Ini cerita soal
perjalanan cinta temanku, Kharisma Ega Julianza. Untuk seorang teman, ia adalah
teman baruku di kampus. Dia orang Lampung asli. Tapi, entah kenapa tampilannya
lebih mirip seperti orang Jawa. Bahkan, kami sering menyebutnya “Lampung
kemasan Jawa”.
Cerita ini kudapat ketika aku mengikuti pendidikan dan pelatihan Bidik Misi (Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Miskin). Selesai jam makan siang, entah bagaimana awalnya, kami yang bosan mendengar pemateri wanita di depan sana mulai mendengar ceritanya. Entah bagaimana mulainya, yang jelas, ia menceritakannya dengan penuh ekspresi dan semangat ’45. Meskipun Puguh –salah satu sahabatnya, juga teman baruku di program studi Seni pertunjukkan—berulang kali mengganggunya, tapi ia tetap melanjutkan ceritanya seolah tengah menikmati hidangan yang tak akan pernah berkurang kelezatannya meski berkali-kali dilahap. Dan dari ceritanya itulah, aku bisa menangkap betapa lucunya cerita cinta yang dialaminya. Padahal, bila kisah itu diceritakan di sebuah novel-novel atau film-film FTV pasti akan jauh menyedihkan. Tapi, paling tidak, karena ceritanya aku tak habis dimakan oleh kebosanan waktu itu.
***
Hujan baru saja berlalu. Namun, mendung tak jua pergi. Menyembunyikan matahari di balik abu-abu warnanya. Menyisipkan sedikit sinar demi memberi tahu pada makhluk hidup di bawahnya, bahwa hari itu masih siang.
Pelataran
sekolah dasar itu masih ramai. Terlebih setelah waktu istirahat terpotong hujan
tadi. Beberapa bocah yang tadi berteduh dan hampir kebosanan akhirnya berlari
melahap habis halaman itu. Berceloteh sana-sini. Berbagai permainan seperti
lompat tali, bermain kelereng, kejar-kejaran dan semacamnya semua dilakukan
sudah. Perginya hujan, membuat semua terlihat gembira.
Tapi tidak dengan
bocah satu itu. Sebut saja Ega. Ia sejak tadi hanya duduk dengan gusar di bawah
pohon beringin di depan kelasnya. Menatap jauh ke arah kantin yang ada di
sebelah kanan kelasnya itu. Ada rasa maju mundur dalam hatinya untuk pergi ke
sana. Melihat seulas senyum dari bocah cantik yang kini tengah menikmati nasi
uduk di salah satu bangku kantin bersama teman-temannya. Hatinya ketar-ketir,
antara iya atau tidak ia akan menghampirinya.
Tangan kanannya
terlihat meremas batang mawar yang sejak tadi ia bawa. Ia mengambilnya sewaktu
hujan tadi. Di dekat pagar sekolahnya. Hingga ia harus berbasah kuyup sekarang.
Meski badannya terlihat menggigil, tapi gemetarannya bukan karena ia
kedinginan. Melainkan karena kegugupannya menghadapi bocah itu nanti.
Dengan segenap jiwa
dan raga, kumpulkan semua semangat dan usir semua kegugupan dan keraguan, Ega
pun melangkah pasti. Meski rasanya berat benar langkahnya bertambah, ia tetap
memaksa. Hingga ia tiba di depan bocah itu, ia terdiam. Lantaran bocah cantik
berambut ikal itu malah menatapnya heran dan cukup lama.
“Ma, Mawar...”
ujar Ega gugup.
Mawar dan
teman-temannya tentu saja terus menatapnya. Baju basah kuyup, dan bibirnya yang
gemetaran, siapa yang tidak heran.
