Tuesday, January 14, 2020

Komunitas Anti Reason


“Nanti papa jemput ya, Sayang?”

“Gak usah kali, Pa.”

“Loh, kenapa? Kamu ya, mentang-mentang udah gede, maunya semuanya sendirian. Padahal kamu kan baru kemaren dapet KTP-nya, Sayang. Papa ni enggak rela loh kalo kamu gede terlalu cepet, loh. Udah, deh. Papa kan cuma mau jemput kamu. Apa sih salahnya?”
“Pa, rumah kita itu cuma 1 kilo dari sini. Aku bisa naik angkot, atau ojek juga bisa. Lagian, Papa kan pulang kerjanya malem. Sedangkan aku selesai kuliah itu jam 2.” Mendengar jawabanku akhirnya papaku terdiam. Mulutnya sempat melongo, tapi disambung dengan anggukan kepala yang sok paham.

“Okey,” jawabnya terpaksa. “Tapi jangan lupa telpon Papa kalo kamu mau minta jemput, ya? Nanti biar Papa suruh Mang Ujang buat jemput kamu.” Kuputar bola mataku sendiri sebal. Papa kadang-kadang suka berlebihan sekali denganku. Hampir mati dulu aku berdebat dengannya soal aku harus ke sekolah normal atau home schooling saja. Aku paham dia menyayangikku. Tapi kadang-kadang suka keterlaluannya ini loh yang tak bisa ditolerir.

Begitu selesai dengan segala jenis saran panjangnya itu, akhirnya papa berangkat juga. Tepat setelah aku berbalik, tiba-tiba Tora sudah ada di belakangku. Menyapaku dadakan yang lebih tepat disebut dengan serangan jantung.

“Pagi, Mia!” hampir saja gamparanku melayang ke pipinya. “Tadi itu Papa elo, ya?” tanyanya sambil membuka bungkus lollipop dan memasukkannya ke mulutnya. Sambil berjalan cepat menghindarinya, aku menjawab, “Ya.”

“Eh, eh, Mi. Gue udah dapet bukunya, nih!” tapi dia berhasil menghadang langkahku. Disodorkannya sebuah buku dengan judul Pengantar Linguistik besar-besar ke depan wajahku. Tak sadar dengan kekesalanku atas kelakuannya ini, dia malah nyengir.

“Hebat kan gue?”

“Iya, iya. Hebat!” apa coba hebatnya? Duh…

“Jadi, fix, ya? Hari ini kita ngerjainnya di rumah elo.”

“What?!” langkahku terhenti. Aku berbalik dan menatapnya tak percaya. “Di rumah gue? Why?”

“Gue kadangan heran sama elo, Mi. Elo ini sering bener ngomong pake Bahasa Inggris. Kenapa gak masuk ke Bahasa Inggris aja, sih?”

“Please! Itu enggak penting sekarang. Jawab pertanyaan gue tadi!”

“Gue tadi enggak sengaja denger percakapan elo sama bokap elo. Katanya rumah elo dari sini cuma 1 kilo, kan. Itu jauh lebih deket daripada rumah Wawan yang ada di Metro. Bisa-bisa, kita sampe nginep di sana. Apa mau di kosan gue yang cuma ada kamar doang? Gak masalah kalo kalian mau ngeliat kamar gue yang ngalahin kandang kambing.”

“Ya, kan ada Farah, ada Sita. Mereka ngekos, loh. Itu artinya tempat tinggal mereka lebih deket dari gue.”

“Ya kos-kosan mereka kan kos-kosan cewek, Mi.”

“Ya siapa bilang mereka ngekos di kosan cowok?”

“Bukan itu maksud gue. Di kosan mereka kan cowok enggak diizinin masuk. Masa iya kita mau ngerjain tugas di jalanan depan kosan mereka itu, sih?”

“Terus siapa gitu yang ngizinin kalian ke rumah gue?”

“Ya elo lah, Mi. Masa rektor?”

“Ugh! Whatever!” sumpah! Aku benar-benar kesal dengannya. Alih-alih menghindarinya, nasib baik aku melihat Brian. “Brian!” panggilku. Dia langsung mendengar panggilanku dan merespon dengan berhenti. Kutinggalkan saja si sinting ini.

