Hah… di luar hujan. Papa dan mama
juga belum pulang. Besok tidak ada tugas. Jadi aku menganggur. Saatnya mengisi
blogku. Sambil menunggu kedatangan dua orang yang sangat kusayangi itu. Yah…
itu pun kalau aku tak ketiduran duluan.
Be Your Self:
Nice story J
Hanya ini? Kupikir ini hanya
sekedar komen angin saja. Sekali datang, nanti juga pergi lagi. Tapi, tak lama
setelah itu dari akun yang sama mengirim komentar lagi.
Ternyata kamu pinter bikin
cerita, ya?
Ah, siapa, ya? Klik,
kukunjungi blognya. Di sebelah kanan ada foto profilnya. Eh… bukannya ini
Badri?
Segera aku kembali ke blogku.
Kubalas komentarnya:
Badri, ya?
Hanya tiga detik dan komentar
balasan darinya muncul.
Yups!
Bisa nemu blog ini darimana?
Ada, deh… Ternyata, selain cantik, kamu juga pinter
bikin sastra-sastra, ya? Banyak juga udahan ini isi blogmu.
Tak terasa aku tersenyum. Kenapa
dia tiba-tiba pakai kamu-kamuan begini? Dan kenapa pula aku jadi merasa senang?
Ah, masa iya aku menyukai Badri? Hanya karena perlakuannya yang tak seberapa
ini?
Selanjutnya dia mengechatku
langsung lewat akun google+.
Kok belum tidur?
Ehm… belum ngantuk. Masih
ngetik juga.
Besok kuliah jam berapa?
Pagi. Setengah 8.
Aku jemput, ya?
Eh… jemput?
Wah… enggak usah. Dianter papa
udahan.
Oh, gitu. Pulangnya?
Kenapa pulangnya?
Pulangnya jam berapa?
Jam tiga selesai.
Aku anter, ya?
Ampun! Dia ini kenapa, ya? Apa
salah kalau aku menerka bahwa dia benar-benar menyukaiku? Boleh tidak aku
berharap sekarang?
Emang pulang jam berapa?
Udah, gak papa. Pokoknya aku
anter. Bye! Tidur sana!
Maksa amat? Tapi, dipaksa-paksa
begini akunya malah kegirangan. Hah… rasanya aku benar-benar sudah mulai suka
pada yang namanya Badri ini.
***
Belum juga sampai aku pulang
kuliah, Badri yang menghampiriku duluan ke kelas. Dia mengajakku makan di luar.
Bukan di kantin Fakultas. Farra dan Sati mendorongku, memaksaku untuk ikut
saja. Agak ragu, sih. Tapi, akhirnya aku mau juga. Tak begitu spesial. Dia
mengajakku ke kafe baru di daerah Kampung Baru, daerah kos-kosan yang
kebanyakan mahasiswa dari Universitas Lampung.
“Elo ngekos di sekitar sini juga,
ya? Nyampe tahu ada kafe baru di sini,” tanyaku saat kami selesai memesan. Dia
mengangguk.
“Ya. Enggak jauh dari sini, kok.
Lurus nyebrang rel,” ujarnya. Aku mengangguk-angguk.
Sejak tadi dia menghampiriku, dia
terus saja menggunakan kata aku kamu. Karena aku merasa aneh dan
canggung sekaligus, jadi masa bodoh! Dia menggunakan aku kamu-an, biar
saja. Aku tetap dengan kata gue elo.
Tlung! Hpku berbunyi. Ada
bbm masuk. Dari Tora.
Dimana? Tulisnya di sana.
Makan jawabku singkat.
Sama? Apa, sih? Ikut
campur saja! Menyebalkan. Biarlah. Kuabaikan saja. Lagipula, pesanan kami sudah
datang. Aku hanya pesan nasi ayam crispy. Sedangkan, Badri pesan capcai.
Sengaja, aku pesan yang paling murah. Karena, walaupun aku bawa uang, pasti
Badri akan menolak kalau aku bayar sendiri. Well, pastinya aku
ditraktir, kan?
Tlung! Ada bbm lagi. Ah,
dari Tora lagi! Biar sajalah!
Tlung! Tlung! Tlung! Ya,
ampun! Kenapa bbmnya berkali-kali begini, sih?
Kenapa cuma R?
Dimana, sih?
