Tuesday, January 14, 2020

Bukan Siapa-Siapa


Semester 3 terlewat dengan sangat mengangumkan. Berkali-kali kuumpati pada hatiku sendiri, apa maunya. Kenapa banyak laki-laki yang datang dan dengan mudah menaklukkannya? Dan di saat yang sama pula, mereka lebur bagai debu tersiram air.
Sejak pengakuan Tora waktu itu, aku nelangsa. Seharusnya Tora tak pernah mengatakannya. Karena sudah tahu, aku jadi lebih sering memergokinya bersama pacarnya itu. Entah itu memang di kampus, atau memang sedang jalan di luar. Aku benci mengakuinya, tapi aku cemburu. Jadi, mungkin benar aku pernah menyukai Tora. Tak menutup kemungkinan sampai sekarang pun sama.

Aku baru selesai packing. Kami ada jadwal Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Semacam study tour. Destinasi paling jauh adalah pulau Bali. Sedikit kutambah antusiasku. Aku berharap, kali ini aku bisa merefresh ulang perasaanku. Melepaskan semuanya biar aku sedikit lega. Untuk kali ini, aku harap tak ada dulu yang mengusik hatiku. Pangeran impian, hem… nanti dulu, deh.

Selepas magrib kami berangkat. Aku dan Tora pisah bis. Baguslah. Aku juga belum terlalu biasa untuk bisa berdekatan dengannya. Satu bangku denganku adalah Farra. Sati ada di depan bersama Chacha.

Yang lucu adalah aku malah satu bis dengan Badri. Tak masalah sebenarnya. Cuma, tiap kali melihatku, dia merasa bersalah begitu. Padahal, aku mencoba mengakrabinya malah. Biarlah.
Kami sampai di Bandung sekitar jam 7 malam. Sebuah hotel bintang 3 yang kami tuju sebagai tempat istirahat. Besok barulah kami akan pergi ke Universitas Pendidikan Indonesia melakukan study banding.

Sementara yang lain berkemas di kamar, aku memilih keluar. Di sebelah kanan-kiri pintu masuk ada sebuah teras panjang dengan plang pembatas. Di sebelah kiri pemandangannya hanya parkiran. Tentu saja aku memilih teras sebalah kanan. Dari sini, aku bisa melihat air mancur kecil dengan beberapa bunga di sekelilingnya. Lampu kerlap-kerlip di sana memanjakan mataku. Kudekati pagar pembatas itu. Kutaruh kedua tanganku di sana. Perlahan, kurasakan sapuan lembut angin malam. Kucoba melepaskan lelah dan pikiran yang membebani otakku.

“Ehem!” aku terkejut mendengar deheman ini. Aku menoleh dan mendapati Andre sudah berjalan kemari.

“Ngapain elo ke sini?” tanyaku. Ah… aku salah. Kenapa pula kutanyakan hal itu? Pasti jawabannya, “Ini kan tempat umum. Gue enggak boleh ke sini?”

“Ini kan tempat umu…”

“Ya, ya, ya! Elo boleh kok ke sini,” potongku langsung. Benar, kan? Kupalingkan lagi wajahku. Malas meladeninya.

Dari ekor mataku, kulihat ia diam di tempatnya. Makin tak kuajak dia bicara, akhirnya ia memilih berdiri tepat di sampingku. Untuk sementara kudiamkan saja. Aku sedang tak ingin berdebat dengannya seperti biasa. Aku benar-benar lelah.

Oh, ya. Kalau ingat Andre, soal slayer-nya waktu itu belum aku kembalikan. “Oh, iya, An…” kata-kataku terpotong. Karena tiba-tiba, tanpa ba bi bu, Andre meletakkan jaketnya ke bahuku. Mataku mendelik sempurna. Kutatap dia, aku gagal paham. Apa maksudnya ini?