“Eit! Jangan mendekat!” tiba-tiba Brian menahan langkahku tepat saat aku hampir berada di depannya.

“Kenapa?”

“Gue baru aja selesai lari tadi di lapangan. Badan gue lagi penuh keringet, nih,” ujarnya sambil mengelap keringat dari wajahnya dengan handuk putih kecil yang ia kalungkan di lehernya. Ya, seluruh tubuhnya memang basah dengan keringat.

“Oh, ya? Kenapa gitu terusan?”

“Kan hidung cewek itu sensitif. Nti elo ill feel lagi nyium bau badan gue. Ya… walaupun gak bau-bau amat, sih.”

“Gak masalah, kali. Gue cuma mau ngindarin tu bocah!” sungutku sambil melirik ke belakang. Tepat di mana si Tora masih melempariku dengan tatapan menyelidiknya. Aku berani bertaruh, pasti dia masih menganggap Brian itu pacarku atau apalah. Peduli amat!

“Kenapa emangnya?”

“Bukan apa-apa. Udah, yok!” kugeret tangan Brian. Hmh! Basah. Benar-benar olahraga ternyata dia, ya? Sampai mengelap keringat di tangannya saja tak sempat begini.

“Eh, ke mana?” Brian nampak heran.

“Elo mau ke mana? Gue ngikut.”

“Ke toilet, ganti baju. Beneran mau ngikut?” timpalnya sambil tersenyum. Seketika itu  juga kulepaskan tanganku dari tangannya. Masa iya aku mau ikut dia ganti baju.

“Ke kantin, deh. Kan searah,” ujarku kemudian mendorongnya agar cepat jalan.

“Bukannya elo ada kuliah? Pagi-pagi dateng ke sini pasti ada kuliah pagi, kan?”

“Tenang aja. Masih ada sepuluh menit lagi. Lebih baik daripada gue harus ke kelas bareng bocah sableng itu!” rutukku. Brian hanya geleng-geleng kepala.

Tapi sepertinya nasib sial itu masih membuntutiku. Di kantin malah aku berpapasan dengan Wawan. Salah satu bocah dalam kelompokku yang ingin benar kuhindari. Dari mereka berempat, orang yang tak banyak mengobrol denganku adalah bocah ini. Tampangnya jauh lebih baik dari si Tora itu. Meski begitu, aku merasa dia ini sedikit… eh susah didekati. Bahkan ketika bertemu seperti ini saja dia hanya menyapaku singkat, “Hai, Mi!” kemudian berlalu pergi. Sikapnya bisa lain sekali kalau sedang bersama yang lain. Ah, terserahlah! Aku hanya perlu mencari sesuatu untuk mengisi perutku. Uh! Tadi aku tak sempat sarapan.

Aku masih punya waktu lima menit sampai jam kuliah pertama dimulai. Kusempatkan duduk-duduk sebentar di depan kelas. Membaca buku yang baru saja kubeli pulang kuliah kemarin. Pengantar Sastra. Lumayanlah, dapat sedikit ilmu sebelum masuk. Hanya saja, belum sempat kuhabiskan satu halaman, Sati menghampiriku.

“Hai, Mi! Rajin amat! Pagi-pagi udah belajar aja.”

“Yah… biarin aja. Lagian…” tak jadi kuhabiskan kalimatku, mataku menangkap kedatangan cowok yang menabrakku kemarin. “Eh, dia itu siapa, sih?” tanyaku penasaran. Sati ikut ospek, kan? Pasti dia tahu siapa bocah itu.

“Oh, dia Andre.”

“Andre?”

“Kenapa? Elo naksir?”

“Hah? Enggak lah. Gila aja. Kenal juga enggak. Tahu namanya juga dari elo ini barusan.”

“Terus kenapa nanya-nanya?”

“Ye… nanya doang. Masa iya cuma mau nanyain nama temen sekelas gak boleh? Lagian… dia itu emang kayak gitu, ya? Pendiem gitu?”

“Oh, ya. Dia itu temen satu sekolahan sama gue.”

“Oh, ya? Berarti elo kenal banyak dong soal dia?”

“Ah, gak juga. Gue cuma kenal namanya doang. Gue gak pernah tuh cari-cari tahu soal orang yang gak terlalu terkenal di sekolah gue. Gue itu cuma tertarik sama ketua OSIS, ketua basket, dan ketua-ketua ekskul yang lain. Dia mah gue gak ngurus.”

