lagi ia menghela nafasnya. Dan yang membuatku agak mulai takut adalah, ia menggaruk pipinya, yang aku yakin sekali itu tidak gatal. Tadi dia bilang lima menit lagi sampai, kan? Apa dia mau balik ke kosannya dan meninggalkanku di sini?

“Ehm… Mi. Eh… dari sini, elo naik ojek aja, ya?” hah?! Ojek? Tunggu! Tadi dia bilang apa? Elo?

“Hah? Kenapa?” tanyaku kaget. Jelaslah! Apa benar dia akan meninggalkanku di sini?

“Oh… gue enggak bisa nganter elo. Elo, bawa uang kan buat ongkosnya?”

“Ya iyalah! Masa gue pergi enggak bawa duit! Emang gue cuma mau ngandelin elo doang, apa?” entah karena apa tiba-tiba aku merasa jengkel atas pertanyaannya tadi. Lebih dari itu! Cara bicaranya padaku tiba-tiba kembali seperti saat pertama kali aku mengenalnya. Elo-elo, gue-gue! Apa-apaan, nih?

“Emangnya kenapa, sih? Emang elo enggak bisa nganterin gue pulang dulu apa? Siapa sih yang dateng ke kosan elo sampe elo harus pulang cepet gitu?”

“Itu… dia…” ini ketiga kalinya. Ketiga kalinya dia menghela nafasnya. Bahkan ia harus menelan ludahnya sendiri. Kenapa? Berat sekali mengatakan siapa yang ada di kosannya sekarang? “Yang di kosan gue sekarang… cewek gue?”

Blar! Perutku tertohok begitu kerasnya. Aku melotot dan reflek mendecih tak percaya? Apa tadi, cewek?

“Elo… udah punya cewek?” tanyaku tak percaya. Dia hanya mengangguk sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya. Spontan aku mendecak tak percaya. Sikap lembut dan kikukku tadi? Oh, lupakan hal itu! Bruk! Kulempar helm di tanganku ke perutnya. Ia menangkapnya dengan benar. Syukurlah! Karena, kalau sampai helm itu jatuh, maka akan mengundang perhatian orang-orang di sini.

Tanpa banyak bacot lagi, kutinggalkan dia dengan langkah kesal. Yang membuatku makin tak percaya, dia menancap gas motornya begitu kencang. Melewatiku begitu saja.

Sial! Ingin benar rasanya aku berteriak! Tapi sayangnya, perlahan dadaku terasa sakit. Oh, jangan! Jangan di sini! Tak pantas jika aku harus menangis sekarang!

***

“Tuh, kan! Gue bilang apa? Elo itu belum kenal sama dia? Ngeyel banget sih dibilangin!” sentak Tora yang membuat tangisku makin menjadi. Daritadi ia mencak-mencak. Padahal Sati dan Farra sejak tadi mencoba menenangkanku. Sedangkan Wawan keep calm saja. Tapi matanya mungkin merasa simpati padaku.

“Ih! Tora, elo nyebelin banget, sih! Temennya lagi sedih malah elo omelin!” sentak Farra. Sati membantunya dengan memukuli bahu Tora sebal. Tapi mata marahnya masih terlihat.

“Pinjem hp elo!” teriaknya menunjuk hp di tanganku.

“Buat apa?”

“Ah, lama!” dengan paksa ia merebut hp itu. Apa yang dilakukannya, aku tak tahu. Tapi yang jelas, ia berhasil membuat kami berempat melonjak kaget karena tiba-tiba ia berteriak, “Woy, Sinting! Elo sinting ya, udah punya cewek masih deketin cewek lain? Elo mau ngoleksi cewek, hah?!” ke depan hpku.

“Ngapain sih, elo?!” teriakku sambil buru-buru merebut hpku.

“Telat! Udah delive!”

Tora gila! Dia benar-benar gila! Bagaimana mungkin ia mengirim voice note ke Badri seperti ini. Tangisku makin kencang karenanya.

“Elo nih jahat banget, sih! Udah enggak waras elo, ya?” Sati membelaku.

“Cowok sialan itu yang enggak waras! Lihat? Sekarang elo sendiri kan yang patah hati?”

“Sok tahu! Hati gue enggak patah, kok!”

“Terus apa? Sampe mewek kayak gitu!”

“Ini enggak patah, kok! Cuma retak! Huwee!” kukeras-keraskan tangisku. Terlebih karena melihat cibiran bibir Tora yang menyebalkan itu.

Sakit sih memang. Tapi rasanya tak terlalu. Karena kurasa, dengan menangis malam ini, maka selanjutnya aku akan baik-baik saja. Sebaliknya, aku lebih memperhatikan Tora malam ini. Caranya marah, caranya kesal dan tak terima itu. Sampai-sampai mengirimi Badri suara kekesalannya itu, kenapa aku mulai berpikir bahwa mungkin saja Tora menyukaiku, ya? Lagipula, aku pun belum dapat jawaban, mengapa kemarin malam dia mencariku.

Sebelumnya          Selanjutnya