“Elo gila, ya? Di sini dingin banget, dan elo cuma pake kaos setipis itu!” sentaknya. Aku belum sempat bertanya apa maksud jaket ini, ia sudah berbalik dan buru-buru pergi dari sana. Alibinya sih ia kedinginan. Tapi, tadi sempat kulihat semburat merah di wajahnya. A, apa maksudnya?

Oh, tidak! Tidak! Aku tak boleh berpikiran yang macam-macam! Padahal baru beberapa waktu yang lalu kukatakan pada diriku sendiri, aku tak akan mengurusi cinta untuk sementara waktu. Masa, hanya dengan perlakuan seperti ini, aku harus terbang? Apalagi ini Andre! Cowok menyebalkan yang autis! Tak punya teman! Aneh! Jarang tersenyum dan sukanya bentak-bentak! Anggap ini hanya kebaikannya. Mungkin saja dia masih simpati padaku soal waktu itu. Ya, anggap saja seperti itu.

***

Aku tak berhasil. Anggapan bahwa mungkin saja Andre masih simpati padaku nyatanya benar-benar tak berhasil. Semua sikapnya selama KKL ini membuatku bingung dan kadang-kadang terbang ke awang-awang. Sungguh! Ini bukan respon yang berlebihan. Tapi caranya bersikap dan aksinya mencuri waktu berduaan denganku itu tidak main-main.

Semisal, ia tiba-tiba saja mau menemaniku membeli obat untuk Farra yang mabuk di jalan. Ia tiba-tiba sudah ada di sampingku saat aku ketinggalan dari rombongan karena sibuk mencari sinyal hp. Ia berjalan di sebelah kananku saat kami berjalan di tepi jalan raya. Ia memberiku minuman kaleng tanpa banyak bicara. Bahkan ia kembali memberi jaketnya saat hujan tiba-tiba mengguyur kami di perjalanan.

“Elo kenapa, sih?” kuberanikan diri langsung bertanya padanya. Andre suka bicara tanpa pikir panjang. Keputusan yang salah kalau aku hanya mengira-ngira semua sikapnya itu. Lebih baik kutanyakan langsung. Mumpung kami lagi berdua. Ah… lagi-lagi aku terjebak berdua dengannya. Tak sengaja kami bertemu di lift. Bahkan, saat ia melihatku ada di dalam lift tadi, ia hanya berdehem. Tanpa senyum, tanpa menyapa. Ia masuk kemudian berdiri di depanku.

“Apa?” ia malah balik tanya.

“Sikap elo itu. Elo kenapa, sih?”

“Apa, sih? Enggak jelas, elo!”

Kenapa? Kenapa dia tak berani berbalik dan menatapku langsung seperti biasa? Lebih baik aku berdiri di sebelahnya. “Elo… elo coba deketin gue, ya?” selidikku. Akhirnya ia menoleh ke arahku. Sebelum membuka mulutnya, ia sempat mendesah pelan.

“Enggak boleh?” pertanyaannya membuatku cukup terkejut. Apa artinya ini dia benar-benar mendekatiku?

“Ha, hah?”

“Dasar cewek aneh! Kan elo sendiri yang bilang, gue enggak punya temen di kelas. Sekarang, gue coba temenan sama elo, elonya malah protes! Gimana, sih?!” eh… aku terdiam dengan jawaban barusan. Dia ingin berteman denganku? Loh… bukannya kami memang teman.

“Siapa juga yang mau mampir! Temen bukan, pacar apalagi!” ah… aku ingat kata-katanya saat mengantarku pulang waktu itu. Benar juga. Dia kan bukan tipe orang yang akan berteman dengan siapa saja,  meskipun kami sudah pernah jalan dan statusnya dia itu kan sekelas denganku!

“Lagian… kayaknya elo juga lagi enggak punya temen,” sambungnya.

“Maksud, elo?”