Sama siapa?
Di kantin kok gak ada?
Mia!
Woy!
Budek, ya?
Gue telpon nih!
Ping!!!
Ping!!!
Ping!!!
“Siapa?” tanya Badri
mengangetkanku. Hampir saja hp kulempar ke mukanya. “Sorry. Aku ngagetin kamu,
ya?”
“Eh, eh, enggak, kok. Tau, nih!
Spam!” kataku bohong. Bisa-bisa Badri merasa tak enak kalau ini dari Tora.
Seperti malam itu juga, kan. Segera kumatikan paket datanya. Masa bodoh Tora
mau mendumel apa nanti. Kan tidak enak juga kalau mengabaikan orang yang
jelas-jelas sedang ada di depanku sekarang.
Dan benarlah. Sepulang dari sana,
Tora terus saja mengomel padaku. Sejak aku masuk ke kelas, mendudukkan pantatku
ke kursi paling dekat, sampai-sampai saat jam kuliah sudah dimulai.
“Tora! Bisa diam tidak? Mau
menggantikan ibu menjelaskan materi ini?” bahkan ia sampai kena tegur dosen.
Tapi dia tak kapok-kapok. Dia melempariku kertas kecil yang aku malas sekali
untuk membukanya. Bisa kubayangkan dia akan tetap membuntutiku kalau saja aku
tak berteriak ke mukanya, “Gue ini mau ke toilet? Mau ikut! Ya udah ayok!” dan
akhirnya dia bisa diam juga.
“Heran banget sama Tora! Dia udah
kayak kucing kebelet kawin tau, gak?” dumel Sati yang kugeret ke toilet. Yah,
walaupun akhirnya si Farra juga ikut mengekori kami.
“Hush! Kalo ngomong!” tegur Farra
sambil menyisir rambut pendeknya.
“Ya dia itu. Sejak ngeliat Mia
pergi sama Badri tadi, dia gak bisa diem. Nanyain mulu ke gue, tuh Mia mau
ke mana? Kenapa dibiarin pergi, sih? Berisik tau, gak!”
“Jangan-jangan Tora suka lagi
sama elo, Mi? Dia cemburu gitu elo jalan sama Badri?” terka Farra asal.
“Heh! Enak aja ngomongnya! Gak
mungkinlah! Tiap hari kerjaannya bikin gue kesel gitu,” tampikku. Heh! Mana
mungkin Tora menyukaiku.
“Cowok itu cara PDKT-nya
lain-lain. Kalo elo mau bandingin cara Badri PDKT ke elo sama caranya Tora, ya
gak mungkin samalah. Liat aja kelakuannya setiap hari gimana. Mau selembut dan
sekeren Badri? Mana mungkin!”
“Eh, ya juga, ya? Bener juga.
Caranya khawatir itu, loh. Kayaknya enggak mungkin banget kalo cuma dalam
rangka khawatir ke temen. Iya, deh. Gue setuju sama elo, Ra. Kayaknya Tora
emang suka deh sama elo, Mi,” tambah Sati.
“Heh! Udah, ah! Kenapa jadi
jodoh-jodohin gue sama Tora, sih? Gak, gak! Dia gak mungkin suka sama gue.
Udah! Gak usah berspekulasi yang gak jelas gitu! Imposible, tahu! Udah, ah!”
tampikku lagi. Menghindar dari semua kemungkinan mereka itu, aku keluar duluan.
Bruk! Aduh, aku menabrak
seseorang. “Eh, so…” wah? Siapa ini yang kutabrak? Andre? Heran, kenapa ya aku
selalu tabrakan dengannya? Biasanya, kalau di tv-tv begitu, yang sering
tabrakan jodoh, kan? Tapi, jangankan jodoh. Bicara dengannya saja aku tak
pernah. Bahkan, satu kelompok saja juga tidak pernah.
“Mau ke toilet, ya?” tanyaku.
Mengingat toilet di gedung kami tidak ada pembatas. Tidak ada toilet untuk
laki-laki atau perempuan. Semuanya jadi satu. Jadi, harus gantian. Apalagi di
sini laki-lakinya lebih sedikit. Jadi, untuk para laki-laki harus ekstra keras
untuk antri ke toilet. Kecuali kalau mau berjalan sedikit jauh ke mushola yang
baru ada pemisahan toilet. Itu pun kalau sedang tidak ramai.
