Kantor
kepolisian Gangnam Gu gaduh hanya karena satu orang. Pagi-pagi benar, masih
belum banyak polisi dan detektif yang berkumpul. Langkahnya yang tergesa dan
mulutnya yang berteriak-teriak memanggili atasannya membisingi telinga-telinga
yang sudah ada di sana.
“Nuguyo?!”
tanyanya tepat di wajah Soo Jin. Ya, si polisi berisik ini adalah Baek Ji. Yang
datang entah darimana. Dengan baju yang ala kadarnya terpasang di tubuhnya yang
yang lebih pendek dari Soo Jin itu. “Woo Hyun hyung? Benarkah pria serba hitam
itu Woo Hyun hyung?” tanyanya berulang-ulang. Soo Jin hanya bisa mencibirkan
bibirnya. Kesal karena mulut bocah ini tetap tak bisa diam, dibekapnya dengan
file-file yang ada di tangannya.
Beralih
dari berisiknya Do Baek Ji, Won Geun dihadapkan dengan Jo Woo Hyun yang hanya
diam di ruang interogasi. Matanya sayu, dengan pandangan asal ke meja atau
lantai di bawahnya. Won Geun belum memulai interogasinya. Ia melirik ke arah
kamera di atasnya. Yang di ruang monitor jelas bisa langsung dilihat oleh Woo
Young di sana. Enak tak enak, ia harus melakukannya, kan? Woo Young sendiri
sudah membawa Woo Hyun kemari. Tak ada alasan kuat untuk tidak mulai interogasi
ini.
“Aku
akan bertindak sebagai seorang polisi sekarang. Jadi, aku akan menggunakan
bahasa formal denganmu,” ijinnya. Woo Hyun kelihatan tak peduli. Seolah ia tak
menganggap keberadaan Won Geun dengan kertas-kertas dan pena di tangannya yang
duduk dengan banyaknya desahan dari mulutnya itu.
“Jadi…
Jo Woo Hyun~ssi. Apakah Anda mengenal wanita yang bernama Min Soo Min?” ia
memulainya.
“Ne,”
hanya itu jawaban yang ia dapat.
“Apa
benar orang dalam video yang sudah Anda lihat adalah Anda?”
“Ne.”
“Jadi…
apa Anda mengakui kalau Anda yang menaruh mayatnya di dalam toilet tempat
audisi itu?”
“Ne.”
“Apa
Anda yang membunuh Min Soo Min?”
“Aniyo.”
“Lalu
siapa?”
Diam.
Bibir Woo Hyun tak terbuka, setelah menjawab serba datar pertanyaan-pertanyaan
Won Geun tadi. Ia mengambil haknya untuk tetap diam. Maka Won Geun mencari
pertanyaan lain.
“Setelah
menaruh mayatnya di toilet, apa Anda yang menculik Oh Chae Rim dan membawanya
pergi dari sana?”
“Ne.”
“Dan
Anda juga yang menaruh mayatnya di klub malam itu?”
“Ne.”
“Apakah
Anda yang membunuh Oh Chae Rim?”
“Aniyo.”
“Lalu
siapa?”
Lagi.
Woo Hyun diam lagi. Won Geun sedikit frustasi. Woo Hyun benar-benar melindungi
orang yang bekerja di balik layar ini. Nasib baiknya ia tak mengakui pembunuhan
itu sebagai perbuatannya.
“Lalu,
wanita yang bernama Song Hani. Anda juga yang mengajaknya pergi dari klub malam
itu?”
“Ne.”
“Kemana
Anda membawanya?”
Tak
ada jawaban. “Anda yang menaruhnya di dalam bagasi mobil dan menelpon jasa
pengantar barang untuk membawa mobil itu pergi ke jembatan Seogang?” Won Geun
mengganti pertanyaannya.
“Ne.”
“Anda
juga yang menaruh ponsel Song Hani di rumahnya sendiri?”
“Ne.”
“Apa
Anda yang membunuh Song Hani?”
“Aniyo.”
“Lalu
siapa yang membunuhnya?” harapan Won Geun agar Woo Hyun kali ini menjawabnya
pupus sudah. Woo Hyun sesenti pun tak bernafsu menjawab pertanyaan yang sama
ini. Siapa? Siapa pembunuhnya? Won Geun geram sendiri, mengharap nama Kim Tae
Soo keluar dari mulut itu.
“Kenapa
kau memarkir mobil itu di depan galeri Kim Tae Soo?” masih tak ada jawaban.
