Tuesday, January 14, 2020

Goresan Terakhir


Kantor kepolisian Gangnam Gu gaduh hanya karena satu orang. Pagi-pagi benar, masih belum banyak polisi dan detektif yang berkumpul. Langkahnya yang tergesa dan mulutnya yang berteriak-teriak memanggili atasannya membisingi telinga-telinga yang sudah ada di sana.


“Nuguyo?!” tanyanya tepat di wajah Soo Jin. Ya, si polisi berisik ini adalah Baek Ji. Yang datang entah darimana. Dengan baju yang ala kadarnya terpasang di tubuhnya yang yang lebih pendek dari Soo Jin itu. “Woo Hyun hyung? Benarkah pria serba hitam itu Woo Hyun hyung?” tanyanya berulang-ulang. Soo Jin hanya bisa mencibirkan bibirnya. Kesal karena mulut bocah ini tetap tak bisa diam, dibekapnya dengan file-file yang ada di tangannya.

Beralih dari berisiknya Do Baek Ji, Won Geun dihadapkan dengan Jo Woo Hyun yang hanya diam di ruang interogasi. Matanya sayu, dengan pandangan asal ke meja atau lantai di bawahnya. Won Geun belum memulai interogasinya. Ia melirik ke arah kamera di atasnya. Yang di ruang monitor jelas bisa langsung dilihat oleh Woo Young di sana. Enak tak enak, ia harus melakukannya, kan? Woo Young sendiri sudah membawa Woo Hyun kemari. Tak ada alasan kuat untuk tidak mulai interogasi ini.

“Aku akan bertindak sebagai seorang polisi sekarang. Jadi, aku akan menggunakan bahasa formal denganmu,” ijinnya. Woo Hyun kelihatan tak peduli. Seolah ia tak menganggap keberadaan Won Geun dengan kertas-kertas dan pena di tangannya yang duduk dengan banyaknya desahan dari mulutnya itu.

“Jadi… Jo Woo Hyun~ssi. Apakah Anda mengenal wanita yang bernama Min Soo Min?” ia memulainya.

“Ne,” hanya itu jawaban yang ia dapat.

“Apa benar orang dalam video yang sudah Anda lihat adalah Anda?”

“Ne.”

“Jadi… apa Anda mengakui kalau Anda yang menaruh mayatnya di dalam toilet tempat audisi itu?”

“Ne.”

“Apa Anda yang membunuh Min Soo Min?”

“Aniyo.”

“Lalu siapa?”

Diam. Bibir Woo Hyun tak terbuka, setelah menjawab serba datar pertanyaan-pertanyaan Won Geun tadi. Ia mengambil haknya untuk tetap diam. Maka Won Geun mencari pertanyaan lain.

“Setelah menaruh mayatnya di toilet, apa Anda yang menculik Oh Chae Rim dan membawanya pergi dari sana?”

“Ne.”

“Dan Anda juga yang menaruh mayatnya di klub malam itu?”

“Ne.”

“Apakah Anda yang membunuh Oh Chae Rim?”

“Aniyo.”

“Lalu siapa?”

Lagi. Woo Hyun diam lagi. Won Geun sedikit frustasi. Woo Hyun benar-benar melindungi orang yang bekerja di balik layar ini. Nasib baiknya ia tak mengakui pembunuhan itu sebagai perbuatannya.

“Lalu, wanita yang bernama Song Hani. Anda juga yang mengajaknya pergi dari klub malam itu?”

“Ne.”

“Kemana Anda membawanya?”

Tak ada jawaban. “Anda yang menaruhnya di dalam bagasi mobil dan menelpon jasa pengantar barang untuk membawa mobil itu pergi ke jembatan Seogang?” Won Geun mengganti pertanyaannya.

“Ne.”

“Anda juga yang menaruh ponsel Song Hani di rumahnya sendiri?”

“Ne.”

“Apa Anda yang membunuh Song Hani?”

“Aniyo.”

“Lalu siapa yang membunuhnya?” harapan Won Geun agar Woo Hyun kali ini menjawabnya pupus sudah. Woo Hyun sesenti pun tak bernafsu menjawab pertanyaan yang sama ini. Siapa? Siapa pembunuhnya? Won Geun geram sendiri, mengharap nama Kim Tae Soo keluar dari mulut itu.

