Tuesday, January 14, 2020

Mudahnya Bosan




Ini cerita soal perjalanan cinta temanku, Kharisma Ega Julianza. Untuk seorang teman, ia adalah teman baruku di kampus. Dia orang Lampung asli. Tapi, entah kenapa tampilannya lebih mirip seperti orang Jawa. Bahkan, kami sering menyebutnya “Lampung kemasan Jawa”.


Cerita ini kudapat ketika aku mengikuti pendidikan dan pelatihan Bidik Misi (Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Miskin). Selesai jam makan siang, entah bagaimana awalnya, kami yang bosan mendengar pemateri wanita di depan sana mulai mendengar ceritanya. Entah bagaimana mulainya, yang jelas, ia menceritakannya dengan penuh ekspresi dan semangat ’45. Meskipun Puguh –salah satu sahabatnya, juga teman baruku di program studi Seni pertunjukkan—berulang kali mengganggunya, tapi ia tetap melanjutkan ceritanya seolah tengah menikmati hidangan yang tak akan pernah berkurang kelezatannya meski berkali-kali dilahap. Dan dari ceritanya itulah, aku bisa menangkap betapa lucunya cerita cinta yang dialaminya. Padahal, bila kisah itu diceritakan di sebuah novel-novel atau film-film FTV pasti akan jauh menyedihkan. Tapi, paling tidak, karena ceritanya aku tak habis dimakan oleh kebosanan waktu itu.

***


Hujan baru saja berlalu. Namun, mendung tak jua pergi. Menyembunyikan matahari di balik abu-abu warnanya. Menyisipkan sedikit sinar demi memberi tahu pada makhluk hidup di bawahnya, bahwa hari itu masih siang.

Pelataran sekolah dasar itu masih ramai. Terlebih setelah waktu istirahat terpotong hujan tadi. Beberapa bocah yang tadi berteduh dan hampir kebosanan akhirnya berlari melahap habis halaman itu. Berceloteh sana-sini. Berbagai permainan seperti lompat tali, bermain kelereng, kejar-kejaran dan semacamnya semua dilakukan sudah. Perginya hujan, membuat semua terlihat gembira.

Tapi tidak dengan bocah satu itu. Sebut saja Ega. Ia sejak tadi hanya duduk dengan gusar di bawah pohon beringin di depan kelasnya. Menatap jauh ke arah kantin yang ada di sebelah kanan kelasnya itu. Ada rasa maju mundur dalam hatinya untuk pergi ke sana. Melihat seulas senyum dari bocah cantik yang kini tengah menikmati nasi uduk di salah satu bangku kantin bersama teman-temannya. Hatinya ketar-ketir, antara iya atau tidak ia akan menghampirinya.

Tangan kanannya terlihat meremas batang mawar yang sejak tadi ia bawa. Ia mengambilnya sewaktu hujan tadi. Di dekat pagar sekolahnya. Hingga ia harus berbasah kuyup sekarang. Meski badannya terlihat menggigil, tapi gemetarannya bukan karena ia kedinginan. Melainkan karena kegugupannya menghadapi bocah itu nanti.

Dengan segenap jiwa dan raga, kumpulkan semua semangat dan usir semua kegugupan dan keraguan, Ega pun melangkah pasti. Meski rasanya berat benar langkahnya bertambah, ia tetap memaksa. Hingga ia tiba di depan bocah itu, ia terdiam. Lantaran bocah cantik berambut ikal itu malah menatapnya heran dan cukup lama.

“Ma, Mawar...” ujar Ega gugup.

Mawar dan teman-temannya tentu saja terus menatapnya. Baju basah kuyup, dan bibirnya yang gemetaran, siapa yang tidak heran.

“I, ini buat kamu,” ujar Ega lagi memberikan setangkai mawar merah itu. Bocah kelas empat SD itu menerimanya. Tapi dalam hati, ia terus bertanya-tanya. Ia ingin berucap terima kasih, tapi entah kenapa pertanyaan, “Kenapa ngasih bunga?” membuatnya harus diam dan memilih menunggu kata-kata apalagi yang akan diucapkan Ega padanya.

“Ka, kamu mau enggak, jadi pacar aku?”

***

Hari ini hari senin. Jam kuliah baru dimulai sekitar jam satu siang nanti. Tapi Ega sudah kelihatan mondar-mandir di kampus. Bolak-balik tak jelas di depan gedung F, gedung kuliahnya nanti. Ia sendiri, tanpa kawan. Entah apa yang dilakukannya sejak tadi. Jam baru menunjukkan pukul sebelas. Tapi ia sudah sejak jam sembilan ada di sana.

Berkali-kali ia memainkan handphonenya. Berkali-kali pula ia melongok ke dalam kelas. Mungkin berharap seseorang akan keluar dari sana. Tapi toh? Nyatanya tak ada satu orang pun yang muncul.
Tapi, beberapa saat kemudian seseorang keluar juga. Dengan pakaian hitam putih, sama seperti dirinya –ciri khas mahasiswa baru—ia terlihat begitu tergopoh-gopoh keluar dari sana dan menghampiri Ega.

“Sorry ya, bro? Gua susah banget mau keluar,” ucapnya menepuk pundak Ega pelan.

“Gua dong yang minta maaf. Sorry, ya? Ngerepotin. Gua lagi butuh banget, nih,” balas Ega. Menerima uluran dari tangan Pandu. Beberapa lembar uang yang ia terima.

“Aih, elo, mah! Kaya orang lain aja,” jawab Pandu.