“Siapa yang menyuruhmu memarkirnya di sana?” tetap tak ada jawaban. “Kim Tae
Soo?” apalagi ini. Diam, diam dan diam. Woo Hyun senang sekali untuk diam saja
di tempatnya. “Mobil itu, mobil itu milik Kim Tae Soo. Kim Tae Soo sendiri yang
mengatakannya. Jadi, dia kan yang menyuruhmu menaruh mobil itu di sana? Iya,
kan?” Won Geun hampir kehilangan kesabarannya. Nyaris ia berteriak. Tapi segera
ia menguasai dirinya sendiri. Diraupnya wajahnya sendiri. Menenangkan dirinya.
Sesi formalnya selesai.
“Woo
Hyun~a…” dipanggilnya lirih pria yang sudah terlanjur ia anggap seperti adik
kandungnya sendiri ini. “Tak ada gunanya menutupi kejahatan orang lain. Kalau
kau memang bukan pembunuh wanita-wanita itu, maka hukumanmu akan lebih ringan.
Yang harus kau lakukan hanya mengatakan siapa pelakunya. Dan semuanya selesai.
Untuk apa kau menutupi orang yang sudah dengan kejinya membunuh wanita-wanita
tak bersalah itu, hah?” tanya lemah. Masih tak ada tanggapan dari Woo Hyun. Ia
lebih mirip seperti manekin yang hanya bisa bicara ne, aniyo¸ dan
sisanya… diam.
“Kau
tetap tidak akan bicara?” pertanyaan terakhir, dan respon dari Woo Hyun tetap
sama. Tak ada yang bisa diharapkan darinya. Terpaksa, Won Geun harus menahannya
di dalam sel. Membiarkan Woo Young di ruang interogasi menangis dalam diamnya
sendiri. Menyesali ketidakpekaannya terhadap kelakuan adiknya selama ini.
***
Hampir
separuh jalan Han Ki Jae meyusuri lorong menuju rumahnya. Dia sendiri
sebenarnya belum boleh pulang oleh dokter. Merepotkan pihak kepolisian lebih
dari ini bukanlah gayanya. Yang dia butuhkan adalah penyelidikan terhadap Kim
Tae Soo agar bisa menyelamatkan Han Hyo Kyung.
Sejak
turun dari bis tadi, ia merasa ada derap kaki lain di belakangnya. Ini siang
bolong. Tak aneh jika pun ada orang lain yang berjalan di sekitarnya. Hanya
saja, ia merasa langkah kaki ini mengimbangi tiap langkahnya. Ia berhenti,
langkah itu berhenti. Ia diam, langkah itu ikut diam.
Bodohnya, Ki Jae tak
berani menoleh. Ia masih ingin memastikan, benarkah orang ini mengikutinya?
Dipercepat
langkahnya, bermaksud menemukan kumpulan manusia yang lebih banyak. Tapi degup
jantungnya mengalahkannya. Ia laki-laki. Seharusnya dia tak kabur, tapi
memastikan dulu siapa orang ini. Sekali sentak, dia berbalik dan menemui sosok
wanita yang melonjak saking kagetnya. Hanya berjarak lima langkah di belakang
Ki Jae.
“Kenapa
mengikutiku?” sentak Ki Jae merasa menang. Hanya wanita tua. Kalaupun ia harus
berkelahi, kemungkinannya untuk menang lebih besar. Lain cerita kalau wanita
ini sudah menyandang sabuk hitam.
“Anda…
mengenalku?” suara Ki Jae memelan. Wajah wanita ini terlalu memperhatikan untuk
dihardik. Wanita ini… dia wanita yang memerhatikannya di rumah sakit waktu itu.
Seolah dia tak dengar pertanyaan Ki Jae. Yang dilakukannya malah mematung.
Menatap nanar bocah itu. Membuat Ki Jae berpikir bahwa wanita ini pasti orang
gila. Menambah satu langkah menjauh.
“Dasar
wanita aneh…” desisnya.
“Ki
Jae~ya…” lamat-lamat, suaranya terdengar. Cukup untuk membuat hati Ki Jae
berdesir. Ki Jae tak mengenal wanita ini, tapi panggilan seperti itu seolah tak
terlalu asing untuknya. Aneh. Tak hanya orang ini yang memanggilnya seperti
itu. Tapi… entahlah. Dia yang berucap, dengan suara lirih seperti itu, terlalu
familiar, dan… hangat.
“Nugu…
nuguseyo?” tanya Ki Jae. Tiba-tiba tangan wanita itu terulur. Dan bodohnya, Ki
Jae hanya membeku. Seolah ia sendiri menginginkannya. Hey! Dia belum mengenal
wanita ini bukan? Tapi, toh. Sebanyak apapun dipikir tidak mustahilnya,
nyatanya kedua tangan itu berhasil meraih tubuh Ki Jae yang lebih tinggi
darinya. Mendekapnya dengan sangat erat dan membuat Ki Jae diam membisu. Isak
wanita ini pun mengundang air mata Ki Jae untuk keluar.