“Ehm, masih ada Farra sama…”
“Hai, An!” ah, Farra dan Sati
sudah keluar. Kulihat Sati mencoba akrab dengannya. Mungkin karena dari sekolah
yang sama, Sati bisa santai saja mengakrabi Andre seperti itu. Yang didapat
bahkan hanya kedipan mata saja dari Andre. Dan Sati cuma bisa garuk-garuk
kepala setelahnya. Kalau aku jadi Sati, sudah kutarik rambutnya. Baik-baik
disapa malah dilempari kacang!
Aku mencoba tak acuh. Kalaupun
aku mendumelkan soal Andre, pasti Sati hanya akan menjawab, “Emang gitu kok
orangnya.” Makannya aku kembali melanjutkan langkahku.
Baru keluar dari sana, Tora
kembali menempel padaku.
“Apa sih, Tora?!” sentakku
akhirnya sebal. Sejak tadi dia kudiamkan, tapi dia sendiri tak bisa diam. Malah
makin menjadi-jadi.
“Elo tadi darimana, sih? Di bbm
cuma diread doang. Dibales juga gak, malah gak aktif lagi abis itu!”
“Gue abis makan! Gue makan di
kafe baru di Kampung Baru. Gue makan sama Badri. Dia yang ngajakin, dia yang
bayarin! Gue makan nasi putih sama ayam crispy. Pake teh botol. Abis itu gue
nemenin dia beli kuota di konter yang gak jauh dari sono. Udah! Gitu doang!
Puas?!” cerocosku panjang lebar. Sengaja kupelototkan mataku. Walau tinggiku
tak sebanding dengannya yang macam tiang listrik ini, kupaksakan mensejajarkan
wajahku dengan wajahnya. Yah… walaupun tak berhasil, sih. Meski begitu,
aku berhasil membuatnya diam dan tak mengikutiku lagi.
Hingga tiba jam pulang, dia
pasang wajah murungnya. “Mau pulang? Gue anter, yok! Pake motor Wawan,”
ajaknya. Di tangannya sudah ada kunci motor Wawan.
“Gak usah. Gue udah janjian sama
Badri. Lagian, bukannya elo ada rapat di hima?” tolakku pelan. Meski masih
kesal, agak simpati juga melihat tampangnya yang memelas begitu. Setelah
mendengar jawabanku tadi, ia memutar bola matanya. Tanpa ba bi bu lagi,
dia pergi begitu saja. Marahkah?
Tunggu! Apa benar kata Sati dan
Farra, ya? Apa mungkin Tora menyukaiku? Ah, masa iya? Ya, ampun! Kenapa aku
jadi disukai dua cowok begini? Nanti kalau mereka saling tonjok-tonjokkan cuma
memperebutkanku bagaimana? Oh, apa aku terlalu bermimpi?
Tidak! Tidak! Mia, hal yang
mustahil Tora menyukaimu! Oke? Fokus pada Badri saja. Dia sudah menunggumu di
parkiran.
***
Malam Sabtu, aku sudah janjian
dengan Badri. Karena ia tahu, kalau malam minggu pasti aku akan dikuasai oleh
keempat orang itu, ia mengajakku nonton.
“Ehm… enggak papa kan kalo
nonton? Ada film yang pingin banget aku tonton sama kamu dari kemaren,” ujarnya
waktu itu. Aku sih iya-iya saja. Mungkin karena aku sudah terlanjur kesemsem
dengannya. Yah, aku akui. Aku menyukainya. Dan mungkin saja dia juga
menyukainya. Jawabannya iya juga ia terus memperlakukanku seperti ini.
Aku tinggal di sekitaran terminal
Rajabasa. Jadi, dari kampus sampai rumahku jaraknya sekitar 1 km. Berarti,
kalau tidak macet, Badri hanya butuh waktu sekitaran 10 menit untuk sampai ke
sini. Tapi, dalam waktu lima menit dia sudah ada di depan rumahku. Memaksaku
berdandan seadanya. Jeans panjang hitam, dan kemeja setengah tiang merah
kota-kotak. Rambut kukepang kereta di belakang. Hanya pakai lipgloss dan
bedak putih. Sedikit semprotan parfum dan tas merah kecil yang senada dengan
kemejaku. Sepatu cats putih dan selesai. Inilah gaya main seorang Mia
Natali.