“I, ini buat
kamu,” ujar Ega lagi memberikan setangkai mawar merah itu. Bocah kelas empat SD
itu menerimanya. Tapi dalam hati, ia terus bertanya-tanya. Ia ingin berucap
terima kasih, tapi entah kenapa pertanyaan, “Kenapa ngasih bunga?” membuatnya
harus diam dan memilih menunggu kata-kata apalagi yang akan diucapkan Ega
padanya.
“Ka, kamu mau
enggak, jadi pacar aku?”
***
Hari ini hari
senin. Jam kuliah baru dimulai sekitar jam satu siang nanti. Tapi Ega sudah
kelihatan mondar-mandir di kampus. Bolak-balik tak jelas di depan gedung F,
gedung kuliahnya nanti. Ia sendiri, tanpa kawan. Entah apa yang dilakukannya
sejak tadi. Jam baru menunjukkan pukul sebelas. Tapi ia sudah sejak jam
sembilan ada di sana.
Berkali-kali ia
memainkan handphonenya. Berkali-kali pula ia melongok ke dalam kelas. Mungkin
berharap seseorang akan keluar dari sana. Tapi toh? Nyatanya tak ada satu orang
pun yang muncul.
Tapi, beberapa
saat kemudian seseorang keluar juga. Dengan pakaian hitam putih, sama seperti
dirinya –ciri khas mahasiswa baru—ia terlihat begitu tergopoh-gopoh keluar dari
sana dan menghampiri Ega.
“Sorry ya, bro?
Gua susah banget mau keluar,” ucapnya menepuk pundak Ega pelan.
“Gua dong yang
minta maaf. Sorry, ya? Ngerepotin. Gua lagi butuh banget, nih,” balas Ega.
Menerima uluran dari tangan Pandu. Beberapa lembar uang yang ia terima.
“Aih, elo, mah!
Kaya orang lain aja,” jawab Pandu.
“Ok, thanks ya,
bro?” ucap Ega. Kemudian pergi meninggalkan Pandu yang akhirnya masuk kembali
ke kelas. Sedangkan Ega? Ia tetap terlihat tergesa-gesa berjalan ke arah halte.
Tapi, ia tak bermaksud menaiki salah satu angkutan umum yang ada di sana. Ia
malah terus berjalan hingga keluar dari gerbang utama kampusnya.
Sebuah bengkel
yang ia datangi. Ia terlihat berbincang sesaat dengan seseorang. Sebuah motor
bebek biru yang sepertinya jadi bahan pembicaraan. Sekilas, keduanya
menunjuk-nunjuk motor itu. Begitu Ega memberikan uang yang didapatnya dari
Pandu tadi, ia duduk di bangku tak jauh dari motor itu. Ternyata reparasinya
belum selesai.
Bosan, Ega
mengeluarkan headset dari saku almamaternya. Menyantolkannya ke kedua
telinganya. Membiarkan beberapa lagi pop yang melow mengalir perlahan ke
gendang telinganya. Sedang matanya asik menyapu pemandangan sekitarnya.
“Aku udah bosen sama kamu!” tak sengaja sebuah suara menyelip masuk di
sela-sela musik di telinga Ega. Ia pun lantas menoleh ke sumber suara. Tepat di
depan bengkel ini, ia melihat sebuah pertengkaran dari sepasang sejoli yang
mungkin tengah mengikat sebuah hubungan. Namun, sepertinya hubungan keduanya
kini tengah di ambang pintu kehancuran.
“Tapi enggak gitu juga dong caranya!” kata si cowok tak mau kalah.
Keduanya saling teriak tanpa malu sedikit pun. Cowoknya mencoba menarik tangan
kekasihnya. Tapi pacarnya itu malah menampiknya dan berlari pergi begitu saja.
Setelahnya? Mereka pergi juga dari sana.
“Dia itu udah bosen sama kamu, Ga,” tiba-tiba sebuah kalimat terbesit di
otak Ega. Ia tersenyum kecut. Begitu mudahnyakah seseorang membosani orang
lain? Fikirnya.