“Nuguseyo?”
ulang Ki Jae lebih lirih. Wanita ini diam sebentar. Menyelasikan isaknya
barulah menjawab dengan suara yang tak kalah lirih dari pertanyaan Ki Jae
barusan.
“Ki
Jae~ya… ini eomma…” deg! Jawaban ini menghentikan denyut jantung Ki Jae.
Sesaat Ki Jae mencoba mencerna kalimat itu. Memasukkannya dalam-dalam ke
otaknya. Eomma? Hatinya kemelut. Ada senang, pula tak percaya. Bagaimana
bisa dia dengan mudahnya percaya pada wanita yang baru saja mengikutinya sejak
tadi ini adalah ibunya. Serta-merta dilepasnya pelukan itu. Diperhatikannya
betul-betul bagaimana gurat-gurat keriput dan lesu yang ada di wajah itu.
Sepenuhnya Ki Jae sendiri lupa bagaimana bentuk wajah ibunya sendiri. Tapi
kenapa wajah ini
nampak tak asing.
“Tidak
mungkin…” lirihnya menggeleng pelan. Linangan itu mengiris-iris hatinya.
Otaknya masih tak percaya. Tapi hatinya menginginkan jawabannya adalah benar.
“Ki
Jae~ya… ini eomma. Maaf… eomma baru bisa datang sekarang.” Gelengan kepala Ki
Jae makin cepat. Otaknya memaksa imajinya kembali ke masa lalu yang telah
usang. Bayang-bayang yang tak pernah menyapa kesehariannya kembali. Adalah saat
ibunya memanggilnya setelah bermain di luar. Adalah saat ibunya mendengar celotehnya.
Adalah saat ibunya menangis melihatnya terluka. Adalah saat ibunya memeluknya.
Dan rasanya… wanita ini memanglah ibunya.
“Tidak!
Kau pasti bohong!” teriak Ki Jae keras. Air matanya makin deras. Dia ingin
senang, dan menyambut orang ini sebagai ibunya. Tapi dia tak bisa. Entahlah.
Dia hanya benci. Benci saat ingat Hyo Kyung malam itu pulang tanpa ibunya.
Malah bersama anjing mati sebagai kado ulang tahunnya. Dia benci itu. Dan ia
tambah benci mengetahui kenyataan orang yang membuat dirinya dan kakaknya
menderita selama ini ada di sini. “Aku tidak punya eomma! Eommaku sudah mati!
Kau… kau bukan eommaku!”
“Ki
Jae~ya…”
“Jangan
mendekat!” sentak Ki Jae, menghalau tangan wanita ini yang bermaksud meraihnya
kembali. “Jangan mendekat…” perlahan, volume suaranya turun. Dadanya sungguh
sesak. Kepalanya kembali berdenyut. Ia tak suka ini. “Aku… aku tidak punya
eomma! Kau… jangan mengikutiku lagi!” sentaknya lagi sebelum pergi. Dia tak
ingin tersungkur di hadapan wanita ini. Tidak ingin terlihat lemah dan mendapat
belas kasihannya. Rasa bencinya mengoyak batinnya. Bodoh! Bodoh! Ia
mengumpati dirinya sendiri. Bukankah kau merindukannya? Kenapa kau lari?!
Racaunya berulang-ulang. Tapi tetap saja, kakinya terus berlari. Meninggalkan
jauh ibunya yang sudah tersungkur, menyangga tubuhnya dengan kedua lututnya
yang melemas, dan memeras lebih banyak isak dan air mata.
***
Bruk! Satu mayat lagi, dan penghitungan goresan bagi Kim
Tae Soo berakhir. Wajah pucat dan puasnya menyisakan kengerikan yang menusuk
ulu hati. Hyo Kyung menyaksikannya. Setiap wanita yang dia bantu untuk
cantik itu makin hari makin keji. Dan sesuai janjinya, dia sudah
menggenapinya sebanyak 98 orang. Bukankah ini waktunya untuk goresan terakhir?
Dia
berjalan. Melangkahi wanita yang ia biarkan tergeletak, tanpa busana bersama
satu wanita yang lain. Sama-sama tanpa nyawa. Sama-sama hancur wajahnya. Dia
mendekati wanitanya sendiri. Sang goresan terakhir yang sudah disesapi jutaan
rasa gagap, kalut, dan ketakutan luar biasa.