Dia menyambutku dengan senyuman.
Tapi karena senyumannya itu dibumbui dengan tatapan yang membuatku kikuk,
terpaksa aku bertanya, “Kenapa, sih?”
“Enggak papa. Kamu cantik,”
jawabnya. Ah! Sial! Wajahku memanas. Apa sekarang wajahku mulai memerah.
“Ayok, deh!” ajakku, mengalihkan
kegugupanku. Dia memberiku helm dan menyuruhku naik. Ke 21 (dibaca twenty
one) kami pergi. Berjarak 4 km dari sini. Letaknya ada di lantai atas Mall
Bumi Kedaton. Salah satu mall yang cukup terkenal di Bandar Lampung.
Ini yang paling aku sukai kalau
keluar malam di Bandar Lampung. Sepanjang jalan, ada pohon-pohon yang sengaja
di tanam sebagai pemisah jalur kanan dan kiri. Di batang-batang pohon itu
dipasangi lampu kecil-kecil warna-warni. Bila gelap sudah menyapa seperti ini,
kelihatan bagus sekali. Andai saja kami terus berjalan sampai ke Teluk, mungkin
mataku akan lebih dimanjakan. Karena, jalanan ke arah sana kita bisa melihat
perbukitan yang ditumbuhi rumah-rumah penduduk. Malam-malam begini pasti
lampu-lampu dari sana kelihatan seperti bintang. Maklum. Aku agak norak dengan
bintang. Di kota kan tidak bisa leluasa melihat bintang yang bertabur banyak di
langit. Yang kelihatan paling-paling cuma bintang yang besar-besar saja.
Selebihnya, hanya bulan saja yang menguasai langit. Itu pun kalau memang
bulannya sedang muncul.
“Mia!” panggil Badri.
“Hm?” sedikit kunaikkan suaraku.
Lalu lalang kendaraan yang lain membuatku sulit mendengar. Apalagi ditambah
helm ini.
“Enggak tidur, kan?”
“Ha? Enggak, tuh. Kenapa
emangnya?”
“Kok diem aja?”
“Oh… hehe… gue emang suka berubah
jadi pendiem kalo di jalan. Suka ngeliat jalan aja.”
“Oh, gitu. Kirain tidur. Awas,
jatuh!” ingatnya. Aku hanya mengangguk-angguk.
Sampai di sana, dia mengajakku
menonton comic 8. Ah, ternyata film komedi. Aku sudah berpikir dia akan
mengajakku menonton film horror. Siapa tahu, dia seperti mereka-mereka itu,
kan? Curi-curi kesempatan dengan cewek yang diajak nonton seperti ini. Saat si
cewek takut melihat hantu di film, maka reflek akan dipeluk kan cowok di
sampingnya? Ternyata aku salah. Dia tidak seperti itu. Lagipula, aku juga hobi
nonton film horror. Dan aku yang paling tidak takut dengan yang namanya
hantu-hantu itu. Jadi, kalaupun kami benar-benar menonton film horror, tak akan
berpengaruh apapun padaku.
Sambil mengantri, Badri memesan
satu popcorn ukuran besar dan dua minuman. Dia menawarkan diri untuk membawa
ketiga benda itu sendirian sampai di dalam. Ya sudah. Kalau dia memaksa. Tak
masalah, aku juga tak jadi kerepotan.
Awal menonton, kami biasa saja.
Tertawa kalau ada adegan lucu. Dan benar-benar fokus dengan film. Nah, yang
membuatku agak ketar-ketir, tiba-tiba saja dia memindahkan jaketnya ke
tubuhku. Kutatap heran dia. Dia pura-pura tak tahu. Sok-sok asik lagi nonton
filmnya. Padahal ketara sekali, dia pasti tahu aku sedang menatapnya. Melempari
pertanyaan, ini maksudnya apa jaket ini ada di bahuku sekarang? Tapi dia masih
tak acuh.
“Mau jalan-jalan dulu enggak ke
Teluk? Ngeliat pemandangan aja,” tawarnya setelah kami selesai dengan comic
8 gokil tadi.
“Ehm… boleh,” jawabku. Tak
masalah mungkin. Ini juga baru jam sembilan. Masih sempat lah sampai jam
sepuluh aku akan mengajaknya pulang.