“Elo sering jalan sendirian selama KKL ini. Temen-temen elo itu, gue lihat juga agak renggang. Apalagi kejadian di halte itu. Elo pasti ada masalah, kan?” ujarnya yang baru kusadari, dia melembut. Oh… apa dia memang simpati padaku? Yah… kalau kupikir-pikir, benar juga kata Andre. Hubunganku dengan yang lain cukup renggang. Apalagi dengan Tora. Tapi aku tak sadar kalau aku sering menghindar dari mereka selama ini. Sampai Andre segala melihatnya. Pasti terlihat jelas, bukan?

“Jadi elo sama-sama nyari temen yang lagi enggak punya temen?” candaku.

“Soalnya… elo duluan yang berani bentak-bentak gue di kelas,” jawabnya. Aku lagi-lagi diam. Semua jawabannya rasanya tak cocok dengan kepribadian si Andre. Bahkan dia masih menurunkan volume suaranya sekecil ini. “Dan juga, elo enggak pantes murung terus. Ehem! Elo kelihatan lebih cantik kalo ketawa.” Deg! Ya, yang kali ini… a, apa maksudnya?

Sial! Aku belum sempat bertanya dan pintu lift sudah terbuka. Ia keluar duluan, tanpa pamit. Bahkan berbalik saja tidak. Barusan… apa benar Andre mengatakan aku cantik?

***

Sepulang dari KKL, aku makin jauh dari Tora. Dia sendiri suka menghilang setelah kelas selesai. Aku tak berani bertanya pada Farra, Sati atau pun Wawan. Takut mereka  berpikiran macam-macam. Selama ini, yang selalu mencari duluan kan Tora. Kenapa pula aku memikirkan soal pikiran yang lain, sih?

Sebaliknya, Andre jadi sering mengobrol denganku. Beberapa kali ia minta dipinjami buku catatan. Katanya, ia tak pernah bisa paham dengan penjelasan teman-teman tiap presentasi. Dia tipe orang yang lebih memilih membaca novel daripada mendengarkan pendapat teman-teman di kelas yang menurutnya belum tentu benar. Padahal buku kuliahnya lebih banyak dariku.

Tapi, sikapnya itu kumaklumi. Mungkin ia mencoba lebih terbuka. Kuperhatikan, ia sekarang lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman yang lain. Walau hanya sekedar ikut duduk nimbrung di bawah pohon seri. Atau sekedar meminjam penghapus atau penggaris. Senyumnya beberapa kali muncul. Hanya setipis kertas memang. Tapi kupikir itu adalah awal yang baik. Meski kebiasannya yang suka bentak-bentak masih sering muncul.

“Ih! Elo kok enggak paham-paham, sih?!” sentakku kesal padanya. Padahal catatan sudah kubuat segampang mungkin. Apa sikap dinginnya selama ini ia gunakan untuk menutupi kebodohannya? Jadi penasaran, selama ini nilai IP-nya berapa, ya?

“Kalo gue udah paham, gue enggak nanya sama elo! Gimana, sih?! Bego elo, ya?!” nah, kan. Kumat lagi sifat menyebalkannya.

“Ye! Yang bego itu elo! Gue udah bikin catetan sedetail, semudah mungkin. Udah gue jelasin juga, malah elo gak paham-paham. Sekarang siapa yang bego?”

“Ya elo itu!”

“Enak aja!”

“Berisik banget, sih?!” sentak seseorang di samping kami. Ternyata Tora ada di sana. Loh? Sejak kapan? Kupikir di kelas tadi hanya ada kami berdua, makannya Andre bisa leluasa membentakiku seperti tadi. Sejak kapan Tora ada di sana? Dan rasanya, tadi kuliah terakhir bangkunya pun bukan di sana.

“Em… ma…” belum sempat bibirku berucap maaf, dia berdiri. Dibawanya tampang kesalnya itu keluar kelas. Kenapa dia sensitif sekali, sih? Apa yang barusan dilakukannya sampai merasa kesal, terusik dengan kegaduhan yang aku dan Andre buat?