“Ok, thanks ya, bro?” ucap Ega. Kemudian pergi meninggalkan Pandu yang akhirnya masuk kembali ke kelas. Sedangkan Ega? Ia tetap terlihat tergesa-gesa berjalan ke arah halte. Tapi, ia tak bermaksud menaiki salah satu angkutan umum yang ada di sana. Ia malah terus berjalan hingga keluar dari gerbang utama kampusnya.

Sebuah bengkel yang ia datangi. Ia terlihat berbincang sesaat dengan seseorang. Sebuah motor bebek biru yang sepertinya jadi bahan pembicaraan. Sekilas, keduanya menunjuk-nunjuk motor itu. Begitu Ega memberikan uang yang didapatnya dari Pandu tadi, ia duduk di bangku tak jauh dari motor itu. Ternyata reparasinya belum selesai.

Bosan, Ega mengeluarkan headset dari saku almamaternya. Menyantolkannya ke kedua telinganya. Membiarkan beberapa lagi pop yang melow mengalir perlahan ke gendang telinganya. Sedang matanya asik menyapu pemandangan sekitarnya.

“Aku udah bosen sama kamu!” tak sengaja sebuah suara menyelip masuk di sela-sela musik di telinga Ega. Ia pun lantas menoleh ke sumber suara. Tepat di depan bengkel ini, ia melihat sebuah pertengkaran dari sepasang sejoli yang mungkin tengah mengikat sebuah hubungan. Namun, sepertinya hubungan keduanya kini tengah di ambang pintu kehancuran.

“Tapi enggak gitu juga dong caranya!” kata si cowok tak mau kalah. Keduanya saling teriak tanpa malu sedikit pun. Cowoknya mencoba menarik tangan kekasihnya. Tapi pacarnya itu malah menampiknya dan berlari pergi begitu saja. Setelahnya? Mereka pergi juga dari sana.

“Dia itu udah bosen sama kamu, Ga,” tiba-tiba sebuah kalimat terbesit di otak Ega. Ia tersenyum kecut. Begitu mudahnyakah seseorang membosani orang lain? Fikirnya.
Melihat motornya yang belum juga kelar, terpaksa Ega memilih keluar. Tak ada keributan seperti tadi, tentu saja ia tak akan keberatan  untuk ke luar. Ia tersenyum memandang jalan raya yang tak henti-hentinya menampung kendaraan dengan ukuran yang berbeda-beda di atasnya. Entahlah. Tapi senyumnya sepertinya bukan untuk pemandangan itu. Ada sesuatu yang mengusik fikirnya. Ada sesuatu dari masa lalu yang membuatnya harus tersenyum kecut. Bosan? Heh! Itu adalah sebuah kata yang benar-benar menjijikkan baginya.

“Maaf, kayaknya kita harus udahan, Ga,” Ega mulai mengingat kenangan pahitnya yang lalu.

“Kenapa?” tanya Ega sedikit tak terima. Hatinya mulai goyah setelah sebelumnya ia yakin bahwa ia bukanlah pelampiasan Bunga setelah putus dari seniornya, seperti yang dikatakan teman-teman sekelasnya.

“Karena aku ngerasa kita udah enggak cocok aja,” balas Bunga.
Ega geram. Ia mengepalkan tangannya dan hampir saja memukulkannya ke tembok di belakangnya. Tapi ia berhasil menahannya. Ia memilih mendengus kesal dan berdiri dari duduknya. “Bener cuma karena enggak cocok?” tanya Ega mulai naik emosinya.

“Maksud kamu?” Bunga malah balik bertanya. Ia sempat memandang Ega entah dengan ekspresi heran atau takut karena ketahuan. Benar-benar sulit dibedakan.

“Kamu jadian sama aku bukan karena kamu benaran suka sama aku, kan?” akhirnya lolos juga pertanyaan itu dari bibir Ega.

“Maksud kamu apa, sih?” Bunga ikut berdiri. Ia mencoba menantang Ega dengan menatap ke wajahnya. Ega masih enggan membalasnya. Ia memilih menatap jauh ke depan. Meski terlihat benar merah matanya menunjukkan kemarahannya yang luar biasa.

“Aku ini cuma kamu jadiin pelampiasan, kan?” tanya Ega lagi. Wajah Bunga berubah derastis. Mungkin ekpresi itu adalah ekspresi orang-orang yang baru saja ketahuan melakukan kesalahan.
Ega menoleh ke kiri. Menyaksikan ekspresi kebohongan yang terungkap sudah di wajah Bunga. Ia benar-benar tak percaya. Semua gosip yang dikatakan teman-temannya itu benar. Ia tak percaya bahwa Bunga yang ia cintai segenap hati, ia pedulikan dan sayang dengan teramat sangat ternyata hanya menjadikannya sebagai pelampiasannya. “Jadi bener?” tanya Ega lagi meyakinkan.

Tak ada jawaban dari Bunga. Hanya diam, sedang tatapanya hanya gugup memandangi lantai. Ega meraup wajahnya. Sia-sia rasanya ia menyukainya selama ini. Sia-sia rasanya perjuangannya untuk peduli dan meluangkan semua waktunya untuk gadis ini.

“Aku enggak nyangka kamu setega ini! Aku pikir, kamu cewek yang pantes aku cintai. Tapi nyatanya? Nol besar!” sentak Ega terakhir kali dan memilih pergi meninggalkan gadis ini.

“Udah selesai motornya, Mas.” Tiba-tiba Ega merasakan tepukan di pundaknya. Ia berbalik. “Oh, iya, mas,” balasnya kemudian mendekati motornya. Uang sudah diberinya tadi. Tinggal ia membawa motornya ke kampus. Masih ada sisa satu jam sampai perkuliahan berjalan. Mungkin ia akan ke kosan temannya saja. Tak ada lagi tempat yang ingin ia kunjungi.

Selanjutnya

No comments:

Post a Comment