Sampai di parkiran, aku baru
sadar. Jaketnya masih ada padaku. “Eh, ini jaketnya?”
“Pake aja. Dingin.”
“Terus elo sendiri?”
“Masa iya, aku biarin kamu
kedinginan sementara aku anget sendirian, sih?” deg! Duh… Tuhan! Aku
bisa kena serangan jantung kalau seperti ini terus. Aku senang, tentu saja!
Seperti katanya tadi, kami hanya
jalan-jalan. Melihat lampu-lampu jalan dan perumahan penduduk di perbukitan.
Berhenti sebentar untuk membeli minum dan jagung bakar. Setelah itu, dia
mengantarku pulang.
“Nih, helmnya,” ujarku setelah
turun dari motor. Dia mengambilnya sambil tersenyum. Aku bingung, karena dia
tak kunjung pulang malah diam saja sambil terus saja menatapku. Kulirik ke
dalam gerbang, mobil papa sudah terparkir cantik di sana. Wah, bisa gawat kalau
papaku sampai tahu aku pulang dengan cowok. Hush! Kenapa tak
pulang-pulang, sih?
“Ya udah, sana pulang!” usirku
pada akhirnya. Dia malah tertawa. Apanya coba yang lucu?
“Oke. Aku pulang, ya?” pamitnya.
Huft… akhirnya sadar juga dia. Aku tak mungkin mengajaknya mampir. Sudah malam.
“Ehm. Makasih ya, traktirannya.”
“Ehm. Makasih juga, ya? Atas
waktunya yang menyenangkan,” balasnya. Ah, cepat sana pulang! Kalau tidak,
wajahku benar-benar bisa mendidih ini.
“Oke, bye!” dan akhirnya dia
pulang. Senyumku terbentuk begitu saja. Hari yang menyenangkan!
Tlung! Baru saja aku akan
masuk, hpku bergetar. Ah, aku bara sadar. Sejak tadi hp ku-silent. Baru
sekarang aku mendengar getarannya dari dalam tas. Ada bbm masuk. Dari siapa,
ya?
Eh! Ada 10 panggilan tak terjawab?
Dari siapa? Tak mungkin dari papa, kan? Ehm, coba kucek. Ah, ternyata bukan.
Hah? Dari Tora? Kenapa dia menelfonku sampai 10 kali begini?
Ada notifikasi bbm. Ternyata
hanya ada dari Tora dan beberapa bc-an pengumuman tugas dan semacamnya.
Lantas yang dari Tora? Ya, ampun! Dia menge-Ping-iku berkali-kali.
Dimana, sih?
Mia?
Ini gue udah di depan rumah
elo!
Enggak ada siapa-siapa, tah?
Gila! Elo dimana, sih?
Ping!
Ping!
Ping!
Mia!
Woy, budek!
Gila!
Elo teller apa di dalem?
Eh, gila! Gue hampir diusir tetangga
elo nih gara-gara teriak-teriak dari tadi.
Angkat telfon gue!
Ping!
Ping!
Ping!
Mia Natali!
Miasya Allah!
Ping!
Ping!
Ping!
Hah?! Tadi Tora ke sini? Mau apa?
Kenapa tidak bilang dari tadi siang, sih? Kan kalau begini aku jadi merasa
bersalah.
Sambil masuk ke dalam, kucoba
kontak nomornya. Ah, malah tidak aktif. Kubalas bbmnya ceklis. Whats App,
ceklis juga. Line, sama saja. Apa hpnya mati? Ada apa, ya? Apa cuma mau
pinjam novel, ya? Kan kami ada tugas merangkum novel di mata kuliah Pengantar
Sastra. Yah, mungkin. Dia kan paling tak suka baca novel. Pasti dia tidak punya
sebiji pun makannya mau pinjam padaku.
Besok lagi ah aku hubungi dia.
Sekarang, yang harus kupikirkan adalah menjelaskan kepada mama dan papa ke mana
aku pergi malam ini. Semoga saja mereka tidak marah.
***
Huft… Tora tak menjawab
telponku. Aku tanya ke Farra dan Sati, katanya juga sama saja. Tora menghilang,
bersama Wawan yang nomornya dan seluruh akun sosmednya tiba-tiba non aktif.
Mereka berdua sebenarnya kemana? Dan kenapa Tora semalam ke sini?