“Kenapa kau memarkir mobil itu di depan galeri Kim Tae Soo?” masih tak ada jawaban. “Siapa yang menyuruhmu memarkirnya di sana?” tetap tak ada jawaban. “Kim Tae Soo?” apalagi ini. Diam, diam dan diam. Woo Hyun senang sekali untuk diam saja di tempatnya. “Mobil itu, mobil itu milik Kim Tae Soo. Kim Tae Soo sendiri yang mengatakannya. Jadi, dia kan yang menyuruhmu menaruh mobil itu di sana? Iya, kan?” Won Geun hampir kehilangan kesabarannya. Nyaris ia berteriak. Tapi segera ia menguasai dirinya sendiri. Diraupnya wajahnya sendiri. Menenangkan dirinya. Sesi formalnya selesai.

“Woo Hyun~a…” dipanggilnya lirih pria yang sudah terlanjur ia anggap seperti adik kandungnya sendiri ini. “Tak ada gunanya menutupi kejahatan orang lain. Kalau kau memang bukan pembunuh wanita-wanita itu, maka hukumanmu akan lebih ringan. Yang harus kau lakukan hanya mengatakan siapa pelakunya. Dan semuanya selesai. Untuk apa kau menutupi orang yang sudah dengan kejinya membunuh wanita-wanita tak bersalah itu, hah?” tanya lemah. Masih tak ada tanggapan dari Woo Hyun. Ia lebih mirip seperti manekin yang hanya bisa bicara ne, aniyo¸ dan sisanya… diam.

“Kau tetap tidak akan bicara?” pertanyaan terakhir, dan respon dari Woo Hyun tetap sama. Tak ada yang bisa diharapkan darinya. Terpaksa, Won Geun harus menahannya di dalam sel. Membiarkan Woo Young di ruang interogasi menangis dalam diamnya sendiri. Menyesali ketidakpekaannya terhadap kelakuan adiknya selama ini.

***

Hampir separuh jalan Han Ki Jae meyusuri lorong menuju rumahnya. Dia sendiri sebenarnya belum boleh pulang oleh dokter. Merepotkan pihak kepolisian lebih dari ini bukanlah gayanya. Yang dia butuhkan adalah penyelidikan terhadap Kim Tae Soo agar bisa menyelamatkan Han Hyo Kyung.
Sejak turun dari bis tadi, ia merasa ada derap kaki lain di belakangnya. Ini siang bolong. Tak aneh jika pun ada orang lain yang berjalan di sekitarnya. Hanya saja, ia merasa langkah kaki ini mengimbangi tiap langkahnya. Ia berhenti, langkah itu berhenti. Ia diam, langkah itu ikut diam. 
Bodohnya, Ki Jae tak berani menoleh. Ia masih ingin memastikan, benarkah orang ini mengikutinya?
Dipercepat langkahnya, bermaksud menemukan kumpulan manusia yang lebih banyak. Tapi degup jantungnya mengalahkannya. Ia laki-laki. Seharusnya dia tak kabur, tapi memastikan dulu siapa orang ini. Sekali sentak, dia berbalik dan menemui sosok wanita yang melonjak saking kagetnya. Hanya berjarak lima langkah di belakang Ki Jae.

“Kenapa mengikutiku?” sentak Ki Jae merasa menang. Hanya wanita tua. Kalaupun ia harus berkelahi, kemungkinannya untuk menang lebih besar. Lain cerita kalau wanita ini sudah menyandang sabuk hitam.

“Anda… mengenalku?” suara Ki Jae memelan. Wajah wanita ini terlalu memperhatikan untuk dihardik. Wanita ini… dia wanita yang memerhatikannya di rumah sakit waktu itu. Seolah dia tak dengar pertanyaan Ki Jae. Yang dilakukannya malah mematung. Menatap nanar bocah itu. Membuat Ki Jae berpikir bahwa wanita ini pasti orang gila. Menambah satu langkah menjauh.

“Dasar wanita aneh…” desisnya.

“Ki Jae~ya…” lamat-lamat, suaranya terdengar. Cukup untuk membuat hati Ki Jae berdesir. Ki Jae tak mengenal wanita ini, tapi panggilan seperti itu seolah tak terlalu asing untuknya. Aneh. Tak hanya orang ini yang memanggilnya seperti itu. Tapi… entahlah. Dia yang berucap, dengan suara lirih seperti itu, terlalu familiar, dan… hangat.

“Nugu… nuguseyo?” tanya Ki Jae. Tiba-tiba tangan wanita itu terulur. Dan bodohnya, Ki Jae hanya membeku. Seolah ia sendiri menginginkannya. Hey! Dia belum mengenal wanita ini bukan? Tapi, toh. Sebanyak apapun dipikir tidak mustahilnya, nyatanya kedua tangan itu berhasil meraih tubuh Ki Jae yang lebih tinggi darinya. Mendekapnya dengan sangat erat dan membuat Ki Jae diam membisu. Isak wanita ini pun mengundang air mata Ki Jae untuk keluar.