“Aku
lelah…” desah Tae Soo. Direngkuhnya Hyo Kyung sekali sentak. Membuat punggung
Hyo Kyung terpaksa menyapa sofa di belakangnya. Membiarkan tubuh Tae Soo
menindihnya dengan nyaman. Meski setelahnya Tae Soo beringsut. Memojokkan tubuh
Hyo Kyung ke punggung sofa, dirinya sendiri menepi. Kepalanya ia tenggelamkan
di balik leher kanan Hyo Kyung. Menghirupnya pelan-pelan. Wangi apapun yang keluar dari tubuh itu sangat ia gilai.
“Aku lelah…” ulangnya. Suaranya bergetar di sana. Menggidikkan tubuh Hyo Kyung
sekali lagi. Sekilas, Hyo Kyung meliriknya. Wajah Tae Soo kelihatan damai
sekali. Tak pernah sekali pun ia temui ekspresi seperti itu di wajahnya. Apa
yang kira-kira dipikirkan Tae Soo?
“Ijinkan
aku tidur sebentar. Aku sudah tidak punya Woo Hyun lagi untuk membersihkan
wanita cantik di sana itu. Aku akan mencari orang nanti. Aku lelah… sungguh…
aku lelah… aku mengantuk, Hyo Kyung~a… aku…” hilang, suara Tae Soo terputus
begitu saja. Berganti dengan suara nafasnya yang terartur. Tidurkah?
“Oppa?”
lirih, Hyo Kyung ingin memastikan kesadaran Tae Soo. Ternyata memanglah benar.
Tae Soo sudah melayang ke alam mimpi. Hyo Kyung mencoba bergerak. Gagal. Lengan
Tae Soo menghalangi dadanya. Terpaksa, ia ikut tertidur di sana. Meski dirinya
sendiri masih terus memikirkannya. Wanita tadi, bukankah dia adalah goresan
ke-98? Selanjutnya… apakah dirinya?
***
Tuk…
tuk… tuk… suara spidol di tangan
Woo Hyun berulangkali membentur papan kaca di depannya. Sejak tadi yang ia buat
hanya titik-titik tanpa menyambungkan apapun. Ketiga bawahannya hanya diam.
Ikut merasakan suasana suram di sekitar mereka. Seharusnya kasus ini tidak
dilimpahkan ke mereka. Siapa yang bisa menyelidiki saudaranya sendiri?
Menangkapnya saja sudah seberat ini. Mereka tak bisa bayangkan bagaimana malam
itu Woo Young sanggup mengacungkan pistol ke arah Jo Woo Hyun.
“Hah…”
desah Woo Young. Rasanya ia tak bisa melanjutkan ini. Setidaknya, dia harus
menjernihkan pikirannya dulu. Karenanya spidol itu ia letakkan. “Aku akan
mencari udara segar dulu,” pamitnya tanpa menatap ketiga orang itu. Dan sepeninggalnya,
helaan nafas panjang keluar hampir berbarengan dari ketiganya.
Woo
Young sendiri bukan pergi mencari udara segar. Malah rasanya dadanya semakin
sesak. Yang ia datangi adalah sel tahanan. Menatap satu orang yang mengoyak
hatinya. Woo Hyun, yang menyandarkan kepalanya ke dinding. Posisi duduknya yang
dekat dengan jeruji memudahkan Woo Young mengamati bagaimana ekspresi wajah itu
benar-benar terlihat menyedihkan. Haruskah ia menyelesaikan kasus ini?
“Sunbaenim!”
petugas yang ada di sana menyapa kedatangan Woo Young. Senyum tipis yang ia
dapat. Petugas itu paham. Woo Young pasti ingin bertemu Woo Hyun. Petugas yang
satunya mendekat ke sel Woo Hyun. Membukakan pintu. Woo Hyun nampak tak
bernafsu mendengar titah untuk bangun. Terlebih saat melihat siapa orang yang
ingin bertemu dengannya. Lebih dari ekspresi tak bernafsu, wajah merasa
bersalah yang ada di sana. Walau senyum tipis Woo Young masih terlihat, tapi
itu lebih menyesakkan dada. Kalau boleh, Woo Hyun lebih memilih ekspresi benci
dari Woo Young yang ia dapatkan.
Mereka
masuk ke ruang interogasi. Tapi alasan Woo Young membawanya kemari bukan untuk
itu. Ia hanya ingin menemui adiknya. Di jam seperti ini, rasanya ia tak pernah
bisa bertemu Woo Hyun biasanya. Giliran sekarang bertemu, malah di tempat seperti
ini. Menyedihkan.
“Bagaimana
kabarmu?” tanya Woo Young lebih dulu. Sejak tadi keduanya hanya diam. Woo Young
terus saja menatapi Woo Hyun yang sedikit pun tak mau mengangkat kepalanya.
Baru, setelah mendengar pertanyaan ini, ia membalas tatapan itu. Senyuman Woo
Young belum tanggal. Dan itu makin mengiris hatinya. “Terdengar membosankan,
bukan?” decih Woo Young, bosan dengan pertanyaannya sendiri.