“Ngelamunin apa, sih?” aku
tersentak. Badri sudah ada di depanku dengan dua porsi nasi ayam. Tadi malam,
tepat sebelum aku terlelap, dia memintaku menamaninya ke toko buku. Makan
siangnya, ia mengajakku ke KFC.
“Ehm? Enggak ada, kok,” jawabku.
Dia tak protes, hanya tersenyum manis seperti biasa.
Aku makan tapi tak bisa fokus.
Otakku masih dipenuhi Tora. Alasan ia datang ke rumah semalam. Padahal,
sebelumnya dia tak pernah datang ke rumahku sendirian tanpa yang lain. Hah…
Nasib baik Badri tak banyak mengajakku mengobrol.
“Mau pulang langsung apa kamu mau
ke suatu tempat dulu?” tanyanya setelah kami selesai makan. Aku tak bernafsu
sama sekali untuk main hari ini. Padahal, seharusnya aku senang. Mengingat aku
mulai mengakui kalau aku menyukai cowok di depanku ini.
Kugelengkan kepalaku menjawab
pertanyaannya.
“Pulang aja. Gue juga udah dapet
novel yang gue cari,” kuangkat paper bag kecil dari toko buku tadi.
Padahal, tadi aku ingin membelinya sendiri. Tapi katanya, “Anggep aja sebagai
ucapan makasih karena udah nemenin aku.” Dia memaksa, ya sudah tak bisa
kutolak.
Yang membuatku kembali fokus pada
perasaanku pada Badri adalah, dia memakaikan helmnya padaku.
“Eh… gue kan bisa pake sendiri,”
ucapku reflek. Dia tak merespon, hanya tersenyum. Aku diam, aku kikuk, tapi aku
senang. Bahkan senyumku terbentuk sendiri. Tentu saja setelah kami mulai di
jalan. Aku terlalu malu untuk menunjukkannya langsung di depannya.
Dia berhenti di pom bensin. Aku
minggir dan berdiri di dekat ibu-ibu yang sedang menunggu suaminya mengisi
bensin. Anak perempuannya sekitar lima tahun menarik ujung sweeterku. Ia
tersenyum begitu lucu padaku. Aku berjongkok dan mengusap-usap wajahnya.
“Namanya siapa?” tanyaku gemas. Tapi dia malah tertawa.
Tak sengaja kepalaku menoleh ke
arah Badri. Tadinya hanya ingin memastikan, apa dia sudah selesai. Dan yang
kudapati adalah senyumannya. Entah kenapa hari ini dia banyak sekali tersenyum
padaku. Sebaliknya, dia sendiri tak banyak bicara. Duh… jantungku.
“Udah?” tanyaku begitu ia
mendekatiku. Baru saja aku akan naik, dia menyuruhku menunggu.
“Bentar-bentar. Ada telpon,”
katanya. Kupilih tetap berdiri sembari kusimak ia menjawab orang di seberang
itu. “Iya? Lagi di luar, kenapa? Hah? Udah di kosan? Sama siapa? Kok enggak
ngasih kabar, sih? Apa? Hh…” kenapa dia nampak panik begitu? Sekilas ia
melirikku, tapi kembali lagi ke telpon itu. “Oke, oke. Ehm… lima menit lagi aku
nyampe,” lanjutnya kemudian memasukkan kembali hpnya ke saku jaketnya.
Badri beralih ke aku. Dia
memberiku tatapan yang entah apa itu artinya. Sekali lagi ia menghela nafasnya.
Dan yang membuatku agak mulai takut adalah, ia menggaruk pipinya, yang aku
yakin sekali itu tidak gatal. Tadi dia bilang lima menit lagi sampai, kan? Apa
dia mau balik ke kosannya dan meninggalkanku di sini?
“Ehm… Mi. Eh… dari sini, elo naik
ojek aja, ya?” hah?! Ojek? Tunggu! Tadi dia bilang apa? Elo?
“Hah? Kenapa?” tanyaku kaget.
Jelaslah! Apa benar dia akan meninggalkanku di sini?
“Oh… gue enggak bisa nganter elo.
Elo, bawa uang kan buat ongkosnya?”