“Nuguseyo?” ulang Ki Jae lebih lirih. Wanita ini diam sebentar. Menyelasikan isaknya barulah menjawab dengan suara yang tak kalah lirih dari pertanyaan Ki Jae barusan.

“Ki Jae~ya… ini eomma…” deg! Jawaban ini menghentikan denyut jantung Ki Jae. Sesaat Ki Jae mencoba mencerna kalimat itu. Memasukkannya dalam-dalam ke otaknya. Eomma? Hatinya kemelut. Ada senang, pula tak percaya. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya percaya pada wanita yang baru saja mengikutinya sejak tadi ini adalah ibunya. Serta-merta dilepasnya pelukan itu. Diperhatikannya betul-betul bagaimana gurat-gurat keriput dan lesu yang ada di wajah itu. Sepenuhnya Ki Jae sendiri lupa bagaimana bentuk wajah ibunya sendiri. Tapi kenapa wajah ini 
nampak tak asing.

“Tidak mungkin…” lirihnya menggeleng pelan. Linangan itu mengiris-iris hatinya. Otaknya masih tak percaya. Tapi hatinya menginginkan jawabannya adalah benar.

“Ki Jae~ya… ini eomma. Maaf… eomma baru bisa datang sekarang.” Gelengan kepala Ki Jae makin cepat. Otaknya memaksa imajinya kembali ke masa lalu yang telah usang. Bayang-bayang yang tak pernah menyapa kesehariannya kembali. Adalah saat ibunya memanggilnya setelah bermain di luar. Adalah saat ibunya mendengar celotehnya. Adalah saat ibunya menangis melihatnya terluka. Adalah saat ibunya memeluknya. Dan rasanya… wanita ini memanglah ibunya.

“Tidak! Kau pasti bohong!” teriak Ki Jae keras. Air matanya makin deras. Dia ingin senang, dan menyambut orang ini sebagai ibunya. Tapi dia tak bisa. Entahlah. Dia hanya benci. Benci saat ingat Hyo Kyung malam itu pulang tanpa ibunya. Malah bersama anjing mati sebagai kado ulang tahunnya. Dia benci itu. Dan ia tambah benci mengetahui kenyataan orang yang membuat dirinya dan kakaknya menderita selama ini ada di sini. “Aku tidak punya eomma! Eommaku sudah mati! Kau… kau bukan eommaku!”

“Ki Jae~ya…”

“Jangan mendekat!” sentak Ki Jae, menghalau tangan wanita ini yang bermaksud meraihnya kembali. “Jangan mendekat…” perlahan, volume suaranya turun. Dadanya sungguh sesak. Kepalanya kembali berdenyut. Ia tak suka ini. “Aku… aku tidak punya eomma! Kau… jangan mengikutiku lagi!” sentaknya lagi sebelum pergi. Dia tak ingin tersungkur di hadapan wanita ini. Tidak ingin terlihat lemah dan mendapat belas kasihannya. Rasa bencinya mengoyak batinnya. Bodoh! Bodoh! Ia mengumpati dirinya sendiri. Bukankah kau merindukannya? Kenapa kau lari?! Racaunya berulang-ulang. Tapi tetap saja, kakinya terus berlari. Meninggalkan jauh ibunya yang sudah tersungkur, menyangga tubuhnya dengan kedua lututnya yang melemas, dan memeras lebih banyak isak dan air mata.

***

Bruk! Satu mayat lagi, dan penghitungan goresan bagi Kim Tae Soo berakhir. Wajah pucat dan puasnya menyisakan kengerikan yang menusuk ulu hati. Hyo Kyung menyaksikannya. Setiap wanita yang dia bantu untuk cantik itu makin hari makin keji. Dan sesuai janjinya, dia sudah menggenapinya sebanyak 98 orang. Bukankah ini waktunya untuk goresan terakhir?

Dia berjalan. Melangkahi wanita yang ia biarkan tergeletak, tanpa busana bersama satu wanita yang lain. Sama-sama tanpa nyawa. Sama-sama hancur wajahnya. Dia mendekati wanitanya sendiri. Sang goresan terakhir yang sudah disesapi jutaan rasa gagap, kalut, dan ketakutan luar biasa.