“Gue cari sendiri deh di internet!” Andre ikut-ikutan berdiri. Mungkin hanya perasaanku, tapi Andre buru-buru kembali ke bangkunya. Ia bahkan tak menoleh lagi ke arahku sedikit pun. Mencari kesibukan sendiri dengan hpnya. Apa Andre merasa bersalah? Lagian… kenapa pula Tora bersikap seperti itu? Berlebihan sekali!

Sejak aku mendengar soal keterangan pacarannya waktu itu, kurasa Tora memang jadi lebih sentimen! Selain menjadi autis dadakan, ia tak segan-segan menyentak yang lain kalau merasa terganggu. Itu pula alasan kenapa aku lebih suka menjauhinya. Menghindar sebisa mungkin kalau sampai terjebak satu kelompok dengannya. Tora yang dulu sering bercanda, kekanak-kanakan, dengan lollipop menyebalkannya itu, tak pernah lagi kulihat.

“Emang! Orang kalo udah punya pacar, sifatnya bisa berubah total!” bahkan waktu itu Sati sempat menyindirnya. Ia mendengus, dan langsung pergi dari kami.

Semua berubah. Wawan lebih suka menghindari Sati. Aku lebih suka menghindari Tora, dan kami tak pernah lagi berkumpul di rumahku tiap malam minggu. Hilang sudah komunitas anti reason yang kami ciptakan. Justru sekarang kami malah membutuhkan banyak alasan. Kenapa kami jadi seperti ini? Alasan apa sampai kami harus berakhir saling perang dingin dan tak ada yang berani memulai penjelasan lebih dulu. Kami terbelah tiga. Aku, Farra, dan Sati. Sedangkan Wawan dan Tora jalan masing-masing. Adakah alasan yang jelas untuk menjawab semua pertanyaan kami ini?

***

Hari ini hanya ada satu mata kuliah. Tidak ada dosen. Hanya mengumpulkan tugas. Aku duduk di bawah pohon seri. Menghampiri Andre yang duduk sendirian dengan headseat yang nyantol di telinganya. Dengan santainya ia tiduran di sana, sampai-sampai tak sadar aku datang.

“Nga, ngapain?” tanyanya seraya bangun.

“Nih. Gue balikin slayer elo. Makasih, ya?” ujarku memberikan slayer itu padanya. Ia menerimanya dengan ragu. “Tenang aja! Enggak gue pake buat lap ingus, kok!” dumelku sebal. Ia malah manyun. Tapi, akhirnya diterimanya juga.

Aku tersenyum saat ia memilih melepas headseat-nya. Ia sadar, aku tak berniat pergi dari sana. Kurasa harus aku yang memulai pembicaraan lebih dulu.

“Tahu, enggak?” ehm, aku keduluan. Tumben Andre bicara lebih dulu.

“Kenapa?”

“Ehm…” kenapa sekarang dia malah ragu? Ia menatapku cukup lama, kemudian menggeleng-geleng. “Enggak jadi, deh.”

“Ih! Apaan, sih? Kalo enggak niat ngomong, enggak usah buka mulut dong dari awal.”

“Penasaran banget, ya?”

“Enggak juga, sih!”

“Ya, udah.”

“Ya, ampun! Sifat nyebelin elo itu enggak ilang-ilang, ya?!”

“Tapi… elo suka, kan?”

“Enak aja! Kapan gue bilang gue suka sama elo?”

“Kalo elo enggak suka, kenapa elo suka nyuri pandang ke gue tiap di kelas?”

“Apa sih, elo! Mulai deh randomnya! Bodo, ah!” huh! Dia masih saja menyebalkan.

Kucari bahan lain. Bukan niatku mengembalikan pembicaraan. Kupilih aktivitas lain agar tak terlibat pembicaraan lagi dengannya. Sayangnya, aku belum mau pergi dari sana. Di kelas suasananya terlalu berisik. Jadi, kurasa aku di sini saja dulu.