“Tidak
ada yang ingin kubicarakan denganmu, Hyung,” ujar Woo Hyun. Mungkin ia sendiri
mengakui, bahwa kebasa-basian ini membuatnya sungguh jemu. Jengah dan sesak
pula. Rasa bersalah dan sakit di dadanya tentu masih ada. Sebanyak apapun Woo
Young mencoba tersenyum, rasa sedih di sana tergurat jelas. Woo Young tak bisa
menipunya.
“Benarkah?”
getir benar rasanya pertanyaan singkat ini terdengar. Senyum Woo Young masih
ada. “Apa kau selalu tak punya sesuatu untuk dibicarakan denganku?”
“Maaf.
Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun padamu.”
“Woo
Hyun~a… aku kemari bukan sebagai polisi.” Mendengar pernyataan ini, Woo Hyun
mengangkat pandangannya. Lebih terlihat tertarik daripada sebelumnya. “Aku
kemari sebagai hyungmu. Apapun pembicaraan yang kau maksud itu, kurasa tak
perlu juga kau sampaikan sekarang.”
Woo
Hyun diam. Selintas dia berpikir sebentar sebelum akhirnya menanggapi kalimat
Woo Young cukup sarkas. “Kalaupun sekarang kau datang sebagai hyungku, rasanya
pembicaraan kita malah lebih sedikit daripada hubungan tersangka dan
polisinya.” Sekali lagi, senyum getir terukir di wajah Woo Young.
“Mianhae…
karena kita harus mengobrol lebih dekat di tempat seperti ini. Aku benar-benar
hyung yang tak pernah perhatian dengan dongsaengnya, kan?” cela Woo Young pada
dirinya sendiri.
“Bagaimana makananmu? Kau makan dengan baik, kan? Kau kan
tidak pernah pilih-pilih makanan.” Woo Hyun terus menatap Woo Young. Dalam hati
ia berucap, “Kau penuh kebasa-basian, Hyung.” Tapi sayangnya ia tak bosan.
Jujur, dia cukup senang. Sekian lama, Woo Young rasanya lebih perhatian
daripada sebelum-sebelumnya. Tapi, kenapa perhatian itu ia dapatkan di tempat
seperti ini?
“Aku
akan mengunjungimu setiap hari. Aku akan membawakanmu beberapa masakan yang
enak-enak. Kau ingat restaurant yang biasa kita kunjungi itu, kan? Aku akan
membawakanmu beberapa makanan dari sana. Kemudian…”
“Hyung!”
sentak Woo Hyun, menghentikan ocehan panjang Woo Young. Woo Young terpaksa
berhenti. Menunggu kata-kata apa yang akan diucapkan Woo Hyun. “Sungguh, aku
tidak punya apapun untuk dibicarakan denganmu.”
“Aku
tidak membutuhkannya.”
“Tidak.
Kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku memang salah karena menutupi kasus ini.
Tapi sedikit pun aku tidak menyesal. Karena aku ingin menyelamatkan seseorang.
Dan untuk dalang dari semua ini, maaf… tapi aku tidak bisa buka mulut,”
tambahnya. Ia berdiri. Merasa cukup dengan kunjungannya itu. Woo Young tak bisa
menghentikannya. Meski sebenarnya ia tak mau Woo Hyun pergi dari sana.
“Jangan
merasa bersalah karena sudah menangkapku. Itu memang tugasmu,” pesan Woo Hyun
sebelum kembali ke selnya. Sepeninggalnya, Woo Young diam. Karena aku ingin
menyelamatkan seseorang. Siapa yang ingin diselamatkan Woo Young? Dan siapa
orang yang sudah melibatkan adiknya dalam kasus gila ini? Akh! Rasanya kepala
dan dadanya hampir meledak!
***
Wajah
Tae Soo yang pertama kali menyapa pandangan Hyo Kyung. Senyuman malaikatnya
seperti biasa tertancap di sana dalam-dalam. Hyo Kyung sempat terkejut. Ia tak
pernah terbiasa meski hal itu sering dilakukan Tae Soo tiap saat, semenjak ia
tinggal bersama dengannya. Setelah mata Hyo Kyung terbuka, Tae Soo pasti akan
mengecup bibir Hyo Kyung lama. Dan atas perlakuannya itu, Hyo Kyung kadang
lupa, kalau Tae Soo adalah orang gila yang sudah membunuh puluhan wanita dan
dipertontonkan di depan matanya selama ini!