“Aku lelah…” desah Tae Soo. Direngkuhnya Hyo Kyung sekali sentak. Membuat punggung Hyo Kyung terpaksa menyapa sofa di belakangnya. Membiarkan tubuh Tae Soo menindihnya dengan nyaman. Meski setelahnya Tae Soo beringsut. Memojokkan tubuh Hyo Kyung ke punggung sofa, dirinya sendiri menepi. Kepalanya ia tenggelamkan di balik leher kanan Hyo Kyung. Menghirupnya pelan-pelan. Wangi apapun  yang keluar dari tubuh itu sangat ia gilai. “Aku lelah…” ulangnya. Suaranya bergetar di sana. Menggidikkan tubuh Hyo Kyung sekali lagi. Sekilas, Hyo Kyung meliriknya. Wajah Tae Soo kelihatan damai sekali. Tak pernah sekali pun ia temui ekspresi seperti itu di wajahnya. Apa yang kira-kira dipikirkan Tae Soo?

“Ijinkan aku tidur sebentar. Aku sudah tidak punya Woo Hyun lagi untuk membersihkan wanita cantik di sana itu. Aku akan mencari orang nanti. Aku lelah… sungguh… aku lelah… aku mengantuk, Hyo Kyung~a… aku…” hilang, suara Tae Soo terputus begitu saja. Berganti dengan suara nafasnya yang terartur. Tidurkah?

“Oppa?” lirih, Hyo Kyung ingin memastikan kesadaran Tae Soo. Ternyata memanglah benar. Tae Soo sudah melayang ke alam mimpi. Hyo Kyung mencoba bergerak. Gagal. Lengan Tae Soo menghalangi dadanya. Terpaksa, ia ikut tertidur di sana. Meski dirinya sendiri masih terus memikirkannya. Wanita tadi, bukankah dia adalah goresan ke-98? Selanjutnya… apakah dirinya?

***

Tuk… tuk… tuk… suara spidol di tangan Woo Hyun berulangkali membentur papan kaca di depannya. Sejak tadi yang ia buat hanya titik-titik tanpa menyambungkan apapun. Ketiga bawahannya hanya diam. Ikut merasakan suasana suram di sekitar mereka. Seharusnya kasus ini tidak dilimpahkan ke mereka. Siapa yang bisa menyelidiki saudaranya sendiri? Menangkapnya saja sudah seberat ini. Mereka tak bisa bayangkan bagaimana malam itu Woo Young sanggup mengacungkan pistol ke arah Jo Woo Hyun.

“Hah…” desah Woo Young. Rasanya ia tak bisa melanjutkan ini. Setidaknya, dia harus menjernihkan pikirannya dulu. Karenanya spidol itu ia letakkan. “Aku akan mencari udara segar dulu,” pamitnya tanpa menatap ketiga orang itu. Dan sepeninggalnya, helaan nafas panjang keluar hampir berbarengan dari ketiganya.

Woo Young sendiri bukan pergi mencari udara segar. Malah rasanya dadanya semakin sesak. Yang ia datangi adalah sel tahanan. Menatap satu orang yang mengoyak hatinya. Woo Hyun, yang menyandarkan kepalanya ke dinding. Posisi duduknya yang dekat dengan jeruji memudahkan Woo Young mengamati bagaimana ekspresi wajah itu benar-benar terlihat menyedihkan. Haruskah ia menyelesaikan kasus ini?

“Sunbaenim!” petugas yang ada di sana menyapa kedatangan Woo Young. Senyum tipis yang ia dapat. Petugas itu paham. Woo Young pasti ingin bertemu Woo Hyun. Petugas yang satunya mendekat ke sel Woo Hyun. Membukakan pintu. Woo Hyun nampak tak bernafsu mendengar titah untuk bangun. Terlebih saat melihat siapa orang yang ingin bertemu dengannya. Lebih dari ekspresi tak bernafsu, wajah merasa bersalah yang ada di sana. Walau senyum tipis Woo Young masih terlihat, tapi itu lebih menyesakkan dada. Kalau boleh, Woo Hyun lebih memilih ekspresi benci dari Woo Young yang ia dapatkan.

Mereka masuk ke ruang interogasi. Tapi alasan Woo Young membawanya kemari bukan untuk itu. Ia hanya ingin menemui adiknya. Di jam seperti ini, rasanya ia tak pernah bisa bertemu Woo Hyun biasanya. Giliran sekarang bertemu, malah di tempat seperti ini. Menyedihkan.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Woo Young lebih dulu. Sejak tadi keduanya hanya diam. Woo Young terus saja menatapi Woo Hyun yang sedikit pun tak mau mengangkat kepalanya. Baru, setelah mendengar pertanyaan ini, ia membalas tatapan itu. Senyuman Woo Young belum tanggal. Dan itu makin mengiris hatinya. “Terdengar membosankan, bukan?” decih Woo Young, bosan dengan pertanyaannya sendiri.

“Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu, Hyung,” ujar Woo Hyun. Mungkin ia sendiri mengakui, bahwa kebasa-basian ini membuatnya sungguh jemu. Jengah dan sesak pula. Rasa bersalah dan sakit di dadanya tentu masih ada. Sebanyak apapun Woo Young mencoba tersenyum, rasa sedih di sana tergurat jelas. Woo Young tak bisa menipunya.

“Benarkah?” getir benar rasanya pertanyaan singkat ini terdengar. Senyum Woo Young masih ada. “Apa kau selalu tak punya sesuatu untuk dibicarakan denganku?”

“Maaf. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun padamu.”

“Woo Hyun~a… aku kemari bukan sebagai polisi.” Mendengar pernyataan ini, Woo Hyun mengangkat pandangannya. Lebih terlihat tertarik daripada sebelumnya. “Aku kemari sebagai hyungmu. Apapun pembicaraan yang kau maksud itu, kurasa tak perlu juga kau sampaikan sekarang.”

Woo Hyun diam. Selintas dia berpikir sebentar sebelum akhirnya menanggapi kalimat Woo Young cukup sarkas. “Kalaupun sekarang kau datang sebagai hyungku, rasanya pembicaraan kita malah lebih sedikit daripada hubungan tersangka dan polisinya.” Sekali lagi, senyum getir terukir di wajah Woo Young.

“Mianhae… karena kita harus mengobrol lebih dekat di tempat seperti ini. Aku benar-benar hyung yang tak pernah perhatian dengan dongsaengnya, kan?” cela Woo Young pada dirinya sendiri. 
“Bagaimana makananmu? Kau makan dengan baik, kan? Kau kan tidak pernah pilih-pilih makanan.” Woo Hyun terus menatap Woo Young. Dalam hati ia berucap, “Kau penuh kebasa-basian, Hyung.” Tapi sayangnya ia tak bosan. Jujur, dia cukup senang. Sekian lama, Woo Young rasanya lebih perhatian daripada sebelum-sebelumnya. Tapi, kenapa perhatian itu ia dapatkan di tempat seperti ini?

“Aku akan mengunjungimu setiap hari. Aku akan membawakanmu beberapa masakan yang enak-enak. Kau ingat restaurant yang biasa kita kunjungi itu, kan? Aku akan membawakanmu beberapa makanan dari sana. Kemudian…”

“Hyung!” sentak Woo Hyun, menghentikan ocehan panjang Woo Young. Woo Young terpaksa berhenti. Menunggu kata-kata apa yang akan diucapkan Woo Hyun. “Sungguh, aku tidak punya apapun untuk dibicarakan denganmu.”

“Aku tidak membutuhkannya.”

“Tidak. Kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku memang salah karena menutupi kasus ini. Tapi sedikit pun aku tidak menyesal. Karena aku ingin menyelamatkan seseorang. Dan untuk dalang dari semua ini, maaf… tapi aku tidak bisa buka mulut,” tambahnya. Ia berdiri. Merasa cukup dengan kunjungannya itu. Woo Young tak bisa menghentikannya. Meski sebenarnya ia tak mau Woo Hyun pergi dari sana.

“Jangan merasa bersalah karena sudah menangkapku. Itu memang tugasmu,” pesan Woo Hyun sebelum kembali ke selnya. Sepeninggalnya, Woo Young diam. Karena aku ingin menyelamatkan seseorang. Siapa yang ingin diselamatkan Woo Young? Dan siapa orang yang sudah melibatkan adiknya dalam kasus gila ini? Akh! Rasanya kepala dan dadanya hampir meledak!

***

Wajah Tae Soo yang pertama kali menyapa pandangan Hyo Kyung. Senyuman malaikatnya seperti biasa tertancap di sana dalam-dalam. Hyo Kyung sempat terkejut. Ia tak pernah terbiasa meski hal itu sering dilakukan Tae Soo tiap saat, semenjak ia tinggal bersama dengannya. Setelah mata Hyo Kyung terbuka, Tae Soo pasti akan mengecup bibir Hyo Kyung lama. Dan atas perlakuannya itu, Hyo Kyung kadang lupa, kalau Tae Soo adalah orang gila yang sudah membunuh puluhan wanita dan dipertontonkan di depan matanya selama ini!

