Tuesday, January 14, 2020

As Your Words

>>> 

"Aku lebih baik mati daripada harus menyukainya."
 

***
 

Donghae terlihat begitu antusias memperhatikan permainan Hyuk Jae di bawah sana. Sampai-sampai Jae Hee yang duduk tepat di sampingnya hanya ia diamkan saja. Tapi untung saja Jae Hee tak melancarkan protes. Ia hanya tersenyum melihat Donghae yang sepertinya gemas ingin merebut bola dari kaki Hyuk Jae di sana.
 


"Hae!" panggil Hyuk Jae tepat ketika peluit dibunyikan pelatih. Donghae hanya melongo melihat Hyuk Jae melambaikan tangannya, menyuruhnya mendekat. 

"Aku?" gumamnya menunjuk dirinya sendiri. Hyuk Jae hanya tersenyum dan kembali memainkan bola di kakinya.
 

"Turunlah!" ucap Jae Hee setuju. Meski ragu, akhirnya Donghae menurut. Ikut turun dan hanyut begitu saja setelah Hyuk Jae mengajaknya bermain. Jae Hee jelas melihat kebahagian yang tak terkira saat Donghae berhasil memasukkan si bundar ke gawang.
 

Begitu Donghae kembali ke bangku penonton, Jae Hee melemparkan sebotol air mineral. Sedang Hyuk Jae sudah menghilang. Entahlah. Mungkin ia ganti baju sekarang.
 

"Permainan yang bagus. Kenapa tidak masuk klub saja?" tanya Jae Hee membiarkan Donghae menenggak air mineral tadi.
 

"Inginnya," jawab Donghae kemudian.
 

"Inginnya?" Dahi Jae Hee berkerut. Tak mengerti dengan kata-kata Donghae. Tapi Donghae tak langsung menjawabnya. Ia memilih duduk dulu di samping Jae Hee.
 

"Aku juga inginnya masuk klub. Tapi tidak bisa."
 

"Kenapa?"
 

"Aku cidera."
 

"Cidera?"
 

Donghae hanya menangguk. Tapi kemudian ia tersenyum melihat raut wajah bingung kekasihnya ini.
 

"Dulu aku pernah kecelakaan. Aku juga dulu ikut klub sepak bola saat di sekolah dasar. Bahkan aku jadi kapten. Tapi karena kecelakaan itu, aku jadi tak bisa melanjutkannya. Kakiku cidera, jadi aku tak bisa main lagi," jelas Donghae panjang lebar. Jae Hee malah sedih mendengarnya. Pelan, diusapnya pipi Donghae. Simbol simpatinya pada sang kekasih.
 

"Tidak apa-apa," jawab Donghae yang malah menggenggam erat tangan Jae Hee. Tersenyum meyakinkan bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja.
 

"Hey, kalian berdua!" teriak seseorang tiba-tiba. Hyuk Jae sudah ganti baju. Tangannya melambai mengajak mereka pulang.
 

"Kajja!"
 

***
 

"Andaikan suatu saat aku pergi, apa kau akan menangis?"
 

Mendengar pertanyaan itu, Hyuk Jae reflek menoleh ke samping. Menatap sebal sahabat sejak kecilnya itu. "Hey! Sudah berapa kali kukatakan? Jangan menanyakan pertanyaan bodoh itu lagi!" protesnya. "Apa kau mau mati, hah?! Pergi! Pergi!"
 

"Aku hanya ingin tahu saja. Apa kau akan menangis sehisteris saat kau harus menggantikanku menjadi kapten di tim kita dulu?" balas Donghae santai. Tapi Hyuk Jae kelihatannya makin kesal.
 

"Kubilang jangan katakan, ya jangan katakan! Pertanyaanmu seperti kau akan mati saja! Kubunuh kau menanyakan hal itu lagi!" tambah Hyuk Jae memukul keras bahu Donghae. Yang dipukul malah tertawa.
 

"Kau bagaimana, Chagi?" tanyanya kemudian pada gadis yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia mereka di belakang.
 