“Kau
harus bersiap-siap, kan?” tambah Tae Soo, selesai dengan bibir Hyo Kyung. Tanpa
penolakan, tanpa pertanyaan lebih lanjut, Hyo Kyung berdiri. Dengan tubuh tanpa
berbalut sehelai benang pun, ia berdiri di depan cermin, di depan Tae Soo pula.
Hyo Kyung mencoba terbiasa. Meski rasanya sungguh tak biasa. Apalagi melihat
pantulan wajah Tae Soo yang menatapnya dari ujung kaki sampai ujung rambut di
cermin. Jika saja ia tak beruntung, pagi ini, Tae Soo bisa saja menerkamnya
lagi karena tatapan semacam itu pada tubuhnya.
“Hyo
Kyung~a!” panggilnya. Hyo Kyung tak menyahut. Tae Soo pun tak butuh sahutannya.
“Kau… kau tidak lupa kan, kalau kau adalah goresanku yang selanjutnya setelah
wanita yang kemarin itu?” deg! Pertanyaan ini menghentikan denyut
jantung Hyo Kyung sesaat. Baru kemarin ia merasa Tae Soo bersikap lain dari
biasanya. Saat ia berucap lelah, rasanya Tae Soo memang seperti sangat lelah
dengan rutinitasnya dengan pisau, dan wanita-wanita yang ia sebut goresan.
Semuanya luruh! Tae Soo tak mungkin lelah bukan? Terlebih targetnya masih ada
satu. Dan itu ada di depan matanya sendiri sekarang.
“Tapi
kau ingat, kan? Aku berjanji padamu, kau tidak akan kubunuh dulu saat kau
hamil. Setidaknya, aku akan menunggu sampai perutmu sedikit membesar.” Oke!
Untuk yang satu ini, perasaan kalut memasuki tubuh Hyo Kyung. Kata-kata Tae Soo
soal hamil tadi, bukan seperti suatu yang belum terjadi. Malah
sebaliknya. Tae Soo mengatakan dengan jelas, bahwa Hyo Kyung hamil.
“Kau
hamil, Hyo. Kau tidak tahu, itu?” benar, kan? Hyo Kyung hamil! Han Hyo Kyung
hamil karena Kim Tae Soo.
Belum
habis keterkejutan Hyo Kyung soal berita dari Tae Soo, laki-laki itu beringsut.
Menyambut punggung Hyo Kyung dengan lembutnya. Selintas hidungnya yang bangir
itu mengitari leher kanan Hyo Kyung, dan ia berakhir di ubun-ubun Hyo Kyung.
Menghirup dalam-dalam aroma dari rambut itu. Sejurus kemudian kemeja putih yang
dikenakannya tanggal. Hyo Kyung bisa merasakan hangat tubuh Tae Soo menyapa
punggungnya. Dengan manja dan lembutnya, Tae Soo mendekap tubuh kurus Hyo
Kyung. Tangannya berhenti ke perut Hyo Kyung. Mengelus-elusnya sayang.
“Di
sini…” desisnya tepat di telinga kanan Hyo Kyug. “Ada anak kita,” tambahnya.
Sungguh! Rasanya Hyo Kyung ingin berteriak. Bukan karena perlakuan Tae Soo.
Tapi betapa ia tak pernah membayangkan akan hamil karena laki-laki ini. Jika saja
ia hamil dengan Kim Tae Soo yang ia kenal dulu, itu tidak masalah. Tapi,
sekarang? Apa yang harus ia lakukan?
“Tenang…
ini anakku. Bukan anak dari bajingan-bajingan yang menggaulimu dulu,” Tae Soo
tak letih-letihnya membuat bulu kuduk Hyo Kyung merinding. Lagi, Tae Soo
memainkan hidungnya ke sekitar tubuh Hyo Kyung yang putihnya malah sudah
memucat sekarang. Pelan, ia tuntun Hyo Kyung untuk menghadapnya. Dagunya
ditariknya, membuat Hyo Kyung menatap ke arahnya. Ia sedikit tersentak melihat
mata Hyo Kyung memerah. Dan… tes. Setetes cairan bening mengalir
melewati pipi kanannya.
“Sebegitu
bahagianya kau memiliki anak dariku?” terka Tae Soo, yang tentu saja salah
besar. Bagaimana mungkin Hyo Kyung bisa bahagia atas hal itu? “Hyo, kau harus
mengeceknya sendiri. Aku takut kau belum yakin. Tapi, kau pasti mengerti. Sudah
berapa lama kau bersamaku, dan kau tidak pernah datang bulan sampai sekarang,
kan? Kalau kau mau mengeceknya, sepertinya aku punya alatnya di laci meja itu.
Ambillah. Aku akan keluar sebentar.” Tae Soo mengambil kemejanya di lantai.
Membiarkan Hyo Kyung yang langsung ambruk begitu ia menutup pintu, keluar dari
sana.