Melihat motornya yang belum juga kelar, terpaksa Ega memilih keluar.
Tak ada keributan seperti tadi, tentu saja ia tak akan keberatan untuk ke luar. Ia tersenyum memandang jalan
raya yang tak henti-hentinya menampung kendaraan dengan ukuran yang
berbeda-beda di atasnya. Entahlah. Tapi senyumnya sepertinya bukan untuk
pemandangan itu. Ada sesuatu yang mengusik fikirnya. Ada sesuatu dari masa lalu
yang membuatnya harus tersenyum kecut. Bosan? Heh! Itu adalah sebuah kata yang
benar-benar menjijikkan baginya.
“Maaf, kayaknya kita harus udahan, Ga,” Ega mulai mengingat kenangan pahitnya
yang lalu.
“Kenapa?” tanya Ega sedikit tak terima. Hatinya mulai goyah setelah
sebelumnya ia yakin bahwa ia bukanlah pelampiasan Bunga setelah putus dari
seniornya, seperti yang dikatakan teman-teman sekelasnya.
“Karena aku ngerasa kita udah enggak cocok aja,” balas Bunga.
Ega geram. Ia mengepalkan tangannya dan hampir saja memukulkannya ke
tembok di belakangnya. Tapi ia berhasil menahannya. Ia memilih mendengus kesal
dan berdiri dari duduknya. “Bener cuma karena enggak cocok?” tanya Ega mulai
naik emosinya.
“Maksud kamu?” Bunga malah balik bertanya. Ia sempat memandang Ega
entah dengan ekspresi heran atau takut karena ketahuan. Benar-benar sulit
dibedakan.
“Kamu jadian sama aku bukan karena kamu benaran suka sama aku, kan?”
akhirnya lolos juga pertanyaan itu dari bibir Ega.
“Maksud kamu apa, sih?” Bunga ikut berdiri. Ia mencoba menantang Ega
dengan menatap ke wajahnya. Ega masih enggan membalasnya. Ia memilih menatap
jauh ke depan. Meski terlihat benar merah matanya menunjukkan kemarahannya yang
luar biasa.
“Aku ini cuma kamu jadiin pelampiasan, kan?” tanya Ega lagi. Wajah
Bunga berubah derastis. Mungkin ekpresi itu adalah ekspresi orang-orang yang
baru saja ketahuan melakukan kesalahan.
Ega menoleh ke kiri. Menyaksikan ekspresi kebohongan yang terungkap
sudah di wajah Bunga. Ia benar-benar tak percaya. Semua gosip yang dikatakan
teman-temannya itu benar. Ia tak percaya bahwa Bunga yang ia cintai segenap
hati, ia pedulikan dan sayang dengan teramat sangat ternyata hanya
menjadikannya sebagai pelampiasannya. “Jadi bener?” tanya Ega lagi meyakinkan.
Tak ada jawaban dari Bunga. Hanya diam, sedang tatapanya hanya gugup
memandangi lantai. Ega meraup wajahnya. Sia-sia rasanya ia menyukainya selama
ini. Sia-sia rasanya perjuangannya untuk peduli dan meluangkan semua waktunya
untuk gadis ini.
“Aku enggak nyangka kamu setega ini! Aku pikir, kamu cewek yang pantes
aku cintai. Tapi nyatanya? Nol besar!” sentak Ega terakhir kali dan memilih
pergi meninggalkan gadis ini.
“Udah selesai motornya, Mas.” Tiba-tiba Ega merasakan tepukan di pundaknya. Ia berbalik. “Oh, iya, mas,” balasnya kemudian mendekati motornya. Uang sudah diberinya tadi. Tinggal ia membawa motornya ke kampus. Masih ada sisa satu jam sampai perkuliahan berjalan. Mungkin ia akan ke kosan temannya saja. Tak ada lagi tempat yang ingin ia kunjungi.
Selanjutnya


No comments:
Post a Comment