“Ya iyalah! Masa gue pergi enggak
bawa duit! Emang gue cuma mau ngandelin elo doang, apa?” entah karena apa
tiba-tiba aku merasa jengkel atas pertanyaannya tadi. Lebih dari itu! Cara
bicaranya padaku tiba-tiba kembali seperti saat pertama kali aku mengenalnya. Elo-elo,
gue-gue! Apa-apaan, nih?
“Emangnya kenapa, sih? Emang elo
enggak bisa nganterin gue pulang dulu apa? Siapa sih yang dateng ke kosan elo
sampe elo harus pulang cepet gitu?”
“Itu… dia…” ini ketiga kalinya.
Ketiga kalinya dia menghela nafasnya. Bahkan ia harus menelan ludahnya sendiri.
Kenapa? Berat sekali mengatakan siapa yang ada di kosannya sekarang? “Yang di
kosan gue sekarang… cewek gue?”
Blar! Perutku tertohok
begitu kerasnya. Aku melotot dan reflek mendecih tak percaya? Apa tadi, cewek?
“Elo… udah punya cewek?” tanyaku
tak percaya. Dia hanya mengangguk sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Spontan aku mendecak tak percaya. Sikap lembut dan kikukku tadi? Oh, lupakan
hal itu! Bruk! Kulempar helm di tanganku ke perutnya. Ia menangkapnya
dengan benar. Syukurlah! Karena, kalau sampai helm itu jatuh, maka akan
mengundang perhatian orang-orang di sini.
Tanpa banyak bacot lagi,
kutinggalkan dia dengan langkah kesal. Yang membuatku makin tak percaya, dia
menancap gas motornya begitu kencang. Melewatiku begitu saja.
Sial! Ingin benar rasanya aku
berteriak! Tapi sayangnya, perlahan dadaku terasa sakit. Oh, jangan! Jangan di
sini! Tak pantas jika aku harus menangis sekarang!
***
“Tuh, kan! Gue bilang apa? Elo
itu belum kenal sama dia? Ngeyel banget sih dibilangin!” sentak Tora yang
membuat tangisku makin menjadi. Daritadi ia mencak-mencak. Padahal Sati
dan Farra sejak tadi mencoba menenangkanku. Sedangkan Wawan keep calm
saja. Tapi matanya mungkin merasa simpati padaku.
“Ih! Tora, elo nyebelin banget,
sih! Temennya lagi sedih malah elo omelin!” sentak Farra. Sati membantunya
dengan memukuli bahu Tora sebal. Tapi mata marahnya masih terlihat.
“Pinjem hp elo!” teriaknya
menunjuk hp di tanganku.
“Buat apa?”
“Ah, lama!” dengan paksa ia
merebut hp itu. Apa yang dilakukannya, aku tak tahu. Tapi yang jelas, ia
berhasil membuat kami berempat melonjak kaget karena tiba-tiba ia berteriak,
“Woy, Sinting! Elo sinting ya, udah punya cewek masih deketin cewek lain? Elo
mau ngoleksi cewek, hah?!” ke depan hpku.
“Ngapain sih, elo?!” teriakku
sambil buru-buru merebut hpku.
“Telat! Udah delive!”
Tora gila! Dia benar-benar gila!
Bagaimana mungkin ia mengirim voice note ke Badri seperti ini. Tangisku
makin kencang karenanya.
“Elo nih jahat banget, sih! Udah
enggak waras elo, ya?” Sati membelaku.
“Cowok sialan itu yang enggak
waras! Lihat? Sekarang elo sendiri kan yang patah hati?”
“Sok tahu! Hati gue enggak patah,
kok!”
“Terus apa? Sampe mewek kayak
gitu!”
“Ini enggak patah, kok! Cuma
retak! Huwee!” kukeras-keraskan tangisku. Terlebih karena melihat cibiran bibir
Tora yang menyebalkan itu.
Sakit sih memang. Tapi rasanya tak terlalu. Karena kurasa, dengan menangis malam ini, maka selanjutnya aku akan baik-baik saja. Sebaliknya, aku lebih memperhatikan Tora malam ini. Caranya marah, caranya kesal dan tak terima itu. Sampai-sampai mengirimi Badri suara kekesalannya itu, kenapa aku mulai berpikir bahwa mungkin saja Tora menyukaiku, ya? Lagipula, aku pun belum dapat jawaban, mengapa kemarin malam dia mencariku.
Sebelumnya Selanjutnya