Ada beberapa seri di dahan yang cukup rindang berwarna kemerah-merahan. Menarik perhatianku untuk berdiri dan meraihnya sebisaku.

“Pecicilan banget sih jadi cewek!” komentar Andre tak kugubris. “Kalo jatuh bangun sendiri, ya?” lanjutnya.

Belum sempat ia selesai bicara, kakiku kehilangan pijakan dari tempat duduk di bawah seri ini. Sret! Gedebuk! Aw! Sakit sekali.

“Elo enggak papa?” tanyanya. Tadi katanya aku harus bangun sendiri. Tapi, dia mendekat dan mengulurkan tangannya padaku.

“I, iya. Enggak pa…” buk! Andre tiba-tiba melepaskan tangannya. Aku jadi jatuh lagi. Sial!

“Ih! Nyebelin banget sih, elo!” protesku padanya. Dia malah tertawa cekikikan.

“Sorry, sorry. Sini, sini. Gue bantuin beneran.” Kembali ia ulurkan tangannya. Aku harus balas dendam. Begitu kugenggam tangannya, kutarik sekuat tenaga hingga ia menggantikanku jatuh ke tanah. Sedang aku sendiri sudah berhasil berdiri dengan selamat.

“Haha! Rasain! Suruh siapa ngerjain gue!” cemoohku sambil tertawa terkikik. Raut wajah Andre awalnya memang sebal. Tapi, ia pun menyambung tawanya bersamaku. Tanpa kubantu, ia bangun sendiri. Sama-sama setelahnya kami menghilangkan debu dari pakaian kami. Yang membuatku speechless adalah, tangannya terulur ke atas kepalaku. Ia mengambil daun kering dari sana.

“Ketinggalan satu,” katanya. Jujur, kuakui. Aku deg-degan. Terlebih aku baru sadar, jarak Andre terlalu dekat denganku. Sekali mendongak, yang kulihat adalah wajahnya. Wajah tampan yang kulihat saat pesta pembukaan kafenya waktu itu. Bukan wajah Andre yang menyebalkan dan autis seperti biasanya. Tap! Reflek, aku melangkah mundur. Bisa kulihat raut bingung dari wajahnya.

“Eh… itu…”

Grep! Kurasa seseorang mencengkram tanganku dengan kuat. Protes belum sempat kulayangkan, karena cengkeraman tadi berubah menjadi tarikan. Lebih cocok dikatakan memaksaku pergi dari sana. Aku tak sempat melihat wajahnya. Tapi dari punggungnya, aku tahu ini Tora.

“A, apaan sih, Ra?!” protesku. Sekuat tenaga kucoba melepaskan tangan itu, tapi ia berhasil menggeretku cukup jauh dari Andre. Sempat kutengok Andre yang pasang tampang bingung dengan aksi Tora barusan. Aku pun sama. Sepenuhnya aku tak mengerti dengan arti tarikan ini.

“Lepas! Sakit tau!” sentakku. Dia akhirnya melepaskan tanganku. Ia membawaku ke depan gedung F. Nasib baiknya tak ada yang sedang memakai kelas itu. Jadi, kurasa aku bebas memakinya sekarang.

“Apa-apaan sih, elo? Enggak ada angin enggak ada ujan, narik tangan orang sembarangan! Sinting elo, ya?!”

“Elo ngapain sih tadi sama dia?” tanyanya dengan nada tinggi. Tunggu! Apa barusan dia marah padaku? Seharusnya kan aku yang marah.

“Apaan, sih? Ya, yang elo liat gue ngapain tadi?”

“Elo sebenernya ngapain sih, Mi?”

“Apa sih, Ra? Elo enggak jelas banget, deh! Mau elo apa, sih?”

“Tiap hari elo berduaan sama dia. Apa? Elo mau nunjukin kalo elo beneran lagi deket sama dia apa gimana?”

Oke! Aku sempat tak paham kenapa dia tiba-tiba marah seperti ini? Hanya karena aku tadi berduaan dengan Andre? Kami tak lebih sekedar mengobrol layaknya teman seperti biasa. Apa salahnya?