"Oh?" Ia sepertinya sedikit terkejut dengan pertanyaan Donghae. Bahkan ia harus membuat langkah keduanya terhenti dan berbalik demi menatapnya.
 

"Kapan terakhir kali kau menangis histeris?" tanya Donghae lebih jelas.
 

Jae Hee nampak berfikir. "Em... Saat aku selamat dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku," jawabnya menerawang masa lalu. Donghae dan Hyuk Jae malah bingung sendiri.

"Selamat dari kecelakaan? Kau malah menangis?" tanya Hyuk Jae menyerukan isi hati Donghae. "Apa karena kau bahagia karena selamat?"
 

"Bukan."
 

"Bukan? Lalu?"
 

"Itu karena..." Jae Hee sengaja menggantung kata-katanya. Berharap kedua orang itu bertambah penasaran. Meski sebenarnya cukup pahit menceritakan hal kecil ini. "...keselamatanku digantikan nyawa orang lain," sambungnya dengan raut wajah yang turun derastis.
 

"Nyawa orang lain?" Hyuk Jae kelihatannya masih belum paham. Tapi Donghae tak lantas membiarkannya bertanya lebih jauh. Hatinya perih melihat murung di wajah cantik itu.
 

"Haish! Ayo cepat! Sudah malam!" serunya kemudian menggandeng Jae Hee jalan duluan. Membuat Hyuk Jae melongo karena ditinggal pergi.
 

"Ya! Donghae~ya! Jae Hee~ya!"
 

***
 

Donghae menggosok-gosokkan kedua tangannya. Berharap dapat sedikit menghalau dingin yang menyergapnya. Ia baru lima menit duduk di bangku halte bus, menunggu Jae Hee. Tapi rasanya ia hampir membeku di sana.
 

Senyum tipis tersungging di bibirnya, saat Jae Hee terlihat melambaikan tangan di seberang sana. Donghae pun berdiri. Berusaha menyambut Jae Hee yang perlahan berjalan menyebrang.
 

Tapi senyum Donghae tak bertahan lama. Entah karena apa, Jae Hee tiba-tiba saja terjatuh. Ia tak kunjung bangun karena sepertinya kakinya terkilir. Kepanikan langsung menjalari Donghae saat sebuah truk besar berusaha melintas dengan kecepatan tinggi. Donghae reflek berlari. Ia berusaha menyelamatkan sang kekasih dari maut. Tanpa fikir panjang, ia mendorong tubuh Jae Hee saat Jae Hee sudah mulai berdiri. Sedang sendirinya malah terpaku di tempat Jae Hee tadi.
 

"Donghae~ya!!!!"
 

***
 

"Donghae~ya!!!"
 

Mendengar jeritan itu, pelan, Donghae membuka matanya. Saat itulah ia tahu, truk besar tadi sudah tepat berada di depannya. Hanya tinggal beberapa inci lagi bagian depan truk itu menggapai hidung mancungnya. Tapi syukurlah, ia tak apa.
 

"Donghae~ya!" suara teriakan itu kembali terdengar. Donghae berbalik. Berusaha mencari siapakah orang yang baru saja meneriaki namanya tadi.
 

Tiba-tiba anak kecil berlari melewatinya. Ia terus berlari hingga masuk ke dalam kerumunan orang di pinggir jalan sana. Penasaran, Donghae melangkah mendekat. Berusaha mencari tau ada apa di dalam kerumunan itu.
 

"Donghae~ya!!!" teriak anak kecil itu lagi. Kini Donghae jelas melihat seorang anak laki-laki sudah tergeletak berlumuran darah di antara kerumunan itu. Donghae mengamati wajahnya. Ia seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya. Juga dengan anak laki-laki yang menangis di sampingnya. Ia ingat wajah mereka berdua.
 

"Donghae~ya! Ireohna!" teriak anak itu lagi.
 

Ah, iya! Bukankah itu wajah Hyuk Jae? Hyuk Jae kecil? Tunggu! Bukankah bocah yang tergeletak tak sadarkan diri di sana itu adalah dirinya sendiri? Lee Donghae kecil?
 