“Emang dulu dia ikut ekskul apaan?”

“Em… Robotic. Dia juga ikut komunitas pecinta buku-buku gitu.”

“Katanya tadi elo gak ngurusin dia!” gerutuku sebal. Sati malah cengengesan. Baru juga kenal dua hari dengan Sati, tapi rasanya dia orang paling paham semua gosip di penjuru dunia. Buktinya, kemarin Tora tanya macam-macam padanya dia tahu. Dari berita anak rektor yang mau kawin, sampai anak dekan yang baru aja lahiran dia tahu! Pegangannya hp terus. Mungkin, kalau dia dipisahkan dari hpnya itu, dia bisa mati kehabisan napas!

Tak lama setelah obrolan singkatku dengan Sati, dosen masuk. Seperti biasa, kupilih tempat duduk yang paling dekat dengan pintu. Dari arah sini, aku bisa melihat dengan jelas tempat duduk Andre. Tepatnya di baris kedua di dekat jendela sana. Lagi-lagi dia bercengkerama dengan cahaya. Heran. Apa dia tak punya teman di kelas ini?

***

Dan well… akhirnya mereka benar-benar datang ke rumahku. Tanpa izinku, tanpa meminta pendapatku pula, dengan seenaknya mereka ikut mengekoriku naik angkot tadi. Sampai di depan gerbang mereka melongo. Mungkin terkagum-kagum dengan taman mini buatan mama. Mama kan emang paling cinta sama bunga-bunga. Sampai kayaknya cintanya itu melebihi cinta mama padaku, deh.

“Wah! Rumah elo nyaman banget deh, Mi. Sering-sering aja kita kerja kelompok di sini. Hehe…” celetuk Farah. Aku hanya memutar bola mataku. Enggak janji, deh.

Mereka kuminta menunggu di halaman belakang. Ada serambi yang lumayan nyaman untuk bekerja kelompok seperti ini. Di dekat kolam renang. Aku sendiri langsung meluncur ke dapur yang tak jauh dari sana. Mengambilkan mereka beberapa camilan dan minum seadanya. Tak ada orang di rumah. Mbak yang biasanya membantu kami juga sedang pulang kampung. Orang tuaku pekerja keras. Cuma hari libur saja kami bisa berkumpul bersama. Selebihnya, aku sendirian di rumah yang lumayan besar ini.

Ada keripik pisang rasa coklat dan keju di kulkas. Kuambil dan kupindahkan ke dua mangkuk besar. Kubuatkan teh manis dingin. Sekalian air minum di botol besar kalau mereka mau nambah. Senampan besar yang kubawa. Baru keluar dari pintu dapur, Tora berlari ke arahku.

“Bilang dong kalau butuh bantuan, Mi!” ujarnya dan langsung mengambil alih nampan ini dari tanganku. Aku tersenyum atas kepekaannya. Walau sableng, ternyata dia lebih cepat tanggap daripada Wawan yang sibuk bercanda dengan Sati. Sedang Farra sudah sibuk mengeluarkan buku-buku dan laptopnya.

“Makanan datang!” seru Tora dan langsung disambut riuh girang dari mereka. Sampai keripiknya habis, barulah kami lebih serius mengerjakan tugas kami.

Sekitar jam lima kami selesai.

“Gue aja yang print. Papa gue ada printer. Besok gue bawa buat dipotokopi,” saranku. Mereka langsung mengacungiku jempol. Entah untuk apa. Sisanya, mereka sepakat untuk mengobrol. Padahal tadinya kupikir mereka mau pulang langsung. Tapi ternyata… hah…

“Gila! Nih cewek beribet banget! Belum juga jadian, udah banyak bener alasennya!” gerutu Wawan tiba-tiba. Menyita perhatian kami. Apalagi Sati langsung berdiri di belakangnya. Nimbrung ke arah layar hpnya.

“Siapa?”

“Ini, nih! Cewek baru juga fase PDKT, udah banyak bener alesannya cuma buat gak bisa ketemuan. Yang nganterin mama belanja lah. Yang ngerjain tugas sama temen-temen lah. Yang inilah, yang itulah! Nyebelin banget!”