“Elo kenapa sih, Ra?”

“Elo itu yang kenapa?!” sentaknya makin keras. “Kenapa sih? Elo jadi centil kayak gitu. Mau muntah tau gue ngeliatnya!”

“Ngomong apa sih, elo! Siapa yang barusan elo bilang centil?”

“Elo! Tiap hari elo deket-deket sama dia itu maksudnya kenapa?”

“Loh! Ya emang apa salahnya gue deket sama dia?”

“Salah! Karena apa? Karena elo itu playgirl tahu, enggak! Semua cowok elo deketin! Andre? Dia cowok yang bahkan enggak pernah seobrolan sama anak-anak di kelas! Bahkan cowok dari kelas sebelah aja elo embat! Badri itu? Oh, ya. Dan Brian yang elo bilang sahabat elo itu? Elo sebenernya suka kan sama dia?”

Aku mendecak tak percaya. Kenapa dia ini sebenarnya? Bahkan sedikit pun aku tak sempat memotong kata-katanya.

“Dan elo pikir gue enggak tahu? Sebenernya, elo juga pernah suka kan sama Kak Dedi?”

Selesai Tora mengucapkan nama kak Dedi, aku baru menyadari sesuatu. Farra baru saja keluar dari kamar mandi di belakang Tora. Dia yang barusan berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada raut terkejut yang kutangkap dari wajahnya. Apa ia mendengar perkataan Tora soal aku pernah menyukai Kak Dedi?

“Dan… yah…”

Plak! Akhirnya tangan kananku mendarat di pipi Tora. Aku tak tahan dengan semua kata-katanya. Ia benar-benar menohok dadaku dengan kerasnya. Bahkan tanganku gemetaran setelah menamparnya. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Apa ia tak percaya karena aku berani menamparnya? Justru aku yang seharusnya tak percaya dengan semua kata-katanya tadi.

“Denger, ya!” kutekankan kata-kataku sedalam mungkin padanya. “Urusan elo apa sama hidup gue? Elo itu siapa? Gue mau deket sama siapa apa urusannya sama elo? Elo enggak punya hak ngatur-ngatur gue harus deket sama siapa!

“Dan… apa tadi elo bilang? Playgirl? Hh! Gue enggak pernah pacaran sama mereka semua! Kalaupun gue mau pacaran sama mereka semua, kayaknya itu pun enggak patut elo urusin! Apa gue protes waktu elo bilang elo jadian sama Feril? Enggak, kan?!

“Jadi, tolong ya, Aditya Tora! Elo enggak usah sok ngatur-ngatur gue harus deket sama siapa! Ngerti, elo?!” sentakku di akhir. Aku berbalik. Bermaksud meninggalkannya. Tapi, baru beberapa langkah aku pergi, aku kembali terhenti karena teriakan Tora.

“Ya, Mi! Gue emang bukan siapa-siapa! Jadi gue enggak punya hak buat ngurusin hidup elo!”

Kembali aku berbalik. Sekuat tenaga aku berteriak, “Kalo elo udah paham, seharusnya elo ngerti apa yang harus elo lakuin!” barulah aku benar-benar pergi dari sana. Kututup telingaku akan teriakan Tora yang mungkin sakit hati dengan kata-kataku. Aku juga sakit hati. Bahkan tanpa kuminta, air mataku bercucuran keluar. Tak peduli dengan tasku yang masih ada di kelas, aku berlari menuju halte. Yang kuingat adalah wajah Farra tadi. Apa yang akan dipikirkannya tentangku? Kenapa Tora bisa sejahat itu padaku? Apa salahku? Kenapa dia keterlaluan sekali? Kenapa dia menciptakan hujan deras kala matahari menyengat ubun-ubun begitu panasnya? Tuhan… dadaku sesak sekali!

Sebelumnya              Selanjutnya