“Kau harus bersiap-siap, kan?” tambah Tae Soo, selesai dengan bibir Hyo Kyung. Tanpa penolakan, tanpa pertanyaan lebih lanjut, Hyo Kyung berdiri. Dengan tubuh tanpa berbalut sehelai benang pun, ia berdiri di depan cermin, di depan Tae Soo pula. Hyo Kyung mencoba terbiasa. Meski rasanya sungguh tak biasa. Apalagi melihat pantulan wajah Tae Soo yang menatapnya dari ujung kaki sampai ujung rambut di cermin. Jika saja ia tak beruntung, pagi ini, Tae Soo bisa saja menerkamnya lagi karena tatapan semacam itu pada tubuhnya.

“Hyo Kyung~a!” panggilnya. Hyo Kyung tak menyahut. Tae Soo pun tak butuh sahutannya. “Kau… kau tidak lupa kan, kalau kau adalah goresanku yang selanjutnya setelah wanita yang kemarin itu?” deg! Pertanyaan ini menghentikan denyut jantung Hyo Kyung sesaat. Baru kemarin ia merasa Tae Soo bersikap lain dari biasanya. Saat ia berucap lelah, rasanya Tae Soo memang seperti sangat lelah dengan rutinitasnya dengan pisau, dan wanita-wanita yang ia sebut goresan. Semuanya luruh! Tae Soo tak mungkin lelah bukan? Terlebih targetnya masih ada satu. Dan itu ada di depan matanya sendiri sekarang.

“Tapi kau ingat, kan? Aku berjanji padamu, kau tidak akan kubunuh dulu saat kau hamil. Setidaknya, aku akan menunggu sampai perutmu sedikit membesar.” Oke! Untuk yang satu ini, perasaan kalut memasuki tubuh Hyo Kyung. Kata-kata Tae Soo soal hamil tadi, bukan seperti suatu yang belum terjadi. Malah sebaliknya. Tae Soo mengatakan dengan jelas, bahwa Hyo Kyung hamil.

“Kau hamil, Hyo. Kau tidak tahu, itu?” benar, kan? Hyo Kyung hamil! Han Hyo Kyung hamil karena Kim Tae Soo.

Belum habis keterkejutan Hyo Kyung soal berita dari Tae Soo, laki-laki itu beringsut. Menyambut punggung Hyo Kyung dengan lembutnya. Selintas hidungnya yang bangir itu mengitari leher kanan Hyo Kyung, dan ia berakhir di ubun-ubun Hyo Kyung. Menghirup dalam-dalam aroma dari rambut itu. Sejurus kemudian kemeja putih yang dikenakannya tanggal. Hyo Kyung bisa merasakan hangat tubuh Tae Soo menyapa punggungnya. Dengan manja dan lembutnya, Tae Soo mendekap tubuh kurus Hyo Kyung. Tangannya berhenti ke perut Hyo Kyung. Mengelus-elusnya sayang.

“Di sini…” desisnya tepat di telinga kanan Hyo Kyug. “Ada anak kita,” tambahnya. Sungguh! Rasanya Hyo Kyung ingin berteriak. Bukan karena perlakuan Tae Soo. Tapi betapa ia tak pernah membayangkan akan hamil karena laki-laki ini. Jika saja ia hamil dengan Kim Tae Soo yang ia kenal dulu, itu tidak masalah. Tapi, sekarang? Apa yang harus ia lakukan?

“Tenang… ini anakku. Bukan anak dari bajingan-bajingan yang menggaulimu dulu,” Tae Soo tak letih-letihnya membuat bulu kuduk Hyo Kyung merinding. Lagi, Tae Soo memainkan hidungnya ke sekitar tubuh Hyo Kyung yang putihnya malah sudah memucat sekarang. Pelan, ia tuntun Hyo Kyung untuk menghadapnya. Dagunya ditariknya, membuat Hyo Kyung menatap ke arahnya. Ia sedikit tersentak melihat mata Hyo Kyung memerah. Dan… tes. Setetes cairan bening mengalir melewati pipi kanannya.

“Sebegitu bahagianya kau memiliki anak dariku?” terka Tae Soo, yang tentu saja salah besar. Bagaimana mungkin Hyo Kyung bisa bahagia atas hal itu? “Hyo, kau harus mengeceknya sendiri. Aku takut kau belum yakin. Tapi, kau pasti mengerti. Sudah berapa lama kau bersamaku, dan kau tidak pernah datang bulan sampai sekarang, kan? Kalau kau mau mengeceknya, sepertinya aku punya alatnya di laci meja itu. Ambillah. Aku akan keluar sebentar.” Tae Soo mengambil kemejanya di lantai. Membiarkan Hyo Kyung yang langsung ambruk begitu ia menutup pintu, keluar dari sana.