***
Agak
tak masuk akal memang, di saat seperti ini Woo Young malah menyuruh ketiga
bawahannya untuk pulang. Pekerjaan mereka bukankah masih sangat banyak? Tapi
apa pula yang bisa dilakukan Won Geun? Melihat keadaan Woo Young pun, rasanya
penyelidikan belum bisa dilanjutkan. Ditunda sebentar pun mungkin tak ada
salahnya. Walaupun resiko korban akan ada lagi di waktu dekat ini.
Bus
berhenti di depannya. Menurunkan beberapa orang. Begitu orang-orang selesai
turun, giliran orang-orang yang bersamanya di halte tadi yang naik. Won Geun
memilih belakangan. Tak suka ia desak-desakan. Terlebih dengan penat dan letih
luar biasa. Sialnya, begitu ia naik tak ada bangku yang kosong. Jadilah dia
berdiri, menatap ke luar jendela dan mendapati lampu-lampu Gangnam Gu menghiasi
malam ini.
Baru
beberapa menit bus berjalan, ponsel Won Geun berdering. Seseorang menelponnya.
“Iya?” sambutnya. Ia diam sejenak. Ekspresinya berubah mendengar penjelasan
dari seberang. “Kau sudah menemukannya? Dimana?” tanyanya gesit. Tanpa
mematikan ponselnya, ia pindah ke depan. Meminta sopir untuk menurunkannya.
“Oke.
Aku akan ke sana!” jawabnya begitu turun dari bus. Ia berlari kembali ke halte.
Beralih ke bus biru. Buru-buru ia masuk. Ah! Ada satu kursi yang tersisa.
Sebenarnya dia bisa mencari taksi yang lebih cepat. Tapi entah kenapa ia malah
memilih bus.
“Oh,
jeoseonghamnida!” ujarnya, tak sengaja menyenggol pundak seseorang di
sampingnya. Orang ini tak menjawab. Ada apa? Rasanya orang ini aneh. Dengan
hati-hati ia perhatikan teman duduknya ini. Rambutnya panjang, berarti dia
wanita, kan? Dilihat dari postur tubuhnya pun seratus persen orang ini wanita.
Wajahnya tak jelas, karena topi yang dikenakannya menutupi sebagian wajahnya.
Terlebih dengan mantel yang dikenakannya. Sulit mengenali siapa ini. Tapi Won
Geun tertarik dengan ketidaknyamanan wanita ini. Sebaik apapun wanita ini
mencoba menutupinya, kelihatan benar tangannya gemetaran. Ada sesuatu yang
disembunyikannya di balik mantelnya. Semua penampilan ini menambah kecurigaan
Won Geun. Siapa wanita ini?
Halte
per halte, bus berhenti. Wanita ini belum bergeming. Satu gerakan pun tak
dilakukannya, kecuali tubuhnya yang makin terasa bergetar. Won Geun hampir lupa
dengan janjinya dengan si penelpon tadi. Wanita ini menyita perhatiannya.
“Maaf, apa Anda baik-baik saja?” tanyanya mencoba sopan. Wanita ini bukannya
menjawab malah berdiri. Buru-buru ia menjauh dari bangku itu. Memilih berdiri
di dekat pintu. Won Geun makin tertarik jelas. Tapi tak serta merta ia
mendekatinya. Dibiarkannya dulu sampai ia tahu kemana wanita ini akan turun.
Sampai
di Songpa Gu, wanita ini turun. Won Geun sengaja tak turun bersama dengannya.
Ia tunggu sampai busnya sedikit jauh, baru ia buru-buru meminta sopir untuk
berhenti dan menurunkannya. Wanita tadi belum jauh, ia masih bisa mengikutinya,
plus menghilangkan pikiran si wanita kalau ia mengikutinya.
Dia
melewati gang-gang kecil. Sepertinya Won Geun pernah kemari. Kalau tak salah,
jalan ini menuju rumah seseorang. Tapi siapa, Won Geun tak bisa mengingatnya.
Temannyakah?
Beberapa
blok dan setelah melewati sebuah toko tutup, mereka sampai di sebuah rumah
sederhana. Wanita itu masuk. Tunggu! Kalau dilihat lagi, bukankah ini rumah Han
Hyo Kyung? Dia tahu karena dia pernah kemari untuk menyelidiki latar belakang
Han Hyo Kyung. Tunggu! Itu tadi wanita, kan? Apa jangan-jangan itu Han Hyo
Kyung?
Brak! Tiba-tiba suara benda jatuh terdengar dari dalam. Won
Geun segera sigap. Oh, tidak! Pintunya terkunci. Apa yang harus dilakukannya?