"Jae Hee~ya! Song Jae Hee!" suara teriakan yang lain masuk ke telinga Donghae. Donghae kembali berbalik. Seorang anak perempuan di sebelah sana terduduk di tengah jalan. Ia terlihat syok melihat kerumunan di dekat Donghae ini. Bahkan ketika seorang wanita mendekatinya, ia tetap tak bergeming dari tempatnya.
 

"Song Jae Hee? Gwaenchana?" tanya wanita itu.
 

Song Jae Hee? Bukankah itu nama kekasihnya? Apakah itu Jae Hee saat kecil dulu? Apa hubungannya dengan kecelakaan ini?
 

"Kau sudah bangun?" kembali suara yang lain masuk ke telinga Donghae. Saat ia berbalik, tiba-tiba ia sudah berada di dalam ruangan rumah sakit. Donghae kecil terbaring di atas tempat tidur dengan selang infus di nadi kirinya. Tak lama, Hyuk Jae kecil mendekatinya.
 

"Kemana bocah itu?" tanya Donghae kecil geram.
 

"Nuguya?" Hyuk Jae kecil malah balik bertanya.
 

"Bocah yang membuatku tak bisa bermain bola lagi!" jawab Donghae marah. Tapi perlahan embun kecil mengalir di pipinya. Melas melihat kaki kanannya yang dibalut perban dan gips.

"Dia mengiramu mati, Hae," ucap Hyuk Jae seraya menundukkan kepalanya.
 

"Aku tidak peduli! Aku benar-benar membencinya! Aku tidak bisa lagi bermain bola, Hyukkie!" teriak Donghae kecil frustasi. Donghae hanya diam. Mengingat-ingat, benarkah ia pernah mengalami kecelakaan ini dulu?
 

"Dia tidak sengaja, Hae. Truk itu yang berusaha menghindarinya, dan malah menabrakmu saat kau mengambil bola."
 

"Dia salah! Kenapa ia harus terjatuh di tengah jalan?!"
 

"Lee Donghae!"
 

"Dengar, Hyukkie! Kalau suatu saat aku bertemu dengannya, aku akan berteriak padanya, kalau aku membencinya!" ucap Donghae kecil berapi-api. Hyuk Jae kecil akhirnya hanya bisa menunduk. Sahabatnya tak bisa diberi pengertian sama sekali.
 

"Bagaimana kalau kau tak tahu dan malah menyukainya?" gumam Hyuk Jae kecil tanpa menatap Donghae kecil.
 

"Aku lebih baik mati daripada harus menyukainya!"
 

"Donghae~ya!!!" Kepala Donghae reflek menoleh. Yang dilihatnya sekarang, Jae Hee, Jae Hee yang sudah dewasa berlari ke arahnya. Tapi ia tak lantas menghambur ke arahnya. Jae Hee malah mendekati kerumunan di belakang Donghae.
 

Donghae ikut mendekat. Tangisan Jae Hee yang histeris membuatnya makin penasaran untuk melihat lebih jelas apa yang menjadi kerumunan orang-orang itu. Begitu melihatnya, Donghae syok bukan main. Ia seolah kehabisan nafas, dan jantungnya berhenti berdetak. Matanya membulat tak percaya, lantaran yang ada dalam kerumunan itu adalah dirinya dengan darah yang menggenang banyak.
 

Jae Hee memangku kepalanya. Berusaha membangunkannya dengan meracaukan namanya berkali-kali. Tapi, "Srek!" Kepala Donghae terkulai ke kanan. Menghilangkan detak jantung yang tadi sedikit terdengar. Menghabiskan nafas yang terhembus dari kedua lubang hidungnya.
 

"Donghae~ya!!!" teriakan Jae Hee menulikan pendengaran Donghae yang masih mematung. Menggelapkan pandangannya hingga semuanya menjadi putih. Donghae tak dapat melihat apapun, bahkan telapak tangannya sendiri.
 

"Waktumu habis, Lee Donghae." Sebuah suara membuatnya terdiam. Terdiam cukup lama. Lama sekali! Seolah waktu berhenti karena menunggu diamnya berakhir.
 

"Aku... Mati?"
 

END