***

Agak tak masuk akal memang, di saat seperti ini Woo Young malah menyuruh ketiga bawahannya untuk pulang. Pekerjaan mereka bukankah masih sangat banyak? Tapi apa pula yang bisa dilakukan Won Geun? Melihat keadaan Woo Young pun, rasanya penyelidikan belum bisa dilanjutkan. Ditunda sebentar pun mungkin tak ada salahnya. Walaupun resiko korban akan ada lagi di waktu dekat ini.
Bus berhenti di depannya. Menurunkan beberapa orang. Begitu orang-orang selesai turun, giliran orang-orang yang bersamanya di halte tadi yang naik. Won Geun memilih belakangan. Tak suka ia desak-desakan. Terlebih dengan penat dan letih luar biasa. Sialnya, begitu ia naik tak ada bangku yang kosong. Jadilah dia berdiri, menatap ke luar jendela dan mendapati lampu-lampu Gangnam Gu menghiasi malam ini.

Baru beberapa menit bus berjalan, ponsel Won Geun berdering. Seseorang menelponnya. “Iya?” sambutnya. Ia diam sejenak. Ekspresinya berubah mendengar penjelasan dari seberang. “Kau sudah menemukannya? Dimana?” tanyanya gesit. Tanpa mematikan ponselnya, ia pindah ke depan. Meminta sopir untuk menurunkannya.

“Oke. Aku akan ke sana!” jawabnya begitu turun dari bus. Ia berlari kembali ke halte. Beralih ke bus biru. Buru-buru ia masuk. Ah! Ada satu kursi yang tersisa. Sebenarnya dia bisa mencari taksi yang lebih cepat. Tapi entah kenapa ia malah memilih bus.

“Oh, jeoseonghamnida!” ujarnya, tak sengaja menyenggol pundak seseorang di sampingnya. Orang ini tak menjawab. Ada apa? Rasanya orang ini aneh. Dengan hati-hati ia perhatikan teman duduknya ini. Rambutnya panjang, berarti dia wanita, kan? Dilihat dari postur tubuhnya pun seratus persen orang ini wanita. Wajahnya tak jelas, karena topi yang dikenakannya menutupi sebagian wajahnya. Terlebih dengan mantel yang dikenakannya. Sulit mengenali siapa ini. Tapi Won Geun tertarik dengan ketidaknyamanan wanita ini. Sebaik apapun wanita ini mencoba menutupinya, kelihatan benar tangannya gemetaran. Ada sesuatu yang disembunyikannya di balik mantelnya. Semua penampilan ini menambah kecurigaan Won Geun. Siapa wanita ini?

Halte per halte, bus berhenti. Wanita ini belum bergeming. Satu gerakan pun tak dilakukannya, kecuali tubuhnya yang makin terasa bergetar. Won Geun hampir lupa dengan janjinya dengan si penelpon tadi. Wanita ini menyita perhatiannya. “Maaf, apa Anda baik-baik saja?” tanyanya mencoba sopan. Wanita ini bukannya menjawab malah berdiri. Buru-buru ia menjauh dari bangku itu. Memilih berdiri di dekat pintu. Won Geun makin tertarik jelas. Tapi tak serta merta ia mendekatinya. Dibiarkannya dulu sampai ia tahu kemana wanita ini akan turun.

Sampai di Songpa Gu, wanita ini turun. Won Geun sengaja tak turun bersama dengannya. Ia tunggu sampai busnya sedikit jauh, baru ia buru-buru meminta sopir untuk berhenti dan menurunkannya. Wanita tadi belum jauh, ia masih bisa mengikutinya, plus menghilangkan pikiran si wanita kalau ia mengikutinya.

Dia melewati gang-gang kecil. Sepertinya Won Geun pernah kemari. Kalau tak salah, jalan ini menuju rumah seseorang. Tapi siapa, Won Geun tak bisa mengingatnya. Temannyakah?
Beberapa blok dan setelah melewati sebuah toko tutup, mereka sampai di sebuah rumah sederhana. Wanita itu masuk. Tunggu! Kalau dilihat lagi, bukankah ini rumah Han Hyo Kyung? Dia tahu karena dia pernah kemari untuk menyelidiki latar belakang Han Hyo Kyung. Tunggu! Itu tadi wanita, kan? Apa jangan-jangan itu Han Hyo Kyung?