Setidaknya ia harus tahu dulu apa yang terjadi di dalam. Ditempelkannya
telinganya ke daun pintu. Berharap mendengar sesuatu dari dalam. Belum sempat
ia mendengar apapun, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk. Dari Soo Jin.
“Wae?!” sentaknya sebal begitu mengangkatnya.
“Hyung,
eoddiyo?” pertanyaan yang dirasa Won Geun tak terlalu penting.
“Katakan
apa kepentinganmu! Aku sedang tak dalam situasi untuk kau tanyai!” sentaknya
lebih keras.
“Hyung,
seorang office boy menemukan tiga mayat wanita di apartement Tae
Soo. Tapi Kim Tae Soo tak ada di sini!” mendengar penjelasan ini Won Geun
mendelik. Tanpa basa-basi, dimatikannya panggilan itu. Sebaliknya, ia beralih
ke pintu itu.
“Han
Ki Jae! Ki Jae~ya! Kau ada di dalam? Han Hyo Kyung~ssi! Tolong buka pintunya!”
teriaknya sambil menggedor-gedor pintu itu. Tak ada respon.
Sementara
Won Geun berusaha membuka pintu itu, di dalam nafas Ki Jae tercekat di
tenggorokan.
Pasalnya sebuah pisau dapur diarahkan tepat ke lehernya. Sekali
sentak, pisau itu akan melukai lehernya. Seharusnya ia bisa melawan. Tapi ia
tak kuasa karena melihat orang yang menodongkan pisau padanya ini adalah orang
yang sangat ia kenal. Han Hyo Kyung! Kakaknya sendiri menodongkan pisau ke
arahnya.
“Nu….
Nuna…” lirihnya. Hyo Kyung tak meresponnya. Air matanyalah yang menjawab betapa
ia sangat berat mengacungkan pisau itu. Tangannya bergetar hebat, tapi ia
lantang menjadikan Ki Jae sebagai sasaran mata pisaunya. Isak tangisnya bahkan
terdengar terlalu keras dan menyedihkan.
“A,
apa yan kau lakukan, Nuna?” tanya Ki Jae tak mengerti.
“Ki
Jae~ya…” barulah Hyo Kyung kini meresponnya. “Ayo kita mati bersama!” ajakannya
jelas tak bisa diterima akal Ki Jae. Terlihat jelas dari matanya yang membulat
besar.
“Apa
yang kau bicarakan, hah?”
“Lebih
baik seperti ini. Ayo… Nuna janji tidak akan sesakit itu,” ujar Hyo Kyung lagi.
“Aniya!
Apa yang kau lakukan? Micheoseo?!” sentak Ki Jae. Bodohnya ia benar-benar tak
mampu menghalau pisau itu dari hadapannya. Akal sehatnya masih tak bisa
menerima kalau orang yang mengajaknya mati ini adalah kakak kandungnya sendiri.
“Nuna
tidak tahan lagi. Nuna tidak mau mati di tangan lelaki itu.”
“Nuguya?
Kim Tae Soo? Bajingan itu yang menyuruhmu membunuhku?!”
“Ki
Jae~ya… Nuna mianhae…”
“Andwae!”
kepala Ki Jae menggeleng hebat. “Jangan, Nuna! Kau jangan gila! Kenapa kau
mendengarkan bajingan itu?!” teriaknya. Won Geun makin hebat usahanya mendobrak
pintu itu. Suara dobrakan dan teriakannya akhirnya membuat Hyo Kyung sadar,
bahwa Won Geun sudah mengikutinya sampai di sini.
“Kenapa
kau berhenti?” tiba-tiba ada suara lain dari ruangan itu. Hyo Kyung dan Ki Jae
sama-sama menoleh ke arah yang sama. Tepatnya di anak tangga ketiga menuju
kamar Hyo Kyung. Ada siluet seseorang yang pelan-pelan turun. Suara sepatunya
membuat Hyo Kyung merinding. Sepertinya ia kenal orang ini. Dan benarlah. Saat
cahaya mengenai wajahnya, itu adalah Kim Tae Soo!
“Ayo
lanjutkan, Hyo!” pintanya, lengkap dengan senyumannya. Sebuah kertas gambar dan
pensil sudah ada di tangannya. Apa yang akan dilakukannya? Menggambar proses
kematian yang akan diciptakan Hyo Kyung sekarang?
“Cepatlah!”
pintanya lagi. Ia beralih, duduk di atas meja di sana. Tangannya siap
menggambar objek apa yang akan terjadi di depannya.
“Aku
tidak sabar menggambar goresan terakhirku membunuh adiknya sendiri sebelum
mengakhiri hidupnya juga.”
Sebelumnya Selanjutnya
No comments:
Post a Comment