“Yang kayak begitu sih biasanya elo cuma jadi salah satu koleksinya, Wan!” timpal Tora sok tahu.

“Iya, bener banget! Biasanya cewek kalo kebanyakan alesan buat gak ketemu, itu males buat ketemuan sama elo. Atau, dia udah ada yang lain dan elo kalah ganteng!” tambah Farra tak mau kalah. Aku memilih diam. Mendengar celotehan mereka satu per satu saja.

“Wah… kayaknya elo berpengalaman banget ya, Ra?” balas Tora. Farra tak ambil pusing. Dia hanya mengedikkan bahunya.

“Nah, ya. Gak cuma cewek. Cowok aja, kalo udah kebanyakan alesan itu nyebelin banget!” Sati ikut ambil bagian. “Nih, ya. Sejak gue terakhir putus sama mantan gebetan gue, gue pembenci setia yang namanya alesan!”

“Apaan, tuh? Mantan gebetan?” Tora tergelak mendengar istilah itu dari mulut Sati.

“Ih, dengerin dulu! Jadi, dulu itu gue sempet jadi korban PHP gitu sama cowok. Gue nungguin dia di depan kafe tempat janjian, sampe hujan, sampe gue basah kuyup! Gak taunya dia di rumahnya lagi mesra-mesraan sama ceweknya yang lain.”

“Gue udah lama-lama nunggu! Sampe basah kuyup! Gue hampir mati kedinginan, dan elo enak-enakan di sini sama cewek itu!” yang terbayang di otakku saat Sati mengulang dialognya dulu dia sudah ada di depan rumah cowok itu. Menunjuk tepat ke wajah cewek yang dimaksud yang ada di dalam ruang tamu. Dan wajah cowoknya sudah panik tak karuan pasti.

“Please, Sat! Gue bisa jelasin!”

“Stop! Gue gak butuh reason dari elo! Kita putus!”

“Tapi… kita kan gak pacaran, Sat!”

“Oke! Kita putus sebagai gebetan! Bye maksimal!”

Tawa keras langsung memenuhi serambi ini. Daripada merasa simpati, kami malah merasa terhibur dengan cerita Sati barusan.

“Gue juga. Sama mantan gue yang dulu. Dia, tiap kali diajak jalan ngomongnya, aduh, sayang. Lagi gak bisa keluar. Aduh… kucing kakek aku mati. Ayam kakek aku mati. Dan yang terakhir dia bilang kakeknya mati. Gue putusin aja. Eh… gak taunya kakeknya mati beneran,” Farra ikutan bercerita. Kami kembali tertawa.

“Elo sendiri, Mi?” tiba-tiba mereka menatapku bersamaan.

“Apa?” tanyaku bingung.

“Elo sendiri gimana? Ada sesuatu tentang sebuah alasan gak?”

“Ehm?” aku terdiam. Hey! Aku kan tidak pernah pacaran. Kalau harus bicara soal reason soal pacar-pacaran, jelas aku tak ada. “Gue… gak pernah pacaran, sih. Jadi gak tau,” jawabku jujur. Aku sukses membuat mulut mereka menganga tak percaya. Hal yang aneh mungkin melihat gadis tujuh belas tahun di jaman modern begini tak pernah pacaran.

“Tapi elo gak suka kan sama orang yang kebanyakan alesan. Yang kerjaannya cuma ngeleees aja! Ngalah-ngalahin bajaj!” Farra menatapku penuh harap. Aku tak begitu paham, dan dengan pasrah aku memilih mengangguk.

“Eh, eh! Gimana kalau kita bikin komunitas?” tawar Sati tiba-tiba.

“Komunitas apaan?” tanya Tora sambil ngupil. Eww! Ini anak sablengnya kumat, deh.

“Komunitas anti reason! Kita tolak orang-orang yang kebanyakan bacot dan suka nyari-nyari alesan gak jelas!”

“Setuju-setuju! Kita-kita aja, nih. Jujur-jujur! Pada jomblo, kan? Mending daripada meratapi nasib di kamar masing-masing, tiap malem minggu, kita kumpul di sini aja? Gimana?” Farra memberikan ide yang tak bisa kuterima. Please! Di sini? Ini rumahku! Dan aku belum sempat memberi izin, tiga tangan lain langsung mengijinkan. Apa-apaan ini?

Sebelumnya       Selanjutnya