Brak! Tiba-tiba suara benda jatuh terdengar dari dalam. Won Geun segera sigap. Oh, tidak! Pintunya terkunci. Apa yang harus dilakukannya? Setidaknya ia harus tahu dulu apa yang terjadi di dalam. Ditempelkannya telinganya ke daun pintu. Berharap mendengar sesuatu dari dalam. Belum sempat ia mendengar apapun, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk. Dari Soo Jin. “Wae?!” sentaknya sebal begitu mengangkatnya.

“Hyung, eoddiyo?” pertanyaan yang dirasa Won Geun tak terlalu penting.

“Katakan apa kepentinganmu! Aku sedang tak dalam situasi untuk kau tanyai!” sentaknya lebih keras.

“Hyung, seorang office boy menemukan tiga mayat wanita di apartement Tae Soo. Tapi Kim Tae Soo tak ada di sini!” mendengar penjelasan ini Won Geun mendelik. Tanpa basa-basi, dimatikannya panggilan itu. Sebaliknya, ia beralih ke pintu itu.

“Han Ki Jae! Ki Jae~ya! Kau ada di dalam? Han Hyo Kyung~ssi! Tolong buka pintunya!” teriaknya sambil menggedor-gedor pintu itu. Tak ada respon.

Sementara Won Geun berusaha membuka pintu itu, di dalam nafas Ki Jae tercekat di tenggorokan. 
Pasalnya sebuah pisau dapur diarahkan tepat ke lehernya. Sekali sentak, pisau itu akan melukai lehernya. Seharusnya ia bisa melawan. Tapi ia tak kuasa karena melihat orang yang menodongkan pisau padanya ini adalah orang yang sangat ia kenal. Han Hyo Kyung! Kakaknya sendiri menodongkan pisau ke arahnya.

“Nu…. Nuna…” lirihnya. Hyo Kyung tak meresponnya. Air matanyalah yang menjawab betapa ia sangat berat mengacungkan pisau itu. Tangannya bergetar hebat, tapi ia lantang menjadikan Ki Jae sebagai sasaran mata pisaunya. Isak tangisnya bahkan terdengar terlalu keras dan menyedihkan.

“A, apa yan kau lakukan, Nuna?” tanya Ki Jae tak mengerti.

“Ki Jae~ya…” barulah Hyo Kyung kini meresponnya. “Ayo kita mati bersama!” ajakannya jelas tak bisa diterima akal Ki Jae. Terlihat jelas dari matanya yang membulat besar.

“Apa yang kau bicarakan, hah?”

“Lebih baik seperti ini. Ayo… Nuna janji tidak akan sesakit itu,” ujar Hyo Kyung lagi.

“Aniya! Apa yang kau lakukan? Micheoseo?!” sentak Ki Jae. Bodohnya ia benar-benar tak mampu menghalau pisau itu dari hadapannya. Akal sehatnya masih tak bisa menerima kalau orang yang mengajaknya mati ini adalah kakak kandungnya sendiri.

“Nuna tidak tahan lagi. Nuna tidak mau mati di tangan lelaki itu.”

“Nuguya? Kim Tae Soo? Bajingan itu yang menyuruhmu membunuhku?!”

“Ki Jae~ya… Nuna mianhae…”

“Andwae!” kepala Ki Jae menggeleng hebat. “Jangan, Nuna! Kau jangan gila! Kenapa kau mendengarkan bajingan itu?!” teriaknya. Won Geun makin hebat usahanya mendobrak pintu itu. Suara dobrakan dan teriakannya akhirnya membuat Hyo Kyung sadar, bahwa Won Geun sudah mengikutinya sampai di sini.

“Kenapa kau berhenti?” tiba-tiba ada suara lain dari ruangan itu. Hyo Kyung dan Ki Jae sama-sama menoleh ke arah yang sama. Tepatnya di anak tangga ketiga menuju kamar Hyo Kyung. Ada siluet seseorang yang pelan-pelan turun. Suara sepatunya membuat Hyo Kyung merinding. Sepertinya ia kenal orang ini. Dan benarlah. Saat cahaya mengenai wajahnya, itu adalah Kim Tae Soo!

“Ayo lanjutkan, Hyo!” pintanya, lengkap dengan senyumannya. Sebuah kertas gambar dan pensil sudah ada di tangannya. Apa yang akan dilakukannya? Menggambar proses kematian yang akan diciptakan Hyo Kyung sekarang?

“Cepatlah!” pintanya lagi. Ia beralih, duduk di atas meja di sana. Tangannya siap menggambar objek apa yang akan terjadi di depannya.

“Aku tidak sabar menggambar goresan terakhirku membunuh adiknya sendiri sebelum mengakhiri hidupnya juga.”



Sebelumnya              Selanjutnya

No comments:

Post a Comment